Anda di halaman 1dari 17

KOMPETENSI ARSIPARIS DI ERA KETERBUKAAN INFORMASI Pendahuluan Sebagian besar orang awam menganggap bahwa arsiparis hanyalah sebagian

kecil dari segenap pekerjaan lainnya. Hal ini tidak jauh dari anggapan sebagai seorang yang hidupnya di ruangan dengan tumpukan naskah dan buku-buku yang telah usang, tak urungnya sebagai seorang pustakawan yang kerjanya hanya sebagai seorang penjaga buku. Sedemikian minimnya kah pandangan orang awam? Hal Ini yang membuat penulis memberi penjelasan dan pemetaan akan makna dari arsiparis, mulai dari siapa dia? Kerjanya di mana? Bagaimana kompetensinya? Apa bedanya dengan pustakawan? Jika semua terjawab, lalu bagaimana dengan tumbuh kembangnya informasi di masyarakat saat ini, apakah arsiparis dengan kompetensinya mampu menjawabnya? Arsiparis diakui sebagai salah satu anggota profesi sebagaimana dapat bersanding dengan profesi lainnya, seperti dokter, guru, dosen dan yang lainnya. Secara umum profesi diartikan sebagai suatu pekerjaan. Menurut Lasa Hs (2009:288-289), profesi bukan sekedar pekerjaan atau vacation, akan tetapi suatu pekerjaan yang memerlukan keahlian atau expertise, tanggung jawab atau responsibility, dan kesejawatan atau corporateness. Pekerjaan professional tersebut tentunya tidak akan luput dari suatu kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. Keprofesionalan seseorang akan dapat dicapai dengan bagaimana ia bekerja dengan kompetensi yang dimilikinya. Dalam hal ini kompetensi sangat erat hubungannya dengan profesionalisme seseorang. Secara umum, kompetensi diartikan sebagai kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu (KBBI, 2008:813). Dengan adanya suatu kompetensi, kinerja seseorang dapat diketahui tingkat kredibilitasnya. Sebagaimana dengan kompetensi arsiparis, yang pada awal penulis mengatakan bahwa masih banyak orang yang belum faham akan keberadaan seorang arsiparis atau bahkan arsip itu sendiri. Arsip merupakan rekaman kegiatan atau peristiwa dalam berbagai bentuk dan media sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang dibuat dan diterima oleh lembaga negara, pemerintahan daerah, lembaga pendidikan, perusahaan, organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, dan perseorangan dalam pelaksanaan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara (UU RI NO.43 Tahun 2009:3-4). Pengertian tersebut menunjukkan bahwa keberadaan arsip merupakan aset historis suatu lembaga, daerah, bahkan bagi suatu bangsa. Hal ini sejalan dengan apa yang diungkapkan oleh pakar arsip bahwa dunia tanpa arsip adalah dunia tanpa memori, tanpa kepastian hukum, tanpa sejarah, tanpa kebudayaan dan tanpa ilmu 1

pengetahuan, serta tanpa identitas kolektif (Mykland, 1992: 21). Pernyataan tersebut dapat dipahami bahwa begitu pentingnya arsip bagi kita, terlebih bagi bangsa ini. Sehingga diperlukan penanganan dan pelestarian yang baik dalam mengolah sebuah arsip. Dalam hal ini siapa yang bertugas mengolah arsip-arsip tersebut? Tidak lain adalah arsiparis. Arsiparis adalah seorang yang sangat berperan dalam hal penanganan arsip, baik itu arsip dinamis maupun statis. Terlebih di era teknologi yang kian berkembang saat ini semua serba canggih, dan masyarakat yang cenderung ingin menikmati informasi seluas-luasnya serta serba praktis. Kondisi demikian membuat segenap lembaga berlomba-lomba untuk dapat menyediakan dan melayani masyarakat dengan baik dan mengikuti paradigma masyarakat tersebut. Untuk itu, di era keterbukaan informasi ini seorang arsiparis dituntut untuk meningkatkan kinerjanya dalam melayani masyarakat sebagai wujud dari kompetensinya sebagai seorang arsiparis yang tanggap dan profesional dalam menjalankan tugasnya.

