Anda di halaman 1dari 24

BAB X

HUKUM ADAT WARIS



1. PENGERTIAN HUKUM ADAT WARIS
Hukum adat waris meliputi norma-norma hukum yang menerapkan harta
kekayaan baik yang materiil maupun yang immaterial yang manakah dari seseoang
yang dapat diserahkan kepada keturunannya serta yang sekaligus juga mengatur
saat, cara dan proses peralihannya. Menurut Prof.Soepomo dalam "Bab-bab Hukum
Adat merumuskan hukum adat waris sebagai berikut : "Hukum adat waris memuat
peraturan-peraturan yang mengatur proses meneruskan serta mengoperkan
barang-barang harta benda dan barang-barang yang tidak terwujud benda
(immateriale goederen) dari suatu angkatan manusia (generatie) kepada
turunannya. Ter Haar dalam "Beginselen en stelsel van het adat recht
merumuskan hukum adat waris sebgai berikut : "Hukum adat waris meliputi
peraturan-peraturan hukum yang bersangkutan dalam proses yang sangat
mengesankan serta yang akan selalu berjalan tentang penerusan dan pengoperan
kekayaan materiil, dan immaterial dari suatu generasi kepada generasi berikutnya.
Hal yang penting dalam masalah warisan ini adalah, bahwa pengertian
warisan itu memperlihatkan adanya tiga unsur essensialia (mutlak), yakni :
a. Seorang peninggal warisan yang pada wafatnya meninggalkan harta
kekayaan.
b. Seorang atau beberapa ahli waris yang berhak menerima kekayaan yang
ditinggalkan itu.
c. Harta warisan atau harta peninggalan, yaitu kekayaan "in concreto yang
ditinggalkan dan sekali beralih kepada ahli waris itu.
Masing-masing unsur ini pada pelaksanaan proses penerusan serta
pengoperan kepada orang yang berhak menerima harta-kekayaan itu, selalu
menimbulkan persoalan sebagai berikut :
4 Unsur pertama menimbukan persoalan, bagaimana dan samapai di mana
hubungan seorang peninggal warisan dengan kekayaannya dipengaruhi
oleh sifat lingkungan kekeluargaan di mana sepeninggal warisan itu berada.
4 Unsur kedua menimbulkan persoalan, bagaimana dan sampai dimana harus
ada tali kekeuargaan antara peninggal warisan dan ahli waris.
4 Unsur ketiga menimbulkan persoalan, bagaimana dan sampai dimana ujud
kekayaan yang beralih itu, dipengaruhi oleh sifat lingkungan kekeluargaan
dimana sipeninggal warisan dan si ahli waris bersama-sama berada.
Akhirnya perlu ditegaskan, bahwa kita wajib mengadakan pemisahan yang jelas
antara proses penerusan dan pengoperan harta kekayaan pada masa pemiliknya
masih hidup dan proses pada waktu sesudah pemiliknya meninggal dunia.

. SIFAT HUKUM ADAT WARIS
Hukum adat waris menunjukan corak-corak yang khas dari aliran pikiran
tradisional ndonesia. Hukum adat waris bersendi atas prinsip yang timbul dari
aliran-aliran pikiran komunal serta konkrit bangsa ndonesia. Oleh karena itu, maka
hukum adat waris memperlihatkan perbedaan yang prinsipal dengan hukum Waris
Barat antara lain sebagai berikut :
Hukum Adat Waris Hukum Waris Barat seperti
yang tercantum daIam
KUHPer
Tidak mengenal "legitimie por tie, akan tetapi
Hukum Adat Waris menetapkan dasar
persamaan hak; hak sama ini mengandung hak
untuk diperlakukan sama oleh orangtuanya di
dalam proses meneruskan dan mengoperkan
harta benda keluarga. Disamping dasar
persamaan hak hukum adat waris juga
meletakkan dasar kerukunan pada proses
pelaksanaan pembagian berjalan secara rukun
dengan memperhatikan keadaan istimewa dari
tiap waris.

Harta warisan tidak boleh dipaksakan untuk
untuk dibagi antara para ahli waris.
Mengenal hak tiap-tiap ahli
waris atas bagian yang
tertentu dari harta
peninggallan, bagian warisan
menurut ketentuan undang-
undang ("wettelijk erfdeel atau
"legitieme portie pasal 913 s.d
929).






Menentukan adanya hak
mutlak dari ahli waris masing-
masing untuk sewaktu-waktu
menuntut pembagian dari
harta warisan. (pasal 1066
KUHPer).


Sedangkan kalau kita adakan perbandingan dengan hukum waris menurut
hukum islam, maka diketemukan perbedaan-perbedaan prinsipal yang antara lain
sebagai berikut :
Hukum Adat Waris Hukum IsIam
Harta peninggalan dapat bersifat tidak dapat
dibagi-bagi atau pelaksanaan pembagiannya
ditunda untuk watu yang cukup lama
ataupun hanya sebagian yang dibagi-bagi.
Tiap ahli waris dapat menuntut
pembagian harta peninggalan
tersebut sewaktu-waktu
Memberi kepada anak angkat, hak nafkah
dari harta peninggalan orangtua angkatnya.
Tidak dikenal ketentuan ini.
Dikenal system "penggantian waris Tidak dikenal
Pembagiannya merupakan tindakan
bersama, berjalan secara rukun dalam
suasana ramah-tamah dengan
memperhatikan keadaan khusus tiap waris.
Bagian-bagian para ahli waris
telah ditentukan; pembagian harta
peninggalan menurut ketentuan
tersebut.
Anak perempuan, khususnya di Jawa
apabila tidak ada anak laki-laki, dapat
menutup hak mendapat bagian harta-
peninggalan kakek-neneknya dan saudara-
saudara orangtuanya.
Hanya menjamin kepada anak
perempuan mendapat bagian
yang pasti dari harta peninggalan
orangtuanya.
Harta peninggalan tidak merupakan satu
kesatuan harta warisan, melainkan wajib
diperhatikan sifat/macam, asal dan
Merupakan suatu kesatuan harta
warisan,
kedudukan hukum daripada barang-barang
masing-masing yang terdapat dalam harta
peninggalan itu.

Hukum adat waris sangatlah erat hubungannya dengan sifat-sifat kekeluargaan
daripada masyarakat hukum yang bersangkutan serta pengaruhnya pada harta
kekayaan yang diinggalkan dan berada dalam masyarakat itu.

