LAPORAN PRAKTIKUM ILMU UKUR TANAH MODUL 1 PENGUKURAN SUDUT

KELOMPOK 38 Muhammad Tristianto Julian Rizka Yuliani 1106138945 1106139191 1106139752

Tanggal Praktikum Asisten Praktikum Tanggal Disetujui Nilai Paraf

: : : : :

13 Oktober 2011

LABORATORIUM SURVEY DAN PEMETAAN DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS INDONESIA DEPOK 2011

Statif 7. Payung 6. Rambu Ukur 3. Peralatan 1. Tujuan 1. Menghitung kesalahan indeks. Gambar 1.I. Dasar Teori Pada praktikum Pengukuran Sudut. 2. Menghitung azimuth suatu arah. Digital Theodolit Sokkia DT. Menentukan koordinat suatu titik. Patok 5. praktikum ini lebih menfokuskan pemahaman pengukuran suatu sudut menggunakan sebuah theodolit dengan mengaplikasikan berbagai metode pengukuran. Meteran 4. yakni verteks sudut. Mengetahui besar sudut horizontal dan vertikal. Unting-unting 1 buah 2 buah 1 buah 6 buah 1 buah 1 buah 1 buah III. 3. 620 2. Digital Theodolit Sokkia Sudut adalah hasil dari pembentukan dua garis yang memiliki satu titik temu. II. Sudut dapat merepresentasikan perbedaan kemiringan 1 . 4.

lalu dikembangkan lagi oleh Carpus. Menurut Proclus. tergantung pada bidang datar dimana sudut itu diukur.titik dan orientasi garis-garis sering tergantung pada pengukuran sudut dan arah. Dalam pengukuran sebidang tanah. Gambar 2. Kata „sudut‟ berasal dari bahasa Latin „angulus‟. yang menyatakan bahwa sudut dapat didefinisikan oleh sudut siku-siku. arah ditentukan oleh sudut arah dan azimut.antara dua garis yang memiliki verteks tanpa harus mendefinisikan arti dari kemiringan antar dua garis secara eksplisit. Jenis-jenis sudut horizontal yang paling biasa diukur dalam pengukuran tanah adalah:     Sudut dalam Sudut ke kanan Sudut belokan Tiga persyaratan dasar menetukan sebuah sudut yaitu: Garis awal atau acuan 2 . yang menyatakan bahwa sudut adalah suatu deviasi dari sebuah garis lurus. Sudut yang diukur dalam pengukuran tanah digolongkan sebagai sudut horizontal dan vertikal. Euclid mengadopsi konsep ketiga. Salah satu ilmu yang mempelajari tentang sudut antara lain adalah geometri dan trigonometri. suatu sudut adalah suatu kualitas atau suatu kuantitas. atau gabungan dari keduanya. yang menyatakan sudut sebagai interval atau ruang antara garis-garis yang memiliki satu titik temu. sudut runcing. Konsep sudut pertama kali dikembangkan lebih dalam oleh Eudemus. sudut tumpul (kuantitatif). yang secara harfiah berarti „pojok‟. Contoh sudut Euclid mendefinisikan suatu sudut pada bidang datar sebagai kemiringan suatu garis ke garis lainnya dimana pada suatu titik kedua garis tersebut akan bertemu. Lokasi titik.

2. Arahkan teropong ke rambu pada ketinggian y meter. ) d dapat dihitung dengan rumus: 3 . dan arah putaran ditunjukkan dalam buku lapangan dengan sebuah sketsa.  Arah perputaran Jarak sudut (harga sudut) Pada saat pengukuran di lapangan seharusnya dipakai prosedur yang seragam. Sudut antara dua jurusan A dan B dapat diketahui dengna menghitung selisih pembacaan sudut horizontal pada theodolit yang diarahkan ke A dan B. Ada 4 cara untuk menetukan sudut antara dua jurusan yaitu: a) Cara Reiterasi b) Cara Repetisi c) Cara dengan mengukur jurusan d) Cara dengan mengukur sektor-sektor Rumus-rumus yang digunakan adalah: XA = XT +dTAsinαTA YA = YT +dTAcosαTA Keterangan :    αTA T dTA = Azimuth TA = titik referensi = jarak antara titik A dan B d = 100 (a-b) cos2 α Beda tinggi dapat dihitung dengan rumus ( Keterangan : BA = pembacaan benang atas BB = pembacaan benang bawah α = Sudut vertikal Sudut vertikal dapat diketahui dengan cara sebagai berikut : 1. Ukur tinggi theodolit dari as teropong (sumbu II) sampai permukaan tanah misalnya y meter . 3. misalnya bila mungkin selalu mengukur sudut seraha jarum jam. Baca besar sudut vertikal.

