Anda di halaman 1dari 17

aliran fenomenologi (filsafat masa kotemporer)

Edmun Husserl (1859-1938) adalah pendiri aliran fenomenologi, ia telah empengaruhi pemikiran filsafat abad ke 20 ini secara amat mendalam. Fenomenologi adalah ilmu (logos) pengetahuan tentang apa yang tampak (phainomenon). Dengan demikian fenomenologi adalah ilmu yang mempelajari yang tampak atau apa yang menampakkan diri atau fenomenon. Bagi Husserl fenomena ialah realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan subjek dengan realitas, realitas itu sendiri yang tampak bagi subjek. Dengan pandangan tentang fenomena ini Husserl mengadakan semacam revolusi dalam filsafat barat. Sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti sebagai kesadaran tertutup atau cogito tertutup, artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, kesadaran bersifat intensional sebetulnya sama artinya dengan mengatakan realitas menampakkan diri. Anggapan para ahli tertentu lebih mengartikan fenomenologi sebagai suatu metode dalam mengamati,memahami, mengartikan, dan memaknakan sesuatu daripada sebagai pendirian atau suatu aliran filsafat. Dalam pengertian sebagai suatu metode, Kant dan Husserl mengatakan bahwa apa yang dapat kita amati hanyalah fenomena bukan neumenon atau sumbernya gejala itu sendiri. Denga demikian, terhadap hal yang kita amati terdapat hal-hal yang membuat pengamatannya tidak murni sehingga perlu adanya reduksi. Jadi, pengamatan biasa (natuerliche Einstellung) akan menimbulkan bias. Meskipun pengamatannya merupakan hal biasa pada manusia umumnya, namun tidak memuaskan filosof dan mereka yang menginginkan kebenaran secara murni (reine wessenschau). Adapun hal yang harus dilakukan adalah pertama-tama reduksi fenomenologi (phaenomenologische reduction) atau disebut juga reduksi epochal atau menjadikan apa yang bukan bagian saya (das nicht ich) menjadi bagian saya (dasa ich). Tiga hal yang perlu kita sisihkan dalam usaha menginginkan kebenaran yang murni, yaitu : a. Membebaskan diri dari unsur subjektif, b. Membebaskan diri dari kungkungan teori-teori, dan hipotesis-hipotesis, c. Membebaskan diri dari doktrin-doktrin tradisional Setelah mengalami reduksi tingkat pertama, yaitu reduksi fenomenologi atau reduksi epochal, fenomena yang kita hadapi menjadi fenomea yang murni, tetapi belum mencapai hal yang mendasar atau makna yang sebenarnya. Oleh karena itu perlu dilakukan reduksi kedua yang disebut reduksi eiditis. Melalui reduksi kedua, fenomena yang kita hadapi mampu mencapai inti atau esensi. Kedua reduksi tersebut adalah mutlak. Selain kedua reduksi tersebut terdapat reduksi ketiga dan yang berikutnya dengan maksud mendapatkan pengamatan yang murni, tidak terkotori oleh unsur apa pun, serta dalam usaha mencari kebenaran yang tertinggi. A. Pengertian Umum Istilah fenomenologi berasal dari bahasa Yunani, yang asal katanya adalah phenomenon dan logos. Phenomenon berarti: yaitu yang muncul dalam kesadaran manusia. Sedangkan logos, berarti ilmu. Phenomenologi berarti studi tentang phenomenon, atau yang muncul dengan sendirinya. Fenomenologi berarti uraian tentang phenomenon. Atau sesuatu yang sedang menampilkan diri, atau sesuatu yang sedang menggejala. Dengan keterangan ini mulai tampaklah tendensi yang terdalam dari aliran phenomenologi yang sebenarnya merupakan jiwa dan cita-cita dari semua filsafat, yaitu mendapatkan pengertian yang benar, yang menangkap realitas itu sendiri. Objek fenomenologi adalah fakta atau gejala, atau keadaan, kejadian, atau benda, atau realitas yang sedang menggejala. Phenomenologi berpegang atau berpendirian bahwa segala pikiran dan gambaran dalam pikiran kesadaran manusia menunjuk pada sesuatu, hal atau keadaan seperti ini, yaitu pikiran dan gambaran yang tertuju atau mengenai sesuatu tadi disebut intensional.

