Anda di halaman 1dari 8

4.

Validasi Desain
Validasi desain merupakan proses kegiatan untuk menilai apakah rancangan produk, dalam hal ini metode mengajar baru secara rasional akan lebih efektif dari yang lama atau tidak. Dikatakan secara rasional, karena validasi di sini masih bersifat penilaian berdasarkajl pemikiran rasional, belum fakta lapangan. Validasi produk dapat dilakukan dengan cara menghadirkatl beberapa pakar atau tenaga ahli yang sudah berpengalaman untul menilai produk baru yang dirancang tersebut. Setiap pakar dimintl untuk menilai desain tersebut, sehingga selanjutnya dapat diketahul kelemahan dan kekuatannya. Validasi desain dapat dilakukan dnliWI forum diskusi. Sebelum diskusi peneliti mempresentasikan pro penelitian sampai ditemukan desain tersebut, berikut keunggulannj I

membandingkan efektivitas metode mengajar lama dengan yang baru. Indikatornya efektivitas metode mengajar baru adalah, kecepatan pemahaman murid pada pelajaran lebih tinggi, murid bertambah kreatif dan hasil belajar meningkat. Eksperimen dapat dilakukan dengan cara membandingkan dengan keadaan sebelum dan sesudah memakai metode mengajar baru (before-after) atau dengan membandingkan dengan kelompok yang tetap menggunakan metode mengajar lama. Dalam hal ini ada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Dengan demikian model eksperimen pertama dan kedua dapat digambarkan seperti gambar 16. 2a dan 16.2bberikut.

oGambar 16.2a. Desain ekperimen (before-after). Oi nilai sebelum treatment dan 02 nilai sesudah treatment

5. Perbaikan Desain
Setelah desain produk, divalidasi melalui diskusi dengan i 11 dan para ahli lainnya, maka akan dapat diketahui kelemahnnn I Kelemahan tersebut selanjutnya dicoba untuk dikurangi deny 111 memperbaiki desain. Yang bertugas memperbaiki desain id peneliti yang mau menghasilkan produk tersebut.

6. Uji Coba Produk Seperti telah dikemukakan, kalau dalam bidann lei ml 1 produk yang telah dibuat tidak bisa langsuny diuji eoha duhi l harus dibuat terlebih dulu menjadi barang, dan barany leisol H diujicoba. Misalnya desain mesin pengolah sampali s i h lull ill dan direvisi, maka selanjutnya mesin tersebul dapal dihunl bentuk prototipe. Prototipe inilah yang selanjutnya diuji 1 * Dalam bidang pendidikan, desain pmdiil - 1 .......................... mengajar baru dapat langsung diuji coba. setelah ilivnluln ' il m < Uji coba tahap awal dilakukan dengun simuhi 1 i - mengejar tersebut. Selelah disnnulasikan m i l 1 . h p i i J m pada kelompok y.my, terbnlas IVnmi|um diliikuknn 1 I 1 111 n untuk mendapatkan informasi apakah metode mengajar baru tersebut lebih efektif dan efisien dibandingkan metode mengajar yang lama atau yang lain. Untuk itu pengujian dapat dilakukan dengan eksperimen, yaitu

Berdasarkan gambar 16.2a tersebut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut. Ekperimen dilakukan dengan membandingkan hasil observasi O, dan 02. O, adalah nilai kecepatan pemahaman, kreativitas dan hasil belajar sebelum diajar dengan metode mengajar baru, sedangkan 02 adalah nilai kecepatan pemahaman, kreativitas dan hasil belajar murid setelah diajar dengan metode mengajar baru, 1 lekti vitas motode mengajar baru diukur dengan cara membandingkan antara nilai 02 dengan O,. Bilai nilai 02 lebih besar 1I.11 ipada ()|, maka mctode mengajar tersebut efektif.

Model ekperimen yang ke dua ditunjukkan pada gambar 16.2b sebagai berikut.

03
Gambar 16.2b. Desain ekperimen dengan kelompok kontrol. (Pretest-postest control group desain)

treatment/perlakuan untuk diajar dengan metode mengajar baru, dan kelompok kontrol diajar dengan metode mengajar yang lama. Eksperimen dilakukan beberapa bulan sampai posisi kelompok eksperimen terbiasa diajar dengan menggunakan metode mengajar baru tersebut. Setelah itu maka kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran, perubahan kreativitas dan hasil belejar pada kedua kelompok tersebut diukur. Kecepatan pemahaman murid pada pelajaran, perubahan kreativitas murid, dan hasil belajar kerja, diukur dengan instrumen sehingga diperoleh data kuantitatif. Dalam pengujian ini, 02 berarti prestasi kelompok eksperimen setelah diajar dengan metode mengajar baru, dan 0 4 adalah prestasi kelompok kontrol yang diajar dengan menggunakan metode kerja lama. Bila nilai 02 secara signifikan lebih tinggi dari 04, maka metode mengajar baru tersebut lebih efektif dan bila dibandingkan dengan metode mengajar yang lama. Pengujian signifikansi efektivitas metode mengajar baru, bila data berbentuk interval dan dilakukan pada dua kelompok maka dapat menggunakan t-test berpasangan (related), sedangkan bila dilakukan pada lebih dari dua kelompok dapat menggunakan Analisis Varians (Anava). Berikut ini diberikan contoh pengujian signifikansi efektivitas dan efisiensi metode mengajar baru melalui eksperimen model (before-after). Dalam eksperimen digunakan 10 orang murid yang diambil secara random (penelitian yang sebenarnya tidak hanya 10 murid). Selanjutnya 10 orang murid tersebut diminta untuk menilai kecepatan pemahaman terhadap pelajaran, kreativitas, dan hasil belajar sebelum diajar dengan menggunakan metode baru dan sesudah menggunakan metode baru. Data sebelum diajar dengan menggunakan metode mengajar baru ditunjukkan pada tabel 16.2 dan sesudah menggunakan metode mengajar baru ditunjukkan pada tabel 16.3. Instrumen Penelitian untuk menguji metode mengajar baru tin 1 ii 1 jukkan pada tabel 16.1 berikut (hanya dengan 3 indikator). Instrumen tersebut selanjutnya diberikan kepada kepada 10 murid yang telah diajai dengan menggunakan metode lama dan baru.

Berdasarkan gambar 16.2b tersebut dapat diberikan penjelasan sebagai berikut. Sebelum metode mengajar baru dicobakan, maka dipilih kelompok atau kelas tertentu yang akan diajar dengan metode mengajar baru tersebut. Bila kelompok dalam kelas tersebut jumlah muridnya banyak, maka eksperimen dilakukan pada sampel yang dipilih secara random. Kelompok pertama yang akan diajar dengan metode mengajar baru disebut kelompok eksperimen, sedangkan kelompok yang tetap menggunakan metode mengajar lama disebut kelompok kontrol. R berarti pengambilan kelompok eksperimen dan kontrol dilakukan secara random. Kedua kelompok tersebut selanjutnya diberi pretest atau melalui pengamatan untuk mengetahui posisi awal (kecepatan pemahaman, kreativitas dan hasil belajar) ke dua kelompok tersebut. Bila ke dua kelompok tersebut posisinya sama atau tidak berbeda secara signifikan, maka kelompok tersebut sudah sesuai dengan kelompok yang akan digunakan untuk eksperimen. Bila posisi kemampuan ke dua kelompok tersebut berbeda secara signifikan, maka pengambilan kelompok perlu diulang sampai diperoleh posisi kemampuan awalnya tidak berbeda secara signifikan. Jadi Oi adalah nilai awal kelompok eksperimen, dan O3 adalah nilai awal kelompok kontrol. Setelah posisi ke dua kelompok tersebut seimbang (Ol tidak berbeda dengan 03), maka kelompok eksperimen diberi
IK.

