Anda di halaman 1dari 5

Earning Management : Trik Perusahaan Mendongkrak Laba ?

Dalam artikel-artikel sebelumnya, saya selalu menyebutkan bahwa fraud di tempat kerja (occupational fraud) dapat dikelompokan dalam fraud tree, yang mempunyai tiga cabang utama yaitu : Corruption, Asset Misappropriation dan Fraudulent Statements. Selama ini hampir semua artikel saya hanya membahas soal korupsi. Kali ini artikel saya ingin menyampaikan salah satu yang merupakan fraudulent statements yaitu abusive earning management. Definisi Earnings Management Banyak definisi yang diberikan para ahli/akademisi, antara lain Schipper (1989, p. 92) mengatakan earnings management as "a purposeful intervention in the external financial reporting process, with the intent of obtaining some private gain." Kemudian, Healy and Wahlen (1999) menjelaskan bahwa "earnings management occurs when managers use judgments in financial reporting and in structuring transactions to alter financial reports to either mislead some stakeholders about the underlying economic performance of the company, or to influence contractual outcomes that depend on reported accounting numbers." Pengertian yang lebih halus diberikan oleh Scott (2000) : Earnings management is the choice by managers of accounting policies so as to achieve some spesific objectives. Istilah Earnings management menimbulkan pro dan kontra apakah merupakan baik atau jelek, namun kejatuhan Enron, Worldcom dan perusahaan-perusahaan besar milik Amerika menyebabkan Arthur Levitt, Jr , Ketua Securities Exchange Commision (SEC ) mengecam perusahaan, para analis dan auditor tentang praktek Earnings management yang tidak sesuai dengan prosedur bisnis yang sehat. Arthur Levitt, Jr mengatakan ada beberapa cara untuk melakukan earning management, yaitu : Big Bath Restructuring Charges. Pola ini terjadi pada saat perusahaan melakukan reorganisasi dengan cara melaporkan kerugian yang lebih besar dengan tujuan meningkatkan laba dimasa mendatang. Creative Acquisition Accounting. Metode dalam akuisisi yang menghapuskan biaya riset dan biaya investasi lain yang masih dalam proses untuk mengurangi beban amortisasi untuk mendongkrak laba dimasa mendatang. Miscellaneous "Cookie Jar" Reserves. Metode klasik dimana managemen memperbesar cadangan di masa "booming" kemudian digunakan untuk meratakan laba pada saat perusahaan mengalami kerugian di masa-masa sulit. Abuse of Materiality. Penyesuaian tanpa didukung dengan dokumen lengkap sering diabaikan oleh auditor karena jumlahnya tidak material. Walaupun jumlahnya tidak material, namun penyesuaian ini akan membantu perusahaan. (jika jumlah jenis transaksi cukup banyak) Revenue Recognition. Metode ini juga klasik dimana perusahaan ingin mengakui laba lebih besar dengan cara mengakui pendapatan di masa mendatang sebagai pendapatan periode berjalan atau

memindahkan biaya periode berjalan ke periode di masa mendatang. Jika menginginkan laba lebih kecil dilakukan sebaliknya Berbagai riset yang diadakan untuk meneliti mengapa perusahaan melakukan earnings management. Motivasi/Tekanan perusahaan untuk melakukan earning management dapat berasal dari berbagai sumber, yaitu : External Forces, antara lain, sebagai berikut : Analysts' forecasts. Perusahaan yang gagal memenuhi perkiraan yang dilakukan oleh para analis saham untuk beberapa triwulan kemungkinan akan mengalami penurunan harga sahamnya secara drastis. Bahkan majalah CFO edisi Desember 1998 memberitakan bahwa CFO sebuah perusahaan mengeluh kepada Chief Accountant dari SEC bahwa perusahaannya tidak bisa memenuhi perkiraan yang dibuat analis. Analis itu mengatakan kepada CFO, "You're a bright guy; you'll figure out how to make it." Access to debt markets. sama seperti para analis saham, perusahaan berkepentingan menjaga debt rating yang dibuat oleh perusahaan pemeringkat. Penurunan dalam earning atau expektasi yang buruk akan menurunkan company's debt rating yang pada akhirnya nanti menghalangi menerbitkan surat utang baru. Competition. Perusahaan-perusahaan yang berada dalam industri yang persaingannya sangat ketat berusaha keras untuk menjaga pangsa pasarnya atau tingkat laba/pendapatannya dengan melakukan earning management. Contractual obligations. Dalam kontrak utang dan leasing banyak persyaratan yang diharus dipenuhi perusahaan seperti tingkat utang, pendapatan dan ratio lainnya yang harus dipenuhi dalam level tertentu. Apabila ini tidak terpenuhi perusahaan akan dikenakan penalti atau hal lain yang akan semakin mempersulit kondidi perusahaan. Dengan sedikit melakukan earning management mungkin akan meloloskan perusahaan dari kesulitan. Roaring stock market. Dalam kondisi red-hot stock market perusahaan berusahaa memenuhi harapan investor dalam kenaikan harga saham dengan mengakui pendapatan yang tidak tepat, misal mencatat penjualan barang sebelum customer menyetujui transaksi tersebut. New financial transactions. Beberapa transaksi keuangan adalah hal yang kompleks seperti derivatives. Derivatives digunakan untuk tujuan hedges dan spekulasi. Company Cullum, antara lain, yaitu : Merger attractiveness.