1. Kebutuhan masyarakat akan informasi Informasi adalah keterangan, pernyataan, gagasan, dan tanda tanda yang mengandung nilai, makna, dan pesan, baik data, fakta maupun penjelasannya yang dapat dilihat , didengar, dan dibaca yang disajikan dalam berbagai kemasan dan format sesuai dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi secara elektronik ataupun non elektronik (UU RI tentang KIP 2008:2). Sebagaimana dengan kondisi Bangsa Indonesia saat ini sedang mengalami proses transformasi menuju era masyarakat informasi. Kemajuan teknologi informasi yang demikian pesat serta potensi pemanfaatannya secara luas, membuka peluang bagi pengaksesan, pengelolaan, dan pendayagunaan informasi dalam volume besar-besaran dan dapat diakses secara cepat dan akurat. Kurangnya penyesuaian diri terhadap kecenderungan global akan membawa bangsa Indonesia ke dalam jurang digital divide, yaitu keterisolasian dari perkembangan global karena tidak mampu memanfaatkan informasi. Begitu pula dengan arsip yang merupakan salah satu bentuk informasi yang sangat penting, baik itu bagi instansi pemerintah maupun swasta. Informasi yang terkandung didalam arsip berisi hal-hal yang benar dan tidak dibuat-buat, yang mana dijadikan sebagai bukti otentik. Hal ini tentu saja menjadikan banyak orang ingin dapat mengakses arsip tersebut. Dunia kersipan membahas banyak hal berkaitan dengan arsip, baik itu mulai dari bagaimana pengelolaannya, memenejnya sampai pada siapa yang dilayaninya? Bagaimana pelestariannya? Berangkat dari itu semua, lalu siapakah yang bertanggung jawab dengan hal tersebut? Ujung tombak dari seluruh kegiatan tersebut tidak lain adalah seorang arsiparis. Than who is the archivist? 1.1 Siapakah Arsiparis itu? Arsiparis adalah seorang yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan/atau pendidikan dan pelatihan kearsipan serta mempunyai fungsi, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan (UU No.43 Tahun 2009:4-5). Sedangkan menurut (ODLIS, 2002:39), arsiparis adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengelola dan menjaga koleksi arsip, sibagaimana pustakawan dengan pelatihan khusus dalam praktek arsip dan metode, termasuk identifikasi dan penilaian catatan nilai arsip, otentikasi, pencapaian, deskripsi/dokumentasi, fasilitas akses dan penggunaan, penyimpanan dan pelestarian, publikasi untuk manfaat beasiswa dan memenuhi kepentingan publik. 3

The person responsible for managing and maintaining an archival collection, usually a librarian with special training in archival practices and methods, including the identification and appraisal of records of archival value, authentication, accessioning, description/documentation, facilitation of access and use, preservation and conservation, and exhibition and publication to benefit scholarship and satisfy public interest. 1.2 Apa bedanya dengan pustakawan?

Sekilas kita melihat bahwa antara pustakawan dan arsip adalah profesi yang sama. Sama-sama bekerja dalam gedung yang bernilai historis, sama-sama berkutat dengan segudang informasi dan koleksi. Hal ini sejalan dengan pemahaman orang akan fungsinya yang sama-sama sebagai pengolah, menyimpan, menyampaikan, sampai pada melestarikan informasi. Meskipun secara kasat mata terlihat sama, akan tetapi secara kelembagaan keduanya memiliki tempat dan kompetensi yang berbeda. Demikian pula dengan jenjang atau penempatannya sebagai anggota profesi. Sebagaimana kita ketahui bahwa untuk menduduki tempat atau salah satu anggota profesi tidak serta merta didapatkan begitu saja tanpa adanya usaha atau pendidikan yang jelas. Profesi diartikan sebagai bidang pekerjaan yang dilandasi dengan pendidikan keahlian (keterampilan, kejujuran, dsb) tertentu (KBBI, 2008:1234). Penjelasan tersebut dapat kita fahami bahwa profesi tidak datang begitu saja, melainkan didapatkan melalui pendidikan sebagai dasar usaha seseorang dalam pencapaiannya sebagai anggota profesi tersebut. Berkaitan dengan istilah profesi, seorang arsiparis yang menjadi salah satu bagian dari anggota profesi pun harus mengerti karakteristik profesi menurut (Sayafei, 2000). Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis Profesional diasumsikan mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif dan memiliki keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan dalam praktek. Asosiasi professional Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para anggotanya. Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan khusus untuk menjadi anggotanya. Pendidikan yang ekstensif

Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi. Ujian kompetensi Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan teoretis.

