Anda di halaman 1dari 21

ZOOGEOGRAFI Ditujukan sebagai tugas mata kuliah ikhtiologi

Disusun oleh : Kelompok Irfan Ramadhan Masnun Anggita Dian Permana Azy M. Azharuddin Muhammad Muzni Nurudin Wina Febrianti 230110100135 230110100136 230110100137 230110100139 230110100140 230110100141 230110100142

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN PROGRAM STUDI PERIKANAN JATINANGOR 2011

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat allah SWT yang telah memberikan kesehatan dan kesempatan bagi kami untuk menyelesaikan makalah Iktiologi ini yang berjudul Zoogeografi dapat terselesaikan dengan baik. Dalam penyusunan tugas atau materi ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan materi ini tidak lain berkat bantuan, dorongan dan bimbingan, sehingga kendala-kendala yang kami hadapi dapat teratasi. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada : 1. Bapak / Ibu dosen yang telah memberi petunjuk dan bimbingan, kepada penulis sehingga kami dapat menyelesaikan tugas ini. 2. Orang tua yang telah turut membantu, membimbing, dan mengatasi berbagai kesulitan sehingga tugas ini selesai.

Penulisan makalah ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui penyebaranpenyebaran ikan. Kami berharap semoga makalah ini dapat berguna dan bisa membantu kesulitan para pembaca. Akhir kata kami sadar jika penulisan makalah ini masih jauh dari hasil yang diharapkan , maka dengan ini kami sangat mengharapkan saran dan kritik dari para pembaca untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Jatinangor, 5 Desember 2011

Penulis

DAFTAR ISI

BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang .... 1.2 Tujuan .........................

Halaman

1 4

II. ISI 2.1 Pengertian Zoogeografi...................................... 2.1.1 2.1.2 Continental Drift ( Pergeseran Benua ) Faktor- Faktor Pendorong Terjadinya Zoogeografi Pengertian Ikan Air Tawar. Ekosistem Air Tawar.. Pengelompokkan Organisme Pada Ekosistem Air Tawar.. Ekosistem Air Laut. Pembagian daerah ekosistem air laut.. Komunitas di Dalam Ekosistem Air Laut 5 5 6 9 9 10 11 13 13 13 14

2.2 Zoogeografi Ikan Air Tawar ...................................... 2.2.1 2.2.2 2.2.3

2.3 Zoogeografi Ikan Air Laut.. ...... 2.3.1 2.3.2 2.3.3

III PENUTUP 3.1 Kesimpulan ........................................................................................ 3.2 Saran .................................................................................................. 16 17

DAFTAR ACUAN ...........................................................................................

18

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Akhir-akhir ini ilmu tentang perikanan banyak dipelajari mengingat ikan

merupakan salah satu sumberdaya yang penting. Sebelum kita membahas lebih lanjut pengertian ikhtiologi, sebaiknya perlu diketahui tentang Apakah Ikan itu?. Ikan merupakan salah satu jenis hewan vertebrata yang bersifat poikilotermis, memiliki ciri khas pada tulang belakang, insang dan siripnya serta tergantung pada air sebagai medium untuk kehidupannya. Ikan memiliki kemampuan di dalam air untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya sehingga tidak tergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arah angin. Dari keseluruhan vertebrata, sekitar 50,000 jenis hewan, ikan merupakan kelompok terbanyak di antara vertebrata lain memiliki jenis atau spesies yang terbesar sekitar 25,988 jenis yang terdiri dari 483 famili dan 57 ordo. Jenis-jenis ikan ini sebagian besar tersebar di perairan laut yaitu sekitar 58% (13,630 jenis) dan 42% (9870 jenis) dari keseluruhan jenis ikan. Jumlah jenis ikan yang lebih besar di perairan laut, dapat dimengerti karena hamper 70% permukaan bumi ini terdiri dari air laut dan hanya sekitar 1% merupakan perairan tawar. Setelah kita mendefinisikan pengertian tentang ikan, dapatlah dimengerti mengapa ilmu tentang perikanan perlu dipelajari. Selain ikan merupakan salah satu sumberdaya yang penting, nilai-nilai kepentingan yanglain dari ikan antara lain dapat memberikan manfaat untuk rekreasi, nilai ekonomi atau bernilai komersial, dan ilmu pengetahuan untuk masayarakat. Ikhtiologi atau Ichthyology merupakan salah satu cabang ilmu biologi yang mempelajari ikan secara ilmiah dengan penekanan pada taksonomi dan aspek-aspek lainnya. Kata ikhtiologi berasal dari pengertian ichtio = ikan dan logos = ilmu, jadi di dalam ikhtiologi ini dicakup beberapa aspek baik mengenai aspek biologi maupun ekologi ikan.

