P. 1
03pdjatim009

03pdjatim009

|Views: 51|Likes:
Dipublikasikan oleh Midche Midi

More info:

Published by: Midche Midi on Dec 13, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/13/2011

pdf

text

original

PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR NOMOR 9 TAHUN 2003 TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN

TAHUNAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TAHUN 2004 DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA GUBERNUR JAWA TIMUR, Menimbang: a. bahwa untuk mengimplementasikan kebijakan, program serta kegiatan strategis sebagaimana amanat Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2001 tentang Rencana Stratejik Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005 secara lebih riil dan konkrit ke dalam kegiatan-kegiatan pokok pembangunan daerah dalam kurun waktu 1 (satu) Tahun Anggaran, maka perlu disusun Rencana Pembangunan Tahunan Daerah; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud pada huruf a, perlu menuangkan ketentuan-ketentuannya dalam Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur. Mengingat: 1. Undang-undang Nomor 2 Tahun 1950 tentang Pembentukan Propinsi Jawa Timur juncto Undang-undang Nomor 18 Tahun 1950 Peraturan tentang Mengadakan Perubahan dalam Undang-undang Tahun 1950 Nomor 2 dari hal Pembentukan Propinsi Jawa Timur (Lembaran Negara Tahun 1950 Nomor 32); 2. Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Tata Ruang (Lembaran Negara Tahun 1992 Nomor 115, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3501); 3. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 60, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3839); 4. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 72, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3848); 5. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 206); 6. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaran Negara Tahun 2003Nomor 47, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4287); 7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan "Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3952); 8. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 202); 9. Peraturan Pemerintah Nomor 108 Tahun 2000 tentang Tatacara Pertanggungjawaban Kepala Daerah (Lembaran Negara Tahun 2000 Nomor 209, Tambahan Lembaran Negara Nomor 4027); 10. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 1999 tentang Teknik

11.

12. 13. 14.

Penyusunan Peraturan Perundang-undangan dan Bentuk Rancangan Undang-undang, Rancangan Peraturan Pemerintah dan Rancangan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Lembaran Negara Tahun 1999 Nomor 70); Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban, dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tatacara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005; Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 2 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005; Peraturan Daerah Propinsi Jawa Timur Nomor 19 Tahun 2001 tentang Rencana Stratejik Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005.

Dengan persetujuan, DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR MEMUTUSKAN: Menetapkan: PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN TAHUNAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TAHUN 2004. BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Dalam Peraturan Daerah ini, yang dimaksud dengan: 1. Pemerintah Propinsi adalah Pemerintah Propinsi Jawa Timur. 2. Gubernur adalah Gubernur Jawa Timur. 3. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah adalah Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Propinsi Jawa Timur. 4. Kabupaten/Kota adalah Kabupaten/kota di Jawa Timur. Pasal 2 Rencana Pembangunan Tahunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2003 adalah merupakan dokumen perencanaan teknis operasional tahunan dengan sistematika sebagai berikut: BAB I BAB II BAB III BAB IV : : : : PENDAHULUAN PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JAWA TIMUR PROGRAM PEMBANGUNAN TAHUN 2004 PENUTUP. Pasal 3 (1) Rencana Pembangunan Tahunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2004

(2) (3)

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, merupakan penjabaran lebih lanjut Rencana Stratejik Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005; Rencana Pembangunan Tahunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2004 sebagaimana tersebut pada ayat (1) berfungsi sebagai acuan dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Tahun Anggaran 2004; Uraian secara rinci Rencana Pembangunan Tahunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2004 dimuat dalam Lampiran yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Peraturan Daerah ini. Pasal 4

Gubernur berkewajiban melaksanakan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2004. Pasal 5 Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang dapat mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Propinsi Jawa Timur. Ditetapkan di Surabaya pada tanggal 13 Oktober 2003 GUBERNUR JAWA TIMUR ttd. IMAM UTOMO. S Diundangkan di Surabaya Pada tanggal 13 Oktober 2003 SEKRETARIS DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR ttd. H. SOEKARWO, SH, M.Hum LEMBARAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TAHUN 2003 NOMOR 3 TAHUN 2003 SERI E. LAMPIRAN RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TENTANG RENCANA PEMBANGUNAN TAHUNAN DAERAH (REPETADA) PROPINSI JAWA TIMUR

TAHUN 2004 PEMERINTAH PROPINSI JAWA TIMUR DAFTAR ISI Halaman DAFTAR ISI ........................................................................................ i BAB I. PENDAHULUAN ............................................................. A. KEDUDUKAN ...................................................... B. MAKSUD DAN TUJUAN ..................................... C. DASAR PENYUSUNAN ..................................... D. PERMASALAHAN POKOK ................................. E. PARADIGMA PEMBANGUNAN .......................... 1 1 1 2 3 5

BAB II.

PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JAWA TIMUR ................................................................ 7 1. Pemerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan dan Peningkatan Kualitas Produk Pendidikan yg merata ............................. 13 2. Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Peningkatan Produktivitas melalui Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Penguatan Unit-Unit Usaha dan Lembaga-Lembaga Ekonomi .............................. 14 3. Penerapan Nilai-Nilai Agama dalam Perilaku Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara ............................................................. 4. Pemantapan Kesadaran, Budaya dan Supremasi Hukum serta HAM ............................. 5. Peningkatan Pelayanan Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Peranan Pemuda dan Pembinaan Olah Raga serta Penyetaraan Gender .................................. 27 6. Perluasan Kesempatan Kerja dan Pengisian Lapangan Kerja Yang Tersedia ......... 7. Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat dalam Penyelenggaraan Pemerintahan, Pelaksanaan Pembangunan untuk Pemantapan Otonomi Daerah, Kemudahan Pelayanan Publik serta Perluasan Informasi dan Komunikasi ................... 8. Pengendalian Eksploitasi Sumber Daya Alam, Pelestarian Fungsi dan Keseimbangan Lingkungan Hidup, Penataan Kawasan Permukiman serta Penataan Ruang ..................................................

26 26

30

31

32

9.

Peningkatan Kepastian Perlindungan Masyarakat dari Gangguan Keamanan dan Ketertiban serta Peningkatan Kesadaran Rakyat dalam Bela Negara ................

35 37 37 37 38 39 39 39 39 41 41

BAB III.

PROGRAM PEMBANGUNAN TAHUN 2004 ................... A. UMUM ................................................................... 1. Bidang Ekonomi ......................................... 2. Bidang Sosial Budaya ................................ 3. Bidang Politik .............................................. 4. Bidang Hukum dan HAM ............................ 5. Bidang Lingkungan Hidup ........................... 6. Bidang Pemerintahan dan Keuangan Daerah ....................................... B. RENCANA TINDAK DAN INDIKATOR KINERJA 1. Kebijakan Pemerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan Dan Peningkatan Kualitas Produk Pendidikan .... 2. Kebijakan Percepatan Pemulihan Ekonomi Dan Peningkatan Produktivitas Melalui Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Penguatan Unit-Unit Usaha Dan Lembaga-Lembaga Ekonomi ........................ 3. Kebijakan Penerapan Nilai-Nilai Agama Dalam Perilaku Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa Dan Bernegara ...................................................... 4. Kebijakan Pemantapan Kesadaran, Budaya Dan Supremasi Hukum Serta HAM ..................................................... 5. Kebijakan Peningkatan Pelayanan Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Peranan Pemuda Dan Pembinaan Olah Raga Serta Penyetaraan Gender .................. 6. Kebijakan Perluasan Kesempatan Kerja Dan Pengisian Lapangan Kerja Yang Tersedia.................................... 7. Kebijakan Pemantapan Peran Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan, Pelaksanaan Pembangunan Untuk Pemantapan Otonomi Daerah, Kemudahan Pelayanan Publik, Serta Perluasan Informasi Dan Komunikasi ................................................... 8. Kebijakan Pengendalian Eksplorasi

55

97 100

104 126

131

9.

Sumber Daya Alam, Pelestarian Fungsi Dan Keseimbangan Lingkungan Hidup, Penataan Permukiman Serta Penataan Ruang ………. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Perlindungan Masyarakat Dari Gangguan Keamanan Dan Ketertiban Serta Peningkatan Kesadaran Rakyat Dalam Bela Negara ........................... ........................................................................

150

161 163

BAB IV

PENUTUP

LAMPIRAN PERATURAN DAERAH PROPINSI JAWA TIMUR TANGGAL : 13 OKTOBER 2003 NOMOR : 9 TAHUN 2003 BAB I PENDAHULUAN A. KEDUDUKAN Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada) Propinsi Jawa Timur Tahun 2004 merupakan dokumen perencanaan teknis operasional tahunan yang disusun kedua kali dan berada pada tahun keempat dalam dimensi kurun waktu pemberlakuan dokumen perencanaan Pola Dasar (Poldas), Program Pembangunan Daerah (Propeda), dan Rencana Stratejik (Renstra) Pembangunan Daerah Jawa Timur 2001-2005. Repetada disusun sebagai implementasi dari amanat Renstra 2001-2005 yang menyatakan Renstra Daerah Propinsi Jawa Timur 2001-2005 disusun sebagai penajaman Program Pembangunan Daerah (Propeda) 2001-2005 sekaligus sebagai pedoman, landasan, dan referensi dalam menetapkan skala prioritas Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada) yang setiap tahun dituangkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). MAKSUD DAN TUJUAN Repetada Propinsi Jawa Timur 2004 dimaksudkan sebagai dokumen perencanaan yang memuat kebijaksanaan pembangunan dan menjadi pedoman dalam penyusunan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) tahun 2004. Kebijaksanaan tersebut ditetapkan bersama-sama oleh Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Propinsi Jawa Timur dan Pemerintah Propinsi Jawa Timur. Penyusunan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (Repetada) Propinsi Jawa Timur 2004 dimaksudkan untuk: a. menjadi acuan bagi seluruh komponen penyelenggara pemerintahan serta pelaksana pembangunan daerah dan masyarakat Jawa Timur, khususnya yang berkaitan dengan kegiatan pemberdayaan dan pelayanan publik; b. menjadi pedoman dalam menyusun RAPBD dalam rangka menciptakan

B.

kesesuaian dan keserasian antar program-program pembangunan; dan c. menciptakan kepastian kebijaksanaan, sebagai komitmen bersama yang ditetapkan oleh eksekutif dan legislatif daerah. Repetada 2004 disusun dengan tujuan mewujudkan Propeda, yang secara lebih riil dan konkrit ke dalam program-program pembangunan daerah yang mengacu dan menjabarkan Renstra dalam kurun waktu satu tahun anggaran. Sekaligus pula Repetada 2004 bertujuan memberikan gambaran dari sebuah political will mengenai sasaran dan capaian pembangunan yang ingin diwujudkan oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur selama kurun waktu satu tahun. C. DASAR PENYUSUNAN Sebagai dokumen perencanaan resmi, Repetada 2004 disusun dan ditetapkan dengan dasar hukum yang jelas. Dasar hukum penyusunan Repetada adalah sebagai berikut: 1. Landasan Ideal : Pancasila 2. Landasan Konstitusional : Undang-undang Dasar 1945 3. Landasan Operasional : a. Ketetapan MPR No. 1V/MPR/99 tentang Garis-garis Besar Haluan Ncgara Tahun 1999-2004; b. Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah; c. Undang-undang Nomor 25 Tahun 1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Daerah; d. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2000 tentang Program Pembangunan Nasional Tahun 2000-2004; e. Undang-undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara; f. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Kewenangan Pemerintah dan Kewenangan Propinsi sebagai Daerah Otonom; g. Peraturan Pemerintah Nomor 105 Tahun 2000 tentang Pengelolaan dan Pertanggungjawaban Keuangan Daerah; h. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 29 Tahun 2002 tentang Pedoman Pengurusan, Pertanggungjawaban, dan Pengawasan Keuangan Daerah serta Tatacara Penyusunan Anggaran Pendapatan dan

i.

j.

k.

l.

Belanja Daerah, Pelaksanaan Tata Usaha Keuangan Daerah dan Penyusunan Perhitungan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah; Peraturan Daerah Nomor 26 Tahun 2000 tentang Pola Dasar Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005; Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2001 tentang Program Pembangunan Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005; dan Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2001 tentang Rencana Strategis (Renstra) Daerah Propinsi Jawa Timur Tahun 2001-2005. Surat Edaran Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Nomor 050/1240/II/Bangda tanggal 21 Juni 2001.

D.

PERMASALAHAN POKOK Propinsi Jawa Timur sebagai daerah yang memiliki wilayah cukup luas disertai jumlah penduduk yang cukup besar pula, menghadapi sejumlah permasalahan yang sungguh-sungguh tidak ringan. Permasalahan-permasalahan itu tidak semata-mata hadir sebagai dampak langsung dari krisis multidimensional yang terjadi sejak 1997, melainkan pula sampai tingkat tertentu sudah ada jauh sebelumnya. Pemerintah Propinsi sangat menyadari akan hal ini, dan karenanya permasalahanpermasalahan yang memantul sebagai realitas sosial itu telah dirumuskan sebagai permasalahan pokok yang dituangkan ke dalam Renstra 2001-2005 untuk menjadi titik acuan empirik penentuan kebijaksanaan pembangunan, yaitu: 1. Bidang Ekonomi a. Dalam 4 (empat) tahun terakhir laju pertumbuhan ekonomi/PDRB Jawa Timur sudah meningkat, namun belum cukup mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur; b. Masih rendahnya minat investor dalam menanamkan modal di Jawa Timur, khususnya PMDN dan PMA akibat dampak krisis ekonomi-moneter, peristiwa WTC dan bom Bali, kondisi ekonomi nasional yang kurang kondusif termasuk kondisi eksternal yang kurang stabil; c. Masih meningkatnya angka pengangguran karena pertumbuhan jumlah angkatan kerja; masih rendahnya kesempatan kerja akibat rendahnya investasi; serta karena adanya pengungsi dan pemulangan TKI; d. Kecilnya pengembalian hasil perolehan fiskal ke Jawa Timur

2.

3.

4.

5.

6.

7.

dibanding jumlah fiskal yang disetor ke Pemerinlah Pusat; e. Belum optimalnya pengelolaan sumberdaya alam, khususnya minyak dan gas bumi serta pemanfaatan potensi kelautan bagi kesejahteraan masyarakat (melalui desentralisasi fiskal dan working interest), Bidang Sosial-Budaya a. Masih banyak penduduk yang termasuk dalam kategori miskin; b. Masih rendahnya Linykat pendidikan dan keterampilan rata-rata angkatan kerja; c. Masih didapati anak didik yang putus sekolah karena alasan ekonomi; d. Masih belum optimalnya derajat kesehatan masyarakat dan derajat pemenuhan gizi. Bidang Hukum dan HAM a. Belum terwujudnya supremasi hukum dan HAM secara optimal; b. Masih banyaknya pelanggaran Peraturan Daerah serta Peraturan Pelaksanaannya. Bidang Politik a. Belum terbangunnya hubungan sinergis antara eksekutif, legislatif dan masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik; b. Rendahnya kualitas pendidikan politik yang ditandai dengan orientasi politik warga lebih mengarah kepada figur pimpinan partai politik dari pada kepada program partai; c. Meningkatnya jumlah partai politik yang tidak diimbangi dengan profesionalisme fungsionaris partai. Bidang Lingkungan Hidup dan Kewilayahan: a. Masih tingginya ancaman kerusakan dan pencemaran lingkungan, yang ditandai masih banyaknya bencana alam akibat longsor, banjir, ancaman kekeringan, serta pencemaran air, tanah dan udara; b. Masih adanya kesenjangan antar wilayah terutama pada wilayah Selatan, Madura dan wilayah Kepulauan. Bidang Ketentraman Umum dan Ketertiban Masyarakat: a. Masih tingginya tindak kriminal di berbagai daerah; b. Masih meluasnya pengguna narkoba/NAPZA. c. Masih banyaknya gangguan ketentraman dan ketertiban umum di Jawa Timur. Bidang Pemerintahan a. Belum terwujudnya secara optimal good governance; b. Belum terkelolanya asset pemerintah secara optimal; c. Masih belum optimalnya derajat pelayanan umum kepada masyarakat luas. d. Berdasarkan permasalahan pokok yang terbagi dalam enam bidang maka kebijakan pemerintahan dan pembangunan mendatang dapat lebih mampu mengakomodasikan aspirasi masyarakat yang dinamis dan terus berkembang.

E.

PARADIGMA PEMBANGUNAN Acuan paradigmatik kebijaksanaan pembangunan daerah Propinsi Jawa Timur

pada dasarnya bertumpu pada model pemikiran yang menempatkan rakyat sebagai subyek pembangunan. Rakyat dan/atau masyarakat luas, dengan segala kepentingan, aspirasi, kebutuhan, dan penderitaannya menjadi pusat dan titik berangkat segala bentuk kebijaksanaan pembangunan dan disebut sebagai paradigma kerakyatan. Dalam kerangka model pemikiran yang demikian, rakyat dan/atau masyarakat luas menjadi penentu warna dan wajah dari seluruh proses pembangunan. Sedangkan pemerintah (dalam hal ini Pemerintah Propinsi) mendapat amanat sebngai fasilitator terpercaya yang bertugas melayani kebutuhan masyarakat serta membangun sinergi antar berbagai kepentingan masyarakat yang berbeda-beda, untuk pada gilirannya mendistribusikan sumberdaya-sumberdaya pembangunan secara adil dan merata kepada masyarakat. Paradigma demikian sekaligus mengandung makna bahwa hadirnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan menjadi sangat penting, sebab, pembangunan yang menempatkan masyarakat sebagai subjek menjadi kurang bermakna ketika masyarakat tidak memberikan respons dalam wujud partisipasi aktif. Pemerintah Propinsi Jawa Timur memandang partisipasi masyarakat sebagai basis utama pelaksanaan pembangunan. Sebagai wujud konkrit dari model pemikiran tersebut di muka, Propinsi Jawa Timur mengedepankan kerangka paradigma pembangunan yang bertumpu pada tiga komponen yang saling terkait, yakni: 1. Partisipasi pembangunan oleh seluruh wilayah dan komponen masyarakat; 2. Praktik penyelenggaraan administrasi publik dan perusahaan (swasta) yang memberdayakan masyarakat; dan 3. Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan. BAB II PERKEMBANGAN PELAKSANAAN PEMBANGUNAN JAWA TIMUR Kinerja pembangunan Jawa Timur secara yuridis politis sebagaimana amanatkan pada Peraturan Daerah Nomor 19 Tahun 2001 tentang Renstra Daerah 2001-2005 diukur dengan besaran standar kinerja yang merepresentasikan kinerja kebijakan visi, paradigma pembangunan maupun tujuan strategis embangunan Jawa Timur. Hasil pembangunan Jawa Timur bukan semata erupakan kinerja Pemerintah Propinsi namun lebih merupakan sebuah fungsi kerja yang terintegrasi antara pemerintahan Pusat, Propinsi, dan Kabupaten/ serta kinerja sektor dunia usaha dan masyarakat. Fungsi Pemerintah Propinsi disamping melaksanakan dan mengendalikan pembangunan, juga mendesain fiscal policy dan nonfiscal policy dalam proses pembangunan. Fiscal policy dengan budget publik yang terbatas berfungsi untuk memobilisasi sumberdaya yang ada memfasilitasi partisipasi masyarakat dalam koridor kewenangan Pemerintah propinsi, serta untuk mendukung kesepakatan- kesepakatan dengan Pemerintah kabupaten/Kota yang belum mampu melaksanakan aktivitas pembangunan daerah secara optimal. Hal ini dimaksudkan sebagai upaya Pemerintah Propinsi untuk mewujudkan keserasian pertumbuhan antar wilayah Kabupaten/Kota. Evaluasi kinerja pembangunan Jawa Timur sebagai base line data untuk desain kegiatan pokok tahun 2004 secara ideal dilakukan dengan pendekatan alisis spread antara target dan capaian standar kinerja tahun 2003 dengan nperhatikan trendline perkembangan dari

tahun sebelumnya, namun demikian ia pelaksanaan pembangunan tahun 2003 belum selesai dan masih berjalan, sebagai justifikasi evaluasi kinerja adalah analisa capaian evaluasi kinerja tahun 2002, Evaluasi kinerja tahun 2003 disajikan perkembangan perekonomian triwulan I dan prediksi secara keseluruhan tahun 2003. Apabila selama masa pembahasan terdapat perkembangan capaian kinenrja yang perlu disajikan akan (lustrasikan sebagai evaluasi kinerja. Untuk mengetahui implementasi kegiatan pokok tahunan terhadap visi pembangunan Jawa Timur yaitu "masyarakat yang maju, berdaya saing, praktis, berkeadilan, damai dan sejahtera" direpresentasikan dengan indikator strategi visi, Tingkat Pendidikan Rata-rata (TPR), PDRB Per Kapita, sks Daya Beli (IDB) maupun Indek Pembangunan Manusia (IPM). Keempat indikator ini dipandang cukup merepresentasikan visi pembangunan Jawa Timur karena telah memenuhi unsur-unsur yang membangun kesejahteraan manusia, yaitu dari aspek ekonomi adalah PDRB Per Kapita dan IDB, dari aspek sosial adalah TPR dan IPM yang juga mengandung kombinasi aspek ekonomi, kesehatan dan pendidikan. Kombinasi dari ke-empat indikator tersebut diharapkan dapat menggambarkan kinerja pencapaian visi yang mencerminkan perkembangan kemampuan masyarakat Jawa Timur dalam berkompetisi, berdemokrasi dalam suasana berkeadilan dan sejahtera. Capaian standar kinerja Indikator strategi visi dari aspek sosial untuk TPR yang diukur melalui rata-rata lamanya sekolah (mean years of schooling) pada tahun 2001 sebesar 6,31 tahun dan pada 2002 sebesar 6,46 tahun, capain kinerja ini telah melampaui target sebesar 5,9 tahun. Meskipun ada peningkatan angka TPR, pada kenyataannya kondisi pendidikan rata-rata masyarakat Jawa Timur sampai pada tingkat SMP. Kenaikan PR tahun 2002 ini tidak terlepas dari : (1) kebijakan dan realisasi yang didesain oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur terhadap perluasan kesempatan pendidikan semakin besar; (2) hasrat masyarakat untuk menikmati pendidikan sejalan dengan visi yang semakin tinggi. Dengan capaian target maupun trendline 2001 dan 2002 yang makin meningkat, pada tahun 2003 angka TPR diproyeksikan lebih tinggi dari tahun sebelumnya dan diharapkan melampaui target kinerja tahun 2003. Selanjutnya representasi strategi visi dari aspek ekonomi, berdasarkan Indikator PDRB per Kapita Atas Dasar Harga Berlaku (ADHB) pada tahun 2001 tercapai Rp. 5,61 juta sedangkan tahun 2002 mencapai Rp. 6,44 juta dari target Renstrada sebesar Rp. 5,49 juta. Peningkatan PDRB Per Kapita selama dua tahun tterakhir ini tidak terlepas dari peningkatan Nilai Tambah Bruto daerah, namun demikian kenaikan ini masih belum optimal karena kenaikan jumlah penduduk Ipertengahan tahun lebih cepat dari pertumbuhan PDRB. Dengan besaran makro fekonomi tahun 2003 triwulan I seperti inflasi yang cenderung turun serta nilai tukar rupiah masih di bawah ambang batas psikologis, PDRB Per Kapita 2003 diproyeksikan meningkat dari tahun sebelumnya dan melampaui target tahun 2003 seiring dengan kondusifnya situasi sosial dan politik, walaupun tidak tertutup kemungkinan menjelang 2004 suhu politik akan relatif meningkat. Dengan semakin meningkatnya PDRB Per Kapita dimaksud, ternyata dibarengi dengan peningkatan lndeks Daya Beli (diukur berdasarkan acuan indeks tahun 2000 sama dengan 100) yang pada tahun 2001 mencapai 100,62 sedangkan pada tahun 2002 mencapai 104,44 dibanding target Renstrada sebesar 102. Kenaikan IDB ini tidak terlepas anya perbaikan ekonomi paska krisis yang diilustrasikan dengan semakin sningkatnya PDRB maupun PDRB Per Kapita, walaupun disadari bahwa kenaikan) RB Per Kapita masih belum optimal. Dengan kondisi pasca krisis serta

perbaikan- perbaikan ekonomi melalui aktivitas sektor riil maupun kondisi sektor angan terutama besaran makro ekonomi yang semakin kondusif, IDB tahun 33 diproyeksikan akan meningkatdan melampaui target kinerja tahun 2003. Komposit dari aspek sosial dan ekonomi untuk merepresentasikan indikator strategi visi adalah Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM di Jawa Timur diukur dengan selang waktu 3 tahunan, yaitu pada tahun 1996 sebesar 65,5, tahun 1999 turun menjadi 61,8 dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 62,64. IPM Jawa timur meningkat tidak hanya pada daerah perkotaan saja akan tetapi juga di kawasan Selatan dan bagian tengah Jawa Timur. Hal ini dapat ditunjukkan bahwa 17 Kabupaten/Kota masuk dalam status menengah-atas, sedangkan 19 Kabupaten/Kota masuk dalam status menengah-bawah, dan hanya Kabupaten Sampang pada status bawah. Sedangkan kota Batu masih belum dilakukan menghitungan IPM secara terpisah dengan Kabupaten Malang. Selanjutnya 12 Kabupaten yang mempunyai skor di bawah rata-rata IPM Jawa Timur adalah daerah yang memang berdasarkari data BPS memiliki angka kemiskinan yang cukup tinggi, sehingga pada tahun 2001 dan 2002 merupakan daerah sasaran Dritas program pengentasan kemiskinan di Jawa Timur. Secara empiris desain pembangunan ekonomi selama dekade sebelum krisis telah mengakibatkan disparitas antar wilayah maupun tingkat kesejahteraan masyarakat hal ini ditandai dengan munculnya sistem-sistem bisnis yang berbasis kartel, konglomerasi yang cenderung tidak memihak kepada ekonomi kerakyatan. Dengan kondisi dimaksud, disadari bahwa skenario pertumbuhan yang kurang menguntungkan eliminasi disparitas memunculkan pemikiran untuk mendesain paradigma pembangunan yang lebih berorientasi pemberdayaan seluruh potensi masyarakat sebagai basis pertumbuhan yang kokoh dan merata. Secara praktis paradigma pemberdayaan tersebut diupayakan melalui peningkatan peran serta masyarakat, penyelenggaraan administrasi publik yang baik, serta pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Indikator kebijakan paradigma pembangunan direpresentasikan melalui Partisipasi Pembangunan oleh Seluruh Wilayah dan Komponen Masyarakat (2) Praktek Penyelenggaraan Administrasi Publik dan Perusahaan yang Memberdayakan Rakyat, serta (3) Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan yang berkelanjutan. Partisipasi Pembangunan oleh Seluruh Wilayah dan Komponen masyarakat sebagai salah aspek untuk mewujudkan paradigma pembangunan mempresentasikan dengan Indeks Disparitas Wilayah. Capaian target kinerja Perkembangan Indeks Disparitas wilayah tahun 2001 dan 2002 sebesar 100. Hal menunjukkan adanya proses pemerataan pembangunan yang semakin baik. Indeks Disparitas Wilayah dihitung berdasarkan pengeluaran konsumsi rumah tangga, indeks disparitasnya semakin kecil, tahun 2001 dan 2002 sebesar 77, dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengeluaran untuk konsumsi rumah tangga di Kabupaten/Kota lebih merata dibanding PDRB Per Kapitanya. Jasarkan penilaian indikator kinerja ini nampak bahwa upaya untuk meningkatkan kinerja partisipasi pembangunan oleh seluruh komponen masyarakat tercapai cukup baik dan melampaui target yang ditetapkan. Namun perlu dianalisis pula bahwa atas dasar indeks enthropy masih terdapat keragaman sks disparitas dengan deviasi yang cukup besar, sebagai contoh perkembangan share PDRB antar Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) terbesar adalah SWP I (Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Kota Mojokerto, Surabaya, Lamongan, Sidoarjo) sebesar 40,30% tahun 2002 sedangkan SWP dengan share rendah seperti SWP II, III, IV, V, VIII, IX antara 3,09 - 5,75%. Hal ini sebenarnya lebih disebabkan oleh historis Kabupaten/kota dengan insfrastruktur ekonomi yang sudah mapan, disamping itu jumlah Kabupaten/Kota di masing-masing SWP juga

berbeda-beda, sehingga berpengaruh pula terhadap share per SWP. Kondisi ini merupakan input dalam perencanaan kegiatan tahun 2004 mendatang. Dengan semakin meningkatnya Nilai Tambah Bruto maupun PDRB Per Kapita selama dua tahun akhir, pada tahun 2003 diproyeksikan Indeks Disparitas wilayah akan cenderung makin turun, hal ini didasarkan atas kondisi nyata adanya perbaikan ekonomi krisis yang terus mengalami peningkatan. Selanjutnya Praktek Penyelenggaraan Administrasi Publik dan Perusahaan yang Memberdayakan Rakyat sebagai representasi paradigma pembangunan Pukur melalui indikator peningkatan nilai tambah UKM dalam PDRB (%), asio Kredit bagi UKM terhadap keseluruhan kredit usaha (%) serta Angka kemiskinan (%). Indikator prosentase peningkatan nilai tambah dalam PDRB dalam kurun lima tahun terakhir selalu meningkat positif, bahkan pada tahun 2001 sebesar 5,32% dan 2002 sebesar 5,3% dari target kinerja 6%. Kondisi ini disebabkan oleh semakin tingginya prosentase pemberian kredit oleh bank kepada UKM untuk melakukan aktivitas ekonominya. Hal ini terbukti dengan Rasio kredit bagi UKM hadap keseluruhan kredit usaha pada tahun 2001 adalah sebesar 35,78% atau dibawah target Renstrada sebesar 36%; sedangkan tahun 2002 pada posisi bulan Agustus mencapai 42,43% melampaui target Renstrada sebesar 36.2%. Capaian kinerja nilai tambah UKM dalam PDRB pada tahun 2003 diproyeksikan akan mampu tumbuh lebih besar sehingga diperkirakan melampaui target yang ditetapkan. Hal ini didukung oleh kebijakan Bank Indonesia kedepan yang menginstruksikan agar Bank Pelaksana dalam menyusun bussines plan engagendakan pengalokasian kredit bagi UKM, diproyeksikan rasio kredit UKM hadap keseluruhan kredit usaha akan semakin meningkat Seiring dengan terjadinya perbaikan ekonomi melalui aktivitas sektor riil serta upaya-upaya terobosan Pemerintah propinsi melalui GERDU TASKIN maupun proyek-proyek publik di sektor ekonomi, terjadi penurunan jumlah penduduk miskin dari 20,73% tahun 2001 menjadi 20,34% tahun 2002 dari target sebesar 25%. Capaian ini walaupun telah melampui target namun akan terus diupayakan pengurangan jumlah penduduk miskin secara bertahap baik dengan pengembangan jumlah lokus desa yang ditangani maupun intensifikasi program dengan belanja publik serta diupayakan partisipasi masyarakat ikut dalam Gerakan. Dengan representasi perwujudan paradigma pembangunan melalui partisipasi masyarakat dan penyelenggaraan praktek administrasi publik dan perusahaan yang memberdayakan rakyat melalui indikator-indikator seperti telah tersebut diatas yang kesemuanya mengalami trendline positif dan melampaui target, merupakan modal dasar dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, walaupun dari sisi out put kinerjanya barangkali belum optimal. Sebagai ilustasi adalah bahwa sejak krisis ekonomi tahun 1998 walaupun telah terjadi perbaikan ekonomi, namun belum sepenuhnya pulih. Dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 3,41% pada tahun 2002 sebenarnya merupakan perbaikan percepatan dari tahun 2001 yang tumbuh 3,33%, dengan besaran absolut PDRB Atas Dasar Harga konstan 1993 tahun 2002 sebesar Rp. 62 trilyun rupiah, posisi recovery ekonomi Jawa Timur mencapai 96,87% terhadap posisi tahun 1997 (masa sebelum krisis). Pertumbuhan ekonomi sebesar 3,41% yang lebih didominasi oleh sektor konsumsi, belum banyak diharapkan untuk mampu mengakomodasikan jumlah angkatan kerja, hal ini didasarkan atas perkembangan investasi yang kurang menggembirakan serta ekspor yang masih berfluktuatif sebagai akibat situasi nasional baik politik dan sosial sejak krisis 1998 yang belum benar-benar pulih. Kondisi demikian sangat berpengaruh terhadap

efisiensi investasi tahun 2001 dan 2002 sebesar 6,13 dan 6,36 yang belum mampu mencapai target sebesar 4,00, oleh karena itu kedepan intensifikasi maupun ekstensifikasi investasi harus merupakan fokus dalam skenario pembangunan ekonomi Jawa Timur untuk lebih mempercepat pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja, sehingga perubahan prestasi yang terjadi benar-benar akan mampu meningkatkan satu satuan Nilai Tambah Bruto secara signifikan. Selanjutnya pertumbuhan ekonomi sebesar tahun 2002 sebesar 3,41% Share investasi publik Pemerintah Propinsi terhadap PDRB mengalami peningkatan dari 1,35% pada tahun 2001 menjadi 1,41% pada tahun 2002, dari target Renstrada sebesar 1,1%. Peningkatan ini menunjukkan bahwa peran belanja publik untuk saat ini sangat penting dan strategis karena kondisi investasi private yang belum menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sebagai representasi perwujudan paradigma pembangunan akan sangat relevan untuk kedepan dengan issue-issue lingkungan, hal ini penting karena dengan fenomena eco-labelling, PDRB Hijau akan sangat dibutuhkan untuk persyaratan-persyaratan aktivitas ekonomi, hal ini secara nyata telah ditindaklanjuti oleh kalangan perbankan yang mensyaratkan AMDAL untuk kredit usaha bagi pada pengusaha yang mendirikan usahanya. Dari indikator COD dan BOD untuk badan sungai Bengawan Solo, dari standar yang ditargetkan sebesar untuk COD sebesar 36 mg/lt dan BOD sebesar 31 mg/lt pada tahun 2002 telah mengalami perkembangan yang cukup baik dengan realisasi COD sebesar 7,94 mg/lt setelah tahun 2001 mencapai 12,46 mg/lt sedangkan BOD sebesar 3,69 mg/lt setelah sebelumnya sebesar 6,69 mg/lt. Untuk Badan sungai Brantas realisasi COD sebesar 20,53 mg/lt, dan BOD sebesar 7,78 mg/It. Walupun tercapai target namun untuk badan sungai Brantas perlu dilakukan pengawasan secara intensif, karena dari tahun 2001 mengalami peningkatan BOD dan COD. Selanjutnya kinerja 9 program prioritas selama tahun 2002 dan prediksi tahun 2003 secara keseluruhan untuk pembangunan ekonomi dalam rangka percepatan pemulihan ekonomi secara tersruktur diuraikan capaian indikator kinerja beserta dukungan indikator mikro yang relevan dengan indikator makro. Secara lebi rinci berikut diuraikan capaian kinerja program prioritas: 1. Peningkatan kesempatan memperoleh pendidikan dan peningkatan kualitas produk pendidikan yang merata. Untuk mengetahui kinerja dalam bidang pendidikan pada umumnya dapat dilihat dari beberapa indikator yaitu angka buta huruf, angka partisipasi, dan rasio Murid SMK dibanding SMU. a. Angka Buta Huruf. Angka Buta Huruf (ABH) untuk penduduk usia 10 tahun ke atas pada 2001 sebesar 15,77% selanjutnya tahun 2002 mengalami penurunan menjadi 15,16%, hasil ini melampaui dari sasaran yang ditargetkan yaitu 15,80%. Apabila dilihat menurut jenis kelamin ABH bagi penduduk laki-laki lebih rendah dibanding penduduk perempuan. Terdapat 10 Kab/Kota yang mencapai ABH kurang dari 0% yaitu : Kab. Sidoarjo, Kab. Mojokerto, Kab. Gresik serta 7 Kota. Sedangkan jumlah buta huruf untuk usia 15 Tahun ke atas khususnya di daerah Tapal Kuda cukup tinggi sehingga upaya pemberantasan buta huruf masih tetap sangat mendesak. b. Angka Partisipasi. Angka partisipasi kasar tingkat SD/MI pada tahun 2002 adalah 114,02%, tingginya angka partisipasi ini memberikan indikasi bahwa perkembangan tingkat partisipasi sekolah umur kurang dari 7 tahun hingga lebih dari 12

c.

tahun yang bersekolah justru meningkat pesat. Dengan demikian terlihat bahwa disamping kecenderungan perkembangan anak dibawah sekolah SD sudah masuk sekolah, juga terdapat penduduk usia remaja hingga dewasa mengikuti pendidikan luar sekolah setara SD melalui kegiatan pendidikan semacam kejar paket A dan sejenisnya. Angka Partisipasi Sekolah (APS) untuk usia SD (7-12 tahun) tahun 2001 sebesar 96,92% dan pada tahun 2002 sedikit mengalami penurunan sehingga menjadi 96,73%. Capaian tahun 2002 ini masih dibawah target yang ditetapkan dalam Renstra yaitu sebesar 96,80%. Angka Partisipasi Sekolah (APS) usia SD untuk Kabupaten/Kota tahun 2002 terdapat 4 Kabupaten/Kota yang sudah mendekati 100%, yaitu Kabupaten Sidoarjo, Kabupaten Mojokerto, Kota Blitar dan Kota Mojokerto. Angka partisipasi SLIP pada tahun 2002 mencapai 81,83% atau meningkat dari target yang ditetapkan sebesar 81,20%. Capaian hasil tahun 2002 juga mengalami peningkatan dari capaian tahun 2001 sebesar 81,59%. Pada tahun 2002 kesenjangan antara murid laki-laki dengan perempuan menjadi semakin menurun yaitir 81,92% untuk Angka Partisipasi Sekolah (APS) laki-laki berbanding 81,73% untuk Angka Partisipasi Sekolah (APS) perempuan atau terjadi perbedaan sekitar 0,19%. Jika dilihat APS usia SLIP tahun 2002 menurut Kabupaten/Kota, terdapat sebanyak 7 Kabupaten yang persentasenya diatas 95%, yaitu Kabupaten Lamongan, Sidoarjo, Magetan, Kediri, Mojokerto, Madiun dan Blitar. Angka Partisipasi Sekolah (APS) SMU/MA pada tahun 2002 mencapai 51,84%, keberhasilan ini belum memenuhi target yang ditetapkan sebesar 53,90%. Namun capaian tahun 2002 ini mengalami peningkatan bila dibanding capaian tahun 2001 sebesar 51,53%. Hal ini menunjukkan minat masyarakat untuk melanjutkan sekolah ke SM/MA semakin bertambah. Di samping indikator angka partisipasi, dapat juga ditambahkan angka putus sekolah (DO). Dengan dikeluarkan program beasiswa, ternyata mempunyai dampak yang sangat luas terhadap murid putus sekolah karena masalah ekonomi. Prosentase murid putus sekolah baik SD maupun SLIP mengalami penurunan, pada tahun 2001 angka putus sekolah SD 0,39% dan untuk SLTP 0,48% dan pada tahun 2002 menurun menjadi 0,37% untuk SD dan 0,40% SLTP. Demikian pula pada tingkat Sekolah Menengah angka putus sekolah terus mengalami penurunan tahun 2001 sebesar 1,02% dan pada tahun 2002 sebesar 1%. Rasio Murid SMK dibanding SMU/MA. Rasio murid SMK terhadap jumlah murid SMU / MA mengalami penurunan dari 0,45 pada tahun 2001 menjadi 0,41 pada tahun 2002, sedangkan sasaran tahun 2002 sebesar 0,46 sehingga dengan capaian kinerja tahun 2002 tersebut perlu diupayakan peningkatan Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 11 rasio terhadap Sekolah Menengah Umum melalui reposisi dan re-engineering yang lebih

2.

sesuai dengan kebutuhan kompetensi sektor riil. Percepatan Pemulihan Ekonomi Dan Peningkatan Produktivitas Melalui Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Penguatan Unit-Unit Usaha, Dan Lembaga-Lembaga Ekonomi. Kinerja perekonomian tahun 2002 yang sepenuhnya belum pulih, masih memerlukan optimalisasi variabel pendukung. Sebagaimana diketahui dari tiga faktor utama seperti investasi, konsumsi dan ekspor netto, ternyata pertumbuhan ekonomi tahun 2002 masih didominasi oleh sektor konsumsi. Pada tahun 2002, ekonomi Jawa Timur mengalami pertumbuhan sebesar 3,41%, dan pertumbuhan ini lebih cepat dibanding tahun sebelumnya yang hanya tumbuh 3,33%. Pertumbuhan ekonomi daerah yang positif terjadi di hampir seluruh sektor ekonomi, kecuali sektor industri pengolahan. Sektor Industri pengolahan mengalami pelambatan sebesar - 1,68% sebagai akibat dampak kenaikan BBM dan TDL secara bertahap, serta menurunnya secara signifikan kontribusi industri makanan/minuman pada komoditi rokok akibat kenaikan tarif cukai. Padahal dalam rumpun sektor industri, sub-sektor industri makanan dan minuman justru mempunyai porsi yang sangat besar dibanding sub-sektor industri lainnya. Sektor yang mengalarni pertumbuhan yang paling tinggi adalah sektor listrik, gas dan air bersih sebesar 7,30% dan sektor perdagangan, hotel dan restoran sebesar 7,25%. Sektor perdagangan selama 3 tahun terakhir mempunyai pangsa yang makin besar dan mengalarni pertumbuhan yang cukup tinggi, sehingga Dntribusi pertumbuhan sektor ini menempati urutan teratas. Tingginya umbangan pertumbuhan sektor ini dalam tahun 2002 terutama didukung oleh sub ektor perdagangan dan restoran. Sementara itu, pertumbuhan sektor angkutan an komunikasi yang cukup tinggi, terutama yang didukung oleh sub sektor komunikasi yang mengalarni pertumbuhan 22,58%, kondisi ini terkait dengan maraknya penggunaan telepon seluler di Jawa Timur dengan segala fasilitasnya, pelain itu juga didukung oleh pertumbuhan sub sektor angkutan udara yang tumbuh 34,52% seiring dengan maraknya perkembangan maskapai penerbangan yang melayani rute Surabaya - Jakarta. Selanjutnya untuk sektor listrik, gas dan air bersih, pertumbuhannya sangat didukung oleh sub sektor gas kota yang imengalami pertumbuhan 27,11%. Tingginya pertumbuhan ini antara lain disebabkan oleh meningkatnya permintaan masyarakat akan gas yang cukup tinggi khususnya di wilayah perkotaan. Sebagai illustrasi disajikan pertumbuhan 9 sektor lapangan usaha Atas Dasar Harga Konstan 1993 (angka sangat sementara) I sebagai berikut: PERTUMBUHAN EKONOMI MENURUT 9 SEKTOR LAPANGAN USAHA ATAS DASAR HARGA KONSTAN 1993 -------------------------------------------------------------------------------------------------------------NO. SEKTOR 2001 (%) 2002 (%) -------------------------------------------------------------------------------------------------------------1. Pertanian 1,19 2,10 2. Pertambangan dan Penggalian - 0,16 3,52

3. 4. 5. 6.