. SISTEM KEWARISAN ADAT
Di ndonesia kita menjumpai tiga sistem kewarisan dalam hukum adat
sebagai berikut :
a. Sistem kewarisan individual, cirinya harta peninggalan dapat dibagi-bagikan
di antara para ahli waris seperti dalam masyarakat bilateral di Jawa.
b. Sistem kewarisan kolektif, cirinya harta peninggalan itu diwarisi oleh
sekumpulan ahli waris yang bersama-sama merupakan semacam badan
hukum dimana harta tersebut, yang disebut harta pusaka, tidak boleh dibagi-
bagikan pemiliknya diantara para ahli waris dimaksud dan ahanya boleh
dibagikan pemakaiannya saja kepada mereka itu (hanya mempunyai hak
pakai saja) seperti dalam masyarakat "matrilineal di Minangkabau.
c. Sistem kewarisan mayorat, ciri harta peninggalan diwaris keseluruhannya
atau sebagian besar (sejumlah harta pokok dari suatu keluarga) oleh
seorang anak saja, seperti halnya di Bali dimana terdapat hak mayorat anak
laki-laki yang tertua di tanah Semendo di Sumatera Selatan di mana
terdapat hak mayorat anak perempuan yang tertua.

4. HARTA PENINGGALAN YANG TIDAK DAPAT DIBAGI-BAGI
Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi ini, berdasarkan atas
alasannya tidak dibagi-bagi, dapat dibeda-bedakan sebagai berikut :
a. Karena sifatnya memang tidak memungkinkan untuk dibagi-bagi (misalnya
barang-barang milik suatu kerabat atau famili).
b. Karena kedudukan hukumnya memang terikan kepada suatu tempat/jabatan
tertentu.
c. Karena belum bebas dari kekuasaan persekutuan hukum yang
bersangkutan, seperti tanah kasikepan di daerah Cirebon.
d. Karena pembagiannya untuk sementara ditunda, seperti banyak dijumpai di
Jawa.
e. Karena hanya diwaris oleh seorang saja (sistem kewarisan mayorat),
sehingga tidak perlu dibagi-bagi.
Harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-bagi ini di beberapa lingkungan
hukum adat disebabkan karena sifatnya yang memang tidak memberi kemungkinan
untuk tidak memiliki barang itu bersama-sama, dengan ahli waris lain-lainnya, sebab
harta dimaksud merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dibagi-bagi, atau barang
itu merupakan lambing persatuan serta kesatuan daripada keluarga yang
bersangkutan. Tiap anak yan lahir dalam keluarga itu turut serta menjadi pemilik.
Sedangkan tiap-tiap suami ataupun isteri yang meninggal dunia selalu membiarkan
saja barang-barang itu dalam keadaan semula.

Harta-pusaka di Minangkabau
Sifat kekeluargaan di Minangkabau yang "matriarchaal ini memperlihatkan
adanya barang-barang keluarga seperti tanah-pertanian, pekarangan dengan rumah
ternak, perkebunan, keris dan lain sebagainya, yang merupakan harta-pusaka milik
suatu keluarga. Barang-barang demikian ini hanya dapat dipakai saja ("genggam
bauntuiq) oleh segenap warga keluarga yang bersangkutan, tetapi tidak boleh
dimiliki oleh mereka itu masing-masing. Dengan demikian harta pusaka itu
mempunyai tingkatan yang sesuai dengan tingkatan-tingkatan keluarga, artinya
sebagai berikut :
a. Harta pusaka tinggi dikuasai oleh keluarga yang lebih besar atau kerabat
(Ter Haar menyebut "familie) yang dipimpin oleh seorang "penghulu
andiko.
b. "harta pusaka rendah dikuasai oleh keluarga yang lebih kecil, yang terdiri
atas isteri dengan anak-anaknya, atau suami dengan saudara-saudaranya
sekandung beserta keturunan saudaranya perempuan yang sekandung.

Tanah - dati di semenanjung Hitu (Ambon)
Sifat kekeluargaan di daerah ini adalah "patriarchaal. Tanah-tanah yang
didapat seorang secara membeli atau membuka hutan, lama-lama menjadi miliknya
famili keturunan pemilik semula. Jadi sepeninggalnya pemilik semula tanah-tanah
dengan tanamannya tetap tinggal tidak dibagi-bagi. Seperti halnya harta-pusaka di
Minangkabau, maka tanah-dati ini, apabila Dati (=kerabat) yang menguasai tanah
itu lenyap (habis karena tiada keturunannya lagi), maka tanah itu jatuh ke tanga Dati
yang mempunyai hubungan kekeluargaan yang terdekat.

5. PENGHIBAHAN ATAU PEWARIS (TER HAAR : "TOESCHEIDINGEN")
Merupakan kebalikan daripada harta peninggalan yang tidak dapat dibagi-
bagi adalah perbuatan penghibahan atau pewarisan, yaitu pembagian keseluruhan
atau sebagian daripada harta-kekayaan semasa pemiliknya masih hidup. Adapun
dasar pokok ataupun motif daripada penghibahan ini adalah tidak berbeda dengan
motif daripada tidak memperbolehkan membagi-bagi harta peninggalan kepada
para ahli waris yang berhak, yaitu harta kekayaan "somah merupakan dasar
kehidupan materil yang disediakan bagi warga "somah yang bersangkutan beserta
keturunannya.
Disamping motif umum ini, khususnya di daerah-daerah yang sifat hubungan
kekeluargaannya "matriarchaat ataupun "patriarchaat, penghibahan harta
kekayaan demikian ini merupakan juga suau jalan untuk seoran bapak ataupun
seorang ibu memberikan sebagian daripada harta-pencahariannya langsung
kepada anak-anaknya, hal mana sesungguhnya merupakan penyimpangan
daripada ketentuan hukum adat waris yang berlaku di daerah-daerah yang
bersangkutan.
Agar supaya di dapat gambaran yang jelas mengenai masalah hibahan ini,
maka di bawah ini diuraikan beberapa contoh penghibahan yang terjadi di ketiga
daerah sifat kekeluargaan yang ada, yaitu parental, patriarchaat dan matriarchaat.
a. Pada suatu somah dengan sifat kekeluargaan parental, contohnya adalah
suatu keluarga di Jawa yang terdiri atas suami-isteri dengan beberapa anak
laki0laki dan perempuan. Apabila anak yang tertua itu seorang anak laki-laki,
maka ada suatu kebiasaan untuk memberikan kepadanya secara hibah
sebagian daripada harta keluarga, misalnya sebidang tanah pertanian, pada
waktu ia menjadi dewasa dan telah cakap bekerja sendiri (kuwat gawe)
sebagai dasar materiil untuk kehudupannya selanjutnya setelah ia mentas.
b. Pada suatu keluaga dengan sifat kekeluargaan matriarchaat, menurut
hukum adat waris di daerah Minagkabau, maka harta-pencarian seoran
suami, tidak akan diwaris oleh anak-anaknya sendiri, melainkan oleh
saudara-saudaranya sekandung beserta keturunan saudara-saudara
perempuan sekandung.
c. Pada suatu keluarga dengan sifat kekeluargaan patriarchaat, pada suku
Batak di daerah Toba, ketetuan hukum adat warisnya adalah, bahwa hanya
anak laki-laki sajalah yang akan mewarisi harta peninggalan bapaknya.
Ketentuan-ketentuan demikian ini dalam prakteknya diperlunak dengan
penghibahan sawah atau ternak oleh bapak kepada anak-anak perempuan
yang tidak atau suda kawin, bahkan juga kepada cucu-cucunya yang
pertama.
Yang perlu diperhatikan dalam maslah hibah ini adalah, bahwa penghibahan
sebidang tanah kepada seorang anak itu merupakan suatu transaksi tanah, tetapi
bukan merupakan transaksi jual, melainkan suatu transaksi pengoperan tanah
dalam lingkngan keluarga. Oleh karena merupakan suatu transaksi tanah, maka
penghibahan tanah harus dilakukan dengna bantuan kepala persekutuan, supaya
menjadi sah serta "terang. Perlu pula diketahui , bahwa sesuai dengan Keputusan
Mahakamah Agung tanggal 23 Agustus 1960 Reg. No. 225K/Sip/1960 tentang
hibah ini ditetapkan sebagai berikut :
i. Hibah tidak memerlukan persetujuan ahli waris.
ii. Hibah tidak mengakibatkan ahli waris dari sipenghibah tidak berhak lagi atas
harta peninggalan dari sipenghibah.

