P. 1
36-Sebatik

36-Sebatik

|Views: 191|Likes:
Dipublikasikan oleh Haunan Afif

More info:

Published by: Haunan Afif on Dec 14, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/15/2015

pdf

text

original

LAPORAN PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA KELAUTAN PERAIRAN SEBATIK, KABUPATEN NUNUKAN PROPINSI KALIMANTAN TIMUR

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBER DAYA MINERAL PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN BANDUNG 2006

PROYEK PENGEMBANGAN KAPASITAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA ALAM DAN LINGKUNGAN HIDUP TAHUN ANGGARAN 2005

LAPORAN
PENYELIDIKAN GEOLOGI DAN GEOFISIKA KELAUTAN PERAIRAN SEBATIK, KABUPATEN NUNUKAN PROPINSI KALIMANTAN TIMUR OLEH: TIM SEBATIK

DEPARTEMEN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN ENERGI DAN SUMBERDAYA MINERAL

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN GEOLOGI KELAUTAN 2005

Laporan Akhir

Sari
alah satu aktivitas penting Puslitbang Geologi Kelautan (PPPGL) semenjak berdiri (tahun 1984) hingga saat ini adalah melakukan penelitian pantai dan lepas pantai perairan Indonesia. Salah satu kegiatan pada Tahun Anggaran 2005 yaitu penyelidikan di Perairan Sebatik dan sekitarnya yang dimaksudkan memberikan masukan kepada pemerintah setempat dalam perencanaan pembangunan dan pengembangan kawasan pesisir Kabupaten Nunukan, Kalimantan Timur guna mempertahankan dan melestarikan potensi sumber daya laut serta perubahan lingkungan sekitarnya.

S

Hasil dari pemeruman memperlihatkan, morfologi dasar laut daerah telitian dapat dibagi menjadi 2 sistem, yaitu. morfologi dasar laut daerah perairan laut terbuka dan morfologi dasar laut di perairan selat. Kedalaman laut sepanjang lintasan berkisar antara 0 hingga 45 meter. Bagian terdalam terlampar mulai dari bagian Karang Unarang ke arah timur. Rekaman seismik yang diperoleh dengan memperhatikan pola reflektor yang ada dapat dikelompokan menjadi 4 (empat) kelompok runtunan. Hal lain adalah adanya gambaran reflector yang mencerminkan kemiringan dan kemenerusan antiklin ternyata dapat diikuti hingga ke bawah dasar laut,dimana pada singkapan di darat dari formasi-formasi Sajau, Tabul dan Meliat juga membentuk struktur lipatan (antiklin) yang berarah relatif baratlaut tenggara. Secara umum sedimen permukaan dasar laut hasil kegiatan pengambilan conto dasar laut terdiri dari: Terumbu Karang, Lanau, Lanau Pasiran, Lempung, Pasir, Pasir Lanauan dan Pasir Sedikit Kerikilan.. Sedimen ini umumnya mengandung Mineral berat berupa: magnetit, hematit, hornblende, limonit, zirkon, dolomit dan pirit. Foraminifera bentik yang diselidiki menunjukkan adanya variasi morfologis dari genus Asterorotalia yang berkaitan dengan kondisi lingkungan setempat. Kerusakan cangkang dari genus Elphidium ditemukan pada beberapa titik lokasi yang menunjukkan adanya faktor fisik seperti lingkungan berenergi tinggi atau faktor biologis seperti aktivitas bakteri sebagai penyebab cangkang tersebut rusak.

SARI

iii

Laporan Akhir

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Kedudukan lokasi Indonesia yang terletak antara benua Asia dan Australia, dan terdiri dari sekitar 17.000 Pulau-pulau besar dan kecil, dan mempunyai pesisir terpanjang kedua setelah Kanada, menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara maritim terbesar didunia. Keadaan ini menjadikan Indonesia kaya akan sumberdaya alam kelautan, tetapi potensi ini belum banyak dimanfaatkan untuk kesejahteraan masyarakat Kebijakan pembangunan selama ini juga lebih berorientasi kepada pengembangan kegiatan di daratan di bandingkan di pesisir dan lautan sehingga eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya pesisir dan kelautan terabaikan. Walaupun pengembaangan sektor kelautan sudah ada, tetapi berjalan tanpa perencanaan yang terpadu. Hal ini disebabkan oleh minimnya data, tidak adanya konsepsi yang jelas dalam menentukan langkah-langkah perencanaan maritim, serta belum ada lembaga yang menangani pengelolaan sumberdaya kelautan secara khusus. Kawasan pesisir memiliki potensi alam sangat besar karena kaya akan sumber daya hayati dan non hayati sehingga kawasan pesisir potensial untuk dijadikan kawasan perekonomian masyarakat. Perencanaan pembangunan dan pengembangan kawasan pesisir Kabupaten pendukung
I -1

Kendari dan

harus

ditunjang untuk

oleh

keberadaan

data dan

data

unggulan

mempertahankan

PENDAHULUAN

Perairan Pulau Sebatik dan sekitarnya merupakan perairan laut dangkal dengan kedalaman kurang dari 70 meter. karena setelah sengketa Sipadan – Ligitan selesai dengan kekalahan klaim Indonesia atas kedua pulau tersebut di Mahkamah Internasional.Laporan Akhir melestarikan potensi sumber daya laut sehingga dapat memperkecil kerugian yang terjadi akibat salah perencanaan. Disamping itu juga laut memiliki dimensi I -2 . sedangkan di bagian timurnya merupakan laut dalam yang memiliki kedalaman lebih dari 200 meter. maka garis batas Indonesia – Malaysia berubah dan sampai sekarang perundingan perbatasan antara kedua negara belum menghasilkan kesepakatan mengenai perbatasan tersebut. Sesuai dengan tugas dan fungsinya bahwa Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (PPPGL). sangat terbatas PENDAHULUAN Akan tetapi selama ini kemampuan untuk jika dibandingkan dengan luas wilayah laut memanfaatkan dan mengelola sumberdaya laut tersebut masih Indonesia itu sendiri. Dari segi ekonomi daerah ini merupakan salah satu titik keluar masuknya tenaga kerja Indonesia (TKI) yang akan bekerja di Malaysia serta lalu lintas perdagangan antara Indonesia – Malaysia yang sudah berlangsung cukup lama. Daerah ini penting dari segi geo-politik dan geo-ekonomi dengan masalah utama adalah penetapan perbatasan Indonesia – Malaysia pasca Sipadan – Ligitan. Salah satu perubahan lingkungan akibat suatu pembangunan di kawasan pesisir adalah masalah abrasi dan sedimentasi. Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral adalah merupakan salah satu instansi pemerintah yang memiliki peranan penting dalam penelitian di bidang kelautan. Daerah ini terdiri dari gugusan pulau-pulau kecil dan dibagian utara berbatasan dengan daratan Kalimantan yang merupakan bagian dari Malaysia.

untuk mengetahui potensi Sumberdaya Mineral serta mendukung PENDAHULUAN I -3 .2 Tujuan dan Sasaran Maksud diusulkannya kegiatan ini adalah untuk mengumpulkan data geologi dan geofisika kelautan daerah Sebatik dan sekitarnya. Penyelidikan geologi dan Geofisika kelautan merupakan realisasi dari program penelitian tersebut dengan mengambil lokasi di daerah Pesisir Sebatik dan sekitarnya. Salah satu kegiatan yang mendukung di dalam pengelolaan sumberdaya kelautan di wilayah nusantara ini adalah melalui pemetaan geologi dan geofisika kelautan terutama pemetaan cekungan sedimenter Tersier. Dilain aspek sisi dalam perencanakan abrasi pencegahan terhadap dan bencana maupun sedimentasi di kawasan pesisir diperlukan suatu kajian daya kawasan geofisika pembangunan infrastruktur sebagai sarana atau fasilitas utama. 1. Informasi mengenai tatanan geologi dan geofisika khususnya di daerah lepas pantai Pesisir Sebatik dan sekitarnya masih relatif dalam program tersebut minim. maka oleh sebab itu laut lebih mempunyai keragaman potensi alam yang dapat dikelola. khususnya dukung kelautan. Disamping itu hasil penelitian ini diharapkan akan memberi peluang bagi para peneliti yang terlibat untuk mengembangkan hasil penelitiannya yang dapat bermanfaat bagi pendayagunaan potensi kelautan nusantara khususnya di daerah-daerah pembangunan mengenai studi perbatasan.Laporan Akhir pengembangan yang lebih luas dibanding dengan daratan. Dengan demikian geoteknik hidro-oseanografi merupakan aspek studi yang utama.

geologi teknik kelautan yang dipadukan dengan pengamatan/observasi parameter hidro-oseanografi.Laporan Akhir perencanaan dan pengembangan kawasan pesisir daerah telitian khususnya Perairan Sebatik dan sekitarnya. 1.118º 7’ 10.262” . geofisika. dimana data geologi dapat dijadikan salah satu pertimbangan dalam pengambilan keputusan. Propinsi Kalimantan Timur.1784” BT. Tujuan penelitian ini adalah melaksanakan kegiatan lapangan di Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan Tahun Anggaran 2005 untuk mengetahui kondisi geologi dan geofisika kelautan di perairan tersebut yang dapat dijadikan sebagai data dasar dalam perencanaan pembangunan di daerah tersebut.3 LOKASI DAN KESAMPAIAN DAERAH Lokasi daerah usulan penyelidikan adalah perairan pulau Sebatik dan sekitarnya.40” .1) PENDAHULUAN I -4 . Kabupaten Nunukan. Secara geografis terletak pada posisi 3º 51’ 11.06” LS dan 117º 31’ 38.4º 11’ 34. Kabupaten Nunukan. sehingga dari penelitian ini akan mendapatkan informasi berbagai aspek geologi.(Gambar 1. Sasaran akhir dari kegiatan ini adalah memberi masukan kepada para pengambil keputusan khususnya yang berkaitan dengan penyelesaian masalah di daerah perbatasan. dan tentunya diharapkan hasil dari penelitian ini dapat dipergunakan oleh pemerintah daerah setempat khususnya dan instansi terkait lainya. secara administrasi termasuk Kecamatan Sebatik dan Kecamatan Nunukan.

I -5 Gambar 1.1. Peta Lokasi Kegiatan Laporan Akhir PENDAHULUAN .

Awu.5 KEMANFAATAN PENYELIDIKAN Manfaat dari kegiatan penelitian ini diharapkan dapat mengetahui kondisi geologi sekitar pesisir daerah telitian saat ini akibat abrasi pantai serta proses yang mengakibatkannya serta keberadaan potensi sumber daya mineral khususnya yang berada di sekitar PENDAHULUAN I -6 . Akan tetapi dengan diikut-sertakannya Security Officer dari TNI-AL maka koordinasi lapangan relatif berlangsung dengan baik. peta dan dasar. KM. Kabupaten Nunukan berada dekat lokasi penyelidikan. pengolahan digitasi data. lapangan waktu (recoinassance). Mengingat lokasi penelitian berada dalam lokasi perbatasan RI – Malayasia sehingga dalam pelaksaanan kegiatan survey mengalami sedikit hambatan khususnya pada lokasi yang mendekati daerah perbatasan dengan Malaysia yang sering dilakukan pemeriksaan surat ijin survey.4 PELAKSANAAN PENELITIAN Pangkalan kerja penyelidikan terletak di Kecamatan NmunukaN dan Sebatik.Tidar. analisa laboratorium. kemudian dari tarakan menggunakan speed boat ke Nunukan atau lewat jalur laut dengan kapal Pelni (KM. pembuatan Adapun pelaksanaan penyelidikan dibagi dalam dua tahapan yaitu pada tahap pertama selama 37 hari dari tanggal 31 Mei s/d 6 Juni 2005 dan tahap ke dua dari tanggal 25 Juli sd 16 Agustus 2005. 1. pengenalan laporan. 1.Laporan Akhir Kesampaian daerah dapat dijangkau dengan pesawat terbang dari jakarta ke Tarakan. Proses pelaksanaan penyelidikan diawali dengan pengumpulan data sekunder..Dobonsolo. pengambilan data lapangan.Agoamas) yang singgah di Nunukan kira-kira setiap 2 minggu sekali dengan route kota-kota pelabuhan di Kawasan Indonesia Tengah dan Kawasan Indonesia Timur. KM. KM.

Laporan Akhir

perairannya sebagai bagian dari rona awal kondisi sumber daya alam di daerah penelitian sehingga dapat dipergunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan untuk pengelolaan dan pengembangan wilayah. 1.6 LUARAN

Hasil yang akan didapat dari kegiatan ini adalah berupa laporan Hasil kegiatan penelitian yang dilakukan di daerah telitian yang dilengkapi dengan peta-peta antara lain : Lintasan Survei, Lokasi Pengambilan Contoh, Kedalaman Dasar Laut (batimetri), Sebaran Sedimen Permukaan Dasar Laut, serta identifikasi karakteristik pantai, potensi keberadaan sumber daya mineral yang semuanya tersusun dalam format GIS sehingga mudah untuk diedit dan perbaharui. 1.7 SISTEMATIKA LAPORAN

Dalam penulisan laporan diterapkan susunan yang sedemikian rupa,dengan maksud untuk menjelaskan keseluruhan kegiatan lapangan khususnya masalah gambaran regional daerah telitian, metodologi penyelidikan yang dilakukan, pengolahan data serta interpretasi dari data yang diperoleh dalam Sistem Informasi Geografis. Berikut adalah sistematika penulisan bab – bab yang ada dalam laporan ini :

PENDAHULUAN

I -7

Laporan Akhir

Tabel 1.1. Sistematika Penulisan Laporan

Nomor
BAB I

Judul Bab
Pendahuluan Tinjauan Umum / Geologi Regional Metode Penelitian dan alat yang digunakan Hasil Penelitian

Tujuan
Menjelaskan tentang Latar Belakang Masalah, Maksud dan tujuan, lokasi survei, serta Luaran. Menjelaskan gambaran singkat kondisi geologi regional daerah telitian,stratigrafi ,struktur serta kontrol tektonik yang berlangsung. Menjelaskan secara metode lapangan yang dilakukan serta alatalat yang digunakan, termasuk kegiatan / proses laboratoriumnya Menjelaskan mengenai data lapangan yang diperoleh serta , pengolahan datanya, analisis dan data hasi penelitian Membahas tentang hasil interpretasi data lapangan yang diperoleh serta data yang hasil analisa lab. Merupakan bab terakhir dari laporan yang berisi kesimpulan dan saran yang diperoleh

BAB II

BAB III

BAB IV

BAB V BAB VI

Pembahasan Penutup

1.8

PERSONIL PELAKSANA

Personil pelaksana kegiatan penyelidikan ini sebagai berikut : 1. Yogi Noviadi S.T 2 3 4 5 6 Ir. Noor Cahyo D. Ir. Akrom Mustafa Ir. Masagus Ahmad Ir. Tommy Naibaho Ir. Koesnadi HS (Ketua Tim) (Ahli Geologi) (Ahli Teknik Sipil) (Ahli Geologi) (Ahli Geologi) (Ahli Geofisiska)

PENDAHULUAN

I -8

Laporan Akhir

7 8 9 10 11 12 13

Beben Rachmat Ssi Ir. Hartono Ir. Duddy Arifin Taufik Sutanto Ir. K. Hardjawidjaksana Ir. Lukita Dra. Kresna Tri Dewi, M.Sc

(Ahli Oseanografi) (Ahli Geologi) (Ahli Geologi) (Ahli Geofisiska) (Ahli Geologi) Ahli Geologi) (Ahli Paleontologi) (Teknisi Geofisika) (Teknisi Geofisika) (Teknisi Percontohan) (Teknisi Navigasi) (Teknisi Geofisika) (Teknisi Komputer) (Teknisi Komputer & Kartografi)

14 Aep Saepudin 15 Endang Haryono 16 Sugiono 17 Suyadi 18 Sarip 19 Sumiyati 20 Wawan Sudrajat

21 Darmansyah

(Pembantu Administrasi)

PENDAHULUAN

I -9

Laporan Akhir

BAB II GEOLOGI REGIONAL
Secara regional kondisi geologi daerah penelitian merupakan bagian dari kawasan Indonesia Barat. Perairan Pulau Sebatik dan sekitarnya merupakan perairan laut dangkal dengan kedalaman kurang dari 70 meter, sedangkan di bagian timurnya merupakan laut dalam yang memiliki kedalaman lebih dari 200 meter. Secara regional daerah Perairan Pulau Sebatik dan sekitarnya merupakan bagian dari Cekungan Tarakan, yang memiliki struktur utama berupa sumbu lipatan berarah barat laut-tenggara Ada lebih kurang 11 pulau di perairan Sebatik dan sekitarnya serta puluhan gosong-gosong pasir dan daerah karang. Dari sekian banyak pulau hanya Pulau Sebatik dan Nunukan yang tersusun oleh batuan sedimen, terdiri dari perselingan batupasir, lanau dan lempung. Sedangkan pulau-pulau lainnya merupakan endapan aluvial delta yang telah ditumbuhi mangrove dan membentuk pulau.

2.1. Pola Tektonik Berdasarkan bukti geologi (tektonik dan penyebaran cekungan) daerah telitian secara umum merupakan kelanjutan alamiah dari Kalimantan Timur dan Selat Makasar (Gambar 2.1& 2.2). Kondisi serta pola sebaran kerak samudra dan batuan dasar menunjukkan bahwa daratan Kalimantan Timur merupakan Continental Crust (Kerak Benua) dan perairan Blok Ambalat merupakan Oceanic Crust (Kerak Samudra) yang berumur Pliosen – Eosen.

GEOLOGI REGIONAL

II-1

Sulawesi (BPPKA.Laporan Akhir Gambar 2. 1996) GEOLOGI REGIONAL II-2 . Kalimantan dan P. Gambar 2. Elemen-elemen tektonik P. 1992). Peta sebaran kerak samudra dan batuan dasar di perairan Blok Ambalat sebagai satu kesatuan dengan perairan Selat Makassar (Prasetyo.1.2.

Tarakan. Sembakung dan S. Sipadan. Tetapi sesungguhnya daratan Kalimantan Timur bagian utara sebagai delta yang lebih tua.3 & 2. Sesayang masih berlangsung dan berlanjut hingga sekarang dengan pembentukan delta muda (resent deltaic) yang menyerupai bentuk tipe Delta Mahakam Muda (Resent Mahakam Deltaic) seperti P. P. Mandul. jauh sebelum kondisi sekarang telah membentuk kipas delta yang menyebar ke arah laut mulai perairan bagian selatan hingga utara Kalimantan Timur termasuk P. P. Sebuku. Pemisahan menimbulkan akibat menurunnya dasar cekungan dan terbentuknya patahan kecil GEOLOGI REGIONAL II-3 . Sebagai bukti. Delta Mahakam oleh Golloway (1975) diperkenalkan sebagai salah satu tipe delta dunia yang disebut Tipe Delta Mahakam (Mahakam Delta Type). yaitru suatu daerah bukaan dan penurunan secara Makassar memiliki karakter geologi yang sama.4) Proses-proses sedimentasi yang berlangsung diimbangi pula oleh proses tektonik yang memisahkan P. Proses sedimentasi dan suplai sedimen yang membentuk seluruh cekungan Kalimantan Timur termasuk Blok Ambalat yang kaya dengan migas berasal dan dikontrol oleh interaksi sistem aliran daratan Kalimantan (fluvial processes) dan sistem oseanografi Selat Makassar (tidal processes). P.Laporan Akhir Kerak samudra tersebut penyebarannya mulai bagian tengah Selat Makassar hingga bagian barat daratan Sebatik. Pembentukan Cekungan Tarakan Dan Potensi Migas Wilayah sekitar perairan pantai Kalimantan Timur dan Selat Samudra Swelat Makassar terdapat daerah Active Spereading. Sulawesi dan P. Kalimantan (extension fault of Makassar Strait). sedimentasi oleh sungai-sungai besar di Kalimantan Timur bagian utara seperti S. S. Sebatik. P. Ligitan dan P.2. Di bagian tengah kerak aktif. Nunukan. Ligitan dan P. P. Buyu. 2. Sipadan. (Gambar 2.

Pola tektonik dan penyebaran cekungan Kalimantan Timur. 1996) Gambar 2.3 Peta geologi Cekungan Tarakan (BPPKA.4.Laporan Akhir Gambar 2. di bagian utara dibatasi oleh Patahan Palu-Koro (Koesumadinata. 1994). Blok Ambalat termasuk dalam Cekungan Tarakan. GEOLOGI REGIONAL II-4 .

S. Blok Ambalat yang termasuk dalam Cekungan Tarakan tersebut berada di bagian selatan Patahan Palu . Cekungan Kutei dan Cekungan Tarakan berada dalam satu kesatuan pola tektonik (tectonic setting) Kalimantan Timur. Di bagian tengah Cekungan Tarakan GEOLOGI REGIONAL II-5 . Ketiga cekungan tersebut dipisahkan dua patahan besar yang memotong Selat Makassar. Oleh karena adanya kontrol waktu geologi yang panjang.(Allen. Sesayang yang cukup besar. Cekungan Kutei di bagian tengah sekitar S. Cekungan Tarakan menyebar cukup luas mulai dari Tinggian Makaliat hingga selatan Sabah.Koro. Cekungan Kalimantan Timur terdiri dari tiga cekungan besar. Patahan terbesar adalah Patahan Palu – Koro yang membujur dari Teluk Bone (Sulawesi Selatan) memotong Selak Makassar hingga utara Sabah. Namun karena suplai sedimen dari sistem aliran S. di bagian selatan dan utara kedua cekungan tersebut dipisahkan oleh dua patahan besar tadi. yaitu: Cekungan Barito di bagian selatan. 1979 dan Katili. cekungan yang terisi sedimen tersebut membentuk cekungan hidrokarbon yang cukup besar dan tebal yang disebut sebagai Cekungan Tarakan dan Cekungan Kutai. Cekungan Tarakan mencakup perairan Kalimantan Timur bagian utara dan Blok Ambalat termasuk bagian timur Sabah. Sembakung dan S.Laporan Akhir l (minor fault) bertingkat membentuk tangga dengan bidang patahan membentuk garis lurus hampir sejajar dengan garis pantai. 1994). Sebagian ciri dan dari model Cekungan diagram Tarakan seluruh membentuk cekungan sub cekungan Timur Ambalat yang kemudian membentuk suatu kesatuan dan kesamaan Kalimantan (diagrammatic stratigraphic succession of East Kalimantan) . Mahakam dan Cekungan Tarakan di bagian utara (Koesumadinata. 1980). patahan tersebut tertutup oleh sedimen muda (resent sediment). Berdasarkan pola tektonik tersebut. Sebuku.

1 Stratigrafi Pulau Nunukan dan Pulau Sebatik adalah sebuah antiklin yang sumbunya memanjang dari arah barat laut ke tenggara dimana GEOLOGI REGIONAL II-6 . dan Saatri Anas 1995. namun bila termasuk Blok Ambalat Timur. Sebatik dan sekitarnya Keadaan geologi sekitar daerah telitian dan sekitarnya berdasarkan sumber data dari pusat penelitian dan pengembangan geologi kelautan peta lembar geologi tarakan dan sebatik yang disusun oleh S Hidayat. 2. Oleh sebab itu. Berdasarkan kondisi geologi dan hasil survei seismik & pemboran yang dilakukan beberapa perusahaan migas. arus dan pasang surut).) 2.(Gambar 2.6. Hasil Survei Geologi Kelautan di perairan Kalimantan Timur bagian tengah tahun 1999 (Gambar 2. Ciri-ciri lain dari Blok Ambalat dengan perairan lainnya di Kalimantan Timur adalah kesamaan morfologi dasar laut.2 Geologi daerah P. Walaupun potensi tersebut tidak sebesar di Blok Bukat. potensi migas di Blok Ambalat adalah: minyak mencapai 770 MBBO dan gas mencapai 1.5) menunjukkan pola perlapisan batuan dan penyebaran terumbu karang yang sama untuk seluruh perairan di Kalimantan Timur.2.Laporan Akhir terdapat tinggian-tinggian yang lebih kecil ukurannya. Tinggiantinggian (antiklin) yang berkembang umumnya berah baratlauttenggara membentuk lapisan sedimen yang cukup tebal yang dikenal sebagai lapisan pembawa hidrokarbon.959 BCFG. makia potensi tersebut akan jauh lebih besar lagi. berdasarkan hal tersebut maka kesatuan dan kelanjutan alamiah kontinen Kalimantan Timur di Blok Ambalat tak terbantahkan. bentuk paparan dan pola oseanografi (gelombang. Amiruddin.

.5. 1998). Rekaman seismik yang menunjukkan bentuk paparan dan lereng kontinen Kalimantan Timur (Survei PPPGL.Laporan Akhir II-7 GEOLOGI REGIONAL Gambar 2.

dengan pengendapannya delta sampai laut dangkal. berdasarkan peta geologi tersebut batuan yang terdapat di daerah studi terdiri dari (Gambar 2. pasir. Formasi Sajau (Plestosen) terdiri dari batu pasir kuarsa. mudah longsor dan beberapa diantarnya mudah mengembang ( Swelling ) hal tersebut terjadi pada singkapan. dan batu bara.singkapan alam lapisan tanah tertutup (soil) umunya tipis. di bagian atas umumnya gampingan. lignit dan kolongmerat.mengandung fosil kayu umumnya karbonan.Laporan Akhir batuan di kawasan perbukitan cenderung lunak. formasi ini diendapkan pada lingkungan fluvial sampai delta dan tabel 600-2000 meter. perairan sejajar. batu lanau dan batu bara. mudah terkikis. fosil petunjuk tidak ditemukan kecuali pecahan foram besar cylocypeus sp. batu lumpur. terutama di sepanjang aliran sungai sungai. lanau. kerikil dan koral uang bersifat lepas. sungai.7): A. setruktur sedimen : pelasisan silang siur planar dan mangkok bioturbasi. batu gamping. pantai dan rawa B. Endapan Alluvial (Holosen) berupa endapan pantai. C. batu lempung. bintil besi. dan rawa yang terdiri dari lumpur. operculina sp. yang berumur miosen tengah. Formasi Tabul ( Miosen Akhir) terdiri dari perselingan batu lempung. GEOLOGI REGIONAL II-8 . tebal formasi diperkirakan 600 meter. batu pasir.

dan Saatri Anas 1995) .Laporan Akhir II-9 GEOLOGI REGIONAL Gambar 2.6 Geologi Regional Daerah Perairan Sebatik Kalimantan Timur (S Hidayat. Amiruddin.

saritasi. kuarsa.terkarbonatkan Formasi Sinjin. dengan kandungan fosil globigerina bulodes.2. operculina. forfirit. 2. sesar dan kelurusan. dengan berstruktur lapisan bersusun. bara batu lempung dan serpihan. dasit. tabel formasi diperkirakan 800-1000m dan ditindih selaras oleh Formasi Tabul E. basal berbutir halus – afanitik. bijih dan kaca gampingan. basal. batuan menerobos GEOLOGI REGIONAL II-10 .dan desit.hornblende. formasi ini diduga diendapkan di lingkungan laut dangkal sampai delta paralik. andesit. kuarsa dan muskovit dalam dan masadasar plogioklas dan kuarsa. globigerinaoides obliquus. flosculinella bernenis. Sumbatan dan retas (Pleistosen) terdiri dari andesit. sebagian terkloritkan. Formasi Meliat (Miosen Tengah) terdiri dari perselingan sisipan batu batu pasir. struktur geologi yang terdapat di lembar Tarakan dan Sebatik adalah lipatan. bioturbasi dan mengandung bintal batu gamping.2 Struktur Geologi Dari hasil pengamatan pada peta geologi serta pengamatan morfologi di lapangan . lipatan berupa antiklin dan sinklin dengan sumbu lipatan berarah barat laut-tanggara dan melibatkan semua formasi batuan dilembar Tarakan dan Sebatik. piroksen. forfiris dengan fenokris plagioklas.Laporan Akhir D. dengan fenokris plagioklas dan piroksen dalam masadasar halus mengandung plagioklas.

Laporan Akhir Gambar 2.7 Skema Stratigrafi Perairan Sebatik Kalimantan Timur (S Hidayat. Amiruddin. dan Saatri Anas 1995) GEOLOGI REGIONAL II-11 .

pengendapan pada kala tersier diawali oleh pengendapan batu gamping. sesar dan kelurusan umunya berarah barat lauttenggara dan beberapa berarah barat daya-timur laut. pada umumnya di duga daerah lembar tarakan dan sebatik telah mengalami beberapa kali kegiatan tektonika. di beberapa tempat sesar-sesar ini ditempati batuan beku. batu bara dan batu lempung dari formasi sajau. fase ini merupakan masa terjadinya kegiatan pengangkatan kembali tepi cekungan yang ditandai dengan pembentukkan endapan paralik – fluvial delta seperti batu pasir. periode ini merupakan masa pengendapan dalam pola regresi hampir di seluruh cekungan tarakan yang mengahsilkan endapan paralik sampai laut dalam yang membentuk runtuhan batuan dari formasi naintupo. pada fase ini juga didaerah daratan terjadi kegiatan gunung api ya g menghasilkan batuan gunung api dari formasi sinjin dan terobosan GEOLOGI REGIONAL II-12 . foraminifera dan sedimen turbidit dari formasi sembakung pada lingkungan laut dangkal sampai laut dalam. Periode tektonik selanjutnya berlangsung pada akhir miosen atau awal pliosen sampai kala plistosen. sebagian dari struktur yang ditemukan di lembar tarakan dan sebatik ini di tafsirkan dari citra SAR Dari pengamatan struktur sedimen dan komposisi batuan tersier.Laporan Akhir Sesar yang dijumpai pada umumnya berupa sesar normal yang merupakan hasil pengaktifan kembali sesar-sesar yang terbentuk sebelumnya. meliat dan tabul. bersam dengan periode ini di daerah daratan terjadi kegiatan gunung api dan magmatik yang menghasilkan batuan gunung api formasi jelai dan terobosan batuan beku granitan. Pengangkatan “ daratan sunda “ yang berlangsung pada akhir eosen telah diikuti oleh penurunan dasar cekungan secara perlahan-lahan mulai dari kala oligosen sampai miosen akhir.

dasit dan basal.Laporan Akhir andesit. pada masa ini juga didaerah daratan terjadi kegiatn gunung api yang menghasilkan batuan gunung api dari formasi sinjin dan terobosan andesit. dan batu lempung dari formadsi sajau. batu bara. fase ini merupakan masa terjadinya kegiatan pengangkatan kembali tepi cekungan yang ditandai dengan pembentukkan endapan paralik – fluvial seprti batu pasir. kegiatan tektonik terakhir terjadi kala plistosen menghasilkan perlipatan dan sesar yang membentuk struktur geologi seperti sekarang. Formasi Naintupo. Struktur geologi yang berkembang pada daerah studi berupa struktur lipatan antara lain berupa antilkin dan sinklin sinklin. struktur patahan (sesar ) tidak dijumpai disekitar pulau nunukan. Periode tektonik selanjutnya pada akhir miosen atau awal pliosen sampai kala plistosen. GEOLOGI REGIONAL II-13 . kegiatan tektonik terakhir terjadi pada kal plistosen menghasilkan perlipatan dan sesar yang membentuk struktur geologi seprti sekarang. yang berupa sumbat dan retas. Meliat dan Tabul. yang berupa sumbat dan retas. struktur patahan( sesar ) tidak dijumpai disekitar pulau nunukan. Struktur geologi yang berkembang pada daerah studi berupa struktur lipatan antara lain berupa antiklin dan sinklin sinklin. dasit dan basal. bersama dengan periode ini didaerah daratan terjadi kegiatan gunung api dan magmatik yang menghasilkan batuan gunung api formasi jelai dan terobosan batuan beku granitan.

data pengamatan geifisika. pengamatan kondisi geologi termasuk karakteristik pantai dan percontohan sedimen serta analisa laboratorium.Laporan Akhir BAB III METODA DAN PERALATAN PENYELIDIKAN Metoda penyelidikan meliputi penentuan perekaman posisi.1) yang telah diintegrasikan dengan personal computer (pc) atau laptop sehingga dapat langsung diakses dan diproses di lapangan sedangkan untuk kegiatan di darat dan pantainya menggunakan garmin iii plus. 3. begitu pula untuk data lintasan seismik. Alat ini bekerja dengan dukungan minimal 8 (delapan) satelit. parameter hidro-oseanografi. dimana setelah diaktifkan dan deprogram akan terlihat posisi titik-titik koordinat secara geografis dalam bentuk lintang dan bujur dengan bidang proyeksi universal transver mercator (utm) yang dapat disimpan dan langsung dibaca pada layer monitor.1 PENENTUAN POSISI Penentuan posisi dan lintasan survey dari seluruh kegiatan lapangan yang diinstal di kapal menggunakan Differential Global Positioning System (DGPS) TYPE C NAV 272281 (Foto 3. Sebelum melaksanakan pengambilan METODA & PERALATAN III -1 . Pengambilan data lintasan penelitian kedalaman dasar laut dilakukan dengan rentang waktu setiap 1 (satu) menit. dimana PDOP yang diambil kurang dari 2.

digantikan oleh asumsi gerak linear kapal pada haluan dan kecepatan kapal yang konstan. target posisi kapal disesuaikan dengan rencana lintasan yang telah diplot kedalam perangkat GPS. termasuk arah haluan (heading). posisi kapal (pos). diperoleh dari pengolahan data digital posisi menggunakan Paket Program Modifikasi PPPGL. terutama untuk pengukuran kontinyu pada lintasan kapal untuk pemetaan kedalaman laut. waterpass yang dilengkapi oleh statif dan rambu ukur. 3. Dalam hal kehilangan data akibat posisi orbit satelit. Cara pengukuran. Datum yang digunakan dalam survei ini adalah WGS-84 sesuai datum pada peta dasar. arah terhadap target berikutnya (azimuth) maupun jaraknya dapat dipantau dan diikuti melalui monitor. Foto 3. sehingga semua olah gerak kapal.Laporan Akhir data.1 Global Positioning System (DGPS) TYPE C NAV 272281 Alat penunjang penentu posisi adalah theodolit.2 HIDRO-OSEANOGRAFI Penyelidikan geofisika dan hidro-oseanografi merupakan salah satu metoda penting dalam pemetaan dinamika pantai dari sudut METODA & PERALATAN III -2 .