Industri Pengolahan 1,56 Listrik, Gas dan Air Bersih 7,49 Konstruksi 0,89 Perdagangan, Hotel dan Restoran 8,09 7. Pengangkutan dan Komunikasi 0,99 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5,80 9. Jasa-jasa 3,26 Produk Domestik Regional Bruto 3,33 Sumber Data : BPS Propinsi Jawa Timur, 2002

- 1,68 7,30 0,99 7,25 11,16 4,26 3,95 3,41

Selanjutnya menurut jenis pengeluaran, sumber utama pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dalam tahun 2002 masih didorong oleh konsumsi yang mengalami pertumbuhan cukup tinggi yakni 6,4%, jauh lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya sebesar 3,01%. Impor non migas Jawa Timur dalam tahun 2002 mencapai USD 3,27 milyar atau meningkat sebesar 3,52% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar USD 3,15% milyar, sementara itu nilai ekspor non migas Jawa Timur justru mengalami penurunan pertumbuhan 6,90% dari USD 5,27 milyar pada tahun 2002 menjadi USD 4,90 milyar tahun 2003. Sementara itu dari kontribusi masing-masing sektor, sampai dengan tahun 2002, struktur ekonomi Jawa Timur masih didominasi oleh Sektor Pertanian sebesar 21,25%, Industri pengolahan 26,35% dan Sektor Perdagangan, Hotel dan Restoran 24,16%. KONTRIBUSI PDRB JAWA TIMUR ADHK1993 -----------------------------------------------------------------------------------------------No. SEKTOR 2001 (%) 2002 (%) -----------------------------------------------------------------------------------------------1. Pertanian 17,44 17,22 2. Pertambangan dan Penggalian 1,93 1,94 3. Industri Pengolahan 26,55 25,24 4. Listrik, Gas dan Air Bersih 2,71 2,82 5. Konstruksi 4,48 4,37 6. Perdagangan, Hotel dan Restoran 21,91 22,72 7. Pengangkutan dan Komunikasi 8,16 8,77 8. Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan 5,75 5,80 9. Jasa-jasa 11,06 11,13 Produk Domestik Regional Bruto 100 100 Sumber Data : BPS Propinsi Jawa Timur, 2001 dan Desember 2002

Selanjutnya faktor eksternal berupa besaran makro ekonomi seperti inflasi llnflasi selama tahun 2002 cenderung mengalami penurunan. Jawa Timur pemberikan bobot terbesar kedua terhadap inflasi nasional setelah OKI Jakarta Jyaitu sebesar 12,11% yang dihitung dari bobot 4 kota besar di Jawa Timur, yakni Surabaya, Malang, Kediri dan Jember. Dengan bobot tersebut, pola pergerakan inflasi di Jawa Timur secara historis cenderung menunjukkan perkembangan yang searah dengan laju inflasi nasional. Jumlah komoditas yang di survey oleh BPS dalam menghitung inflasi Jawa Timur sejumlah 385 komoditas. Laju inflasi Jawa Timur pernah mencapai laju terendah yaitu pada tahun 11999 sebesar 0,57% sebagai akibat kebijakan moneter yang sangat ketat dan menguatnya nilai tukar rupiah. Namun pada tahun berikutnya seiring dengan kebijakan penyesuaian harga oleh pemerintah dan kecenderungan melemahnya nilai tukar rupiah serta meningkatnya ekspektasi inflasi, laju inflasi Jawa Timur meningkat tajam menjadi 10,35% pada tahun 2002 dan 13,89% pada tahun 2001. 5Memasuki tahun 2002 inflasi Jawa Timur turun menjadi 9,27%. Perkembangan moneter di Jawa Timur selama tahun 2002 sangat terkait Jerat .dengan perkembangan moneter nasional yang diwarnai oleh menurunnya trend laju inflasi, suku bunga, menguatnya nilai tukar rupiah. Disamping itu, perkembangan moneter juga diwarnai oleh meningkatnya jumlah uang beredar dalam arti luas di luar uang kartal. Sampai posisi akhir tahun 2002 jumlah uang beredar dalam arti luas di luar uang kartal adalah sebesar Rp. 80,59 triliun atau sekitar 35,51% dari PDRB nominal Jawa Timur sebesar Rp. 226,93triliun. Dibandingkan tahun sebelumnya jumlah uang beredar tersebut mengalami kenaikan relatif kecil yakni sebesar 1,26%. Sementara itu, posisi uang primer rata di Jawa Timur pada tahun 2002 dapat diperkirakan sebagai rasio dari PDRB Timur terhadap PDB Nasional, yakni sebesar 14,10% atau ekuivalen sebesar Rp. 16,86 triliun. Sedangkan kinerja perdagangan saham dan perdagangan obligasi yang tercatat dan diperdagangkan di PT Bursa Efek Surabaya, baik obligasi swasta maupun obligasi Pemerintah mengalami peningkatan yang cukup signifikan dibandingkan dengan tahun 2001. Hal ini antara lain dipengaruhi oleh mulai nbaiknya situasi keamanan dan kepastian hukum di dalam negeri, ditambah makin menurunnya tingkat suku bunga dalam negeri. Perkembangan perbankan di Jawa Timur pada tahun 2002 secara umum menunjukkan kinerja yang. semakin membaik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, tercermin dari peningkatan asset sebesar 4,01%, penghimpunan dana pihak ketiga sebesar 1, 69% dan pemberian kredit 15,09% yang diiringi dengan perbaikan kualitas kredit yang tergambar dari menurunnya presentase Non Performing Loan (NPL) dari 9,07% menjadi 8,54%. Meskipun pemberian kredit mengalami peningkatan secara nominal, namun Loan to Deposit Ratio (LDR) masih relatif rendah yaitu sebesar 42,42% namun demikian, LDR tersebut mengalami pertumbuhan yang cukup berarti yaitu meningkat sebesar 4,94 angka persentase dibandingkan LDR tahun sebelumnya sebesar 37,48%. Peranan pertumbuhan sektor perbankan dalam membentuk struktur ekonomi keseluruhan secara mantap dapat dilihat pada perkembangan penyaluran kredit usaha kecil menengah (UKM). Menurut data Bank Indonesia yang mengggunakan kriteria kategori UKM sebagai unit usaha yang memperoleh penghasilan di atas

Rp. 50 juta per tahun dan memperoleh kredit maksimum Rp. 5 milyar, maka dalam tahun 2002 perbankan Jawa Timur telah menaikkan penyediaan alokasi kredit UKM sebesar Rp. 19,6 trilyun dibanding tahun 2001 besarRp. 14,1 trilyun. Dari alokasi itu hingga posisi Nopember 2002 dana kredit yang sudah digunakan UKM adalah sebesar Rp. 15,8 trilyun atau 80,6%. Dari total kredit UKM Pemerintah Propinsi melalui Bank Jatim juga menyalurkan sekitar Rp. 2,15 trilyun. Secara keseluruhan pemberian kredit kepada UKM ini mencapai 46,1% dari total kredit yang diberikan, sehingga jauh lebih tinggi dari target yang ditetapkan dalam Renstrada sebesar 36,2%. Besarnya rasio kredit ini juga nampak dari indikator peran UKM dalam pembentukan PDRB yang pada tahun 2002 mampu mencapai angka 5,02%. Hal ini menunjukkan bahwa disamping pencapaian kinerja, kepedulian Pemerintah terhadap rakyat kecil cukup besar apabila andingkan dengan tahun-tahun sebelumnya dimana pemberian kredit UKM hanya berkisar 20-25% total kredit. Dukungan finansial perbankan ini diupayakan sinergis dengan sembilan program prioritas yang dilakukan oleh Pemerintah Propinsi melalui APBD 2002 untuk membantu dan memfasilitasi perkembangan UKM di berbagai sektor perekonomian, baik sektor pertanian, pertambangan, industri maupun perdagangan dan jasa. Berkaitan dengan perkembangan struktur ekonomi yang sudah dijelaskan, tidak dapat dipungkiri adanya kenyataan bahwa perkembangan investasi swasta berfasilitas PMA dan PMDN pada tahun 2002 ini masih relatif berjalan di tempat. Investasi PMA yang pada tahun 2001 mencapai US$ 1,59 milyar pada tahun 32 hanya sekitar US$ 109,5 juta. Meskipun nampaknya turun drastis, namun sungguhnya besaran investasi PMA sedikit meningkat karena pada tahun 2001 arnya investasi PMA karena adanya proyek besar PMA di Tuban bernilai sekitar 1,5. Sedangkan investasi PMDN meskipun ada sedikit kenaikan nilai investasi Rp. 690,8 milyar pada tahun 2001 menjadi Rp 818,6 milyar pada tahun 2002, jadi penurunan jumlah proyek investasi dari 22 buah menjadi hanya 10 buah. Perkembangan ekonomi tahun 2002 tidak terlepas dari dukungan struktur ekonomi yang telah dibangun pada tahun 2002 seperti sarana Insportasi, pengairan maupun energi. Oleh karena itu untuk mengetahui jngan infrastruktur terhadap pembangunan ekonomi dapat diinformasikan ibangunan masing-masing infrastruktur dimaksud. Dukungan pembangunan transportasi berdasarkan statusnya, jaringan andi Propinsi Jawa Timur terdiri atas Jalan Nasional sepanjang 1.899,21 km dan an Propinsi sepanjang 1.439,18 km. Kondisi mantap struktural pada tahun 2002, an Nasional sebesar 92,10% sedangkan Jalan Propinsi sebesar 92,62%. Tingkat kemantapan jalan tersebut sangat berpengaruh terhadap laju tidaknya nbangunan ekonomi yang ada di Propinsi Jawa Timur ini. Selanjutnya berkaitan dengan proyek-proyek strategis di Jawa Timur, seperti pembangunan Jembatan Surabaya - Madura, pembangunan jaringan Jalan as Selatan Jawa Timur, walaupun sejak tahun 2002 sudah mulai ditangani amun perkembangannya masih perlu dipacu lagi terutama menyangkut fidanaan yang cukup besar. Untuk pembangunan jaringan Jalan Lintas Selatan Timur, pada tahun 2002, 8 (delapan) kabupaten telah membebaskan lahan sepanjang 26,05 km. Pemerintah Propinsi Jawa Timur telah membangun jalan sepanjang 26,25 km serta 2 buah jembatan sepanjang 280 m. Pemerintah pusat membangun jalan

efektif sepanjang 3,3 km dan jembatan sepanjang 117 m. Pada tahun 2003, 8 (delapan) kabupaten dapat membebaskan tanah panjang 149,2km. Propinsi membangun jalan efektif sepanjang 116 km, sedangkan Pemerintah Pusat telah membangun jalan efektif sepanjang 8,70 km. untuk pembangunan Jembatan Surabaya -Madura, telah disepakati antara Gubernur Jawa Timur dan Menteri KIMPRASWIL tentang alokasi dana tahun 2003-2004. Pelaksanaan pembebasan tanah untuk Jembatan Surabaya-Madura menunjukkan peningkatan yang signifikan, yaitu disisi Madura telah mencapai 51,85% (378.520 m2), disisi Surabaya telah mencapai 26,53% (48.809,62 m2). Khususnya kerjasama pembangunan jalan - jalan tol di Jawa Timur, secara keseluruhan sudah menunjukkan gambaran perkembangan yang cukup positif, yaitu dengan adanya calon investor yang berminat untuk berpartisipasi, sedangkan kelambatan pelaksanaan disebabkan oleh letak kewenangan penyelenggaraan jalan tol sesuai undang-undang nomor 13 tahun 1980 tentang jalan berada di Pemerintah Pusat. Selanjutnya untuk mendukung sektor primer dan sekunder, dukungan kinerja pembangunan sarana dan prasarana sumber daya air sampai dengan tahun 2002 telah dilaksanakan pemanfaatan potensi air baku sebesar 92.838,765 juta m3 di seluruh wilayah Jawa Timur, baik yang berada di sungai, mata air, waduk, bendungan, ranu maupun embung. Namun yang telah dimanfaatkan baru mencapai 43.070 juta m3 atau sebesar 46.39 % (Data Pengairan dalam Angka 2003, Dinas PU Pengairan Propinsi Jawa Timur), sedang sisanya yang belum ditampung di waduk-waduk, embung dan tampungan lainnya, sehingga terbuang langsung ke laut Disamping itu upaya konservasi dan penanggulangan banjir akan terus dilakukan, terutama pada areal kritis yang rusak akibat bencana alam atau karena sudah melampaui batas umur rencana bangunan, yang pada tahun 2002 capai luas 26.052 Ha tersebar di Jawa Timur. Untuk mempertahankan fungsi jaringan irigasi telah dilakukan operasi dan peliharaan/peningkatan serta pembangunan jaringan irigasi pada baku sawah iluas 693.043 ha, dengan rincian luas sawah irigasi teknis seluas 572.929 ha, sngah teknis seluas 58.662 ha dan sederhana seluas 61.452 ha (Data Pengairan Dalam Angka). Selanjutnya berkaitan dengan upaya operasi dan pemeliharaan, abagaimana paradigma baru (Pembaruan Kebijakan Pengelolaan Irigasi/PKPI), peran serta masyarakat akan terus ditingkatkan melalui pemberdayaan masyarakat petani yang tergabung dalam Himpunan Petani Pengelola Irigasi (HIPPA ). Proram prioritas HIPPA pada Daerah Irigasi lintas kabupaten sebanyak 428 HIPPA dan HIPPA pada Daerah irigasi yang tidak lintas Kabupaten sebanyak 6.651 HIPPA. Dukungan infrastruktur lain di sektor energi khususnya dari sumber daya tarik PLN dapat diinformasikan bahwa kapasitas terpasang pembangkit tenaga listrik di Jawa Timur pada tahun 2001 mencapai 6.389,9 MW, dan pada tahun mencapai 6.685,3 MW. Jumlah daya listrik tersambung pada tahun 2001 sncapai 7.231.288 KVA dan pada tahun 2002 mencapai 7.726.864 KVA. Tenaga listrik yang dikelola oleh PLN, baik tenaga listrik yang dibangkitkan sendiri maupun yang di beli oleh PLN sampai dengan tahun 2002 naik dengan pertumbuhan rata-rata 7 % atau sekitar 32.215,9 GwH. Jumlah pelanggan listrik sampai dengan tahun 2002 mencapai 5.983.120, yang terdiri dari badan sosial 131.694 pelanggan, rumah tangga 5.558.643 pelanggan, bisnis 263.080 pelanggan, industri 10.567 pelanggan, dan publik 19.136 pelanggan.

Untuk mempercepat pemulihan kegiatan ekonomi, Pemerintah Propinsi Jawa Timur memberikan bantuan pemanfaatan energi alternatif berupa biogas, fenergi surya, biomasa untuk mendukung usaha industri rumah tangga dalam skala inenengah, dalam bentuk alat pengering pertanian dan pemanfaatan briket batubara. (sumber: Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral). Dukungan sektor keuangan, aktivitas sektor riil dan penyediaan infrastruktur ekonomi yang telah dibangun, program pemulihan ekonomi dari besaran nilai pDRB atas dasar harga konstan 1993 pada tahun 2002 sudah mencapai sekitar 62 trilyun rupiah sehingga posisi recovery ekonomi sekitar 96,87% terhadap posisi tahun 1997 (masa sebelum krisis). Dengan posisi demikian akan menjadi basis fkinerja perekonomian tahun 2003. Kinerja Perekonomian Triwulan I 2003. Setelah pada triwulan IV/02 mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi (5,47% yoy), ekonomi Jawa Timur dalam triwulan 1/03 mengalami ertumbuhan yang lebih rendah sebesar 2,89% yoy, karena adanya pengaruh fiusiman dalam triwulan IV/02. Sumber pertumbuhan ekonomi dalam triwulan 1/03 tidak banyak berbeda dengan tahun 2002 yakni bertumpu pada sektor foerdagangan dan restoran, sektor keuangan dan sektor listrik, gas dan air. Reran pektor usaha kecil dan menengah (UKM) yang semakin berarti di Jawa Timur memberikan kontribusi pertumbuhan ekonomi yang sustainable dan dapat mengkompensasi dampak negatif perang di Irak saat ini. Hal ini tercermin jmbuhan kredit UKM di Jawa Timur yang mencapai 44,7% yoy pada posisi Februari 2003. Sedangkan rasio baki debet kredit UKM terhadap total baki debet kredit di Jawa Timur mencapai 46,4%. Masih meningkatnya sektor perdagangan dalam triwulan 1/03 dapat ditunjukkan oleh hasil survey perdagangan eceran yang menunjukkan peningkatan ang cukup tinggi. Omset perusahaan retail responden periode Januari-Februari 12003 naik 30,7%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan periode yang sama tahun Isebelumnya sebesar 25,5%. Peningkatan tertinggi terjadi pada kelompok bahan Ibakar, kelompok pakaian dan kelompok makanan, minuman & tembakau. Selain itu, meningkatnya kegiatan ekonomi di sektor perdagangan juga ditunjukkan oleh baki debet kredit rupiah di sektor perdagangan posisi Februari 2003 yang meningkat tajam sebesar 48,6% dibandingkan bulan sama tahun sebelumnya. Menurut sektor ekonomi, perkiraan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur triwulan 1/03 juga didukung oleh hasil Survey-Survey Kegiatan Dunia Usaha. Hasil <DU menyatakan bahwa sebagian besar responden (87,6% dan 161 responden) memperlihatkan bahwa volume produksi triwulan 1-2003 akan tetap atau peningkat. Responden yang menyatakan volume produksinya akan meningkat fadalah 37,9% dan total responden sedangkan yang menyatakan menurun alah.12,4% dan total responden. Dengan demikian ekspektasi responden terhadap volume produksi triwulan 1-2003 adalah cukup optimis yang dicerminkan oleh net balance positif sebesar 25,5%. Optimisme terhadap volume produksi triwulan 1-2003 mi ditunjukkan oleh net balance positif seluruh sektor ekonomi terutama sektor bank, jasa keuangan, jasa perusahaan, peternakan, restoran, ansportasi, bangunan dan industri. Dan sisi pengeluaran, konsumsi masih akan mendominasi sumbangan pertumbuhan ekonomi Jawa Timur dalam triwulan 1/03 walaupun dengan pertumbuhan yang semakin melambat hasil survey ekspektasi konsumen,

kepercayaan konsumen terhadap perekonomian Jawa Timur dalam triwulan 1/03 lebih rendah dibandingkan triwulan 1/02 sebesar. Hal ini dicerminkan oleh indeks epercayaan konsumen sebesar 12,2 dalam triwulan 1/03 dibandingkan 18,6 dalam triwulan 1/02. Selain itu, konsumsi durable goods dalam triwulan 1/03 juga menurun dibandingkan triwulan sama tahun sebelumnya. Responden yang menyatakan tidak akan atau ragu-ragu melakukan pembelian durable goods dalam triwulan 1/03 adalah 81,1%, lebih tinggi dibandingkan triwulan sama tahun sebelumnya sebesar 77,7%. Sementara itu, dampak perang di Irak diperkirakan tidak akan mempengaruhi perekonomian Jawa Timur secara berarti dalam triwulan 1/03. Sumbangan investasi terhadap pertumbuhan ekonomi dalam triwulan 1/03 diproyeksikan masih stagnant seperti tahun sebelumnya, sedangkan sumbangan sektor eksternal [(ekspordan impor) diharapkan sedikit membaik dibandingkan triwulan sama tahun sebelumnya karena sumbangan yang semakin berarti dan ekspor non migas UKM. Namun demikian, pangsa komoditas ekspor utama seperti pulp kertas, udang, tekstil, bahan makanan dan ikan tuna masih cukup besar pangsanya walaupun ada kecenderungan menurun. Terus membaiknya kondisi ekonomi makro nasional dalam triwulan 1/03 juga memberikan sumbangan yang berarti bagi menurunnya trend laju inflasi 10 kota di Jawa Timur. Laju inflasi di Jawa Timur pada April 2003 sebesar 0,01% lebih rendah dibanding nasional sebesar 0,15%, sedangkan inflasi kumulatif sampai Idengan April 2003 tercatat untuk Jawa Timur sebesar 0,63% dan'nasional sebesar 0,92%. Dari 10 kota tersebut 5 kota mengalami inflasi dan 5 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Jember (0,35%) dan terendah di Madiun (0,04%) sedangkan deflasi tertinggi terjadi di Kediri (-0,54%) dan terendah di Surabaya M-0,09%). Berdasarkan pemantauan di 10 Kota di Jawa Timur tersebut, terjadinya inflasi disebabkan oleh naiknya harga-harga kelompok makanan jadi, minuman, rokok dan tembakau terutama dari sub kelompok minuman yang tidak beralkohol. Selanjutnya pada bulan Mei 2003 Jawa Timur mengalami deflasi sebesar - 0,27% sedangkan nasional mengalami inflasi 0,12%. Deflasi tertinggi terjadi di Trenggalek (0,49%) sedangkan terendah di Sumenep (0,01%). Penyumbang deflasi utamanya disebabkan oleh turunnya harga komoditi cabe rawit, gula pasir an beras. Sedangkan pendorong inflasi utamanya disebabkan naiknya harga komoditi telur ayam ras, tarif listrik PLN dan emas perhiasan. Sedangkan kumulatif bulan Januari-Mei 2003 untuk Jawa Timur mengalami inflasi 0,36% dan umulatif inflasi terbesar di Kabupaten Jember 1,28,% dan terendah di Kota Kediri -2,20%). Sementara itu dari perkembangan perbankan dan sistem pembayaran alam hal jumlah dana yang berhasil dihimpun oleh perbankan di Jawa Timur ampai posisi bulan Februari 2003 adalah sebesar Rp82,1 triliun atau meningkat 3,82% dibanding bulan sama tahun sebelumnya. Sementara itu, kredit yang hasil disalurkan oleh perbankan Jawa Timur sampai posisi Februari 2003 adalah besar Rp 33,65 triliun atau meningkat 17,93% dibandingkan dengan bulan yang ama tahun sebelumnya. Sementara itu, loan to deposit ratio pada bulan Februari 2003 mencapai 41%. Non performing loan perbankan di Jawa Timur bulan Februari 2003 cenderung meningkat menjadi 9,04%, lebih tinggi dibandingkan sember 2002 sebesar 8,79%. Dalam bidang sistem pembayaran, aliran uang kartal keluar (outflow) dalam

triwulan 1/2003 (Januari-Februari) mengalami peningkatan 12,7%, lebih rendah dibandingkan peningkatan pada triwulan sama tahun sebelumnya sebesar 17,5% sementara itu, aliran uang kartal masuk (inflow) dalam triwulan 1/2003 mengalami tingkatan 3,5%, lebih tinggi dibandingkan peningkatan pada triwulan sama Bhun sebelumnya sebesar -14,5%. Jumlah uang lusuh yang dimusnahkan dalam triwulan 1/2003 meningkat 43,1%, lebih rendah dibandingkan triwulan sama tahun Bbelumnya sebesar 161%. Prediksi Secara Keseluruhan Perekonomian Tahun 2003. Berdasarkan evaluasi perkembangan ekonomi, moneter, perbankan dan sistem pembayaran triwulan I/2003, pertumbuhan ekonomi dalam triwulan II/2003 diperkirakan akan sedikit lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya. Sumber ertumbuhan ekonomi tidak banyak berubah dibandingkan triwulan sebelumnya yaitu sektor pertanian, perdagangan dan jasa. Peran sektor UKM akan tetap gnifikan dan bahkan kemungkinan akan semakin besar. Dan sisi pengeluaran, asumsi masiriakan dominan walau dengan trend yang stagnant atau melambat. tor eksternal (nilai ekspor dan impor non migas) kemungkinan akan sedikit ganggu oleh dampak perang di Irak namun diharapkan dapat dikompensir oleh tumbuhan usaha sektor UKM. Dampak bazar intermediasi yang dilaksanakan bulan Maret 2003 diperkirakan sudah memberikan dampak positif bagi penguatan sektor UKM sebagai embrio soko guru perekonomian Jawa Timur. Dengan pertimbangan tersebut di atas, pertumbuhan ekonomi Jawa Timur trivvulan II/2003 diperkirakan akan berada pada kisaran 3-4%. Dari dasar prediksi Triwulan II dimaksud, perkembangan sektor riil yang akan lebih banyak dimainkan oleh sektor UKM diharapkan akan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi dengan target 4%. Hal ini realistis karena beberapa indikator makro berada pada kondisi yang cukup kondusif, seperti penurunan tingkat suku bunga SBI, nilai tukar rupiah yang mengalami penguatan, inflasi yang terkendali dibawah 2 digit, sehingga diharapkan sektor riil akan mampu menggerakkan kinerja perekonomian Jawa Timur. Namun demikian yang perlu dipikirkan adalah agar penurunan tingkat suku bunga SBI segera diikuti oleh bank-bank pelaksana, karena disinyalir bank pelaksana masih menahan tingkat suku bunga pada posisi semula dengan harapan mempertahankan margin profit dari tingkat suku bunga kredit yang dikeluarkan dengan dana yang dihimpun dari masyarakat. Indikator percepatan pemulihan ekonomi secara substantif sebagaimana ditetapkan pada Renstrada direpresentasikan dengan indikator kebijakan tujuan strategis pembangunan yaitu Nilai Tukar Petani (NTP). Indikator NTP menunjukkan pergerakan kesejahteraan petani dilihat dari indeks harga yang diterima petani dan harga yang harus dibayarkan petani untuk memenuhi kebutuhan konsumsi dan sarana produksi pertanian. Evaluasi kinerja percepatan pemulihan ekonomi dari indikator NTP pada tahun 2001 menunjukkan pergerakan kesejahteraan yang semakin baik dengan capaian 113,07 sedangkan pada tahun 2002 sebesar 109,03. Capaian indeks NTP tahun 2002 telah melampaui target sebesar 98. Kenaikan signifikan pada tahun 2001 lebih disebabkan oleh faktor endowment (faktor alam), sedangkan penurunan NTP pada tahun 2002 disebabkan karena harga produk pertanian tahun 2002 mengalami penurunan dibanding tahun 2001. Capaian indikator NTP tahun 2001 dan 2002 tidak terlepas dari kinerja sektor

3.

4.

primer khususnya pembangunan pertanian yang secara umum mengalami peningkatan produksi dan produktivitas, dengan peningkatan produktivitas ini dari aspek kualitas daya tawar komoditi pertanian dalam memasuki pasar akan menjadi lebih baik, dan hal ini berpengaruh terhadap harga jual yang secara langsung akan meningkatkan penerimaan petani. Penerapan Nilai-nilai Agama dalam Perilaku Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara, Kualitas moral, ahlak, dan iman masyarakat tidak semata-mata diukur engan indikator kuantitaif dengan rasio besar kerugian negara terhadap APBD an pemakaian Narkoba namun juga pada kerukunan intra dan antar umat beragama. Berdasarkan indikasi rasio jumlah dan besar kerugian negara terhadap PBD selama lima tahun terakhir jumlah temuan awal relatif menonjol, namun jika jantitas tersebut dibandingkan dengan APBD, maka terjadi penurunan rasio. sbagai ilustrasi tahun 2001 dengan rasio 0,29% dan tahun 2002 sebesar 10,27%. Selanjutnya mengenai indikator pemakaian narkoba pada tahun 2001 menunjukan penurunan 3%, dan pada tahun 2002 terjadi peningkatan hingga pencapai 25%. Keadaan ini menunjukkan kesungguhan aparatur untuk memerangi narkoba yang pada dasarnya pemakai maupun peredaran narkoba berada di bawah permukaan sehingga besaran angkanyapun tidak terdeteksi fdengan jelas. Di samping kedua indikator kinerja tersebut di atas, dapat ditambahkan pula bahwa kerukunan antar umat beragama dan kerukunan antar suku bangsa dan ras di Jawa Timur merupakan potensi terciptanya iklim kondusif bagi pelaksanaan pembangunan. Oleh karena itu peningkatan kerukunan antar umat beragama maupun antar suku bangsa dan ras merupakan kegiatan strategis yang perlu dimantapkan. Pemantapan Kesadaran, Budaya dan Supremasi Hukum,serta HAM. Pemantapan kesadaran, budaya dan supremasi hukum dan HAM merupakan salah satu kunci keberhasilan pelaksanaan tugas pemerintahan umum idan pembangunan di segala bidang. Indikator yang dipergunakan adalah [penurunan angka pelanggaran lalu lintas dan penurunan jumlah kejahatan. 1) Angka pelanggaran lalu lintas. Untuk mengukur tingkat kesadaran hukum di masyarakat, salah satunya dapat diukur melalui kesadaran masyarakat dalam mematuhi rambu-rambu dan peraturan lalulintas. Angka pelanggaran lalulintas menunjukan kecenderungan berfluktuaktif pada tahun 2000 sebesar 13,69% dan pada tahun 2001 meningkat 30,42% sedangkan pada tahun 2002 menurun menjadi 16,51%. Penurunan angka pelanggaran lalu lintas pada dasarnya juga ditentukan adanya peningkatan terhadap kesadaran pengguna jalan dan semakin ketatnya penerapan aturan dalam disiplin berlalulintas. 2) Jumlah kejahatan menurut tindak pidana. Berdasarkan Laporan Kepolisian Daerah Jawa Timur, jumlah tindak kejahatan yang dilaporkan secara absolut menunjukkan keadaan yang relatif berkurang dalam kurun waktu 3 tahun terakhir menunjukan penurunan dimana pada tahun 2000 menurun 13,74%, tahun 2001 menurun 9,02% dan pada tahun 2002 menurun 3,45%. Untuk meningkatkan kesadaran hukum sebagai upaya menjaga ketertiban dan ketenteraman dalam kehidupan masyarakat dilakukan berbagai upaya

5.

diantaranya telah ditetapkan Peraturan Daerah sebanyak 122 Perda, Keputusan Gubernur baik yang bersifat mengatur maupun menetapkan sebanyak 2.280 keputusan. Peningkatan Pelayanan Kesehatan, Kesejahteraan Soslal, Peranan Pemuda dan Pemblnaan Olah Raga serta Penyetaraan Gender. Sesuai dengan Renstrada indikator kinerja yang digunakan untuk mengukur keberhasilan program ini dapat dilihat dari prosentase penolong persalinan oleh tenaga medis, perkembangan angka kematian bayi (AKB), dan angka harapan hidup. 1) Tenaga Medis Penolong Persalinan. Meningkatnya jumlah tenaga medis dan para medis berpengaruh juga pada tenaga penolong persalinan yang dilakukan oleh tenaga medis. Berdasarkan indikator pertolongan persalinan oleh tenaga medis menunjukkan peningkatan dari tahun 2001 sebesar 67,80%, pencapaian ini melebihi target yang ditetapkan sebesar 59,5%. Sedangkan pada tahun 2002 meningkat menjadi 72,16% dan target renstrada tahun 2002 sebesar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kesadaran masyarakat dalam hal proses persalinan dengan bantuan tenaga medis. 2) Angka Kematian Bayi (AKB). Indikator Angka Kematian Bayi (AKB) Di Jawa Timur menunjukkan trend peningkatan kinerja yang cukup baik yaitu pada tahun 1999 sebesar 48 per-seribu kelahiran dan pada tahun 2002 menurun menjadi 43 per-seribu kelahiran, sekaligus telah melampaui target renstrada pada tahun 2002 sebesar 44 per-seribu kelahiran. Penurunan angka kematian bayi mengindikasikan peningkatan upaya-upaya pelayanan kesehatan, baik dari prasarana maupun tenaga medis, disamping tumbuhnya kesadaran hidup sehat di masyarakat. Meskipun terdapat pencapaian penurunan angka kematian bayi, namun masih terdapat permasalahan lainnya yang patut diwaspadai pada usia balita yaitu kasus balita rawan gizi. Dimana dalam dua tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan kasus balita rawan gizi pada tahun 2001 sebesar 8,19 % dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 8,44 %. Kasus rawan gizi tertinggi (di atas 20 %) terjadi di daerah Tapal Kuda, terutama di Pulau Madura, sedangkan di daerah Barat dan Selatan Jawa Timur kondisinya tergolong baik. 3) Angka Harapan Hidup. Indikator angka harapan hidup pada tahun 1999 sebesar 65,50 tahun dan pada tahun 2002 meningkat menjadi 66,50 tahun. Pencapaian tahun 2002 melebihi dari target renstrada yang ditetapkan sebesar 66,2 tahun. Dengan meningkatnya angka harapan hidup mengindikasikan kondisi lingkungan perumahan yang sehat serta pola konsumsi masyarakat yang berimbang. Di samping ketiga indikator dimaksud, keberhasilan pembangunan kesehatan diindikasikan pula dari derajat kesehatan masyarakat yang diukur Jmelalui angka kesakitan (morbiditas) dengan pendekatan keluhan kesehatan. Pada lahun 2002, penduduk yang mengalami keluhan kesehatan sebesar 29,50 % atau bedikit meningkat dari pada tahun 2001 sebesar 27,73 %, penduduk yang melakukan pengobatan sendiri dengan

membeli obat sekitar 62,78 %, 43,01 % telah melakukan berobat jalan ke fasilitas kesehatan. Dibandingkan dengan kondisi tahun 2001 penduduk yang berobat sendiri mengalami penurunan sekitar 0,22%, rawat jalan justru mengalami peningkatan sekitar 2,97%. Gejala ini dapat menunjukan bahwa tingkat akses fasilitas pelayanan kesehatan sudah meningkat dan dibutuhkan penduduk yang mengalami keluhan kesehatannya. Keberhasilan pembangunan di bidang kesehatan dihadapkan pada penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, yaitu Puskesmas dan Puskesmas Pembantu. Sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan masyarakat, jumlah Puskesmas dan Pustu hingga saat ini masih kurang memadai terutama apabila dikaitkan dengan standar pelayanan kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah yaitu setiap Puskesmas akan melayani sekitar 30.000 penduduk, sedangkan ratio pada tahun 2002 sebesar sekitar 37.981 jiwa, sedangkan Ratio Puskesmas Pembantu sekitar 15.723 jiwa. Selanjutnya untuk permasalahan sosial yang akhir-akhir ini sangat cemaskan dan mengkhawatirkan dalam rangka mewujudkan generasi penerus angsa yang berkualitas adalah timbulnya ancaman dari adanya anak-anak yang ekerja pada bentuk-bentuk pekerjaan terburuk bagi tumbuh kembang anak, pncaman eksploitasi seksual komersial anak, perdagangan (trafiking) pada smpuan dan anak, secara nasional maupun regional besaran data ermasalahan ini belum ada namun penelitian terhadap isi pemberitaan dua surat abar harian, selama tahun 2002 sebanyak 210 kasus kekerasan pada anak, dan ada 4 bulan pertama tahun 2003 terekam sebanyak 76 Kasus terdiri dari 56,5 % kasus kekerasan seksual pada anak dan 6,3 kasus incest. Data tersebut adalah data yang terekam dan tampak di permukaan, patut diduga bahwa masih banyak lagi korban-korban kekerasan tersebut. Untuk itu perlu dilakukan penanganan smberian perlindungan bagi anak dari ancaman - ancaman tersebut. Sementara itu Perkembangan penyandang masalah kesejahteraan sosial l(PMKS) pada tahun 2002 menunjukan grafik yang meningkat dibandingkan data 2001, khususnya pada anak terlantar sejumlah 399.055 anak, Balita terlantar sejumlah 24.066 anak, anak jalanan 5.036 anak, sedangkan untuk wanita rawan sosial ekonomi pada tahun 2002 sejumlah 210.253 wanita telah mengalami sedikit fpenurunan dibandingkan dengan data 2001, meskipun demikian dapat disimpulkan ftahwa penanganan PMKS masih memerlukan peningkatan penanganannya secara bersama-sama dengan Kabupaten/Kota. Tantangan umum pembangunan bidang kepemudaan dan keolahragaan adalahbagaimana membangun sistem agar semakin mampu membentuk manusia dan masyarakat yang maju dan mandiri serta tanggap terhadap perubahan jaman, perkembangan IPTEK dan tuntutan pembangunan. Keberhasilan program fkepemudaan dan keolahragaan belum menampakkan hasil yang optimal Jdikarenakan pelaksanaan programnya belum terintegrasi secara maksimal. Oleh karena itu, perlu adanya penajaman program seoptimal mungkin secara keseluruhan, karena hal itu merupakan prasyarat penting untuk memasuki era global dengan meningkatkan kedisiplinan masyarakat melalui pembinaan olahraga baik olahraga prestasi, pembibitan atlit, olahraga masyarakat serta sarana dan

6.

tprasarana kepemudaan dan keolahragaan. Berkaitan dengan kesetaraan jender, secara umum memang posisi/peran perempuan masih di bawah laki-laki baik karena alasan kodrati maupun karena garuh nilai budaya masyarakat. Oleh karena itu mengenai kesetaraan jender asih perlu pemantapan pada tahap sosialisasi dan penerapannya. Penerapan isu araan jender dalam pembangunan diharapkan dapat dilakukan dengan sngakomodasikan akses peranan perempuan yang lebih besar lagi dalam nbangunan baik di bidang pendidikan, ekonomi, maupun politik, maupun dari Spek perlindungannya. Di sisi lain masih terbentang kenyataan dimana kekerasan terhadap kemampuan semakin meningkat. Pada tahun 2002 angka perkosaan terdapat 199 kasus dengan 235 orang korban, 65% diantaranya adalah anak-anak yang dilakukan oleh 255 orang dimana 48,76% pelaku masih memiliki hubungan dengan igan korban. Rendahnya tingkat kesadaran hukum dan HAM masyarakat tidak apat menangkal adanya jaringan kejahatan yang terorganisir terutama dalam sus perdagangan perempuan dan kasus perdagangan anak. Perluasan Kesempatan Kerja Dan Pengisian Lapangan Kerja Yang Tersedia. Dalam-hal penyediaan lapangan kerja ternyata sektor ekonomi formal utama sektor industri telah sangat terbatas kemampuannya untuk memberikan ruang kerja dan bahkan sebagian diantaranya melakukan pemutusan hubungan kerja karena berbagai sebab. Akibatnya sektor informal di kegiatan pertanian, jasa dan perdagangan menjadi katub pengaman dalam hal penyerapan tenaga kerja. Berdasarkan renstrada tolok ukurnya dikaitkan dengan indikator tingkat pengangguran terbuka dan angka ILOR : 1) Tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada tahun 2001 sebesar 4,35%, namun pada tahun 2002 ada sedikit peningkatan sehingga menjadi 4,9 atau melebihi dari target renstrada sebesar 4,4%, diharapkan melalui upaya padat karya produktif dan pembentukan Wira Usaha Baru dapat mengurangi jumlah pengangguran. 2) Incremental Labour Output Ratio (ILOR) yang menunjukkan perbandingan antara penambahan tenaga kerja terhadap penambahan output berupa nilai tambah bruto. Dengan indeks ILOR dapat diketahui seberapa besar tenaga kerja yang dapat terserap pertahun jika terjadi penambahan nilai output di suatu wilayah. Angka ILOR berturut-turut sebesar 0,03% pada periode 1991-1997, menurun menjadi 0,02 dalam periode 1992-1998, sedikit meningkat menjadi 0,04 pada periode 1993-1999 dan meningkat menjadi 0,05 pada periode 1996-2002. Dalam rangka meningkatkan PAD dan devisa dari hasil kegiatan penempatan tenaga kerja ke luar negeri yang menjadi salah satu alternatif utama dalam pengentasan pengangguran berdasarkan negara tujuan sebanyak 58.221 orang dengan jumlah remittance sebesar Rp. 2.516.450.826.964 (US$ 279.605.646,65). Disamping itu untuk memudahkan penempatan TKI ke luar negeri telah didirikan dan difungsikannya Unit Pelayanan Terpadu penempatan TKI ke luar negeri dalam satu atap (SAMSAT TKI) sebagai tempat pelayanan masyarakat serta memperlancar dan mempercepat proses penempatan TKI ke luar negeri secar lebih terkendali dan terpadu antara aparat pelaksana pelayanan, baik dari instansi

7.

