Anda di halaman 1dari 6

Perubahan pada Sistem Gastrointestinal Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan.

Refleks muntah dan refleks batukyang matang sudah terbentuk dengan baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan "gumoh" pada bayi baru lahir dan neonatus. Kapasitas lambung sendiri sangat terbatas yaitu kurang dari 30 cc untuk seorang bayi baru lahir cukup bulan, dan kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan pertumbuhannya. Dengan adanya kapasitas lambung yang masih terbatas ini maka sangat penting bagi pasien untuk mengatur pola intake cairan pada bayi dengan frekuensi sedikit tapi sering, contohnya memberi ASI sesuai keinginan bayi. Usus bayi masih belum matang sehingga tidak mampu melindungi dirinya sendiri dari zat-zat berbahaya yang masuk ke dalam saluranpencernaannya.Disampingltu bayi barulahirjuga belum dapatmempertahankan air secara efisien dibanding dengan orang dewasa, sehingga kondisi ini dapat menyebabkan diare yang lebih serius pada neonatus. Perubahan pada Sistem Imun Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan iekebalan alami maupun yang didapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahanan tubuh yang berfungsi mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami. 1. 2. 3. 4. Perlindungan dari membran mukosa. Fungsi saringan saluran napas. Pembentukan koloni mikroba di kulit dan usus. Perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung.

Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel oleh sel darah yang membantu bayi baru lahir membunuh mikroorganisme asing, tetapi sel-sel darah ini masih belum matang artinya bayi baru lahir tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. Bayi baru yang lahir dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum bisa dilakukan sampai awal kehidupannya. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh. Karena adanya deflsiensi kekebalan alami yang didapat ini, bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi. Reaksi bayi baru lahir terhadap infeksi masih lemah dan tidak memadai, oleh karena itu pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting. Perubahan pada Sistem Ginjal Bayi baru lahir cukup bulan memiliki beberapa defisit struktural dan fimgsio sistem ginjal. Banyak dari kejadian defisit tersebut akan membaik pada bulan pertama kehidupan dan merupakan satu-satunya masalah untuk bayi baru lahir yang mengalami stres. Keterbatasan fungsi ginjal menjadi konsekuensi khusus jika bayi baru lahir memerlukan cairan intravena atau obat-obatan yang meningkatkan mungkinan kelebihan cairan. Ginjal bayi baru lahir menunjukkan penurunan aliran darah ginjal dan penurunan kecepatan filtrasi glomerulus, kondisi ini mudah menyebabkan retensi cairan dan intoksikasi air. Fungsi tubulus tidak matur sehingga dapat menyebabkan kehilangan natrium dalam jumlah besar dan ketidakseimbangan elektrolit lain. Bayi baru lahir tidak dapat mengonsentrasikan urine dengan baik, tercermin dari berat jenis urine (1,004) dan osmolalitas urine yang rendah. Semua keterbatasan ginjal ini lebih buruk pada bayi kurang bulan.

Bayi baru lahir mengekskresikan sedikit urine pada 48 jam pertama kehidupan, yaitu hanya 30-60 ml. Normalnya dalam urine tidak terdapat protein atau darah, debris sel yang banyak dapat mengindikasikan adanya cedera atau iritasi dalam sistem ginjal. Bidan haras ingat bahwa adanya massa abdomen yang ditemukan pada pemeriksaan fisik seringkali adalah ginjal dan dapat mencerminkan adanya tumor, pembesaran, atau penyimpangan di dalam ginjal. PERLINDUNGAN TERMAL Beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk meminimalkan kehilangan panas tubuh bayi baru lahir adalah sebagai berikut. 1. Hangatkan dahulu setiap selimut, topi, pakaian, dan kaos kaki bayi sebelum kelahiran 2. Segera keringkan bayi baru lahir. 3. Ganti selimut basah setelah mengeringkan bayi baru lahir. 4. Hangatkan dahulu area resusitasi bayi baru lahir. 5. Atur suhu ruangan kelahiran pada suhu 24 C. 6. Jangan lakukan pengisapan pada bayi baru lahir di atas alas tempat tidur yang basah. 7. Tunda memandikan bayi baru lahir sampai suhunya stabil sefama dua jam atau lebih. 8. Atur agar ruangan perawatan bayi bayi baru lahir jauh dari jendela, pintu, lubang ventilasi, atau pintu keluar. 9. Pertahankan kepala bayi baru lahir tetap tertutup dan badannya dibedong (dibungkus) dengan baik selama 48 jam pertama. PEMELIHARAAN PERNAFASAN Stimulasi Taktil

Realisasi dari langkah ini adalah dengan mengeringkan badan bayi segera setelah lahir dan melakukan masase pada punggung. Jika diobservasi bayi belum maksimal, lakukan stimulasi pada tealpak kaki dengan menjentikkan ujung jari tangan penolong. Mengeringkan Tubuh Bayi Baru Lahir Rangsangan Taktil pada Bayi Baru Lahir Mempertahankan Suhu Hangat untuk Bayi Suhu yang hangat akan sangat membantu menstabilkan upaya bayi dalam bernapas. Letakkan bayi di atas tubuh pasien yang tidak ditutupi kain (dalam keadaan telanjang), kemudian tutupi keduanya dengan selimut yang telah dihangatkan terlebih dahulu. Jika ruangan ber-AC, sorotkan lampu penghangat kepada pasien dan bayinya.