Secara umum dapat dikatakan bahwa fenomenologi adalah cara dan bentuk berpikir, atau apa yang disebut dengan the styie of thingking. Biasanya dikatakan bahwa dasar pikiran itu ialah intensionalisme. Menurut Edmund Husserl sebagai salah satu tokoh filsafat fenomenologi bahwa, intention, kesengajaan mengarahkan kesadaran dan reduksi. Edmund Husserl memang berbagi jenis reduksi ; reduksi fenomenologis, editis, dunia dan kebudayaan menjadi lebenswelt, dan reduksi transedental. Akan tetapi tokoh fenomenologi yang lain, seperti Martin Heidegger dan Maurice Morleau Ponty menolak reduksi-reduksi itu. Ungkapan fenomenologi adalah slogan gerakan dalam pemikiran filsafat dan penelitian ilmiah. Walaupun di kalangan ilmuwan bisa saja terdapat banyak variasi antara satu dengan lainnya, namun semuanya cukup representatif. Dalam hal tertentu, fenomenologi adalah berkenaan dengan kesadaran di mana manusia mendapat dunia, mendapatkan selain dirinya dan mendapatkan dirinya sendiri. Fenomenologi di satu pihak adalah hubungan antara menusia dengan dunia, dan di pihak lain, ia merupakan hubungan antara dirinya dengan dirinya sendiri. Dalam masalah keagamaan, fenomenologi adalah cara untuk memahami hal ekspresi manusiawi terhadap latar belakang hubungan yang fundamental. Sebagai suatu usaha pemikiran, fenomenologi mencoba memahami manusia dalam kerangka filsafat antropologi. Sebagai suatu usaha riset ilmiah, fenomenologi berusaha untuk mengklarisifikasikan seluk-beluk kumpulan fenomena, termasuk fenomena keagamaan. Dengan cara demikian, fenomenologi menentukan terhadap pengertian mereka sendiri. B. Pendekatan Fenomenologi Sebagaimana di kemukakan sebelumnya bahwa masalah dasar dari filsafat fenomenologi adalah bagaimana mendapatkan atau memperoleh pengetahuan yang benar, sah dan sejati. Cara kerja atau pendekatan secara fenomenolog adalah manusia mencoba untuk menganalisa strukturstruktur intentionalitas [karakteristik kesadaran tentang sesuatu], dalam hal cara yang paralel dengan cara seorang psikoanalisis dalam mengupas emosi-emosi ketidak-sadaran. Atau paralel dengan seorang anthropologis aliran strukturalis dalam menganalisa untuk memperoleh struktur dari kenyatan sosial. Selanjutnya adalah mencari teori atau hipotesa yang bertalian untuk memecahkan problema-problema yang berhubungan dengan sekumpulan data yang ada. Teori atau hipotesa semacam itu kemudian diuji validitasnya dalam penelitian empiris berikutnya. Dalam fenomenologi yang menjadi objeknya adalah fakta, gejala, atau keadaan, kejadian, atau benda, atau realitas yang menggejala. Realitas yang menggejala itu akan mengambil pengertiannya menurut tuntunan realitas itu sendiri, artinya pengertian yang sebenarnya dari realitas itu, bukan pengertian yang tidak asli. Misalnya, pengertian yang sudah terpengaruh oleh warna sesuatu teori tertentu atau pengertian yang populer sebelumnya. Dalam perspektif demikian, masalah agama yang dipandang sebagai gejala kemanusiaan, yang menurut fenomenologi adalah untuk merekonstruksi pengertian-pengertian keagamaan atas dasar bahan-bahan dokumentasi yang ada. Menurut keyakinan aliran fenomenologi, pengertian realitas yang sedang menggejala itu sering tertutup kabut, baik kabut suasana alam sekitarnya juga kabut pemikiran subjektivitas pengamat, serta kabut teori yang sedang dominan pada saat terjadinya penatapan terhadap realitas itu. Semua kabut itu harus ditembus oleh para pengamat atau ilmuan yang menutupi realitas yang menggejala itu, dan menatap langsung berulang-ulang realitas sehingga terlihat atau tertangkap pengertiannya yang murni dan asli, yang tidak terpengaruh oleh aneka macam kabut yang mengitarinya. Inilaj benang merah persamaan antara aneka macam aliran fenomenologi, yaitu adanya keyakinan bahwa manusia dapat menangkap pengertian yang murni dari realitas yang menggejala dengan menatap langsung menembus kabut-kabut yang menutupinya, dengan bertemu langsung dan mengamat-amati realitas. Dalam lapangan agama, metode ini juga dianggap mampu dan cocok untuk digunakan, karena agama dianggap sebagai gejala, baik sebagai gejala yang terpisah dari manusia maupun bagian dari gejala kemanusiaan. Suatu keharusan manusiawi, keharusan mana tidak mungkin terdapat dalam salah satu kemampuan istimewa, tapi harus dicari dalam keadaan manusia sebagai individu terhadap dunianya, dalam dasar eksisitensi manusia. Dengan kata lain, agama dapat dianggap sebagai jawaban manusia terhadap eksistensinya.

Edmun Husserl (1859-1938) adalah pendiri aliran fenomenologi, ia telah empengaruhi pemikiran filsafat abad ke 20 ini secara amat mendalam. Fenomenologi adalah ilmu (logos) pengetahuan tentang apa yang tampak (phainomenon). Dengan demikian fenomenologi adalah ilmu yang mempelajari yang tampak atau apa yang menampakkan diri atau fenomenon. Bagi Husserl fenomena ialah realitas sendiri yang tampak, tidak ada selubung atau tirai yang memisahkan subjek dengan realitas, realitas itu sendiri yang tampak bagi subjek. Dengan pandangan tentang fenomena ini Husserl mengadakan semacam revolusi dalam filsafat barat. Sejak Descartes, kesadaran selalu dimengerti sebagai kesadaran tertutup atau cogito tertutup, artinya kesadaran mengenal diri sendiri dan hanya melalui jalan itu mengenal realitas. Sebaliknya Husserl berpendapat bahwa kesadaran terarah pada realitas, kesadaran bersifat intensional sebetulnya sama artinya dengan mengatakan realitas menampakkan diri. Anggapan para ahli tertentu lebih mengartikan fenomenologi sebagai suatu metode dalam mengamati,memahami, mengartikan, dan memaknakan sesuatu daripada sebagai pendirian atau suatu aliran filsafat. Dalam pengertian sebagai suatu metode, Kant dan Husserl mengatakan bahwa apa yang dapat kita amati hanyalah fenomena bukan neumenon atau sumbernya gejala itu sendiri. Denga demikian, terhadap hal yang kita amati terdapat hal-hal yang membuat pengamatannya tidak murni sehingga perlu adanya reduksi. Jadi, pengamatan biasa (natuerliche Einstellung) akan menimbulkan bias. Meskipun pengamatannya merupakan hal biasa pada manusia umumnya, namun tidak memuaskan filosof dan mereka yang menginginkan kebenaran secara murni (reine wessenschau). Adapun hal yang harus dilakukan adalah pertama-tama reduksi fenomenologi (phaenomenologische reduction) atau disebut juga reduksi epochal atau menjadikan apa yang bukan bagian saya (das nicht ich) menjadi bagian saya (dasa ich). Tiga hal yang perlu kita sisihkan dalam usaha menginginkan kebenaran yang murni, yaitu : a. b. c. Membebaskan diri Membebaskan diri dari kungkungan Membebaskan diri dari dari unsur subjektif, teori-teori, dan hipotesis-hipotesis, doktrin-doktrin tradisional

Setelah mengalami reduksi tingkat pertama, yaitu reduksi fenomenologi atau reduksi epochal, fenomena yang kita hadapi menjadi fenomea yang murni, tetapi belum mencapai hal yang mendasar atau makna yang sebenarnya. Oleh karena itu perlu dilakukan reduksi kedua yang disebut reduksi eiditis. Melalui reduksi kedua, fenomena yang kita hadapi mampu mencapai inti atau esensi. Kedua reduksi tersebut adalah mutlak. Selain kedua reduksi tersebut terdapat reduksi ketiga dan yang berikutnya dengan maksud mendapatkan pengamatan yang murni, tidak terkotori oleh unsur apa pun, serta dalam usaha mencari kebenaran yang tertinggi. Sumber Bacaan :

Rizal Muntansyir dkk, Filsafat Ilmu, Pustaka Pelajar, Yogyakarta : 2004,hlm 90-91 HERMENTIKA

