Anda di halaman 1dari 31

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Masalah Tujuan Pendidikan Taman Kanak-Kanak menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 28 ayat 3 adalah membantu anak didik dalam mengembangkan berbagai potensi baik secara psikis maupun fisik yang meliputi pengembangan moral, nilai, sosial, emosional, kognitif, bahasa, motorik, kemandirian dan seni untuk dipersiapkan memasuki Pendidikan dasar. Tujuan meletakkan program dasar ke kegiatan arah belajar TK adalah sikap, membantu pengetahuan

perkembangan

keterampilan, dan daya cipta anak didik untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan pertumbuhan serta perkembangan selanjutnya.

Sedangkan ruang lingkup program kegiatan belajar TK meliputi pembentukan perilaku melalui pembiasaan dalam pengembangan moral Pancasila, agama, disiplin, perasaan/emosi, dan kemampuan

bermasyarakat, serta pengembangan kemampuan dasar melalui kegiatan yang dipersiapkan oleh guru meliputi pengembangan kemampuan berbahasa, daya pikir, daya cipta, keterampilan, dan jasmani. Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat
1

berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami, menyebutkan nama, jenis kelamin dan umurnya, menggunakan kata sambung seperti: dan, karena, tetapi; menggunakan kata tanya seperti bagaimana, apa, mengapa, kapan; membandingkan dua hal; memahami konsep timbal balik; menyusun kalimat; mengucapkan lebih dari tiga kalimat, dan mengenal tulisan sederhana. Anak prasekolah biasanya telah mampu mengembangkan

keterampilan bicara melalui percakapan yang dapat memikat orang lain. Mereka dapat menggunakan bahasa dengan berbagai cara seperti bertanya, berdialog, dan menyanyi. Sejak usia dua tahun anak sangat berminat untuk menyebut nama benda. Minat tersebut terus berlangsung sehingga dapat menambah perbendaharaan kata. Idealnya, kelompok B sudah memenuhi kriteria mampu berbahasa seperti paparan di atas. Kenyataannya, dalam kegiatan pembelajaran pengembangan berbahasa, prestasi belajar anak tergolong rendah. Hal tersebut bisa diamati berdasarkan gejala-gejala berikut: 1. Anak kurang lancar berbicara 2. Anak masih malu-malu mengungkapkan perasaannya secara lisan 3. Sebagian anak bersikap pasif ketika diminta ikut terlibat dalam kegiatan berbicara

4. Anak kurang mampu menyambung pembicaraan karena keterbatasan kosa kata Faktor penyebab timbulnya permasalahan di atas adalah: 1. Guru kurang memberikan bimbingan dalam mengembangkan kemampuan berbahasa siswa 2. Metode yang digunakan kurang memberikan kesempatan

pengembangan kemampuan berbahasa 3. Guru kurang aktif sehingga anak juga menjadi pasif 4. Media yang digunakan kurang bervariasi dan tidak merangsang untuk meningkatkan respon anak Untuk mengatasi permasalahan di atas, penulis akan

menggunakan metode bercakap-cakap untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak. Penulis memilih metode ini karena pada metode bercakap-cakap interaksi yang terjadi antara guru dengan anak didik, atau antara anak dengan anak bersifat menyenangkan berupa dialog yang tidak kaku. Topik pembicaraan dapat bebas ataupun ditentukan. Dalam percakapan tersebut, guru bertindak sebagai fasilitator, artinya guru lebih banyak memotivasi anak dengan harapan anak lebih aktif dalam mengemukakan pendapatnya atau

mengekspresikan secara lisan. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Meningkatkan Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Kelompok B TK Pertiwi Bengkalis
3

Melalui Kegiatan Menceritakan Pengalaman Sederhana dengan Urut Menggunakan Metode Bercakap-Cakap. B. Rumusan Masalah Dalam penelitian ini, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: Apakah penggunaan metode bercakap-cakap dapat

meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak kelompok B TK Pertiwi Bengkalis melalui menceritakan pengalaman sederhana dengan urut? C. Tujuan Perbaikan Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan perbaikan pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar melalui menceritakan pengalaman sederhana dengan urut anak kelompok B TK Pertiwi Bengkalis menggunakan metode bercakapcakap. D. Manfaat Perbaikan a. Manfaat bagi siswa 1. Meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak 2. Membantu anak lebih percaya diri dalam menjalin komunikasi dengan guru dan teman sejawat 3. Memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan dan tidak kaku b. Manfaat bagi guru 1. Meningkatkan kinerja guru dalam proses pembelajaran
4