Pelatihan institutional Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan untuk mengikuti pelatihan istitusional dimana calon profesional mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi. Peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga dipersyaratkan. Lisensi Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa dipercaya. Otonomi kerja Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan teoretis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar. Kode etik Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan. Mengatur diri Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang berkualifikasi paling tinggi. Layanan publik dan altruism Diperolehnya penghasilan dari kerja profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik, seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat. Status dan imbalan yang tinggi Profesi yang paling sukses akan meraih status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap layanan yang mereka berikan bagi masyarakat. Arsiparis sebagaimana tertuang dalam Kepmenpan Nomor 09/KEP/M.PAN/2/2002 Bab II pasal 3 ayat (1) Arsiparis berkedudukan sebagai

pelaksana teknis fungsional di bidang pengelolaan arsip dinamis dan arsip statis. (2) Arsiparis sebagaimana dimaksud pada ayat (1), adalah jabatan karier yang hanya diduduki oleh pegawai negeri sipil. Sedangkan petugas perpustakaan adalah orang yang memiliki pengetahuan dibidang perpustakaan itu sendiri, yang dimulai dari diciptakannya sampai dengan pemanfaatannya. Lebih lanjut menurut Burhanudin (2003:2), arsiparis sebagai profesi harus didukung oleh substansi teoritis sebagaimana profesi lainnya. berkaitan dengan profesi dalam hal ini arsiparis harus didukung dengan latar belakang ilmu dan teori kearsipan, di samping itu dengan memperhatikan ketrampilan yang professional serta fungsi dan tugas organisasi pencipta arsip. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor:

09/KEP/M.PAN/2/2002, arsiparis diklasifikasikan menjadi 2 berdasarkan basis pendidikan yang dimiliki, yaitu Arsiparis Tingkat Ketrampilan dan Tingkat Keahlian. Dari kedua basis pendidikan tersebut dirinci lagi menjadi Jenjang kepangkatan dan golongan ruang arsiparis Tingkat Ketrampilan dengan basis pendidikan Diploma II atau Sarjana Muda adalah sebagai berikut : 1. Arsiparis pelaksana, terdiri dari dari : a. Pengatur Muda Tingkat I, golongan ruang II/b b. Pengatur, golongan ruang II/c c. Pengatur Tingkat I, gologan ruang II/d 2. Arsiparis Pelaksana Lanjutan, terdiri dari atas : a. Penata Muda, golongan ruang III/a b. Penata Muda Tingkat I, gologan ruang III/b 3. Arsiparis Penyelia, terdiri dari : a. Penata, golongan ruang III/c b. Penata Tingkat I, golongan ruang III/d Sedangkan Arsiparis Tingkat Ahli adalah Arsiparis dengan kulifikasi Profesional yang pelaksanaan tugas dan fungsinya mensyaratkan penguasaan ilmu pengetahuan dan tekonologi dibidang pengelolaan arsip dan pembinaan kearsipan. Pada Tingkat Ahli dengan basis pendidikan Sarjana atau atau DIV adalah sebagai berikut : 1. Arisparis Pratama, terdiri dari : a. Penata Muda, golongan ruang III/a b. Penata Muda Tingkat I, golongan ruang III/b

2. Arsiparis Muda, terdiri dari : a. Penata, golongan ruang III/c b. Penata Tingkat I, gologan runag III/d 3. Arsiparis Madya a. Pembina, gologan ruang IV/a b. Pembina Tingkat I, golongan ruang IV/b c. Pembina Utama Muda, golongan ruang IV/c 4. Arsiparis Utama a. Pembina Utama Madya, golongan ruang IV/c b. Pembina Utama golongan ruang IV/e Tabel Perbedaan Antara Pustakawan dan Arsiparis No. Jenis Perbedaan dan persamaan 1 Profesi Pustakawan Pustakawan adalah seseorang yang memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan dan/atau pelatihan kepustakawanan serta mempunyai tugas dan tanggung jawab untuk melaksanakan pengelolaan dan pelayanan perpustakaan (UU. No.43 Tahun 2007). Gedung Perpustakaan Arsiparis
- Arsipari adalah seorang yang memiliki kompetensi di bidang kearsipan yang diperoleh melalui pendidikan formal dan/atau pendidikan dan pelatihan kearsipan serta mempunyai fungsi, tugas, dan tanggung jawab melaksanakan kegiatan kearsipan (UU No.43 Tahun 2009:4-5).

Lokasi kerja (tempat bekerja)

Lembaga Kearsipan Daerah atau intitusional lainnya. Orang-orang tertentu (yang berkepentingan)

3 4

User Kompetensi Kinerja a. Arah dan Tujuan b.

