Anda di halaman 1dari 20

DEFINISI Pielonefritis merupakan infeksi bakteri yang menyerang ginjal, yang sifatnya akut maupun kronis.

Pielonefritis akut biasanya akan berlangsung selama 1 sampai 2 minggu. Bila pengobatan pada pielonefritis akut tidak sukses maka dapat menimbulkan gejala lanjut yang disebut dengan pielonefritis kronis. Pielonefritis merupakan infeksi bakteri pada piala ginjal, tunulus, dan jaringan interstinal dari salah satu atau kedua gunjal (Brunner & Suddarth, 2002: 1436). Pielonefritis merupakan suatu infeksi dalam ginjal yang dapat timbul secara hematogen atau retrograd aliran ureterik (J. C. E. Underwood, 2002: 668). PENYEBAB PIELONEFRITIS Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah: kehamilan kencing manis keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. GEJALA PIELONEFRITIS Gejala biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah. Beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, yaitu sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat. Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilangtimbul atau tidak ditemukan demam sama sekali. Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi

sebagaimana

mestinya

(gagal

ginjal).

DIAGNOSA PIELONEFRITIS Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Pemeriksaan yang dilakukan untuk memperkuat diagnosis pielonefritis adalah : pemeriksaan air kemih dengan mikroskop pembiakan bakteri dalam contoh air kemih untuk menentukan adanya bakteri. USG dan rontgen bisa membantu menemukan adanya batu ginjal, kelainan struktural atau penyebab penyumbatan air kemih lainnya. PENGOBATAN PIELONEFRITIS Segera setelah diagnosis ditegakkan, diberikan antibiotik. Untuk mencegah kekambuhan, pemberian antibiotik bisa diteruskan selama 2 minggu. 4-6 minggu setelah pemberian antibiotik, dilakukan pemeriksaan air kemih ulang untuk memastikan bahwa infeksi telah berhasil diatasi. Pada penyumbatan, kelainan struktural atau batu, mungkin perlu dilakukan pembedahan. PENCEGAHAN PIELONEFRITIS Seseorang yang sering mengalami infeksi ginjal atau penderita yang infeksinya kambuh setelah pemakaian antibiotik dihentikan, dianjurkan untuk mengkonsumsi antibiotik dosis rendah setiap hari sebagai tindakan pencegahan. Lamanya pengobatan pencegahan yang ideal tidak diketahui, tetapi seringkali dihentikan setelah 1 tahun. Jika infeksi kembali kambuh, maka pengobatan ini dilanjutkan sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Diposkan oleh Whalank di 18:10

Pielonefritis Akut adalah suatu reaksi inflamasi yang terjadi karena infeksi pada pielum dan parenkim ginjal. Biasanya kuman berasal dari saluran kemih bagian bawah naik ke ginjal melalui ureter. Kuman - kuman itu antara lain adalah E Colli, Proteus, Klebsiella, Strep faecalis dan enterokokus. Kuman Stafilokokus aureus dapat menyebabkan pielonefritis melalui penularan secara hematogen, meskipun sekarang jarang dijumpai. Gambaran Klinis

Demam tinggi dan menggigil Nyeri daerah perut dan pinggang Mual + Muntah Kadang terdapat gejala iritasi pada buli - buli : berupa disuria, frekuensi atau urgensi

Pemeriksaan Fisik : pastinya terdapat nyeri pinggang dan perut, usus biasanya melemah seperti ileus paralitik

Pemeriksaan Darah dan Urinalisa : Leukositosis, LED meningkat,urinalisis terdapat piuria, bakteriuria, hematuria, terjadi penurunan fungsi ginjal Radiologi : foto polos perut : kekaburan dari bayangan otot psoas dan mungkin saja terdapat keterlambatan pada fase nefrogram. Perlu dibuat juga diagnosa banding dengan inflamasi pada organ di sekitar ginjal antara lain : pankreatitis, appendisitis, kolesistitis, divertikulitis, pneumonitis, serta inflamasi pada organ pelvik. Terapi Tujuannya untuk mencegah kerusakan ginjal lebih lanjut, yaitu berupa terapi suportif dan antibiotik, antibiotik yang digunakan pada kasus ini adalah yang bersifat bakterisidal, berspektrum luas, penetrasi ke ginjal, dan kadar dalam urin tinggi. Posted by Andre Arda Pratama, I Gd | at 7:14 PM | Labels: Infeksi Urogenital http://dokter-andre.blogspot.com/2010/03/pielonefritis-akut.html

Laporan Pendahuluan Pielonefritis Laporan Pendahuluan Pielonefritis Laporan pendahuluan askep Pielonefritis 1. Definisi Pielonefritis adalah infeksi bakteri pada salah satu atau kedua ginjal.Pielonefritis merupakan infeksi bakteri piala ginjal, tubulus, dan jaringan interstisial dari salah satu atau kedua ginjal. Bakteri mencapai kandung kemih melalui uretra dan naik ke ginjal. Meskipun ginjal menerima 20% - 25% curah jantung, bakteri jarang mencapai ginjal melalui darah; kasus penyebaran secara hematogen kurang dari 3%. Pielonefritis sering sebagai akibat dari refluks uretero vesikal, dimana katup uretrovresikal yang tidak kompeten menyebabkan urin mengalir baik(refluks) ke dalam ureter. Obstruksi traktus urinarius yang meningkatkan kerentanan ginjal terhadap infeksi), tumor kandung kemih, striktur, hyperplasia prostatik benigna, dan batu urinarius merupakan penyebab yang lain. Inflamasi pelvis ginjal disebut Pielonefritis, penyebab radang pelvis ginjal yang paling sering adalah kuman yang berasal dari kandung kemih yang menjalar naik ke pelvis ginjal. Pielonefritis ada yang akut dan ada yang kronis (Tambayong. 200) 2. Anatomi dan Fisiologi

Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah: - kehamilan - kencing manis - keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

3.Etiologi Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab dari 90% infeksi ginjal diluar rumah sakit dan penyebab dari 50% infeksi ginjal di rumah sakit. Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. Keadaan lainnya yang meningkatkan resiko terjadinya infeksi ginjal adalah: 1. kehamilan

2. kencing manis 3. keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi.

4.Gejala (Patofisiologi) PIELONEFRITIS Penyebab ( Bakteri, Obstruksi ) Menjalar ke saluran kemih Ginjal Peradangan Nyeri Hematuri Demam Leukositosis - Perubahan pola Hipertermi Risti Infeksi Eliminasi - Risti syok Penguapan berlebih Kekurangan Volume Cairan Gejala biasanya timbul secara tiba-tiba berupa demam, menggigil, nyeri di punggung bagian bawah, mual dan muntah. Beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, yaitu sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat.Bisa terjadi kolik renalis, dimana penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Pada anak-anak, gejala infeksi ginjal seringkali sangat ringan dan lebih sulit untuk dikenali. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilangtimbul atau tidak ditemukan demam sama sekali. Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagal ginjal). 5. Manifestasi klinis Pielonefritis akut: pasien pielonefritis akut mengalami demam dan menggigil, nyeri tekan pada kostovertebrel(CVA), Leokositosis, dan adanya bakteri dan sel darah putih dalam urinselain itu gejala saluran urinarius bawah seperti disuria dan sering berkemihumumnya terjadi. Infeksi saluran urinarius atas dikaitkan dengan selimut antibodi bakteri dalam urin. Ginjal pasien pielonefritis biasanya membesar disertai infiltrasiinterstisial sel-sel inflamasi. Abses dapat di jumpai pada kapsul ginjal dan pada taut kartiko medularis. Pada akhirnya, atrofi dan kerusakan tubulus serta glomerulus terjadi. Ketika pielonefritis menjadi kronis, ginjal membentuk jaringan parut, berkontraksi dan tidak berfungsi. Pielonefritis kronis:biasanya tanpa gejala infeksi, kecuali terjadi eksaserbasi. Tada-tanda utama mencakup keletiah sakit kepala, nafsu makan rendah, poliuria, haus yang berlebihan, dan kehilangan berat badan. 6. Pemeriksaan Penunjang 1.Urinalisis Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK. Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB) sediment air kemih

Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih. Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan glomerulus ataupun urolitiasis. 2. Bakteriologis Mikroskopis : satu bakteri lapangan pandang minyak emersi. 102 -103 organisme koliform / mL urin plus piuria Biakan bakteri Tes kimiawi : tes reduksi griess nitrate berupa perubahan warna pada uji carik 3. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik 4.Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama adanya infeksi. 5. Metode tes Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka pasien mengalami piuria. Tes pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin normal menjadi nitrit. 6. Penyakit Menular Seksual (PMS):Uretritia akut akibat organisme menular secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek). 7. Tes- tes tambahan : Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten. 7.Penatalaksanaan Pielonefritis Akut: pasien pielonefritis akut beresiko terhadap bakteremia dan memerlukan terapi antimikrobial yang intensif. Terapi parentral di berikan selama 24-48 jam sampai pasien afebril. Pada waktu tersebut, agens oral dapat diberikan. Pasien dengan kondisi yang sedikit kritis akan efektif apabila ditangani hanya dengan agens oral.Untuk mencegah berkembangbiaknya bakteri yang tersisa, maka pengobatan pielonefritis akut biasanya lebih lama daripada sistitis. Masalah yangmungkin timbul dlam penanganan adalah infeksi kronik atau kambuhan yang muncul sampai beberapa bulan atau tahun tanpa gejala. Setelah program antimikrobial awal, pasien dipertahankan untuk terus dibawah penanganan antimikrobial sampai bukti adanya infeksi tidak terjadi, seluruh faktor penyebab telah ditangani dan dikendalikan, dan fungsi ginjal stabil. Kadarnya pada terapi jangka panjang. Pielonefritis kronik:agens antimikrobial pilihan di dasarkanpada identifikasi patogen melalui kultur urin, nitrofurantion atau kombinasi sulfametoxazole dan trimethoprim dan digunakan untuk menekan pertumbuhan bakteri. Fungsi renal yang ketat, terutama jika medikasi

