P. 1
teori pembangunan

teori pembangunan

|Views: 1,719|Likes:
Dipublikasikan oleh Communication Management UI

More info:

Published by: Communication Management UI on Oct 28, 2008
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/01/2013

pdf

text

original

Slide 1: Teori-teori Pembangunan: Sebuah Analisis Komparatif Drs. H.

Dadang Solihin, MA FE-Universitas Darma Persada Jakarta, 28 Maret 2005 Slide 2: Teori-teori Utama Pembangunan Ekonomi: Lima Pendekatan Teori Tahapan Linier (linear-stages-of-growth 1. models); Model Perubahan Struktural (the structural change 2. theories and patterns); Revolusi Ketergantungan Internasional (international 3. dependence revolution); Kontrarevolusi Pasar Bebas Neoklasik (neoclassical 4. freemarket counterrevolution); Teori Pertumbuhan yang Baru (new or endogenous 5. theory of economic growth). www.dadangsolihin.com 2 Slide 3: Dekade 1950-an dan 1960-an Para teorisi cenderung memandang proses s pembangunan sebagai serangkaian tahapan pertumbuhan ekonomi yang berurutan, yang pasti akan dialami oleh setiap negara yang menjalankan pembangunan. Pandangan ini merupakan suatu bentuk teori ekonomi s yang menyoroti pembangunan sebagai paduan dan kuantitas tabungan nasional, penanaman modal, dan bantuan asing dalam jumlah yang tepat. Kesemuanya itu harus sedapat mungkin diupayakan s serta diadakan oleh negara-negara Dunia Ketiga agar mereka juga dapat menapaki jalur-jalur pertumbuhan ekonomi modern yang menurut sejarahnya telah dilalui dengan sukses oleh negara-negara yang sekarang maju. Dengan demikian, pembangunan itu diidentikkan s dengan pertumbuhan ekonomi agregat secara cepat. www.dadangsolihin.com 3 Slide 4: Dekade 1970-an Pendekatan tahapan-linier tergusur oleh dua aliran s pemikiran ekonomi, yang sesungguhnya lebih berbau ideologis daripada akademis. Aliran pemikiran yang pertama menitikberatkan s pada teori dan pola perubahan. Aliran pemikiran yang kedua adalah revolusi s ketergantungan internasional. www.dadangsolihin.com 4 Slide 5: Aliran Pemikiran yang Pertama menggunakan teori-teori ekonomi modern dan analisis s statistik guna melukiskan proses struktural internal yang harus dialami oleh negara-negara berkembang agar mampu dan berhasil menciptakan serta sekaligus mempertahankan pertumbuhan ekonominya yang cepat. www.dadangsolihin.com 5 Slide 6: Aliran Pemikiran yang Kedua Bersifat radikal dan lebih berorientasi politik. s Memandang keterbelakangan negara-negara s berkembang sebagai akibat pola hubungan kekuasaan internasional yang tidak adil. Perhatian utama teori ini ditujukan pada pentingnya s menyusun kebijakan baru untuk menghapuskan kemiskinan secara total, menyediakan kesempatan kerja yang lebih bervariasi, dan mengurangi ketimpangan distribusi pendapatan. Teori ini cenderung menyangsikan bahwasanya s pertumbuhan ekonomi akan dapat diraih melalui cara- cara yang dianjurkan secara gencar oleh modelmodel pertumbuhan bertahap linier maupun teori-teori perubahan struktural. www.dadangsolihin.com 6 Slide 7: Dekade 1980-an Kontrarevolusi neoklasik (seringkali disebut neoliberal) s menekankan pada peranan menguntungkan yang s dimainkan oleh pasar-pasar bebas, perekonomian terbuka, dan swastanisasi perusahaan-perusahaan milik pemerintah atau negara yang kebanyakan memang tidak efisien dan boros. Menurut teori ini, kegagalan