Pemustaka

- perpustakaan mempunyai maksud untuk menghimpun pengetahuan bersama demi kemajuan bersama. Tujuan

arsip berdasarkan keinginan untuk menata kahidupan bersama melalui organisasi yang teratur dan dapat dipertanggung jawabkan.

Perpustakaan - Tujuan utama dari arsip 7

adalah mengupayakan dan memastikan agar setiap butir pengetahuan, setiap butir ekspresi budaya dan ilmu pengetahuan dapat secara mudah dan cepat dihimpun agar kelak dapat ditelusuri dan dikait kaitkan, dimanfaatkan oleh setiap orang sehingga tercipta cita-cita agar setiap orang mempunyai hak dan keadilan yang sama untuk mendapatkan pengetahuan. c. Metode kerja Pustakawan bekerja berdasarkan prinsip klasifikasi pengetahuan umat manusia yang mengikuti dinamika produksi dan konsumsi pengetahun oleh masyarakat sedemikian rupa, sehingga tercipta akses ke setiap jenis dan format pengetahuan dari berbagai masa, baik unurk penggunaan setempat maupun di tempat lain, secara fisik maupun intelektual dalam suasana yang menumbuhkan keinginan untuk mengembangkan pengetahuan secara pribadi maupun bersama.

adalah untuk memastikan agar setiap pihak yang terlibat dalam organisasi dapat secara transparan memeriksa catatan tentang langkah-langkah organisasi, baik untuk memastikan bahwa organisasi sudah berjalan sesuai visi dan misinya.

Arsiparis bekerja berdasarkan metode pengaitan setiap rekaman dengan fungsi, proses dan praktik disemua hirarki organisasi, sedemikian rupa sehingga tercipta keteraturan fisik dan intelektual berdasarkan nilai-guna rekaman tersebut, sehingga rekaman dapat dimanfaatkan semua pihak sekaligus untuk kepentingan kegiatan yang sedang berlangsung maupun dalam konteks pelestarian untuk keperluan kelak di kemudian hari.

2. Era Keterbukaan Informasi Publik Keterbukaan Informasi Publik suatu situasi dimana seluruh informasi yang berada di badan publik dapat diakses oleh warga, selain yang dikecualikan. Dengan adanya UU KIP tentunya masyarakat bukan berarti mendapatkan informasi sebebas-bebasnya. Kebebasan disini harus disertai dengan tanggung jawab, yang ada batasan dan aturannya (Saragih, 2010:6).1 Dapat difahami bahwa pengertian tersebut menjelaskan bahwa siapapun dia
1 Dalam tanya jawab oleh pusat litbang literasi kominfo badan litbang sdm kementerian komunikasi dan informatika.

tidak memandang pangkat dan golongan berhak mendapatkan informasi seluas-luasnya, dengan kata lain bebas yang bertanggung jawab.

Berdasar konsep tersebut, saat ini dengan perkembangan teknologi informasi memunculkan istilah digital. Sebagaimana kita ketahui maraknya perpustakaan digital, hampir semua orang beralih dan bahkan ingin sekali mecicipi teknologi digital tersebut. Seperti halnya digitalisasi koleksi yang kian marak di lingkungan perguruan tinggi pada projek Institusional Repository. Dalam hal ini tak urungnya dalam lingkungan badan kearsipan yang mana mereka suatu saat akan mencoba untuk mendigitalisasikan koleksinya. Hal ini bukan berarti tidak menuntut kemungkinan, karena penulis pun menemukan jenis koleksi langka (manuskrip) dalam bentuk digital, seperti Islamic Manuscripts online yang bisa diakses melalui www.islamic-manuscripts.net. Melihat kondisi demikian, bukan tidak mungkin lagi suatu saat akan ada arsip dalam bentuk digital. Jika arsip sudah terdigitalisasikan, informasi yang berkaitan dengan arsippun akan mudah diakses oleh masyarakat luas, bagaimana dengan istilah keaslian dan keotentikan sowhat they have gonna do? Dalam hal ini adalah peran dari arsiparis tersebut sebagai wujud dari kompetensinya. 2.1 Kompetensi Arsiparis Dalam Era Keterbukaan Informasi Publik (KIP) Kompetensi merupakan kewenangan (kekuasaan) untuk menentukan (memutuskan) sesuatu (KBBI, 2008:813). Dalam hal ini seorang asiparis mempunyai tanggung jawab untuk mengaplikasikan kompetensi sebagai wujud profesonalitasnya sebagai anggota profesi. Adapun pekerjaan yang dianggap professional dalam lingkup kearsipan dituntut untuk dapat: 1. Mengikuti perkembangan teknologi yang diperlukan untuk melindungi integritas arsip dalan sebuah jalan yang baru (integrity of archieve in a new way) 2. Memberikan jaminan kepada masyarakat untuk memeperoleh dokumen-dokumen yang valid (valid document) 3. Mengamankan dan menyediakan sebuah warisan dokumen masyarakat saat ini dan selanjutnya. (a documents heritage for the society of today and tomorrow) (Burhanudin, 2003) Era keterbukaan informasi merupakan suatu bentuk pencapaian negara yang demokratis dalam rangka menjunjung tinggi kedaulatan rakyat untuk mewujudkan penyelenggaraan negara yang baik. Dengan berlakunya UU KIP dan UU ITE tentu saja berpengaruh terhadap dunia kearsipan. Dengan berlandaskan pada UU KIP dan UU ITE,