potensial toksik. 8.Diagnosa Kpererawaytan Yang Mungkin Muncul 1. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d hipertermi, perubahan membran mukosa,kurang nafsu makan 2. Nyeri akut b.d proses peradangan / infeksi 3.Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi 4. Ansietas b.d hematuria, kurang pengetahuan tentang penyakit dan tujuan pengobatan 5. Gangguan pola tidur b.d hipertermi, nyeri 6. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum 7. Resiko kekurangan volume cairan b.d intake tidak adekuat 3.Perencanaan Dp. 1: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhantubuh b.dhipertermi, perubahan membran mukosa, kurang nafsu makan Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nafsu makan bertambah. Batasan karateristik: Subjektif : kram abdomen, melaporkan perubahan sensasi rasa, merasa kenyang setelah mengingesti makanan, merasakan ketidakmampuan mengingesti makanan. Objektif : adanya bukti kekurangan makanan, bising usus hiperaktif, konjungtiva dan membran mukosa pucat, tonus otot buruk. Hasil : menunjukkan status gizi : asupan makanan, cairan dan zat gizi. No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri: Pantau / catat permasukan diet Membantu dan mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan diet. Kondisi fisik umum, gajala uremik (contoh : mual, anoreksia, gangguan rasa) dan pembatasan diet multiple mempengaruhi pemasukan makanan 2 Tawarkan perawatan mulut sering/cuci dengan larutan (25%) cairan asam asetat. Berikan permen karet, permen keras, penyegar mulut diantara makan Mambran mukosa menjadi kering dan pecah. Perawatan mulut menyejukkan, meminyaki dan membantu menyegarkan rasa mulut yang sering tidak nyaman pada uremia dan membatasi pemasukan oral. Pencucian dengan asam asetat membantu menetralkan amonea yang dibentuk oleh perubahan urea. 3 Berikan makanan sedikit tapi sering Meminimalkan anoreksia dan mual sehubungan dengan status uremik/menurunnya paristaltik 4 Kolaboasi: Konsul dengan ahli gizi/tim pendukung nutrisi

Menentukan kalori individu dan kebutuhan nutrisi dalam pembatasan,dan mengidentifikasi rute paling efektif dan produknya, contoh tambahan oral, makanan selang hiperalimentasi

Dp.2: Nyeriakut b.d proses peradangan, infeksi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa nyaman dan nyerinya berkurang. Subjektif : keletihan Objektif :perubahan kemampuan untuk meneruskan aktifitas sebelumnya, perubahan pola tidur, penurunan interaksi dengan orang lain, perubahan berat badan. kriteria Hasil: Tidak ada keluhan nyeri pada saat berkemih, kandung kemih tidak tegang, tenang, tidak mengekspresikan nyeri secara verbal atau pada wajah, tidak ada posisi tubuh, tidak ada kegelisahan, tidak ada kehilangan nafsu makan No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri: Pantau intensitas, lokasi, dan factor yang memperberat atau meringankan nyeri Rasa sakit yang hebat menandakan adanya infeksi 2 Berikan waktu istirahat yang cukup dan tingkat aktivitas yang dapat di toleran Klien dapat istirahat dengan tenang dan dapat merilekskan otot otot 3 Anjurkan minum banyak 2-3 liter jika tidak ada kontra indikasi Untuk membantu klien dalam berkemih

4 Pantau haluaran urine terhadap perubahan warna, bau dan pola berkemih, masukan dan haluaran setiap 8 jam dan pantau hasil urinalisis ulang Untuk mengidentifikasi indikasi kemajuan atau penyimpangan dari hasil yang diharapkan 5 Berikan tindakan nyaman, seperti pijatan punggung, lingkungan istirahat Meningkatkan relaksasi, menurunkan tegangan otot 6 Berikan perawatan parineal Untuk mencegah kontaminasi uretra 7 Kolaborasi: Berikan analgesic sesuai kebutuhan dan evaluasi keberhasilannya Analgesic memblok lintasan nyeri sehingga mengurangi nyeri

Dp.3: Hipertermia b.d demam, peradangan / infeksi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam demam pasien berkurang Kakteristik :suhu tubu meningkat di atas rentang normal, frekuensi napas meningkat, kulit hangat bila disentuh, kadang merasa mual. Kritera Hasil :hilangnya rasa mual, suhu tubuh kembali normal, nafas normal dan suhu kulit lembab No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri: Pantau suhu pasien (drajat dan pola) ;perhatikan menggigil/diaforesis Suhu 38,90 41,10 C menunjukkan prosespenyakit infeksius akut 2 Pantau suhu lingkungan, batasi / tambahkan linen tempat tidur, sesuai indikasi Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati normal. 3 Berikan kompres mandi hangat; hindaripenggunaan alkohol Dapat membantu mengurangi demam. Catatan : penggunaan air es/alkohol mungkin menyebabakan kedinginan, peningkatan suhu secara aktual. Selain itu alkohol dapat mengeringkan kulit. 4 Berikan selimut pendingin Digunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,50-400 C pada waktu terjadi kerusakan/ gangguan otak. 5 Kolaboasi: Berikan antipiretik, misalnya ASA (aspirin),asetaminofen (tylenol) Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotelamus. Meskipun demam mungkin dapat berguna dalam membatasi pertumbuhan organisme. Dan meningkatkan autodestruksi dari sel- sel yang terinfeksi Dp.4: Ansietas b.dhematuria, kurang pengetahuantentang penyakit dan tujuan pengobatan Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam cemas pasienHilang dan tidak memperlihatkan tanda- tanda gelisah. karakteristik: klien gelisah, tidak tenang, tanda vital abnormal, gelisah, ketakutan, gangguan tidur. Kriteria Hasil : tenang, gelisa berkurang, ketakutan berkurang, dapat beristirahat, frekuensi nafas 12-24/menit No Intervensi Rasionalisasi 1 Beri kesempatan klien untuk mengungkapkan perasaannya Agar klien mempunyai