pembangunan tidak s disebabkan oleh kekuatan-kekuatan eksternal maupun internal sebagaimana diyakini oleh para tokoh teorisi ketergantungan, melainkan diakibatkan oleh terlalu banyaknya campur tangan dan regulasi pemerintah dalam kehidupan perekonomian nasional. www.dadangsolihin.com 7 Slide 8: Akhir 1980-an dan Awal 1990-an Teori baru pertumbuhan ekonomi. s Teori ini mencoba memodifikasikan dan s mengembangkan teori pertumbuhan tradisional sedemikian rupa sehingga ia dapat menjelaskan mengapa ada sebagian negara yang mampu berkembang begitu cepat sedangkan yang lain begitu sulit atau bahkan mengalami stagnasi (kemacetan). Teori baru ini juga bermaksud menjelaskan mengapa s meskipun konsep-konsep neoklasik seperti pasar bebas dan otonomi sektor swasta begitu gencar didengungkan, tetapi peranan pemerintah dalam keseluruhan proses pembangunan masih tetap sangat besar. www.dadangsolihin.com 8 Slide 9: 1. Teori Tahapan Linier Tahap-tahap Pertumbuhan Rostow. s Model Pertumbuhan Harrod-Domar. s Syarat-syarat yang Diperlukan dan yang Harus Ada: s Beberapa Kritik Terhadap Model Pembangunan Bertahap. www.dadangsolihin.com 9 Slide 10: Rostow: Stages-of-growth-models of development (Model-model pembangunan pertumbuhan bertahap) Menurut Rostow, dalam proses pembangunannya, suatu negara akan melalui beberapa tahapan yang utama sebagai berikut: 1. tahapan tradisional, dengan pendapatan per kapita yang rendah dan kegiatan ekonomi yang stagnan; 2. tahapan transisional, di mana tahap prakondisi bagi pertumbuhan dipersiapkan; 3. tahapan lepas landas (ini merupakan permulaan bagi adanya proses pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan); 4. tahapan awal menuju ke kematangan ekonomi; serta 5. tahapan produksi dan konsumsi massal yang bersifat industri (inilah tahapan pembangunan atau development stage). www.dadangsolihin.com 10 Slide 11: Harrod-Domar growth model (Model pertumbuhan Harrod-Domar) Sebuah persamaan yang menunjukkan hubungan s fungsional secara ekonomis antara berbagai variabel pokok ekonomi. Pada intinya model ini menyatakan bahwa tingkat s pertumbuhan GDP (g) secara langsung tergantung pada tingkat tabungan nasional (s) dan sebaliknya akan menentukan rasio modal-output (k), sehingga persamaannya adalah g = s/k. Persamaan tersebut mengambil nama dari dua orang s ekonom terkemuka, yakni Sir Roy Harrod dari Inggris dan E. V. Domar dari Amerika Serikat. www.dadangsolihin.com 11 Slide 12: Syarat-syarat yang Diperlukan dan yang Harus Ada: Beberapa Kritik Terhadap Model Pembangunan Bertahap Gagasan dasar tentang pembangunan yang s terkandung dalam teori-teori pertumbuhan bertahap tersebut di atas tidak selalu berlaku. Alasan utama tidak berlakunya teori tersebut bukan s karena tabungan dan investasi tidak lagi merupakan syarat penting (necessary condition) bagi pemacuan pertumbuhan ekonomi, akan tetapi karena dalam kenyataannya telah terbukti s bahwa pengadaan tabungan dan investasi itu saja belumlah syarat cukup (sufficient condition) untuk memacu pertumbuhan ekonomi. www.dadangsolihin.com 12

Slide 13: Necessary Condition (Syarat Perlu) Syarat yang diperlukan demi terjadinya suatu s peristiwa meskipun mungkin jika syarat itu tidak disertai oleh yang lain, maka peristiwa tersebut bisa tidak terjadi. Sebagai contoh, pembentukan modal (capital) s merupakan syarat perlu guna menunjang pertumbuhan ekonomi (sebelum pertumbuhan output terjadi, harus ada alatnya dahulu untuk menghasilkan output tersebut). Akan tetapi, agar pertumbuhan tersebut bisa s berlangsung secara berkesinambungan, maka harus ada pula perubahan sosial, kelembagaan dan sikap yang bersifat menunjang. www.dadangsolihin.com 13 Slide 14: Sufficient Condition (Syarat Cukup) Suatu kondisi atau syarat yang harus dipenuhi guna s memungkinkan sesuatu hal bisa terjadi. Sebagai contoh, menjadi mahasiswa dari sebuah s universitas tertentu merupakan syarat cukup untuk menerima pinjaman dana dari Program Kredit Mahasiswa. www.dadangsolihin.com 14 Slide 15: Model pembangunan Rostow dan Harrod-Domar s secara implisit ternyata mengasumsikan adanya sikap-sikap dan pengaturan yang sama di negara- negara terbelakang. Akan tetapi, asumsi itu tidak sesuai dengan kenyataan s yang ada di negaranegara Dunia Ketiga. Negara-negara tersebut masih sangat kekurangan s faktor-faktor komplementer yang paling penting seperti halnya kecakapan manajerial, tenaga kerja yang terlatih, kemampuan perencanaan dan pengelolaan berbagai proyek pembangunan, dsb. Teori-teori pertumbuhan bertahap boleh dikatakan s telah gagal total dalam memperhitungkan pelbagai kenyataan penting lainnya. www.dadangsolihin.com 15 Slide 16: Negara-negara Dunia Ketiga sekarang ini merupakan s bagian integral dari suatu sistem internasional yang sedemikian rumit dan integratif, sehingga strategistrategi pembangunan yang paling hebat dan terencana secara matang sekalipun dapat dimentahkan begitu saja oleh kekuatan-kekuatan asing yang keberadaan dan sepakterjangnya sama sekali di luar kendali negara-negara yang bersangkutan. Maka muncullah pendekatan yang lebih baru dan s radikal yang mencoba mengkombinasikan faktor-faktor ekonomi dan institusional ke dalam suatu model sistem baru mengenai kemajuan dan keterbelakangan internasional. Pendekatan itu selanjutnya disebut sebagai s paradigma ketergantungan internasional. www.dadangsolihin.com 16 Slide 17: 2. Model Perubahan Struktural Mekanisme yang memungkinkan negara-negara terbelakang s untuk mentransformasikan struktur perekonomian dalam negeri mereka dari pola perekonomian pertanian subsisten tradisional ke perekonomian yang lebih modern, lebih berorientasi ke kehidupan perkotaan, dan lebih bervariasi, serta memiliki sektor industri manufaktur dan sektor jasa-jasa yang tangguh. Model perubahan struktural tersebut dalam analisisnya s menggunakan perangkat-perangkat neoklasik berupa konsepkonsep harga dan alokasi sumber daya, serta metode-metode ekonometri untuk menjelaskan terjadinya proses transformasi. Aliran pendekatan perubahan struktural ini didukung oleh s ekonom-ekonom yang sangat terkemuka seperti W. Arthur Lewis yang termasyur dengan model teoretisnya tentang \"surplus tenaga kerja dua sektor\" (two sector surplus labor) dan Hollis B. Chenery yang sangat terkenal dengan analisis empirisnya tentang \"pola-pola pembangunan\" (patterns of development). www.dadangsolihin.com 17

Slide 18: Model Perubahan Struktural Teori Pembangunan Lewis: s – Transformasi struktural (structural transformation) – Model dua-sektor Lewis (Lewis two-sector model) Perubahan Struktural dan Pola-pola Pembangunan. s Kesimpulan-kesimpulan dan Implikasinya. s www.dadangsolihin.com 18 Slide 19: Structural Transformation (Transformasi Struktural) Proses pengubahan struktur industri dari suatu s perekonomian agar kontribusi sektor manufaktur terhadap pendapatan nasional (national income) lebih tinggi daripada sektor pertanian. Dapat juga diartikan sebagai perubahan komposisi s industri dalam perekonomian. Misalnya: primary sector, secondary sector, dan s tertiary industrial sector. www.dadangsolihin.com 19 Slide 20: ♣Lewis Two-Sector Mmodel (Model dua-sektor Lewis) Teori pembangunan yang menyatakan bahwa jika surplus tenaga kerja (surplus labor) dari sektor pertanian tradisional bisa dialihkan ke sektor industri modern yang daya serap tenaga kerjanya semakin tinggi, maka hal itu akan mempromosikan industrialisasi dan dengan sendirinya akan memacu adanya pembangunan secara berkesinambungan. www.dadangsolihin.com 20 Slide 21: 3. Revolusi Ketergantungan Internasional (international dependence revolution) Model Ketergantungan Neokolonial. s Model Paradigma Palsu. s Tesis Pembangunan Dualistik. s www.dadangsolihin.com 21 Slide 22: Model Ketergantungan Neokolonial (Neocolonial Suatu model yang dalil utamanya menyatakan bahwa terjadi dan♣dependence model) berlarut-larutnya keterbelakangan di negara-negara Dunia Ketiga disebabkan oleh aneka kebijakan ekonomi, sosial, politik, dan bahkan budaya eksploitatif yang dimainkan oleh negaranegara maju terhadap negara-negara berkembang, sehingga tidak ubahnya ketika mereka memperlakukan wilayah jajahannya di masa sebelumnya. www.dadangsolihin.com 22 Slide 23: Model Paradigma Palsu (False-paradigm model of underemployment) Bahwa negara-negara Dunia Ketiga telah gagal s mencapai kemajuan yang cukup berarti karena strategi pembangunan mereka (biasanya disarankan oleh pakar ekonomi Barat) didasarkan pada model- model pembangunan \"yang keliru\" yang jelas tidak cocok dengan kebutuhan mereka yang mendasar. Model pembangunan yang selama ini telah mereka s terapkan terlalu menekankan pada akumulasi kapital (capital accumulation) tanpa memberi perhatian secukupnya pada perlunya untuk mengadakan perubahanperubahan sosial dan kelembagaan. www.dadangsolihin.com 23 Slide 24: Tesis Pembangunan Dualistik Pandangan ini melihat dunia terbagi ke dalam dua s kelompok besar, yakni negara-negara kaya dan miskin. Di negara-negara kaya memang masih ada sebagian s penduduknya yang miskin, dan sebaliknya di negaranegara miskin pun ada segelintir penduduknya yang makmur sejahtera. Dualisme (dualism) adalah sebuah konsep yang s dibahas secara luas dalam ilmu ekonomi pembangunan. Konsep ini menunjukkan adanya jurang pemisah yang s kian lama terus

melebar antara negara-negara kaya dan miskin, serta di antara orang-orang kaya dan miskin pada berbagai tingkatan di setiap negara. www.dadangsolihin.com 24 Slide 25: Pada dasarnya, konsep dualisme ini terdiri dari empat elemen kunci sebagai berikut: 1. Di setiap tempat dan konteks, selalu saja ada sejumlah elemen \"superior\" dan sekaligus elemen \"inferior\". 2. Koeksistensi tersebut bukanlah suatu hal yang bersifat sementara atau transisional, melainkan. sesuatu yang bersifat baku, permanen atau kronis. 3. Kadar superioritas serta inferioritas dari masing- masing elemen tersebut bukan hanya tidak menunjukkan tanda-tanda akan berkurang, melainkan bahkan cenderung meningkat. 4. Hubungan saling-keterkaitan antara elemen-elemen yang superior dengan elemenelemen lainnya yang inferior tersebut terbentuk dan berlangsung sedemikian rupa sehingga keberadaan elemen- elemen superior sangat sedikit atau sama sekali tidak membawa manfaat untuk meningkatkan kedudukan elemen-elemen yang inferior. www.dadangsolihin.com 25 Slide 26: Dengan demikian, apa yang disebut sebagai prinsip s \"penetesan kemakmuran ke bawah\" (trickle down effect) itu sesungguhnya sulit diterima. Bahkan di dalam kenyataannya, elemen-elemen s superior tersebut justru tidak jarang memanfaatkan, memanipulasi, mengekploitasi ataupun menggencet elemen-elemen yang inferior. Jadi, yang mereka kembangkan justru s keterbelakangannya. www.dadangsolihin.com 26 Slide 27: 4. Kontrarevolusi Pasar Bebas Neoklasik (neoclassical free-market counterrevolution); Tantangan bagi Pendekatan Statis s – Pasar Bebas – Pilihan Rasional – Ramah Terhadap Pasar Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional s (‘lama’) www.dadangsolihin.com 27 Slide 28: Pasar Bebas Kondisi keterbelakangan negara-negara berkembang s bersumber dari buruknya keseluruhan alokasi sumber daya yang selama ini bertumpu pada kebijakan- kebijakan pengaturan harga yang tidak tepat dan adanya campur tangan pemerintah yang berlebihan. www.dadangsolihin.com 28 Slide 29: Oleh karena itu, dengan membiarkan pasar bebas s (free markets) hadir dan beroperasi secara penuh, pelaksanaan swastanisasi perusahaan milik pemerintah, promosi perdagangan bebas dan pengembangan ekspor, menarik para investasi asing (misalnya, investor dari negara-negara maju), serta pembatasan regulasi dan distorsi harga pada pasar input, pasar output maupun pasar keuangan, maka, efisiensi serta pertumbuhan ekonomi akan terpacu secara lebih optimal. www.dadangsolihin.com 29 Slide 30: Pilihan Rasional Bahwa apa yang dilakukan pemerintah dalam urusan- s urusan ekonomi selalu salah, sehingga setiap bentuk intervensi pemerintah harus dijauhi. Pandangan pedas ini bertolak dari asumsi dasar yang s meyakini bahwa sikap, tindakan, dan keputusan para politisi, birokrat, warga negara biasa, apalagi pejabat pemerintah, senantiasa bertolak dari kepentingan- kepentingan mereka sendiri, tidak peduli apa konsekuensinya terhadap pihak lain. www.dadangsolihin.com 30