Memulai pembacaan dari F sampai ke A. Mengukur ketinggian alat yaitu Theodolit dan di catat.C.E. 5. Memasang 6 patok (A. 7. Menegakkan statip dan memasang theodolit.2 132.0 1.F) tersisa secara acak dan sembarang.0 1.D.468 134. memutar kedudukan teropong pada posisi luar biasa. Langkah Kerja 1. Data Pengamatan 1. benang tengah dan benang bawah bacaan rambu ukur.383 1.054 ° 90 90 90 90 90 90 PEMBACAAN SUDUT VERTIKAL ´ 0 0 0 0 0 0 " 0 0 0 0 0 0 ° 0 35 59 83 105 132 HORIZONTAL ´ 0 10 37 0 57 36 " 0 10 30 0 50 30 JARAK TAPING (m) TEMPAT/ TINGGI ALAT 9.35 4 . Sesudah mencatat sasaran terakhir yaitu titik F.127 PEMBACAAN BENANG BA 1515 1.087 109.42 12.134 1.94 11.B. Mencatat pembacaan benang atas.232 1. V. 3.74 12. Memasang 1 patok sebagai bench mark atau tempat berdirinya alat yaitu theodolit. Membidik sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan searah jarum jam 6.435 m C D E F 1. Posisi biasa TITIK BIDIK BT A B 1.403 1. 4.IV.0 1.0 BB 1. 2.179 104.467 1. Mengatur theodolit sehingga tegak lurus dengan benchmark dengan memperhatikan nivo ( gelembung nivo di tengah lingkaran ).448 129.562 1. 8. 10. 9.44 9. Memutar lingkaran berskala sebesar 1800 setiap mengulangi pengukuran.46 7.

134 1.94 12.175 m | = 0.42 JARAK 1.233 1.35 286 263 239 215 179 1 6 39 3 5 40 40 40 10 20 9. Pengolahan Data  Beda Tinggi (h) 1.318 1.04 1.44 12. Posisi Luar Biasa Point A : | Point B : | | | | = 0.087 1.004 m | 2.339 1. Posisi Luar Biasa PEMBACAAN TEMPAT/ TITIK BENANG TINGGI BIDIK ALAT BT BA BB F 1.2.458 PEMBACAAN SUDUT VERTIKAL ° ´ " 90 0 0 90 90 90 90 90 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 HORIZONTAL TAPING ° ´ " (m) 312 36 30 7.09 1.74 9.506 1.46 11.435 m VI.02 m | Point E : | | | = 0.382 1.553 1.447 1.127 1.178 1.081 m | Point D : | | | = 0.081 m | Point D : | | | | 5 .075 m | | Point C : | | | = 0.175 m | = 0.402 1.291 1.466 1.053 E D C B A 1. Posisi Biasa Point A : | Point B : | | | | = 0.075 m | | Point C : | | | = 0.

005 m |  Jarak : θ=vertical angle θ=90 => cos2 (90-θ) 1.486| 1 = 7.385| 1 =7m Point E: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.4 m 6 .393| 1 = 8.02 m Point E : | | | = 0. Posisi Biasa Point A: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.557-1.58| 1 =8m Point B: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.477-1.66-1.48| 1 =7m Point C: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.455-1.= 0.55-1.1 m Point D: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.

455-1.5 m Point B: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.393| 1 = 8.1528 7 .476-1.658-1.55-1.385| 1 =7m Point E: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1. Posisi Biasa Point A: x = d sin SMi = 8 sin 0 =0m y = d cos SMi = 8 cos 0 =8m Point B: x = d sin SMi = 7 sin 49.2.556-1.3 m  Kordinat : 1.573| 1 = 8.48| 1 =7m Point C: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.486| 1 =7m Point D: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1. Posisi Luar Biasa Untuk posisi luar biasa θ yang digunakan telah dikurangi 180 Point A: d = 100 |BA-BB| cos2 (90-θ) = 100 |1.

1 cos 71.2920 m y = d cos SMi = 7 cos 49.3 = 2.5780 m Point C: x = d sin SMi = 7.4 cos 125.0644 m y = d cos SMi = 8.1 sin 71.9790 m y = d cos SMi = 7 cos 93.778 = -0.30 = 6.5 sin 179.8111 = 6.2791 m Point D: x = d sin SMi = 7 sin 93.033315 m 8 .= 5.8111 = -0.1528 = 4.847 = -4.4 sin 125.9224 m 2. Posisi luar biasa Point A: x = d sin SMi = 8.7237 m y = d cos SMi = 7.847 = 7.4550 m Point E: x = d sin SMi = 8.

