Anda di halaman 1dari 21

PENGARUH TEORI EVOLUSI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA

MAKALAH
Diajukan untuk memenuhi tugas Karya Ilmiah Mata Kuliah Biologi Umum

OLEH : Kelompok 7 : Aulia Rahim (1100085) Arifah Hanif Fidina (1101965) Dewi Mulyani (1104166) Dian Nafasah (1106501) Feni M S (1100458) Fertika (1101105) Hilda Khairunnisa (1101733) Handi Risa (1106166) Ilma Inaroh Azizah (1101094) Jipri (1106560) Maya Monica D (1105821) M.Hamdan (1106598) Nur Fitria (1104293)

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA TAHUN PELAJARAN 2011-2012

KATA PENGANTAR

Puji syukur tim penulis panjatkan kepada Allah SWT yang telah memberikan kekuatan dan kesabaran sehingga penyusunan tugas makalah ini dapat diselesaikan dengan tepat waktu dan sesuai dengan hasil yang diharapkan. Makalah ini disusun dan diajukan untuk mememenuhi salah satu tugas mata kuliah Biologi Umum dengan pokok bahasan Pengaruh Teori Evolusi Terhadap Kehidupan Manusia. Tersusunnya makalah ini tidak terlepas dari banyak pihak yang telah membantu, baik secara langsung maupun tidak. Oleh karena itu, tim penulis ucapkan terima kasih kepada Ibu Rini Solihat, S.Pd. selaku dosen mata kuliah Biologi Umum, yang telah membimbing tim penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan dengan baik. Terima kasih tak lupa tim penulis ucapkan kepada seluruh pihak yang memberi kritik, saran dan dukungan. Semoga segala bantuan yang diberikan selama ini mendapat balasan yang berlipat ganda dari Allah SWT. Besar harapan semoga makalah ini bermanfaat bagi tim penulis dan bagi pembaca untuk ke depannya, amiin. Bandung, Desember 2011

Tim Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..................................................................................................i DAFTAR ISI................................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang............................................................................................3 1.2 Identifikasi Masalah....................................................................................6 1.3 Tujuan dan Manfaat.....................................................................................6 BAB II PENGARUH TEORI EVOLUSI TERHADAP KEHIDUPAN MANUSIA 2.1 Pembahasan Materi Teori Evolusi 2.1.1. Pengertian Teori Evolusi...12 2.1.2. Jenis dan Macam Evolusi Di Alam. 2.1.3. Bukti-Bukti Yang Memperkuat Adanya Teori Evolusi....12 2.1.4. Mekanisme Evolusi.......19 2.1.5.Pendapat Para Ahli Mengenai Teori Evolusi..19 2.2 Pengaruh Teori Evolusi Terhadap Kehidupan Manusia 2.2.1. Pengaruh Evolusi Terhadap Moralitas Manusia22 2.2.2 Pengaruh Positif Hukum Seleksi Alam dalam Teori Evolusi terhadap kehidupan manusia ..23 2.2.3. Pengaruh Evolusi Terhadap Kesehatan Manusia 26 BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan....30 3.2 Saran..30 DAFTAR PUSTAKA................................................................................................31

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah

Semua orang di dunia yang pernah mersakan bangku sekolah atau hanya mengetahui lewat buku pelajaran, artikel, majalah, dan lainnya. Pasti pernah mendengar yang namanya Teori Evolusi, yaitu suatu teori yang berkaitan dengan ilmu kehidupan. Pencetus teori tersebut adalah Charles Robert Darwin seorang Naturalis amatir dari Inggris di pertengahan abad ke-19. Kebanyakan masyarakat mungkin hanya mengenal Teori Evolusi sebagai salah satu dari konsep biologi dan merupakan ilmu pengetahuan netral yang tidak memberikan pengaruh apapun terhadap keseharian kehidupan manusia. Padahal yang terkandung dalam teori tersebut lebih dari sekedar konsep biologi, karena yang diajarkan dalam teori tersebut memberikan pengaruh terhadap pemikiran-pemikiran yang muncul setelah adanya teori tersebut. Kita pasti pernah mendengar yang namanya Materialisme, Marxisme, dan Rasisme. Itu adalah segelintir pemikiran dari adanya Teori Evolusi, dan dari pemikiran-pemikiran tersebut muncul berbabagai faham dan gerakan-gerakan seperti: komunis, nasionalis, fasis, sampai faham-faham yang tidak bermoral timbul dari adanya teori tersebut. Dari penuturan diatas penulis meyakini bahwa teori tersebut mendatangkan sisi negative yang dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari umat manusia. Karena secara di sengaja atau tidak teori tersebut telah memberikan pengaruh dan dampak yang cukup besar terhadap kehidupan manusia, salah satu dampak yang telah terjadi adalah dengan telah terjadinya Perang Dunia diawal abad ke-20, menurut seorang Intelektual Muslim bernama Harun Yahya ia mengatakan ,Perang dunia terjadi bukan diawali dari barak-barak militer yang saling bersaing dalam persenjataan melainkan dari bangku sekolah. Dan seperti yang kita ketahui sekarang ini

Teori Evolusi masih diajarkan di bangku sekolah maka ini juga akan mendatangkan pengaruh yang besar seandainya tidak diberikan klarifikasi atas teori tersebut oleh guru yang mengajarkan. Oleh sebab itu Karya tulis ini disusun berangkat dari adanya sebab akibat pengaruh Teori Evolusi tersebut karena ternyata memberikan dampak dan pengaruh yang cukup besar terhadap kehidupan sehari-hari kita sebagai umat manusia. Oleh karena itu penulis mencoba memberikan sebuah pemaparan informasi tentang teori tersebut dan apa dampak yang disebabkan oleh pengaruh dari adanya teori tersebut dengan membuat sebuah karya tulis yang berjudul Pengaruh Teori Evolusi Terhadap Kehidupan Manusia. 1.2 Rumusan Masalah Adapun permasalahan yang penulis rumuskan adalah sebagai berikut : 1. Apa Teori Evolusi itu ? 2. Bagaimana pandangan para Ilmuwan mengenai evolusi? 3. Bagaimana pengaruh Teori Evolusi terhadap kehidupan manusia ? 1.3 Tujuan Penilitan Adapun yang menjadi tujuan yang menjadi tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk mengetahui apa itu Teori Evolusi, dan apa yang terkandung dalam Teori Evolusi. 2. Untuk mengetahui pandangan para Ilmuwan mengenai teori evolusi. 3. Untuk mengetahui pengaruh dari adanya Teori Evolusi terhadap kehidupan manusia.

BAB II 2.1 PEMBAHASAN MATERI TEORI EVOLUSI


2.1.1 Pengertian Teori Evolusi Evolusi adalah merupakan kata yang berasal dari bahasa latin yang artinya membuka gulungan atau membuka lapisan. Kemudian bahasa itu diserap menjadi bahasa inggris evolution yang berarti perkembangan secara bertahap. Pada teori evolusi berpendapat bahwa terjadi perubahan pada makluk hidup menyimpang dari struktur awal dalam jumlah yang banyak beraneka ragam dan kemudian menyebabkan terjadinya dua kemungkinan. Yang pertama adalah makhluk hidup yang berubah akan mampu bertahan dan tidak punah atau disebut juga dengan istilah evolusi progresif. Sedangkan kemungkinan atau opsi yang kedua adalah mahluk hidup yang berubah atau berevolusi tadi gagal bertahan hidup dan akhirnya punah atau disebut dengan evolusi regresif. A. Pengertian Evolusi Berdasarkan Ilmu Sejarah Evolusi adalah perkembangan ekonomi, sosial dan politik tanpa adanya paksaan dari waktu ke waktu secara sedikit demi sedikit dan dalam jangka waktu yang lama. B. Pengertian Evolusi Menurut Ilmu IPA / Ilmu Pengetahuan Alam Evolusi adalah perkembangan makhluk hidup dari bentuk yang sederhana ke betuk yang lebih kompleks menuju kesempurnaan secara bertahap dan memakan waktu yang sangat lama. Contoh dari binatang atau hewan kera menjadi manusia, ikan menjadi reptil, dan lain sebagainya. 2.1.2. Jenis-Jenis dan Macam-Macam Evolusi di Alam 1. Evolusi Kosmik Evolusi kosmik adalah evolusi yang terjadi pada lingkungan abiotik atau lingkungan tidak hidup / tak hidup.

2. Evolusi Organik / Organis Evolusi organik adalah evolusi yang terjadi pada lingkungan biotik pada mahluk hidup dari generasi ke generasi. 2.1.3. Adanya evolusi diperkuat dengan adanya bukti-bukti 1. Fosil Merupakan sisa-sisa, cetakan, jejak-jejak atau berkas binatang atau tumbuhan yang telah membatu. Fosil memberi banyak sekali informasi kehidupan hewan dan tumbuhan purba. Misalnya : fosil sejarah perkembangan kuda Fosil sebagai bukti adanya peristiwa evolusi yang dapat menentukan umur dengan cara menghitung laju erosi, laju sedimentasi, kandungan garam dan kadar radio aktif. 2. Homologi Dua organ (alat tubuh) dikatakan homolog jika mempunyai asal (secara embrilogik) sama tetapi fungsi dan bentuknya berbeda. Misalnya alat gerak pada manusia, burung, pinguin dan kelelawar. 3. Analogi Dua organ dikatakan analog bila menunjukan fungsi sama tetapi bentuk dasarnya berbeda. Misalnya sayap kupu-kupu, burung dan kelelawar. 4. Embriologi Perbandingan Ialah hewan-hewan kelas vertebrata ikan,reptil, aves dan mamalia, meskipun tubuh individu dewasanya berbeda namun fase awal perkembangan embrionya sangat mirip. 5. Ontogeni Ialah sejarah perkembangan makhluk hidup dari zigot sampai dewasa. Filogeni yaitu perkembangan makhluk hidup dari sederhana menjadi sempurna. Autogeni merupakan ulang singkat dari filogeni

6. Kovergensi Ialah terbentuknya macam-macam individu atau species yang berasal dari jalur evolusi yang berbeda tetapi mempunyai ciri-ciri yang hampir sama 7. Divergensi Ialah terbentuknya bernacam-macam individu dari satu macam species atau sejenis 8. Species Ialah individu dalam satu populasi yang bila mengadakan inter hibridasi menghasilkan keturunan yang fertil. Species baru akan terbentuk apabila suatu populasi sudah tidak dapat mengadakan interhibridasi atau apabila mengadakan interhibridasi akan menghasilkan keturunan yang steril. 2.1.4. MEKANISME EVOLUSI VARIASI GENETIKA

Evolusi terjadi karena adanya variasi genetik dan seleksi alam.Variasi dalam suatu keturunan terjadi karena dua sebab utama,yaitu danya mutasi gen dan adanya rekombinasi gen-gen dalam suatu keturunan.

1. Mutasi gen dengan sifat

Salah satu penyebab terjadinya perubahan sifat suatu otganisne yaitu adanya perubahan struktur kimia gen(AND) pada organisme tersebut, atau sering di sebut mutasi gen.Mutasi gen terjadi secara acak dan dapat terjadi tanpa ataupun karena pengaruh factor luar.

Mutasi merupakan mekanisme evolusi yang pentinng dan dapat memunculkan spesies baru dengan sifat yang lebih baik,tergantung dari

angka laju mutasi.Angka laju mutai adalah angka yang menunjukkan jumlah gen yang bermutasi dari seluruh gamet yang di hasilkan oloh suatu individu dari suatu spesies.Angka laju mutasi memang sangat kecil,tetapi merupakan mekanisme yang sangat penting karena hal-hal berikut.

Setiap gamet mengandung beribu-ribu gen Individu dalam satu generasi dapat menghasilkan ribuan sampe

jutaan gamet.

Jumlah generasi suatu spesies selama spesies itu ada banyak

sekali.

2. Frekuensi gan di dalam populasi Frekuensi gan adalah frekuensi kehadiran suatu gan di dalam populasi dalam hubunganya dengan frekuensi semua alelnya.Dalam genetika,populasi berarti kelompok organism yang dapat saling kawin.misalnya dalam suatu populasi terdapat gaen dominan(A) dengan alel gen resesif(a). 3. Rekombinasi dan seleksi alam

Mutasi yang menguntungkan akan menghasilkan individu dengan viabilits dan fertilisasi yang tinggi,serta bersifat adaftif.Apa bila individu-individu yang mengalami mutasi melekukan kawin

silang,akan terjadi rekpmbinasi gen pada keturunanya.venotif individu hasil kawin silang tersebut dapat berbeda sekali dengan fenootif kedua induknya.Dengan danya faktor seleksi alam,hanya individu yang adaptif saja yang dapat bertahan hidup dan mewariskan sifatsifat pada generasi berikutnya.

2.1.5

Pendapat para Ilmuwan mengenai evolusi

1. Jean Baptiste Lamarck Mengemukakan bahwa ; A. Alat - alat tuuh yang sering digunakan akan tumbuh membesar, sebaliknya organ tubuh yang tidak pernah digunakan akan menyusut bahkan hilang. B. Hukum peneurunan sifat-sifat yang baru yang diperoleh artinya bahwa sifat-sifat baru karena sering digunakan atau tidak digunakannya bagianbagian tubuh tersebut akan diturunkan kepada keturunannya. Contoh : J.B.Lamarck mengensumsikan bahwa kaki depan dan leher jerapah menjadi panjang karena kebiasaan mencapai dedaunan di pohon yang tinggi ddan sifat baru ini diturunkan kepada genarasi berikutnya. 2. Alfred Wallace Menyatakan bahwa species yang ada sekarang berasal dari species masa silsam yang mampu bertahan hidup. 3. Charles Darwin Mengemukakan teori evolusi yang didasarkan pada pokok-pokok- fikiran sebagai berikut: a. Tidak ada individu yang sama b. setiap populasi berkecenderungan untuk tumbuh bnayak karena kemampuannya bereproduksi. c. Untuk berkembang biak diperlukan adanya makanan dan ruang yang cukup. d. Bertambahnya suatu populasi tidak akan berjalan terus-menerus.

5. Count De Buffen Menyatakan bahwa variasi-variasi kecil yang terjadi karena pengaruh alam sekitar diwariskan .Dengan demikian kemampuan beradaptasi terhadap lingkungan akan menyebabkan terjadinya variasi yang mengarah pada terbentuknya species baru. 6. Sir Charles Lyeel Menyatakan bahwa batuan, pulau-pulau dan benua selalu mengalami perubahan. 7. Thomas Robert Malthus Menyatakan bahwa pertambahan jumlah pendududk naik seperti deret ukur sedangkan bahan makanan yang tersedia naik seperti deret hitung. 8. Anaximander dan Aristoteles Menyatakan bahwa makhluk hidup selalu mengalami perubahan.

2.2 Pengaruh Evolusi terhadap Kehidupan Manusia


2.2.1 Pengaruh Evolusi Terhadap Moralitas Manusia

Teori evolusi yang sangat kontroversial ini sesungguhnya telah menelurkan banyak sekali paham yang baru yang sangat bertentangan dengan apa yang telah dipegang masyarakat secara luas sebelumnya. Sama halnya ketika ditemukan komputer, maka masyarakat yang sebelumnya sangat kolot istilahnya. Akhirnya harus mengubah paradigma berpikir mereka daripada menggunakan cara yang kuno dan tidak menarik, lebih baik melakukan hal yang baru, selain baru sebenarnya menarik pula! Itulah yang kami lihat sedang terjadi dan sebenarnya sedang terjadi di sebagian besar masyarakat dunia ini.

Salah satu paham utama yang muncul setelah kemunculan teori Darwin adalah Marxisme, dimana paham ini sudah tidak asing lagi bagi sebagian kita. Karl Marx dengan jelas menyatakan bahwa teori Darwin memberikan dasar yang kokoh bagi materialisme, dan tentu saja bagi komunisme. Ia juga menunjukkan simpatinya kepada Darwin dengan mempersembahkan buku Das Kapital, yang dianggap sebagai karya terbesarnya, kepada Darwin. Dalam bukunya yang berbahasa Jerman, ia menulis: Dari seorang pengagum setia kepada Charles Darwin. Marxisme adalah dasar dari sebagian besar negara komunis di dunia. Contoh yang sangat populer adalah Adolf Hitler dimana kediktatorannya sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Tetapi mungkin kita berpikir mengapakah bisa begitu? Bukankah ini hanya merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang netral? mengapakah bisa mengakibatkan sebuah kekejaman seperti yang dilakukan oleh Hitler? Teori evolusi Darwin mengajarkan bahwa tidak ada sesuatu pun selain materi dan materi adalah esensi dari segala sesuatu, baik yang hidup maupun tak hidup. Inilah yang disebut dengan materialisme. Berawal dari pemikiran ini, materialisme mengingkari keberadaan Sang Maha Pencipta, yaitu Allah. Dengan mereduksi segala sesuatu ke tingkat materi, teori ini mengubah manusia menjadi makhluk yang hanya berorientasi kepada materi dan tidak memikirkan hal-hal yang bersifat non-materi, seperti contohnya jiwa, roh dan terutama didalam pembahasan kita disini adalah moralitas. Mengapa bisa moralitas ditinggalkan? Sebenarnya mereka berusaha membentuk sebuah tatanan morlaitas yang baru yang mereka sebut sebagai relativisme moral. Dengan kata lain siapapun benar bagi dirinya sendiri. Tidak ada yang benar atau salah. Ini adalah sebuah pernyataan yang menarik sekali dan dapat dilihat contohnya dari gambar-gambar berikut ini. Ini adalah kampanye seorang atheist Richard Dawkins yang pernah dimuat di Jawa Pos dalam tahun ini. Kata-kata Now stop worrying and enjoy your life menggambarkan bagaiamanakah etika yang nantinya akan mau dibawa oleh wawasan dunia atheistik ini. Ketika tidak ada satu apapun yang benar ataupun salah, toh, kita semua adalah pada dasarnya berasal dari makhluk yang sama, yaitu makhluk bersel tunggal. Maka mengapakah kita tidak boleh membunuh seseorang? Mengapakah kita tidak bisa memperkosa

semua wanita yang kita inginkan dengan alasan memperbanyak keturunan saya? Kalau pada dasarnya kita semua adalah binatang yang lebih canggih. Tidak ada satu alasanpun yang dapat dikemukakan untuk menentang saya membunuh seseorang sama seperti saya membunuh binatang. Jadi Stop worrying and enjoy your life adalah sebuah pernyataan yang berdampak sangat besar, dan tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa itu jelas bukanlah dunia impian kita. Itu hanya akan menjadi dunia dimana kita tidak ada bedanya dengan binatang. Ini adalah sebuah ironisme yang digambarkan dengan tepat sekali melalui ucapan paradoks ini. Seluruh celaan mengimplikasikan semacam doktrin moral dan orang skeptis modern meragukan bukan hanya institusi yang dicelanya, melainkan juga doktrin yang ia gunakan untuk menyampaikan celaannya. Akibatnya, ia menulis sebuah buku bahwa penindasan imperial menghina kesucian para wanita, dan kemudian menulis buku lainnya, sebuah novel yang berisi penghinaan pribadinya terhadap hal itu. Sebagai seorang politisi ia akan menyerukan bahwa perang merupakan pemborosan kehidupan, dan kemudian menjadi seorang filsuf bahwa seluruh kehidupan adalah pemborosan waktu. Seorang Rusia yang pesimis akan mencela seorang polisi karena membunuh seorang petani kecil, dan kemudian membuktikan dengan prinsip-prinsip filosofis tertinggi bahwa petani kecil itu seharusnya mengambil nyawanya sendiri. Seorang pria mencela pernikahan sebagai sebuah dusta dan kemudian mencela para aristokrat yang amoral karena memperlakukakannya sebagai sebuah dusta. Orang yang berpandangan seperti ini pertama-tama pergi ke sebuah pertemuan politik dimana ia mengeluh bahwa suku-suku primitif diperlakukan sebagai binatang. Kemudian ia mengambil topinya dan mengambil payungnya melanjutkan perjalanannya ke sebuah pertemuan ilmiah dimana ia membuktikan bahwa mereka sebenarnya adalah binatang. Singkatnya seorang revolusionis modern, dengan sikap skeptisnya yang tidak terbatas, selamanya terikat untuk menggali lubang-lubang bagi dirinya sendiri, dalam bukunya tentang politik ia menyerang manusia karena menginjak-nginjak moralitas; dalam bukunya tentang etika ia menyerang moralitas karena menginjaknginjak manusia. Karena itu manusia modern yang memberontak menjadi benar-benar tidak berguna bagi segala tujuan pemberontakan. Dengan

memberontak terhadap segala sesuatu ia telah kehilangan haknya untuk memberontak terhadap apapun.

2.2.2

Pengaruh Seleksi Alam Dalam Teori Evolusi Terhadap Populasi 2.2.3.1 Seleksi Alam Menurut Darwin dan Wallace Darwin dan Wallace sependapat bahwa seleksi alam merupakan mekanisme munculnya spesies baru dari spesies yang ada sebelumnya. Hipotesis atau teori tersebut didasarkan atas tiga pengamatan dan dua rangkuman yang mereka ambil. Pengamatan 1 : Individu-individu dalam sebuah popualsi memiliki suatu potensi berkembang biak yang besar. Pengamatan 2 : Jumlah individu dalam sebuah populasi selali tetap. Rangkuman 1 : Beberapa individu gagal untuk hidup atau berkembang biak. Pengamatan 3 : Variasi-variasi ada dalam semua populasi. Rangkuman 2 : individu-individu yang menunjukkan adaptasi terbaik terhadap lingkungannya akan memiliki kesempatan bereproduksi dan menghasilkan lebih banyak keturunan dibandingkan individu-individu yang adaptasinya kurang baik. Perubahan lingkungan yang berlaku terhadap varian-varian anggota populasi akan menyebabkan varian-varian yang adaptif tetap bertahan hidup dalam lingkungan yang baru, sebaliknya varian-varian yang tidak adaptif akan tersingkir dari kehidupan. 2.2.3.2 Seleksi Alam dalam Konteks Teori Evolusi Modern Seleksi alam merupakan proses atau mekanisme yang menghasilakn adaptasi suatu populasi terhadap lingkungan biotic dan abiotik. Dalam lingkungan botik terdapat organisme yang berusaha memperoleh sumber daya alam melalui kompetensi, predasi, dan parasitime. Organisme yang lebih baik dalam beradaptasi terhadap lingkungannya (survival of the fittest) akan menghasilkan lebih banyak keturunan sehinga meningkatkan proporsi dalam populasi. Dalam lingkungan abotik, meliputi kondisi cuaca yang bergatung pada suhu dan curah hujan.

Pada abad sebelumnya, Charles Darwin meyakini bahwa perubahan spesies seiring dengan waktu dan menganggap bhwa seleksi alam sebagai mekanisme untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Hipotesis Darwin tentang seleksi alam yagn dihubungkan dengan teori evolusi modern menyatakan bahwa evolusi melalui seleksi alam membutuhkan : 1. Variasi. Masing-masing anggota sutau populasi memiliki perbedaan antara satu dengan yang lain. 2. Pewarisan. Banyak perbedaan-perbedaan di antara anggota populasi merupakan bahan genetika yang diwariskan. 3. Perbedaan dalam adaptasi. Sebagian dari perbedaan individu berakibat pada baik atau buruknya kemampuan adaptasi individu tersebut terhadap lingkungan. 4. Perbedaan dalam berkembang biak. Individu yang beradaptasi lebih baik terhadap lingkungan lebih banyak bereproduksi dan keturunanya yang subur (fertile) akan menyusun proporsi atau bagian yang lebih besar dalam generasi selanjutnya.

2.2.3

Pengaruh Evolusi Terhadap Kesehatan Manusia

Orang sering melihat dengan sebelah mata pada teori evolusi, dan sebelah mata tersebut justru melihat penuh curiga seolah teori evolusi adalah penjahat. Memang sains bersifat netral, namun penerapannya secara etis harus untuk tujuan kesejahteraan manusia. Teori evolusi adalah bagian dari sains, dan karenanya ia juga harus bertujuan untuk kesejahteraan. Yang lebih menakjubkan lagi, teori evolusi telah terbukti memberi banyak kemajuan bagi kesehatan dan kedokteran untuk umat manusia. Penyakit genetik Penyakit genetik disebabkan varian gen atau kromosom, walaupun ekspresi kondisi demikian seringkali dipengaruhi faktor lingkungan (termasuk sosial dan budaya) dan konstitusi genetik individual di loci lainnya. Bagi banyak penyakit yang disebabkan varian genetik, kita dapat menambahkan banyak kondisi umum terkait usia tua, komponen signifikan gangguan belajar, dan gangguan perilaku, semua yang menyebabkan penderitaan manusia dan menuntut sumberdaya layanan sosial, pendidikan dan medis. Masing-masing gangguan genetik ini disebabkan oleh alel-alel pada satu atau lebih loci genetik, yang jumlahnya beragam mulai dari sangat langka hingga sedang

(seperti alel-alel penyakit sel sabit dan cystic fibrosis, yang cukup sering dalam populasi tertentu). Frekuensi alel adalah subjek genetika populasi, yang dapat diterapkan untuk dua tugas: menentukan alasan frekuensi sebuah alel perusak, dan memperkirakan kemungkinan seseorang mewarisi alel tersebut atau mengalami gejala. Jadi, sebagai contoh, frekuensi tinggi alel sel sabit dan beberapa hemoglobin rusak lainnya di beberapa lokasi geografis menunjukkan pada ahli genetika populasi kalau bebeerapa agen seleksi alam mungkin mempertahankan alel ini dalam populasi. Distribusi geografisnya menunjukkan hubungan dengan malaria, dan penelitian membenarkan kalau alel-alel ini tumbuh subur karena pembawa heterozigot memiliki hambatan besar pada malaria. Ini adalah ilustrasi nyata teori yang dikembangkan ahli biologi evolusi berpuluh tahun sebelum pola sel sabit ditemukan, bahwa ketangguhan heterozigot memperoleh keuntungan dengan mempertahankan alel-alel perusak dalam populasi. Penting bagi pasangan untuk tahu kemungkinan anak mereka akan mewarisi penyakit genetik, khususnya bila penyakit tersebut pernah terjadi dalam sejarah keluarga. Konsultasi genetika memberikan saran demikian selama berpuluh tahun. Konseling genetik adalah genetika populasi terapan, karena ia bertopang pada analisa pedigree (genetika standar) dan pengetahuan frekuensi alel tertentu dalam populasi besar untuk menghitung kemungkinan pewarisan kerusakan genetik. Begitu juga, mengevaluasi konsekuensi kesehatan pernikahan antar individu berkerabat dekat atau paparan radiasi ionisasi tinggi serta mutagen lingkungan lainnya tergantung secara kritis pada teori dan metode yang dikembangkan para ahli genetika populasi. Biologi molekuler merevolusi genetika medis. Teknologinya sekarang tersedia untuk menemukan gen dan menentukan barisannya dengan harapan dapat menentukan perbedaan fungsional antara alel perusak dan alel normal. Pembawa alel perusak dapat ditentukan dari sedikit sampel DNA (termasuk yang diperoleh lewat amniocentesis), dan terapi genetik, dimana alel normal dapat diganti dengan alel perusak, menjadi mungkin. Metode dan prinsip yang dikembangkan oleh ahli biologi evolusi telah menyumbang pada kemajuan ini dan akan menambah sumbangannya di masa depan. Menentukan lokasi gen untuk sifat tertentu misalnya, bukanlah hal mudah. Prosesnya bertopang pada asosiasi antara gen yang dicari dan penanda genetika terkait (misalnya gen berdampingan di kromosom yang sama).

Konsistensi asosiasi sebuah alel dengan penanda demikian kemungkinan kalau sebuah penanda pada kromosom seseorang akan memberi tanda keberadaan alel perusak adalah derajat ketidakseimbangan hubungan (linkage disequilibrium). Teori genetika populasi telah dikembangkan untuk meramalkan derajat ketidak seimbangan hubungan sebagai fungsi faktor-faktor seperti frekuensi alel, tingkat rekombinasi dan ukuran populasi. Teori ini adalah instrumen dalam salah satu kasus pertama alel perusak umum penyebab cystic fibrosis yang berhasil ditemukan lokasinya dan segera dibariskan. Sebagai usaha untuk menyadari manfaat yang dijanjikan gerakan Proyek Genom Manusia, peran yang dimainkan teori-teori dari genetika populasi akan terus tumbuh. Menentukan yang mana dari banyak perbedaan nukleotida antara alel perusak dan alel normal menyebabkan sebuah penyakit penting untuk memahami bagaimana efeknya dapat diobati. Studi-studi evolusi molekuler telah memberikan sejumlah metode yang dapat membantu membedakan variasi dalam barisan gen yang sangat mempengaruhi ketangguhan (dengan mempengaruhi fungsi) dari variasi yang relatif netral. Metode ini menggunakan analisa variasi barisan DNA baik dalam spesies maupun antar spesies yang dekat kekerabatannya. Kita meramalkan kalau metode ini, termasuk perbandingan antara gen manusia dan homolognya pada primata lainnya, akan membantu menentukan variasi yang menyebabkan penyakit genetik. Dalam konteks ini, bank data barisan gen yang terus tumbuh dari banyak spesies, begitu juga Proyek Genom Manusia, akan memberi banyak manfaat untuk perbandingan. Penyakit sistemik Semua penyakit genetik mempengaruhi secara kolektif hanya sekitar 1% populasi manusia. Sebaliknya, semakin banyak penyakit dan kematian manusia berkaitan dengan penyakit sistemik kronis, seperti penyakit arteri koroner, stroke, hipertensi dan penyakit Alzheimer. Penyakit-penyakit ini muncul dari seperangkat interaksi kompleks antara gen dan lingkungan. Kerumitan ini membuat sulit mempelajari hubungan antara gen dan penyakit sistemik. Prinsip-prinsip dan pendekatan-pendekatan evolusi telah berpengaruh besar pada studi hubungan ini. Sebagai contoh, beberapa gen, karena fungsi biokimia atau fisiologisnya telah diketahui, dapat dijadikan gen kandidat untuk menyebabkan penyakit sistemik. Namun, ada begitu banyak variasi genetik molekuloer pada loci kandidat ini dalam populasi

manusia umum sehingga menemukan varian spesifik terkait dengan resiko penyakit ini seolah mencari jarum dalam tumpukan jerami. Teknik-teknik filogenetika evolusi dapat digunakan untuk memperkirakan pohon gen dari variasi genetik ini. Pohon gen demikian menyajikan sejarah evolusi varian genetik gen kandidat. Bila ada mutasi terjadi saat sejarah evolusi yang mengubah resiko penyakit sistemik, maka seluruh cabang pohon gen yang memiliki mutasi tersebut mestinya menunjukkan asosiasi penyakit yang sama. Analisa pohon gen telah berhasil dipakai untuk menentukan penanda-penanda genetik yang meramalkan resiko penyakit arteri koroner, resiko penyakit Alzheimer, dan respon tingkat kolesterol terhadap diet. Lebih lanjut, analisa evolusi pohon gen dapat membantu menemukan mutasi yang sesungguhnya menyebabkan pengaruh kesehatan signifikan langkah pertama kritis untuk memahami etiologi penyakit dan dalam merancang perawatan yang mungkin. Saat semakin banyak gen kandidat penyakit sistemik umum ditemukan, akan ada kebutuhan yang lebih besar untuk analisa evolusi di masa depan. Penyakit Menular Penyakit menular disebabkan oleh organisme parasit seperti virus, bakteri, protista, jamur dan helmithes (cacing). Kontrol dan perawatan penyakit menular memerlukan bukan hanya penelitian dan tindakan medis namun juga ekologis. Pertanyaan kritisnya adalah : apa organisme penyebab penyakitnya? Darimana ia datang? Apakah spesies inang lainnya bertindak sebagai wadah bagi organisme? Bagaimana ia menyebar? Bagaimana organisme tersebut menyebabkan penyakit, dan bagaimana perlakuan obat atau terapi lainnya? Bagaimana ia bereproduksi seksual atau aseksual atau keduanya? Apakah mungkin ia mampu mengevolusikan hambatan pada obat atau pertahanan alami tubuh, dan bila bisa, seberapa cepat? Apakah mungkin ia mengevolusikan virulensi yang lebih kuat atau lebih lemah di masa depan, dan dalam kondisi apa? Untuk tiap pertanyaan ini, biologi evolusi dapat dan memang memberikan jawaban. Menentukan sebuah organisme penyebab penyakit dan inangnya bila ada, adalah masalah sistematika. Bila, seperti HIV, ia sebelumnya organisme yang belum diketahui, sistematika filogenetik dapat memberi tahu kita apa kerabat terdekatnya, yang segera memberi petunjuk pada asal usulnya, spesies inang yang mungkin dan banyak karakteristik biologi yang mungkin, seperti modus

penularannya. Bila sebuah spesies baru protozoa penyebab malaria (Plasmodium) ditemukan, misalnya, kita dapat meramalkan dengan yakin kalau ia dibawa oleh nyamuk Anopheles, seperti spesies Plasmodium lainnya. Begitu juga, menentukan pembawa penyakit lewat metode sistematika adalah esensial. Kemajuan dalam pengendalian malaria di daerah Laut Tengah pernah lambat hingga ditemukan kalau ada enam spesies nyamuk Anopheles yang nyaris identik, berbeda hanya dalam habitat dan sejarah hidup, hanya dua yang umumnya menularkan organisme malaria. Metode genetika populasi tidak dapat dipisahkan untuk menemukan modus reproduksi patogen dan pembawanya, begitu juga struktur populasi mereka yaitu, ukuran dan tingkat pertukaran populasi lokal. Sebagai contoh, dengan memakai penanda genetika ganda untuk mempelajari Salmonella dan Neisseria meningitidis (penyebab penyakit meningococcal), ahli genetika populasi telah menemukan kalau kedua bakteri patogen ini bereproduksi umumnya aseksual, namun kadang mengirim gen lewat rekombinasi, bahkan pada strain yang jauh kekerabatannya. Variasi imunologis yang digunakan bakteriolog sejak lama digunakan untuk menentukan strain bakteri ini tidak berkorelasi dengan baik pada hubungan genetik yang diungkapkan oleh penanda genetik jamak, tidak pula dengan variasi patogenisitas atau spesifisitas inang. Karenanya, prediksi sifat ini dalam studi kesehatan umum akan membutuhkan penanda-penanda genetik jamak. Begitu pula, metode-metode genetika populasi dapat memperkirakan tingkat dan jarak pergerakan organisme pembawa penyakit, yang mempengaruhi pergerakan organisme pembawa penyakit, yang mempengaruhi penularan penyakit dan potensi pengendalian. Analisa molekul sebuah gen dalam sebuah spesies nyamuk menunjukkan kalau gen ini baru saja menyebar di tiga benua, bukti kemampuan penyebaran besar serangga ini.

BAB III 3.1 KESIMPULAN 3.2 SARAN

Daftar Pustaka

http://www.chem.itb.ac.id/index.php?option=com_content&view=article&id =43:whitening-cream&catid=1:news&lang=e

Evy Siscawati.(2011). Manfaat Teori Evolusi bagi Kesehatan dan Kedokteran.[online]. Tersedia :

http://www.faktailmiah.com/2011/03/11/manfaat-teorievolusi-bagi-kesehatan-dan-kedokteran.html

Ajihanullah.(2009). Dampak Teori Evousi Terhadap Kehidupan. [online]. Tersedia : http://ajihanulloh.blogspot.com/2009/09/dampakteori-evolusi-terhadap-kehidupan_02.html