. HIBAH-WASIAT, WEKASAN (JAWA), UMANAT (MINANGKABAU),
PEUNEUSAN (ACEH), NGENDESKAN (BATAK)
Hibah-wasiat merupakan juga suatu jalan bagi pemilik harta kekayaan untuk
semasa masih hidupnya menyatakan keinginannya yang terakhir tenang pembagian
harta peninggalannya kepada ahli waris yang baru akan berlaku setelah ia
meninggal dunia. Yang dimaksud dengan hibah-wasiat ialah terutama untuk
mewaibkan para ahli warisnya membagi-bagi harta peninggalannya dengan cara
yang layak menurut anggapannya. Maksud yang kedua ialah untuk mencegah
perselisihan, keributan dan cekcok dalam membagi harta-peninggalannya di
kemudian hari di antar para ahli waris. Hibah-wasiat dapat meliputi haya sebagian
harta-kekayaan yang akan ditinggalkan saja atau keseluruhan dari harta-kekayaan.
Yang terakhir ini biasanya dilakukan oleh seorang yang akan pergi naik haji. Hibah-
wasiat ini, sepert juga pewarisan atau penghibahan, menurut Prot. Soepomo
mempunyai dua corak sebagai berikut :
a. Mereka yang menrima barang-barang harta itu adalah ahli waris yaitu isteri
dan anak-anak. Oleh sebab itu pewarisan atau hibah-wasiat hanya
merupakan perpindahan harta benda di dalam ahli waris.
b. Orangtua yang mewariskan itu meskipun terikat oleh peraturan, bahwa
segala anak harus harus mendapat bagian yang layak, demikian, hingga
tidak diperbolehkan melenyapkan hak waris sesuat anak adalah bebas di
dalam menetapkan barang-barang manakah akan di terimakan kepada
anak A dan barang-barang mana kepada anak B atau kepada isteri.
Hibah-wasiat juga mempunyai fungsi lain yaitu : :mengadakan koreksi di mana
perlu, terhadap hukum waris abintestato menurut peraturan-peraturan tradisional
atau agama, yang dianggap tidak memuaskan lagi oleh peninggal warisan.

. HARTA KEKAYAAN KELUARGA YANG MERUPAKAN HARTA
PENINGGALAN
Harta peninggalan keluarga tida merupaka satu kumpulan ataupun kesatuan
harta benda yang semacam dan seasal. Oleh karena itu, maka pelaksanaan
pembagiannya kepada para ahli waris yang berkepentingan tidak dapat begitu saja
dilakukan melainkan wajib diperhatikan sepenuhnya sifat (macam), asal dan
kedudukan hukum daripada barang-barang itu masing-masing. Dan sekarang
tergantung daripada sifat (macam), asal dan kedudukan hukum dari barang-barang
yang ditinggalkan itu, apakah atau bagaimanakah kekuasaan atas barang-barang
itu akan beralih kepada para ahli waris atau beberapa orang dari mereka.
Didalam harta-benda kekayaan keluarga yang merupakan harta peninggalan
itu terdapat barang asal dari suami, barang asal dari isteri dan barang gono-gini.
Perbedaan sifat daripada barang-barang ini, sama sekali tidak berarti, apabila
suami-isteri yang bersangkutan mempunyai anak. Perlu kiranya diperhatikan juga,
bahwasanya harta peninggalan itu tidak selamanya terdiri atas bagian-bagian yang
menguntungkan para ahli waris saja, tetapi kadang-kadang terdapat pula bagian-
bagian yang menguntungkan para ahli waris saja, tetapi kadang-kadang terdapat
pula bagian-bagian yang merupakan beban kepada para ahli waris, yaitu hutang-
piutang dari yang meninggal dunia yang masih belum dilunasi.

Barang-barang kerabat ataupun barang formiI
Barang-barang ini biasanya dibawa ke dalam harta kekayaan keluarga oleh
isteri atau suami sebagai barang asal yang diperolehnya secara warisan dari
orangtuanya dan orangtua ini memperoleh barang-barang itu dulu jug asecara
warisan dan begitu seterusnya; pokony abarangbarang itu sudah menjad turun-
menurun menjadi barang warisan.
Barang-barang pusaka yang keramat
Barang-barang pusaka yang keramat, seperti keris, tumbak, rencing dan
lainnya yang dianggap dapat membawa kebahagiaan kepada keluarga, tidak boleh
disamakan dengan barang-barang biasa rumah tangga lainnya.
Barang-barang somah atau barang-barang keIuarga
Hubungan keluarga di dalam somah (suami-isteri-anak-anak) menyebabkan
adanya perbedaan hak mewaris terhadap barang-barang somah bagi anak-anak
dari perkawinan pertama, kedua, ketiga da seterusnya. Anak anak dari perkawinan
pertama berhak mewariskan barang-barang yang diperoleh dalam masa
perkawinan pertama , sedangkan anak-anak dari perkawinan kedua tidak
mempunyai hak itu.
Barang-barang yang beIum bebas dari hak pertuanan, hak uIayat desa
Sepeti sawah "Kasikepan di Cirebon yang tidak bebas dari hak pertuanan
itu, apabila pemeganya meninggal dunia, maka sawah itu tidak boleh jatuh
kepadaorang yang :
i. Bukan warga desa yang bersangkutan
ii. Tidak bertempat tinggal di desa di dalam daerah mana sawah kasikepan
dimaksud terletak.
iii. Telah memiliki sawah kasikepan yang lain.
Peninggal sawah kasikepan ini hanya diperbolehkan mengoperkan sawah itu
kepada anak yang tetap tinggal di desanya dengan persetujuan rapat desa.
Barang-barang dengan wujud tertentu
Peraturan sendiri yang mengatur tntang pengoperan barang-barang dengan
wujud tertentu ini ("feitelijk bepaalde goederen) bukan merupakan peraturan yang
melarang atau mewajibkan, melainkan merupakan suatu anjuran yang seberapa
boleh supaya diturut.

