Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH ERGONOMI PENGAMATAN TEMPAT KERJA DI WARTEG MUNCUL

Di susun oleh : DETRIASARA PADENGGA (D11.2010.01079) RESTI WULAN A. (D11.2010.01118) PRI JAKARIA (D11.2010.01161) EDI MURDIYONO (D1.2010.01196)

UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO FAKULTAS KESEHATAN S1 KESEHATAN MASYARAKAT SEMARANG 2011

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Lingkungan kerja adalah tempat dimana proses berlangsungnya seseorang melakukan aktivitas kerja. Hal ini meliputi keadaan dan kondisinya, pengaturan tempat duduk, bentuk kursi, berbagai macam alat perlengkapan yang tersedia. Salah satunya adalah pekerjaan sebagai pramusaji di warteg serta pengunjung atau pembeli di warteg tersebut, sebagian besar aktivitas pramusaji dilakukan dengan berdiri sedangkan pembeli duduk dan berdiri. Sehingga kenyamanan dan efektifitas gerak pekerja dan pembeli tidak bisa dikesampingkan begitu saja, karena rancangan meja yang baik dapat menunjang kenyamanan dan efefktifitas gerak pekerja dan pembeli, yang pada akhirnya merupakan salah satu hal yang mendukung keberhasilan produktivitas kerja yang baik. Ergonomi adalah suatu cabang ilmu sistematis untuk memenfaatkan informasi - informasi mengenai kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang sistem kerja, sehingga manusia dapat hidup dan bekerja dalam sistem yang baik, efektif, aman dan nyaman. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan pada pramusaji dan pembeli di Warteg Muncul jalan Pusponjolo, terdapat beberapa gangguan kesehatan akibat kerja. Hal ini terjadi karena sikap kerja, posisi duduk, tinggi dataran dan sarana kerja yang tidak ergonomi. Sehingga dapat menyebabkan nyeri pada punggung, keluhan muskuloskeletal, kelelahan pada otot dan tulang, serta gangguan kesehatan lainnya. Berdasarkan pengamatan, yang menjadi permasalahan utama adalah kursi dan meja yang dipakai oleh pramusaji dan pembeli di warteg tidak ideal yaitu kursi tidak terdapat sandaran punggung, lebar dan ukuran kursi terlalu kecil, sehingga tidak nyaman lagi, serta ukuran tinggi meja yang tidak sesuai standar kriteria ergonomi.

RUMUSAN MASALAH Dari uraian yang terdapat di latar belakang maka diperoleh rumusan masalah dalam pengamatan pada WARTEG MUNCUL yaitu perancangan yang ergonomic tempat kerja pelayan warteg dengan meja dan kursi pembeli di warteg. Dimana aktivitas pekerja warteg lebihbanyak dilakukan dalam keadaan berdiri. Dari melayani makanan dan minuman sampai memasak dan mencuci piring hamper semuanya dilakukan dengan berdiri. Dan dari pengamatan yang dilakukan, bnyak sekali hal yang sekiranya kurang ergonomic. Seperti contoh letak antara susunan lauk dan nasi yang kurang tepat, tinggi meja untuk membuat minuman yang kurang ergonomic, dan jarak antara dapur dengan ruang saji yang membutuhkan banyak energi untuk menjangjkaunya karena dari ruang saji kedapur pekerja harus melewati anak tangga. Keculai tamu yang menerima pelayanan di warteg tersebut yang melakukan aktivitas makan dan minumnya dalam keadaan duduk. Sehingga sikap dan posisi kerja pramusaji harus dirancang dengan prinsip yang ergonomic, demikian juga pelanggan WARTEG MUNCUL. TUJUAN Menambah ilmu pengetahuan Ergonomi dalam lingkungan kerja Memenuhi tugas makalah ergonomic Mengetahui sikap dan posisi yang nyaman dalam bekerja. Sehingga

dapat mencari solusi dalam masalah ketidaknyamanan kerja Mengamati hubungan antara gangguan kesehatan dengan

produktivitas kerja Memberikan saran pada pekerja Warteg tentang sikap dan posisi

