Anda di halaman 1dari 21

BAB 1 PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Kesejahteraan sosial dalam artian yang sangat luas mencakup berbagai tindakan yang dilakukan oleh individu ataupun organisasi untuk mencapai taraf hidup yang lebih baik. Hal ini terlihat dari definisi yang dikemukakan oleh Friedlander (1982, 4) : Social welfare is the organized system of social services and institutions, design to aid individuals and group to attain satisfying standards of life and health. (Kesejahteraan sosial merupakan sistem yang terorganisir dari institusi dan pelayanan sosial, yang dirancang untuk membantu individu ataupun kelompok agar dapat mencapai standar hidup dan kesehatan yang lebih memuaskan). Dalam hal ini, kesejahteraan sosial berkaitan dengan organisasi atau institusi pelayanan. Artinya, dengan adanya lembaga atau institusi yang ada di masyarakat dapat menciptakan atau meningkatkan kesejahteraan sosial melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh institusi atau lembaga tersebut. Sekarang ini banyak masyarakat yang membutuhkan pelayanan sosial. Misalnya, masyarakat miskin dimana mereka sangat minim sekali dalam hal akses untuk meningkatkan kesejahteraan hidupnya. Melalui lembaga atau institusi sosial yang ada maka masyarakat dapat meningkatkan kesejahteraan hidupnya melalui pelayanan-pelayanan yang diberikan. Pelayanan inilah yang nantinya dapat memaksimalkan akses masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan hidup mereka. Hal ini juga dijelaskan dalam UU Kesejahteraan Sosial No.11 Tahun 2009 yang menjelaskan bahwa lembaga sosial menyelenggarakan kesejahteraan hidup masyarakat. Dalam Undang-Undang Kesejahteraan Sosial No. 11 tahun 2009, disebutkan bahwa yang dimaksud dengan lembaga sosial adalah organisasi sosial atau perkumpulan sosial yang melaksanakan penyelenggaraan kesejahteraan sosial yang dibentuk oleh masyarakat, baik yang berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum. Lembaga sosial sendiri memiliki banyak ragamnya dari yang bercorak kemanusiaan, hingga keagamaan. Sebut saja Sampoerna Foundation,

Universitas Indonesia

Dompet Dhuafa (DD), Rumah Zakat, serta banyak lainnya. Pada intinya semua lembaga sosial tersebut memiliki tujuan yang mulia sesuai dengan tujuan dari penyelenggaraan kesejahteraan sosial, salah satunya yaitu meningkatkan taraf kesejahteraan, kualitas, dan kelangsungan hidup masyarakat. Khusus untuk lembaga sosial keagamaan atau biasa disebut Faith Based Organization (FBO) yang berbasis Islam di Indonesia, lebih dikenal dengan sebutan Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ). BAZ/LAZ ini secara formal diakui oleh Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999 sebagai lembaga yang berhak mengelola zakat. Oleh karena itu, kedua lembaga ini memiliki peran dan fungsi yang strategis, baik dilihat dari perspektif pemberdayaan sosial-ekonomi umat maupun dari hubungan zakat dengan perpajakan. BAZ/LAZ di Indonesia memiliki potensi yang cukup besar. Sebagai Negara dengan penduduk muslim yang cukup besar di dunia, dana zakat yang dikelola dengan baik akan mampu untuk mengentaskan kemiskinan. Jumlah penduduk muslim dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Tabel 1.1 Populasi Penduduk Muslim Negara Perkiraan Populasi Penduduk Muslim tahun 2009 202.867.000 174.082.000 160.945.000 145.312.000 78.513.000 78.056.000 Persentase Populasi Muslim 88.2 % 96.3 % 13.4 % 89.6 % 94.6 % 50.4 % Persentase Populasi Muslim di Dunia 12.9 % 11.1 % 10.3 % 9.3 % 5% 5%

Indonesia Pakistan India Bangladesh Mesir Nigeria

Universitas Indonesia

Sambungan tabel 1.1 Iran Turkey Algeria 73.777.000 73.619.000 34.199.000 99.4 % 98 % 98 % 4.7 % 4.7 % 2.2 %

Sumber : Majalah ENHA-Edisi 16 AprilMei 2010, Hal. 16

Besarnya jumlah penduduk kaum Muslim Indonesia berdasarkan tabel diatas menggambarkan potensi zakat yang cukup besar. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanum, diperkirakan potensi dana zakat di Indonesia pada tahun 2009 sebesar 27,2 triliun rupiah. Pada kenyataannya terjadi peningkatan yang signifikan rentang waktu tahun 2001 hingga 2008 sebesar 28,79% setiap tahunnya namun dana zakat tersebut tahun 2010 diperkirakan dapat berjumlah 1 triliun rupiah. Tentu perbedaan dalam bentuk nominal ini cukup besar dengan potensi dana zakat yang ada di Indonesia. (Hanum, 2009). Dalam Islam, zakat merupakan salah satu kewajiban kaum Muslim. Terdapat beberapa ayat dalam Al-Quran yang menjelaskan bahwa zakat merupakan sebuah kewajiban kaum Muslimin bagi yang mampu. Hal ini menjadi wajib karena zakat bertujuan untuk menyucikan harta. Salah satunya terdapat dalam surat At Taubah: 103. Allah SWT berfirman: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Rasul SAW telah mendelegasikan tugas mengelola zakat dengan menunjuk Amil Zakat. Dengan kalimat Ambillah zakat dari sebagian harta mereka bahwa dapat diartikan zakat akan lebih baik jika dikelola secara profesional dan terorganisir oleh Amil Zakat. Amil Zakat yang mempunyai tanggung jawab terhadap tugasnya, memungut, menyimpan, dan mendistribusikan harta zakat kepada orang yang berhak menerimanya. Dalam

