Anda di halaman 1dari 4

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Deskripsi Artemia sp. Menurut Bougis (1979) dalam Isnansetyo dan Kurniastuty (1995) sistematika Artemia sp. adalah sebagai berikut : Filum Kelas Subkelas Ordo Famili Genus Spesies : Artohopda : Crustacea : Branchiopoda : Anostraca : Artemiidae : Artemia : Artemia sp.

Nama Artemia sp. diberikan untuk pertama kali oleh Schlosser yang menemukannya di suatu danau asin pada tahun 1775. Kemudian oleh Linnaeus (1758) melengkapkan nama renik ini menjadi Artemia sp. (Gambar 1) karena daya toleransinya terhadap salinitas yang amat tinggi.

Gambar 1. Artemia sp.

Artemia sp. diperdagangkan dalam bentuk telur yang disebut dengan kista. Bila dilihat dengan
kasat mata berbentuk bulatan-bulatan kecil berwarna coklat (Isnansetyo dan Kuniastuty, 1995). Artemia sp. dewasa memiliki panjang antara 1 2 cm dan berat 10 mg. Telur Artemia sp. beratnya 3,6 mikrogram dengan diameter sekitar 300 mikron. Pada saat baru menetas, Artemia sp. memiliki berat tubuh 15 mikrogram dan panjang tubuh 0,4 mm. Stadia awal ini disebut nauplius instar I, pada Instar II panjang tubuhnya telah mencapai 0,6 mm dan pada instar III mencapai sekitar 0,7 mm (Mudjiman, 1989 dan Djarijah, 1995). Menurut Mudjiman (2007) Artemia sp. merupakan udang renik yang tergolong udang primitif. Zooplankton ini hidup secara planktonik di perairan yang berkadar garam tinggi yakni antara 15 300 permil. Sebagai plankton, Artemia sp. tidak dapat mempertahankan diri terhadap pemangsanya sebab tidak mempunyai alat ataupun cara untuk membela diri. Kista Artemia sp. berbentuk bulat dan berwarna cokelat. Diameternya bervariasi antara 224,7-267,0 mikrometer (m) dan beratnya rata-rata 1,885 mikrorogram (g). Secara anatomi, susunan kista Artemia sp. terdiri dari dua lapisan yaitu korion dan selaput embrio. Selaput ini adalah semacam membrane atau selaput yang membungkus embrio (Harefa, 1996). 2.2 Siklus Hidup dan Reproduksi Siklus hidup Artemia sp. bisa dimulai dari saat menetasnya kista atau telur. Setelah 15 - 20 jam pada suhu 25 C, kista akan menetas manjadi embrio. Pada fase ini, embrio akan menyelesaikan perkembangannya kemudian berubah menjadi naupli yang sudah akan bisa berenang bebas. Pada awalnya naupli akan berwarna orange kecoklatan akibat masih mengandung kuning telur. Artemia yang baru menetas tidak akan makan, karena mulut dan anusnya belum terbentuk dengan sempurna. Setelah 12 jam menetas mereka akan ganti kulit dan memasuki tahap larva kedua. Dalam fase ini Artemia sp. akan mulai makan,

dengan pakan berupa mikro alga, bakteri, dan detritus organik lainnya. Pada dasarnya Artemia sp. tidak memilih jenis pakan yang dikonsumsinya selama bahan tersebut tersedia di air dengan ukuran yang sesuai. Naupli akan berganti kulit sebanyak 15 kali sebelum menjadi dewasa dalam waktu 8 hari. Artemia dewasa rata-rata berukuran sekitar 8 mm, meskipun demikian pada kondisi yang tepat mereka dapat mencapai ukuran sampai dengan 20 mm. Pada kondisi demikian biomasnya akan mencapi 500 kali dibandingakan biomas pada fase naupli. (http://www.ofish.com/PakanIkan/artemia_content.php 19 Desember 2009) Media kultur dengan salinitas rendah dan pakan yang optimal, betina Artemia sp. bisa menghasilkan naupli sebanyak 75 ekor perhari. Selama masa hidupnya (sekitar 50 hari)Artemia sp. bisa memproduksi naupli rata-rata sebanyak 10 -11 kali. Dalam kondisi super ideal, Artemia sp. dewasa bisa hidup selama 3 bulan dan memproduksi nauplii atau kista sebanyak 300 ekor(butir) per 4 hari (Harefa, 1996). Berdasarkan cara berkembangbiaknya, dikenal dua jenis Artemia, yaitu jenis biseksual dan jenis partenogenetik. Jenis biseksual tidak dapat berkembangbiak secara parthenogenesis. Demikian pula sebaliknya, jenis parteogenetik tidak dapat berkembangbiak secara biseksual (Mudjiman, 1989).

