Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN PRATIKUM PENYUSUNAN RANSUM BURUNG TEKUKUR DAN PUTER Disusun Oleh: Kelompok 13 Sari Narulita Gagan HanggaWijaya

Brayudanto Hardiyadi Ana Widiyawati Nararya Gunadharma Nia Kurniasih E34080031 E34080933 E34080060 E34080071 E34080097 E34080104

Dosen Pembimbing Ir. Lin Nuriah Ginoga M Si

DEPARTEMEN KONSERVASI SUMBER DAYA HUTAN DAN EKOWISATA FAKULTAS KEHUTANAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 2011

I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Beberapa jenis burung dari Familia Columbidae yaitu perkutut (Geopelia striata Linn.) dan tekukur (Streptopelia chinensis Scopoli) memiliki nilai ekonomi yang tinggi, karena menghasilkan alunan suara yang merdu dan enak didengar. Selain itu, burung-burung tersebut memiliki sosok tubuh yang cantik, sederhana tapi tampak anggun sehingga berada di jajaran burung-burung berkicau kelas lomba lainnya. Upaya kegiatan konservasi burung-burung tersebut secara ex-situ (di luar habitat alaminya), salah satu diantaranya melalui penangkaran. Hasil penangkaran dapat dilepas-liarkan ke habitat alam (sesuai dengan syarat-syarat dan peraturan yang berlaku), serta sebagian dapat dimanfaatkan untuk tujuan komersial, terutama mulai dari hasil keturunan ke dua (F2). Melakukan usaha penangkaran burung memerlukan perhatian, ketekunan, dan ketelitian dari peternak, karena burung harus dipelihara secara baik dan benar. Selain itu segala kebutuhan burung perlu diperhatikan, terutama yang berhubungan dengan kesehatan dan pakan. Pakan yang terjamin nilai gizinya adalah salah satu faktor yang mempengaruhi pertumbuhan badan, kekebalan tubuh terhadap penyakit dan kualitas suara. Hal penting yang harus diperhatikan dalam penyediaan pakan burung adalah kandungan gizi pakan dan pakan tersebut harus disukai burung. Kandungan gizi yang tidak mencukupi dapat menyebabkan kondisi kesehatan burung menurun dan mengakibatkan penampilan yang kurang menarik. Kelebihan gizi juga berpengaruh kurang baik bagi burung karena menyebabkan kelebihan bobot tubuh sehingga burung terlihat lamban dan malas. Pakan yang tidak disukai dan menyebabkan kebosanan secara langsung akan menyebabkan burung kurang makan dan kebutuhan gizinya tidak tercukupi, akibatnya burung akan terlihat tidak bergairah dan mudah terserang penyakit. Oleh karena itu pengetahuan tentang pakan akan sangat berguna untuk menghasilkan burung dengan suara yang merdu dan penampilan fisik yang menawan dan prima.

Dalam rangka mendukung upaya konservasi burung perkutut dan tekukur, khususnya melalui penangkaran, telah dilakukan serangkaian kegiatan penelitian yang berkaitan dengan habitat, perilaku, pakan dan pengelolaan penangkaran burung perkutut dan tekukur di Indonesia. Hasil-hasil penelitian dan kajian tersebut selanjutnya dapat dijadikan acuan dalam pengelolaan dan pengembangan penangkaran burung perkutut dan tekukur oleh pihak-pihak yang berkompeten.

1.2

Tujuan Tujuan praktikum ini adalah mengetahui jenis pakan apa yang disukai

burung perkutut dan tekukur (tingkat palatabilitas pakan burung puter dan tekukur).

II TINJAUAN PUSTAKA Tekukur merupakan nama lokal di daerah Jawa yang diambil dari suaranya yang terdengar te-kuk-kur berulang-ulang. Di beberapa daerah lainnya ada yang menyebut Dekukur dan Dederuk. Sedangkan nama asing Tekukur biasa adalah Spotted Dove. Klasifikasi burung tekukur adalah sebagai berikut (Mackinnon, 1990): Kingdom Phyllum Class Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Chordata : Aves : Columbiformes : Columbidae : Streptopelia : Streptopelia chinensis (Scopoli, 1768)

Mackinnon (1990) menggambarkan ciri fisik Tekukur biasa secara umum sebagai berikut; tubuh berukuran sedang (30 cm) warna coklat kemerahjambuan. Ekor tampak panjang. Bulu ekor terluar dengan tepi putih tebal. Bulu sayap lebih gelap dibanding tubuh. Ada bercak-bercak hitam putih khas pada leher. Mempunyai iris berwarna jingga, berparuh hitam dan kaki berwarna merah (Gambar 1).

