SILABUS MATA AJARAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT POLITEKNIK KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN P A L E M B A N G TAHUN 2010 MATA AJARAN KODE

MA PENEMPATAN JUMLAH SKS KOORDINATOR MA TIM PENGAJAR : KEPERAWATAN GAWAT DARURAT : 439 : TINGKAT TIGA (III) SEMESTER VI : 3 SKS : H. ISHAK BAKRI, S.Sos, M.Kes : 1. Drs. H. Nasir A. Hamid, S.Pd : 2. Sukmawicatur, S.Kep, M.Kep, Sp.KMB : 3. Azwaldi, SST, M.Kes : 4. Hj. Devi Mediarti, S.Pd, M.Kes : 5. Rachmad Aswin J, SST

A. DESKRIPSI MATA AJARAN. Mata ajaran ini membahas konsep keperawatan Gawat Darurat pada semua system di berbagai tingkat usia. Proses pembelajaran disusun dalam bentuk ceramah, penugasan dan penelaahan kasus di laboratorium maupun di lahan praktek, sehingga memberikan pengalaman, pemahaman dan keterampilan klinik bagi peserta didik dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien gawat darurat.

B. TUJUAN MATA AJARAN 1.Tujuan Umum : Setelah mengikuti pendidikan mata ajaran ini, peserta didik mampu memahami konsep keperawatan gawat darurat dan dapat melakukan asuhan keperawatan gawat darurat. 2. Tujuan khusus : Setelah mengikuti pendidikan mata ajaran ini, peserta didik mampu melakukan asuhan keperawatan terhadap klien gawat darurat pada semua system : 1. konsep dan prinsif dasar keperawatan gawat darurat 2. Asuhan keperawatan gawat darurat system Pernafasan 3. Asuhan keperawatan gawat darurat system kardiovaskuler 4. Asuhan keperawatan gawat darurat system pencernakan

5. Asuhan keperawatan gawat darurat system perkemihan 6. Asuhan keperawatan gawat darurat system penglihatan 7. Asuhan keperawatan gawat darurat system pendengaran 8. Asuhan keperawatan gawat darurat system muskuloskeletal 9. Asuhan keperawatan gawat darurat system injuri jaringan lunak 10. Asuhan keperawatan gawat darurat keracunan dan over dosis 11. Asuhan keperawatan gawat darurat system endokrin 12. Asuhan keperawatan gawat darurat system ginekologi dan obstetrik 13. Asuhan keperawatan gawat darurat system psikatri dan psikologi

C. METODE PEMBELAJARAN : PBC = 55 % PBP = 20 % PBK = 25 % D. EVALUASI : 1. Evaluasi Formatif 2. Evaluasi Sumatif E. PERSYARATAN MENGIKUTI UJIAN SEMESTER: Kehadiran : 80 % Boleh mengikuti ujian : > 65 % < 80 % Boleh mengikuti ujian dengan penugasan : < 65 % Tidak boleh mengikuti ujian STRATEGI PEMBELAJARAN : Dalam mata kuliah ini, kegiatan pembelajaran yang ditempuh adalah kuliah / tatap muka, seminar, laboratorium dan praktek dilahan. Untuk praktek dilahan di gabung dalam mata ajaran medical bedah. METODE PEMBELAJARAN : 1. Ceramah / Diskusi / Tanya jawab 2. Penugasan / Seminar 3. Praktek Laboratorium / lahan bersama mata ajaran Medikal Bedah

EVALUASI PEMBELAJARAN : 1. Formatif. 2. Sumatif. RUJUKAN : 1. Nancy L Caroline Emergency Care In The Streets, Boston, Little brown and company. 2. David knighton dkk. Tindakan-tindakan Gawat Darurat, Jakarta,

Kedokteran, ESC. 3. Michael S. JA Stromski, Prosedur Kedaruratan, Jakarta, Kedokteran, EGC.

4. John A Boswick, Ir, MD. Perawatan Gawat Darurat, Jakarta Kedokteran
EGC. 5. Tim PPGD RSHS Bandung modul Pelatihan PPGD, RSHS Bandung. 6. Mary T.Ho MD, dkk Resusitasi Kardiopulmoner dan Syok, Jakarta Kedokteran EGC.

Kes Hari : Jumat. 1. SST. Askep Gawat Darurat Keracunan & Gigitan Serangga 8 Askep Gawat Darurat Sistem Pendengaran 9 Ujian Akhir Semester ( UAS ) Mengetahui Ketua Jurusan Keperawatan Darurat .Pd. 12-03-10 Jam 08 – 10 ( A ) Jam 10 .12 ( A ) Jam 08 – 10( B ) Sukma W. 1. M. Konsep dan Prinsif Dasar Keperawatan Gawat Darurat MATERI MATA AJARAN DOSEN PENGAJAR 2. Askep gawat darurat system Pernafasan 3. S. SST Hari: Jumat.12 ( B ) Rachmad Aswin J. Askep Gawat Darurat System Perkemihan 6. 24-03-10 Jam 10 – 12 ( A ) Jam 08– 10 ( B ) Rachmad Aswin J. Askep system Psikiatri & Psikologi 5. Askep Gawat Darurat Penglihatan Ishak Bakri. Penjelasan Silabus Keperawatan Kegawat Daruratan 2. 22-03-10 Jam08 – 10 (A ) Jam 10 .Kes Hari : Senin. Askep Gawat Darurat System Pencernakan 2. 08-032010 Jam 08 – 10 ( A ) Jam 10 – 12 ( B ) Ishak Bakri.12 ( B ) H. M. 26-03-10 Jam 08 – 10 ( A ) Jam 10 – 12 ( B ) Team Keperawatan Gawat Darurat. Askep gawat darurat system Endokrin 2. M. Askep Gawat Darurat System Injuri Jaringan lunak 2. SST Hari: Rabu. Askep gawat darurat system syaraf Pusat 4. M. 1. Nasir Hamid. 19–03-10 Jam 10 – 12 ( A ) Jam 08 – 10 ( B ) Hj. 1. Maret 2010 Penanggung jawab MA Keperawatan Gawat 7 1. Devi Mediarti. S.Kes Hari : Rabu.Pd Hari : Senin 15-03-10 Jam 08 – 10 ( A ) Jam 10 – 12 ( B ) Azwaldi.Kep. 10-03-10 Jam 10 . 1. Askep Gawat Darurat System Muskuloskletal 2. Hari: Senin. Askep gawat darurat system Kardiovaskuler 2.JADWAL KULIAH KEPERAWATAN GAWAT DARURAT MAHASISWA TINGKAT III A & B JURUSAN KEPERAWATAN POLITEKNIK KESEHATAN PALEMBANG TAHUN 2010 Kuliah dimual Tanggal 08 Maret S/D 26 Maret 2010 Setiap Hari : Senin. M.S. 29 Maret 2010 Palembang.Rabu dan Jumat No 1.Kes Hari : Jumat.Kes Hari : Senin.

