Anda di halaman 1dari 3

CALON PENGHUNI SURGA

1. Beriman dan beramal saleh Allah ta'ala berfirman, "Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh bahwasanya mereka akan dapat balasan berupa surga yang dibawahnya mengalir sungai...."(QS.Al Baqarah:25) Ibnu Abi Zaid al-Qairawani rahimahullah mengatakan, "Iman adalah ucapan dengan lisan, keikhlasan dengan hati, dan amal dengan anggota badan. Ia bertambah dengan bertambahnya amalan dan berkurang dengan berkurangnya amalan. Sehingga amal-amal bisa mengalami pengurangan dan ia juga merupakan penyebab pertambahan iman. Tidak sempurna ucapan iman apabila tidak disertai dengan amal. Ucapan dan amal juga tidak sempurna apabila tidak dilandasi oleh niat yang benar. Sementara ucapan, amal, dan niat pun tidak sempurna kecuali apabila dengan as-Sunnah/tuntunan." Al-Baghawi rahimahullah menyebutkan riwayat dari Utsman bin Affan radhiyallahu'anhu bahwa yang dimaksudkan amal saleh adalah mengikhlaskan amal. Maksudnya adalah bersih dari riya'. Mu'adz bin Jabal radhiyallahu'anhu mengatakan, "Amal salih adalah yang di dalamnya terdapat empat unsur yaitu ilmu, niat yang benar, sabar dan ikhlas". 2. Bertakwa Allah ta'ala berfirman, "Bagi orang-orang yang bertakwa terdapat balasan di sisi Rabb mereka berupa surga-surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya, begitu pula mereka akan mendapatkan istriistri yang suci serta keridhaan dari Allah. Allah Maha melihat hamba-hamba-Nya." (QS. Ali Imran:15) Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menguraikan jati diri orang bertakwa. Mereka itu adalah orang-orang yang bertakwa kepada Rabb mereka. Mereka menjaga diri dari siksa-Nya dengan cara melakukan apa saja yang diperintahkan Allah kepada mereka dalam rangka menaati-Nya dan karena mengharapkan balasan/pahala dariNya. Selain itu mereka meninggalkan apa saja yang dilarangNya juga demi menaatiNya serta karena khawatir akan tertimpa hukumanNya. Termasuk dalam cakupan takwa yaitu membenarkan berbagai berita yang datang dari Allah dan beribadah kepada Allah sesuai dengan tuntunan syari'at, bukan dengan tata cara yang diada-adakan ( baca bid'ah). Ketakwaan kepada Allah itu dituntut di setiap kondisi, dimana saja dan kapan saja. Maka hendaknya seorang insan selalu bertakwa kepada Allah, baik ketika dalam keadaan tersembunyi ataupun sendirian begitupun ketika berada di tengah keramaian atau di hadapan orang. An-Nawawi rahimahullah menjelaskan salah satu faktor pendorong untuk bisa menumbuhkan ketakwaan kepada Allah adalah dengan senantiasa menghadirkan keyakinan bahwasanya Allah senantiasa mengawasi gerak-gerik hamba dalam segala keadaannya. Syaikh as-Sa'di rahimahullah memaparkan bahwa keberuntungan manusia itu sangat bergantung pada ketakwaannya. Oleh sebab itu Allah memerintahkan (yang artinya), "Bertakwalah kepada Allah, mudah-mudahan kamu beruntung. Dana jagalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir." (QS. Ali Imran:130-131). Cara menjaga diri dari api neraka adalah dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyebabkan terjerumus ke dalamnya, baik yang berupa kekafiran maupun kemaksiatan dengan berbagai macam tingkatannya. Karena sesungguhnya segala bentuk kemaksiatan, terutama yang tergolong dosa besar akan menyeret kepada kekafiran, bahkan ia termasuk sifat-sifat kekafiran yang Allah telah menjanjikannya akan menempatkan pelakukanya di dalam neraka.