Gambar 1. Tekukur biasa Tekukur biasa merupakan burung yang hidupnya dekat dengan kehidupan manusia. Tekukur biasa mencari makan di permukaan tanah dan banyak melakukan aktivitasnya di tempat-tempat terbuka. Relung habitat yang disenangi oleh Tekukur biasa untuk mencari makan adalah persawahan, perkebunan, padang

rumput dan tempat-tempat terbuka lainnya. Tekukur biasa tergolong burung vegetarian, makanannya adalah biji-bijian seperti biji jagung dan bulir padi. Relung untuk minum bagi Tekukur biasa adalah persawahan, sungai-sungai kecil, selokan yang airnya jenih serta sumber air lainnya. Tepi-tepi jalan disukai Tekukur biasa untuk mengkonsumsi grit. Relung yang disukai untuk beristirahat, tidur, dan bersarang adalah di pohon sengon (Paraserianthes falcataria), jeunjing, tusam (Pinus merkusii), nangka (Artocarpus heterophyllus), puspa (Schima wallichii) dan pohon tinggi lainnya yang bertajuk. Ransum adalah makanan yang terdiri atas beberapa jenis bahan makanan yang diberikan kepada hewan untuk kebutuhan 24 jam, mengandung semua zatzat makanan yang diperlukan hewan dalam keadaan serba cukup dan seimbang (Lubis 1952 dalam Widiarti 2008). Ransum komplit adalah pakan yang cukup tinggi gizi untuk hewan tertentu dalam tingkat fisiologis, dibentuk atau dicampur untuk diberikan sebagai satu-satunya makanan dalam memenuhi kebutuhan hidup pokok atau produksi, sebab keduanya tanpa tambahan bahan dan subtansi lain kecuali air (Hartadi et al., 1997). Menurut Chuzaemi (2002) dalam Widiarti (2008) ransum komplit merupakan salah satu metode yang dapat digunakan untuk meningkatkan pemanfaaatan limbah pertanian dengan tambahan pakan (konsentrat) dengan mempertimbangkan kebutuhan nutrisi ternak baik kebutuhan serat maupun zat makanan lainnya. Konsentrat adalah suatu bahan makanan yang dipergunakan bersama bahan untuk disatukan dan dicampur sebagai suplen (pelengkap) atau makanan lengkap (Hartadi et al., 1990).

III METODOLOGI PRATIKUM 3.1 Lokasi Pratikum Pratikum dilaksanakan di penangkaran burung tekukur dan puter laboratorium konservasi eksitu kebun percobaan Cikabayan IPB Darmaga. 3.2 Waktu Pratikum Pengamatan dilaksanakan selama 5 hari dari tanggal 22-27 Mei 2011. Pengamatan dilakukan setiap jam 7.00 pagi hingga pukul 7.30 selama 5 hari tersebut. 3.3 Alat dan bahan Alat dan bahan yang digunakan untuk pratikum ini antara lain 1. Bahan penyusun ransum yang terdiri dari jagung, milet merah, ketan hitam, beras merah, gabah, kedele, kacang hijau. 2. Timbangan 3. Alat tulis 4. Kalkulator 5. Koran dan plastik 3.4 Prosedur Kerja Dalam pemberian dan penyusunan kerja terdapat beberapa langkah
1. Perhitungan

% komposisi dari masing-masing bahan yang digunakan

yaitu dengan dicoba untuk mendapatkan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan satwa. 2. Komposisi yang sudah di peroleh dikonversi kedalam satuan berat yaitu Kg atau g. 3. Pemberian ransum kepada satwa setiap pagi selama 5 hari. Ransum yang diberikan adalah 50 gr/ekor

4. Menimbang sisa ransum yang diberikan. 5. Melihat palatabilitas pakan dari sisa pakan yang diberikan 3.5 Metode Pengambilan Data Data yang dimabil berupa berat sisa ransum yang diberikan serta palatabilitas pakan. Metode pengambilan data yang di gunakan berupa pernimbangan langsung ransum yang tersisa serta menyortir jenis pakan untuk mengetahui palatabilitas dari burung tekukur atau burung puter. 3.6 Metode Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif untuk menjelaskan ransum dan palatabilitas dari pakan tekukur.

IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Penyusunan ransum pakan satwa merupakan hal penting dalam perawatan satwa. Sehingga diperlukan perhitungan yang cermat dalam penyusunan ransum satwa. Komposisi yang digunakan dalam penyusunan ransum pakan burung tekukur dan puter untuk pemenuhan kebutuhan Kkal EM =3000 kkal dan PK=13% dapat dilihat pada tabel 1. Tabel 1 Komposisi ransum burung tekukur dan puter Bahan pakan Jagung Kuning Milet Merah Kedele Beras merah Ketan hitam Gabah Kacang hijau Total % berat 40 10 6 15 15 4 10 100 Jumlah (g) 400 100 60 150 150 4 10 1000

