Anda di halaman 1dari 53

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Teknik bubut merupakan mata kuliah pratikum permesinan I yang harus dilaksanakan oleh setiap mahasiswa teknik mesin. Agar mahasiswa dapat mengembangkan potensi dan skil dalam pengoperasian mesin bubut, maka mahasiswa dituntut untuk dapat menguasai teknik-teknik dasar pengoperasian mesin bubut. Mahasiswa juga harus dapat memiliki keahlian dan kemahiran yang tinggi dalam menggunakan peralatan mesin bubut tersebut. Mesin bubut merupakan salah satu mesin yang penting yang diperlukan dalam suatu industri yang mengelola pembuatan bermacam-macam peralatan perbengkalan, suku cadang, perbaikan suku cadang, dan berbagai peralatan produksi lainnya. Dengan keberadaan mesin bubut dapat memudahkan para pekerja, untuk menghasilkan hasil benda kerja yang sesuia dengan standard ISO. Pekerjaan dasar dalam proses pembubutan dapat kita jumpai dalam dunia industri maupun bengkel-bengkel besar yang menggunakan mesin bubut, untuk itu diharapkan kepada mahasiswa khususnya teknik mesin agar dapat mempelajari dan menguasai teknik pemesinan I pada mesin bubut, dan mempraktekan langsung yang nantinya akan terjun langsung ke dunia kerja. Dalam dunia industri seperti perusahaan/pabrik-pabrik besar, mereka akan akan lebih memilih untuk membuat suku cadangnya sendiri dari pada harus membeli suku cadang yang telah jadi. Apalagi jika terjadi kerusakan pada suku cadang yang vital dan harganya mahal, ini jelas lebih efisien dibanding harus membeli diluar. Kecuali jika terjadi kerusakan pada alat atau suku cadang yang tidak bisa dikerjakan dengan menggunakan mesin bubut.

1.2 Tujuan Adapun tujuan dari praktikum teknik mesin bubut ini antara lain: 1. Mahasiswa dapat mengetahui prinsip dan cara kerja mesin bubut. 1

2. Mahasiswa dapat mengetahui alat-alat yang digunakan dalam teknik mesin bubut. 3. Mahasiswa dapat menggunakan alat-alat mesin bubut sesuai dengan fungsinya 4. Mahasiswa dapat mengerti dan memahami cara pengoperasian mesin bubut. 5. Mahasiswa dapat mengetahui perawatan mesin bubut. 6. Mahasiswa dapat mengembangkan potensi dalam dirinya. 7. Mahasiswa dapat merancang (design) serta membuat benda kerja menjadi produk yang berkualitas serta memiliki nilai jual.

1.3 Manfaat Manfaat yang diperoleh dari praktikum mesin bubut antara lain: 1. Dapat dijadikan sebagai proses pelatihan untuk menambah skil dalam mengoperasikan mesin bubut. 2. Mahasiswa menjadi terampil dalam mengoperasikan mesin bubut 3. Mahasiswa dapat mengaplikasikan ketrampilan mengoperasikan mesin bubut pada dunia kerja nantinya. 4. Mahasiswa dapat melatih kedisiplinan dan kemandirian dalam bekerja 5. Mahasiswa mampu bersaing dalam dunia usaha yang makin berkembang pesat.

1.4 Sistematika Penulisan Sistematika dalam penuliasan laporan praktikum ini adalah sebagi berikut: Bab I Pendahuluan Bab ini berisikan tentang latar belakang, tujuan, manfaat dan sistematika penulisan laporan Bab II Teori Dasar Bab ini berisikan tentang pengertian mesin bubut, fungsi mesin bubut, jenisjenis mesin bubut, bagian utama mesin bubut, alat perlengkapan mesin bubut, klasifikasi pekerjaan membubut dan elemen dasar mesin bubut

Bab III Alat dan bahan Bab ini berisikan tentang alat dan bahan yang digunakan selama praktikum mesin bubut. Bab IV Prosedur kerja Bab ini menjelaskan tentang langkah kerja mulai dari tahap awal praktikum sampai akhir praktikum. Bab V Pembahasan Bab ini menjelaskan perhitungan mesin bubut serta analisis mengenai praktikum yang dilakukan pada mesin bubut. Bab VI Kesimpulan dan saran Bab ini menjelaskan kesimpulan yang diperoleh setelah pelaksanaan praktikum mesin bubut serta saran-saran yang nantinya dapat dijadikan pertimbangan agar praktikum berikutnya dapat lebih baik lagi.