Oktober 2011
PENDEKATAN DAN ALIRAN HERMENEUTIKA
A. Pendahuluan Mempelajari filsafat perlu diawali dengan sebuah pertanyaan pembuka Apakah filsafat itu?. Ada dua pendapat tentang pengertian filsafat, sebagaimana pendapat Harun Nasution yang dikutip oleh Toto Suharto dalam bukunya Filsafat Pendidikan Islam. Pertama: filsafat berasal dari bahasa Inggris (fil) dan bahasa Arab (safah) yang jika digabungkan menjadi fisafat. Ini yang dipertanyakan Nasution. Pertanyaan ini wajar dikemukakan karena Nasution ingin menegaskan bahwa terma filsafat itu berasal dari bahasa Arab, maka seyogyanya diucapkan falsafah atau falsafat, bukan filsafah. (Suharto, 2006 : 21-22) Pendapat kedua: terma filsafat berasal dari bahasa Inggris, philo dan sophos. Philo berarti cinta dan sophos berarti ilmu atau hikmah. Pendapat ini kebanyakan dikemukakan oleh penulis berbahasa Inggris, seperti Louis O Kattsoff. Dari kedua pendapat ini muncul pendapat ketiga yang menggabungkan keduanya. Pendapat ini dikemukakan oleh filosof Islam Al-Farabi. Menurutnya filsafat berasal dari bahasa Yunani yang masuk dan digunakan sebagai bahasa Arab, yaitu berasal dari kata philosophia. Philo berarti cinta dan sophia berarti hikmah. (Suharto, 2006 : 22) Setelah mengkaji beberapa pengertian tentang filsafat, secara ringkas dapat dikatakan bahwa filsafat adalah hasil akal budi manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain, filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. (Suharto, 2006 : 22) Selanjutnya apa yang dimaksud dengan filsafat ilmu? Pendapat S.R. Toulmin, dalam The Liang Gie yang dikutip oleh Prof. Dr. Herman J. Waluyo, pertama: filsafat ilmu adalah pengkajian ilmu secara filosofis, yaitu secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif, dan dikaitkan dengan aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologinya. Kedua: filsafat ilmu juga dapat disebut sebagai cabang ilmu filsafat yang berusaha menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam pengkajian keilmuan, prosedur pengamatan, metode, dan nilai kegunaan dari ilmu. (Waluyo, 2002 : 1) B. Permasalahan Permasalahan apa yang perlu dikemukakan dalam filsafat ilmu? Sebagaimana ilmu-ilmu lain, filsafat ilmu secara ilmiah memiliki berbagai aliran dan pendekatan dalam mengkaji ilmu. Pada makalah ini penulis hanya membatasi pembahaan pada pendekatan dan aliran hermeneutika dalam filsafat ilmu.

Hermeneutik yang berarti penafsiran digunakan dalam menafsirkan ayat-ayat dalam kitab suci, yang selalu relevan dengan zamannya. Kesulitan pada juru tafsir adalah ketika harus membumikan ajaran agama agar selalu relevan dengan zamannya. Hermeneutik berasal dari bahasa Yunani hermenia yang berarti penafsiran. Richard E. Palmer menyebutkan perkembangan arti hermeneutik, yaitu: 1) theory of biblical exegesis; 2) philological methodology; 3) the science of all linguistic understanding; 4) the methodological fundamental of Geisteswissenschaften; 5) fenomenology of desain of existensial understanding; 6) the system of interpretation both recovery of meaning and iconoclastic used by man to reach the meaning behind myth and symbol. (Waluyo, 2002 : 49). Kenyataan tersebut mengarahkan setiap pembelajar filsafat ilmu harus mengkaji ilmu sampai tingkat paling mendasar, tidak setengah-setengah (dangkal). Pendalaman ilmu secara radikal, harus sampai tingkat mudheng (Jawa: paham). Bilamana perlu dilakukan dengan menarik suatu perbandingan secara historis antara masa lalu dan masa kini, membaca suatu persoalan lebih bertumpu pada teks (meskipun menurut tinjauan kebahasaan masih banyak makna dibalik kata-kata, dan tidak terwakili oleh kata-kata tertulis mana pun). Untuk mempelajari sesuatu seseorang harus sampai tahapan menderita dan mencapainya dengan perjuangan yang keras. C. Tujuan Tujuan hermeneutika menurut Riceour adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi dalam simbol-simbol tersebut, seperti dalam kata-kata. Hal ini karena kata-kata merupakan alat untuk mengungkapkan pikiran simbolis kita tentang dunia. (Hidayat, 2006 : 160) Posisi penafsiran para filsuf empiris, pertama-tama terarah pada benda-benda objektif natural yang tidak tersentuh oleh tangan dan pikiran manusia. Bagi mereka pikiran manusia menempati tempat kedua; jika menempati tempat pertama, pikiran manusia hanya bisa memaksakan pengandaian yang menyesatkan dan prasangka yang artifisial terhadap dunia di luar dirinya. (Harland, 2006 : 98). Dari pemikiran tersebut, mempelajari filsafat ilmu adalah meyakinkan setiap orang bahwa untuk mencapai sesuatu pemahaman (ilmu), harus dilakukan berbagai pendekatan baik secara teoretis maupun praktis. Berbagai permasalahan dalam kehidupan sering terjadi karena seseorang tidak memahami suatu ilmu secara mendalam. Jawaban atas suatu persoalan sering bersifat dangkal dan penuh keraguan, sehingga pihak-pihak yang bermasalah merasa tidak puas atas jawaban yang diberikan. Ini relevan dengan pengertian hermeneutika menurut Zygmunt Bauman. Hermeneutika adalah upaya menjelaskan dan menelusuri pesan dan pengertian dasar dari sebuah ucapan atau tulisan yang abstrak, belum jelas maknanya, sehingga menimbulkan keraguan dan kebingungan bagi pendengar atau pembaca. Keraguan ini ada kalanya juga muncul ketika seseorang dihadapkan pada berbagai dokumen yang saling berbeda penjelasannya