semangat dan mau empati terhadap perawatan dan pengobatan 2 Pantau tingkat kecemasan Untuk mengetahui berat ringannya kecemasan klien 3 Beri dorongan spiritual Agar klien kembali menyerahkan sepenuhnya kepada tuhan YME 4 Beri penjelasan tentang penyakitnya Agar klien mengerti sepenuhnya dengan penyakit yang di alaminya

Dp.5 : Gangguan pola tidur b.dhipertermi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien merasa tidur dengan nyenyak. Batasan karakteristik: Subjektif :ketidak puasan tidur, keluhan verbal tentang kesulitan untuk tidur, keluhan verbal tentang perasaan tidak dapat beristirahat dengan baik. Objektif: total waktu tidur kurang dari lama tidur normal, bangun 3 kali atau lebih di malam hari Kiteria Hasil : jumlah jam tidur tidak terganggu, perasaan segar setelah tidur atau istirahat, terjaga denganwaktu yang sesuai

No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri : Instruksikan tindakan relaksasi Membantu menginduksi tidur 2 Hindari mengganggu bila mungkin, mis :membangun untuk obat atau terap Tidur tanpa gangguan pasien mungkin tidak mampu kembali tidur bila terbangun 3 Tentukan kebiasaan tidur biasanya dan perubahan yang terjadi Mengkaji perlunya mengidentifikasi intervensi yang tepat. 4 Dorong posisi nyaman, bantu dalam megubah posisi Perubahan posisi mengubah area tekanan dan meningkatkan istirahat 5 Kolaborasi: Berikan sedatif, hipnotik, sesuai indikasi

Mungkin di berikan untuk membantu pasien tidur/istirahat selama periode dari rumah ke lingkungan baru. Catatan : hindari penggunaan kebiasaan, karena ini menurunkan waktu tidur.

Dp.6: Intoleransiaktivitas b.d kelemahan umum Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x 24 jam pasien toleran aktifitas. BatasanKarakteristik: Subjektif: ketidaknyamanan, melaporkan keletihan atau kelemahan secara verbal Objektif: denyut jantung atau tekanan darah tidak normal sebagai respon terhadap aktivitas Keriteria Hasil : mengidentifikasi aktifitas dan atau situasi yang menimbulkan kecemasan yang berkontribusi pada intoleransi aktivitas. No Intervensi Rasionalisasi 1 Mandiri : Bantu aktivitas perawatan diri yang di perlukan.Berikan kemajuan peningkatan aktifitas selama fase penyembuhan. Meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen 2 Evaluasi respon pasien terhadap aktifitas. Catat laporan dispnea, peningkatan kelemahan/kelelahan dan perubahan tanda vital selama dan setelah aktivitas Menetapkan kemampuan/kebutuhan pasien dan memudahkan pemilihan intervensi

Dp. 7: Resiko kekuranganvolume cairan b.d intaketidakadekuat Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam klien dapat mempertahankan pola eliminasi secara adekuat BatasanKarakteristik: Subjektif : Objektif: penurunan turgor kullit/lidah, konsentrasi urine meningkat, kulit/ mambran mukosa kering. Kriteria hasil :tidak memiliki konsentrasi urine yang berlebih, memiliki keseimbangan asupan Dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam No Intervensi Rasionalisasi 1 Ukur dan catat urine setiap kali berkemih Untuk mengetahui adanya perubahan warna dan untuk mengetahui input/output

2 Pastikan kontinuitas kateter pirau/ akses Terputusnya pirau/ akses terbuka akan memungkinkan eksanguinasi 3 Tempatkan pasien pada posisi telentang/tredelenburg sesui kebutuhan

Memaksimalkan aliran balik vena bila terjadi hipotensi 4 Pantau mambran mukosa kering, torgor kulit yang kurang baik, dan rasa haus Hipovolemia/cairian ruang ketiga akan memperkuat tanda-tanda dehidrasi Dengan nama blog http://club2kmb32b.blogspot.com Di postingkan oleh : Sandi Irwan Sukmawan NIM 05200ID09069 Kelas 2B Diposkan oleh club2 di 23:45 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBerbagi ke Goo http://club2kmb32b.blogspot.com/2011/04/laporan-pendahuluan-pielonefritis.html

Pielonefritis Akut Merupakan salah satu komplikasi yang palingsering dijumpai dalam kehamilan,danfrekuensinya kirakira 1-2%, terutama padakehamilan trimester 2 dan 3 dan permulaanmasa nifas. Penyebab 80% adalah E.coli Predisposisi penggunaan kateter penderitapielonefritis kronik atau glomerulonefritiskronik yg ada sebelum kehamilan. Gejala timbul mendadak. Sakit pada kandung kemih, malaise, mengigil, badan panas, dan rasa nyeri di angulus kostovertebralis, terutama daerah lumbal atas. Nafsu makan berkurang,mual, muntah,dan kadang diare, dan dapat pula ditemukanbanyak sel leukosit dan sering bergumpal,silinder sel darah, bakteri. Pasien hamil dengan pielonefritis akut selama kehamilan memerlukan pengawasan tanda-tanda vital minimal setiap 4jam. Dua aspek fundamental dari terapi adalahpemberian cairan dan antibiotika intravena. pilihan cairan : kristaloid. Antibiotik : ampisilin 2 gr intravena setiap 4-6 jam. http://www.scribd.com/doc/49246423/Kehamilan-dengan-penyakit-ginjal-baru-edit