BAB II TEORI DASAR 2.1 Pengertian Mesin bubut adalah suatu mesin perkakas yang dibuat khusus umumnya terbuat dari logam dan dirancang khusus untuk menghasilkan benda kerja yang bentuk-bentuk silindris dengan sistem kerja benda berputar searah jarum jam ataupun berlawanan arah jarum jam kecepatan putaran tergantung kecepatan poros utama kemudian pahan menyayat benda kerja dengan bergerak searah sumbu x dan sumbu y. Ukuran dari mesin bubut diukur dari jarak senter dari kepala tetap sampai senter kepala lepas, ini merupakan jarak terpanjang benda kerja yang bisa dibubut. Dan tergantung pula tinggi jarak atau jarak dari ujung senter ke permukaan alas mesin (bed), yaitu sebagai setengah diameter benda kerja yang bisa dikerjakan.

Gambar 2.1 Mesin Bubut

2.2 Prinsip Dan Cara Kerja Mesin Bubut Sistem dan cara kerja dari mesin bubut ini adalah benda kerja bergerak secara rotasi searah jarum jam (clock wise) ataupun berlawanan dengan arah jarum jam (counter clock wise), dimana benda kerja dipasang diantara dua center yaitu center kepala tetap dan center kepala lepas. Pahat diikat pada tempat pahat (tool-post) dan digerakakn diatas bed atau dengan asutan melintang jika memotong atau menambah tebal tatalan. Selain itu, pahat dapat pula digerakan dengan memutar asutan kecil. Di dalam teknik pemesinan khususnya mesin bubut terdapat dua gerak yang sering dilakukan oleh mesin yaitu, gerak potong dan gerak makan.

2.3 Bagian-Bagian Utama Mesin Bubut Bagian-bagian utama yang umumnya terdapat dalam mesin bubut, yang sederhana sekalipun ialah:

Gambar 2.2 Bagian-Bagian Mesin Bubut

2.3.1 Alas Mesin (bed) Alas mesin merupakan kerangka utama mesin bubut, dimana pada bagian atasnya terdapat seperti jalur yang berguna unutk bergeraknya apron dan kepala lepas.

Gambar 2.3 Alas Mesin

2.3.2 Kepala tetap Kepala tetap (head stock) dengan berbagai perlengkapan kecepatan dan dilengkapi berbagai chuck untuk dipasang padaporos utama guna mengikat benda kerja.

Gambar 2.4 Kepala Tetap

2.3.3. Eretan Eretan melintang terdiri dari sadel,eretan melintang, eretan kombinasi, pemegang pahat. Eretan berfungsi untuk menggeserkan tool post yang digunakan sebagai dudukan pahat.

Gambar 2.5 Eretan

2.3.4 Kepala lepas Kepala lepas digunakan untuk menyangga benda kerja yang panjang dengan menggunakan alat bantu center.

Gambar 2.6 Kepala Lepas

2.3.5 Spindle Berfungsi sebagai penerus gerakan putar dari mekanisme pengerak menuju chuckyang nantinya di guakan untuk memutar benda kerja.

Gambar 2.7 Spindle

2.3.6 Tool post Tool post di gumnakan untuk memegang pahat atau tool dalam proses pembubutan,tool post di pasang pada eretan.

Gambar 2.8 Tool post

2.3.7 Mekanik Percepatan Poros pembuat ulir hanya dipakai untuk membuat ulir, dari kepala tetap, poros ini digerakan melalui peti rodagigi (gear box), apabila mur setengah yang mencekamporos itu dihubungkan oleh tuas penghubung maka poros berulir menggerakan eretan dengan arah memanjang.