8.

pemerintah maupun pelaku penempatan TKI ke luar negeri. Peningkatan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan, Pelaksanaan Pembangunan untuk Pemantapan Otonomi Daerah, Kemudahan Pelayanan Publikf serta Perluasan Informasi dan Komunikasi. Proses demokratisasi dan pelaksanaan otonomi daerah ditandai oleh fketerlibatan masyarakat dalam penentuan kebijakan pemerintahan. Oleh karena itu dalam Renstrada, indikator kinerja peningkatan demokratisasi, administrasi Ipublik dan otonomi daerah diukur dengan frekuensi dengar pendapat antara legislatif dengan eksekutif yang menunjukkan peningkatan signifikan sejak tahun 2000 bersamaan dengan masa bakti DPRD baru hasil pemilu 1999. Sebelum masa bakti DPRD baru tercatat kegiatan sidang paripurna hanya berlangsung maksimal 130 kali sedangkan pada tahun 2000 tercatat 32 kali, selanjutnya pada tahun 2001 jsebanyak 51 kali dan tahun 2002 sebanyak 49 kali. Sedangkan kegiatan penyerapan aspirasi masyarakat pada tahun 2000 tercatat º110 kali, meningkat menjadi 220 kali pada tahun 2001 dan pada tahun 2002 nenjadi 349 kali. Dengan realisasi capaian kinerja tersebut menggambarkan hubungan emitraan antara eksekutif dengan legislatif semakin menunjukkan adanya emauan bersama dalam mengemban tugas sesuai dengan peran dan fungsi asing-masing yang muaranya adalah peningkatan pelayanan kepada masyarakat. Disamping itu dengan sikap kemandirian politik rakyat yang semakin dewasa, ada cenderungan bahwa masyarakat sudah sadar dan paham terhadap teknis yaluran aspirasi baik pengaduan melalui Legislatif maupun melalui Eksekutif. Hal ini tercermin dari kondusifnya iklim politik dan sosial, yang mana hampir tidak terjadi friksi - friksi sosial yang akan mengarah kepada konflik terbuka. Pengendalian Eksploitasi Sumber Daya Alam, Pelestarian Fungsi dan Keseimbangan Lingkungan Hidup, Penataan Kawasan Permukiman serta Penataan Ruang. Kebijakan ini diukur dari indikasi peningkatan peranan sektor primer dalam uktur PDRB, indikator tersebut menunjukkan adanya peningkatan yang cukup antap. Apabila pada tahun 2001 peningkatan peran sektor primer sudah encapai target dalam Renstrada, maka pada tahun 2002 telah mencapai indeks 102,57, yang melampaui target Renstrada sebesar 100,1. Disamping itu apabila dikaitkan dengan indikasi peningkatan Pendapatan Asli Daerah yang dirunut ampai dengan muaranya akan berkaitan dengan program dan upaya pendayagunaan sumber daya alam, maka peningkatan besaran PADS dalam APBD Jawa Timur menunjukkan adanya kinerja intensifikasi yang cukup signifikan. Potensi pertambangan bahan galian yang ada dapat diandalkan dalam rangka mendukung pelaksanaan program otonomi daerah maupun memacu proses pembangunan daerah yang bermanfaat bagi pengembangan wilayah dan rteningkatkan PAD. Pelaksanaan pembangunan sumber daya mineral diindikasikan engan berkembangnya luas areal pertambangan, tenaga kerja yang diserap, pngkat produksi, pemenuhan kebutuhan air melalui air bawah tanah (ABT), erkembangnya jumlah desa yang berlistrik yang bersumber dari PLN maupun nergi alternatif (PITS, PLTD dan PLTMH), serta pemenuhan kebutuhan energi ernatif untuk kebutuhan sehari-hari (BIOMAS dan Alat pengering pertanian). Kegiatan pembangunan seringkali lebih memprioritaskan kepentingan ekonomi, sehingga banyak terjadi kerusakan lingkungan, diantaranya adalah berkurangnya luasan kawasan hutan, menurunnya debit air dan berbagai masalah Pencemaran

lingkungan yang cenderung menurunkan kualitas dan kapasitas umber daya alam yang ada. Oleh karena itu kebijakan rencana tata ruang pada ahun 2003 telah berupaya untuk mengantisipasi berbagai dampak lingkungan ang ditimbulkan dari proses pembangunan. Hal ini dilakukan terutama pada awasan yang mendapat prioritas dalam pembangunan daerah, antara lain wilayah elatari, wilayah Gerbang kertosusila dan wilayah Madura. Pengembangan jalan Lintas selatan yang diharapkan mampu mendorong laju pertumbuhan sosial nomi wilayah selatan tentunya akan berpengaruh terhadap aspek kelestarian lingkungan dan penururian kapasitas sumber daya alam yang ada, oleh karena itu kebijakan penataan ruang pada dasarnya memberikan arahan pemanfaatan sumber daya alam sesuai dengan daya dukung yang ada. Dalam upaya mewadahi percepatan pembangunan, mengantisipasi perkembangan otonomi daerah dan dinamika masyarakat, maka telah dilakukan evaluasi RTRW Propinsi Jawa Timur. Kegiatan evaluasi ini juga dimaksudkan untuk mengendalikan eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, meningkatkan fungsi ekosistem dan menjamin keserasian pemanfaatan ruang serta menjaga keseimbangan pembangunan antar wilayah. Masih terkait dengan upaya pengelolaan ruang, khususnya masalah yang berkaitan dengan pertanahan, upaya tertib administrasi pertanahan masih menjadi Dritas penanganan, terutama catur tertib pertanahan. Hal ini sangat penting, arena berkaitan langsung dengan pelayanan kepada masyarakat, memenuhi harapan masyarakat akan hak-haknya yang berkaitan dengan kepemilikan tanah pan untuk meningkatkan tertib pertanahan.Sumber daya alam dan Lingkungan hidup selain mempunyai peran penting dalam meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi dan juga mempunyai fungsi |ekologis terhadap kehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya. Oleh karena itu, Ikelestarian sumber daya alam dan lingkungan hidup harus menjadi pertimbangan ptama dalam pelaksanaan pembangunan di berbagai bidang. Adapun kegiatan yang telah dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut diantaranya pengembangan sumber daya manusia dan kapasitas kelembagaan; spengembangan kesadaran dan pemberdayaan masyarakat; pencegahan, pemulihan, peningkatan dan pelestarian lingkungan hidup pengkajian dan pengembangan teknologi ramah lingkungan; serta penataan, penegakan dan : pengawasan hukum lingkungan. Pembangunan Sektor Perumahan dan Permukiman merupakan salah satu bentuk upaya Pemerintah dalam meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat, yang meliputi aspek kesehatan, sosial, lingkungan maupun ekonomi melalui penyediaan maupun perbaikan perumahan dan permukiman beserta sarana dan prasarananya. Pelaksanaan pembangunan perumahan dan permukiman selama Tahun 2002 telah menghasilkan beberapa pokok kinerja baik dalam penyediaan dan perbaikan, penyediaan dan pengelolaan air bersih maupun penyehatan lingkungan permukiman. Upaya penyediaan dan perbaikan perumahan dan permukiman antara lain dilaksanakan melalui penyediaan sarana dan prasarana dasar permukiman dalam rangka meningkatkan kualitas perumahan dan permukiman beserta sarana dan prasarana lingkungannya. Pendekatan pemberdayaan masyarakat diterapkan dengan lebih banyak melibatkan masyarakat mulai dari perencanaan, pelaksanaan sampai dengan pengelolaan kegiatan pembangunan. Dan untuk mendukung itu

9.

secara dilaksanakan kegiatan penyuluhan kepada masyarakat terkait dengan operasionalisasi dan pemeliharaan sarana dan prasarana dasar perumahan dan permukiman. Beberapa upaya perbaikan permukiman sebagai akibat bencana alam antara lain pembangunan adalah 869 unit rumah di Kabupaten Situbondo, 1.448 unit rumah di Kab. Bondowoso, sepanjang 39,3 kilometer jalan dan saluran, 27 unit Parana air bersih dan sanitasi, 23,3 kilometer perpipaan air bersih. Kegiatan fpenanganan permukiman ini juga mendapat bantuan dari dana APBN. Untuk membantu kebutuhan tempat tinggal bagi para pengungsi di pampang, Bangkalan, Jember Lumajang, Banyuwangi, Bondowoso, telah dibangun pebanyak 2.226 unit rumah yang dapat menampung 11.300 jiwa. Penyediaan sarana dan prasarana air bersih di perkotaan pada tahun 2002 dapat meningkatkan,kapasitas produksi sebesar 1,075 l/dt. Dengan bertambahnya apasitas instalasi air bersih PDAM, maka semakin banyak volume air yang dapat distribusikan ke masyarakat. Terjadi peningkatan pemakaian air sebesar 21.655.640 m3/th, jumlah pelanggan juga bertambah 268.750. Hal ini nenunjukkan pelayanan air bersih telah mencapai 37,80 % penduduk perkotaan.Pelayanan air bersih di perdesaan telah mencapai kapasitas produksi sebesar 215 i/dt dengan volume air terdistribusi sebesar 15.677.480 m3/th. Pembinaan serta pembangunan sarana sanitasi selama selama tahun 2002 telah menambah jumlah pemakai sarana pembuangan air limbah sebanyak 119.716 jiwa di daerah perkotaan dan 32.000 jiwa di daerah perdesaan baik cara perorangan maupun kelompok. Peningkatan Kepastian Perlindungan Masyarakat dari Gangguan Keamanan dan Ketertiban serta Peningkatan Kesadaran Rakyat dalam Bela Negara. Program ini dapat diukur melalui indeks kriminalitas yang secara umum mengalami penurunan dimana tahun 2000 sebesar 93,62% dan tahun 2001 sebesar 85,12%, sedangkan tahun 2002 sebesar 82,24%. Menurunnya indek kriminalitas mengindikasikan adanya penurunan tindak kejahatan (target yang ditetapkan penurunan 2%). Untuk menunjang capaian kinerja dimaksud telah dilakukan upaya-upaya : a. Meningkatkan profesionalisme para penegak hukum (polisi dan aparat peradilan) dalam penegakan supremasi hukum dan HAM. b. Meningkatkan kemampuan daya tangkal masyarakat yang tangguh baik dipemukiman maupun ditempat kerja dengan mencegah dan menindak secara tegas para pelaku serta meningkatkan keamanan swakarsa. c. Meningkatkan kinerja dan profesio nalisme anggota Polisi Pamong Praja dalam rangka penyelenggaraan tugas pemerintahan daerah di bidang ketentraman dan ketertiban umum, penegakan Peraturan Daerah dan Peraturan Pelaksanaan. d. Pembinaan dan pemberdayaan Linmas serta penanggulangan bencana. Sebagaimana evaluasi kinerja pembangunan tahun 2002 dan prediksi perekonomian tahun 2003 secara keseluruhan yang telah diilustrasikan tersebut, memberikan gambaran bahwa secara umum capaian kinerja pembangunan tahun 2002 dapat memberikan pondasi yang kuat untuk mencapai target standar kinerja tahun 2004, hal ini didukung oleh data base realisasi capaian standar kinerja tahun 2002 yang hampir seluruhnya sesuai dengan target dan bahkan ada pelampauan target pada indikator tertentu, namun ada pula indikator kinerja yang masih belum mencapai target,

namun dari sisi trendline mengalami perkembangan membaik dari tahun sebelumnya. Dukungan lain untuk pencapaian target tahun 2004 adalah perkembangan sektor keuangan pada triwulan I yang semakin membaik seperti tingkat suku bunga SBI yang semakin turun sampai dengan 10% yang akan imampu memacu sektor riil, tingkat inflasi yang masih terkendali dibawah dua digit, nilai tukar rupiah yang masih dibawah ambang batas psikologis akan mampu mendptakan kondisi kondusif untuk meningkatkan kinerja pembangunan ekonomi. Disamping itu pelaksanaan 5 proyek strategis seperti: (1) pembangunan Pasar Induk Agribisnis yang pada tahun 2002 hampir selesai pembebasan lahan dan akan dilakukan pematangan lahan tahun 2003, (2) pembangunan Jalan Listas Selatan Jawa Timur, (3) Pembangunan Jalan Tol Surabaya-Mojokerto, (4) Pembangunan Jembatan Surabaya-Madura (SURAMADU), (5) Gerakan Terpadu Pengentasan Kemiskinan (GERDU TASKIN) yang pada tahun 2002 telah dilakukan persiapan-persiapan diharapkan juga akan mampu memberikan situasi kondusif untuk mampu mendongkrak pembangunan ekonomi serta sosial dan budaya. BAB III PROGRAM PEMBANGUNAN TAHUN 2004 A. Umum Konsepsi pembangunan pada dasarnya adalah meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan meletakkan pembangunan ekonomi sebagai ujung tombak perubahan kondisi sosial ekonomi masyarakat. Ekonomi makro tahun 2002 telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan, akan tetapi kondisi sosial ekonomi masyarakat masih dalam kondisi yang belum mantap, hal ini berarti sektor-sektor produksi perlu mendapat perhatian yang serius, terutama sektor-sektor produksi yang secara langsung dapat dinikmati masyarakat, seperti pertanian, pertambangan, industri dan perdagangan. Perhatian yang cukup terhadap pembangunan ekonomi, antara lain didasarkan atas kondisi tenaga kerja produktif yang secara statistik jumlahnya cukup besar dan merupakan faktor utama kedua penggerak perekonomian daerah dapat terwadahi. Dampak lain dari bergeraknya perekonomian daerah adalah dapat mengurangi tingkat kejahatan sehingga ketertiban dan keteteraman masyarakat dapat lebih terjamin. Dengan tetap berpedoman pada Rencana Strategis Daerah 2001-2005 dan permasalahan pokok yang berkembang pada saat ini serta isu-isu strategis seiring dengan perkembangan regulasi dan kondisi penyelenggaraan pemerintahan / pelaksanaan pembangunan yang meliputi : (1) Pelaksanaan tahun terakhir GBHN 1999-2004; (2) Pelaksanaan pemilu 2004; (3) Diberlakukannya Kepmendagri nomor 29 tahun 2002, maka program pembangunan daerah tahun 2004, secara makro dijabarkan sebagai berikut:

Bidang Ekonomi a. Pengembangan potensi kelautan, dengan cara memperluas wilayah operasi penangkapan ikan di laut, pembangunan fasilitas dan infrastruktur pantai, serta menjaga kelestarian laut dan lingkungan pesisir, membantu nelayan memperkuat permodalan dengan menggunakan kredit ketahanan pangan dalam rangka menjaga stabilitas harga. b. Memberdayakan nelayan dengan cara mendirikan stasiun pompa solar dengan kekuatan 23.000 armada, sementara itu kebutuhan nelayan akan solar per hari sebanyak 2.250.000 liter per hari. Selama ini nelayan membeli dengan harga Rp 2.250 per liter, namun dengan adanya stasiun pompa solar maka nelayan dapat membeli dengan harga Rp 1.650 per liter, ini berarti terjadi redistribusi pendapatan kepada nelayan sebesar Rp 600 per liter atau nelayan memperoleh keuntungan ekonomis sebesar Rp 1,35 milyar per hari karena adanya subsidi dari pemerintah, selanjutnya mewujudkan pasar ikan di kapal agar nelayan dapat bekerja lebih efisien, serta melakukan kerjasama dengan Badan Satelit LAPAN untuk mengetahui tempat-tempat ikan yang potensial. c. Membantu percepatan perkembangan UKM, yaitu dengan meletakkan dana yang berasal dari APBD ke Bank JATIM dan BPR JATIM untuk disalurkan dalam bentuk kredit kepada UKM dengan bunga 6% per tahun, sementara itu suku bunga kredit bank dewasa ini sebesar 14%, ini berarti pelaku UKM diuntungkan dengan subsidi bunga sebesar 8%. Sebagai catatan, Bank Jatim akan memungut 2% dan sisanya sebesar 4% akan kembali ke Pemerintah Propinsi. d. Melanjutkan proyek-proyek strategis yang telah dirintis dan dilaksanakan, seperti pembangunan Jembatan Sura-Madu, Pasar Induk Agribisnis, Pengembangan Kawasan Jatim Selatan, dan Pembanguunan jalan TOL e. Pentingnya menerbitkan Peraturan-peraturan Daerah yang akan digunakan sebagai payung kebijakan untuk pengelolaan tembakau, pangan, gula dan garam, dalam upaya melindungi petani agar surplus produk dan surplus ekonomi dapat dinikmati oleh para petani, sekaligus dapat mempertahankan Jawa Timur sebagai Penyangga Pangan Nasional. f. Memasarkan potensi minyak dan gas bumi yang saat ini diperkirakan masih tersedia 16 triliun kubik feet (TCP) merupakan cadangan potensial yang belum dieksploitasi, untuk itu Pemerintah Propinsi akan menfungsikan PT Petrogas secara optimal. 2. Bidang Sosial Budaya Dalam rangka memperkecil dampak terhadap pembangunan ekonomi dan untuk menunjang peningkatan kesejahteraan rakyat, maka program pelayanan masyarat yang perlu mendapat perhatian antara lian adalah: a. Mewujudkan program Wajib Belajar 9 (sembilan) tahun melalui minimalisasi biaya pendidikan bagi masyarakat miskin dan kurang mampu. Program ini dilakukan dengan memadukan pembiayaan pembangunan pendidikan melalui anggaran Pemerintah Pusat, Pemeritah Propinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota se Jawa Timur; b. masyarakat dan khusus untuk pasien kelas III tidak mampu/keluarga miskin di RSUD milik Pemerintah Propinsi Jawa Timur dibebaskan dari kewajiban

1.

membayar; c. Mempercepat pengentasan kemiskinan dengan memperluas program, dan kegiatan Gerdu Taskin, yakni dari penanganan 206 desa miskin per tahun menjadi 400 desa miskin per tahun; d. menyiapkan sumberdaya manusia yang sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja melalui pelatihan keterampilan di BLK-BLK disamping penyediaan tenaga teknisi dengan cara Pemerintah Propinsi bekerjasama dengan Poll Teknik ITS untuk program Diploma III Teknisi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 32 3. Bidang Hukum dan HAM a. Mengupayakan terwujudnya supremasi hukum dan HAM dengan memberdayakan aparatur penegak hukum; b. Mengupayakan pelaksanaan Peraturan Daerah dan Peraturan Pelaksanaanya dengan benar. 4. Bidang Politik a. Mengupayakan terbangunnya hubungan sinergis antara eksekutif, legislatif dan masyarakat dalam pembuatan kebijakan publik; b. Meningkatkan kualitas pendidikan politik masyarakat dengan orientasi pehamanan terhadap program partai dari pada figur pimpinan partai politik; c. Meningkatkan profesionalisme fungsionaris partai. 5. Bidang Lingkungan Hidup dan Kewilayahan Kemerosotan lingkungan hidup merupkan hal penting yang perlu mendapat perhatian. Konsep pembangunan berkelanjutan juga merupakan komitmen yang harus dipegang bersama, oleh karena itu program penyelamatan lingkungan hidup antara lain dilaksanakan dengan: a. Penghijauan dan rehabilitasi lahan kritis dalam rangka penyelamatan lingkungan; b. Pengurangan pencemaran lingkungan, baik tanah, air dan udara yang ditata pedomannya dengan peraturan daerah. 6. Bidang Ketentraman Umum dan Ketentraman masyarakat Mengupayakan terwujudnya ketentraman dan ketertiban umum dengan merealisasikan kerjasama antara Pemerintah Propinsi Jawa Timur dengan Kepolisian Daerah Jawa Timur. 7. Bidang Pemerintahan dan Keuangan Daerah Undang Undang nomor 22 Tahun 1999 tentang Penerintahan Daerah meletakan Otonomi Daerah dalam dua wilayah, yaitu Wilayah Propinsi dan Kabupaten/Kota. Pemberian kedudukan Propinsi sebagai Daerah Otonom dan sekaligus sebagai wilayah administratif dilakukan dengan pertimbangan : untuk memelihara hubungan yang serasi antara pusat dan daerah dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia; untuk menyelenggarakan otonomi daerah yang bersifat lintas daerah Kabupaten dan Kota; serta melaksanakan kewenangan otonomi daerah yang belum dilaksanakan oleh Daerah Kabupaten dan Daerah Kota serta untuk melaksanakan tugas-tugas pemerintahan tertentu yang diiirhpahkari dalam rangka pelaksanaan asas dekonsentrasi. Berkaitan dengan itu, maka program yang akan dilaksasnakan antara lain adalah: a. Memantapkan hubungan kerja secara harmonis dan sinergis antara Pemerintah Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 33 Propinsi dengan Pemerintah Pusat dan antara Pemerintah Propinsi dengan

Pemerintah Kabupaten/Kota; b. Memantapkan Otonomi Daerah dengan cara mewujudkan yang berjiwa kewirausahaan agar mampu Pendapatan Untuk Daerah (PUD), namun tidak tumpang tindih dengan aturan yang sudah ada; c. Meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan meningkatkan kualitas SDM aparatur agar terwujud pelayanan prima dengan memperbanyak dan memberikan kesempatan kepada personil untuk pengembangan dirinya. Mendasari konsepsi otonomi daerah dan kewenangan yang diemban oleh pemerintah propinsi, maka dalam rangka meningkatkan pendapatan untuk daerah, diperlukan penggalian secara terus menerus potensi sumber pendapatan daerah, antara lain melalui: a. Mengupayakan UPT Dinas Propinsi/BUMD menjadi unit swadana, sehingga mampu mandiri sehingga meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD); b. Revitalisasi asset-asset pemerintah untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat dan sekaligus memperkuat kapasitas pemblayaan pembangunan; c. Mencari sumber-sumber keuangan daerah yang baru melalui pendirian Jatim Investment Fund dan penggalian Pendapatan Untuk Daerah (PUD). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 34 MATRIK KEBIJAKAN 1 PEMERATAAN KESEMPATAN MEMPEROLEH PENDIDIKAN DAN PENINGKATAN KUALITAS PRODUK PENDIDIKAN Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 35 B. RENCANA TINDAK DAN INDIKATOR KERJA 1. Kebijakan Pemerataan Kesempatan Memperoleh Pendidikan dan Peningkatan Kualitas No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Program Pendidikan Pra Sekolah (Dini Usia - TK) Dinas P dan K, Badan Pepustakaan, Biro Mental Spiritual, Badan Perpustakaan Pendidikan Pra Sekolah a. Pemberian bantuan sarana dan prasarana. 1) Penambahan dan rehab sarana dan prasarana belajar TK. 2) Penyediaan alat bermain. 1.1.Meningkatnya fasilitas pembelajaran yang layak dan mernadai.

2.1.Berkembangnya kreativitas anak. b. Pemberian bantuan kepada lembaga dan siswa Prasekolah yang kurang mampu. 1) Bantuan pengembangan kemampuan kelembagaan, peningkatan mutu manajemen sekolah. 1.1.Adanya peningkatan mutu pendidikan dan marajemen sekolah (BKM dan BKS, DBO, Bea Siswa, OOP). c. Pendidikan dan pelatihan tenaga kependidikan. 1) Pendidikan dan Pelatihan tenaga pendidik. 2) Orientasi dan Diklat teknis perpustakaan bagi guru/pengelola Perpustakaan TK. 1.1.Meningkatnya mutu dan jumlah guru yang memiliki kompetensi. 2.1.Meningkatnya kemampuan guru/pengelola perpustakaan TK. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 36 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pembinaan dan penyuluhan perpustakaan TK. 2.2.Terwujudnya sistem pengelolaan perpustakaan TK sesuai kebutuhan. 3.1.Terwujudnya sistem pelayanan perpustakaan TK yang memadai. d. Bantuan operasional pendidikan bagi tenaga pendidik prasekolah. 1) Dukungan Insentif guru TK, 1.1.Meningkatnya tunjangan bagi guru terpencil e. Mendorong efisiensi proses

belajar-mengajar dan akuntabilitas kinerja kelembagaan. 1) Pemberdayaan dan pembinaan guru-guru dan Kepala Sekolah dalam rangka manajemen sekolah. 2) Lomba Kreativitas 1.1.Meningkatnya jumlah guru dan Kepala Sekolah yang melaksanakan manajemen sekolah. 2.1.Meningkatnya kreativitas anak. 2. Program Pendidikan Dasar a. Pemberian bantuan Sarana dan Prasarana. 1) Rehab gedung SD, MI dan penambahan sarana belajar. 2) Pengadaan perangkat laboratorium komputer dan bahasa SD, MI. 1.1.Meningkatnya fasiiitas pembelajaran yang layak. 2.1.Meningkatnya fasiltas komputer dan bahasa yang memadai. Dinas P dan K, Biro Kesra, Badan Diklat, Badan Perpustakaan Biro Hukum Dinas P dan K, Biro Mental Spiritual Pendidikan Dasar Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 37 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pengembangan fasiiitas ruang perpustakaan SD, MI dan bahan pustaka. 4) Layanan sirkulasi, referensi dan deposit anak SD serta story telling. 3.1.Meningkatnya fasiiitas perpustakaan SD, MI yang layak. 4.1.Berkembangnya minat baca siswa SD.

b. Pemberian beasiswa bagi anak usia sekolah dari keluarga miskin. 1) Pemberian subsidi biaya minimal pendidikan dasar untuk anak usia sekolah bagi keluarga miskin (AUS-KM) SD, Mi. 1.1.Meningkatnya jumlah anak usia sekolah yang dapat mengenyam bangku pendidikan khususnya bagi keluarga miskin. c. Pelaksanaan pendidika.n dan pelatihan untuk meningkatkan kualitas tenaga pendidik. 1) Pendidikan dan pelatihan peningkatan kompetensi. 2) Orientasi dan diklat teknis perpustakaan bagi guru yang mengelola perpustakaan SD, MI. 3) Bantuan magang bagi caion pengelofa perpustakaan SD, MI. 1.1.Meningkatnya guru SD, MI yang mengikuti pelatihan kompetensi mengajar. 2.1.Meningkatnya kemampuan guru yang mengelola perpustakaan SD, MI. 3.1.Tersedianya pengelola perpustakaan SD, MI dengan jumlah yang memadai. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 38 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pembinaan dan penyuluhan perpustakaan SD, MI. 4.1.Terwujudnya sistem pelayanan perpustakaan SD, MI yang memadai. d. Masuknya kurikulum muatan lokal. 1) Peningkatan jumlah muatan kurikulum lokal.

1.1.Meningkatnya prosentase jumlah jam pelajaran untuk muatan kurikulum lokal. e. Mendorong efisiensi proses belajar-mengajar dan akuntabilitas kinerja kelembagaan. 1) Pemberdayaan dan pembinaan guru-guru dan Kepala Sekolah SD, MI dalam rangka manajemen sekolah. 2) Peningkatan dan pengembangan Kurikulum berdasarkan penyusunan program dan evaluasi Mapel, Standart Quality Assurance. 3) Sosialisasi pemanfaatan perpustakaan kepada siswa SD, MI. 4) Lomba minat baca dan menulis bagi siswa SD, MI. 1.1.Meningkatnya jumlah guru dan Kepala Sekolah SD, MI yang melaksanakan manajemen sekolah. 2.1.Meningkatnya kurikulum sekolah yang berbasis kompetensi. 3.1.Bertambahnya jumlah jam kunjung anak/siswa ke perpustakaan bagi siswa SD, MI. 4.1.Meningkatnya kemampuan membaca dan menulis bagi anak siswa SD, MI. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 39 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD f. Mendorong kemandirian sekolah berdasarkan manajemen berbasis sekolah. 1) Pengembangan manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah.

2) Pengembangan kecakapan hidup (life skill) berdasarkan pendidikan yang berbasis luas (Broad Base Education/BBE). 3) Kampanye Pendidikan Dasar untuk mendukung Wajib Belajar Pendidikan Dasar. 1.1.Meningkatnya kesiapan sekolah untuk melaksanakan otonomi pendidikan. 2.1.Mentngkatnya kemampuan kemandirian siswa. 3.1.Meningkatnya angka pendidikan rata rata. g. Tersusunnya peraturan daerah tentang Penerimaan Siswa Baru (PSB) di Pendidikan Dasar dan Pra-Sekolah untuk anak usia sekolah dari keluarga tidak mampu agar tetap memperoleh pendidikan. 1) Fasilitasi Penyusunan Peraturan Daerah tentang PSB Sekolah Dasar dan Pra Sekolah. 1.1.Tersusunnya Perda tentang PSB Sekolah Dasar dan Pra Sekolah khusus keluarga tidak mampu. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 40 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3. Program Pendidikan Menengah Dinas P dan K, Biro Mental Spriritual, Badan Diklat, Badan Perpustakan. Pendidikan Menengah a. Pemberian bantuan sarana dan prasarana serta biaya pendidikan untuk anak berprestasi dari keluarga miskin 1) Rehab gedung SLTP/MTs, SMU/MA, SMK dan penambahan

sarana belajar 2) Peningkatan perpustakaan SLTP/MTs, SMU/MA, SMK. 3) Layanan terpadu perpustakaan SLTP, SLTA, MTs, MA, SMK. 4) Pemberian subsidi Biaya Minimal Pendidikan SLTP Anak Usia Sekolah Keluarga Miskin (AUSKM) . 5) Bantuan beasiswa bagi anak usia sekolah dari keluarga kurang mampu yang berprestasi tingkat SMU/SMK, MA. 1.1.Meningkatnya fasilitas pembelajaran yang layak. 2.1.Meningkatnya fasilitas perpustakaan SLTP/MTs, SMU/MA, SMK yang layak. 3.1.Berkembangnya rninat baca siswa SLTP, SLTA, MTS, MA, SMK. 4.1.Meningkatnya pembiayaan sekolah bagi keluarga kurang mampu. 5.1.Meningkatnya pembiayaan sekolah bagi keluarga kurang mampu yang berprestasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 41 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Penyelenggaraan mode alternatif layanan pendidikan. 1) Peningkatan dan perluasan jangkauan layanan pendidikan bagi masyarakat. 2) Peningkatan kemandirian siswa setara D-3 sesuai dengan kebutuhan lapangan kerja Berbasis Politeknik. 1.1.Meningkatnya partisipasi pendidikan bagi siswa di wilayah terpencil dan tidak mampu.

2.1.Meningkatnya Jumlah Siswa yang mempunyai kompetensi kejuruan berkualifikasi politeknik setara D3 sesuai dengan lapangan kerja yang tersedia. c. Penyelenggaraan diklat bagi guru dan kepala sekolah. 1) Pendidikan dan Pelatihan tenaga guru dan Kepala Sekolah. 2) Orientasi dan Dikiat teknis perpustakaan bagi guru/pengelola Perpustakaan SLTP, MTs, SMU, MA. 1.1.Meningkatnya mutu dan jumlah guru dan Kepala Sekolah yang memiliki kompetensi. 2.1.Meningkatnya kemampuan guru/pengelola perpustakaan SLTP, MTs, SMU, MA. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 42 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Masuknya kurikulum muatan lokal. 1) Peningkatan jumlah muatan kurikulum lokal. 1.1.Meningkatnya prosentase jumlah jam pelajaran untuk muatan kurikulum lokal. e. Penyelenggaraan sekolah ungguian dan peningkatan peran SMU dan SMK dalam pengembangan daerah. 1) Peningkatan mutu dan relevansi Pendidikan SMU, SMK. 2) Peningkatan jumlah sekolah unggulan. 1.1.Meningkatnya kualitas lulusan sekolah ungguian baik SMU maupun SMK.

2.1.Peningkatan mutu sekolah menengah. f. Terbentuknya kerja sama lembaga pendidikan dengan dunia usaha/industri. 1) Mendorong dan memfasilitasi kerja sama antara lembaga pendidikan dengan dunia usaha/industri. 1.1.Meningkatnya jumlah lembaga pendidikan yang bekerjasama dengan dunia usaha/industri. g. Mendorong efisiensi Proses Pembelajaran dan akuntabilitas kinerja kelembagaan. 1) Pemberdayaan dan pembinaan Kepala Sekolah dan Guru dalam rangka manajemen sekolah. 2) Penyelenggaraan model alternatif layanan pendidikan. 1.1.Meningkatnya jumlah Kepala Sekolah dan Guru yang melaksanakan Manajemen Sekolah. 2.1.Meningkatnya partisipasi pendidikan bagi siswa di wilayah terpencil dan tidak mampu. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 43 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Sosialisasi pemanfaatan Perpustakaan kepada siswa SLTP/SLTA 4) Lomba minat baca bagi siswa SLTP/SLTA 5) Kampanye Pendidikan Dasar untuk mendukung Wajib Belajar Pendidikan Dasar. 3.1.Meningkatnya jumlah jam berkunjung ke Perpustakaan SLTP/SLTA. 4.1.Meningkatnya minat baca

dan tulis siswa SLTP/SLTA. 5.1.Meningkatnya angka pendidikan rata û rata. h. Mendorong kemandirian sekolah berdasarkan manajemen berbasis sekolah. 1) Pengembangan kecakapan hidup (life skill) berdasarkan pendidikan yang berbasis luas (Broad Base Education/BBE). 2) Fasilitasi Dewan Pendidikan Propinsi. 1.1.Meningkatnya kemampuan kemandirian siswa. 2.1.Peningkatan peran partisipasi masyarakat terhadap pendidikan. 4. Program Pendidikan Luar Biasa Dinas P dan K, Biro Mental Spiritual, Badan Diklat, Badan Perpustakaan Pendidikan Luar Biasa a. Pemberian bantuan sarana dan prasarana serta biaya pendidikan untuk anak dari keluarga miskin. 1) Rehab gedung , RKB, perpustakaan, buku/modul alat peraga, teaching group, alat bantu dan alat bermain. 1.1.Meningkatnya fasilitas pembelajaran yang layak. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 44 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Bantuan untuk Anak Usia Sekolah bagi Keluarga Miskin (AUS-KM). 3) Pengembangan kecakapan hidup (life skill) berdasarkan pendidikan yang berbasis luas (Broad Base Education/BBE). 2.1.Menurunnya angka putus sekolah bagi siswa Pendidikan Luar Biasa

keluarga miskin. 3.1.Meningkatnya kemampuan kemandirian siswa. b. Penyelenggaraan diklat bagi guru PLB dan kepala sekolah. 1) Pendidikan dan Pelatihan tenaga guru dan Kepala Sekolah. 2) Orientasi dan diklat teknis perpustakaan bagi guruSLB sebagai pengelola perpustakaan SLB. 1.1.Meningkatnya mutu dan jumlah guru dan Kepala Sekolah yang memiliki kompetensi. 2.1.Meningkatnya kemernpuan guru sekolah dalam mengelola perpustakaan SLB. c. Masuknya kurikulum muatan lokal. 1) Peningkatan jumlah muatan kurikulum lokal. 1.1.Meningkatnya prosentase jumlah jam pelajaran untuk muatan kurikulum lokal. d. Mendorong Pengembangan minat baca. 1) Lomba minat baca bagi siswa SLB. 1.1.Berkembangnya minat baca bagi siswa SLB. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 45 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD e. Mendorong efisiensi PBM dan akuntabilitas kinerja kelembagaan. 1) Pemberdayaan dan pembinaan Kepala Sekolah dan Guru dalam rangka manajemen sekolah manajemen sekolah. 1.1.Meningkatnya jumlah Kepala Sekolah dan Guru yang melaksanakan Manajemen Sekolah.