Pemberian ransum dilakuakan setiap pagi dengan berat 50 g/ ekor sedangkan dalam kandang terdapat 2 ekor sehingga ransum diberikan 100 g. Pemberian ransum setiap hari tidak habis dalam setiap kali pemberian. Kebutuhan pakan rata-rata burung tekukur dan puter adalah 30 gr sehingga tersisa 70 gr. Sisa ransum dalam lima kali pengamatan dapat dilihat dalam tabel 2. Tabel 2 sisa ransum dalam setiap pemberian untuk 2 ekor burung. Hari pengamatan 1 2 3 4 5 Rata-rata sisa ransum Sisa ransum (gr) 70 90 70 70 50 70

Dari hasil pengamatan terlihat bahwa rata-rata kebutuhan pakan pada burung tekukur 15 gr per hari. Pakan ini terdiri dari berbagai jenis pakan hal ini bertujuan

untuk memberikan asupan nutrisi yang lengkap dan cukup untuk satwa karena masing-masing jenis dari pakan tersebut mempunyai kandungan nutrisi yang berbeda-beda. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa jenis pakan yang paling di sukai oleh burung tekukur di penangkaran ek situ Cikabayan adalah kedelai dan juga ketan hitam. Kedelai merupakan jenis pakan biji-bijian yang mengandung banyak protein yang dapat di gunakan untuk sebagai bahan pembangun tubuh dan pengganti sel atau jaringan yang aus atau rusak, selain itu protein juga merupakan bahan baku pembentuk enzim, hormon, dan antibodi, serta berperan dalam proses reproduksi. Kelebihan protein digunakan oleh tubuh sebagai sumber energi, walau demikian sumber energi yang utama adalah karbohidrat dan lemak (Trollope 1992 dalam Purnamasari 2006). Sedangkan ketan Hitam merupakan jenis pakan yang mengandung banyak karbohidarat. Ketan hitam merupakan sumber energi bagi karena kandungan karbohidratnya mencapai 75%, suara burung yang semula terdengar kurang bertenaga bisa menjadi lebih kuat saat menu makanannya ditambah dengan ketan hitam (Praktiknjo 2002 dalam Purnamasari,2006). Jagung merupakan jenis pakan dengan komposisi terbanyak dalam penyusunan ransum ini sehingga jenis pakan ini tersisa paling banyak dari pada jenis pakan lain. Jagung juga merupakan salah satu jenis biji-bijian yang di sukai oleh burung puter maupun tekukur karena jenis biji-bijian ini mampunyai kandungan banyak energy. Energy yang terkandaung akan dapat digunakan untuk aktivutas burung perkutut atau tekukur (Soejoedno, 2001).

V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui beberapa jenis makanan yang disukai (palatable) oleh burung tekukur dan puter.

Jenis makanan yang disukai tersebut adalah kedelai dan ketan hitam. Kedelai disukai karena kandungan proteinnya yang tinggi bagi pertumbuhan tubuh, sedangkan ketan hitam disukai karena kandungan karbohidrat dan mineralnya yang berguna sebagai sumber energy dan metabolisme. Pemberian pakan yang dilakukan setiap pagi memberikan hasil yaitu diketahuinya berat pakan rata-rata yang dikonsumsi setiap ekor burung yaitu sebesar 15 gram/ekor. Pemberian pakan selama lima hari dianggap cukup mewakili bagi pengambilan sampel untuk mengetahui jumlah dan palatabilitas pakan burung tekukur dan puter.

5.2 Saran Dalam paktikum ini sebaiknya disediakan modul untuk memberikan pemahaman dan cara kerja yang efektif bagi praktikan agar praktikum lebih memberikan manfaat dan materi yang diberikan menjadi lebih mendalam. Pelaksanaan penimbangan pakan kadang kala kurang akurat karena kesalahan titik nol pada timbangan yang sering kali tidak diperhatikan oleh praktikan. Untuk pengukuran palatabilitas, praktikan sulit melakukannya karena komposisi pakan sudah tercampur merata sehingga susah untuk memisahkan dan menimbang satu persatu bahan makanan yang tersisa.

VI DAFTAR PUSTAKA

Hartadi SRR, Lebdosuko S, Tillman AD, Kearl LC, dan Harris LE. 1990. Data Ilmu Makanan Ternak untuk Indonesia. Internasional Feed Stuff Inst, agr. Exp. Station Utha State University, USA. Hartadi SRR dan Tillman AD. 1997. Komposisi Bahan Pakan Untuk Indonesia. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press. Purnamasari DK. 2006. Pemberian Ekstrak Daun Saga, Sambiloto, Pare Hutan dan Efeknya Terhadap Suara Burung Perkutut (Geopelia Striata) [Tesis]. Sekolah Pasca Sarjana IPB. Bogor Soejoedono RR.2001. Sukses Memelihara Derkuku dan Puter. Jakarta: Penebar Swadaya. Widiarti W. 2008. Uji Sifat Fisik dan Palatabilitas Ransum Komplit Wafer Pucuk dan Ampas Tebu untuk Pedet Sapi Fries Holland. [Skripsi]. Departemen Ilmu Produksi Dan Teknologi Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.