• BILA KONDISI PASIEN DALAM KEADAAN KRITIS.Ishak Bakri. JANGAN MURUNG / CEMBERUT. TAKUT MATI.- KARENA HAL TSB MERUPAKAN “KOMUNIKASI TERAPEUTIK”. 2.Sulaiman.. . INFORMASIKAN PADA KELUARGA DENGAN BAIK. S.Kes KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT ASKEP PENANGGULANGAN ADALAH : GAWAT DARURAT SUATU PELAYANAN YG DIBERIKAN MEMERLUKAN MENGURANGI BANTUAN SEGERA. TUJUAN PELAYANAN. JANGAN MARAH-MARAH. M. S. • DENGAN MEMBERITAHUKAN SETIAP TINDAKAN.Pd. : 1. CARANYA. CACAT SEUMUR HIDUP. • PADA PASIEN YG CEMAS HEBAT. • DENGAN MEMANGGIL NAMA PESIEN. DIPERLAKUKAN SECARA INDIVIDUAL DAN SIKAP YG HANGAT DALAM BERESPON DAN CIPTAKAN RASA AMAN.  : “MENCEGAH TERJADINYA GANGGUAN PSIKOLOGIS YANG TIDAK TERKENDALI BAIK PASIEN / KELUARGA”.  : PERLAKUKAN PASIEN TIDAK SADAR SEPERTI PASIEN SADAR. BAIK THDP PASIEN YG DENGAN PASIEN MAKSUD MAUPUN KEKHAWATIRAN KELUARGANYA AKIBAT DARI KEJADIAN YANG DIALAMINYA.Sos.Pd H. M. • DENGAN SENTUHAN HALUS. S. YAITU DENGAN CARA.KM.

• BERIKAN KESEMPATAN KELUARGA MENGEKPRESIKAN PERASAANNYA UNTUK MENGURANGI KETEGANGANNYA. MEMPERTAHANKAN KEHIDUPAN. BAIK TENAGA. GAWAT BERARTI. 5. 3. 3. CEGAH TERJADINYA ASPIRASI.  “ BAHAYA YANG MENGANCAM KEHIDUPAN “.  “ SUATU UPAYA UNTUK MENGATASI “. PERALATAN MAUPUN OBAT-OBATAN “. PERTAHANKAN JALAN NAPAS. PRINSIF PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT 1. JANGAN TERBURU-BURU MEMINDAHKAN KORBAN . TUJUAN PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT 1. DARURAT BERARTI. ATASI PERDARAHAN. 2. • JELASKAN SITUASI REALITA DENGAN HATI-HATI • BANTU KELUARGA UNTUK MENINGKATKAN KOPING PADA KEMATIAN MENDADAK.  “ SITUASI DAN KONDISI APA ADANYA. MEMBATASI KECACATAN. MENCEGAH KONDISI MAKIN MEMBURUK SEBELUM TINDAKAN DEFINITIF DILAKUKAN. 4. CEK VITAL SIGN. PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT PENANGGULANGAN BERARTI. 2.

3. 2.  MERUPAKAN : • SARANA PENUNJANG DALAM MENENTUKAN YG SELALU BERADA DITEMPAT UMUM KEBERHASILAN PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT. KECEPATAN MEMINTA PERTOLONGAN. • CARA MENGATUR / MEMONITOR RUJUKAN DARI PKM KE RUMAH SAKIT. 1.KEBERHASILAN PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT DITENTUKAN OLH. TRANSPORTASI. PENDIDIKAN. 3. KOMUNIKASI. .  BAGAIMANA : • CARA MEMBERIKAN KURSUS ATAU LATIHAN MENGENAI P3K DAN RESUSITASI ATAU RJP KEPADA MASYARAKAT TERUTAMA SEPERTI :  “PETUGAS NEGARA”.  1. • CARA MENGATUR & MEMBIMBING PERTOLONGAN DENGAN MUDAH DAPAT MINTA AMBULAN. KECEPATAN DITEMUKANNYA KORBAN 2. KECEPATAN DIBERIKAN. DAN KUALITAS PERTOLONGAN YANG PROBLEMATIS DALAM PROSES PENANGGULANGAN PENDERITA GAWAT DARURAT FASE PRA RUMAH SAKIT.  BAGAIMANA : • MASYARAKAT PERTOLONGAN.