Menghindari Prosedur yang Tidak Perlu Ketika melakukan perawatan bayi baru lahir, hindari prosedur yang sebenarnya tidak perlu dilakukan seperti: 1. mengisap lendir yang ada di saluran napas bayi, padahal bayi sudah berhasil menangis dan melakukan napas pertamanya; 2. melakukan stimulasi taktil yang berlebihan, misalnya menampar pipi bayi baru lahir; 3. memandikan bayi segera segera setelah lahir; 4. melakukan pemeriksaan fisik bayi dalam satu jam pertama kelahiran. Sebaiknya biarkan bayi di atas perut pasien untuk melakukan inisiasi dini dan menstabilkan suhu tubuhnya melalui radiasi panas tubuh.

PEMOTONGAN TALI PUSAT Pembahasan mengenai pemotongan tali pusat berkaitan dengan kapan waktu yang tepat untuk mengklem atau menjepit tali pusat, diketahui ada dua perbedaan mengenai hal ini dengan rasionalisasi dari masing-masing pendapat tersebut. Penjepitan Tali Pusat Segera Setelah Bayi Lahir Praktik ini umumnya didukung oleh komunitas obstetrik, namun tidak lazim digunakan di beberapa negara. Para pendukung praktik ini mengkhawatirkan adanya efek samping pada bayi jika penjepitan tali pusat ditunda seperti adanya gawat pernapasan, polisitemia. sindrom hiperviskositas, dan hiperbilirubinemia. Penjepitan dan pemotongan tali pusat dilakukan dengan segera jika keadaan bayi gawat dan membutuhkan tindakan dengan segera jika keadaan bayi gawat dan membutuhkan tindakan resusitasi. Penundaan Penjepitan Tali Pusat Para pendukung penundaan penjepitan tali pusat yakin bahwa peningkatan volume darah menguntungkan dan mendukung proses fisiologis alami pada transisi kehidupan ekstrauterus. Beberapa keuntungan penundaan penjepitan tali pusat antara lain: 1. berlanjutnya bolus/aliran darah teroksigenasi selama nafas pertama yanB tidak teratur 2. volume yang besar meningkatkan perfusi kapiler paru-paru; 3. pencapaian oksigenasi adekuat yang lebih cepat membuat penutupan struktur janin seperti duktus arteriosus. Untuk mendukung transfusi flsiologis ini, maka pada 1-3 menit pertama kehidupan letakkan bayi di atas perut pasien dalam keadaan tali pusat masih utuh. Posisi ini akan meningkatkan aliran darah dalam jumlah sedang ke bayi

baru lahir tanpa kemungkinan bahaya dari dorongan dan bolus darah yang banyak. Setelah 3 menit, sebagian besar aliran darah dari tali pusat telah masuk ke dalam tubuh bayi baru lahir. Walaupun aliran darah mungkin berbalik yaitu dari bayi ke plasenta, situasi ini kemungkinan besar tidak akan terjadi karena tali pusat akan mengalami spasme dengan cepat pada suhu di lingkungan luar uterus. Setelah 3 menit bayi berada di atas perut pasien, lanjutkan prosedur pemotongan tali pusat sebagai berikut : 1 Klem tali pusat dengan dua buah klem, pada titik kira-kira 2 atau 3 cm dari pangkal pusat bayi (tinggalkanlah kira-kira 1 cm diantara kedua klem tersebut). 2 Potonglah tali pusat di antara kedua klem sambil melindungi perut bayi dengan tangan kiri penolong. 3 Pertahankan kebersihan pada saat memotong tali pusat, ganti sarung tangan jika ternyata sudah kotor. Potonglah tali pusat dengan menggunakan gunting steril atau DTT. 4 5 Ikatlah tali pusat dengan kuat atau gunakan penjepit khusus tali pusat. Periksa tali pusat setiap 15 menit, apabila masih terjadi perdarahan lakukan pengikatan sekali lagi dengan ikatan lebih kuat. Pastikan benar bahwa tidak ada perdarahan tali pusat. Perdarahan 30 ml dari bayi baru lahir setara dengan 600 ml pada orangdewasa. 6 Ingat! Jangan mengoleskan salep atau zat apapun ke tampuk tali pusat. Hindari juga pembungkusan tali pusat. Tali pusat yang tidak tertutup akan mengering dan puput lebih cepat dengan komplikasi yang lebih sedikit.