Dalam mempelajari ihktiologi ini tidak terlepas dari ilmu-ilmu yang lain karena saling berkaitan. Beberapa cabang ilmu pengetahuan yang sangat terkait dengan ikhtiologi ini antara lain Taksonomi Vertebrata, Morfologi dan Anatomi Hewan, Fisiologi, Genetika, dan Evolusi. Informasi yang digunakan dalam mempelajari hubungan evolusioner ikan berawal dari pengetahuan taksonomi terutama deskripsi ikan. Pengetahuan tersebut menjadi dasar dalam iktiologi dan juga bidangbidang lain seperti ekologi, fisiologi. Metode yang digunakan dalam bidang taksonomi terbagi menjadi enam kategori yaitu 1) pengukuran morfometrik, 2) ciri meristik, 3) ciri-ciri anatomi, 4) pola warna, 5) kariotipe, dan 6) Elektroforesis pengukuran morfometrik merupakan beberapa pengukuran standar yang digunakan pada ikan antara lain panjang standar, panjang moncong atau bibir, panjang sirip punggung atau tinggi batang ekor. Keterangan mengenai pengukuranpengukuran ini dibuat oleh Hubbs & Lagler (1964). Pada pengukuran ikan yang sedang mengalami pertumbuhan digunakan rasio dari panjang standar. Ikan yangdigunakan adalah ikan yang diperkirakan mempunyai ukuran dan kelamin yang sama. Hal ini disebabkan pertumbuhan ikan tidak selalu proporsional dan dimorfime seksual sering muncul pada ikan (tetapi seingkali tidak jelas). Pengukuran morfometrik merupakan pengukuran yang penting dalam mendekripsikan jenis ikan. Ciri meristik merupakan ciri-ciri dalam taksonomi yang dapat dipercaya, karena sangat mudah digunakan. Ciri meristik ini meliputi apa saja pada ikan yang dapat dihitung antara lain jari-jari dan duri pada sirip, jumlah sisik, panjang linea literalis dan ciri ini menjandi tanda dari spesies. Salah satu hal yang menjadi permasalahan adalah kesalahan penghitungan pada ikan kecil. Faktor lain yang dapat mempengaruhi cirri meristik yaitu suhu, kandungan oksigen terlarut, salinitas, atau ketersediaan sumber makanan yang mempengaruhi pertumbuhan larva ikan. Ciri-ciri anatomi sulit untuk dilakukan tetapi sangat penting dalam mendeskripsi ikan. Ciri-ciri tersebut meliputi bentuk, kesempurnaan dan letak linea