Hutang-hutang
Dalam hukum adat pembagian warisan tidak selalu ditangguhkan semua
hutang pewaris dibayar. Setelah para ahli waris menerima bagiannya, mereka dapat
ditegur oleh para kreditur untuk membayar hutang sipeninggal warisan.
Biaya membayar mayat (khusus untuk BaIi = biaya membakar mayat)
Biaya untuk menyelenggarakan upacara mayat serta menguburkannya
(membakarnya, "mengabeni mayat di Bali) memang bukan termasuk bagian dari
harta peninggalan. Malahan harta yang masuk menjadi harta peninggalan harus
dipakai terutama sekali untuk membiayai penyelenggaraan upacara mayat beserta
penguburannya (pembakarannya).

8. PEMBAGIAN HARTA PENINGGALAN
Pembagian harta peninggalan adalah merupakan suatu perbuatan daripada
suatu ahli waris bersama-sama. Serta pembagian itu diselenggarakan dengan
pemufakatan atau atas kehendak bersama daripada para ahli waris. Apabila harta
peninggalan dibagi-bagi antara para ahli wari, maka pembagianit biasanya berjalan
secara rukun, di dalam suasana ramah-tamah dengan memperhatikan keadaan
istimewa dari tiap-tiap waris. Pembagian berjalan atas dasar kerukunan. Sebagai
contoh dapat dikemukakan berdasarkan kebiasaan di daerah Banten, yakni bahwa
rmah tinggal orangtua biasanya dibagikan kepada anak perempuan, oleh karena si
suami lazimnya datang berdiam di rumah isterinya.
Pembagian harta peninggalan atas dasar kerukunan, biasanya terjadi
dengan penuh pengetahuan, bahwa semua anak, baik laki maupun perempuan,
pada dasarnya mempunyai hak sama atas harta peninggalan orangtuanya.
Perbadaan agama adalah tidak merupakan soal; bukan soal pula siapa yang lahir
terlebih dahulu. Jikalau dalam pembagian harta itu tejadi pengoperan sebidang
tanah, maka pelaksanaan pengoperannya wajib dilakukan dengan bantuan kepala
desa, satu dan lain supaya menjadi terang dan sah.

9. PARA AHLI WARIS
Unsur ahli waris ini, seperti telah diuraikan menimbulkan suatu persoalan,
yaitu bagaimana dan sampai di mana harus ada tali-kekeluargaan antara
sipeninggal warisan di satu pihak dan para ahli waris di pihak lain, agar harta
kekayaan sipeninggal warisan data beralih kepada ahli waris. Dalam hukum adat
anak-anak dari sipeninggal warisan merupakan golongan ahli waris yang terpenting
oleh karena mereka pada hakikatnya merupakan satu-satunya golongan ahli waris,
sebab lain-lain anggota keluarga, tidak menjadi ahli waris, apabila sipeninggal
warisan meninggalkan anak-anak. Tentang pembagiannya, menurut keputusan
Mahkamah Agung tanggal 1 November 1961 Reg. No. 179 K/Sip./1961, anak
perempuan dan anak lelaki dari seorang peninggal warisan berama berhak atas
harta warisan dalam arti bahwa bagian anak lelaki adalah sama dengan anak
perempuan.
Di daerah minangkabau misalnya, yang masyarakatnya menganut sifat
susunan kekeluargaan matriarchaat, apabila yang wafat itu seorang suami, maka
anak-anaknya tidak merupakan ahli waris dari harta pencahariannya, sebab anak-
anak itu merupakan warga anggota famili ibunya, sedangkan bapanya tidak;
bapaknya merupakan warga familiya sendiri. Oleh karena itu maka harta
pencariannya idak diwarisi anakanaknya, tetapi diwarisi oleh saudara-saudara
sekandungnya.
Di daerah Lampung dan Tapanuli yang masyarakatnya menganut sifat
susunan kekeluargaan patriarchaat, seorang gadis yang sudah kawin secara
"jujuran dan oleh karenanya setelah perkawinan masuk kerabat suaminya dan
dilepaskan dari hubungan kerabatnya sendiri, tidak meripakan ahli waris dari
orangtuanya yang meninggal dunia. Tetapi sekarang pada umumnya dilakukan
penghibahan kepadanya oleh orangtuanya sebagai koreksi terhadap hukum adat
waris yang berlaku di daerah itu. Di pulau Bali yang hubungan kekeluargaannya jug
abersifat patriarchaat, hanya anak lelaki yang tertua sering mewarisi seluruh harta
peninggalan, tatpi dengan kewajiban memelihara adik-adiknya serta mengawinkan
mereka.
Di Savu dengan sifat hubungan keluarga parental, harta peinggalan seorang
ibu hanya diwarisi oleh anak-anak perempuan dan harta peninggalan seorang
bapak hanya diwarisi oleh anak laki-laki. Kini di daerah ini juga terjadi penghibahan
barang-barang pusaka dari seorang bapak ke anak perempuannya, hal mana juga
merupakan koreksi terhadap hukum adat waris yang berlaku di daerah itu.
Tetapi dalam masyarakat ndonesia tidak hanya dikenal anak kandung saja,
meliankan terdapat juga : anak angkat, anak tiri, dan anak yang lahir di luar
perkawinan. Kedukuan hukum warisnya akan dibahas sebagai berikut :