2. Meningkatkan profesionalisme guru karena telah melaksanakan kegiatan perbaikan pembelajaran 3. Metode bercakap-cakap dapat dijadikan salah satu alternatif metode pembelajaran di TK Pertiwi Bengkalis c. Manfaat bagi sekolah 1. Hasil perbaikan pembelajaran bisa memberikan kontribusi positif bagi kemajuan sekolah 2. Motivasi bagi guru yang lain agar melakukan inovasi untuk meningkatkan kualitas sekolah

BAB II KAJIAN TEORITIS A. Metode Bercakap-Cakap 1. Pengertian Metode Bercakap-Cakap Metode bercakap-cakap dapat berarti komunikasi lisan antara anak dan guru atau antara anak dengan anak melalui kegiatan monolog dan dialog. Kegiatan monolog dilaksanakan di kelas dengan cara anak berdiri dan berbicara di depan kelas atau di tempat duduknya, mengungkapkan segala sesuatu yang diketahui, dimiliki dan dialami, atau menyatakan perasaan tentang sesuatu yang memberikan pengalaman yang menyenangkan atau tidak

menyenangkan, atau menyatakan keinginan untuk memiliki atau bertindak sesuatu. Kegiatan dialog berbentuk percakapan yang dilakukan dua orang atau lebih yang masing-masing mendapat kesempatan untuk berbicara secara bergantian (Moeslihatoen, 1999: 92). Dalam buku Metode Pengajaran di TK dijelaskan bahwa bercakap-cakap berarti saling mengomunikasikan pikiran dan perasaan secara verbal atau mewujudkan kemampuan bahasa reseptif dan ekspresif (Hilderbrand, 1986: 2, dalam Moeslihatoen, 1999: 26). Bercakap-cakap juga diartikan sebagai suatu cara

penyampaian bahan pengembangan yang dilakukan melalui bercakap-

cakap dalam bentuk tanya jawab antara anak dengan guru dan anak dengan anak (Depdikbud, 1998: 22). Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa metode bercakapcakap adalah suatu cara penyampaian bahan pengembangan bahasa yang dilaksanakan melalui bercakap-cakap dalam bentuk tanya jawab antara anak dengan guru atau anak dengan anak, yang

dikomunikasikan secara lisan dan merupakan salah satu bentuk komunikasi antarpribadi. pikiran Antara dan satu dengan lainnya verbal saling atau

mengomunikasikan

perasaan

secara

kemampuan mewujudkan bahasa yang reseptif dan ekspresif dalam suatu dialog yang terjadi dalam suatu situasi. 2. Manfaat Metode bercakap-Cakap Ada beberapa manfaat metode bercakap-cakap (Moeslihatoen, 1999: 95), yaitu: a. Meningkatkan keberanian anak untuk mengaktualisasikan diri dengan menggunakan kemampuan berbahasa secara ekspresif, menyatakan pendapat, menyatakan perasaan, menyatakan

keinginan, dan kebutuhan secara lisan b. Meningkatkan keberanian anak untuk menyatakan secara lisan apa yang harus dilakukan oleh diri sendiri dan anak lain c. Meningkatkan keberanian anak untuk mengadakan hubungan dengan anak lain atau dengan gurunya agar terjalin hubungan sosial yang menyenangkan
7

d. Dengan

seringnya

anak

mendapat

kesempatan

untuk

mengemukakan pendapatnya, perasaannya, dan keinginannya maka hal ini akan semakin meningkatkan kemampuan anak membangun jati dirinya e. Dengan seringnya kegiatan bercakap-cakap dilakukan, semakin banyak informasi baru yang diperoleh anak yang bersumber dari guru atau anak lain. Penyebaran informasi dapat memperluas pengetahuan dan wawasan anak tentang tujuan dan tema yang ditetapkan oleh guru Beberapa makna penting terkandung dalam metode bercakapcakap (Moeslihatoen, 1999: 26), yaitu: a. Meningkatkan keterampilan berkomunikasi dengan orang lain. b. Meningkatkan keterampilan dalam melakukan kegiatan bersama. c. Meningkatkan keterampilan menyatakan perasaan, serta