lateralis, letak dan ukuran organ-organ internal, anatomi khusus seperti gelembung udara dan organ-organ elektrik. Pola pewarnaan merupakan ciri spesifik, sebab dapat berubah sesuai dengan umur, waktu, atau lingkungan dimana ikan tersebut didapatkan. Hal ini merupakan bagian penting dalam mendeskripsi setiap spesies, misal pola pewarnaan adalah ciri spesifik spesies, kondisi organ reproduksi, jenis kelamin. Masalah utama dalam pewarnaan bila digunakan sebagai alat taksonomi adalah subjektivitas yang tinggi dalam mendeskripsi ikan. Kariotipe merupakan deskripsi dari jumlah dan morfologi kromosom. Jumlah krosmosom tiap sel tampaknya menjadi ciri-ciri ikan secara konservatif dan dfigunakan sebagai indikator dalam famili. Jumlah lengan kromosom seringkali lebih jelas dari pada jumlah krosmosom. Teknik lain yang digunakan berkaitan juga dengan kariotiping, adalah penghitungan jumlah DNA tiap sel. Namun, jumlah DNA cenderung berkurang pada spesies terspesialisasi (Hidengarrner & Rosen,1972 dalam Moyle & Cech, 1988).Ikan dapat ditemukan di hampir semua "genangan" air yang berukuran besar baik air tawar, air payau maupun air asin pada kedalaman Bervariasi, dari dekat permukaan air hingga beberapa ribu meter di bawah permukaan air. Namun, danau yang terlalu asin seperti Great Salt Lake tidak bisa menghidupi ikan. Ada beberapa spesies ikan dibudidayakan dan dipelihara untuk hiasan dalam akuarium, kita kenal sebagai ikan hias. Ikan adalah sumber makanan yang penting. Hewan air lain, seperti moluska dan krustasea kadang dianggap pula sebagai ikan ketika digunakan sebagai sumber makanan. Menangkap ikan untuk keperluan makan dalam jumlah kecil atau olah raga pancing sering disebut sebagai memancing. Hasil penangkapan ikan seluruh dunia setiap tahunnya berjumlah sekitar 100juta ton pertahun. Overfishing adalah sebuah istilah dalam bahasa Inggris untuk menjelaskan penangkapan ikan secara berlebihan. Fenomena ini merupakan ancaman bagi berbagai spesies ikan. Pada tanggal 15 Mei 2003, jurnal Nature melaporkan bahwa semua spesies ikan laut yang berukuran besar telah ditangkap berlebihan secara sistematis hingga jumlahnya kurang dari 10% jumlah

yang ada pada tahun 1950. Penulis artikel pada jurnal tersebut menyarankan pengurangan penangkapan ikan secara drastis dan reservasi habitat laut di seluruh dunia.

1.2.

Tujuan Adapun tujuan dari penyusunana makalah ini yaitu untuk menambah beberapa

informasi dalam memahami lebih lanjut dari mata kuliah ikhtiologi serta mengetahui daerah penyebaran ikan yang ada di Indoneia maupun luar Indonesia, baik ikan air tawar maupun ikan air laut.

BAB II ISI

2.1

Pengertian Zoogeografi Zoogeografi adalah cabang ilmu biogeografi yang mempelajari hal ihwal

penyebaran hewan di muka bumi. Berdasarkan ilmu ini dapat diketahui bahwa jenis binatang tertentu saja yang dapat menyebar ke seluruh penjuru bumi, sedangkan sebagian jenis binatang hanya hidup pada wilayah dengan kondisi dan karakteristik tertentu saja. Sedangkan biogeografi itu sendiri adalah bidang ilmu yang mempelajari dan berusaha untuk menjelaskan distribusi organisme di permukaan bumi. Di dunia ini dikenal 6 daerah biogeografi dengan masing-masing daerah yang memiliki perbedaan dan keseragaman tertentu (unik) dalam kelompok-kelompoknya. Daerah biogeografi ini dinamakan Australia, Oriental, Ethiopia, Neotropika, Paleartik dan Neartik. Karena fauna Paleartik dan Neartik adalah serupa, maka kedua daerah biogeografi ini kadang-kadang digabung menjadi Holartik.

2.1.1

Continental Drift ( Pergeseran Benua ) Sebagian besar ilmuwan percaya bahwa benua merupakan suatu lempeng

besar (kerak bumi) yang mengapung di atas lapisan cair (asthenosfer). Hal ini sesuai dengan teori apungan benua yang menyatakan benua mengapung di atas bagian cair asthenosfer dan terus bergerak sebagai akibat dari pengaruh arus konveksi di bawah permukaan kerak bumi. Alfred Wegener adalah orang pertama yang mengungkapkan teori tentang pergerakan benua ( Continental Drift ). Wegener menyatakan, semua benua itu berasal dari satu massa daratan raksasa yang bernama Pangaea. Akibat berbagai kekuatan dari dalam bumi telah memecahkannya menjadi pecahan-pecahan yang mirip mainan puzzle yang memencar ke kedudukannya seperti sekarang, dan bentuk puzzle benua itu terus bergerak.

