Anda di halaman 1dari 15

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Percobaan Tanggal Percobaan Tempat Percobaan NPM Fakultas Jurusan Kelompok

: Pengenalan Alat Ukur Dasar : 27 Maret 2009 : Mulyanah : 0913022101 : Keguruan dan Ilmu Pendidikan : Pendidikan Fisika : 1 (satu)

Bandar Lampung, 27 Maret 2009 Mengetahui Asisten

Intan Purnamawati NPM : 0613022034

PENGENALAN ALAT UKUR DASAR

Oleh Mulyanah ABSTRAK

Dalam praktikum percobaan ini, alat-alat ukur yang digunakan yaitu jangka sorong, mikrometer sekrup, dan mistar. Sedangkan bahan yang digunakan adalah kelereng, spidol, kubus/balok, serta buku.alat-alat tersebut digunakan untuk panjang, lebar, massa dan tinggi suatu benda. Untuk mendapat hasil yang akurat maka dilakukan pengulangan terhadap tiap-tiap percobaan sebanyak tiga kali. Karena tiap alat ukur memiliki perbedaaan ketelitian sehingga dalam mendapatkan hasil pengukuran terdapat sebuah ketidakpastian, yaitu perbedaan antara hasil pengukuran pertama dengan hasil pengukuran selanjutnya. Dalam percobaan ini kita bisa mendapatkan hasil data percobaan, mengetahui cara penggunaan alat fisika, mengetahui fungsinya serta mengetahui cara membaca alat fisika dalam percobaan

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN....................................................................... ABSTRAK................................................................................................. DAFTAR ISI.............................................................................................


I.

i ii iii 1 1 2 3 5 5 5 7 7 8 9

PENDAHULUAN..............................................................................
A. Latar Belakang............................................................................... B. Tujuan Percobaan..........................................................................

II.

TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................

III. PROSEDUR PERCOBAAN.............................................................. A. Alat dan Bahan............................................................................... B. Cara Kerja...................................................................................... IV. HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN............................. A. Hasil Pengamatan.......................................................................... B. Pembahasan................................................................................... V. KESIMPULAN..................................................................................

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Fisika adalah ilmu pengetahuan yang didasarkan atas percobaan. Salah satu kegiatan yang penting dalam bekerja di laboratorium adalah mengadakan pengukuran dan pengamatan dengan seksama. Dalam fisika, mengukur mempunyai criteria dan teknik yang khusus karena pengukuran dalam fisika bertujuan untuk mendapatkan informasi yang lebih lanjut dari hasil pengukuran tersebut. Pengukuran dan pengamatan secara benar, teliti dan seksama merupakan faktor terpenting yang harus diperhatikan dalam melakukan suatu percobaan. Hal ini diperlukan supaya hasil percobaan yang diperoleh benar-benar akurat dan dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan teori yang berlaku. Dalam fisika, panjang, suhu dan volume ini dikenal dengan istilah besaran. Jadi besaran adalah sesuatau yang dapat diukur dan hasilnya selalu dapat dinyatakan dengan angka. Dalam setiap melakukan pengukuran tidak ada pengukuran yang benar-benar tepat. Ketidakpastian muncul dari sumber yang berbeda, di antara yang paling penting, selain kesalahan adalah ketetapan setiap alat pengukur dan ketidakmampuan membaca sebuah alat di luar batas bagian terkecil yang ditunjukkan, maka dari itu dalam percobaan ini perlu melakukan percobaan dan pengamatan secara berulang-ulang. Selain itu kita juga harus memperhatikan angka penting dalam setiap pengukuran. Angka penting adalah bilangan yang diperoleh dari hasil pengukuran yang terdiri dari angka-angka penting yang sudah pasti (terbaca pada alat ukur) dan satu angka terakhir yang ditafsir atau diragukan, sedangkan angka pasti yang diperoleh dari kegiatan menghitung. Ada beberapa macam alat yang digunakan dalam percobaan ini yaitu untuk mengukur besaran panjang, massa, waktu dan kuat arus. Oleh karena itu, untuk dapat mengenal nama-nama alat ukur fisika dan cara penggunaannya dengan tepat, maka dilakukan percobaan dan praktikum pengenalan alat ukur dasar ini.
4

B. Tujuan Percobaan Adapun tujuan kami melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Mahasiswa mampu menggunakan alat-alat ukur dasar fisika. 2. Mengukur dan menghitung ralat pengukuran dalam fisika. 3. Mengetahui cara membaca angka pada alat ukur yang digunakan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