Peluang untuk melakukan earning management sangat besar dalam proses merger. Hal ini dilakukan agar menaikkan harga saham perusahaan hasil merger. Management compensation. Setiap perusahaan akan mengikat manajemen dengan reward, bonus dan kompensasi lainnya jika mencapai target laba dan pertumbuhan yang ditetapkan. Short-term focus. Untuk memenuhi tujuan jangka pendek, mungkin perusahaan akan menunda pengakuan semua pengeluaran dan mempercepat pengakuan pendapatannya yang belum terealisasi. Unrealistic plans and budgets. Terkadang perusahaan menerapkan budget dan rencana tahunan yang tidak realistis. Misal menaikan 10-20% rencana dan budget tanpa melihat apakah faktor ekonomi dan bisnis. (ya seperti APBN kita yang naik terus gitu, tetapi tidak pernah terserap secara wajar). Period-end requests from superiors. Para CEO menginginkan kondisi perusahaan tampak bagus di kuartal terakhir demi tujuan tertentu, yaitu kinerja mereka agar tampak bagus dalam rapat pemegang saham. Concealing unlawful transactions. Perusahaan takut jika melaporkan transaksi yang tidak wajar akan membuat perusahaan kesulitan akan tuntutan hukum. Untuk menghindari hal tersebut dilakukan earning management. Personal Factors, antara lain, yaitu : Personal bonuses. Kompensasi perusahaan terhadap para CEO yang lebih ditekankan pada insentif daripada besarnya gaji akan mendorong CEO untuk melakukan earning management. Promotions. Beberapa individu akan melakukan apa saja agar dapat ikut promosi berikutnya. Mendeteksi adanya abusive earning management Beberapa red flags/warning untuk mendeteksi apakah perusahaan melakukan abusive earning management adalah sebagai berikut : Cash flows that are not correlated with earnings Salah satu peringatan yang jelas adalah tidak adanya hubungan antara cashflow dari operasi perusahaan dengan laba/pendapatan perusahaan. Receivables that are not correlated with revenues Kenaikan receivables yang cepat dapat merupakan petunjuk bahwa para konsumen mengalami kesulitan membayar utang-utangnya. Namun bisa juga menunjukan perusahaan mencatat penjualan fiktif. Contoh dalam artikel Wall Street Journal Juni 2000 memberitakan Lucent

Technologies melakukan "creative accounting practices/Earnings management" karena Lucent's receivables naik 49% sementara revenues naik hanya 20%. Allowances for uncollectible accounts that are not correlated with receivables Cadangan untuk piutang tak tertagih dapat menjadi petunjuk adanya Earnings management. Biasanya cadangan ini dicatat understated sedang revenue dan receivables naik tajam. Reserves that are not correlated with balance sheet items Para Investors/Auditor harus hati-hati meneliti "all disclosure notes and other discussion materials" yang berhubungan denagan kebijakan perusahaan dalam menentukan besarnya cadangan. Apakah besarnya cadangan sesuai dengan praktek bisnis yang sehat. Questionable acquisition reserves. Investors dan auditors harus hati-hati meneliti latar belakang dari proses akuisisi. Jika tidak ada alasan yang kuat untuk melakukan akuisisi mungkin sebagai petunjuk earnings management untuk memperbesar "cookie jar." Earnings that consistently and precisely meet analysts' expectations Investors dan auditors juga harus hati-hati meneliti praktek akuntansi perusahaan yang selalu sesuai dan konsisten dengan perkiraan analis. Perkiraan analis didasarkan atas informasi yang diberikan oleh perusahaan sehingga perusahaan akan berusaha sekuatnya untuk memenuhi perkiraan analis untuk melindungi reputasi mereka dan harga saham perusahaan. Penelitian mengungkapkan sebagian perusahaan akan melakukan abusive earnings management untuk menutupi kegagalan akibat prediksi yang terlalu optimis, gejolak ekonomi dan proyek gagal. Penutup Para auditor sebenarnya sudah tidak asing lagi mengenai praktek abusive earnings management, namun belum tentu semua auditor memahami dan mendapat training khusus tentang earnings management. Michael D Akers, dalam artikelnya "Earnings Management and Its Implications" mengatakan dari survey yang dilakukan terhadap 100 kantor akuntan publik (KAP) terbesar mengatakan hanya 17 KAP yang memberikan tanggapan mengenai training kepada para auditornya tentang "earning management". Dari jumlah tersebut hanya 3 KAP yang secara khusus memberikan training "earning management". 5 KAP memberikan training "earning management" bersamaan dengan training lainnya. Sedangkan 9 KAP lainnya tidak memberikan training "earning management". kepada para auditornya. Dengan demikian, investor harus semakin hati-hati, jangan percaya saja kepada laporan keuangan perusahaan walaupun sudah diaudit oleh kantor akuntan publik.

Sumber : Michael D Akers, Earnings Management and Its Implications, The CPA Journal. August 2007 Jacksonh, Scott B, Auditors and earnings management, The CPA Journal. July 2001 James R Duncan, Twenty pressures to manage earnings, The CPA Journal. July 2001 Lorraine Magrath, Abusive earnings management and early warning signs. CPA Journal. 2002

Ludovicus Sensi W, Memahami lebih jauh aspek earnings management, EBAR. April 2007

Oleh : Johanes Wardy Sitinjak The Tracer (http://signnet.blogspot.com/)