Artemia sp. dewasa dapat hidup selama 6 bulan pada kondisi lingkungan yang baik. Induk betina dapat
bertelur selama 4-5 hari sekali dengan jumlah 50-300 butir (Khairuman dan Amri, 2005).

2.3 Cara Kultur Artemia sp. Untuk melakukan kegiatan penetasan diperlukan wadah dan perangkat suplai oksigen. Adapun bentuk wadah untuk penetasan tersebut berupa kerucut dengan ukuran tergantung kebutuhan. Suplai oksigen dijamin dengan dibuatnya sistem aerasi dalam wadah. Kepadatan maksimal kista adalah 15 gr/ltr air. Tingkat kepadatan optimal adalah sekitas 2 5 gr/ltr air. Sebagai media tetas digunakan air laut dengan salinitas antara 10 30 ppt. Dalam keadaan normal, kurang dari 48 jam kemudian kista akan menetas menjadi bentuk nauplius (Harefa, 1996). Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), penetasan Artemia sp. dilakukan dengan menggunakan wadah berbentuk corong (conical tank). Penetasan kista Artemia dapat dilakukan dengan cara langsung dan dengan cara dekapsulasi menggunakan Chlorin (NaOCl). Agar daya tetasnya baik, kepadatan kista tidak lebih dari 2 g/l dengan salinitas air 15 35 ppt dan suhu air 250- 280C. Untuk penetasan langsung lebih baik, apabila sebelum dimasukkan ke bak penetasan, kista tersebut direndam dalam air tawar untuk mempercepat hidrasi.

2.4 Kandungan Gizi Artemia sp. 2.4.1 Protein Protein merupakan senyawa organik kompleks yang tersusun atas asam amino yang mengandung unsur C, H, O dan N yang tidak dimiliki oleh lemak dan karbohidrat (Semeru dan Anna, 2005). Selanjutnya ditambahkan bahwa protein sangat penting bagi organsisme budidaya karena mempunyai fungsi sebagai pembentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Menurut Isnansetyo dan Kurniastuty (1995), protein mempunyai peranan penting untuk mempertahankan jaringan secara normal, untuk perawatan jaringan tubuh, mengganti sel-sel yang rusak dan pembentukan sel-sel baru. Komponen penyusun protein adalah asam amino. Kualitas protein ditentukan oleh asam amino pembentuknya, semakin lengkap asam amino esensial pembentuk protein maka semakin tinggi kualitas dari protein tersebut.

Menurut Mudjiman (1989) Artemia mudah sekali dicerna karena kulitnya sangat tipis (kurang dari 1 mikron). Artemia (nauplius) mengandung protein 42 % dan Artemia sp. dewasa (biomassa) kandungan proteinnya dapat mencapai 60 % berat kering. Protein Artemia sp. kaya akan asam amino esensial. Menurut Harefa (1996), kandungan protein Artemia sp. mencapai 40 % - 60 %. Kandungan protein yang tinggi inilah yang menyebabkan Artemia digunakan sebagai pakan alami yang sulit digantikan dengan pakan yang lain. Lebih lanjut ditambahkan bahwa komposisi kandungan nutrisi Artemia sp. bervariasi, faktor yang mempengaruhi komposisi tersebut diantaranya ialah strain, kualitas dan ketersediaan makanan serta kondisi tempat Artemia sp. hidup.

2.4.2 Lemak Lemak merupakan zat gizi penting yang berperan sebagai salah satu sumber energi yang mempunyai nilai energi paling tinggi. Lemak berperan penting dalam membran seluler yakni untuk perawatan dan integritas membran seluler (Isnansetyo dan Kurniastuty, 1995). Lebih lanjut dikemukakan lemak disusun atas asam lemak dan kualitas lemak juga ditentukan oleh asam lemak pembentuknya. Nauplius mempunyai lemak yang sangat tinggi (20 %) dibandingkan dengan Artemia sp. dewasa (10 %). Lemak Artemia kaya akan asam-asam lemak tak jenuh yang merupakan asam lemak esensial. Asam lemak tak jenuh bukan merupakan sumber kolestrol, sehingga tidak membahayakn bagi mahluk hidup (Mudjiman, 1989). Sama halnya dengan protein, kandungan lemak Artemia sp. juga dapat di tentukan oleh beberapa faktor yang dapat meningkatkan kandungan lemak seperti strain, media, intensitas cahaya, kualitas air suhu, pH dan salinitas ( Harefa, 1996). 2.5 Kualitas Air 2.5.1 Suhu