Beberapa ilmuwan dapat menerima konsep ini namun sebagian besar lainnya tidak dapat membayangkan bagaimana satu massa benua yang besar dapat mengapung di atas bumi yang padat dan mengapa ini terjadi. Pemahaman para ilmuwan pengkritik adalah bahwa gaya yang bekerja pada bumi adalah gaya vertikal. Tidaklah mungkin gaya vertikal ini mampu menyebabkan benua yang besar tersebut pecah. Pada masa itu belum dijumpai bukti-bukti yang meyakinkan. Wegener mengumpulkan bukti lainnya berupa kesamaan garis pantai, persamaaan fosil, struktur dan batuan. Namun, tetap saja usaha Wegener sia-sia karena Wagener tidak mampu menjelaskan dan meyakinkan para ahli bahwa gaya utama yang bekerja adalah gaya lateral bukan gaya vertikal. Adanya continental drift ditunjukan dengan adanya bukti geologi yang mendukung, antara lain adanya kesamaan antara: garis pantai sebelah barat benua amerika bagian selatan dengan garis pantai benua afrika sebelah timur; kesamaan pegunungan di daerah britania yaitu amerika utara, eropa dan afrika; kesamaan batuan; dan kesamaan gletser di daerah antartika.

Bukti Palaeontology Continental Drift Yaitu adanya kecocokan jenis fosil pada seatu daerah, sehingga kemungkinan makhluk hidup yang mempunyai kecocokan tersebut berasal dari satu tempat. Dari penemuan dapat diketahui bahwa fosil di suatu daerah yang batasi lautan memiliki fosil tanaman dan hewan yang sama.

2.1.2

Faktor- Faktor Pendorong Terjadinya Zoogeografi Banyak faktor-faktor yang mendorong terjadinya zoogeografi, diantara factor-

factor tersebut antara lain : Faktor Tekanan

Tekanan dapat disebabkan oleh padatnya populasi. Tersedianya makanan yang melimpah ruah dan ruang (teritorial) yang luas menyebabkan sebagian organisme melakukan migrasi (pindah) untuk menghindari kompetisi, terutama kompetisi intraspesies. Faktor Transportasi Transportasi baik berupa transportasi darat, laut dan udara dapat menjadi sarana suatu kelompok hewan untuk menempati suatu wilayah baru. Misalnya melalui kapal laut, kelompok tikus dapat berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Faktor Perdagangan Satwa Jual beli satwa antar pulau atau antar benua merupakan salah satu penyebab terjadinya persebaran hewan di dunia. Faktor Rusaknya Habitat/ Ekosistem Asal Rusaknya habitat/ekosistem asal dapat disebabkan oleh bencana alam (gunung meletus, banjir badang, angina putting beliung, dll). Dengan rusaknya

habitat/ekosistem asal maka memaksa hewan yang selamat untuk mencari habitat baru. Faktor Tersedianya Makanan Makanan yang semakin berkurang karena berbagai sebab dapat mendorong sebagian besar populasi bermigrasi untuk menghindari bencana kelaparan. Faktor Predator Serangan dari populasi predator ganas dapat mendorong populasi mangsa untuk bermigrasi menjauh (menyelamatkan diri). Faktor Parasit Parasit dapat menyebabkan sebagian populasi yang masih sehat bermigrasi menjauh. Faktor Penyakit