5. Program Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Dinas P dan K, Biro Mental Spiritual, Badan Diklat, Badan Perpustakaan Pendidikan Luar Sekolah a. Pelaksanaan Kejar Paket A, B, kelompok belajar usaha (KBU), dan permagangan. 1) Peningkatan mutu pendidikan masyarakat. 1.1.Meningkatnya jumlah siswa yang mengikuti pendidikan penyetaraan setara SD, SLTP dan SLTA. 1.2.Berkurangnya jumlah buta huruf. 1.3.Peningkatan pemuda produktif. b. Pemberian bantuan sarana dan prasarana. 1) Pengembangan Sarana Pendidikan Warga Beiajar, Pendidikan Anak Usia Dini serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat. 2) Layanan terpadu perpustakaan desa. 1.1.Meningkatnya fasilitas pembelajaran yang layak. 2.1.Berkembangnya minat baca masyarakat desa. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 46 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Pemberian pendidikan dan pelatihan bagi tenaga fungsional PLS. 1) Pelatihan tenaga fungsional PLS. 1.1.Meningkatnya kemampuan tenaga fungsional PLS sebagai pelaksana Program Pendidikan Luar Sekolah. d. Penyelenggaraan model

pendidikan luar sekolah mdalui Link and Match antara PLS dan ketenagakerjaan. 1) Pengembangan kerjasama PLS dengan ketenagakerjaan. 1.1.Meningkatnya Jumlah Warga Belajar yang memiliki ketrampilan teknis. e. Pelatihan Manajemen Ketenagakerjaan dan Kewirausahaan. 1) Peningkatan kemampuan warga belajar melalui pelatihan manajemen dan kewirausahaan. 1.1.Meningkatnya Jumlah Warga Belajar yang mandiri. 6. Program Pembinaan Tenaga Kependidikan Dinas P dan K, Badan Diktat, Badan Perpustakaan Pembinaan Tenaga Kependidikan dan Kebudayaan a. Pendidikan dan pelatihan guru dan kepala sekolah. 1) Peningkatan Kompetensi belajar mengajar. 2) Diktat teknis perpustakaan bagi pustakawan / pengelola perpustakaan. 1.1.Meningkatnya mutu dan jumlah guru dan Kepala Sekolah yang memiliki kompetensi. 2.1.Meningkatnya kemampuan, pengetahuan dan ketrampilan pustakawan / pengelola perpustakaan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 47 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Pemberian bantuan untuk Penyetaraan pendidikan bagi tenaga pendidik.

1) Peningkatan kualifikasi guru melaiui penyetaraan D II, S-l dan Wyata Bakti. 1.1.meningkatnya jenjang pendidikan guru. c. Terlaksananya penilaian angka kredit bagi tenaga pendidikan yang efisien dan efektif. 1) Penilaian angka kredit bagi tenaga pendidikan. 1.1.Peningkatan kualitas penilaian terhadap kenaikan pangkat para guru berdasarkan angka kredit. d. Pemberian bantuan bagi guru di daerah terpencil dan terbelakang. 1) Bantuan tunjangan bagi guru swasta dan negeri didaerah terpencil. 2) Penambahan jumlah guru bantu. 1.1.Meningkatnya tunjangan bagi guru terpencil. 2.1.Tersedianya tenaga pendidik untuk sekolah yang kekurangan guru. 7. Program Pengembangan Kebudayaan Dinas P dan K, Biro Mental Spiritual, Badan Perpustakaan, Kantor Perwakilan Jawa Timur, Pelestarian sejarah budaya dan arkeologi a. Pemeliharaan dan penyelenggaraan museum propinsi dan suaka peninggalan sejarah kepurbakalaan. 1) Perluasan pembangunan Museum Mpu Tantular. 2) Pemeliharaan situs-situs kebudayaan dan peninggalan sejarah. 1.1.Meningkatnya kualitas pelayanan Museum Mpu

Tantular di Kabupaten Sidoarjo. 2.1.Terpeliharanya kelestarian situs-situs kebudayaan can peninggalan sejarah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 48 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Memperluas penggalian peninggalan sejarah, budaya, dan arkeologi. 1) Peningkatan Penggalian dan penelitian peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi. 2) Peningkatan koleksi bahan pustaka peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi. 1.1.Ditemukannya situs-situs sejarah dan kepurbakalaan baru. 2.1.Tersedianya koleksi bahan pustaka peninggalan sejarah, budaya dan arkeologi c. Pengembangan kawasan Kerajaan Mojopahit menjadi museum terbuka sebagai pusat budaya dan pariwisata Jawa Timur. 1) Penyiapan kawasan Kerajaan Mojopahit sebagai pusat budaya dan pariwisata. 1.1.Terbangunnya tahap awal pengembangan kawasan mojopatiit. d. Inventarisasi dan eksibisi budaya lokal dan nilai tradisional. 1) Penyelenggaraan even-even kebudayaan dalam dan luar negeri. 2) Peningkatan peran serta seniman dan budayawan dalam rangka meningkatkan, mengembangkan dan melestarikan kebudayaan.

1.1.Terselenggaranya pameranpameran kekayaan budaya dan peten-pekan kesenian tradisional Jawa Timur. 2.1.Terselenggaranya pementasan kesenian dan kebudayaan oleh para seniman dan budayawan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 49 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD e. Pengembangan kebudayaan daerah dan kesenian tradisional. 1) Pemberdayaan dan pembinaan kelembagaan kebudayaan daerah. 2) Pengembangan bahan pustaka budaya dan kesenian. 1.1.Pemberian subsidi bagi lembaga komunitas seni tradisional dan fasilitasi kegiatan-kegiatan kesenian, 2.1.Tersedianya informasi terbaru tentang seni dan budaya. f. Pengembangan pemakaian bahasa daerah. 1) Peningkatan kualitas guru-guru Bahasa Daerah. 2) Penyusunan materi muatan budaya lokal pada buku pelajaran SD dan SLTP. 3) Pengembangan dan pelestarian sastra daerah. 4) Peningkatan kualitas pejabat, pengasuh Pondok Pesantren dan pengelola media massa dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. 1.1.Terselenggaranya simposium Bahasa Jawa bagi guru-guru Bahasa Daerah di Jawa Timur. 2.1.Terwadahinya budaya lokal

dalam buku pelajaran sekolah. 3.1.Terselenggaranya semiloka pengembangan dan pelestarian sastra daerah. 4.1.Terselenggaranya penyuluhan bahasa Indonesia bagi Pejabat, Pengelola Pondok Pesantren dan Pengelola Media Massa. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 50 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD g. Mendorong apresiasi sejarah, budaya, dan arkeologi pada masyarakat. 1) Penyebarluasan informasi sejarah, budaya, dan arkeologi ke Masyarakat. 2) Meningkatnya Apresiasi Kepurbakalaan. 3) Pengkajian sejarah dan pengungkapan keteladanan pahlawan/tokoh sejarah Jawa Timur. 4) Bantuan hak paten karya seni dan Budaya. 1.1.Peningkatan apresiasi sejarah, budaya, dan arkeologi dalam masyarakat. 2.1.Lokakarya kepurbakalaan. 3.1.Meningkatnya kesadaran dan pemahaman terhadap sikap keteladanan pahlawan/tokoh sejarah. 4.1.Meningkatnya jumlah karya seni dan budaya yang dilengkapi dengan hak paten. h. Pemberian Bantuan sarana dan prasarana. 1) Peningkatan sarana dan prasarana kelembagaan kesenian dan budaya.

2) Tersedianya Buku peraturan Perundang-undangan tentang benda cagar budaya dan penulisan, pencetakan buku benda cagar budaya. 1.1.Peningkatan kualitas kelembagaan kesenian dan kebudayaan yang layak. 2.1.Menurunnya tingkat pelanggaran terhadap benda cagar budaya. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 51 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pemberian bantuan imbalan jasa/ganti rugi penemuan benda cagar budaya. 4) Peningkatan Sarana dan Prasarana perpustakaan Bung Karno di Blitar. 3.1.Meningkatnya penyelamatan benda / cagar budaya yang ditemukan oleh masyarakat. 4.1.Tersedianya fasilitas perpustakaan Bung Kamo yang layak dan memadai. 8. Program Pengembangan Pendidikan Tinggi. Bappeprop, Dinas P dan K, Biro Mental Spiritual, Badan Perpustakaan Pendidikan Tinggi a. Pemberian rekomendasi pembukaan dan penutupan perguruan tinggi sesuai kebutuhan dan kemampuan. 1) Penyusunan need assesment, evaluasi penyelenggaraan pendidikan tinggi, inventarisasi, dan pendataan. 2) Rehab, bantuan sarana dan prasarana Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta.

1.1.Adanya potret profil perguruan tinggi sesuai kelas/golongan akreditasi yang dimiliki. 2.1.Meningkatnya sarana perkuliahan yang memadai. 9. Program Sinkronisasi dan Koordinasi Pembangunan Pendidikan di Daerah. Dinas P dan K, Bappeprop, Badan Perpustakaan, Biro Adm. Pembangunan, Biro Mental Spiritual. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 52 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD a. Pelaksanaan, pengkajian, dan Sinkronisasi program/kegiatan, serta pengembangan dalam rangka perencanaan peningkatan pendidikan. 1) Sinkronisasi dan koordinasi pendidikan di setiap jenjang pendidikan. 2) Fasilitasi layanan perpustakaan. 3) Pengembangan perencanaan pendidikan dan kebudayaan. 1.1.Terciptanya koordinasi dan Sinkronisasi antar daerah di setiap jenjang pendidikan. 2.1.Meningkatnya minatbaca masyarakat. 3.1.Adanya perencanaan pendidikan dan kebudayaan yang mendukung program pembangunan. b. Pelaksanaan sistem informasi dan pendataan pendidikan. 1) Pengembangan data base regional pendidikan. 2) Pemetaan Perpustakaan TK/SD/SLTP/ SLTA/Perguruan Tinggi/Desa/Instansi dan Pondok Pesantren serta Rumah Ibadah.

3) Pengendalian dan evaluasi sistem Informasi dan Pendataan Pendidikan. 1.1.Tersusunnya data base bidang pendidikan. 2.1.Tersedianya data perpustakaan sebagai sasaran pembinaan. 3.1.Tercapainya pengendalian dan evaluasi data sistem Informasi dan Pendataan Pendidikan yang tepat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 53 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Pemberian bantuan pengembangan pendidikan di daerah terbelakang, tertinggal, terpencil, serta bagi siswa rninoritas dan tidak mampu. 1) Memfasilitasi pendidikan di setiap jenjang pendidikan di daerah terbelakang, tertinggal, terpencil. 1.1.Tersedianya fasilitas pendidikan yang layak di daerah terbelakang, tertinggal, terpencil. d. Mendorong pengembangan pendidikan di pondok pesantren. 1) Peningkatan bantuan terhadap pondok pesantren. 2) Orientasi dan diklat teknis bagi pengelola perpustakaan pondok pesantren dan rumah ibadah. 1.1.Bertambahnya jumlah pondok pesantren yang mendapatkan bantuar, pengembangan pendidikan. 2.1.Meningkatnya kemampuan pengelola perpustakaan dan meningkatnya kualitas sistem pelayanan perpustakaan pondok

pesantren dan rumah ibadah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 54 MATRIK KEBIJAKAN 2 PERCEPATAN PEMULIHAN EKONOMI DAN PENINGKATAN PRODUKTIVITAS MELALUI PENGEMBANGAN EKONOMI KERAKYATAN, PENGUATAN UNIT-UNIT USAHA, DAN LEMBAGALEMBAGA EKONOMI. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 55 2. Kebijakan Percepatan Pemulihan Ekonomi dan Peningkatan Pengembangan Ekonomi Kerakyatan, Penguatan Unit-unit Usa'ha, dan Lembaga-lembaga Ekonomi. No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Ketahanan Pangan Dinas Pertanian, BKP, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan dan Kelautan, Badan Ketonanan Pangan 1. Program Ketahanan Pangan Pertanian rakyat. a. Penetapan standar pelayanan minimal dalam bidang pertanian, peternakan, dan perikanan yang wajib dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota. 1) Fasilitasi standar pelayanan minimal bidang pertanian, peternakan, perikanan dan ketahanan pangan. 2) Optimaiisasi sumberdaya bidang pertanian, peternakan dan perikanan. 3) Gerakan peningkatan mutu intensifikasi. 4) Optimaiisasi pemanfaatan lahan, air irigasi dan sumber air. 1.1.Tersedianya Standar Pelayanan Minimal bidang pertanian, peternakan, perikanan dan ketahanan pangan. 2.1.Terwujudnya penggunaan

sumberdaya bidang pertanian, peternakan dan perikanan secara optimal. 3.1.Meningkatnya mutu intensifikasi. 4.1.Optimalnya pemanfaatan lahan dan meningkatnya efesiensi pemanfaatan air irigasi dan sumber air. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 56 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Sosialisasi Standarisasi bidang pertanian, peternakan, perikanan dan pangan. 6) Pengembangan Ketahanan Pangan bidang pertanian, peternakan dan perikanan. 7) Fasilitasi pembangunan bidang pertanian, peternakan, perikanan dan ketahanan pangan. 8) Antisipasi dampak bencana alam dan penyimpangan iklim. 5.1.Tersosialisasinya Standarisasi bidang pertanian, peternakan, perikanan dan pangan. 6.1.Meningkatnya ketersediaan, distribusi, dan konsumsi pangan. 7.1.Tersusunnya perencanaan pembangunan bidang pertanian, peternakan, perikanan dan ketahanan pangan 8.1.Berkurangnya dampak bencana alam dan penyimpangan iklim. b. Menyediakan bibit/benih unggul pertanian, peternakan, dan perikanan, serta faktorfaktor penunjangnya. 1) Perbanyakan bibit/benih tanaman pangan (padi, paidwija),

holtikultura dan temak. 2) Peningkatan produktivitas tanaman pangan dan hortikultura melalui penyediaan benih berlabel. 1.1.Tersedianya bibit/benih unggul dan bermutu. 2.1.Tersedianya benih beriabel. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 57 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Inseminasi buatan sejuta akseptor sapi (INTAN SEJATI). 4) Pengembangan plasma nutfah sapi Madura. 5) Pengawasan dan pembinaan mutu pakan. 6) Pengadaan benih dan induk ikan unggul di BBI, BBU serta hatchery. 7) Pengelolaan perbenihan tanaman pangan dan hortikultura di BBI Padi, Palawija dan Hortikultura. 8) Antisipasi kelangkaan dan pengawasan sarana produksi. 3.1.Meningkatnya angka kelahiran dan kualitas ternak. 4.1.Berkembangnya plasma nutfah sapi Madura. 5.1.Tersedianya pakan ternak berkualitas. 6.1.Tersedianya benih dan induk ikan unggul di BBI, BBU serta Hatchery. 7.1.Terkelolanya perbenihan tanaman pangan dan hortikultura di BBI Padi, Palawija dan Hortikultura. 8.1.Tersedianya sarana prcduksi dan meningkatnya kemampuan petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 58 No

Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Pengendalian dan penanggulangan organisme pengganggu tumbuhan dan penyakit di bidang pertanian, petemakan, dan perikanan. 1) Pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) tanaman pangan den hortikultura. 2) Penerapan Pengendalian Kama Terpedu (PHT). 3) Pemberantasan dan penanggulangan penyakit hewan menular. 4) Pengawasan dan pengendalian peredaran pestisida, obat hewan dan analisa residu serta fasilitasi sertifikasi pestisida dan obat hewan. 5) Pemberdayaan Laboratorium kesehatan medik veteriner dan Laboratorium diagnostik. 6) Peningkatan sarana dan prasarana penanggulangan dan pengendalian hama penyakit ikan. 1.1.Tertaksananya pengendalian OPT tanaman pangan dan hortikultura. 2.1.Berkembangnya penerapan prinsip-prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). 3.1.Menurunnya kasus penyakit hewan menular. 4.1.Terkendalinya peredaran pestisida dan obat hewan serta tersedianya analisis residu pestisida dan obat hewan. 5.1.Meningkatnya kemampuan laboratorium dalam pelayanan kesehatan hewan. 6.1.Tersedianya sarana dan prasarana penanggulangan

penyakit ikan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 59 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Memberikan bantuan peralatan untuk penanganan pascapanen. 1) Penyediaan peralatan dan mesin pasca panen pertanian (alsintan), peternakan dan perikanan. 2) Penyediaan dan Pemberdayaan Laboratorium pertanian dan perikanan. 1.1.Tersedianya peralatan dan mesin pasca panen pertanian, petemakan dan perikanan. 2.1.Meningkatnya kemampuan laboratorium dalam pelayanan pertanian dan perikanan. e. Melaksanakan kajian teknologi pertanian, peternakan, dan perikanan. 1) Pengkajian dan penerapan teknologi bidang pertanian, peternakan dan perikanan. 1.1.Terlaksananya kajian dan penerapan teknologi pertanian, peternakan, perikanan. 1.2.Berkembangnya teknologi pengolahan pangan yang bermutu dan aman. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 60 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Identifikasi dan rencana pengembangan potensi pertanian, peternakan, dan perikanan di

wilayah prioritas pembangunan : Kawasan Selatan Jawa Timur (KSJT), Madura dan kepulauan. 3) Pengembangan dan perekayasaan serta aplikasi teknologi perikanan. 4) Pemantapan sistem kewaspadaan pangan dan gizi. 5) Pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang pertanian, peternakan dan perikanan. 2.1.Tersedianya rencana pengembangan potensi pertanian, peternakan, dan perikanan dalam mendukung pembangunan dan pengentasan kemiskinan diwilayah KSJT, Madura dan kepulauan. 3.1.Berkembangnya perekayasaan dan aplikasi teknologi perikanan. 4.1.Tersusunnya pemetaan daerah rawan pangan dan gizi. 5.1.Terwujudnya kerjasama dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bidang pertanian, petemakan dan perikanan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 61 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 6) Pengembangan konsumsi pangan dan gizi. 7) Perencanaan pembangunan pangan dan gizi 8) Pengembangan mutu dan gizi pangan. 5.2.Tersosialisasinya penerapan teknologi pengolahan pangan yang aman dan bermutu. 6.1.Teridentifikasinya konsumsi pangan dan gizi di

masyarakat. 6.2.Tersusunnya rencana pengembangan konsumsi pangan dan gizi masyarakat. 7.1.Teridentifikasinya dan tersusunnya rencana pembangunan pangan dan gizi. 8.1.Teridentifikasinya mutu dan gizi pangan di masyarakat. 8.2.Terwujudnya pembinaan danpengawasan mutu dan gizi pangan di masyarakat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 62 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 9) Fasilitasi pengoiahan hasil tanaman pangan dan hortikultura dengan pendekatan Hazzard Analysis Critical Control Point (HACCP). 9.1.Terwujudnya sistem pengoiahan hasii dengan pendekatan HACCP. f. Melakukan pengawasan lalu lintas temak. 1) Pengawasan lalulintas ternak dan bahan asal hewan antar Propinsi. 1.1.Terkendalinya lalulintas ternak dan bahan asal hewan antar propinsi. g. Melakukan pengendalian pemotongan hewan betina produktif. 1) Pengendalian pemotongan hewan betina produktif. 1.1.Terkendalinya pemotongan hewan betina produktif. h. Intensifikasi Sapi Potong. 1) Intensifikasi Sapi Potong (INSAPP), 2) Penyebaran dan pengembangan ternak sapi potong. 3) Pemberdayaan ekonomi peternak sapi potong.

1.1.Meningkatnya populasi ternak sapi potong berkualitas. 2.1.Meningkat dan meratanya penyebaran dan pengembangan ternak sapi potong. 3.1.Meningkatnya pendapatan peternak sapi potong. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 63 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2. Pengembangan Agribisnis Dinas Pertanian, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan dan Kelautan 1. Program Persgem bangan Agribisn Pertanian Rakyat 2. Program pengeml ngan Agribisnis Peternakan. 3. Program per.gem bangan agrifaisnis Perikanan. a. Mendirikan pasar induk agribisnis dan sarana prasarana pendukungnya. 1) Penguatan sektor hulu dalam rangka pembangunan Pasar Induk Agribisnis (PIA). 2) Pengembangan agribisnis tanaman pangan dan hortikultura. 3) Pengembangan kebun benih Lebo -Sidoarjo. 1.1.Kesiapan sektor hulu dalam mendukung pembangunan PIA. 2.1.Berkembangnya Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura. 3.1.Tersedianya pusat studi

agribisnis hortikultura. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 64 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pengembangan dan pemanfaatan industri pengolahan hasil pertanian, peternakan dan perikanan. 5) Pengembangan pemasaran perikanan budidaya dan perairan umum. 6) Fasilitasi pembentukan kawasan agropolitan. 4.1.Berkembangnya industri hasil pertanian, peternakan dan perikanan. 5.1.Tersedianya fasilitas pemasaran perikanan budidaya dan perairan umum 6.1.Terbentuknya kawasan agropolitan. b. Pemuliaan bibit/pohon induk dan pengembangan pengganda map tempel (BPMT) dalam rangka penetapan standar pembibitan standar mutu benih. 1) Pengembangan tanaman pangan dan hortikultura. 2) Pelepasan Varietas Tanaman Buah-buahan. 1.1.Tersedianya varietas tanaman pangan dan hortikultura. 2.1.Tersedianya varietas unggul baru tanaman buah-buahan. c. Penerapan standardisasi teknis Rumah Potong Hewan. 1) Sosialisasi standardisasi Rumah Potong Hewan (RPH) dan Hazzard Analysis Critical Control Point (HACCP). 2) Pembinaan standarisasi kinerja

produksi peternakan. 1.1.Tersosialisasinya standarisasi RPH dan HACCP. 2.1.Terbinanya standarisasi kinerja produksi peternakan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 65 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Melakukan privatisasi unit unit usaha dan asosiasi bidang peternakan/pertanian dan perikanan. 1) Revitalisasi UPT-UPT di lingkup pertanian peternakan dan perikanan. 2) Promosi dan eksploitasi komoditas ternak unggulan. 3) Pemberdayaan Balai Pembibitan Ternak (BPT) dan Hijauan Makanan Ternak (HMT). 1.1.Meningkatnya kinerja UPTyang berbasis bisnis dan pelayanan umum. 2.1.Terlaksananya promosi dan eksploitasi komoditas peternakan. 3.1.Meningkatnya Kinerja BPT dan HMT. e. Melakukan promosi komoditi ekspor perikanan. 1) Penyediaan profil dan peningkatan pelayanan produk ekspor hasil perikanan. 2) Peningkatan jaringan informasi ekspor dan pemasaran hasil perikanan. 1.1.Tesedianya profil dan meningkatnya pelayanan produk ekspor hasil perikanan. 2.1.Tersedianya jaringan informasi ekspor dan pemasaran hasil perikanan.

f. Pengembangan komoditi ekspor perikanan. 1) Optimalisasi unit pelaksana teknis budidaya perikanan. 2) Pengembangan komoditi perikanan kualitas ekspor. 1.1.Berkembangnya unit pelaksana teknis budidaya perikanan. 2.1.Berkembangnya produk perikanan kualitas ekspor. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 66 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD g. Pengaturan pola usaha kawasan industri peternakan. 1) Pengembangan kawasan agribisnis berbasis peternakan unggulan. 2) Pengembangan peternakan di kawasan Madura. 1.1.Berkembangnya kawasan agribisnis berbasis peternakan unggulan. 2.1.Berkembangnya peternakan di kawasan Madura. 3. Pengembangan Pertanian Rakyat Terpadu Dinas Pertanian, BKP, Biro Bina Perekonomian, Dinas Peternakan, Dinas Perikanan dan Kelautan. 1. ProgramPengem bangan Pertanian Rakyat Terpadu. 2. ProgramPengem bangan Peternakan Rakyat Terpadu 3. ProgramPengem bangan Perikanan Rakyat Terpadu

a. Pengendalian harga gabah petani, sehingga tercapai harga yanq layak. 1) Pembelian gabah petani. 1.1.Terkendalinya fluktuasi harga jual gabah di tingkat petani. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 67 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Monitoring dan Evaluasi dampak program pembelian gabah terhadap kesejahteraan petani. 3) Pengendalian harga bahan pangan strategis di tingkat produsen dan konsumen. 4) Penguatan kelembagaan petani dan lembaga ekonomi pedesaan. 2.1.Tersedianya informasi dampak program pembelian gabah terhadap kesejahteraan petani, 3.1.Berkurangnya fluktuasi harga pangan strategis. 4.1.Terbentuknya kelembagaan dan berdayanya petani terhadap akses pembiayaan. b. Pemberdayaan petani dalam penerapan teknologi dan pemanfaatan informasi pasar. 1) Fasilitasi petani dalam penerapan dan pengembangan teknologi pertanian, peternakan dan perikanan. 2) Pengembangan sistem informasi pasar pertanian. 3) Penghargaan bidang pertanian, peternakan, perikanan dan ketahanan pangan. 4) Pengembangan penganekaragaman dan teknologi pengolahan pangan lokal. 1.1.Meningkatnya kemamampuan petani dalam penerapan dan

pengembangan teknologi. 2.1.Tersedianya data dan informasi pasar pertanian. 3.1.Meningkatnya prtstasi kerja bidang pertanian, peternakan, perikanan dan ketahanan pangan. 4.1.Berkembangnya pola konsumsi yang tidak tergantung pada beras. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 68 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Kampanye/sosialisasi diversifikasi pangan. 6) Pengembangan distribusi pangan. 7) Penyusunan kebutuhan, pengadaan dan cadangan pangan. 8) Pengendalian cadangan pangan di pekarangan. 4.2.Tersusunnya menu yang bermutu, bergizi dan berimbang. 4.3.Meningkatnya penerapan teknologi pangan olahan. 5.1.Tersosialisasinya diversifikasi pangan. 6.1.Terjangkaunya ketersediaan pangan di semua wilayah di Jawa Timur. 6.2.Tertatanya sistem jaringan dan distribusi pangan di Jawa Timur. 7.1.Tersusunnya rencana kebutuhan, pengadaan dan cadangan pangan. 8.1.Meningkatnya ketersediaan pangan dari pemanfaatan pekarangan Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 69 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004

Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 9) Fasilitasi pengembangan dan pemberdayaan masyarakat kepulauan dan wilayah pesisir. 10)Fasilitasi pembinaaan dan pelaksanaan lomba perikanan dan kelautan. 11)Fasilitasi pelaksanaan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut propinsi. 12)Fasilitasi usaha sektor primer. 13)Pemberdayaan Pondok Pesantren dalam pembangunan pertanian, petemakan. dan perikanan. 9.1.Terwujudnya keterpaduan pengembangan dan pemberdayaan masyarakat kepulauan dan wilayah pesisir. 10.1.Terwujudnya keterpaduan pembinaaan dan pelaksanaan lomba perikanan dan kelautan. 11.1.Terwujudnya keterpaduan pelaksanaan eksplorasi, eksploitasi, konservasi dan pengelolaan kekayaan laut propinsi. 12.1.Terwujudnya fasilitasi usaha sektor primer. 13.1.Berkembangnya Pondok Pesantren berbasis pertanian, petemakan, dan perikanan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 70 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 14)Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) petemakan. 15)Peningkatan produktivitas hasilhasil pertanian. 14.1.Terciptanya informasi

pembangunan petemakan melalui petemakan. 15.1.Meningkatnya pendapatan petani. 4. Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan Dinas Perikanan dan Kelautan Program Pengembangan Pengelolaan Sumber Daya Kelautan a. Penataan dan pengelolaan perairan wilayah laut. 1) Identifikasi dan evaluasi sumber daya kelautan. 2) Sosialisasi dan pelatihan pengelolaan sumber daya kelautan. 3) Penataan sentra produksi kelautan. 1.1.Tersedianya data base sumber daya Kelautan. 2.1.Meningkatnya kualitas SDM dalam pengelolaan sumber daya kelautan. 3.1.Terwujudnva sentra produksi kelautan. b. Menyediakan sarana / prasarana kelautan untuk merangsang investasi. 1) Peningkatan sarana pelayanan perijinan usaha. 2) Peningkatan Laboratorium Uji Mutu. 1.1.Meningkatnya pelayanan di bidang perijinan usaha. 2.1.Meningkatnya kinerja Laboratorium Uji Mutu. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 71 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Pengadaan sarana dan

prasarana untuk meningkatkan sumber daya kelautan. 1) Pengoperasian dan pemeliharaan Unit Pelaksana Teknis Tangkap Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). 2) Pembangunan dan pengadaan sarana prasarana perikanan dan kelautan. 3) Peningkatan status prasarana tangkap. 4) Pemberdayaan nelayan melalui pemanfaatan Teknoiogi Informasi Penangkapan Ikan berbasis citra satelit. 5) Pengadaan kapal penampung hasil tangkapan ikan nelayan (kapal carrier). 1.1Meningkatnya operasional Unit Pelaksanaan Teknis Tangkap Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) secara optimal. 2.1Tersedianya sarana dan prasarana perikanan dan kelautan. 3.1Meningkatnya status prasarana tangkap. 4.1Tersedianya informasi potensi penangkapan ikan. 4.2Meningkatnya hasil tangkapan ikan. 5.1Tersedianya kapal penampungan hasil tangkapan ikan. 5.2Kemudahan operasional nelayan. 5.3Meningkatnya hasi! tangkapan dan kemudahan pemasaran ikan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 72 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Pemberdayaan masyarakat

nelayan/pesisir. 1) Pemberdayaan dan sosialisasi pengelolaan lingkungan wilayah pesisir. 2) Optimalisasi penangkapan ikan jenis ekonomis penting. 3) Penguatan modal dan kelembagaan nelayan. 4) Pembangunan Stasiun Pengisian Bahan Bakar untuk Nelayan (SPBN). 1.1Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan wilayah pesisir. 2.1Meningkatnya hasil penangkapan ikan jenis ekonomis penting. 3.1Terbentuknya kelembagaan nelayan yang mantap. 3.2Berdayanya nelayan terhadap akses permodalan. 4.1Tercukupinya kebutuhan bahan bakar dengan harga standar Pertamina. e. Pelestarian dan pengelolaan plasma nutfah spesifik lokasi. 1) Pemberdayaan dan konservasi sumber daya perikanan dan kelautan. 2) Pelestarian dan rehabilitasi hutan mangrove. 1.1Meningkatnya kegiatan konservasi sumber daya perikanan dan kelautan. 2.1Terlaksananya pelestarian dan rehabilitasi hutan mangrove. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 73 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD f. Pengawasan eksploitasi sumber daya ikan di wilayah laut kewenangan Propinsi.

1) Pengawasan eksploitasi sumber daya ikan di wilayah laut kewenangan Propinsi. 2) Penyediaan sarana pengawasan wilayah laut kewenangan Propinsi. 1.1Terlaksananya pengawasan eksploitasi sumber daya ikan di wilayah laut kewenangan Propinsi. 2.1Tesedianya sarana pengawasan wilayah laut kewenangan Propinsi. 5. Program Pengelolaan Usaha Pertambangan Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral, Bappeprop, Biro Adm. Pembangunan Pengelolaan Usaha Pertambangan a. Menyediakan bantuan teknologi dan pembinaan penambangan umum, air bawah tenah yang berwawasan lingkungan. 1) Sinkronisasi dan koordinasi bidang pertambangan umum dan air bawah tanah. 2) Kerjasama antar Propinsi dan Kab/Kota dalam penyelenggaraan pertambangan umum, air bawah tanah dan energi. 3) Monitoring dan Evaluasi kegiatan bidang pertambangan dan energi. 1.1Terciptanya Sinkronisasi dan koordinasi program dengan pemerintah Kab/Kota dan Pemerintah Pusat. 2.1Tersusunnya program kerjasama antara Dinas ESDM dengan Pemerintah Kab/Kota dan Propinsi lain. 3.1Terlaksananya monitoring dan evaluasi kegiatan pertambangan dan energi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 74 No Rencana Stratejik Daerah

(RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pengembangan mariagemen data dan informasi, promosi/publikasi bidang pertambangan dan energi. 5) Inventarisasi bahan galian. 6) Pengembangan teknnlogi tepat guna untuk pemanfaatan bahan galian. 3.2Tersusunya LAKIP tahun 2003. 4.1Terlaksananya pengolahan data pertambangan dan energi. 4.2Tersedianya pelayanan informasi yang tepat dan akurat. 4.3Terlaksananya sosialisasi kegiatan pertambangan dan energi. 4.4Terlaksananya promosi /publikasi. 5.1Terlaksananya kegiatan penelitian/survey/potensi bahan galian secara regional. 6.1Tersedianya teknologi tepat guna untuk pemanfaatan bahan galian. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 75 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7) Penyelidikan Kars, ceologi teknik dan tata lingkungan untuk pengembangan wilayah. 8) Pemberdayaan laboratorium dan peralatan tambang. 9) Pemberdayaan uscha kecil dan menengah (UKM) bidang perrambungan skala kecil. 10)Inventarisasi air bawah tanah dan pemetaan hidrogeologi.

6.2Bantuan peralatan pertambangan bagi masyarakat. 7.1Terlaksananya kegiatan penelitian kars, geologi teknik lingkungan. 7.2Tersedianya zonasi kars, data geologi teknik dan iingkungan untuk konservas, bencana alam dan pengembangan wilayah. 8.1Terlaksananya pelayanan laboratorium bahan galian, air bawah tanah dan peralatan tambang. 9.1Meningkatnya kemampuan dalam mengelola usaha pertambangan. 10.1Terlaksannya penelitian, pemetaan, pengolahar. data air bawah tanah berbasis CAT(Cekungan Air Tanah). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 76 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 11)Pemantauan air bawah tanah dan kajian kelayakan pemanfaatannya. 12)Pengembangan, Pemanfaatan dan konservasi air bawah tanah (ABT). 13)Pengendalian dan pengawasan lingkungan, K3, Teknik pertambangan umum dan pengambilan ABT. 14)Rehabilitasi lahan bekas penambangan rakyat. 15)Melaksanakan pelatihan/bimbingan teknis pengelolaan pertambangan umum dan air bawah tanah. 10.2Tersedianya data potensi air bawah tanah di daerah sulit air. 11.1Terlaksananya kajian teknis dampak pengambilan air bawah tanah.

11.2Tersedianya rekomendasi teknis pengambilan air bawah tanah. 11.3Tersusunnya zonasi konservasi air bawah tanah (daerah resapan, aman, rawan kritis). 12.1Terlaksananya pemantauan muka air bawah tanah, kualitas air baweh tanah melalui sumur pantau dan sumur produksi. 12.2Tersedianya sumur pantau di daerah padat pengambilan air bawah tanah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 77 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 12.3Tersedianya air bersih bagi masyarakat daerah sulit air. 11.1Terlaksananya sosialisasi, pembinaan, pengawasan pertambangan dan air bawah tanah. 13.2Terlaksananya kegiatan penertiban kegiatan pertambangan dan air bawah tanah. 12.1Terlaksananya penataan dan rehabilitasi lahan bekas penambangan. 14.2Berfungsinya lahan bekas penambangan. 13.1Terlaksananya pelatihan / bimbingan teknis bagi aparatur dan penambang. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 78 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD

b. Penataan usaha inti pertambangan umum lintas Kab/Kota yang meliputi eksplorasi dan eksploitasi yang berkeadilan dan ramah lingkungan. 1) Penataan usaha inti pertambangan umum lintas Kab/Kota. 2) Pelayanan perizinan usaha pertambangan umum lintas Kabupaten/Kota. 1.1Tertatanya kegiatan, pertambangan umum lintas Kab/Kota. 1.2Merekomendasi penggunaan bahan peledak (handak) untuk kegiatan pertambangan. 1.3Pemetaan ijin pertambangan dengan SIG 2.1Meneliti dan memproses ijin pertambangan umum lintas kab/kota c. Mendorong peranserta dunia usaha dalam mengelola sumberdaya mineral dan energi non migas kecuali bahan radio-aktif di wilayah laut dari 4-12 mil laut. 1) Penyebarluasan informasi potensi sumberdaya mineral dan energi non migas. 1.1Tersedianya informasi potensi sumberdaya mineral non migas pada wilayah laut 4-12 mil. 1.2Promosi/publikasi potensi sumberdaya mineral non migas pada wilayah laut 412 mil. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 79 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pengembangan pengelolaan

sumberdaya mineral dan energi non migas/radioaktif wilayah laut 4 - 12 mil. 2.1Adanya peran serta masyarakat/dunia usaha dalam pengelolaan sumberdaya dan energi non migas/radioaktif wilayah laut 4 -12 mil. 6. Program Pengembangan Tenaga Listrik Dinas Energi dan Sumberdaya Mineral, Biro Adm. Pembangunan Pengembangan Tenaga Listrik a. Pemberian kemudahan ijin usaha inti listrik dan distribusi lintas kab/kota yang tidak disambung ke grid nasional. 1) Penyusunan master plan ketenagalistrikan untuk mendukung RUKD. 2) Perencanaan pengembangan potensi jaringan listrik. 1.1Tersedianya dokumen perencanaan sebagai bahan pedoman penyusunan kebijakan Propinsi Jawa Timur tentang Ketenagalistrikan Daerah. 2.1Tersedianya dokumen perencanaan pengembangan jaringan listrik, neraca daya tiap Kabupaten/Kota dalam wilayah areal pelayanan (AP). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 80 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pelatihan dan bimbingan teknis ketenegalistrikan. 4) Perijinan, pembinaan dan

pengawasan ijin usaha ketenagalistrikan. 2.2Tersedianya dokumen perencanaan pengembangan jaringan listrik, neraca daya tiap Kabupaten/Kota dalam wilayah areal pelayanan (AP). 3.1Terlaksananya pelatihan / bimbingan teknik bagi aparatur dalam pengelolaan ketenagalistrikan. 4.1Teriaksananya proses pemberian ijin usaha ketenagalistrikan lintas Kab/Kota non grid nasional. 4.2Terlaksananya kegiatan pembinaan dan pengawasan usaha ketenagalistrikan. b. Pemberian bantuan jaringan distribusi listrik ke perdesaan dan kepulauan. 1) Bantuan PLTD/PLTS bagi masyarakat di pedesaan dan kepulauan. 1.1.Tersedianya energi listrik bagi masyarakat yang tidak terjangkau PLN dengan diesel dan tenaga surya. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 81 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pengembangan energi terbarukan sebagai energi listrik bagi masyarakat di pedesaan dan kepulauan. 2.1.Pemanfaatan potensi air, biomassa. angin untuk tenaga listrik. 7. Program Pembangunan Tenaga Migas, Batubara dan Energi Lainnya Dinas Energi dan

Sumberdaya Mineral Pembangunan Tenaga Migas, Batubara Energi Lainnya a. Memanfaatkan energi alternatif menj'adi energi tepat guna. 1) Pengembangan peranan swasta dalam pengelolaan migas dan usaha jasa penunjang. 2) Koordinasi pengelolaan migas dan usdha jasa penunjang. 3) Penelitian dan pengembangan energi terbarukan menjadi teknologi energi yang efisien. 1.1Tersedianya data potensi migas dan usaha jasa penunjang. 1.2Terlaksananya fasilitasi usaha jasa penunjang. 2.1Terlaksananya pembinaan community development di daerah. 2.2Terlaksananya perhitungan penerimaan sektor migas. 3.1Terlaksananya penelitian potensi, pengembangan rancang bangun/design energi terbarukan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 82 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Sosialisasi dan bantuan peralatsn untuk pemanfaatan energi terbarukan. 5) Pembinaan dan pengawasan kegiatan migas dan usaha jasa penunjang. 4.1Terlaksananya sosialisasi, pemanfaatan batubara. 4.2.Tersedianya bantuan peralatan pemanfaatan energi terbarukan untuk

industri kecil. 5.1Terlaksananya pembinaan dan pengawasan kegiatan migas dan usaha jasa penunjang. 8. Pengembangan dan Pengelolaan Kehutanan Dinas Kehutanan Program Pengembangan dl Pengelolaan Hutan a. Menyusun pedoman inventarisasi, batas kawasan hutan dan rencana makro kehutanan. 1) Fasilitasi dan pembinaan Pembangunan Kehutanan. 2) Penyusunan peraturan daerah bidang kehutanan. 3) Pengembangan SIM kehutanan. 1.1Meningkatnya kinerja pembangunan kehutanan. 2.1Tersusunnya peraturan daerah tentang penatagunaan hutan dan reklamasi lahan. 3.1Tersedianya informasi data kehutanan yang lengkap dan akurat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 83 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Penyusunan neraca sumberdaya hutan. 5) Penyusunan pola rehabilitasi lahan dan konservasi tanah DAS Solo dan DAS Brantas secara terpadu. 6) Reevaluasi fungsi kawasan hutan. 7) Pengukuhan dan penataan kawasan hutan. 8) Review rencana umum kehutanan. 4.1Tersusunnya buku Neraca Sumberdaya Hutan. 5.1Tersusunnya pola rehabilitasi lahan dan

konservasi tanah DAS Solo dan DAS Brantas secara terpadu. 6.1Tersusunnya fungsi kawasan hutan sesuai standar dan kriteria. 7.1Terlaksananya pengukuhan dan penataan kawasan hutan. 8.1Tersusunnya rencana umum kehutanan sesuai dengan kebutuhan. b. Pengamanan dan pengendalian peredaran hasil hutan. 1) Peningkatan kinerja dan penertiban penatausahaan hasil hutan. 1.1Meningkatnya kinerja dan penertiban penatausahaan hasil hutan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 84 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Peningkatan SDM Penerbit Dokumen, Pemeriksa dan Penguji Kayu serta Pengawas Penguji. 3) Pengendalian Pungutan Provisi Sumberdaya Hutan dan PAD bidang kehutanan. 4) Pembinaan, Pengamanan dan Perlindungan hutan dan hasil hutan. 5) Pengawasan peredaran hasil hutan terpadu. 6) Pengembangan infrastruktur pengamanan hutan dan pengendalian peredaran hasil hutan. 2.1Tersedianya SDM Penerbit Dokumen, Pemeriksa dan Penguji Kayu serta Pengawas Penguji 3.1Tertib dan lancarnya

pungutan dan setoran Provisi Sumberdaya Hutan dan PAD bidang kehutanan. 4.1Terwujudnya pembinaan, pengamanan dan perlindungan hutan dan hasil hutan. 5.1Terkendalinya peredaran hasil hutan secara terpadu. 6.1Tersedianya infrastruktur pengdmanan dan pengendalian peredaran hasil hutan. c. Memanfaatkan hutan bersama masyarakat sekitar hutan. 1) Pembinaan, pengembangan, pemeliharaan hutan rakyat. 2) Pengembangan aneka usaha kehutanan. 1.1Berkembangnya dan terpeliharanya hutan rakyat. 2.1Berkembangnya aneka usaha kehutanan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 85 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pemanfaatan lahan di bawah tegakan (wanafarma/wanatani) kawasan hutan. 4) Pengembangan hutan di Kawasan Selatan Jawa Timur (KSJT). 5) Pengembangan pengelolaan hutan bersama masyarakat. 3.1Optimalnya pemanfaatan lahan dibawah tegakan. 4.1Meningkatnya produktivitas lahan di luar dan di dalam kawasan hutan. 5.1Terwujudnya pengelolaan hutan bersama masyarakat. d. Intensifies! hasil hutan. 1) Peningkatan efisiensi produksi hasil hutan. 2) Peningkatan tertib penatausahaan hasi! hutan.