Senin, 18 Mei 2009 Pielonefritis Pada Kehamilan

Pielonefritis Akut DEFINISI Pielonefritis adalah infeksi bakteri pada salah satu atau kedua ginjal. Merupakan penyakit medis paling serius pada kehamilan sebagai penyebab utama syok septik selama kehamilan. Insiden populasi bervariasi dan bergantung pada prevalensi tersamar dan apakah wanita yang bersangkutan mendapat pengobatan. PENYEBAB a. bakteri Escherichis colli Escherichia coli (bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di usus besar) merupakan penyebab infeksi yang sering ditemukan pada pielonefritis akut tanpa komplikasi Basilus proteus dan Pseudomonas auroginosa. Pseudomonas juga merupakan patogen pada manusia dan merupakan penyebab infeksi pada saluran kemih. Klebsiella enterobacter Klebsiella enterobacter merupakan salah satu patogen menular yang umumnya menyebabkan infeksi pernapasan, tetapi juga dapat menyebabkan infeksi saluran kemih Species proteus Proteus yang pada kondisi normal ditemukan di saluran cerna, menjadi patogenik ketika berada di dalam saluran kemih Enterococus mengacu pada suatu spesies streptococus yang mendiami saluran cerna dan bersifat patogen di dalam saluran kemih Lactobacillus adalah flora normal di rongga mulut, saluran cerna, dan vagina, dipertimbangkan sebagai kontaminan saluran kemih. Apabila ditemukan lebih dari satu jenis bakteri, maka spesimen tersebut harus dipertimbangkan terkontaminasi. Hampir semua gambaran klinis disebaban oleh endotoksemia. Tidak semua bakteri bersifat patogen di saluran perkemihan, tetapi semua bakteri tersebut ditemukan dalam sampel biakan urine. Namun, bakteri-bakteri tersebut tetap merupakan kontaminan. faktor-faktor predisposisi.

Kelainan letak rahim. Uterus retrofleksi sering dijumpai pada wanita indonesia dan tidak usah dianggap sebagai hal yang patologis. Jika terjadi kehamilan, beberapa kemungkinan yang akan terjadi, yaitu diantaranya retrofleksi uteri gravidi inkarserata, yaitu inkarserasi dari rahim yang terus membesar dalam rongga panggul kecil. Pada kejadian ini kemungkinan abortus lebih besar. Jika kehamilan terus maju tanpa perbaikan letak rahim, akhirnya rahim yang membesar ini akan mengisi seluruh rongga panggul dan terjepit, sehingga bisa menyebabkan retensi urine yang merupakan salah satu penyebab dari pielonefritis. Kejadian ini baru terjadi antara minggu ke 13-17. Sebelum minggu ke-12, retrofleksi uteri gravidi tidak usah dihiraukan karena uterus biasanya memperbaiki letaknya sendiri. Pasien boleh dianjurkan posisi lutut pada malam hari dan pagi hari selama 10menit. Dengan letak demikian, uterus dapat jatuh ke depan. Jika pada minggu ke-12 uterus masih dapat retrofleksi, reposisi tangan diusahakan. Jika ternyata setelah beberapa hari uterus jatuh ke belakang lagi, setelah reposisi dipasang pesarium hodge. Pesarium di angkat lagi setelah kehamilan mencapai 18 minggu dan jika sudah terjadi inkarserasi, pasien dirawat inap, dipasangkan kateter tetap dan kandung kencing dikosongkan berangsur-angsur supaya tidak terjadi perdarahan ex vacuo. Kemudian diusahakan reposisi dari luar, tetapi bila tidak berhasil, reposisi operatif harus dilakukan. Obstruksi aliran kemih. obstruksi aliran kemih proksimal terhadap kandung kemih dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini saja sudah cukup untuk mengakibatkan atrofi hebat pada parenkim ginjal. Obstruksi yang terjadi dibawah kandung kemih sering disertai refluks vesikoureter dan infeksi pada ginjal. penyebab umum obstruksi adalah jaringan parut ginjal atau uretra, batu, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital pada leher kandung kemih dan uretra, dan penyempitan uretra. Jenis kelamin dan usia. Anak wanita dan wanita dewasa mempunyai insidens infeksi saluran kemih dan pielonefritis yang lebih tinggi dibandingkan dengan pria, mungkin karena bentuk uretranya yang lebih pendek dan letaknya yang berdekatan dengan anus sehingga mudah terkontaminasi oleh feses. Penyelidikan epidemiologi menunjukan adanya bakteriuria yang bermakna (105 organisme/ml kemih). Pada 1 sampai 4% gadis pelajar, 5 sampai 10% pada wanita usia subur, dan sekitar 25% wanita yang usianya telah melebihi 60 tahun. Namun hanya sedikit kasus yang memperlihatkan gejala-gejala klinis infeksi saluran kemih. Penelitian lanjutan jangka panjang yang dilakukan terhadap gadis usia sekolah menyatakan bahwa gadis yang mengalami bakteriuria bermakna akan lebih mudah terkena infeksi saluran kemih ulangan pada masa dewasanya, biasanya tidak lama setelah menikah atau selama kehamilan pertama. Medula ginjal mempunyai sifat yang unik yang menguntungkan kelangsungan hidup bakteri. Peningkatan kerentanan terhadap infeksi ini tampaknya disebabkan oleh kadar amonia yang tinggi dan hiperosmolalitas yang mengganggu mekanisme pertahanan hospes seperti migrasi leukosit, fagositosis dan aktivitas komplemen. Selain itu, beberapa bakteri bila berada dalam lingkungan hiperosmotik akan membentuk sferosit atau protoplas ( bakteri yang tidak memiliki dinding sel), dimana mereka menjadi resisten terhadap antibiotika dan kemudian hari dapat berubah kembali menjadi bentuk asalnya.