Penyakit ganas dapat menyebabkan wabah sehingga menyebabkan sebagian populasi yang sehat bermigrasi untuk menyelamatkan diri. Faktor Kompetitor Saingan yang diperoleh dari populasi kompetitor yang terlalu kuat dan dominan menjadi pendorong populasi yang kalah bermigrasi menyingkir. Faktor Iklim Perubahan iklim berkala yang sangat ekstrim mendorong populasi yang tidak mampu beradaptasi tetapi mempunyai daya jelajah yang sangat tinggi untuk bermigrasi ke daerah yang lebih sesuai untuk hidupnya. Misalnya pada daerah yang memiliki 4 musim, pada musim dingin, bangsa burung melakukan migrasi. Faktor Manusia Eksploitasi habitat yang dilakukan manusia secara membabi buta seperti penebangan hutan secara liar dapat menyebabkan rusaknya ekosistem suatu populasi. Hal tersebut memacu hewan untuk keluar dari hutan seperti ke perkampungan penduduk. Faktor Mencari Pasangan Pada saat musim kawin, hewan jantan yang mengalami ekstrus (birahi) akan pergi ke tempat/ daerah yang terdapat hewan betina untuk melakukan kopulasi (perkawinan) Faktor Jembatan/ Teruzan Jembatan penghubung antar pulau ataupun teruzan antar benua dapat menjadi sarana bagi hewan untuk melakukan migrasi terutama bagi hewan darat. Faktor Pencemaran Lingkungan Pencemaran lingkungan dapat berupa pencemaran air, udara, maupun tanah. Pencemaran dapat menyebabkan tercemarnya lingkungan yang berbahaya bagi kelangsungan hidup hewan di daerah tersebut. Sehingga memacu hewan untuk mencari tempat yang tidak tercemar. Faktor Potensi Berbiak yang Tinggi

Daya dukung lingkungan pada daerah asal tidak memungkinkan hewan untuk berbiak secara optimal. Untuk itu, hewan akan mencari tempat baru yang mendukung untuk berbiak secara optimal. Faktor Ruang di Tempat Asal Ruang/ daerah territorial di tempat asal yang semakin menyempit mendorong hewan untuk mencari daerah territorial yang lebih luas.

2.2 2.2.1

Zoogeografi Ikan Air Tawar Pengertian Ikan Air Tawar Ikan air tawar adalah ikan yang menghabiskan sebagian atau seluruh hidupnya

di air tawar, seperti sungai dan danau, dengan salinitaskurang dari 0,05%. Dalam banyak hal, lingkungan air tawar berbeda dengan lingkungan perairan laut, dan yang paling membedakan adalah tingkat salinitasnya. Untuk bertahan di air tawar, ikan membutuhkan adaptasi fisiologis yang bertujuan menjaga keseimbangan

konsentrasiion dalam tubuh. 41% dari seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang cepat yang menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali. Ikan air tawar berbeda secara fisiologis dengan ikan laut dalam beberapa aspek. Insang mereka harus mampu mendifusikan air sembari menjaga

kadar garam dalam cairan tubuh secara simultan. Adaptasi pada bagian sisik ikan juga memainkan peran penting; ikan air tawar yang kehilangan banyak sisik akan mendapatkan kelebihan air yang berdifusi ke dalam kulit, dan dapat menyebabkan kematian pada ikan. Karakteristik lainnya terkait ikan air tawar adalah ginjalnya yang berkembang dengan baik. Ginjal ikan air tawar berukuran besar karena banyak air yang melewatinya. Banyak spesies bereproduksi di air tawar namun menghabiskan sebagian besar kehidupannya di laut. Mereka dikenal dengan nama ikan anadromous,

meliputi salmon, trout, dan stickleback. Beberapa ikan, secara berlawanan, lahir di laut dan hidup di air tawar, misalnya sidat. Spesies yang bermigrasi antara air laut dan air tawar membutuhkan adaptasi pada kedua lingkungan. Ketika berada di dalam air laut, mereka harus menjaga konsentrasi garam dalam tubuh mereka lebih rendah dari pada lingkungannya. Ketika berada di air tawar, mereka harus menjaga kadar garam berada di atas konsentrasi lingkungan sekitarnya. Banyak spesies yang menyelesaikan masalah ini dengan berasosiasi dengan habitat berbeda pada berbagai tahapan hidup. Belut, bangsa salmon, dan lamprey memiliki toleransi salinitas di berbagai tahap kehidupan mereka.

No 1.

Nama Indonesia Jelawat

Nama Latin Leptobarbus hoeveni.

Derah Penyebaran Palembang, Indragiri, sungai-sungai di Kalimantan dan Siam

2.

Lampam

Puntius spp.

Hampir diseluruh Sumatera, di sungaisungai Kalimantan, Malaka, dan Siam.

3.

Gabus

Ophiocephalus spp.