menyatakan gagasan pendapat secara verbal. d. Membantu perkembangan dimensi sosial, emosi dan kognitif, terutama bahasa. 3. Tujuan Metode Bercakap-Cakap Dengan menggunakan metode bercakap-cakap tujuan

pengembangan berbahasa yang ingin dicapai antara lain: a. Mengembangkan kecakapan dan keberanian anak dalam

menyampaikan pendapatnya kepada siapa pun. b. Memberi kesempatan kepada anak untuk berekspresi secara lisan.
8

c. Memperbaiki lafal dan ucapan anak. d. Mengembangkan intelegensi anak. e. Menambah perbendaharaan kata/ kosa kata. f. Melatih daya tangkap anak. g. Melatih daya pikir dan fantasi anak. h. Menambah pengetahuan dan pengalaman anak didik. i. Memberikan kesenangan kepada anak. j. Merangsang anak untuk belajar membaca dan menulis. 4. Kelebihan Metode Bercakap-Cakap a. Anak mendapat kesempatan untuk mengemukakan ide-ide dan pendapatnya. b. Anak mendapat kesempatan untuk menyumbangkan gagasannya. c. Hasil belajar dengan metode bercakap-cakap bersifat fungsional karena topik/ tema yang menjadi bahan percakapan terdapat dalam keseharian dan di lingkungan anak. d. Mengembangkan cara berpikir kritis dan sikap hormat dan menghargai pendapat orang lain. e. Anak mendapat kesempatan untuk mengembangkan kemampuan belajarnya pada taraf yang lebih tinggi. B. Perkembangan Berbahasa Anak Ketika anak tumbuh dan berkembang, terjadi peningkatan baik dalam hal kuantitas maupun kualitas (keluwesan dan kerumitan) produk bahasanya. Secara bertahap kemampuan anak meningkat, bermula dari
9

mengekspresikan suara saja, hingga mengekspresikannya dengan komunikasi. Komunikasi anak yang bermula dengan menggunakan gerakan dan isyarat untuk menunjukkan keinginannya secara bertahap berkembang menjadi komunikasi melalui ujaran yang tepat dan jelas. Pada saat anak berusia 3 tahun, anak banyak menggunakan kosa kata dan kata tanya seperti apa dan siapa. Pada usia 4 tahun anak mulai bercakap-cakap memberi nama, alamat, usia, dan mulai memahami waktu. Perkembangan bahasa anak semakin meningkat pada usia 5 tahun. Pada usia ini anak sudah bisa berbicara lancar dengan menggunakan kosa kata baru (Bowler dan Linke, 1996 dalam Dhieni, 2005:3.4). Ketika memasuki taman kanak-kanak anak sudah menguasai hampir semua kaidah dasar gramatikal bahasanya. Dia sudah dapat membuat kalimat berita, kalimat tanya, dan sejumlah kosa kata lain. Anak pada masa prasekolah ini telah mempelajari hal-hal yang di luar kosakata dan tata bahasa. Mereka sudah dapat menggunakan bahasa dalam konteks sosial yang bermacam-macam. Mereka dapat berkata kasar pada temannya, tetapi dapat juga berkata sopan pada orang tuanya (Chaer, 2003: 238). Menurut Atchison (Hartley, 1982:41 dalam Faizah, 2008: 31), pada saat anak berumur 2,6 tahun, anak telah menggunakan kalimat tanya, kalimat negasi, kalimat 4 kata, dan vokal telah sempurna. Ketika menginjak umur 3,6 tahun, pelafalan konsonan telah sempurna. Anak
10

telah bisa menggunakan kalimat sederhana yang tepat tetapi masih terbatas ketika berumur 4 tahun. Sedangkan pada umur 5 tahun konstruksi morfologis dan sintaksis telah sempurna. Pada anak usia TK (4-6 tahun), kemampuan berbahasa yang paling umum dan efektif dilakukan adalah kemampuan berbicara. Hal ini selaras dengan karakteristik umum kemampuan bahasa anak pada usia tersebut. Karakteristik ini meliputi kemampuan anak untuk dapat berbicara dengan baik, melaksanakan tiga perintah lisan secara berurutan dengan benar, mendengarkan dan menceritakan kembali cerita sederhana dengan urutan yang mudah dipahami. Belajar berbicara dapat dilakukan anak dengan bantuan dari orang dewasa melalui percakapan. Dengan bercakap-cakap, anak akan menemukan pengalaman, meningkatkan pengetahuannya, dan