Kandung kemih neorogenik. Kandung kemih merupakan tempat penampungan kemih yang dapat mengembang, juga meruakan tempat dari mana kemih dikeluarkan dalam interval yang sesuai. Persyarafan kandung kemih terdiri dari satu lengkung refleks yang berada pada tingkat S2 sampai S4 medula spinalis; fungsinya dipengaruhi oleh sambungan motorik dan sensorik pada pusat yang lebih tinggi di otak. Tindakan berkemih melibatkan kerjasama antara kontraksi otot detrusor (otot polos dinding kandung kemih), dinding abdomen dan otot-otot dasar panggul; fiksasi dada dan diafragma; dan relaksasi otot-otot spingter eksternal dan internal. Dengan demikian ada keterlibatan baik aktifitas otonom maupun voluntar. Kontraksi otot detrusor adalah suatu refleks ( terangsang jika isi kandung kemih mencapai 300ml), refleks kontraksi ini dapat dihambat atau dipermudah oleh bagian supraspinal dari sistem saraf yang berada di bawah kontrol voluntar. Cara penjalaran bisa melalui : Dari kandung kemih naik ke atas (asendens) Infeksi biasanya berasal dari daerah kelamin yang naik ke kandung kemih. Pada saluran kemih yang sehat, naiknya infeksi ini biasanya bisa dicegah oleh aliran air kemih yang akan membersihkan organisme dan oleh penutupan ureter di tempat masuknya ke kandung kemih. Berbagai penyumbatan fisik pada aliran air kemih (misalnya batu ginjal atau pembesaran prostat) atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter, akan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi ginjal. Pembuluh darah dan pembuluh limpa. Infeksi juga bisa dibawa ke ginjal dari bagian tubuh lainnya melalui aliran darah. - kehamilan Kehamilan dapat mempengaruhi aliran darah dan aliran plasma efektif ke ginjal dan saluran kencing. Kecepatan filtrasi glomeruler dan fungsi tubulermeningkat 30-50%. Dalam batas-batas normal dijumpai proteinuria ortostatik, glukosuria dan laktosuria yang setelah partus hilang sendiri. Dibawah keadaan yang normal peningkatan kegiatan penyaringan darah bagi ibu dan janin yang tumbuh tidak membuat ginjal dan ureta bekerja ekstra. Keduanya menjadi dilatasi karena peristaltik uretra menurun. Sebagai akibat, gerakan urin ke kandung kemihlebih lambat. Stasis urin ini meningkatkan kemungkinan pielonefritis. Estrogen dapat meningkatkan resiko terjadinya infeksi yang terjadi pada kadung kemih yang akan naik ke ginjal. Bendungan dan atoni ureter dalam kehamilan mungkin disebabkan oleh progesteron, obstipasi, atau tekanan uterus yang membesar pada ureter. - diabetes mellitus Glukosuria dalam kehamilan dapat membantu pertumbuhan bakteri