Fisika adalah ilmu pengetahuan yang didasarkan atas percobaan dan biasanya digunakan angka atau bilangan. Dalam fisika, panjang, suhu, dan volum ini dikenal dengan istilah besaran. Besaran adalah sesuatu yang dapat diukur dan hasilnya selalu dapat dinyatakan daengan angka. Pada saat pengukuran besaran sebenarnya kita membandingkan antara besaran yang diukur dengan besaran sejenis yang digunakan sebagai patokan (Penuntun Praktikum Fisika Dasar, 2009). Contoh-contoh alat ukur berbagai pengukuran yang berkaitan dengan panjang benda yang persis adalah jangka sorong, mikrometer sfenometer. Jangka sorong dapat digunakan untuk menentukan dimensi dalam, luar dan kedalaman dari benda uji. Skala Vernier dari jangka sorong meningkatkan akurasi pengukuran hingga 1/20 mm. pada alat ukur mikrometer benda yang diletakkan di antara barang pengukur dan batang penggerak didekatkan ke benda uji dengan memutar sekrup. Bila sekrup pemutar tidak dapat diputar lagi, maka nilai pengukur dapat dibaca. Pembacaan penuh dengan seatengah millimeter dapat dibaca pada Skala Vernier. Jika Skala Vernier tidak menutupi setengah millimeter, ini harus ditambah pada perseratusan millimeter (Dr. Muhammad, 2005). Untuk mengukur barang yang panjang dan tidak membutuhkan ketelitian yang tinggi digunakan meteran dan mistar biasa, sedangkan untuk menghasilkan pengkuran yang teliti dipergunakan mistar dan mikrometer. Ada beberapa macam mikrometer, yaitu: 1. Mikrometer luar Digunakan untuk mengukur diameter luar, tebal dan lebar suatu benda kerja. 2. Mikrometer dalam Digunakan untuk mengukur diameter lubang dan lebar celah. 3. Mikrometer ke dalam Digunakan untuk mengukur dalamnya lubang.
6

4. Mikrometer roda gigi Berfungsi untuk mengukur tebal tusur roda gigi. (Daryanto, 2000) Pembagian atau perkalian bilangan hasil pengukuran (yang mempunyai angka penting) dengan bilangan bukan hasil pengukuran (angka pasti) tidak akan mengubah banyak angka penting. Dalam mengalikan, membagi, menarik angka pada bilangan hasil pengukuran. Hasil tidak akan mempunyai angka penting lebih banyak dari angka penting paling kecil dari bilangan yang dihitung (Kardiawarman, 1992). Terdapat dua macam kesalahan dalam pengukuran, yaitu kesalahan paralaks dan kesalahan mutlak. Kesalahan pengukuran disebabkan karena membaca yang terjadi pada posisi mata tidak tegak lurus pada skala yang dibaca. Sedangkan kesalahan mutlak adalah kesalahan yang disebabkan karena keterbatasan alat ukur dalam proses pengukuran (Dadi Indra, 2002).

III.PROSEDUR PERCOBAAN

3.1 Alat dan Bahan Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut: 1. Penggaris 2. Jangka sorong 3. Mikrometer sekrup 4. Balok 5. Kelereng 6. Kubus 3.2 Cara Kerja A. Mistar atau Penggaris 1. Mengambil mistar dan modul atau kertas yang akan diukur. 2. Mengukur panjang, lebar dan tinggi benda yang diukur. 3. Menaksir harga pengukuran dengan ketelitian sampai perseratus (0,01) bagian skalar terkecil pada alat sebagai ketidak pastian dari pengukuran tunggal, maka suatu kebijaksanaan adalah sebagai skalar terkecil alat.
4. Pada saat mengukur benda dengan penggaris mata harus sejajar dengan

mistar agar tidak terjadi kesalahan dalam pengukuran. 5. Mengulangi lagi percobaan tersebut, sampai mendapatkan pengukuran yang benar. 6. Mencatat hasil data dengan detail. B. Jangka Sorong
1. Mengambil sebuah jangka sorong, kemudian meneliti apakah titik nol

pada skala utama dan titik nol pada skala nonius tetap berhimpit. Langkah

ini penting dilakukan untuk mengoreksi sebelumnya jika titik skala utama dan skala normal tidak berhimpit.
2. Menggeser rahang jangka sorong ke kanan sehingga benda yang diukur

dapat masuk di antara kedua rahang (antara rahang geser dan rahang tetap).
3. Meletakkan benda yang akan diukur di antara kedua rahang.

4. Menggeser rahang ke kiri sedemikian sehingga benda yang diukur terjepit oleh kedua rahang.
5. Membaca skala dan menentukan ahsil pengukuran.

6. Mengukur panjang, lebar, tinggi, sisi kubus/balok dengan lima kali pengulangan. 7. Mencatat dengan detail hasil pengukuran. C. Mikrometer Sekrup
1. Mengambil sebuah mikrometer sekrup kemudian memutar bidal (pemutar

besar) berlawanan arah jarum jam sehingga ruang antara rahang tetap dengan rahang geser cukup untuk menempatkan benda yang akan diukur.
2. Meletakkan benda yang akan diukur di antara rahang tetap dan rahang

geser.
3. Kemudian memutar bidal searah jarum jam sehingga benda yang diukur

terjepit oleh rahang tetap dan rahang geser. 4. Memutar pemutar kecil (roda bergerigi) searah jarum jam sehingga skala nonius pada pemutar besar tidak bergeser lagi. 5. Mencatat hasil pengamatan dan pengukuran secara detail.