mengembangkan bahasanya (Dhieni, 2005: 3.8). Anak membutuhkan reinforcement (penguat), reward (hadiah, pujian), stimulasi, dan model atau contoh yang baik dari orang dewasa agar kemampuannya dalam berbahasa dapat berkembang secara maksimal. Anak yang memiliki hambatan bahasa juga dapat distimulasi untuk memahami bahasa yang sederhana. Dalam hal ini pendidik perlu lebih menekankan penggunaan penguat dibandingkan pengoreksian terhadap kata-kata yang mereka ucapkan.

11

Ada tiga kriteria untuk mengukur tingkat kemampuan berbicara anak, apakah anak berbicara secara benar atau hanya sekadar membeo sebagai berikut: 1. Anak mengetahui arti kata yang digunakan dan mampu

menghubungkannya dengan objek yang diwakilinya. 2. Anak mampu melafalkan kata-kata yang dapat dipahami orang lain dengan mudah. 3. Anak memahami kata-kata tersebut bukan karena telah sering mendengar atau menduga-duga (Hurlock dalam Dhieni, 2003: 3.5).

12

BAB III PELAKSANAAN PERBAIKAN A. Subjek Penelitian 1. Lokasi Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di TK Pertiwi Bengkalis. Waktu penelitian pada Tahun Pelajaran 2010/2011 dan dilaksanakan selama 2 (dua) bulan yaitu dari bulan September-Oktober 2010. Tindakan dilakukan pada anak kelompok B yang berjumlah 15 orang. Kegiatan berlangsung dalam 2 siklus. Siklus I dilaksanakan dari tanggal 20 September s.d. 24 September 2010, sedangkan siklus II dilaksanakan dari tanggal 27 September s.d. 01 Oktober 2010. Tema yang dipilih adalah Keluargaku. Kegiatan belajar di Taman Kanak-Kanak Pertiwi Bengkalis dimulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 10.45 WIB. 2. Waktu Pelaksanaan a. Siklus I Waktu pelaksanaan tindakan dapat dilihat pada tabel berikut Tabel 1 No 1 2 3 4 5 Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Siklus I Hari/ Tanggal Senin/20-08-2010 Selasa/21-08-2010 Rabu/22-08-2010 Kamis/23-08-2010 Jumat/24-08-2010 Waktu Pertemuan Bidang Pengembangan

08.00-10.45

Bahasa Anak

b. Siklus II Waktu pelaksanaan tindakan dapat dilihat pada tabel berikut


13

Tabel 2 No 1 2 3 4 5

Jadwal Pelaksanaan Perbaikan Siklus II Hari/ Tanggal Waktu Pertemuan Bidang Pengembangan

Senin/27-08-2010 Selasa/28-08-2010 Rabu/29-08-2010 Kamis/30-08-2010 Jumat/01-09-2010

08.00-10.45

Bahasa Anak

B. Deskripsi Per Siklus 1. Siklus I Siklus I dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang ditentukan dengan perencanaan sebagai berikut: a. Kegiatan Perencanaan 1) Menentukan jumlah siklus sebanyak dua siklus 2) Memilih observer 3) Menyusun rencana kegiatan 4) Menyiapkan SKH 5) Mempersiapkan lembar observasi untuk guru dan anak b. Langkah-langkah perbaikan Langkah perbaikan dilaksanakan pada proses pembelajaran dengan melihat aktivitas yang dilakukan oleh guru dan anak 1) Aktivitas Guru a) Guru mengajak anak untuk menceritakan pengalaman tentang keluarga b) Guru meminta anak maju ke depan kelas c) Guru memberikan giliran satu persatu bercerita di depan
14

d) Guru membimbing anak dalam menceritakan pengalaman e) Guru memberikan motivasi f) Guru memberikan penguatan 2) Aktivitas Anak a) Anak memperhatikan petunjuk guru b) Anak menceritakan pengalaman c) Anak maju ke depan kelas d) Anak berani berbicara e) Anak lancar berbicara f) Anak menunjukkan minat untuk berbicara c. Tahap Observasi 1) Observer melakukan pengamatan dan aktivitas guru dan anak selama kegiatan pembelajaran berlangsung 2) Melaksanakan pencatatan hasil pengamatan ke dalam lembar observasi 3) Memberikan tanda ceklis pada data 4) Menyimpulkan hasil pengamatan untuk mengetahui

kekurangan yang terjadi selama proses pembelajaran 2. Siklus II Siklus II dilaksanakan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan dengan perencanaan sebagai berikut: a. Kegiatan Perencanaan 1) Menyusun rencana kegiatan
15