3) Pelayanan informasi harga pasar hasil hutan. 4) Pemberdayaan UPT Peredaran Hasil Hutan. 1.1Meningkatnya efisiensi produksi hasil hutan. 2.1Meningkatnya tertib penatausahaan hasil hutan. 3.1Tersedianya informasi harga pasar hasil hutan. 4.1Meningkatnya kinerja UPT Peredaran Hasil Hutan yang berbasis bisnis dan pelayanan umum. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 86 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 9. Pengembangan Usaha Perkebunan Rakyat Dinas Perkebunan Program Pengembangan Perkebunan Usaha Perkebunan a. Penetapan standar minimal peiayanan dalam bidang perkebunan yang wajib dilaksanakan oleh Kab/Kota. 1) Persiapan penetapan standar peiayanan minimum bidang perkebunan. 2) Fasilitasi pembangunan bidang perkebunan. 1.1Tersedianya fasilitasi penetapan Standar Peiayanan Minimal bidang perkebunan. 2.1Tersusunnya perencanaan pembangunan bidang perkebunan. b. Menyediakan bibit/benih unggul perkebunan serta faktor-faktor penunjangnya. 1) Pengembangan tebu varietas unggul hasil penelitian. 2) Pengembangan benih unggul

tembakau, wijen, kelapa kopyor, dan kapas. 3) Diseminasi benih unggul hasil penelitian. 1.1Tersedianya bibit tebu unggul. 2.1Tersedianya benih unggul. 3.1Tersosialisasinya benih unggul hasil penelitian. c. Perwilayahan areal perkebunan lintas Kab/Kota. 1) Pengembangan kawasan industri masyarakat perkebunan. 1.1Terbentuknya kawasankawasan pengembangan perkebunan lintas Kab dan Kota. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 87 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pengembangan komoditi perkebunan melaiui pola hutan kemasyarakatan. 2.1Terwujudnya pembangunan perkebunan di luar kawasan hutan. d. Pengamatan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman perkebunan. 1) Pengamatan dan pengendalian Organisme Penggangu Tanaman (OPT) perkebunan. 1.1Terkendalinya OPT perkebunan. e. Promosi komoditi ekspor perkebunan. 1) Promosi dan publikasi komoditi perkebunan. 1.1Meningkatnya investasi dan devisa hasii ekspor komoditi perkebunan. f. Pemberdayaan petani kebun dalam penerapan teknologi

dan pemanfaatan informasi pasar. 1) Akselerasi peningkatan produktifitas tebu. 2) Intensifikasi Tembakau Bawahan Naungan (TEN). 3) Gelar teknologi usaha komoditi perkebunan. 4) Pengembangan informasi pasar komoditi perkebunan. 1.1Meningkatnya produktivitas tebu. 2.1Meningkatnya produktivitas Tembakau Bawah Naungan. 3.1Tersosialisasinya teknologi usaha komoditi perkebunan. 4.1Tersedianya informasi pasar komoditi perkebunan bagi para petani dan pelaku usaha di bidang perkebunan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 88 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Pemberdayaan petani perkebunan. 6) Kajian usaha agribisnis komoditi perkebunan. 5.1Meningkatnya kemampuan petani dalam mengelola usaha perkebunan. 6.1Tersusunnya model usaha agribisnis yang paling sesuai di bidang perkebunan. g. Perlindungan plasma nutfah dan komoditas unggulan perkebunan. 1) Identifikasi, pelestarian dan pengembangan Blok Penghasil Tinggi (BPT) Kelapa. 1.1Berkembang plasma nutfah komoditas kelapa. 10. Pengembangan Sumber Daya, Sarana, dan Prasarana Kelembagaan Perkebunan

Dinas Perkebunan Program Pengembangan Sumber Daya, Sarana dan Prasarana Kelembagaan Perkebunan a. Optimalisasi dan pengembangan pemanfaatan sarana/prasarana perkebunan. 1) Peningkatan pemanfaatan sarana/ prasarana perkebunan. 2) Optimalisasi Balai Benih, dan laboratorium proteksi tanaman perkebunan. 3) Pengembangan kebun pestisida nabati. 1.1Meningkatnya pemanfaatan sarana/prasarana perkebunan. 2.1Meningkatnya kinerja Balai Benih Perkebunan. 3.1Meningkatnya kualitas kebun pestisida nabati. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 89 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pemberdayaan DPT Perkebunan. 4.1Meningkatnya kinerja UPTyang berbasis bisnis dan pelayanan umum. b. Memberi bantuan peralatan untuk penanganan pasca panen. 1) Bantuan peralatan pengolahan hasil perkebunan. 1.1Tersedianya peralatan pengolahan hasil perkebunan bagi petani. 11. Program Pembangunan Industri Kecil dan Menengah Dinas Perindag, Biro Perekonomian Program Pembangunan Industri Kecil dan Menengah a. Integrasi Data Base UKM,

IKM, PKM. 1) Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) industri. 2) Fasilitasi pembinaan Industri dan Perdagangan. 3) Penyediaan dukungan pemutakhiran data industri dan perdagangan pada Pusat Pelayanan Informasi Bisnis (PPIB). 4) Pemetaan lokasi industri segmentasi dan spesialisasi produk industri. 1.1Meningkatnya pelayanan informasi dan promosi. 2.1Meningkatnya keterpaduan pembangunan Industri dan perdagangan. 3.1Meningkatnya pelayanan perolehan data Indag dan sarana pendukung program indag. 4.1Meningkatnya ketersediaan data lokasi, segmentasi, spesialisasi produk industri. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 90 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Penyusunan Profil Komoditi dan Profil Desain Pengembangan Balai Pelayanan. 6) Penyusunan zona industri. 7) Pengembangan networking informasi dan database. 8) Penataan dan Penguatan Struktur Industri. 9) Pengembangan klaster industri. 10)Penyusunan Rencana Induk Pengembangan Industri dan Perdagangan (RIPP INDAG). 5.1Meningkatnya kuantitas komoditi yang diterima pasar dan mendorong peningkatan kinerja Balai. 6.1Meningkatnya pelayanan

pada pelaku usaha berupa fasilitas tata ruang zone industri dan wilayah pusat pengembangan industri. 7.1Meningkatnya pemanfaatan fasilitas informasi industri. 8.1Meningkatnya strata industri secara berjenjang dan terwujudnya struktur industri. 9.1Meningkatnya penerapan model klaster komoditi industri. 10.1Meningkatnya pelayanan terhadap pelaku industri dan perdagangan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 91 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Bantuan Sarana dan Prasarana Pendukung Industri Rumah Tangga, Kecil dan Menengah. 1) Pengembangan sarana prasarana aplikasi teknologi pengolahan. 2) Peningkatan legalitas usaha industri, 3) Pengembangan Agroindustri. 4) Bantuan pengembangan sarana usaha industri. 5) Pemberdayaan Balai Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) dunia usaha industri dan perdagangan. 6) Pemberdayaan unit industri kecil di daerah-daerah yang masuk penanganan program GERDUTASKIN. 7) Peningkatan dan Pengembangan produk garam rakyat. 1.1Meningkatnya kapasitas, kualitas serta pemanfaatan, penguasaan industri pengolahan. 2.1Meningkatnya aspek legalitas usaha pada

komunitas industri. 3.1Meningkatnya usaha IKM yang berbasis bahan baku pertanian. 4.1Tersedianya sarana usaha Industri. 5.1Meningkatnya kinerja Balai Diklat Industri dan perdagangan. 6.1Meningkatnya daya usaha masyarakat industri kecil miskin di lokasi desa miskin. 7.1Meningkatnya kualitas dan kuantitas garam rakyat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 92 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 8) Penguatan peralatan/teknologi produksi IKM. 8.1Meningkatnya kapasilas produksi dan jangkauan pasar. c. Melaksanakan Riset Pasar untuk mengetahui Regulasi, Perilaku Pasar dan Karakter Pasar sehingga tersedia Peta Pasar. 1) Peningkatan kemitraan produkproduk industri. 2) Optimalisasi peiayanan di bidang ekspor-impor untuk komoditi industri. 3) Pemetaan potensi pasar dan daya saing produk ekspor komoditi industri. 4) Peningkatan implementasi sistem distribusi hasil industri. 1.1Meningkatnya hubungan keterkaitan Industri 2.1Meningkatnya peiayanan di bidang ekspor-impor untuk komoditi industri. 3.1Meningkatnya pangsa pasar dan kualitas produk ekspor

komoditi industri. 4.1Meningkatnya distribusi barang hasil industri. d. Bantuan Fasilitas Diversifikasi dan Peningkatan Kualitas serta Desain Produk dalam rangka Pengembangan Pasar yang berorientasi ekspor. 1) Peningkatan dan pengembangan kualitas SDM industri. 2) Pengawasan, pengendalian dan penanggulangan limbah akibat kegiatan industri dan perdagangan. 1.1Meningkatnya kualitas SDM industri. 2.1Meningkatnya pengawasan, pengendalian dan penanggulangan limbah industri dan perdagangan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 93 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Penerapan SNI, ISO, Hazard Analysis Control Critical Point (HACCP), standarisasi lingkungan, HaKI, pada produk industri. 4) Peningkatan diversifikasi produk, 5) Pengembangan Lembaga Sertifikasi Produk (LSP) baik produk dalam negeri maupun ekspor. 6) Peningkatan kerjasama Luar Negeri di bidang industri. 7) Penyediaan dukungan fasilitas produksi dikawasan industri untuk komoditi ekspor. 8) Fasilitasi pelayanan peningkatan kualitas, desain, dan Sertifikasi komoditi industri ekspor. 3.1Meningkatnya penerapan SNI, ISO, HACCP,standarisasi dan pemanfaatan HaKI. 4.1Meningkatnya keaneka

ragaman produk industri. 5.1Meningkatnya peiayanan sertifikasi industri. 6.1Meningkatnya jaringan dan pasar komoditi industri ekspor melalui kerjasama Luar Negeri di bidang industri. 7.1Meningkatnya fasilitas pendukung proses produksi industri untuk kebutuhan ekspor. 8.1Meningkatnya kualitas, desain dan sertifikasi komoditi industri ekspor. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 94 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 9) Pelatihan, promosi dan pernberia.n konsultasi kepada pelaku dan pembina ekspor komoditi industri. 10)Pengembangan produk unggulan industri sesuai potensi Iokal. 9.1Meningkatnya kualitas SDM pelaku dan pembina usaha industri. 10.1Meningkatnya produk unggulan industri yang berdaya saing tinggi. e. Optimalisasi Unit Pelayanan Teknis (UPT). 1) Pemberdayaan Balai Pelayanan Teknik (BPT) Industri. 2) Peningkatan standarisasi peralatan dan pengelolaan Balai Pelayanan Teknik Jasa Produksi. 1.1Meningkatnya kinerja Balai Pelayanan Teknik (BPT) Industri, yang berbasis kewirausahaan / bisnis dan peiayanan umum. 2.1Meningkatnya kinerja Balai Pelayanan Teknik Jasa Produksi.

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 95 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 12. Program Penciptaan Iklim Usaha Dinas Koperasi dan PKM Dinas Perindag Biro Perekonomian Program Penciptaan Iklim Usaha a. Inventarisasi dan penyempurnaan regulasi, birokrasi dan retribusi serta upaya penegakan hukum dan perlindungan usaha terhadap persaingan yang tidak sehat. 1) Peningkatan investasi masyarakat dan swasta 2) Fasilitasi penyederhanaan proses tata niaga barang dan jasa komoditi tertentu. 3) Sosialisasi kebijakan perdagangan. 4) Penyusunan Zona Perdagangan. 5) Peningkatan sarana, prasarana dan standarisasi serta kalibrasi kemetrologian. 1.1Meningkatnya investasi masyarakat dan swasta dalam rangka peningkatan laju pertumbuhan ekonorni. 2.1Meningkatnya kelancaran tata niaga barang dan jasa komoditi tertentu. 3.1Meningkatnya kesadaran dunia usaha dalam melaksanakan peraturan perdagangan. 4.1Meningkatnya sistem perdagangan berorientasi global dan terkendalinya lalu-lintas barang dan jasa. 5.1Meningkatnya sarana dan prasarana kpmetrologian untuk peningkatan PAD.

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 96 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 6) Peningkatan kualitas SDM perdagangan. 7) Pemberdayaan Lembaga Periindungan Konsumen (LPK). 8) Pengembangan kemitraan Perdagangan. 9) Peningkatan akses pasar dan diversifikasi pasar dalam dan luar negeri. 5.2Meningkatnya kesadaran masyarakat dan pelaku usaha untuk tertib Ukuran, Takaran, Timbangan (UTTP) dan perlengkapannya. 6.1Meningkatnya pelayanan pada pelaku usaha perdagangan. 7.1Meningkatnya kinerja LPK. 8.1Meningkatnya hubungan kemitraan antar pelaku usaha. 8.2Meningkatnya kerjasama luar negeri di bidang perdagangan. 9.1Meningkatnya informasi dan jaringan pasar dalam dan luar negeri. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 97 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 10)Peningkatan pelayanan perdagangan. 11)Fasilitasi terbentuknya Jatim in Coorporated. 12)Pembedayaan Balai Kemetrologian dan Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah (P3ED).

13)Pemberdayaan Balai Pengujian Sertifikasi mutu barang atau (BPSM3). 9.2Meningkatnya kualitas dan daya saing produk dalam rangka menghadapi globalisasi. 9.3Meningkatnya peluang pasar ekspor dan komditi ekspor. 9.4Meningkatnya keanekaragaman pasar komoditi ekspor. 10.1Meningkatnya kualitas pelayanan di bidang ekspor impor, 11.1Meningkatnya kinerja stake holder pelaku usaha. 12.1Meningkatnya kinerja dan pelayanan Balai Kemetrologian dan Pusat Pelatihan dan Promosi Ekspor Daerah (P3ED). 13.1Meningkatnya kinerja dan pelayanan (BPSMB). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 98 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 14)Pembangunan Brand Image terhadap produk dalam negeri. 15)Pemanfaatan lembaga per.vakilan RI di luar negeri serta perwakilan asing di dalam negeri. 16)Fasilitasi pelaksanaan kebijakan pembangunan koperasi dan PKM. 17)Pengembangan Sistem Informasi (SIM) Koperasi dan PKM. 18)Penyusunan dan penyempurnaan regulasi koperasi dan PKM. 19)Peningkatan kinerja Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan Jatim Investment Fund (JIF). 20)Pengembangan produk unggulan daerah berbasis pasar. 14.1Peningkatan pemakaian

produksi dalam negeri. 15.1Meningkatnya pelayanan kepada pelaku usaha industri. 16.1Meningkatnya usaha koperasi dan UKM yang dinamis, harmonis dan berdaya saing. 17.1Meningkatnya sinkronisasi perencanaan program pembangunan Koperasi dan PKM serta meningkatnya pelayanan koperasi. 18.1Iklim usaha koperasi dan PKM yang kondusif. 19.1Meningkatnya kinerja BUMO dan dan Jatim Investment Fund (JIF). 20.1Meningkatnya ketersediaan produk unggulan daerah berbasis pasar. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 99 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 21)Fasilitasi peningkatan pelayanan transportasi. 22)Peningkatan dan pengembangan pariwisata. 21.1Meningkatnya pelayanan dan koordinasi dibidang transportasi. 22.1Berkembangnya usaha pariwisata b. Pemberian insentif untuk mengembangkan sistem dan jaringan lembaga pendukung PKM. 1) Pembinaan pasar modern dan pengembangan Pasar Lelang. 2) Optimalisasi klinik konsultasi standarisasi, ISO, HaKI, dan HACCP. 3) Pengembangan pasar spesifik. 4) Pengembangan Trading House.

5) Pengawasan peredaran barang dan jasa. 1.1Berkembangnya pasar modern dan terwujudnya pasar lelang. 2.1Meningkatnya legalitas dunia usaha 3.1Meningkatnya distribusi komoditi spesifik. 4.1Meningkatnya sarana Trading House pendukung eksport. 4.2Meningkatnya informasi jaringan pasar. 5.1Meningkatnya pengawasan peredaran barang dan jasa di pasaran. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 100 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Rencana Pembangunan tempat pameran (Fair Ground). 1) Perencanaan pengembangan tempat pameran (fair ground). 1.1Tersedianya tempat pameran produk produk unggulan daerah. 13. Program Peningkatan Akses Kepada Sumberdaya Produktif Dinas Koperasi dan Dinas Perindag, Bank Jatim, BPR Jatim. Program Peningkatan Akses Kepada Sumber daya Produktif a. Pemberian bantuan LKM serta iembaga keuangan sekunder untuk mendukung usaha mikro di tingkat lokal. 1) Fasilitasi pengembangan permodalan usaha mikro dan usaha kecil, KSP/USP, serta

Iembaga penjaminan kredit daerah. 2) Pengembangan sistem pelayanan usaha koperasi. 3) Pengembangan jasa bimbingan konsultasi. 1.1Meningkatnya modal kerja bagi usaha mikro, usaha kecii dar, koperasi. 2.1Meningkatnya kualitas dan kinerja pelayanan Koperasi. 3.1Berkembangnya jasa bimbingan konsultasi dan audit KSP/USP koperasi. 3.2Tersedianya data harga mutakhir untuk analisis pasar (in House konsultan). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 101 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Peningkatan kemampuan pembiayaan masyarakat berbasis akses dan skema global. 4.1Meningkatnya kemampuan pembiayaan IDKM berbasis akses dan skema global. b. Memfasilitasi perluasan peran modal ventura, dukungan sistem insentif bagi investor asing yang melakukan penyertaan modal pada usaha modal ventura, dan pengembangan incustri sewa beli. 1) Sosialisasi dan pembinaan Pembiayaan modal ventura. 2) Peningkatan aksesibilitas modal swasta dalam penyertaan modal ventura melalui kemitraan dan pemberian insentif. 1.1Meningkatnya hubungan kemitraan dengan memanfaatkan modal ventura secara efektif dan

efisien. 2.1Meningkatnya peran modal swasta dalam penyertaan modal ventura melalui kemitraan sehingga terwujudnya peluang usaha dan lapangan kerja. c. Pemberian bantuan kepada lembaga penyedia jasa pengembangan usaha, teknologi, dan informasi. 1) Peningkatan dan pengembangan kemitraan usaha koperasi dan UKM dengan BUMN/BUMS. 1.1Meningkatnya peran koperasi dan UKM dalam kegiatan ekonomi lokal, regional dan nasional. 1.2Meningkatnya pola kemitraan usaha antar koperasi. PKM dan koperasi, PKM dengan BUMN/BUMS. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 102 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pemberdayaan SENKUKO, koperasi petemakan, perikanan, perkebunan dan koperasi kehutanan. 3) Promosi dan pengembangan produk unggulan usaha koperasi dan UKM. 4) Pengembangan waralaba. 2.1Meningkatnya hubungan kemitraan usaha antara produsen dengan koperasi. 2.2Meningkatnya kinerja kelembagaan koperasi di sektor usaha peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. 3.1Meningkatnya akses dan pangsa pasar produk unggulan.

4.1Meningkatnya jumlah waralaba. d. Penyelenggaraan pelatihan bagi UKM untuk penguatan kelembagaan. 1) Pemberdayaan lembaga pendidikan dan pelatihan perkoperasian dan UKM. 2) Peningkatan kualitas keanggotaan koperasi. 1.1Meningkatnya kuantitas dan kualitas SDM perkoperasian dan UKM. 2.1Meningkatnya jumlah lembaga koperasi yang sehat Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 103 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 14. Pengembangan Kewirausahaan. Dinas Koperasi dan PKM Biro Perekonomian Program Pengembangan Kewirausahaan a. Pemberian fasilitas dalam pengembangan inkubator bisnis dan teknologi terutama yang dikelola oleh dunia usaha/ masyarakat untuk mendukung pengembangan koperasi dan PKM. 1) Pengembangan inkubator bisnis dan teknologi untuk pemberdayaan dan penguatan PKM. 2) Peningkatan kualitas pengelolaan BDS Provider dan sentra UKM. 3) Peningkatan jaringan pemasaran usaha PKM. 4) Identifikasi kelembagaan dan usaha koperasi serta UKM 5) Pemberdayaan dan peningkatan usaha Koperasi, UKM dan IKM dan IKM dalam mengantisipasi pasar

global. 1.1Meningkatnya wirausaha baru dan berkembangnya PKM. 2.1Meningkatnya kualitas pelayanan BDS dan kinerja PKM di sentra UKM. 3.1Meningkatnya akses pasar bagi usaha PKM. 4.1Meningkatnya jumlah dan jenis koperasi serta teridentifikasinya UKM di Jawa Timur. 5.1Meningkatnya kualitas usaha Koperasi, UKM dan IKM. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 104 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Memfasilitasi tersedianya jaringan produksi dan distribusi meialui pemanfaatan teknologi informasi. 1) Pemanfaatan E-Commerce. 1.1Meningkatnya kinerja usaha meialui pengembangan Teknologi Informasi (ECommerce). c. Pelaksanaan pelatihan kewirausahaan. 1) Pelatihan , pemagangan dan pendampingan wirausaha dalam rangka pengembangan produk UKM. 2) Penciptaan wirausaha baru. 1.1Meningkatnya jumlah wirausaha dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas produk. 2.1Meningkatnya jumlah wira usaha baru. 15. Program Peningkatan Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri Badan Penanaman Modal

Biro Perekonomian Program Peningkatan Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri a. Perencanaan dan Regulasi terbentuknya Free Zone. 1) Fasilitasi East Java Integrated Industrial Zone (EJIIZ). 1.1Tersusunnya rencana kawasan industri terpadu. b. Inventarisasi dan penyempurnaan Peraturan yang kondunsif terhadap peningkatan investasi. 1) Fasilitasi pengembangan Penaman Modal Daerah. 2) Penyusunan Sistem Informasi Manajemen (SIM) peluang investasi. 1.1Meningkatnya peluang investasi. 2.1Tersedianya data potensi peluang investasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 105 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pengkajian peraturan dan kebijaksanaan teknis penanaman modal. 4) Peningkatan fasilitasi pelayanan perijinan PMA/PDMN. 5) Penyusunan profile investasi. 6) Pembentukan asosiasi pengusaha asing di Jatim. 3.1Teridentifikasinya peraturan dan kebijakan teknis penanaman modal. 4.1Terciptanya pelayanan perijinan yang lebih baik/lancar. 5.1Meningkatnya peluang investasi.

6.1Meningkatnya koordinasi pelaksanaan investasi. c. Melakukan Kerjasama dengan Pemerintah Kab/Kota dalam bidang Penanaman Modal. 1) Fasilitasi kerjasama bidang investasi lintas Kab/Kota. 2) Fasilitasi kemitrausahaan di bidang investasi. 3) Pengembangan potensi dan peluang investasi di vvilayah perbatasan. 1.1Meningkatnya kerjasama investasi. 2.1Meningkatnya kemitraan usaha dibidang investasi. 3.1Meningkatnya peluang investasi di wilayah perbatasan. d. Pelaksanaan pelatihan dalam penguatan kelembagaan dan profesional aparat. 1) Pengembangan dan pemberdayaan sumber daya manusia aparatur Kab/Kota dibidang penanaman modal. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 106 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pengadaan Sarana dan Prasarana untuk Pengolahan dan Penyuluhan Data Infonnasi. 3) Fasilitasi penyelesaian masalah investasi. 1.1Terciptanya tenaga profesional di bidang penanaman modal. 2.1Tersedianya Sarana dan Prasarana untuk Pengolahan dan Penyusunan Data informasi. 3.1Terciptanya iklim investasi yang kondusif. 3.2Terselesainya maselahmasalah

investasi di Jawa Timur. e. Pelaksanaan promosi Investasi. 1) Pengadaan Sarana dan Prasarana Promosi Penanaman Modal. 2) Pelaksanaan promosi investasi Dalam negeri dan Luar Negeri. 3) Promosi investasi di wilayah perbatasan dan Nusa Tenggara Timur (NTT). 1.1Tersedianya Sarana dan Prasarana Promosi Penanaman Modal. 2.1Meningkatnya Arus Invetasi Dalam Negeri dan Luar Negeri. 3.1Terwujudnya peningkatan investasi di wilayah perbatasan dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 107 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 16. Program Rehabilitasi, Peningkatan, Pembangunan Jalan dan Jembatan Dinas PU Bina Marga, Bappeprop, PT. Jasa Maga, Biro Administrasi Pembangunan. Rehabilitasi/Pemelih araan, Peningkatan serta Pembangunan Jalan dan Jembatan a. Rehabilitasi, pemeliharaan dan peningkatan jalan dan jembatan propinsi. 1) Fasilitasi pembangunan jalan dan jembatan. 2) Pemeliharaan jalan dan jembatan propinsi. 3) Peningkatan jalan dan jembatan propinsi.

4) Pembangunan jalan dan jembatan propinsi. 5) Peningkatan pengawasan pemanfataan jalan dan jembatan. 6) Pengembangan sumber daya manusia. 1.1Tersusunnya dokumen evaluasi dan perencanaan. 2.1Tercapainya target mantap kondisi jalan dan jembatan propinsi. 3.1Terlaksananya peningkatan jalan dan jembatan propinsi secara bertahap. 4.1Terlaksananya pembangunan jalan propinsi secara bertahap. 5.1Meningkatnya pengawasan pemanfaatan jalan dan jembatan. 6.1Meningkatnya kemampuan sumber daya manusia aparat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 108 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7) Penyediaan peralatan dan bahan jalan serta jembatan. 7.1Tersedianya peralatan dan bahan jalan serta jembatan. b. Menangani prasarana jalan dan jembatan propinsi yang rusak akibat bencana alam. 1) Penanganan kerusakan prasarana jalan dan jembatan propinsi akibat bencana alam. 1.1Berfungsinya kembali jalan dan jembatan propinsi yang rusak akibat bencana alam. c. Mengembangkan jaringan jalan di wilayah selatan Jawa Timur dan kawasan strategis potensial. 1) Penanganan jaringan jalan lintas

selatan Jawa Timur. 2) Penanganan jaringan jalan pada ruas-ruas strategis potensial. 1.1Terwujudnya jaringan jalan lintas selatan Jawa Timur secara bertahap tersebar di kabupaten Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember dan Banyuwangi. 2.1Terwujudnya jaringan jalan pada ruas-ruas strategis, potential dalam rangka mengatasi dan meningkatkan akses ekonomi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 109 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Melaksanakan kerjasana jalan bebas hambatan (TOL) dan jembatan dengan kab/kota swasta. 1) Kerjasama pembangunan jalan bebas hambatan (TOL). 2) Pembangunan jembatan nasional Surabaya Madura (SURAMADU). 1.1Terwujudnya kerjasama lanjutan dengan kab/kota dan swasta. 2.1Terwujudnya jembatan nasional Surabaya - Madura secara bertahap. 17. Program Pengembangan dan Pengelolaan Sarana, Prasarana Sumber Daya Air Dinas Pengairan, Bappeprop, Biro Adm. Pembangunan. Biro Hukum Bapedal Propinsi Pengembangan dan Pengelolaan Sarana, Prasarana dan Kelen bagaan

Sumberdaya Air a. Mengembangkan kelembagaan dan penyusunan standart pelayanan minimal di bidang pengairan. 1) Pemberdayaan kelembagaan pengairan. 2) Fasilitasi standar pelayanan minimal bidang pengairan. 1.1Terwujudnya kelembagaan pengairan yang efektif dan efisien. 1.2Berfungsinya kembali fasilitas sarana kelembagaan. 2.1Tersedianya konsep Standar Pelayanan Minimal bidang pengairan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 110 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Implementasi pembagian kewenangan pengelolaan sumberdaya air. 3.1Meningkatnya peran serta stakeholders dalam pengelolaan sumberdaya air. b. Survey dan perencanaan sumberdaya air. 1) Survey data hidrologi kuantitas dan kualitas sumberdaya air. 2) Survey Investigasi Desain (SID). 3) Penatagunaan sumberdaya air. 4) Penyusunan standard pengelolaan sumberdaya air. 1.1Tersedianya data base kuantitas dan kualitas sumberdaya air. 2.1Tersedianya dokumen perencana an pembangunan sarana dan prasarana sumberdaya air. 3.1Tersedianya rencana penata

gunaan dan zone sumberdaya air serta peruntukannya. 4.1Tersusunnya standart pengelolaan sumberdayaair. c. Melaksanakan pelatihan dan pengkajian di bidang pengelolaan sumberdaya air dan irigasi. 1) Pelatihan sumberdaya manusia aparatur pemerintah, masyarakat dan svvasta dan sosialisasi pengelolaan sumberdaya air dan irigasi. 1.1Meningkatnya kemampuan aparatur pemerintah, swasta dan masyarakat dalam pengelolaan sumberdaya air dan irigasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 111 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pengkajian kerjasama kemitraan pengelola sumberdaya air dan irigasi antara pemerintah, swasta dan masyarakat. 2.1Terwujudnya kerjasama dan peran serta masyarakat dan swasta dalam pengelolaan sumberdaya air dan irigasi. d. Membangun prasarana penyediaan air baku (waduk, bendungan, embung) dan jaringan irigasi bagi daerah kekurangan air. 1) Pembuatan/perbaikan embung, bendung, waduk dan ranu. 2) Pembangunan/perbaikan sumur pompa air tanah. 3) Perbaikan alat-alat berat. 1.1Meningkatnya ketersediaan air baku. 2.1Meningkatnya ketersediaan air baku.

3.1Tersedianya peralatan (alatalat berat) yang siap pakai. e. Normalisasi sungai dan memperbaiki jaringan irigasi, bendung/dam, saluran irigasi beserta bangunan pelengkapnya. 1) Perbaikan tangkis/ tanggul/ normaiisasi sungai. 2) Rehabilitasi/peningkatan dam/pintu air dan jaringan irigasi. 1.1Terkendalinya daya rusak air. 2.1Berfungsinya sistem jaringan irigasi air permukaan secara optimal. f. Membuat/memperbaiki chek dam dan sabo dam. 1) Perbaikan chek dam dan sabo dam dalam rangka konservasi sumberdaya air. 1.1Terciptanya konservasi sumberdaya air. g. Mengembangkan dan mengendaiikan pemanfaatan sumberdaya air. 1) Penataan dan pengawasan sempadan sumberdaya air. 2) Pengendalian pemanfaatan dan alokasi sumberdaya air. 1.1Meningkatnya fungsi sungai. 2.1Tersedianya alokasi dan perijinan pemanfaatan sumberdaya air. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 112 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Penyusunan Perda tentang peruntukan tanah pada sempadan sungai. 4) Pengendalian kualitas dan kuantitas air. 3.1Tersedianya landasan hukum untuk sempadan

sungai. 4.1Tersedianya air baku yang memenuhi standard kualitas dan kuantitas. h. Memperbaiki prasarana dan sarana pengairan yang rusak akibat bencana alam. 1) Penanganan kerusakan prasarana pengairan akibat bencana alam. 1.1Berfungsinya kembali prasarana pengairan yang rusak akibat bencana alam. i. Pengelolaan sarana dan prasarana sumberdaya air dan irigasi. 1) Pengelolaan sarana dan prasarana sumberdaya air dan irigasi di Balai PSAWS. 1.1Tercapainya pengelolaan, dan pemanfaatan sumberdaya air dan irigasi di 9 PSAWS secara optimal. 18. Program Pengembangan Fasilitas Lalu Lintas Jalan, Angkutan Penyeberangan dan Sistem Transportasi Dinas LLAJ, Dinas Perhubungan, Bappeprop, Biro Administrasi Pembangunan. Pengembangan Fasilitas Lalu-Lintai Jalan, Angkutan Penyeberangan da Sistem Transporta: a. Pengadaan, pemeliharaan dan peningkatan fasilitas lalu lintas jalan dan angkutan penyeberangan. 1) Pengadaan, pemasangan alat pengawasan dan pengaman lalu lintas jalan serta angkutan penyeberangan dan peningkatan kapasitas jembatan timbang. 1.1Tercapainya kondisi aman, mantap berlalu lintas dan keamanan angkutan penyeberangan dan Meningkatkan

kondisi kapasitas jembatan Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 113 2) Peningkatan pembinaan, pelayanan, pengelolaan, ketertiban, keselamatan dan fungsi pengawasan. 3) Penataan alur penyeberangan lintas Kab / Kota dan antar propinsi. 4) Pengembangan dan Peningkatan sarana dan prasarana Angkutan Sungai, Danau dan Penyeberangan (ASDP) 5) Pengembangan sarana dan prasarana Kereta Api Komuter. 6) Pengembangan informasi terpadu terminal bus aricar kota / propinsi. 7) Perencanaan manajemen dan rekayasa lalu lintas angkutan jalan. timbang secara bertahap. 2.1Tercapainya kondisi aman, mantap berlalu lintas dan keamanan angkutan penyeberangan dan kereta api. 3.1Tercapainya kondisi aman, mantap dan kelancaran terhadao angkutan penyeberangan. 4.1Tercapainya peningkatan sarana dan prasarana ASDP secara bertahap. 5.1Terwujudnya sarana dan prasarana Kereta Api Komuter Surabaya -Sidoarjo 6.1.Terwujudnya informasi terpadu terminal bus antar kota / propinsi. 7.1 Terkendalinya pemanfataan jalan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 114 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Pengembangan fasilitas

pelabuhan laut dan bandar udara. 1) Pengembangan dan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana angkutan laut 2) Pengembangan dan peningkatan fasilitas sarana dan prasarana angkutan udara perintis. 3) Peningkatan pelayanan, pengelolaan dan fungsi pengawasan angkutan laut dan udara. 4) Pengembangan bandara komersial Abdulrachman Saleh Malang, dan Bandara Juanda. 1.1Meningkatnya pelayanan pelabuhan laut di Jawa Timur secara bertahap, termasuk pengembangan pelabuhan laut di Bangkalan. 2.1Tersedianya fasilitas pelabuhan udara perintis di Banyuwangi, Pacitan, Sumenep dan Bawean. 3.1Tewujudnya kondisi aman, mantap, lancar pada angkutan laut dan udara. 4.1Terlaksananya pengembangan bandara komersiai Abdulrachman Saleh Malang, dan meningkatkan pelayanan Bandara Internasional Juanda. c. Perencanaan sistem transportasi darat dan laut. 1) Pengembangan sistem transportasi, pos dan telekomunikasi. 1.1Tersedianya dokumen perencanaan transportasi, pos dan telekomunikasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 115 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja

Instansi Pelaksana Program APBD 2) Fasilitasi pembangunan transportasi, pos dan telekomunikasi. 3) Peningakatan SDM aparat transportesi, pos dan telekomunikasi. 4) Peningkatan manajemen perencanan teknis perhubungan darat, laut, udcra, pos dan telekomunikasi 2.1Tercapainya keterpaduan pembangunan transportasi, pos dan telekomunikasi. 3.1Meningkatnya kualitas aparatur tsknis transportasi, pos dan telekomunikasi. 4.1Terwujudnya manajemen perencanaan teknis perhubungan darat, laut, udara, pos dan telekomunikasi. 19. Program Pengembangan Usaha Kepariwisataan Dinas Pariwisata. Kantor Perwakilan Program Pengembangan Usaha Kepariwisataan a. Mengintegrasikan kegiatan pengelolaan usaha pariwisata antar Kabupaten/ Kota, antar Propinsi dan antar Negara. 1) Pengembangan kawasan dan destinesi pariwisata antar daerah. 1.1Meningkatnya kuantitas kawasan periwisata terpadu. 1.2Meningkatnya kerjasama lintas kebupaten/kota, propinsi, negara. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 116 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Fasilitasi pengembangan

kepariwisetean antar Kabupaten/Kota, Propinsi dan Negara. 3) Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) pariwisata. 4) Kerjasama antar daerah, negara bidang pariwisata. 5) Kajian Potensi pariwisata . 6) Revisi Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah Propinsi Jawa Timur. 2.1Meningkatnya keterpaduan penyelenggaraan kepariwisataan antar Kabupaten/Kota, Propinsi dan Negara. 3.1Meningkatnya pelayanan informasi pada pelaku bisnis pariwisata. 4.1Meningkatnya kerjasama pariwisata antar daerah, negara. 5.1Meningkatnya penyediaan data potensi dan peluang bidang kepariwisataan. 6.1Meningkatnya pembinaan dan pengembangan pariwisata secara regional. b. Intensifikasi dan ekstensifikasi promosi pariwisata. 1) Peningkatan promosi dan pemasaran pariwisata regional, nasional dan intemasional. 1.1Meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan promosi dan meningkatnya jumlah wisatawan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 117 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Kajian Pasar Manca Negara, nusantara dan daya saing produk wisata. 3) Peningkatan sarana dan prasarana

pelayanan kepariwisataan. 4) Gelar makanan khas Jawa Timur. 5) Pemberdayaan anjungan Jawa Timur di TMII Jakarta sebagai salah satu "Show Window" Seni Budaya, Pariwisata, Kerajinan, Industri Kecil Jawa Timur. 2.1Meningkatnya segmen pemasaran pariwisata. 3.1Meningkatnya sarana prasarana informasi kepariwisataan. 3.2Meningkatnya pelayanan kepariwisataan Jawa Timur. 4.1Meningkatnya apresiasi pada makanan khas Jawa Timur. 5.1Meningkatnya kunjungan arus wisatawan ke Jawa Timur. 5.2Meningkatnya citra Jawa Timur sebagai salah satu tujuan wisata di Indonesia. 5.3Meningkatnya apresiasi seni budaya jawa timur. 5.4Meningkatnya potensi produk daerah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 118 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Pengkajian dan Pelatihan SDM Pariwisata. 1) Peningkatan kemampuan teknis dalam perencanaan pembuatan oaket wisata. 2) Pengkajian pengembangan SDM pariwisata. 3) Pelatihan peningkatan kualitas SDM kepariwisataan. 4) Pembinaan sadar wisata melalui pemberdayaan POKDARWIS di ODTW. 5) Pengembangan Wisata Remaja Nusantara.

