Anda di halaman 1dari 7

JENAZAH

MELEKAT DI
KERANDA

Diliput oleh: Ronie LA (ronie_la@yahoo.com)


Sumber: Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda

Ditulis ulang oleh: Rhesa Yogaswara, S.Si (rhesayogaswara@yahoo.com)


Dipublikasikan oleh Al-Maaidah, Moslem’s Review

Al-Maaidah Moslem’s Review


Jakarta Indonesia | Ph: +62 21 953 72072 | HP: +62 813 180 69162
Website: www.almaaidah.com

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 1


DAFTAR ISI

Daftar Isi ................................................................................................................2


I. Single Mother dari enam anak ........................................................................3
II Hamil diluar nikah............................................................................................4
III Jenazah melekat di keranda...........................................................................6

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 2


I. Single Mother dari enam anak
Silih bergantinya kesedihan dan kegembiraan adalah keniscayaan. Tak ubahnya
pertemuan yang merindukan perpisahan. Semua selalu berubah dan menemui titik akhir.
Bagai siang yang selalu bertukar peran dengan malam. Ungkapan itu, mungkin pas untuk
menggambarkan kehidupan rumah tangga Partini (nama samaran, 40 thn). Seorang
wanita setengah baya yang terpaksa menjanda karena ditinggal mati suaminya.

Dua puluh lima tahun sudah Partini mengarungi bahtera rumah tangga bersama
Darmaji (nama samaran, 50 thn), seorang pembuat kusen yang menikahinya saat masih
berumur 15 tahun. Perkawinan mereka dikaruniai enam orang anak, tiga laki-laki dan tiga
perempuan. Namun, umur sesorang memang susah ditebak. Saat mereka sedang
bahagianya menikmati hidup, Darmaji yang sudah lama mengidap asma, pergi untuk
selama-lamanya.

Jiwa ibu Partini terguncang. Kepergian suaminya dirasakan begitu cepat.


Bagaimana tidak, saat suaminya masih hidup saja, kondisi ekonomi keluarganya masih
morat-marit. Apalagi, ia hanya seorang diri menghidupi keenam anaknya. Sempat terbesit
harapan kepada anaknya yang sulung, Farhat (nama samaran, 23 thn). Tapi alih-alih
membantu, si anak malah lebih asyik menekuni hobinya bermain burung merpati untuk
aduan.

Demi mencukupi kebutuhan keluarga, ibu Partini mencoba membuka warung


kecil-kecilan. Modal awal, ia peroleh dari rentenir yang biasa memberikan pinjaman
dengan bunga tinggi. Namun sayang, banyak warga setempat banyak yang tidak berminat
membeli ke warungnya. Alasannya Cuma satu, harga yang ditawarkan ibu Partini terlalu
mahal bila dibandingkan dengan warung lain. Bagi orang yang tahu, mungkin sedikit bisa
memahami. Ibu Partini terpaksa melakukan semua itu, untuk menutupi utangnya di
rentenir.

Di sisi lain, ibu Partini tidak memiliki pengalaman dalam bidang wirausaha,
sehingga memperparah kegagalannya. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak.
Keinginan ibu Partini menangguk keuntungan, musnah sudah.

”Setahu saya, sejak kematian suaminya, ibu Partini membuka warung kecil-
kecilan di rumahnya. Tapi, itu hanya berjalan beberapa bulan. Sebab, banyak warga
memilih belanja ke tempat lain yang harganya lebih murah. Saya sendiri sempat membeli
rokok di warungnya. Harganya memang cukup mahal,” ujar Nuryanto (28 thn).

Kegagalan pertama tak membuat ibu Partini menyerah. Apalagi, bunga


pinjamannya semakin hari semakin bertambah. Lalu, ia mencoba melamar sebagai buruh
di pabrik sepatu. Kebetulan, lokasinya berdekatan dengan tempatnya tinggal. Namun
sayang, keinginannya ditolak dengan alasan umurnya yang tak lagi muda. Sampai
akhirnya, bibinya yang berjualan nasi di dekat pabrik, memintanya untuk membantu.