Anak yang Iahir di Iuar perkawinan
Menurut hukum adat waris Jawa, anak yang lahir di luar perkawinan itu
hanya menjadi waris di dalam harta peninggalan ibunya saja serta jug adi dalam
harta peninggalan kerabat ataupun famili dari pihak ibu. Seorang anak demikian ini,
menurut hukum adat di Jawa tengah, dianggap (=fiksi) tidak mempunyai bapak dan
oleh karenya juga tidak memiliki hubungan kekeluargaan pihak bapak.
Anak angkat
Kedudukan hukum anak angkat ini, di beberapa lingkungan hukum adat di
ndonesia tenyata tidak sama. Di dalam masyarakat yang mempunyai hubungan
kekeluargaan parental seperti di pulau Bali, Jawa barat dan Jawa tengah
kedudukan anak angkat berbeda. Di pulau Bali perbuatan mengangkat anak dalah
merupakan perbuatan hukum yang melepaskan anak itu dari pertalian keluarga
dengan orangtuanya sendiri serta memasukan anak itu kedalam keluarga bapak
angkat, sehingga selanjutnya anak tersebut berkedudukan anak kandung untuk
meneruskan turunan bapak angkatnya. D pulau Jawa(Barat-Tengah-Timur)
perbuatan mengangkat anak itu hanyalah memasukan anak itu ke kehidupan rumah
tangganya saja, sehingga ia selanjutnya menjadi anggota rumah tangga orangtua
yang mengangkatnya, tetapi tidak memutuskan pertalian keluarga antara anak itu
dengan orangtuanya sendiri. Jadi anak angkat di daerahini tidakmempunyai
kedudukan anak kandung serta tidak diambil dengan maksud untuk meneruskan
turunan orangtua angkatnya.
Konsekuensi itu digambarkan dalam beberapa yurisprudensi seperti dbawah
ini :
a. Putusan Landraad Purworejo tanggal 25 Agustus 1937, barang pencarian
dan barang gono-gini jatuh kepada janda dan anak angkat, sedangkan
barang asal kembali pada saudara-saudara peninggal harta, jikalau yang
meninggal itu tidak mempunyai anak kandung.
b. Putusan Raad Justisi Jakarta tanggal 24 mei 1940, menurut hukum adat
Jawa Barat, anak angkat berhak atas barang-barang gono-gini orangtua
angkatnya yang telah meninggal, jikalau tidak ada anak kandung atau
turunan seterusnya.
Dalam kedua yurisprudensi diatas nampak denga jelas digambarkan kedudukan
anak angkat sebagai anggota rumah tangga, sedangkan ia bukan waris. Anak
angkat berhak mendapatkan nafkah dari harta peninggalan orangtua angkatnya.
Anak tiri
Anak tiri yang hidup bersama dalam satu rumah dengan ibu kandung dan
bapak tiri atau sebaliknya adalah warga serumahtangga pula. Terhadap ibu atau
bapak kandungnya, anak itu adalah ahli waris, tetapi terhadap ibu atau bapak
tirinya, anak itu bukan ahli waris, melainkan hanya warga serumahyangga saja.
Anak tiri tidak berhak atas warisan bapak tirinya, tetapi ia ikut mendapat
penghasilan dan bagian dari harta peninggalan bapak tiri yang diberikan ibu
kandungnya sebagai nafkah janda.
Kedudukan janda
Di dalam rumah tangga suami-isteri, isteri itu setelah suaminya meninggal
dunia, mempunyai kedudukan yang khusus. Kalau yang dijadikan syarat bagi waris
itu tali kekeluargaan berdasarkan atas persamaan darah atau keturunan, maka
sudah jelas sekali, bahwa seorang janda itu tidak mungkin merupakan waris
suaminya. Tetatpi ada kenyataan juga, bahwa dalam suatu perkawinan itu,
hubungan baik lahir maupun batin anra suami dengan isterinya itu dapat sedemikian
eratnya, sehingga jauh melebihi hubungan antara suami dan saudara sekandung
misalnya.
Raad Justisi Jakarta tanggal 26 Mei 1939 memutuskan bahwa, janda tidak
adapat dianggap sebagai waris almarhum suaminya, akan tetapi ia berhak
menerima penghasilan dari harta peninggalan suami , jika ternyata, bahwa harta
gono-gini tidak mencukupi. Janda berhak untuk terus hidup sedpat-dapatnya seperti
keadaannya pada waktu perkawinan. Pangkal pikiran hukum adat adalah, bahwa
isteri sebagai orang luar tidak mempunyai hak sebagai waris, akan etapi sebagai
isteri ia berhak mendapat nafkah dari harta peninggalan, selama ia memerlukannya.
"Hukum adat diseluruh ndonesia perihal warian mengenai seorang janda
perempuan dapat dirumuskan sedemikian rupa, bahwa seorang janda perempuan
selalu merupakan ahli waris terhadap barang asal suaminya dalam arti, bahwa
sekurang-kurangnya dari barang asal itu sebagian harus tetap berada di tangan
janda, sepanjang perlu untuk hidup secara pantas sampai ia meninggal dunia
ataukawin lagi, sedang di beberpa daerah ndonesia di samping penentuan ini
mungkin dalam hal barang-barang warisan adalah berupa amat banyak kekayaan,
si janda perempuan berhak atas sebagian dari barang-barag warisan adalah berupa
amat banyak kekayaan, s janda perempuan berhak atas sebagian dari barang-
barang warisan seperti seorang anak kandung dari sipeninggal warisan.
Kedudukan janda atau "duda" (Jawa)
Janda laki-laki atau duda berhak atas mendapat nafkah dari harta kekayaan
rumah tangga setelah isterinya meninggal dunia. Tetapi kenyataan menunjukan
keadaan yang berlainan, sebab biasanya duda itu, tidak begitu mudah akan
terlantar perihal kehidupan sehari-harinya, setelah isterinya meninggal, sebab duda
yang bersangkutan lazimnya dengan biasameneruskan pekerjaannya sehhari-hari
sudah dapat melanjutkan kehidupan sehari-hari. Jadi bagi seorang duda pada
umumnya tidak mempunyai asan yang kuat dan mendesak seperti halnya dengan
janda perempuan, untuk menahan pembagiaan harta peninggalan, sebab
kehidupan selanjutnya tidak semata-mata tergantung dari nafkah harta peninggalan
isterinya.
AhIi waris - ahIi waris Iainya (seIain anak dan janda)
Ahli waris- ahli waris lain ini baru barhak atas harta peninggalan, apabila
yang meninggal itu tidak mempunyai anak. Dengan memperhatikan adanya
peraturan penggantian waris, maka ketentuan di muk tadi harus dibaca dan
diartikan, bahwa apabila seorang anak lebih dahulu meninggal dunia daripada si
peninggal warisan, dan anak tersebut meninggalkan anak-anak, maka cucu-cucu
dari peninggal warisan ini mengganti orngtuanya; mereka bersama-sama berhak
atas bagian dari harta peninggalan kakek-nenek mereka.