Oleh sebab itu, meninggalkan kemaksiatan akan dapat menyelamatkan dari neraka dan melindunginya dari kemurkaan Allah al-Jabbar. Sebaliknya, berbagai perbuatan baik dan ketaatan akan menimbulkan keridhaan arRahman, memasukkan ke dalam surga dan tercurahnya rahmat bagi mereka. Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah mengatakan bahwa tercakup dalam ketakwaan bahwa merupakan derajat ketakwaan yang tertinggi adalah dengan melakukan berbagai perkara yang disunnahkan (mustahab) dan meninggalkan berbagai perkara yang makruh, tentu saja apabila yang wajib telah ditunaikan dan haram ditinggalkan. Ibnu Rajab rahimahullah menyebutkan riwayat dari Mu'adz bin Jabal radhiyallahu'anhu, Mu'adz ditanya tentang orang-orang yang bertakwa. Maka beliau menjawab,"Mereka adalah suatu kaum yang menjaga diri dari kemusyrikan, peribadahan kepada berhala, dan mengikhlaskan ibadah mereka hanya untuk Allah." 3. Taat kepada Allah dan RasulNya Allah ta'ala berfirman,"Barang siapa yang taat kepada Allah dan RasulNya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang dibawahnyanmengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang sangat besar". (QS. an-Nisa':13). Allah ta'ala berfirman tentang mereka,"Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman itu ketika diseru untuk patuh kepada Allah dan rasulNya agar rasul itu memutuskan perkara di antara mereka maka jawaban mereka hanyalah, 'Kami dengar dan kami taati'. Hanya mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS.an-Nuur:51). Allah ta'ala menyatakan, "Barang siapa taat kepada Rasul itu maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah". (QS.an-Nisaa':80). Allah ta'ala berfirman,"Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, ketika menyeru kalian untuk sesuatu yang akan menghidupkan Allah yang menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Dan sesungguhnya kalian akan dikumpulkan untuk bertemu denganNya". (QS.alAnfal:24). Ketika menjelaskan kandungan pelajaran dari ayat ini, Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan, "Sesungguhnya kehidupan yang membawa manfaat hanyalah bisa digapai dengan memenuhi seruan Allah dan rasulNya. Barang siapa yang tidak muncul pada dirinya istijabah/sikap memenuhi dan mematuhi seruan tersebut maka tidak ada kehidupan sejati padanya. Meskipun sebenarnya dia masih memiliki kehidupan ala binatang yang tidak ada bedanya antara dia dengan hewan yang paling rendah sekalipun. Oleh sebab itu kehidupan yang hakiki dan baik adalah kehidupan pada diri orang yang memenuhi seruan Allah dan rasulNya secara lahir dan batin. Mereka itulah orangorang yang benar-benar hidup, walaupun tubuh mereka telah mati. Adapun selain mereka adalah orang-orang yang telah mati, meskipun badan mereka masih hidup. Oleh karena itulah maka orang yang paling sempurna kehidupannya adalah yang paling sempurna diantara mereka dalam memenuhi seruan dakwah Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam. Kerana sesungguhnya di dalam setiap ajaran yang beliau dakwahkan terkandung unsur kehidupan sejati. Barang siapa yang luput darinya sebagian darinya maka itu artinya dia telah kehilangan sebagian unsur kehidupan, dan kehidupan sekedar dengan besarnya istijabahnya terhadap Rasul shallallahu 'alaihi wa sallam." 4. Cinta dan Benci karena Allah Allah ta'ala berfirman,"Tidak akan kamu jumpai suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir berkasih sayang kepada orang-orang yang menetang Allah dan rasulNya meskipun mereka itu adalah bapak-bapak mereka, anak-anak mereka, saudara-saudara mereka, maupun sanak keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang ditetapkan Allah di dalam hati mereka dan Allah kuatkan dengan pertolongan dariNya, Allah akan memasukkan mereka ke dalam surga-surga yang dibawahnya mengalir sunga-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepadaNya. Mereka itulah golongan Allah, ketahuilah sesungguhnya hanya golongan Allah itulah orang-orang yang beruntung".(QS.al-Mujadalah:22) Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallah bersabda,"Barang siapa yang mencintai karena Allah, Membenci karena Allah, Memberi karena Allah, Dan tidak memberi juga karena Allah. MAka sungguh dia telah menyempurnakan imannya." Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda," Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, tidaklah beriman salah seorang dari kalian sampai aku lebih dicintainya daripada orang tua dan anak-anaknya."(HR