Penghasilan ibu Partini memang jauh dari cukup. Bisa dibilang, anak-anaknya
hanya bisa makan satu kali sehari. Kalau pun dua kali, semua atas kebaikan bibinya yang

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 3


memberikan nasi dan lauk sisa yang tidak habis terjual. Untungnya, tiga anak
perempuannya yang masih kecil-kecil, diasuh oleh ibu Mertuanya di Boyolali.

Rasa frustasi tak urung menghigapi ibu Partini. Begitu berat beban yang harus ia
tanggung. Rasa itu semakin tak tertahan, tatkala melihat kelakuan anak sulungnya yang
malas-malasan. Anaknya memang pernah bekerja, tapi cepat bosan dan keluar dengan
alasan yang macam-macam.

”Anak laki-laki ibu Partini yang paling tua, merupakan adik teman saya. Saya
kenal, tapi tidak terlalu akrab. Kata adik saya, orangnya itu cepat bosan sama kerjaan.
Tapi di sisi lain, orangnya sangat suka dengan burung merpati aduan. Ibu Partini dan
bibinya, sudah beberapa kali menasihati, tapi tetap saja tidak mau berubah,” ujar
Nuryanto menambahkan.

Kondisi demikian, membuat ibu Partini putus asa dan bersikap masa bodoh
dengan ketiga anak laki-lakinya. Baginya, mereka sudah cukup besar untuk diperhatikan.

II. Hamil diluar nikah


Dua tahun menjalani kesendirian, membuat ibu Partini merindukan kembali
pendamping hidup. Ia kerap kali terlihat para tetangga, pergi keluar rumah dan pulang
hingga larut malam. Warga setempat yang penulis temui, tak satu pun yang bisa
memastikan kemana ibu Partini waktu itu pergi. Tapi yang pasti, tidak lama berselang,
rumahnya sering dikunjungi seorang lelaki setengah baya.

Setiap kali para tetangga bertanya, jawaban ibu Partini selalu sama ”Dia bukan
siapa-siapa. Saya dan dia masih punya hubungan saudara.” Lelaki yang bernama Suryo
(42 thn) itu, biasanya datang menjelang Magrib. Dia terlebih dahulu melakukan shalat di
mushola, sebelum datang ke rumah Partini. Beberapa warga pernah menanyakan maksud
dan tujuannya. Dia mengaku hanya sekedar silaturahmi, sebagaimana layaknya saudara.
Waktu itu, tidak ada kecurigaan sedikit pun dari warga.

Kebohongan mereka akhirnya terkuak. Tanpa sengaja, Farhat pernah


memberitahukan seorang temannya, kalau Suryo sama sekali tidak ada hubungan kerabat
dengan keluarganya. Statusnya adalah duda bernak dua yang sedang menjalin kasih
dengan ibunya.

Namanya juga gosip, makin digosok makin sip. Warga yang sudah mengetahui
duduk perkaranya menjadi resah. Jangan-jangan ada apa-apa! Sebab, selama ini Suryo
diketahui warga sering menginap di rumah Partini. Bahkan, bisa sampai berhari-hari.

Ketua RT setempat yang mendapat laporan, mencoba menanyakan kebenaran


informasi dari warga. Setelah diinterogasi, Partini bercerita kalau ia bertemu Suryo di
suatu tenpat, dan akhirnya suka sama suka. Lantas ketua RT memberikan nasehat dan
menyarankan agar mereka menikah saja secara resmi. Tujuannya untuk menghindarkan
hal-hal yang tidak diinginkan. Apalagi, sudah banyak warga yang marah dan ingin

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 4


menghakimi mereka. Tapi sayang, Suryo tidak bisa menyanggupi. Alasannya,
pekerjaannya sebagai buruh tani, tidak bakal mencukupi untuk menghidupi delapan orang
anak, dua dari perkawinannya dulu dan enam dari Partini.