Universitas Indonesia

konteks sekarang, zakat dikelola oleh pemerintah atau lembaga amil atau yang dikenal di Indonesia dengan Badan Amil Zakat (BAZ) atau Lembaga Amil Zakat (LAZ). Secara fikih diperbolehkan muzakki menyerahkan langsung zakatnya kepada mustahik. Tetapi, dalam konteks yang lebih makro, tujuan ibadah zakat tidak akan tercapai apabila tidak dikelola oleh lembaga Amil. Mengenai kualitas Amil Zakat yang akan bekerja dalam LAZ, HRD LAZ Al-Azhar mengatakan bahwa SDM berperan penting dalam kemajuan organisasi. Aku gak bisa membayangkan jika lembaga-lembaga zakat dikelola oleh tenaga sisa, bagaimana dapat mengentaskan kemiskinan. Oleh karena itu sangat butuh tenaga-tenaga muda, yang punya mimpi, serta kreatifitas yang tinggi agar tercapainya tujuan organisasi. (SN, HRD LAZ Al-Azhar, Maret 2010) Perlu adanya pengelolaan zakat secara profesional secara bertanggung jawab yang dilakukan oleh masyarakat bersama pemerintah. Oleh karena itu, pemerintah memberikan perlindungan, pembinaan, dan pelayanan atas

pengelolaan zakat. (Penjelasan atas UU No.38 Tahun 1999 tentang pengelolaan zakat). Kemudian dalam bukunya Ali (1988, 65) mengenai pedoman zakat dijelaskan beberapa prinsip-prinsip pengorganisasian yang perlu dilaksanakan, salah satunya yaitu pentingnya penanggung jawab lembaga yang berada pada pemerintah serta pelaksanaan suatu lembaga harus memiliki Amil yang bekerja penuh dan profesional.. Sebagai lembaga yang mengelola dana zakat yang berasal dari muzakki, BAZ/LAZ dipercayakan untuk dapat menyalurkan dana tersebut. Salah satu faktor terkelolanya organisasi dengan baik yaitu SDM yang berada didalamnya menjadi penting dan mempunyai peranan strategis. Horsefield (1988) melihat MSDM memegang peran utama dalam menjalankan sebuah organisasi. Menurutnya, Jika dianalogikan dalam perusahaan, hubungan yang terjadi dalam MSDM dengan organisasi yaitu tidak jauh berbeda antara direktur keuangan dan manager keuangan yang saling membutuhkan satu sama lain (Donovan & Jackson, 1991, 309). Dowling (1983) mengatakan bahwa SDM dalam organisasi sama pentingnya dengan manajemen keuangan (financial). Dowling melanjutkan bahwa

Universitas Indonesia

dalam sebuah perusahaan, kunci dari memahami peran MSDM ialah memahami fungsi perencanaan strategis. Artinya tujuan dari MSDM berkaitan erat dengan tujuan dari sebuah organisasi (Donovan & Jackson, 1991, 310). Melihat kondisi SDM organisasi sosial keagamaan (Faith Based Organization) yaitu BAZ atau LAZ, Jamil Azzaini, manajer Kubik Leadership, menilai bahwa banyak di antara SDM pengelola zakat yang belum memiliki kualitas optimal. Untuk mencapai kualitas organisasi sosial keagamaan yang baik diperlukan tiga hal dasar, yaitu berkompeten (kafaah), amanah, dan memiliki etos kerja tinggi (himmah). (Hamid, 2009) Bahrir mengatakan bahwa kualitas manajemen suatu organisasi pengelola zakat harus dapat diukur. Untuk itu, ada tiga kata kunci yang dapat dijadikan sebagai alat ukurnya yaitu amanah, profesionalitas, dan transparan. Sifat amanah merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap amil zakat. Tanpa adanya sifat ini, hancurlah semua sistem yang dibangun. Kedua, sikap profesional. Sifat amanah belumlah cukup. Harus diimbangi dengan profesionalitas pengelolaannya. Ketiga, transparan. Dengan transparannya pengelolaan zakat, maka kita menciptakan suatu sistem kontrol yang baik, karena tidak hanya melibatkan pihak internal organisasi saja, tetapi juga akan melibatkan pihak eksternal. Transparansi inilah rasa curiga dan ketidakpercayaan masyarakat akan dapat diminimalisasi. (Bahrir, 2004) Manajemen itu sendiri Menurut Mary Parker Follet ialah seni untuk menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini mengandung arti bahwa para manajer mencapai tujuan-tujuan organisasi melalui pengaturan orang-orang lain untuk melaksanakan berbagai pekerjaan yang diperlukan, atau dengan cara lain dengan tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sendiri. (Handoko, 1996, 3). BAZNAS sebagai satu-satunya lembaga zakat yang dikelola oleh pemerintah pada tingkat nasional. BAZNAS harus memiliki kualitas pelayanan yang optimal guna meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Ayu Safira Purwanti dalam tesisnya yang berjudul Analisis SWOT dalam Upaya Pengembangan Badan Amil Zakat Nasional, peneliti menitikberatkan pada potensi kemampuan organisasi ini

Universitas Indonesia

dengan menggunakan analisis SWOT. Analisis SWOT menunjukkan bahwa SDM yang berkualitas atau Amil Zakat BAZNAS memiliki potensi dalam mengembangkan BAZNAS menjadi sebuah organisasi yang nasional meskipun baru berdiri pada tahun 2001. Pemilihan BAZNAS sebagai penelitian juga menindaklanjuti atas penelitian yang dilakukan oleh Erika Takidah dalam tesisnya yang berjudul

Analisa Pengaruh Kualitas Jasa BAZNAS pada Kepuasan dan Kepercayaan Muzakki. Dalam penulisannya, peneliti menitikberatkan pada pembahasan mengenai kualitas jasa yang BAZNAS berikan keapada Muzakki. Beberapa kesimpulan yang didapatkan yaitu pentingnya empati para Amil Zakat terhadap Muzakki, peraturan hukum menyangkut jasa Badan Amil Zakat, serta hubungan baik yang diberikan Amil Zakat kepada Muzakki meningkatkan rasa kepercayaan Muzakki terhadap BAZNAS. Dalam penelitian yang telah dilakukan oleh kedua peneliti diatas, peneliti memberikan masukan bahwa salah satu kunci dari keberhasilan tingginya tingkat kepuasan Muzakki yaitu faktor Amil Zakat yang memberikan pelayanan optimal. Oleh karena itu, dalam penelitian sekarang mencoba membahas mengenai gambaran rangkaian kegiatan MSDM yang dijalankan oleh BAZNAS dalam mendapatkan dan menyeleksi tenaga Amil Zakat. Untuk melihat gambaran MSDM yang lebih jelas, maka peneliti melakukan perbandingan dengan LAZ. LAZ merupakan lembaga yang dibentuk oleh masyarakat dengan persetujuan oleh pemerintah. Dalam penelitian tesis yang dilakukan oleh Suryo Adi Prayitno Sitepu dengan judul Strategi Pengelolaan SDM berbasis Kompetensi, penulis mengkaji tentang seberapa besar pengaruh dari kompetensi dan talenta SDM dalam mempengaruhi perkembangan organisasi. Strategi ini dilakukan dalam perusahaan industri WIKA dan menunjukkan bahwa strategi pengelolaan SDM yang dilakukan oleh perusahaan industri WIKA berpengaruh terhadap produktivitas organisasi. Hal ini menunjukkan bahwa SDM cukup berperan penting dalam peningkatan produktivitas perusahaan, namun WIKA perusahaan industri dan perusahaan profit, tentu saja hal ini berbeda dengan LAZ yang merupakan organisasi non-profit.

Universitas Indonesia

Selain itu, peneliti berangkat dari penelitian yang dilakukan oleh Nurulita Fitria dalam skripsinya yang berjudul Tingkat Kepuasan Muzakki terhadap Pelayanan Jasa Lembaga Amil Zakat (Studi Lembaga Amil Zakat (LAZ) Al-Azhar Peduli Ummat Jakarta) Dalam skripsinya, Fitria menggambarkan pentingnya peran dari lembaga dalam menyediakan jasa pelayanan kepada Muzakki. Fitria memiliki kesimpulan bahwa peranan Amil Zakat LAZ Al-Azhar Peduli Ummat merupakan kunci dari pelayanan jasa. Berbagai strategi yang dilakukan oleh LAZ Al-Azhar seperti sosialisasi dana CSR ke berbagai perusahaan, service excellent, memberikan pengetahuan seputar zakat kepada para Muzakki, memberikan laporan kegiatan dan keuangan ZISWAF setiap bulannya melalui CARE Newsletter, serta adanya konsultasi zakat merupakan kelebihan yang dimiliki oleh LAZ ini. Untuk menindaklanjuti penelitian yang dilakukan oleh kedua peneliti diatas, maka penelitian selanjutnya akan mencoba melihat bagaimana rangkaian kegiatan MSDM ditubuh LAZ Al-Azhar sebagai lembaga non-profit yang dibentuk oleh masyarakat secara swadaya. Searle (2009) mengatakan bahwa organisasi yang menjalankan MSDM yang baik, perlu memperhatikan tahap rekrutmen dan seleksi Amil Zakat sebagai langkah awal yang harus dijalankan. Tahap tersebut juga merupakan bagian terpenting serta mempunyai dampak yang signifikan bagi organisasi tersebut di masa mendatang. (Collings & Wood, 2009, 151). 1.2 Perumusan Permasalahan Salah satu prestasi BAZNAS saat ini yaitu berhasil mempertahankan

sertifikasi ISO 9001-2000 yang disempurnakan menjadi ISO 9001-2008. Diperolehnya ISO 9001-2008 merupakan langkah sukses BAZNAS kedua mempertahankan kinerjanya untuk menjadi Badan Pengelola Zakat yang Amanah, Transparan dan tentunya Profesional. ISO 9001-2008 adalah sertifikasi kepada seluruh bagian dalam organisasi BAZNAS yang meliputi Manajemen

Penghimpunan, Manajemen Pendayagunaan, Manajemen Keuangan serta Manajemen Support Organisasi. Secara keseluruhan peran Amil Zakat disini penting dalam meningkatkan kepuasan dan kepercayaan Muzakki.

Universitas Indonesia

Sebagai satu-satunya lembaga zakat berskala nasional, BAZNAS memiliki MSDM dalam mengelola Amil Zakat. Sebagai lembaga milik pemerintah, tentunya pengelolaan SDM akan berbeda dengan lembaga yang dibentuk oleh masyarakat secara swadaya. Sebagai lembaga yang terdiri atas elemen pemerintah, kaum ulama, serta masyarakat, maka perlu dikaji lebih dalam bagaimana BAZNAS menjalankan MSDM sehingga mendapatkan beberapa penghargaan dan tetap bertahan hingga saat ini. Untuk pembanding lembaga pemerintah, maka dipilihlah LAZ. Hal ini menindaklanjuti atas Undang-Undang No. 38 tahun 1999 yang mengatakan bahwa lembaga zakat dapat dibentuk oleh pemerintah dan masyarakat dengan syaratsyarat tertentu. Oleh karena itu, peneliti memilih LAZ Al-Azhar sebagai pembanding organisasi zakat. Dengan berbagai pengelolaan program yang produktif dan variatif, AlAzhar dikenal sebagai LAZ yang kreatif dalam melakukan pengembangan program baru, dan tidak jarang menarik simpati publik, Rumah Gemilang Indonesia, Mushalla for Sale, Qurban by Request, Benah Madrasah, dan Rumah Ibadah menjadi produk pemberdayaan yang kreatif. Hingga akhirnya LAZ AlAzhar mendapatkan penghargaan (award) sebagai The Best Zakat Empowering Organization oleh Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) pada tahun 2009. Penghargaan tersebut merupakan hasil upaya kerja keras LAZ dalam memberikan pelayanan yang memuaskan kepada masyarakat. Peran Amil Zakat dalam mendukung program yang variatif dan inovatif menjadi cukup penting dalam mendapatkan penghargaan ini. Sebagai lembaga yang dikenal kreatif dan inovatif maka peneliti ingin melihat bentuk MSDM yang dijalankan oleh LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Berdasarkan latar belakang permasalahan diatas maka permasalahan utama dalam penelitian ini adalah bagaimanakah manajemen sumber daya manusia pada BAZNAS dan LAZ Al-Azhar Peduli Ummat ?

Universitas Indonesia

1.3

Tujuan Penelitian Salah satu faktor keberlangsungan sebuah organisasi yang baik yaitu

SDM. SDM yang menjalankan organisasi harus memiliki kemampuan dan profesional dibidangnya. Untuk mendapatkan SDM yang baik maka organisasi harus memiliki Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) yang baik pula. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini ialah : 1. Mendeskripsikan dan membandingkan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) pada BAZNAS sebagai organisasi pemerintah dan LAZ AlAzhar sebagai organisasi non-pemerintah.

1.4 1.4.1

Signifikansi Penelitian Manfaat Praktis

1. Menjadi masukan bagi BAZ dan LAZ atau Human Resource Department (HRD) dalam bidang Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM). 2. Menjadi masukan bagi organisasi sejenis dalam melihat rangkaian kegiatan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) organisasi yang berbasis keagamaan. 1.4.2 Manfaat Akademis Memberikan masukan yang bermanfaat bagi pengembangan Ilmu Kesejahteraan Sosial dalam pembelajaran mengenai manajemen organisasi nirlaba. Lebih khususnya Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) pada Faith Based Organization (FBO).

I.5 I.5.1

Metode Penelitian Pendekatan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran rangkaian kegiatan

MSDM dalam BAZNAS dan LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Untuk mencapai tujuan penelitian maka penelitian ini akan menggunakan pendekatan secara

Universitas Indonesia

10

kualitatif. Pendekatan kualitatif digunakan untuk dapat menggali lebih dalam mengenai MSDM dalam organisasi khususnya yang berlandaskan keagamaan. Selain itu, pendekatan ini juga bertujuan untuk melihat perbedaan manajemen antara organisasi pemerintah dan non-pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan-pendekatan yang lebih mendalam dengan harapan informasi yang luas dan mendalam dapat diperoleh. Organisasi yang dikelola oleh pemerintah tentunya memiliki Standard Operating Procedure (SOP) MSDM yang berbeda dengan organisasi yang dikelola oleh masyarakat secara swadaya. Dengan begitu pendekatan kualitatif perlu dilakukan agar dapat melihat MSDM secara objektif. Pendekatan kualitatif dipilih karena menekankan pada manfaat dan pengumpulan informasi dengan mendalami fenomena yang diteliti

(Koentjaraningrat, 1994, 84). Hal ini sesuai dengan yang diungkapkan oleh Bogdan dan Taylor yang mendefinisikan pendekatan kualitatif sebagai suatu prosedur penelitian yang menghasilkan data deskripsi berupa kata-kata tertulis/lisan dari pelaku yang diamati. (Moleong, 2006, 3). Pendekatan kualitatif juga memiliki satu tujuan penting yaitu untuk memahami fenomena yang kompleks dengan jalan mengujinya dalam keseluruhannya dalam konteks (Moleong, 2006, 33). Adapun tujuan dari pendekatan ini yaitu peneliti secara aktif berinteraksi secara pribadi dengan informas. (Moleong, 2006, 32) Bahwa untuk memaknai kegiatan interaktif ini peneliti seharusnya berinteraksi langsung dengan para informan antara lain dengan mewawancarai dan melakukan observasi latar ilmiah, agar diperoleh pemahaman emik (menurut persepsi mereka bukan persepsi peneliti) mengenai kepercayaan, tujuan, dan alat untuk mencapai tujuan itu. Kirk dan Miller mendefinisikan bahwa pendekatan kualitatif adalah tradisi tertentu dalam ilmu pengetahuan sosial yang secara fundamental bergantung pada pengamatan pada manusia dan kawasannya sendiri dan berhubungan dengan orang-orang tersebut dalam bahasanya sendiri dan dalam peristilahannya (dalam Moleong, 2004, 9). Pendekatan kualitatif dipilih untuk mendapatkan lebih banyak keleluasaan dalam menyusun proses penelitian dan menganalisis catatan lapangan. Hasil

Universitas Indonesia

11

wawancara, atau data-data sekunder yang didapatkan akan sangat mendukung argumentasi dalam menggambarkan MSDM dalam BAZ/LAZ. Dengan

pendekatan kualitatif ini, diharapkan dapat mengangkat kekayaan data dan permasalahan yang tidak diduga sebelumnya. Sehingga memungkinkan informan untuk menjawab dengan bebas segala hal yang bermakna baginya, tanpa harus membuatnya terperangkap pada pilihan kondisi dan jawaban standar yang tidak sesuai dengan konteks pengalaman selama bekerja di BAZ/LAZ.

1.5.2

Jenis Penelitian Penelitian ini bermaksud memperoleh gambaran secara utuh dan terperinci

mengenai MSDM dalam FBO. Oleh karena itu, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif untuk memenuhi tujuan ini. Penelitian deskriptif menampilkan gambaran situasi, setting sosial atau hubungan yang lebih rinci (Neuman, 2006, 21-22). Penelitian ini adalah studi deskriptif dengan melakukan perbandingan pada FBO BAZNAS dan LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Peneliti berusaha mengembangkan konsep metode kualitatif dengan cara menentukan informan yang erat kaitannya dengan MSDM dan yang dianggap paling mengetahui tentang rangkaian kegiatan MSDM pada BAZNAS atau LAZ Al-Azhar Peduli Ummat. Pada akhirnya penelitian ini akan berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. Data tersebut berasal dari naskah wawancara (transkrip wawancara), catatan lapangan, gambar foto, rekaman videotape, dokumen pribadi, dan dokumen resmi lainnya. (Moleong, 2004, 6).

1.5.3

Lokasi Penelitian Peneliti memilih 2 Lokasi yang berbeda. Pertama, BAZNAS yang

beralamat di Jl. Kebon Sirih No. 57 Jakarta Pusat 10340. BAZNAS dipilih sebagai lokasi pengumpulan data karena : 1. BAZNAS merupakan lembaga sosial keagamaan yang berada di bawah naungan pemerintah. Sebagai lembaga resmi pemerintah, BAZNAS juga

Universitas Indonesia

12

sebagai pusat data nasional, yang mencakup data BAZ/LAZ, data jumlah penerimaan BAZ / LAZ, data pendayagunaan BAZ/LAZ, maupun data muzakki ataupun mustahik secara nasional. 2. BAZNAS sebagai Badan Amil Zakat secara nasional memiliki dana zakat dengan peningkatan dana yang cukup tinggi yang diterima dari para muzakki. Peningkatan dana zakat dapat dilihat dari awal berdirinya BAZNAS sebagai organisasi zakat pada tahun 2001 berjumlah 1 Juta Rupiah hingga saat ini berjumlah 37 Millyar Rupiah dan terus meningkat setiap tahunnya. 3. BAZNAS sebagai pusat pembinaan dan pengembangan SDM zakat nasional. Dalam mencari perbandingan lembaga sosial keagamaan, BAZNAS satusatunya lembaga milik pemerintah yang menangani zakat secara nasional. Kedua, LAZ Al-Azhar Peduli Ummat yang beralamat di Masjid Agung Al-Azhar Jl. Sisingamangaraja, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan 12110. LAZ ini dipilih sebagai lokasi pengumpulan data karena : 1. LAZ Al-Azhar Peduli Ummat merupakan lembaga zakat berbasis masjid yang berdiri semenjak 5 tahun yang lalu. LAZ Al-Azhar Peduli Ummat dalam perkembangan telah menjadi sebuah Lembaga Amil Zakat Nasional (LAZNAS) yang telah diakui oleh pemerintah Indonesia. Dana penghimpunan yang telah mencapai 9 Milliar rupiah membuat LAZ Al-Azhar menjadi salah satu LAZ berbasis masjid yang diakui oleh masyarakat Indonesia. LAZ berbasis masjid inilah salah satu faktor yang menjadikan LAZ ini mendapatkan penghargaan dari IMZ. 2. LAZ Al-Azhar Peduli Ummat merupakan lembaga zakat yang dibentuk oleh masyarakat dan berdiri secara mandiri (non-pemerintah) sehingga dapat menjadi pembanding organisasi pemerintah atau BAZ dalam bidang MSDM. Sebagaimana yang diketahui bahwa dalam Undang-Undang No. 38 Tahun 1999, lembaga zakat hanya dapat dibentuk oleh pemerintah (BAZ) dan masyarakat (LAZ) dengan syarat-syarat tertentu. LAZ Al-Azhar termasuk salah satu lembaga zakat yang telah memenuhi kriteria tersebut. 3. LAZ Al-Azhar mendapatkan penghargaan (award) sebagai The Best Zakat Empowering Organization oleh Indonesia Magnificence of Zakat (IMZ) pada tahun 2009 atas kreatifnya program yang dilakukan oleh LAZ Al- Azhar.

Universitas Indonesia

13

Penghargaan tersebut merupakan hasil upaya kerja keras LAZ dalam memberikan pelayanan yang memuaskan kepada masyarakat. Peran Amil Zakat dalam mendukung program yang variatif dan inovatif menjadi cukup penting dalam mendapatkan penghargaan ini. 4. LAZ Al-Azhar Peduli Ummat sebagai mitra dari BAZ memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam pengelolaan dana yang diterima dalam muzakki. Oleh karena itu merupakan salah satu hak muzakki untuk dapat mengetahui LAZ Al-Azhar secara transparan. 1.5.4 Teknik Pemilihan Informan Sifat penelitian ini adalah deskriptif maka untuk menentukan informan pada penelitian ini tidak menggunakan populasi atau sampel dengan pengertian yang dipahami di penelitian kuantitatif. Informan yang diambil sebagai sampel dari daerah tertentu maka sampel tersebut tidak bersifat mewakili (representatif populasi) tetapi lebih diperlakukan sebagai kasus yang mempunyai ciri khas tersendiri yang tidak harus sama dengan ciri populasi yang diwakilinya. Sebab penelitian ini tidak bertujuan untuk menggeneralisasi melainkan lebih bersifat kasuistik, unik dan tidak digeneralisasi pada konteks lain. Meski nantinya akan tetap ada generalisasi, tetapi hal tersebut berbeda dengan yang dimaksudkan dengan generalisasi pada penelitian kuantitatif. (Irawan, 2006, 52,65). Berdasarkan konteks tersebut maka terdapat beberapa kriteria sebagai syarat untuk menentukan informan yang akan dipakai dalam penelitian ini yaitu mereka yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) BAZ/LAZ, mereka yang terlibat dalam perumusan konsep MSDM, pihak yang bertanggung jawab berjalannya konsep, terakhir Amil Zakat itu sendiri sebagai triangulasi peneliti. Mereka yang memenuhi kriteria tersebut diharapkan memahami MSDM dalam organisasi tersebut. Oleh karena itu, untuk memperoleh informan tersebut dapat dibagi menjadi dua komponen informan sebagaimana memenuhi kriteria yang telah ditentukan sebelumnya yaitu :

Universitas Indonesia

14

1. Kepala Divisi Human Resource Department (HRD) Divisi HRD yaitu divisi yang mengurusi tahap awal dalam rekrutmen Amil Zakat hingga tahap akhir masa pensiun di organisasi. Secara tidak langsung Kepala HRD menjadi penanggung jawab atas rekrutmen, seleksi, pelatihan, pengembangan hingga masa pensiun Amil Zakat yang akan bekerja di BAZ / LAZ. Kepala HRD juga mengetahui hambatan dalam menangani Amil yang bekerja pada sektor sosial keagamaan. 2. Amil Zakat BAZ / LAZ Amil Zakat BAZ / LAZ sebagai pihak yang menjalankan proses MSDM. Sebagai salah satu elemen dalam BAZ / LAZ, Amil Zakat bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan oleh BAZ / LAZ. Dari mereka akan didapatkan informasi mengenai tahap-tahap yang dilaluinya sebelum masuk kedalam BAZ / LAZ hingga saat mereka menjalani tugas sebagai Amil Zakat secara langsung maupun tidak langsung beserta hambatan maupun pendukungnya.

Tabel 1.2 Theoretical sampling Informasi yang dicari Konsep awal, kriteria serta tujuan HRD dalam melaksanakan fungsi MSDM BAZ Pemahaman mengenai konsep MSDM dalam BAZ selama proses menjadi Amil Zakat. Amil Zakat BAZNAS 1 BAZNAS Informan Kepala divisi HRD BAZNAS 1

Universitas Indonesia

15

Sambungan tabel 1.2 Konsep awal, kriteria serta tujuan HRD dalam melaksanakan fungsi MSDM LAZ. Pemahaman mengenai konsep MSDM dalam LAZ selama proses menjadi Amil Zakat. Total Amil LAZ AlAzhar Peduli Umat 2 LAZ AlAzhar Peduli Ummat Kepala divisi HRD LAZ AlAzhar Peduli Ummat 1

5 Teknik penentuan informan yang akan digunakan dalam penelitian ini

adalah purposive sampling. Pada teknik ini, setiap populasi tidak mendapat kesempatan yang sama untuk dipilih sebagai informan, Siapa yang akan diambil sebagai informan disesuaikan dengan tujuan penelitian. Caranya adalah dengan menyesuaikan informan dengan karakteristik yang telah ditentukan sebelumnya sehingga populasi sampel yang digunakan tidak acak melainkan sampel yang telah dikenali. Dalam BAZNAS sampel telah ditentukan oleh pihak terkait, peneliti hanya menyampaikan kriteria yang sesuai tujuan penelitian. Jumlah informan BAZNAS yang diwawancara berjumlah 1 orang, hal ini merupakan permintaan dari pihak HRD BAZNAS. Berbeda dengan LAZ Al-Azhar, peneliti mendapatkan 2 informan dalam penelitian. Pemilihan 2 informan ini atas permintaan pihak HRD LAZ Al-Azhar. Peneliti juga melihat bahwa 2 informan tersebut cukup menggambarkan Amil Zakat yang berada di LAZ Al-Azhar karena pertama, informan pertama merupakan Amil Zakat yang baru masuk dalam LAZ sehingga ia masih mengetahui bagaimana rangkaian kegiatan MSDM LAZ AlAzhar. Sedangkan untuk informan lainnya, peneliti mendapatkan informasi bahwa Amil Zakat tersebut merupakan Amil Zakat yang cukup lama telah berada di LAZ tersebut. oleh karena itu akan didapatkan informasi yang mendalam mengenai pengalamannya selama bekerja di LAZ.

Universitas Indonesia

16

Konsep mengenai MSDM pada dasarnya akan didapatkan dari pihak HRD BAZ/LAZ dan akan dilengkapi oleh temuan lapangan yang didapatkan dari Amil Zakat. Pemilhan informan Amil Zakat bertujuan sebagai triangulasi terhadap temuan lapangan. 1.5.5 Teknik Pengumpulan Data

1. Studi kepustakaan dan dokumentasi Studi kepustakaan dan dokumentasi adalah untuk mendapatkan data sekunder yaitu data pendukung dan memperkuat data primer yang didapat dari sumber data yang berupa catatan, teoriteori dan bahanbahan acuan penelitian serta untuk mendapatkan datadata sekunder dari dokumen, bukubuku dan artikel berita. dokumen, dan laporan media masa. Selain dari berbagai literatur, penelitian ini mendapatkan studi dokumentasi dari pihak BAZNAS dan LAZ AlAzhar Peduli Ummat dalam kegiatan MSDM yang selama ini berlangsung. 2. Wawancara Mendalam (In-Depth Interview) Dengan media wawancara mendalam ini dapat diperoleh data primer dari informan secara lengkap dan detail. Menurut Chadwick (1991:121) wawancara adalah : Suatu bentuk komunikasi verbal yang bertujuan untuk memperoleh data atau informasi. wawancara mendalam (in-depth interview) adalah percakapan dua orang dengan tujuan memperoleh keterangan sesuai dengan penelitian dan dipusatkan pada isi yang dititikberatkan pada tujuan-tujuan deskripsi, prediksi dan penjelasan sistematik mengenai penelitian tersebut. Penelitian ini menggunakan in-depth interview dengan semi-terstruktur. Pendekatan semi-terstruktur ini berusaha untuk menggali kedalaman

persepsi/pandangan dari informan yang dikaitkan tujuan penelitian dengan pertanyaan terbuka. Selain itu indepth interview dilakukan karena sudah ada relasi sebelumnya dengan informan. Teknik yang akan digunakan adalah probing yaitu usaha untuk menggali informasi lebih dalam dari informan.(Grinell, 1993, 11).

Universitas Indonesia

17

Penelitian memakai pedoman wawancara yang dapat ditambah atau dikurangi bila perlu, dan kadangkadang ditanyakan kepada informan secara tidak berurutan tergantung pada kondisi informan dalam memberikan informasi. Pedoman wawancara ini berisi pertanyaan terbuka yang memberikan keleluasaan bagi informan untuk mengemukakan pandangannya secara bebas. Sehingga usaha didalam menggali Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) dalam Faith Based Organization (FBO) dapat berlangsung secara maksimal.

1.5.6

Waktu pengumpulan data Tabel. 1.3 Waktu pengumpulan data

Kegiatan

Maret Minggu ke
I II III IV

April Minggu ke
I II III IV

Mei Minggu ke
I II III IV

Juni Minggu ke
I II III IV

01 Studi Kepustakaan dan dokumentasi 02 Interview Informan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kepala Divisi HRD BAZNAS Amil Zakat BAZNAS

Universitas Indonesia

18

Sambungan tabel 1.3

LAZ AlAzhar Peduli Ummat

Kepala Divisi HRD LAZ AlAzhar Peduli Ummat Amil Zakat LAZ AlAzhar Peduli Ummat

03 Melengkapi data yang masih kurang

1.5.7

Teknik Analisa Data Data yang telah terkumpul kemudian diproses melalui beberapa tahap

sebagai berikut (Moleong, 2004, 190-214): a. Pemrosesan Satuan (Unityzing) Unityzing adalah tahap pengorganisasian data yang diperoleh. Pada tahap ini semua data yang telah diperoleh diberi kode sesuai dengan satuan-satuan yang ditemukan dalam data. b. Kategorisasi Pada tahap ini data yang telah diberi kode dimasukkan dalam beberapa kategori. Kategori dibuat berdasarkan pada tujuan penelitian sehingga memudahkan dalam melakukan proses penelitian berikutnya. c. Penafsiran Data Penafsiran data dilakukan berdasarkan tujuan penelitian yang telah tergambar pada tahap kategorisasi. Pada penelitian ini penafsiran data dilakukan untuk

Universitas Indonesia

19

mendapatkan deskripsi Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) pada BAZ dan LAZ.

1.5.8

Teknik Meningkatkan Kualitas Penelitian Untuk membantu penelitian ini mendapatkan kualitas penelitian yang

maksimal dan representatif, maka ada beberapa standar/kriteria yang harus depenuhi. Moleong (2006) dalam Metodologi Penelitian Kualitatif (hal 324-326) diperlukan yaitu 4 unsur penting untuk membangun kepercayaan (trustworthiness) kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability),

derajat

kebergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Maka berangkat dari keempat dasar diatas strategi yang dapat dipakai untuk menunjang kualitas dalam penelitian ini adalah Credibility Dependability, Confirmability.(hal 217222) (1). Kredibilitas (Credibility). Untuk memperoleh kredibiltas ini dapat digunakan strategi, yaitu dengan cara melakukan beberapa interview untuk menyakinkan perolehan data-data dari informan. Hal ini dapat membantu dalam menjaga konsistensi pemberian informasi dari informan. Kemudian strategi yang paling sering digunakan dan efektif untuk uji kebenaran data adalah dengan triangulasi. Pada Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM) terkadang ada miss antara atasan dan bawahan. Untuk itu perlu diuji kebenaran mengenai rangkaian kegiatan MSDM dengan kenyataan yang terjadi di lapangan. (2). Dependability dan (3) Confirmability. Untuk memenuhi standar dependabilitas dan konfirmabilitas strategi yang dapat dilakukan dengan cara mengaudit data yang telah diperoleh. Cara yang dapat dipakai adalah melakukan uji ulang terhadap setiap data-data yang telah diperoleh seperti field note, dokumen/arsip dan laporan penelitian lainnya.

Universitas Indonesia

20

1.5.9

Keterbatasan Penelitian Dalam penelitian ini, terdapat beberapa keterbatasan yang menghambat

sehingga penelitian ini dirasakan masih kurang sempurna, yaitu : Sedikitnya sumber informasi yang didapatkan dari pihak BAZNAS, hal ini dikarenakan kesibukan serta waktu yang tidak terlalu banyak dalam melakukan penelitian.

1.6

Sistematika Penelitian Sistematika penulisan penelitian ini merupakan pengorganisasian seluruh

materi penelitian yang dikelompokkan ke dalam 5 (lima) bab. Sebagai upaya untuk memudahkan pembaca dalam memahami materi penelitian secara integral, maka perlu dibuat suatu rangkaian relasi materi antar bab yang terorganisasi sebagai suatu satuan yang utuh. Sehubungan dengan pemikiran itu, maka aliran materi per bab dalam penelitian ini disusun secara berurutan melalui sistematika penulisan berikut:

Bab Satu : Pendahuluan, menguraikan tentang latar belakang masalah, perumusan masalah yang meliputi pokok permasalahan dan pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, serta sistematika penulisan.

Bab Dua : Kerangka Pemikiran, menguraikan hasil tinjauan kepustakaan yang berkaitan erat dengan HSO, FBO, serta rangkaian kegiatan MSDM (perencanaan SDM, rekrutmen, seleksi, orientasi, pendidikan dan pelatihan, penilaian kinerja, kompensasi, transfer, promotion, demotion, resignations, terminations, retirement).

Bab Tiga : Gambaran Umum Lokasi Penelitian, yaitu BAZNAS dan LAZ AlAzhar Peduli Ummat, menguraikan tentang kedua lembaga tersebut, visi, misi, program-program serta dana penghimpunan zakat.

Bab Empat: Hasil Penelitian dan Analisa, menguraikan hasil temuan lapangan mengenai, pelaksanaan MSDM pada kedua lembaga. Melihat perbandingan rangkaian kegiatan MSDM yang dilakukan oleh kedua lembaga tersebut. Serta analisa dari temuan lapangan tersebut dengan kerangka teori yang terdapat pada Bab Dua.

Universitas Indonesia

21

Bab Lima : Kesimpulan dan Saran, menguraikan secara singkat pembahasan pada bab-bab sebelumnya dan memberikan saran yang diharapkan dapat dipertimbangkan dalam melaksanakan rangkaian kegiatan MSDM pada BAZNAS dan LAZ Al-Azhar Peduli Ummat.

Universitas Indonesia