Hingga kini siapa dalang di balik peristiwa Gerakan 30 September (G30S) masih diselimuti mendung tebal.

Namun, peristiwa coup d’etat yang disertai penculikan 6 jenderal Angkatan Darat (AD) itu tetap menggugah untuk diperdebatkan dan dicari kebenarannya. Sejarah memang tidak mengenal kata akhir, kata sejarawan Cornell University, Amerika Serikat (AS), Dominick LaCapra. Pasca jatuhnya orde baru, versi tunggal milik pemerintah, yang menyatakan PKI sebagai dalang G30S, digugat (tapi kini akronim “G30S/PKI” diwajibkan kembali dalam buku pelajaran sejarah SMP-SMA). Sejak saat itu, tinjauan sejarah terhadap peristiwa kelabu tersebut kembali mendapat ‘angin surga’. Berbagai fakta baru tertungkap dan sejumlah versi pun bermunculan. Namun, setidaknya ada 5 versi mainstream yang tetap bertahan mengenai peristiwa yang berbuntut pada pembantaian sekitar 500 ribu simpatisan PKI–paling tragis di Jawa dan Bali– hingga 1967 itu. Versi lain sebenarnya cukup bertebaran, tapi umumnya merupakan sempalan dari kelima analisa pokok tersebut.

Pembakaran Atribut PKI (Foto Sutarto/ISSI) Versi pertama adalah versi AD, yang didukung oleh pemerintah otoriter Soeharto. Tahun 1994, sekretariat negara menerbitkan buku putih berjudul “Gerakan 30 September, Pemberontakan Partai Komunis Indonesia, Latar Belakang, Aksi, dan Penumpasannya”. Secara jelas, buku tersebut menuduh bahwa PKI-lah yang menjadi pelaku kup. Versi ini menjadi “the final and the whole truth” serta haram untuk dibantah selama puluhan tahun. Namun, sejarawan LIPI Asvi Warman Adam mencatat, kalau buku putih itu dibaca dengan seksama, akan diperoleh kesimpulan yang tentu tidak diharapkan oleh pembuatnya. Terdapat indeks nama sebanyak 306 orang tokoh dalam buku itu. Presiden Soekarno disebut 128 kali, dua tokoh PKI (Aidit dan Syam, 77 kali), dan dua kubu perwira ABRI (107 kali). “Dalam ‘indeks kata penting’, tiga kata yang paling sering muncul adalah 1) Gerakan Tiga Puluh September, 2) Dewan Revolusi, 3) Dewan Jenderal. Sedangkan kata ‘PKI’ hanya disebut dua kali. Jadi, buku ini berbicara lebih tentang tokoh PKI (atau menurut istilah Orde Baru, oknum),

”. Kup yang dilakukan sangat cepat itu adalah murni persoalan internal AD. Ketiganya lalu melancarkan pemberontakan. Menurutnya.R. Semarang. . serta Latief kecewa atas kepemimpinan AD di pusat yang dianggap tercemar oleh gemerlap kehidupan Jakarta serta lemah sikap anti-komunisnya. PKI tidak mempunyai motif apa pun untuk melakukan kudeta. 1965: Coup in Indonesia. Berkas-berkas Soekarno 1965-1967.” kata Asvi (Majalah TEMPO edisi 2-8 Oktober 2000). Versi ketiga adalah kesimpulan dari John Hughes dan Antonie C Dake.yaitu Aidit dan Syam. Supardjo. B.O. tindakan Untung menciptakan G30S adalah atas dasar restu dari Soekarno. Kronologi Suatu Keruntuhan” mengatakan bahwa mastermind dari G30S adalah Soekarno. Buku Putih G30S/PKI (Foto: Istimewa) Versi kedua datang dari kolega LaCapra. Kolonel seperti Untung. kata Anderson dan McVey. Hughes melalui bukunya “The End of Soekarno” (1967) berpendapat bahwa Presiden Soekarno lah yang bertanggung jawab atas semua rangkaian peristiwa kelam itu. Tulisan yang lebih dikenal dengan sebutan “Cornell Paper” itu menyatakan bahwa PKI tidak memainkan peran sama sekali dalam kup. ketimbang mengenai PKI sebagai sebuah organisasi sosial-politik.G Anderson dan Ruth McVey. Sedangkan Dake dalam bukunya “Soekarno File. Tahun 1966. karena partai pimpinan Aidit ini telah menikmati keuntungan yang besar di bawah pemerintah Soekarno. Kudeta gagal tersebut. dipicu oleh kesenjangan yang dirasakan oleh beberapa kolonel divisi Diponegoro. dua Indonesianis terkemuka itu menerbitkan tulisan berjudul “A Preliminary Analysis of The October 1. Tulisan Dake yang muncul sekitar tahun 2006 lalu ini mendapat reaksi cukup keras dari keluarga Soekarno.

Wertheim. tidak puas dengan kepemimpinan AD di bawah Ahmad Yani yang lemah terhadap PKI. yang juga berasal dari Kodam Diponegoro. Tommy Soeharto. Scott berusaha menarik hubungan antara kepentingan CIA dengan penggulingan Soekarno serta kedekatan badan intelijen AS tersebut dengan AD pada waktu itu. Ia mensinyalir keterlibatan pihak asing. Ia mengatakan. Soeharto dikatakannya bermuka dua. seolah-olah memihak status quo. Menurutnya. Entah sampai kapan misteri peristiwa yang . punya pandangan lain mengenai G30S yang kemudian menjadi versi keempat.Presiden Soekarno (Foto: istimewa) Guru Besar Universitas Amsterdam. Hal itu didasari oleh pertanyaan simpel. respons yang ditunjukkan Seharto dengan mengambil alih keadaan. yang sedang sakit sebelum terjadinya kup. Hal keterlibatan Soeharto ini juga didukung oleh kedekatannya dengan pemimpin gerakan. mengapa Soeharto tidak menjadi target penculikan? Soeharto. kuat dugaan bahwa Soeharto berada di balik kup tersebut. adalah skenario AD untuk merebut kekuasaan. khususnya AS melalui Central Intelligence Agency (CIA). Latief diketahui menjenguk anaknya. serta pertumpahan darah. Versi terakhir dikembangkan oleh Peter Dale Scott. Latief. Soeharto (kanan) dan Soekarno Hampir seluruh penelitian maupun kesaksian dari pelaku yang diterbitkan belakangan ini memiliki kecenderungan satu dari 5 tesis di atas. namun sebenarnya punya rencana untuk menumbangkan Soekarno. Gestapu.

Akan tetapi sejarah memang akan terus hidup.menjadi pertanda beralihnya rezim Soekarno ke Soeharto itu akan terbuka secara utuh. sehingga tidak ada lagi pertanyaan yang muncul. http://kageri. karena ia adalah dialog antara masa lalu dan masa kini.com/2010/09/29/5-versi-utama-peristiwa-g30s/ .blogdetik.