2) Menyiapkan SKH 3) Mempersiapkan lembar observasi untuk guru dan anak b. Langkah-Langkah Perbaikan Langkah perbaikan dilakukan pada saat kegiatan pembelajaran di kelas dengan mencatat segala aktivitas yang dilakukan oleh guru dan anak 1) Aktivitas Guru a) Guru mengkondisikan anak agar mau berbicara dan mendengar b) Guru meminta anak untuk menceritakan gambar yang dipajang c) Guru memberikan motivasi agar anak menceritakan gambar di depan kelas d) Guru memberikan penguatan atas keberanian anak e) Guru memberi kesempatan secara bergiliran f) Guru memberikan pujian berupa tepuk tangan bersama 2) Aktivitas Anak a) Anak memperhatikan petunjuk guru b) Anak menceritakan gambar yang dipajang c) Anak berani berbicara d) Anak tampil bercerita di depan kelas e) Anak menunjukkan minat dalam belajar f) Anak lancar berbicara
16

c. Tahap Observasi 1) Observer melakukan pengamatan terhadap aktivitas guru dan anak selama proses pembelajaran berlangsung 2) Melakukan pencatatan terhadap hasil pengamatan ke lembar obsevasi 3) Menyimpulkan hasil pengamatan untuk melihat kelemahan dan kelebihan yang berlangsung selama proses pembelajaran C. Data dan Cara Pengumpulannya Jenis data dan cara memperolehnya dilakukan dengan prosedur sebagai berikut: 1. Data tentang aktivitas belajar yaitu kegiatan yang dilakukan anak dalam belajar berupa kemampuan berbicara dengan guru maupun dengan anak yang lain dan kemampuan mendengar 2. Data tentang penerapan metode bercakap-cakap untuk meningkatkan kemampuan berbicara dan mendengar anak dikumpulkan dengan cara observasi dan pencermatan dokumen D. Refleksi 1. Data yang sudah terkumpul dianalisis secara kulitatif dan kuantitatif. Analisis kuantitatif dilaksanakan untuk memperoleh frekuensi dalam beraktivitas serta sebaran nilai hasil belajarnya. Untuk gambaran aktivitas belajar anak, suasana kelompok dan aktivitas guru dianalisis secara kuantitatif.

17

2. Berdasarkan hasil analisis data, guru bersama observer melakukan diskusi untuk mengetahui: a. Kelemahan/kekurangan yang ada pada pelaksanaan tindakan. b. Tingkat keberhasilan berdasarkan standar yang telah ditentukan dan penyebab-penyebab kurang berhasilnya pencapaian tujuan. 3. Menyusun rencana tindakan perbaikan untuk siklus berikutnya.

18

BAB IV HASIL PEMBAHASAN A. Penyajian Data Penelitian Data setelah tindakan diperoleh melalui penelitian yang dilakukan selama 2 (dua) bulan, dengan proses tindakan selama dua siklus. Setiap siklus dilaksanakan lima kali pertemuan dan dilakukan evaluasi untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembelajaran menggunakan metode bercakap-cakap. Data disajikan persiklus disesuaikan dengan skenario pembelajaran sebagai berikut: 1. Hasil kemampuan berbicara dan mendengar siklus I Rekapitulasi hasil kemampuan anak selama lima kali pertemuan yang dilaksanakan dari tanggal 20 s.d 24 September dengan hasil sebagai berikut: Tabel 3 Rekapitulasi Kemampuan Berbicara dan mendengar Anak Siklus I
Pertemuan Klasifikasi Nilai I Jlh 2 Cukup Rendah Jumlah 4 9 15 60,00 15 9 100 60,00 15 5 100 33,33 15 6 100 40,00 15 5 100 33,33 15 26,67 3 20,00 6 40,00 5 33,33 5 33,33 Mnrn 13,33 3 20,00 4 26,67 4 26,67 5 33,33 Naik % Jlh II % Jlh III % Jlh IV % Jlh V % Naik Ket