Artemia tidak dapat hidup pada suhu kurang dari 60 C atau lebih dari 350 C, akan tetapi hal ini jelas sangat tergantung pada individunya dan kebiasaan tempat hidup mereka. Misalnya sajaArtemia yang hidup di
tambak garam di Thailand, walaupun dia berasal dari Macau (Brazil), ternyata mereka dapat bertahan sampai beberapa minggu pada suhu 400 C. SedangkanArtemia dari Tuticorin (India)biasa hidup pada suhu antara 270-360 C. Pertumbuhan Artemiayang baik suhu berkisar antara 25-30 0 C. Berbeda dengan Artemia dewasa, telurnya yang kering lebih tahan terhadap suhu. Walaupun tidak pernah terjadi di alam, tetapi telah kita ketahui bahwa telur yang kering dapat bertahan pada suhu 1000 C, tetapi untuk telur yang basah tidak demikian halnya (Mudjiman, 1989). -2730 C dan

Artemia sp. dewasa toleran terhadap selang suhu -18 hingga 40 C. Sedangkan tempertur optimal
untuk penetasan kista dan pertumbuhan adalah 25 - 30 C. Meskipun demikian hal ini akan ditentukan oleh strain masing-masing. Artemia sp. (http://www.o-fish.com/PakanIkan/artemia_content.php 19 Desember 2009).

2.5.2 Salinitas Salinitas merupakan konsentrasi total dari semua ion yang larut dalam air, dan dinyatakan dalam bagian perseribu (ppt) yang setara dengan gram per liter (Boyd, 1990 dalam Faidar, 2005). Menurut Hutabarat dan Evans (1984), salinitas merupakan konsentrasi rata-rata seluruh garam yang terdapat di dalam air laut. Salinitas diduga berpengaruh terhadap perkembanganArtemia sp., makanya perlu dilakukan penelitian tentang hal tersebut yang menyakut dengan kandungan protein dan lemak Artemia sp. Menurut Harefa (1996), salah satu keunggulan jasad renik ini adalah kemampuannya dalam beradaptasi terhadap berbagai kondisi lingkungan, khususnya terhadap salinitas. Hewan ini mampu hidup pada rentang salinitas 5 -150 ppt. Beberapa jenis bahkan mampu hidup di perairan dengan

salinitas sampai 350 ppt. Tetapi, Mudjiman (2004) menyarankan menggunakan salinitas 30 ppt saat penetasan untuk mendapatkan hasil yang optimum.

Artemia sp. memiliki keunggulan yaitu mudah dalam penanganan, karena dapat bertahan dalam bentuk kista untuk waktu yang lama. Selain itu, Artemia sp. juga beradaptasi dalam kisaran salinitas lingkungan
yang lebar, makan dengan cara menyaring sehingga memper mudah dalam penyedian pakannya . (http://my.opera.com/sampahbermanfaat/blog/show.dml/4450747 19 Desember 2009). Artemia sp. menghendaki kadar salinitas antara 30 - 35 ppt, dan Artemia sp. dapat hidup dalam air tawar salama 5 jam sebelum akhirnya mati. (http://www.o-fish.com/PakanIkan/artemia_content.php 19 Desember 2009).

2.5.3 pH pH sangat penting sebagai parameter kualitas air karena pH dapat mengontrol tipe dan laju kecepatan reaksi beberapa bahan di dalam air. Selain itu ikan dan mahluk-mahluk akuatik lainnya hidup pada selang pH tertentu, sehingga dengan diketahuinya nilai pH maka kita akan tahu apakah air tersebut sesuai atau tidak untuk menunjang kehidupan organisme yang kita budidayakan. (http://www.ofish.com/parameter_air.htm 19 Desember 2009) Variable lain yang penting adalah pH dengan selang 8-9 merupakan selang yang paling baik, sedangkan pH di bawah 5 atau lebih tinggi dari 10 dapat membunuh Artemia sp. (http://www.ofish.com/PakanIkan/artemia_content.php 19 Desember 2009).