mengenai hal yang sama, sehingga pembaca harus bekerja melakukan kajian yang serius untuk menemukan sumber-sumber yang otentik serta pesan yang jelas. (Hidayat, 2006 : 256) Ini menandakan bahwa banyak ketidakpercayaan publik terhadap jawaban-jawaban yang diberikan oleh pemegang otoritas atas sebuah tanggung jawab terhadap suatu masalah. (Banyak contoh kasus seperti Lapindo Brantas, Poligami AA Gym, Tenggelamnya Kapal Senopati, Jatuhnya Adam Air, Banjir di Jakarta, dan lain-lain). D. Pembahasan Untuk sampai pada pembahasan tentang filsafat ilmu berikut penulis suntingkan beberapa pendapat ahli tentang hermeneutika dalam filsafat ilmu. 1. Wilhelm Dilthey Satu istilah penting yang dicetuskan oleh Dilthey adalah verstehen atau mudheng, yakni penafsiran sesuatu sampai tingkat kemengertian yang selengkap-lengkapnya. Pemahaman atas suatu masalah tidak hanya dilihat dari realitas luar saja, melainkan sampai dengan realitas dalamnya, artinya ada makna di balik sesuatu yang kasat mata. Juru tafsir harus melalui tahap explanation (penjelasan), explication (penguraian), serta interpretation (penafsiran). Mereka juga harus melalui experience (pengalaman), expression/ ausdruck (ekspresi), lived experience atau objectivication (pengalaman pribadi). Selanjutnya disebutkan bahwa juru tafsir harus memiliki historical beeing, artinya memiliki pengalaman panjang dalam menafsirkan suatu fenomena. Semakin banyak menafsirkan sesuatu yang berkaitan dengan hidupnya, semakin tajam dan peka daya tafsirnya. Disebutkan pula tentang lingkaran hermeneutika yaitu lingkaran penafsiran yang secara terus menerus mengkaji tingkah laku manusia sebagai sebuah msiteri yang sulit dipahami, bahkan sampai akhir hayatnya. Dilthey menafsirkan sebuah ilmu dengan mengkaji sejarah, yang digambarkan sebagai informasi dan fakta yang tidak menyebutkan angka tahun, melainkan berupa simbolsimbol. (sebagai contoh mite dan eposm, Ken Arok yang dari kepalanya muncul banyak kelelawar yang memakan buah jambu milik tetangga yang sangat diinginkannya. Sedangkan pada bagian bawah perut Ken Dedes keluar cahaya yang terang). Penafsiran tentang apakah ini, nafsu dan daya tarik kewanitaankah? 2. Martin Heidegger Heidegger berbicara tentang das sein atau keluar dari ketersembunyian dan pemikirannya meliputi dua periode yakni periode pertama yang mengungkapkan tentang ada dan waktu, sedangkan periode kedua mengungkapkan tentang pembalikan. Dalam pemikiran pertama dikatakan antara ada dan manusia sebagai suatu yang berkait erat, sedangkan pada masa pembalikan, disebutkan pemikiran ini sebagai pengujian atas pemikiran pertama ketidaktersembunyian dengan aletheia yang artinya a tidak dan lethe ketersembunyian.

Kita tidak dapat memahami subjek, dalam hal ini manusia tanpa arti yang dialami subjek. Berfikir yang sesungguhnya adalah suatu langkah kembali kepada kesatuan yang saling memuat secara timbal balik antara subjek dan arti. Sejarah pemikiran ternyata telah meninggalkannya dengan suatu akibat, berpikir manusia dan sejarah kehilangan unsurunsurnya, dasar asal mulanya beserta tempat tinggalnya. Berpikir yang sesungguhnya adalah berdiri dalam suatu kebenaran sebagai ketidaktersembunyian. (Kaelan, 1998 : 197) 3. Friederich Schleiermacher Bagi Schleiermacher yang menafsirkan ilmu dengan mengkaji bidang linguistik dan kesenian, penafsiran merupakan rekonstruksi historis, artinya fenomena masa lalu harus harus ditafsirkan pada masa kininya si juru tafsir. Untuk menafsirkan sesuatu diperlukan rekonstruksi historis yang menghasilkan fusi cakrawala yaitu gabungan antara cakrawala pandangan teks masa lalu ditafsirkan dengan cakrawala pemikiran masa kini. Istilah anschauung yang dikemukakan Sshelermacher mengandung arti adanya keluluhan antara fenomena masa lalu dengan intuisi dan visinya. Fenomena masa lalu tidak dilihat secara partial, melainkan bersifat menyeluruh (global : dari berbagai segi). Diperlukan tiga tahap untuk mencapai keluluhan ini, yakni: 1) tahap interpretasi dan pemahaman secara mekanis; 2) tahap ilmiah; dan tahap estetis. Tahap ketiga ini hanya dapat dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan besar yang mampu melakukan, karena harus mengembangkan imajinasi, dan mencapai tahap keluluhan antara emosi dan rasio. Kedewasaan mental atau kematangan emosional ? 4. Jurgen Habermas Habermas menyatakan bahwa pemahaman adalah suatu kegiatan di mana pengalaman dan pengertian teoretis berpadu menjadi satu. Pemikiran ini yang menyebabkan hermeneutika dan bahasa mendekati ciri metodis, sehingga sangat relevan untuk diangkat menjadi metode hermeneutika bagi penelitian-penelitian kualitatif dewasa ini. Pengalaman hermeneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan, yaitu : linguistik, tindakan dan pengalaman. Tentang linguistik Habermas mengatakan bahwa ekspresi atau ungkapan dapat sama sekali dipisahkan dari konteks kehidupan konkret jika tidak berhubungan dengan bagian-bagian khusus dalam konteks tersebut. Dalam hal ini ekspresi linguistik muncul dalam bentuknya yang absolut, yaitu menggambarkan pemahaman monologis. Hal ini juga akan menimbulkan jurang pemisah antara apa yang diungkapkan dengan apa yang dimaksudkan, dan jurang pemisah baru akan ditutup bila hermenutik atau interpretasi bekerja. (Kaelan, 1998 : 223) 5. Hans Georg Gedamer Penafsiran ilmu menurut Gedamer dilakukan dalam bentuk rekreasi, artinya juru tafsir memiliki kemerdekaan dalam menafsirkan fenomena seni dan tidak harus terikat oleh pencipta karya seni itu. Juru tafsir menafsirkan ciptaan dengan visinya, dan faktor sosiologis dan historis tidak dapat diungkapkan dalam karya seni.