- keadaan-keadaan yang menyebabkan menurunnya sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Secara keseluruhan terdapat 80 penyakit autoimun, termasuk di antaranya rheumatoid arthritis,systemic lupus erythematosus (SLE atau yang lebih dikenal dengan LUPUS), polymyositis,autoimmune thyroiditis, (juvenile) diabetes tipe-1, myasthenia gravis, scleroderma, danSjogren's syndrome. Beberapa penyakit lain sepertiulcerative colitis (yang kita kenal dengan infeksi usus) sertamultiple sclerosis, dapat pula disebabkan oleh buruknya kekebalan tubuh. Semua penyakit tersebut berkembang ketika sistem kekebalan tubuh keliru menganggap jaringan tubuh sendiri sebagai suatu ancaman terhadap kesehatan dirinya sehingga mulai memproduksi antibodi untuk menyerangnya. Penyakit autoimun cenderung berkembang dan surut sejalan dengan turun-naiknya emosi. GEJALA sering berkemih dan nyeri ketika berkemih. Beberapa penderita menunjukkan gejala infeksi saluran kemih bagian bawah, Demam dan menggigil Perjalanan penyakit bisa sangat bervariasi dengan demam sapai setinggi 40oC atau lebih dan hipotermi sampai 340C. Hampir 95% wanita hamil akan mengalami febris sampai 72 jam Takikardi dan hipertensi Penurunan resistensi vaskuer sistemik yang bermakna dan peningkatan curah jantung pada wanita infeksi akut. Perubahan-perubahan ini dicetuskan oleh brbagai sitokinin yang dikeluarkan oleh makrofag yang antara lain interleukin-1, yang dahulu disebut pirogen endogen, atau faktor nekrosis tumor Nyeri di punggung bagian bawah Rasa nyeri dapat ditimbulkan dengan perkusi di salah satu atau kedua sudut kostovertebra mual, muntah dan anoreksia pasien kadang mengalaminya Bisa terjadi pembesaran salah satu atau kedua ginjal. Kadang otot perut berkontraksi kuat. Jika timbul kontraksi dan darah lendir curigai persalinan preterm. Bisa terjadi kolik renalis, penderita merasakan nyeri hebat yang disebabkan oleh kejang ureter. Kejang bisa terjadi karena adanya iritasi akibat infeksi atau karena lewatnya batu ginjal. Adanya silinder leukosit

Membuktikan adanya infeksi teletak pada ginjal, gambaran gijal secara makroskopoik dan mikroskopik pada pielonefritis adalah ginjal membengkak dan tampak adanya abses kecil dalam jumlah banyak pada permukaan ginjal tersebut. Pada potongan melintang abses tampak sebagai goresan-goresan abu-abu kekuning-kuningan di bagian pyramid dan korteks. Secara mikroskopik tampak leukosit polimorfonuklear(PMN) dalam jumlah banyak di daerah tubulus dan dalam interstisium di sekitar tubulus. Segmen-segmen tubuls hancur dan leukosit dikeluarkan ke dalam kemih dalam bentuk silinder DIAGNOSA Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejalanya yang khas. Pemeriksaan yang dilakukan untuk memperkuat diagnosis pielonefritis adalah : - pemeriksaan air kemih dengan mikroskop Sedimen urin mengandung banyak leukosit, seringkali dalam betuk gimpalan gumpalan - pembiakan bakteri dalam contoh air kemih untuk menentukan adanya bakteri. USG dan rontgen maka wanita yang bersangkutan perlu menjalani pemeriksaan obtruksi saluran kemih. Dilakukan pemeriksaan untuk mencari ada tidaknya distensi abnormal pada ureter atau pielokaliks. Sebagian besar wanita yang infeksinya berlanjut dan mengalami sekuele serius tidak memperlihatkan tanda-tanda obstruksi, tetapi sebagian terbukti mengalami obstruksi akibat batu. Dianjurkan sonografi ginjal untuk mendeteksi adanya kelainan yang mendasari, tetapi sensitivitas cara ini rendah pada kehamilan dan batu mungkin tidak terlihat. Mungkin tampak dilatasi pielokaliks, batu saluran kemih dan mungkin abses atau flegmon intrarenal atau prinefrik. Sonografi tidak selalu menemukan lesi-lesi ini karena hasil pemeriksaan negative seyogyanya tidak menghentikan pemeriksaan lanjutan yang terus mengalami urosepsis. Pada sebagian kasus diindikasikan foto polos abdomen, karena hampil 90% batu ginjal radioopak. Apabila hasilnya negative maka dianjurkan pielografi intravena, biasanya sudah menghasilkan citra yang memadai tentang system duktus kolingentes sehingga batu atau kelainan struktur dapat terlihat. PENATALAKSANAAN 1. Rawat inap Hidrasi intravena agar produksi urin memadai merupakan hal yang esensial karena ineksi saluran kemih biasanya cepat berespon terhadap hidrasi intravena. 2. Monitor tanda-tanda vital Karena sering terjadi bakteriemia dan endotoksiemia, pasien harus diawasi secara ketat untuk mendeteksi syok endotoksin atau sekuelenya. keluaran urin, tekanan darah