Dari India dan Ceylon ke Indonesia dan dari Indonesia ke Philipina

4.

Toman

Ophiocephalus micropeltus.

Kalimantan

5. 6. 7.

Sepat Siam Ikan Tambakan Ikan Lele

Trichogastes pectoralis. Helostoma temminckii. Clarias spp.

Indonesia, Vietnam, Ceylon, Kamboja. Palembang, Jawa Barat. Indonesia Philipina. , Malasia, Vietnam,

8. 9.

Belida Gurame

Notopterus spp. Osphronemus gouramy

Di perairan Asia. Pulau Sumatra, Jawa dan Kalimantan.

2.2.2

Ekosistem Air Tawar Ekosistem air tawar dibedakan menjadi dua, yaitu:

1. Ekosistem air tenang (lentik) misalnya: danau, rawa. 2. Ekosistem air mengalir (lotik) misalnya: sungai, air terjun. Ciri-ciri ekosistem air tawar: a. Kadar garam/salinitasnya sangat rendah, bahkan lebih rendah dari kadar garam protoplasma organisme akuatik. b. Variasi suhu sangat rendah. c. Penetrasi cahaya matahari kurang. d. Dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Flora ekosistem air tawar: Hampir semua golongan tumbuhan terdapat pada ekosistem air tawar, tumbuhan tingkat tinggi (Dikotil dan Monokotil), tumbuhan tingkat rendah (jamur, ganggang biru, ganggang hijau). Fauna ekosistem air tawar: Hampir semua filum dari dunia hewan terdapat pada ekosistem air tawar, misalnya protozoa, spans, cacing, molluska, serangga, ikan, amfibi, reptilia, burung, mammalia. Ada yang selalu hidup di air, ada pula yang

ke air bila mencari makanan saja. Hewan yang selalu hidup di air mempunyai cara beradaptasi dengan lingkungan yang berkadar garam rendah. Pada ikan dimana kadar garam protoplasmanya lebih tinggi daripada air, mempunyai cara beradaptasi sebagai berikut: Sedikit minum, sebab air masuk ke dalam tubah secara terus-menerus melalui proses osmosis. Garam dari dalam air diabsorbsi melalui insang secara aktif Air diekskresikan melalui ginjal secara berlebihan, juga diekskresikan melalui insang dan saluran pencernaan.

2.2.3

Pengelompokkan Organisme Pada Ekosistem Air Tawar Pengelompokan organisme pada ekosistem air tawar dapat dikelompokkan

menjadi beberapa kelompok yang didasarkan kepada : Berdasarkan cara memperoleh makanan atau energi, dibagi menjadi 2 kelompok: 1. Organisme autotrof: organisme yang dapat mensintesis makanannya sendiri. Tumbuhan hijau tergolong organisme autotrof, peranannya sebagai produsen dalam ekosistem air tawar. 2. Fagotrof dan Saprotrof: merupakan konsumen dalam ekosistem air tawar. Fogotrof adalah pemakan organisme lain, sedang Saprotrof adalah pemakan sampah atau sisa organisme lain. Berdasarkan kebiasaan kehidupan dalam air, organisme air tawar dibedakan atas 5 macam: 1. Plankton: terdiri atas fitoplankton (plankton tumbahan) dan zooplankton (plankton hewan), merupakan organisme yang gerakannya pasif selalu dipengaruhi oleh arus air. 2. Nekton: organisme yang bergerak aktif berenang. Contoh: ikan, serangga air. 3. Neston: organisme yang beristirahat dan mengapung di permukaan air. 4. Bentos: organisme yang hidup di dasar perairan. 5. Perifiton: organisme yang melekat pada suatu substrat (batang, akar, batubatuan) di perairan. Berdasarkan fungsinya, organisme air tawar dibedakan menjadi 3 macam: 1. Produsen: terdiri dari Bolongan ganggang, ganggang hijau dan ganggang biru, golongan spermatophyta, misal: eceng gondok, teratai, kangkung, genger, kiambang. 2. Konsumen: meliputi hewan-hewan, serangga, udang, siput, cacing, dan hewan-hewan lainnya. 3. Dekomposer/pengurai: sebagian besar terdiri atas bakteri dan mikroba lain.