setiap orang dapat meminta untuk memperoleh informasi yang ada di dalam arsip instansi/lembaga manapun. Namun bukan berarti mereka dapat memperoleh semua informasi yang mereka inginkan. Dalam hal ini jelas bahwa dikatakan terbuka bukan berarti semua boleh terbuka dan membuka. Tentunya ada informasi yang bersifat sangat rahasia. Adapun jenis informasi yang dikecualikan menurut UU RI No. 43 Tahun 2008 tentang KIP pasal 17, secara garis besarnya adalah: a. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat menghambat prosespenegakan hukum b. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengganggu kepent ingan perlindungan hak atas kekayaan intelektual dan perlindungan dari persaingan usaha t idak sehat c. Informasi yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat membahayakan pertahanan dan keamanan negara d. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkapkan kekayaan alam Indonesia e. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan ketahanan ekonomi nasional. f. Informasi Publik yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik, dapat merugikan kepent ingan hubungan luar negeri g. h. i. Informasi yang apabila dibuka dapat mengungkapkan isi akta otent ik yang bersifat pribadi dan kemauan terakhir ataupun wasiat seseorang. Informasi yang apabila dibuka dan diberikan kepada Pemohon Informasi Publik dapat mengungkap rahasia pribadi. Informasi yang jenisnya memorandum atau surat -surat antar Badan Publik atau intra Badan Publik, yang menurut sifatnya dirahasiakan kecuali atas putusan Komisi Informasi atau pengadilan. j. Informasi yang tidak boleh diungkapkan berdasarkan Undang-Undang. Beberapa poin tersebut dapat menjadi bahan pertimbangan bagi arsiparis dalam menjalankan tugas kearsipannya, yang dalam hal ini berkaitan dengan pelayanan dan penyajian informasi kepada masyarakat. Meskipun undang-undang KIP telah memberi batasan kategori informasi yang boleh disajikan bagi masyarakat public tersebut, kendati demikian masih ada hal yang menjadi persoalan pokok bagi arsiparis, yang notabennya sebagai pengelola atau penjaga dokumen rahasia baerkenaan dengan sumpah. Banyaknya 11

