Anda di halaman 1dari 4

METODOLOGI PENELITIAN THE COCA COLA COMPANY Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat tugas mata kuliah

Metodologi penelitian dengan dosen pengempu Dr. Lili Adi Wibowo, S.Sos, S.Pd, MM

Oleh Meika Alicia 0901089

Pendidikan Manajemen Bisnis Fakultas Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Universitas Pendidikan Indonesia 2011

Bab I Pendahuluan

1.1 Latar Belakang Penelitian ` Setiap perusahaan dituntut untuk siap menghadapi persaingan bisnis yang semakin ketat dengan perusahaan-perusahaan lain dari seluruh dunia untuk menghadapi globalisasi yang sering dikatakan era dunia tanpa batas. Dengan demikian lingkungan yang dihadapi suatu perusahaan juga akan menjadi semakin kompleks. Persaingan dalam dunia usaha merupakan suatu kondisi yang harus dihadapi oleh perusahaan. Dalam perekonomian global yang memungkinkan pergerakan barang dan jasa secara bebas menjadi satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi tanpa rintangan dan batas teretorial negara. Hal ini membuat perusahaan-perusahaan baik yang bergerak di bidang manufaktur maupun jasa terus ditantang untuk semakin kompetitif. Kondisi ini merupakan tantangan serius bagi perusahaan-perusahaan, baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa yang akan mendapat dampak besar dari diberlakukannya pasar bebas melalui globalisasi produksi dan globalisasi perdagangan tidak terkecuali industri food and beverages. Sekarang ini perkembangan dunia industri food and beverages semakin maju, hal itu terbukti dengan banyaknya industri-industri baru yang mengelola berbagai macam produk. Dengan demikian, kebutuhan akan faktor-faktor produksi menjadi bertambah banyak. Di Indonesia, minuman ringan mudah sekali diperoleh di berbagai tempat, mulai dari warung sampai toko-toko kecil. Minuman ringan dikonsumsi oleh semua lapisan masyarakat dari berbagai latar belakang pendidikan dan pekerjaan. Dengan konsumsi minuman ringan yang sedemikian luasnya, produk minuman ringan bukanlah barang mewah melainkan barang biasa. The Coca-Cola Company adalah sebuah perusahaan internasional dalam bidang minuman yang bermarkas di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Perusahaan ini didirikan tahun 1892. Perusahaan ini mempekerjakan 55.000 pekerja pada tahun 2005. Produk minuman yang dihasilkan di industri ini Coca-Cola, Fanta, dan Sprite. Coca cola merupakan salah satu industri food and beverages di dunia yang menduduki peringkat pertama pada tahun 2011.Dapat dilihat dalam tabel berikut ini. Top Ten Brand In 2011 1 Coca-Cola 71,861 ($m) 2 IBM 69,905 ($m) 3 Microsoft 59,087 ($m) 4 Google 55,317 ($m) 5 GE 42,808 ($m) 6 McDonald's 35,593 ($m) 7 Intel 35,217 ($m) 8 Apple 33,492 ($m) 9 Disney 29,018 ($m) 10 Hewlett-Packard 28,479 ($m) Tabel 1.1 Sumber: www.Interbrand.com

Pada tabel 1.1 dapat diambil kesimpulan bahwa Coca-cola dalam riset dan pengembangan (Research & Development), Coca-Cola terus berinovasi untuk menciptakan produk, kemasan, strategi pemasaran, serta perlengkapan penjualan baru yang lebih berkualitas, kreatif, serta mempunyai ciri khas tersendiri. Coca-Cola berinovasi dengan menciptakan produkproduk baru yang menjadikan produk minuman cepat saji Coca-Cola mempunyai rasa dan pilihan yang beragam. Selain berinovasi pada produk-produk baru, Coca-Cola juga mencoba mengembangkan desain kemasan minuman, serta meningkatkan kualitasnya. Penetapan media memegang peranan penting dalam kegiatan promosi. Tanpa media pesan tidak akan sampai kepada kelompok audien yang diinginkan. Oleh karena itu dalam memilih media yang tepat akan sangat menentukan apakah pesan yang diinginkan sampai kepada kelompok sasaran atau tidak. Media iklan yang biasa digunakan seperti televisi, radio, surat kabar, internet, dan sebagainya. Berbagai media iklan seperti media televisi bertujuan agar pesan iklan dapat disampaikan dengan efektif kepada pasar sasaran sehingga dapat menarik minat konsumen terhadap produknya dengan jangkauan target yang besar. Berdasarkan hal tersebut program periklanan dalam perusahaan harus dapat didesain sedemikian rupa untuk menanamkan citra dalam ingatan konsumen, karena tidak mungkin konsumen akan loyal kepada sebuah produk jika konsumen tidak sadar akan keberadaan merek tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa pesan iklan melalui media televisi penting dalam memberikan kesadaran akan merek yang merupakan dimensi utama pembentuk citra merek produk Coca-cola Company. Inilah yang dilakukan Coca-cola untuk memasarkan produknya dengan memiliki ciri khas tersendiri, yang unik dan kreatif. Berbagai program promosi diadakan sesuai dengan event yang sedang berlangsung, baik melalui konser musik, pameran, promo penukaran tutup botol, hadiah kejutan, maupun iklan TV. Salah satu pemasaran Coca-Cola melalui media iklan di televisi adalah dengan menunjukkan iklan yang unik dan kreatif. Bukan hanya itu, Coca-Cola juga menampilkan kegiatan yang positif untuk mencapai citra yang baik bagi konsumen. sehingga konsumen pun akan lebih tertarik dengan produk Coca-Cola. Dewasa ini perusahaan untuk memperebutkan konsumen tidak lagi terbatas pada atribut fungsional produk seperti kegunaan suatu produk, melainkan sudah diikatkan dengan merek yang mampu memberikan citra khusus bagi pemakainya sehingga menciptakan menciptakan sebuah kesadaran akan suatu merek dan menimbulkan hasrat untuk membeli. Setelah melakukan pembelian konsumen secara sengaja ataupun tidak akan melakukan evaluasi pasca pembelian untuk memutuskan apakah konsumen akan melakukan pembelian ulang atau tidak, yang pada akhirnya menimbulkan suatu loyalitas pelanggan (Griffin, 2005:19). Banyaknya merek minuman ringan berkarbonasi di Indonesia akan menyebabkan tingkat persaingan yang tinggi. Konsumen dihadapkan kepada banyaknya pilihan merek yang menawarkan kualitas, harga dan inovasi yang hampir serupa menyebabkan konsumen mencobacoba merek baru. Era persaingan antar merek minuman ringan berkarbonasi di Indonesia dapat membuat pemasar menjadi bingung dalam menentukan pilihannya. Pada kondisi demikian, citra merek yang kuat lah yang memiliki probabilitas tinggi untuk memenangkan persaingan. Citra merek adalah aset bagi perusahaan, karena citra merek yang positif dapat membangun kredibilitas pelanggan terhadap merek, selain itu juga dapat membangun loyalitas pelanggan. Oleh karena itu, perusahaan harus menciptakan citra merek yang baik di mata pelanggan karena merek sangat berguna untuk memudahkan pelanggan dalam memilih

minuman. Dengan menciptakan citra merek yang baik di mata pelanggan, maka pelanggan dapat setia terhadap perusahaan karena pelayanan dan produk yang diberikan oleh perusahaan sesuai dengan apa yang diharapkan pelanggan. Dalam sudut pandang yang berbeda saat ini di Indonesia mencatat tingkat konsumsi produk-produk Coca-cola terendah (hanya 13 porsi saji seukuran 236 ml per orang pertahun), dibandingkan dengan Malaysia (33), Filiphina (122). Dengan kata lain di negara Indonesia minuman berkarbonasi atau Coca cola tidak menduduki peringkat pertama karena menurut hasil penelitian majalah SWA, merek teh beraroma melati bahkan lebih digemari masyarakat Indonesia daripada Coca-Cola. Dapat dilihat dalam gambar 1.2 berikut ini

Pangsa Pasar Minuman Ringan


AMDK Berkarbonasi Teh dll (Sari Buah, Isotonik, dan Kopi Susu dalam kemasan AMDK 84% Berkarbonasi 4% Teh 9%

dll (Sari Buah, Isotonik, dan Kopi Susu dalam kemasan 3%

Gambar 1.2 Perbandingan konsumsi minuman ringan di Indonesia Tahun ini, asosiasi Industri Minuman Ringan (Asrim) menargetkan penjualan 18,9 miliar liter, meningkat 8% dibandingkan 2010 sebanyak 17,5 miliar liter. Volume terbesar didominasi oleh air minum dalam kemasan (AMDK) yang menguasai 84% pangsa pasar. Ketua Umum Asrim Farchad Poeradisastra optimistis tahun ini pertumbuhan industri minuman ringan akan meningkat apabila dilihat dari rendahnya tingkat konsumsi minuman ringan di Indonesia. "Penduduk di Indonesia mencapai 237 juta jiwa, namun konsumsi minuman ri-ngannya paling rendah di Asean," jelas Asrim Farchad Poeradisastra Dari 237 juta jiwa penduduk, konsumsi minuman karbonasi hanya 33 liter/kapita, AMDK 53 liter/kapita, dan minuman lainnya lebih rendah lagi. Di Thailand, konsumsi minuman ringan mencapai 89 liter/kapita. Singapura 141 liter/kapita, Filipina 122 liter/kapita. "Pada 2015, kami menargetkan konsumsi minuman ringan 100 liter/ kapita atau konsumsi minuman ringan mencapai 25 miliar liter," tutur Asrim Farchad Poeradisastra. Berdasarkan latar belakang di atas penulis tertarik melakukan penelitian untuk mengetahui sejauh mana Pengaruh Media Iklan Televisi tehadap Citra Merek serta implikasinya pada Loyalitas Pelanggan pada Produk Coca-Cola.