Bukhari). Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,"Ciri keimanan yaitu mencintai kaum Anshar, sedangkan ciri kemunafikan yaitu membenci kaum Anshar". (HR. Bukhari). 5. Berinfak di kala senang maupun susah Allah ta'ala berfirman,"Bersegeralah menuju ampunan Rabb kalian dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orang-orang yang menginfakkan hartanya di kala senang maupun susah, orang-orang yang menahan amarah, yang suka memaafkan orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. Dan orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri mereka sendiri maka mereka pun segera mengingat Allah lalu meminta ampunan bagi dosa-dosa mereka, dan siapakah yang mampu mengampuni dosa selain Allah. Dan mereka juga tidak terus menerus melakukan dosanya sementara mereka mengetahuinya." (QS.Ali Imron:133-135). Membelanjakan harta di jalan Allah merupakan ciri orang-orang yang bertakwa. Allah ta'ala berfirman,"Alif lam mim, Ini adalah Kitab yang tidak ada keraguan padanya. Petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa. Yaitu orangorang yang beriman kepada perkara ghaib, mendirikan shalat, dan membelanjakan sebagian harta yang Kami berikan kepada mereka". (QS al-Baqarah:1-3). Syaikh as-Sa'di memaparkan, infak yang dimaksud dalam ayat di atas mencakup berbagai infak yang hukumnya wajib seperti zakat, nafkah untuk istri dan kerabat, budak, dan lain sebagainya. Demikian juga ia meliputi infak yang hukumnya sunnah melalui berbagai jalan kebaikan. Di dalam ayat di atas Allah menggunakan kata min yang menunjukkan makna sebagian, demi menegaskan bahwa yang dituntut oleh Allah hanyalah sebagian kecil dari harta mereka, tidak akan menyulitkan dan memberatkan bagi mereka. Bahkan dengan infak itu mereka sendiri akan bisa memetik manfaat, demikian pula saudara-saudara mereka yang lain. 6. Memiliki hati yang selamat Allah ta'ala berfirma,"Pada hari itu 'hari kiamat' tidak bermanfaat lagi harta dan keturunan, melainkan bahi orang yang menghadap Allah, dengan hati yang selamat".(QS.as-Syu'ara:88-89). Abu Utsman an-Naisaburi rahimahullah mengatakan tentang hakikat hati yang selamat,"Yaitu hati yang terbebas dari bid'ah dan tenteram dengan Sunnah." Imam al-Alusi rahimahullah juga menyebutkan bahwa terdapat riwayat dari para ulama salaf seperti Ibnu Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu Sirin, dan lain-lain yang menafsirkan bahwa yang dimaksud hati yang selamat adalah, "Hati yang selamat dari penyakit kekafiran dan kemunafikan". Ibnu Qayyim rahimahullah mengatakan, "Pengertian paling lengkap tentang makna hati yang selamat itu adalah hati yang terselamatkan dari segala syahwat yang menyelisihi perintah Allah dan laranganNya. Hati yang bersih dari segala macam syubhat yang bertentangan dengan berita dariNya. Oleh sebab itu, hati semacam ini akan terbebas dari penghambaan kepada selainNya. Dan ia akan terbebas dari tekanan untuk berhukum kepada selain Rasulnya..." Ibnu Qayyim rahimahullah juga menjelaskan karakter si pemilik hati yang selamat itu,"...apabila dia mencintai maka cintanya karena Allah. Apabila dia membenci maka bencinya karena Allah. Apabila dia memberi maka juga karena Allah. Apabila dia mencegah/tidak memberi maka itupun karena Allah..."

Anda mungkin juga menyukai