Slide 31: Ramah terhadap Pasar Pendekatan ini mengakui adanya berbagai kelemahan s atau ketidaksempurnaan pasar, baik itu pasar produk maupun pasar faktor, di negaranegara Dunia Ketiga, dan bahwa pemerintah memang perlu menjalankan peran aktif dalam perekonomian, khususnya untuk mengoreksi pelbagai ketidaksempurnaan pasar itu. Yang ditekankan oleh pendekatan ini adalah, s intervensi pemerintah itu haruslah bersifat \"nonselektif\" atau ramah terhadap (disesuaikan dengan) mekanisme pasar. www.dadangsolihin.com 31 Slide 32: Teori Pertumbuhan Neoklasik Tradisional (‘lama’) Traditional (Old) neoclassical growth theory Model pertumbuhan Robert Solow yang menyatakan s bahwasanya ekuilibrium pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang itu sama dengan nol, dan pendapatan per kapita dari semua negara cenderung merasa atau menjadi sama besarnya. Teori ini sendiri bertolak dari konsep persaingan s sempurna (perfect competition) dan prinsip skala hasil (returns to scale) yang konstan. www.dadangsolihin.com 32 Slide 33: 5. Teori Pertumbuhan yang Baru (new or endogenous theory of economic growth). Merupakan pengembangan dan modifikasi dari teori pertumbuhan tradisional (traditional growth theory) yang khusus dirancang untuk menjelaskan alasan mengapa ekuilibrium pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang bisa positif dan bervariasi di kalangan negara-negara, dan mengapa pula arus modal justru cenderung mengalir dari negara-negara miskin ke negara-negara maju yang tentunya lebih kaya, meskipun rasio modal-tenaga kerja (capital-labor ratio) di negara-negara miskin tersebut masih rendah. www.dadangsolihin.com 33 Slide 34: Terima Kasih www.dadangsolihin.com 34 Slide 35: Dadang Solihin’s Profile Dadang holds a MA degree (Economics), University of Colorado, USA. His previous post is Head, Center for Research Data and Information at DPD Secretariat General as well as Deputy Director for Information of Spatial Planning and Land Use Management at Beside working as♣Indonesian National Development Planning Agency (Bappenas). Assistant Professor at Graduate School of Asia- Pacific Studies, Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University of He got various training around the globe,♣Darma Persada, Jakarta, Indonesia. included Advanced International Training Programme of Information Technology Management, at Karlstad City, Sweden (2005); the Training Seminar on Land Use and Management, Taiwan (2004); Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur, Malaysia (2003); Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002); Local Government Administration Training Course, Hiroshima, Japan (2001); and Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan You can♣(1999). He published more than five books regarding local autonomous. reach Dadang Solihin by email at dadangsol@yahoo.com or by his mobile at +62812 932 2202 www.dadangsolihin.com 35

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->