Gambar 2.9 Mekanik Percepatan

2.4 Elemen Dasar Mesin Bubut Berdasarkan gambar teknik, dimana dinyatakan spesifikasi geometric suatu produk komponen mesin, salah satu atau beberapa jenis proses pemesinan yang telah disinggung diatas harus dipilih sebagi suatu proses atau urutan proses yang digunakan untuk membuatnya. Bagi suatu tingkatan proses, ukuran obyektif ditentukan dan pahat harus membuang sebagian material benda kerja sampai ukuran obyektif tersebut tercapai. Hal ini dapat dilaksanakan denagan menentukan penampang geram. Setelah berbagai aspek teknologi ditinjau, kecepatan pembuangan geram dapat dipilih supaya waktu pemotongan sesuai dengan yang dikehendaki. Pekerjaan ini akan ditemui dalam 9

setiap perencanaan proses pemesinan. Untuk itu perlu dipahami lima elemen dasar proses pemesinan. Elemen dasar dari proses bubut dapat dikertahui atau dapat dihitung dengan menggunakan rumus yang dapat dihitung atau diturunkan dengan gambar berikut:

Gambar 2.10 Perhitungan Mesin Bubut

Kondisi pemotongan ditentukan sebagai berikut: Benda kerja: do dm = diameter mula ;mm = diameter akhir ;mm = panjang pemesinan = sudut potong utama; o = sudut geram ; o = gerak makan; mm/(r)

t
Pahat: Kr Yo Mesin bubut f

10

n a

= putaran poros utama (benda kerja); (r)/min = kedalaman potong; mm

Elemen dasar mesin bubut dapat dihitung dengan menggunakan rumus-rumus berikut, 1. Kedalam potong a = (do dm)/2 ; mm

2. Kecepatan potong

.d .n
1000

;m/min

Dimana, d = diameter rata-rata, yaitu D = (do + dm)/2 = do ;mm 3. Kecepatan makan Vf = f.n ; mm/min 4. Waktu pemotongan tc = lt / vf ;min 5. Kecepatan penghasilan geram Z = A. V Dimana, luas penampang geram sebelum terpotong A = f, a ;mm2 Maka, Z = f. a. v ;cm3/min

11

Untuk mengetahui feeding, kecepatan putaran spindle mesin, dan kecepatan potong pada proses pembubutan sesuai spesifikasi yang telah ditetapkan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:

Tabel 2.1 Feeding Mesin Bubut K1E H1E 11e G1E K1D H1D K2E 11D H2E G1D 0.017 0.021 0.024 0.027 0.034 0.041 0.043 0.048 0.051 0.055 12E G2E H1C K2D 11C H2D G1C 12D G2D H1B 0.069 0.069 0.082 0.086 0.096 0.103 0.110 0.120 0.137 0.164 K2C 11B H2C G1B 12C K1A H1A K2B 11A H2B 0.171 0.192 0.206 0.219 0.240 0.274 0.329 0.343 0.384 0.411 G1A 12B G2B K2A H2A 12A G2A 0.439 0.480 0.548 0.685 0.822 0.959 1.096 -

Tabel 2.2 Kecepatan Potong Untuk Proses Pemesinan Gerak Pemakanan Bahan Pahat V f V f V f V f V Mesin Bubut Kasar 15-30 0,3-0,5 40-80 0,3-3 10-30 0,3-5 30-80 0,3-3 25-60 Halus 30-50 0,15-0,3 80-120 0,15-0,3 30-50 0,15-0,3 80-120 0,15-0,3 60-100 Gurdi 15-25 0,1-0,6 0,1-0,6 20-30 0,05-0,1 0,1-0,6 25-35 Freis 20-40 25-250 15-30 25-250 20-50 Ketam 10-20 0,3-6 10-15 0,3-6 15-30

Besi tuang

HSS

Karbida

Baja tuang

HSS

Karbida HSS

ST 37

12

f Karbida V f V f V f V f V f V f V f

0,3-0,5 70-90 0,3-3 20-40 0,3-5 30-80 0,3-3 10-30 0,5-5 30-50 0,3-3 30-90 0,3-5 70-220 0,3-3

0,15-0,3 110-180 0,13-0,3 40-70 0,15-0,3 100-160 0,15-0,3 30-50 0,15-0,3 80-120 0,13-0,3 120-160 0,15-0,3 220-240 0,15-0,3

0,1-0,5

30-300 -

0,3-6 10-20 0,3-6 10-15 0,3-6 15-60 0,2-5 -

HSS ST 50 Karbida

25-35 0,1-0,5 20-35 0,1-0,4 50-70 0,15-0,6 -

15-35 30-300 10-20 30-300 20-60 30-300 -

HSS ST 70 Karbida

Perunggu

HSS

Karbida

Tabel 2.3 Kecepatan Putaran Spindle Mesin Bubut GDW LZ 350 G F G F 45 280 90 560 70 400 140 800 110 630 220 1260 175 1000 350 2000

13

Tabel 2.4 daftar kecepatan potong (v) dalam feet/min untuk catter HSS
Untuk pekerjaan Unutk pemotongan Bahan pendingin yang digunaka n Bor Bubu t Mild steel H C steel Cast iron 80 40 50 100 50 50 Sekra p 65 40 40 Frai s 100 50 80 Kasa r 90 70 60 Halu s 100. 90 80 Uli r 35 30 25 Souble oil Souble oil Tanpa coolent Stanlees steel Brass 16 0 Capper 18 0 Bronse 65 65 50 100 90 100 25 Tanpa coolant Aluminiu m Zink 19 0 10 0 130 100 250 150 200 45 330 130 500 200 300 60 Terpeling koreses 190 100 300 180 250 50 190 100 300 150 200 60 Tanpa coolant Souble oil 65 65 50 90 80 95 30 Souble oil

14

Plastik

16 0

160

120

200

140

200

40

Tool steel

30

50

30

70

50

75

20

Souble oil

2.5 Proses bubut Ada berbagai macam proses bubut yang dapat di lakukan oleh mesin bubut,yaitu: 1. Pembubutan rata Proses pembubutan ini menghasilkan permukaan yang rata.

Gamabr 2.11 Pembubutab Rata 2. Proses bubut tirus Proses ini mirip dengan proses pembubutan rata, namun jalanya pahat membentuk sudut tertentu sehingga menghasilkan diameter benda kerja yang berbeda apda tiap-tiap sisinya.

Gamabr 2.12 Pembubutan tirus

15

3. Pembubutan muka (surfacing miling) Proses pembubutan ini dilakukan tegak lurus terhadap benda kerja sehingga bentuk mukaan benda kerja menjadi rata.

Gamabr 2.13 Pembubutan Muka 4. Membubut drill Proses ini dilakukan untuk membuat lubang sejajar terhadap benda kerja.

Gambar 2.14 Pembubutan Dril 5. Membubut alur Proses ini biasanya dilakukan untuk membuat alur baut pada benda kerja.

16

Gambar 2.15 Pembubutan Ulir

6. Memotong benda kerja Proses ini dilakukan untuk memotong benda kerja pada proses pembubutan.

Gambar 2.16 Pemotongan Benda Kerja

2.6 Toleransi Toleransi adalah penyimpanan ukuran yang diperbolehkan dari ukuran komponen yang sebenarnya karna sulitnya mendapatkan ukuran yang benar-benar sesuai terhadap komponen tersebut,toleransi di batasi oleh dua nilai yaitu nilai maksimum dan nilai maksimum.

17

Tabel 2.5 Lambang sifat elemen yang diberi toleransi Panjang dari sisi yang pendek Sifat yang diberi toleransi Kelurusan Lambang

Kedataran

Elemen tunggal Dlam derajat dan menit Keselindrisan Kebulatan

Eleme tunggal atau berhubungan

Profil garis Profil permukaan

Kesejajaran

Toleransi Elemenelemen yang berhubungan oreintasi

Ketegak lurusan

Ketirusan

Toleransi lokasi

Posisi

18

2.7 Cairan pendingin (coolant) Coolant adalah cairan pendingin yang digunakan untuk mending kan temperature akibat pemakanan benda kerja yang sedang dilakukan proses pemesinan Coolant juga ber fungsi : a. Sebai memperpanjang umur tool b. Sebagi pending c. Sebagai pembersih baram pada benda kerja d. Mencegah korosi pada tool, benda kerja maupun mesin

19

Gambar 2.17 Tool


Tabel 2.6 General Recommendations For Turning Tool Angles HSS
NO MATERIAL Aluminium and Magnesium Alloys Copper Alloys Steels Stainless Steels High Temperature Alloys Refractory Alloys Titanium Alloys Cast Irons Thermoplastics Thermosets Back Rake 20 5 10 5 0 0 0 5 0 0 Side Rake 15 10 12 8-10 10 20 5 10 0 0 End Relief 12 8 5 5 5 5 5 5 20-30 20-30 Side Relief 10 8 5 5 5 5 5 5 15-20 15-20 Side and Cutting Edge 5 5 15 15 15 5 15 15 10 10

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10

Source : Manufacturing Engineering and Technology (Kalpakjian)

20

BAB III ALAT DAN BAHAN

1.1 Alat 1. Kunci chuck Kunci chuck digunakan unutk mengencangkan dan mengendurkan jepitan chuck terhadap benda kerja.

Gambar 3.1 Kunci Chuck 2. Kaca amta Kaca mata digunakan untuk melindungi mata dari percikan gram dan api gerinda saat proses pengasahan tool pahat.

Gambar 3.2 Kaca Mata 3. Jangka sorong Jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang, diameter dalam dan luar dan kledalaman lubang benda kerja.

21

Gambar 3.3 jangka Sorong 4. Kunci pas 8mm Kunci 8mm digunakan untuk membuka dan mengencangkan jepitan tool holder terhadap pahat.

Gambar 3.4 Kunci Pas 8mm 5. Busur derajat Busur derajat digunakan untuk mengukur sudut sisi pahat saat mengasah mata pahat.

Gambar 3.5 Busut Derajat

22

6. Mister baja Mistar baja digunakan untuk mengukur benda kerja.

Gambar 3.6 Mistar Baja

7. Kunci tool post Kunci tool post digunakan untuk mengncangkan dan mengendurkan dudukan tool post.

Gambar 3.7 Kunci Tool Post

8. Pahat Pahat digunakan untuk memotong dan menyayat beda kerja.

23

Gambar 3.8 Pahat

9. Center putar Center digunakan sebagaipenahan benda kerja yang panjang pada proses pembubutan.

Gambar 3.9 Center Putar 10. Chuck Chuck digunakan untuk mencekam benda kerja.

Gambar 3.10 Chuck 24

11. Chuck drill Chuck drill digunakan untuk memasang mata drill untuk pengedrillan benda kerja atau membuat kedudukan center.

Gambar 3.11 Chuck Drill

12. Kunci chuck drill Digunakan untuk memasangkan atau melepaskan mata drill dari chuck drill.

Gambar 3.12 Kunci Chuck Drill

13. Mata drill Mata drill digunakan untuk mengedril benda kerja mata drill yang digunakan adalah 10.5 mm, 12 dan 14.9 mm.

25

Gambar 3.13 Mata Drill

14. Kuas Kuas digunakan untukl membersihkann sisia bram pada mesin bubut dan benda kerja.

Gambar 3.14 Kuas

1.2 Bahan 1. Bahan job sheet 1, mata pahat Bahan yang digunakan adalah baja HSS dengan ukuran: Panjang Lebar Tinggi : 76 mm : 10 mm : 10 mm

26

2. Bahan job sheet 2, engsel Bahan yang digunakan adalh baja mild stell dengan ukuran: a. Diameter : 25.4 mm Panjang : 78 mm

b. Diameter : 25.4 mm Panjang : 38 mm

27

3.Bahan job sheet 3, spesiment uji tarik Bahan yang digunakan adalah baja ST-37 dengan ukuran: Panjang Diameter : 235 mm : 18.3 mm

28

BAB IV PROSEDUR KERJA

4.1 Prosedur umum 1.alat dan bahan di siapkan 2.benda kerja di ukur. 3.pengaturan mesin 4.pengaturan tool 5.pengaturan benda kerja 6.pengaturan datum 7.proses pengerjaan 8.prosedur akhir. 4.2 prosedur kerja 4.2.1 prosedur kerja pembuatan pahat. 1.alat dan bahan yang akan di gunakan di siapkan. 2.pengaturan mesin. a.panel utama di tekan ,di tekan tombol warna hijau.

Gambar 4.1 panel utama

29

b.tombol hijau dengan kode MG di tekan.

Gambar 4.2 Kode MG 3.seting benda kerja a.posisi benda kerja di atur (menggunakan tangan) untuk mendapatkan sudut-sudut yang di tentukan.

Gambar 4.3 sudut-sudut pahat 4.proses pengerjaan. a.swich ON di aktifkan yang terdapat pada mesin gerinda.

30

Gambar 4.4 swich ON

b.benda kerja di dekatkan pada batu gerinda untuk melakukan proses penggerindaan.

Gambar 4.5 proses penggerindaaan c.posisi benda kerja di ukuruntuk mendapatkan sudut yang telah di tentukan. d.sudut benda kerja di ukur untuk di dapatkan sudut yang telah di tentukan.

31

Gambar 4.6 pengukuran 5.prosedur akhir a.alat-alat di bersihkan dan di kembalikan pada tempat nya. b.ruangandi bersihkan. c.matikan lampu pada saat meninggalkan ruangan.

4.2.2 prosedur kerja job sheet 1(pembuatan engsel 02) 1.alat dan bahan di siapkan untuk pengerjaan engsel 02. 2.benda kerja di ukur menggunakan jangka sorong untuk di dapatkan ukuran awal benda kerja. 3.pengaturan mesin. a.panel utama di hidupkan dengan di tekan tombol hijau.

Gambar 4.7 panel utama 32

b.tombol hijau di tekan kembali dengan kode MB

Gambar 4.8 kode MB c.swich On di aktifkan yang terdapat pada mesin bubut.

Gambar 4.9 swich ON 4.seting tool. a.tool di pasang pada tool post. b.tool di pasang pada tool post dan di kunci dengan kunci shock.

33

Gambar 4.10 Tool post c.Tool di atur sama tinggi terhadap tool.

Gambar 4.11 pengaturan Tool

d.eretan di putar membentuk sudut 45

Gambar 4.12 eretan

e.Tool post di kunci dengan di gunakan kunci tool post. 5.seting benda kerja. a.benda kerja di pasang pada chuck kemudian di kencangkan dengan menggunakan kunci chuck.

34

Gambar 4.13 chuck 6.seting datum. a.tool di dekatkan pada benda kerja dengan kondisi benda kerja ber putar untuk di dapatkan datum (titik 0) b.tool di dekatkan dengan menggerakkan eretan.

Gambar 4.14 seting datum

7.proses pengerjaan engsel 02 a.bubut muka,untuk proses pembubutan tool dan center dalam posisi sama tinggi selanjutnya mengambil titki cente benda kerja untuk melakukan

35

proses pembubutan muka,dan di lakukan pergerakan stasioner terhadap tool dengan memutar eretan secara manual.

Gambar 4.15 bubut muka 1.untuk melakukanproses bubut muka di gunakan putaran (n) N roughing= 70 rpm N finishing=400 rpm 2.kedalaman potong (a) (Roughing) a1 a2 = 0,2 mm = 0,2 mm

(finishing) a3 = 0,25 mm

3.panjang pemotongan yang di gunakan dari dimeter benda kerja.

4. lama waktu pemotongan yang di kerjakan di hitung menggunakan stopwatch. Roughing = 3,19 min Finishing =4,10 min

36

b.bubut rata,untuk melakukan pross bubut rata,posisi datum di dapatkan atur skala ke dalaman potong panjang benda kerja yang akan di bubut rata.

Gambar 4.16 bubut rata 1.untuk melakukanproses bubut rata di gunakan putaran (n) N roughing= 400 rpm N finishing=800 rpm 2.kedalaman potong (a) Dik: a=10,5 (di dapat dari) 25,4-14,9=10,5 mm (Roughing) a1 a2 = 5 mm = 5 mm

(finishing) a3 = 0,5 mm

3.panjang pemotongan Lw=35 mm 4. lama waktu pemotongan yang di kerjakan di hitung menggunakan stopwatch. Roughing = 3,1 min

37

Finishing =5,08 min c.pembubutan cemfer,untuk pembubutan cemfer datum di tentukan terlebih dahulu,dengan menggunakan pahat sudut 45.

Gambar 4.17 pembubutan cemfer

1.skala pemotongan di tentukan yang terdapat pada eretan.skala yang di tentukan (1,5 mm).

1.untuk melakukanproses bubut rata di gunakan putaran (n) N roughing= 400 rpm N finishing=800 rpm 2.panjang pemotongan Cemfer 1 =1,5 mm Cemfer 2 =1,5 mm 4. lama waktu pemotongan yang di kerjakan di hitung menggunakan stopwatch. Cemfer 1 = 0,14 min Cemfer 2 =0,2 min

38

Gambar 4.18 pembuatan cemfer

4.2.3 prosedur kerja job sheet 2 (pembuatan engsel 01) 1.proses pengerjaan engsel 01 a.bubut muka,untuk proses pembubutan tool dan center dalam posisi sama tinggi selanjutnya mengambil titki cente benda kerja untuk melakukan proses pembubutan muka,dan di lakukan pergerakan stasioner terhadap tool dengan memutar eretan secara manual.