10. BEBERAPA HAL LAIN SEKITAR HUKUM ADAT WARIS
Hadiah kepada orang bukan waris peninggal harta. Hadiah orangtua kepada
anak yang tidak bersifat penghibahan. Adakalanya orangtua menghadiahkan
kepada salah seorang anaknya, sebuah barang yang tidak seberapa nilainya
apabila dibandingkan dengan jumlah harta kekayaan seluruhnya. Hadiah yang
demikian ini dipandang bukan bersifat hibah.
Menurut putusan Raad Justisi Jakarta tanggal 31 Maret 1939 dalam "ndisch
Tijdschfift van het recht 151 halaman 183 berbunyi, bahwa penghibahan dapat
dicabut kembali atas alasan-alasan berdasar adat, sebagai misalnya kurang hormat
atau tabiat lain yang membuktikan kelalaian anak terhadap orangtua. Kemiskinan
orang tua tidak merupakan alasan untuk menabut pengibahan kembali; orangtua
yang jatuh miskin dapat menuntut nafkah kepada anak-anaknya. Djojodigoeno
Tirtawinata menegaskan, bahwa pencabutan hibah demikian ini hanya mungkin,
sekedar barang-barang yang dihibahkan itu masih di tangan waris yang menerima
hibah dimaksud. Tetapi apabila barang-barang itu telah berpindah tangan ke orang
lain (bukan waris), maka pengoperan terakhir ini tidak dapat diganggu gugat lagi.
























BAB XII
HUKUM HUTANG PIUTANG

Dalam hukum adat hutang-piutang tidak hanya meliputi ataupun mengatur
perbuatan-perbuatan hukum yang menyangkut masalah kredit perseorangan saja,
tetapi juga masalah-masalah yang menyangkut :
a. Hak atas perumahan, tumbuh-tumbuhan, ternak dan barang.
b. Sumbang-menyumbang, sambat sinambat, tolong-menolong.
c. Panjer.

1. HAK ATAS PERUMAHAN, TUMBUH-TUMBUHAN, TERNAK DAN
BARANG
Pertama-tama harus ditegaskan, bahwa perbedaan prinsipal antara hak ini
dengan dengan hak-hak atas tanah adalah, bahwa terhadap hak ini berlaku
terutama hak milik perseorangannya, sedangkan pada hak atas tanah hak
persekutuanlah yang lebih diutamakan. Terhadap ketentuan ini memang terdapat
pengecualian di beberapa daerah, sepertim misalnya di :
a. Kamilantan, pada beberapa suku Dayak (seperti Maanyan Siung) harta
pusaka tidak boleh diwariskan kepada orang luar bukan anggota
persekutuan ; juga tidak boleh dibawa ke luar desa.
b. Di Bali di daerah Tnganan Pagringsingan terhadap semua milik warga
persekutuan (ternak, peralatan rumah, unggas) berlaku sepenuhnya hak
persekutuan, sedangkan di beberapa desa lainnya untuk kepentingan
persekutua, desa dapat meminta penyerahan ternak dan barang-barang
lainnya tanpa ganti rugi.
Dalam prinsipnya hak milik atas rumah dan tumbuh-tumbuhan terpisah
daripada hak milik atas tanah dimana rumah atau tumbuh-tumbuhan itu berada.
Jadi ini artinya, bahwa seseorang dapat memiliki rumah atau/dan pohon di atas
pekarangan milik orang lain. Terhadap prinsip ini terdapat pengecualian-
pengecualian sebagai berikut:
a. Dalam transaksi-transaksi tentang pekarangan termasuk praktis selalu
rumah dan tumbuh-tumbuhan yang ada disitu. Obyek transaksi (transaksi
jual) dalam hal ini jadinya pekarangan, rumah dan tumbuh-tumbuhan.
Transaksi jual demikian ini disebut "adol ngebrengi.
b. Kadang-kadang hak milik atas tumbuh-tumbuhan membawa hak milik atas
tanahnya. Jadi dalam hal ini hak tanah mengikuti hak tumbuh-tumbuhan.
c. Hak milik atas tanah terikat oleh hak milik atas rumah tembok yang ada di
situ, satu dan yang lain karena rumah tembok itu tidak mudah untuk
dipindahkan seperti rumah yang dibuat dari bamboo atau kayu.
Hak milik atas tumbuh-tumbuhan dapat pula digadaikan (misalnya pohon
jeruk, dan lain-lain, pohon buah-buahan). Apabila pohon-pohon buah-buahan itu
digadaikan, maka si pemegang gadai memiliki kuasa/hak penuh untuk memetik
buah-buahan dari pohon-pohon tersebut untuk dimilikinya. Hak petik buah-buahan
ada harus mengizinkan si pemegang gadai untuk masuk ke kebunnya guna
memetik buah-buahan yang bersangkutan.
Hak milik atas ternah kadang-kadang terikat oleh peraturan-peraturan
khusus tentang memotongnya dan menjualnya; tetapi dengan ikatan yang
sedemikian ini tidaklah berarti, bahwa hak milik atas ternak itu tidak ada.Perlu
dikemukakan disini, bahwa pemilik ternak (kerbau, sapi, kambing atau ayam)
kadang-kadang membiarkan ternaknya di[elihara oleh orang lain dengan suatu
perjanjian, bahwa yang memelihara itu akan berhak atas sebagian daripada anak-
anak ternak yang nantinya akan dilahirkan. Pemelihara ternak wajib menanggung
sendiri ongkos-ongkos pemeliharaannya; ini sebagai imbangan ia memperoleh hak
sebagian dari anak-anak ternak yang kemudian lahir. Apabila ternyata si pemelihara
tidak melakukan tugasnya(memlihara) sebagaimana mestinya, maka pemilik
ternaknya, tanpa diwajibkan memberi gantu rugi kepada si pemelihara.
Hak miIik atas barang
Peralihan hak milik atas barang-barang yang mempunyai kekuatan magis
(barang-barang pusaka seperti keris dan lain sebagainya) hanya dapat dilakukan
dengan transaksi jual. Barang-barang dapat pula digaadaikan (nyekelake (jawa)
atau mengaken). Barang pindah tangan kepada yang memberi uang. Kalau
pinjaman pada waktunya tidak dilunasi, barang yang digadaikan itu dapat dijual oleh
yang memberi hutang uang dan dari hasil penjualan itu uang pinaman
diperhitungkan atau barang itu menjadi miliknya yang memberi hutang uang.
Barang-barang itu juga dapat dijual. Penjualan barang bergerak terjadi
dengan penyerahan barang dimaksud untuk selama-lamanya kepada si pembeli
dengan disertai bayaran kontan sebesar nilai harga barang tersebut. Apabila
pembayarannya baru dilakukan sebagian ataupun baru disanggupkan akan
dilakukan kemudian, maka transaksi itu dinamakan "hutang barang, di daerah
Pasundan disebut "nganjuk.
Tentang benda bergerak
Dalam hukum adat pembedaan benda dalam dua macam ini sebetulnya
tidak ada . Tetapi jika diharuskan menjawab pertanyaan apakah sesungguhnya
tanah, ternak, rumah, tumbuh-tumbuhan, dan barang-barang itu maka dapat
dikemukakan yang berikut :
a. Tanah adalah barang yang tidak bergerak
b. Ternak dan barang-baang lain adalah barang yang pasti dapat bergerak
c. Rumah dan tumbuh-tumbuhan adalah barang yang ada kepastiannya
termasuk bergerak atau tidak; untuk ini wajib dilihat keadaanya. (rumah dari
bamboo yang mudah dipindahkan = benda bergerak, rumah tembok atau
batu yang sukar dipindahkan = benda tidak bergerak).