Berdasarkan instrumen tersebut, mohon diberikan nilai efektivitas metode mengajar lama dan baru berdasarkan kecepatdn pemahaman terhadap pelajaran; perubahan kreativitas, dan hasil belajar. Rentang skor setiap indikator adalah sebagai berikut. Kecepatan pemahaman: sangat cepat (4) cepat (3), agak cepat (2), lambat (1). Kreativitas sangat tinggi (4), tinggi (3), agak tinggi (2), rendah (1). Hasil belajar: sangat tinggi (4), tinggi

(3), agak tinggi (2), rendah (1). diharapkan. Selanjutnya bila dilihat dari aspek kreativitas = 18 : 40 = 0,45 atau 45% dari kriteria yang diharapkan. Bila dilihat dari aspekhasil belajar = 1 1 : 40 = 0,275 atau 27,5% dari kriteria yang diharapkan. Jadi efektivitas metode mengajar lama terendah pada aspek hasil belajar murid, baru mencapai 27,5% dari yang diharapkan.

Selanjutnya untuk menghitung efekktivitas metode mengajar baru baru cara menghitung seperti menghitung efektivitas metode mengajar TABEL 16.1 INSTRUMEN UNTUK MENGUKUR EFEKTIVITAS METODE MENGAJAR BARU Metode mengajar lama 1 1 1 2 2 2 3 3 3 4 4 4 Aspek-aspek Kinerja Si stem Metode mengajar baru 2 2 2 3 3 3 4 4 4

yang lama. Skor ideal untuk seluruh sistem = 4 x 3 x 10 = 120. Skor ideal setiap butir = 4 x 10 = 40.

Kecepatan pemahaman thd 1 pelajaran Kreativitas 1 Hasil belajar 1

TABEL 16.2 KINERJA SISTEM KERJA LAMA atau 92,5% dari yang diharapkan. Kreativitas murid = 24 : 40 = 0,60 atau 60% dari yang diharapkan. Hasil belajar = 36 : 40 = 0,90 atau 90% dari yang diharapkan. Untuk efektivitas metode mengajar baru yang terendah adalah pada aspek kreativitas murid, yaitu baru mencapai 60% dari yang diharapkan. TABEL 16.3 KINERJA SISTEM KERJA LAMA No. Responden Skor untu a 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 3 4 3 4 3 4 4 4 4 4 37
c butir

Data penilaian dari 10 responden/murid terhadap efektivita metode mengajar lama ditunjukkan pada tabel 16.2 dan metode bafll ditunjukkan pada tabel 16.3 berikut. Untuk menghitung rati rataefektivitas metode lama dan baru pertama-tama hams ditentukafl skor kriterium/ideal untuk sistem kerja tersebut. Skor ideal I \ I | 10 = 120. (4 = skor jawaban tertinggi, 3 = tiga butir instrumen 10 jumlah responden). Selanjutnya skor ideal untuk setiap butil instrumen = 4 x 10 = 40 (4 skor tertinggi; 10 jumlah responden Berdasarkan tabel 16.2 diperoleh jumlah data Tl Den n demikian efektivitas metode mengajar lama secara keseluruhan ' ' 120 = 0,36 atau 36% dari kriteria yang diharapkan Bila dilihul efektivitas metode mengajai berdasarkan kecepatan pcmiih terhadap pelajaran 15 : 40 0,375 atau 17.5% dan kriteria III
IIH

no: c 4 3 3 4 4 4 4 3 3 4 36

Jumlah

b 3 3 3 2 2 2 2 3 2 2 24

10 10 9 10 9 10 10 10 9 10 97

Berdasarkan ketentuan tersebut, maka efektivitas metode mengajai ham secara keseluruhan. c)7 : 120 0,808 atau 80,8% dari Ini'"' diharapkan Dari perhitungan sudah terlihat adanya 419 perbedaan efektivitas antara metode mengajar lama dengan baru, di mana efektivitas metode mengajar lama = 36% dari yang diharapkan, dan metode mengajar baru = 80,8% dari yang diharapkan. Selanjutnya bila dilihat pada aspek kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran = 37 : 40 = 0,925

8. 9. 10. Jumlah

Perbandingan kinerja sistem lama dan baru ditunjukkan ptdl Ufa berikut.

