Anda di halaman 1dari 5

BAB

Pendahuluan

aillisement Verordening Stb. 1905 No. 217 Jo Stb. 1906 No. 348 merupakan hukum kepailitan lama yang merupakan produk perundang-undangan Belanda yang mengatur materi tentang kepailitan secara lengkap, ketat dan mendetail seperti ciri khas perundang-undangan Belanda. Dalam mempelajari Faillisement Verordening, maka kesan pertama yang muncul bagi sebahagian orang adalah keruwetan, ingewilkkelheidt yang cukup rumit dan berbelit-belit. Karena itu bagi sebahagian besar Sarjana Hukum Indonesia, bidang hukum kepailitan ini kurang dikenal, tidak populer dan hampir diabaikan, semacam Terra Incognito. Hal seperti ini jelas sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan dunia ilmu hukum dan praktek hukum. Sejalan dengan perkembangan perdagangan yang semakin cepat, meningkat dan dalam skala yang lebih luas dan global, masalah utang piutang perusahaan semakin rumit dan membutuhkan aturan hukum yang efektif. Akibatnya akademisi, pengacara dan berbagai kalangan mulai melirik kembali Faillisement Verordening. Mulai dilakukan kegiatankegiatan dalam bentuk seminar, lokakarya, dan penelitian yang khusus membahas hukum kepailitan serta aspek hukum lain yang memiliki kaitan yang sangat erat dengan hukum kepailitan terutama dampaknya dari segi ekonomi. Perkembangan perekonomian global membutuhkan aturan hukum kepailitan yang mampu memenuhi kebutuhan hukum para pelaku bisnis dalam penyelesaian utang piutang mereka. Globalisasi hukum mengikuti globalisasi ekonomi, dalam arti substansi berbagai Undang-undang dan perjanjian-perjanjian menyebar melewati batas-batas negara.1

1 Erman Rajagukguk, Globalisasi Hukum Dan Kemajuan Teknologi: Implikasinya Bagi Pendidikan Hukum Dan Pembangunan Hukum Indonesia, Pidato pada Dies Natalis Universitas Sumatera Utara Ke-44, Medan, 20 Nopember 2001, hal 1.

Gejolak moneter yang terjadi pada pertengahan Juli 1997, mengakibatkan dampak yang sangat luas terhadap perkembangan bisnis di Indonesia. Naiknya nilai tukar dollar terhadap rupiah dengan sangat tinggi menyebabkan banyak perusahaan di Indonesia tidak mampu membayar utangnya yang umumnya dilakukan dalam bentuk dollar. Akibatnya banyak perusahaan di Indonesia mengalami kebangkrutan. T. Dori menyebutkan bahwa ketidakmampuan para debitor di Indonesia membayar utangnya mengakibatkan Bank Indonesia sebagai bank sentral tidak lagi mampu menjamin pinjaman luar negeri. Hampir seluruh bank yang ada di Indonesia telah pailit secara tehnis karena tidak mampu lagi membayar utangnya.2 Krisis moneter dan perbankan yang melanda Indonesia pada tahun 1997 memakan biaya fiskal yang amat mahal yaitu mencapai 51 % dari PDB.3 Dalam rangka untuk mengatasi masalah utang piutang perusahaan tersebut, berbagai alternatif ditawarkan antara lain: 1. Mencapai kesepakatan bilateral antara debitor dan kreditor untuk menyelesaikan utang piutang diantara mereka, baik dilakukan oleh mereka sendiri maupun dengan memanfaatkan Prakarsa Jakarta (Jakarta Insiative). 2. Memanfaatkan Skema Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA). 3. Menggunakan Undang-Undang kepailitan.4 Selain itu upaya lain yang dapat ditempuh adalah: 4. Mempergunakan sistem penyelesaian sengketa di luar pengadilan (Alternative Dispute Resolution); 5. Mempergunakan penyelesaian melalui Badan Arbitrase Nasional (apabila dalam perjanjian ada klausul tentang hal ini); 6. Melakukan restrukturisasi utang. Bila seluruh upaya-upaya untuk menyehatkan perusahaan tidak dapat lagi menyelamatkan perusahaan maka perusahaan berada dalam keadaan pailit. Kegagalan perusahaan dalam mengembalikan pinjaman dapat dikategorikan bahwa perusahaan mengalami Corporate Failure.
John T. Dori, Indonesias Economic and Political Crisis: A Chalelenge for U.S Leadership in Asia (1998). Hal 3. The Heritage Foundation Policy Research and Analysis Research Asia and the Pasific, http://www.heritage org/research/asianthePasific/ 13612.cfon, akses tanggal 17 Agustus 1998. 3 Muliaman D. Hadad, et.all, Indikator Kepailitan di Indonesia: An Additional Early Warning Tools Pada Stabilitas Sistem Keuangan, (Hasil Penelitian), Desember 2003. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan bukti empiris mengenai faktor-faktor keuangan perusahaan yang mampu membedakan prilaku perusahaan yang masuk kelompok pailit dan tidak pailit. 4 Sutan Remy Syahdeini, Skema Indonesian Debt Restructuring Agency (INDRA), Makalah disampaikan dalam seminar Hukum Kepailitan oleh AEKI Sumut dengan STIH Graha Kirana di Medan, 19 Oktober1998, hal 3.
2