Berdasarkan intensitas cahaya, ekosistem air tawar dibedakan menjadi 3 daerah, yaitu: 1. Daerah litoral: daerah air dangkal, sinar matahari dapat menembus sampai dasar perairan organisme daerah litoral adalah tumbuhan yang berakar, udang, cacing dan fitoplankton. 2. Daerah limnetik: daerah terbuka yang masih dapat ditembus oleh cahaya matahari. Organisme daerah ini adalah plankton, neston dan nekton. 3. Daerah profundal: daerah dasar perairan tawar yang dalam sehingga sinar matahari tidak dapat menembusnya. Produsen sudah tidak ditemukan lagi.

2.3

Zoogeografi Ikan Air Laut

2.3.1

Ekosistem Air Laut Ekosistem air laut luasnya lebih dari 2/3 permukaan bumi ( + 70 % ), karena

luasnya dan potensinya sangat besar, ekosistem laut menjadi perhatian orang banyak, khususnya yang berkaitan dengan REVOLUSI BIRU. Ciri-ciri: 1. Memiliki kadar mineral yang tinggi, ion terbanyak ialah Cl`(55%), namun kadar garam di laut bervariasi, ada yang tinggi (seperti di daerah tropika) dan ada yang rendah (di laut beriklim dingin). 2. Ekosistem air laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca.

2.3.2

Pembagian daerah ekosistem air laut Daerah ekosistem air laut dibagi menjadi beberapa daerah antara lain:

Daerah Litoral / Daerah Pasang Surut: Daerah litoral adalah daerah yang langsung berbatasan dengan darat. Radiasi matahari, variasi temperatur dan salinitas mempunyai pengaruh yang lebih berarti untuk daerah ini dibandingkan dengan daerah laut lainnya. Biota yang hidup di

daerah ini antara lain: ganggang yang hidup sebagai bentos, teripang, binatang laut, udang, kepiting, cacing laut. Daerah Neritik: Daerah neritik merupakan daerah laut dangkal, daerah ini masih dapat ditembus cahaya sampai ke dasar, kedalaman daerah ini dapat mencapai 200 m. Biota yang hidup di daerah ini adalah plankton, nekton, neston dan bentos. Daerah Batial atau Daerah Remang-remang: Kedalamannya antara 200 2000 m, sudah tidak ada produsen. Hewannya berupa nekton. Daerah Abisal: Daerah abisal adalah daerah laut yang kedalamannya lebih dari 2000 m. Daerah ini gelap sepanjang masa, tidak terdapat produsen. Berdasarkan intensitas cahayanya, ekosistem laut dibedakan menjadi 3 bagian: 1. Daerah fotik: daerah laut yang masIh dapat ditembus cahaya matahari, kedalaman maksimum 200 m. 2. Daerah twilight: daerah remang-remang, tidak efektif untuk kegiatan fotosintesis, kedalaman antara 200 2000 m. 3. Daerah afotik: daerah yang tidak tembus cahaya matahari. Jadi gelap sepanjang masa.

2.3.3

Komunitas di Dalam Ekosistem Air Laut Menurut fungsinya, komponen biotik ekosistem laut dapat dibedakan menjadi

4, yaitu: 1. Produsen terdiri atas fitoplankton dan ganggang laut lainnya. 2. Konsumen terdiri atas berbagai jenis hewan. Hampir semua filum hewan ditemukan di dalam ekosistem laut. 3. Zooplaokton terdiri atas bakteri dan hewan-hewan pemakan bangkai atau sampah.