IV.

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan hasil pengamatan saebagai berikut: 1. Jangka Sorong No. 1. 2. 3. Tebal Buku 0,05 cm 0,05 cm 0,05 cm Kelereng 1,63 cm 1,60 cm 1,63 cm Kubus 2,02 cm 2,02 cm 2,02 cm Kedalaman Spidol 1,421 cm 1,420 cm 1,420 cm

2. Mikrometer Sekrup No. 1. 2. 3. 3. Mistar No. 1. 2. 3. Panjang Spidol 14,8 cm 14,7 cm 14,7 cm Panjang Balok 2,1 cm 2,0 cm 2,0 cm Panjang Buku 30 cm 30 cm 30 cm Panjang Balok 19,39 mm 19,39 mm 19,39 mm Tebal Buku 6,08 mm 6,08 mm 6,08 mm Diameter Kelereng 16,15 mm 16,15 mm 16,15 mm Diameter Spidol 15,24 mm 15,24 mm 15,24 mm

3.2 Pembahasan

10

Pada percobaan yang telah dilakukan, yaitu dengan menggunakan alat-alat ukur yang berupa mistar, jangka sorong, mikrometer sekrup, serta ada beberapa macam bahan yang digunakan seperti kelereng, spidol, kubus atau balok dan kertas. Dan dalam percobaan ini kita dapat mengetahui kegunaan serta fungsi dari masingmasing alat. Alat yang pertama digunakan yaitu jangka sorong. Kegunaan jangka sorong adalah untuk mengukur diameter sebuah kelereng, diameter sebuah tabung atau cincin, maupun kedalaman sebuah spidol. Alat yang kedua menggunakan mikrometer sekrup. Kegunaan dari mikrometer sekrup adalah untuk mengukur ketebalan buku, kelereng dan balok. Mikrometer sekrup merupakan alat ukur panjang yang memiliki tingkat ketelitian yang lebih tinggi yaitu 0,005 mm. Alat yang terakhir yang digunakan yaitu mistar. Kegunaan dari mistar adalah untuk mengukur panjang, lebar dan tinggi dari benda yang akan diukur. Setelah dilakukan percobaan pengukuran terhadap benda yaitu balok, kertas atau modul, kelereng dan spidol dengan menggunakan alat yang berbeda hasil yang didapatpun berbeda. Faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan dalam pengukuran atau ketidakpastian adalah: 1. Keterbatasan alat ukur Terjadi apabila alat ukur tidak memenuhi standar. 2. Ketidakpastian bersistem Sumber kesalahan ini adalah ketelitian kalibrasi, kesalahan titik nol, gesekan antara bagian atas yang berkesalahan titik nol, dan ketidakpastian dalam membaca skala pada alat karena posisi mata tidak tepat
3. Keterbatasan keterampilan pengamat

Biasanya pengamat kurang paham mengenai penggunaan alat. 4. Ketidakpastian Dalam pengukuran ini tidak smeua alat digunakan untuk mengukur benda yang sama, hal ini sebabkan karena tingka keakuratan pda alat tersebut berbeda-beda.

11

V.

KESIMPULAN

Dari hasil percobaan pengukuran ini, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Dari percobaan ini kita dapat mengetahui fungsi dan cara pemakaian alat-alat ukur dasar fisika.
2. Mengetahui kegunaan dari masing-masing alat fisika, seperti mistar

digunakan untuk mengukur panjang, lebar dan tinggi benda (balok/tabung) dengan ketelitian 0,5 mm. Jangka sorong digunakan untuk pengukuran kubus/balok, kelereng, kedalaman spidol dan tebal buku, dengan ketelitian 0,005 cm. sedangkan mikrometer sekrup digunakan untuk mengukur tebal buku, kubus/balok, kelereng dan spidol dengan ketelitian 0,005 mm. 3. 4. Keakuratan data diperoleh tergantung dari ketelitian praktikum dan kondisi ketelitian dari alat ukur tersebut. Setiap pengukuran ternyata mengalami ketidakpastian yang dikarenakan kesalahan secara sistematik, skalar terkecil alat pengukur dan keterbatasan orang yang mengukur. 5. Ketelitian dan skalar yang dimiliki tiap-tiap alat ukur adalah berbeda-beda.

PERHITUNGAN

12

1. Mistar Panjang Spidol

x = (X1)2 + (X2)2 + (X3)3 + + (Xn)2 = (14,8)2 + (14,7)2 +(14,7)2 = 219,04 + 216,09 + 216,09 = 651,22

2. Jangka Sorong Tebal Buku


13

x = (X1)2 + (X2)2 + (X3)3 + + (Xn)2 = (0,05)2 + (0,05)2 +(0,05)2 = 0,0025 + 0,0025 + 0,0025 = 0,0075

3. Mikrometer Sekrup

Panjang Balok

14

x = (X1)2 + (X2)2 + (X3)3 + + (Xn)2 = (19,39)2 + (19,39)2 +(19,39)2 = 375,97 + 375,97 + 375,97 = 1127,91

15