INKUBATOR DAN ALAT PERSALINAN. DAN PETUGAS DAPAT BERGERAK / • ADA ALAT KOMUNIKASI KE SENTRAL KOMUNIKASI KE RUMAH SAKIT.  • CUKUP DUA ORANG PERAWAT • DAPAT MENGEMUDIKAN MOBIL • SEBAIKNYA DI ASRAMAKAN. GANGGUAN PERNAPASAN TELAH DI TANGGULANGI 2. 3. 4.  APABILA : 1. BIDAI DAN TANDU. 2.  • RESUSITASI SET. DARAT. • ALAT ISAP. • ALAT ECG. PERDARAHAN SUDAH DIHENTIKAN. • ALAT PEMBALUT. 3. PATAH TULANG SUDAH DIFIKSASI.SYARAT PENDERITA GAWAT DARURAT DAPAT DI TRANSPORTASI. • OBATOBATAN DAN KELENGKAPAN INFUS/CAIRAN. LUKA SUDAH DI TUTUP. KENDARAAN. ALAT-ALAT MEDIS YANG DIPERLUKAN. MAUPUN UDARA • PEND DAPAT TERLENTANG. • CUKUP LUAS PALING SEDIKIT UNTUK 2 ORANG PENDERITA BERDIRI. SYARAT ALAT TRANSPORTASI YANG DIPERLUKAN DALAM PPGD 1. LAUT. • IDENTITAS YANG JELAS ( UNTUK MEMBEDAKAN ). . • TABUNG OKSIGEN YANG BERISI. PERSONAL YANG TERLATIH.

MERUPAKAN PROBLEMATIS BAGAIMANA CARANYA UANG DARI ASURANSI YANG TERLIBAT DAPAT DENGAN MUDAH SAMPAI KE AMBULAN. SAAT KEMBALI. FASE RUMAH SAKIT. KECEPATAN JALAN MOBIL SAAT MENGAMBIL KORBAN. • TEMPAT RUJUKAN KORBAN GAWAT DARURAT. PUSKESMAS DAN RS YANG MENANGANI KORBAN. • MELAKUKAN KOMUNIKASI DGN SENTRAL KOMUNIKASI 118 DAN RS LAIN. KECEPATAN JALAN MOBIL MAKSIMUM 40 KM/JAM. 2. PALING CEPAT 60 KM / JAM. PUSKESMAS MERUPAKAN POS TERDEKAT PERTOLONGAN MEDIS SEDANGKAN BAGIAN GAWAT DARURAT RUMAH SAKIT MERUPAKAN TERMINAL AKHIR PERTOLONGAN. LAMPU MERAH DINYALAKAN DAN SERINE JANGAN DIBUNYIKAN. .CARA TRANSPORTASI AMBULAN 118 1. LAMPU MERAH DIATAS MOBIL DINYALAKAN. • MENAMPUNG BENCANA. DAN MENANGGULANGI KORBAN FASE PEMBIAYAAN. 3. KARENA ITU PKM DAN BAGIAN UGD RS HARUS DAPAT/MAMPU : • MELAKUKAN RESUSITASI DAN “LIFE SUPPORT”. SEMUA PERATURAN LALU LINTAS TIDAK BOLEH DILANGGAR. SERINE KALAU PERLU DIBUNYIKAN.

2. BAGAIMANA DENYUT NADINYA ADA ATAU TIDAK. JANGAN TERBURUH-BURUH MEMINDAHKAN KORBAN. JANGAN PANIK. SYOK. PERDARAHAN. “TRIAGE”. 3. PENYEBAB KEMATIAN PADA KORBAN GAWAT. SIKAP PENOLONG DALAM PPGD 1. PENILAIAN KORBAN. 5. 4. CEGAH ASPIRASI DARI MUNTAHAN.  “APABILA YAITU : TERJADI KEGAGALAN SALAH SATU SISTEM . TERUTAMA APABILA KORBANNYA > DARI PADA PETUGAS. TUJUANNYA. 3. APAKAH KORBANNYA BERNAPAS ATAU TIDAK.  ADALAH SUATU SELEKSI KORBAN MENURUT TINGKAT KEGAWATAN DAN KEDARURATANNYA. APAKAH KORBANNYA SYOK ATAU TIDAK.  1. PERNAPASAN DAN DENYUT JANTUNG.PROSEDUR KERJA DALAM PPGD “CARA TERBAIK ADALAH MENGGUNAKAN TRIAGE”.  1. 5.  UNTUK KETEPATAN DAN EFISIENSI PENANGANNYA . BAGAIMANA JALAN NAPASNYA BEBAS ATAU TIDAK. BERSIKAP TENANG DAN CEKATAN YANG PERLU DIPERHATIKAN TERHADAP KORBAN. 4. APAKAH KORBANNYA SADAR ATAU TIDAK 2. 2.

3. 3. PERNAPASAN & KARDIOVASKULER YANG MENGALAMI KEGAGALAN KORBAN AKAN MENINGGAL DALAM WAKTU YANG SINGKAT YAITU 4 – 6 MENIT. BILA SISTEM OTAK. KORBANNYA AKAN MENINGGAL SECARA PERLAHAN-LAHAN. 2. MENCEGAH DAN MEMBATASI CACAD.  MERUPAKAN KEDOKTERAN SALAH DALAM SATU SISTEM BENTUK KEGIATAN PENATALAKSANAAN KEADAAN DARURAT MULAI DARI TEMPAT KEJADIAN SAMPAI DI RUMAH SAKIT.  BILA SISTEM HATI. MERINGANKAN PENDERITAAN KORBAN CRITICAL CARE MEDICINE. MENYELAMATKAN JIWA KORBAN. DIBUTUHKAN PENGETAHUAN DAN KETERAMPILAN YANG BAIK DARI PENOLONG. PRINSIP-PRINSIP PENATALAKSANAAN KEDARURATAN MEDIK 1. . TUJUANNYA ADALAH UNTUK : 1. DIBUTUHKAN PENGORGANISASIAN YANG SEMPURNA. DAPAT MELAKUKAN PERTOLONGAN PERTAMA SAMPAI PADA PERTOLONGAN SELANJUTNYA SECARA MANTAP DI RUMAH SAKIT 2. GINJAL DAN PANCREAS YANG MENGALAMI KEGAGALN.