Gambar 4.19 bubut muka

39

1.untuk melakukanproses bubut muka di gunakan putaran (n) N roughing=400 rpm N finishing=800 rpm 2.kedalaman potong (a) (Roughing) a1 a2 = 2,7 mm = 2,7 mm

(finishing) a3 = 0,3 mm

3.panjang pemotongan yang di gunakan dari dimeter benda kerja.

4. lama waktu pemotongan yang di kerjakan di hitung menggunakan stopwatch. Roughing = 0,18 min Finishing =0,29 min b.pembubutan drill(pembuatan lubang),untuk melakukan pembuatan lubang center yang terdapat di kepala lepas dig anti di gunakan chuck drill.

1.twis drill di pasang pada chuck drill,untuk pemasangan twis drill yang pertama di gunakan twis drill 5 mm,10 mm,12,9 mm,14,9 mm

kemudian di kunci menggunakan kunci chuck drill.

40

Gambar 4.20 pemasangan twis drill

2.benda kerja di drill dengan langkah: a.benda kerja di jepit pada spindle.

Gambar 4.21 penjepitan benda kerja b.kepala lepas di dekatkan dengan benda kerja yang telah di pasang twis drill dengan cara menggerakkan eretanyang terdapat pada kepala lepas.

Gambar 4.22 proses pengedrillan

41

1260 c.kepala lepas di kunci agar tidak terjadi pergerakan pada saaat prosses pengedrillan. d.mesin di hidupkan untuk melakukan proses pengedrillan. e.pengedrillan di lakukan secara manual dengan cara memutar eretan yang terdapat pada kepala lepas secara perlahan. 3.kecepatan putaran (n) spindell pada saat prosess pengedrillan. a. 5 b. 9,7 mm mm = mm = 400 mm = 400 mm =400mm

c. 12,9 mm d. 14,9 mm

4.waktu pengedrillan di hitun mengunakan stopwatch. a. 5 b. 9,7 mm mm = 1,35 min = 0,7 min = 1,54 min =1,42 min

c. 12,9 mm d. 14,9 mm

c.pembubutan cemfer,untuk pembubutan cemfer datum di tentukan terlebih dahulu,dengan menggunakan pahat sudut 45.

42

Gambar 4.23 pembuatan cemfer 1.untuk melakukan pembubutan cemfer seting tool tegak lurus terhadap benda kerja.

Gambar 4.24 cemfer luar 2.untuk melakukan cemfer dalam seting tool sejajar dengan benda kerja.

43

Gambar 4.25 cemfer dalam

3.untuk melakukan pembubutan cemfer di gunakan putaran(n). N cemfer luar = 400 rpm

N cemfer dalam = 800 rpm 4.lw Cemfer luar = 1,5 mm

Cemfer dalam = 0,5 mm 5.waktu pemotongan di hitung,menggunakan stopwatch. Cemfer luar = 0,08 min Cemfer dalm =0,05 min 4.2.4 prosedur kerja job sheet 3 (specimen uji tarik) 1.prosedur pengerjaan specimen uji tarik. a.bubut muka 1.untuk melakukan pembubutan muka di gunakan putaran (n) N roughing =400 rpm N finishing =800 rpm 2.kedalaman potong (a) (roughing) a 1 =2,2 mm a 2 =2,2 mm (finishing) a 3 =0,6 mm 3.panjang pemotongan yang di gunakan dari dimeter benda kerja.

4. lama waktu pemotongan yang di kerjakan di hitung menggunakan stopwatch.

44

Roughing = 0,16 min Finishing =0,11 min 2.prosedur akhir. a.alat-alat di bersihkan dan di kembalikan pada tempat nya. b.ruangandi bersihkan. c.matikan lampu pada saat meninggalkan ruangan.