1.1Meningkatnya keanekaragaman paketpaket wisata baru. 2.1Meningkatnya peluang lapangan kerja di bidang pariwisata. 3.1Meningkatnya kemampuan SDM kepariwisataan Jawa Timur. 4.1Meningkatkan kesadaran masyarakat di sekitar ODTW dalam mendukung pembangunan pariwisata di daerahnya. 5.1Meningkatnya gemar berwisata bagi para remaja. 5.2Terjalinnya hubungan remaja pariwisata berprestasi antar daerah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 119 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Pembinaan dan penataan obyek-obyek pariwisata lintas Kabupaten /Kota dan penyediaan sarana dan prasarana pendukungnya. 1) Pengembangan kemitraan bidang kepariwisataan. 2) Peningkatan kualitas sarana dan prasarana produk pariwisata unggulan. 3) Penataan lingkungan kawasan pariwisata. 4) Fasilitasi pengembangan dan pembangunan obyek wisata, usaha jasa, usaha sarana pariwiiata. 5) Pembinaan ODTW budaya. 1.1Meningkatnya hubungan kemitraan antar pelaku bisnis pariwisata. 2.1Meningkatnya kualitas sarana dan prasarana

produk pariwisata unggulan. 3.1Meningkatnya kualitas lingkungan kawasan pariwisata. 4.1Meningkatnya keterpaduan pengemasan ODTW . 4.2Meningkatnya kualitas pengelolaan usaha jasa pariwisata. 4.3Meningkatnya kualitas pengeloaan usaha sarana pariwisata. 5.1Meningkatnya minat dan apresiasi terhadap seni budaya khas Jawa Timur. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 120 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 6) Kajian pengembangan usaha jasa dan usaha sarana pariwisata . 7) Klasifikasi usaha akomodasi. 6.1Meningkatnya penyelenggaraan usaha jasa dan usaha sarana pariwisata . 7.1Meningkatnya usaha jasa akomodasi yang terklasifikasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 121 MATRIK KEBIJAKAN 3 PENERAPAN NILAI-NILAI AGAMA DALAM PERILAKU KEHIDUPAN BERMASYARAKAT, BERBANGSA DAN BERNEGARA Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 122 3. Kebijakan Penerapan Nilai-nilai Agama dalam Perilaku Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa dan Bernegara No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Pelayanan Kehidupan Umat Beragama Biro Kesra, Badan Perpustakaan, Dinas

Pendidikan dan Kebudayaan Biro Mertal Spiritual Pembinaan Pendidikan Agama a. Memberikan bantuan untuk pembangunan, rehabilitasi sarana dan prasarana peribadatan, dan kegiatan tempat ibadah. 1) Pembangunan dan rehab tempat ibadah. 1.1Meningkatnya sarana dan prasarana peribadatan. b. Mengoptimalkan fungsi dan peran tempat ibadah untuk bimbingan pelayanan keagamaan bagi masyarakat. 1) Pembinaan umat beragama. 2) Fasilitasi kegiatan ksagamaan. 3) Fasilitasi dan perlindungan kegiatan peribadatan agama. 1.1Meningkatnya kegiatan keagamaan. 2.1Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam kegiatan keagamaan. 3.1Terjaminnya kegiatan peribadatan umat beragama. c. Mengkoordinasikan Penyelenggaraan ibadah umroh dan ibadah haji. 1) Fasilitasi penyelenggaraan Haji dan Umroh. 1.1Meningkatnya kinerja pelayanan haji dan umroh dengan baik. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 123 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Memberikan penyuluhan dan bimbingan kerukunan hidup umat beragama. 1) Fasilitasi peningkatan kerukunan

intern dan antar umat beragama. 2) Pemberdayaan masyarakat dalam mempersatukan kegiatan kehidupan antar umat beragama dan tokoh masyarakat. 1.1Terwujudnya kerukuran hidup umat beragama. 2.1Meningkatnya kualitas kehidupan dan solidaritas antar umat beragama. e. Memberdayakan potensi zakat, infaq, sodaqoh. 1) Fasilitasi pelaksanaan zakat, infaq dan sodaqoh. 1.1Meningkatnya pelaksanaan zakat, infaq dan sodaqoh. f. Meningkatkan partisipasi pemuka-pemuka agama dan tokoh Masyarakat dalam pembangunan. 1) Fasilitasi peranan pemuka agama dan tokoh masyarakat. 1.1Meningkatnya peran tokoh masyarakat dan pemuka agama dalam pembangunan. g. Mengembangkan kesetiakawanan sosial dan bakti sosial intern dan antar umat beragama. 1) Peningkatan kesetiakawanan sosial dan bakti sosial antar umat beragama. 1.1Meningkatnya pemahaman dan toleransi antar-umat berbeda agama. 2. Pembinaan Pendidikan Agama a. Menyempurnakan materi pendidikan agams dengan memberikan tambahan bobot kehidupan nyata sehari-hari. 1) Peningkatan kompetensi guru-guru agama Madrasah, dan Ponpes. 1.1Meningkatnya kualitas pendidikan keagamaan yang mampu memberikan tambahan bobot kehidupan nyata.

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 124 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Memasukkan muatan lokal yang terintegrasi dalam mata pelajaran yang relevan dalam kurikulum pendidikan. 1) Peningkatan kompetensi Madrasah dan Pondok Pesantren yang berbasis muatan lokal. 1.1Meningkatnya muatan lokal dalam pendidikan di Madrasah dan Pondok Pesantren. c. Melakukan penataran guru agama dan penyetaraan D II dan D III guru agama. 1) Pembinaan guru agama. 2) Penyetaraan D-II dan D-III. 1.1Meningkatnya kualitas proses belajar mengajar. 2.1Meningkatnya jumlah guru agama setara D-II dan D-III. d. Menyempurnakan metode mengajar berikut sistem evaluasinya. 1) Penyempurnaan metode mengajar berikut sistem evaluasinya. 1.1Meningkatnya kualitas sistem belajar dan mengajar dan evaluasi belajar mengajar. e. Membantu penyelenggaraan Pesantren kilat dan sejenisnya. 1) Fasilitasi dan monitoring terhadap penyelenggaraan Pondok Ramadhan dan Pesantren kilat. 1.1Meningkatnya kualitas iman dan taqwa. f. Memberikan bantuan pelatihan keterampiian santri pondok pesantren. 1) Bantuan pelatihan dan sarana

penunjang bagi Pondok Pesantren. 1.1Meningkatnya kualitas kompetensi santri Pondok Pesantren. 2.1Tersedianya sarana penunjang pelatihan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 125 MATRIK KEBIJAKAN 4 PEMANTAPAN KESADARAN, BUDAYA DAN SUPREMASI HUKUM SERTA HAM Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 126 4. Kebijaksanaan Pemantapan Kesadaran, Budaya dan Supremasi Hukum serta HAM No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Program Implementasi Hukum dan HAM Biro Hukum, Biro Pemerintahan, Bakesbang, Kantor Polisi Pamong Praja, Dinas Infokom, Dinas P&K Program Perencanaan dan Pembentukan Hukum a. Membantu pelaksanaan pembinaan profesionalisme aparat hukum. 1) Fasilitasi peningkatan profesionalisme aparat hukum. 2) Fasilitasi pelatihan Polisi Pamong Praja dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil. 1.1Meningkatnya kinerja dan profesionalisme aparat hukum. 2.1Meningkatnya kinerja Pol PP dan PPNS. b. Melakukan pembinaan sistem informasi dan dokumentasi hukum. 1) Pengembangan jaringan informasi, dokumentasi, dan sosialisasi produk hukum. 2) Kodifikasi aturan-aturan hukum dalam pelaksanaan Undangundang

Otonomi Daerah. 3) Peningkatan kualitas pengelolaan perpustakaan. 1.1Meningkatnya kesadaran hukum di masyarakat melalui ketersediaan informasi hukum. 2.1Tersusunnya kodifikasi aturan-aturan hukum. 3.1Meningkatnya kuantitas dan kualitas pengelolaan perpustakaan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 127 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Meningkatkan pelayanan masyarakat di bidang hukum. 1) Fasilitasi peningkatan pelayanan informasi hukum. 2) Fasilitasi penyelesaian hukum kepada badanhukum dan perorangan. 1.1Meningkatnya kualitas pelayanan informasi hukum. 2.1Meningkatnya jumlah perkara yang dapat diselesaikan. d. Menyelenggarakan penyuluhan hukum dalam rangka meningkatkan kesadaran serta membudayakan hukum dan tertib hukum dalam rangka: (1) Terselenggaranya kegiatan penyuluhan dan pemberian informasi HAM yang teratur dan benar; 1) Penyuluhan dan sosialisasi masalah HAM. 1.1Meningkatnya wawasan dan / atau kesadaran masyarakat terhadap HAM. (2) Mendorong peningkatan peran masyarakat sesuai

konsepsi HAM; 1) Peningkatan kerjasama dengan perguruan tinggi dan LSM dalam rangka pendidikan HAM terhadap masyarakat rentan korban pelaku pelanggaran HAM. 1.1Meningkatnya wawasan masyarakat dalam menegakan HAM. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 128 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD (3) Terciptanya kesadaran masyarakat terhadap pelaksanaan dan pertindungan HAM; 1) Peningkatan advokasi terhadap pelaksanaan Hak Asasi Manusia (HAM). 1.1Berkurangnya pelanggaran HAM. (4) Menjunjung tinggi HAM pada penyelenggaraan negara / pemerintah dan masyarakat; 1) Peningkatan penyuluhan / sosialisasi HAM kepada aparatur pemerintah dan masyarakat. 1.1Meningkatnya wawasan dan implementasi HAM. (5) Memasukkan materi HAM dalam kurikulum pendidikan SLTA dan perguruan tinggi; 1) Penyusunan materi Hak Asasi Manusia (HAM) dalam kurikulum pendidikan. 1.1Tersusunnya kurikulum pendidikan tentana HAM. (6) Meningkatkan kualitas produk hukum. 1) Peningkatan kualitas produk hukum. 2) Penyerapan aspirasi masyarakat

dan pengkajian terhadap rancangan produk hukum daerah. 1.1Tersedianya produk-produk hukum yang berkualitas. 2.1Meningkatnya partisipasi dan aspirasi masyarakat dalam proses penyusunan produk hukum. 2.2Terkoordinasinya penyusunan produk hukum dengan Instansi terkait. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 129 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Penyusunan Peraturan Daerah dan perubahan produk hukum dalam rangka mendukung perekonomian daerah. 4) Pembinaan dan pengawasan pelaksanaan produk hukum. 3.1Tersusunnya Peraturan Daerah dan penyempurnaan produk hukum yang mendukung perekonomian daerah. 4.1Berkurangnya produk hukum yang tertentangan dengan peraturan perundangan undangan dan kepentingan umum. 2. Program Penegakan Hukum dan HAM Biro Hukum, Biro Pemerintahan & Otoda, Bakesbang, Kantor Polisi Pamong Praja, Badan Pengawas Program Peningkatan Kesadaran Hukum dan Budaya Hukum a. Membantu upaya pembinaan aparat penegak hukum. 1) Peningkatan pemahaman hukum

bagi aparat penegak hukum. 2) Fasilitasi kerjasama keamanan dengan TNI Polri. 1.1Meningkatnya pemahaman hukum bagi aparat 2.1Terciptanya keamanan den ketertiban di Jawa Timur. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 130 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Mengupayakan penegakan hukum secara konsisten. 1) Inventarisasi peianggaraan Peraturan Daerah. 2) Fasilitasi sosialisasi Peraturan Daerah 3) Melakukan operasi penegakan Peraturan Daerah dan peraturan pelaksanaannya. 4) Penyidikan pelanggaran terhadap Peraturan Daerah. 5) Inventarisasi kasus-kasus pelanggaran hukum yeng melibatkan aparatur pemerintah dan/atau berkaitan dengan aset Pemerintah Propinsi. 6) Peningkatan tugas bantuan/pertimbangan hukum. 1.1Tersedianya data pelanggaran Perda. 2.1Timbulnya kesadaran masyarakat terhadap penegakan Perda. 3.1Menurunnya tingkat pelanggaran masyarakat terhadap Perda. 4.1Terselesaikannya pelanggaran terhadap Perda. 5.1Teridentifikasinya kasuskasus pelanggaran hukum yang melibatkan aparat dan/atau yang berkaitan dengan aset Pemerintah Propinsi.

6.1Meningkatnya penyelesaian perkara melalui bantuan dan pertimbangan hukum. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 131 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Mendukung lembaga penegak hukum pemerintah (kepolisian, kejaksaan) dan PPNS. 1) Peningkatan kerjasama dengan Kepolisian, Kejaksaaan Tinggi dan Penyidik Pegawei Negeri Sipil (PPNS) serta Konsultan Hukum. 1.1Meningkatnya penyelesaian perkara dan penegakan hukum. d. Membangun hukum dalam upaya penegakan HAM. 1) Inventarisasi produk hukum yang menyimpang, bertentangan, atau tidak sesuai dengan HAM. 2) Pembinaan dan pengawasan produk hukum dan kebijakan produk hukum sesuai konvensi HAM. 3) Penyusunan produk hukum daerah dalam rangka mendukung HAM. (1) Teridentifikasinya aturanaturan hukum yang kurang mendukung, melanggar, dan bertentangan dengan HAM. (2) Meningkatnya efektivitas penerapan produk hukum sesuai konvensi HAM. (3) Meningkatnya kesadaran mengenai HAM. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 132 MATRIK KEBIJAKAN 5 PENINGKATAN PELAYANAN KESEHATAN, KESEJAHTERAAN SOSIAL, PERANAN PEMUDA DAN PEMBINAAN OLAH RAGA SERTA PENYETARAAN GENDER Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 133 5. Kebijakan Peningkatan Pelayanan Kesehatan, Kesejahteraan Sosial, Peranan Pemuda dan Pembinaan Olah Raga serta Penyetaraan Gender

No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Program Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan,Bapemas, Dinas Permukiman, Biro Kesra, PvSUD Propinsi, BKKBN, Dep. Agama, Dinas P &K, Program Pelayanan Kesehatan a. Meningkatkan peran masyarakat untuk menciptakan kualitas lingkungan yang bersih dan sehat sehingga akan menurunkan angka kesakitan, kematian, kecacatan, penyakit menular, dan tidak menular termasuk kesehatan gigi. 1) Penyebarluasan informasi kesehatan. 2) Peningkatan kepedulian, pembudayaan dan peran serta masyarakat terhadap Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). 1.1Meningkatnya persentase masy. & institusi memahami dan mengetahui program Kesehatan. 2.1Meningkatnya jumlah rumah yang memiliki jamban dan Seluran Pembuangan Air Limbah (SPAL) memenuhi syarat. 2.2Meningkatnya jumlah penduduk yang menggunakan air bersih. 2.3Meningkatnya persentase rumah tangga yg menerapkan PHBS Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 134 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004

Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Peningkatan hygiene sanitasi lingkungan perumahan, TempatTempat Umum (TTU), tempat pengelolaan makanan-minuman. 4) Pemantauan kualitas kesehatan lingkungan. 2.4Meningkatnya cakupan PHBS di institusi pendidikan (SD,SLTP,SLTA). 2.5Menigkatnya sarana / prasarana, dalam rangka pembinaan hidup sehat. 3.1Meningkatnya jumlah rumah penduduk, TTU, Tempat Pengelolaan Makanan yang memenuhi syarat kesehatan. 3.2Meningkatnya tempat pengelolaan pestisida yang memenuhi syarat kesehatan. 4.1Meningkatnya kualitas kesehatan lingkungan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 135 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Peningkatan pengawasan dan pengamanan dampak limbah Institusi Kesehatan dan Industri Farmasi. 6) Pengembangan Upaya kesehatan bersumberdaya masyarakat. 5.1Meningkatnya jumlah RS memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), pengelolaan sampah, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan Tempat Pembuangan Sementara (TPS) yang memenuhi syarat 5.2Meningkatnya jumlah Industri Farmasi dengan pengelolaan limbah

memenuhi syarat. 6.1Meningkatnya jumlah Posyandu Purnama Mandiri, Pos Upaya Kesehatan Kerja (UKK), Polindes, Pcskestren, Kwartir, Ranting Saba Bakti Husada. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 136 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7) Peningkatan pemenuhan kebutuhan sanitasi dasar masyarakat. 8) Peningkatan advokasi dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan lingkungan permukiman secara mandiri. 9) Peningkatan manajemen pengawasan dan pengamanan limbah institusi kesehatan dan industri farmasi serta manajemen informasi kesehatan lingkungan. 7.1Meningkatnya prosentase penduduk yang memanfaatkan air bersih. 7.2Menurunnya angka penyakit berbasis Hngkungan. 8.1Meningkatnya jumlah desa yang telah melakukan Methodologi Participatore Adjustment Participatore Hygiene and Sanitation Transformation (MPAPHAST). 8.2Meningkatnya prosentase desa mempunyai tim kerja Tim Kerja Masyarakat CTKM). 9.1Meningkatnya pengelolaan pengawasan dan pengamanan limbah pada institusi kesehatan dan industri farmasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 137 No

Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 9.2Meningkatnya jumlah Kabupaten yang melaksanakan SIM Kesehatan Lingkungan. b. Meningkatkan pelayanan kesehatan dasar, rujukan dan kesehatan penunjang. 1) Peningkatan kualitas pelayanan kesehatan dasar di Puskesmas. 2) Peningkatan pencegahan penyakit kesehatan anak dan ibu hamil. 3) Pemberantasan penyakit menular: langsung dan yang bersumber dari binatang. 1.1Meningkatnya kinerja Puskesmas di bidang pelayanan kesehatan dasar di daerah terpencil dan kawasan spesifik serta cakupan pelayanan bagi keluarga miskin. 2.1Meningkatnya derajat kesehatan anak dan ibu hamil. 2.2Terjaminya imunisasi yang aman, merata dan sesuai standar. 3.1Menurunnya penderita penyakit: rabies, pes, malaria, DBD, filaria, TB paru, diare, HIV, dan Annual Paracite Incidens (API). Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 138 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Peningkatan manajemen dan kualitas pelayanan kesehatan di rumah sakit serta peiayanan bagi keluarga miskin (Gakin).

5) Peningkatan kualitas pelayanan Kesehatan Penunjang. 6) Peningkatan Pelayanan Kesehatan Khusus. 7) Peningkatan manajemen pelayanan kesehatan ibu, anak dan anak pra sekolah. 4.1Meningkatnya jumlah RSyang terakreditasi. 4.2Meningkatnya Penelitian dan Pengembangan RS. 4.3Meningkatnya pelayanan kesehatan untuk pasien kelas III keluarga miskin di RSUD Propinsi. 4.4Meningkatnya Pelayanan Spesifik (Unggulan) di RS. 5.1Tersedianya sarana & prasarana serta SDM berkualitas pada pelayanan Kesehatan penunjang. 6.1Meningkatnya kualitas pelayanan kesehatan khusus. 7.1Meningkatnya kunjungan pemeriksaan kehamilan ke satu (Kl) s/d K4. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 139 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 8) Peningkatan pelayanan kesehatan penunjang, pengadaan medis bidan kit di desa. 9) Peningkatan Kesehatan Anak, Remaja dan Usia lanjut. 10)Peningkatan Usaha Kesehatan Sekoteh (UKS). 7.2Menurunnya angka kematian bayi dan berat bayi lahir rendah (BBLR). 7.3Meningkatnya pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan (Nakes). 8.1Meningkatnya kualitas

pelayanan kesehatan penunjang, pengadaan medis bidan kit di desa. 9.1Meningkatnya kualitas Kesehatan Anak dan Remaja di sekolah, Usia lanjut serta tersedianya sarana kesehatan yang memadai. 10.1Meningkatnya UKS di TK,SD/MI, SLTP/MTs SLTA/MA dan Ponpes. 10.2Tersediannya Media KIE UKS, bantuan Gizi, dan obat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 140 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Membina dan mengembangkan pengobatan tradisionai. 1) Pengembangan Program Pengobatan Tradisionai dan fasilitasnya. 2) Pengembangan Sentra Penerapan dan Pengembangan Pengobatan Tradisional (P3T). 1.1Meningkatnya jumlah penelirjan dan pengembangan jenis Obat tradisionai. 2.1Meningkatnya hasil kajian dan rekomendasi di sentra P3T, d. Meningkatkan pelayanan keluarga berencana dan kesehatan reproduksi dalam mendukung keluarga berkualitas. 1) Peningkatan mutu pelayanan KB dan kesehatan reproduksi remaja. 1.1Meningkatnya kualitas pelayanan KB dan menurunnya dampak negatif

bagi peserta KB. e. Melaksanakan pengamatan upaya terhadap kemungkinan terjadinya wabah penyakit menular sebagai pencegahan secara dini (survailens epidemiologi). 1) Pengamatan Penyakit & Kewaspadaan 'Dini, Penanganan Kejadian Luar Biasa (KLB) serta Bencana. 1.1Meningkatnya pengamatan dan kewaspadaan "Dini", dan penanganan KLB serta bencana. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 141 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1.2Tersedianya data epidemiologis penyakit menufar & tidak menular, faktor resiko, kejadian Tetanus (TN) dan campak serta populasi khusus dan juga data kesakitan, kematian. 1.3Terlaksananya survelans AFP sesuai dengan standar sertifikasi. f. Melaksanakan penancgulangan bencana dan bantuan kemanusiaan. 1) Penanggulangan Kerusuhan. 2) Pengembangan Safe Community. 1.1Tersedianya logistikdan pelayanan kesehatan di daerah bencana. 2.1Terpantaunya data kesakitan di daerah bencana. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 142 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005

REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD g. Melaksanakan kampanye tentang pengetahuan dan pemberantasan HIV/AIDS dan NAPZA bagi instansi, lembaga, dan masyarakat. 1) Pembinaan/pengendalian NAPZA dan HIV/AIDS serta pengelolaan sentra informasi keracunan. 1.1Meningkatnya penanggulangan penyalahgunaan NAPZA dan HIV/AIDS melalui proses penyuluhan dengan sasaran kelompok resiko tinggi, serta memperbanyak sentra-sentra rujukan bagi korban NAPZA dan HIV/AIDS. h. Penyebaran pengetahuan tentang keluarga berencana dan kesehatan reproduksi serta peningkatan partisipasi pria. 1) Desiminasi informasi kesehatan reproduksi. 2) Peningkatan partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi. 1.1Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan reproduksi. 2.1Meningkatnya partisipasi pria dalam kesehatan reproduksi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 143 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2. Program Perbaikan Gizi Masyarakat Dinas Kesehatan, Bappeprop, Biro Kesra, Badan Ketahanan Pangan.

Program Perbaikan Gizi Masyarakat a. Meningkatkan penyuluhan gizi masyarakat, menanggulangi kekurangan gizi, menekan kejadian gizi buruk pada balita, serta menanggulangi Kurang Energi Kronis (KEK) pada Wanita Usia Subur (WUS), ibu hamil, dan ibu nifas. 1) Meningkatkan penyuluhan gizi dan pada masyarakat dan pengembangan layanan gizi pada remaja. 2) Penanggulangan gizi kurang dan menekan kejadian gizi buruk pada WUS, ibu hamil, dan ibu nifas. 1.1Meningkatnya penyuluhan dan layanan gizi pada WUS, Bumil KEK dan Anak Usia Sekotah. 2.1Menurunnya prevalensi gizi kurang dan terpantaunya KEK pada WUS dan bumil dan ibu nifas. 2.2Meningkatnya pemberian Tablet Besi, Vitamin A, ASI Eksklusif. b. Melaksanakan penanggulangan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). 1) Penanggulangan GAKY dengan kapsul yodium. 2) Peningkatan penyuluhan garam beryodium pada masyarakat. 1.1Berkurangnya penderita GAKY dan menurunnya Prevalensi GAKY. 2.1Meningkatnya kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi garam yodium. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 144 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005

REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Meningkatkan keanekaragaman makanan (fortifikasi) dan keamanan pangan serta memantapkan pelaksanaan Sistem Ketahanan Pangan dan Gizi (SKPG). 1) Sosialisasi menu gizi seimbang dan bahan tambahan makanan. 2) Fasilitasi kinerja SKPG di semua tingkat Pemerintahan. 1.1Meningkatnya kesadaran tentang menu gizi seimbang dan kadarzi. 2.1Terselenggaranya Pemantauan KLB gizi. d. Membina dan mengembangkan tenaga gizi institusi. 1) Peningkatan pengetahuan dan kemampuan tenaga gizi di institusi. 1.1Meningkatnya kualitas SDM gizi institusi. Melaksanakan perbaikan gizi akibat dampak sosial, pengungsian dan bencana alam. 1) Bantuan pemberian makanan tambahan kepada kelompok rentan di daerah bencana. 1.1Tersedianya makanan tambahan di daerah bencana. 3. Program Obat, Makanan dan Bahan Berbahaya Dinkes Propinsi,Dinkes Kab./Kota, Dinas Diknas, Rumah SakiL Dinkes Propinsi, Dinas Perindag, Balai Besar POM Sby, Sentra P3.T., Badan POM, P4K, Balai Labkesda, Balai Materia Medika, BPNA. Program Obat, Makanan dan Bahan Berbahaya

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 145 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD a. Meningkatkan pengamanan bahaya penyalahgunaan Napza dan bahan berbahaya lainnya. 1) Pembinaan dan pengamanan produksi dan distribusi Napzaba. 2) Penyebarluasan informasi tentang bahaya penyalahgunaan Napzaba. 3) Pengembangan Sistem Informasi Monitoring & Evaluasi Napzaba (SIMEN). 4) Pengembangan Sentra Informasi Keracunan (SIKER). 1.1Terkendalinya produksi dan distribusi Napzaba. 2.1Meningkatnya kesadaran masyarakat tentang bahaya penyalahgunaan Napzaba. 3.1Meningkatnya jumlah Kab/Kota yang menerapkan SIMEN. 4.1Meningkatnya kualitas pelayanan keracunan. b. Meningkatkan Pengamanan dan Pengawasan makanan serta Bahan Tambahan Pangan (BTP). Pembinaan dan pengawasan produksi dan distribusi Makanan Minuman serta BTP, termasuk produsen makanan dan minurr.an industri rumah tangga (PM-IRT). 1.1Meningkatnya kesadaran dan pengawasan produksi dan distribusi BTP dan PMIRT. c. Meningkatkan pengawasan Obat, Obat tradisional, kosmetika, dan alat kesehatan termasuk pengawasan terhadap promosi / Iklan. 1) Pembinaan dan pengawasan

Obat, Obat tradisional, Kosmetika, AJat Kesehatan, Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga (PKRT) dan periklanannya. 1.1Meningkatnya kesadaran dan pengawasan produksi Obat, obat tradisional, kosmetika, alat kesehatan PKRT dan periklanan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 146 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Meningkatkan penggunaan Obat rasional dan menerapkan obat essensial serta mengembangkan obat asli Indonesia. 1) Pembinaan dan pengembangan penggunaan obat rasional, Obat Essensial dan Obat Asli Indonesia. 1.1Meningkatnya kemampuan dan ketrampilan petugas Kesehatan dan produsen obat. e. Meningkatkan penelitian pengembangan dan penggunaan Obat obat tradisionai. 1) Peningkatan penelitian, terhadap penggunaan Obat tradisional. 1.1Meningkatnya penelitian, pengembangan dan penggunaan jenis Obat tradisional. f. Meningkatkan dan membina Industri Farmasi. 1) Fasiiitasi pengelola Industri Farmasi. 1.1Meningkatnya pengelolaan Industri Farmasi. g. Meningkatkan mutu pengujian laboratorium astern dan pelayanan informasi POM serta mengembangkan

standar mutu obat & makanan. 1) Peningkatan pengujian mutu laboratorium bag! Produsen Makanan minuman Industri Rumah Tangga (PM-IRT) dim rangka sertifikasi. 1.1Meningkatnya Jumlah PMIRT yang mengikuti pengujian mutu dalam rangka sertifikasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 147 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4. Program Sumber Daya Kesehatan dan Manajemen Pembangunan Kesehatan Dinkes Propinsi, WI -Bapelkes, Depkes RI, BPDE, Organisasi Profesi, Biro Kesra, Bappeprop, Kanwil Agama, Disnaker, Biro Keuangan, UPT Dinkes, RSUD Propinsi. Program Sumber Days Kesehatan dan Manajemen Pembangunan, Program pemberdayaan Sumber daya, Program Sumber daya Kesehatan dan Manajemen a. Meningkatkan perencanaan dan pendayagunaan tenaga kesehatan. 1) Peningkatan ôTeknikal Asistensi" Rencana Kebutuhan Tenaga Kesehatan (RKTK) di UPT dan Dinkes Kab / Kota. 1.1Meningkatnya SDM yang mempunyai ketrampilan dalam mengelola data RTRK.

1.2Meningkatnya Kinerja (Performance Assesmant) pengelola data RTRK di institusi (Dinkes Kab/Kota dan UPT). b. Meningkatkan pendidikan dan latihan tenaga kesehatan. 1) Peningkatan kualitas institusi dan tenaga pendidikan kesehatan 1.1Meningkatnya tenaga kesehatan yang terakreditasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 148 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Rencana Tindak Program APBD 2) Peningkatan kualitas pelatihan teknis dan fungsional tenaga kesehatan serta kualitas Nakes. 3) Peningkatan ketrampilan pengelola administrasi kepegawaian, pengelola keuangan dan ketatausahaan. 4) Peningkatan SDM di bidang kesehatan. 2.1Meningkatnya kuaiitas pelatihan dan Nakes yang terakreditasi. 3.1Meningkatnya kinerja pengelola administrasi kepegawaian keuangan dan administrasi ketatausahaan. 4.1Meningkatnya kualitas dan kuantitas SDM. c. Mengembangkan sistem pembiayaan pra upaya. 1) Peningkatan pelaksanaan Jaminan Pemeliharaan Kesehatan Masyarakat (JPKM). 2) Peningkatan pembentukan lembaga pengelola JPKM dan dokter keluarga JPKM. 1.1Meningkatnya jumlah penduduk yang ikut JPKM/Dana Sehat/Asuransi

Kesehatan. 2.1Meningkatnya jumlah lembaga pengetola JPKM dan dokter keluarga JPKM. d. Mengembangkan sarana, dan prasarana pelayanan kesehatan (Yankes). 1) Peningkatan sarana/prasarana dan pelayanan kesehatan. 1.1Tersedianya sarana dan prasarana kesehatan sesuai dengan standart akreditasi kesehatan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 149 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD e. Mengembangkan program kebijakan kesehatan dan manajemen pembangunan Kesehatan. 1) Peningkatan Manajemen perencanaan bidang kesehatan. 2) Fasilitasi program kebijakan kesehatan antar Kab/Kota dan Propinsi. 3) Peningkatan manajemen dan fungsi kelembagaan Unit Pelayanan Teknis (UPT). 1.1Meningkatnya kinerja bidang kesehatan. 2.1Terselenggaranya fasilitasi program kebijakan bidang kesehatan di Kab/Kota dan Propinsi. 3.1Meningkatnya kinerja UPT. f. Mengembangkan Sistem Informasi Kesehatan (SIK). 1) Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Kesehatan (SIM-Kes). 1.1Meningkatnya pelayanan informasi bidang kesehatan. g. Mengembangkan iptek kesehatan. 1) Pengembangan Iptek di bidang

Kesehatan. 1.1Meningkatnya penelitian di bidang Kesehatan. 5. Program Peningkatan Kesejahteraan Sosial Disnaker, Bapemas, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, Bappeprop, Polri, LSM, Ormas, Perguruan Tmggi, Biro Kesra, Bakesbang, Dinas permukiman, Dinas Kependudukan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 150 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD a. Memberikan santunan kepada anak-anak teriantar, usia lanjut, penyandang cacat, tuna sosial, gelandangan, pengemis dan bekas narapidana, serta mendorong peran masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan mereka. 1) Pembinaan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan peningkatan pelayanan sosial. 2) Bantuan bagi lanjut usia, keluarga pahlawan/perintis kemerdekaan. 3) Bantuan dan perlindungan sosial bagi anak-anak,wanita dan lanjut usia korban tindak kekerasan. 4) Implementasi Rencana Aksi Propinsi (RAP) Komisi Perlindungan Anak Jawa Timur, 1.1Meningkatnya Kesejahteraan PMKS dan pelayanan Sosial. 2.1Meningkatnya kesejahteraan para keluarga pahlawan/perintis kemerdekaan dan lanjut usia.

3.1Terbentuknya Pusat Pelayanaan Terpadu untuk korban kekerasan terhadap perempuan dan anak . 4.1Meningkatnya kesadaran masyarakat dan Stake Holder akan ancaman tentuk-bentuk Pekerjaan terburuk anak, eksploitasi seksual komersial enak, perdagangan (Trafiking) perempuan dan anak. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 151 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Mendorong peran masyarakat dalam peningkatan kesejahteraan Sosial. 6) Bantuan sembako untuk masyarakat miskin dan organisasi kemasyaratan, 7) Pengkajian dan analisis masalahmasalah / kebijakan / program kesejahteraan sosial, 5.1Meningkatnya peran masyarakat dalam menangani Penyandang Masalah kesejahteraan Sosial (PMKS). 6.1Tersedianya kebutuhan sembako. 7.1Tersusunnya hasil kajian dibidang Kesejahteraan Sosial b. Memberikan pengetahuan dan ketrampilan kepada mereka yang berpotensi mdalui kegiatan pelatihan dan penyuluhan. 1) Peningkatan pelatihan dan kampanye kesejahteraan sosiai bagi masyarakat dan peran dunia usaha. 2) Bimbingan mental kesehatan

lingkungan. 1.1Meningkatanya peran serta dunia usaha dalam penanganan PMKS. 2.1Meningkatnya sikap mental masyarakat untuk hidup sehat baik fisik maupun lingkungannya. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 152 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Pemberdayaan Organisasi Sosiai, Karang Taruna, Relawan Sosiai dan Tenaga Kesejahteraan Sosial Masyarakat. 4) Pemantauan den pengawasan pelaksanaan pengumpulan uang, barang dan undian berhadiah. 5) Pemberdayaan fakir miskin dan perempuan penyandang masalah rawan sosial ekonomi. 6) Pelestanan nilai-nilai keperintisan, kepahlawanan dan kejuangan. 3.1Meningkatnya partisipasi ORSOS, Karang Taruna dan Relawan Sosiai dalam mewujudkan kesejahteraan sosiai masyarakat. 3.2Tersedianya tenaga pendamping pemberdayaan PMKS. 4.1Terkendalinya penyelenggaraan pengumpulan uang, barang dan undian berhadiah sesuai dengan ketentuan yang berlaku. 5.1Terlindunginya para wanita rawan sosiai ekonomi dari kemungkinan terjerumus dalam kehiduoan yang nista/tuna susila. 6.1Meningkatnya pelestarian nilai-nilai kepahlawanan sebagai salah satu dasar

usaha kesejahteraan sosial. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 153 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7) Fasilitasi pembengunan bidang kesejahteraan sosial. 7.1Meningkatnya penanganan Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosiai (PMKS). c. Memanfaatkan lahan yang ada di panti-panti sosial untuk kegiatan usaha produktif. 1) Pemberdayaan panti-panti sosial. 1.1Tersedianya sarana dan prasarana Panti. 1.2Meningkatnya kemampuan SDM Panti dalam manajemen dan pelayanan sosial. 1.3Meningkatnya peranan panti-panti sosial. 1.4Tersalur dan termanfaatkannya bantuan stimulan. 1.5Meningkatnya fungsi lahan UPT untuk kegiatan produktif. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 154 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Bantuan penanggulangan pengungsi Sampit, Palangkaraya, Kuala Kapuas, Ambon, Aceh, Timor-Timur dan Irian Jaya. 1) Penanganan pada tanggap darurat. 2) Penanganan secara permanen. 3) Pemberdayaan Satgas Penanggulangan Bencana.