778 = 8.4915 m Point B: x = d sin SMi = 7 sin 228.603 = -0.806 = 4.5 cos 179.4410 m Point E: x = d sin SMi = 8.6130 m Point C: x = d sin SMi = 7 sin 250.6150 m y = d cos SMi = 7 cos 250.922 = 6.3 cos 305.811 9 .806 = 5.2500 m y = d cos SMi = 7 cos 228.811 = 6.603 = 6.922 = 2.y = d cos SMi = 8.9860 m y = d cos SMi = 7 cos 273.3 sin 305.7230 m y = d cos SMi = 8.2890 m Point D: x = d sin SMi = 7 sin 273.

Posisi Biasa Point A Re =| | | = 6.8223 m  Kesalahan Relatif Jarak | 1.65 % Point B Re =| | = 2.23 % Point E Re =| = 2.06 % | 10 .79 % Point D Re =| | = 2.= -4.710 % Point C Re =| | = 7.

710 % Point C Re =| | = 9. Posisi Luar Biasa Point A Re =| = 0.23 % Point E Re =| = 0.85 % | Nb: Tabel hasil pengolahan data terlampir 11 .82 % | Point B Re =| | = 2.09 % Point D Re =| | = 2.2.

00000 4.06561 1.081 0.55 1.521 1.455 1.29200 6.385 1.58 1.72370 6.175 -0.486 1.436 BA 1.27910 -0.97900 7.7 7.66 1.79221 2.57800 2.57 7.477 BB 1.16 8.393 ° 0 49 71 93 125 PEMBACAAN SUDUT HORIZONTAL ´ 0 9 18 48 50 " 0 10 0 40 50 VERTIKAL ° 90 90 90 90 90 ´ 0 0 0 0 0 " 0 0 0 0 0 JARAK TAPING 8.557 1.45500 -4.02 0.004 12 .00000 5.06440 y 8.71022 7.LABORATORIUM JALAN DAN SURVEY FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL UNIVERSITAS INDONESIA PENGUKURAN SUDUT BIASA TEMPAT/ TINGGI ALAT TITIK BIDIK A B C D E PEMBACAAN BENANG BT 1.23464 2.615 1.23 ΔH PPENGUKUR: Kelompok 38 TANGGAL : 05/09/2011 ALAT : Digital Theodolite LOKASI : Samping Departemen Sipil ASISTEN : Mita Amalia kordinat x 0.48 1.44 -0.42 1.195 7.65111 2.075 -0.515 1.92240 Kesalahan Jarak % 6.

61500 6.175 -0.55 1.49150 4.075 -0.486 1.7 7.85055 ΔH 1.455 1.081 0.48 1.81680 2.02 0.09091 2.195 7.005 13 .521 1.57 7.LUAR BIASA TEMPAT/ TINGGI ALAT TITIK BIDIK A B C D E PEMBACAAN BENANG BT 1.72300 y 8.385 1.44100 -4.573 1.658 1.393 PEMBACAAN SUDUT HORIZONTAL ° ´ " 179 46 40 228 48 20 250 55 20 273 36 10 305 48 40 VERTIKAL ° ´ " 270 0 0 270 0 0 270 0 0 270 0 0 270 0 0 JARAK TAPING 8.515 1.476 BB 1.23464 0.98600 6.23 kordinat x -0.42 1.71022 9.03315 5.615 1.435 BA 1.28900 -0.556 1.16 8.61300 2.82230 Kesalahan Jarak % 0.25000 6.44 -0.