Pemerintah menyadari sepenuhnya bahwa diperlukan suatu instrumen hukum untuk memfasilitasi masalah utang piutang yang sangat diperlukan oleh dunia usaha sebagai jaminan kepastian hukum. Untuk itu pada tanggal 22 April 1998, Pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (selanjutnya disingkat Perpu). Perpu No. 1 Tahun 1998 yang berlaku pada tanggal 20 Agustus 1998 dan selanjutnya Perpu No. 1 tahun 1998 tersebut dikuatkan menjadi UU No. 4 Tahun 1998 yang direncanakan akan direvisi kembali setahun kemudian sejak disahkan oleh DPR.5 Latar belakang pemerintah mengeluarkan Perpu No. 1 Tahun 1998, tidak lain berkaitan dengan kondisi perekonomian pada masa itu. Pada satu sisi Indonesia membutuhkan kepercayaan dunia Internasional terhadap iklim bisnis Indonesia, dan di lain pihak para kreditor asing membutuhkan suatu aturan hukum hukum yang cepat dan pasti bagi penyelesaian piutag-piutangnya pada berbagai perusahaan Indonesia yang sebenarnya berada dalam kondisi bangkrut. Apabila mengandalkan penyelesaian utang-piutang berdasarkan peraturan yang lama maka akan memakan waktu yang lama, berbelit-belit dan tidak menjamin kepastian hukum. Untuk membantu kondisi perekonomian Indonesia, International Monetary Fund (IMF) memberikan bantuan pinjaman lunak (soft loans) pada pemerintah Indonesia. John T. Dori menyebutkan bahwa, IMF beranggapan kesuksesan pemulihan dan reformasi perekonomian di Indonesia tergantung sepenuhnya pada reformasi sistem hukum.6 Karena itu IMF mensyaratkan adanya reformasi hukum sebagai syarat pemberian pinjamannya yang tertuang dalam Memorandum Tambahan (Appendix VII) dalam Letter of Intent tertanggal 15 Januari 1998 yang dengan jelas mencantumkan keinginan IMF untuk memberlakukan hukum kepailitan yang baru di Indonesia dalam bentuk Peraturan Pemerintah (Perpu) serta membentuk Pengadilan khusus Niaga.7

Amandemen UU No. 4 Tahun 1998 ini kemudian dilakukan pada 18 Oktober 2004 dengan keluarnya UU No. 37 Tahun 2004. 6 John T. Dori, Indonesias Economic and Political Crisis: A Chalelenge for U.S Leadership in Asia (1998). Hal 3. The Heritage Foundation Policy Research and Analysis Research Asia and the Pasific, http://www.heritage org/research/asianthePasific/ 13612.cfon, akses tanggal 17 Agustus 1998. 7 Pada bulan Januari 1998 Letter of Intent Appendix VII: Indonesia: Bankruptcy and Judicial Reform, hal 46 47 disebutkan: The amendment of the existing bankrupty law and establishment of the Special Commercial Court will be effected through the issuance of a Governement Regulation in live of law.

Selanjutnya Perpu No. 1 Tahun 1998 pada tanggal 22 April 1998 dikuatkan oleh DPR menjadi UU No. 4 Tahun 1998 yang kemudian disempurnakan menjadi UU No. 37 Tahun 2004. PERPU No. 1 Tahun 1998 memiliki perbedaan yang prinsipil dengan Faillisement Verordening. Perbedaan tersebut yaitu: 1. PERPU No. 1 Tahun 1998 terdiri dari tiga bab yaitu; a. Bab I : Tentang Kepailitan Pasal 1 s/d Pasal 211 perubahan 51 pasal. b. Bab II : Tentang Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang, Pasal 212 s/d Pasal 279 perubahan 41 pasal. c. Bab III : Tentang Pengadilan Niaga, Pasal 280 s/d Pasal 289 terdiri dari 10 Pasal Baru Sedangkan Faillisement Verordening Stb. 1905 No. 217 jo. Stb. 1906 No. 348 terdiri dari 2 bab yaitu: a. Bab I : Tentang Kepailitan Pasal 1 s/d Pasal 211 b. Bab II : Tentang Penundaan Kewajiban Pembayaran utang (surseance van betaling) Pasal 212 s/d Pasal 279. 2. Dalam Pasal 6 ayat (4) PERPU No. 1 Tahun 1998 ditetapkan putusan atas permohonan pernyataan pailit harus sudah ditetapkan dalam jangka waktu paling lambat 30 hari terhitung sejak tanggal permohonan pernyataan pailit didaftarkan. Tujuan pasal tersebut adalah untuk mempercepat proses penyelesaian permohonan kepailitan. Ketentuan jangka waktu ini tidak dijumpai dalam Faillisement Verordening. 3. Upaya hukum yang disediakan oleh PEPRU No. 1 Tahun 1998 ialah Kasasi dan Peninjauan Kembali yang berarti bahwa putusan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang tidak bisa dibanding. Sedangkan dalam Faillisement Verordening dikenal adanya upaya hukum banding. 4. Tentang Kurator, berdasarkan Pasal 67 a, Kurator adalah: a. Balai Harta Peninggalan b. Kurator lainnya. Pada waktu Faillisement Verordening masih berlaku yang dapat menjadi kurator bagi si pailit hanyalah Balai Harta Peninggalan. Sekarang dengan berlakunya PERPU No. 1 Tahun 1998 dimungkinkan diangkat kurator swasta yaitu perorangan atau persekutuan perdata yang berdomisili di Indonesia yang memiliki keahlian khusus yang ditentukan dalam rangka mengurus dan atau membereskan harta si pailit. Kurator swasta tersebut harus terdaftar di Departemen Kehakiman. Besarnya imbalan jasa kurator ditentukan dalam Keputusan Menteri Kehakiman Republik Indonesia Nomor.

M.09-HT.05.10-tahun 1998 Tentang Pedoman Besarnya Imbalan Jasa bagi Kurator dan Pengurus. 5. Pada PERPU No. 1 Tahun 1998 ini ditetapkan bahwa pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang diperiksa dan diputuskan oleh Pengadilan Niaga yan berada di Lingkungan Peradilan Umum. 6. Dalam mengajukan permohonan kepailitan harus dilakukan melalui seorang Penasehat Hukum. Perpu No. 1 Tahun 1998 ini kemudian disahkan menjadi UU No. 4 Tahun 1998 yang selanjutnya pada tanggal 18 Oktober 2004 disempurnakan lagi menjadi UU No. 37 Tahun 2004. Penyempurnaan ini penting dilakukan mengingat UU No. 4 Tahun 1998 memiliki beberapa kelemahan yang akibatnya menimbulkan keputusan-keputusan yang inkonsisten dalam praktek kepailitan di Pengadilan Niaga. UU No. 37 Tahun 2004 ini terdiri atas 7 bab yang berisikan 308 pasal yang uraiannya adalah sebagai berikut: BAB I : Ketentuan Umum BAB II : Kepailitan BAB III : Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang BAB IV : Permohonan Peninjauan Kembali BAB V : Ketentuan Lain-Lain BAB VI : Ketentuan Peralihan BAB VII : Ketentuan Penutup.