 KARENA YANG DITANGGULANGI ADALAH ORANG DALAM KEADAAN KRITIS.  GANGGUAN YG TERJADI PADA JALAN NAFAS SEHINGGA SESEORANG MENGALAMI KESULITAN UNTUK BERNAFAS SECARA NORMAL. PERALATAN :  ALAT RESUSITASI SET.  SANGAT DIBUTUHKAN SAAT PERTOLONGAN PERTAMA DALAM PENANGGULANGAN KEDARURATAN MEDIK.  OBAT PER INFUUS.  OBAT SUNTIKAN.  PEMBALUT BIASA / SEGI TIGA.SIKAP PENOLONG. GAWAT DARURAT SISTEM PERNAPASAN GANGGUAN JALAN NAPAS ADALAH. . MAKA PENOLONG HARUS BERLOMBA DENGAN KORBAN.TOURNIQUET. WAKTU DALAM MENYELAMATKAN JIWA OBAT DAN PERALATAN.  ALAT BEDAH SEDERHANA DAN ALAT SUNTIK.  KAPAS DAN PLASTER.  KASA STERIL.  OBAT ORAL.  ALAT INFUUS DAN TRANSFUSI DARAH OBAT-OBATAN :  OBAT-OBAT ANTI SEPTIK.

 TRAUMA KAPITIS. SPASME LARINGS.DENYUT NADI TIDAK TERABA (ARTERI BESAR). KERACUNAN. • HIPEREKTENSI KEPALA DAN TARIK MANDIBULA KE DEPAN. YAITU : TINDAKAN PEMENUHAN AKAN OKSIGEN PADA PENDERITA YANG MENGALAMI GANGGUAN JALAN NAFAS DENGAN CARA : • TERLENTANGKAN PENDERITA DIATAS ALAS YG KERAS. .APNEA. TENGGELAM. GEJALA DAN TANDA-TANDA : TERHENTINYA DITANDAI: . . SYOK BERAT. SUMBATAN JALAN NAFAS. SIANOSIS . BILA TIDAK BERHASIL.HILANGNYA KESADARAN. KEPALA DIMIRINGKAN.DILATASI PUPIL PERNAFASAN DAN ATAU SIRKULASI. BENDA ASING. • BERSIHKAN RONGGA MULUT DAN FARINGS DGN JARI YG DIBALUT KAIN KASSA ATAU DGN ALAT PENGISAP. DEPRESI PERNAPASAN. • JAGA MULUT TETAP TERBUKA  BILA PENDERITA MASIH TETAP TIDAK BERNAFAS SEGERA LAKUKAN NAFAS BUATAN 3 – 5 KALI DGN CEPAT  BILA DGN CARA INI PENDERITA MASIH BELUM BISA BERNAFAS . 2.PENYEBAB AL: 1. TINDAKAN DAN PENANGGULANGANNYA “OKSIGENISASI”.

 : BERHENTINYA PERNAFASAN DAN SIRKULASI SECARA SEMENTARA. TUJUAN PERNAFASAN BUATAN/RESUSITASI. MEMBEBASKAN JALAN NAFAS 2. MENCEGAH KEMATIAN KEBERHASILAN PERNAFASAN BUATAN ATAU RESUSITASI DIMUNGKINKAN KARENA ADA WAKTU TERTENTU DIANTARA : “MATI KLINIS DAN MATI BIOLOGIS”. .SPONTAN. TINDAKAN SELANJUTNYA LAKUKAN PERNAFASAN BUATAN BERSAMAAN DGN KOMPRESI JANTUNG LUAR ( RESUSITASI ) PERNAPASAN BUATAN ADALAH “SUATU TINDAKAN ATAU UPAYA YG DIBERIKAN KEPADA SESEORANG YG MENGALAMI GANGGUAN PERNAFASAN GUNA MERANGSANG ALAT PERNAFASAN SEHINGGA OKSIGEN TERPENUHI”.  1.  MATI KLINIS ADALAH. R E S U S I T A S I “ADALAH SUATU USAHA UNTUK MENGEMBALIKAN FUNGSI PERNAFASAN DAN ATAU SIRKULASI SERTA PENANGANAN AKIBAT BERHENTINYA PERNAFASAN DAN ATAU BERHENTINYA DENYUT JANTUNG (CARDIAC ARREST) PADA ORANG-ORANG DIMANA FUNGSI-FUNGSI TSB MANGALAMI KEGAGALAN TOTAL OLEH SUATU SEBAB YG DATANGNYA SECARA TIBA-TIBA PADA ORANG-ORANG DGN KONDISI TUBUH YG MEMUNGKINKAN UNTUK HIDUP NORMAL SELANJUTNYA BILA KEDUA FUNGSI TSB BEKERJA KEMBALI”. MENGEMBALIKAN KE PERNAFASAN NORMAL 3.

 : BERHENTINYA PERNAFASAN & SIRKULASI SECARA TOTAL.  MATI SOSIAL ADALAH.  : GAMBARAN KLINIS BERHENTINYA SIRKULASI YG TIBATIBA PADA PENDERITA YG TAK DIHARAPKAN MATI PADA WAKTU TERSEBUT. TANDA-TADA CARDIAC ARREST. MATI BIOLOGIS ADALAH.  : KEADAAN DIMANA PERNAFASAN DAN SIRKULASI TERJADI SPONTAN ATAU BUATAN DENGAN AKTIVITAS ABNORMAL ( PENDERITANYA KOMA).  : • PENDERITA TIDAK SADAR • APNOE ATAU PENGAP-PENGAP • KULIT PUCAT • DENYUT NADI / ARTERI BESAR TIDAK TERABA • PUPIL MELEBAR MAKSIMAL PERSENTASE KEBERHASILAN RKP/RJP PADA PENDERITA HENTI NAFAS/JANTUNG KETERLAMBATAN BERHASIL 1 MENIT 2 MENIT 3 MENIT 4 MENIT 5 MENIT : : : : : 98 DARI 100 PENDERITA 92 DARI 100 PENDERITA 72 DARI 100 PENDERITA 50 DARI 100 PENDERITA 25 DARI 100 PENDERITA : KEMUNGKINAN .  CARDIAC ARREST ADALAH.