dan suhu dipantau secara ketat. Demam tinggi harus diatasi, biasanya dengan selimut pendingin. 3. Pengobatan Pemilihan obat bersifat empiris; ampisilin, plus gentamisin, sefazolin atau seftriakson. Resistensi E.coli terhadap ampisilin semakin sering terjadi dan hanya separuh dari strain yang ada masih sensitive in vitro terhadap ampisilin, tetapi sebagian besar masih sensitive terhadap sefazolin, sebagian menggunakan suatu falosporin atau penisilin dengan spectrum diperluas yang terbukti efektif. Gejala klinis umumnya reda dalam 2 hari setelah terapi, tetapi walaupun gejala cepat menghilang, dianjurkan agar terapi dilanjutkan 7-10 hari. Biakan urin menjadi steril dalam 24 jam. Karena perybahan-perubahan pada saluran kemih yang dipicu oleh kehamilan masih ada , maka dapat terjadi reinfeksi. Apabila biakan urin selanjutnya memberikan hasil positif maka diberikan nitrofurantoin 100mg sebelum tidur seama sisa hamil. Perlu diingat bahwa ada obat-obat yang tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih, seperti tetrasiklin. Obat sulfa dikontraindikasikan pada kehamilan akhir karena kaitannya dengan kernikterus neonatus. Siproflaksasin adalah agens oral umum untuk pengobatan pielonefritis yang dikontraindikasikan pada kehamilan. Terminasi kehamilan segera biasanya tidak diperlukan, kecuali apabila pengobatan tidak berhasil atau fungsi ginjal makin memburuk. Prognosis bagi ibu hamil umumnya cukup baik bila pengobatan cepan dan tepat diberikan, 4. Pembedahan Pada penyumbatan, kelainan struktural atau batu, mungkin perlu dilakukan pembedahan.bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan, terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah, karena hampir 80% batu dapat turun ke bawah,serta antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester pertama atau setelah postpartum. Pada buli-buli, bila batu tersebut diperkirakan menghalangi jalanya persalinan, kehamilan diakhiri dengan secsio sesarea, dan abut diangkat post partum dengan seksio alta atau litotripsi. PENCEGAHAN Seseorang yang sering mengalami infeksi ginjal atau penderita yang infeksinya kambuh setelah pemakaian antibiotik dihentikan, dianjurkan untuk mengkonsumsi antibiotik dosis rendah setiap hari sebagai tindakan pencegahan. Lamanya pengobatan pencegahan yang ideal tidak diketahui, tetapi seringkali dihentikan setelah 1 tahun. Jika infeksi kembali kambuh, maka pengobatan ini dilanjutkan sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan.

Bila cepat diobat kehamilan berjalan sampai cukup bulan dan persalinan akan normal. Pengakhiran kehamilan biasanya tidak perlu; kecuali penyakit tidak mempunyai respons terhadap terapi. Pasien dinasehatkan untuk minum banyak agar air kencing banyak, sehingga tidak ada bendungan dakam rongga panggul dan buang air besar harus teratur. Tidur ke samping kadang-kadang dianjurkan, yaitu pada samping yang sehat untuk memudahkan drainase ginjal yang sakit. Pengaruh penyakit terhadap kehamilan : a) Terhadap hasil konsepsi seperti abortus, partus prematurus dan kematian janin. b) Dapat membahayakan janin karena bisa terjadi infeksi coli diaplasenter, kerusakan karena toksin, atau gestosis ( insufisiensi plasenta atau hipoksemi). bakteri, toksin, virus dapat melalui plasenta masuk ke janin, sehingga menyebabkan kematian janin dan kemudian terjadilah abortus. Dapat pula terjadi persalinan kurang bulan karena demam yang tinggi. bayi yang menderita pielonefritis biasanya menunjukkan gejala demam, tidak mau minum, muntah, pucat, dan berat badan turun. diagnosis dibuat dengan pemeriksaan air kencing. pada neonatus jumlah sel dalam air kencing menjadi berarti kalau lebih dari 15 per mm3. pengobatan ialah dengan pemberian sefalosporin 50mg/kg berat badan, sambil menunggu hasil biakan air kencing dan sensitivity test. c)Sindrom gawat nafas akut Pada sebagian wanita hamil pielonefritis akut bisa menyebabkan penurunan bermakna laju filtrasi glomerulus yang bersifat reversible. Sekitar 1-2% wanita dengan pielonefritis antepartum mengalami insufisiensi pernafasan dengan derajat bervariasi akibat cedera alveolus dan edema paru yang dipicu oleh endotoksin. Pada sebagian wanita cedera parunya parah sehingga menimbulkan sindrom gawat nafas.

Peran bidan Melakukan rujukan ke dokter obstetric atau dokter utama untuk penatalaksanaan Memberitahu tanda dan gejala persalinan preterm PIELONEFRITIS KRONIKA Penyakit ini menahun mungkin sebelumnya telah menderita sistitis atau pielonefritis akut. Gejala utama adalah hipertensi dan adanya proteinuria yang tidak menetap. Bila tidak diobati lama kelamaan akan menimbulkan insufisiensi ginjal. Pengaruh terhadap kehamilan dan sebaliknya hampir sama dengan pielitefritis akut apalagi disertai insufisiensi ginjal yang luas; dianjurkan untuk tidak hamil. Dapat memilih tubektomi bila anak sudah ada, atau memakai kontrasepsi efektif lainnya. Pada infeksi menahun (pielonefritis kronis), nyerinya bersifat samar dan demam hilang-timbul atau tidak ditemukan demam sama sekali.

Pielonefritis kronis hanya terjadi pada penderita yang memiliki kelainan utama, seperti penyumbatan saluran kemih, batu ginjal yang besar atau arus balik air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter (pada anak kecil). Pielonefritis kronis pada akhirnya bisa merusak ginjal sehingga ginjal tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya (gagal ginjal). DAFTAR PUSTAKA Mary Hamilton,Persis.1995.Dasar-Dasar Keperawatan Maternitas.Jakarta:EGC Cunningham,dkk.2006.Obstetri Williams.Jakarta:EGC V,Walsh,Linda.2007.Bku Ajar Kebidanan Komunitas.Jakarta:EGC http://ksuheimi.blogspot.com/2008/06/penyakit-ginjal-dan-saluran-kencing.html Diposkan oleh merfhost di 04:45 Label: tugas kuliah http://ulfabidan-merfhost.blogspot.com/2009/05/pielonefritis-pada-kehamilan.html