Menurut Gedamer, pemahaman harus dilakukan secara dialektik melaui: 1) rekreasi (membuang prakonsepsi dan hal yang berkaitan dengan teks); 2) vorhabe (mengadakan interpretasi berdasarkan visi dan pengetahuan yang dimiliki; 3) vorsicht (menafsirkan berdasarkan apa yang dilihat); dan vorgrift (menafsirkan berdasarkan apa yang diperoleh kemudian atau kesan-kesan menyeluruh yang muncul). Untuk melakukan penafsiran diperlukan bildung atau mengembangkan jalan pikiran; sensus communicus atau membuat pertimbangan untuk mengelompokkan hal-hal praktis yang baik; dan selera yaitu keseimbangan antara insting, pancaindera dan kebebasan intelektual. 6. Jacques Derrida Pemikiran Derrida berkaitan dengan ungkapan dan fenomena, dan dalam pernyataannya disebutkan bahwa filsafat dan ilmu pengetahuan merupakan hal yang sama, karena keduanya dalam rasionalitas yang sama. Dalam pengertian ini pengertian Derrida tentang bahasa merangsangnya untuk membuat suatu kritik. Ia mengatakan bahwa setiap kata mempunyai arti atau makna, namun tandanya berbeda-beda. Membaca sebuah teks pada hakikatnya merupakan suatu perumusan kembali pandangan dunia dari pengarang, sedangkan membaca termasuk dalam arti tanda-tanda dalam kata-kata. Jika kritik tidak dapat menyusup masuk ke dalam arus utama dari jalan pikiran pengarang atau jikalau gagal mendalami pandangan dunia dari pengarang, maka kritik itu sebenarnya tidak ada artinya sama sekali. (Kaelan, 1998 : 251) 7. Paul Ricoeur Pandangan dan pendapat Ricoeur merupakan jalan tengah dari Schleiermacher dan Gedamer. Penafsiran yang dilakukan berkaitan dengan kebudayaan yang mengharuskan adanya interpretasi terhadap interpretasi. Harus ada pembongkaran makna terselubung dalam kata-kata atau fenomena yang sedang dihadapi. Riceour memperkenalkan istilah distansi kultural, yang mengharuskan juru tafsir mengambil jarak agar tidak luluh dengan fenomena yang ditafsirkan, sehingga kehilangan kesempatan untuk memahami maknanya. Juru tafsir harus menafsirkan fenomena dengan pikiran jernih dan dari luar bidang itu, sehingga sifat dan hakikat fenomena itu dapat ditafsirkan secara lebih lengkap. Menurut Ricoeur, seorang juru tafsir tidak menafsirkan sesuatu dengan kepala kosong, melainkan dengan modal gagasan berupa bekal teoretis tentang fenomena; apa yang dilihat melalui observasi; dan apa yang merupakan konsep dalam pikirannya. Karena kajian Riceour adalah teks maka budaya oral yang sering menimbulkan salah penafsiran dipersempit. Kesalahpahaman yang terjadi dalam bahasa tutur perlu dihindari, dan salah satu tujuan yang hendak dicapai adalah mengurangi adanya kesalahpahaman. Untuk menafsirkan teks diperlukan proses dekontekstualisasi yang artinya proses pembebasan terhadap teks, dan rekonstektualisasi yakni proses masuk kembali ke dalam

teks. Penafsir harus membaca dari dalam teks, tetapi tidak luluh ke dalamnya, untuk itu diperlukan distansi kultural. Semua teks, menurut Riceour bersifat otonom yang berdasarkan atas tiga hal yaitu: 1) maksud penulis; 2) situasi kultural dan kondisi sosial pengadaan teks; dan 3) untuk siapa teks itu ditulis. Pemahaman terhadap teks merupakan the made of beeing (cara berada atau cara menjadi). Pemahaman adalah proyeksi dasein (pemahaman manusia seutuhnya dengan segala aspek-aspeknya) dan keterbukaan terhadap beeing (pemahaman yang tidak sepotongpotong atas keberadaan fenomena). Pemahaman atas suatu persoalan menurut Ricoeur hanya dapat diperoleh malalui kerja keras dan menderita. Pada tingkat eksistensial (suatu fenomena dalam derajat tertinggi), dan untuk memahami diri sendiri harus melalui memahami orang lain. Selain itu penafsiran Riceour bersifat open ended yang berarti adanya kemungkinan jawaban-jawaban baru atau tafsiran-tafsiran baru terhadap suatu fenomena. Peristiwa sejarah sebagai fenomena tidak pernah berdiri sendiri, melainkan sesuatu yang tersituasi. (Waluyo, 2002 : 49-55) 8. Aristoteles Dalam khasanah filsafat klasik, kata hermeneutika ini juga telah digunakan. Misalnya kita jumpai dalam Peri Hermeneias (De Interpretatione) dari Aristoteles. Dalam Peri Hermeneias ini Aristoteles mengatakan bahwa kata-kata yang kita ucapkan pada dasarnya merupakan pengalaman mental kita. Sedangkan kata-kata yang kita tulis merupakan simbol dari katakata yang kita ucapkan. Sebagaimana seseorang tidak mempunyai kesamaan bahasa tulisan dengan orang lain, demikian pula ia tidak mempunyai kesamaan bahasa ucapan dengan yang lain. Akan tetapi, pengalaman mentalnya yang disimbolkan secara langsung itu adalah sama untuk semua orang sebagaimana juga pengalaman-pengalaman imajinasi kita untuk menggambarkan sesuatu. (Hidayat, 2006 : 166). E. Simpulan Dari pembahasan tersebut dapat disimpulkan bahwa: Filsafat adalah hasil akal budi manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya atau ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu. Filasafat ilmu adalah pengkajian ilmu secara filosofis, yaitu secara menyeluruh, mendasar, dan spekulatif dan dikaitkan dengan aspek ontologi, epistimologi, dan aksiologinya, dapat juga disebut sebagai cabang ilmu filsafat yang berusaha menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam pengkajian keilmuan, prosedur pengamatan, metode, dan nilai kegunaan dari ilmu. Mempelajari filsafat ilmu bertujuan meyakinkan setiap orang bahwa untuk mencapai

sesuatu pemahaman (ilmu), harus dilakukan berbagai pendekatan baik secara teoretis maupun praktis. Pendekatan yang bisa dilakukan adalah penafsiran sesuatu sampai tingkat kemengertian yang selengkap-lengkapnya; rekonstruksi historis yang menghasilkan fusi cakrawala yaitu gabungan antara cakrawala pandangan teks masa lalu ditafsirkan dengan cakrawala pemikiran masa kini; menafsirkan berdasarkan apa yang diperoleh kemudian atau kesankesan menyeluruh yang muncul; dan memungkinkan adanya jawaban-jawaban baru atau tafsiran-tafsiran baru terhadap suatu fenomena. Kesalahpahaman yang terjadi dalam bahasa tutur perlu dihindari, dan salah satu tujuan yang hendak dicapai adalah mengurangi adanya kesalahpahaman. Dengan demikian berbagai permasalahan dalam kehidupan yang sering terjadi karena seseorang tidak memahami suatu ilmu secara mendalam, tidak lagi terjadi. Daftar Pustaka

1. HERMENEUTIKA Rintyastini Harisa Mardiana 2. o Secara etimologis Hermeneutik berasal dari kata Yunani : H ermeneuein yang berarti menafsirkan, oleh karena itu kata benda dari hermenia dapat diartikan sebagai penafsiran atau interpretasi . o Istilah Yunani ini berhubungan dengan tokoh mitologis Hermes, utusan dewa Jupiter yang menyampaikan pesan kepada manusia. Hermes menjadi simbol seorang duta yang diberi misi tertentu. 3. o Dalam presentasi ini akan ditunjukkan bahwa di dalam sejarah perkembangannya, ilmu-ilmu alam atau natural science yang berkaitan erat dengan scientific method , objectivity , dan rationality juga melibatkan unsur-unsur hermeneutik. Dan juga membicarakan keberadaan hermeneutik dalam ilmu-ilmu alam, termasuk pergeseran paradigma Kuhn, dan diakhiri dengan uraian ringkas beberapa penemuan atau teori dalam ilmu alam yang relevan. 4. o Beberapa teori dalam ilmu-ilmu alam, misalnya dalam fisika kuantum dan kosmologi, sebenarnya perupakan hasil interpretasi-interpretasi para ilmuwan yang dalam sejarahnya dapat digantikan oleh interpretasiinterpretasi baru atau yang oleh Kuhn disebut sebagai pergeseran paradigma dalam ilmu pengetahuan. 5. o Mengapa hermeneutik ditawarkan sebagai salah satu metode penelitian dalam ilmu-ilmu kemanusiaan atau ilmu sosial? Apakah hermeneutik juga berlaku dalam ilmu-ilmu alam? Sebenarnya secara tidak langsung juga menunjukkan bahwa metode penelitian ilmiah atau scientific method memiliki keterbatasan-keterbatasan sehingga dalam situasi dan kondisi

tertentu para ilmuwan terpaksa menggunakan interpretasi untuk menjelaskan fenomena alam tertentu. 6. o Ilmu pengetahuan dibedakan menjadi dua kelompok besar, yaitu ilmuilmu alam dan ilmu-ilmu sosial. o Dalam masa Aufklarung atau Zaman Pencerahan beberapa tokoh filsafat seperti Auguste Comte, Ernst Mach, dan para filsuf dalam Vienna Circle , berpendapat bahwa tidak perlu ada perbedaan metode penelitian atau pendekatan dalam kedua kelompok ilmu pengetahuan tersebut. 7. o Kesuksesan pendekatan (metode) ilmiah dalam ilmu-ilmu alam yang berhasil menjelaskan gejala-gejala alam sampai menjadi teknologi, diyakini akan dapat diperoleh juga jika diterapkan dalam ilmu-ilmu sosial. Pandangan atau aliran semacam ini disebut aliran positivisme . o Dalam perkembangannya, usaha penerapan metode ilmiah ilmu-ilmu alam dalam ilmu-ilmu sosial menimbulkan masalah, bukan saja dari segi keilmuan, tetapi juga segi kemanusiaan. 8. o Masalah inilah yang akhirnya memunculkan metode-metode alternatif dalam ilmu-ilmu sosial, yang salah satunya adalah hermeneutik o atau penafsiran atau interpretasi . o Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions , 1963, menyebutkan bahwa dalam ilmu alam terjadi revolusi , yaitu perubahan dari paradigma lama ke paradigma baru yang begitu signifikan dalam waktu yang singkat, misalnya paham geosentris digantikan oleh paham heliosentris . 9. o Perubahan-perubahan yang cepat dalam ilmu-ilmu alam ini menimbulkan pertanyaan pertanyaan. Apakah teori atau pemahaman baru diartikan lebih objektif daripada teori atau pemahaman lama? Benarkah objektivitas masih merupakan salah satu ciri dalam ilmu alam? 10. o Dalam presentasi ini, dengan bantuan beberapa contoh nyata perkembangan dalam ilmu-ilmu alam, ditunjukkan bahwa metode pendekatan hermeneutik yang sebenarnya pada awal mulanya bahkan ditujukan untuk melawan paham positivisme, juga terdapat dalam ilmuilmu alam. 11. Perkembangan dan Pengertian Hermeneutik o Istilah hermeneutik mencakup dua hal, yaitu seni dan teori tentang pemahaman dan penafsiran terhadap simbol-simbol baik yang kebahasaan maupun yang non-kebahasaan. Pada awalnya hermeneutik digunakan untuk menafsirkan karya-karya sastra lama dan kitab suci, akan tetapi dengan kemunculan aliran romantisme dan idealisme di Jerman, status hermeneutik berubah. 12.

Hermeneutik tidak lagi dipandang hanya sebagai sebuah alat bantu untuk bidang pengetahuan lain, tetapi menjadi lebih bersifat filosofis yang memungkinkan adanya komunikasi simbolik. Pergeseran status ini diawali oleh pandangan Friedrich Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey. Saat ini hermeneutik tidak hanya berkisar tentang komunikasi simbolik, tetapi bahkan memiliki area kerja yang lebih mendasar, yaitu kehidupan manusia dan keberadaannya. 13. Menurut Friedrich Schleiermacher, terdapat dua tugas hermeneutik yang pada hakikatnya identik satu sama lain, yaitu interpretasi gramatikal dan interpretasi psikologis . Aspek gramatikal interpretasi merupakan syarat berpikir setiap orang, sedangkan aspek psikologis interpretasi memungkinkan seseorang memahami pribadi penulis. 14. Kompetensi linguistik dan kemampuan memahami dari seseorang akan menentukan keberhasilannya dalam bidang seni interpretasi. Namun, pengetahuan yang lengkap tentang kedua hal tersebut kiranya tidak mungkin, sebab tidak ada hukum-hukum yang dapat mengatur bagaimana memenuhi kedua persyaratan tersebut. 15. Schleiermacher menawarkan sebuah rumusan positif dalam bidang seni interpretasi, yaitu rekonstruksi historis , objektif dan subjektif terhadap pernyataan. - Melalui rekonstruksi objektif-historis , ia bermaksud membahas sebuah pernyataan dalam hubungannya dengan bahasa sebagai keseluruhan. 16. Melalui rekonstruksi subjektif-historis , ia bermaksud membahas awal mula sebuah pernyataan masuk ke dalam pikiran seseorang. Schleiermacher sendiri menyatakan bahwa tugas hermeneutik adalah memahami teks sebaik atau lebih baik daripada pengarangnya sendiri dan memahami pengarang teks lebih baik daripada memahami diri sendiri . 17. Schleiermacher menegaskan adanya masalah hermeneutical circle atau lingkaran hermeneutik, yaitu bahwa untuk memahami sebagian dari teks pembaca memerlukan pemahaman atas konteks keseluruhan teks, dan untuk memahami keseluruhan teks pembaca memerlukan interpretasi atas bagian-bagian dari teks tersebut. 18. Dengan demikian, untuk dapat memahami suatu teks pembaca memerlukan pemahaman akan sumber-sumber lain untuk membantu pemahamannya, termasuk pemahaman akan kehidupan dan minat penulis. Hal ini juga memerlukan pemahaman akan konteks budaya di mana karya penulis tersebut muncul. 19.

o o

o o

o o

Wilhelm Dilthey (1833-1911) membedakan ilmu pengetahuan ke dalam Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam dan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia. Perbedaan ini sangat penting karena pada kenyataannya kedua jenis ilmu pengetahuan tersebut mempergunakan metodologi atau pendekatan yang berbeda. 20. Naturwissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang alam menggunakan metode ilmiah yang hasil penemuannya dapat dibuktikan dengan menggunakan metode yang sangat ketat, sedangkan Geisteswissenschaften atau ilmu pengetahuan tentang batin manusia atau tentang hidup tidak dapat diterapi dengan metode ilmiah seperti halnya pada Naturwissenschaften karena ilmu-ilmu Geisteswissenschaften berhubungan dengan hidup manusia. 21. Dilthey menyatakan bahwa metode atau pendekatan hermeneutik merupakan dasar dari Geisteswissenschaften . Pada metode hermeneutik ketika ia mencoba memecahkan persoalan tentang bagaimana membuat segala pengetahuan tentang individu manusia menjadi ilmiah. Persoalan pokok Dilthey adalah bagaimana menemukan metode lain untuk Geisteswissenschaften jika metode ilmiah tidak dapat digunakan. 22. Dari sinilah ia mulai melirik hermeneutik sebagai metode untuk pembahasan Geisteswissenschaften . Menurut Dilthey, terhadap perbedaan di alam kita hanya mampu mengetahui, sedangkan terhadap manusia kita mengunakan pemahaman dan interpretasi untuk mengetahui manusia. 23. Tujuan akhir dari pendekatan hermeneutik adalah kemampuan memahami penulis atau pengarang melebihi pemahaman terhadap diri kita sendiri. Seorang sejarawan yang menuliskan segala peristiwa sejarah, tidak jauh dari zaman di mana ia hidup, tidak akan mempunyai pandangan yang lebih jernih jika dibandingkan dengan sejarawan yang hidup sekian abad sesudahnya. 24. Dalam pendekatan hermeneutik, seseorang menempatkan dirinya dalam konteks ruang dan waktu, maka visinya juga mengalami berbagai macam perubahan. Ia menggunakan apa saja yang mungkin untuk ditafsirkan. Ini berbeda dengan metode ilmiah yang lebih mementingkan fenomena. 25. Pada tahun 1927, dalam karyanya Sein und Zeit (Being and Time) , Martin Heidegger memberikan pengertian baru tentang hermeneutik. Menurut Heidegger, hermeneutik bukanlah mengenai pemahaman komunikasi linguistik, juga bukan merupakan basis dari metodologi bagi ilmu-ilmu tentang kehidupan manusia atau geisteswissenschaften , tetapi hermeneutik lebih merupakan ontologi .

o o

26. Heidegger berpendapat bahwa tugas dari filsafat adalah untuk menunjukkan bagaimana subjek dapat secara rasional memberikan aturanaturan epistemologi di mana sebuah representasi dikatakan sebagai benar atau salah. Dari suatu posisi tertentu, jalan ke konsepsi tentang kebenaran tidaklah jauh dikaitkan dengan metode yang disediakan oleh metode ilmuilmu alam. 27. Model yang seperti ini cenderung melupakan aspek yang paling mendasar, aspek pre-scientific keberadaan manusia di dunia. Inilah yang menjadi ruang lingkup kerja hermeneutik menurut Heidegger. Hermeneutik, atau yang oleh Heidegger disebut hermeneutics of facticity , adalah apa yang oleh filsafat dijadikan hal yang paling utama. 28. Dalam bukunya yang berjudul Truth and Method (1960), Hans-Georg Gadamer, yang merupakan murid dari Martin Heidegger, membahas mengenai masalah hermeneutik yang dikemukakan oleh Schleiermacher dan Dilthey dengan menggunakan metode yang disajikan oleh Heidegger dalam bukunya Being and Time . 29. Menurut Gadamer, human sciences selalu berusaha mendekati teks dari suatu posisi yang dijaga berjarak dari teks itu sendiri, yang disebut alienation , yang menghapuskan ikatan-ikatan yang sebelumnya telah dimiliki oleh interpreter dengan objek yang sedang diinterpretasikan. Jarak tersebut dapat diatasi dan ikatan-ikatan tersebut dapat dibangun kembali ( re-fusion ) melalui mediasi kesadaran akan efek historis ( consciousness of the effects of history ). 30. Ide dasar yang disampaikan oleh Gadamer adalah bahwa pendekatan kita terhadap sebuah fenomena historis (karya seni, karya sastra, teks, dan lainlain) telah ditentukan lebih dulu oleh pemahaman awal ( preunderstandings ) dari interpreter-interpreter sebelumnya. Jadi, dengan melepaskan ikatan-ikatan kita sendiri terhadap objek, dan menggantinya dengan hasil interpretasi dari para interpreter sebelumnya, maka kita telah berada pada suatu jaringan interpretasi ( interpretational lineage ). 31. Proses efek historis antara subjek dan objek oleh Gadamer dinamakan fusi horizon ( fusion of horizons ). Gadamer menggolongkan dialektik antara alienation dan re-fusion dalam tiga bidang lingkaran yang berbeda, yaitu estetis , historis , dan bahasa . Dalam masing-masing bidang lingkaran ini, Gadamer menyatakan bahwa kebenaran muncul dari fusi interpreter, dengan segala prasangka awal dan informasi personal yang dimilikinya. 32.