Tinggi

Berdasarkan hasil kemampuan berbahasa anak pada siklus I dapat dijelaskan terjadi peningkatan pada setiap pertemuan. Pada pertemuan I yang mendapat nilai tinggi sebesar 13,33%, pertemuan
19

II sebesar 20,00%, pertemuan III 26,67%, pertemuan IV 26,67, sedangkan pada pertemuan V menjadi 33,33%. Data tentang kemampuan berbicara dan mendengar anak siklus I disajikan dalam grafik berikut: Grafik 1 Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Siklus I

16 14 12 10 8 6 4 2 0 I II III IV V Rendah Cukup Tinggi

2. Hasil kemampuan berbicara dan mendengar anak silkus II Rekapitulasi hasil kemampuan anak selama lima kali pertemuan yang dilaksanakan pada tanggal 27 September s.d 01 Oktober 2010 dengan hasil sebagai berikut: Tabel 4
Klasifikasi

Rekapitulasi Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Siklus II


Pertemuan Ket IV % Jlh % Jlh V % Naik 3 20,00 40,00 40,00 15 6 4 5 100 40,00 26,67 33,33 15 6 5 4 100 40,00 33,33 26,67 15 6 3 6 100 40,00 20,00 40,00 15 8 6 1 100 53,33 Naik 6 40,00 Mnrn 6 6,67 15 I Jlh % Jlh II % Jlh III

Tinggi Cukup Rendah Jumlah

Nilai 15

20

Berdasarkan rekapitulasi hasil kemampuan pengembangan berbahasa anak pada siklus II dapat dijelaskan sebagai berikut: untuk klasifikasi nilai tinggi pada pertemuan I sebesar 20,00%, pada pertemuan II naik menjadi 40,00%, pertemuan III dan IV sebesar 40,00%, dan pada pertemuan V meningkat menjadi 53,33%. Data tentang kemampuan berbicara dan mendengar anak siklus II disajikan dalam grafik berikut: Grafik 1 Kemampuan Berbicara dan Mendengar Anak Siklus II

16 14 12 10 8 6 4 2 0 I II III IV V Rendah Cukup Tinggi

B. Pembahasan Data Penelitian 1. Pembahasan Data Aktivitas Guru Siklus I Berdasarkan hasil penilaian obsever, aktivitas guru dalam penelitian ini dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Klasifikasi yang ditetapkan ada tiga, yaitu: 1) sangat baik, 2) baik, dan 3) cukup.

21

b.

Jumlah butir aktivitas yang diamati sebanyak 6 (enam), skor penilaian tertinggi 4, skor penilaian terendah 1. Skor maksimal ideal adalah = 6 x 4 = 24, skor minimal ideal adalah = 6 x 1 = 6. Interval = 24 6 = 6 3

Tabel 5

Klasifikasi dan Interval Aktivitas Guru Siklus I Interval skor 20-24 13-19 6-12 Jumlah 16 66,67 16 66,67 Frekuensi (F) Persentase (%)

Klasifikasi Sangat Baik Baik Cukup

Dari data skor aktivitas guru yang diperoleh pada siklus I adalah 16, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa aktivitas guru dalam menggunakan metode bercakap-cakap tergolong pada kategori baik dengan perolehan persentase 66,67. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan, aktivitas guru harus ditingkatkan pada siklus berikutnya karena ada aktivitas guru yang kurang jelas yaitu guru memberikan giliran satu persatu bercerita di depan dan guru membimbing anak dalam menceritakan pengalaman. 2. Pembahasan Data Aktivitas Anak Siklus I Berdasarkan penyajian data aktivitas anak pada siklus I, pembahasan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
22

a. Klasifikasi yang ditetapkan ada tiga, yaitu: 1) Sangat Baik (SB), 2) Cukup (C), dan Belum Baik (BB). b. Jumlah butir aktivitas adalah 6, skor penilaian tertinggi adalah 1, skor penilaian terendah adalah 0. Jadi skor maksimal ideal = 6 x 1 = 6, skor minimal ideal = 6 x 0 = 0, jadi interval = 6-0 = 2 3 Tabel 6 Persentase Skor Aktivitas Belajar Anak Siklus I Interval Skor 5-6 3-4 Frekuensi 6 7 Persentase 40,00 46,67

Klasifikasi Sangat Baik Cukup

Belum Baik

0-2 Jumlah

13,33

15

100

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah anak yang sudah melakukan aktivitas belajar dalam kategori sangat baik mencapai 40,00% atau 6 orang dari 15 anak. Dari jumlah ini ternyata yang sudah melakukan seluruh aktivitas belajar hanya 3 orang sedangkan 3 orang anak baru melaksanakan 5 aktivitas belajar. Aktivitas belajar berkategori cukup berjumlah 46,67% atau 7 orang anak dari 15 orang, yaitu baru melaksanakan 3 sampai 4 aktivitas belajar. Sedangkan yang melakukan nol sampai dua aktivitas belajar adalah 13,33% atau 2 anak dari 15 anak . Dengan demikian masih
23

banyak siswa yang belum melaksanakan aktivitas belajar siswa dengan baik dalam pelaksanaan pengajaran yang dilakukan guru dengan metode bercakap-cakap. Hal ini ditunjukkan dengan tabel frekuensi aktivitas belajar anak seperti berikut: Tabel 7 Frekuensi Pelaksanaan Aktivitas Belajar Anak Siklus I Jumlah Siswa yang melakukan 15 Persentase (%) yang melakukan 100

No 1

Aktivitas Belajar Anak memperhatikan petunjuk guru Anak menceritakan pengalaman Anak maju ke depan kelas Anak berani berbicara Anak lancar berbicara Anak menunjukkan untuk berbicara Jumlah Rata-Rata minat

2 3 4 5 6

6 11 7 13 10 62

40 73 47 87 67 314 68,88

Berdasarkan tabel di atas, aktivitas yang banyak dilakukan anak adalah memperhatikan petunjuk guru. Aktivitas yang paling rendah adalah anak menceritakan pengalaman. Sedangkan aktivitas lain yang berhubungan dengan kemampuan berbicara masih ada beberapa orang yang belum melakukan. Dengan demikian perlu diperbaiki aktivitas belajar anak pada siklus I agar dapat memenuhi kiteria keberhasilan dalam perbaikan pembelajaran ini.
24

3. Pembahasan Data Aktivitas Guru Siklus II Berdasarkan data lembaran aktivitas guru, dapat dijelaskan sebagai berikut: a. Klasifikasi yang ditetapkan adalah 3 klasifikasi, yaitu: 1) Sangat Baik, 2) Baik, dan 3) cukup b. Jumlah butir aktivitas 6 (enam), skor penilaian tertinggi 4, skor penilaian terendah 1. Skor maksimal ideal adalah = 6 x 4 = 24, skor minimal ideal adalah = 6 x 1 = 6. Interval = 24 6 = 6 3 Tabel 8 Klasifikasi dan Interval Aktivitas Guru Siklus II Interval skor 20-24 13-19 6-12 Jumlah 22 91,67 Frekuensi (F) 22 Persentase (%) 91,67

Klasifikasi Sangat Baik Baik Cukup

Dari data skor aktivitas guru yang diperoleh dari hasil penelitian pada siklus II adalah 22, kesimpulan yang dapat diambil adalah bahwa aktivitas guru dalam melaksanakan kegiatan

pembelajaran dengan metode bercakap-cakap tergolong dalam klasifikasi sangat baik dengan perolehan persentase 91,67%.

25

4. Pembahasan Data Aktivitas Anak Siklus II Berdasarkan penyajian data aktivitas anak siklus II dapat dibahas dan dianalisis sebagai berikut: a. Klasifikasi yang ditetapkan adalah tiga, yaitu 1) Sangat Baik (SB), 2) Cukup (C), dan Belum Baik (BB). b. Jumlah butir aktivitas adalah 6, skor penilaian tertinggi adalah 1, skor penilaian terendah adalah 0. Jadi skor maksimal ideal = 6 x 1 = 6, skor minimal ideal = 6 x 0 = 0, jadi interval = 6-0 = 2 3 Tabel 9 Persentase Skor Aktivitas Belajar Anak Siklus II Interval Skor 5-6 3-4 0-2 Jumlah Frekuensi 10 5 0 15 Persentase 66,67 33,33 0 100