1.1Terselamatkannya dan terlindunginya korban bencana dari resiko yang membahayakan kehidupannya. 2.1Meningkatnya keiancaran pemberian bantuan sarana dan prasarana dalam penanganan korban bencana alam/ pengungsi. 2.2Terwujudnya pemukiman kembali bagi pengungsi. 2.3Terwujudnya penanganan pengungsi melalui program transmigrasi (TSM/ Reguler) 3.1Terwujudnya kader/petugas yang mampu mengembangkan kesiapsiagaan terhadap penanggulangan bencana alam/pengungsi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 155 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pemulangan pengungsi. 3.2Meningkatnya kelancaran pemberian bantuan sarana dan prasarana dalam penanganan korban bencana alam/ pengungsi. 4.1Berkurangnya jumlah pengungsi. 6. Peningkatan Peranan Pemuda Biro Mental Spiritual, Dispora, Dinas-dinas a. Pendidikan Imtak, Akhlak, Moral dan Sikap Mental. 1) Peningkatan Imtak, Akhlak, Moral dan sikap mental anak dan remaja. 2) Fasilitasi pembinaan moral/akhlak generasi muda. 1.1Meningkatnya nilai Imtak, Akhlak, Moral dan Sikap Mental anak dan remaja. 2.1Meningkatnya moral/akhlak

generasi muda. b. Pelatihan kepemimpinan dan keterampilan generasi muda. 1) Pelatihan kepemimpinan dan ketrampilan generasi muda, OSIS, kepramukaan. 1.1Meningkatan nilai kepemimpinan dan keterampilan pemuda. c. Pengelolaan kegiatan pertukaran pemuda. 1) Pertukaran pemuda antar propinsi dan negara. 2) Pengiriman Duta Seni Pelajar se Jawa dan Bali. 1.1Meningkatnya hubungan pemuda antar propinsi dan negara. 2.1Meningkatnya kesadaran budaya nasional. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 156 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD d. Pelatihan manajemen, ketenagakerjaan, dan kewirausahaan. 1) Pelatihan manajemen, ketenagakerjaan, dan kewirausahaan bagi pemuda. 2) Fasilitasi Pengembangan manajemen sumber daya lokal pemuda 1.1Meningkatnya kemampuan kewirausahaan dan produktivitas pemuda. 2.1Meningkatnya kemampuan pemuda dalam mengelola sumber daya lokal. e. Pembinaan dan penyuluhan bahaya narkoba dan kesehatan reproduksi remaja meliputi seks, kehamilan, penyakit menular seksual, dan HIV/AIDS.

1) Fasilitasi pembinaan pemuda. 1.1Meningkatnya pemahaman akibat bahaya narkoba, penyakit menular serta kesehatan reproduksi remaja. f. Pengembangan kreativitas, bakat, penanaman cinta budaya bangsa, dan cinta tanah air. 1) Pengembangan kreativitas, bakat, penanaman cinta budaya bangsa, dan cinta tanah air. 1.1Berkembangnya kreativitas pemuda dalam pemahaman budaya bangsa dan cinta tanah air. g. Penghargaan pengembangan terhadap kepeloporan pemuda. 1) Pengembangan inovasi dan partisipasi pemuda dalam pembangunan. 1.1Meningkatnya peran dan kepeloporan pemuda dalam pembangunan. h. Peningkatan sarana dan prasarana pembardayaan generasi muda. 1) Peningkatan sarana dan prasarana pemberdayaan generasi muda. 1.1Meningkatnya sarana dan prasarana kepemudaan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 157 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD i. Mendorong peran pemuda sebagai sarjana penggerak ekonomi perdesaan. 1) Peningkatan peran pemuda sebagai sarjana penggerak ekonomi perdesaan. 1.1Meningkatnya peran pemuda sebagai penggerak ekonomi perdesaan.

j. Mendorong partisipasi organisasi kepemudaan dalam pembangunan. 1) Fasilitasi penyelenggaraan kegiatan ormas kepemudaan dalam pembangunan. 1.1Meningkatnya peran ormas kepemudaan dalam pembangunan. k. Mendorong peran pemuda dalam peningkatan keolahragaan. 1) Fasilitasi peran pemuda dalam peningkatan keolahragaan. 1.1Meningkatnya prestasi olahraga pelajar. 7. Pembinaan Olah Raga Dispora,. Biro Kesra. a. Peningkatan aktivitas olahraga di TK, SD, SLIP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. 1) Fasilitasi peningkatan aktivitas olahraga di TK, SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi. 1.1Meningkatnya Prestasi Olahraga. b. Peningkatan pernbibitan olahragawan dalam rangka peningkatan prestasi. 1) Fasilitasi Peningkatan pernbibitan olahragawan dalam rangka peningkatan prestasi. 1.1Meningkat dan terbinanya atiit-atiit olahraga. 1.2Meningkatnya fungsi sekolah sebagai wadah pembinaan olahraga. 1.3Meningkatnya prestasi olahraga antar sekolah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 158 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Peningkatan aktivitas pembinaan olahraga rnasyarakat yang

berkesinambungan untuk menunjang permasalahan olahraga sebagai landasan menuju peningkatan prestasi olahraga. 1) Fasilitasi pembinaan clahraga bagi Veteran, penyandang cacat. 2) Fasilitasi pembinaan olahraga tradisional 3) Pembudayaan olahraga di masyarakat. 1.1Meningkatnya partisipasi olahraga Masyarakat. 2.1Berkembangnya olahraga tradisional. 3.1Meningkatnya kegiatan berolahraga di masyarakat. d. Pengadaan dan peningkatan mutu tenaga pendidik, pelatih, pembina, dan penggerak olahraga. 1) Peningkatan kuantitas dan kualitas tenaga pendidik, pelatih, pembina dan penggerak olahraga. 1.1Meningkatnya kuantitas dan kualitas tenaga pendidik, pelatih, pembina dan penggerak olahraga. e. Pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana olahraga. 1) Fasilitasi pengadaan dan pemeliharaan sarana dan prasarana olahraga. 1.1Meningkatnya sarana dan prasarana olahraga. f. Peningkatan Sumber daya manusia (SDM) bagi para pengelola prasarana dan sarana olahraga. 1) Fasilitasi pembinaan dan pelatihan bagi para pengelola prasarana dan sarana olahraga. 1.1Meningkatnya kualitas SDM pengelola sarana prasarana olahraga. g. Pembenahan sistem pembinaan olahraga yang

dapat mencetak atlet-atlet berprestasi. 1) Fasilitasi pengembangan sistem keolahragaan dan organisasi kelolahragaan. 1.1Meningkatnya Prestasi atlit. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 159 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 8. Program Penyetaraan Jender Bapemas, Dinas / Instansi terkait, PSW, Organisasi Perempuan dan LSM, Biro Mental dan Spiritual. Penyetaraan Gender a. Meningkatkan kedudukan dan peranan perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bernegara. 1) Peningkatan kualitas perempuan dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan bernegara. 1.1Meningkatnya peranan perempuan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. b. Meningkatkan kualitas SDM untuk mencapai Kesetaraan dan Keadilan. 1) Fasilitasi untuk mencapai kesetaraan dan keadilan perempuan. 1.1Meningkatnya kemandirian perempuan. c. Melakukan pelatihan perempuan dalam bidang kewirausahaan. 1) Peningkatan pengetahuan dan ketrampilan perempuan. 2) Peningkatan ketrampilan pengelolaan Kelompok Usaha Bersama (KUB). 1.1Meningkatnya peran perempuan dalam

pengembangan ekonomi lokal. 2.1Meningkatnya pendapatan anggota Kelompok Usaha Bersama. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 160 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 3) Penelitian peningkatan peranan wanita dalam pengembangan sektor-sektor usaha di pedesaan. 3.1Tersusunnya hasil penelitian peningkatan peranan perempuan dalam pengembangan sektorsektor usaha di Pedesaan. d. Memberdayakan perempuan rawan sosial, ekonomi dan keluarga miskin. 1) Fasilitasi Pemberdayaan Perempuan menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2KSS). 1.1Meningkatnya peran aktif perempuan dalam program pemberdayaan kesejahteraan keluarga. 2.1Meningkatnya keterpaduan keterpaduan Pemberdayaan Perempuan menuju Keluarga Sehat dan Sejahtera (P2KSS). e. Meminimalisasi/menetralisasi nilai-nilai sosial budaya yang menghambat kemajuan perempuan. 1) Fasilitasi jaringan kerja perempuan. 1.1Terciptanya jaringan kerja dan peran perempuan dalam pembangunan. f. Penyebaran informasi tentang hak-hak serta perlindungan sosial bagi perempuan yang diperlakukan salah.

1) Sosialisasi Rencana Aksi Propinsi Penghapusan Kekerasan Terhadap Perempuan dan anak (RAP PKTP). 1.1Meningkatnya kesadaran akan tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 161 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD g. Sosialisasi perfindungan, penegakan HAM perempuan, serta membentuk jaringan informasi terhadap HAM perempuan dan tindak kekerasan. 1) Sosialisasi perlindungan dan penegakan HAM perempuan dan anak. 1.1Meningkatnya perlindungan dan pengakuan HAM bagi perempuan dan anak. h. Mengimplementasikan perlindungan hukum dan advokasi bagi perempuan. 1) Penguatan lembaga advokasi terhadap tindak kekerasan perempuan dan anak. 2) Fasilitasi pembentukan pusat pelayanan terpadu bagi korban tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. 1.1Meningkatnya kinerja lembaga advokasi perempuan dan anak 1.2Meningkatnya perlindungan hukum bagi perempuan dan anak. 1.3Terkendalinya perdagangan (trafiking) perempuan dan anak. 2.1Terwujudnya pusat pelayanan terpadu bagi

korban tindak kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 162 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD i. Memfasilitasi reinterpretasi ajaran agama yang berprospektif Gender. 1) Fasiiitasi pemahaman agama yang berperspektif Gender. 1.1Meningkatnya pemahaman agama yang berperspektif gender. j. Memperluas kesempatan kepada perempuan dalam pengambilan keputusan. 1) Peningkatan peranan perempuan dalam pengambilan keputusan. 1.1Meningkatnya Pengarusutamaan Gender. k. Meningkatkan peranan lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan untuk menuju Kesetaraan dan Keadilan Gender. 1) Pemberdayaan lembaga yang berbasis gender. 1.1Meningkatnya kinerja lembaga yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak. 1.2Terwujudnya jaringan kerja antara Organisasi Perempuan, LSM dan PSW dengan Birokrasi yang terpadu. l. Sosialisasi Kesetaraan dan Keadilan Gender. 1) Peningkatan pernahaman Guru Humaniora pada HAM dan Kesetaraan Gender. 1.1Meningkatnya peranan guru

yang mengajarkan HAM dan Kesetaraan Gender pada anak didik. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 163 MATRIK KEBDAKAN 6 PERLUASAN KESEMPATAN KERJA DAN PENGISIAN LAPANGAN KERJA YANG TERSEDIA Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 164 6. Kebijakan Perluasan Kesempatan Kerja Dan Pengisian Lapangan Kerja Yang Tersedia. No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 1. Program Penempatan TKI ke Mancanegara Dinas Tenaga Kerja, Biro Kesra, Dinas Infokom, BPS, Dinas Tenaga Kerja, Kab/Kota, Balitbang, Bappeprop. Ketenagakerjaan a. Membantu dan turut mempermudah proses pengiriman tenagakerja ke luar negeri berikut upaya secara optimal memberikan perlindungan hukum guna menjamin hak-hak TKI terutama dalam hubungannya dengan lembaga pengirim di Jawa Timur. 1) Fasilitasi proses penempatan tenagakerja Indonesia ke luar negeri. 2) Perlindungan hukum guna menjamin hak-hak TKI terutama dalam hubungannya dengan lembaga jasa penempatan TKI di Jawa Timur. 3) Optimalisasi fungsi dan kinerja counter kedatangan TKI di Bandara Juanda. 1.1Terwujudnya kelancaran proses penempatan tenaga kerja ke luar negeri.

2.1Terjaminnya hak - hak dan perlindungan TKI pada saat pra, penempatan dan puma penempatan. 3.1Terciptanya kelancaran kedatangan TKI. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 165 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD b. Peningkatan kualitas dan produktifltas tenaga kerja dengan berbagai jenis pilihan profesi sesuai bakat dan minat pendidikan dan pelatihan untuk membentuk tenaga terampil sehingga melahirkan tenaga siap pakai. 1) Peningkatan kualitas dan produktifltas tenaga kerja dari berbagai jenis pilihan profesi. 2) Pendidikan dan pelatihan (Diktat) calon TKI. 3) Penelitian tentang upaya peningkatan kualitas TKI dan TKW, melalui uji kompetensi baik teknis maupun bahasa negara tujuan. 1.1Meningkatnya kualitas dan produktivitas kerja. 2.1Tersedianya tenaga kerja yang terampil dan siap pakai. 2.2Meningkatnya kualitas tenaga ahli dan produkti vitas. 3.1Meningkatnya kualitas SDM TKI dan TKW. c. Peningkatan infofmasi bursa kerja untuk mempermudah mendapatkan kesempatan kerja bagi pencari kerja. 1) Pengembangan Sistem Informasi Manajemen (SIM) Bursa Kerja. 2) Peningkatan kerjasama dengan

perusahaan-perusahaan pengguna tenaga kerja. 3) Peningkatan kerjasama dengan lembaga pendidikan dan latihan kejuruan. 1.1Tersedianya informasi bursa kerja. 2.1Mudahnya mendapatkan kesempatan kerja. 3.1Terciptanya kesempatan kerja baru. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 166 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD d. Pengembangan peluang kerja di mancanegara (Hongkong, Jepang, Korea Selatan, Jerman, Eropa Barat dan USA) melalui peningkatan kompetensi dan kualitas SDM (tenaga terdidik) untuk mengisi peiuang pasar kerja sektor formal diluar negeri. 1) Pengembangan peluang kerja di mancanegara. 2) Kajian tentang sistem peiayanan penempatan tenaga kerja ke luar negeri. 3) Pembinaan/sosialisasi penempatan TKI ke Luar Negeri. 4) Peningkatan kerjasama dengan pengguna/agent di luar negeri. 5) Mengembangkan standarisasi dan sertifikasi kompetensi PJTKI dan TKI. 1.1Tersedianya peluang kerja di mancanegare. 2.1Meningkatnya kemudahan sistem pelayanan dalam pengiriman TKI. 3.1Terwujudnya pengiriman TKI ke Oalarn dan Luar Negeri (AKAN-AKAD) sesuai dengan prosedur yang

benar. 4.1Meningkatnya penawaran penempatan TKI di luar negeri khususnya sektor formal. 5.1Terciptanya standarisasi dan sertifikasi kompetensi tenaga kerja khususnya bagi TKI. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 167 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD e. Meningkatkan dan mengembangkan sistem pelayanan penempatan TKI ke luar Negeri secara terpadu dan terintegrasi dengan melibatkan instansi pemerintah/swasta dan masyarakat. 1) Pemberdayaan Sistem Administrasi Manunggal Satu Atap (SAMSAT) pelayanan TKI. 1.1Meningkatnya kinerja pelayanan SAMSAT. 2. Program Kerjasama Disnaker, Bappeprop, Kantor Perwakilan a. Kerjasama dengan Korea Federation of Small and Medium Business Association (KFSBA). 1) Kerjasama bidang ketenagakerjaan dengan lembaga keuangan luar negeri. 1.1Meningkatnya perolehan devisa negara. b. Kerjasama dengan Jepang dan Amerika Serikat. 1) Kerjasama bidang ketenagakerjaan der.gan lembaga luar negeri. 1.1Meningkatnya bantuan (technical assistance) untuk bidang ketenagakerjaan.

2.1Meningkatnya kerjasama dengan negara lain tujuan TKI. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 168 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD c. Menghidupkan kembali/ mengoptimalkan fungsi lembaga konsultan profesi dan informasi bursa kerja Propinsi Jawa Timur. 1) Fasilitasi lembaga konsultan profesi bidang tenaga kerja. 2) Pengembangan sistem informasi dan perencanaan tenaga kerja daerah. 1.1Meningkatnya peran lembaga konsultan bidang ketenagakerjaan. 2.1Meningkatnya sistem informasi ketenagakerjaandan perencanaan tenaga kerja daerah. 3. Program Ketenagakerjaan di Daerah Dinas Tenaga Kerja Biro Kesra a. Peningkatan kualitas dan produktifitas tenaga kerja dengan berbagai jenis pilihan profesi sesuai bakat dan minat pendidikan dan pelatihan untuk membentuk tenaga terampil sehingga melahirkan tenaga siap pakai. 1) Peningkatan kualitas dan produktivitas tenaga kerja. 2) Pembinaan SDM dalam rangka meningkatkan ketrampilan pencari kerja/pengangguran. 3) Pemasyarakatan nilai dan budaya produktif. 4) Pengembangan sistem, metode

peningkatan produktifitas dan tenaga ahli produktif. 1.1Meningkatnya kualitas dan produktivitas tenaga kerja. 2.1Terwujudnya tenaga kerja yang berkualitas dan trampil sesuai dengan kebutuhan pasar kerja dan kemandirian. 3.1Meningkatnya nilai dan budaya produktif di masyarakat. 4.1Meningkatnya produktifitas kerja. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 169 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD b. Peningkatan kerjasama dan informasi bursa kerja. 1) Perluasan lapangan kerja. 2) Kerjasama dengan Pemerintah Kabupaten/Kota dan Dinas Tenaga Kerja Kab/Kota se Jawa Timur. 3) Pengembangan Pola Job Market Fair (JMF). 4) Koordinasi penempatan tenaga kerja antar daerah (AKAD) dan antar tenaga kerja lokal (AKL). 1.1Meluasnya lapangan kerja. 2.1Meningkatnya hubungan kerjasama dengan instansi terkait di Kab/Kota untuk lebih mengoptimalkan koordinasi dan evaluasi bidang ketenagakerjaan. 3.1Mempermudah proses penempatan tenaga kerja. 4.1Terwujudnya tenaga kerja asal Jawa Timur ke Propinsi lain. c. Peningkatan kesejahteraan dibidang ketenagakerjaan. 1) Mengoptimalkan lembaga kerjasama Tripartit.

2) Pertindungan dan jaminan sosial guna menjamin hak-hak pekerja. 3) Pemantapan hubungan industrial. 4) Penyelesaian perselisihan hubungan industrial. 1.1Menurunnya tingkat gejolak pekerja di masyarakat 2.1Makin terlindungi dan terjaminnya tenaga kerja. 3.1Mantapnya hubungan industrial. 4.1Terlindunginya hak-hak pekerja/buruh. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 170 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 5) Penetapan Upah Minimum. 6) Peningkatan Keselamatan dan Kesehatan Kerja. 7) Penilaian zero accident bagi perusahaan. 8) Fasilitasi Pusat Pelayanan Terpadu korban kekerasan terhadap perempuan dan anak. 5.1Mencegah terjadinya degradasi upah di perusahaan. 6.1Menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan aman. 7.1Menurunnya kecelakaan kerja di perusahaan. 8.1Meningkatnyanya perlindungan bagi pekerja perempuan dan anak. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 171 MATRIK KEBIJAKAN 7 PEMANTAPAN PERAN MASYARAKAT DALAM PENYELENGGARAAN PEMERINTAHAN, PELAKSANAAN PEMBANGUNAN UNTUK PEMANTAPAN OTONOMI DAERAH, KEMUDAHAN PELAYANAN PUBLIK SERTA PERLUASAN INFORMASI DAN KOMUNIKASI Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 172 7. Pelaksanaan Pembangunan untuk Pemantapan Otonomi Daerah, Kemudahan Pelayanan Publik serta Perluasan Informasi dan Komunikasi No

Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 1. Program Aparatur Pemerintah dan Pengawasan a. Menyusun dan menetapkan peraturan daerah untuk mendukung seluruh kewenangan Propinsi. 1) Inventarisasi masalah - masalah yang perlu diatur melalui Perda. 2) Membuat kajian - kajian dalam rangka menyiapkan Draft Perda. 3) Fasilitasi pelaksanaan tugas dan kewenangan DPRD Propinsi selaku lembaga legislatif. 4) Fasilitasi peresmian keanggotaan dan pembentukan alat kelengkapan DPRD Propinsi hasil Pemilu 2004. 1.1Tersedianya data base tentang masalah-masalah yang periu diatur melalui Perda. 2.1Adanya naskah akademik untuk setiap rancangan Perda yang disusun. 3.1Terselenggaranya pelaksanaan tugas dan kewenangan DPRD Propinsi selaku lembaga legislatif. 4.1Terselenggaranya fasilitasi peresmian keanggotaan dan pembentukan alat kelengkapan DPRD Propinsi hasil Pemilu 2004. Biro Hukum, Biro Kepegawaian, Biro Pemerintahan dan Otoda, Bappeprop,, Bapemas, Badan Diktat, Badan Pengawas, Balitbang, Badan Arsip, Bakesbang, BPDE, Bakorwil, Dinas Kependudukan, Dispenda, Biro Organises!, Biro

Pertengkapan, Biro Umum, Biro AP, Biro Keuangan, Biro Kerjasama, Kantor Perwakilan, Sekretariat Dewan. 1. Program Peningkatan Kapasitas Aparat Pemerintah Daerah 2. Program Peningkatan Kapasitas Aparatur Administrasi Publik 3. Program Pendayagunaan Sistem Pengawasan. 4. Program Peningkatan kualitas Manajemen Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 173 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 5) Fasilitasi pembuatan draft Kewenangan terhadap penyelenggaraan Pemerintahan Desa di Kab/Kota sejatim. 6) Koordinasi kerjasama antar Pemerintah Propinsi, Propinsi dengan Kabupaten/Kota dan Propinsi, Kab/Kota dengan Pemerintah/Lembaga/Badan di Pusat 7) Menyediakan fasilitasi sarana dan prasarana aparatur. 4.2Terselenggaranya Administrasi peresmian pengangkatan dan pemberhentian keanggotaan DPRD Propinsi, Kab/Kota hasil Pemilu. 5.1Tersusunnya draft Kewenangan Pemerintah Desa di Kab/Kota se-Jatim. 6.1Terlaksananya kerjasama antar Pemerintah Propinsi,

Propinsi dengan Kabupaten/Kota dan Propinsi, Kab/Kota dengan Pemerintah/Lembaga/Badan di Pusat. 7.1Tercapainya efesiensi dan efektifitas kegiatan aparatur. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 174 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD b. Sosialisasi peraturan yang terkait dengan otonomi daerah, baik undang-undang, peraturan pemerintah, maupun peraturan daerah agar memiliki pemahaman yang sama. 1) Pelaksanaan sosialisasi peraturan yang terkait dengan otonomi daerah, baik undang undang, peraturan pemerintah maupun peraturan daerah. 2) Sosialisasi kebijakan pemerintah dan propins dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kab/Kota. 1.1Tersosialisasikannya peraturan yang terkait dengan otonomi daerah, baik undang-undang, peraturan pemerintah maupun peraturan daerah. 2.1Tersosialisasi kebijakan pemerintah dan propinsi dalam penyelenggaraan pemerintahan desa di Kab/Kota. c. Koordinasi dan sinkronisasf penyusunan program dan kegiatan baik yang menjadi tanggung jawab Kabupaten/ Kota, antar Kabupaten/Kota maupun Propinsi. 1) Penyusunan perencanaan

program pembangunan. 2) Peningkatan kualitas perencanaan ekonomi regional dan pengembangan wilayah, pemerintahan dan kemasyarakatan serta prasarana wilayah. 1.1Tersusunnya Dokumen Memorandum Anggaran (DMA) program. 2.1Memngkatnya kualitas kinerja perencanaan ekonomi regional dan pengembangan wilayah, pemerintahan dan kemasyarakatan serta prasarana wilayah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 175 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 3) Peningkatan kualitas mekanisme perencanaan tahunan daerah. 4) Pengembangan indikator perencanaan dan data base pembangunan regional. 5) Penerimaan studi banding/kunjungan kerja legislatif dan eksekutif propinsi dan Kab/Kota dan dari luar propinsi. 6) Penjaringan aspirasi masyarakat, evaluasi dan monitoring program perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. 7) Fasilitasi Koordinasi dan sinkronisasi pelaksanaan Otonomi Daerah . 3.1Meningkatnya kualitas proses perencanaan tahunan. 4.1Tersusunnya indikator perencanaan dan data base pembangunan regional. 5.1Terselenggaranya kerjasama antar aparatur

pemerintah daerah dan legislatif propinsi dan kab/kota dan propinsi lain. 6.1Meningkatnya kualitas proses perencanaan partisipatif. 7.1Terlaksananya kondisi dan sinkronisasi pelaksanaan Otonomi Daerah antara Pusat, Propinsi dan Kab/Kota. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 176 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 8) Koordinasi dan sinkronisasi pembangunan dengan Pusat, antar Kabupaten/Kota, antar Propinsi, dan Badan/Dinas/Lembaga. 9) Koordinasi pelaksanaan nubungan kerjasama dengan luar negeri. 10)Merumuskan kerjasama antarPemerintah Propinsi, Propinsi dengan Kab/Kota dan Propinsi dengan Lembaga/Badan. 7.2Terlaksananya monitoring dan evaluasi pelaksanaan kewenangan dan pendapatan asli daerah kab/kota. 8.1Terciptanya keterpaduan program pembangunan Propinsi dengan Kab/Kota, Propinsi Lain, Pusat dan Badan/Dinas/Lembaga. 9.1Mantapnya koordinasi pelaksanaan hubungan kerjasama dengan luar negeri 10.1Terlaksananya kerjasama antar-Pernerintah Propinsi, Propinsi dengan Kab/Kota dan Propinsi dengan Lembaga/Badan.

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 177 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 11)Melakukan kajian studi, penelitian dan pengembangan dibidang ekonomi dan keuangan; sumber daya alam dan teknologi; Kemasyarakatan; pemerintahan. 12)Fasilitasi pelaksanaan kajian, studi, penelitiar dan pengembangan dibidang program penelitian dan pengembangan. 11.1Tersedianya dokumen kajian study, penelitian dan pengembangan dibidang ekonomi dan keuangan; sumber daya alam dan teknologi; kemasyarakatan; pemerintahan, sebagai bahan masukan rumusan kebijakan. 12.1Terpadunya program penelitian dan pengembangan. d. Penataan organisasi tingkat staf, dinas teknis dan kelembagaan berikut dengan aset organisasi. 1) Evaluasi struktur organisasi birokrasi sesuai dengan kebutuhan. 2) Pengembangan sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (AKIP) dan Budaya Kerja. 1.1Tersusunnya organisasi birokrasi Pemerintah Propinsi yang ramping dan efisien. 2.1Terciptanya kinerja organisasi yang efisiensi, efektif, dan akuntabel. 2.2Terukurnya produktivitas aparatur dan organisasi.

Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 178 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 3) Peningkatan kualitas dan profestonalisme Aparatur Pemerintah mdalui pemantapan tugas pokok dan fungsi organisasi sesuai dengan pengkajian hasil analisis jabatan. 4) Peningkatan sistem pelayanan publik yang cepat, tepat, murah dan transparan. 3.1Tersusunnya analisis Jabatan unit terja perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur. 3.2Tersusunnya formasi jabatan dan kebutuhan pegawai pada masingmasing unit kerja, sesuai dengan hasil analisis jabatan dan anlisis beban kerja. 3.3Tedaksananya evaluasi dan fasilitasi pelaksanaan hasil analisis jabatan dan analisis beban kerja Propinsi dan Kabupaten/Kota. 4.1Terwujudnya sistem pelayanan publik sesuai dengan standart pelayanan minimal dan prinsip pelayanan prima. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 179 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 5) Peningkatan sarana dan prasarana pendukung kualitas pelayanan publik dan pemerintahan. 6) Peningkatan Pengelolaan dan

pelayanan kearsipan. 7) Pengamanan aset-aset daerah. 8) Fasilitasi peningkatan pelaksanaan Standar Pelayanan Minima! (SPM) Kab/Kota di Jawa Timur. 9) Revitalisasi asset-asset daerah. 10)Penyusunan sistem, mekanisme, prosedur dan standard. 5.1Tersedianya sarana dan prasarana penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik. 6.1Meningkatnya pengelolaan dan pelayanan kearsipan. 7.1Terinventarisasinya asetaset daerah. 8.1Meningkatnya pelayanan masyarakat. 9.1Tersedianya informasi tentang revitalises assetasset daerah. 9.2Meningkatnya daya guna asset-asset daerah. 10.1Tersusunnya sistem, mekanisme, prosedur dan standard tata kerja organisasi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 180 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Instansi Pelaksana Indikator Kinerja Program APBD 11)Memfasilitasi terwujudnya peningkatan pelayanan publik. 12)Menfasilitasi peningkatan kinerja organisasi. 10.2Tersusunnya sistem mekanisme, prosedur dan standard kinerja organisasi. 1.1Meningkatnya pelayan publik. 2.1Terwujudnya Akuntabilitas kinerja instansi Pemerintah. 12.2Terwujudnya kelompok Budaya Kerja. e. Penataan personil

pegawai/aparatur secara bertahap dan berlanjut untuk mencapai efektifitas dan efisiensi organisasi. 1) Peningkatan Sistem Informasi Kepegawaian (Simpeg). 2) Pelaksanaan kompetensi jabatan. 3) Penataan administrasi kepegawaian. 1.1Tersusunya data base kepegawaian. 1.2Tersusunnya sistem informasi kepegawaian. 2.1Tersusunnya standarisasi kompetensi kepegawaian. 3.1Tertibnya administrasi kepegawaian. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 181 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD f. Peningkatan sumberdaya aparatur melalui perencanaan dan pengembangan, pendidikan dan pelatihan teknis, fungsional, struktural dan pendidikan pelatihan kepemimpinan. 1) Peningkatan kualitas penyeiengcaraan Diklat aparatur melalui pengembangan profesionalisme aparatur penyelenggara pendidikan dan pelatihan. 2) Peningkatan kualitas perencanaan, evaluasi, dan pengembangan kediklatan. 1.1Terselenggaranya pembinaan dan peningkatan kualitas aparatur penyeienggara Dikiat secara berkesinambungan baik yang manajemen, teknis, maupun sikap dan perilaku. 2.1Tersusunnya rencana

program diklat aparatur yang berbasis kompetensi. 2.2Terselenggaranya pengembangan program dan penyelenggaraan diklat yang profesional dan terpadu. 2.3Tersedianya data kediklatan yang valid dan reliabel sebagai bahan perencanaan dan pengembangan diklat aparatur. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 182 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Peningkatan kompetensi teknis, kompetensi fungsional dan kompetensi kepemimpinan aparptur pemerintah di Jawa Timur, melalui penyelenggaraan diklat teknis, fungsional dan kepemimpinan yang profesional, terpadi dan berbasis kompetensi. 4) Peningkatan kompetensi tenaga pengajaran (widyaiswara) sebagai salah satu komponen penentu pencapaian tujuan instruksional diktat aparatur. 5) Peningkatan kualitas pelayanan diktat aparatur melalui pengembangan dan peningkatan kualitas dan kapasitas sarana dan prasarana kediklatan. 6) Fasilitasi peningkatan pendidikan bagi aparatur pemerintah. 3.1Terselenggaranya diklat teknis, fungsional dan kepemimpinan yang profesional, terpadu dan berbasis kompetensi. 4.1Tersedianya tenaga pengajar diktat yang memilikj kompetensi baik menyangkut content

expertise maupun transfer expertise. 5.1Tersedianya sarana dan prasarana kediklatan yang memadai baik secara kuantitas, kapasitas maupun kualitasnya. 6.1Terfasilitasinya SDM melalui sekolah S1, S2 dan S3. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 183 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7) Peningkatan koordinasi dan sinkronisasi penyelenggaraan diklat di Kab/Kota se Jawa Timur. 8) Peningkatan kapabilitas sistem informasi manajemen kediklatan aparatur. 9) Peningkatan Kerjasama dengan lembaga pemerintah maupun non pemerintah baik dalam negeri dan luar negeri. 7.1Terwujudnya hubungan yang harmonis, sinergis dan terpadu dalam penyelenggaraan diklat aparatur dengan Kab/Kota se Jawa Timur. 8.1Terwujudnya sistem informasi manajemen kediklatan aparatur yang online dengan aksesibilitas yang tinggi. 9.1Terselenggaranya hubungan kerjasama dalam rangka pengembangan program kediklatan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 184 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD

g. Peningkatan sistem pengawasan dalam memacu terciptanya kondisi aparatur pemerintah yang profesional dan bebas dari unsur KKN, serta menunjang terwujudnya pemerintahan yang solid, efektif, effisien, transparan dan bertanggung jawab 1) Peningkatan penanganan/penyelesaian hasil pemeriksaan dan pengawasan. 2) Pengembangan dan efektifitas sistem pengawasan penyelenggaran pemerintahan. 3) Penyusunan pemantauan dan pelaksanaan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT) 4) Peningkatan kualitas aparat pengawasan fungsional pemerintah. 5) Perencanaan dan evaluasi Pengelolaan Barang Daerah. 1.1Meningkatnya rasio penyelesaian kasus penyelewengan dan kerugian negara. 2.1Tersusunnya sistem pengawasan yang akuntable. 3.1Tersusunnya pemantauan dan pelaksanaan Program Kerja Pengawasan Tahunan (PKPT). 4.1Tersedianya aparat pengawasan fungsional pemerintah yang profesional. 5.1Tersusunnya sistem kontrol / pengendalian guna peningkatan efektifitas dan efisiensi pengetolaan barang/asset daerah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 185 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004

Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 6) Fasilitasi pelaksanaan tugas dan kewenangan DPRD Propinsi selaku lembaga kontrol daerah. 7) Peningkatan koordinasi, evaluasi dan pengawasan penyelengcaraan dekonsentras dan tugas pembantuan. 8) Penyusunan laporan penyelenggaraan pemerintahan sesuai PP Nomor 56 Tahun 2000. 9) Pembinaan dan koordinasi Notaris/Notariat PPAT dan Camat PPAT. 6.1Terselenggaranya tugas dan kewenangan DPRD Propinsi selaku lembaga kontrol daerah. 7.1Terpantaunya seluruh kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 7.2Terselenggaranya pelaksanaan kegiatan dekonsentrasi dan tugas pembantuan dan kebutuhan daerah. 8.1Terwujudnya laporan penyelenggaraan pemerintahan berdasarkan PP Nomor 56 Tahun 2000. 9.1Terselenggaranya pembinaan dan koordinasi terhadap Notaris/Notariat PPAT dan Camat PPAT dalam rangka tertib dan efektifitas pelayanan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 186 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 10)Inventarisasi dan klarifikasi aset bekas milik asing/Cina. 11)Fasilitasi peningkatan kinerja aparatur pemerintahan.

10.1Terinventarisasinya aset bekas milik asing/Cina seJatim 11.1Meningkatnya kualitas aparatur pemerintahan. h. Peningkatan perencanaan pembangunan yang melibatkan komponen masyarakat. 1) Sosialisasi Sistem Manajemen Perencanaan Pembangunan Partisipatif. 2) Penguatan kelembagaan masyarakat melalui kemitraan pemerintah dengan lembaga non pemerintah. 3) Mengembangkan forum komunikasi antara pemerintah dengan lembaga masyarakat, maupun antar-lembaga masyarakat dalam pengambilan keputusan publik. 4) Mengembangkan kemitraan lintas pelaku dalam kegiatan keswadayaan. 1.1Terlaksananya sosialisasi Sistem Manajemen Perencanaan Pembangunan Partisipatif. 2.1Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan 3.1Meningkatnya keterlibatan masyarakat dalam proses pengambiian kebijakan publik. 4.1Terjalinnya kemitraan lintas pelaku dalam kegiatan keswadayaan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 187 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 5) Optimalisasi peran dan fungsi Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur.