16.4

TABEL 16.4 PERBANDINGAN SISTEM KERJA LAMA DAN BARU Rumus 16.1 Metode Mengajar lama 37,5% 45,0% 27,5% 36,0% Aspek-aspek Kinerja Sistem Kecepatan pemahaman murid thd pelajaran Kreativitas murid Hail belajar Rata-rata Metode mengajar baru 92,5% 60,0% 90,0% 80,8%

sampel 2 (sistem kerja baru Simpangan baku sampel 1 (sistem kerja lama) Simpangan baku sampel 2 (sistem kerja baru) Varians sampel 1 Varian sampel 2 Korelasi antara data dua kelompok Untuk dapat menggunakan rumus tersebut, maka perlu dicari terlebih dulu korelasi nilai efektivitas metode mengajar lama dan baru, ratarata, simpangan baku dan varians. Yang dikorelasikan adalah nilai total (nilai kolom paling kanan tabel 16.2 dan 16.3). Nilai efektivitas meode mengajar lama dan baru ditunjukkan pada tabel 1(>.'> berikut. Perhitungan menggunakan SPSS sehingga dapat ditemuku harga-harga yang diperlukan untuk menghitung t. TABEL 16.5 NILAI-NILAI KINERJA SISTEM YANG DIKORELASIKAN No. 1.

Berdasarkan tabel 16.4 tersebut terlihat bahwa efektivitas metode mengajar baru jauh lebih tinggi dari sistem lama. Rata-rata efektivitas metode mengajar sistem lama = 36,0% dan metode mengajar baru 80,8%. Kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran dengan metode lama = 37,5% dan metode baru 92,5%. Kreativitas murid yang diajar dengan metode lama = 45% dan metode baru 60%. Hasil belajar murid yang diajar dengan metode mengajar lama 27,5% dan metode baru 90%. Berdasarkan data tersebut terlihat bahwa metode mengajar baru dapat meningkatkan kecepatan pemahaman murid terhadap pelajaran dari 37,5% manjdi 92,5%; kreativitas murid dari 45% menjadi 60% dan hasil belajar murid dari 27,5% menjadi 90%. Kesimpulannya metode mengajar baru lebih efektif dari metode mengajar lama. Untuk membuktikan signifikansi perbedaan sistem kerja lama dan baru tersebut, perlu diuji secara statistik dengan t-test berkorelasi (related). Rumus yang digunakan ditunjukkan pada rumus 16.1.
X
I

X,
4 5 4 6 10 10 9 10

x2

2. 3.
4. 5. 6. 7. 8.

3
4 4 5 4 5 44 10 10 10 9 10 97 9,7 0,48

- X
(

2 S j n2

2 S |

9. 10.
IX

X I 11 X2

+ - ~ - - 2 r n,

si
s2

X Dimana: Rata-rata sampel 1 (sistem kerja lama Rata-rata s

4,4 0,84 0,711

S,2 S22 r

0,23

0,6

0,6

Ho : Efektivitas metode kerja baru baru lebih kecil atau sama dengan sistem kerja lama Ha : Efektivitas metode mengajar baru lebih baik dari dari metode kerja lama Ho :
M
LII

Dalam penelitian ini dirumuskan hipotesis sebagai berikut.

<, \x2 Ha

|i.>

4,4-9,9 Pengujian dengan menggunakan t-test berkorelasi uji fihak kanan. Menggunakan uji fihak kanan karena, hipotesis alternatf (Ha) berbunyi "lebih baik"

Daerah penerimaan Ha

= -24,832 t 0,71 0,23 0,84 Y 0,48 = + ^i_2.0,6 10 10 VioJlVio. Untuk membuat keputusan, apakah perbedaan itu s i g n i f i k a n atau tidak, maka harga t hitung tersebut perlu dibandingkan denglfl harga t tabel dengan dk n-2 = 8. Berdasarkan lampiran tabel II d a l a m Nilai-nilai dalam distribusi t, bila dk 8, untuk uji satu fihak d e i i p i n taraf kesalahan 5%, maka harga t tabel -1,86. Bila harga t hitUM jatuh pada daerah penerimaan Ha, maka Ha yang menyatakan bahWl sistem kerja baru lebih baik dari sistem kerja lama diteriml Berdasarkan perhitungan ternyata t hitung -24,832 jatuh padl peneriman Ha atau penolakan Ho. (lihat gambar 16.3) Deng* demikian dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan \ . m , signifikan (dapat digeneralisasikan) efektivitas metode mengajai k < h baru dan lama, d i mana metode mmegajar baru lebih efektil dtf metode yang lama, baik pada aspek kecepatan pemahaman m m hi terhadap pelajaran, kreativitas, dan hasil belajar s i s w a . Gambar 16.3. Uji Hipotesis Fihak Kanan. t hitung -24,83 jatuh pada daerah penerimaam Ha, sehingga Ha diterima

metode mengajar tersebut, maka Tangkah pengujian produk untuk tahap terbatas ini dinyatakan selesai, langkah selanjutnya adalah revisi produk. 7. Revisi Produk Pengujian efektivitas metode mengajar baru pada sampel yang terbatas tersebut menujukkan bahwa metode mengajar baru ternyata yang lebih efektif dari metode lama. Perbedaan sangat signifikan, sehingga metode mengajar baru tersebut dapat diberlakukan pada kelas yang lebih luas di mana sampel tersebut diambil. Namun dari hasil pengujian terlihat bahwa kretivitas murid baru mendapatkan nilai 60% dari yang diharapkan. Untuk itu maka desain metode mengajar perlu direvisi agar kreativitas murid dalam belajar dapat meningkat pada gradasi yang tinggi. Setelah direvisi, maka perlu diujicobakan lagi kelas yang lebih luas. Cara pengujian seperti contoh di atas. Setelah metode mengajar barui diterapkan selama setengah tahun atau satu tahun maka perlu dicek kembali, mungkin ada kelemahannya, kalau ada perlu segera diperbaiki lagi. Setelah diperbaki maka dapat diproduksi masal, atau digunakan pada lembaga pendidikan yang lebih luas. metode mengajar dengan pengumpulan data melalui kuesionri mi d i p a m l a n g kurang akurat, maka dalam kenyataan

Pengujian

Dengan terujinya produk yang berupa

I.'l

pengujian kecepatan pemahaman terhadap pelajaran diukur dengan waktu yang sesungguhnya (satuan menit) dan hasil belajar tidak diukur dengan menggunkan kuesioner, tetapi melalui test dengan instrumen yang valid dan reliabel. Bila mengujian produk dalam hal ini metode mengajar baru baru mengunakan desain pretest posttes control group design (ada kelompok eskperimen dan kontrol), maka untuk mencari efektivitas dan sefisiensi sistem kerja baru, dilakukan dengan cara menguji signifikansi antara kelompok yang diajar dengan metode mengajai baru dengan kelompok yang tetap diajar dengan menggunakan metode lama. Dalam hal ini adalah menguji signifikansi 02 dan 04 padl gambar 16.1b di atas. 8. Ujicoba Pemakaian Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin ada revisi yang tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yan| berupa metode mengajar baru tersebut diterapkan dalam lingklUjI lembaga pendidikan yang luas. Dalam operasinya, metode baft tersebut, tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang mum ul guna untuk perbaikan lebih lanjut. 9. Revisi Produk

produk baru lagi. 10. Pembuatan Produk Masai Bila produk yang berupa metode menpaiai bam IC I M IM I I h i il dinyatakan efektif dalam hebeiapa k.ih | > n r i i | i . m mm! i mengajar baru tersebut dapat diterapkan pada setiap lembaga pendidikan. Pada produk teknologi telah dapat dibuat produk masal. Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang telah diujicoba dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi masal. Sebagai contoh pembuatan mesin untuk mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat, akan diproduksi masal apabila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek teknologi, ekonomi dan lingkungan memenuhi. Untuk dapat memproduki masal, maka peneliti perlu bekerja sama dengan perusahaan.

C. Laporan Penelitian R&D


Seperti telah dikemukakan bahwa metode penelitian dan pengembangan {Research and Development / R&D) adalah merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti sehingga menghasilkan produk bam, dan selanjutnya menguji keefektifan produk tersebut.

Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam Dengan demikian laporan penelitian yang pemakaian dnliiilt lembaga pendidikan yang lebih dibuat harus selalu dilampiri dengan produk yang luas terdapat kekurangan dtf kelemahan. Dalam uji dihasilkan berikut spesifikasi dan penjelasannya. pemakaian, sebaiknya pembuat produk n I illl Lampiran bempa produk yang dihasilkan tersebut, mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam hal dibuat dalam buku tersendiri, dan diberikan ini adalah mi lotli mengajar. Perusahan kendaraan penjelasan tentang kehebatan produk tersebut bermotor, pesawal terbany dll teknologi yang lain berdasarkan hasil uji coba, serta cara menggunakan selalu mengevaluasi kinerja produknyi lapangan, produk tersebut. Sistematika laporan adalah seperti untuk mengetahui kelemahan-kelemahan yany berikut. sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan pengujian kecepatan pemahaman terhadap dan pi ml..................................................................................................... pelajaran diukur dengan waktu yang sesungguhnya

(satuan menit) dan hasil belajar tidak diukur dengan menggunkan kuesioner, tetapi melalui test dengan instrumen yang valid dan reliabel. Bila mengujian produk dalam hal ini metode mengajar baru baru mengunakan desain pretest posttes control group design (ada kelompok eskperimen dan kontrol), maka untuk mencari efektivitas dan sefisiensi sistem kerja baru, dilakukan dengan cara menguji signifikansi antara kelompok yang diajar dengan metode mengajar baru dengan kelompok yang tetap diajar dengan menggunakan metode lama. Dalam hal ini adalah menguji signifikansi 02 dan 04 pada gambar 16.1b di atas. 8. Ujicoba Pemakaian Setelah pengujian terhadap produk berhasil, dan mungkin adl revisi yang tidak terlalu penting, maka selanjutnya produk yan| berupa metode mengajar baru tersebut diterapkan dalam lingkujj lembaga pendidikan yang luas. Dalam operasinya, metode bam tersebut, tetap harus dinilai kekurangan atau hambatan yang mun< u| guna untuk perbaikan lebih lanjut. 9. Revisi Produk Revisi produk ini dilakukan, apabila dalam pemakaian dalnifl lembaga pendidikan yang lebih luas terdapat kekurangan dW kelemahan. Dalam uji pemakaian, sebaiknya pembual produk s< i ilti mengevaluasi bagaimana kinerja produk dalam hal ini adalah mi I ml mengajar. Perusahan kendaraan bermotor, pesawal terbany dM teknologi yang lain selalu mengevaluasi kinerja produknj I 1 lapangan, untuk mengetahui kelemahan-kelemaban \ . \ n y n l n sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan dan pcinbuulu produk baru lagi. 10. Pembuatan Produk Masai Bila produk yang berupa metode mennujai

u-r.cbui n i il dinyatakan efektif dalam bebeiapa k a l i ponpijiitn m n l mengajar baru tersebut dapat diterapkan pada setiap lembaga pendidikan.
bam

Pada produk teknologi telah dapat dibuat produk masal. Pembuatan produk masal ini dilakukan apabila produk yang telah diujicoba dinyatakan efektif dan layak untuk diproduksi masal. Sebagai contoh pembuatan mesin untuk mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat, akan diproduksi masal apabila berdasarkan studi kelayakan baik dari aspek teknologi, ekonomi dan lingkungan memenuhi. Untuk dapat memproduki masal, maka peneliti perlu bekerja sama dengan perusahaan.

C. Laporan Penelitian R&D


Seperti telah dikemukakan bahwa metode penelitian dan pengembangan (Research and Development / R&D) adalah merupakan metode penelitian yang digunakan untuk meneliti sehingga menghasilkan produk baru, dan selanjutnya menguji keefektifan produk tersebut. Dengan demikian laporan penelitian yang dibuat harus selalu dilampiri dengan produk yang dihasilkan berikut spesifikasi dan penjelasannya. Lampiran berupa produk yang dihasilkan tersebut, dibuat dalam buku tersendiri, dan diberikan penjelasan tentang kehebatan produk tersebut berdasarkan hasil uji coba, serta cara menggunakan produk tersebut. Sistematika laporan adalah seperti berikut.