Metode yang digunakan dalam pengolahan data pasang surut ini adalah metode harmonik British Admiralty untuk menghitung konstanta harmonik yang terdiri atas: paras laut rata-rata (mean sea level). Tujuan dari pengukuran pasang surut ini adalah untuk menghitung nilai koreksi terhadap peta batimetri. S2. yaitu: M2. terutama bulan dan matahari. MS4. K1. amplitudo dan fasa yang terdiri atas 9 (sembilan) komponen utama pasang surut. K2 dan P1. arus (secara statis dan dinamis) dan gelombang. N2. dengan keterangan sebagai berikut: METODA & PERALATAN III -3 .Laporan Akhir pertimbangan karakteristik laut lokal. maka lokasi pengukuran pasang surut diasumsikan base station untuk pengukuran posisi lintasan kapal. Parameter laut yang akan diamati antara lain meliputi : Pengukuran pasang surut.1 PENGUKURAN PASANG SURUT Pasang surut (pasut) adalah proses naik turunnya muka laut secara hampir periodik karena gaya tarik benda-benda angkasa. dari nilai amplitudo dan periode masing-masing komponen pasang surut tersebut dapat di analisis karakteristik pasang surutnya melalui penjumlahan komponen pasang surut yang ada. Dengan menggunakan Bench Mark (BM) yang sudah ada. O1. Hal ini dimungkinkan karena pasang surut bersifat sebagai gelombang. Data hasil pengukuran dengan interval pengukuran satu jam tersebut diuraikan menjadi komponen harmonik. M4. 3. Pengukuran pasang surut dilaksanakan dengan menggunakan rambu pasang surut yang diamatai setiap interval 1 (satu) jam selama survey berlangsung khususnya untuk koreksi terhadap kedalaman hasil pemeruman.2.

Selanjutnya data ini digunakan untuk mengoreksi harga batimetri.Laporan Akhir An g(O) S0 M2 Amplitudo harmonik Fase perlambatan Paras laut rata-rata Konstanta harmonik bulan S2 : Konstanta harmonik matahari N2 : Konstanta harmonik jarak bulan K2 : Konstanta harmonik jarak matahari O1 : Konstanta harmonik bulan P1 : Konstanta harmonik matahari K1 : Konstanta harmonik matahari dan bulan M4 : Konstanta harmonik ganda M2 MS4 : Konstanta harmonik antara M2 dan S2 : : : : ke-n yang dipengaruhi oleh posisi yang dipengaruhi oleh posisi yang dipengaruhi oleh perubahan yang dipengaruhi oleh perubahan yang dipengaruhi oleh deklinasi yang dipengaruhi oleh deklinasi yang dipengaruhi oleh deklinasi yang dipengaruhi oleh pengaruh yang dipengaruhi oleh interaksi Konstanta harmonik di atas diperoleh melalui persamaan harmonik : A(t) = S0 + ∑ An cos(wt. METODA & PERALATAN III -4 .Gn) A(t) : Amplitudo S0 : Tinggi paras air laut rata-rata di atas titik nol rambu amat An : Amplitudo komponen harmonik pasang surut Gn : Fase komponen harmonik pasang surut N : Konstanta yang diperoleh dari perhitungan astronomis wt : Waktu Konstanta pasang surut ini digunakan untuk menghitung kedudukan muka air rata-rata dan kedudukan muka air rendah terendah.

2. Alat diturunkan pada kedalaman setiap 0. Secara kuantitatif. Perbandingan ini dinamakan bilangan Formzahl yang mempunyai persamaan: Harga indeks Formzahl (F) = A(O1) + A(K1) A(M2) + A(S2) 3. Arus Pengukuran arus dimaksudkan untuk mendapatkan data kecepatan dan arah arus yang merupakan penyebab terjadinya pengangkutan sedimen (sedimen transport) baik di dekat muara sungai atau di laut.6 kali kedalaman air.2) dengan meletakkan alat tersebut disuatu tempat yang dipengaruhi oleh arus. tipe pasang surut suatu perairan dapat ditentukan oleh perbandingan antara amplitudo (tinggi gelombang) unsur-unsur pasang surut tunggal utama dan unsurunsur pasang surut ganda utama. Tipe pasang surut ditentukan oleh frekuensi air pasang dan surut setiap hari. Oleh karena itu karakteristik dan mekanisme gelombang ini perlu dipelajari dengan METODA & PERALATAN III -5 . Pengukuran Gelombang Salah satu penyebab perubahan garis pantai adalah diakibatkan oleh aksi gelombang serta dapat juga menimbulkan kerusakankerusakan pada bagunan pinggir pantai dengan adanya pengikisan (abrasi) dan pemacuan proses sedimentasi.Laporan Akhir Koreksi dilakukan dengan cara mengoreksi harga batimetri terhadap harga muka air rata-rata di lokasi pengamatan. 3. Peralatan pengukuran arus statis menggunakan : Valeport/106 (Foto 3. selanjutnya data hasil koreksi ini dikurangkan terhadap posisi air rendah terendah yang dijadikan patokan. Pengamatannya dilakukan setiap satu jam sekali selama minimal 26 jam.2 Pengukuran.3.2.

3. 1954 .2 Alat pengukururan arus Statis Type Valeport/106 3.3 GEOFISIKA Metoda penelitian geosisika meliputi pemeruman dan perekaman seismik pantul dangkal.4 Analisa Data Angin Analisis ini merupakan bagian dari analisis gelombang. Komar. Data angin permukaan yang digunakan pada penyelidikan ini merupakan data sekunder yang diperoleh dari Stasion Meteorologi Kendari. Peralatan yang dipergunakan adalah : peilschall Foto 3.Laporan Akhir melakukan gelombang pengamatan gelombang dan pemisahan frekuensi kejadian angin.2.D. METODA & PERALATAN III -6 . 1974). Posisi koordinat data pemeruman dan seismik dibaca dalam waktu selang 2 menit. Dari data tersebut kemudian dipilih angin-angin kuat pada setiap arah angin dari bulan Januari sampai Desember dengan kecepatan lebih dari 10 knot karena dianggap dapat membangkitkan gelombang laut (Bretschneider. P.

mengetahui morfologi dasar laut dan kemantapan lereng dasar laut.5 meter dari permukaan air di sebelah kiri kapal dan berjarak lebih-kurang 3 meter dari antena GPS.3) yang bekerja dengan prinsip pengiriman pulsa energi gelombang suara melalui transmitting transducer secara vertikal ke dasar laut. Kemudian gelombang suara yang dikirim ke permukaan dasar laut dipantulkan kembali dan diterima oleh receiver tranducer.1 Pemeruman (Sounding) Pemeruman (sounding) dimaksudkan untuk mengukur dan mengetahui kedalaman dasar laut daerah penelitian berikut pola morfologi dasar lautnya. Foto 3.Laporan Akhir 3.3 Instrumen pengukur kedalaman dasar laut Echosounder 200/50 KHz tipe Odom Hydrotrack Data pemeruman digunakan untuk mendapatkan data kedalaman laut sebagai bahan pembuatan peta kedalaman laut (batimetri).3. Selain itu juga untuk pengontrol hasil rekaman seismik dan pengambilan contoh sedimen permukaan dasar laut. Posisi transducer echosounder berada 0. METODA & PERALATAN III -7 . Sinyalsinyal tersebut diperkuat dan direkam pada recorder dalam bentuk grafis maupun digital. Kegiatan ini menggunakan alat perum gema Echosounder 200/50 KHz merk Odom Hydrotrack (Foto 3.

Sinyal yang diterima akhirnya direkam dan akan tampak sebagai penampang horison-horison seismik pada kertas rekaman.4) dengan sumber energi 300 joule.2 SEISMIK PANTUL DANGKAL Seismik pantul dangkal saluran tunggal bekerja dengan prinsip pengiriman gelombang akustik yang ditimbulkan oleh Boomer ke bawah permukaan laut dan Hidrofone menerima kembali sinyal yang dipantulkan setelah melalui media lapisan bawah laut.MSL E=D-C+d dengan :C B D E D = Faktor koreksi pasang surut = Nilai tinggi air/pasang surut terukur di lapangan = Nilai kedalaman tanpa koreksi = Nilai kedalaman terkoreksi = faktor draft kapal 3.Laporan Akhir Data hasil pembacaan alat yang diperoleh dilakukan suatu koreksi terhadap data hasil pengamatan pasang surut dengan penentuan kedalaman yang terkoreksi yaitu terhadap muka air rata-rat (MSL). Kegiatan ini dimaksudkan untuk memperoleh ketebalan lapisan termuda (isopach) terutama yang diduga sebagai tempat terakumulasinya mineral berat permukaan dasar laut dan untuk mengetahui penyebaran serta penerusannya secara horisontal berikut interpretasi ketebalannya. METODA & PERALATAN III -8 .3. lintasan kurang lebih bersamaan dengan lintasan pemeruman. Metoda ini menggunakan sistem perangkat seismik pantul dangkal berresolusi tinggi tipe sparker cumi (Foto 3. Metoda ini merupakan metoda yang dinamis dan menerus dengan memanfaatkan hasil pantulan gelombang akustik oleh bidang pantul akibat adanya perbedaan berat jenis pada bidang batas antara lapisan sedimen yang satu dengan yang lainnya. Adapun Persamaan yang digunakan adalah sbb: C = B .

pengambilan contoh sedimen pantai maupun sedimen permukaan dasar laut. 3.Sinyal yang diterima akhirnya direkam dan akan tampak gambaran lateral serta rona dari permukaan dasar laut yang direkam dalam . METODA & PERALATAN III -9 .6) 3. Alat ini terdiri dari tow fish yang berfungsi mengirim gelombang akustik ke bawah permukaan laut sekaligus menerima kembali sinyal yang dipantulkan setelah melalui media lapisan bawah laut.4 GEOLOGI KELAUTAN Penyelidikan geologi kelautan meliputi pengamatan karakteristik pantai.Laporan Akhir Gelombang atau signal yang dipantulkan oleh permukaan dasar laut akan ditangkap oleh hydrophone yang diletakkan 8-12 meter di belakang buritan kapal dan dikirim melalui kabel hydrophone sepanjang 3-5 meter untuk direkam oleh graphic recorder .3 SIDE SCAN SONAR Metode ini dimaksudkan untuk memperoleh gambaran lateral dari permukaan dasar laut serta rona dari material penyusunnya.5). Dalam kegiatan lapangan ini digunakan jenis alat Side Scan Sonar Type Klein 3000 (Tow Fish) (Foto 3.3. laptop guna dilakukan pemrosesan lanjut. Filter dibuka antara 800 hingga 6000 Hz. Perekaman menggunakan kecepatan firing 1 second dan kecepatan sweep ½ second kemudian direkam menggunakan graphic recorder EPC/1086 (Foto 3.

Laporan Akhir

Foto 3.4 Perangkat seismik Sparker Cumi

Foto 3.5 Panel perekaman data seismik analog dari model EPC/1086

METODA & PERALATAN

III -10

Laporan Akhir

Foto 3.6 Alat Side Scan Sonar Type Klein 3000 (Tow Fish)

3.4.1 Pemetaan Karakteristik Pantai Pengamatan dan pemetaan karakteristik pantai dilakukan dengan peta kerja dari DISHIDROS dan BAKOSURTANAL untuk mengetahui sampai sejauh mana pengaruh energi laut (arus, gelombang) dan aktivitas manusia terhadap perkembangan pantai (maju dan mundurnya garis pantai)dengan cara pengamatan visual di lapangan terutama dilakukan mengetahui beberapa parameter pantai antara lain : untuk

• Morfologi

pantai

dengan

pengukuran

profil

pantai

untuk

mengetahui perbedaan relief pantai.

• Kondisi geologi dengan cara diskripsi dan pengambilan contoh
batuan/material penyusun pantai dan tingkat resistensinya, penetuan posisi dengan GPS, selanjutnya dari contoh tersebut
METODA & PERALATAN

III -11

Laporan Akhir

dianalisa besar butirnya sehingga dapat menjelaskan tentang pasokan sedimen.

• Karakteristik garis pantainya meliputi jenis pantainya, kondisi
garis pantainya (abrasi, sedimentasi, stabil, arah pengangkutan sedimen), dan identifikasi jenis tumbuhan pantai. Hasil akhir dari pemetaan karakteristik pantai disajikan berupa peta yang nantinya diharapkan dapat dipakai pengembangan kawasan pantai. sebagai data dasar

3.4.2 PENGAMBILAN CONTOH SEDIMEN PANTAI DAN DASAR LAUT Pengambilan contoh sedimen pantai dilakukan bersamaan dengan karakteristik pantai. Sedimen yang diambil berupa sedimen lepas berukuran pasir yang terletak di daerah gisik pantai (beach) dan diambil menggunakan sekop kecil atau tangan lalu dimasukkan ke dalam kantong plastik. Pengambilan contoh sedimen dasar laut ini dilaksanakan secara sistematik pada lokasi-lokasi yang diharapkan mewakili keseluruhan daerah penyalidikan. Selanjutnya contoh sedimen tersebut dideskripsi dan dianalisa di laboraturium sehingga nantinya dari data-data tersebut akan dihasilkan suatu peta sebaran sedimen permukaan dasar laut. Peralatan pengambil contoh sedimen dasar laut terdiri dari : Pemercontoh comot / Grab Sampler (Foto 3.7)

METODA & PERALATAN

III -12

Laporan Akhir

3.4.3 BOR TANGAN Yang dimaksud pemboran disini ialah guna mendapatkan contoh tanah asli dan tanah tidak asli yang direncanakan pada beberapa lokasi terpilih. Adapun alat yang digunakan berupa bor tangan jenis Hand Auger (Foto 3.8). 3.4.4 PEMBORAN INTI Yang dimaksud pemboran inti yaitu kegiatan pengambilan contoh batuan/tanah baik yang terganggu maupun tidak terganggu, serta memperoleh data Standart Penetration Test (SPT) dari tiap lapisan guna mendapatkan contoh untuk dianalisa lebih teliti dan mengetahui kondisi vertikal dari batuan/tanah daerah penyelidikan. Kegiatan Pemboran ini dilakukan pada dua lokasi dengan masingmasing kedalaman 60 m. (Foto 3.9). Diharapkan dari data pemboran ini akan didapat informasi selengkap-lengkapnya meliputi keadaan geologi, sifat fisis dan mekanis yang dapat ditentukan baik melalui proses penyelidikan lanjutan di laboratorium maupun dengan melakukan percobaan-percobaan setempat.

Foto 3.7 Pemercontoh Inti Comot / Grab Sampler

METODA & PERALATAN

III -13

9 Pelaksana pemboran inti METODA & PERALATAN III -14 .8 Pelaksana pengambilan contoh dengan bor tangan Foto 3.Laporan Akhir Foto 3.

Setelah sampel kering.5. ditimbang untuk berat asal sebanyak lebih (ayakan III -15 . untuk memisahkan butiran lumpur dengan butiran di atasnya f. Data yang dianalisis sebanyak 0. selanjutnya dimasukkan pada sampel stirrer (pengaduk contoh). Prosedur umum laboratorium untuk analisis besar butir dapat diterangkan sebagai berikut (Foto 3.Laporan Akhir 3.1 Analisa Besar Butir Analisis besar butir dihasilkan dari pengambilan contoh dengan grab sampler berkisar antara 1 Kg hingga 1.5 Kg . kemudian diklasifikasi menurut Klasifikasi Folks (1980).5 phi + 10 menit mulai dari -2. Secara umum analisis besar butir ini dilaksanakan melalui metoda pengayakan dan pipet. Sampel direndam + sehari semalam.0 phi) METODA & PERALATAN o Celcius c. Kegiatan ini pada dasarnya meliputi: 3. dengan interval ayakan 0. Sampel butiran di ayak kering dengan menggunakan sieve shaker.10): a.0 phi s/d 4. Sampel basah dengan saringan 4 phi. dan sisanya disimpan pada cool storage di PPPGL Cirebon. supaya butiran cepat terpisah e. Sampel basah + 1 Kg di aduk homogen b. Sampel pan (di bawah 4 phi) dan butiran di atasnya dikeringkan g. Tujuan dari pengambilan contoh ini adalah untuk mengetahui sebaran sedimen. Sampel basah + 500 gram dikeringkan pada suhu 110 100 gram d. baik merupakan kegiatan analisa di laboratorium maupun kegiatan penafsiran dari data-data yang diperoleh di lapangan.5 kg.5 ANALISA LABORATORIUM Kegiatan ini merupakan lanjutan dari kegiatan di lapangan.

5. Untuk sampel yang berdasarkan hasil deskripsi ahli geologi berbutir lumpur/lempung.6. Pemipetan memakai tabung gelas dengan volume 1000 ml dan pipa kapiler 20 ml. dan lempung) antara lain: pemisahan mineral magnetik (magnetik separator). diambil 20 gram contoh untuk berat asal pipet k. untuk mendapatkan ukuran butiran 4. Jika hasil ayak basah lebih dari 20 gram (lebih dari 20%) sampel diambil 20 gram untuk dipipet. 3.Laporan Akhir h.7. Hasil tiap ayakan ditimbang dan ditulis dalam bentuk tabular i.5. lanau. METODA & PERALATAN III -16 . pengerjaannya langsung dikeringkan contoh basah + 100 gram.11). Preparasi contoh yang sudah siap ini kemudian diperiksa dibawah mikroskop binokuler mengenai kelimpahan Biogenik. pemisahan dengan cairan berat (heavy liquid) (Foto 3. dan Autigenik serta ukuran besar butir sedimen lepas yang diperiksa. setelah dikeringkan.2 Analisa Sayatan Oles Metode analisa sayatan oles diperoleh dengan cara meletakkan sejumlah sedimen lepas pada permukaan kaca preparat lalu kemudian dilem dengan menggunakan Canada Balsam lalu ditutup lagi oleh kaca preparat. bukan biogenik.8 phi.5. Standar pengujian dan klasifikasi yang digunakan adalah secara petrografi (point counter method) dengan menggunakan mikroskop binokuler (Muller. 1967). jika kurang dari 15 gram sampel tidak dipipet j.3 Analisa Mineral Berat Terdapat beberapa metoda untuk memisahkan jenis mineral yang terdapat di dalam sedimen lepas (pasir. 3.

Mineral berat yang terkonsentrasikan hasil cairan berat dipisahkan dari mineral magnetik dan bukan magnetik dengan menggunakan magnet tangan dan Electromagnetic Separator untuk mendapatkan prosentase dan jenis mineral magnetik yang lebih rinci. Temperatur dan kelembaban ruang juga sangat berpengaruh terhadap perubahan BJ Bromoform. dengan berat kering yang sama (25 gram). Mineral berat yang dianalisis adalah mineral yang mempunyai Berat Jenis (BJ) lebih besar dari 2. Cairan pembilas Bromoform dari mineral berat dan mineral ringan lainnya yang digunakan adalah Benzol. Di laboratorium preparasi contoh.88 gr/cc (cairan Bromoform). 3. kemudian contoh sedimen kering dicuci dengan menggunakan ayakan METODA & PERALATAN III -17 . CCl4 yaitu cairan khusus pembilas Bromoform agar BJ Bromoform-nya relatif lama bisa digunakan. pasir sedang-halus).Laporan Akhir Metoda Cairan Berat (Heavy Liquid) yang digunakan untuk studi analisis mineral berat umumnya dilakukan pada sedimen pasir yang berukuran butir antara 0. Metoda petrografi berdasarkan sifat-sifat fisik optik mineral tersebut digunakan untuk mengetahui jenis mineral berat magnetik dan bukan magnetik secara lebih akurat.063 mm (3 phi.4 Analisa Fosil Mikrofauna Analisis mikrofauna dilakukan dari contoh sedimen dasar laut yang dikoleksi dengan menggunakan penginti jatuh bebas (gravity corer) dan penginti comot (grab sampler).5.05 mm dan 0. Berat contoh sedimen dengan ukuran butiran diatas yang umum adalah lebih kurang 20 gram yaitu untuk mengurangi penggunaan cairan Bromoform yang tidak efisien.

11 Lemari asam untuk analisa mineral berat secara wet method METODA & PERALATAN III -18 . 3. dan 4 phi.10 Perangkat pengayakkan besar butir untuk sedimen kasar (a) dan sedimen halus/ lumpur (b) Foto 3. Contoh hasil cucian dari masingmasing ayakan kemudian dikeringkan dalam oven dan siap Foto 3.Laporan Akhir berukuran bukaan 2.

sedangkan untuk mengetahui kerapatan relatif material/sedimen berdasarkan nilai SPT. i2.5. METODA & PERALATAN III -19 . Analisis ostracoda dilakukan hingga tingkat spesies bila memungkinkan dan perhitungan spesimen / individu tiap spesies/jenis. Disamping itu dilakukan juga pengujian “Index Properties” berupa “grains size analysis” terhadap contoh tanah terganggu (disturbed sample) pada contoh bor inti terpilih. dst = jumlah total spesimen 3. Kemudian di lakukan penghitungan indeks diversitas /H(S) yaitu nilai keanekaragaman spesies dalam setiap contoh yang diperoleh dari rumus Shannon-Weaver dalam suatu paket program komputer yang dibuat oleh Bakus (1990) yaitu: H’ = .Laporan Akhir digunakan untuk studi mikrofauna. i3. Studi mikrofauna yang meliputi ostracoda dan foraminifera dilakukan pada empat puluh tujuh contoh sedimen hasil cucian (washed residue).5 Analisa Geoteknik Untuk mengetahui lebih rinci mengenai sifat fisik dan keteknikan dari contoh tanah/sedimen hasil pemboran tersebut telah dilakukan beberapa pengujian di laboraturium atau pengujian mekanika tanah ”Engineering Properties” pada contoh tanah tidak terganggu (Undisturb Sample). Sedangkan analisis foraminifera hanya dilakukan sepintas sebagai pembanding dan penunjang atau informasi tambahan apabila tidak ditemukan ostracoda.Σpi log dimana: H’ pi Σ ni N pi = indeks diversitas/keanekaragaman = ni /N = jumlah = jumlah spesimen dari spesies i1.

dan simbol-simbol yang dipergunakan adalah M = lanau. W = gradasi baik (Well-graded). Selanjutnya kurva tersebut dapat dipergunakan untuk memperoleh tingkat konsolidasi. Tanah berbutir kasar (kerikil dan pasir). dan simbol-simbol yang dipergunakan adalah G = kerikil (gravel). Uji konsolidasi Data yang diperoleh dari uji konsolidasi disajikan dalam bentuk penurunan terhadap waktu dan tergambar dalam bentuk kurva (Lampiran hasil uji konsolidasi). P = gradasi buruk (poorly graded). Berdasarkan data hasil sampling yang dianalisis menggunakan metoda pengujian besar butir diperoleh hasil pada umumnya adalah dari jenis butiran umumnya berukuran kasar. distribusi dari tanah berbutir kasar dapat ditentukan dengan cara menyaringnya lewat satu unit saringan standar (ASTM). Klasifikasi tanah dari sistem ini pertama kali diusulkan oleh Arthur Cassagrande (1942). jika prosentase lolos saringan No.Laporan Akhir Klasifikasi tanah yang umumnya digunakan untuk kepentingan geoteknik adalah klasifikasi USCS. Sedangkan tanah berbutir halus. 200 lebih dari 50 %. 200 kurang dari 50 %. C = lempung dan O = organik. S = pasir (sand). sedangkan metoda yang lain adalah metoda akar waktu ( Square root of time method) yang diperkenalkan oleh Taylor METODA & PERALATAN III -20 . jika prosentase lolos saringan No. Koefisien konsolidasi (Cv) Untuk suatu penambahan beban yang diberikan pada suatu contoh tanah terdapat dua metoda grafis yang umum dipakai time method) yang diperkenalkan oleh untuk menentukan harga Cv yaitu metoda logaritma-waktu (logarithm of Casagrande dan fadium (1940).

Harga indeks pemampatan dapat digunakan untuk menghitung besarnya penurunan yang terjadi sebagai akibat konsolidasi. Indeks pemampatan (Compression indeks. harga coefisient of volume compressibility (mv) dan harga koefsien rembesan (k).848 X H2 Cv = --------------T90 Dimana : T90 = waktu untuk mencapai 90% konsolidasi H = ½ tinggi benda uji rata-rata Penurunan tanah akibat pembebanan pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada lampiran hasil pengujian konsolidasi. Disamping itu. harga indeks pemampatan ini dapat digunakan untuk menghitung harga coefisient of compressibility (av). Cc) Nilai Indeks pemampatan Cc. Indeks pemampatan (Cc) berhubungan dengan berapa besarnya konsolidasi atau penurunan yang akan terjadi. Harga koefisien refleksi tersebut didapat dari rumus : 0. didapat melalui penggambaran harga angka pori e terhadap log p (lihat lampiran V hasil pengujian konsolidasi). sedangkan koefisien konsolidasi (Cv) berhubungan dengan berapa lama suatu konsolidasi tertentu akan terjadi.Laporan Akhir (1942). Metoda yang kedua tersebut adalah metoda yang dipakai dalam penentuan harga koefesien konsolidasi (Cv). Pengujian kuat geser (Triaxial) Pengujian kuat geser dari contoh tanah di daerah telitian dilakukan hanya pada beberapa contoh yang mewakili yaitu berupa contoh tanah III -21 asli (undistubed-sample) dan contoh tanah terganggu METODA & PERALATAN .

namun semua contoh tersebut tersimpan di dalam tabung dengan maksud menjaga kondisinya terutama kadar air dan susunan tanah dilapangan. Kuat geser tidak memiliki satu nilai tunggal tetapi dilapangan sangat dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut : Keadaan tanah. Jenis tanah seperti. lempung. pasir. sebagai : s = c + vσ Dimana : s = kuat geser pada bidang yang ditinjau METODA & PERALATAN III -22 . beban yang cepat akan menghasilkan tekanan pori yang berlebih. terutama untuk lempung (sering berkisar dari sangat lunak sampai kaku. bila tanah mengalami pembebanan akan ditahan oleh : • Kohesi tanah tergantung pada jenis tanah dan kepadatannya. atau jumlah relatif dari bahan-bahan yang ada. Dengan dasar pengetian ini. kekuatan yang tegak lurus terhadap bidang dasar akan berbeda jika jika dibandingkan dengan kekuatan yang sejajar dengan bidang tersebut. tetapi tidak tergantung dari tegangan vertikal yang bekerja pada bidang gesernya. Hipotesis pertama mengenai kuat geser tanah diuraikan oleh Coulomb (1773).Laporan Akhir (disturbed-sample). Jenis beban dan tingkatnya. • Gesekan antar butir-butir tanah yang besarnya berbanding lurus dengan tegangan vertikal pada bidang gesernya. angka pori ukuran butir dan bentuk butir. Kuat geser tanah adalah gaya perlawanan yang dilakukan oleh butir-butir tanah terhadap desakan atau tarikan. Kadar air. berpasir. tergantung pada nilai w). kerikil. Anisotropis.

Persamaan tegangan geser. tersebut dilukiskan dalam lampiran. koordinat-koordinat γ dan σ'. dinyatakan oleh: γ = 1/2 (σ1' .σ3') sin 2θ σ =1/2(σ1' +σ3')+1/2(σ1' -σ3') cos 2θ dengan θ adalah sudut teoritis antara bidang horizontal dengan bidang longsor. Lingkaran Mohr dalam bentuk tegangan. hampir tidak tergantung pada tegang normal pada bidang. yang besarnya: θ = 45° + φ' / 2 METODA & PERALATAN III -23 . dimana garis selubung kegagalan dari persamaan Persamaan diatas disebut kriteria keruntuhan atau kegagalan MohrCoulomb. seperti yang terlihat pada lampiran data pemeriksaan triaxial. Terzaghi (1925) mengubah rumus Coulomb dalam bentuk tegangan efektif sebagai berikut: s = c' + (σ-u) tg φ' s = c' + σ' tg φ' dengan c' = kohesi tanah efektif σ' = tegangan normal efektif u = tekanan air pori φ' = sudut gesek dalam tanah efektif Kuat geser tanah juga bisa dinyatakan lingkaran dalam bentuk dengan tegangan-tegangan efektif σ1' dan σ3' pada saat keruntuhan terjadi.Laporan Akhir c σ v = kohesi atau pengaruh tarikan antar partikel. Tegangan-tegangan efektif yang terjadi di dalam tanah sangat dipengaruhi oleh tekanan air pori. = tegangan normal pada bidang yang ditinjau = koefisien friksi antara bahan-bahan yang bersentuhan.

Selanjutnya kurva tersebut dapat dipergunakan untuk memperoleh nilai kohesi tanah (c) dan sudut gesek dalam tanah. Benda uji mula-mula dibebani dengan penerapan tegangan sel (tegangan keliling). kemudian dibebani dengan beban normal. Jadi selama pengujian katup drainasi ditutup. setelah itu tegangan deviator (Δσ) dikerjakan sampai terjadi keruntuhan. Karena pada pengujiannya air tidak diizinkan mengalir keluar. METODA & PERALATAN III -24 . beban normal tidak ditransfer ke butiran tanahnya. Pada penerapan tegangan deviator selama penggeserannya. Untuk pengujian ini : Tegangan utama mayor total = σ3 + Δσf = σ1 Tegangan utama minor total = σ3 Persamaan kuat geser pada kondisi undrained dapat dinyatakan dalam persamaan : su = cu = σ1 . melalui penerapan tegangan deviator sampai mencapai keruntuhan. tegangan sel (σ3) diterapkan. pori permulaan pengujian tidak berubah dari nilai aslinya pada tempat kedalaman contohnya. tidak diizinkan air keluar dari benda ujinya. dimaksudkan untuk mendapatkan nilai seperti pada aslinya. Pertama.Laporan Akhir Prosedur uji kuat geser Pelaksanaan uji kuat geser tanah lempung di daerah telitian dengan cara kondisi ”unconsolidated tempat undrained” dimana (tanpa angka terkonsolidasi-tanpa benda uji pada drainasi).σ3 = 2 2 Δσf Penafsiran uji kuat geser Data yang diperoleh dari uji kuat geser disajikan dalam bentuk kriteria keruntuhan atau kegagalan Mohr-Coulomb tergambar dalam bentuk kurva (Lihat lampiran hasil uji kuat geser).

dan polygorskite.5.5.Laporan Akhir 3. Cu.7. METODA & PERALATAN III -25 .6 Analisa Geokimia dan Lainnya Analisa ini dilakukan dengan metoda Atomic Absorption Spectrometric (AAS). Tanah lempung mempunyai sifat sangat dipengaruhi oleh gaya-gaya permukaan. analisa unsur utama (major element) guna mengetahui komposisi utama pembentuk batuan.002 mm. illite. Zn dll termasuk konsentrasinya. selain juga diperlukan analisa titrasi untuk mengetahui beberapa unsur (senyawa) tertentu. Macam mineral yang diklasifikasikan sebagai mineral lempung (Kerr. yang disebut mineral lempung. (Foto 3. Analisa tanah berdasarkan dimaksudkan kelompok-kelompok dari mineral lempung tersebut. Foto 3. Analisa Scanning Electron Microscope (SEM) Pelapukan akibat reaksi kimia menghasilkan susunan kelompok pertikel berukuran koloid dengan diameter butiran lebih kecil dari 0. kaolinite.1959) lempung diantaranya SEM terdiri dari kelompok-kelompok untuk mengetahui motmorillonite.9 Seperangkat alat AAS (tabung pengukur unsur & display 3.9) untuk mengindentifikasi secara khusus unsur logam seperti Au.

dan kuarsa. mineral-mineral ini sulit dibedakan secara petrografi. Analisa X Ray Diffraction (XRD) Dengan meningkatnya keteraturan struktur kristal tetrahedral SiO4 atau derajat kristalisasinya. Silika non-kristalin. opal-C. Selanjutnya diberi lapisan tipis (coating) oleh gold-paladium (Au :80% dan Pd :20%).Laporan Akhir Preparasi contoh tanah dilakukan dengan pemecahan contoh sesuai pecahan aslinya untuk mendapatkan mikrostruktur dari cintoh aslinya. untuk dilakukan pemotretan. kristobalit. Contoh/benda uji dimasukan kedalam specimen Chamber pada mesin SEM (JSM-35 C). Karena ukurannya yang lebih halus dari 50 µ m. Coating ini dimaksudkan agar benda uji yang akan dilakukan pemotretan menjadi penghantar listrik. tridimit. yaitu menunjukkan sebuah hump (undukan) dengan intensitas maksimum di sekitar 4 Å. Tridimit dan kristobalit mempunyai struktur kristal yang METODA & PERALATAN III -26 .8. memberikan pola XRD yang amorf. dengan menggunakan mesin Ion SputterJFC1100 akan didapatkan tebal lapisan 400 amstrong. mineral silika non. Opal mikrokristalin mempunyai hump di sekitar 4 Å yang lebih tajam dengan intensitas lebih tinggi dibandingkan dengan opal-A sebagai hasil peningkatan keteraturan struktur kristal silika (tetrahedral SiO4).5.dan mikrokristalin dapat diurutkan sebagai berikut: opal-A. disebut opal-A. tridimit. opal-CT. kristobalit. dengan menggunakan lem konduktif (Dotite dan pasta perak) ditempelkan pada specimen holder dan dibersihkan dengan hand blower untuk menghilangkan debu-debu pengotor. Silika mikrokristalin sendiri terbagi menjadi opal mikrokristalin (opal-C dan opal-CT). Salah satu metode yang dapat membedakannya adalah metode difraktometer sinar-X (XRD = X-ray Diffraction) yang menganalisis mineral berdasarkan struktur kristalnya. 3. dan kuarsa.

01°.04 Å dan 2.4°2θ untuk sebuah hump dan tidak lebih dari 0. sedangkan lebar yang diukur pada setengah intensitas-maksimum akan mempunyai kisaran hingga 0. METODA & PERALATAN III -27 .03°2θ untuk sebuah peak.6°2θ /menit dengan interval 0. Kalibrasi dengan standar eksternal silikon (99.49 Å. Kuarsa merupakan mineral silika paling stabil dan mempunyai struktur kristal tetrahedral SiO4 paling teratur.Laporan Akhir berlapis teratur.008 Å atau peningkatan sudut 2-theta sebesar 0. sedangkan untuk kristobalit peak tersebut muncul pada 4. tridimit menunjukkan dua peak (puncak) XRD yang intensif pada 4.02°2θ untuk sebuah peak.5405 Å dan γ 2=1.3°2θ untuk sebuah hump dan kurang dari 0.26 Å.01° menunjukkan penurunan spasi-d (d-spacing) peak XRD di ~4 Å hingga 0. tetapi keduanya mempunyai spasi lapisan SiO4 yang berbeda.6°2θ metode /menit XRD dilakukan dengan menggunakan serbuk silikon sebagai standar goniometer berkecepatan dengan interval 0.07° dibandingkan dengan referensi JCPDS yang dikeluarkan oleh The International Centre for Diffraction Data.33 Å. Akurasi internal pengukuran dan kristalinitas silika dengan 0. Hasilnya menunjukkan bahwa posisi intensitasmaksimum akan berkisar kurang dari 0.99% Si) dan menggunakan kecepatan goniometer sebesar 0. Difraktometer sinar-X yang digunakan adalah Goniometer Difraksi Phillips dengan lunak monokromator Diffraction grafit dan dikontrol VisXRD.34 Å dan 4.5443 Å). dengan Kondisi perangkat Technology pengoperasian adalah pada 40 kV dan 20 mA dengan menggunakan radiasi CuKα (γ 1=1.11 Å dan 4. Pola XRD-nya menunjukkan dua peak difraksi utama di posisi 3. Oleh karena itu.