III. OBTRUKSI JALAN NAFAS ADALAH. • KELAINAN KONGENITAL TANDA-TANDA DAN GEJALA : TERBAGI EMPAT STADIUM :  STADIUM I SESAK NAPAS STRIDOR INSPIRASI. PENDERITANYA MENJADI APATIS.   STADIUM II. • TUMOR. TERJADI PARALISIS PUSAT PERNAPASAN. • EDEMA JALAN NAPAS.6 MENIT 7 MENIT 8 MENIT 9 MENIT 10 MENIT 11 MENIT 12 MENIT : : : : : : : 11 DARI 100 PENDERITA 8 DARI 100 PENDERITA 5 DARI 100 PENDERITA 2 DARI 100 PENDERITA 1 DARI 100 PENDERITA 1 DARI 100 PENDERITA 1 DARI 100 PENDERITA 1. • SPASME OTOT LARINGS.  MERUPAKAN KEADAAN DARURAT YANG DAPAT DITIMBULKAN OLEH BERBAGAI SEBAB AL : • BENDA ASING. PENDERITA SANGAT GELISAH DAN . PENDERITA MASIH BAIK. PENDERITA MULAI GELISAH. STADIUM SIANOSIS  STADIUM IV. • TRAUMA DAERAH LARINGS.

TELAPAK TANGAN YG LAIN DI ATASNYA. SATU TELAPAK TANGAN DILETAKKAN DI EPIGASTRIUM PENDERITA. TANGAN LAIN MENCEKAP KEPALAN TSB DGN IBU JARI MENGHADAP PERUT SEDIKIT DIATAS PUSAR DAN DILETAKKAN DIBAWAH PROSESUS XIPHOIDEUS STERNUM. • LAKUKAN PENDORONGAN / HENTAKAN DGN KUAT DAN CEPAT KEARAH ATAS. USAHAKAN SESEGERA MUNGKIN DIKELUARKAN DGN TEKNIK MANUVER HEIMLICH : A. • LINGKARKAN KEDUA TANGAN MENGELILINGI PINGGANG PENDERITA. • BILA TIDAK BERHASIL COBA KELUARKAN BENDA ASING DENGAN JARI YG DIMASUKKAN DALAM LARINGS. PENDERITA DALAM POSISI DUDUK/BERDIRI : • PENOLONG DUDUK/BERDIRI DI BELAKANG PENDERITA. PENDERITANYA DIBUNGKUKKAN DAN DILAKUKAN PENEPUKAN KUAT DI PUNGGUNG DI ANTAR KEDUA SKAPULA B.PENANGGULANGAN OBSTRUKSI JALAN NAPAS BILA DISEBABKAN OLEH BENDA ASING. PENDERITA DALAM POSISI TERLENTANG : PENOLONG BERLUTUT DI ATAS PENDERITA DGN KEDUA LUTUT DI SAMPING KIRI DAN KANAN TUBUH PENDERITA. • BUAT KEPALAN DENGAN SATU TANGAN. • BILA SULIT ATAU BENDA ASING LETAKNYA DALAM. BERULANG KALI ( 6 – 10 KALI ). LAKUKAN PENEKANAN DGN PANGKAL TELAPAK TANGAN .

PERHATIKAN BERATNYA SERANGAN DAN OBAT-OBAT YANG TELAH DIBERIKAN.  : USAHAKAN MENANGGULANGI SUMBATAN JALAN NAPAS. STATUS ASMATIKUS ADALAH SUATU SERANGAN ASMA YG BERAT. ADA SIANOSIS. PERHATIKAN FAKTOR YANG MERANGSANG TIMBULNYA SERANGAN. 2. GEJALA DAN TANDA-TANDA  SESAK NAFAS YG BERAT DGN EKSPIRASI DISERTAI WHEEZING (GELISAH.  PEMERIKSAAN LABORATORIUM SPUTUM DAN DARAH TERDAPAT EOSINOFILI. BILA PENDERITA MUNTAH MIRINGKAN TUBUHNYA DAN BERSIHKAN MULUTNYA.DGN KUAT DAN CEPAT KEARAH ATAS. PEMBERIAN OBAT BRONKODILATOR. 3. PENILAIAN TERHADAP PERBAIKAN SERANGAN. . BERLANGSUNG DALAM BEBERAPA JAM SAMPAI BEBERAPA HARI. BILA GAGAL KARENA BUKAN DISEBABKAN BENDA ASING SIAPKAN SEGERA TRAKEOTOMI ATAU INTUBASI. TINDAKAN INI DAPAT DIULANG BEBERAPA KALI. PERTIMBANGAN TERHDP PEMBERIAN KORTIKOSTEROID. YG TIDAK MEMBERIKAN PERBAIKAN PADA PENGOBATAN YG LAZIM. PRINSIF-PRINSIF PENANGGULANGAN.  1. 4. TAKHIKARDI). BILA TERJADI SERANGAN.

PENGOBATAN PENUNJANG III. SINUSITIS ) NEOPLASMA ( ANGIOFIBROMA ) KONGENITAL PENYEBAB SISTEMIK : 1. INFEKSI ( THYPOID.  : EPISTAKSIS ANTERIOR. SERING DITEMUI PADA ANAK-ANAK. MENOPUSE ) MENURUT SUMBERNYA. KORTIKOSTEROID. PEMBERIAN OKSIGEN. I. PERUBAHAN TEKANAN ATMOSFIR 5. SERING DITEMUI PADA . SETELAH SERANGAN MEREDA : • CARI FAKTOR PENYEBAB. EPISTAKSI POSTERIOR. EPISTAKSIS ADALAH. INFLUNZA ) 4. KELAINAN DARAH ( HEMOFILIA. BRONKODILATOR. LEUKEMIA ) 3..  BERASAL DARI ARTERI ETMOIDALIS ANTERIOR. • MODIFIKASI SELANJUT. ENDOKRIN (MENARCHE. II.  MERUPAKAN PERDARAHAN DARI RONGGA HIDUNG PENYEBAB LOKAL : TRAUMA ( TERPUKUL DLL ) INFEKSI ( RINITIS.. KEHAMILAN.5. BIASANYA RINGAN DAN MUDA DIATASI.  : BERASAL DARI ARTERI ETMOIDALIS POSTERIOR. KARDIOVASKULER ( HIPERTENSI ) 2.

• BILA MASIH BERDARAH PASANG TAMPON KEMBALI DENGAN KASSA YG DIBERI BOORZALF SELAMA 1 – 2 HARI. MENCEGAH KOMPLIKASI 3. ASAL PERDARAHAN DI KAUSTIK DGN LARUTAN AgNO3 20 – 30 % ATAU ASAM TRIKLOROASETAT 2 – 6 %. • BILA GAGAL PASANG TAMPON POSTERIOR BELLOCQ. MENGHENTIKAN PERDARAHAN 2. DGN MEMASANG TAMPON YG DIBASAHI ADRENALIN 1/1000 DAN PANTOKAIN 2 % • BILA PERDARAHAN BERASAL DARI ANTERIOR.  1.  COBA ATASI DGN KAUTER DAN TAMPON ANTERIOR. . • BILA PERDARAHAN BERASAL DARI POSTERIOR. PRINSIF PENANGGULANGAN. • BILA PERDARAHAN MENETAP WALAUPUN TELAH DILAKUKAN TINDAKAN DIATAS.USIA LANJUT AKIBAT HIPERTENSI. • TENTUKAN ASAL PERDARAHAN. MENCEGAH BERULANG DGN MENCARI PENYEBAB.  PASANG KEMBALI TAMPON SEPERTI DIATAS SELAMA 5 – 10 MENIT. DIPERTIMBANGKAN UNTUK OPERASI. • SETELAH TAMPON DIANGKAT. BIASANYA BERAT JARANG UNTUK DAPAT BERHENTI SPONTAN.

MEMBERIKAN SIRKULASI BANTUAN DAN EKSTERNAL DARI TERHADAPA KORBAN YG BERHENTINYA PERNAFASAN DENYUT VENTILASI MENGALAMI HENTI JANTUNG DAN NAFAS MELALUI RJP. TIDAK ADA RESPONS 2. PERBAIKI JALAN NAFAS AGAR JALAN NAFAS TETAP TERBUKA DENGAN METODE : • EKSTENSI KEPALA DAN ANGKAT LEHER • EKSTENSI KEPALA DAN DORONG MANDIBULA • ANGKAT DAGU DAN DORNG MANDIBULA . TIDAK ADA NAFAS 3. PENILAIAN BHD MELIPUTI : 1. YG BERTUJUAN: 1.B.C  A : AIRWAY ( JALAN NAFAS ). JANTUNG DAN ORGAN VITAL LAINNYA SAMPAI DATANGNYA BHL. 2. MENCEGAH JANTUNG.  DIMULAI MELETAKAN KORBAN DALAM POSISI TERLENTANG PADA ALAS YANG KERAS DGN URUTAN A.BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) MERUPAKAN BAGIAN DARI PENGELOLAAN GAWAT DARURAT MEDIK BILA TERJADI HENTI NAFAS PRIMER. RESUSITASI JANTUNG PARU ( RJP ) ADALAH : MERUPAKAN BHD DGN CARA MEMBERIKAN OKSIGEN KEPADA OTAK. TIDAK ADA NADI BILA TIDAK ADA RESPONS AKTIFKAN BHD.

B : BREATHING ( PERNAFASAN ).  SETELAH JALAN NAFAS TERBUKA. DENGAN CARA : MERABA DENYUT ARTERI BESAR (CAROTIS/FEMORALIS) BILA TIDAK TERABA LAKUKAN RJP BAIK DENGAN SATU PENOLONG ( 2 VENTILASI 15 KOMPRESI). BILA TIMBUL KEMBALI SIRKULASI DAN VENTILASI SPONTAN YANG EFEKTIF 2. PENOLONG HENDAKNYA MENILAI APAKAH KORBAN DAPAT BERNAFAS SPONTAN ATAU TIDAK. MAUPUN DUA PENOLONG ( 1 VENTILASI 5 KOMPRESI ) KEPUTUSAN UNTUK MENGAKHIRI UPAYA RESUSITASI: 1.  MERUPAKAN PENILAIAN SIRKULASI ALIRAN DARAH PADA KORBAN APAKAH MASIH BERJALAN DENGAN BAIK ATAU TIDAK. DITANDAI DGN : • KORBAN TETAP TIDAK SADAR . PENOLONG TERLALU CAPAI SEHINGGA TAK SNAGGUP MENERUSKAN RESUSITASI 4. KEMUDIAN RABA DENYUT NADI • BILA NAFAS MASIH BERHENTI NADI MASIH TERABA. LANJUTKAN VENTILASI SETIAP 5 DETIK. C : CIRCULATION ( SIRKULASI ). PASIEN DINYATAKAN MENINGGAL. DGN CARA : • MENDENGARKAN BUNYI NAFAS DARI HIDUNG/MULUT • MEMPERHATIKAN GERAKAN NAFAS PADA DADA • BILA TIDAK TERDENGAR/TERLIHAT BARIKAN NAFAS BUATAN 2 KALI DALAM 2 DETIK. UPAYA RESUSITASI TELAH DIAMBIL ALIH OLEH ORANG YG BERTANGGUNG JAWAB 3.

.• TIDAK TIMBUL VENTILASI SPONTAN DAN REFLEK MUNTAH • PUPIL TETAP DILATASI MAKSIMAL SELAMA 15 – 30 MENIT ( KECUALI PASIEN DI BAWAH PENGARUH OBAT ANESTESI ).

kecuali ada perdarahan di kepala dan sesak napas. warnanya merah segar Perdarahan Vena: Darah yang keluar mengalir. dan warnanya kehitaman Perdarahan Kapiler: Darah yang keluar merembes. Tekan pembuluh nadi antara tempat perdarahan dan jantung. Prinsip 5 T yaitu: Tekan bagian tang berdarah 5 – 15 menit. Bila belum berhenti dapat ditambah pembalut lain tanpa melepas pembalut pertama Tidurkan penderita dengan kepala lebih rendah. Tenangkan korban dan ajak bicara. Menghentikan perdarahan dengan . Mengganti darah yang hilang . Beri pembalut tekan pada tempat perdarahan. Tinggikan anggota badan yang berdarah. dan warnanya merah sagar Tindakan dan penanggulangan Perdarahan : A. Penyebab : Cedera atau luka-luka Tipe • • • Perdarahan Perdarahan Arteri Perdarahan Pembuluh darah balik (vena) Perdarahan Kapiler Tanda-tanda Perdarahan : Perdarahan Arterial: Darah yang keluar menyemprot.PERDARAHAN Adalah keluarnya darah dari pembuluh darah. B.

Kes Petunjuk menjawab soal Jawablah pertanyaan dibawah ini dengan memberikan tanda silang ( X ) pada lembar jawaban yang telah tersedia. Keadaan yang tidak diinginkan terjadi d. Bahaya yang mengancam kematian pada seseorang disebut : a. Pelaksanaan Penanggulangan Gawat Darurat 2. S. Pendidikan Perawat Gawat Darurat c. Keadaan darurat c. Persatuan Perawat Gawat Darurat b.Sos.DEPARTEMEN KESEHATAN R.I POLITEKNIK KESEHATAN DEP KES P A L E M B A N G SOAL MATA AJARAN PENANGGULANGAN GAWAT DARURAT Nama NIM T Tangan : : : Penanggung Jawab MA : Ishak Bakri. 1. M. Keadaan gawat darurat . Penanggulangan Penderita Gawat Darurat d. PPGD adalah berasal dari kata: a. Keadaan gawat b.

Korbannya komunikatif. a. Komunikasi b.3 menit b. Keracunan c. Penderita gawat darurat d. Tenggelam d. KECUALI:…… a. Syarat kendaraan yang dapat digunakan dalam PPGD antara lain. Cukup luas paling sedikit untuk 2 orang. a. Critical Care Medisin b. 10. Sikap penolong c. Korbannya dapat di telentangkan b. Penderita gawat tidak darurat 4. Problem yang sering timbul pada saat PPGD sebelum korban sampai di R. Spasme laring 11. Pendidikan c. Fungsi PPGD b. Warna harus putih . Kecepatan untuk minta tolong c. KECUALI : : a. Penderita gawat b. Ada alat komunikasi dan identitasnya harus jelas ( dari mana ). Penderita yang tiba-tiba berada dalam keadaan gawat dan terancam jiwanya atau anggota badannya disebut : a.S 8. 11 – 15 menit 7 Keberhasilan PPGD ditentukan oleh tiga ( 3 ) kecepatan. kecacatan merupakan : a. Penderita akibat musibah yang datangnya tiba-tiba tetapi tidak mengancam jiwanya disebut a. petugas dapat berdiri c. Penderita darurat tidak gawat 5 Mempertahankan kehidupan. KECUALI :…. Transportasi d. Langkah PPGD d. Penderita gawat b.S atau pra R. Pederita gawat tidak darurat d.. atau sistem pernapasan maupun sistem kardiukvaskular. Sistimatika PPGD mencegah kondisi makin memburuk dan membatasi 6. Pembiayaan 9. Bila terjadi kegagalan salah satu sistem tubuh seperti sistem otak. 1 . Kecepatan dan kualitas pertolongan d. 7 – 10 menit d. KECUALI : ……. Tujuan PPGD c. Kasus yang tidak menyebabkan terjadinya depresi pernapasan dibawah ini adalah : a. Trauma kapitis b. Penderita darurat c. Penderita darurat c. Obat-obatan dan peralatan d. Kecepatan ditemukannya korban b. Kreteria yang harus dipenuhi dalam prinsif PPGD adalah hal-hal dibawah ini. 4 – 6 menit c.S adalah sebagai berikut.3. menurut teori penderita akan meninggal dalam kurun waktu : a. d. Kecepatan koban sampai di R.

KECUALI : b.12. KECUALI : a. Tidak ada tanda pupil melebar 20.Untuk memenuhi akan kebutuhan oksigen pada korban/penderita gangguan jalan nafas. Tidak ada nafas d. Tidak ada respon c. Mati biologis c. Angkat dagu dan dorong mandibula . Membatasi kecacatan 14. Cardiac Arrest 16. Jangan panik. pastikan dahulu 3 (tiga) hal dibawah ini benar-benar ada. 3 – 5 kali c. 9 – 12 kali 13 Tujuan dilakukannya pernafasan buatan dan resusitasi adalah. Sikap yang harus ditunjukkan oleh seorang penolong pada saat melakukan PPGD adalah a. Cardiac Arrest 15. 6 – 7 menit setelah henti nafas dan jantung d. KECUALI : a. Mencegah berhentinya sirkulasi cairan tubuh. c. Metode yang benar untuk perbaikan jalan nafas agar tetap terbuka. sebaiknya segera lakukan nafas buatan sebanyak : a. 1 – 2 kali b. pertolongan sesegera mungkin dilakukan paling lambat : a. Mencegah kematian d. Mencegah jangan sampai korbannya aspirasi dan muntah-muntah. Korban/penderita nafas dan sirkulasinya berhenti secara total disebut : a.Untuk mencegah terjadinya mati biologis pada korban/penderita gangguan jalan nafas. Salah satu tujuan dalam melakukan BHD: a.adalah disebut : a. Biarkan saja dulu korban/penderitanya tenang b. Ekstensi kepala dan angkat leher b.Mati sosial d. Ajak korban berbicara bila mungkin 18. Pleksi kepala dan dorong dagu d. 8 – 9 menit setelah henti nafas dan jantung 17. Mati biologis c. 4 – 5 menit setelah henti nafas dan jantung c. bersikap tenang dan cekatan dalam bertindak d. Membebaskan jalan nafas b. Mati klinis b. Mati sosial d. Mencegah berhentinya pernafasan dan denyut jantung b.Gambaran klinis berhentinya sirkulasi yang tiba-tiba pada penderita yang tidak diharapkan mati pada waktu tersebut. Mati klinis b.Bila akan melakukan BHD. 2 – 3 menit setelah henti nafas dan jantung b. Tidak ada nadi e. Cepat pindahkan korban ketempat yang tenang tanpa menghiraukan kondisinya c. Mengembalikan ke pernafasan normal c. 19. Mencegah jangan sampai korbannya tidak sadar d. Ekstensi kepala dan dorong mandibula c. 6 – 8 kali d.

S. Sp. H.Pd : 2. pemahaman dan keterampilan .Kes : 4. M. SST A. Devi Mediarti. S. SST. Proses pembelajaran disusun dalam bentuk ceramah. M.Kep. Azwaldi.Sos. S. M. Drs. penugasan dan penelaahan kasus di laboratorium maupun di lahan praktek. DESKRIPSI MATA AJARAN. Nasir A.Pd. sehingga memberikan pengalaman. S. ISHAK BAKRI. Hamid.KMB : 3.Lembar jawaban NO 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 A B C D SILABUS MATA AJARAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT POLITEKNIK KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN P A L E M B A N G TAHUN 2010 MATA AJARAN KODE MA PENEMPATAN JUMLAH SKS KOORDINATOR MA TIM PENGAJAR : KEPERAWATAN GAWAT DARURAT : 439 : TINGKAT TIGA (III) SEMESTER VI : 3 SKS : H. M. Rachmad Aswin. Sukmawicatur. Hj.Kes : 1.Kes : 5. Mata ajaran ini membahas konsep keperawatan Gawat Darurat pada semua system di berbagai tingkat usia.Kep.

Asuhan keperawatan gawat darurat system pencernakan 5.Tujuan Umum : Setelah mengikuti pendidikan mata ajaran ini. peserta didik mampu melakukan asuhan keperawatan terhadap klien gawat darurat pada semua system : 1. konsep dan prinsif dasar keperawatan gawat darurat 2. Asuhan keperawatan gawat darurat system muskuloskeletal 9. Tujuan khusus : Setelah mengikuti pendidikan mata ajaran ini. peserta didik mampu memahami konsep keperawatan gawat darurat dan dapat melakukan asuhan keperawatan gawat darurat. 2. B. Asuhan keperawatan gawat darurat system kardiovaskuler 4. Asuhan keperawatan gawat darurat system ginekologi dan obstetrik 13. Asuhan keperawatan gawat darurat system pendengaran 8. Asuhan keperawatan gawat darurat system penglihatan 7. Evaluasi Formatif . Asuhan keperawatan gawat darurat system Pernafasan 3. Asuhan keperawatan gawat darurat system perkemihan 6. Asuhan keperawatan gawat darurat system psikatri dan psikologi C. Asuhan keperawatan gawat darurat system endokrin 12. METODE PEMBELAJARAN : PBC = 55 % PBP = 20 % PBK = 25 % D. TUJUAN MATA AJARAN 1. Asuhan keperawatan gawat darurat system injuri jaringan lunak 10. Asuhan keperawatan gawat darurat keracunan dan over dosis 11. EVALUASI : 1.klinik bagi peserta didik dalam memberikan asuhan keperawatan pada klien gawat darurat.

David knighton dkk. Jakarta. Nancy L Caroline Emergency Care In The Streets. Tim PPGD RSHS Bandung modul Pelatihan PPGD. Evaluasi Sumatif E. 4. 5. JA Stromski. METODE PEMBELAJARAN : 4. Jakarta Kedokteran EGC. RSHS Bandung. Ceramah / Diskusi / Tanya jawab 5. Boston. dkk Resusitasi Kardiopulmoner dan Syok. Ir. 3. ESC. Tindakan-tindakan Gawat Darurat. Little brown and company. RUJUKAN : 1. John A Boswick. Sumatif. Jakarta Kedokteran EGC. Perawatan Gawat Darurat.Ho MD. Penugasan / Seminar 6. 4. kegiatan pembelajaran yang ditempuh adalah kuliah / tatap muka. Kedokteran. Mary T. Kedokteran. Jakarta. PERSYARATAN MENGIKUTI UJIAN SEMESTER: Kehadiran : 80 % Boleh mengikuti ujian : > 65 % < 80 % Boleh mengikuti ujian dengan penugasan : < 65 % Tidak boleh mengikuti ujian STRATEGI PEMBELAJARAN : Dalam mata kuliah ini. Formatif. Untuk praktek dilahan di gabung dalam mata ajaran medical bedah. . Prosedur Kedaruratan. Praktek Laboratorium / lahan bersama mata ajaran Medikal Bedah EVALUASI PEMBELAJARAN : 3. Michael S. EGC.2. seminar. 6. 2. laboratorium dan praktek dilahan. MD.

SILABUS MATA AJARAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT .

Sos. S.M.PENANGGUNG JAWAB MA ISHAK BAKRI.Kes POLITEKNIK KESEHATAN JURUSAN KEPERAWATAN P A L E M B A N G TAHUN 2009 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful