Anda di halaman 1dari 94

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Oli adalah salah satu penompang utama dari kerja sebuah mesin. Oli
juga menentukan performa dan daya tahan dari mesin. Semakin baik kualitas
oli yang digunakan , semakin baik pula peforma dan daya tahan mesin. Fungsi
utama oli adalah sebagai pelumas dan pendingin. Sebagai pelumas, oli
melumasi (lubricating) seluruh komponen bergerak di dalam mesin untuk
mencegah terjadinya kontak langsung antar komponen yang terbuat dari
logam. Sebagai pendingin, oli harus mampu mengurangi panas yang
ditimbulkan oleh gesekan antar komponen yang bergerak pada mesin. Proses
pembakaran di dalam dapur pacu.
Proses pembakaran di dalam dapur pacu mesin akan menimbulkan
panas komponen-komponen dalam mesin tersebut. Ini tentu akan
menyebabkan terjadinya proses keausan yang sangat cepat bila temperaturnya
terlalu tinggi, pada mesin diesel mesin sepeda motor. Oleh karena itu, oli
berperan untuk membantu mengurangi panas pada komponen-komponen
tersebut. Jika oli bekerja dalam temperatur yang terlalu tinggi terus menerus,
maka kualitas oli dapat menurun. Ini mengakibatkan penyerapan panas dan
pelumasannya tidak akan maksimal lagi.dan kita mengangakat oli sebagai
tema adalah salah satu bentuk kita kepedulian untuk mengebangkannya alat
pompa untuk meindakan oli dari drum yang akan digunakan di mesin- msein
2

sepeda motor maupun mobil. Oli sangat berpengaruh sekali dalam


penggunaan mesin yang menggunakan bahan bakar dan menggunakan oli
sebagai pelumasan mesin. Dalam penjualan oli-oli di toko-toko sering
menggunakan wadah seperti drum/tangki. Diera globalisasi kita harus bisa
menciptakan alat yang dapat digunakan untuk memindakan oli yang akan
dijual atau dipergunakan agar lebih praktis yaitu dengan mesin pompa oli
dalam memompa ke luar wadah drum / tangki yang lain.
Di pasaran terdapat berbagai jenis pompa, salah satunya adalah pompa
oli yang digerakkan secara manual dengan tangan. Pompa oli ini biasanya
terbuat dari besi cor, sehingga mengakibatkan pompa oli tersebut menjadi
berat. Pompa oli ini berfungsi untuk menghisap oli dari drum. Komponen dari
mesin pompa oli terdiri dari impeller beserta sudunya, rumah pompa, tutup
rumah pompa, pipa masuk (berbentuk lurus), pipa keluar (berbentuk
bengkok), tangkai pemutar (handle), pengunci pada drum, baut dan seal.
Rumah pompa ini terdiri dari dua roda gigi yang saling bersinggunan yang
akan menghasilkan tekanan yang akan memompa oli dari wadah.Pompa oli ini
biasanya dijual dalam bentuk yang utuh dan tidak tersedia bagian-bagian yang
terpisah. Hal ini menyebabkan apabila terjadi kerusakan pada salah satu
bagian saja, maka terpaksa harus membeli secara utuh pompa oli yang baru.
Bagian dari pompa oli yang akan dibuat adalah poros dan roda gigi
lurus yang terdapat di dalam rumah pompa. Roda gigi dan poros yang akan
dibuat ini tidak lagi menggunakan bahan dari besi cor, tetapi akan dibuat
dengan menggunakan bahan lain yang memenuhi karakteristik seperti yang
3

terdapat pada besi cor bahkan lebih baik dan efisien. Dalam hal ini,
karakteristik dari benda yang akan dibuat harus kuat, kokoh, tahan korosi, dan
tidak bocor jika dirakit dengan bagian pompa oli yang lain, sehingga pada saat
digunakan dapat bekerja dengan maksimal.
Oleh karena itu dalam pembuatan mesin akan diberikan piranti
tambahan dalam penjualan pompa dan oli di bengkel-bengkel sepeda motor
mapun bengkel mobil. Pada umumnya oli yang di jual di toko-toko/bengkel
kecil mengambil oli dari drum atau tangki menggunakan slang biasa dan
takeran kaleng literan yang sering kita liat. Dengan menggunakan alat-alat
sepeti itu sangat kurang efisien yang mana akan mempengaruhi waktu dan
kecepatan dalam melayani pelanggan/pembeli. Namun dengan bantuan alat ini
diharapkan dapat meningkatkan kinerja dalam melayani pelanggan tanpa
membuaang waktu yang banyak dan lebih praktis dalam memompa ke luar
fluida yaitu oli yang berada dalam suatu wadah seperti drum ataupun tangki
yang akan dijual dibengkel dengan eceran (literan) memidahkan dengan
menggunakan pompa roda gigi luar yang rotornya berupa sepasang roda gigi
yang berputar di dalam rumah pompa. Roda gigi itu berupa gigi lurus. Pompa
ini merupakan jenis pompa rotari yang paling sederhana. Apablia gerigi roda
gigi pada sisi hisap cairan akan mengisi ruangan yang ada diantara gerigi
tersebut. Kemudian cairan ini akan dibawa berkeliling dan ditekan keluar
apabila geriginya bersatu lagi. Dan desain mempunyai lubang fluida yang
radial pada rada gigi bebas dari bagian atas dan akar gerigi sampai ke lubang
dalam roda gigi.
4

Dalam pengamatan penulis salah satu faktor yang sangat penting untuk
dibuat adalah poros dan roda gigi lurus maka dalam kesempatan ini penulis
mencoba membuat sparepart sendiri, karena jarang dijual dipasaran. Untuk
membuat roda gigi lurus dan poros digunakan beberapa alat misalnya mesin
bubut, mesin frais, mistar baja, jangka sorong, bor senter, bor 12,13mm,
mandrel, reamer, pahat bubut , mata pisau frais (modul 2),gergaji mesin, dll.
Setelah alat ini selesai dibuat dirakit dan alat tersebut diuji kinerjanya.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang yang djelaskan sebelumnya, dapat terlihat
bahwa dalam proses pembuatan suatu alat, khususnya pada proses pembuatan
pompa oli harus dilakukan secara terencana. Pada alat ini dilihat beberapa
permasalahannya yang ditemui antara lain :
1. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat mesin pompa oli tersebut.
2. Bagaimana cara membuat rumah pompa pada pompa oli?
3. Bagaimanan cara membuat tutup rumah pompa pada pompa oli?
4. Bagaiamana cara membuat poros pada pompa oli?
5. Bagaimana cara membuat roda gigi lurus pada pompa oli?
6. Bagaimana cara membuat landasan rumah pompa pada pompa oli?
7. Bagaimana cara membuat bos poros pada pompa oli?
8. Bagaimana cara membuat landasan mesin pompa oli?
9. Bagaimana cara membuat pipa saluran oli wadah ?
10. Alat yang digunakan dalam pembuatan komponen pompa oli
5

11. Waktu yang dibutukan dalam pembuatan komponen poros dan roda gigi
lurus pada mesin pompa oli.
12. Uji Pompa bekerja dengan baik atau tidak
C. Batasan Masalah
Dengan melihat pada idetifikasi masalah diatas dalam pembuatan alat
pompa oli penulis membatasi permasalahanyang ada sesuai ada dengan judul
Tugas Akhir yaitu:
1. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat mesin pompa oli tersebut.
2. Alat-alat yang digunakan untuk membuat poros dan roda gigi lurus pada
komponen mesin pompa oli.
3. Proses pembuatan poros dan roda gigi lurus untuk komponenn mesin
pompa oli
4. Pengujian pompa yang telah dibuat
D. Rumusan Masalah
Dengan mengacu pada batasan masalah diatas, maka dapat
dikemukakan dalam rumus masalah adalah sebagai berikut :
1. Bagaimana cara mengidentifikasi bahan yang digunakan untuk membuat
poros dan roda gigi lurus pada mesin pompa oli?
2. Alat dan mesin apa saja yang dibutuhkan dalam proses pembuatan poros
dan roda gigi lurus pada mesin pompa oli?
3. Bagaimana cara melakukan urutan langkah kerja dalam proses pembuatan
poros dan roda gigi lurus pada komponen mesin pompa oli?
4. Bagaimana hasil pengujian pompa yang menggunakan roda gigi lurus?
6

E. Tujuan dan Manfaat


Sesuai dengan permasalah yang dihadapi,maka tujuan dari analisis
proses pembuatan poros dan roda gigi lurus pada mesin pompa oli adalah:
Tujuan :
1. Dapat mengidentifikasi bahan-bahan yang digunakan untuk membuat
poros dan roda gigi lurus pada mesin pompa oli.
2. Dapat mengetahui alat apa saja yang digunakan dalam pembuatan poros
dan roda gigi lurus.
3. Dapat mengetahui langkah kerja pembuatan mesin pompa oli.
4. Dapat mengetahui berapa liter hasil kecepatan pemompaan menggunakan
roda gigi lurus dalam 1 menit.
Manfaat :
1. Bagi Mahasiswa.
a. Meningkatkan ketrampilan mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang
mereka peroleh selama di bangku perkuliahan.
b. Sebagai bekal pengalaman dalam melakukan perancangan serta proses
pembuatan karya teknologi.
c. Mahasiswa dapat mengerti tentang bagaimana proses perancangan dan
pembuatan alat, pembelian bahan-bahan serta cara membuat komponen
yang dibutuhkan secara praktis dan efisien.
d. Melatih kedisiplinan serta sebagai pembelajaran mahasiswa agar dapat
belajar bekerja sama didalam sebuah tim kerja.
7

e. Melatih mahasiswa untuk berpikir kritis dalam menyikapi


perkembangan teknologi yang semakin canggih.
2. Bagi Universitas
Sebagai bentuk pengapdian kepada masyarakat sesuai dengantri
dharma perguruan tinggi. Sehingga perguruan tinggi mampu memberikan
kontribusi yang berguna bagi masyarakat. Maka hal ini dapat dijadikan
sarana untuk lebih memajukan dunia industri dan pendidikan.
3. Bagi Masyarakat
a. Dengan terciptanya alat ini diharapkan dapat memudahkan dan
meringankan dalam melakukan penelitian bagi masyarakat.
b. Menjadikan masyarakat mempunyai keinginan belajar diperguruan
tinggi.
c. Memberikan informasi yang berguna khususnya pengelolaan industry
dibidang teknik pemesinan dan pengelasan dalam suatu produk suatu
alat, guna meningkatkan suatu produksi dengan membutukan tenaga
yang tidak begitu besar.
d. Keingintahuan masyarakat tinggi terhadap perkembangan teknologi.
e. Kesadaran masyarakat akan ilmu pengetahuan meningkat.
4. Manfaat bagi dunia pendidikan
a. Diharapkan mampu memberikan kontribusi yang positif terhadap
pengembangan aplikasi ilmu dan teknologi, khususnya pada jurusan
Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Yogyakarta.
b. Dapat menjadi prototipe bagi penelitian lebih lanjut.
8

F. Keaslian
Menurut survey yang telah dilakukan penulis tentang pompa oli yang
ada dalam masyarakat. Pembuatan mesin pompa oli ini sebenarnya hanya
merupakan sebuah modifikasi yang sudah dikaji ulang sebelumnya sehingga
menjadikan mesin ini beda dari yang sudah ada.
Pompa oli merupakan sebuah pompa yang didesain untuk memompa
fluida yaitu oli yang berada dalam suatu wadah seperti drum ataupun tangki.
Pompa oli biasanya dijual secara utuh dan tidak tersedia suku cadangnya.
Penelitian ini diharapkan dapat menghasilkan poros dan roda gigi lurus
yang dapat dipakai sebagai suku cadang dari pompa oli. Pompa ini rotornya
berupa sepasang roda gigi yang berputar di dalam rumah pompa. Roda gigi
ini berupa gigi lurus. Pompa roda gigi lurus mempunyai dua roda gigi yang
yang berpasangan dengan roda gigi lurus yang bersinggungan yang akan
menghasilkan tekanan yang akan menghisap dan memompa oli dari wadah.






9

BAB II
PENDEKATAN PEMECAHAN MASALAH
A. Identifikasi Gambar Kerja
Gambar kerja sangat diperlukan dalam pembuatan poros transmisi. Gambar
kerja dibuat sesuai standard ISO (International Organization for Standarization).
Berikut ini gambar dari komponen yang dibuat:






Gambar 1. Mesin Pompa Oli

Gambar 2. Rumah Pompa Oli
10

Keterangan :
1. Rumah Pompa
2. Tutup rumah pompa
3. Landasan rumah pompa
4. Roda gigi lurus
5. Poros
6. Pipa sambungan keluar/masuk oli
7. Piringan landasan poros
8. Puli poros penggerak
9. Baut

Gambar 3. Roda gigi lurus
Keterangan :
Jumlah gigi (Z) : 12
Modul (M) : 2
N7


Gambar 4. Poros penggerak
11

B. Identifikasi Bahan
Mild steel mempunyai kadar karbon 0,15% - 0,25% yang bersifat liat
dan kuat. Untuk mengidentifikasi bahan jenis ini dapat dilakukan uji
kekerasan. Uji kekerasan yang kita lakukan yaitu dengan uji kekerasan brinell.
Uji kekerasan ini berupa pembentukan lekukan pada permukaan logam
memakai bola baja yang yang dikeraskan yang ditekan dengan beban tertentu.
Beban diterapkan selama waktu tertentu. Beban penuh biasanya diterapkan
selama 10 sampai 15 detik dalam kasus besi dan baja dan selama paling
sedikit 30 detik dalam kasus logam lainnya. Diameter indentasi kiri dalam uji
materi diukur dengan mikroskop berkekuatan rendah. Nomor yang
memanfaatkan Brinell dihitung dengan membagi beban yang diterapkan oleh
luas permukaan indentasi.
Angka kekerasan brinell (BHN) dinyatakan sebagai beban P dibagi luas
permukaan lekukan. Pada prakteknya, luas ini dihitung dari pengukuran
mikroskopik pajang diameter jejak BHN dapat ditentukan dari persamaan
berikut: BHN =
2P
(n.)(-
2
-d
2
)

dengan: P : beban yang digunakan (kg)
D : diameter bola baja (mm)
d : diameter lekukan (mm)
(Dieter,1987)
12

Dalam pemanfaatannya mild steel digunakan sebagai bahan-bahan


pekerjaan pemesinan dan pengelasan .
Berikut ini merupakan spesifikasi bahan yang diperlukan dalam proses
pembuatan poros dan roda gigi lurus :
Tabel 1 Spesifikasi Bahan dan Ukuran
No. Nama komponen Bahan Ukuran Kekerasan
brinell
1 Poros Mild steel 15 200 mm 102 kg/mm
2
2 Roda Gigi Lurus Mild steel 50 50 mm 112 kg/mm
2

C. Identifikasi Alat dan Mesin
Proses pembuatan poros dan roda gigi lurus pada komponen mesin
pompa ini menggunakan beberapa mesin atau alat bantu yang sesuai dengan
bentuk dari komponen yang akan dibuat. Adapun mesin atau alat yang
digunakan dalam proses pembuatan poros dan roda gigi lurus ini antara lain :
mesin gergaji bolak-balik, mesin bubut, mesin frais,tap , kikir, alat ukur
(mistar baja, jangka sorong, high gauge), mesin pres, dan alat bantu
pembuatan
Pengertian dari alat-alat tersebut diatas yaitu:
1. Mesin gergaji bolak-balik
Mesin gergaji bolak-balik (hacksaw machine) merupakan alat yang
berguna untuk memotong benda kerja. Mesin gergaji ini pada umumnya
13

mempunyai pisau gergaji dari panjang 300 sampai 900 mm, ketebalan 1,25
3 mm dan dengan jumlah gigi antara 1 sampai 6 gigi per inchi serta
terbuat dari HSS (high speed steel). Mesin gergaji ini digerakkan oleh
motor listrik, prinsip kerjanya adalah motor listrik dihubungkan dengan
kopling penggerak dan proses penekanan gergaji ke bawah dikarenakan
adanya sistem hidrolik.
Penggunaan mesin ini dalam pembuatan poros dan roda gigi lurus
adalah untuk memotong bahan yang akan digunakan. Pada waktu
pemotongan, bahan dicekam pada suatu ragum yang ada pada mesin
gergaji dan digunakan cairan pendingin untuk mengurangi keausan yang
disebabkan karena gesekan bahan yang dipotong dan mata gergaji. Proses
penggergajian dengan mesin ini lebih efisien dan efektif daripada
menggunakan gergaji tangan (hand hacksaw).
Pemotongan dengan menggunakan cairan pendingin dapat mengurangi
panas yang terjadi akibat gesekan dari daun mata gergaji dengan benda
kerja, serta proses penggergajian menjadi lebih cepat. Dibandingkan
dengan pemotongan tanpa cairan pendingin dan umur dari daun mata
gergaji dapat lebih panjang. Dengan mesin ini kita dapat memotong
benda kerja dalam jumlah banyak, baik dipotong secara bertahap (satu
demi satu) maupun dipotong dengan cara disatukan, dengan demikian
pengerjaannya jauh lebih cepat dan efisien dari pada menggunakan
gergaji tangan.
14


Gambar 6. Gergaji Mesin
Pada mesin gergaji ada tiga bentuk gigi-gigi potong pada daun
yaitu : a. bentuk standar, b. bentuk mata pacing dan, c. bentuk skip.
a. Bentuk standar
Digunakan untuk melakukan pemotongan bahan dengan
permukaan pemotongan halus.
b. Bentuk mata pancing
Bentuk mata gergaji ini sangat efektif dalam pemotongan karena
ia dapat melakukan pemotongan secara cepat, terutama untuk
pemotongan benda lunak.
c. Bentuk skip:
Daun mata gergaji bentuk skip akan dapat memberikan
kebebasan pada beram untuk keluar dari daerah pemotongan dengan
cepat, sehingga pemotongan bisa lebih cepat dan panas akibat dari
gesekan dapat diperkecil
15

Pedoman mengenai hubungan tabel bahan yang akan dipotong dengan


lebar daun mata gergaji serta jarak antar puncak gigi pemotong dengan
puncak gigi pemotong berikutnya atau jumlah gigi pemotong pada setiap 1
(satu) inchi panjang daun mata gergaji.
Tabel 2. Hubungan tebal bahan, lebar daun dan jarak puncak gigi gergaji
Tebal bahan yang
dipotong
Lebar daun mata
gergaji
Jarak puncak gigi-gigi
pemotong
Sampai 16 mm
16 25 mm
25 100 mm
100 250 mm
250 500 mm
25 mm
25 mm
25 mm
25 32 mm
32 50 mm
2,5 mm
3 mm
4 mm
6 mm
8 mm
Kecepatan atau langkah pemotongan per menit adalah :
Tabel 3. Kecepatan Potong
Bahan
Langkah per menit
Dengan
cairan
Tanpa cairan
1. Baja karbon rendah
2. Baja karbon menegah
3. Baja karbon tinggi
4. Baja HSS
5. Baja campuran
6. Besi tuang
7. Alumunium
8. Kuningan
9. Perunggu
100 140
100 140
100
100
100
-
140
100 140
100
70 100
70
70
70
70
70 100
100
70
70
16


2. Mesin bubut
Mesin bubut (turning machine) merupakan mesin yang digunakan
untuk merubah bentuk dan ukuran suatu benda kerja dengan jalan menyayat
benda kerja yang berputar dengan menggunakan pahat. Benda kerja yang
berputar tersebut dipasang pada alat penjepit (cekam), kemudian pahat
bergerak secara memajang maupun melintang atau kombinasi dari gerak
tersebut. Putaran sumbu utama diperoleh dari motor listrik dengan putaran
sabuk penggerak. Ukuran utama mesin bubut ditentukan oleh jarak antara
sumbu utama dengan alas mesin dan jarak antara senter kepala tetap dengan
senter kepala lepas.
Mekanisme mesin bubut adalah dengan pahat yang bermata potong
tunggal, gerak potong berupa putaran benda kerja dan gerak makan yang
berupa gerak translasi pahat. Proses pembubutan sendiri diklasifikasikan
menjadi dua, yaitu pengerjaan bagian luar benda kerja (outside turning) dan
pengerjaan bagian dalam benda kerja (inside turning). Secara umum proses
pengerjaan tersebut adalah : membubut memajang (longitudinal turning)
proses ini dapat dilakukan pada bagian luar dan dalam benda kerja,
membubut melintang (transversal turning) proses ini dapat dilakukan pada
bagian luar dan dalam benda kerja, membubut tirus (taper turning) proses
ini dapat dilakukan pada bagian luar dan dalam benda kerja, membubut
profil (profil turning) proses ini dapat dilakukan pada bagian luar dan dalam
17

benda kerja dan, membubut ulir (thread cutting) proses ini dapat dilakukan
pada bagian luar dan dalam benda kerja.
Penggunaan mesin bubut dalam pembuatan poros dan roda gigi adalah
untuk: membubut facing, membuat lubang ceter, membubut rata, membubut
bertingkat, membuat lubang alur dan pembuattan champer. Mesin bubut
yang kita gunakan yaitu seperti pada (gambar 7).

Gambar 7. Mesin bubut emco dan marro
Proses bubut silindris merupakan proses pemotongan yang sering
dilakukan pada proses pemotongan logam dengan mesin bubut . Proses
pengerjaan poros dan roda gigi blank ,yaitu proses memperkecilkan diameter
poros dan roda gigi blank sesuai dengan diameter yang dikehendaki ,
merupakan salah satu contoh dari bubut silindris. Pada proses bubut silindris
pada saat pemakanan berlangsung pahat potong berlangsung pahat potong
bergerak sejajar sumbu benda kerja.
18

Dalam pembuatan benda-benda tersebut menggunakan mesin bubut dan


perlengkapannya yaitu a. cekam, b. pahat bubut, c. Eretan,d. Kepala Tetap,e
Bor Senter, f. Bor, g. Senter putar, h. Kepala Lepas, i. Rumah Pahat (tool post)
a. Cekam
Proses pencekaman/pemegangan benda kerja pada mesin bubut bisa
digunakan beberapa cara. Cara yang pertama adalah benda kerja tidak
dicekam, yaitu menggunakan dua senter dan pembawa. Dalam hal ini,
benda kerja harus ada lubang senternya di kedua sisi (Gambar 8). Cara
kedua yaitu dengan menggunakan alat pencekam (Gambar 9). Alat
pencekam yang bisa digunakan adalah : collet, cekam rahang empat,
cekam rahang tiga, dan face plate.
1) Collet, digunakan untuk mencekam benda kerja berbentuk silindris
dengan ukuran sesuai diameter collet. Pencekaman dengan cara ini
tidak akan meninggalkan bekas pada permukaan benda kerja.
2) Cekam rahang empat (untuk benda kerja tidak silindris). Alat
pencekam ini masing-masing rahangnya bisa diatur sendiri-sendiri,
sehingga mudah dalam mencekam benda kerja yang tidak silindris.
3) Cekam rahang tiga (untuk benda silindris). Alat pencekam ini tiga
buah rahangnya bergerak bersama-sama menuju sumbu cekam apabila
salah satu rahangnya digerakkan.
19

4) Face Plate, digunakan untuk menjepit benda kerja pada suatu


permukaan plat dengan baut pengikat yang dipasang pada alur T.
Pemilihan cara pencekaman tersebut di atas, sangat menentukan hasil
proses bubut. Pemilihan alat pencekam yang tepat akan menghasilkan
produk yang sesuai dengan kualitas geometris yang dituntut oleh gambar
kerja. Misalnya apabila memilih cekam rahang tiga untuk mencekam
benda kerja silindris yang relatif panjang, hendaknya digunakan juga
senter jalan yang dipasang pada kepala lepas, agar benda kerja tidak
tertekan (Gambar 9).


Gambar 9. Alat Pencekam
b. Pahat Bubut
Gambar 8. Pencekaman diantara Dua Senter

dan
dapa
Adapun
K
1
k
k
b
a
b
1
Adapun jen
roda gigi bl
at dilihat pad
macam pah
Keterangan
1 Pahat ki
kikis lurus ki
kanan ; 6,7
bubut samp
alur;12 . P
bentuk;15.
17,18Paha
nis pahat bu
lank dan y
da gambar di
Gambar
hat bubut dap
Gamb
kis tekuk ka
iri; 4 Paha
.Pahat pol
ing kanan;1
Pahat ulir p
. Pahat
at kait;19 P
ubut yang d
aitu pahat b
i bawah ini y
r 10. Pahat B
pat dilihat pa
bar 11 Maca
anan; 2. P
at kikis sapi
les pucuk; 8
10.pahat
pucuk;13
bubut dala
Pahat ulir D
digunakan da
baja HSS da
yaitu :
Bubut\
ada gambar d
am-macan pa
ahat kikis lu
ing kanan;5
8. Pahat p
bubut samp
Pahat peng
am ;16.
alam
alam pembu
an macam p

di bawah ini
ahat
urus kanan ;
. Pahat pu
poles lebar;
ping kiri;11
gal;14 P
Pahat sud
20
uatan poros
pahat bubut
yaitu :

3. Pahat
ucuk saping
9. Pahat
1. Pahat
Pahat bubut
dut dalam;
21

Gambar 12. Geometri pahat bubut


Tabel 4. Sudut Pahat Bubut Untuk Berbagai Macam Material
Material benda kerja Sudut bebas
samping
Sudut bebas
depan
Sudut tatal Sudut bebas
belakang
Free-machining steel 10 10 10-22 16
Low carbon steel 10 10 10-14 16
Medium carbon steel 10 10 10-14 12
High-carbon steel 8 8 8-12 8
Tough alloy steel 8 8 8-12 8
Stainless steel, free
machining
10 10 5-10 16
Cast iron (soft) 8 8 10 8
Cast iron (hard) 8 8 8 5
Cast iron (malleable) 8 8 10 8
Aluminium 10 10 10-20 35
Copper 10 10 10-20 16
Brass 10 8 0 0
Bronze 10 8 0 0
Molded plastic 10 12 0 0
Plastic, acrylics 15 15 0 0
Fiber 15 15 0 0
22


c. Eretan
Eretan berfungsi sebagai pemegang erat perkakas bubut memberikan
kepadanya gerakan yang diperlukan. Arah gerakan dapat sejajar dengan
tegak lurus atau miring terhadap sumbu bubut. Eretan juga merupakan
tempat kedudukan kacamata jalan
(penyangga berjalan). Eretan harus dibuat dan diberi penuntun sedemikian
rupa sehingga terjamin pengerjaan yang bebas goncangan.
Bagian-bagain utama eretan: Eretan dasar, Eretan lintang, Eretan atas

Gambar 13. Eretan
d. Kepala Tetap
Kepala tetap berfungsi untuk menampung dan menyangga spindel
kerja dan penggeraknya. Karena kepala tetap merupakan lemari gigi.
Unsur ini tidak hanya menyalurkan daya motor, melainkan juga harus
memungkinkan perubahan angka putaran untuk pemilihan kecepatan

putar
deng
e. Bor S
peng
meng
dipas
diam
ran sayat y
gan jalan mem
Senter
Bor sente
gerjaan men
gebor ujung
sang senter p
meter mata bo
yang ekonom
mimdahkan
Gambar
er merupaka
nggunakan
g benda ker
putar. Bor se
or 4 mm.
Gamb
mis pada g
tuas-tuas y
r 14. Kepala
an salah s
mesin bubu
rja yang na
enter yang d
ar 15. Bor S

garis tengah
ang ada dile
a Tetap
satu peralat
ut. Bor sen
antinya luba
digunakan ad

Senter
benda kerj
emari gigi.
tan penduk
nter diguna
ang bor ters
dalah bor sen
23
rja tertentu
kung pada
akan untuk
sebut akan
nter dengan
24

f. Bor
Dalam pembuatan roda gigi blank agar dapat di buat roda gigi
lurus harus menggunakan mandrel karena volume roda gigi relative kecil.
Oleh sebab itu harus dilakukan pengeboran di mesin bubut agar ketelitian
senternya lebih pas. Bor yang digunakan seperti pada (gambar 16)

Gambar 16. Bor
g. Senter putar
Pemasangan senter putar pada benda kerja dimaksudkan untuk
mendukung benda kerja agar tetap senter dan memperkuat pencekaman.


Gambar 17. Senter Putar
25

h. Kepala Lepas
Kepala lepas berfungsi sebagai pendukung pekerjaan yang akan
dipasang antara dua senter dan Sebagai tempat dudukan perkakas (mata
bor, peluas dan lain-lain)
Kepala lepas terdiri atas dua bagian, yaitu alas dan badan. Kedua
bagian itu diikat dengan 2 atau 3 baut dan dapat digeserkan. Pergeseran itu
dilakukan untuk kedudukan kedua senter tidak sepusat dan kedudukan
kedua senter harus tidak sepusat, misal untuk membuat tirus.

Gambar 18. Kepala Lepas
i. Rumah Pahat (tool post)
Pahat bubut bisa dipasang pada tempat pahat tunggal, atau pada
tempat pahat yang berisi empat buah pahat. Apabila pengerjaan
pembubutan hanya memerlukan satu macam pahat lebih baik digunakan
tempat pahat tunggal. Apabila pahat yang digunakan dalam proses
pemesinan lebih dari satu, misalnya pahat rata, pahat alur, pahat ulir, maka
sebaiknya digunakan tempat pahat yang bisa dipasang sampai empat
26

pahat. Pengaturannya sekaligus sebelum proses pembubutan, sehingga


proses penggantian pahat bisa dilakukan dengan cepat (quick change)

Gambar 19. Rumah pahat (tool post)
Tebal gram sebelum terpotong (undeformed chip thickness).
diangap sebagai parameter yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap
besarnya daya pemotongan. Sebenarnya tebal geram sebelum terpotong
dipengaruhi oleh beberapa parameter pemotongan lainya akan dipakai
sebagai acuan untuk menguraikan lebih lanjut tetang ketebalan geram
sebelum terpotong ini.
Dasar parameter potong secara umum yaitu dipengarui oleh gerakputar
benda kerja, kecepatan potong, kecepatan pemakanan, dan ketebalan
pemotongan dapat dijelaskan sebagai berikut:
1) Gerak berputar benda kerja (a) disebut dengan putaran utama (main
motion)
2) Kecepatan potong (cuttingspeed) yaitu kecepatan benda kerja
terpotong oleh pahat akibat putaran utama.
27

3) Kecepatan makanan (feed motion) yaitu Pahat yang bergerak maju


kearah memajang,melintang atau kombinasi gerak memejang dan
melintang secara teratur menyayat benda kerja.
4) Adjusting motion yaitu apabila ketebalan pemotongan (depth of cut)
diatur sesuai dengan kedalaman pemotongan yang dikehendaki.
Elemen dasar pada mesin bubut yang dapat diketahui antara lain,
putaran spindel (speed), gerak makan (feeding) dan waktu pemotongan,
dan faktor lain yang berpengaruh adalah jenis bahan dan pahat yang
digunakan. Beberapa gambaran tentang parameter dari mesin bubut
adalah:



Gambar 20. Parameter pemotongan pada mesin bubut
1) Formula dalam proses pembubutan :
Keterangan :
Benda kerja :
a
D1
D2
n

r
L
28

D1 = Diameter mula ; mm
D2 = Diameter akhir; mm
l
t
= Panjang pemotongan; mm
Pahat :

r
= Sudut potong utama atau sudut masuk
Mesin Bubut :
a = Kedalaman potong; mm
f = Gerak makan; mm/putaran
a) Kecepatan potong (cutting speed)

1000
. . n d
v

= ......m/menit
sehingga
d
v
n
.
1000 .

= ......rpm
Keterangan :
v : kecepatan potong, m/menit
n : putaran poros utama mesin bubut, rpm
d : diameter benda kerja, mm
1/1000 : 1 mm = 1/1000 m
b) Jumlah pemotongan (i)
( )
a
D D
i
. 2
2 1
= ......kali
29

Keterangan :
i : jumlah pemotongan, kali
D1 : diameter awal benda kerja, mm
D2 : diameter setelah dibubut, mm
a : kedalaman pemotongan, mm
c) Waktu potong (T)
i
s n
L
T .
.

= ......menit
Keterangan :
T : waktu yang dibutuhkan untuk pembubutan, menit
L : panjang benda kerja yang dibubut, mm
n : putaran poros utama, rpm
s : kecepatan sayat, mm/putaran
i : jumlah pemotongan, kali

2) Variabel kecepatan potong
Kecepatan potong tidak boleh dipilih sembarangan. Bila kecepatan
potong terlalu rendah waktu pemotongan akan lebih lama, apabila
kecepatan potong terlalu tinggi pahat akan cepat kehilangan kekasarannya
30

(karena temperature ujung pahat menjadi sedemikiaan tinggi). Untuk


menentukan kecepatan potong berikut ini adalah hal hal yang perlu
dipertimbangkan: Material benda kerja, Material pahat, Penampang dari
tatal , Pendingin, Kemampuan mesin.
a) Material benda kerja
Bahan atau material yang keras akan menimbulkan panas yang lebih
tinggi dari pada bahan yang lunak ,maka kecepatan potong bahan
yang keras harus cepat.
b) Material pahat
Cemented Carbide mempunyai ketahanan aus yang lebih tinggi dari
pada HSS.Sehingga kecepatan potong untuk Cemented Carbide dapat
diambil lebih tinggi daripada kecepatan potong pahat HSS.
c) Penampang dari tatal
Pada waktu membubut dengan ketebalan tatal yang tipis (finishing),
kecepatan potongan dapat lebih tinggi dari pada membubut dengan tatal
yang tebal (roughing)
d) Pendingin
Apabila kita menggunakan cairan pemotongan, maka kecepatan potong
yang lebih tinggi dapat kita pilih.
e) Kemampuan mesin
31

Mesin bubut yang besar tentukan saja memiliki kemampuan kecepatan


potong yang lebih besar dari pada mesin yang kecil.
Sehingga dapat disimpulan, pemilihan kecepatan potong harus
memperhatikan berbagai aspek.
3. Mesin Frais
Mesin frais (milling machine) merupakan mesin dengan penyayatan
benda kerjanya dilakukan dengan pahat (cutter) yang diputar oleh poros
spindel mesin. Mekanisme mesin frais yaitu gerak potong yang bermata
potong jamak (multiple point tool) melakukan gerak potong yang berupa
putaran dan benda kerja bergerak secara translasi yang merupakan gerak
makan.
Mesin Frais adalah mesin yang mampu melakukan tugas dari segala
mesin perkakas seperti pemotongan sudut, celah, pembuatan roda gigi,
pemotongan tepi, dan lain-lain. Secara garis besar mesin frais terbagi
menjadi tiga macam, yaitu mesin frais horisontal, mesin frais vertikal dan
mesin frais universal.
a. Mesin Frais Horisontal
Mesin frais horisontal digunakan untuk pengefraisan benda-benda
dengan arah memanjang.
b. Mesin Frais Vertikal
Mesin ini digunakan untuk pengerjaan perkakas seperti pemotongan

te
p
m
d
c. M
M
d
te

u
m
s
m
1
epi, pengebo
perbedaan m
mesin frais
disetel secara
Mesin Frais U
Mesin frais u
dari mesin fr
erhadap poro
Gambar
Pengguna
untuk memb
membuat po
sederhana (p
mesin frais.
1) Ragum se
Alat p
oran, perlua
mesin frais
vertikal me
a aksial.
Universal
universal ber
frais universa
os utama.
r 21 Mesin F
aan alat ba
buat berbag
oros dan ro
plain vise),
derhana (pla
pemegang b
asan lubang
vertikal den
empunyai p
rbeda dengan
al dengan ar
Frais horizon
antu sangat
gi macam b
oda gigi lur
kepala pem
ain vise)
enda kerja
dan pembua
ngan mesin
poros utama
n mesin frai
rah memanj
ntal dan Mes
diperlukan
bentuk ben
rus yaitu s
mbagi (divid
pada mesin
atan alur. Sa
frais horiso
a vertikal y
s horisontal
ang dapat d
sin Frais ver
dalam pen
da kerja y
eperti berik
ding head),
frais berfu
32
atu-satunya
ontal ialah
yang dapat
yaitu meja
dimiringkan

tikal
ngoperasian
aitu untuk
kut: ragum
dan pahat
ungsi untuk
33

memegang benda kerja yang sedang disayat oleh pisau frais.


Pemegang benda kerja ini biasanya dinamakan ragum. Ragum
tersebut diikat pada meja mesin frais dengan menggunakan baut T.
Jenis ragum cukup banyak, penggunaannya disesuaikan dengan
bentuk benda kerja yang dikerjakan di mesin. Untuk benda kerja
berbentuk balok atau kubus ragum yang digunakan adalah ragum
sederhana atau ragum universal (Gambar 16.). Ragum sederhana
digunakan bila benda kerja yang dibuat bidang-bidangnya saling
tegak lurus dan paralel satu sama lain (kubus, balok, balok
bertingkat). Apabila digunakan untuk membuat bentuk sudut
digunakan ragum universal atau bila menggunakan ragum
sederhana bentuk pisau yang dipakai menyesuaikan bentuk sudut
yang dibuat. Ragum yang kita gunakan untuk membuat rumah
pasak pada poros dan roda gigi lurus yaitu seperti pada gambar
dibawa ini :

Gambar 22.(a) Ragum sederhana (plain vise) Ragum universal
yang biasa digunakan pada ruang alat

Ragum biasa yang dipasang langsung pada meja mesin frais
34

hanya dapat digunakan untuk mengerjakan benda kerja lurus atau


bertingkat dengan bidang datar atau tegak lurus. Apabila benda
kerja yang dibuat ada bentuk sudutnya, maka ragum diletakkan
pada meja yang dapat diatur sudutnya (identik dengan meja sinus).
Meja tersebut (Gambar 22), diikat pada meja mesin frais.
2) Kepala Pembagi (dividing head)
Guna kepala pembagi yaitu apabila bentuk benda kerja silindris,
maka untuk memegang benda kerja digunakan kepala pembagi. Kepala
pembagi (Gambar 23.) ini biasanya digunakan untuk memegang benda
kerja silindris, terutama untuk keperluan: Membuat segi banyak,
Membuat alur pasak, Membuat roda gigi (lurus, helix, payung),
Membuat roda gigi cacing

Gambar 23. Kepala pembagi (dividing head)
untuk membuat segi banyak, roda gigi, atau helix
3) Pahat Mesin Frais
Pahat frais dengan diameter tertentu dipasangkan dengan poros
utama (spindle) mesin frais dengan perantara poros pemegang atau
langsung dengan hubungan poros dan lubang konis (stub arbor) .
35

Dalam pembuatan roda gigi digunakan pisau roda gigi (Gear


Cutters) Sebagaimana alat-alat potong pada mesin bubut, pisau roda
gigi dibuat dari bahan baja carbon (carbon steel) atau baja kecepatan
potong tinggi (High Speed Steel = HSS). Bentuknya dibuat sedemikian
rupa sehingga hasil pemotongnya membentuk profil gigi, yakni garis
lengkung (evolvente). Macam Pisau Frais Roda Gigi yaitu Tipe plain,
dan tipe stocking.
a) Tipe plain
Digunakan baik untuk pemotongan pengasaran maupun untuk
penyelesaian (finishing) pada roda gigi dengan profil gigi kecil
(modul kecil) gambar24.

Gambar 24.. Gear plain cutter (pisau gigi tipe plain)
b) Tipe stocking
Pada gigi pemotong mempunyai alur yang selang-seling
(Gambar 19). Beram (tatal) akan terbuang sebagian melalui alur-
alur. Karena alurnya berselang-seling, maka pada benda kerja tidak
akan terjadi garis-garis. Cutter tipe ini digunakan untuk
pengefraisan pengasaran pada roda gigi dengan profil besar (modul
36

= 2,5 + 12). Untuk penyelesaian (finishing) digunakan cutter tipe


plain.

Gambar 25. Gear stocking cutter (pisau gigi tipe stocking)
4) Elemen dasar proses Frais
Elemen dasar proses frais yaitu hampir sama dengan elemen
dasar proses bubut. Selain kecepatan potong seperti dijelaskan pada
proses-proses pemesinan sebelumnya, elemen dasar proses frais dapat
dihitung dengan menggunakan rumus yang diturunkan dari kondisi
pemotongan selama proses tersebut dilakukan. Elemen diturunkan
berdasarkan rumus dan (Gambar 26.) berikut.
37



Gambar .26. Parameter pemotongan pada mesin freis vertikal dan freis
horizontal


a) Kecepatan potong (cutting speed)

1000
. . n d
v

= ......m/menit
sehingga
d
v
n
.
1000 .

= ......putaran/menit
b) Kecepatan pemakanan (feeding)
Vf = f.(n.z)
c) Waktu
38

put zmm a a
n a v
v
L
t
t
a
h
/ .
. ;
=
= =
...... menit
Keterangan :
v : cutting speed, m/menit
d : diameter cutter, mm
f
v : feeding
L : panjang benda kerja (
v w n
l l l + + ), mm
h
t : Waktu pengefraisan (menit).
f
v : kecepatan pemakanan, mm/menit
f : gerak makan, mm/langkah
n : jumlah langkah per menit, langkah/menit
w : lebar pemotongan benda kerja, mm
a : ingsutan per putaran (mm/putaran)
a
t
: ingsutan per gigi (mm/menit)
z : jumlah gigi frais
Dalam pembuatan Roda gigi dapat menurut metode pembagian atau
metode penguraian. Dengan bantuan kepala pembagi seperti pada (gambar 3.),
39

roda gigi menurut pembagian dapat difrais pada mesin frais universal.
Pada pengefraisan ini kita pakai frais profil yang di bubut belakang frais
modul, yang profil sisi sayatnya sama dengan lekukan giginya. Tengah
tengahnya frais harus tepat berada diatas garis hati benda kerja. Profil dari
lekukannya tergantung dari jumlah gigi, jadi demikian pula frais modulnya.
Oleh karena itu secara praktis tidak mukin untuk tiap modul membuat frais
modul dalam jumlah yang begitu besar, kita satukan beberapa jumlah gigi
menjadi satu kelompok. Untuk tiap kelompok hanya diperlukan satu frais,
sehingga untuk setiap modulus, satu pasang frais yang lengkap hanya terdiri
dari 8 atau 15 buah (Tabel 5.)
Table 5. Nomor-nomor dari frais modul 1 Frais modul sampai m = 10 mm
No.
frais
Untuk roda gigi
dengan
No
frais
Untuk roda gigi
dengan
No
frais
Untuk roda gigi
dengan
1. 12-13 gigi 1 12 gigi 5 26-29
2. 14-16 gigi
1
1
2

13 gigi
5
1
2

30-34
3. 17-20 gigi 2 14 gigi 6 35-41
4. 21-25 gigi
2
1
2

15-16 gigi
6
1
2

42-54
5. 26-34 gigi 3 17-18 gigi 7 55-79
6. 35-54 gigi
3
1
2

19-10 gigi
7
1
2

80-134
7. 55-134 gigi 4 21-22 gigi 8 135 sampai
batang gigi
8. 135sampai
batang gigi

4
1
2

23-25 gigi
Sumber (Harun 1981:252)
Ukuran dari roda gigi tidak tergantung dari pembuatannya.
Ukuran-ukurannya dinyatakan dengan symbol-simbol
d = diameter lingkaran tusuk
40

d
k
= diameter lingkaran kepala (luar)
d
f
= diameter kaki (dalam)
t = tusuk +)
h = tinggi gigi
h
k
= tinggi kepala gigi
h
f
= tinggi kaki gigi
s = tebal gigi +)
l = keregangan lekuk +)
b = lebar gigi
+) diukur pada lingkaran tusuk
(Harun 1981:373 )
Suatu gigi dibatasi oleh kepala dan kaki lingkaran. Pada lingkaran normal
gigi gigi membuat jarak antara kedua gigi diukur pada lingkaran normal
dinamakan jarak puncak. Jarak puncak adalah hasil perkalian modul
distandarisasi untuk seri yang terpilih.

Modul adalah suatu angka muhtlak, dan hasil perkalian dari jarak puncak dalam
satuan mm
Perhitungan ukuran utama roda gigi lurus
Jarakpuncakmodul=modulm t=m dalammm
41

Modul gigi (m)


Jika roda gigi mempunyai ukuran diameter jarak bagi (D), dan jumlah
giginya (Z) maka modulnya adalah m =

z

Roda gigi yang mempunyai diameterrarak bagi dengan jumlah gigi (z) dengan
jarak busur antara giginya (t) kelilingnya adalah (z . t) atau dapat ditulis :
n J = Z t otou
J
Z
=
t
n

Dan diketahui m =
d
z

Maka juga modul dapat dihitung dengan m =
t
m

Diameter lingkaran jarak / diameter jarak bagi (d) J = Z m
Diameter kepala (J
k
) J
k
= J +2. m
Diameter kaki (J
]
)
menurut standar NEN J
]
= J -2,Sm
menurut standar DIN J
]
= J - 2,SSS m
Tinggi kepala gigi (b
k
) b
k
= 1 m
Tinggi kaki gigi (b
]
)
menurut standar NEN b
]
= 1,2S m
menurut standar DIN b
]
= 1,166 m
Tinggi gigi (h) b = b
k
+b
]

Jarak antara poros (a) o =
d
1
+d
2
2

Angka tramisi ( i ) i =
n
1
n
2
=
d
2
d
1
=
z
2
z
1

Lebar gigi ( b )
42

Untuk : Roda gigi yang dibuat kasar


b = ( 6 sampai dengan 8) m
Roda gigi yang dikerjakan normal
b = 10 sampai dengan 15 ) m
(Harun 1981 : 249)
5) Pendinginan
Pendinginan dengan bahan yang sesuai, digunakan untuk menjaga
kualitas permukaan benda kerja dan juga untuk memperpanjang umur
pahat frais itu sendiri. Yang dipakai tergantung dari jenis bahan yang
sedang dikerjakan
4. Tap
Tap (tapping tool) merupakan alat yang mempunyai gigi-gigi untuk
membuat ulir dalam. Prinsip kerja tap ini adalah dengan mengkombinasikan
antara gerakan rotary dan aksial antara tap dan benda kerja. Beberapa jenis
tap, misalya hand tap, spiral point tap, spiral flute tap dan pipe tap. Untuk
proses pembuatan ulir dalam dengan tap diperlukan alat untuk memegang
tap (tap wrenches). Sney (tapping die) untuk membuat ulir luar. Material
tap dan sney terbuat dari baja HSS. Proses pembuatan ulir dengan tap
maupun sney dapat dilakukan pada mesin bubut, tetapi dilakukan dengan
cara tidak menghidupkan mesin bubut
Tap adalah alat untuk membuat ulir sekerup bagian dalam dengan

tangan
dalam s
sedikit
No.3 Bo
a. Tap
diu
dih
b. Tap
pen
yang umum
satu setel te
ulir penuh)
ottoming (m



p No. 1
Ini ya
ujungnya un
hasilkan hany
p No. 2
Ini dip
ndek dari N
mnya terdap
rdapat tiga m
, No.2 Plug
memiliki ulir
Ga
Gamba
ang pertam
ntuk memp
ya 55 % d
pakai setelah
No. 1, tap No
1
pat satu sete
macam, yait
g (hanya me
penuh)
ambar 27. Ta
ar 28. Tangka

ma digunak
permudah p
ari bentuk u
h No. 1 be
. 2 hanya 25
2
3
el pengulir
tu: No.1 Tap
emiliki sebag
ap
ai Tap
kan mempu
pemotongan.
lir yang sesu
entuk tirus
5 % pemoton
dalam (tap)
pper (hanya
gian ulir pe
unyai bent
. Bentuk u
ungguhnya.
pada ujungn
ngannya.
43
), dimana
a memiliki
enuh), dan

tuk tirus
ulir yang
nya lebih
44

c. Tap No. 3
Ini adalah yang terakhir yang membentuk profil penuh dan
bagian tirus pada ujungnya sangat pendek sehingga dapat mencapai
dasar untuk lubang yang tidak tembus.
5. Alat Ukur (mistar baja, jangka sorong)
Mistar baja adalah alat ukur yang terbuat dari baja tahan karat.
Permukaannya terdapat guratan-guratan yang dalam satuan inchi,
sentimeter, milimeter serta gabungan dari ketiganya. Mistar baja berfungsi
untuk mengukur panjang, lebar, tebal, memeriksa kerataan suatu benda
kerja, menentukan batas-batas ukuran dan sebagai pembantu untuk menarik
suatu garis pada permukaan benda kerja.

Gambar 29. Mistar baja
Jangka sorong (vernier caliper) berfungsi untuk mengukur dimensi luar
dari suatu benda, seperti panjang, lebar, tebal, dan diameter. Jangka sorong
mempunyai kapasitas yang bermacam-macam, tergantung dari kebutuhan
atau penggunaan jangka sorong tersebut, diantaranya: Kapasitas 150 mm
dengan ketelitian 0,05 mm, Kapasitas 200 mm dengan ketelitian 0,02 mm
Bahkan ada yang berkapasitas lebih dari 1000 mm
45


Gambar 30. Vernier caliper
6. Kikir
Kikir adalah suatu peralatan untuk mengikis / mengetam permukaan
bahan besi siku, sehingga dapat menghasilkan permukaa benda kerja yang
halus. mengikir adalah salah satu dari banyak macam kerja bangku yang
penting dan sulit untuk mencapai hasil yang tepat, sampai saat ini mengikir
tidak dapat diganti dengan cara lain. Dengan semakin banyaknya jenis
bahan untuk pembuatan benda kerja maka dibuatlah berbagai jenis kikir
dengan berbagai jenis bahan dan berbagai bentuk. Kikir dibuat dari baja
karbon tinggi yang ditempa dan sesuai dengan panjangnya, bentuknya,
jenisnya dan gigi pemotongannya. Kikir digunakan untuk mengerjakan
bahan-bahan yang keras sebab permukaan benda kerja akan tergesek dengan
baik tanpa tenaga besar, sudut potongannya yang besar itu memberikan
perlawanan yang baik terhadap mata potongan itu. Macam- macam betuk
gigi kikir miring, dan kikir lengkung
a. Bentuk gigi kikir miring
Digunakan untuk mengerjakan benda-benda yang lunak misalnya;
timah hitam, themoplastik, alumunium murni dan sebagainya. Untuk
46

menghindari beram-beram yang melekat pada alur gigi maka gigi


tersebut diengkapi dengan pemutus beram.
b. Bentuk gigi kikir lengkung
Digunakan untuk mengerjakan bahan yang lunak misalnya; anti
karodal, duralumunium, gigi-giginya yang dilengkapi dengan pemutus
beram tetapi pengeluaran beram tersebut terjadi dari kedua sisinya.

Gambar 31. Macam-macam kikir
7. Mesin Pres
Mesin Pres adalah alat gaya taken yang berguna untuk
meluruskan/menekan suatu benda. Mesin Pres ada berapa jenis diantaranya
yaitu mesin pres otomatis dan mesin pres manual.
a. Mesin Pres Otomatis
Alat penekan yang kekuatannya diLakukan secara otomatis dengan
mesin, sehingga prosesnya lebih cepat & efektif.
b. Mesin Pres Manual
Alat penakan yang kekuatanya dilakukan dengan cara manual
47

Proses pembuatan pisau pada mesin pencacah plastik ini menggunakan


mesin pres manual, karena lebih mudah dioperasiakan dan efisien.

Gambar 32. Mesin pres
Mesin pres digunakan dalam pembuatan roda gigi yaitu untuk
mengepres mandrel agar dapat masuk kelubang poros untuk dapat di
pasang di kepala pembagi. Serta untuk memasukan poros pada lubang
poros pada roda gigi lurus sebagi poros perenggerak roda gigi.
8. Alat Bantu Pembuatan
Di dalam pembuatan poros dan roda gigi lurus pada mesin pompa oli
ini diperlukan beberapa alat bantu, antara lain : arbor, kolet, chuck drill &
key, kunci c dan palu plastik, kunci l 6, 8 dan 12, senter putar, kunci pas
12-13 dan 17-19, bor 5,12mm, center drill, reamer 13mm, kompresor
udara dan spray gun pahat bubut rata kanan, pahat bubut dalam, penitik,
penggores dan jangka tusuk dan palu, mandrel , dan ragum tetap.

48

D. Keselamatan Kerja
Keselamatan kerja adalah keselamatan yang berhubungan dengan
mesin, pesawat alat kerja, bahan dan pengelolaannya, landasan tempat
kerja dan lingkungannya serta cara-cara melakukan pekerjaannya.
Keselamatan kerja pada pekerjaan pemesinan maupun fabrikasi pastilah
membutuhkan peralatan untuk menjaga keselamatan kerja, begitu pula
dalam proses pembuatan poros dan roda gigi lurus ini yang memakai
berbagai jenis mesin dan alat, untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum
bekerja pada suatu mesin kita harus mempertimbangkan dan mengingat
akan keselamatan kerja, sehingga program kerja akan berjalan dengan
lancar.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum mengoperasikan mesin
yaitu : pelajari dulu bagaiman cara mengoperasikan mesin yang akan
digunakan, liat dan pelajari gambar kerja sebelum praktek, pakailah
pakaian kerja wearpack pada saat bekerja, jangan lupa menggenakan kaca
mata sebagai pengaman apabila menggerjakan benda kerja pada mesin dan
menghasilkan tatal yang berloncatan, jauhkan jarijari dari alat atau benda
kerja yang berputar, jangan memindahkan tatal pada mesin dengan tangan
telanjang, gunakan kuas dan memakai sarung tangan, pasanglah selalu
bendabenda dan alat pada mesin dengan kuat, jangan menghentikan
bagian yang masih berputar pada mesin dengan tangan, jangan
membersihkan mesin atau benda kerja, pada saat mesin bekerja,jangan
menjalankan mesin dengan mengajak berbincangbincang pada waktu
bekerja, jangan meninggalkan mesin pada saat mesin masih bekerja
(hidup), dan perhatikan dalam menempatkan alat alat bantu seperti palu
kunci kunci alat ukur dalam keadaan ditumpuk jadi satu.
Peralatan keselamatan kerja yang digunakan dalam melakukan kerja
praktek yaitu : pakaian kerja (wearpack), sarung tangan, kuas, kacamata,
dan sepatu kerja.

49

BAB III
KONSEP PEMBUATAN
A. Konsep Umum Proses Pembuatan Produk
Dalam proses pembuatan produk tertentu membutuhkan pengetahuan yang
cukup dan mendasar. Produk harus didisain sehingga harga bahan ,ongkos
memproduksi, dan biaya penyimpanan harus ditekan seminimal mungkin. Untuk
menghasilkan produk dengan ketelitian yang tinggi diperlukan mesin dan operasi
yang lebih baik disamping tenaga trampil yang memenuhi persyaratan dan kendali
yang ketat. Selain itu juga pemilihan mesin perkakas dengan terencana didisain
mesin yang lebih efisien dengan perpaduan berbagai operasi dan dengan
meningkatkan kemampuan mesin, sehingga proses untuk membuat produk dapat
dihemat waktu dan tenaga. Hal ini dapat diperoleh biaya minimum untuk setiap
benda kerja. Dalam proses pembuatan produk menurut B.H Amstead (1979 : 5),
klasifikasi proses produksi dapat digolongkan sebagai berikut :
1. Klasifikasi proses produksi
Secara umum proses produksi diklasifikasikan melalui berbagai
proses diantaranya : proses pembentukan, proses pemesinan/ machining,
proses penyambungan, dan proses penyelesaian permukaan.
a. Proses untuk mengubah bentuk bahan
Proses pembentukan bahan mengalami perubahan bentuk
menjadi produk jadi atau setengah jadi. Beberapa proses mengubah
bentuk logam atau bahan lain adalah sebagai berikut proses pengecor,
50

proses penempaan, proses ektrusi, proses pengerolan, proses


penarikan , proses penekanan, proses penubukan, proses tusuk-tekan,
proses pemukulan,proses pembengkokan, preses penggutingan, proses
putar tekan, proses tarik tekan, proses rol bentuk, pembentukan
eksplosif, pembentukan elektrohidrolik, pembentukan magnetik,
pembentukan elektro, pembentukan serbuk logam, dan pencetakan
plastik
Dalam proses pembentukan elektro, pembentukan serbuk
logam, dan pencetakan plasti, benda mula bukan hasil coran, produk
yang dibentuk secara elektro terjadi karena deposisi elektrolitik dari
logam pada pola yang bersifar konduktif. Logam mengendap dari
larutan elektrolit dan lempengan atau batang logam murni
merupakan adonannya. Proses ini digunakan untuk membuat alat
atau suku cadang dengan ketebalan yang memerlukan presisi tinggi.
Metode yang digunakan dalam produksi suku cadangan dari serbuk
logam pada dasarnya merupakan operasi pemapatan. Serbuk logam
dimasukan kedalam cetakan logam lalu dipadatkan dengan tekanan
tinggi. Kermudian diperlukan pemanasan untuk mengikat partikel
serbuk yang dikenal sebagai proses sinter. Plastik dicetak dibawa
pengaru panas atau dengan atau tanpa tekanan sehingga bentuknya
sesuai dengan pola cetakan. Pembetukan peledakan, elektro hidrolik
dan magnetik adalah proses dengan laju energi tinggi, dimana
51

produk dibentuk secara cepat pada tekanan tinggi. (B.H Amstead,dkk


1979 : 5).
b. Proses pemesinan/machining
Dalam memproduksi menurut B.H Amstead, (1979:5) dikenal
berbagai operasi pemesinan pemotongan geram tradisional dan bukan
tradisional sebagai berikut:
1) Proses pemotongan geram tradisional meliputi proses pembubutan,
penyerutan, pengetaman, penggurdian, pengeboran, pelebara,
penggergajian, potong tarik, pengefraisan, penggerindaan, hobbing,
dan rounting.
2) Proses pemesinan bukan tradisional meliputi proses ultrasonik, erosi
loncatan listrik, laser optik, elektro kimia, fris kimia, pemotongan
abrasi, proses pemesinan oleh berkas elektron, dan proses busur
plasma.
Proses kelompok B umumnya diterapkan pada proses produksi yang
memerlukan ketelitian yang tinggi, disini logam dipotong menjadi geram
yang halus. Perkakasa dilengkapi dan digerakan oleh motor. Gerakannya
bolak-balik atau berputar sementara benda kerja atau pisau potong yang
bergerak. Pada mesin potong benda kerjnya diam sedang pisau potongnya
bergerak. Pada mesin bubut benda kerjanya berputar sedangkan pisaunya
52

diam sedangkan pada mesin bor alatnya yang bergerak sedangkan benda
kerjanya diam. (B.H Amstead,dkk 1979 :6).
Pada pemesinan ultrasonik, logam digerus secara bertahap oleh
butiran amril yang dihanyutkan dalam cairan dan mengenai permukaan
logam dengan kecepatan yang tinggi. Cairan tersebut digerakan oleh
generator ultrasonik. Pada pemesinan loncatan listrik dan pemesinan busur
litrik, digunakan busur khusus sehingga dapat mengikis benda yang
bersifar penghatar. Laser optik adalah suatau berkas foton yang kuat yang
dapat menimbulkan suhu yang sangat tinggi sehingga dapat memotong
atau mengfelas logam. Pada pemesinan kimia, logam terkikis secara
kimiawi atau terkikis dengan menggunakan proses pelapisan terbalik. (B.H
Amstead,dkk 1979 :6).
c. Proses Penyambungan
Produk yang terdiri dari dua atau lebih bagian memerlukan proses
penyambungan meliputi Pengelasan, Solder, Mematri, Sinter,
Penyambungan, Pengelingan, Penyambungan dengan baut, dan Perekatan
dengan lem
Pada proses pengelasan, bagian logam dijadikan satu dengan cara
mencairkannya. Disini diperlukan panas dengan atau tanpa tekanan. Solder
dan mematri adalah dua proses sejenis, diatara kedua potongna logam
ditambahkan logam lain dengan keadaan cair. Proses sinter mengikat
partikel logam dengan cara pemanasan. Perekatan dalm bentuk serbuk, cair,
53

bahan padat, dan pita banyak digunakan untuk menyambung logam, kayu,
gelas, kain, atau plastik. (B.H Amstead,dkk 1979 : 8).
d. Proses penyelesaian permukaan
Proses ini bertujuan untuk menghasilkan permukaan yang licin, datar
dan bagus atau untuk menghasilkan lapisan pelindung. Dapat dilakukan
dengan cara proses polis, gosok amril, penghalusan lubang bulat,
penggosokan halus, penghalusan rata, pelapisan semprot logam,
perkerizing, seradisasi. (B.H Amstead,dkk 1979 : 7).
Dalam proses diatas hampir tidak mengubah dimensi khususnya hanya
menyelesaikan permukaan.
2. Konsep pembuatan poros dan roda gigi lurus
Untuk menghasilkan suatu poros dan roda gigi lurus dapat dilakukuan
dengan berbagai cara, yaitu : proses pengecoran (casting), pengerolan,
metarlugi serbuk, dan proses penempaan.
a. Proses pengecoran/casting
Produk yang berupa poros dapat diperoleh dengan pengecoran secara
langsung dari logam cair menjadi logam padat berbentuk poros ataupun
roda gigi. Menurut B.H Amstead, (1979) dikenal berbagai cara proses
pengecoran khusus sebagai berikut : die casting, pengecoran centrifugal,
54

pengecoran presisi / pengecoran invesmen, dan penecoran kontinu


(continuous casting)
1) Die casting
Proses ini mempergunakan tekanan dalam memasukkan logam cair ke
dalam rongga cetakan dan dengan dibawah tekanan dibiarkan
membeku .
2) Pengecoran Centrifugal
yaitu menuangkan logam cair ke dalam cetakan yang berputar dan
akibat gaya sentrifugal logam cair akan termampatkan. Hal ini
dipengaruhi gaya sentrifugal benda coran akan padat, permukaan halus
dan stukturlogam yang dihasilkan mempunyai sifat fisik yang unggul
dan simetris.
3) Pengecoran Presisi atau Pengecoran Invesmen
yaitu pengecoran yang menghasilkan produk presisi berukuran teliti
dengan permukaan yang sangat halus.
4) Penecoran Kontinu (continuous casting)
yaitu logam dituangkan kedalam cetakan yang dapat didinginkan
dengan cepat; logam yang telah membeku kemudian segera ditarik.
b. Pengerolan
55

Suatu pengerolan logam pada dasarnya terdiri atas: rol, bantala, dan
rumah untuk tempat komponen komponen tersebut. Serta pengendali
untuk mengatur daya untuk rol dan untuk mengendalikan kecepatan.
Untuk pembuatan poros digunakan mesin rol batang (bar roll) atau mesin
dagang (mechant mill).mesin ini memiliki 2 atau 3 tingkatan. Suatu
instalaasi yang umumnya terdiri dari stan kasar,stan untaian dan stan
penyelesaian (George E. Dieter 1992 : 203).
c. Metalurgi Sebuk
Proses Metalurgi Sebuk adalah suatu kegiatan yang mencangkup
pembuatan benda kerja komersial dari serbuk logam melalui penekanan.
Metalurgi Sebuk digunakan untuk pembuatan roda gigi kecil dari serbuk
logam yaitu dengan penekanan (pressing).( B.H Amstead, 1979 : 203).
d. Proses Penempaan
Penempaan adalah proses pembentukan logam secara plastis dengan
memberikan gaya tekan pada logam yang akan dibentuk. Gaya tekan yang
diberikan bisa secara manual maupun secara mekanis. Dalam teori B.H
Amstead, (1979) proses penempaan dikenal berbagai cara yaitu :
penepaan menggunakan palu, penempaan timpah, penempaan tekan, dan
penempaan upset.
1) Proses penempaan palu
Merupakan penempaan yang paling sederhana, proses ini
diprioritaskan untuk membuat benda kerja yang sederhana dalam skala
produksi kecil.
56

2) Penempaan Timpah
Penempaan timpah hampir sama dengan proses penempaan palu hanya
perbedaannya pada die nya yang menggunakan die tertutup, dan
benda kerja terbentuk akibat impak atau tekanan yang memaksa logam
panas plastis memenuhi dan mengisi bentuk die.
3) Penempaan tekan
Deformasi logam melalui penekanan berlangsung dengan lambat.
4) Penempaan Upset
Batang penampangn rata jepit dalam die dan ujung yang dipanaskan
ditekan sehingga mengalami perubahan bentuk.
e. Proses pemesinan/machining
Bahan untuk membuat poros dan roda gigi lurus dikerjakan
menggunakan mesin hingga mencapai berbentuk silindris sesuai ukuran
yang diinginkan. untuk membuat poros dapat dilakukan dengan cara
pembubutan.
Dalam proses pembuatan poros penggerak pada mesin pompa oli ini,
yang digunakan yaitu proses pemesinan/machining. Benda kerja
dikerjakan menggunakan mesin bubut, kemudian dilanjutkan dengan
mesin frais untuk membuat alur.
B. Konsep Pembuatan Poros penggerak dan Roda Gigi lurus
Berdasarkan pada konsep pembuatan umum yang telah dipaparkan di atas,
proses pembuatan poros dan roda gigi lurus ini menggunakan proses pemesinan,
57

proses penyelesaian permukaan, proses perakitan untuk merangkai komponen-


komponen mesin. Adapun masing-masing proses dijelaskan sebagai berikut :
1. Proses pemesinan
a. Poros penggerak
Dalam proses pembuatan poros penggerak, proses pemesinan yang
dilakukan yaitu dengan cara : penggergajian, pembubutan, dan
pengetapan.
1) Penggergajian
Pemotongan bahan menggunakan gergaji mesin karena lebih mudah,
lebih cepat dan resiko mata gergaji patah kecil. Penggergajian ini
digunakan untuk pemotongan bahan. Material yang dipotong sebagai bahan
poros sesuai dengan bahan yang dianjurkan pada gambar kerja.
2) Pembubutan
Dalam proses pembuatan poros penggerak pada komponen mesin
pompa oli ini digunakan mesin bubut untuk memotong permukaan. Poros
penggerak utama ini dibuat dengan cara pembubutan facing dan
pembubutan lurus supaya benda kerja bentuknya silindris.
3) Pengetapan
Pengetapan dilakukan untuk pembuatan ulir dalam M 5 x 0,8. Proses
pengetapan dilakukan bertahap mulai dari tap no.1, tap no.2, sampai tap
58

no.3. Pengetapan tersebut berfungsi sebagai pengikat antara poros


penggerak dengan puli.
b. Roda gigi lurus
Dalam proses pembuatan roda gigi lurus, proses pemesinan yang
dilakukan yaitu dengan cara : penggergajian, pembubutan, dan pengefraisan
1) Penggergajian
Pemotongan bahan menggunakan gergaji mesin karena lebih mudah,
lebih cepat dan resiko mata gergaji patah kecil. Penggergajian ini
digunakan untuk pemotongan bahan. Material yang dipotong sebagai bahan
roda gigi sesuai dengan bahan yang dianjurkan pada gambar kerja.
2) Pembubutan
Dalam proses pembuatan roda gigi lurus pada komponen mesin
pompa oli ini digunakan mesin bubut untuk membuat roda gigi blank
terlebih dahulu dengan membubut facing dan membubut lurus membubut
dalam.. Selain benda kerja bentuknya silindris juga untuk memudahkan
dalam pengeboran senter sehingga untuk pengerjaan lebih lanjut seperti
frais, dan finishing.
3) Pengefraisan
Pengefraisan ini dilakukan untuk membuat roda gigi lurus pada roda
gigi blank yang sudah dibuat sebelumnya dengan mesin bubut pembuatan
roda gigi dilakukan dengan mengunakan pisau frais gigi dengan bentuk
gigi seperti pada gambar kerja yang dilampirkan. Roda gigi dibuat denagn
59

pembagian menggunakan kepala pembagi agar hasil lebar dan tingi gigi
sama.
2. Proses penyelesaian permukaan
Dalam pembuatan poros juga mengalami proses penyelesaian permukaan
yaitu dengan proses gosok amril,.Begitu juga dalam finising pembuatan roda gigi
untuk membersikan tatal menggunakan kikir segi tiga atau setengah lingkaran.
Proses ini hampir tidak mengubah dimensi khususnya hanya menyelesaikan
permukaan dan membersikan tatal yang masih menempel alur roda gigi.
3. Proses penyambungan atau perakitan
Proses penyambungan / perakitan dalam proses pembuatan mesin pompa
oli menggunakan beberapa alat yaitu baut, pres, dan las.
a. Baut
Dalam proses perakitan yang dilakukan adalah melakukan pemasangan
transmisi dengan poros penggerak dengan puli menggunakan baut.
Penguncian dengan baut dilakukan dengan kuat agar tidak goyang/oleng saat
mesin berputar.
b. Pres
Dalam proses perakitan memggunakan mesin pres manual yang
dilakukan adalah melakukan pemasangan poros dengan roda gigi lurus
dengan memasukan poros pada lubang roda gigi dengan memberikan
tekanan secara perlahan sampai ukuran poros yang masuk sesuai yang
diinginkan.
60

c. Las
Dalam proses perakitan memggunakan las yang dilakukan adalah
melakukan pemasangan poros dengan roda gigi lurus yang sudah dipres.
Pengelasan bertujuan agar poros bergerak bersaamaan dengan roda gigi
(menyatu).
4. Setting transmisi
Proses ini merupakan pemasangan motor listrik, pemasangan poros,
pemasangan puli dan penyetelan kedudukan kedua puli agar kedudukannya
sejajar sehingga jika dipasangi belt dapat berputar dengan stabil.










61

BAB IV
PROSES PEMBUTAN, HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Diagram Alir Proses Pembuatan

Gambar33.DiagramAlirProsesPembuatanPorosdanRodaGigiLurus
NOGO() NOGO(+)
Ya
Ya
Tidak

Mulai
Identifikasi Gambar Kerja
Persiapan Bahan Persiapan Alat
Standart Operasional Production (SOP)
Proses Pembuatan Komponen
Apakah Ukuran
Sesuai dengan
Gambar Kerja ?
Proses Perakitan Komponen
Apakah Uji
Fungsional sesuai
harapan?
Perbaikan
Uji Kinerja Mesin
Selesai
62


B. Visualisasi Proses Pembuatan Poros dan Roda Gigi Lurus
Adapun urutan langkah kerja dari proses pembuatan komponen poros penggerak
roda gigi lurus dan roda gigi lurus pada komponen mesin pompa oli. Pada proses
pembuatan poros dan roda gigi lurus pada komponen mesin pompa oli terdapat
beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu: mempersiapkan gambar kerja,
mempersiapkan bahan yang akan digunakan, persiapan alat atau mesin, proses
pembuatan komponen yang dibuat, dan uji fungsional. Adapun tindakan dan
keselamatan kerja dalam proses pembuatan komponen ini adalah melakukan proses
kerja sesuai dengan prosedur dan langkah kerja yang diinstruksikan, mengenakan baju
kerja dan alat perlengkapan keselamatan kerja, meletakkan semua alat ukur pada
tempat yang aman/terpisah dengan barang kasar, dan jangan membersihkan tatal
benda kerja selama mesin berjalan. Semuanya sudah di cantumkan pada (Tabel 6)
Standart Operasional Production (SOP).
1. Identifikasi Bahan
Bahan poros yang digunakan adalah Mild steel dengan ukuran 13 x 50
mm. untuk poros roda gigi lurus juga menggunakan bahan Mild steel dengan
ukuran 13 x 140 mm.
Bahan roda gigi lurus yang digunakan adalah mild steel dengan ukuran 50
x 50 mm.



63

2. Alat Atau Mesin Yang Digunakan



Tabel 6. Alat, Mesin, dan Instrumen yang digumakan dalam pembuatan
komponen mesin Pompa oli
No. Bagian komponen Alat, Mesin dan Instrumen
1. Poros
1) Mesin gergaji Great Captain
2) Mesin bubut Emco
Pahat HSS
Senter lepas
Bor senter
Cekap raham 3
Kunci chuck mesin bubut
coolent
3) Jangka sorong
4) Penggores
5) Mistar baja
6) Kunci L 8 dan L 12
7) Palu plastik
2. Roda Gigi Lurus
1) Mesin gergaji Great Captain
2) Mesin bubut Emco
Pahat HSS
Senter lepas
Bor senter
Cekam raham 3
Kunci chuck mesin bubut
coolent
3) Mesin frais Horisontal
Kepala pembagi
Pisau frais roda gigi M 2
Cekam raham 3
Senter tetap
Dudukan pisau
4) Mandrel
5) Kikir segitiga
6) Mesin pres manual
7) Mata Bor 8, 12.5 mm
8) Reamers
9) Jangka sorong
10) Mistar Baja
11) Ragum meja




64

3. Perhitungan Roda Gigi Lurus


Dalam proses pembuatan dan pemasangannya membutuhkan ketelitian
yang lebih. Adapun dalam proses perencanaan pembuatannya dengan data
sebagai berikut:
Tabel 7. Perencanaan roda gigi lurus Z 12
No
Nama Simbol Perhitungan (Rumus) Hasil (mm)
1 Modul m 2
2 Jumlah gigi Z 12
3
Diameter Lingkaran
jarak
d
J = z m
= 12 2 = 24
24
4 Diameter Kepala d
k

J
k
= J + 2 m
= 24 +2 2 = S2
52
5 Diameter Kaki d
f

J
]
= J -2.S m
= 24 -2,S = 19
19
6 Tinggi Kepala Gigi h
k

b
k
= 1 m
= 1 2 = 2
2
7 Tinggi Kaki Gigi h
f
b
]
= 1,166 m
= 1,116
= 2,2S2
2,232
8 Tinggi Gigi h
b = b
k
+b
]

= 2 +2,2S2
= 4,2S
4,232
9 Jarak antara Poros a
o =
J
1
+ J
2
2

o =
24 + 24
2

=
48
2
= 24
24




65

4. Menentukan perhitungan kepala pembagi


Roda gigi dapat menurut metode pembagian atau metode penguraian
seperti pada (Tabel 7.)dengan bantuan kepala pembagi, roda gigi menurut metode
pembagian dapat di frais pada mesin frais universal.
Pembagian roda gigi lurus ada dua cara yaitu pembagian langsung dan
tidak langsung. Berikut ini adalah pembagian roda gigi langsung yaitu:
Menentukan putaran engkol
putaran N
z
N
15
5
3
3
1
3
3
1
3
12
4
3
12
40 40
= =
= = = =

Piring pembagi yang digunakan adalah piring pembagi seri B-1 yaitu dengan
jumlah lubang 15-16-17-18-19-20.. Jadi engkol diputar 3 putaran penuh ditambah
5 lubang pada piringn pembagi yang mempunyai jumlah lubang 15.







No.

Jen
I
1. Memot
2. Seting

3. Facing

Tabel 8. Tab
C. Proses P
nis Pekerjaan dan
Ilustrasi gambar
Pembuatan
tong Benda Kerja


Putaran Mesin

g


bel Standart Ope
Pembuatan Kom
n
Alat/M
diguna
Mesin gerg
(Great Cap
Penggores
Mistar baj
Mesin bub
Emco
Kunci chu
kunci tool

Pahat HS
Rata kanan
KunciL8
12
Senter lepa
Jangka sor
erasional Produc
mponen
Mesin
akan
Pa
per
gaji
ptain)
s
a
D = 15
L = 20
a = 0,5
v = 65
s = 0,25
but
ck
post
T = 0,35
S
n kasar
danL
as
rong
ction (SOP) Pem
66
arameter
rmesinan
5 mm
00 mm
5 mm
mm
5 mm/ptrn
1

5 menit
2
3
4
5
6
mbuatan Poros
La
1. Persiapan bahan
a. Pengukuran
baja dan pen
b. Pemasangan
gergaji.
c. Menghidupk
saluran air.
d. Pemotongan
200 mm dan
2. Persiapan pemb
a. Mempersiapk
kapan mesin
b. Menyeting p
c. Mengatur pu
3. Memasang ben
dan mengencan
4. Lakukan pemb
pemakanan (a)
5. Lakukan pemb
dengan tebal 1m
0.5 mm. Denga
6. Balik benda ke
langkah no. 5 h
mm.

angkah kerja
n berupa Mild Ste
benda kerja den
ggores.
benda kerja p
kan mesin dan
benda kerja den
15 mm
bubutan.
kan peralatan da
bubut
ahat bubut Seting
utaran mesin
nda kerja pada m
ngkan chuck
bubutan facing de
) 1mm
bubutan 2 x pema
mm dan 1 x deng
an
erja lakukan seper
hingga mendapat
eel.
ngan mistar
pada mesin
membuka
ngan ukuran
M

an perleng-
ggi senter.
mesin bubut

engan tebal
akanan
gan tebal
rti pada
pajang 194

Keselamatan ke
Menggunakan pa
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat uku
tempat yang ama
Daun gergaji dik
kencang.
Benda kerja di ce
yang kuat,agar ti
oleng saat memo
Jangan terlalu pa
keluar benda karj
terikat pada ceka
Chuck benda ke
dengan kuat.
Jangan megubah
putaran mesin pa
mesin bekerja.
Jangan meningga
mesin pada saat m
hidup.

erja
akaian
g
ur pada
an.
kunci
ekam
idak
otong.
ajang
ja
am.
rja
h
ada saat
alkan
mesin
67

1 2 3 4 5 6
4. Pembuatan Lubang
Senter


Mesin bubut
Emco
Kunci chuck bor
Kunci tool post
Bor senter

V = 30,d bor= 3
: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
Su 1uuu
S,14 S

n =3184,71
n = 12uurmp

7. Pemasangan bor senter pada kepala lepas.
8. Pembuatan lubang senter dengan putaran
mesin (n) 1200 rpm, kecepatan sayat (v)
30 m/menit, kedalaman pengeboran 4
mm. Pengeboran pada mesin bubut ini
dilakukan secara manual, jadi untuk
feeding dan waktunya tidak dihitung
Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Benda kerja di cekam
yang kuat,agar tidak
oleng saat memotong.
5. Pembubutan lurus

Pahat HSS
Rata kanan kasar
Kunci L 8 dan
L 12
Jangka sorong
Senter lepas
J
o
=
J
1
+ J
2
2

J
o
=
1S + 1S
2

J
o
=14
n =
: 1uuu
n J

n =
Su 1uuu
S,14 14

n = 682,4S
n = 7uurpm
i =
(1 -2)
2. o

i =
(1S -1S)
2.u,S

i = 2 koli
I = _
I
n s
] i
I = _
194
7uu u,2
] 2
I = 2,77 mcnit
T = 166 detik


9. Memasang senter lepas pada kepala lepas
agar putaran benda kerja stabil.
10. Mengatur putaran mesin bubut
menjadi putaran (n) 700rpm
11. Jepit benda kerja sampai ikut berputar.
12. Pasang pahat bubut rata kanan.
13. Lakukan pembubutan lurus dari diameter
15 13 mm dengan pajang bubutan 194
mm. Kedalaman pemotongan (a) 0,5.
Kecepatan sayat (s) 0,2

Jangn terlalu pajang
keluar benda karja
terikat pada cekam.
Chuck benda kerja
dengan kuat.
6. Pembubutan facing

Pahat HSS
Facing
Kunci L 8 dan
L 12
Jangka sorong
Senter lepas
14. Lepas benda kerja dan balik benda kerja.
15. Lakukan pembubutan facing seperti pada
gambar yang diaksir dari diameter 15-13
mm dengan pajang 5 mm. Kedalaman
pemotongan (a) 0,5. Kecepatan sayat (s)
0,2
16. Lakukan pembubutan hingga ukuran yang
di inginkan diameter 13 x 190 mm.
Jangan megubah
putaran mesin pada saat
mesin bekerja.
Jangan meninggalkan
mesin pada saat mesin
hidup.

Tabel 8. (lanjutan)
68

1 2 3 4 5 6
7. Memotong benda kerja

Mesin gergaji
(Great Captain)
Penggores
Mistar baja
D = 15 mm
L = 143 mm
a = 0,5 mm
v = 65 mm
s = 0,25 mm/ptrn
17. Pengukuran benda kerja dengan mistar
baja dan penggores
18. Ukur benda kerja menjadi dua dengan
benda kerja 1 ukuran 52mm dan benda
kerja 2 ukuran 142 mm.
Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Daun gergaji dikunci
kencang.


: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 1S

n = 1380
=1400rpm
i =
(1 -2)
2. o

i =
(14S -14u)
2.u,S

i = S koli
I = _
I
n s
] i
I = _
14u
14uu u,2
] 2
T = 1 menit
T = 60 detik
19. Pemasangan benda kerja pada mesin
gergaji.
20. Menghidupkan mesin dan membuka
saluran air.
21. Lakukan pemotongan hingga selesai
dengan tebal pemotongan (a) 0,5.
Kecepatan sayat (s) 0,2 mm/ptrn
22. Lepas benda kerja dari ragum mesin
gergaji.
23. Bersikan mesin gergaji setelah selesai
menggunakan.

Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Usahakan hasil
potongan lurus.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Daun gergaji dikunci
kencang.
Gunakan watter coller
pada saat mesin
bekerja (pendingin)
8. Facing pda poros 1


Mesin bubut
Emco
Kunci chuck bor
Kunci tool post
Pahat HSS
Rata kanan kasar
Kunci L 8 dan
L 12
Bor senter
Jangka sorong
24. Persiapan pembubutan.
a. Mempersiapkan peralatan dan
perlengkapan mesin bubut.
b. Menyeting pahat bubut setinggi
senter,seting put mesin 1400rpm
25. Lakukan pembubutan facing pada benda
kerja hingga ukuran diameter 13 x 140
mm
26.
Lakukan pembubutan tirus pada kedua
sisinya ukuran 1mm x 45
0
.

Jangan megubah
putaran mesin pada saat
mesin bekerja.
Jangan meninggalkan
mesin pada saat mesin
hidup
Kunci chuck harus
sudah dalam keadan
aman,tidak tertinggal di
chuck.
Tabel 8. (lanjutan)
69

Tabel 8. (lanjutan)
1 2 3 4 5 6
9.

Facing pada poros 2




Mesin bubut
Emco
Kunci tool post
Pahat HSS
Rata kanan
Kunci L 8 dan
L 12
Jangka sorong
Senter lepas

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 1S

i =
(1 -2)
2. o

i =
(SS -Su)
2.u,S
= Skoli
I = _
I
n s
] i
I = _
SS
14uu u,2
] S
D = 15 mm
L = 50 mm
a = 0,5 mm
v = 65 mm
s = 0,25 mm/ptrn
n = 1380
=1400rpm
T = 0,189=11 detik
27. Persiapan pembubutan.
a. Mempersiapkan peralatan dan
perleng- kapan mesin bubut
b. Menyeting pahat bubut Setinggi
senter
c. Mengatur putaran mesin 1400rpm.
28. Lakukan pembubutan facing pada benda
kerja hingga ukuran 50 mm, dengan
kedalaman potong (a) 0,5mm, kecepatan
sayat (s) o,2.

29. Lakukan pembubutan tirus pada kedua
sisinya dengan ukuran 1mm x 45
0

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Menggunakan kaca
mata pada saat bekerja.
Jangam mengambil
sisa bubutan (tatal)
menggunakan tangan
telanjang.
Bersikan mesin bubut
dengan kuas dan lap
kain.
Kembalikan alat-alat
yang digunakan pada
teknisi.
Lumasi
bad,chuck,rumah
pahat,pada mesin
bubut dengan pelumas
oli.
10. Hasil pembuatan poros penggerak roda gigi lurus (poros 1)







140
Hasil pembuatan poros roda gigi lurus (poros 2)



70





N0.
Jenis Pekerjaan dan
Ilustrasi gambar
Pembuatan
Alat/Tools/Mesi
n
digunakan
Parameter
permesinan
Langkah kerja Keselamatan kerja
1. Memotong Benda Kerja


Mesin gergaji
(Great
Captain)
Penggores
Mistar baja
d= 50

V=65m/menit

a= 0.5mm

f=
0,25mm/ptrn


30. Persiapan bahan berupa Mild Steel.
e. Pengukuran benda kerja dengan mistar
baja dan penggores.
f. Pemasangan benda kerja pada mesin
gergaji.
g. Menghidupkan mesin dan membuka saluran
air.
h. Pemotongan benda kerja dengan ukuran
pajang 100 mm dan 51 mm
Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Daun gergaji dikunci
kencang.
Benda kerja di cekam
yang kuat,agar tidak
oleng saat memotong
2. Seting Putaran Mesin

Mesin bubut
Emco
Kunci chuck
kunci tool post

: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n
=
6S 1uuu
S,14 S1

n = 4uS.89
n = 400rpm
31. Persiapan pembubutan.
d. Mempersiapkan peralatan dan perleng-
kapan mesin bubut
e. Menyeting pahat bubut Setinggi senter.
f. Mengatur putaran mesin
32. Memasang benda kerja pada mesin bubut dan
mengencangkan chuck
33. Mengatur putaran mesin 400 rpm.
Mengamati keadaan
mesin dan mempelajari
cara pengoprasiannya.
Jangn terlalu pajang
keluar benda karja
terikat pada cekam.

Tabel 9 Standart Operasional Production (SOP)
71

Tabel 9.(Lanjutan)





1 2 3 4 5 6
3. Faccing

Pahat HSS
Rata kanan
Kunci L 8
dan L 12
Senter lepas
Jangka
sorong
i =
(1 -2)
2. o

i =
(2uu - 19S)
2 u.S

i = S koli
I = _
I
n o
] i
I = _
2uu
4uu u.S
] S
T= 5menit

34. Lakukan pembubutan facing dengan
tebal pemakanan (a) 1mm
35. Lakukan pembubutan 4 x pemakanan
dengan tebal 1mm dan 1 x dengan tebal
0.5 mm.
36. Balik benda kerja lakukan seperti pada
langkah no. 5 hingga mendapat pajang
40 mm.

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur
pada tempat yang
aman.
Benda kerja di cekam
yang kuat,agar tidak
oleng saat memotong.
4. Pembuatan Lubang
Senter


Mesin bubut
Emco
Kunci chuck
bor
Kunci tool
post
Bor senter

: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
Su 1uuu
S,14 S

n = S184rpm
n = 112urpm




37. Pemasangan bor senter pada kepala
lepas.
38. Pembuatan lubang senter dengan
putaran mesin (n) 590 rpm, kecepatan
sayat (v) 80 m/menit, kedalaman
pengeboran 4 mm. Pengeboran pada
mesin bubut ini dilakukan secara
manual, jadi untuk feeding dan waktunya
tidak dihitung
Jangan megubah
putaran mesin pada
saat mesin bekerja.
Jangan meninggalkan
mesin pada saat mesin
hidup.



72

Tabel 9.(Lanjutan)







1 2 3 4 5 6
5. Pengeboran 0 12.S

Mesin bubut
Emco
Kunci chuck
bor
Bor 13 mm
Rumah bor
mesin bubut.

: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
2u 1uuu
S,14 1S

n = Suurpm
Diameter bor =
13

V=20m/menit

a= 0.5mm





39. Setel putaran mesin dengan kecepatan
500 rpm
40. Lakukan pengeboran benda kerja
sampai berlubang dengan tembus dengan
menggunakan mata bor 12.5 mm.
41. Pembuatan lubang dengan kecepatan
sayat (v) 20 m/menit, dalam pengeboran
195 mm,diameter bor 13

Gunakan pendingin
pada saat pengeboran
dilakukan.
Jangan mengukur
benda kerja pada saat
benda kerja masih
berputar.
6. Pelebaran lubang (reamers)

Remer
Kunci chuk
bor
Jangka sorong

42. Pengeboran dan reamers dilakukan
manual.
43. Lakukan pelebaran lubang dengan
menggunakan remer dengan ukuran
13mm.
44. Lakukan sedikit demi sedikit
memasukan remernya agar tidak oleng
dan hasil lubang senter.
45. Pada saat reamers putaran mesin
500rpm.
Jangan meninggalkan
mesin pada saat mesin
hidup.
Remer / mata bot
harus tidak kendor
pada saat
menggunakan
Remer / mata bot tidak
ikut berputar.

73

Tabel 9.( Lanjutan)



1 2 3 4 5 6
7. Memotong Benda Kerja


Mesin gergaji
(Great
Captain)
Penggores
Mistar baja
Daun gegaji
besi.

: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 Su

n = 414,u12
n = 4Su rpm
i =
(1 - 2)
2. o

i =
(4S -4u)
2 u.S

i = S koli
I = _
I
n o
] i
I = _
4S
4Su u,S
] S

D = 50 mm

L = 45 mm

V= 65 m/menit

T = 0,25 menit
46. Pengukuran benda kerja dengan mistar
baja dan penggores.
47. Pemasangan benda kerja pada mesin
gergaji.
48. Menghidupkan mesin dan membuka
saluran air.
49. Lepas benda kerja periksa ukuran
benda kerja setelah dipotong dengan
menggunakan jangka sorong.
Mengecek keadan
mesin gergaji dan
daun gergajinya dapat
digunakan /tidak.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Daun gergaji dikunci
kencang.
8. Hasil pemotongan
(jmlh2)

Jangka sorong

50. Pemotongan benda kerja dengan
ukuran pajang 45 mm dan 50 mm.
51. Lakukan pembubutan facing pada
kedua benda kerja yang akan di buat
blank roda gigi lurus
Bersikan mesin gergaji
dengan menggunakan
kuas dan kompresor
sampai kering sisa
pendingin.
74

Tabel 9.( Lanjutan)




1 2 3 4 5 6
9. Facing 2


Mesin bubut
emco
Pahat bubut
HSS
Jangka sorong
Senter lepas.
: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 Su

n = 414,u12
n = 4Su rpm
i =
(1 -2)
2. o

i =
(4S -4u)
2 u.S

i = S koli
I = _
I
n o
] i
I = _
4S
4Su u,S
] S
D = 50 mm

L = 45 mm

V= 65 m/menit


T = 0,25 menit
52. Pasang benda kerja pada chuck dengan
kuat
53. Seting putaran mesin 450 rpm
54. Seting pahat bubut setinggi senter.
55. Lakukan pemakanan dengan ketebalan
(a) 1dengan jumlah pemotongan 5 kali.
56. Lakukan pembubutan hingga ukuran
benda kerja 50 x 40 mm.
Mengecek keadaan
mesin bubut dan
mempelajari
pengoperasiannya
dapat digunakan
/tidak.

10. Pemasangan mandrel



Mesin pres
Palu plastik
Mandrel
Kunci ring 19
Ragum

57. Pasang benda kerja pada mandrel
a. Masukan mandrel pada lubang
poros roda gigi lurus blank.
b. Lakukan pengepresan untuk
memasukan mandrel pada lubang
poros roda gigi blank.
c. Cekam mandrel pada ragum dan
pasang mur pengunci dengan
menggunakan kunci ring 19.
d. Jepit benda kerja dengan kuat.
Pehatikan benda kerja
dalam pengepresan.
Tangan jauhkan dari
tumpuan pres
75

Tabel 9. (Lanjutan)



1 2 3 4 5 6
11. Seting putaran mesin

Mesin bubut
Emco
Kunci tool post
Pahat HSS
Pahat Facing
Kunci L 8 dan
L 12
Senter lepas
Jangka sorong
: =
n J n
1uuu

J
o
=
J
1
+J
2
2

J
o
=
Su +S6
2

J
o
= 4S,S
n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 4S,S

n = 47S.87
n = 47Srpm
i =
(1 -2)
2. o

i =
(Su -S6)
2.u,S

i = 14 koli
I = _
I
n o
] i
I = _
4u
47S u,S
] 14
I = 2.SS mcnit
D = 50 mm
L = 40 mm
V = 65 m/menit
a = 0.5mm
58. Persiapan pembubutan.
a. Mempersiapkan peralatan dan
perleng- kapan mesin bubut
b. Menyeting pahat bubut Setinggi
senter.
c. Mengatur putaran mesin 475 rpm.
59. Memasang benda kerja pada mesin
bubut menggunakan mandrel. dan
mengencangkan chuck.

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Periksa dan pelajari
cara pengoprasian
mesin.
12. Pembubutan lurus

Mesin bubut
Emco
Kunci tool
post
Pahat HSS
Pahat lurus
Senter lepas
Jangka sorong
60. Pasang senter kepala lepas untuk
menyangga benda kerja supaya tidak
goyang.
61. Hidupkan mesin bubut perhatikan
senter kepala lepas dengan menyetel
dan mengunci sampai kepala senter
ikut berputar
62. Lakukan pemakanan sebanyak 14 kali
dengan kedalaman penyayatan 0,5 mm
Gunakan kaca mata
pda saat praktik
Jangan mengubah
putaran pada saat
mesin hidup.
Jangan membuang
tatal pada saat benda
kerja berputar.
76

Tabel 9. (Lanjutan)



1 2 3 4 5 6
13. Pembubutan Champer



Mesin bubut
Emco
Kunci tools post
Pahat HSS
Pahat tirus
Kunci L 8 dan
L 12
Senter lepas
Jangka sorong
: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 S6

n = S8u.2u
n = 6uurpm
i =
(1 -2)
2. o

i =
(S6 -SS)
2.u,S

i = Skoli
D = 36 mm
Pajang 40 mm
Tebal pemakanan
(a) :0,5


63. Pembuatan chamfer 1 X 45
O
pada ujung
blank roda gigi lurus, dengan putaran
mesin 600rpm, dengan tebal
pemotongan (a) 0,5 mm selama 3kali
pemakan.

64. Pembuatan champer pada mesin bubut
ini dilakukan secara manual, jadi untuk
feeding dan waktunya tidak dihitung.

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Periksa dan pelajari
cara pengoprasian
mesin. Bersikan mesin
bubut dengan
menggunakan kuas
,lap sampai kering sisa
pendingin.
Lumasi
bad,chuck,rumah
pahat,pada mesin
bubut dengan
pelumas oli.
14. Pelepasan Blank roda gigi
lurus

Kunci tools post
Kunci L 8 dan
L 12
Jangka sorong
65. Lepas benda kerja dari mesin bubut
untuk dilajutkan pada mesin frais.

66. Kembalikan alat-alat yang digunakan
pembubutan pada teknisi.


77

Tabel 9. (Lanjutan)

1 2 3 4 5 6
15. Pemasangan blank roda gigi
lurus pada mesin frais
vertikal

Mesin frais
horizontal
Kepala
pembagi
Jangka sorong
Mandrel
Gear plain
cutter M 2
Kunci pas 19
Kunci chuck
Senter tetap
: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
24 1uuu
S,14 Su

n = 1S2,86rpm
n = 16urpm
t
c
=
I
I
]

t
c
=
4u
29u
= u,1S7min
V = 24 m/menit
M = 2
L = 40
D pisau= 50 mm
Jumlah gigi (Z)14

f = 0,13 mm/put
a = 0,5 mm

V
f
= f ( n x z )
== u,1S(16u
14
)
=
291,2mmmcnit

67. Pasang benda kerja pada cekam
pembagi.
68. Pencekaman benda kerja dibantu
dengan menggunakan mandrel.
69. Pasang senter tetap untuk penyangga
benda kerja dengan menggunakan baut
T dan kunci pas 19 untuk
mengencangkan.

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Periksa dan pelajari
cara pengoprasian
mesin.
Jangan terlalu banyak
(tebal) pemakanan
pada benda kerja.

16

Setting Putaran Mesin 70. Setting benda kerja setinggi senter dan
lurus tepat ditengan pastikan tidak
oleng pada saat pengfraisan.
71. Pemasangan pisau frais (gear plan
cutter) M pada arbor mesin frais
72. Setting putaran pisau frais pada 160
rpm dan menghidupkan mesin.

Pasang pisau frais
(gear plan cutter) M2.
Letakan alat ukur dan
alat bantu pada tempat
yang aman tidak
ditumpuk.

78

Tabel 9. (Lanjutan)

1 2 3 4 5 6
17
.
Setting pisau frais



Mesin frais
vertical
Kepala
pembagi
Jangka sorong
Mandrel
Gear plain
cutter M 2
Kunci chuck
: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 S6

n = S8u.2u
n = 6uurpm
i =
(1 - 2)
2. o

i =
(S6 -SS)
2.u,S

i = Skoli
D = 36 mm
Pajang 40 mm
Tebal
pemakanan (a)
:0,5

73. Setting posisi pisau dan benda kerja
pada bidang nol dengan menyentuhkan
bidang kepala pisau sehingga
menyentuh benda kerja namun tidak
terjadi pemakanan. (tegak lurus pada
sumbu benda kerja).

74. Setelah pisau pada posisi bebas (tidak
melakukan pemakanan), meja frais
diposisikan kembalikan pada posisi
awal sebelum penyayatan, namun tidak
mengubah posisi
75. Setting nol pada skala pengatur
ketinggian.
76. Sebelum pemakanan kunci kepala
pembagi (dividing head) agar tidak
oleng atau berubah pada saat pisau frais
mulai pemakanan.

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur pada
tempat yang aman.
Periksa dan pelajari
cara pengoprasian
mesin.
Gunakan pendingin
pada saat pengefraisan.
Perhatikan putaran
pisau frais pemakanan
mulai dari mana.
Dalam pengefraisn
putaran piringan harus
diperhatikan dengan
tepat

Usahakan benda
bekerja tidak berubah
posisi pada mandrel.

79

Tabel 9. (Lanjutan)

2 3 4 5 6
18. Setting kepala pembagi
(dividing head)


Mesin frais
horisontal
Kepala pembagi
tipe B-1
Jangka sorong
Mandrel
Gear plain
cutter M 2
Kunci chuck
Senter tetap
N =
4u
Z
=
4u
12
= S
4
12
= S
1
S

N = S
1
S
= S
S
1S

: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 S6

n = S8u.2u
n = 6uurpm
Jumlah roda gigi
benda kerja Z =12
Piringan yang
digunakan seri
B-1:15,16,17,18,
dan 20.
Pisau frais
modul 2
77. Setting guting kepala pembagi untuk
membagi roda gigi dengan tepat.
78. Seting putaran engkol diputar 3 putaran
penuh ditambah 5 lubang pada piringn
pembagi yang mempunyai jumlah
lubang 15 yaitu pada piringan 1 dengan
pasangan B : 15,16,17,18dan 20


Dalam pengefraisn
putaran piringan harus
diperhatikan dengan
tepat

Usahakan benda
bekerja tidak berubah
posisi pada mandrel.

Perhatikan dalam
pembagian piringan
pembagi

19. Proses pengefraisan
profil roda gigi lurus
79. Proses penyayatan dilakukan dengan
menaikkan meja mesin setinggi 6 mm,
kemudian dijalankan untuk menyayat
dengan menggerakkan meja mesin frais
berlawanan dengan arah putaran pisau.

Gunakan pendingin
pada saat pengefraisan.

Perhatikan putaran
pisau frais pemakanan
mulai dari mana.

80

Tabel 9.( Lanjutan)



1 2 3 4 5 6
20. Proses pengefraisan profil
roda gigi lurus

Mesin frais
horisontal
Kepala
pembagi
Jangka sorong
Mandrel
Gear plain
cutter M 2
Kunci chuck
Senter tetap
N =
4u
Z
=
4u
12
= S
4
12
= S
1
S

N = S
1
S
= S
S
1S

: =
n J n
1uuu

n =
: 1uuu
n J

n =
6S 1uuu
S,14 S6

n = S8u.2u
n = 6uurpm
t
c
=
I
I
]

t
c
=
4u
29u
= u,1S7min
V
f
= f ( n x z )
=:
]
=
u,1S(16u
14
)
=
291,2mmmcnit
80. Setelah pisau pada posisi bebas (tidak
melakukan pemakanan), meja frais
diposisikan kembalikan pada posisi
awal sebelum penyayatan, namun tidak
mengubah posisi ketinggian meja
mesin.
81. Seting putaran engkol kembali diputar
3 putaran penuh ditambah 5 lubang
pada piringan pembagi yang
mempunyai jumlah lubang 15 yaitu
pada piringan 1 dengan pasangan B :
15,16,17,18dan 20
82. Lakukan pengefraisan semua profil
gigi terbentuk (yaitu berjumlah 12
gigi), benda kerja dilepas dari chuck.

Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat ukur
pada tempat yg aman
Jangan membuang
/membersikan tatal
pada saat benda kerja
berputar.
Jangan mengukur
benda kerja pada saat
pisau frais masih
berputar
Bersiakan mesin
bubut setelah
pengefraisaan selesai.
81

Tabel 9.(Lanjutan)

1 2 3 4 5 6
21.







22.
Proses finising

Hasil


Mesin frais
horisontal
Kepala pembagi
Jangka sorong
Mandrel
Gear plain
cutter M 2
Kunci chuck
Senter tetap
Kunci pas 19
Mesin pres
manual.
Ragum meja
Kikir segitiga
Kikir setengah
lingkaran
Kuas
kompresor

83. Lakukan finising


a) Bersikan sisa tatal yang menempel
pada roda gigi lurus.
b) Kikir satu persatu pada setiap
giginya dengan menggunakan kikir
segitiga dan setengah lingkaran
c) Lepas benda kerja (roda gigi lurus )
dari mandrel dengan melepas mur
dengan menggunakan kunci pas 19
dan mencekam mandrel pada
ragum meja.
d) Lumasi roda gigi lurus yang sudah
jadi dengan menggunakan oli
pelumas.
84. Cek ukuran ukuran roda gigi lurus
sesuai gambar.
Menggunakan pakaian
wearpack.,sarung
tangan,sepatu.
Letakan alat alat pada
tempat yg aman
jangan ditumpuk
menjadi satu.
Hati hati dalam
menggunakan mesin
pres manual
memperhatiakn benda
kerja yang akan dipres
dan posisi tangan
benar-benar aman dari
tumpuan pres.
Kembalikan semua
alat yang digunakan
pada tempatnya.

82

D. Proses Perakitan
Proses perakitan merupakan proses pemasangan/penggabungan komponen
komponen menjadi suatu produk. Adapun alat- alat yang digunakan untuk
perakitan ini yaitu: mesin pres manual, ragum meja, palu plastic, las busur / las
lisrtik, dan obeng
Persiapan ini membutukan waktu 30 menit. Perakitan ini dilakukan secara
manual. Pada pelaksanannya , perakitan ini membutukan 50 menit. Jadi waktu
yang dibutuhkan pada saat perakitan adalah waktu persiapan alat + waktu
perakitan = 30 + 50 = 80 menit.
E. Waktu Proses Pembuatan
Perhitungan waktu yang digunakan disini merupakan waktu yang
sesungguhnya dilapangan, yaitu dengan melihat jam. Waktu yang dibutukan
untuk melakukan proses pembuatan poros dan roda gigi lurus secara realisasi
meliputi:







83

1) Poros
a. Pemotongan bahan1 : 5 menit
b. Pembubutan muka kanan : 10 menit
c. Pengeboran senter : 1 menit
d. Pembubutan lurus : 30 menit
e. Pemotongan bahan 2 : 5 menit
f. Pengurangan pajang : 10 menit
g. Pembubutan muka & tirus : 30 menit +
Total 91 menit
2) Roda gigi lurus Z 12
a. Pemotongan bahan :10 menit
b. Pembubutan facing :20 menit
c. Pembuatan lubang poros : 30 menit
d. Reamers :5 menit
e. Pemotongan bahan 2 :10 menit
f. Pemasangan mandrel :10 menit
g. Pembubutan lurus blank roda gigi :20 menit
h. Pemangan benda kerja pada mesin frais : 15 menit
i. Pengefraisan pembuatan roda gigi : 40 menit
Total : 160 menit x2=320 menit

84

F. Uji Fungsional
Poros roda gigi dan roda gigi lurus merupakan komponen yang paling penting
dari mesin pompa oli dari pengujian yang telah dilakukan dapat diketahui
fungsinya yaitu:
1. Poros roda gigi berfungsi sebagai penghubung untuk mentransmisikan daya
dari motor dengan menggunakan sabuk puli ditramisikan ke roda gigi lurus
dan poros untuk menahan beban puntir.
2. Roda gigi lurus berfungsi sebagai rotor yaitu pada gerigi roda gigi untuk sisi
hisap cairan akan mengisi ruangan bebas antara rumah pompa dan roda gigi
yang berputar tersebut. Kemudian cairan ini akan dibawah berkeliling dan
ditekan keluar apabila geriginya bersatu lagi.
G. Uji Kinerja Mesin
Dalam pengujian mesin pompa oli semua komponen berfungsi dengan baik
meskipun ada kekurangan sedikit yaitu pada lubang poros rumah pompa yang
mengalami kebocoran kecil. Kecepatan mesin pompa yang kami buat dalam
memompa yaitu sekita 9 liter / menit.
H. Pembahasan
1. Proses Pembuatan
Secara garis besar proses pembuatan komponen poros dan roda gigi
lurus yang dapat dilihat pada diagram alir di atas adalah sebagai berikut :
85

a. Proses perencanaan meliputi mengidentifikasi gambar kerja,


mempersiapkan bahan, mempersiapkan mesin dan peralatan yang
digunakan.
b. Proses pembuatan
c. Proses perakitan meliputi perakitan dengan komponen lain, uji
fungsional dan uji kinerja mesin.
Tahapan awal dari proses pembuatan komponen poros dan roda gigi lurus
adalah mengidentifikasi gambar kerja, seperti yang telah dilakukan pada bab
II sebelumnya. Tahapan selanjutnya yaitu mempersiapkan bahan dan
peralatan serta mesin yang akan digunakan. Dalam persiapan bahan,
mengunakan mesin gergaji menjadikan ukuran awal bahan. Dalam proses
pemotongan bahan ini harus diberi sedikit kelebihan dari ukuran benda kerja
yang sesungguhnya, karena selanjutnya akan mengalami proses penguranagan
bahan melalui proses pemesinan.
Setelah itu mempersiapkan mesin dan peralatan yang digunakan untuk
pembuatan masing-masing komponen. Untuk perincian mesin dan peralatan
yang digunakan dapat dilihat pada visualisasi pengerjaan diatas.
Dalam pembuatan poros proses pemesinan yang digunakan yaitu dengan
cara: penggergajian, pembubutan, dan pengetapan.
1) Penggergajian
86

Pemotongan bahan menggunakan gergaji mesin dengan ukuran


bahan 15 x 200 mm yaitu untuk pembuatan poros roda gigi dan
poros penggerak. Perlu diingat bahwa dalam pemotongan bahan ini
jangan lupa untuk memberi coolant pada bagian yang dipotong untuk
mengantisipasi panas yang berlebih pada bahan dan mata gergaji agar
tidak cepat tumpul dan patah.
2) Pembubutan
Dalam proses pembuatan poros digunakan mesin bubut emco
untuk pengurangan bahan agar sesuai dengan ukuran yang diingkan
seperti pada perancangan awal. Proses pembubutan ini meliputi
beberapa metode yaitu: pembubutan facing, pengeboran
senter,pembubutan tirus (camper). Dengan ukuran komponen akhir
poros roda gigi 13 x 50 mm dan poros penggerak roda gigi 13 x
140 mm.
Dalam pembuatan roda gigi lurus proses pemesinan yang digunakan yaitu
dengan cara: penggergajian, pembubutan, dan pengefraisan
1) Penggergajian
Pemotongan bahan menggunakan gergaji mesin dengan ukuran
bahan 50 x 50 mm yaitu satu buah untuk pembuatan poros roda gigi
lurus diingat bahwa dalam pemotongan bahan ini jangan lupa untuk
87

memberi coolant pada bagian yang dipotong untuk mengantisipasi


panas yang berlebih pada bahan dan mata gergaji agar tidak cepat
tumpul dan patah.
2) Pembubutan
Dalam proses pembuatan roda gigi lurus digunakan mesin
bubut emco untuk pembuatan blank roda gigi lurus pengurangan
bahan agar sesuai dengan ukuran yang diingkan seperti pada
perancangan awal. Proses pembubutan ini meliputi beberapa metode
yaitu: pembubutan facing, pengeboran senter, pengeboran tembus
12.5mm, pembubutan tirus (camper). Dengan ukuran komponen akhir
poros roda gigi 112,5 x 40 mm.
3) Pengefraisan
Dalam proses pembuatan roda gigi digunakan mesin frais
universal untuk pembubutan profil gigi lurus menggunakan alat bantu
seperti kepala pembagi mandrel senter tepat untuk menompang agar
pengefraisan dapat dilakukan dengan baik, dengan ukuran ukuran
seperti pada (Tabel 7.) Perencanaan Roda gigi lurus Z 12.
Tahapan selanjutan memeriksa ukuran dari komponen yang telah
dibuat dan mencoba merangkainya untuk komponen yang saling
berpasangan, seperti poros dengan roda gigi, poros penggerak dengan roda
88

gigi dan puli . Jika kurang sesuai dilakukan perbaikan pada sejumlah
komponen tersebut.
Tahapan terakhir adalah proses perakitan. Proses ini dilakukan
setelah semua komponen jadi. Adapun proses perakitannya yaitu dengan
menggunakan baut dan pengelasan. Hal ini memudahkan kita, jika
sewaktu-waktu ada komponen yang rusak. Selanjutnya melakukan uji
fungsional setelah semua komponen dirakit untuk mengetahui apa semua
komponen berfungsi dengan baik. Setelah semua komponen dapat
berfungsi dengan baik maka dilakukan uji kinerja mesin.
2. Kesulitan yang dihadapi
Kesulitan yang dihadapi selama pembuatan poros dan roda gigi antara
lain:
a. Kehalusan permukaan
Dalam proses pembubutan permukaan pembubutan poros dan blank
roda gigi lurus sulit untuk dicapai. Hal ini diakibatkan sudut potong pahat
yang kurang sesuaian pahat yang tumpul. Cara mengatasi yaitu dengan
mengubah sudut potong dan mengasah kembali pahat pada mesin
gerinda.
b. Panasnya benda kerja dan Pisau pahat bubut
Dalam pekerjaan proses pembubutan pisau pahat dan benda kerja
cepat panas. Hal ini diakibatkan material pahat tidak sesuai untuk
89

mengejakan benda kerja yang dikerjakan dengan material benda kerja,


pemakanan tatal yang terlalu tebal, kurangnya pendinginan coolant. Cara
mengatasinya yaitu dengan menentukan pahat pa yang digunakan,
pemberian pending pada saat pahat bubut melakukan penyayatan,
mengatur tebal pemotongan dan putaran mesin.
c. Dalam pembuatan roda gigi lurus
Pada saat pengefraisan roda gigi lurus benda kerja berubah posisi
yaitu berputar dan goyang hal ini mempengaruhi profil gigi yang tidak
beratuarn pembagian gigi tidak pas dengan diameter blank. Hal ini
diakibatkan pemasangan benda kerja pada mandrel menggunakn mur jadi
bisa berputar mengedor akibat getaran pada saat pemakanan. Cara
mengatasinya dengan pengelasan takwelding pada mandrel dan blank
roda gigi dengan kuat, pencekaman yang kuat dan dengan menggunakan
penompang senter tetap.
I. Kelemahan kelemahan
Dari hasil yang diperoleh tenyata dalam pembuatan poros dan roda gigi
lurus, Setelah dilakukan pengujian terhadap fungsi dari mesin pompa oli ini
ternyata masih memiliki beberapa kelemahan-kelemahan diantaranya:
1. Untuk putaran mesin dalam perhitungan tidak sesuai dengan putaran
mesin yang ada, untuk itu kita ambil pendekatannya.
90

2. Kelebihan atau kekurangan dimensi benda kerja disebabkan oleh


operator itu sendiri.
3. Aliran volume boleh dikatakan tidak tergantung dari tekanan yang
dibangkitkan dalam pompa. Pada tekanan yang meningkat aliran
volume memang sedikit berkurang, karena meningkatnya rugi bocor
4. Terjadinya tekanan putar roda gigi di dalam rumah pompa yang
berlebih akan membebani bantalan secara berlebihan dan
menimbulkan kebisingan.

91

BAB V
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari hasil yang telah didapatkan dalam proses pembuatan poros dan roda gigi
lurus pada komponen mesin pompa oli, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Bahan yang digunakan dalam pembuatan poros dan roda gigi lurus adalah
mild steel . dengan ukuran sebelum diproses pemesinan
a. Poros 15 x 200 mm untuk dua buah poros yaitu poros roda gigi lurus
dan poros penggerak roda gigi lurus
b. Roda gigi lurus 50 x 100 mm untuk dua roda gigi lurus dengan ukuran
volume yang sama.
2. Alat dan mesin apa saja yang dibutuhkan dalam proses pembuatan poros dan
roda gigi lurus pada mesin pompa oli yaitu:
a. Untuk pembuatan poros menggunakan Mesin gergaji Great Captain,
Mesin bubut Emco, Pahat HSS, Senter lepas, Bor senter, Cekap raham 3,
Kunci chuck mesin bubut, Coolent, Jangka sorong, Penggores, Mistar
baja, Kunci L 8 dan L 12, Palu plastik
b. Untuk pembuatan roda gigi lurus menggunakan Mesin gergaji Great
Captain, Mesin bubut Emco, Pahat HSS, Senter lepas, Bor senter, Cekam
raham 3, Kunci chuck mesin bubut, Coolent, Mesin frais Horisontal,
92

Kepala pembagi, Pisau frais roda gigi M 2, Cekam raham 3, Senter tetap,
Dudukan pisau, Mandrel, Kikir segitiga, Mesin pres manual, Mata Bor
8, 12.5 mm, Reamers, Jangka sorong, Mistar Baja, Ragum meja
3. Proses pemesinan pembuatan komponen poros dan roda gigi sesuai dengan
langkah kerja untuk masing-masing produk yang dibuat, yaitu
a. Proses pembuatan poros dilakukan dengan menggunakan mesin bubut
emco dengan perlengkapannya, serta alat ukur yang digunakan yaitu :
jangka sorong dan mistar baja.
b. Proses pembuatan roda gigi lurus (z 12) pengerjaan awal digunakan mesin
bubut emco dan untuk pembuatan gigi-gigi digunakan mesin frais
universal dan digunakan kepala pembagi untuk mengatur jarak antara gigi
dengan teliti. Dalam pengefraisan roda gigi lurus digunakan pisau frais
modul (m) 2 dengan jumlah roda gigi lurusnya 12
4. Kecepatan pompa dalam pecobaan uji mesin setelah jadi yaitu sekitar 9 liter
permenit.
5. Saran
Dari kesimpulan di atas, maka penulis hanya dapat menyarankan sebagai
berikut:
1. Hendaknya dibuat perencanaan langkah kerja terlebih dahulu sehingga
dalam proses pembuatannya dapat diminimalisir kesalahan yang mungkin
dapat terjadi.
93

2. Pembelian bahan sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan dimaksudkan


agar bahan tersisa dapat seminimal mungkin dan dapat memperkecil waktu
pembuatan terutama dalam proses pengurangan volume bahannya.
3. Sebelum melakukan proses pembuatan poros dan roda gigi sebaiknya kita
harus membuat standatr operasional production (SOP) terlebih dahulu agar
kita dapat meminimalisir kesalahan dan waktu dalam dalam bekerja.
4. Untuk mengurangi kebocoran dilubang poros pada pompa digunakan
karet/sil yang diameter lubang sesuaian sesak.











94

DAFTAR PUSTAKA

Achamd Zainun, Msc,Ir (1999). Elemen Mesin 1. Bandung :PT Refika Aditama.

Amstead, B.H dkk. (1979). Teknologi Mekanik Jilid 1 (Sriati Djaprie. Terjemahan).
Jakarta : Erlangga.

Dieter, E. George (1992). Metalurgi Mekanik Edisi 3 Jilid2 (Sriati Djaprie.
Terjemahan). Jakarta : Erlangga.

Sumamur Dr. P.K.., Msc.(1985).Keselamatan kerja dan Pencegahan Kecelakaan.
Jakarta: PT Gunung Agung.

Sato, T. G. dan Hartanto, N. S. (1987). Menggambar Mesin Menurut Standar ISO.
Jakarta : Pradnya Paramita.

Terheijden, C.V. dan Harun. (1981). Alat-Alat Perkakas 3. Bandung : Bina Cipta.