HASIL PENYELIDIKAN IV-1 .1a. Nunukan dan P.1 PENENTUAN POSISI Lintasan penentuan posisi dan lintasan survey hasil dari C pemanfaatan Differential Global Positioning System (DGPS) type NAV 272281 yang terinstal di kapal survei dan telah diintegrasikan dengan Personal Computer (PC) atau laptop (Gambar 4. Selain itu pula penentuan posisi diperlukan pada saat penyelidikan karakteristik pantai dan pengambilan contoh sedimen pantai. dan pengukuran arus statis.c) yang memperlihatkan 650 gambaran dengan total lintasan sepanjang seismik pemeruman kilometer panjang lintasan sepanjang 381 kilometer. Serta 11 lokasi pengambilan contoh bor tangan disepanjang pesisir P. Sebatik.b.Laporan Akhir BAB IV HASIL PENYELIDIKAN 4. menentukan lokasi pengukuran pasang surut. lintasan side scan sonar dengan panjang 48 kilometer. namun untuk memudahkan di dalam penggambaran dan dengan alasan teknis seperti kesesuaian dengan metode survei lain seperti seismik dan pemeruman terhadap waktu. dengan jumlah contoh sedimen permukaan dasar laut sepanjang 59 lokasi. Pengambilan data lintasan posisi dilakukan setiap saat selama kapal berolah gerak mengikuti lintasan yang telah direncanakan sebelumnya. maka waktu dan posisi yang terplotting dalam peta lintasan posisi diambil setiap rentang 1 menit.

1a.IV-2 Gambar 4. Peta Lintasan Pemeruman dan Seismik Pantul Dangkal Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN .

Peta lintasan Side Scan Sonar Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN .1b.IV-3 Gambar 4.

Bor Tangan dan Pemboran .IV-4 Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN Gambar 4. Peta Lokasi Pengambilan Contoh Sedimen Permukaan Dasar Laut.1c.

S2. M4. Pengamatan pasang surut dilakukan dengan menggunakan rambu ukur pasang surut. K2. dan P1) yang berupa amplitudo dan fasanya.2 HIDRO-OSEANOGRAFI 4. N2.1 PENGAMATAN PASANG SURUT Kegiatan pengamatan pasang surut pada survei ini dilakukan untuk mendukung kegiatan pemeruman di laut. Pengamatan dengan menggunakan alat rambu ukur ini data direkam setiap selang 1 jam.Laporan Akhir 4. K1. Analisa Data Pasang Surut dan Muka Surutan Konstanta Harmonik Pasang Surut Data hasil pengamatan pasang surut ini selanjutnya diolah dengan menggunakan metode British Admiralty untuk mendapatkan konstanta harmonik (M2. Data pengamatan pasang surut selama kegiatan pemeruman berlangsung dilampirkan pada Lampiran Data Pasang Surut berikut dengan kurva pasang surutnya.2. Pengamatan pasang surut ini dilakukan di 1 lokasi pengamatan yaitu di Dermaga Sei Nyamuk. MS4. Data hasil pembacaan pasang surut ini kemudian dianalisis sehingga akan memeperoleh harga bilangan Formzahl serta sebagai koreksi dalam hasil kegiatan pemeruman sehingga menghasilkan peta batimetri. Sebatik secara kontinyu dari tanggal 3 Juni s/d 2 Juli 2005 ditambah pengamatan selama 15 hari dari tanggal 29 Juli s/d 12 Agustus 2005 pada saat kegiatan pemeruman berlangsung. O1. Hasil akhir perhitungan konstanta harmonik ini adalah sebagai berikut: HASIL PENYELIDIKAN IV-5 .

2 P1 0.0 144. akibat lintasan matahari yang berbentuk elips Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan dan matahari Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi bulan Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh deklinasi matahari Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh bulan sebanyak 2x Konstanta harmonik yang diakibatkan oleh adanya interaksi antara M2 dan S2 Hasil perhitungan metode Admiralty secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran Data Pasang Surut.8 365.8 M4 0. Sedangkan tunggang air maksimum berdasarkan harga pasang surut hasil pengamatan selama 30 hari adalah tunggang air maksimum di stasiun pengamatan pasang surut Dermaga Sei Nyamuk adalah 3.2 256.2 80.5 144. Berdasarkan harga perbandingan konstanta harmonic pasang surut di atas diperoleh harga bilangan Formzahl di stasiun pengamatan pasang surut Dermaga Sei Nyamuk adalah 0.1 390.7 Tabel 4. akibat lintasan bulan yang berbentuk elips Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh perubahan jarak.2 N2 3.2 K2 0.0 m HASIL PENYELIDIKAN IV-6 .8 K1 0.5 153.Laporan Akhir So A (cm) g (o ) 19.6 M2 5.4067792 Harga bilangan Formzahl di ini menunjukan bahwa tipe pasang surut pada stasiun pengamatan pasang surut adalah tipe campuran dominan ganda artinya terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam waktu 24 jam.0 S2 2.6 109.7 O1 2.4 MS4 0.Dimana : A G So M2 S2 N2 K2 K1 O1 P1 M4 MS4 Amplitudo pasang surut Sudut Kelambatan phase Level muka laut rata-rata diatas titik nol rambu Konstanta harmonik yang dipengaruhi posisi bulan Konstanta harmonik yang dipengaruhi posisi matahari Konstanta harmonik yang dipengaruhi oleh perubahan jarak.1 Tabel Konstanta Harmonik pasang surut daerah telitian .1 80.

Elevasi yang lazim Dengan digunakan sebagai level acuan ketinggian adalah LWS.. ataupun titik pangkal di Hasil analisa pasang surut berikut perhitungan muka surutan (chart datum) dan muka air tertinggi dapat dilihat pada Lampiran Data Pasang Surut. Nunukan. Sebatik dan P.2. dilakukan secara stasioner dengan Currentmeter Valeport tipe 106. Harga Zo ini selanjutnya digunakan untuk menyurutkan seluruh harga kedalaman hasil koreksi. 4. HASIL PENYELIDIKAN IV-7 . yaitu di Perairan sebelah timur P. demikian seluruh pengukuran batimetri.Laporan Akhir Muka Surutan (Chart Datum) Tahap selanjutnya dalam pengolahan data pasang surut untuk mengoreksi data batimetri adalah perhitungan muka surutan (Chart Datum) dan air tinggi tertinggi berdasarkan pada harga konstanta pasang surut tersebut di atas. yaitu pada saat bulan mati (neap tide) dan pada saat bulan purnama (spring tide) dengan jumlah lokasi pengamatan 3 lokasi.2 PENGUKURAN ARUS Pengukuran arus ini dimaksudkan untuk mengetahui arah dan kecepatan arus absolute di lokasi survei.7 m di bawah duduk tengah. HWS (level muka air pasang tertinggi) dan LWS (level muka air surutan terendah). Berdasarkan hasil perhitungan muka surutan diperoleh harga Chart Datum (Zo) sebagai berikut : Harga Zo untuk lokasi pengamatan pasang surut di Dermaga Sei Nyamuk adalah 1. Perhitungan muka surutan dan air tinggi ini digunakan untuk meghitung berbagai referensi elevasi atau datum vertikal. Pengukuran arus ini peralatan selang waktu menggunakan Adapun pengukuran setiap 1 (satu) jam secara terus-menerus selama 25 jam pengamatan. darat mengacu pada datum LWS sebagai titik nol.

yaitu pembacaan arah dan kecepatan arus secara langsung pada alat Valeport kemudian dicatat pada formulir pengamatan. Pengukuran arus ini dilakukan dengan cara pembacaan langsung (direct reading).2 m dan 9.6 H untuk arus menengah dan 0. selanjutnya data ini dirata-ratakan untuk mendapatkan arah dan kecepatan arus rata-rata untuk setiap kedalaman pengukuran.Laporan Akhir dan perairan Selat Nunukan Khusus untuk stasiun pengukuran di lokasi perairan Nunukan sebelah timur-tenggara pengukuran arus hanya dilakukan pada siang hari selama 12 jam setiap harinya. Kedalaman laut di masing-masing stasiun pengukuran arus adalah sebagai berikut : Di Selat Nunukan sebelah utara kedalaman stasiun pengukuran arus adalah 12 meter.4 m. mengingat kondisi cuaca untuk melakukan pengukuran pada malam hari di lokasi ini tidak memungkinkan.6 m. sehingga pengukuran untuk arus permukaan.8 H untuk arus bawah. sehingga pengukuran HASIL PENYELIDIKAN IV-8 . menengah dan bawah dilakukan pada kedalaman 2. Nunukan kedalaman stasiun pengukuran arus adalah 10 meter. Sedangkan di Selat Nunukan sebelah selatan dan perairan sebelah timur P. dimana pada tanggal tersebut posisi air pasang mencapai maksimum sedangkan posisi air surut mencapai minimum sehingga kecepatan arus maksimum dapat diukur dengan baik.2 H untuk arus permukaan. 0. dimana H adalah kedalaman laut di lokasi stasiun pengukuran arus. 7. Pembacaan data arus ini dilakukan sebanyak tiga kali pembacaan. Pemilihan tanggal dan waktu pengamatan arus ini didasarkan pada kondisi pasang surutnya. Pengukuran arus ini dilakukan terhadap 3 (tiga) kedalaman berbeda di setiap stasiun pengukuran arus yaitu kedalaman 0. Sebatik dan P.

menengah dan bawah. Perhitungan arus pasang surut ini bertujuan untuk memisahkan komponen arus pasang surut dengan HASIL PENYELIDIKAN IV-9 .8 0. menengah dan bawah dilakukan pada kedalaman 2 m.6 V0. Dari data hasil pengukuran diperoleh harga arah dan kecepatan untuk arus permukaan.2 H. hubungan arus dengan pasang Perhitungan Arus Pasang Surut Perhitungan arus pasang surut hanya dilakukan pada dua lokasi pengukuran yaitu lokasi pengukuran arus di Selat Nunukan sebelah utara dan Selat Nunukan sebelah selatan. sedangkan untuk lokasi di perairan Nunukan sebelah timur-tenggara tidak dilakukan perhitungan pemisahan arus karena pengukuran arusnya hanya dilakukan 12 jam setiap harinya. 0. Selanjutnya data ini diolah dengan melakukan perhitungan matematis untuk menghitung komponen arah arus pasang surut dan non pasang surut.8 H dengan menggunakan rumus : V = 0.Laporan Akhir untuk arus permukaan.5 (v Dimana : V V0.6 H dan 0.2 V0. 6 m dan 8 m.2 +v 0. pengklasifikasian arus berdasarkan arah dan kecepatan untuk mengetahui arah arus dominan dan penggambaran surutnya. Untuk mengetahui harga kecepatan arus secara vertical diperoleh dengan cara merataratakan hasil pengukuran pada kedalaman 0.6 + ((v 0.8)/2) : Kecepatan vertical rata-rata (m/det) : Kecepatan arus permukaan (m/det) : Kecepatan arus menengah (m/det) : Kecepatan arus bawah (m/det) Data hasil pengukuran lapangan secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran Data Arus.

Lokasi HASIL PENYELIDIKAN Kedalaman Kecepatan Kondisi Air IV-10 . sedangkan distribusi frekuensi kecepatannya cukup berbeda. Berdasarkan diagram grafik arus secara umum arah arus di Selat Nunukan sebelah utara dan selatan dominan berarah baratlaut – tenggara. Nunukan sebelah timur arah arus dominan berarah timur – barat. sedangkan di lokasi perairan P.032 0. hal ini menunjukan bahwa kecepatan arus permukaan rata-rata lebih besar daripada arus menengah dan bawah.025 0. Nunukan Sebelah Selatan Komponen Utara Komponen Timur Arah (o ) Kecepatan (m/det) -0.09967 0.2 Hasil perhitungan arus pasang surut Arus vertical rata-rata: Hasil perhitungan arus pasang surut dan non pasang secara lengkap dapat dilihat pada Lampiran Data Arus.02396 0. Sebatik Sebelah Timur P.100 Tabel 4. Berdasarkan hasil perhitungan arus pasang surut di lokasi titik-titik pengukuran di peroleh hasil sebagai berikut: Lokasi P. Distribusi frekuensi arah dan kecepatan arus pada 3 (tiga) kedalaman pengukuran memperlihatkan pola penyebaran yang sama.02141 -0. Pembuatan diagram grafik arus ini didasarkan pada pengklasifikasian arus menurut arah dan kecepatannya untuk semua lokasi stasiun pengukuran arus di lapangan. Nunukan Sebelah Utara P. Frekuensi kecepatan arus maksimum untuk arus permukaan lebih banyak dibandingkan arus menengah dan bawah.01078 -0. Sebatik dan P.02218 0. ini menunjukan bahwa arah arus untuk arus permukaan.Laporan Akhir arus non pasang surutnya.00800 116 132 175 0. Tabel di bawah ini memperlihatkan harga kecepatan arus maksimum untuk 3 (tigat) lokasi pengukuran pada 3 (tiga) kedalaman berbeda. khususnya di lokasi stasiun pengukuran. Pembuatan diagram grafik arus (lampiran) dilakukan untuk mengetahui arah arus dominan. menengah dan bawah relative sama.

890 0.806 0. Dari hasil penggambaran pola arus dan pasang surut untuk 3 (tiga) stasiun pengukuran memperlihatkan dengan jelas bahwa pola arus di lokasi survei sangat dipengaruhi oleh kondisi pasang surutnya. HASIL PENYELIDIKAN IV-11 .159 1.571 0.677 0. sedangkan di perairan sebelah timur Nunukan saat pasang arus bergerak kearah barat sedangkan pada saat surut arus bergerak kearah timur.Laporan Akhir Perairan Sebatik Sebelah Timur Selat Nunukan Sebelah Utara Selat Nunukan Sebelah Selatan - Pengukuran Permukaan Menengah Bawah Permukaan Menengah Bawah Permukaan Menengah Bawah Permukaan Menengah Bawah Permukaan Menengah Bawah Permukaan Menengah Bawah (m/det) 0.167 1.637 0. Di daerah Selat Nunukan sebelah utara dan selatan saat air pasang arus bergerak kearah baratlaut sedangkan pada saat surut arus bergerak ke arah tenggara.557 0. Kecepatan arus pada saat surut lebih besar dibandingkan kecepatan arus pada saat pasang.412 0.246 1.243 1.013 0.156 1.760 0.482 0.535 1.897 0. Hubungan Pola Arus dan Pasang Surut Penggambaran pola arus dan pasang surut dilakukan untuk melihat fenomena hubungan antara gerakan naik turunnya air laut (pasang surut) pengaruhnya terhadap pola arus disekitar lokasi daerah penelitian.552 Surut Arah Timur Pasang Arah Barat Surut Arah Tenggara Pasang Arah Baratlaut Surut Arah Tenggara Pasang Arah Baratlaut Tabel 4.3 Kecepatan Arus Maksimum Di 3 (tiga) Lokasi Pengukuran Diagram bunga arus dan peta arus di lokasi perairan Sebatik – Nunukan dapat dilihat pada Lampiran Data Arus.

berdasarkan data iklim dari Bandar Udara Tarakan sepanjang tahun angin timur bertiup antara 6 . Lokasi-lokasi tersebut adalah sepanjang pantai Tanjung Batulamampu di P. Gelombang yang timbul di perairan ini selain yang dibangkitkan oleh angin juga gelombang yang ditimbulkan karena alun dari laut lepas. Kondisi ini bisa berubah secara ekstrim hingga mencapai tinggi gelombang 100 . dimana gelombang ini juga cukup signifikan berpengaruh terhadap proses terjadinya abrasi pantai di sepanjang pantai keras. Nunukan. terjadi pada saat kondisi air Dilihat dari gambaran tersebut terlihat bahwa kecepatan arus maksimum sedang pasang dan sedang surut.2.8 bulan. Sebatik dan Semengkadu di P.3 Pengamatan Gelombang Pengamatan gelombang dilakukan dibeberapa lokasi dengan cara pengamatan visual. Secara umum arah penjalaran gelombang di sekitar perairan Nunukan dan sekitarnya selama pengamatan berasal dari timurlaut-timur dengan tinggi gelombang rata-rata antara 20 – 50 cm dan periode gelombang 5 – 8 detik pada keadaan normal. 4.Laporan Akhir Gambaran hubungan pola arus dan pasang surut digambarkan dengan pada jelas pada Lampiran Data Arus.150 cm saat angin bertiup kencang khususnya pada saat musim timur berlangsung. sedangkan pada saat terjadi gelombang besar tipe yang mengarah ke Lepas pantai kecuali di Tanjung Batulampu sebagai akibat resistensi dari batuannya yang cukup HASIL PENYELIDIKAN IV-12 . Pada keadaan normal tipe gelombang yang dominant adalah tipe plunging. sedangkan pada saat kondisi air pasang maksimum dan surut minimum kecepatan arusnya kecil atau terjadi “Slack Water”. . Saat kondisi air pasang maksimum dan surut minimum terjadi pembalikan arah arus sesuai dengan kondisi pasang surutnya.

Lintasan pemeruman umumnya berarah timurlaut-baratdaya dengan lintasan silang berarah utara-selatan serta lintasan disekitar Selat Nunukan.3 GEOFISIKA 4. Lintasan pengukuran mencapai kurang lebih 650 km.1 PEMERUMAN Maksud di lakukannya pekerjaan pemeruman di wilayah perairan Sebatik – Nunukan Kalimantan Timur adalah dalam rangka tersediannya data dasar tentang kondisi dasar laut di daerah telitian sebagai kajian untuk mengetahui kondisi geologi. yaitu sistem navigasi Differential Global Positioning IV-13 System (DGPS) type C Nav 272281. Wahana perahu tersebut diperlengkapi dengan kelengkapan navigasi dan echosounder yang sama. dan 1 (satu) perahu pancung untuk kedalaman kurang dari 2 meter (Shallow Sounding). Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan 1 (satu) buah perahu kayu berukuran kurang lebih 10 ton untuk daerah survei dengan kedalaman lebih dari 2 meter.1).Laporan Akhir gelombang yang terjadi adalah tipe surging dengan arah datang gelombang dominant tegak lurus pantai. Hasil pengukuran berupa penampang seismik yang menggambarkan keadaan sedimen dasar laut dan bawah laut serta struktur geologi. Data yang disajikan dalam bentuk tabel yang nantinya akan dikoreksi dengan pembacaan pasang surut kemudian akan diolah menjadi data kedalaman laut (batimetri). Kegiatan pengukuran pemeruman selalu dilakukan bersamaan dengan pengukuran penampang seismik hanya pada beberapa lintasan kegiatan ini dilakukan secara bersamaan (lihat gambar 4. perangkat lunak HASIL PENYELIDIKAN . Data posisi yang disajikan berupa data koordinat setiap 2 menit pembacaan kedalaman. 4.3.

7 m. Koreksi kedalaman dasar laut yang diterapkan untuk menghitung kedalaman yang sebenarnya (true depth) adalah koreksi pasang surut yang diperoleh dari pengamatan selama survei dan koreksi statis yaitu koreksi kedalaman laut terhadap posisi sensor echosounder. HASIL PENYELIDIKAN IV-14 . Harga Zo di stasiun pengamatan pasang surut tersebut digunakan untuk menyurutkan seluruh data batimetri yang sudah dikoreksi terhadap duduk tengahnya. Harga batimetri yang sudah disurutkan terhadap Chart Datum selanjutnya dibuat menjadi Peta Batimetri. Dalam tahapan pengolahan data. data hasil pemeruman ini dikoreksikan terhadap data pasang surut selama pengamatan. Data pasang surut ini diolah dengan menggunakan metode Admiralty untuk mendapatkan harga duduk tengah dan konstanta harmoniknya.1 m. Koreksi statis sudah secara otomatis dilakukan oleh alat echosounder pada saat dilakukan kegiatan barcheck saat sebelum survei dan saat sesudah survei sehingga harga kedalaman laut yang terbaca adalah harga kedalaman yang sudah terkoreksi statis. Berdasarkan hasil ekstrapolasi dan intrapolasi dari titik-titik kedalaman dari setiap lokasi pengambilan data diperoleh Peta Kontur Batimetri (Gambar 4.2a. b) dengan kedalaman laut hasil pengukuran berkisar yang terdangkal 5 meter hingga yang terdalam 45 meter . selanjutnya dilakukan perhitungan analisis kombinasi untuk mendapatkan harga muka surutannya atau Chart Datum (Zo).Laporan Akhir navigasi Hypack yang dijalankan pada sebuah komputer notebook dan 1 (satu) unit digital echosounder Odom Hydrotrac yang mempunyai ketelitian 0. Dari hasil perhitungan analisis kombinasi diperoleh harga Zo untuk stasiun pengamatan pasang surut Dermaga Sei Nyamuk Sebatik sebesar 1.

yaitu perairan Unarang.04o – 0.19o. Dilihat dari pola kontur kedalamannya morfologi dasar laut yang dominan di perairan ini secara umum terdiri dari perairan laut dangkal (kedalaman 0 – 10 m) dan perairan laut dalam (lebih besar dari 10 m). yaitu : Morfologi dasar laut daerah perairan laut terbuka.Laporan Akhir Berdasarkan pola kontur kedalaman laut pada Peta Batimetri. yaitu : perairan sebelah timur P. yaitu perairan Selat Nunukan dan selat lainnya. daerah surutan yang luas dengan gosong-gosong pasir yang muncul ke permukaan saat air laut surut rendah. morfologi dasar laut daerah telitian dapat dibagi berdasarkan sistem perairannya. kontur-kontur tertutup yang laut. dan perairan sebelah timur P. perairan sebelah tenggara P. Lokasi gosong-gosong pasir di pantai dilihat berupa kontur kedalaman yang renggang dan berarah tenggara-baratlaut dengan kedalaman bervariasi antara 0 – 2 m dan melampar luas ke tengah HASIL PENYELIDIKAN IV-15 . Haus. Perairan laut dangkal mempunyai ciri sebagai berikut : kemiringan morfologi dasar laut yang landai dengan kemiringan 0. Morfologi dasar laut di perairan selat. Nunukan. sebelah pola timur kontur daerah dari telitian yang termasuk Karang didalamnya morfologi terumbu Perairan Laut Terbuka Kawasan perairan yang termasuk kedalam daerah perairan laut terbuka. Sebatik.

2a.IV-16 Gambar 4. Peta Batimetri daerah telitian Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN .

2b. Peta Batimetri sekitar Karang Unarang HASIL PENYELIDIKAN IV-17 .Laporan Akhir Gambar 4.

35o – 0. Haus. Profil dasar laut di perairan ini diperlihatkan oleh pola kontur kedalamannya. Perairan Selat Nunukan bagian utara-timur dan bagian selatan mempunyai profil penampang morfologi dasar laut berbentuk huruf “U” dengan kedalaman laut berkisar antara 0 – 15 m. perairan ini dicirikan oleh pola kontur yang rapat dengan sudut kemiringan mengarah ke tenggara. Sedangkan lokasi gosong di tengah laut seperti Gosong Makasar dan Gosong Padang keberadaanya diindikasikan oleh bentuk kontur kedalaman tertutup yang cukup rapat dengan arah barat-timur. Sedangkan untuk harga kedalaman laut yang lebih besar dari 10 m.Laporan Akhir Pola kontur ini mendominasi sebagian besar perairan pantai sebelah timur terutama perairan pantai P. namun dibeberapa tempat ada yang lebih besar dari 15 m. HASIL PENYELIDIKAN IV-18 .57o. Tinambasan. Nunukan dan pantai P. Perairan Selat Perairan selat yang dimaksud adalah perairan Selat Nunukan yang melingkupi P. pantai P. dimana di pinggir selat kontur kedalaman relatif rapat dengan harga kedalaman berkisar antara 0 – 9 m sedangkan di tengah selat konturnya relatif renggang dengan harga kedalaman laut berkisar antara 10 – 15 m. Sebatik. Harga kedalaman laut di lokasi perairan ini berkisar antara 10 – 70 m dengan kemiringan antara 0. Nunukan sebelah barat hingga perairan Nunukan sebelah selatan dan perairan selat yang relatif cukup kecil dan sempit seperti selat di sebelah barat P. Nunukan sebelah utara. sedangkan di tengah selat relatif landai. Pola kontur rapat menunjukan bahwa kemiringan dasar laut di pinggir selat relatif cukup curam. Nunukan mulai dari perairan Nunukan sebelah timur. Lokasi Karang Unarang di sebelah timur daerah telitian terlihat sebagai suatu kontur tertutup yang relatif kecil.

Gosong pasir ini mempersempit alur pelayaran sehingga mengganggu kapal-kapal yang keluar masuk Nunukan. urutan sedimentasi (stratigrafi) yang teridentifikasi dalam rekaman seismik (analog record).timur (Peta morfologi batuan dasar ini IV-19 . hal ini diperlihatkan oleh pola konfigurasi reflektor yang tidak seragam dari masing-masing lintasan.2 SEISMIK PANTUL DANGKAL Pengambilan data seismik dangkal saluran tunggal dimaksudkan untuk mengetahui gambaran kondisi geologi bawah permukaan seperti tatanan struktur geologi. yaitu mempunyai daerah aliran berbentuk huruf “U”. Untuk perairan selat yang sempit kondisi morfologinya tidak berbeda jauh dengan kondisi morfologi daerah sungai. bentukan HASIL PENYELIDIKAN umumnya barat . dimana sedimentasi terjadi mengikuti bentukan dari morfologi sebelum terjadi pengendapan. Proses geologi bawah dasar laut dapat diketahui berdasarkan hasil interpretasi rekaman seismik pantul dangkal Dari beberapa contoh rekaman yang ditampilkan terlihat bahwa proses sedimentasi yang terjadi tidak menerus. Kondisi yang terjadi demikian merupakan hasil proses geologi.3.Laporan Akhir Sedangkan di perairan Selat Nunukan sebelah barat hingga baratlaut profil penampang morfologi dasar lautnya relatif lebih landai dengan kedalaman laut berkisar antara 0 – 8 m. Di sebelah barat terutama di daerah sekitar Tj. Bentukan morfologi dasar laut di daerah selidikan ditandai oleh adanya tinggian-tingian dasar laut yang merupakan batuan dasar. Lintasan utama seismik berarah Lintasan). 4. pola kontur ini menunjukan lokasi gosonggosong pasir yang terdapat di lokasi ini. Cantik kontur 2 m relatif menjorok ketengah hampir bersatu dengan kontur 2 m yang terdapat di tengah selat.

5 m. Daerah telitian dengan memperhatikan pola reflektor yang ada terdiri atas 4 (empat) kelompok runtunan. Runtunan ini memiliki ketebalan yang paling tipis hanya berkisar antara 5 hingga 7.Laporan Akhir tidak seragam kadang kala terlihat bentuk cekungan atau morfologi berundak dan ada kalanya lapisan sedimen bawah permukaan ini seperti lapisan datar (flat) karena batuan dasarnya berada cukup jauh dibawahnya.3 & 4. Batas atas unit A ini menerus hampir di semua lintasan terutama di bagian tengah daerah selidikan (sekitar Gosong Makasar hingga Karang Unarang) karena selain disebabkan oleh lemahnya energi. Unit A ini dijumpai hampir di seluruh lintasan seismik di daerah selidikan Kecuali Lintasan di selatan / tenggara daerah penyelidikan dengan tatanan struktur geologi yang relatif tidak berkembang. 1977). kemudian di bawahnya adalah runtuhan B yang merupakan batuan yang lebih muda. Hal ini menunjukkan saat pengendapan dalam perioda yang tenang (Mitchum. Runtuhan ini diperkirakan sebagai sedimen baru berumur kuarter. masing-masing: (Gambar 4. sehingga horizon reflektornya sulit diidentifikasi.4). Runtunan B HASIL PENYELIDIKAN IV-20 . umumnya tertutup oleh karakter pantulan external. Runtunan A Runtunan-A merupakan runtunan termuda dicirikan dengan pola reflektor berupa perlapisan yang menerus dan sejajar/paralel umumnya pola konfigurasi ini mempunyai kontinuitas rendah dan variasi amplitudo berjalan secara perlahan atau tidak ada sama sekali. Pola ini mengandung sedimen berbutir halus dan diendapkan di lingkungan yang berenergi rendah seperti delta yang mengalami depresi.

memiliki ketebalan 7. Pada runtunan ini terlihat adanya struktur patahan yang berkembang hingga sesar.Laporan Akhir Runtunan B pada beberapa lintasan terlihat berada secara tidak selaras di bawah runtunan A nampak pada Lintasan 11 dengan pola karakter refleksi berbentuk divergent (Mitchum. Runtunan ini dicirikan dengan pola reflektor berbentuk subpararel hingga divergent dengan di beberapa tempat mengalami penipisan serta terlihat kontak erosional membentuk channeling yang nampak pula pada Lintasan-5 yang merupakan kenampakan khas dari kompleks slope fan. 1977).5 hingga 12 meter. Runtunan D Runtunan D merupakan runtunan tertua sekaligus sebagai batuan dasar akustik di daerah telitian. ketebalan runtunan ini sangat bervariasi yang secara umum berkisar antara 10 hingga 20 m. Di lokasi tertentu khususnya di sekitar Karang Unarang (selatan Karang Unarang) seperti terlihat pada Lintasan Unarang-1 memperlihatkan sedimen transparan yang mengisi channel yang dibentuk oleh struktur graben dengan arah relatif barat .timur yang diduga berumur Miopliosen. Runtunan C Runtunan C terletak di bawah runtunan B secara tidak selaras yang dicirikan dengan pola reflektor dari subparalel hingga transparan. Khusus untuk lokasi di sekitar Karang Unarang pola umum struktur yang berkembang memiliki arah baratlaut-tenggara (relatif sama dengan pola struktur di daratan Kalimantan Timur). HASIL PENYELIDIKAN IV-21 . selain itu terlihat pula beberapa struktur lipatan berupa antiklin.

3.Laporan Akhir IV-1 Gambar 4. Penampang Seismik Lintasan 4 HASIL PENYELIDIKAN .

4.IV-2 Gambar 4. Penampang Seismik Lintasan Unarang 1 Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN .

4 GEOLOGI KELAUTAN 4.3). yaitu di kawasan pantai sekitar Sei Taiwan dan Batulamampu (Foto 4. Kawasan pantai di daerah penyelidikan secara garis besar terdiri dari kawasan pantai P.5). dan pantai Pulau Haus.4. HASIL PENYELIDIKAN IV-24 .2 dan 4. Dilihat dari profil batimetrinya pantai sebelah timur hingga selatan mempunyai karakteristik profil pantai yang landai.1 KARAKTERISTIK PANTAI Pengamatan karakteristik pantai dilakukan sepanjang pantai daerah penyelidikan. pantai Pulau Nunukan. Berdasarkan hasil pengamatan lapangan kawasan pantai di daerah penyelidikan pada umumnya merupakan pantai berbakau dengan profil pantai dari landai hingga curam.Laporan Akhir 4. Kawasan Pantai Pulau Sebatik Kawasan pantai Pulau Sebatik terbentang sepanjang Pulau Sebatik mulai dari perbatasan Indonesia – Malaysia di timur sampai dengan perbatasan Indonesia – Malaysia di barat dengan panjang pantai seluruhnya kurang lebih 58 km. Sebatik. Pengamatan dan pengambilan data dilakukan secara visual dan deskriptif. Kondisi pantainya sebagian besar terdiri dari pantai mangrove dengan kondisi cukup kritis khususnya di sekitar Sei Pancang dan Sei Nyamuk (Foto 4.1) dan hanya sebagian kecil pantai berpasir. sedangkan pantai sebelah barat karakteristik pantainya relative lebih curam. pantai Pulau Nunukan Selatan. Tujuan dari pengamatan karakteristik pantai adalah untuk mengetahui secara detail kondisi pantai daerah penyelidikan kaitannya dengan pemetaan garis pantainya (Gambar 4.

Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN IV-25 .

2 Pantai Berpasir di sekitar Sei Taiwan. P. Sebatik Foto 4.1 Pantai dengan hutan mangrove dengan kerapatan rendah di Sei Pancang (pada saat pasang). P.Laporan Akhir Foto 4. Sebatik HASIL PENYELIDIKAN IV-26 .

sedangkan di pantai sebelah selatan hingga barat karakteristik garis pantainya berupa pantai lurus dengan garis pantai pada saat pasang maksimum tidak dapat teramati karena tertutup oleh tumbuhan bakau. HASIL PENYELIDIKAN IV-27 .Laporan Akhir Foto 4. Pantai bagian timur mulai dari Sei Pancang sampai dengan Sei Taiwan pada umumnya sudah cukup berkembang karena kawasan ini merupakan kawasan yang berbatasan langsung dengan Malaysia. sebaliknya di pantai sebelah terluar ke laut cukup sempit. namun belakangan ini telah banyak dibuka lokasi pertambakan.3 Pantai Berpasir di Tanjung Batu Lamampu. Sedangkan pantai sebelah selatan hingga barat merupakan pantai yang belum berkembang. Sebatik Di pantai sebelah timur pada saat air surut rendah terlihat daerah surutan yang sangat luas dengan gosong-gosong pasir yang muncul ke permukaan. barat pada saat air surut rendah daerah surutan yang teramati dari tumbuhan bakau Karakteristik garis pantai di pantai sebelah timur berupa pantai lurus agak berlekuk dan tanjung dengan batas garis pantai pada saat pasang maksimum dapat teramati dengan jelas terutama pada lokasi yang ada pemukiman penduduk dan tidak ada tumbuhan bakaunya. P.

begitu pula di Tanjung Cantik terlihat daerah surutan yang cukup lebar walaupun tidak seluas seperti di pantai sebelah tenggara namun demikian di sebelah barat Tanjung Cantik terdapat juga gosong yang berdekatan dengan Pulau Tinambasan. sehingga di daerah ini alur selatnya menjadi sempit dan berbahaya bagi pelayaran. HASIL PENYELIDIKAN IV-28 . pantainya dilihat dari penampang batimetri sebagian besar relative curam kecuali di kawasan pantai sebelah tenggara P.1 km Panjang garis pantai kondisi pantainya Karakteristik profil seluruhnya dengan sebagian besar adalah pantai mangrove. Nunukan dan sekitar Tanjung Cantik profil pantainya landai. Profil garis pantainya pada umumnya berupa pantai lurus agak berlekuk dan tanjung. Gosong-gosong pasir tersebut akan muncul pada saat air surut rendah sehingga terlihat daerah surutan yang luas yang melampar sampai ke laut.4). kurang lebih 68.5) pada saat air surut rendah daerah surutan yang teramati dari garis bakau terluar sampai ke posisi air laut cukup sempit karena tertutup oleh tumbuhan bakau. Sebaliknya di pantai sebelah selatan-baratdaya mulai Semengkadu ke arah Timur (Foto 4. Kawasan pantai Nunukan sebagian besar belum berkembang hanya di pantai sebelah utara hingga timurlaut yang sudah berkembang menjadi daerah pemukiman penduduk dan perkantoran. sedangkan batas garis pantainya pada saat pasang maksimum sebagian besar tidak dapat diamati karena batas garis pantainya berada di dalam kawasan bakau. hal ini ditandai dengan adanya gosong pasir yang cukup lebar mulai dari pantai hingga ke tengah laut (Foto 4.Laporan Akhir Kawasan Pantai Pulau Nunukan Pulau Nunukan terletak di sebelah selatan Pulau Sebatik dengan seluruh pulaunya dikelilingi oleh laut.

Nunukan Foto 4. P.4 Pantai Berpasir dengan kenampakan gosong-gosong pasir di Tanjung Cantik. Nunukan HASIL PENYELIDIKAN IV-29 .5 Pantai dengan kondisi hutan mangrove yang lebat di sekitar timur Semengkadu.Laporan Akhir Foto 4. P.

Kondisi ini menyebabkan hampir sebagian besar daratan dari kedua Pulau ini dijadikan kawasan pertambakan. Karakteristik garis pantainya Batas garis pantai berupa pantai lurus berlekuk di pantai sebelah timur. Sedangkan daerah surutan di sebagian besar Pulau Nunukan selatan terlihat cukup sempit diukur dari garis bakau terluar sampai ke posisi air laut. kondisi ini akan sangat jelas terlihat pada saat air surut rendah.6). sedangkan di sebelah barat garis pantainya berlekuk-lekuk.Laporan Akhir Kawasan Pantai Pulau Nunukan Selatan dan Bukat Pulau Bukat terletak di sebelah baratdaya Pulau Nunukan. Hampir seluruh daratan pantai di Pulau Haus ditumbuhi dengan tumbuhan bakau (Foto 4. tertutup oleh tumbuhan bakau. di sebelah timur dan utara dibatasi oleh Selat Nunukan sedangkan di sebelah barat dan selatan dibatasi oleh Sungai Sebaung. Di sebelah timur Pulau Bukat terutama dekat Tanjung Bilas pada saat surut rendah terlihat adanya gosong pasir yang melebar kearah timur (Foto 4. Dilihat dari penampang batimetrinya secara umum profil pantai di Pulau Nunukan Selatan sebelah utara relative lebih curam dibandingkan dengan profil pantai sebelah selatan dan pantai Pulau Bukat. Kawasan Pantai Pulau Haus Profil kawasan pantai sebelah utara hingga timur Pulau Haus dilihat dari penampang batimetri pada umumnya adalah landai dengan daerah gosong pasir yang melampar luas dari pantai hingga ke tengah laut. sehingga batas garis pantai pada saat pasang maksimum tidak dapat teramati. namun dalam sepuluh tahun terakhir ini telah berkembang usaha pertambakan udang dan ikan bandeng. HASIL PENYELIDIKAN pada saat pasang maksimum tidak dapat teramati karena letaknya IV-30 .7). hal ini menyebabkan daerah surutan yang teramati cukup luas. Pulau Nunukan Selatan dan Pulau Bukat termasuk pulau yang tak ada penduduknya.

Laporan Akhir Foto 4. Bukat Foto 4. Haus (pada saat pasang maksimum) HASIL PENYELIDIKAN IV-31 .6 Pantai tertutup hutan mangrove di utara P.7 Pantai mangrove yang umum terdapat di sekitar P.

4. Dalam penentuan klasifikasi tersebut penamaan komposisi sedimen hanya dilihat dari distribusi besar butirnya. 7. Berdasarkan analisa besar butir (LAMPIRAN) diperoleh hasil bahwa litologi sedimen permukaan dasar laut terdiri dari 7 Jenis Sedimen berdasarkan klasifikasi Folks yaitu : (Gambar 4. Pasir Lanauan. Lanau Pasiran. atau yang HASIL PENYELIDIKAN IV-32 .2 SEBARAN SEDIMEN Kegiatan ini dibagi dalam 2 macam. dimana akan terdapat distribusi yang dominan dan tidak dominan. jenis satuan ini terdapat di timur Pulau Nunukan yang berupa gugusan terumbu karang.6) 1. Lanau. Pasir. Lempung 5. Pasir Sedikit Kerikilan. Untuk memperoleh gambaran sedimen permukaan dasar laut. maka sulit untuk melihat jenis batuannya.0 phi hingga 8 phi. dilakukan pemisahan butiran di laboratorium berdasarkan kelulusan mess ayakan (x phi) mulai –2. Terumbu Karang. Oleh karena itu apabila terdapat fragmen karbonat. Hal inilah yang terjadi di daerah penyelidikan. yang seringkali berasal dari tempat sedimentasinya (insitu). yaitu Pengambilan Contoh Sedimen Permukaan dasar laut yang diambil sepanjang lintasan pemeruman dengan jumlah contoh sedimen terambil sebanyak 59 contoh dan pengambilan contoh sedimen pantai dan pengambilan contoh dengan bor tangan. 6. Terumbu Karang 2. 3.Laporan Akhir 4. 4. Selanjutnya untuk menentukan nama sedimen berdasarkan klasifikasi tekstur sedimen permukaan dasar laut dari Folk (1980).

atau tepatnya disekitar pesisir dari Pulau Bukat dan sekitarnya. Nunukan. Penyebaran satuan sedimen ini berada di sekitar barat daya daerah selidikan. kuning kecoklatan hingga kehijauan. lunak. Penyebaran satuan ini sekitar 30 % dari daerah selidikan.2 . Sebatik dan sebagian kecil terdapat dibagian Utara dan Barat P. disebelah Timur sampai Tenggara P Nunukan bahkan hampir meliputi sekeliling P.Laporan Akhir lebih dikenal sebagai Karang Unarang.1. berwarna kehijauan. ini merupakan jenis yang dominan dengan penyebaran hampir diseluruh daerah telitian yang dekat dengan tepi pantai atau sekitar 35% dari daerah selidikan.5 cm. pasir lebih dari 10% (ukuran pasir sangat halus sampai halus). mulai dari Baratdaya P. Satuan ini menempati luas paling sempit di daerah telitian. Lanau. lunak. jenis sedimen dengan butiran halus. mengandung pecahan cangkang moluska. Pasir. plastisitas rendah. adanya pecahan cangkang foram (dominan) ukuran cangkang 0. komposisi pasir terdiri dari mineral hitam dan pecahan cangkang moluska. plastisitas sedang. mempunyai penyebaran yang tidak terlalu luas atau sekitar 15 % dari daerah selidikan. Lanau Pasiran. Nunukan Lempung. fluida rendah. berwarna kecoklatan sampai kehijauan. mengandung fluida tinggi dan plastisitas rendah. ukuran pasir berbutir sedang sampai kasar. lunak. terdapat mineral hitam biotit. atau tepatnya hanya HASIL PENYELIDIKAN IV-33 . berwarna kehijauan. Sebatik. mulai dari Arah Barat sampai Tenggara P. Berdasarkan hasil data pemboran (BH1) ketebalan lapisan ini mencapai 30 meteran. bersifat lunak. mengandung fluida tinggi. besar butir relatif homogen. mengandung sisa organik.

memiliki sifat fisik umumnya Lanau pasiran. Sumber sedimen terbesar adalah daratan pantai yang terdiri dari aluvial pantai hasil erosi daratan. Sebatik Pasir Sedikit Kerikilan. panjang dan pipih seperti rambut. jarak transpor sedimen. penyebarannya sekitar 20 % dari daerah selidikan. buruk-sedang. sedikit lanauan. materi sub pasir terdiri dari: cangkang moluska dan foram besar. plastisitas rendah. Sebatik dan sebagian kecil terdapat di sebelah Baratlaut P Nunukan Pasir Lanauan. Terdapat beberapa faktor yang menentukan terbentuknya pola sebaran sedimen permukaan dasar laut daerah penyelidikan antara lain adalah sumber sedimen. tepatnya hanya terdapat di daerah tenggara Pulau Sebatik dan sebagian lagi tersebar di sebelah Timur P. dengan penyebaran sempit atau sekitar 5 % dari daerah selidikan. berwarna kehijauan . Sebatik.Laporan Akhir terdapat di daerah Tenggara P. Sungai-sungai tersebut berperan terhadap hadirnya HASIL PENYELIDIKAN IV-34 . berwarna kehijauan. atau tepatnya hanya di sebelah Timur Pulau Sebatik dan sebagian kecil terdapat di sebelah Tenggara P. hancur. Aluvium inilah yang dapat diinterpretasikan sebagai sumber detritus pasir bagi satuan sedimen yang bertekstur kasar di daerah penyelidikan. mineral hitam. mengandung mineral hitamdan sisa organik (berwarna hitam. mengandung fluida sedang. ukuran pasir sedang-kasar. bersifat lunak. arus laut/selat dan bentuk morfologi dasar laut. pemilahan angular-angular. Selanjutnya sumber sedimen lain yang teramati cukup besar adalah sedimen yang dibawa sungai-sungai yang bermuara ke daerah penyelidikan. kandungan pasir terdiri dari : pecahan cangkang moluska. biotit.

Laporan Akhir HASIL PENYELIDIKAN IV-35 .

4. Adapun kehadiran dengan sebaran komposisi pasiran dominan di sekitar laut lepas adalah kemungkinan karena jarak transport sedimen yang relatif jauh dan dibuktikan pasir tersebut detritus. dolomit dan pirit. limonit. zirkon. yaitu arus laut selat dan morfologi dasar laut teramati dan dapat diinterpretasikan sebagai dua faktor yang tidak dominan dibandingkan sumber sedimen. hematit. kilap sub metalik. Magnetit terbentuk dibawah kondisi yang agak lemah dibanding hematit berupa endapan bijih.Laporan Akhir detritus pada sedimen permukaan dasar laut sampai di bagian timur laut Selat Nunukan yang membentuk Gosong Makasar di tengah laut. Hal ini terbukti dengan dominannya sebaran pasir kerikilan yang berkomposisi campuran antara detritus dan pasir laut. Magnetit (Fe3O4). Mineral berat yang diperoleh berupa: magnetit. Mineral ringan yang teramati pada analisis ini adalah kuarsa sedangkan material bawaan berupa kayu teroksidasi dan cangkang. hornblende. Penyajian kadar mineral-mineral di atas untuk tiap lokasi contoh. Dua faktor lainnya.4.3 Mineral Berat Berdasarkan hasil preparasi dan analisa yang dilakukan terhadap contoh sedimen pantai maupun dasar laut didapatkan 7 jenis mineral berat dan 1 jenis mineral ringan serta 2 material bawaan. termasuk dalam kelompok oksida kenampakan sepintas mirip dengan ilmenit dengan variasi warna hitam hingga hitam agak kebiruan. dengan bentuk khas biasanya berupa untaian (saling berangkai membentuk untaian rantai). umumnya terjadi pada HASIL PENYELIDIKAN IV-36 . berupa persen berat yang merupakan harga perbandingan jumlah berat mineral yang bersangkutan (gram) terhadap jumlah total berat mineral berat (gram) dalam fraksi sedimennya lalu dikalikan 100 persen.

keterdapatan mineral ini dijumpai di sekitar pantai Tanjung Aru (BT HASIL PENYELIDIKAN IV-37 . pegmatit dan kontak metasomatik (Betekhtin. kandungan mineral ini dijumpai dari kisaran 0.0073% berat. A. A. barit kadang-kadang dengan magnetit. Di lokasi kegiatan pada sedimen dasar lautnya kehadiran mineral ini dijumpai dengan kisaran mulai dari 0. Umumnya ditemukan dalam endapan yang berkaitan dengan proses hidrotermal yang berasosiasi dengan kuarsa.0525% berat (di sekitar pantai Sei Nyamuk) hingga 0.Laporan Akhir beberapa tipe batuan magmatik. Sebatik (SBT05-44) 0. Sistem kristal trigonal. Keterdapatan di daerah penelitian cukup merata walaupun dijumpai dalam jumlah yang relatif kecil. selain itu dijumpai pula di lepas pantai selatan Tanjung Batulamampu. sedimen Sementara lanau untuk pasiran sedimen dengan pantai. Kisaran kandungan mineral ini berkisar antara 0. 1976). Keterjadian dan keterdapatan di alam terbentuk di bawah kondisi oksidasi. Hematit (Fe2O3): komposisi kimia mineral ini 70% berupa Fe dan sisanya merupakan percampuran dari isomorphus Ti (titanhematit) dan Mg.248% dalam berat. 1976). simetri dan ditrigonal scalenohedral dengan struktur kristal yang analog dengan korondum.0795% (SBT05-02) pada sedimen lumpur pasiran sedikit kerikilan yang dijumpai di sekitar selat antara Nunukan dan Sebatik tepatnya di utara pantai Sei Bolong hingga dengan kandungan tertinggi sebesar 2. siderit dan klorit (Betekhtin. Adapun di bagian pantainya.0001% berat yang ditemukan di lepas pantai sebelah timur Sei Taiwan (SBT05-56) pada sedimen pasir hingga kandungan yang tertinggi dijumpai di tenggara lepas pantai Sei Nyamuk (SBT05-53) terdapat pada sedimen pasir kerikilan dengan kandungan sebesar 0.6364% berat (sekitar pantai Sei Bajau).5496% berat (SBT05-51) terakumulasi di sedimen pasir sedikit kerikilan yang terdapat di perairan sebelah baratlaut Karang Unarang.

Merupakan mineral yang memiliki kemanfaatan tinggi karena sifat kristalnya. termasuk grup silikat putih/bening.Fe)4 (Al. Sistem kristalnya orthorombik rhombik dipiramidal kekerasan berkisar antara 4. hanya dijumpai di 2 lokasi masing-masing di perairan (selat) antara P.0001% berat pada sedimen pasir dan di pantai sekitar dermaga Sei Nyamuk (BT 10) sebesar 0.032% berat.0025% berat pada sedimen pasir yang dijumpai di perairan utara Karang Unarang (SBT05-50).021% berat. Keterdapatannya di daerah penelitian tidak menunjukkan kehadiran yang signifikan. Sedangkan 2 contoh lain ditemukan di sedimen pantainya dengan kisaran antara 0. 1976).nH2O): yang simetri memiliki dan komposisi kimiawi secara dengan normatif terdiri atas Fe2O3 89. Tinabasan dan P.1%. Nunukan (SBT05-01) sebesar 0. terjadi pada daerah yang berasosiasi dengan batuan intrusi magmatik (granitik).9% dan H2O 10.0081% berat (BT 8 atau di sekitar pantai Sei Bajau). Limonit (HFeO2.Laporan Akhir 9) dan dermaga Sei Nyamuk (BT 10) dengan kisaran 0.0014% (BT 9 atau sekitar pantai Tanjung Aru) hingga 0. HASIL PENYELIDIKAN IV-38 . syenit dan diorit atau bisa pula ditemukan pada tuff. Hornblende {Ca2Na(Mg. Nunukan (SBT05-01) dengan kandungan 0. Komposisi kimiawinya sangat bervariasi dengan sistem kristal monoklin berupa simetri dan prismatik (Betekhtin. Keterdapatannya di daerah penelitian hanya dijumpai di 4 lokasi dengan kandungan terendah ditemukan pada sedimen pasir yang terdapat di sekitar perairan (selat) antara P. Zirkon (ZrSiO4).5 hingga 5. A. Tinabasan dan P.0013% hingga 0.0001% berat dan tertinggi sebesar 0.5 (skala Mohs). nephelin.Fe) (OH)2: merupakan bagian dari grup amphibol.

Dolomit {CaMg(CO3)2}: secara normatif berkomposisi CaO 30. Kehadirannya di daerah penelitian terdapat pada semua contoh yang dianalisa dengan kisaran keterdapatan antara 0. Tinabasan (SBT05-01) pada sedimen pasir dan di lokasi paling utara atau lepas pantai timur Sei Nyamuk (SBT05-58) dengan kandungan 0.. mineral ini dijumpai di sekitar pantai Sei Pancang (BT 4) dengan kandungan 0.0003% berat yang dijumpai di perairan utara Sei Bolong. Komposisi kimia normatif terdiri dari Fe 46.6% dan S 53.Laporan Akhir Kehadiran di daerah penelitian terdapat di 11 lokasi dari seluruh contoh yang dianalisa. Pirit (FeS): pada contoh yang bersifat insitu mineral ini dapat dijadikan penciri proses mineralisasi tahap awal.9 (Betekhtin. Sedangkan untuk sedimen pantainya. A. MgO 21.023% berat sebagai kandungan tertinggi yang dijumpai di sekitar pantai Tanjung Batulamampu (BT 7). Sistem kristal rhombohedral dengan kekerasan 3. Adapun di sedimen pantainya hanya dijumpai di sekitar pantai Batulamampu (BT 7) dengan kandungan sebesar 0.0007% berat dan kandungan 0.4% dengan sistem kristal HASIL PENYELIDIKAN IV-39 .035% berat terakumulasi pada sedimen pasir sedikit kerikilan yang dijumpai di perairan sebelah baratlaut Karang Unarang (SBT05-51).9%.4 hingga 4 (skala Mohs) serta umumnya berwarna putih keabuan dan terkadang kecoklatan dengan SG 2.7%. 1976). Nunukan (SBT05-02) pada sedimen lumpur pasiran sedikit kerikilan hingga kandungan tertinggi sebesar 0. Nunukan dan P.4%. dan CO2 47.0034% berat.0001% berat sedangkan kandungan tertingginya dapat ditemukan pada sedimen pasir lanauan di perairan sebelah timurlaut Karang Unarang (SBT05-49) dengan kandungan sebesar 0.004% berat. Dijumpai dengan keterdapatan terendah di sekitar perairan (selat) antara P.

Hemicytheridea reticulata. 1976).4 Fosil Mikro Fauna Hasil analisis ostracoda menunjukkan kelimpahan dan keanekaragaman yang kurang bervariasi bila dibandingkan dengan perairan sekitar Tarakan dan Delta Mahakam. Tinabasan dan P.0002% berat yang terdapat pada sedimen lanau pasiran hingga kandungan tertinggi sebesar 0.2 (Betekhtin. Kemudian ostracoda mulai muncul dalam jumlah tidak melimpah di daerah transisi dan ditemukan secara melimpah di laut lepas daerah penelitian. tetapi kenampakan berwarna kecoklatan dan ostracoda umumnya ditemukan dalam bentuk tangkupan (carapace).Laporan Akhir kubus simetri serta dicirikan dengan kilap logam yang kuat dan SG 4. Nunukan (SBT05-11) yang terakumulasi pada sedimen lanau. HASIL PENYELIDIKAN IV-40 . 4. H. Ostracoda tidak ditemukan pada 18 titik lokasi dan 15 titik lokasi diantaranya terletak di sekitar P.8): Hemicytheridea cf. reticulata. Tinabasan dimana ostracoda mempunyai dan foraminifera dijumpai cangkang sangat kurang melimpah baik. Hal ini dapat dilihat dari keterdapatan sisa-sisa tanaman secara dominan dan sedikit mengandung sedimen. Keterdapatan mineral di daerah penelitian berdasarkan contoh yang dianalisa dapat dijumpai di sekitar perairan Gosong Makasar (SBT05-38) dengan kandungan terendah sebesar 0.. A.9 hingga 5.4. Namun demikian ada satu titik lokasi di dekat P. Nunukan yang dipengaruhi oleh kegiatan sungai. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa ada 9 species ostracoda yang dijumpai cukup melimpah dan tersebar cukup merata terutama di laut lepas yaitu beberapa species dari genus Hemicythreidea (Foto 4. yaitu terdapat 82 spesies dan empat diantaranya belum diidentifikasi (Lampiran).004% berat yang dijumpai di sekitar muara perairan antara P.

Pada titik lokasi ini jumlah spesimen tidak dijumpai maksimal namun ditemukan di dekat P. terdapat pada lima titik lokasi di laut lepas Sedangkan nilai indeks diversitas kurang dari dua sebagai pencerminan kondisi HASIL PENYELIDIKAN IV-41 .9): Keijella kloempritensis. 49 pada 17 titik lokasi. Sebatik yang merupakan daerah transisi antara daerah sekitar muara sungai dan laut lepas. Nunukan dan P. Sedangkan jumlah spesies lebih dari 30 ditemukan pada lima titik lokasi yang terletak di perairan laut lepas (SBT-29. Pistocythereis Ada bradyiformis. -52. Keijella reticulata Phlyctenophora orientalis. Tinabasan (SBT-01). Cytherella semitalis. spesies Alocopocythere dijumpai sangat kendengensis. Hemicytheridea reticulata di SBT-35. Sebatik. –57 Jumlah spesies bervariasi dari 1 hingga 33 dan nilai tertinggi dimiliki oleh titik lokasi SBT-47 yang terletak tidak jauh dari Karang Unarang. yang merupakan penciri perairan transisi antara air tawar dan asin. -52 dan -58).Laporan Akhir genus Keijella (Foto 4. Berdasarkan dari tipe habitatnya. dan yang Keijella multisulcus. Jumlah spesies kurang dari 10 ditemukan pada lokasi sekitar sebelah selatan P. mempunyai beberapa titik lokasi yang tidak ditemukan mikrofauna ataupun jumlah spesies sangat rendah. dan Sinocytheridea sp.098 sampai 3. • • • beberapa melimpah pada titik lokasi tertentu: Foveoleberis cyraeoides sangat dominan di titik lokasi SBT-46. Nilai indeks diversitas sangat tinggi (> 3). -46. -38. Phlyctenophora orientalis di SBT-45. Hasil penghitungan indeks diversitas menurut rumus ShannonNilai indeks diversitas tidak dapat dihitung pada titikWeaver / H (S) menunjukkan nilai antara 1. yang mencerminkan kondisi lingkungan sangat bagus. ostracoda yang ditemukan di daerah penelitian umumnya penciri perairan laut dangkal dan hanya dua spesies yaitu Myocyprideis sp. terutama pada titik lokasi yang terletak di sekitar P. -47.

-37. Ammonia beccarii (SBT-11. dan Textularia sp. -35. Elphidium gunteri. Foraminifera. Cibicides sp. Beberapa spesies foraminifera bentik dijumpai cukup dominan di beberapa titik-titik lokasi tertentu sebagai berikut: • • • • Dua Asterorotalia trispinosa (SBT-23. Seperti disebutkan sebelumnya bahwa ostracoda tidak ditemukan di titik-titik lokasi sekitar P. Asterorotalia merupakan genus yang dapat bertahan dalam kondisi lingkungan buruk karena bentuk morfologisnya yang mempunyai HASIL PENYELIDIKAN IV-42 .8.Laporan Akhir lingkungan kurang baik bagi kehidupan mikrofauna terdapat pada 7 titik lokasi yang tersebar tidak merata baik di daerah transisi maupun di laut lepas. 50. (SBT-47) . namun kondisi dasar perairan dapat dideteksi dari keterdapatan beberapa spesies foraminifera di titik-titik lokasi tersebut yang diuraikan di bawah ini. Quinqueloculina sp. Nunukan. spesies pertama ini cukup mendapat perhatian karena mempunyai keterkaitan erat dengan kondisi lingkungan setempat. Foto 4. Keijella spp. -39. Hemicytheridea spp. Foto 4. -55 dan -56). -34. -52.9. -33. -40).

10). Bentuk abnormal Elphidium HASIL PENYELIDIKAN IV-43 . dimana pada umumnya genus ini berduri tiga (Foto 4. Selain itu dijumpai pula cangkang yang tidak normal pada Elphidium berupa kerusakan kamar-kamarnya (Foto 4.11A. Asterorotalia di daerah penelitian mempunyai bentuk morfologis yang bervariasi yaitu berduri dua. lima bengkok dan ada dua duri yang muncul berdekatan (Foto 4. Genus Asterorotalia dengan berbagai bentuk morfologis yang tidak normal. pada dasar perairan berupa Selain itu.11B.11B) Foto 4.11A). Bentuk normal Asterorotalia Foto 4. empat. Foto 4.Laporan Akhir duri sebagai penyangga tubuhnya lumpur atau arus deras.10.

5 Mineral Lempung Suatu mineral silika dapat berubah menjadi mineral silika lain yang lebih stabil dengan mengubah keteraturan struktur kristalnya. HASIL PENYELIDIKAN IV-44 . Karena semua mineral silika menunjukkan adanya refleksi atau peak atau hump pada posisi 4. umum kuarsa.12). lokasi alat karakteristiknya dimana indikasi pada diperlihatkan dengan pemunculan 2 puncak (peak) yang berkisar keterdapatan kedalaman mikroskopis teramati tertinggi meter dengan dijumpai (score contoh BH-2 berdasarkan kenampakan electron menggunakan dengan scanning microscope (SEM).Laporan Akhir 4.4. Urutan perubahan yang sama juga ditunjukkan oleh beberapa hasil eksperimen kristalisasi silika di laboratorium. mineral silika mikrokristalin lainnya yang dapat adalah kristobalit dicirikan kenampakan strukturnya yang berlapis (sama dengan tridimit.34 kristalnya.25 Å. hanya dibedakan derajat intensitas difraktographnya). Selain di 90). (Foto 4. Å 26 dan Kenampakan 4.3 Å (sekitar 22°2θ ). Pada tulisan ini diuraikan suatu metode optimum yang mempunyai reproduksibilitas tinggi yang dapat digunakan untuk mengukur derajat kristalinitas silika berdasarkan pola XRD diuraikan. Studi diagenesis silika pada sedimen klastik menunjukkan perubahan yang progresif dari silika non-kristalin menjadi opal-CT dan opal-C. maka kristalinitas silika dapat diekuivalenkan dengan melihat bentuk peak XRD. karena mineral ini secara struktur kristal memang merupakan mineral silika mikrokristalin yang paling stabil struktur pada 3. meliputi intensitas atau tinggi dan lebar pada posisi sekitar 4 Å Berdasarkan 6 contoh yang dianalisa di daerah telitian mineral kuarsa (SiO2) dijumpai di seluruh contoh yang dianalisa dengan keterdapatan (score) yang paling dominan berkisar antara 75 hingga 90 (Lampiran).0 hingga 4.

keduanya merupakan sedimen lanau memperlihatkan kekerapan yang tinggi. khusus untuk lokasi contoh SBT05-19 dan SBT05-30.82 Å (sangat kuat) dan 1.99 Å (sedang). Illite adalah salah satu mineral lempung yang terbentuk selama proses alterasi dari kelompok mineral silikat seperti mika dan HASIL PENYELIDIKAN IV-45 . Secara kenampakan fisik mineral halite dicirikan dengan warna bening atau putih dengan kekerasan 2 (skala Mohs) dan sifat kristal yang transparan hingga translusen dengan sistem kristal isometrikhexoktahedral serta kilap kaca (gelas) yang secara difraktogram memperlihatkan kisaran intensitas puncak (peak) pada 2. ini diduga kaitannya dengan kondisi contoh yang berasal dari sedimen dasar laut sehingga masih dipengaruhi oleh keberadaan air laut. Kenampakan mineral kristobalit (X) pada lokasi Bor D Mineral dengan keterdapatan tertinggi ke-dua setelah kuarsa adalan halite (NaCl/ sodium cloride) dijumpai di daerah telitian dengan kisaran score antara 25 hingga 47 (Lampiran).12.Laporan Akhir 3 (X) Gambar 4.

Laporan Akhir feldspar atau hasil pelapukan dari muskovit.13.6 Pemboran Inti Geoteknik Untuk mengetahui kondisi lapisan tanah/sedimen bawah permukaan di Perairan Nunukan.8): • Tenggara Mamolo. Adapun ke 2 (dua) lokasi tersebut yaitu (Gambar 4.4. Kenampakan image mineral illite (Y) di lokasi SBT05-19 4. 04°1’02.0” BT . yaitu BH-1 mencapai kedalaman 60 m dan BH-2 mencapai kedalaman 60 m (Lampiran).5” LU dan HASIL PENYELIDIKAN IV-46 . Nunukan (BH-1 ) dengan koordinat 117°53’36. dan secara kenampakan foto mikrograph dengan memanfaatkan teknologi SEM diperoleh image seperti gambar di bawah Foto 4. Mineral ini secara kristalografi memiliki sistem kristal monoklin dengan kilap tanah serta sekala kekerasan antara 1-2 (antara talc dan gypsum). telah dilakukan pemboran inti pada 2 (dua) lokasi terpilih. Di daerah penelitian kehadiran mineral ini dapat dijumpai dengan kekerapan yang cukup tinggi (score).13 (Y) Gambar 4.

5 sebagai berikut : HASIL PENYELIDIKAN IV-47 . menunjukkan lapisan dari atas berupa Pasir yang berwarna coklat ukuran butir halus-sedang bersifat urai.bersifat lepas(urai).agak padu komposisi kwarsa.berikutnya batupasir lanauan. Sebatik (BH-2 ) dengan koordinat 117°45’51.di bawahnya Lanau lempung/pasiran.butiran sedang. berupa : Pasir (endapan pantai) berwarna coklat. plastisitas pada teguh.sampai termasuk Nunukan dalam dan di Batulamampu yaitu Sebatik.berikut Pasir lanauan. tinggi.abu-abu kecoklatan.struktur laminasi kondisi lapuk ringan (slighty weathered). satu kabupaten Kabupaten kedalaman 26 meter. ke bawah semakin padat/kenyal.abu-abu. ukuran butir sedang.coklat keabuan.keras.ukuran butir sedang-halus agak padu. sesudahnya berupa pasir warna coklat kekuningan.kemudian dibawahnya batulempung.9” LU Hasil Penyelidikan geologi teknik di Semengkadu dan Sebatik Kabupaten Nunukan Propinsi Kalimantan Timur adalah sebagai berikut : Dari hasil pemboran dangkal yang dilakukan di 2 (dua) titik pemboran yang terletak di dua lokasi yaitu 1(satu) titik di Mamolo/Semengkadu keduanya Nunukan. Deskripsi Hasil Pemboran Deskripsi hasil pemboran mesin yang dilakukan di lapangan dapat disajikan dalam bentuk tabel 4. coklat .5” BT . 03°59’37. Pemboran di Semengkadu BH-01 menunjukkan bahwa secara umum lapisan tanah pada lokasi ini secara berurutan dari lapisan teratas ke bawah adalah.Sedangkan di Batulamampu di Pulau Sebatik BH-02.abu-abu sampai kehitaman.agak padat lunak.Laporan Akhir • Selatan Batulamampu.4 dan 4.

lunak. ub. BH-. Batulempung Abu-abu. meter padat.ukuran sedang – halus berlapis.Laporan Akhir No.00 – 2.Lanau UDS diambil interval 5 mtr Coklat kehitaman.00 UDS diambil Pasir.00 Tabel 4.coklat.ukuran butir sedang. Batupasir.00 – 21. 02 0.laminasi.00 2.coklat interval 5 kekuningan.00 –26. bersifat urai (lepas) Komposisi kwarsa/ silika Lempung.00 – 60.00 – 13.kondisi lapuk ringan. ukuran butir halus-sedang.00 5.lanauan/.ukuran butir sedang. agak keras.keras .plastisitas sedang. Bor BH-01 Kedalaman 0.ukuran butir sedang-halus.4 Deskripsi Hasil Pemboran HASIL PENYELIDIKAN IV-48 .berlapis. .padu Pasir (endapan pantai) Putih cokelat.00 – 5.00 Deskripsi Pasir(endapan pantai) coklat.agak padat. Coklat.agak keras.00 – 60. Sedanghalus. urai (lepas) .lunak Keterangan 13.00 21.00 26.

50 45.00 48.50 – 49.50 – 6.50 – 13.50 – 51.16 % HASIL PENYELIDIKAN .5 Hasil Uji Penetrasi / SPT PENYELIDIKAN LABORATORIUM.50 – 8.50 11/15 12/15 12/15 13/15 13/15 12/15 12/15 13/15 13/15 N 9 14 13 15 16 4 4 7 12 13 22 22 24 22 22 24 23 24 25 25 23 25 25 Keterangan Tabel 4.00 16.02 2.00 14.50 – 54.00 40.50 34.50 – 4.36 – 58.70 % 16.00 – 19.50 – 39.00 9.00 19.50 – 46.00 36.5 – 15.50 5.00 53.00 12.00 – 30.00 – 58.00 – 5.50 – 23.00 50. BH– 01 Kedalaman (m) 3.50 – 56.00 58. Hasil penyelidikan di lokasi Mamolo/Semengkadu dan Batulamampu.50 22.00 26.50 – 37.50 – 10.50 43.00 – 43.50 14/15 50/15 37/10 37 50 N1 2/15 5/15 4/15 4/15 7/15 4/45 5/45 3/15 4/15 4/15 10/15 9/15 11/15 9/15 6/15 10/15 10/15 10/15 8/15 10/15 10/15 9/15 10/15 N2 4/15 7/15 6/15 7/15 8/15 3/15 6/15 6/15 10/15 10/15 12/15 10/15 11/15 12/15 11/15 11/15 12/15 12/15 11/15 12/15 12/15 SPT N3 5/15 7/15 7/15 8/15 8/15 4/15 6/15 7/15 12/15 12/15 12/15 11.50 BH .50 – 17.50 – 35.00 55.50 – 25.00 – 2.Pulau Nunukan sebagai berikut : 1. Uji Atterberg Limit IV-49 Liquit Limt (LL) Plastis Limit (PL) : : 42.00 – 26.50 30.00 7.00 38.Laporan Akhir Hasil Uji Penetrasi/ Standart Penetration Test Uji Penetrasi No.00 – 40.00 24.41 – 20.00 5.

032 – 0.50 – 2.900 1.00 : 28. Plastisitas Index (PI) : 24.15 – 57.00 42. Uji Konsolidasi Index Compresion (Cc) Index Sweling (Cs) Koeffissien Konsolidasi (Cv) Tegangan Awal (Tc) : : : : 0.38. USCS kelas Tanah : CH – CL HASIL PENYELIDIKAN IV-50 .0074 – 0.30 1.83 kg/m2 1.25 – 74.80 o 5.280 0. 463 – 1.Laporan Akhir 2. Friction (Ø) : : 0.54 % Uji Natural State Water Content Wet Density Dry Density Specific Gravity (Gs) Voit Ratio (e) Porosity (n) Degredation Saturation (Sr) G S M C : : : : : : : : 10 : 4.00 : 35.670 1.006 – 41.00797 – 0.00963 1. Uji Triaxial Cohesion (C) Angle of Int.26 55.30.528 2.1285 0.00 – 55.13 93.630 – 2.10 – 0.620 – 1.300 – 2. Gradation 4.39 % 3.00 6.3.00 – 46.55 . .22 – 100.

57 dan 58) dari konsentrasi unsur-unsur di atas sebagai absis terhadap kandungan SiO2 sebagai ordinat terlihat adanya bentuk kecenderungan (trend) yang relatif seragam (menggunakan pola logaritma). Al2O3. Dimana lokasi contoh SBT-08 yang merupakan sedimen lanau yang terletak di lepas perairan P.14a. 19. MgO.Laporan Akhir 4. MgO. Na2O dan CaO terhadap kandungan SiO2 untuk mengetahui karakterisasi contoh-contoh dimaksud. akan dibahas karakterisasi setiap contoh khususnya contoh yang berasal dari sedimen dasar laut dan pantai terhadap variasi keterdapatan unsur utama seperti TiO2. dimana kandungan unsur-unsur seperti TiO2.d dan e). (selatan Tg. MgO. Na2O dan CaO yang terendah. Untuk pembahasan di subbab ini. MgO. 44. BT 4 (Sei Pancang).sebagai absis untuk sedimen pantai hasil pemboran tangan yang terdiri atas lokasi contoh BT 2 (Tg. (Gambar 4. Berdasarkan hasil penggambaran kurva kartesius untuk contoh yang berasal dari sedimen dasar laut (terdiri atas SBT-08. BT 8 (Sei Bajau) dan BT 9 (Tg.c. Kondisi contoh yang dianalisa berasal baik dari contoh sedimen dasar laut (7 contoh).4. Sedangkan kenampakan kurva berdasarkan kandungan 5 unsur utama seperti di atas (TiO2.b. STA-II. Al2O3. Nunukan adalah merupakan contoh dengan kandungan SiO2 tertinggi sekaligus merupakan contoh dengan kandungan TiO2. Al2O3. sedimen pantai hasil pemboran tangan (11 contoh) dan contoh hasil pemboran mesin (4 contoh). BT 5 (Sei Taiwan). Al2O3. Harapan. Aru) HASIL PENYELIDIKAN IV-51 . Semengkadu). Nunukan).7 Pembahasan Unsur Utama Berdasarkan hasil analisa unsur utama terhadap 22 contoh diperoleh nilai/kandungan dari 10 unsur utama (Lampiran). Na2O dan CaO) sebagai ordinat terhadap SiO2 . Na2O dan CaO akan menurun ke arah barat daya sejalan dengan peningkatan kandungan SiO2 nya. 55. 47.

Sebatik pada sedimen lanau pasiran yaitu sebesar 95. nampak distribusi contoh untuk unsur utama TiO2 memperlihatkan bentuk kurva parabolik utuh (Gambar 4. HASIL PENYELIDIKAN Unsur Tanah Jarang (Rare Earth IV-52 .e).Laporan Akhir dengan kedalaman berkisar antara 20 hingga 60 cm.15a. yang menarik untuk dicermati adalah kesamaan dalam hal kandungan SiO2. Dari gambar-gambar tersebut.8 Pembahasan Element/REE) Unsur tanah jarang (Rare Earth Element/ REE) dari mulai lantanum hingga lutetium adalah merupakan anggota dari Golongan IIIA dalam susunan tabel berkala dengan sifat kimia dan kenampakan yang hampir sama satu dengan lainnya. CaO dan Na2O dengan pola kecenderungan (trend) berupa setengah parabolik ke atas (Gambar 4.. 4.b. Sedangkan bentuk kurva yang sama diperlihatkan oleh distribusi contoh untuk unsur-unsur seperti MgO. dimana distribusi unsur utama untuk semua contoh .d. Kenampakan berbeda juga terlihat pada distribusi contoh untuk unsur Al2O3 yang memperlihatkan pola kecenderungan menyerupai kurva ellipsoid yang menghadap ke bawah (Gambar 4.kandungan SiO2 tertingginya terdapat di lokasi contoh BT 4 di sekitar Sei Pancang.d dan e).15 c.4.c. memperlihatkan pola kecenderungan (trend) yang lebih bervariasi (menggunakan pola polynomial). sedangkan pada lengan satunya memiliki kandungan SiO2 terendah (BT 5). Geokimia unsur tanah jarang merupakan hal yang menarik untuk diketahui karena dengan mengamati derajat fraksinasi REE dalam suatu batuan atau mineral dapat mengetahui keterjadian (genesis) batuan atau mineral yang bersangkutan.15 b). (Gambar 4.14 e). dimana contoh dengan kandungan TiO2 yang terendah (BT 4) sekaligus merupakan contoh dengan kandungan SiO2 tertinggi.95% berat. Namun demikian dari semua bentuk kurva di atas.

Pola kecenderungan kandungan Al2O3 terhadap SiO2 HASIL PENYELIDIKAN IV-53 .14a. Pola kecenderungan kandungan TiO2 terhadap SiO2 Karakteristik Sedimen Dasar Laut 18 16 14 SB T-47 SB T-1 9 12 Al O (%-berat) SB T-55 SB T-44 SB T-57 10 8 6 4 SB T-58 SB T-08 2 0 54 58 62 66 70 74 78 82 86 90 94 SiO2 (%-berat) Gambar 4.Laporan Akhir Karakteristik Sedimen Dasar L t SBT-57 SBT-44 BT-19 SBT-55 SBT-47 SBT-58 SBT-08 Gambar 4.14b.

Pola kecenderungan kandungan Na2O terhadap SiO2 HASIL PENYELIDIKAN IV-54 .5 SB T-1 9 2 SB T-47 SB T-57 SB T-44 1.5 SB T-47 SB T-44 1 SB T-58 0.5 SiO2 (%-berat) 58 62 66 70 74 78 82 86 90 94 Gambar 4.Laporan Akhir Karakteristik Sedimen Dasar Laut 3 2. Pola kecenderungan kandungan MgO terhadap SiO2 Karakteristik Sedimen Dasar Laut 2.14d.5 SB T-55 2 MgO (%-berat) SB T-1 9 SB T-57 1.5 SB T-08 SB T-58 0 54 -0.5 Na O (%-berat) 1 SB T-55 0.14c.5 SB T-08 0 54 58 62 66 70 74 78 82 86 90 94 SiO2 (%-berat) Gambar 4.

20 STA -II 0.5 SB T-57 SB T-44 SB T-55 SB T-47 3 2. Pola kecenderungan kandungan TiO2 terhadap SiO2 HASIL PENYELIDIKAN IV-55 .05 B T-5 B T-9 B T-08 B T-4 0. Pola kecenderungan kandungan CaO terhadap SiO2 Karakteristik Sedimen Pantai 0.10 B T-2 0.15 TiO 2 (%-berat) 0.5 1 0.5 CaO (%-berat) SB T-1 9 SB T-58 2 1.00 84 -0.5 SB T-08 0 54 58 62 66 70 74 78 82 86 90 94 SiO2 (%-berat) Gambar 4.15a.14e.05 SiO2 (%-berat) 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 Gambar 4.Laporan Akhir Karakteristik Sedimen Dasar Laut 3.

40 B T-2 0.00 BT-4 B T-2 B T-08 Al O 0.15b.70 MgO (%-berat) B T-9 0.00 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 SiO2 (%-berat) Gambar 4.20 0.00 1.10 0.50 STA-II 4.50 STA -II 0.60 0.00 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 SiO2 (%-berat) Gambar 4. Pola kecenderungan kandungan MgO terhadap SiO2 HASIL PENYELIDIKAN IV-56 .00 BT-5 4. Pola kecenderungan kandungan Al2O3 terhadap SiO2 Karakteristik Sedimen Pantai 0.90 B T-5 0.80 0.50 1.00 (%-berat) BT-9 3.30 B T-08 B T-4 0.50 0.00 2.15c.50 3.50 2.Laporan Akhir . Karakteristik Sedimen Pantai 5.

50 0.05 85 86 87 88 89 90 B T-2 91 92 93 94 95 96 97 SiO2 (%-berat) Gambar 4.10 0.05 BT-08 STA-II BT-4 0. Pola kecenderungan kandungan Na2O terhadap SiO2 Karakteristik Sedimen Pantai 0.15e.Laporan Akhir Karakteristik Sedimen Pantai 0.90 B T-5 0.30 B T-08 BT-4 0.00 84 -0.20 Na O (%-berat) 0.15d.25 BT-9 0.40 B T-2 STA -II 0.60 0.20 0.80 0.70 CaO (%-berat) BT-9 0.15 0. Pola kecenderungan kandungan CaO terhadap SiO2 HASIL PENYELIDIKAN IV-57 .10 0.30 BT-5 0.00 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 SiO2 (%-berat) Gambar 4.

dan Ytterbium (Yb). karena nomor dan massanya yang ringan unsur ini dikelompokan kedalam unsur tanah jarang ringan (LREE). keterdapatan unsur ini berkisar dari yang terendah 1. hingga konsentrasi yang tertinggi sebesar 44. Sebatik (SBT05-45) pada sedimen pasir hingga yang tertinggi sebesar 62 ppm di sekitar baratdaya perairan Karang Unarang (SBT05-26) dijumpai pada sedimen lanau pasiran.57 ppm dijumpai di lepas pantai Tg.di luar contoh yang berasal dari pemboran mesin. Cerium (Ce) Unsur ini memiliki nomor atom 58 dengan berat atom 140. baik yang berasal dari sedimen laut maupun pantainya. 54 dan HASIL PENYELIDIKAN IV-58 . Cerium (Ce).Laporan Akhir Dari hasil analisa geokimia terhadap 28 contoh. unsur-unsur yang dianalisa berturut-turut dari LREE ke HREE adalah: Lanthanum (La). Kandungan keterdapatan unsur ini di daerah penelitian untuk contoh sedimen dasar lautnya berkisar antara 0. unsur inipun termasuk dalam kelompok unsur tanah jarang yang ringan (LREE). Di daerah telitian untuk contoh sedimen dasar laut yang terwakili oleh 13 contoh yang dianalisa memberikan kisaran antara 5.9055.70 ppm terdapat di lokasi bor tangan BT-04 (di sekitar Sei Pancang. Untuk contoh sedimen pantainya yang terwakili oleh 11 contoh yang dianalisa . Batulamampu lepas perairan P. Sebatik) pada kedalaman 20 cm hingga 60 cm pada sedimen pasir sedikit kerikilan. Niodimium (Nd). Sebatik) pada kedalaman 60 cm hingga 100 cm dengan sedimen berupa lanau pasiran. Lutetium (Lu). (Lampiran) Lantanum (La) Unsur ini memiliki nomor atom 57 dengan berat atom 138.12.01 ppm (dijumpai di 3 lokasi: SBT05-47. Seperti halnya lantanum.0 ppm di jumpai di lokasi bor tangan BT-05 (sekitar pantai Sei Taiwan.

Laporan Akhir 58) pada sedimen lanau pasiran dan pasir sedikit kerikilan. Harapan.19 ppm yang dijumpai di sekitar selatan Tg.05 ppm yang dijumpai di sebelah tenggara pantai Tg.02 ppm yang dijumpai di sekitar pantai Sei Taiwan sebatik (BT-05) dengan kedalaman 20 cm hingga 60 cm pada sedimen pasir sedikit kerikilan hingga kandungan tertinggi sebesar 34. Batulamampu (SBT05-44 dan 28) dengan kandungan sebesar 2. Merupakan bagian dari kelompok unsur tanah jarang yang berat (HREE). Kandungan keterdapatan unsur ini di daerah penelitian untuk contoh sedimen dasar lautnya berkisar antara 0. Batulamampu (SBT05-45) pada sedimen pasir. kisaran kandungan unsur ini berkisar antara 0. Nunukan (STA-II) pada sedimen lanau pasiran.24. hingga kandungan yang tertinggi dijumpai di sekitar sebelah utara perairan Karang Unarang (SBT05-51) dengan kandungan 52.051 sampai dengan 14.88 ppm yang terakumulasi pada sedimen lanau pasiran dan pasir lanauan. Untuk contoh sedimen pantai hasil pemboran tangan.58 ppm yang paling besar dijumpai di sebelah tenggara pantai Tg. hingga kandungan yang tertinggi dijumpai di perairan sebelah tenggara Tg. Niodimium (Nd) Unsur ini memiliki nomor atom 60 dengan berat atom 144.1 ppm pada sedimen pasir sedikit kerikilan. Kandungan keterdapatan unsur ini di daerah penelitian untuk contoh sedimen dasar lautnya berkisar antara 0. Merupakan bagian dari kelompok unsur tanah jarang yang berat (HREE). Lutetium (Lu) Unsur ini memiliki nomor atom 71 dengan berat atom 174. Batulamampu (SBT05-44) dan di selatan kawasan Karang Unarang (SBT05-26) dengan jenis sedimen berupa lanau pasir dengan besar kandungan lebih dari 14 ppm. sedangkan HASIL PENYELIDIKAN IV-59 .97.

58 ppm di jumpai di lokasi bor tangan BT-05 (sekitar pantai Sei Taiwan. Kandungan keterdapatan unsur ini di daerah penelitian untuk contoh sedimen dasar lautnya berkisar antara 0. keterdapatan unsur ini berkisar dari yang terendah 1. P. Sebatik) pada kedalaman 20 cm hingga 60 cm pada sedimen pasir sedikit kerikilan.04. Nunukan sedangkan terdapat di lokasi bor tangan BT-02 pada kedalaman 20 cm hingga 60 cm hingga konsentrasi yang tertinggi sebesar 14. Untuk contoh sedimen pantainya.13 ppm yang dijumpai di sebelah selatan Karang Unarang (SBT05-25) hingga kandungan yang tertinggi dijumpai di lokasi contoh SBT05-30 dan 47 dengan kandungan lebih dari 14 ppm yang terakumulasi pada sedimen lanau dan lanau pasiran. Ytterbium (Yb) Unsur ini memiliki nomor atom 70 dengan berat atom 173. Merupakan bagian dari kelompok unsur tanah jarang yang berat (HREE).01 ppm yang terakumulasi pada sedimen pasir lanauan.01 ppm disekitar Tanjung Semengkadu. HASIL PENYELIDIKAN IV-60 .Laporan Akhir kandungan yang dalam jumlah yang kecil dijumpai di perairan sebelah tenggara Tg. Batulamampu (SBT05-28) dengan kandungan sebesar 0.

Hal ini sesuai dengan dijumpainya singkapan dibeberapa tempat. dan serpih dengan struktur bersusun.1).6-). Hasil survei yang telah dilakukan dengan menggunakan metoda seismik pantul dangkal (Lampiran) memperlihatkan bahwa terdapat bukti-bukti yang menunjukan perairan di sekitar Karang Unarang merupakan penerusan alamiah (natural prolongation) dari daratan Kalimantan Timur atau daratan P. salah satunya diperoleh di lokasi kegiatan dengan terwakilinya oleh formasiformasi Pantai seperti Sei Sajau. dan Meliat dengan Sebatik diikuti yang kemiringannya ke arah laut. dan Tabul Tg. Sebatik yang dipengaruhi oleh proses asal darat (terestrial) dari daratan Kalimantan Timur. dengan struktur geologi yang berkembang berupa struktur antiklin dengan arah barat laut – tenggara (Lihat Peta Geologi / Gb 2. memperlihatkan kemiringan ke arah baratdaya (Foto 5. Batuan dasar akustik yang mendasari daerah telitian dan Karang Unarang yang terlihat jelas di lintasan Unarang-1 merupakan bagian dari Formasi Tabul (dengan mensebandingkan terhadap hasill PEMBAHASAN V-1 . Hal ini tampak dalam rekaman seismik yang diperoleh pada beberapa lintasan yang dilakukan. batupasir.Laporan Akhir BAB V PEMBAHASAN Kondisi Geologi daratan Pulau Sebatik dan Nunukan di domininasi oleh Formasi Tabul yang terdiri dari perselingan batulempung. batulempung. Taiwan Singkapan dari Formasi Tabul antara Batulamampu. batugamping dan Formasi Meliat berupa perselingan batupasir. bioturbasi dan mengandung bintal batugamping .

2. Foto 5. 1.Laporan Akhir pemboran BH-2 di sekitar pantai Tanjung Batulamampu yang diduga berumur Oligo-Miosen. Kondisi Karang disekitar Suar Karang Unarang PEMBAHASAN V-2 . Sebatik dengan kemiringan ke arah baratdaya Pada lintasan yang melalui sekitar Karang Unarang nampak jelas bahwa Karang Unarang adalah merupakan Terumbu Karang (reef) (Foto 5.2) yang tumbuh di atas batuan dasarnya.1). Foto 5. Singkapan dari Formasi Tabul antara Pantai Sei Taiwan dan Tg. Selain itu pula gambaran hasil rekaman Side Scan Sonar memperlihatkan pola dari terumbu di sekitar suar Karang Unarang (Gb. Batulamampu.5.

Sebatik memperlihatkan bentuk dan kenampakan yang sama berupa bentuk alur purba bawah dasar laut di lintasan sekitar Karang Unarang. Sebatik yang tampak pada Lintasan 17. Pendapat ini didukung oleh penampakan pola reflektor sigmoid-oblique (shingled) yang jelas terlihat di lintasan-4. kemenerusan pelamparan batuan yang terdapat di daratan P.Laporan Akhir Batuan dasar dari Karang Unarang ini adalah merupakan . Pada lintasan 17 tersebut di atas memperlihatkan karakteristik rekaman reflektor seismik yang mencerminkan kondisi geologi dengan kemiringan dan kemenerusan antiklin yang terdapat di daratannya dan ternyata menerus hingga ke bawah dasar laut. PEMBAHASAN V-3 . Disamping itu kenampakan morfologi yang membentuk alur purba bawah permukaan dasar laut pada lintasan 17 yang merupakan lintasan terdekat dengan daratan P. Kenampakan dari lintasan ini menceritakan mekanisme pengendapan yang progradasi dengan energi kecepatan yang relatif tinggi pada sistem delta (deltaic system). Kenampakan struktur antiklin ini masih dapat terlihat hingga lintasan-5. Dengan membandingkan ketebalan sedimen transparan pada suatu runtunan yang sama antara lintasan yang terdekat dengan daratan Sebatik (Lintasan-17) dengan lintasan yang mendekati Karang Unarang (Lintasan-9) memperlihatkan penebalan ke arah tenggara atau dengan kata lain dapat disimpulkan bahwa arah sedimen transpor yang terakumulasi pada cekungan tersebut diduga dari arah antara barat-baratlaut atau bersumber dari daerah antara daratan Sebatik-Nunukan.

5. Rekaman hasil Side Scan Sonar Karang Unarang Di sisi lain pengaruh daratan dan laut lepas di daerah penelitian dapat tercermin tidak dari kenampakan morfologis dan dari struktur oleh komunitas mikrofauna. Perairan sekitar P. Perairan di sekitar P. pasokan air V-1 .Laporan Akhir Gb. ostracoda yang didominasi tanaman menunjukkan kondisi ditemukan berenergi tinggi.1. Nunukan ini merupakan kondisi lingkungan yang cukup sulit bagi organisme untuk beradaptasi yang disebabkan oleh banyak faktor seperti PEMBAHASAN pasang surut. Nunukan dan berkurang di sebelah selatan P. Sebatik dan sisa tanaman jarang dijumpai kearah laut lepas. Sisa-sisa tanaman tersebut mempunyai kandungan cukup tinggi di sekitar P. walaupun masih ditemukan di sekitar Karang Unarang. Nunukan keterdapatan sisa-sisa khususnya ostracoda.

Aktivitas pasokan air sungai dan sedimentasi cukup berperan di daerah ini dan disisi lain. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa kumpulan tersebut berasal dari lingkungan tenang atau terlindung dan dalam waktu yang tidak lama terpindahkan ke titik lokasi tersebut sebelum cangkang terpisahkan menjadi dua karena aktivitas biologis. Nunukan namun berbalik arah dari titik lokasi tersebut kembali ke arah laut lepas. komunikasi pribadi) terjadi pada lingkungan tenang dengan dasar perairan berupa lumpur kaya akan zat organik dan aktivitas bakteria menyebabkan cangkang diselimuti oleh zat besi Namun dilihat dari kondisi cangkang di daerah dan mangan. Peran aktifitas laut dapat dilihat dari terakumulasinya spesies ostracoda laut dangkal di SBT-01 secara melimpah. 2005. Kondisi cangkang yang berwarna tidak normal. pengaruh arus dari laut lepas juga mempunyai peran tidak kalah penting.Laporan Akhir sungai dan lain-lain. Selain itu kenampakan cangkang yang berwarna coklat atau gelap dibandingkan warna normal serta cangkang dalam bentuk terkatup dapat mencerminkan kondisi dasar perairan setempat. Beberapa spesies ostracoda mempunyai sebaran dan jumlah cukup melimpah yang merupakan dikatakan bahwa daerah komunitas penciri laut dangkal dan hanya dua spesies penciri perairan transisi. menurut Whatley (1988 dan Frenzel. Kumpulan ostracoda dan foraminifera bentik secara melimpah di titik lokasi ini memperlihatkan bahwa arus tidak bergerak mengelilingi P. Faktor arus kuat yang menyebabkan kecepatan sedimentasi tinggi dapat ditunjukkan oleh berlimpahnya kumpulan cangkang terkatup. Dengan demikian dapat penelitian termasuk lingkungan laut dangkal pada zona kedalaman neritik dalam (inner nerritic) yang PEMBAHASAN V-2 . penelitian tampak bahwa bewarna gelap terkonsentrasi di bagian hiasan/retikulasi yang menunjukkan bahwa kumpulan ini sebagai hasil akumulasi dari kondisi tenang ke titik lokasi tersebut.

Studi ini diperlukan untuk mendapatkan jumlah spesimen dalam bentuk juvenil dan dewasa yang akan menghasilkan informasi akurat. Nunukan dan nilai yang tinggi ditemukan di perairan laut lepas. di daerah penelitian juga dijumpai variasi morfologis dari genus dapat berkaitan yang erat Asterorotalia yang cukup menarik. PEMBAHASAN V-3 . karena itu untuk memastikan faktor mana yang berperan dari kemunculan variasi spesies tersebut. drastis seperti elemen salinitas. Menurut dengan faktor genetis. yaitu nilai diversitas rendah di perairan sekitar P. lingkungan temperatur. diperlukan studi lebih lanjut. khususnya genus Elphidium mekanis berupa berkaitan dengan beberapa faktor seperti faktor lingkungan berenergi tinggi yang dapat merusak yang cangkang atau faktor biologis berupa aktivitas bakteri mengakibatkan cangkang menjadi abnormal. variasi morfologis dari suatu takson terisolasi. Oleh mengakibatkan dapat timbulnya variasi morfologis dari cangkang foraminifera. Disamping kerusakan cangkang tersebut. Kondisi ini dapat dikilasbalikkan pada saat merekonstruksi lingkungan purba. jejak konsentrasi Adanya perubahan pasokan makanan. dan kondisi lingkungan setempat. Bentuk morfologis yang abnormal dari foraminifera.Laporan Akhir mendapat pengaruh dari daratan. Nilai diversitas di daerah penelitian cukup bervariasi yang dapat mencerminkan kondisi dasar perairannya.. Munculnya beberapa spesies secara melimpah di satu titik lokasi tertentu menunjukkan bahwa titik lokasi tersebut merupakan habitat yang cocok untuk kehidupan spsies tersebut dengan mengalahkan spesies lain sebagai pesaing hidupnya dalam mendapatkan makanan atau merupakan spesies yang mampu dalam pertahanan diri terhadap kondisi lingkungan setempat. geografis yang Boltovskoy & Wright (1976).

• yang dapat bertahan pada Lingkungan laut lepas yang didominasi oleh cangkang mikrofauna. Nunukan dapat dilihat pada komposisi antara mikrofauna dan material sedimen. Nunukan yang di dominasi oleh material organik. Secara umum di daerah penelitian dapat dibedakan menjadi: • Lingkungan sekitar P. juga adanya bentukan morfologi dari Asterorotalia yang cukup bervariasi serta ditemukan kerusakan cangkang pada genus Elphidium pada beberapa titik lokasi. Nunukan. • Lingkungan transisi di selatan P. Pada lingkungan ini tampak jelas bahwa baik ostracoda dan foraminifera bentik dijumpai sangat bervariasi dan mempunyai jumlah cukup melimpah. Pada zona ini ditemukan jumlah spesies dan spesimen ostracoda sangat tinggi. PEMBAHASAN V-4 . Sebatik yang dicirikan oleh percampuran antara material organik dan non-organik. Pada lingkungan ini material organik yang berupa sisa-sisa tanaman masih ditemukan walaupun tidak semelimpah seperti pada lingkungan sekitar P. Ostracoda tidak ditemukan di lingkungan ini namun ada beberapa spesies foraminifera bentik seperti Asterorotalia trispinosa dan Ammonia beccarii kondisi lingkungan berenergi tinggi. Sedimen terdiri dari pasir kuarsa dan lumpur halus sedangkan mirkofauna ditemukan mulai melimpah dengan variasi spesies dari sedang sampai tinggi.Laporan Akhir Kenampakan morfologis dasar perairan sekitar P. Pada beberapa titiktitik lokasi ditemukan kuarsa yang cukup dominan.

Secara keseluruhan kecepatan arus pada tiga lokasi pengamatan menunjukkan arah pada saat kondisi air surut berarah timur hingga tenggara dan pada saat kondisi air pasang berarah barat hingga barat laut dengan kecepatan di atas 0. Kondisi ekstrim tinggi gelombang mencapai 100 .150 cm saat angin bertiup kencang.5 m / det pada pengamatan tiga kedalaman yang berbeda.0 meter. Tunggang air maksimum berdasarkan harga pasang surut hasil pengamatan di stasiun pengamatan pasang surut Dermaga Sei Nyamuk adalah 3.Laporan Akhir BAB VI KESIMPULAN Berdasarkan hasil penyelidikan dan pengolahan data yang telah dilakukan ditambah dengan data sekunder yang dikumpulkan maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut : Jenis pasang surut di daerah selidikan menunjukkan tipe tipe campuran dominan ganda artinya terjadi dua kali pasang dan dua kali surut dalam waktu 24 jam. yang berpengaruh terhadap proses terjadinya abrasi pantai di sepanjang pantai yang KESIMPULAN & SARAN VI-1 . Secara umum arah penjalaran gelombang di sekitar perairan Nunukan dan sekitarnya berasal dari timurlaut-timur dengan tinggi gelombang rata-rata antara 20 – 50 cm dan periode gelombang 5 – 8 detik pada keadaan normal. Gelombang yang timbul juga ditimbulkan karena alun dari laut lepas.

Berdasarkan pola kontur kedalaman laut pada Peta Batimetri. Pada keadaan normal tipe gelombang yang dominan adalah tipe plunging.Morfologi dasar laut daerah perairan laut terbuka.Laporan Akhir mengarah ke Lepas pantai kecuali di Tanjung Batulampu sebagai akibat resistensi dari batuannya yang cukup keras. sedangkan pada saat terjadi gelombang besar tipe gelombang yang terjadi adalah tipe surging dengan arah datang gelombang dominant tegak lurus pantai. . bentukan morfologi batuan dasar ini tidak seragam kadang kala terlihat bentuk cekungan atau morfologi berundak dan ada kalanya lapisan sedimen bawah permukaan ini seperti lapisan datar (flat) karena batuan dasarnya berada cukup jauh dibawahnya. Berdasarkan interpretasi rekaman Daerah telitian dengan memperhatikan pola reflektor yang ada terdiri atas 4 (empat) kelompok runtunan dengan Bentukan morfologi dasar laut di daerah selidikan ditandai oleh adanya tinggian-tingian dasar laut yang merupakan batuan dasar. yaitu : . Runtunan-A merupakan runtunan termuda dicirikan dengan pola reflektor berupa perlapisan yang menerus dan sejajar/paralel umumnya pola konfigurasi ini mempunyai kontinuitas rendah dan variasi amplitudo berjalan secara KESIMPULAN & SARAN VI-2 . yaitu perairan Selat Nunukan dan selat lainnya.Morfologi dasar laut di perairan selat. Morfologi dasar laut daerah telitian dapat dibagi berdasarkan sistem perairannya. yaitu perairan sebelah timur daerah telitian yang termasuk didalamnya pola kontur dari morfologi terumbu Karang Unarang. kondisi morfologi dasar laut daerah telitian memperlihatkan gambaran kedalaman dasar laut yang terukur –5 m sampai – 45 m.

timur yang diduga berumur Mio-pliosen. Pola ini mengandung sedimen berbutir halus dan diendapkan di lingkungan mengalami lintasan yang berenergi rendah ini seperti delta yang depresi. KESIMPULAN & SARAN VI-3 . Runtunan D sebagai batuan dasar akustik di daerah telitian. Terlihat adanya struktur patahan yang berkembang hingga sesar. memiliki sekitar Unarang memperlihatkan sedimen transparan yang mengisi channel yang dibentuk oleh struktur graben dengan arah relatif barat .Laporan Akhir perlahan atau tidak ada sama sekali dengan ketebalan yang paling tipis hanya berkisar antara 5 hingga 7.5 subparalel hingga 12 hingga meter. Dijumpai hampir di seluruh lintasan seismik di daerah selidikan Kecuali Lintasan di selatan / tenggara daerah penyelidikan dengan tatanan struktur geologi yang relatif tidak berkembang.5 m. Runtuhan secara diperkirakan selaras di sebagai bawah sedimen baru berumur kuarter. Dicirikan dengan pola reflektor berbentuk subpararel hingga divergent dengan di beberapa tempat mengalami penipisan serta terlihat kontak erosional membentuk channeling yang merupakan kenampakan khas dari kompleks slope fan. struktur lipatan berupa antiklin. Runtunan C terletak di bawah runtunan B secara tidak selaras yang dicirikan khususnya dengan di pola reflektor ketebalan Karang dari 7. Pola struktur yang berkembang memiliki arah baratlaut-tenggara (relatif sama dengan pola struktur di daratan Kalimantan Timur). transparan. Runtunan B pada beberapa terlihat berada tidak runtunan A nampak pada Lintasan 11 dengan pola karakter refleksi berbentuk divergent dengan ketebalan bervariasi berkisar antara 10 hingga 20 m.

Laporan Akhir Kawasan pantai Pulau Sebatik kondisi pantainya sebagian besar berupa pantai mangrove dengan kondisi cukup kritis khususnya di sekitar Sei Pancang dan Sei Nyamuk dan sebagian kecil pantai berpasir. terutama dekat Tanjung Bilas pada saat surut rendah terlihat adanya gosong pasir yang melebar kearah timur. Lempung. mempunyai karakteristik profil pantai yang landai. tertutup oleh tumbuhan bakau. hal ini ditandai dengan adanya gosong pasir yang cukup lebar mulai dari pantai hingga ke tengah laut. Kawasan Pantai Pulau Bukat Dilihat dari penampang batimetrinya secara umum profil pantai relative lebih landai dibandingkan dengan profil pantai P Nunukan. Berdasarkan analisa besar butir sedimen permukaan dasar laut terdiri dari 5 Jenis Sedimen berdasarkan klasifikasi Folks yaitu : Terumbu Karang. Pulau Nunukan karakteristik profil pantainya dilihat dari penampang batimetri sebagian besar relative curam kecuali di kawasan pantai sebelah tenggara P. Lanau Pasiran. sedangkan pantai sebelah barat karakteristik pantainya relative lebih curam. Batas garis pantai pada Demikian pula dengan saat pasang maksimum tidak dapat teramati karena letaknya Kawasan Pantai Pulau Haus umumnya juga landai dengan daerah gosong pasir yang melampar luas dari pantai hingga ke tengah laut. Nunukan dan sekitar Tanjung Cantik profil pantainya landai. KESIMPULAN & SARAN VI-4 . Lanau. Profil garis pantainya pada umumnya berupa pantai lurus agak berlekuk dan tanjung. Sebaliknya di pantai sebelah selatanbaratdaya mulai Semengkadu ke arah Timur teramati dari garis bakau terluar sampai ke posisi air laut cukup sempit karena tertutup oleh tumbuhan bakau.

zirkon. arus laut/selat dan bentuk morfologi dasar laut. Secara umum di daerah penelitian dapat dibedakan menjadi lingkungan sekitar P. Sungai-sungai tersebut berperan terhadap hadirnya detritus pada sedimen permukaan dasar laut sampai di bagian timur laut Selat Nunukan yang membentuk Gosong Makasar di tengah laut. lingkungan transisi di selatan P. Faktor aktivitas air. Pasir Lanauan. Mikrofauna yang dijumpai cukup mempunyai yang kelimpahan dapat dan keanekaragaman bervariasi dikaitkan dengan kondisi lingkungan daerah penelitian. hornblende. dan Pasir Sedikit Kerikilan. dolomit dan pirit. Nunukan yang di dominasi oleh material organik. Mineral berat yang diperoleh berupa: magnetit. Sumber sedimen lain yang teramati cukup besar adalah sedimen yang dibawa sungai-sungai yang bermuara ke daerah penyelidikan. Sebatik yang dicirikan oleh percampuran antara material organik dan non-organik dan lingkungan mikrofauna. baik dari darat maupun dari laut mempunyai peran penting bagi komunitas mikrofauna laut lepas yang didominasi oleh cangkang KESIMPULAN & SARAN VI-5 . Kenampakan morfologis dan bentuk abnormal dari mikrofauna dapat mencerminkan kondisi dasar perairan setempat. jarak transpor sedimen. limonit.Laporan Akhir Pasir. Mineral ringan yang teramati pada analisis ini adalah kuarsa sedangkan material bawaan berupa kayu teroksidasi dan cangkang. Sumber sedimen terbesar adalah daratan pantai yang terdiri dari aluvial pantai hasil erosi daratan. hematit. Beberapa faktor yang menentukan terbentuknya pola sebaran sedimen permukaan dasar laut daerah penyelidikan antara lain adalah sumber sedimen.

coklat .agak padat lunak. ke-dua setelah kuarsa adalan halite (NaCl/ sodium cloride) dijumpai pada jenis sedimen lanau yang memperlihatkan kekerapan yang tinggi.coklat padu. Berdasarkan hasil analisa mineral lempung di daerah telitian yang dapat teramati adalah kristobalit dengan dicirikan kenampakan strukturnya yang berlapis (sama dengan tridimit. Al2O3.abu-abu ke bawah 26 semakin meter.berikutnya batupasir lanauan.keras.butiran sedang. Na2O dan keabuan.abulapuk (slighty KESIMPULAN & SARAN VI-6 .bersifat lepas(urai).di kecoklatan.Laporan Akhir dibandingkan dengan faktor lain seperti kedalaman. Dari hasil pemboran dangkal pemboran di Semengkadu BH-01 secara berurutan berupa : Pasir (endapan pantai) berwarna coklat.abu-abu sampai kehitaman. ini diduga kaitannya dengan kondisi contoh yang berasal dari sedimen dasar laut.agak padu komposisi kwarsa.kemudian abu. hanya dibedakan derajat intensitas difraktographnya).ukuran laminasi butir sedang-halus ringan agak dibawahnya kondisi batulempung.berikut Pasir lanauan. padat/kenyal.sampai sesudahnya berupa pasir warna coklat kekuningan. MgO. ukuran butir sedang. kedalaman plastisitas teguh. jenis sedimen dan lain-lain. bawahnya Lanau tinggi.struktur weathered). pada lempung/pasiran. Illite adalah salah satu mineral lempung lainnya dapat dijumpai pada daerah telitian dengan kekerapan yang cukup tinggi. konsentrasi unsur-unsur TiO2. Di lokasi Batulamampu di Pulau Sebatik BH-02 lapisan paling atas berupa Pasir coklat ukuran butir halus-sedang bersifat urai. Berdasarkan hasil analisa unsur utama dengan penggambaran kurva kartesius untuk contoh yang berasal dari sedimen dasar laut.

Sedangkan kenampakan kurva untuk sedimen pantai memperlihatkan pola kecenderungan (trend) yang lebih bervariasi untuk unsur utama TiO2 memperlihatkan bentuk kurva parabolik utuh .Laporan Akhir CaO terhadap kandungan SiO2 terlihat adanya bentuk kecenderungan kandungan unsur-unsur seperti TiO2. Niodimium (Nd). Lutetium (Lu). Al2O3. Dari hasil analisa geokimia terhadap sedimen laut maupun pantainya. kenampakan berbeda terlihat pada distribusi untuk unsur Al2O3 yang memperlihatkan pola kecenderungan menyerupai kurva ellipsoid yang menghadap ke bawah. dan Ytterbium (Yb). Na2O dan CaO akan menurun ke arah barat daya sejalan dengan peningkatan kandungan SiO2 nya. KESIMPULAN & SARAN VI-7 . sedangkan bentuk kurva yang sama untuk unsur-unsur MgO. Cerium (Ce). unsur-unsur yang dianalisa berturut-turut dari LREE ke HREE adalah: Lanthanum (La). CaO dan Na2O dengan pola berupa setengah parabolik ke atas. MgO.

. G. 1985. Derawan. Dewi. B. & Wright. 1975. K. England.F. R. Gustiantini. La Plateforme Carbonatee du Pater Noster.T. Sihombing. K.A. and Villain.T. Zieman.. D. Indonesia. 1960. Iskandar. 2005) Ostracod (microcrustacea) biofacies from Mahakam Delta. W. Burollet.L. Generation of wind wave over a Shallow Bottom. R. Memo No. Hayde. Bearman.F. B. Dewi. Beach Tech. DAS.. Austin. Bertschneider.. Geochemical signatures of volcanik rocks from Sangihe Island. Petrology of sedimentary rocks. D. Oceaon Circulation.L. Recent Foraminifera. J and Vincent.. 1980. A. east Kalimantan (LP-1815) in relation to bathymetric zonation. Surabaya 28-30 November 2005. R. Daniel N. 51. K. In Encyclopedia of Beaches and Coastal Environment.. dan Illahude.. 1978. Compagnie Francaise des Petroles. Dewi.Laporan Akhir DAFTAR PUSTAKA Bakus. A course of mineralogy. B. Hornberger. Rotterdam: 157h. Poen University. C. North Sulawesi. Notes et Momoires. Perbandingan foraminifera bentik dan plangtonik (PB ratio) di perairan sekitar P. Betekhtin.P. 2005. Departemen teknik Geologi.F. The Haque. A.v.. DAFTAR PUSTAKA . D.. Lambert. 1976. 1990. Moscow Peace Publisher. Total. INDONESIA Zulkarnain.. Est de Kalimantan.. Quantitative ecology and marine biology. 13-15 July 2005. Gerry (ed). 515 hal. Bulletin of Marine Geology Folk.. etud Sedimentologique et Ecologique. Bali..J. US Army Corps of Engineers. Texas.K. Rast Kalimantan The 13th PAMS/JECSS. Buletin Geologi.. Kalimantan Timur. Kapid. Lapedes.T. Institut Teknologi Bandung. Graw-Hill. Zethschr Geomorphology. Hemphill publishing Co. Dolan. 1989. 2002. Ranawijaya.. 2005. Publisher. E. Joint Convention IAGI-HAGIPERHAPI. Paris 20: 1-103p.. dan Illahude. Boltovskoy. P. United Kingdom.. Classification of coastal landform of the Americas. R. Balkema. Boichard. Inc. Junk.. Ostracoda from off Derawan islanda. J-M. 1954. Encyclopedia of the geological sciences. L. G. R. M. Mc..

.

0 26.5 19.5 11.5 14.9 35.8 28.7 8.2 32.6 16.3 27.8 18.8 19.5 24.3 25.2 14.2 14.8 13.9 7.3 23.2 15.0 20.5 17.9 22.8 14.5 13.2 27.5 30.6 15.7 13.3 9.7 28.4 18.2 10.0 8.3 20.7 22.4 24.2 32.7 23.5 25.2 23.6 20.9 26.00 WIB ( GMT + 8 ) Jam Hari ke 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 8.4 6.3 14.9 33.5 23.5 11.9 8.2 24.5 26.7 31.2 14.9 14.9 15.9 32.3 33.4 22.1 15.7 16.9 15.5 13.6 14.7 26.5 14.6 21.9 26.8 23.3 18.5 32.5 22.5 13.2 28.9 21.3 14.1 7.3 32.8 29.7 28.5 15.4 12.2 22.5 9.5 23.2 23.3 16.9 18.5 17.9 24.2 20.3 14.5 22.9 29.3 13.9 17.9 18.8 28.6 29.9 25.9 26.5 20.9 15.8 12.7 30.0 14.0 20.3 21.0 25.3 12.7 17.0 10.3 26.6 19.8 23.3 30.5 10.7 24.7 8.9 21.5 30.5 22.8 18.5 22.4 17.3 16.4 20.3 25.2 15.5 10.3 16.3 16.3 12.8 20.7 16.6 18.7 25.4 23.2 12.5 11.0 32.2 25.5 18.0 26.3 31.6 25.8 20.3 24.8 14.8 9.4 24.3 19.7 17.0 25.0 16.6 29.0 29.3 19.7 .6 19.8 18.4 10.9 24.4 9.0 17.6 10.3 17.5 20.7 22.9 24.6 22.5 11.7 13.8 28.3 9.4 7.3 21.3 22.8 16.3 13.8 18.5 19.5 11.7 25.1 9.2 22.2 13.4 17.3 28.3 34.0 23.2 30.9 23.9 27.3 16.5 20.0 26.0 23.1 26.3 22.5 13.0 21.9 25.8 24.2 13.6 28.0 10.3 16.3 24.5 33.9 29.0 20.2 18.2 16.0 29.2 12.5 15.3 9.8 14.4 14. Kaltim : Rambu Ukur : dm Central Day : hari ke 15 Time Zone : 08.2 24.2 26.8 12.5 9.3 15.9 32.9 24.0 15.2 11.3 17.9 27.8 22.2 23.8 11.3 15.4 26.9 23.0 28.7 9.3 16.9 9.3 20.8 12.7 8.6 23.6 15.5 22.8 11.7 26.2 17.3 13.7 20.8 25.6 18.7 12.2 19.5 11.0 20.0 21.3 15.5 24.7 24.3 21.9 25.3 33.5 18.5 17.8 18.6 14.2 6.4 19.2 9.0 20.9 16.5 10.4 7.8 25.3 32.5 13.3 24.5 13.6 26.9 24.3 32.3 12.8 28.7 17.8 26.8 13.3 20.5 11.3 25.1 23.0 17.2 26.2 25.7 26.5 35.8 24.0 21.7 10.2 26.5 18.0 14.5 15.7 14.2 14.6 12.3 10.6 19.2 32.6 30.4 17.9 21.3 27.0 8.8 13.8 14.5 25.5 26.3 18.4 16.8 22.4 21.0 22.5 30.0 25.1 22.2 25.2 29.7 9.3 18.3 30.7 14.7 11.0 21.1 13.9 10.0 11.1 13.6 24.1 21.5 15.8 17.0 25.2 11.6 27.5 12.7 22.5 23.Tidal Analysis Form Admiralty Method Location Instrument Unit Data : Perairan Sebatik.8 22.3 26.3 31.5 33.7 33.0 11.0 23.8 13.3 26.7 20.5 11.

00 WIB ( GMT + 8 ) 11 6 5 6 11 18 24 30 32 31 27 20 13 7 4 4 7 13 19 25 28 28 25 19 13 12 8 4 5 8 14 21 27 31 32 29 23 16 9 5 3 5 10 17 23 28 29 27 23 17 13 10 6 4 6 11 17 24 29 31 29 25 19 12 7 4 4 8 14 21 26 29 29 26 20 14 14 9 6 6 8 14 20 25 28 29 26 21 15 9 6 5 7 12 18 23 28 29 28 24 15 18 13 9 7 8 11 16 21 25 26 25 22 17 12 8 6 7 10 15 20 25 27 28 26 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 .Location Instrument Unit Data Hari KeJam 1 23 19 15 12 11 11 13 16 19 21 23 22 20 17 14 11 10 10 12 15 18 21 23 24 2 24 22 19 16 14 13 13 14 16 18 19 19 19 18 16 14 13 12 12 14 16 18 21 22 3 23 23 22 20 18 16 15 14 14 15 15 16 17 17 16 16 15 14 14 14 15 16 18 19 : Perairan Sebatik. Kaltim : Rambu Ukur : dm 4 21 22 23 23 22 20 18 16 14 13 13 13 14 15 16 17 17 17 16 15 14 14 15 16 5 18 21 23 24 25 24 22 19 16 13 11 10 11 12 15 17 18 19 18 17 15 13 13 13 6 15 18 22 25 27 27 25 22 18 14 11 9 8 10 13 16 19 20 20 19 16 14 12 11 7 12 15 19 23 27 29 28 26 21 16 11 8 7 8 11 15 18 21 22 21 18 15 11 9 8 9 12 16 21 26 30 30 29 24 19 13 8 6 6 8 13 18 22 24 23 21 16 12 8 9 7 9 13 18 24 29 32 31 27 22 15 9 5 4 6 11 16 22 25 25 23 19 14 9 10 6 6 9 15 21 27 31 32 30 25 18 11 6 4 5 9 15 21 25 27 26 22 16 10 Time Zone : 08.

tanggal 29 Juli s/d 12 Agustus 2005 .Pengamatan pasang surut di Perairan Sebatik.

.

4 237.2 256.3 160.5 274.4 235.8 273 265 252.1 163.3 166.5 258.6 162.1 156.8 246.X1 + 243.4 475.1 256.9 232.1 160.8 251.4 153.3 213.4 236 239.2 249.2 221 226.5 217.9 263.6 270 298.8 239.8 204.6 156.2 262.1 196 210.8 156.8 167 161.7 206.8 239.5 275.9 467.7 297.9 243.5 232.6 195.1 157.1 231.7 162.2 477.6 245.6 241 238.4 317.5 229.3 227.4 231.9 231 222.6 256.2 255.8 162.4 173.9 195.8 219.5 205.7 + Y2 312.1 237.2 254.1 214.6 244.8 237.4 288.6 235.2 473.7 243.5 231.6 246.3 159.9 214.5 190.6 473.4 229.7 247.5 214.6 234.7 467.8 221.1 215.9 159.2 160.9 240.2 166.5 282.6 215.4 158.3 225.8 264.5 180 245.1 238.8 256 223.3 233.5 197.9 245.1 232.1 237.8 478.1 + Y1 276.2 323.4 215.2 179.2 214.1 157.8 154.7 242.8 312.7 274.5 241.2 157 157.2 220.2 168.7 261 234.2 219.6 242.5 151.3 233.5 266.9 189.9 225.4 155.9 234.4 235.3 270.2 259.8 218.9 238 230.2 247.8 155.9 157.1 153.3 191.1 475.5 489 481.5 266.3 478.8 163.3 234.5 469 477.4 189.7 243.4 223 194.8 272 261.3 210.6 468.3 234.5 252 240.2 + X4 160.7 232.1 238 240.9 228.5 225.5 244.6 263.2 245 238.2 259.7 286.1 249.3 296 291.5 244.1 161.1 239.1 210.2 162 166.1 189.9 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 1998 1976 1962 1969 1971 1987 1991 2011 1998 2025 2036 2043 2036 .4 474.3 Xo X1 +2000 Y1 +2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 1998 1977 1957 1957 1945 1946 1933 1975 1999 2004 2012 2023 2041 X2 +2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 1997 1946 1891 1856 1850 1848 1883 1975 2049 2077 2076 2048 2009 Y2 +2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2098 2107 2094 2041 1986 1932 1901 1868 1913 1960 2022 2081 2120 X4 +2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2005 2010 1998 1996 1989 1990 1992 2002 2002 2004 2002 2008 2005 Y4 +2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 1999 2003 2022 2014 2004 1987 1991 1980 2006 1996 2003 2007 2013 Date 196.1 269.5 269.2 255.7 240.8 298.6 154.3 267.5 186.8 319 311.8 230.8 271.5 + X2 284.6 230.7 272.9 160.9 193.7 288.5 252.9 212.2 254.9 199.6 240 243.1 246.3 254.6 158.2 163.7 236.1 263.5 256.7 222.9 257.4 209.2 484.4 + Y4 244 246.2 263.2 232 234.8 161.7 271.2 159.7 155.5 515.9 234 263.2 238.1 227.5 475.1 313.7 154.8 189.1 478.7 244.5 157 160.3 220.3 243.6 202.5 171.8 212.2 485.8 203.3 271.2 236.6 239.1 232.

2 221 226.6 242.6 233.7 244 236.7 227.8 243.5 201.3 465.6 245.5 236.8 154.1 467.3 246.5 161.8 463.3 157.1 267.8 158.9 192.1 232.9 235 244.2 478.4 214.2 153.9 159.6 292.8 155.6 261.9 159.8 222.3 217.4 482.9 314 295.9 308.9 153.6 163.2 152 158.7 272.5 173.2 236.5 237 233.3 153.6 148.2 462.5 267.3 273 265 252.4 219 220 225.6 475.1 238 210.1 163.5 155.3 196.1 200.5 254.9 280.7 156.1 232.3 318.6 220.3 279.8 210.9 271 273.2 189.7 195.9 246.6 469.4 196.3 243.9 467.5 231.4 2026 2009 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2062 2078 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 1947 1894 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2135 2125 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 1997 1993 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2015 2012 2000 2000 2000 2000 2000 2000 2000 .4 228.4 223.1 314.254.1 200.4 176.5 162.2 239.4 159.4 266.8 301.8 234 207.3 213.6 248.1 202.6 194.1 227.2 237.9 230 228.3 228.8 249.4 236.2 234.6 231.8 267 239.6 186.9 233.1 244.3 170.1 278.3 151 150.

7 57344.7 28026 2000 27987.5 28019.1 29980 28012.7 -8.9 58000 29756.Index 00 10 12 (29) 1b 13 (29) 1c 20 22 (29) 2b 23 (29) 2c 42 (29) 4b 44 Mark + + + (+) + + (+) + + + (+) + + (+) + + (+) + + - X Addition 7075.3 8.6 -32.4 24011.7 -42.7 30010.5 24204.2 -15.1 -34.4 -40.2 2000 23855.3 27991.7 Y 57906 58000 29814 28092 2000 23713 24142 29857 28049 2000 27961 27970 58382 58000 29581 28801 2000 24061 24230 29574 28808 2000 28240 28274 29968 28085 2000 24022 24040 30007 28047 2000 24018 24044 -94.3 27588.7 -1.5 -26.6 2000 23273.9 -169 -1233.5 -796.1 167.7 58000 30017.3 30000.5 28083.9 27514 2000 27286.5 -18.2 -117.9 Y X Total 7075.8 2000 23980.7 29830.2 316.1 (29) 4d VI (+) + - -31.95 58036.3 -278.9 28037.1 2000 23975 24017.1 -1219.9 36.3 -428.6 -191.5 -49.6 382.8 .5 24163.5 -931.8 -655.3 -308.

07 -3.37 -4.81 -68.60 M4 16.20 2.41 133.87 -4.7 -2030.55 -6.00 4.89 -597.60 -527.27 6.02 -0.X X (29) : Table 3a (15) : Table 3b X X X X X X V X Y Y Y Y Y Y Y VI Y 00 10 12 13 20 22 23 42 44 10 12 13 20 22 23 42 44 = = -Y -Y -Y -Y -Y -Y +X +X +X +X +X +X 1b 1c 7075.37 35.949 36.72 114.53 -10.37 38.83 0.54 -0.83 156.71 36.55 3.73 10.98 -205.10 -0.39 351.10 -17.70 -228.83 382.04 -10.7 35.10 -2.51 -13.03 142.97 10.85 7.37 -8.20 -1.60 -9.41 934.3 -586.54 -132.14 -2236.95 0.47 98.83 -61.78 603.1 -2150.95 0.55 -1.3 382.45 -2091.01 -4.77 1.49 -37.18 -411.3 -94.33 4.10 322.58 41.07 -182.24 70.42 -1.10 -3.1 -13.95 O1 418.83 -3.71 -1.9 -6.89 29.67 N2 -81.42 -0.7 -655.54 -0.76 -0.90 3.99 8.70 -38.37 -8.87 4.10 -47.71 68.72 S2 -618.65 -11.54 = = = = = = = = = = = = = = = 2b 2c 4b 4d 1b 1c 2b 2c 4b 4d V VI PR cos r PR sin r PR 7070.96 .37 -3.43 586.58 K1 -5.94 -5.07 642.5 -241.46 -86.94 -5.34 -6.26 -160.60 -71.35 -29.26 336.00 -95.14 87.91 -3.21 -0.65 -0.57 426.6 7075.7 351.1 -160 -71.27 -0.34 -0.90 7.78 -902.54 -615.01 60.35 0.82 43.82 -43.07 -655.65 0.64 215.08 176.30 MS4 -20.15 So M2 244.37 -7.70 -1.63 1376.7 426.73 1421.10 -38.38 -57.11 -17.94 17.14 -0.42 0.87 -189.14 0.33 -21.1 336.

17 109.00 1.97 1.75 3.57 Total : s 19.86 255.20 616.00 0.38 0.77 -3.67 80.97 1.50 0 0 -4.47 725.86 -1.10 4.64 .04 30.86 345.73 -2.18 829.00 1.97 0.08 255.18 873.02 153.76 365.78 -1.00 0.22 246.00 280.67 0.02 -4.24 144.69 1110.04 0 307.38 390.Table 3a (3b) : P Table 5 VIII Table 6 : V' Table 7 : V'' Table 8 : V''' V' + V'' + V''' = V Table 9 VIII Table 3a (3b) : Table 4 : : u w p : r g VII PR : [P X f X (1 + W)] = A :f :1+W 360.00 1.00 273.17 0.00 164.00 175.00 214.00 315.84 511.02 -2.10 1.02 5.76 2.00 0.86 318.00 262.00 265.00 293.00 1.71 -3.75 256.20 0 160.00 261.00 0.29 177.18 217.55 173.17 1.16 440.94 1.16 9.02 0 333.21 327.74 166.24 2.00 285.86 -1.10 504.

468858 g S2 144.2804096 -4. u = 0 f.824787 -3.7667715 -3.2916726 A = = g = = Total : 2V + u Table 10 : K1 : wf Table 10 : K1 : Wf Table 5 w W 1+W w and (1 + W) for N2 .533543 -3.8565218 -0.v and (1 + W) for S2 . O1 .073639 g K1 80. M4 S2 N2 .7929439 -0.7365954 M2 .66938 MS4 K2 : V = = A = = g = = w and (1 + W) for VII VII : K1 : 2V : K1 : u K1 = = = = = = = = 19. MS4 VII VII : K1 : K1 Total V + u Table 10 : S2 : w / f Table 10 : S2 : W / f Table 5 : K2 : f w W 1+W V u = = = = = = = = = 9. u similar with the M2 : f = = V = = g = = (f M2) ^ 2 0.7262 (u M2) x 2 -2.2433 A K1 x 0. MS4 M4 : W = 0: : w = 0 : f = 1 : V.23 0.7087565 P1 : 15.058015 -3.9164058 0.7087565 6.037177 V M2 255.33 0.2634046 0.2916726 1.3215412 -3.205719 1.94341 (V M2) x 2 511.5526026 0.8631 A S2 x 0.

0 S2 2.2 .58933 61.N2) = Table 10 : N2 : 1+W = VIII FINAL RESULT So A cm g F= 19.6 0.8 365.7 M4 0.1842859 Difference (M2 .7 O1 2.2 256.2 K1 0.1 390.02534 -2.5 153.2 N2 3.8 K2 0.406779 M2 5.4 MS4 0.5 144.2087136 1.0 144.563985 706.1 80.6 109.VII : M2 : 3V VII : N2 : 2V Table 10 : N2 : w = = = 767.8 P1 0.2 80.

.

03 622029.04 439654.4 6.0464440 4.8613337 Kedalaman (m) 6.6407080 117.9789008 4.16 584085.81 451786.02 431296.2 10.0 8.52 606224.28 439171.0 1.1339778 4.82 443161.0 13.0 1.17 591444.58 432655.4 11.8 10.0 10.9606278 117.8745620 3.51 564020.0 12.15 615700.23 618750.0696612 118.9841943 3.33 616571.9567407 118.0 12.9771733 3.19 620708.9190682 117.87 612661.86 583435.07 Geografis Lintang 4.0 10.20 602027.19 456970.3 5.6 16.80 435877.34 442468.72 435435.6589297 117.5714847 117.6925335 117.71 444308.0990792 118.80 564412.9729177 3.9308808 3.68 459538.0 8.7064105 117.9092420 3.9775518 117.98 586207.4 5.9748460 3.9716492 3.5844193 117.5 10.7766312 117.9459706 3.56 440442.45 449290.89 602223.9390530 3.63 568235.69 604317.9484758 3.9136568 3.0 10.0147072 118.1 2.8273738 117.5767258 117.0873337 118.76 444417.62 622583.0 8.34 581773.0178692 117.72 571129.97 439817.8684750 3.0500670 118.35 576864.9664247 3.65 573132.9452795 3.20 452332.1289532 4.08 437117.9941165 3.9054120 3.0871825 4.81 441556.8929170 117.6031767 117.9723132 3.0193157 3.82 438492.12 448431.48 428836.0 13.5802383 117.0421278 117.9910970 3. KALIMANTAN TIMUR MEI .92 611199.0919813 4.7574842 117.5 40.4 8.8070055 117.84 441230.7 .8790432 3.9254952 3.07 436185.0203643 4.3 8.43 585874.6777135 117.04 595627.5 10.83 427642.14 427991.2 6.0027178 3.5 7.62 428329.65 606642.7 0.41 447284.0091508 4.48 608530.25 439110.28 589588.9429750 3.42 441200.9912110 3.18 612998.0016338 118.21 599873.1572372 4.8236913 117.8674528 117.75 427218.8715735 3.33 560759.8193420 117.8647195 3.2 11.1041672 118.0 43.9539422 3.POSISI PENGAMBILAN CONTOH SEDIMEN DASAR LAUT PERAIRAN SEBATIK DAN SEKITARNYA.55 431728.23 436137.7735867 117.9396488 118.6146725 117.0 8.0 1.0646203 4.7515892 117.23 564871.9207370 117.0 10.7 1.4 10.5473927 117.54 439018.0 20.82 Y 456406.24 432158. Zona 50N WGS84 X 566946.29 591861.81 578424.9015678 Bujur Tinur 117.7367275 117.85 434514.33 590952.83 563432.JUNI 20005 Nomor Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 Sample SBT05-01 SBT05-02 SBT05-03 SBT05-04 SBT05-05 SBT05-06 SBT05-07 SBT05-08 SBT05-09 SBT05-10 SBT05-11 SBT05-12 SBT05-13 SBT05-14 SBT05-15 SBT05-16 SBT05-17 SBT05-18 SBT05-19 SBT05-20 SBT05-21 SBT05-22 SBT05-23 SBT05-24 SBT05-25 SBT05-26 SBT05-27 SBT05-28 SBT05-29 SBT05-30 SBT05-31 SBT05-32 SBT05-33 SBT05-34 SBT05-35 SBT05-36 SBT05-37 SBT05-38 SBT05-39 SBT05-40 UTM.60 575236.25 439416.8995372 117.8 8.75 433925.70 436499.0566608 4.2 11.60 596298.54 599129.

2 . Lempung lanauan. besar butir relatif homogen. berwarna kehijauan. plastisitas rendah.3. plastisitas rendah. Lumpur lanauan. KALIMANTAN TIMUR Metoda : Penginti Comot / Grab Sampler Diskripsi oleh : Yogi Noviadi & Indra Adhirana No 1 2 3 4 5 NO_CONTOH SBT05-01 SBT05-02 SBT05-03 SBT05-04 SBT05-05 Diskripsi Pasir berbutir sedang sampai kasar. adanya pecahan cangkang foram (dominan) ukuran cangkang 0. Lumpur kerikilan. agak lengket.materi kerikil berupa pecahan cangkang foram besar. berwarna abu-abu kehijauan sampai kecoklatan. plastisitas rendah. Lumpur lanauan. tidak terlihat mengandung cangkang. abu-abu kecoklatan sampai kehitaman. plastisitas tinggi. Lempung lanauan. Pasir halus sampai sedang. mengandung sisa organik. mengandung mineral hitam dan khas pada lingkungan rawa. berwarna kehijauan.lengket. fluida tinggi. mengandung fluida tinggi dan plastisitas rendah. mengandung fluida rendah. mengandung fluida tinggi. agak lengket.lengket. bersifat lunak. kandungan fluida tinggi. kuning kecoklatan. khas pada lingkungan rawa. berwrna abu-abu kehijauan. berwrna abu-abu kehijauan. plastisitas rendah. mengandung fluida rendah. bersifat lunak. berwarna abu-abu kehijauan. lunak. kandungan fluida rendah. Lempung lanauan. dan pecahan cangkang moluska dan mineral hitam. mengandung organik dan khas pada lingkungan rawa. mengandung sisa organik. Lanau. bersifat lunak. pemilahan sedang sampai baik. mengandung sifat fluida yang tinggi. Lempung lanauan. fluida sedang. kehijauan.5 cm).ukuran buutir relatif homogen.lengket. mengandung fluida rendah. mengandung fluida tinggi. berwrna kehijauan. mengandung cangkang. Lempung lanauan. bersifat lunak. mengandung sifat fluida yang tinggi. tidak mengandung mineral dan cangkang. plastisitas rendah. berwarna kehijauan. besar butir relatif homogen. bersifat lunak.5 cm (lainnya >1. Lanau lempungan sampai lempung. Lumpur lanauan. plastisitas rendah. bersifat lunak. berbau khas lingkungan rawa. lunak. besar butir relatif homogen. kandungan fluida rendah. Lempung lanauan. ukuran butir relatif homogen. berwrna abu-abu kecoklatan-kehijauan. kehijauan. lunak. bersifat lunak. mengandung sisa organik dan mineral hitam. terdapat mineral hitam biotit. fluida rendah. mengandung fluida tinggi. Lanau. berwrna kehijauan. sedikit pasiran (pasir sangat halus). kandungan fluida rendah. sifat plastisitas sedang. mengandung sisa organik. plastisitas rendah. berwarna abu-abu kecoklatan. ukuran butir relatif homogen. berwrna abu-abu kehijauan. sifat plastisitas sedang. berdifta plastis rendah. ukuran butir bervariasi 0. Lempung lanauan. plastisitas tinggi. Lumpur lanauan. kehijauan . mengandung mineral hitam. bersifat plastis. ukuran butir relatif homogen. mengandung cangkang. berwarna abu-abu kecoklatan. berwarna kehijauan. Lanau pasiran. bersifat lunak. Lempung lanauan.5 cm. Lempung lanauan. 6 7 8 9 10 SBT05-06 SBT05-07 SBT05-08 SBT05-09 SBT05-10 11 12 13 14 15 SBT05-11 SBT05-12 SBT05-13 SBT05-14 SBT05-15 16 SBT05-16 17 18 19 20 21 22 SBT05-17 SBT05-18 SBT05-19 SBT05-20 SBT05-21 SBT05-22 23 SBT05-23 24 25 SBT05-24 SBT05-25 26 SBT05-26 27 SBT05-27 . lunak. Lempung lanauan. Lumpur lanauan. bersifat lunak. kondisi umumnya pecah Lumpur lanauan. lunak. lanau + 90%. mengandung mineral hitam. plastisitas sedang. berwarna kecoklatan. ukuran butir relatif homogen. plastisitas rendah. bersifat lunak. mengandung mineral hitam dan khas pada lingkungan rawa. berwarna kehijauan. berwarna kecoklatan sampai kehijauan. sedikit lanauan. bersifat lunak. ukuran cangkang + 0. mengandung fluida tinggi. besar butir relatif homogen. lunak. fluida rendah. berwrna abu-abu kecoklatan-kehijauan. pasir + 10%(ukuran pasir sangat halus sampai halus). Lanau. plastisitas rendah. terdapatnya mineral hitam. fluida rendah. ukuran butir relatif homogen.DISKRIPSI MEGASKOPIS SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT PERAIRAN SEBATIK. Lumpur lanauan. lunak. sedikit pasiran.1 0. mengandung sisa tumbuhan. bersifat plastis dan fluida rendah. komposisi pasir terdiri dari mineral hitam dan pecahan cangkang moluska.3 cm. berwarna kehijauan. plastisitas sedang sampai tinggi. berwarna kecoklatan. plastisitas sedang. sedikit mengandung cangkang fauna (foram besar) dan sisa organik.1. berwrna abu-abu kecoklatan-kehijauan. Lanau. mengandung sifat fluida yang tinggi. Lempung lanauan. plastisitas rendah. bersifat lunak. mengandung cangkang.ukuran buutir relatif homogen. ukuran butir relatif homogen. plastis tinggi.5 . besar butir relatif homogen.

komponen pasir terdiri dari : pecahan cangkang foram besar. dan plastisitas rendah. Pasir kehijauan. dan plastisitas rendah. sub angular-angular. mineral hitam. biotit. fluida tinggi. hancur. besar butir relatif homogen. pemilahan sedang. kehijauan. ukuran pasir halus sampai sedang. mengandung mineral hitam. Lempung lanauan. mineral hita dan sisa organik. sedikit pasir (sangat halus). kandungan pasir terdiri dari : pecahan cangkang moluska. berwrna kehijauan. lunak. Pasir kasar. mineral hitam. bersifat lunak. pemilahan buruk-sedang. sub Anguler sampai anguler. berwarna kehijauan. plastisitas sedang. biotit. berwarna kecoklatan(keruh)-kehijauan. pl. plastistas rendah sampai sedang. komposisi : lempung 80% dan pasir 20%. agak lengket. Lumpur lanauan. berwrna kehijauan . memiliki kandungan fluida tinggi. mengandung mineral hitamdan sisa organik (berwarna hitam. 35 36 37 SBT05-35 SBT05-36 SBT05-37 38 39 40 SBT05-38 SBT05-39 SBT05-40 Lumpur lanauan. kehijauan kandungan fluida tinggi. bersifat lunak ukuran butir relatif homogen Pasir sedang sampai kasar.1 . berwarna kecoklatan sampai kehijauan. lunak. Lumpur lanauan. fluida sedang. fluida rendah.0 cm). lunak. mineral hita dan sisa organik. 49 SBT05-49 50 SBT05-50 51 SBT05-51 52 53 SBT05-52 SBT05-53 . materi pasir terdiri dari: cangkang moluska dan foram besar. berukuran pasir halus. materi pasir berupa pecahan cangkang moluska. berwarna kehijauan.3. materi pasir terdiri dari: cangkang moluska dan foram besar. sub angular-angular. pasir 10%). Pasir. ukuran butir sangat halus. sub angular-angular.astisitas rendah sampai sedang. sedikit pasir (sangat halus). mineral hitam. Lanau pasiran. dan plastisitas rendah.lempung lanauan. berwarna kecoklatan. ukuran cangkang jauh lebih besar. Pasir kehijauan. berwarna kecoklatan sampai kehijauan. Lumpur lanauan. berwarna kehijauan-kecoklatan.3. Lanau pasiran. panjang dan pipih seperti rambut. 44 45 SBT05-44 SBT05-45 Lanau lempungan. kecoklatan.lempung lanauan. agak lengket. pasir + 20%). mineral hitam. hancur dan lepas. Lumpur pasiran (Lumpur + 80%. (lanau + 90%. ukuran butir relatif homogen. kehijauan. abu-abu kehijauan. Pasir. pemilahan buruk-sedang. ukuran butir dari pasir halus sampai sedang. mengandung mineral hitam. sedikit lanauan. berwarna kecoklatan sampai kehijauan. plastisitas rendah. ukuran butir sangat halus. pemilahan buruk. materi pasir terdiri dari: cangkang moluska dan foram besar. 41 42 43 SBT05-41 SBT05-42 SBT05-43 Lumpur lanauan. Lumpur lanauan. kandungan fluida sedang sampai tinggi. sub Angular. Lanauan. dominan pecahan cangkang foram besar (+ 0. biotit. kandungan pasir berupa pecahan cangkang moluska. fluida sedang. pemilahan buruk. kehijauan.No 28 29 NO_CONTOH SBT05-28 SBT05-29 Diskripsi Pasir sedang sampai kasar. bersifat lunak. kandungan fluida tinggi.0 cm). plastisitas rendah. ukuran butir relatif homogen. mineral hita dan sisa organik. biotit. Lanauan. mineral hitam. berbentuk hancur. lunak ukuran butir relatif homogen. bersifat lepas dan urai. mengandung fluida sedang. bersifat lunak. 54 SBT05-54 Pasir sampai dengan pasir lanauan ukuran cangkang jauh lebih besar. mengandung sedikit sisa organik. materi pasir berupa pecahan cangkang moluska. plastisitas rendah. berwrna kecoklatan. kecoklatan. Lanau . sedikit lanauan. lunak. mineral hitam. Lumpur lanauan. fluida rendah. ukuran butir halus-sedang 46 SBT05-46 47 SBT05-47 48 SBT05-48 Lanau . mineral hitam. pemilahan buruk. Lumpur lanauan.1 . komposisi pasir berupa cangkang foram besar. lunak. pasiran (sangat halus). mineral hitam. biotit. komponen pecahan cangkang moluska dan mineral hitam. 30 31 32 33 34 SBT05-30 SBT05-31 SBT05-32 SBT05-33 SBT05-34 Lempung lanauan. materi pasir berupa pecahan cangkang moluska. komposisi lanau 90% dan pasir 10%. hancur dan lepas. sedikit lanauan. dominan pecahan cangkang foram besar (+ 0. sedikit pasir (sangat halus). Lempung pasiran. ukuran butir sangat halus. plagioklas. Sub Angular sampai angular. kandungan fluida sedang. sub Anguler sampai anguler. ukuran pasir sedang-kasar. ukuran pasir sedang-kasar.

coklat kehijauan berbutir sedang. kekeruhan.lanau lempungan. komposisi : lanau lumpura 65% dan pasi 35%. umumnya pecah. matrik jarang dijumpai. ukuran pasir sangat halus sampai halus. pemilahan sedang. lunak. mengandung mineral hitam.No 55 NO_CONTOH SBT05-55 Diskripsi Lanau. detritus banyak dijumpai hingga 75 %. berbutir sedang. pasir 70% lanau 30%. ukuran pasir sangat halus -halus. membundar baik. membundar baik. terpilah baik. terpilah baik. berwarna kehijauan. Pasir sampai pasir lanauan (lanau <5%). Pasir. mengandung pecahan cangkang moluska. 57 SBT05-57 58 SBT05-58 59 Kr Unarang . sub angular. 56 SBT05-56 Pasir lanauan. Lanau pasiran sampai lumpur pasiran berwarna kehijauan. berukuran pasir halus pasir sedang. kuarsa sebagai mineral penyusun utamanya. lunak. mengandung sedikit cangkang moluska. kehijauan. materi pasir : Pecahan cangkang moluska.

3 21.5 58.96711 3.07703 4.POSOSI PENGAMBILAN CONTOH BOR TANGAN PERAIRAN SEBATIK DAN SEKITARNYA. Semengkudu Mamolo Sei Pancang. Sebatik Pantai Sei Taiwan Tg.04447 4.67642 117.1 52. 05-04 BT.4 23.91625 117.7 53.10789 4.73092 117.' 58 58 2 9 3 2 2 6 8 4 7 " 1. 05-09 BT. 05-03 BT.13994 4.6 2.8 37. 05-07 BT.73936 117.90981 117.8 Decimal 117. 05-01 BT.05283 0.3 17.92403 117. 05-02 BT.7 10.3 38.1 24.11675 Lokasi Pantai Semengkudu Tj.3 Decimal 3.90478 117. KALIMANTAN TIMUR Nomor Urut Sample 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 BT.9225 117. Batulamampu Pantai Batulamampu Pantai Sei Bajau Tg.7 2.16492 4.4 5.96733 4. 05-11 o 117 117 117 117 117 117 117 117 117 117 117 .69411 o 3 3 4 4 4 4 4 4 4 4 4 .2 40. 05-06 BT.03492 4.5 51.3 0.90069 117. Sedadap Mambunut .04019 4. Aru Kp. 05-05 BT. 05-08 BT. 05-10 BT.5 35.' 40 39 44 54 54 54 54 55 55 43 41 " 35.7 28.66453 117.2 21 26.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

97 X 10-5 1.34 X 10-4 5.37 X 10-5 4.73 X 10-4 .351 X 10-4 8.252 X 10-5 1.04 – 08 – 2005 27 – 07 – 2005 VARIABLE HEAD TEST 2.

240 X 10-4 2.271 X 10-4 8.57 X 10-4 3.73 X 10-4 4.53 X 10-4 .79 X 10-4 3.04 – 08 – 2005 27 – 07 – 2005 VARIABLE HEAD TEST 1.

84 X 10-4 6.18 – 08 – 2005 06 – 08 – 2005 VARIABLE HEAD TEST 3.325 X 10-4 5.65 X 10-4 .745 X 10-4 5.355 X 10-4 4.426 X 10-4 7.

345 X 10-4 6.375 X 10-4 2.760 X 10-4 2.60 X 10-4 3.55 X 10-4 7.785 X 10-4 .18 – 08 – 2005 06 – 08 – 2005 VARIABLE HEAD TEST 4.

.

TABEL HASIL ANALISA GRAIN SIZE PERAIRAN SEBATIK, KALIMANTAN TIMUR Keterangan (Klasifikasi Folks' 72)

No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 58 59 60

No. Contoh SBT-05.001 SBT-05.002 SBT-05.003 SBT-05.004 SBT-05.005 SBT-05.006 SBT-05.007 SBT-05.008 SBT-05.009 SBT-05.010 SBT-05.011 SBT-05.012 SBT-05.013 SBT-05.014 SBT-05.015 SBT-05.016 SBT-05.017 SBT-05.018 SBT-05.019 SBT-05.020 SBT-05.021 SBT-05.022 SBT-05.023 SBT-05.024 SBT-05.025 SBT-05.026 SBT-05.027 SBT-05.028 SBT-05.029 SBT-05.030 SBT-05.031 SBT-05.032 SBT-05.033 SBT-05.034 SBT-05.035 SBT-05.036 SBT-05.037 SBT-05.038 SBT-05.039 SBT-05.040 SBT-05.041 SBT-05.042 SBT-05.043 SBT-05.044 SBT-05.045 SBT-05.046 SBT-05.047 SBT-05.048 SBT-05.049 SBT-05.050 SBT-05.051 SBT-05.052 SBT-05.053 SBT-05.054 SBT-05.055 SBT-05.056 SBT-05.057 SBT-05.058 BT-05.001(0-20) BT-05.001(50-370)

X(phi) 1,7 5,7 5,6 5,8 5,6 5,9 6,1 6 6 5,9 6 6 5,9 5,8 6,1 6,1 5,6 5,9 6 5,7 5,9 6 6 5 6 4,9 4,6 3,9 1,6 6,1 6,2 6 5,4 5,4 5,2 5,8 5,8 4,8 5,8 6 5,9 6 5,9 5,4 2,9 5,4 5,1 5,5 4,1 2,8 2,3 2,1 1,5 2,2 4,8 3,4 4,2 1,9 4,4 4,4

Sort 0,5 1,7 1,4 1,3 1,2 1,2 1,1 1,2 1,3 1,3 1,4 1,2 1,4 1,4 1,3 1,3 1,5 1,2 1,2 1,1 1,2 1,3 1,3 1,3 1,4 1,5 1,7 2,1 1,1 1,3 1,4 1,3 1,5 1,7 1,5 1,1 1,3 2,2 1,3 1,4 1,2 1,4 1,2 1,4 0,8 1,8 1,5 1,5 1,2 0,8 1,1 1,4 1,5 1,4 1,4 0,3 2 1,2 1,8 1,8

Skew 1,5 -0,7 0 0,2 0,1 0,3 0,3 0,4 0,3 0,3 0,2 0,3 0,2 0,2 0,3 0,3 0,3 0,3 0,2 0,4 0,3 0,3 0,4 1 0,3 0,8 0,8 0,7 -1,2 0,3 0,2 0,4 0,1 0,2 0,5 0,3 0,4 -0,1 0,3 0,2 0,3 0,3 0,3 0 -0,8 -0,4 0,9 0,3 1,7 -1 -0,9 -0,7 -0,7 -0,4 1,1 -4,1 0,4 -1,2 -0,3 -0,3

Kurt 4,3 4,6 2,4 2,2 2,1 2,1 2,2 2,1 2,1 2,2 2,3 2,1 2,2 2,1 2 2 2,2 2,1 2 2,5 2,2 2,1 2,1 3,4 2 2,7 2,6 2,3 5,7 2 1,9 2 2,1 2 2,1 2 2,2 1,9 2,2 2,1 2 2 2 2,6 2,2 2,7 2,7 2,1 6,4 2,9 3,4 2,4 2,7 6,6 3,4 20,4 2,3 4,6 2 2

Kri 0 0,4 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 2,3 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,4 1,6 8,2 2,9 0 0 0 4,1 0 0

Pas 100% 11 10,6 5,7 9,4 0,2 0,1 0,6 0,9 3,7 3,7 0,2 6,1 9,2 0,6 1,9 15,6 1,5 0,3 2,1 2,1 1,9 0,4 18,5 4,7 37,2 48,9 59,1 97,7 1 0,9 0,5 20,4 26,7 31,3 0,3 3,8 33,8 3,9 4,5 0,2 3,6 0,2 11,7 100 17,6 26,8 15,6 62,2 100% 99,6 98,4 91,8 92,3 35,4 100% 49,8 95,9 35,5 35,5

Lan 0 79,9 85,7 89,6 90,1 95,9 95,1 92,9 91,1 89,7 87 94,9 86,9 83,1 88,3 87,8 76,3 95,4 95,1 94,5 93,9 88,9 92,1 77,5 83,9 58,6 46,3 35,9 0 88 86,2 88,8 75,3 65 64,4 98 90,5 58,8 92,1 86,2 96,5 85,1 97 86 0 76,3 67 80 35,6 0 0 0 0 0 0 0 45,3 0 64,4 64,4

Lem 0 8,6 3,7 4,7 0,5 3,9 4,8 6,5 8 6,6 9,4 4,9 7 7,6 11,1 10,4 8 3,1 4,5 3,4 4 9,2 7,5 4 11,4 4,2 4,8 5 0 10,9 12,9 10,7 4,3 8,3 4,3 1,7 5,7 7,5 4 9,4 3,3 11,2 2,8 2,3 0 6,1 6,1 4,4 2,1 0 0 0 0 0 0 0 4,8 0 0,4 0,4

Keterangan (Klasifikasi Folks' 72) Pasir Lumpur Pasiran sedikit Krikilan Lanau Pasiran Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau / Lempung Lanau Lanau / Lempung Lanau Lanau Lanau Lanau Pasiran Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Pasiran Lanau Lanau Pasiran Lanau Pasiran Pasir Lanauan Pasir Sedikit krikilan Lanau Lanau Lanau Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Lanau Lanau Pasiran Lanau Lanau Lanau Lanau / Lempung Lanau Lanau Pasiran Pasir Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Pasir lanauan Pasir Pasir Sedikit Krikilan Pasir Sedikit Krikilan Pasir Krikilan Pasir Sedikit Krikilan Lanau Pasiran Pasir Lanau Pasiran Pasir Sedikit Krikilan Lanau Pasiran Lanau Pasiran

No. 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104

No. Contoh BT-05.001(370-400) BT-05.002(0-17) BT-05.002(17-27) BT-05.002(27-160) BT-05.002(160-400) BT-05.003(0-90) BT-05.003(90-310) BT-05.004(20-40) BT-05.004(40-50) BT-05.004(60-100) BT-05.004(100-180) BT-05.004(180-380) BT-05.004(380-400) BT-05.005(0-20) BT-05.005(20-60) BT-05.005(60-100) BT-05.005(100-120) BT-05.005(150-200) BT-05.006(0-20) BT-05.006(20-60) BT-05.006(70-80) BT-05.007(0-20) BT-05.007(20-60) BT-05.007(60-80) BT-05.008(20-60) BT-05.008(80-100) BT-05.009(0-20) BT-05.009(20-60) BT-05.009(60-100) BT-05.009(100-150) BT-05.009(150-200) BT-05.010(0-25) BT-05.010(25-110) BT-05.010(110-215) BT-05.010(215-315) BT-05.011(0-10) BT-05.011(10-200) STA-05.001BH1(1) STA-05.001BH2(2,5) STA-05.001BH3(3.6) STA-05.001BH4(4.7) STA-05.002BH1 STA-95.002BH2 STA-05.003BH1

X(phi) 4,4 5,1 5,1 5,1 5,1 1,5 1,5 4,7 4,7 4,7 4,7 4,7 4,7 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 0,5 0,5 0,5 1,8 1,8 1,8 4,5 4,5 4,7 4,7 4,7 4,7 4,7 5,4 5,4 5,4 5,4 5,8 5,8 5,7 5,7 5,7 5,7 4,9 4,9 5,6

Sort 1,8 2,2 2,2 2,2 2,2 1,1 1,1 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,9 1,1 1,1 1,1 1,1 1,1 2,6 2,6 2,6 1,8 1,8 1,8 2 2 1,8 1,8 1,8 1,8 1,8 1 1 1 1 1,2 1,2 1,7 1,7 1,7 1,7 1,5 1,5 1,4

Skew -0,3 -0,4 -0,4 -0,4 -0,4 -0,9 -0,9 -0,2 -0,2 -0,2 -0,2 -0,2 -0,2 -1 -1 -1 -1 -1 0 0 0 -0,5 -0,5 -0,5 -0,4 -0,4 0,5 0,5 0,5 0,5 0,5 0 0 0 0 0 0 -0,4 -0,4 -0,4 -0,4 0,7 0,7 0,4

Kurt 2 3,1 3,1 3,1 3,1 4,7 4,7 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 4,3 4,3 4,3 4,3 4,3 1,2 1,2 1,2 1,7 1,7 1,7 2,6 2,6 2,3 2,3 2,3 2,3 2,3 2,7 2,7 2,7 2,7 2,4 2,4 3,2 3,2 3,2 3,2 2,7 2,7 2,2

Kri 0 1 1 1 1 4,4 4,4 0 0 0 0 0 0 1,4 1,4 1,4 1,4 1,4 40,3 40,3 40,3 5,1 5,1 5,1 0,6 0,6 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

Pas 35,5 29,7 29,7 29,7 29,7 95,6 95,6 31,5 31,5 31,5 31,5 31,5 31,5 98,6 98,6 98,6 98,6 98,6 59,7 59,7 59,7 94,9 94,9 94,9 33,3 33,3 44,1 44,1 44,1 44,1 44,1 6,3 6,3 6,3 6,3 3,4 3,4 9,9 9,9 9,9 9,9 32,9 32,9 10,3

Lan 64,4 60,3 60,3 60,3 60,3 0 0 66,7 66,7 66,7 66,7 66,7 66,7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 66 66 50,3 50,3 50,3 50,3 50,3 93,1 93,1 93,1 93,1 95 95 81 81 81 81 62 62 82,7

Lem 0,4 8,9 8,9 8,9 8,9 0 0 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 1,7 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0,1 0,1 5,6 5,6 5,6 5,6 5,6 0,6 0,6 0,6 0,6 1,6 1,6 9 9 9 9 5,1 5,1 7

Keterangan (Klasifikasi Folks' 72) Lanau Pasiran Lumpur Pasiran Sedikit Krikilan Lumpur Pasiran Sedikit Krikilan Lumpur Pasiran Sedikit Krikilan Lumpur Pasiran Sedikit Krikilan Pasir Sedikit Krikilan Pasir Sedikit Krikilan Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Pasir Sedikit krikilan Pasir Sedikit krikilan Pasir Sedikit krikilan Pasir Sedikit krikilan Pasir Sedikit krikilan Krikil Pasiran Krikil Pasiran Krikil Pasiran Pasir Krikilan Pasir Krikilan Pasir Krikilan Lumpur Pasiran sedikit Krikilan Lumpur Pasiran sedikit Krikilan Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Lanau Pasiran Lanau Pasiran Lanau Pasiran

DATA BESAR BUTIR
DAERAH : PERAIRAN SEBATIK - KALIMANTAN TIMUR KA. TIM. : Ir. YOGI NOVIADI WAKTU : JUNI s/d JULI 2005 No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 No Contoh SBT - 05.001 SBT - 05.002 SBT - 05.003 SBT - 05.004 SBT - 05.005 SBT - 05.006 SBT - 05.007 SBT - 05.008 SBT - 05.009 SBT - 05.010 SBT - 05.011 SBT - 05.012 SBT - 05.013 SBT - 05.014 SBT - 05.015 SBT - 05.016 SBT - 05.017 SBT - 05.018 SBT - 05.019 SBT - 05.020 SBT - 05.021 SBT - 05.022 SBT - 05.023 SBT - 05.024 SBT - 05.025 SBT - 05.026 SBT - 05.027 SBT - 05.028 SBT - 05.029 SBT - 05.030 SBT - 05.031 SBT - 05.032 SBT - 05.033 SBT - 05.034 SBT - 05.035 SBT - 05.036 SBT - 05.037 SBT - 05.038 SBT - 05.039 SBT - 05.040 SBT - 05.041 SBT - 05.042 SBT - 05.043 SBT - 05.044 SBT - 05.045 SBT - 05.046 SBT - 05.047 SBT - 05.048 SBT - 05.049 SBT - 05.050 SBT - 05.051 Berat asal 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 Berat ckg 10,7200 1,7956 1,4587 0,3074 0,6846 0,2660 0,0397 0,1402 0,1297 0,1555 37,1834 0,1739 0,1831 0,2393 0,2079 0,1431 2,3938 0,2492 0,6147 0,3393 0,8380 0,5696 0,1106 0,6229 0,1734 1,3058 2,0919 6,7227 7,6557 0,1854 0,1650 0,8981 2,2822 7,2187 1,5427 0,2496 0,1603 7,8611 0,3412 0,3631 0,1782 0,2615 0,1800 3,4341 30,9939 0,9236 0,3663 0,7587 0,8215 7,9793 8,6636 Berat non ckg 89,2800 98,2044 98,5413 99,6926 99,3154 99,7340 99,9603 99,8598 99,8703 99,8445 62,8166 99,8261 99,8169 99,7607 99,7921 99,8569 97,6062 99,7508 99,3853 99,6607 99,1620 99,4304 99,8894 99,3771 99,8266 98,6942 97,9081 93,2773 92,3443 99,8146 99,8350 99,1019 97,7178 92,7813 98,4573 99,7504 99,8397 92,1389 99,6588 99,6369 99,8218 99,7385 99,8200 96,5659 69,0061 99,0764 99,6337 99,2413 99,1785 92,0207 91,3364 Berat kumulatif 88,0576 97,9607 97,4380 98,5142 98,7710 99,2068 98,1710 98,3321 98,6202 98,5554 61,6075 98,2795 98,9539 98,4440 98,4294 98,3017 97,1494 99,0970 98,1995 98,0423 98,9724 98,5387 98,4199 98,5864 98,1963 97,7393 96,6780 92,2905 91,6735 98,6973 98,3565 98,4369 97,3603 92,1605 97,9475 98,3004 99,5105 91,5089 99,0339 99,1053 99,1601 98,1362 99,1697 96,0019 68,7678 97,7885 98,8847 98,5229 98,0025 91,8341 90,3330

No Urut 52 53 54 55 56 57 58 59

60

61

62

63

64

65

66

67

68

69

No Contoh SBT - 05.052 SBT - 05.053 SBT - 05.054 SBT - 05.055 SBT - 05.056 SBT - 05.057 SBT - 05.058 BT - 05.001 0 - 20 cm 50 - 370 cm 370 - 400 cm BT - 05.002 0 - 17 cm 17 - 27 cm 27 - 160 cm 160 - 400 cm BT - 05.003 0 - 90 cm 90 - 310 cm BT - 05.004 20 - 40 cm 40 - 50 cm 60 - 100 cm 100 - 180 cm 180 - 380 cm 380 - 400 cm BT - 05.005 0 - 20 cm 20 - 60 cm 60 - 100 cm 100 - 120 cm 150 - 200 cm BT - 05.006 0 - 20 cm 20 - 60 cm 70 - 80 cm BT - 05.007 0 - 20 cm 20 - 60 cm 60 - 80 cm BT - 05.008 20 - 60 cm 80 - 100 cm BT - 05.009 0 - 20 cm 20 - 60 cm 60 - 100 cm 100 - 150 cm 150 - 200 cm BT - 05.010 0 - 25 cm 25 - 110 cm 110 - 215 cm 215 - 315 cm BT - 05.011 0 - 10 cm 10 - 200 cm

Berat asal 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0 100,0

Berat ckg 13,6851 10,4719 8,2020 1,9164 1,5253 15,1135 3,1597 6,4786 4,1703 2,6200 0,8271 0,7871 2,5340 1,5730 1,2906 3,0215 0,1916 2,7311 6,6260 0,4775 4,3635 2,4876 0,6253 0,2453 0,4901 0,3942 4,0366 14,0507 13,1188 13,7237 2,7760 2,1574 10,1699 0,2885 0,2808 2,5062 4,6613 1,8854 1,0792 1,7311 1,1117 7,4640 6,6896 1,4129 1,0176 0,8334

Berat non ckg 86,3149 89,5281 91,7980 98,0836 98,4747 84,8865 96,8403 93,5214 95,8297 97,3800 99,1729 99,2129 97,4660 98,4270 98,7094 96,9785 99,8084 97,2689 93,3740 99,5225 95,6365 97,5124 99,3747 99,7547 99,5099 99,6058 95,9634 85,9493 86,8812 86,2763 97,2240 97,8426 89,8301 99,7115 99,7192 97,4938 95,3387 98,1146 98,9208 98,2689 98,8883 92,5360 93,3104 98,5871 98,9824 99,1666

Berat kumulatif 85,1774 88,2032 90,7391 97,0122 97,1948 83,9256 95,7978 92,3722 95,4565 96,1725 98,7494 98,9794 96,9274 98,0685 97,8406 96,6260 99,6518 96,9155 92,3706 98,2586 94,2606 96,8960 99,3889 99,5810 99,5329 99,5503 95,3730 85,7955 86,4496 86,2181 97,0644 97,3386 89,4936 99,5115 98,3184 97,3444 94,4759 97,2744 98,6595 97,7389 97,6513 91,8101 92,0868 98,0198 97,2008 98,7568

9546 99.0 100.0454 0.0000 Berat non ckg 99.8606 99.004 BH.6337 99. 1 (1 m) BH.6402 99.0 100. 2 (2.No No Urut Contoh 70 STA .0000 Berat kumulatif 99.2866 99.05.0817 0.0000 99.0 Berat ckg 0.5 m) BH.0090 1.0 100. 3 (3.0000 .001 BH. 2 72 STA .9744 99.0437 0.0 100. 4 (4.0000 0.5646 100.002 BH.7548 98.05.2754 0.05. 1 73 STA .6 m) BH. 1 BH.9183 99.7246 100.0 100.4354 0. 1 Berat asal 100.05.9910 98.7 m) 71 STA .0 100.003 BH.5701 97.0256 0.0 100.

3466 89.3850 0.024 SBT .4951 0.042 SBT .8821 2.3911 0.2548 0.7051 97.6333 84.8888 96.1308 12.3795 0.3815 0.05.4500 0.0999 2.036 SBT .1444 0.2906 0.3186 0.0241 0.05.5618 - -1.1200 0.010 SBT .2443 0.3345 3.8644 1.3664 0.1228 0.3238 0.0409 0.2411 0.2267 90.7522 4.0800 8.0416 1.1813 88.1074 0.8716 2.3806 0.3088 0.7485 96.2571 1.3802 97.1726 6.0 phi 0.6576 9.8545 40.0 20.037 SBT .0 20.2626 0.3777 0.1808 0.4075 0.021 SBT .0 20.0 4.035 SBT .05.030 SBT .029 SBT .3959 0.1405 4.020 SBT .0343 0.6217 0.05.2304 0.1292 98.2337 1.2860 0.05.2995 18.0 phi 3.9557 0.3190 Berat pipet 20.2853 0.1636 0.3582 0.2156 0.0 20.0 20.2529 0.1028 5.8556 1.3331 98.4009 6.4232 0.2003 0.005 SBT .2620 0.3475 0.0 20.2444 0.0576 Ket.1275 0.3446 0.2422 0.2479 83.0 20.1047 97.0642 0.4306 17.0 phi 0.0 20.6605 3.3201 0.9916 1.0721 0.05.1972 0.1514 5.05.7673 97.05.3661 0.0472 3.5159 7.4066 0.3711 0.0 20.2963 0.0565 0.0 20.2836 4.1846 1.0602 0.3746 0.3855 0.1643 - -0.1220 0.3091 0.4802 10.0491 0.5608 4.4146 0.3081 0.3598 0.0662 0.5882 0.041 SBT .4158 3.0 20.9060 4.2078 0.4125 0.4050 0.2470 0.0 20.038 SBT .3724 0.7648 0.0476 0.5113 96.3585 0.3286 0.05.3598 0.3382 0.6962 0.4152 0.0200 3.2655 2.1426 0.2829 0.1330 0.0 20.1993 0.3435 0.3577 0.0570 0.047 : PERAIRAN SEBATIK .3234 0.004 SBT .1474 0.5594 98.3318 7.3819 0.5072 0.6298 95.05. WAKTU No Urut 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 No Contoh SBT .3758 0.025 SBT .5148 0.05.3476 9.2473 14.9737 1.3022 0.2627 0.2677 0.05.1070 7.039 SBT .3782 0.2255 97.4864 0.05.2798 0.3732 0.2133 2.3354 30.3041 0.8376 0.003 SBT .0 20.0561 0.1426 0.05.9055 0.0 20.2887 4.3607 0.6915 - 1.3833 0.0715 91.1300 0.3081 0.8624 1.1735 0.05.ANALISA BESAR BUTIR DAERAH KA.0 20.0 15.1333 0.1423 2.3963 0.0269 98.7939 0.8292 95.2360 0.05.4128 0.3443 0.0 phi Pan 56.1332 0.5978 69.0376 0.3805 0.9760 97.6925 1.1192 99.023 SBT .05.2990 0.1691 0.05.2497 0.0568 10.3463 0.05.0 20.1530 4.6027 97.016 SBT .3746 0.3511 0.3883 0.0076 0.2123 0.1656 0.026 SBT .2827 1.3907 0.4546 58.3595 0.1682 3.5 phi 3.2402 - -1.9047 0.3871 0.3655 0.1351 4.05.2739 0.1934 0.0 phi 0.9520 0.046 SBT .05.0456 0.3487 0.6671 0.0 20.1685 0.1021 0.6800 4.05.5855 0.3657 0.3855 0.0936 95.8022 2.002 SBT .043 SBT .7884 0.3119 0.3898 0.3386 0.3655 0.1038 0.1644 0.1574 0.5412 22.0954 7.05.8253 15.0 20.2310 0.0 20.5204 3.2666 0.0 20.05.2159 0.5185 - -0 phi 0.2293 0.0896 0.05.7330 94.2996 0.006 SBT .0 phi 2.2371 0.0540 0.3408 0.4359 29.6000 90.0 20.4534 - 2.2513 0.2162 0.7693 0.NUNUKAN .009 SBT .1211 0.3890 0.0 20.0303 0.7291 13.2739 0.0 20.5 phi 0.3283 5.3632 1.0 20.4201 0.3640 0.3552 0.0 20.0 20.4404 0.05.8348 9.0 20.3811 0.3880 0.008 SBT .2104 0.3296 0.3526 38.0 20.2114 0.2292 80.1672 98.2457 0.2354 0.0 phi 0.9191 88.3671 0.KALIMANTAN TIMUR : Ir.2007 16.05.9326 0.0672 3.3827 0.4252 1.8602 - 1.0 20.3206 0.1793 0.0347 0.5898 12.1088 0.6159 0.05.05.2451 2.033 SBT .2963 0.05.1497 99.05.0993 0.0 20.3354 0.0 20.0 20.3103 0. .0755 0.0 20.05.3598 0.2045 0.022 SBT .0492 20.4861 0. YOGI NOVIADI -2.0397 0.5230 8.044 SBT .2203 0.012 SBT .1240 6.3823 0.019 SBT .3859 0.9461 94.2303 0.2636 53.0681 99.3469 0.045 SBT .4217 0.0 phi 0.05.3796 0.8044 0.3748 0.0008 3.3246 0.3959 0.8036 86.0224 0.014 SBT .7451 1.1713 11.2291 0.05.4534 9.1740 0.018 SBT .0 phi 0.5 phi 1.3492 0.0 20.3384 0.040 SBT .5 phi 4.1631 0.3811 0.3609 0.4268 0.007 SBT .5592 15.3641 0.3157 0.3714 0.5445 65.6745 73.0723 0.015 SBT .1484 0.013 SBT .3193 0.3333 0.5 phi 0.3469 19.2662 97.0 phi 0.0 20.1231 98.7115 0.5931 2.05.4123 0.3543 0.4145 0.0648 0.0616 0.0 20.0 20.1294 - 0.1543 1.05.05.7382 1.3594 0.0302 1.001 SBT .031 SBT .3852 0.9117 1.0 20.4208 97.05.0 20.6933 1.0704 0.2115 0.0 20.8468 0.5255 0.1503 0.3235 0.6071 4.034 SBT .05.3956 0.1096 0.3245 0.05.1364 0.2235 0.1044 0.027 SBT .4037 1.6124 2.05.7418 0.2992 0.3204 0.1968 0. TIM.3826 0.1609 0.2884 0.3818 0.4226 0.3532 0.8279 0.3987 0.032 SBT .4480 3.05.05.3746 5.05.3733 0.2564 0.05.3950 0.5 phi 7.017 SBT .9334 1.5230 1.028 SBT .05.011 SBT .3715 0.2305 0.1564 0.1722 0.2602 0.0 20.1041 0.0768 0.3894 0.05.3283 0.1331 0.7064 2.2658 0.0908 0.2622 0.3335 0.3116 0.0861 95.3755 0.1045 2.0 phi 0.

4409 0.6782 22.7900 2.5100 14.1818 0.052 53 SBT .1073 3.0959 4.2040 0.4075 0.5052 49.2746 17.2494 7.0 phi 0.5281 3.20 cm 8.200 cm - -1.2841 1.0950 3.7739 19.3891 0.0967 55 SBT .4255 2.6488 0.6172 18.310 cm 0.9577 12.2453 0.3943 3.1420 1.050 51 SBT .6030 0.8166 6.0674 9.4326 8.3683 0.2366 31.3781 0.8206 20 .4864 11.1980 0.4056 - -0.9246 4.8390 2.5061 2.2941 3.4904 0.2588 7.1722 0.1657 0.8343 1.1279 4.4146 1.0785 4.05.8388 9.1151 12.100 cm 100 .5638 0.7164 1.7592 45.8525 15.3577 1.4258 0.3444 17.05.6335 1.3083 0.8338 65.3447 0.7437 3.5283 0. 5.0 phi Urut Contoh 48 SBT .4277 0.9417 10.008 20 .4232 27.9625 4.100 cm 100 .0488 36.0 20.0581 0.0349 0.7145 10.05.05.0488 0.8762 44.200 cm 64 BT .2558 0.2135 0.1415 0.160 cm 0.No No -2.1108 0.4373 5.0794 5.9199 10.3377 25.7450 7.1563 20.8401 0.5 phi 1.3214 39.0269 0.2568 0.3014 0.3462 0.3738 14.3821 13.2407 6.9547 54 SBT .0506 10.5 phi 1.5960 1.80 cm 0.3973 0.6456 1.7903 6.1760 0.9603 16.4923 20.8187 0.5894 49.0516 0.1562 10.2222 4.0114 3.60 cm 80 .3086 0.8166 1.6283 13.0778 5.055 56 SBT .0 20.6713 0.1224 0.3544 0.0995 4.3117 1.5771 9.1327 0.0317 0.0176 1.0420 0.1275 0.0279 5.0 20.6484 46.7234 14.1211 Ket.5579 16.0738 0.5683 1.05.27 cm 0.3428 2.3914 15.0036 0.0 phi 0.0558 26.3821 0.5964 0.6758 1.4483 5.7550 5.6005 2.1444 0.5199 3.180 cm 180 .3770 0.5951 2.0 20.2224 4.2901 9.0 20.8416 19.05.058 0.400 cm 60 BT .4213 3.003 0 .8820 9.4756 70 .0 20.1938 2.2128 0.7489 5.1484 0.3830 1.1053 12.2786 8.2293 10.0 phi 3.6318 1.5329 0.4757 2.05.4764 35.2791 1.6580 4.9314 2.001 0 .0025 0.90 cm 0.5968 0.3413 0.20 cm 20 .3414 1.7414 27 .9044 8.7182 3.8389 7.5030 2.0303 0.7898 2.3880 0.7951 17.6715 9.4604 0.053 1.1291 22.005 0 .4061 0.4847 - -0 phi 2.006 0 .1067 0.5654 0.3085 0.2834 3.2139 0.8264 7.2259 9.4593 25.2523 19.5057 12.5204 3.400 cm 63 BT .0197 0.1028 0.4526 13.2709 0.5164 2.0924 14.3103 0.2284 7.05.1156 0.0532 2.8472 45.4947 12.4967 30.5134 4.7360 5.5231 1.1326 0.5609 23.1933 0.6944 1.0 phi Pan 89.3594 19.1947 0.9557 16.007 0 .3437 0.7202 1.3693 4.3496 0.7098 0.8063 0.6412 1.8682 9.9231 30.8582 5.2078 0.9792 47.4377 11.004 20 .0361 43.7214 19.2542 0.3955 0.3105 6.0368 12.3459 36.5340 4.400 cm 0.9773 6.3279 3.8886 0.3453 14.3287 0.9188 65 BT .1696 54.057 58 SBT .0059 11.2406 0.20 cm 20 .3123 0.0 phi 0.0 20.8360 5.2745 2.9689 6.0963 4.1639 0.6121 22.7264 90 .6088 4.5937 0.4106 0.8689 0.1818 8.0464 12.8086 59 BT .3436 1.0 15.1189 39.0586 1.7334 3.4392 3.1574 0.5777 14.0 20.3969 22.4212 1.6225 2.3198 22.2297 24.05.1209 0.1973 5.1471 2.0384 3.5402 6.1105 17.7882 2.8309 3.05.9771 17.002 0 .7506 0.0 20.0950 0.0 phi 2.7930 19.5 phi 4.2886 7.5250 4.3497 0.05.9493 3.80 cm 27.8162 2.7827 1.2444 380 .2025 0.1498 13.8013 14.8674 2.7770 14.2817 0.4540 2.1336 1.3117 5.0 phi 0.1038 0.2689 11.7594 5.4014 12.7184 3.0 20.5178 1.9818 1.05.3109 0.6266 0.8484 11.0318 77.7216 7.0480 0.0758 8.6239 4.5 phi 0.2592 3.0899 0.8081 7.0144 42.0 20.50 cm 60 .1894 8.6841 - 0.3604 9.0333 0.2181 12.2062 1.5 phi 3.7307 16.2318 0.2582 20.2940 0.9108 4.1222 2.2031 0.2125 0.5587 0.2642 11.7983 66 BT .6066 13.9082 7.1260 6.0346 0.0 20.2721 0.3716 1.20 cm 50 .9059 9.1505 5.0791 3.6696 0.0018 3.2346 0.2190 2.051 52 SBT .0 4.8467 3.6506 0.8503 0.1092 1.0522 0.7950 22.5 phi 5.05.8782 0.5385 14.4713 0.7947 0.1320 7.6589 5.0912 24.0 phi 0.3072 3.1933 0.2541 0.2709 0.6422 1.0531 0.0691 4.0 phi 0.9975 21.2264 1.1995 0.0298 3.1576 0.4236 5.8004 13.1797 10.3850 0.6208 0.1269 8.5367 Berat pipet 20.150 cm 150 .4380 2.1749 2.1363 0.120 cm 150 .2939 8.2423 9.0 20.60 cm 60 .8098 4.5250 5.1388 68.20 cm 20 .05.3871 0.60 cm 3.7837 5.6253 22.1796 0.1088 0.60 cm 60 .4612 5.7821 3.3509 4.7281 8.2766 15.2958 0.3473 0.5644 2.5923 13.1469 3.7834 10.1825 6.3009 8.5474 3.3604 0.1828 3.0962 11.4979 31.1595 0.6975 4.2811 2.0313 0.7662 0.1376 2.4211 1.4933 12.9917 14.3274 27.5240 1.60 cm 60 .1855 6.0664 7.1416 3.4955 3.4012 5.4749 4.6317 1.9503 30.1719 1.8200 41.0787 0.0910 27.2745 0.3206 0.4198 0.0 phi 0.3522 0.40 cm 40 .0210 3.3741 1.1312 21.3885 74.05.3743 0.3640 0.4039 0.2647 0.0843 3.3661 62.3330 0.05.9620 9.4982 28.2572 8.6890 1.9518 1.049 50 SBT .1772 4.8362 31.6060 0.3292 13.1087 22.054 1.370 cm 370 .0795 2.048 49 SBT .0411 52.100 cm 67 BT .5130 3.7591 62 BT .05.05.8036 0.1060 0.2105 8.1311 25.0743 6.3857 0.9534 0.7640 0.5574 3.7062 40.4560 7.4260 0.1262 1.0063 0.3310 12.6454 4.2736 68.6074 14.2511 1.5719 0.8495 8.8727 0.9584 4.0372 0.2665 5.2186 20.6663 3.5058 6.1219 1.3834 62.4151 0.4497 4.7172 33.1036 1.0245 9.8062 61 BT .1040 - -1.0031 0.8058 0.2990 160 .7490 10.4392 5.05.5055 30.5121 9.4531 0.3602 6.7195 8.1393 0.7052 .7138 25.6113 27.5314 1.380 cm 0.100 cm 100 .009 0 .17 cm 17 .056 57 SBT .7210 17.2927 0.0193 0.05.

001 BH.4610 BH.2919 0.3767 0.1853 36.5 phi 4.0 20.3138 0.1336 0.010 0 .0442 92.6956 0.2776 44.3443 0.8473 14.0729 3.0 phi 3.2050 4.3670 1.9244 5.0 20.2183 0. 1 - -1.7781 1.2099 6.1078 0.2991 4. 2 72 STA .6605 8.5473 1.0 20.2622 15.4978 - 0.0711 6.5580 1.011 0 .3756 0.1785 0.05.1311 8.2229 0.3619 0.1526 0.1448 1. 1 (1 m) BH.3546 0.1556 2.0866 0.2642 0.6323 4.3809 - 16.4650 5.0051 2.0 20.3190 0.0726 0.3953 6.8906 16.0705 Ket.3988 0.5691 15.0 20.4060 0.3423 0.1317 29.3881 1.6909 5.1199 14.2474 0.9565 10.9783 1.1042 1.1699 7.8783 0.0 4.3085 18.1113 15.3656 0.9592 9.8064 0.110 cm 110 .8568 2.5 phi -0 phi 0.3409 - 0.3301 0.0 phi Pan 6.1457 0.3840 0.8277 7.3888 0. 4 (4.4059 15.0983 1.2027 0.05.0717 47.5655 0.0655 2.4744 2.2841 26.7173 0.8151 0.7367 23.0 20.3402 0.6 m) 0.003 BH.315 cm 69 BT .8442 - 0.1206 0.5 phi 1.3911 0.0 20.7 m) 71 STA .1392 0.3987 0.3243 0.0169 0.6182 4.4119 0.05.8244 1.1354 0.3974 0.3889 0.2091 0.1288 3.4510 0.3823 0.No No -2.5539 4.10 cm 0.0 phi 2.0 phi 0.8444 Berat pipet 20.8223 20.6107 3.0557 0.1418 0.2940 0.25 cm 0.5054 9.2270 0.215 cm 215 .1509 Sample darat .2832 46.3446 5.0 phi -0.2534 0.3068 25 .0 20.4981 0.5 phi -1.05.3326 76.2325 0. 2 (2.3293 10 .4868 0.8711 - 1.5345 5.1061 7.3210 0.0 phi 0.0 phi 0.002 BH.0072 0. 1 BH.2557 94.2331 0.2053 0.1378 0.8049 1.1761 2.0180 0.6082 2.8820 72.7072 1.200 cm 70 STA .3395 0.4015 0.1116 2.4862 0.5 phi 3.0 phi 1. 3 (3.3640 0.0 phi 0.1620 0.5686 12.8490 2.0 phi 0.1806 0.8466 88.5336 20.3175 0.2027 4.5183 7.2027 0.3349 0.2572 0.1209 1. 0.0 phi Urut Contoh 68 BT .1199 0.5 m) BH.0 20.5515 17.2859 0.4545 - 0.2067 0.4033 0.5 phi 2.6624 5.1675 90.3231 5.4686 - 4.4569 6.05.7243 0.0 20.6880 3.2010 0.0 20.1300 11.4923 39.8633 4.0246 0.5418 1.9280 8.0809 - 1.

.

Ln .019 Grab SBT.05.Ps.014 Grab SBT.018 Grab SBT.Ps.05.016 Grab SBT.h Lp .Sh Lp .Sh Lp .Ln .Sh .Ps.Ln .Ln .Ps.Ps.h Lp .Ln .Ln Lp .05.Ln .Sh Lp .05.Ps.05.h .05.Ps.006 Grab SBT.Sh Lp .Sh -Ps.Ln .Ln Lp .Ln .05.Ln .Ps.Ps.05.Ln .Ps.Sh Lp .Ps.Ln .05.05.Ln Lp .Sh Lp .015 Grab SBT.05.05.007 Grab SBT.Sh .Sh -Ps.020 Grab SBT.Ps.05.Ps.Ps.001 Grab SBT.005 Grab SBT.Ln .Sh .027 Grab SBT.Ps.05.05.011 Grab SBT.021 Grab SBT.Sh Lp . Contoh & Kedalaman GAMPINGAN F o r a m i n i f e r a R TR TR TR TR TR TR R TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR N a n n o F r a g m e n M i k r i t R a d i o l a r i a SILIKATAN D i a t o m a e S p o n g e s p i c K a r b o n a n BUKAN BIOGENIK PASIR DAN LANAU T o t a l d e n t r i t u s Fe/Mn O k s i d a v o l k a n i k s h a r r d L e m p u n g Z e o l i t AUTIGENIK D o l o m i t G i p s u m G l a u k o n i t BESAR BUTIR Q SBT.h Lp .Ln .008 Grab SBT.Sh Lp .Ps.05.Sh Lp .017 Grab SBT.003 Grab SBT.Ln .Sh Lp .Ps. Hartono BIOGENIK No.Sh .05.Ln .05.Ln .Ln .Ln .Ps.Ps.Sh Lp .Ps.025 Grab SBT.05.05.h Lp .h Lp .05.002 Grab SBT.022 Grab SBT.Sh Lp .Sh .009 Grab SBT.Sh Lp .05.05.Ps.05.05.Ln Lp .Sh Lp .Ps.Sh Lp .Ps.013 Grab SBT.Ln .h Lp .Ln .026 Grab SBT.028 Grab R TR R TR C R TR R R TR TR TR TR TR TR R TR TR TR TR TR TR R TR TR TR TR TR C c c c c c c c c c c R R R R c R c R R c c R R R TR TR TR R c c TR TR TR TR R TR C R c R C R R c C R c C A a a C A A A F - M TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR - HM R R TR TR TR TR R R TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR R TR TR R R TR R R R c c c R TR TR TR c R c R c R C R c c C R C C A a a C A A A R R TR TR TR TR TR c c R TR TR TR R TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR A A A D A D D A A A A D D A D A A a D A A c C C a c c c TR TR TR TR Lp .024 Grab SBT.Ln .Ps.1 Hasil Analisa Sayatan Oles SEDIMEN PANTAI & DASAR LAUT Daerah selidikan Dikerjakan oleh : Pulau Sebatik Kalimantan Timur : Ir.05.Ln .010 Grab SBT.05.h Lp .Sh .Ps.023 Grab SBT.Ln .004 Grab SBT.Ps.Sh Lp .Ps.Ps.Ps.012 Grab SBT.Ps.05.Ln .

Ps.Ln .041 Grab SBT.50.05.m Ps.m Lp .049 Grab SBT.05.031 Grab SBT.Ln .Sh .Sh .Sh Ps.m Lp .Ln Lp .Ps.Ps.05.040 Grab SBT.Ln .007.Ln Lp .Sh Lp .05.056 Grab SBT.Ln .Ps.05.Ln .Ln Lp .Ln .05.Ps.Ps.058 Grab BT BT 05.Ln .Ps.h Lp .Ps.Ln .Sh .Ln Lp .055 Grab SBT.Ln .Ps.Sh .Sh .Ps.05.Sh Lp .m Ps.0.Ps.Ps.05.Ps.Ps.030 Grab SBT.034 Grab SBT.Ps.Sh .05.029 Grab SBT.Ps.046 Grab SBT.043 Grab SBT.037 Grab SBT.20 cm BT.Sh Lp .050 Grab SBT.Sh Lp .Sh Lp .Sh Lp .Sh .370 cm R TR TR R R TR TR TR TR TR TR R R R TR TR R R R R R TR R R TR TR R R R R R c TR R c c R R R R R TR R R c R R R A R TR c c C C C A a A c R c c A A A a a A D D D D D D D D D c C F - M TR TR TR TR TR TR TR TR TR - HM R TR TR TR TR R R TR R R TR TR TR R R R R R TR TR R R R R R R R R R R TR TR A R R c C C C C A a A C R C C A A A a a A D D D D D D D D D c C R R R R R TR TR R TR TR R c c R TR TR TR TR TR c A D A a a a A c C c A D A A c R c C C c D A TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR Lp .05.Ln .Ps.05.Ps.038 Grab SBT.h Lp .Ln .Ps.047 Grab SBT.Sh .053 Grab SBT.m Ps.Ln .Ps.Ps.05.h Lp .Sh Lp .Ps.039 Grab SBT.05.Ps.Sh .Sh .052 Grab SBT.Ln .048 Grab SBT.05.Ln .Ln .057 Grab SBT.05.Ps.Ps.Ps.05.044 Grab SBT.05.Ln .h Lp .Ps.Ln .2 BIOGENIK No.Sh .Ps.05.051 Grab SBT.033 Grab SBT.035 Grab SBT.05.m Lp .Ln .05.m .042 Grab SBT.05.Ln .05.05.045 Grab SBT.05.05.Ps.001. Contoh & Kedalaman GAMPINGAN F o r a m i n i f e r a TR TR TR TR TR TR TR R TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR TR N a n n o F r a g m e n M i k r i t R a d i o l a r i a SILIKATAN D i a t o m a e S p o n g e s p i c K a r b o n a n BUKAN BIOGENIK PASIR DAN LANAU T o t a l d e n t r i t u s Fe/Mn O k s i d a v o l k a n i k s h a r r d L e m p u n g Z e o l i t AUTIGENIK D o l o m i t G i p s u m G l a u k o n i t BESAR BUTIR Q SBT.m Lp .m Ps.05.h Lp .Ps.Ps.Ps.Sh .Ln Lp .036 Grab SBT.h Lp .Sh .Sh Lp .05.Ps.05.054 Grab SBT.Ps.05.Ps.h Ps.Ps.05.Sh Ps.Sh .05.Sh .032 Grab SBT.Sh .Ln .Sh Lp .

Contoh & Kedalaman GAMPINGAN F o r a m i n i f e r a TR TR TR TR TR TR TR TR TR N a n n o F r a g m e n M i k r i t R a d i o l a r i a SILIKATAN D i a t o m a e S p o n g e s p i c K a r b o n a n BUKAN BIOGENIK PASIR DAN LANAU T o t a l d e n t r i t u s Fe/Mn O k s i d a v o l k a n i k s h a r r d L e m p u n g Z e o l i t AUTIGENIK D o l o m i t G i p s u m G l a u k o n i t BESAR BUTIR Q BT.Ln .004.Ln .Ps.Ps.05.05.0.002.009.05.Sh .Sh Lp .100 BT.150.Ps.Ps.0.005.Ps.Ln .Sh .005.m Lp .20.m Lp .90.Ps.Ln .20 cm BT.70.m .Sh .0.m Lp .002.Ps.010.Ps.Sh .160 cm BT.0.100.Ps.Sh Lp .008.m Lp .05.Ln .Ps.05.Sh .400 cm BT.05.05.Ps.Ps.m Lp .100 cm BT.m Lp .20 BT.Sh .009.20 BT.Ln .Sh .20.Ln .Sh .Ln .05.m Ps.Ps.m Lp .180.Ps.Ps.3 BIOGENIK No.006.Sh Lp .27.Ln .007.Ln .Ln .Ln .310 cm BT.Ps.m Lp .90 cm BT.Sh .05.Ps.Ps.m Lp .Ln .200 BT.001.40 cm BT.Sh .Ps.05.009.160.h Lp .009.m Lp .Sh .Ps.150 BT.007.05.80 BT.Sh .150.180 cm BT.004.100 BT.20.40.05.Ps.Ps.05.m Lp .60 BT.05.05.Ps.002.100.004.400 cm BT.006.100 cm BT.Ps.05.80 BT.Sh .Ps.Ln .Sh .25 TR TR R R TR TR R R c TR R c c R R TR R R R TR TR R TR R TR TR R TR TR R R c R R TR R R c R R c R R R R TR C D c A c D A D A A A c C D D D D A D A A D D D D a D D A A A D F - M - HM TR R TR R TR R R R R TR R TR R R R R TR R TR R R TR TR TR R R R R R R R TR C D c A c D A D A A A c C D D D D A D A A D D D D a D D A A A D TR R TR TR R TR TR c TR TR TR R A A c A R c c c C A A c R c C R c c c R TR TR TR TR TR TR TR TR TR R TR TR TR TR TR TR R TR Lp .Ps.0.Sh Lp .Sh .Ln .05.Sh Ps.Sh .Ps.004.17 cm BT.20.60.Ln .Ps.Sh .007.Ps.005.05.008.Ps.Ps.60 BT.Ps.Sh Lp .Sh Ps.20.m Ps.17.05.Ps.60 BT.Sh .120 BT.h Ps.005.60 cm BT.05.Ln .m Lp .009.Sh .05.200 BT.h Ps.Ps.Sh .05.Ln .m Ps.Ps.Ps.m Ps.Ps.005.002.004.0.Ps.Sh .380 cm BT.Sh Lp .Ps.100.400 cm BT.Ln .h Ps.60.Ln .Sh .380.27 cm BT.0.Ps.003.05.Ps.Ln .05.Ps.Ln .05.60 BT.05.Ln .004.370.20.Ps.05.006.60.60.05.20 BT.Sh Lp .003.Sh .80.Ps.05.Ps.m Lp .05.m Lp .05.Ps.50 cm BT.05.

Ps.Ps.m Lp .m = Pasir menengah TR = sangat jarang Ps.1 %) (1 %) Lp Ln = Lempung = Lanau Ps.Sh .Ps.25.215.50 %) (50 .Sh .Sh .10.h Lp .5 %) R = jarang (5 .h Ps.h Lp .010. Contoh & Kedalaman GAMPINGAN F o r a m i n i f e r a TR TR N a n n o F r a g m e n M i k r i t R a d i o l a r i a SILIKATAN D i a t o m a e S p o n g e s p i c K a r b o n a n BUKAN BIOGENIK PASIR DAN LANAU T o t a l d e n t r i t u s Fe/Mn O k s i d a v o l k a n i k s h a r r d L e m p u n g Z e o l i t AUTIGENIK D o l o m i t G i p s u m G l a u k o n i t BESAR BUTIR Q BT.Ln .Ps.Ln .h Lp .kadang (30 .h Lp .h Lp .Ps.010.Ps.Ps.Ln .sh = Pasir sangat halus .30 %) C = agak umum c = kadang .200 STA I BH 1 (1m) STA I BH 2 (2.Sh .10 BT.Ps.7) STA II BH I STA II BH 2 STA III BH I TR TR TR TR TR TR R R R R R R c R TR R A A A A c A A D R C A A F - M - HM R R R R TR R R TR TR R R R A A A A C A A D R C A A c c R TR TR C C R R C R R D C c c C C c c D c c TR Lp .05.110.Sh .Ps.Ln .Ln .Sh Lp .h = Pasir halus Ps.Ps.5) STA I BH 3 (3.0.Ln .110 BT.6) STA I BH 4 (4.Sh .Sh .Sh Keterangan : D A a = banyak = sangat umum = umum (75 %) (75 .05.h Lp .Ln .05.Sh Lp .Ln .Ps.Ps.010.15 %) (15 .Ps.Sh .Ps.Ps.05.Ps.011.Ps.011.05.Ps.Ln .4 BIOGENIK No.h Lp .Ln .Sh .315 BT.Ps.Ln .215 BT.Ps.

.

0256 0.0025 0.0021 0.0013 0.0003 0.0011 0.0004 0.3188 0.0010 0.0001 0.4065 0.0033 0.0019 0.0297 0.Sebatik.0319 0.0023 0.0001 0.0020 0.0039 0.0012 0.0011 0.0014 0.0001 0.0039 bt-6/6-20 0.0012 0.0046 0.0010 0.0077 0.0007 0.0283 0.0039 0.0010 0.0062 0.0006 0.0027 0.0019 0.0013 0.6731 0.0014 0.0007 0.1240 0.0023 0.0024 0.Hartono LOKASI CONTOH SBT05-01 SBT05-02 SBT05-03 SBT05-11 SBT05-27 SBT05-28 SBT05-29 SBT05-34 SBT05-38 SBT05-44 SBT05-45 SBT05-49 SBT05-50 SBT05-51 SBT05-52 0.0153 .0030 0.0081 0.2726 2.1686 0.0010 0.5496 2.0003 0.0029 0.0027 0.0042 0.0030 0.0050 0.0177 0.0004 0.1985 0.0008 0.0037 0.0034 0.2013 0.0027 0.0800 0.0006 0.2933 0.0070 0.0006 bt-7/0-20 bt-8/20-60 bt-9/0-20 bt-10/0-25 0.0795 0.0028 0.1098 0.0015 0.0003 0.1098 0.0002 0.0017 0.0016 0.0007 0.0028 0.0018 0.0005 0.0034 0.0043 0.ANALISA MINERAL BERAT Daerah Dideskripsi oleh Mineral Magnetit Hematit Hornblende Limonit Zirkon Dolomit Cangkang Kuarsa Pirit Kayu teroksidasi : Perairan Nunukan .0073 0.0166 0.2142 0.0009 0.3212 0.0005 0. Kalimantan Timur : Ir.2480 0.0027 0.0002 0.0004 0.0034 0.0021 0.0123 0.0048 0.0002 0.0019 0.0029 0.0003 0.0525 0.0009 0.0027 0.0039 0.1595 0.0229 0.0001 0.0020 0.0014 0.0037 0.0021 0.0005 0.0032 0.4565 0.6364 0.0022 0.6731 1.0347 0.0214 0.7451 1.0003 0.1712 0.0014 0.0002 0.0001 0.0017 0.0009 0.0003 0.3933 0.0055 0.0018 Mineral Magnetit Hematit Hornblende Limonit Zirkon Dolomit Cangkang Kuarsa Pirit Kayu teroksidasi SBT05-53 SBT05-54 SBT05-56 SBT05-57 SBT05-58 bt-1/0-20 1.0643 0.0012 0.0065 0.0050 0.0017 0.0015 0.0029 0.0027 0.0070 0.0001 0.0003 0.0004 0.6598 0.0002 0.0000 0.0022 LOKASI CONTOH bt-2/0-17 bt-3/0-92 bt-4/20-40 bt-5/0-20 0.0059 0.0092 0.0264 0.0070 0.0003 0.0002 0.0015 0.0006 0.

.

ukuran 0. berbutir kasar terdiri dari plagioklas. kuarsa.20 mm terdapat sebagai komponen pada masa semen gelas dan mika halus Bentuk kristalin warna kuning terang.02-0. terdapat sebagai masa semen dengan mika halus Bentuk tidak teratur berserat halus warna kuning terang.5 5 6 Mika Mineral Bijih Nama Batuan : Tuff Terubah . κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0.HASIL PEMERIKSAAN • • Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : LP-7 : Contoh berupa bongkah batuan.90 mm. pemadaman bergelombang.18 mm. Nampak Mineral Kuarsa.8 5. 7 9.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batuan Tuff Terubah. 6 20. fragmen batuan dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen gelas dan mika halus.halus terdapat sebagai masa semen dengan gelas Bentuk kristalin halus. terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen gelas dan mika halus Bentuk kristalin warna terang. ukuran 0. ukuran 0.7 Keterangan Bentuk kristalin menyudut warna abu-abu terang. terdapat sebagai Komponen pada masa dasar semen gelas dan mika halus Bentuk tidak teratur (non kriatalin) warna abu-abu terang sedikit coklat terang.02-0.abu kecoklatan bercak putih-coklat Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna coklat-coklat terang.02-0. 7 8. warna gelap terdapat sebagai komponen pada masa semen mika halus dan gelas 2 Kuarsa 3 Pyroksen 4 Gelas 38. plagioklas dan pyroksen terdapat sebagai komponen pada masa semen gelas dan mika halus No 1 Nama Mineral Plagioklas % 16. pyroksen.berwarna abu. halus.

8 Keterangan Bentuk kristalin warna terang.6 3.6 M : Contoh berupa pecahan kecil batuan. halus. rapuh. terdiri dari kuarsa dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. terdapat sebagai komponen pada masa semen mineral lempung Bentuk tidak teratur warna coklat -coklat terang. halus sebagai masa semen Bentuk kristalin halus bentuk tidak teratur warna coklatgelap terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen mineral lempung 2 3 Mineral Lempung Mineral Bijih 71. berwarna abu-abu kecoklatan Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna coklat terang. Nampak Mineral Kuarsa dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa semen gelas dan mika halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Kuarsa % 24. pemadaman bergelombang. berbutir halus.12 mm.02-0. ukuran 0.6 Nama Batuan : Batu Lempung Pasiran .5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Lempung Pasiran.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lamampu 59.

pemadaman bergelombang. halus sebagai masa semen Bentuk kristalin halus bentuk tidak teratur warna coklatgelap terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen mineral lempung 2 3 Mineral Lempung Mineral Bijih 72.7 Nama Batuan : Batu Lempung Pasiran . terdapat sebagai komponen pada masa semen mineral lempung Bentuk tidak teratur warna coklat -coklat terang. cukup kompak.08 mm.9 Keterangan Bentuk kristalin warna terang. ukuran 0. Nampak Mineral Kuarsa dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa semen gelas dan mika halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Kuarsa % 23. berbutir halus terdiri dari kuarsaan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0.4 3.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Lempung Pasiran. berwana abu-abu kecoklatan Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna coklat terang.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lamapu 35 M : Contoh berupa pecahan kecil batuan.02-0. halus.

ukuran 0. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen karbonat halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Plagioklas % 19. halus. pemadaman bergelombang. terdapat sebagai masa semen dengan karbonat halus sebagian mengisi kerangka fosil Bentuk kristalin halus tidak teratur.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Gamping Pasiran. warna abu-abu terang.3 Nama Batuan : Batu Gamping Pasiran .20mm terdapat sebagai komponen pada masa semen karbonat halus dan mineral lempung Bentuk kristalin halus. terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung sebagian mengisi kerangka fosil Bentuk tidak teratur warna coklat -coklat terang. kuarsa dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen karbonat halus dan mineral lempung κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. halus.6 4 Mineral Lempung 7.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lamapu 51 M : Contoh berupa pecahan kecil batuan.20 mm.02-0. tekstursparitik (kasar) terdiri dari plagioklas. terdapat sbg komponen pd masa dasar semen kabonat halus dan min lempung Bentuk kristalin warna terang. Nampak Mineral Kuarsa.02-0. warna abu abu terang.2 5 Mineral Bijih 2.2 Keterangan Bentuk kristalin menyudut. rapuh.7 3 Karbonat 59. warna coklat-gelap terdapat sebagian sebagai komponen halus pd masa semen karbonat halus dan min lempung 2 Kuarsa 11. berwarna abu-abu gelap -hitam Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna abu-abu terang. ukuran 0.

3 M : Contoh berupa pecahan kecil batuan. ukuran 0.5 5 Mineral Bijih 4. Nampak Mineral Kuarsa.abu gelap -hitam Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna coklat-coklat terang. bentuk tidak teratur. berwarna abu. kuarsa. warna abu-abu terangsedikit coklat terang. rapuh.4 4 Mineral Lempung 19.02-0.06 mm. κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. terdapat sebagai komponen pada masa semen gelas dan mineral lempung Bentuk tidak teratur (non kriatalin). warna coklatgelap.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lamapu 42.08 mm terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen gelas dan mineral lempung Bentuk kristalin warna terang. berbutir halus terdiri dari plagioklas. terdapat sebagai masa semen sebagian warna gelap pengaruh dari oksida besi Bentuk kristalin halus.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batuan Tuff. pemadaman bergelombang.4 3 Gelas 46. halus. halus.5 Nama Batuan : Tuff . lempung 2 Kuarsa 12. terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung Bentuk tidak teratur warna coklat terang-kuning terang. terdapat sebagai komponen halus dan oksida besi pd masa semen gelas dan min.020. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa semen mineral lempung dan gelas No 1 Nama Mineral Plagioklas % 17. dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen mineral lempung dan gelas.2 Keterangan Bentuk kristalin menyudut warna abu-abu terang. ukuran 0.

9 Keterangan Bentuk kristalin menyudut. terdapat sbg masa semen dengan mineral lempung dan mika halus Bentuk tidak teratur. gelas dan mika halus No 1 Nama Mineral Plagioklas % 16. terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung dan gelas Bentuk tidak teratur (non kriatalin). Nampak Mineral Kuarsa. warna abu-abu terang sedikit-coklat terang. κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. berserat tidak teratur. warna coklat terang-kuning terang. terdapat sbg komp. terdapat sebagai komponen halus dan oksida besi pada masa semen gelas. min lempung.6 3 Mika 18.02-0.3 4 Gelas 32. ukuran 0. mineral lempung dan mika halus Bentuk kristalin halus. terdapat sebagai masa semen sebagian warna gelap pengaruh dari oksida besi Bentuk kristalin halus. pemadaman bergelombang.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lamapu 17. kuarsa. terdapat sebagai komponen pada masa semen gelas.3 5 Mineral Lempung 9. warna abu-abu terang. terdiri dari plagioklas. bentuk tidak teratur. dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen mineral lempung. warna kuning terang. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa daras semen mineral lempung. gelas dan mika halus.08 mm.4 6 Mineral Bijih 3. dan mika halus Bentuk kristalin warna terang. halus. berbutir halus. pd masa dasar semen gelas. halus. mineral lempung dan mika halus 2 Kuarsa 19.06 mm. ukuran 0.abu terang Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna coklat-coklat terang.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batuan Tuff Terubah.5 Nama Batuan : Tuff Terubah .02-0.5 M : Contoh berupa bongkah kecil batuan. kompak. warna coklatgelap. berwarna abu.

16 mm.02-0. terdiri dari plagioklas. terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen mika halus dan mineral lempung 2 Kuarsa 50. terdapat sebagai masa semen dengan mika halus Bentuk kristalin halus. halus. bentuk tidak teratur. terang terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung Bentuk tidak teratur. terdapat sebagai komponen pada masa semen mika halus dan mineral lempung Bentuk kristalin halus.3 (220 M) : Contoh berupa bongkah batuan.8 Nama Batuan : Batu Pasir Kuarsa .3 Keterangan Bentuk kristalin menyudut.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bukit Menangis BH. kompak. berserat tidak teratur. Nampak Mineral Kuarsa.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Pasir Kuarsa. pemadaman bergelombang.18 mm. berwarna coklat terang Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna kuning terang-coklat terang. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa semen dan mika halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Plagioklas % 12.1 16. warna terang.02-0. berbutir halus. warna coklatgelap. ukuran 0. lempung Bentuk kristalin. warna abu-abu terang. halus. warna coklat -coklat terang.1 3 4 5 Mika Mineral Lempung Mineral Bijih 19.kuarsa dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. terdapat sebagai komponen pd masa dasar semen mika halus dan min. warna kuning. ukuran 0.7 1.

berserat tidak teratur. halus. warna abu-abu terang. terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung Bentuk tidak teratur.9 Keterangan Bentuk kristalin menyudut. terdapat sebagai komponen pada masa semen mika halus dan mineral lempung Bentuk kristalin halus. halus. warna coklatgelap. bentuk tidak teratur.24 mm.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bukit Menangis BH. ukuran 0. terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen mika halus dan mineral lempung 2 Kuarsa 29.1 (1.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Lempung Pasiran. kuarsa dan mineral bijih sebagai dasar semen mika halus dan mineral lempung κ berbutir halus terdiri dari komponen halus pada masa A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. warna coklat -coklat terang.02-0.8 Nama Batuan : Batu Lempung Pasiran .20 mm. Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna abu-abu terang.5 1. terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung Bentuk kristalin. berwarna coklat terang rapuh. pemadaman bergelombang. ukuran 0.6 3 4 5 Mika Mineral Lempung Mineral Bijih 15. Nampak Mineral Kuarsa. terdapat sbg masa semen dengan mika halus Bentuk kristalin halus. plagioklas.2 39. warna terang.80 M) : Contoh berupa bongkah kecil batuan. warna kuning terang. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa semen mika halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Plagioklas % 13.02-0.

halus.20 mm.24 mm. terdapat sebagai komponen pada masa semen mika halus dan mineral lempung Bentuk kristalin halus. bentuk tidak teratur. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Plagioklas % 12. halus. ukuran 0.02-0.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lamampu 41. ukuran 0.5 Nama Batuan : Batu Lempung Pasiran . terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung Bentuk kristalin. Nampak Mineral Kuarsa. cukup rapuh. kuarsa dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen mika halus dan mineral lempung κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0. warna abu-abu terang. Berwarna hitam Deskripsi Contoh Sayatan batuan berwarna coklat-coklat terang.5 M : Contoh berupa bongkah kecil batuan. tredapat sbg masa semen dengan mika halus Bentuk kristalin halus. warna terang. terdiri dari plagioklas.7 4.6 Keterangan Bentuk kristalin menyudut. terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen mika halus dan mineral lempung 2 Kuarsa 26.3 3 4 5 Mika Mineral Lempung Mineral Bijih 21. berbutir halus. berserat tidak teratur. warna coklat-gela.02-0. warna coklat -coklat terang. terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung Bentuk tidak teratur.9 34. warna kuning terang.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Lempung Pasiran. pemadaman bergelombang.

teksturmikritik (halus) dan sparitik (kasar) terdiri dr plagoiklas. berwarna abu-abu gelap Deskripsi Contoh Sayatan batuanberwarna abu-abu terang. ukuran 0. halus. warna coklatgelap.HASIL PEMERIKSAAN Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Bor Batu Lalampu.6 Keterangan Bentuk kristalin menyudut. terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen karbonat halus dan mineral lempung 2 Kuarsa 24. pemadaman bergelombang. cukup rapuh.02-0.02-0. kuarsa dan mineral bijih sebagai komponen halus pada masa dasar semen karbonat halus dan mineral lempung κ A B C D E F G H I κ 1 2 3 4 5 6 X-Nikol 1 2 3 4 5 6 0.60 mm. terdapat sebagai komponen pada masa semen karbonat halus dan mineral lempung Bentuk kristalin halus. terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen kabonat halus dan mineral lempung Bentuk kristalin warna terang. warna abu-abu terang.5 mm XPL Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Gamping Pasiran. Nampak Mineral Kuarsa. warna coklat-coklat terang. plagioklas dan mineral bijih terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen karbonat halus dan mineral lempung No 1 Nama Mineral Plagioklas % 9.2 4 Mineral Lempung 12.2 Nama Batuan : Batu Gamping Pasiran . ukuran 0. terdapat sebagai masa semen dengan karbonat halus sebagian mengisi kerangka fosil Bentuk kristalin halus.3 M : Contoh berupa bongkah kecil batuan.8 5 Mineral Bijih 6.2 3 Karbonat 47. halus. Sebatik 40. terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung sebagian mengisi kerangka fosil Bentuk tidak teratur.30 mm. warna abu-abu terang. bentuk tidak teratur.

HASIL PEMERIKSAAN
Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : Tg. Batu Lamampu : Contoh berupa bongkah batuan,berwarna abu- abu kecoklatan bercak putih-coklat

Deskripsi Contoh
Di dalam menyudut didominasi plagioklas, sayatan tipis menunjukan tekstur klsatik berbutir halus yang hingga menyudut tanggung, dengan minral penyusun yang oleh kuarsa dengan fragmen batuan kuarsitik dengan sedikit mineral opak, zeolit dan anhidrit.
κ

A

B

C

D

E

F

G

H

I

κ

1 2 3 4 5 6
X-Nikol

1 2 3 4 5 6
0.5 mm
XPL

Photomikrograft sayatan tipis contoh batu Batupasir kuarsa karbonatan. Nampak Mineral Kuarsa, plagioklas dan fragmen kuarsit dengan penyemen karbonat

No 1

Nama Mineral Kuarsa

% 60

Keterangan Bentuk kristalin menyudut, warna abu-abu terang, ukuran 0,02-0,30 mm, terdapat sebagai komponen pada masa dasar semen kabonat halus dan mineral lempung Bentuk kristalin warna terang, pemadaman bergelombang, halus, ukuran 0,02-0,60 mm, terdapat sebagai komponen pada masa semen karbonat halus dan mineral lempung Bentuk kristalin halus, warna abu-abu terang, terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung sebagian mengisi kerangka fosil Bentuk tidak teratur, warna coklat-coklat terang, halus, terdapat sebagai masa semen dengan karbonat halus sebagian mengisi kerangka fosil Bentuk kristalin halus, bentuk tidak teratur, warna coklatgelap, terdapat sebagian sebagai komponen halus pada masa semen karbonat halus dan mineral lempung

2

Kuarsit

24,2

3

Plagioklas

2,0

4

Zeolit

12,8

5

Mineral Opak

6,2

Nama Batuan

: Batupasir kuarsa karbonatan

HASIL PEMERIKSAAN
Kode/Nomor Contoh Pemerian Megaskopis : LP 8A : Contoh berupa pecahan kecil batuan, rapuh, berwarna abu-abu gelap -hitam

Deskripsi Contoh
Di dalam sayatan tipis menunjukan tekstur klsatik, berbutir halus hingga berukuran 0,6 mm, butiran menyudut tanggung, kemas terbuka, terpilah sedang. Mineral penyusun didominasi kuarsa disertai fragmen kuarsit dengan semen oksidasi besi (hematite).
κ

A

B

C

D

E

F

G

H

I

κ

1 2 3 4 5 6
X-Nikol

1 2 3 4 5 6
0.5 mm
XPL

Batupasir kuarsa hematite yang disusun oleh kuarsa dan karbonat yang mengisi rongga-rangga dengan oksidasi besi sebagai semen

No 1

Nama Mineral Kuarsa

% 50

Keterangan Bentuk kristalin menyudut, tak berwarna, ukuran 0,6 mm, terdapat sebagai komponen domina umumnya retak-retak halus. Bentuk kristalin warna terang, butir menyudut tanggung yang disusun oleh butiran-butiran halus kuarsa yang saling bertautan, beberapa fragmennya disertai oleh oksida besi Bentuk kristalin halus, warna abu-abu terang, terdapat sebagai masa semen dengan mineral lempung sebagian mengisi kerangka fosil

2

Kuarsit

45

3

Karbonat

5

Nama Batuan

: Batupasir Kuarsa

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

55 mtr) .Sample BH I (9.

Sample BH I (13.00 mtr) .

Sample SBT-19 .

00 mtr) .Sample BH II (25.

Sample BH II (26.5 mtr) .

Sample SBT-30 .

.

55 mtr .Sample BH I (9.

00 mtr) .Sample BH I (13.

00 mtr) .Sample BH II (25.

Sample BH II (26.5 mtr) .

Sample SBT-19 .

Sample SBT-30 .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->