. SUMBANG-MENYUMBANG, SAMBAT-SINAMBAT, TOLONG-
MENOLONG
Tolong menolong yang kita jumpai dalam adat, ternyata ada yang
mempunyai dasar :
"Gotong-rotong artinya tanpa ada pikiran supaya di kemudian hari dapat menerima
balasan pertolongan sekarang memberikan pertolongan. Dasar gotong royong ini
lazimnya terdapat pada kerja sama untuk mencapai sesuatu maksud ataupun tujuan
bersama, sehingga tiap warga persekutuan merasa berkewajiban untuk turut serta
memberikan bantuan. Contoh-contohnya antara lain :
a. Dalam satu desa harus dibangun misalnya balai desa ataupun langgar.
Dalam hal ini tiap warga desa merasa berkewajiban menyumbangkan
tenaga dan/atau material.
b. Suatu desa membuka hutan untuk dijadikan tanah pertanian. Juga untuk
pekerjaan ini semua warga desa merasa berkewajiban menyumbangkan
tenaganya.
c. Pak lurah (=Kepala desa yang bersangkutan) membetulkan rumah-rumah.
Warga desa merasa berkewajiban memberi bantuan. (pancen di Jawa,
resayo di Minangkabau, kwarto di ambon)
Disamping dasar dimaksud diatas, ada pula tolong-menolong yang bermotif :
supaya di kemudian hari menerima pertolongan pula atau oleh karena telah
meerima pertolongan merasa berkewajiban untuk membalas memberipertolongan
yang sepadan. Contoh-contohnya antara lain:
a. Memberi sumbangan kepada seorang warga desa yang sedang mempunyai
hajat perkawinan, sunatan dan lain sebagainya, atau yang sedang menemui
kesusahan karena kematian, kecelakaan dan lain sebagainya; bantuan ini
disebut "sumbang di Jawa, "panyumbang di Priangan, "passolog di Bugis.
b. Memberi bantuan kepada warga sedesa yang sedang mengerjakan
sawahnya, sedang membangun rumah, sedang membersihkan kebun
kelapanya dan lain sebagainya; bantuan demikian ini disebut "sambat-
sinambat (Jawa), "resaya (sunda), "marsiadapari (batak), "masohi
(ambon).
Dengan dasar sumbang menyumbang ini timbul perkumpulan-perkumpulan
yang asas dan tujuannya, kecuali mempererat ikatan persaudaraan di antara para
anggotanya juga memberikan bantuan kepada para anggotanya tersebut secara
bergilir seperti :
a. Perkumpulan Mapalaus di Minahasa untukmenyokonga pekerjaan pertanian.
b. Jula-jula di Minangkabau, Mohakka di Salayar, Mapalaus-ang di Minahasa
yang pada zaman sekarang terkenal dengan nama perkumpulan arisan,
mewajibkan para anggotanya tiap bulan menyumbang sejumlah uang serta
memberi kesempatan kepada merek amasing-masing secara berilir untuk
menggunakan uang yang telah dikumpulkan itu.
Apabila diteliti secara mendalam, maka dapat pula digolongkan dalam
perbuatan-perbuatan yang motifnya (dasarnya) juga tolong-menolong :
i. Transaksi maro, mertelu tanah, sebab pemilik tanah memberi bantuan
dengan menyerahkan tanahnyauntuk digarap kepada warga persekutuan
lain yang sangat membutuhkan dan tidak mempunyai tanah, sedangkan
dilihat dari sudut lain warag persekutuan yang menggarap tanahnya itu
memberi bantuan kepada pemilik tanah yang ingin memungut hasil dari
tanahnya tetapi tidak dapat mengerjakan sendiri-sendiri.
ii. Memberi kesempatan memelihara ternaknya kepada warga persekutuan
yang tidak memiliki ternak dengan perjanjian hasil penjualan atau kemban
biak ternak akan dibagi : disini pemilik ternak memberi pertolongan kepada
warga persekutuannya yang ahli dalam memelihara ternak tetapi tidak
memiliki ternak memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan bakatnya
sedangkan warga persekutuan tersebut memberi bantuan pemilik ternak
yang bersangkutan yang tida paham akan cara pemeliharaan ternak untuk
memeliharakan ternaknya.
iii. Kerajasama yan dilakukan pada penangkapan ikan oleh pemili perahu
beserta alat-alat penangkap ikan dengan para nelayan, dimana pamilik
perahu (juragan) wajib menanggung ongkos perawatan perahu beserta alat-
alat penangkap ikan tersebut, juga menanggung makannya paa nelayan
selama berlayar,sedangkan para nelayan (bidak, bandega) wajib
menjalankan tugas penangkapan ikan serta perawatan perahu serta alat-
alatnya, hasil tangkapan ikannya dibagi antara mereka, pemilik perahu
menerima bagian yang terbanyak sedangkan para bidak menerima bagian
sesuai dengan berat ringan tugas mereka dalam penangkapan ikan tersebut.

. PANJER (TANDA YANG KELIHATAN)
Perbedaan antara perjanjian dengan panjer dan perbuatan kontan adalah
jelas sekali yakni :
Perjanjian dengan panjer Perbuatan kontan
Mengandung janji untuk
melaksanakan apa yang telah
dimufakati bersama di kemudian hari
Prestasi (perbuatannya dilaksanakan
pada saat pemufakatan itu tercapai)

Sedangkan perjanjian dengan panjer ini, apabila dibandingkan dengan
perbuatan hutang, maka perbedaannya adalah sebagai berikut :
Perjanjian dengan panjer Perbuatan hutang
Seperti diatas.
Pelaksanaan apa yang telah
dimufakati bersama di kemudian hari
itu dari kedua belah pihak.
Pelaksanaan pebuatan telah ada dari
satu pihak, yaitu dari yang memberi
pinjaman uang, sedangkan prestasi
pihak yang hutang baru dilaksanakan di
kemudian hari sesuai apa yang telah
dimufakati bersama.

Perjanjian dengan panjer lazimnya mengandung janji untuk mengadakan
perbuatan kontan. Dalam perjanjian ini sama sekali tidak ada paksaan dan apabila
ada salah satu pihak yang dirugikan, maka pihak yang lain seringkali membayar
kerugian itu. Perlu kiranya dikemukakan disini, bahwa tidak selalu ada perjanjian
dengan panjer itu, kedua-dua pihak hanya berjanji saja akan melakukan
perbuatannya dikemudian hari. Ada pula pemberian panjerdari satu pihak telah
disusul dengan pemberian prestasi dari pihak yang lai, tetapi prestasi yang telah
mulai diberikan oleh pihak yang lain itu merupakan suatu prestasi yang telah mulai
diberikan oleh pihak yang lain itu merupakan suatu prestasi yang membutuhkan
waktu yang lama, sedangkan dari pihak yang memberikan panjer tadi, prestasinya
masih akan dilakukan di kemudian hari.
Sejenis dengan panjer adalah Paningset (jawa), Panyancang (Sunda),
Paletak (kerinci), yang diberikan pada waktu pertunangan. Di Minangkabau ada
adat saling memberikan tanda pertunangan yang disebut "mempertimbangkan
tanda.
Akhirnya perlu disebutkan disini, surat piagam ataupun pikukuh yang
diberikan oleh raja-raja dahulu kepada pejabat-pejabat bawahannya, sebagai tanda
kelihatan atau tanda ikatan pengakuan hubungan raja dengan hambanya; tanda-
tanda dalam bentuk piagam ata pikukuh ini dapat dilihat juga sebagai semacam
panjer. Tanda kelihatan lain yang oleh raja diberikan kepada pejabat-pejabatnya
adalah paying jabatan, misalnya untuk para bupati paying warna kuninng dan lain
sebagainya.

4. KREDIT PERSEORANGAN
Hutang atau pinjaman adalah merupakan perbuatan normal dalam
masyarakat ndonesia, baik pinjaman yang memakai maupun yang tidak memakai
bunga. Meskipun memungut bunga menurut agama islam tidak dibenarkan, tetapi
dalam kenyataan banyak orang atau perkumpulan juga yang melakukan
peminjaman dengan bunga. Dalam praktek, dapat hutang itu berwuud hutang
barang, hutang makanan dan lain sebagainya; ada pula yang hutang uang denga
perjanjian mengembalikan dengan natura, berwujud misalnya bumi, hasil
peternakan dan lain sebagainya.

Tanggung-menanggung
Salah satu akibat daripada perbuatan hutang adalah tanggung menanggung.
Perasaan kesatuan dan persatuan yang kuat sekali dalam persekutuan,
menyebabkan timbulnya kewajiban adat yang menganggap hutang dari salah satu
warga persekutuan atau clan adalah hutang persekutuan atau clan, sehingga
kewajiban melunasi hutang itu dapat dimintai kepada sala satu warga persekutuan
yang bersangkutan dan tidak perlu terbatas kepada warga yang melakukan
pinjaman itu saja. Apabila seorang warga persekutuan (clan) sering kali
memberikan pertanggungan-pertanggungan yang berat-berat pada persekutuannya
(clannya), maka warga sedemikian ini akhirnya dapat dibuang dari persekutuannya
atau clannya.
Borg atau jaminan
Hutang dengan borg atau jaminan terjadi, apabila ada orang ketiga yang
bersedia menanggung pinjaman tersebut. Orang yang menanggung ini dapat
ditegur, kalau sipeminjam tidak dapat melunasi pinjamannya.
Kempitan
ni adalah semacam perjanjian dengan komisi yang terdapat di Jawa
(sekarang kebiasaan ini kiranya sudah meluas juga ke lain-lain daerah). Dalam
perjanjian ini, pemilik barang mempercayakan penjualan barangnya (lazimnya
barang0barang yang mudah dibawa tangan, seperti kain, bahan pakaian dan lain
sebagainya) kepada orang lain dengan ketentuan setelah lampau waktu tertentu,
barangnya atau jumlah uang yan telah ditetapkan sebelumnya, diberika kepada
pemilik barang.
Ngeber
Transaksi ini dijumpai di Jawa Barat serta tanpa transaksi menjualka
barangnya orang lain (barang bergerak barang hidup) dengan ketentuan :
a. Kalau tida laku dapat dikembalikan pada pemilik barang.
b. Kalau laku dengan harga yang lebih besar daripada harga yang ditetapkan
pada penutupan transaksi, maka selisihnya menjadi haknya orang yang
menjualkan barang tersebut.
Ijon atau ijoan
Perbuatan ini sering terjadi di desa-desa. jon ialah penjualan tanaman padi
yang masih muda. Sekarang ini diijinkan bukan padi saja, tetapi dapat juga jagung,
ketela dan lain-lain polowijo, bahkan dapat diijonkan buah-buahan yang masih
muda seperti jeruk, mangga dan lain sebagainya. Hasil panen dalam hal ini menjadi
milik yang membeli pada waktu masih hijau itu.
Kalau yang membeli padi dan lain sebagainya itu dilakukan pada saat padi
telah masak dan sudah tiba waktunya untuk panen, maka perbuatan itu disebut
tebasan. Pembelian jadinya dilakukan selagi padi masih di sawah; kalau bukan
padi, tetapi misalnya buah-buahan, maka buah-buahan yang sudah masak itu
masih dipohon.
Ngaranan atau mangara anak
Di Minahasa dikenal adanya suatu perjanjian yang istimewa, suatu kontrak
yang isinya adalah : piha pertama A mewajibkan diri untuk memelihara pihak kedua
B pada waktu hidupnya dan mengatur harta bendanya setelah ia meninggal dunia.
Pihak pertama A berhak menerima sebagian dari harta peninggalan pihak kedua B,
lazimnya sebesar bagian seorang anak. Kalau pihak kedua tidak kawin atau tidak
mempunyai anak, maka pihak pertama malahan menerima keseluruhan harta
peninggalan.
Makidihang raga
Mirip dengan ngaranan di Minahasa adalah yang dijumpai di bali dan yang
disebut makidihang raga, yaitu meletakkan ataupun menigikat kan diri sendiri
beserta segala harta kekayannya di bawah asuhan orang lain dan orang lain ini
wajib mengurus segala sesuatu setelah ia meninggal dunia (upacara pembakaran
mayat dan lain-lain urusan yang perlu diselesaikan setelah ia meninggal dunia);
sebagai imbalannya orang lain itu berhak mewarisi harta peninggalannya.









DAFTAR PUSTAKA

Soerojo, Wignjodipoero, Pengantar dan Asas-asas Hukum Adat, Jakarta : Pt
Gunung Agung, 199