kerja yang baik dan nyaman. LUARAN

Posisi dan susunan persajian di atur sedemikian rupa agar pelayan tidak terlalu banyak bergerak dalam menyajikan pesanan. Juga tinggi meja persajian lauk dan makanan lainya agar disesuaikan dengan tinggi pelayanan untuk menciptakan kenyamanan dalam bekerja. Dan juga kenyamanan bagi pelanggan yang menikmati pelayanan tersebut. Seperti pengaturan meja yang ergonomic, bahan yang digunakan untuk di duduki oleh pelanggan agar menciptakan kenyamanan dalam aktivitasnya menikmati pekayanan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA Ergonomi adalah suatu cabang ilmu sistematis untuk memanfaatkan informasi informasi mengenai kemampuan dan keterbatasan manusia untuk merancang sistem kerja, sehingga manusia dapat hidup dan bekerja dalam sistem yang baik, efektif, dan nyaman. Dari sudut pandang ergonomic, antara tuntutan tugas dengan kapasitas kerja harus seimbang sehingga dicapai performasi yang tinggi. 1. Kapasitas Kerja Untuk mencapai tujuan ergonomi, maka perlu adanya keserasian antara pekerja dan pekerjaannya, sehingga pekerja dapat bekerja sesuai dengan kemampuan, kebolehan dan keterbatasannya. Kapasitas kerja dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu umur, jenis kelamin, ras, antropometri, status kesehatan, gizi, kesegaran jasmani dan lain-lain. 2. Beban Kerja 2.1. Beban kerja utama yaitu: a. Beban kerja fisik b. Beban kerja mental c. Beban Kerja sosial 2.2. Beban kerja tambahan yaitu: a. Faktor fisik : penerangan, suhu udara, kelembaban, suara, radiasi dan lainlain. b. Faktor Kimia : gas, debu uap, asap, kabut dan lain-lain. c. Faktor biologi : dari golongan hewan atau tumbuhan. d. Faktor fisiologis : sikap dan cara kerja, konstruksi mesin, serta ergonomi. e. Faktor mental-psikologis: suasana kerja,hubungan antara pekerja dan lainlain.

3. Prinsip ergonomi dalam perancangan tempat kerja adalah sebagai berikut : a. Pastikan semua benda yang ada mudah digunakan. b. Bekerja dengan ketepatan yang tinggi. c. Hindari akses kerja terulan-ulang (mengulangi tugas karena ada kesalahan) d. Postur kerja harus baik. e. Hindarkan atau kurangi dari paparan getaran. f. Minimkan kelelahan dan ketegangan otot. g. Minikan dari tekanan secara langsung. h. Peralatan harus standar. i. Perbaiki organisasi kerja. j. Perbaiki desain tempat kerja. k. Berilah latihan bila bekerja masih belum sempurna. 4. Sikap Tubuh Dalam Bekerja Semua pekerjaan hendaknya dilakukan dalam sikap duduk atau sikap berdiri secara bergantian, karena kerja duduk dan kerja berdiri secara bergantian adalah lebih baik di bandingkan dengan hanya mengambil salah satu dari sikap tersebut yang dilakukan dalam waktu lama. Sikap kerja tidak alamiah seperti sikap kerja berdiri, membungkuk, jongkok sambil membungkuk, kepala inklinasi ke depan merupakan sikap kerja tidak ergonomis yang dapat menimbulkan kelelahan dan gangguan pada sistem otot rangka. 5. Posisi Duduk Sikap duduk yang keliru merupakan penyebab masalah punggung. Tenaga kerja dengan sikap duduk yang salah akan mederita pada bagian punggungnya. Tekanan pada pada bagian tulang belakang akan meningkat pada saat duduk dibandingkan dengan saat berdiri atau berbaring. Sikap duduk yang tegang lebih banyak memerlukan aktivitas otot atau urat saraf belakang daripada sikap duduk yang condong ke depan. 6. Posisi Kerja Berdiri Setengah Duduk Berdasarkan hasil penelitian Gempur (2003) bahwa tenaga kerja bubut yang telah terbiasa bekerja dengan posisi berdiri tegak (TG) diubah menjadi posisi berdiri setengah duduk tanpa sandaran (SDTS) dan setengah duduk pakai sandaran

(SDPS) bahwa terdapat perbedaan tingkat kelelahan,dimana posisi berdiri lebih lelah dibandingkan SDTS atau SDPS. Kelelahan otot mekanik tersebut berbanding langsung dengan peningkatan asam laktat dan penurunan glukosa. 7. Tinggi Dataran Kerja Tinngi dataran kerja sangat penting artinya, sikap tubuh ditentukan oleh dataran kerja. Ukuran tubuh dalam keadaan berdiri dan duduk merupakan faktor penentu tinggi meja kerja yang diperlukan. 8. Waktu Kerja Waktu kerja bagi seseorang menentukan efisiensi dan produktivitasnya, segi - segi terpenting bagi persoalan kerja meliputi : a. Lamanya seseorang mampu kerja secara baik (6-8 jam). Disini waktu kerja dari jam8-16WIB. b. Hubungan diantara waktu kerja dan istirahat. Waktu istirahat dari jam12-13WIB. c. Waktu bekerja sehari menurut periode yang meliputi siang (pagi, siang, sore) dan malam. 9. Keluhan Muskuloskeletal Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada bagian - bagian otot skeletal yang dirasakan oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai sangat sakit. 10. Faktor Penyebab Terjadinya Keluhan Musculoskeletal a. Peregangan otot yang berlebihan b. Aktivitas berulang c. Sikap kerja tidak alamiah yaitu, tekanan, getaran dan mikroklimat.

11. sarana kerja. Saraana kerja yang menjadi sorotan utama dalam pengamatan ini adlah meja dan kursi.

Criteria meja berdasarkan norma ergonomic : Tinggi meja disarankan 54-58 cm. tinggi permukaan meja dibuat setinggi siku yaitu tinggi siku duduk, tebal daun meja yang tebal, permukaan meja yang rata, lebar meja kurang lebih 80 cm (tidak melebihi dari jangkauan tangan.) Ukuran tempat duduk adlah sebagai berikut. Tinggi alas duduk sebauknya dapat diatur tinggi rendahnya, dalamnya alas duduk sekitar 38cm. kursi harus stabil dan tidak bergoyang atau bergerak, dan juga kursi memungkinkan cukup kebebasan bagi gerakan khusu pemakaian. Criteria kursi yang baik : Stabilotas produk yang baik, kekuatan produk, mudah dinaik turunkan, sandaran punggung, fungsional, bahan material yang bagus, kedalaman kursi yang sesuai, lebar kursi, lebar sandaran kursi, lebar sandaran punggung, bangku tinggi.

BAB III PEMBAHASAN Berdasarkan hasil pengamatan, aktivitas yang dilakukan oleh pekerja warteg dan pelanggan. Oleh karena itu, sebagai dasar upaya pengendalian resiko akan gangguan musculoskeletal akibat pekerjaan di warteg dilakukan pemecahan masalah mengenai resiko ergonomi berdasarkan postur tubuh yang terbentuk saat pekerja di warteg melakukan aktivitas melayani, dan pelanggan dalam aktivitas makan dan minum, dengan mengatur tataletak pormasi kerja yang ideal dan kursi dan meja yang kur ang ideal.

gb1. posisi makan pelanggan

gb2. posisi pekerja warteg

1. Kapaitas Kerja di warteg a. Umur Terutama para pekerja di warteg ini adalah seseorang yang umurnya sudah memenuhi kapasitas fisik untuk bekerja minimal usia 20th. b. Jenis Kelamin Pekerja wanita yang sudah memiliki kemampuan baik secara fisik maupun secara mental, dan pekerja laki-laki yang mampu untuk angkat junjung benda-benda yang

berat. Karena di warteg ini terdapat pekerjaan yang berat terutama hal untuk angkat junjung. c. Antropometri (ADP) Alat-alat yang digunakan untuk bekerja dalam memenuhi kebutuhan di warteg baju pelindung tubuh (digunakan untuk menghindari kotoran-kotoran yang dihasilkan pada saat mengolah makanan), alas kaki (digunakan untuk melindungi kaki pada waktu bekerja). d. Kesegaran Jasmani Dalam setiap aktivitas pekerjaan, setiap tenaga kerja dituntut untuk memiliki kesegaran jasmani yang baik sehingga tidak cepat merasa lelah dan performansi kerja tetap stabil untuk waktu yang cukup lama. e. Kemampuan Kerja Fisik Kemampuan fungsional pekerja untuk mampu melakukan pekerjaan memproduksi tahu yang memerlukan aktivitas otot pada periode waktu yang relatif lama sampai beberapa jam, sehingga membutuhkan ketahanan fisik yang kuat. 2. Beban Kerja a. Beban kerja utama Beban kerja utama adalah beban kerja fisik, karena seorang pembuat tahu lebih banyak menggunakan energi atau tenaga fisiknya. Sehingga lebih mudah lelah, capek dan gangguan - gangguan kesehatan lainnya. Terutama pada bagian punggung, kaki dan tulang ekor (pantat). b. Beban kerja tambahan 1. Faktor fisik Penerangan ruangan masih kurang tetapi ventilasi pada ruangan sudah cukup, sedangkan ruang kerja di warteg kurang luas dan banyak barang - barang yang berserakan sehingga mempersulit jangkauan kerja. Lokasi yang dekat dengan jalan

raya menimbulkan kebisingan dari suara kendaraan - kendaraan sehingga mengganggu pendengaran dan konsentrasi kerja. 2. Faktor kimia Asap yang dihasilkan oleh kayu bakar dari proses pemasakan yang mengandung bahan kimia yang baunya mengganggu pernafasan,dan mengganggu pekerjaan saat mengolah makanan apabila pekerja yang menghirup asap tersebut akan dapat mengganggu sistem pernapasan di dalam tubuh. 3. Faktor biologi Tempat kerja yang berantakan dan barang-barang yang berserakan kemungkinan menjadi tempat hidup nyamuk, bakteri, dan hewan hewan lain yang menjadi vector penyakit. 4. Faktor fisiologis Keadaan ruangan yang panas, serta bagi pekerja yang dalam bagian memasak menhadapi suhu yang cukup panas. 5. Faktor mental psikologis Banyaknya pesanan makanan buat beban pikiran bagi para pekerja di warteg sehingga terjadi perpanjangan / penambahan waktu bekerja. Serta suasana kerja dan hubungan pekerja pembuat tahu tersebut dengan atasannya harus terjalin dengan baik. c. keadaan meja dan kursi di warteg. Meja yang digunakan di warteg menggunakan bahan kayu. Ada dua jenis meja yang terdapat di warteg tersebut. Yaitu meja yang memanjang menyatu dengan letak hidangan makanan dan meja yang berbentuk persegi empat.

Gb3. meja panjang

Gb4. meja segi empat

Dalam keadaan duduk untuk aktivitas makan kedua meja cukup nyaman dan sudah agak sesuai dengan prinsip ergonomic, namun meja tersebut tidak ccocok untuk kerja berdiri. Keadaan kursi di warteg juga ada dua jenis, yaitu model meanjang tanpa senderan punggung dan dengan senderan punggung

Gb5. kursi panjang

Gb6. kursi dengan sandaran

Kuersi yang panjang nyaman dan kurang menyebabkan kelelahan karena memiliki tinggi lipat lutut yang sesuai rata rata. Sedangkan yang dengan sandaran alas duduk kurang nyawan karena tidak terdapat lengkungan dan tinggi lipat lutut yang tidak nyaman. Namun kursi dengan sandaran bisa diatur dan dipindah-pindah sedangkan kursi yang panjang cenderung statis pada satu tempat

BAB IV PENUTUP KESIMPULAN pekerjaan di warteg kurang memperhatikan prinsip ergonomic perlindungan kerja pada pekerja di warteg masih disepelekan dengan prinsip ergonomic akan menciotakan kenyamanan penjual dan pembeli di warteg. Banyak factor yang mempengaruhi produktifitas kerja di warteg muncul. Khususnya pada perhawaan yang cukup panas. Ada dua meja di warteg yang ergonomic dan kurang ergonomic

SARAN 1. pengaturan kerja agar lebih di tingkatkan kagi 2. kepedulian terhadap kenyamanan karyawan akan meningkatkan produktivitas kerja karyawan. 3. ruangan bisa di tata sedemikian rupa untuk menciptakan kenyamanan. 4. hal-hal yang menyebabkan ketidaknyamanan harus segera disingkirkan. 5. hal-hal yang kurang ergonomic juga segera dibenahi untuk menciptakan kenyamanan bagi pekerja dan pelanggan

DAFTAR PUSTAKA

Yuniarti,MG catur, ERGONOMI. Universitas diannuswantoro. Semarang :2008