Jurgen Habermas yang lahir di Gummersbach 1929 (Germany) banyak memberi gagasan tentang hermeneutik, walaupun gagasan tersebut tidak berpusat pada hermenuetik. o Gagasan hermeneutiknya dapat ditemukan dalam tulisannya Knowledge and Human Interest. 33. o Menurut Habermas, penjelasan menuntut penerapan proporsi-proporsi teoritis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis (Habermas, 1972:144). Sedangkan pemahaman adalah suatu kegiatan dimana pengalaman dan pengertian teoritis berpadu menjadi satu. o Ia mengikuti tiga bentuk penyimpulan yang dikemukakan oleh C.S. Peirce yaitu deduksi, induksi dan abduksi (proses pembentukan hipotesis yang bersifat eksplanatoris). 34. o Selain itu, Habermas menyatakan bahwa selalu ada makna yang bersifat lebih, yang tidaka dapat dijangkau interpretasi, yaitu yang terdapat di dalam hal-hal yang bersifat tidak teranalisiskan. tidak dapat dijabarkan, bahkan diluar pikiran kita. Ia lebih lanjut menyatakan bahwa sebuah penjelasan menuntut penerapan proposisi-proposisi teoritis terhadap fakta yang terbentuk secara bebas melalui pengamatan sistematis. 35. o Penjelasan haruslah berupa penerapan secara objektif sesuatu hukum atau teori terhadap fakta, dan pemahaman menjadi subjektifnya. o Pemahaman hermenutik lebih diarahkan pada konteks tradisional tentang makna. Habermas membicarakan tentang pemahaman monologis tentang makna, yaitu pemahaman yang tidak melibatkan hubungan-hubungan faktual tetapi mencakup bahasa-bahasa murni, seperti misalnya bahasa simbol. 36. o Pemahaman herneutik melibatkan tiga kelas ekspresi kehidupan yaitu lingusitik, tindakan dan pengalaman. o Dalam hermeneutik, penafsir mengalami dilema antara tetap objektif dan bersifat subjektif atau antara tetap subjektif dan harus menjadi objektif. Dilema ini merupakan pertanyaan eksklusif linguistik atau analisis empiris. 37. o Menurut Habermas, objektivasi pemahaman hanya mungkin bila interpreter menjadi partner dalam dialog komunikatif. o Ini berarti interpreter harus mengadakan interaksi, sebagaimana terjadi dialog atau dialektika antara yang umum dan yang individual. Bahasa dan pengalaman, dalam logika Habermas, harus masuk ke dalam dialektik dengan tindakan. 38. 4 Jenis Tindakan menurut Jurgen Habermas o Dalam buku The Theory of Communicative Action Habermas membagi tindakan menjadi empat jenis:
o

o o

o o o

1. Tindakan teleologis aktor mempertahankan tujuan khusus dan unutk mencapainya dibutuhkan sarana yang tepat dan sesuai, yaitu keputusan. 39. 2. Tindakan normatif yang terutama tidak diarahkan pada tingkah laku aktor soliter, tetapi pada anggota-anggota kelompok sosial. Konsep pokoknya adalah pemenuhan terhadap norma. 3. Tindakan dramaturgik konsep pokoknya adalah penampilan diri di hadapan umum atau masyarakat. 4. Tindakan komunikatif yang menunjukan kepada interaksi, dimana konsep pokoknya adalah interpretasi. 40. Habermas memasukan minat dalam hermeneutik karena menurutnya pengetahuan dan minat pada dasarnya satu. Ia menyebut pengetahuan tentang manusia dengan istilah ersatz (penggantian). Berdasarkan perbandingan dan kritiknya terhadap Dilthey, Habermas mengatakan bahwa membuka rahasia interpretasi terhadap diri sendiri adalah tugas hermeneutik. 41. Habermas lebih lanjut mengatakan bahwa minat mendahului refleksi diri sesaat sesudah minat menyadari dirinya sendiri dalam daya atau kekuatan emansipasinya. Habermas mencemooh model hermeneutik dari ilmu-ilmu kemanusian karena dianggapnya tidak dapat bekerja untuk interpretasi psikoanalitik. Hermeneutik memperoleh fungsinya dalam proses genesus kesadaran diri. 42. Habermas sebenarnya ingin berada di antara dua kutub metodologis yaitu di antara hermeneutik yang subjektif dan hukum-hukum sains yang objektif, untuk selanjutnya ia ingin menggabungkan kedua hal tersebut dan menerapkannya pada sains. 43. Menurut Paul Ricoeur yang mempunyai latar belakang pandangan katholik, definisi yang pasti tentang hermeneutik adalah teori pengoperasian pemahaman dalam hubungannya dengan interpretasi terhadap teks (Ricoeur, 1985:43). Setiap kata merupakan sebuah simbol yang penuh dengan makna dan intensi yang tersembunyi. 44. Jadi tidaklah heran jika menurut Riceour tujuan hermeneutik adalah menghilangkan misteri yang terdapat dalam sebuah simbol dengan cara membuka selubung daya-daya yang belum diketahui dan tersembunyi di dalam simbol-simbol tersebut (Montifiore, 1983:192) Salah satu sasaran yang hendak dituju oleh berbagai macam hermeneutik adalah perjuangan melawan distansi kultural, yaitu penafsir harus mengambil jarak supaya ia dapat membuat interpretasi dengan baik. 45.

o o o

Jika pembahasan interpretasi hanya terbatas pada simbol-simbol maka ini menjadi terlalu sempit, Riceour kemudian memperluas definisi tersebut dengan menambahkan perhatian kepada teks. Teks sebagai penghubung bahasa isyarat dan simbol-simbol dapat membatasi ruang lingkup hermeneutik karena budaya oral dapat dipersempit. 46. Menurut Ricoeur ada tiga langkah pemahaman, yaitu yang berlangsung dari penghayatan atas simbol-simbol ke gagasan tentang berpikir dari simbol-simbol. Pemahaman yang pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie. 47. 1. Langkah simbolik atau pemahaman dari simbol ke simbol, 2. Langkah kedua adalah pemberian makna oleh simbol serta penggalian yang cermat atas makna, 3. Langkah ketiga adalah langkah yang benar-benar filosofis yaitu berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya. 48. Pemahaman yang pada dasarnya adalah cara berada (mode of being) atau cara menjadi hanya bisa terjadi pada tingkat pengetahuan yaitu pada teori tentang pengetahuan atau Erkenntnistheorie.