6) Fasilitasi pelaksanaan tugas dan kewenangan DPRD Propinsi sebagai lembaga permusyawaratan rakyat. 7) Pemantapan program pembinaan pemerintahan desa dengan kab/kota. 8) Fasilitasi pertemuan, penyusunan dan evaluasi Mitra Praja Utama (MPU) dan APPSI. 9) Fasilitasi pembentukan Badan Usaha Milik Desa. 4.2Terfasilitasinya Forum Komunikasi pelakt kegiatan keswadayaan. 5.1Konstribusi Dewan Pakar Propinsi Jawa Timur untuk menghasilkan solusi terhadap berbagai permasalahan di Jatim. 6.1Terselenggaranya tugas dan kewenangan DPRD Propinsi sebagai lembaga permusyawaratan rakyat. 7.1Terjalinnya pembinaan program pemerintahan terhadap pemerintahan desa, BPD dan masyarakat desa. 8.1Terselenggaranya forum kerjasama MPU dan APPSI. 9.1Meningkatnya perekonomian masyarakat desa. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 188 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD i. Penyelesaian perselisihan antar Kabupaten/Kota. 1) Memfasilitasi penyelesaian perselisihan antar Kabupaten/Kota. 2) Penataan/Penegasan bates wilayah antar Propinsi dan antar Kab/Kota di Jatim. 3) Pembuatan gapura batas antara

Propinsi Jatim û Jateng. 4) Penyampaian data base batas wilayah dan toponomi. 1.1Terselesaikannya perselisihan antar Kabupaten/Kota. 2.1Tertatanya batas wilayah antar Propinsi dan antar Kab/Kota se Jatim. 3.1Terindentifikasinya batas wilayah antara Propinsi Jatirn û Jateng. 4.1Terinventarisasinya data base wilayah dan toponomi se Jatim. 2. Program Keuangan Daerah Biro Keuangan, Dispenda, Kantor Kas Daerah. Program Pengembangan dan Peningkatan Sumber Keuangan Daerah. a. Perluasan dan peningkatan sumber penerimaan daerah 1) Intensifikasi sumber-sumber penerimaan PAD. 1.1Bertambah dan meningkatnya sumbersumber penerimaan daerah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 189 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pembangunan/Rehabilitasi sarana dan prasarana pelayanan masyarakat. 3) Koordinasi bagi hasil dengan pemerintah pusat dan kabupaten/kota. 4) Diversifikasi sumber-sumber pendapatan daerah. 2.1Tersedianya sarana dan prasarana pelayanan masyarakat. 3.1Tersedianya data yang

akurat dari sumber-sumber penerimaan daerah lainnya. 4.1Tersedianya sumber-sumber pembiayaan. b. Penerbitan dan penyerderhanaan peraturan serta pembenahan ketembagaan keuangan daerah. 1) Peningkatan dan pengembangan sarana dan prasarana dalam rangka menunjang operasional keuangan daerah. 2) Peningkatan dan pengembangan sistem pengelolaan keuangan daerah. 1.1Tersedianya sarana dan prasarana penunjang operasional keuangan daerah. 2.1Tersusunnya prinsip-prinsip manajemen dan pengelolaan keuangan daerah. c. Penataan dan pengembangan sistem keuangan yang profesional, efisien, transparan dan bertanggung jawab. 1) Fasilitasi pengelolaan kas daerah. 2) Peningkatan dan Pengembangan SDM bidang manajemen keuangan daerah. 1.1Meningkatnya pengelolaan kas daerah. 2.1Terciptanya tenaga profesional bidang manajemen keuangan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 190 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3) Peningkatan sumber daya manusia kantor kas daerah. 4) Peningkatan dan pengembangan sistem akuntansi keuangan

dae.rah. 5) Peningkatan tertib administrasi pengelolaan APBD Propinsi. 6) Fasilitasi pengelolaan APBD Kabupaten/Kota 7) Penatausahaan dan pengendalian riana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 8) Pengendalian dana bantuan dan bagi hasil Propinsi ke Kabupaten/Kota. 9) Pengendalian dan pelaporan dana perimbangan. 3.1Terciptanya tenaga-tenaga profesional pada Kantor Kas daerah 4.1Terciptanya tertib akuntansi keuangan daerah. 5.1Terciptanya tertib administrasi pengelolaan APBD. 6.1Terciptanya tertib administrasi keuangan daerah yang akuntable. 7.1Terciptanya tata arsip dan pengendalian dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan. 8.1Terkendalinya dana bantuan bagi hasil Propinsi ke Kabupaten/Kota. 9.1Tersedianya pelaporan mengenai dana perimbangan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 191 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 10)Pengelolaan administrasi gaji pegawai dan tenaga honorer. 10.1Tersedianya akurasi data gaji pegawai dan tenaga honorer. 3. Program Bidang Politik a. Pemeliharaan ketentraman

dan ketertiban umum. 1) Pembinaan terhadap daerah rawan bencana. 2) Peningkatan kesadaran bela negara berbangsa dan bemegara. 3) Inventarisasi dan pengkajian masalah-masalah yang murtcul di masyarakat dalam bidang Poteksosbud serta gangguan tramtibum dan kamtibnas. 1.1Terwujudnya kemampuan masyarakat secara swadaya aktif menanggulangi/ memperkecil akibat malapetaka yang ditimbulkan oleh manusia atau alam. 2.1Terbinanya kehidupan politik dan stabilitas politik. 2.2Meningkatnya kesadaran berbangsa dan bemegara serta bermasyarakat di Jatim. 3.1Adanya masukan/solusi untuk menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat. Bakesbang, Dinas Sosial, Biro Kesra, Biro Pemerintahan, Dinas Infokom, KPU, BPDE, Bappeprop, Bapemas, Kantor Pol PP. 1. Program Peningkatan Kualitas Proses Politik Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 192 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pengolahan data dan informasi di bidang Poteksosbud secara intensif dan komprehensif. 5) Melakukan pembinaan dan fasilitasi terhadap ketentraman dan

ketertiban umum. 4.1Tersedianya data tentang di bidang Poteksosbud yang cepat, tepat dan akurat. 5.1Terciptanya situasi yang arnan dan kondusif. b. Fasilitas pendidikan politik warga negara. 1) Mengoptimalkan peran infrastruktur dan suprastruktur politik sebagai wahana pendidikan politik masyarakat. 2) Mengoptimalkan penggunaan ruang publik secara demokratis dan berelika. 3) Fasilitasi pemilihan, pengesahan dan pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. 1.1Peningkatan secara optimal peran infrastruktur dan suprastruktur politik dalem kegiatan pendidikan politik masyarakat. 2.1Terciptanya ruang publik yang dimanfaatkan secara demokratis dan etis. 3.1Terselenggarakannya pemilihan, pengesahan dan pemberhentian Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 193 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Bantuan penyelenggaraan Pemilihan Umum. 1) Sosialisasi UU Politik dan Pemilu bagi aparatur pemerintah dan masyarakat 2) Fasilitasi Partai politik, KPU dan Panwaslu dalam Pemilihan Umum. 3) Sosialisasi persiapan dan Hasil Pemilu dan Sidang Umum MPR. 1.1Tersosialisasinya UU Politik

dan Pemilu terhadap aparatur pemerintah dan masyarakat. 1.2Pengadaan sarana dan prasarana pendukung PEMILU 2.1Terfasilitasinya Partai Politik, KPU dan Panwaslu dalam persiapan dan pelaksanaan Pemilihan Umum. 2.2Terfasilitasinya pengadaan sarana dan prasarana pendukung PEMILU. 3.1Tersosialisasinya hasil pemilu dan Sidanc Umum MPR. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 194 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Fasilitasi peresmian pengangkatan dan pemberhentian keanggotaan/pimpinan DPRC Propinsi, Kab/Kota hasil Pemilu 2004. 5) Fasilitasi peresmian pemberhentian dan pengangkatan pimpman dan anggota DPRD Propinsi, Kab/Kota. 4.1Terselenggaranya Administrasi peresmian pengangkatan dan pemberhentian keanggotaan / pimpinan DPRD Propinsi, Kab/Kota hasil Pemilu. 5.1Terlaksananya verifikasi dan fasilitasi pelantikan proses pengajuan PAW anggoota/pimpinan DPRD Propinsi dan Kabupaten/Kota. d. Harmonisasi hubungan antar lembaga politik. 1) Menciptakan forum komunikasi dan konsultasi bagi fungsionaris

partai politik di Jawa Timur. 2) Peningkatan kapasitas hubungan kelembagaan eksekutif dan legislatif. 1.1Terciptanya hubungan hubungan harrnonis dan saling menghargai antarlembaga politik. 2.1Meningkatnya frekuensi hubungan kekuasaan yang baik antara eksekutif dengan lembaga legislatif. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 195 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD e. Mendorong peran partai politik/ organisasi masyarakat dalam rangka pembinaan politik masyarakat. 1) Memfasilitasi forum koordinasi konsultasi Ormas dan LSM. 2) Pembelajaran demokrasi melalui jalur LSM, ormas, dan lembagalembaga pendidikan. 1.1Optimalisasi forum koordinasi dan konsultasi bagi ormas dan LSM. 2.1Berlangsungnya pembelajaran demokrasi di masyarakat bekerjama dengan kalangan pakar dan perguruan tinggi. 4. Program Perluasan Informasi dan Komunikasi a. Mendukung upaya pemerataan informasi bagi seluruh lapisan masyarakat.dengan mengembangkan kemandirian media. 1) Peningkatan sarana dan prasarana penyebaran informasi dan komunikasi. 2) Pemberdayaan dan pemanfaatan

media informasi dan komunikasi baik yang berbasis teknologi maupun konvensional/tradisional. 3) Peningkatan operasionalisasi kehumasan pemerintah. 1.1Meningkatnya sarana dan prasarana penyebarluasan informasi dan komunikasi. 2.1Terwujudnya pemerataan informasi kepada seluruh masyarakat. 3.1Meningkatnya peran kehumasan pemerintah dalam penyebarluasan informasi. Bappeprop, BPDE, Dinas Infokom, Biro Umum, Kantor Perwakitan. 1. Program Perluasan Informasi dan Komunikasi 2. Program Peningkatan Prasarana dan Sarana Informatika dan Media Massa 3. Program Pengembangan Telekomunikasi Daerah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 196 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Menfasilitasi pembentukan Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID). 4.1Terwujudnya kelembagaan KPID Jawa Timur. b. Pengembangan penyiaran melalui media televisi dan RRI serta rnedia publik lainnya secara berkualitas. 1) Peningkatan kuantitas dan kualitas

media informasi. 2) Meningkatan kualitas siaran Media Elektronik. 3) Meningkatkan paket khusus siaran pedesaan 4) Meningkatkan pemberdayaan media publik lainnya. 1.1Meningkatnya kualitas dan kuantitas penyiaran melalui media informasi. 2.1Masyarakat lebih leluasa dalam memilih materi siaran. 2.2Materi siaran lebih beragam. 2.3Sajian materi siaran lebih berimbang. 3.1Terwujudnya materi siaran pedesaan yang berkualitas. 4.1Meningkatnya kualitas dan kuantitas media publik. c. Memberikan jaminan kepada media massa dalam melakukan kontrol sosial dan politik sesuai norma dan etika yang berlaku. 1) Memfasilitasi upaya peningkatan kualitas insan pers. 1.1Meningkatnya kemitraan lembaga pers dengan pemerintah propinsi. 1.2Pemberitaan pers lebih transparan dan berimbang. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 197 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Melakukan kegiatan kemitraan kerja secara kelembagaan antara lembaga pers, masyarakat dan Pemerintahan Propinsi. 2.1Terwujudnya interaksi positif antara pers, masyarakat dan Pemerintah Propinsi. d. Membangun jaringan informasi dan komunikasi antara pusat dan daerah,

antar daerah, serta dengan manca negara untuk memperjuangkan kepentingan daerah. 1) Meningkatkan perencanaan dan pengembangan pembangunan informasi dan komunikasi. 2) Melakukan kajian aplikatif perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. 3) Optimalisasi implementasi eGovernment yang ada di Dinas/Instansi. 1.1Tersusunnya perencanaan dan pengembangan pembangunan informasi dan komunikasi. 2.1Meningkatnya peran publik relations. 2.2Tersedianya kajian tehnologi informasi dan komunikasi yang aplikatif. 3.1Meningkatnya pengembangan komunikasi data/informasi pada dan antar Dinas/Instansi serta dengan Pemkab/Kota. 3.2Meningkatnya kesiapan infrastruktur teknologi informasi pada Dinas/Instansi. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 198 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 3.3Meningkatkan kesiapan sumberdaya manusia (brainware) teknologi informasi pada Dinas/Instansi. e. Menyediakan informasi seluas-luasnya untuk kepentingan masyarakat. 1) Pembangunan layanan informasi. 2) Peningkatan penyebaran informasi

melalui Operasionalisasi News Room. 3) Dokumentasi peristiwa penting dan kegiatan pembangunan. 4) Peningkatan kapasitas operasional JTFM. 5) Pengembangan perpustakaan. 1.1Memudahnya dalam memberi pelayanan informasi kepada masyarakat. 2.1Ketersediaan bahan informasi. 3.1Terwujudnya pendokumentasian peristiwa dan pembangunan. 4.1Meningkatnya jangkauan siaran. 5.1Meningkatnya referensi perpustakaan. 5.2Meningkatnya penggunaan jasa perpustakaan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 199 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 6) Pembangunan dan pengembangan pusat data propinsi secara elektronik. 7) Publikasi hasil penelitian dan pengembangan. 6.1Meningkatnya ketersediaan data dan informasi bag! pemerintah dan masyarakat. 6.2Meningkatnya Kemudahan memperoleh data/informasi. 7.1Meningkatnya muatan informasi pada situs web Pemerintah Propinsi. 5. Program Pemberdayaan Masyarakat a. Pengelolaan data, penyusunan, perencanaan program, evaluasi dan pengendalian pemberdayaan

masyarakat. Bappeprop, Bapemas, Balitbangda, Bapedalda, Diperindag, Disnaker, Biro Pemerintahan, PT dan LSM, Kantor Perwakilan. Program Pemberdayaan Masyarakat (1) Pemantapan pola pendataan profil Desa/Kelurahar, dan Kecamatan. 1) Pengembangan Pemberdayaan Masyarskat. 1.1Tersedianya alat pengolah data (Hard Ware dan Soft Ware), Program Aplikasi Profil Desa/Kelurahan. 1.2Terlaksananya Kegiatan pendataan profil desa/kelurahan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 200 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1.3Terwujudnya data tingkat perkembangan desa/kelurahan dan data dasar potensi desa/kelurahan dan kecamatan. (2) Pengembangan Pemberdayaan Lab Site Masyarakat. 1) Pemantapan pola pendataan profil Desa/Kelurahan dan Kecamatan. 1.1Terbentuknya model Lab Site pemberdayaan masyarakat. 1.2.Terbentuknya model Pembangunan Wilayah Terpadu Antar Desa (PWTAD). 1.3.Meningkatnya pengetahuan, ketrarnpilan masyarakat

melalui Buku Seri Pedesaan. (3) Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pembenjayaan Masyarakat. 1) Perencanaan, Pengendalian dan Evaluasi Pemberdayaan Masyarakat. 1.1Terwujudnya program pemberdayaan masyarakat. 1.2Terpilihnya desa dan kelurahan berhasil. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 201 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Fasilitasi kelembagaan masyarakat, menyiapkan dan mengembangkan sumber daya serta melakukan pengkajian masyarakat. (1) Pemantapan pembangunan partisipatif. 1) Pemantapan pembangunan partisipatif. 1.1Berkembangnya Lokasi Kaji Tmdak Penerapan Sistem Managemen Pembangunan Partisipatif (SMPP). 1.2Tersedianya buku Pedoman, Panduan dan Menu Teknis Operasional SMPP. 1.3Tersedianya Tipe-Tipe Lokasi untuk Penerapan SMPP pada Kabupaten/Kota di Jawa Timur. 1.4Tersedianya Modul dan Pelatihan Aparat Kecamatan dalam rangka Penerapan SMPP. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 202 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004

Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1.5Orientasi Fasilitator Kader Penggerak Masyarakat (KPM) Kab/Kota se Jawa Timur. (2) Fasilitasi Penguatan Kapasitas Lembaga Kemasyarakatan. 1) Penguatan Lembaga Kemasyarakatan. 1.1Tersedianya Modul Pelatihan Penguatan Lembaga Kemasyarakatan. 1.2Terselenggaranya Pelatihan Lembaga Kemasyarakatan. 1.3Terfasilitasi penguatan dan pengembangan Lembaga Keuangan Desa. 1.4Terwujudnya Pilot Proyek Pembentukan BUMDES. (3) Peningkatan swadaya dan kemandirian masyarakat dalam pengetolaan program-program masyarakat. 1) Peningkatan swadaya dan kemandirian masyarakat. 1.1Berkembangnya Kaji Tindak Penerapan Pendataan Tingkat Perkembangan keswadayaan masyarakat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 203 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1.2Terwujudnya kegiatan yang mendorong keswadayaan dan kemandirian masyarakat dalam program pengentasan kemiskinan. 1.3Tersusunnya panduan perkembangan keswadayaan masyarakat. c. Fasilitasi pengembangan

perekonomian masyarakat, pemasyarakatan dan pemanfaatan Teknologi Tepat Guna (TTG) serta pengembangan dan pendayagunaan Sumber Daya Alam (SDA). (1) Peningkatan partisipasi masyarakat dalam pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat (UEM), 1) Peningkatan dan pengembangan Usaha Ekonomi Masyarakat. 1.1Meningkatnya ketrampilan Pengelola Usaha ekonomi Masyarakat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 204 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1.2Meningkatnya jumlah modal usaha dan sarana kerja kelompok usaha ekonomi masyarakat. 1.3Meningkatnya pendapatan anggota kelompok usaha ekonomi masyarakat. (2) Pemasyarakatan pendayagunaan dan pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG). 1) Pemasyarakatan, pendayagunaan dan pengembangan Teknologi Tepat Guna (TTG). 1.1Terwujudnya kerjasama dengan Perguruan Tinggi, Instansi terkait dan Lembaga Swadaya Masyarakat dalam Pengembangan dan Pemanfaatan TTG. 1.2Terwujudnya pengembangan dan pemanfaatan TTG dalam peningkatan usaha ekonomi

masyarakat. 1.3Tersedianya informasi TTG yang dibutuhkan masyarakat. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 205 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pemanfaatan teknologi tepat guna oleh kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Sejahtera (UPPKS). 2.1Meningkatnya pendapatan keluarga sejahtera. (3) Pemberdayaan masyarakat dalam pengeiolaan SDA dan pelestarian lingkuncan hidup. 1) Pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan SDA dan pelestarian lingkungan hidup. 1.1Meningkatnya kesadaran masyarakat pada pengelolaan dan pelestarian lingkungan hidup. 1.2Terbentuknya kelompckkeiompok pengelolaan dan pelestarian iingkungan permukiman, alam dan buatan. 6. Program Penertiban Administrasi Kependudukan a. Pengembangan sistem administrasi kependudukan yang menjamin ketertiban dalam pelayanan publik dan meniadakan duplikasi identitas penduduk. 1) Penyediaan data dan informasi kependudukan. 1.1Tersedianya data dan informasi kependudukan untuk perumusan kebijakan dalam rangka perencanaan

pembangunan serta pelayanan publik. Bapemas, Dispenduk, Dinas Infokom, BPS, BKKBN. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 206 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Penyusunan pedoman administrasi kependudukan. 3) Penyusunan pedoman umum sistim administrasi penduduk di desa. 2.1Meningkatnya pemahaman tentang pentingnya administrasi kependudukan. 3.1Adanya kesamaan sistim administrasi penduduk di desa. b. Sosialisasi dan fasilitasi penanganan adminsitrasi kependudukan yang menghasilkan data kependudukan yang akurat. 1) Sosialisasi tertib administrasi kependudukan. 2) Pembinaan dan pemberdayaan calon transmigran. 3) Peningkatan dan pembinaan administrasi kependudukan dan Catatan sipil melalui intensifikasi pelayanan. 1.1Meningkatnya pemahaman masyarakat terhadap admninistrasi kependudukan. 2.1Terwujudnya kemandirian pengungsi diiokasi resedement melalui pemberdayaan SOA yang ada. 3.1Terselenggaranya peningkatan pembinaan dan koordinasi administrasi

kependudukan dan catatan sipil. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 207 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Bantuan akte kelahiran dan register kepada kab/kota dengan sasaran rumah tangga miskin. 4.1Terselenggaranya bantuan blanko akte kelahiran kepada Kab/kota dengan sasaran rumah tangga miskin. c. Pengembangan sistem informasi dan monitoring kependudukan yang mampu menyajikan data kependudukan yang akurat. 1) Pelatihan/pembekalan bagi petugas regester 2) Penyediaan dan pelayanan informasi kepada masyarakat. 1.1Meningkatnya kemampuan dan ketrampilan tenaga regester kependudukan. 2.1Meningkatnya pelayanan informasi dan citra pembangunan transmigrasi. d. Pengkoordinasian dalam pengelolaan data kependudukan dari berbagai instansi menuju keseragaman dan atau kesamaan dalam penyajian data kependudukan. 1) Fasilitasi pengelolaan data kependudukan 1.1Tercapainya keterpaduan pengelolaan data kependudukan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 208 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004

Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD e. Penyajian informasi kependudukan yang bermanfaat dalam perencanaan pemoangunan yang mempertimbangkan daya dukung alam dan daya tampung lingkungan. 1) Publikasi informasi data kependudukan. 2) Pengawasan administrasi kependudukan. 3) Analisa dan evaluasi pelaksanaan kegiatan. 4) Pemberdayaan pengungsi. 5) Penyediaan sarana dan prasarana di lokasi resettlement. 6) Pemberdayaan masyarakat pemukim 1.1Meningkatnya informasi kependudukan. 2.1Meningkatnya kesadaran masyarakat akan tertib administrasi kependudukan. 3.1Terwujudnya dukungan Kabu/Kota dalam rangka analisa dan evaluasi. 3.2Terwujudnya laporan analisa dan evaluasi sebagai bahan penyusunan program. 4.1Meningkatnya kemandirian pengungsi untuk kembali ke daerah asal. 5.1Tersedianya sarana prasarana di lokasi resettlement. 6.1Meningkatnya kemandirian pemukim. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 209 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7) Penyediaan informasi bagi calon Transmigrasi Swakarsa Mandiri

(TSM) dan transmigrasi reguler. 7.1Meningkatnya mimt transmigrasi swakarsa mandiri dan transmigrasi reguler. 7.2Terciptanya kerjasama antar Daerah asal dan daerah penempatan di luar Jawa. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 210 MATRIK KEBIJAKAN 8 PENGENDALIAN EKSPLORASI SUMBER DAYA ALAM, PELESTARIAN FUNGSI DAN KESEIMBANGAN LINGKUNGAN HIDUP, PENATAAN PERMUKIMAN SERTA PENATAAN RUANG Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 211 8. Kebijakan Pengendalian Eksplorasi Sumber Daya Alam, Plestarian Fungsi dan Keseimbangan Lingkungan Hidup, Penataan Permukiman serta Penataan Ruang No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Program Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup BAPEDAL Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup a. Memantau, mencegah dan mengendalikan terjadinya pencemaran lingkungan hidup terutama terhadap pencemaran sumber-sumber air, badan air, udara dan laut. 1) Pengendalian pencemaran pada sumber-sumber air, udara dan laut. 2) Fasilitasi pengendalian kerusakan lingkungan. 1.1Menurunnya beban pencemaran pada sumbersumber air, udara dan laut. 2.1Meningkatnya kualitas lingkungan. b. Mengembangkan sarana penunjang pengendalian pencemaran lingkungan hidup melalui pengembangan laboratorium, produk hukum,

dan peningkatan kualitas informasi lingkungan hidup. 1) Pengembangan laboratorium lingkungan hidup. 2) Penegakan hukum pengelolaan lingkungan hidup. 1.1Meningkatnya fungsi laboratorium lingkungan hidup. 2.1Meningkatnya kepatuhan dalam pengelolaan lingkungan hidup. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 212 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2. Program Pembinaan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Bapedal Pembinaan dan Pengolahan Lingkungan Hidup a. Mengkaji dampak-dampak positif dan negatif guna memperkuat peran masyarakat dalam pengelolaan lingkungan hidup. 1) Pengembangan kerjasama dengan Pemerintah Kab./Kota, Swasta dan masyarakat dalam pengendalian dampak lingkungan. 1.1Terwujudnya kerjasama antara Pemprop, Kab/Kota, Swasta dan masyarakat terhadap pengendalian dampak lingkungan. b. Mengembangkan dan memperkuat kapasitas kelembagaan pengelolaan lingkungan hidup di tingkat propinsi, Kabupaten dan Kota. 1) Pengembangan kapasitas kelembagaan dan Sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan lingkungan hidup. 2) Pengembangan kapasitas

informasi,komunikasi, perencanaan dan evaluasi program dan Kerjasama Luar negeri. 1.1Meningkatnya kapasitas kelembagaaan dan SDM dalam pengelolaan lingkungan hidup. 2.1Terlaksananya pengelolaan lingkungan hidup dengan baik. c. Meningkatkan peran masyarakat dalam pengeolaan lingkungan hidup dan kawasan konservasi. 1) Peningkatan dan pembinaan peran serta masyarakat dalam pelestarian fungsi kawasan konservasi dan kawasan lindung. 1.1Meningkatnya kesadaran masyarakat sekitar kawasan penyangga dikawasan konservasi dan kawasan lindung. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 213 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Pengembangan pola kemitraan dalam pengelolaan lingkungan hidup. 2.1Meningkatnya kemitraan dim pengelolaan lingkungan hidup. 3. Program Penyelamatan Hutan, Tanah dan Air a. Pembinaan kawasan konservasi dan kawasan lindung. 1) Pembinaan dan penataan fungsi kawasan konservasi dan kawasan lindung. 2) Pengembangan, pemanfaatan, penataan, dan rehabilitasi kawasan pelestarian alam Tahura

R. Surya. 1.1Meningkatnya kesadaran masyarakat sekitar kawasan. 1.2Meningkatnya kelestarian kawasan konservasi dan kawasan lindung. 2.1Meningkatnya kelestarian kawasan Tahura R. Surya. 2.2Meningkatnya sarana dan prasarana obyek wisata alam dikawasan Tahura R. Surya untuk peningkatan PAD. Dinas Kehutanan, Bapedal, Dinas Kelautan dan Perikanan, Dinas Energi dan SDM Penyelamatan Hutan Tanah dan Air Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 214 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2.3Terbangunnya persemaian permanen di kawasan Tahura R. Surya untuk penyediaan bibit tanaman kehutanan/MPTS (Pohon serbaguna). b. Memulihkan, melestsrikan dan meningkatkan fungsi hutan, tanah dan air. 1) Penyusunan Master Plan rehabilitasi lahan dan konservasi tanah. 2) Pemulihan, pelestarian fungsi lingkungan dan peningkatan kualitas hutan, tanah dan air, hutan mangrove, dan terumbu karang. 3) Fasilitasi pemulihan wilayah rawan bencana dan pasca bencana alam. 1.1Tersusunnya Master Plan rehabilitasi lahan dan

konservasi tanah. 2.1Meningkatnya kualitas fungsi lingkungan hutan,. tanah dan air, hutan mangrove, dan terumbu karang 3.1Terkendalinya kerusakan lingkungan akibat bencana alam. c. Rehabilitasi lahan kritis dan kawasan bekas pertambangan rakyat serta pengendalian eksploitasi air bawah tanah. 1) Pembinaan dan rehabilitasi lahan kritis serta menggiatkan reboisasi. 2) Pengetolaan dan pengendalian lingkungan pertambangan dan air bawah tanah. 1.1Meningkatnya kualitas fungsi lahan kritis. 2.1Terkendalinya eksploitasi dan terwujudnya kegiatan konservasi air bawah tanah. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 215 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4. Program Inventarisasi dan Evaluasi Sumberdaya Alam Bappeprop, Bapedal, Balitbang. Inventarisasi dan Evaluasi Sumber daya Alam a. Mengembangkan sistem informasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup untuk mendukung program pembangunan yang berwawasan lingkungan. 1) Pengembangan Informasi database dan evaluasi sumberdaya alam dan lingkungan hidup. 2) Penyusunan Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD).

3) Pemetaan sumber daya alam dan lingkungan hidup. 1.1Meningkatnya informasi sumber daya alam dan lingkungan hidup. 2.1Tersedianya Status Lingkungan Hidup Daerah (SLHD). 3.1Tersedianya peta potensi sumber daya alam dan lingkungan hidup. 5. Program Perbaikan Perumahan dan Permukiman Dinas Permukiman Perbaikan Perumahan Permukiman. a. Melakukan perbaikan kampung pada kawasan pinggiran dan perbatasan wilayah Kabupaten/Kota. 1) Perbaikan dan peremajaan sarana dan prasarana lingkungan permukiman. 2) Penyediaan dan perbaikan prasarana lingkungan permukiman di wilayah Gerdu Taskin. 1.1Terwujudnya peningkatan kualitas lingkungan perumahan dan permukiman. 2.1Terciptanya prasarana lingkungan dan perbaikan perumahan yang sehat pada lokasiprioritas Gerdu Taskin. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 216 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD b. Menyediakan bantuan teknis dan stimulan pembangunan perumahan khususnya masyarakat berpenghasilan rendah di daerah kumuh dan padat penduduk. 1) Bantuan stimulan dan peningkatan peran serta masyarakat dalam

operas! pemeliharaan prasarana dan sarana permukiman. 2) Penyediaan perumahan, serta sarana dan prasarana lingkungan perumahan dan permukiman. 1.1Meningkatnya kernampuan sumber daya manusia dalam perencanaan dan pengelolaan sarana dan prasarana perumahan dan permukiman. 2.1Tersedianya perumahan, serta prasarana permukiman yang layak dan memadai. 6. Program Penyediaan Perumahan dan Permukiman Dinas Permukiman Penyediaan Per Permukiman. a. Meningkatkan peran swasta dalam penyediaan prasarana dan sarana permukiman secara terpadu. 1) Pemberdayaan kelompok masyarakat/swasta untuk peningkatan partisipasi dalam penyediaan perumahan dan permukiman. 1.1Tersedianya prasarana perumahan dan permukiman. b. Meningkatkan kemampuan pengelolaan prasarana dan sarana permukiman di perkotaan dan perdesaan. 1) Penyempurnaan dan sosialisasi pedoman, standar, dan peraturan konstruksi bangunan. 1.1Meningkatnya kemampuan dalam penerapan peraturan pada bidang jasa konstruksi bagi pelaku pembangunan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 217 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD

2) Penelitian, pengembangan serta sosialisasi penerapan teknologi hasil penelitian dan pengembangan bidang permukiman. 3) Bimbingan teknis perencanaan, rehabilitasi dan pembangunan serta pengelolaan dan pemanfaatan bangunan, gedung negara. 4) Penyusunan standarisasi harga satuan bangunan. 2.1Tersusunnya dokumen pengembangan teknologi bidang permukiman yang dapat diaplikasikan daiam pembangunan. 3.1Terlaksananya rehabilitasi dan pembangunan serta pemanfaatan bangunan, gedung negara. 4.1Tersusunnya dokumen pedoman standar harga satuan bangunan. c. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam operasi dan pemeliharaan prasarana dan sarana permukiman. 1) Pengembangan pola partisipasi masyarakat dalam penyediaan perumahan serta operasi dan pemeliharaan prasarana permukiman. 1.1Meningkatnya bentuk partisipasi masyarakat dalam penyediaan perumahan serta operasi dan pemeliharaan prasarana permukiman. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 218 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 7. Program Penyediaan dan Pengelolaan Air Bersih

Dinas Permukiman Penyediaan dan Pengolahan Air Bersih a. Meningkatkan penyediaan sarana dan prasarana air bersih. 1) Penyediaan sarana dan prasarana air bersih. 2) Menunjang peiaksanaan Gerdu Taskin di bidang air bersih. 1.1Meningkatnya sarana dan prasarana air bersih. 2.1Tersedianya prasarana air bersih di lokasi Gerdu Taskin. Meningkatkan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat bidang air bersih. 1) Peningkatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat untuk berperan serta dalam pemanfaatan dan pemeliharaan prasarana dan sarana air bersih. 1.1Meningkatnya kemampuan sumber daya manusia, khususnya daiam perencanaan dan pengelolaan sarana dan prasarana air bersih. 8. Program Penyehatan Lingkungan Permukiman Dinas Permukiman Penyehatan Lingkungan Permukiman a. Mdakukan perbaikan lingkungan permukiman di perdesaan, dan pesisir, khususnya desa-desa pusat pertumbuhan, korban bencana alam dan kerusuhan. 1) Penyediaan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman. 1.1Terpenuhinya penyediaan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 219 No

Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Menunjang pelaksanaan Gerdu Taskin di bidang penyehatan lingkungan permukiman. 2.1Tersedianya prasarana penyehatan lingkungan permukiman di lokasi Gerdu Taskin. b. Mengembangkan penyediaan sarana dan prasarana permukiman yang bertumpu pada masyarakat. 1) Peningkatan kelembagaan dan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan prasarana dan sarana penyehatan lingkungan permukiman. 2) Revitalisasi kawasan perdesaan. 1.1Meningkatnya kemampuan sumber daya manusia dalam perencanaan dan pengelolaan sarana dan prasarana penyehatan lingkungan permukiman. 2.1Terciptanya lingkungan permukiman pedesaan yang sehat. 9. Program Penataan Ruang Bappeprop, Dinas Permukiman Penataan Ruang a. Meningkatkan pemantapan sistem perencanaan tata ruang. 1) Penyiapan mekanisme dan prosedur perencanaan tata ruang secara terpadu. 1.1Tersedianya mekanisme dan prosedur perencanaan tata ruang secara terpadu. b. Mengarahkan struktur pemanfaatan fungsi ruang wilayah. 1) Penataan struktur pemanfaatan tata ruang diwilayah Madura

Kepulauan dan Gerbangkertosusila (GKS). 1.1Tertatanya struktur ruang yang efektif dan efisien. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 220 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 2) Perencanaan prasarana wilayah secara terpadu. 2.1Tersedianya perencanaan infrastruktur wilayah untuk mendukung pengembangan wilayah. c. Meningkatkan ketertiban pemanfaatan ruang. 1) Peningkatan pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan tata ruang. 2) Sosialisasi dan pengembangan perangkat hukum perencanaan tata ruang. 3) Menyusun dan menetapkan prosedur pembinaan dan pengawasan pemanfaatan tata ruang kabupaten/kota. 1.1Terlaksananya kegiatan pengendalian dan pengawasan tata ruang. 2.1Tersusunnya perangkatperangkat pengendalian tata ruang. 3.1Terciptanya keselarasan perencanaan dan ketertiban pemanfaatan tata ruang di kabupaten/kota. d. Meningkatkan kapasitas kelembagaan penataan ruang. 1) Penyiapan tata laksana pengendalian dan pengawasan tata ruang. 1.1Tersusunnya tata laksana pengendalian dan pengawasan penataan ruang.

e. Mengembangkan pedoman teknis penataan ruang. 1) Pengembangan pedoman teknis penataan ruang wilayah perkotaan dan perdesaan. 1.1Tersusunnya pedoman teknis yang mendukung kegiatan Penataan Ruang Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 221 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 10. Program Pertanahan BPN Kanwil Propinsi Jawa Timur Pertanahan a. Meningkatkan pelayanan di bidang pertanahan. 1) Pelaksanaan catur tertib pertanahan (tertib hukum, administrasi, penggunaan tanah, pemeliharaan tanah dan lingkungan hidup). 1.1Tercapainya tertib pelayanan administrasi pertanahan. 11. Program Pembangunan Prasarana Perkotaan Bappeprop, Dinas Permukiman Pembangunan Prasana Kota. a. Meningkatkan manajemen pembangunan perkotaan. 1) Peningkatan kemampuan manajemen pembangunan perkotaan. 2) Penyediaan sarana dan prasarana perkotaan. 3) Menunjang pelaksanaan Gerdu Taskin bidang permukiman diperkotaan. 1.1Terwujudnya kernampuan pengelolaan kota dengan didukung oleh kelengkapan sarana dan prasarana yang

memadai. 2.1Tersedianya sarana dan prasarana perkotaan. 3.1Tersedianya prasarana dan sarana bidang permukiman di lokasi Gerdu Taskin perkotaan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 222 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 4) Pengembangan dan pemberdayaan masyarakat perkotaan. 5) Revitalisasi kawasan di lingkungan perkotaan. 4.1Terwujudnya partisipasi aktif masyarakat daiam pembangunan kota 5.1Tertatanya kawasan lingkungan perkotaan. 12. Program Pembangunan Kawasan Khusus Bappeprop Pembangunan Kawasan Khusus. a. Mendorong percepatan pengembangan wilayah kawasan andalan dan kawasan tertinggal. 1) Penyusunan master plan prasarana dan sarana pada kawasan khusus. 2) Penyediaan dan pengembangan jaringan sarana dan prasarana permukiman. 3) Penyusunan perencanaan dan pengendalian pembangunan kawasan khusus. 1.1Tersusunnya dokumen perencanaan secara terpadu pada kawasan khusus. 2.1Tersedianya dokumen pengembangan jaringan sarana dan prasarana permukiman.

3.1Tersusunnya dokumen perencanaan sebagai basis data untuk perencanaan dan pengendalian pembangunan pada kawasan khusus. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 223 MATRIK KEBIJAKAN 9 PENINGKATAN KAPASITAS PERLINDUNGAN MASYARAKAT DARI GANGGUAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN SERTA PENINGKATAN KESADARAN RAKYAT DALAM BELA NEGARA Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 224 9. Kebijakan Peningkatan Kapasitas Periindungan Masyarakat dari Gangguan Keamanan dan Ketertiban serta Penfngkatan Kesadaran Rakyat dalam Bela Negara No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD 1. Program Ketentraman dan Ketertiban Umum Bakesbang, Biro Kesra Biro Hukum, Kantor Polisi Pamong Praja. Program Ketentraman dan Ketertiban Umum. a. Memberikan bantuan pengadaan sarana/prasarana dalam memberantas kejahatan. 1) Bantuan dukungan sarana prasarana aparat keamanan. 1.1Meningkatnya ratio penanganan tindakan kriminal. b. Memberikan bantuan mobilitas dalam rangka pengamanan wilayah. 1) Melakukan pengamanan dan pengawalan bagi pejabat negara, 2) Bantuan pengamanan dan ketertiban umum dalam pelaksanaan Pemilu 2004. 3) Bantuan dukungan mobilitas cparat keamanan. 4) Melakukan pembinaan, fasilitasi,

operasi/patroli pengamanan dan pengawasan tramtibum di Jawa Timur. 1.1Terjaminnya keamanan dan keselamatan pejabat negara. 2.1Tertib dan lancarnya pelaksanaan 2004 3.1Meningkatnya mobilitas aparat dalam pengamanan wilayah. 4.1Terwujudnya ketrentraman dan ketertiban umum yang mantap di Jatim. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 225 No Rencana Stratejik Daerah (RENSTRADA) 2001-2005 REPETADA 2004 Rencana Tindak Indikator Kinerja Instansi Pelaksana Program APBD c. Memberikan bantuan dalam mewujudkan sistem keamanan swakarsa. 1) Bantuan sarana dan pembinaan pamswakarsa. 1.1Meningkatnya partisipasi masyarakat dalam pengamanan lingkungan. d. Memberikan bantuan operasional pemberantasan narkoba. 1) Bantuan dukungan sarana dan prasarana penanggulangan narkoba pada aparat dan instansi terkait. 1.1Tertanganinya kasus kasus narkoba dengan cepat meningkatnya pencegahan peredaran dan pemakaian narkoba. e. Memberikan bantuan dalam pemantapan sistem koordinasi intelejen daerah. 1) Pembuatan sistem deteksi dini daerah rawan konflik. 1.1Terindetifikasinya daerah rawan konflik.

f. Memberikan bantuan dalam pelaksanaan program Pendidikan Pendahuiuan Beia Negara (PPBN) dan wajib latih. 1) Pemberdayaan aparatur dan masyarakat dalam Pendidikan Pendahuiuan Bela Negara (PPBN). 1.1Meningkatnya jumlah aparatur dan masyarakat yang memahami dan teriatih dalam bela negara. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 226 BAB IV PENUTUP Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 227 BAB IV PENUTUP Dokumen Perencanaan Rencana Pembangunan Tahunan Daerah (REPETADA) 2004 merupakan dokumen perencanaan teknis operasional tahunan yang kedudukannya sebagai penjabaran lebih lanjut dari RENSTRA Daerah 2001 - 2005 dan merupakan pedoman dalam penyusunan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Propinsi Jawa Timur tahun 2004. Sebagai dokumen perencanaan yang mengacu pada RENSTRA Daerah 2001-2005, Repetada harus menjadi acuan dalam mengimplementasikan kebijakan pembangunan yang dibiayai oleh APBD Propinsi Jawa Timur bagi Dinas/ Badan/Biro/Kantor di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur dan sekaligus sebagai acuan dalam pelaksanaan pembangunan yang dilakukan oleh masyarakat dan stakeholder fungsional pembangunan, sehingga Repetada sebagai salah satu produk perencanaan dan bagian dari managemen publik, akan berfungsi tidak hanya sebagai dokumen perencanaan pemerintah, namun juga sebagai dokumen perencanaan menyeluruh dan terpadu. Oleh karena itu dengan posisi dan fungsi Repetada dimaksud, perlu ditetapkan kaidah kaidah pelaksanaannya sebagai berikut : 1. Dinas/Badan/Biro/Kantor di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur termasuk masyarakat dan stakeholder fungsional pembangunan, dalam melaksanakan pembangunan harus mempedomani Repetada 2004. 2. Repetada 2004 merupakan acuan bagi Dinas/Badan/Biro/Kantor di lingkungan Pemerintah Propinsi Jawa Timur dalam menyusun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2004. 3. Sebagai dokumen perencanaan teknis operasional tahunan dan bersifat menyeluruh,

diharapkan menjadi referensi bagi Kabupaten/Kota untuk menyerasikan program tahunan agar tidak terjadi tumpang tindih dalam pelaksanaan pembangunan. 4. Dalam rangka meningkatkan efektivitas pelaksanaan program pembangunan, Badan Perencanaan Pembangunan berkewajiban melakukan pemantauan dan evaluasi kinerja terhadap pelaksanaan program - program Repetada 2004, untuk itu Dinas/Badan/Biro/Kantor berkewajiban untuk penyampaian laporan pelaksanaan program pembangunan sebagaimana diamanatkan pada Repetada 2004 setiap tiga 3 (tiga) bulan sekali kepada Badan Perencanan Pembangunan Propinsi Jawa Timur. Keseluruhan hasil pemantauan dan evaluasi ini akan menjadi input dalam proses penyusunan Repetada tahun berikutnya. 5. Rencana tindak yang tidak sesuai dengan kewenangan Propinsi, pada prinsipnya dapat diagendakan sepanjang tidak menyalahi kewenangan dan merupakan urusan-urusan yang benar-benar tidak atau belum mampu dilaksanakan oleh Kabupaten/Kota serta memperhatikan mendesaknya kebutuhan masyarakat/daerah yang belum mampu, sesuai dengan kecukupan dana yang dapat disediakan. Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 228 6. Prosentase anggaran untuk membiayai rencana tindak yang terdapat dalam Repetada 2004 diserahkan kepada Kornisi dan Panitia Anggaran DPRD Propinsi Jawa Timur. 7. Pengelolaan APBD 2004 mengacu pada mekanisme anggaran dengan pendekatan kinerja, namun pelaksanaan operasionalnya diselenggarakan secara proporsional sesuai dengan perubahan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta disesuaikan petunjuk teknis pelaksanaannya. 8. Dalam rangka memenuhi aspirasi masyarakat yang rnendesak dan prioritas, masih diperlukan alokasi yang bersifat subsidi yang penggunaannya sesuai dengan prosedur pelaksanaan APBD. GUBERNUR JAWA TIMUR ttd. IMAM UTOMO. S Dok. Informasi Hukum-JDIH Biro Hukum Setda Prop Jatim /2006 229

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->