Pada ekosistem laut dalam, yaitu pada daerah batial dan abisal merupakan daerah gelap sepanjang masa. Di daerah tersebut tidak berlangsung kegiatan fotosintesis, berarti tidak ada produsen, sehingga yang ditemukan hanya konsumen dan dekompos saja. Ekosistem laut dalam merupakan suatu ekosistem yang tidak lengkap. Adaptasi biota laut terhadap lingkungan yang berkadar garam tinggi. Pada hewan dan tumbuhan tingkat rendah tekanan osmosisnya kurang lebih sama dengan tekanan osmosis air laut sehingga tidak terlalu mengalami kesulitan untuk beradaptasi. Tetapi bagaimanakah dengan hewan tingat tinggi, seperti ikan yang mempunyai tekanan osmosis jauh lebih rendah daripada tekanan osmosis air laut. Cara ikan beradaptasi dengan kondisi seperti itu adalah: 1. hanyak minum 2. air masuk ke jaringan secara osmosis melalui usus 3. sedikit mengeluarkan urine 4. pengeluaran air terjadi secara osmosis 5. garam-garam dikeluarkan secara aktif melalui insang

BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan Dari zoogeografi kita dapat mengetahui jenis binatang tertentu yang dapat menyebar ke seluruh penjuru bumi, dan sebagian binatang yang hanya hidup pada wilayah dengan kondisi dan karakteristik tertentu saja. Di dunia ini dikenal 6 daerah biogeografi dengan masing-masing daerah yang memiliki perbedaan dan keseragaman tertentu (unik) dalam kelompok-kelompoknya. Daerah biogeografi ini dinamakan Australia, Oriental, Ethiopia, Neotropika, Paleartik dan Neartik. Faktor faktor yang menyebabkan terjadinya zoogeografi terdiri dari beberapa faktor, yaitu faktor tekanan, faktor transportasi, faktor perdagangan satwa, faktor rusaknya habitat/ekosistem asal, faktor tersedianya makanan, faktor predator, faktor parasit, faktor penyakit, faktor kompetitor, faktor iklim, faktor manusia, faktor mencari pasangan, faktor jembatan, faktor pencemaran lingkungan, faktor potensi berbiak yang tinggi, faktor ruang di tempat asal. Zoogeografi terdapat beberapa ekosistem seperti ekosistem air tawar meliputi flora, fauna, dan organisme yang berada di air tawar. Pada ekosistem air laut terdapat komponen biotik yang terdiri dari produsen terdiri atas fitoplankton dan ganggang laut lainnya, konsumen terdiri atas berbagai jenis hewan. Hampir semua filum hewan ditemukan di dalam ekosistem laut, .ooplaokton terdiri atas bakteri dan hewan-hewan pemakan bangkai atau sampah Zoogeografi pada ikan air tawar 41% dari seluruh spesies ikan diketahui berada di air tawar. Hal ini karena spesiasi yang cepat yang menjadikan habitat yang terpencar menjadi mungkin untuk ditinggali. Pada ikan air tawar yang bermigrasi antara air laut dan air tawar membutuhkan adaptasi pada kedua lingkungan.

Zoogeografi ekosistem air laut mempunyai ciri-ciri memiliki kadar mineral yang tinggi, ekosistem air laut tidak dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Pada ikan air laut biasanya beradaptasi dengan cara hanya minum, air masuk ke jaringan secara osmosis melalui usus, sedikit mengeluarkan urine, pengeluaran air terjadi secara osmosis, aram-garam dikeluarkan secara aktif melalui insang.

3.2 Saran Zoogeografi tidak hanya untuk mengetahui penyebaran hewan di muka bumi, Zooogeografi juga dapat dimanfaatkan sebagai salah satu parameter tentang potensi perikanan di Indonesia seperti penyebaran ikan di Indonesia yang sangat berguna khususnya dalam bidang perikanan.

DAFTAR PUSTAKA

http://pemancing.com/category/jenis-ikan http://benihikan.net/gurame/habitat-dan-penyebaran-ikan-gurame/ http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/23/faktor-faktor-pendorong-terjadinyazoogeografi/ http://id.wikipedia.org/wiki/Zoogeografi http://freelander09.wordpress.com/2009/01/05/alfred/ http://id.wikipedia.org/wiki/Pergeseran_Benua http://gurungeblog.wordpress.com/2009/01/06/daerah-biogeografipenyebaranorganisme-di-bumibiomaekosistem-air-tawar-dan-air-laut/ http://id.wikipedia.org/wiki/Zoogeografi http://id.wikipedia.org/wiki/Fauna_Indonesia http://sinar-fals.blogspot.com/2011/10/ekologi-ikan.html