45

BAB V PEMBAHASAN 5.1 perhitungan A.perhitungan engsel 02 Proses pembubutan di lakukan secara manual. Dik:do=25,4 mm Dm=14,60 mm Lt=35 mm Lv=8 mm Tc 1=3,19min Tc 2=2.6min Dit:a.? Vc 1,2,? F 1,2, ..? Jawab: a=

= 0,85mm

1.proses bubut rata 1 Dik:n=70 rpm a =0,2 mm lv =8 mm lw =35 mm tc =3,19 min do =25,4 mm=0,0254 m

46

dm =20,4 mm Maka dapat mencari: Vc= .d.n

=3,14 .0,025 m .70 rpm =5,582m/min tc = vf= = =13,5 mm Vf=f . n f= = =0,19mm/r 2.proses bubut rata 2 Dik:n=400 rpm a =0,2 mm lv =8mm lw =35 mm tc =2,6 min do =20,4 mm=0,02 m dm =15 mm Maka dapat mencari: Vc= .d.n

=3,14 .0,03 m .400 rpm =37,6 m/min

47

tc = vf= = =16,53 mm (dalam satu kali proses) Vf=f . n f= = =0,05 mm/r 4.proses bubut muka Dik:n roughing = 400 rpm n finishing =800rpm lv =8 mm lw =12,7 mm tc roughing =2,10 min tc finishing =2,19 min d =25,4 mm = 0,0254 m Maka dapat mencari: Vc= .d.n

=3,14 .0,0254m .400 rpm =31,902 m/min (roughing) Vc= .d.n

=3,14 .0,0254m .800 rpm =75,36 m/min (finishing)

tc = vf=

48

= =9,85mm (roughing) tc = vf= = =9,45mm (finishing)

5.proses pembuatan cemfer 1 Dik:n=400 rpm lv =8 mm lw =1,5 mm tc =0,20 min do =25,4 mm=0,0254 m dm =22,4 mm Maka dapat mencari: Vc= .d.n

=3,14 .0,03 m .400 rpm =37,68 m/min tc = vf= = =47,5 mm (dalam satu kali proses)

Vf=f . n f= 49

= =0,11 mm/r

6.proses pembuatan cemfer 2 Dik:n=400 rpm lv =8mm lw =1,5 mm tc =0,19 min do =14,6 mm=0,0146 m dm =12,7 mm Maka dapat mencari: Vc= .d.n

=3,14 .0,0146 m .400 rpm =27,69 m/min tc = vf= = =47,5 mm (dalam satu kali proses)

Vf=f . n f= = =0,11 mm/r

B.proses pembuatan engsel 01 Dik:n=630 rpm

50

lv =4 mm lw =12,7 mm tc roughing =0,18 min tc finishing =0,29

Tabel 5.1 pengerjaan engsel 01 NO Proses n(rpm) a (mm) tc (min) lt (mm)

R 1 2 3 Bubut muka Cemfer luar Cemfer dalam

2 0,5 -

lv

lw 12,7 1,5 0,5

630 1000 0,5 400 400 -

0,25 0,18 0,29 2 0,08 0,05 2 1

Tabel 5.2 pembuatan lubang engsel 01 no 1 2 3 4 twis drill (mm) 5 9,7 12,9 14,9 N(rpm) 1260 400 110 110 Tc (min) 1:35:17 0:42:32 1:54:50 1:42:54

5.1.2 perhitungan benda kerja job 3 Proses pembuatan benda kerja 3 di lakukan secara manual.

51

Tabel 5.3 pembuatan specimen uji tarik NO proses n(rpm) a (mm) tc (min) lt (mm)

R 1 Bubut muka

1 0,5

2 0,5

lv

lw 10,5

400 400

0,25 0,23 0,16 2

5.2 analisis Digunakan kecepatan putaran spindle yang berbeda untuk masing-masing diameter tool drill yang berbeda, semakin besar diameter mata drill yang digunakan maka putaran spindle yang digunakan harus semakin lambat namun feeding yang digunakan semakin besar, begitu pula untuk sebaliknya.

52

BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan Setelah melakukan pratikum, kesimpulan yang dapat diitarik adalah: 1. Semakin cpat pemakanan yang dialkukan maka hasil permukaanya akan makin kasar. 2. Pemakanan secara manual mengahsilkan kehalusan permukaan yangg tudakm merata. 6.2 Saran Adapun saran yang dapt diberikan adalah sebagai berikut: 1. Jangan terlalu sering mengubah posisi penjepitan benfa kerja pada proses pembubutan karan benda kerja sulit diposisikan center seperti semula. 2. Jangan melakukan pemakanan atau pengotongan dengan gerakan yang cepat karna dapat merusak tool dan benda kerja.

53