Nasehat ketua RT yang mewakili aspirasi warga dianggap angin lalu. Pak Suryo
masih saja berkunjung dan menginap di rumah Partini. Samapi suatu ketika, warga sudah
demikian muak, termasuk anak pertama dan kedua ibu Partini. Kira-kira jam dua belas
siang, Partini dan Suryo yang sednag asyik di dalam kamar, digrebek. Pak Suryo yang
lolos melalui pintu belakang menuju arah utara. Warga yang amarahnya sudah
memuncak, tetap mengejarnya. Akhirnya, Suryo tertangkap di tengah-tengah pematang
sawah dan sempat dihakimi warga.

”Sebenarnya, maksud penggerebekan semata-mata agar Pak Suryo mau


mempertanggung jawabkan perbuatannya,” jelas Nuryanto yang menjadi saksi mata
kejadian tersebut.

Para warga mengarak Suryo berkeliling kampung dan membawanya ke rumah


Sekretaris Desa (Sekdes). Salah seorang warga diminta oleh Bapak Sekretaris Desa
menghubungi polisi untuk menangani perkara itu. Meski sudah berulang kali dipaksa
bertanggung jawab, Suryo tetap tidak mau. Dia berasalan, kalau semua yang dilakukan
atas kehendak Partini. Sejak kejadian itu, Suryo jera dan tidak pernah datang lagi.

”Hasil hubungan gelapnya dengan Pak Suryo, ibu Partini melahirkan seorang
anak. Karena malu mempunyai anak tanpa suami dan merasa tidak sanggup
menghidupinya, Ibu Partini lantas memberikan anaknya ke seorang pemulung. Kejadian
itu membuat warga gemas dan menganggap ibu Partini sudah tidak bermoral,” tambah
Nuryanto yang sehari-hari bekerja sebagai pengajar di sebuah pondok pesantren.

Watak manusia memang sulit berubah. Kata insyaf sudah tidak ada lagi dalam
kamus kehidupan Ibu Partini. Ia kembali sering keluar rumah. Perilakunya yang dulu
kambuh lagi. Hasilnya, ia kembali mengandung dan melahirkan anak diluar nikah.
Namun lagi-lagi, tanpa beban dan perasaan bersalah, ia kembali memberikan anaknya
kepada orang lain. Rasa keibuannya benar-benar telah hilang. Astagfirullah hal’Adzim.

Tidak berhenti sampai disitu, ia kembali berbuat ulah di desanya. Dua orang
buruh pabrik yang mengontrak di samping rumahnya diajak untuk berbuat asusila.
Kejadian itu dipergoki seorang warga yang merasa heran, di kontrakan yang semuanya
laki-laki itu, terdengar suara Partini.

Saat itu, dia tidak terlalu ambil peduli, karena sedang bergegas ke mushala untuk
shalat Magrib. Waktu dia pulang dan melintasi jalan yang sama, ternyata rumah
kontrakan yang tadi terang, kini sudah gelap gulita. Mengetahui gelagat yang
mencurigakan, kemudian dia melapor kepada ketua RT dan warga desa. Ibu Partini
kembali tertangkap basah berbuat asusila. Perkara itu semakin mencoreng namanya di
mata warga desa.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 5


”Warga desa sudah mencapnya sebagai wanita lacur. Meski sudah tua, tapi tidak
tahu diri. Hebohnya lagi, tahu-tahu terdengar kabar kalau ibu Partini sednag
mengandung. Warga desa bertanya-tanya, masak usia empat puluh masih bisa hamil.
Pertanyaan lain, dengan siapa ibu Partini berhubungan. Ternyata, kejadian dikontrakan
itulah penyebabnya,” cerita Nuryanto.

Memasuki usia empat bulan kandungan, ibu Partini mengalami pendarahan hebat.
Sepertinya, rahimnya tak lagi mampu menahan beban yang teramat berat. Ia kehabisan
banyak darah dan tak tertolong lagi. Saat meninggal, seluruh badannya menghitam dan
raut wajahnya memancarkan seseorang yang sedang ketakutan.