problematika dalam kehidupan masyarakat, terkadang menuntut seseorang untuk dapat mencari informasi lebih detail. Contoh kecil, dalam keadaan tertentu seseorang membutuhkan arsip yang merupakan bukti otentik dalam sebuah kasus, akan tetapi arsip itu sangatlah rahasia. Sedangkan orang tersebut tdk mempunyai kewenangan untuk mengetahhui arsip yang ada. Ketika arsiparis dihadapkan pada persoalan demikian, apa yang bisa dilakukan?? Mengingat mereka sebagai salah seorang penjaga rahasia, apakah menggunakan hati nuraninya sebagai perwujudan dirinya sebagai makhluk sosial? Sedangkan mereka arsiparis teringat pada sumpah yang pernah mereka ucapkan di hadapan public, terlebih kapada Tuhan YME. Apakah sempai sejauh itu tanggung jawab yang harus dibebankan pada arsiparis? Memahami persoalan di atas, sedikit penulis mengambil beberapa poin dari tanya jawab yang dilakukan oleh pusat litbang literasi kominfo badan litbang sdm kementerian komunikasi dan informatika: Bapak Cherry, Kasubbag Umum Pemprov Sulut bertanya Saat kita menjadi pegawai sudah disumpah menjaga rahasia pegawai dan negara, bagaimana relevansinya dengan UU KIP? Padahal kita lebih takut sama sumpah. Dari pertanyaan tersebut, Bapak Alamsyah Siragih menjawab Coba cari definisi sumpah jabatan, tidak ada definisi sumpah jabatan itu apa. Berbeda dengan informasi yang memang harus diberikan kepada masyarakat. Yang paling penting bagaimana kita menyiapkan struktur dan infrastruktur. Yang penting bagaimana kita menyiapkan rencana, bagaimana daerah mempunyai tahapan-tahapan terhadap KIP ini, karena semua ini membutuhkan persiapan dan daerah harus menyiapkan action plan. Dari contoh tersebut dapat kita simpulkan bahwa keterbukaan informasi yang dimaksud adalah memberi informasi kepada siapa yang membutuhkan dan tentunya kembali pada kewenangan yang dibuat intitusi atau lembaga daerah setempat terhadap implementasi KIP. Simpulan Maksud dari adanya keterbukaan informasi publik adalah memberikan informasi seluas-luasnya kepada masyarakat luas. Kendati demikian, keterbukaan tersebut pun memberi batasan hak informasi yang bersifat sangat rahasia. Konsep dokumen rahasia tidak terlepas dari lembaga kearsipan, yang mana peran seorang arsiparis dalam mengemban amanat tersebut. meskipun sama-sama bergerak di bidang pengelolaan, penghimpunan, dan pelayan informasi, akan tetapi antara UU KIP dan Asrip memiliki hakikat yang berbeda, Lalu sejauhmana keduanya ini saling berkaitan dan saling mendukung untuk keamanan informasi? Sebagaimana penjelasan pemerintah tentang

penyusutan arsip, arsip dinamis tertutup dan arsip statis terbuka, namun kenyataanya banyak arsip statis yang masih ditutup. Begitu juga dengan arsip dinamis dalam hal tertentu bisa dibuka. Dengan adanya UU Kearsipan dan KIP ada suatu link jelas ada kaitan secara eksplisit. Pencipta arsip wajib mencipta arsip dinamis bagi pengguna kepentingan arsip yg berhak. Pasal 16A Pembatasan arsip yg dikecualikan yaitu dapat menghambat proses penegakan hokum, mengganggu HAKI, membahayakan HANKAM, mengungkapkan kekayaan Negara, merugikan kepentingan luar negeri, merugikan ekonomi nasional, mengungkap data pribadi, mengungkap memorandum yg sifatnya harus dirahasiakan. Untuk itu, hubungan antara UU KIP dan Kearsipan sangatlah berkaitan dan saling melengkapi. Dari penjelasan ini, diharapkan arsiparis mampu menunjukkan kompetensinya sebagai wujud implementasi keprofesionalitasannya.

Daftar Pustaka
13

Burhanudin. 2003. Profesionalisme Arsiparis dan Evaluasi Kerja. Dalam

http://komunikasi.um.ac.id/?p=1328 diakses pada tanggal 10 April 2011, pukul 13:05 WIB.


Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). 2008. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Lasa HS. 2009. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Book Publisher.

Online Dictionary Library Information Sience (ODLIS). 2002. Dalam http://lu.com/odlis/index.cfm diunduh pada tanggal 12 April 2009, pukul 12:25 WIB. Pusat litbang literasi kominfo Badan litbang SDM Keminfo. 2010. Kumpulan Tanya

15

Jawab Pelatihan Peningkatan Kemampuan Pranata Humas Dalam Rangka Implementasi Uu No.14/2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik. Dalam http://blogs.depkominfo.go.id/balitbang/files/2010/08/KUMPULAN_T ANYA_JAWAB-BUDOK_LITERASI.pdf diakses pada tanggal 8 Mei 2011 pukul 09:31 WIB. Syafei, Ahmad Buyung. 2000. Kompeten dan kompetensi dalam http:// kompetensi.info/downlot.php?file=BUYUNG Diakses tanggal 10 April 2011 Pukul 12:30 WIB. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2009 Tentang Kearsipan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 14 Tahun 2008 Tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan

KOMPETENSI ARSIPARIS DI ERA KETERBUKAAN INFORMASI PUBLIK

Tugas Ini Disusun Untuk Memenuhi Mata Kuliah Manejemen Kearsipan Dosen pengampu : Sri Rohyanti Zulaikha, S.Ag, SIP., M.Si.

Disusun Oleh Siti Nurkamilah NIM. 10242018

KONSENTRASI ILMU PERPUSTAKAAN DAN INFORMASI PROGRAM STUDI INTERDISCIPLINARY ISLAMIC STUDIES FAKULTAS PASCA SARJANA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA 2011

17