Klasifikasi Sangat Baik Cukup Belum Baik

Berdasarkan tabel di atas dapat disimpulkan bahwa jumlah anak yang sudah melakukan aktivitas belajar dalam kategori sangat baik mencapai 66,67% atau 10 orang dari 15 anak. Dari jumlah ini ternyata yang sudah melakukan seluruh aktivitas belajar berjumlah 6 orang sedangkan 4 anak melaksanakan 5 aktivitas belajar. Aktivitas belajar berkategori cukup berjumlah 33,33% atau sebanyak 5 orang dari 15 orang anak, yaitu melaksanakan 3 sampai 4 aktivitas belajar.
26

Sedangkan yang melakukan nol sampai dua aktivitas belajar adalah 0%, artinya dari 15 anak yang mengikuti aktivitas belajar, yang tidak mengikuti jumlahnya tidak ada. Dengan demikian terjadi peningkatan aktivitas belajar anak dengan metode bercakap-cakap. Hal ini ditunjukkan dengan tabel frekuensi aktivitas belajar anak seperti berikut: Tabel 10 Frekuensi Pelaksanaan Aktivitas Belajar Anak Siklus II Jumlah Siswa yang melakukan 15 12 12 9 15 11 74 Persentase (%) yang melakukan 100 80 80 60 100 73 493 82,22

No 1

Aktivitas Belajar Anak memperhatikan petunjuk guru Anak menceritakan gambar yang dipajang Anak berani berbicara Anak tampil bercerita di depan kelas Anak menunjukkan minat dalam belajar Anak lancar berbicara Jumlah Rata-Rata

2 3 4 5 6

Berdasarkan tabel di atas, aktivitas yang banyak dilakukan anak adalah memperhatikan petunjuk guru dan menunjukkan minat belajar. Dengan demikian tidak perlu dilakukan perbaikan pada siklus berikutnya peningkatan.
27

karena

aktivitas

belajar

anak

sudah

mengalami

BAB V PENUTUP A. Simpulan Berdasarkan data hasil belajar dan diskusi dengan observer, dapat disimpulkan sebagai berikut: 1. Kemampuan berbicara dan mendengar anak dengan menggunakan metode bercakap-cakap mengalami peningkatan. Pada siklus I, anak yang mendapat kategori tinggi pada pertemuan siklus I adalah 40,00 %, kategori cukup 46,67%, dan kategori rendah 13,33%. Pada siklus II terlihat terjadi peningkatan yaitu anak yang mendapat kategori tinggi 66,67%, kategori cukup 33,33%, dan kategori rendah 0%. 2. Aktivitas guru terjadi peningkatan. Pada siklus I memperoleh 16 poin untuk kategori baik atau 66,67% dan pada siklus II menjadi 22 poin pada kategori sangat baik atau 91,67%. terjadi peningkatan sebesar 25%. 3. Aktivitas anak mengalami peningkatan yaitu pada siklus I memperoleh persentase 68,88% dan meningkat menjadi 82,22%

pada siklus II. Terjadi peningkatan 13,34%. B. Saran 1. Disarankan kepada guru untuk menggunakan metode bercakap-cakap karena metode bercakap-cakap dapat meningkatkan berbicara dan mendengar anak kelompok B TK Pertiwi Bengkalis.

28

2. Disarankan kepada guru untuk menggunakan metode bercakap-cakap karena dapat meningkatkan aktivitas guru. 3. Metode bercakap-cakap juga dapat meningkatkan aktivitas anak. Oleh karena itu, disarankan untuk menggunakan metode ini dalam kegiatan pembelajaran.

29

DAFTAR PUSTAKA Chaer, Abdul. (2003). Psikolinguistik; Kajian Teoretik. Jakarta: Rineka Cipta. Depdikbud. (1994). Garis-Garis Besar Program Kegiatan Belajar di TK. Dhieni, Nurbiana. (2005). Metode Pengembangan Bahasa. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Faizah, Hasnah. (2008). Psikolinguistik. Pekanbaru: Cendekia Insani. Masitoh, dkk. (2005). Strategi Pembelajaran TK. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka. Moeslihatoen. (1999). Metode Pengajaran di TK. Jakarta: Rineka Cipta.

30

31