III Jenazah melekat di keranda


Proses pemandian dan pengkafanan jenazah ibu Partini sudah selesai dilakukan.
Suasana rumah duka tampak tidak terlalu ramai. Satu dua orang datang silih berganti,
terkesan mereka tidak ingin berlama-lama di sana. Mungkin, akibat perilaku selama
hidupnya yang sangat buruk. Tak terdengar riuh tangis pilu yang biasa menghiasi
kematian seseorang. Keenam anak-anaknya lebih banyak diam, tersirat di wajah mereka
rasa kecewa dan malu atas perilaku ibunya.

”Lingkunagn di sini masih mempunyai toleransi yang tinggi. Meski pun perilaku
ibu Partini terbilang bejat dan keterlaluan, masih ada warga yang meyempatkan diri
untuk takziah ke rumahnya. Tapi sehabis menshalatkan, kebanyakan dari mereka
langsung pulang. Padahal, biasanya tidak seperti itu,” ujar H.Yakub (39 thn) yang turut
bertakziah.

Waktu jenazah sudah dishalatkan dan akan dibawa ke kuburan, terjadi keanehan.
Warga desa yang mengangkat keranda menuju kuburan, merasakan bobot yang
dipikulnya berat sekali.

”Saya memperkirakan, ada sekitar sepuluh orang yang mengangkatnya. Sampai-


sampai, sisi-sisi keranda untuk dipikul tidak menyisakan ruang, karena saking banyaknya
yang memikul,” tambah H.Yakub.

Beberapa warga desa sudah mempunyai firasat buruk. Pasalnya, keranda yang
hanya terbuat dari bambu tersebut, beratnya di luar kebiasaan. Bahkan, langkah-langkah
kaki orang yang memikul, terasa terbebani sesuatu yang maha berat.

Kejadian lain berlanjut. Jenazah Partini yang hendak dimasukkan ke dalam kubur,
waktu akan diangkat, sama sekali tidak bisa. Benar-benar tidak bisa! Jenazah seakan-
akan merekat kuat dengan keranda yang menjadi alat pembawanya. Berulangkali dicoba,
tetap saja jenazah Partini tidak bergeming. Bergeser sedikit pun tidak bisa.

Orang-orang yang menyaksikan terheran-heran dan bingung. Seperti ada lem


yang maha kuat yang menyatukan jenazah Partini dengan keranda. Beberapa orang

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 6


berinisiatif membaca ayat-ayat suci al-Quran yang diperkirakan bisa membantu, tidak
juga membawa hasil.

”Kejadian itu berlangsung kira-kira sampai satu jam. Semua orang bingung. Lalu,
karena berbagai cara telah dicoba dan tidak membawa hasil, akhirnya pihak keluarga
yang berduka, meminta penggali kubur untuk memperbesar lebar kubur dan liang
lahatnya seukuran keranda bambu itu.

”Mereka terlihat sudah putus asa. Jadi diambil keputusan, jenazah ibu Partini
dikubur saja beserta kerandanya. Kalau menurut saya, keputusan itu lebih disebabkan
pihak keluarga yang sudah terlalu malu dengan perilaku ibu Partini semasa hidup,” jelas
H.Yakub yang ikut menyaksikan kejadian itu.

Warga desa menjadi gempar. Orang-orang yang tadinya tidak ikut mengubur,
berbondong-bondong datang ingin menyaksikan. Mereka penasaran mendengar berita
yang benar-benar tidak bisa dinalar oleh akal itu.

Pada akhirnya, warga yang selama ini sudah mengetahui perilaku buruk Partini
semasa hidup, hanya bisa mengucap istigfar. Sebab, apa pun yang dikehendaki oleh
Allah, sesuatu yang mustahil bisa saja terjadi. Mungkin, itulah balasan bagi orang yang
berbuat zinah dan menelantarkan anak hasil hubungan gelapnya. Wallahu’alam.

Al-Maaidah Moslem’s Review- Jenazah melekat di Keranda - Hidayah_4_37_0804_Jenazah Melekat di Keranda 7