Dalam pengaturan gelembung nivo. Sesudah mencatat sasaran terakhir. 13 . kita perlu benarbenar sabar dan teliti sebab jika sembarangan memutar sekrup. Ketika theodolit sudah terpasang dengan baik kita bisa mulai membidik sasaran-sasaran yang sudah ditetapkan searah jarum jam. Apabila gelembung nivo sudah terletak di tengah-tengah. Lalu Mengatur theodolit sehingga tegak lurus dengan benchmark dengan memperhatikan nivo serta mengukur ketinggian theodolit tersebut.E) tersisa secara acak dan sembarang. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Hal ini dapat dilakukan dengan mengecek letak gelembung nivo baik pada nivo kotak maupun nivo tabung. Memutar lingkaran berskala sebesar 1800 setiap mengulangi pengukuran. memastikan bahwa sumbu vertikalnya benar-benar lurus. gelembung tidak akan ke tengah-tengah dan ini menyebabkan praktikum memakan banyak waktu. Analisis Praktikum Pada praktikum “Pengukuran Sudut” diawali dengan memasang 1 patok sebagai bench mark atau tempat berdirinya theodolit. sumbu vertikal dan garis bidik sudah benar-benar lurus. Analisis 1.D. Mencatat pembacaan benang atas. kemudian mengatur hingga sudut horisontalnya (garis bidik) benar-benar tegak lurus dengan sumbu vertikal. Lalu memasang 5 patok (A.B. benang tengah dan benang bawah bacaan rambu ukur. Setelah itu Menegakkan statip dan memasang theodolit.VII. itu berarti. memutar kedudukan teropong pada posisi luar biasa dan memulai pembacaan dari E sampai ke A.C. Antara lain.

61500 6.005 Kordinat (m) x -0.92240 Kesalahan Jarak % 6. 3.2.23 ΔH (m) -0.57800 2.02 0.72300 y 8.44 m Dari perhitungan di atas didapatkan nilai jarak yang dibandingkan dengan hasil pengukuran taping sebagai patokan. Analisis Perhitungan Perhitungan data digunakan untuk mencari nilai jarak.00000 4.175 -0.06561 1. kordinat serta kesalahan. berikut hasilnya: BIASA TEMPAT/ TINGGI ALAT TITIK BIDIK A B C D E JARAK MENDATAR D (m) 8 7 7.06440 y 8. bedat tinggi.71022 7.82230 Kesalahan Jarak % 0.28900 -0.44100 -4. Dari perhitungan di atas didapatkan nilai kordinat x dan y pada posisi biasa dan luar biasa yang memiliki selisih antara keduanya.44 m LUAR BIASA TEMPAT/ TINGGI ALAT TITIK BIDIK A B C D E JARAK MENDATAR D (m) 8. Analisis Kesalahan Kesalahan yang terjadi dalam hasil yang di dapat bisa disebabkan oleh: Pembacaan Theodolite yang kurang tepat.72370 6.71022 9.081 0.004 Kordinat (m) x 0.081 0.81680 2.29200 6. 14 .7 7.5 7 7 7 8.65111 2.23 ΔH (m) -0.98600 6.27910 -0.97900 7.195 7.23464 0. Beda tinggi yang didapat merupakan beda ketinggian antara titik awal dengan titik bidik yang apabila bernilai minus berarti titik bidik memiliki elevasi lebih rendah daripada titik awal.075 -0.61300 2.79221 2.7 7.1 7 8.03315 5.3 JARAK TAPING (m) 8.175 -0.45500 -4.09091 2.02 0.16 8.85055 1.16 8.49150 4.075 -0.4 JARAK TAPING (m) 8.57 7.195 7.00000 5.25000 6.57 7.23464 2.

diakses tanggal 9 Oktober 2011) Setyono. Referensi File. Kesalahan-kesalahan yang terjadi dapat diminimalisir dengan perbanyak latihan dan pengalaman. miring sehingga ada kesalahan dalam pembacaan data. Theodolite dapat digunakan untuk mengetahui kordinat suatu titik. Theodolite dapat digunakan untuk mengukur azimuth suatu arah.091%.. Job Sheet Praktikum Ilmu Ukur Tanah II. - Penarikan meteran yang tidak tegak lurus.id (terhubung berkala.co. 2008 (terhubung 15 . rata-rata kesalahan sebesar 3..065% . serta ketelitian dalam pengukuran.upi. Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Jakarta.indonetwork. IX.79%. Kesalahan relatif jarak pada posisi biasa.pdf berkala. Depok: Universitas Indonesia.7./handout_Geometri_Chapter__I. Cuaca panas dan terik praktikan tidak konsentrasi dalam membaca data. tinggi dan sudut horizontal serta vertikal.141% dengan range dari 0.     Kesimpulan Theodolite dapat digunakan untuk mengukur jarak. diakses tanggal 9 Oktober 2011) Pedoman Praktikum Ilmu Ukur Tanah.- Rambu ukur yang tidak tepat terhadap patok. VIII.29% dengan range dari 2. Serangkaisurvey.816%-9. rata-rata kesalahan sebesar 4. dkk.edu/Direktori/. Kesalahan relatif jarak pada posisi luar biasa. Widi.1996.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful