Anda di halaman 1dari 8

SEMINAR NASIONAL-1 BMPTTSSI - KoNTekS 5

Universitas Sumatera Utara, Medan - 14 Oktober 2011

IDENTIFIKASI KENDALA PENERAPAN E-PROCUREMENT PADA PENGADAAN JASA KONSTRUKSI DI BANDA ACEH
Nurisra1
1

Jurusan Teknik Sipil, Universitas Syiah Kuala, Jl. Syech Abdul Rauf No. 7 Darussalam, Banda Aceh Indonesia 23111, Email: nurisra@yahoo.com

ABSTRAK
Pengadaan jasa konstruksi dengan sistem lelang e-Procurement merupakan salah satu pendekatan dalam usaha mencegah terjadinya korupsi dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Permasalahan dalam penelitian ini adalah faktor-faktor apakah yang menjadi kendala di Dinas Pekerjaan Umum Provinsi Aceh. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor kendala yang ada pada pelaksanaan e-procurement di lingkungan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh pada tahun anggaran 2011. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan penambahan pengetahuan hal kemajuan teknologi tentang pengadaan barang/ jasa dalam e-procurement berdasarkan Perpres No. 54 Tahun 2010 guna mendapatkan penyedia jasa yang berkualitas dimana pada akhirnya akan mendapatkan kinerja proyek konstruksi yang memuaskan. Metodelogi penelitian dilakukan dengan wawancara terstruktur menggunakan kuisioner. Data yang dibutuhkan yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui penyebaran angket yang akan dibagikan ke responden yang terdiri atas 35 kontraktor kualifikasi kecil dan non kecil serta 35 pengguna jasa dan panitia pengadaan. Data sekunder merupakan data nama paket pekerjaan dan nama penyedia jasa. Analisa data yang dilakukan terdiri dari analisa reabilitas dan deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 6 faktor kendala utama yaitu peraturan dan ketentuan hukum dalam memenuhi kebutuhan pelaksanaan e-procurement, kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung e-procurement, kemampuan teknologi pengguna dan penyedia jasa, tingkat kemampuan sumber daya manusia, sosialisasi kepada pihak yang terlibat, dan unsur-unsur lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses e-procurement. Berdasarkan tinjauan terhadap faktor kendala penerapan e-procurement menurut penyedia jasa dan pengguna jasa, faktor sosialisasi kepada pihak yang terlibat merupakan faktor kendala yang paling berpengaruh dengan indikator pelatihan pelaksanaan e-procurement bagi perusahaan penyedia jasa menjadi indikator utama kendala tersebut. Secara keseluruhan keenam faktor kendala mempunyai tingkat pengaruh sedang sebagai kendala dalam penerapan e-procurement. Kata kunci: e-procurement, kontraktor, kendala, penerapan

1.

PENDAHULUAN

Saat ini e-procurement merupakan salah satu pendekatan terbaik dalam mencegah terjadinya KKN dalam pengadaan barang dan jasa pemerintah. Dengan e-procurement peluang untuk kontak langsung antara penyedia barang/jasa dengan panitia pengadaan menjadi semakin kecil, lebih transparan, lebih hemat waktu dan biaya serta dalam pelaksanaannya mudah untuk dilakukan pertanggungjawaban. Namun dalam pelaksanaannya, oleh karena proses eprocurement ini baru diterapkan, tentunya banyak kendala-kendala yang dihadapi. Salah satu instansi yang telah menerapkan e-procurement yaitu Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh juga mengalami beberapa kendala dalam pelaksanaannya. Salah satu indikasi adalah dari jumlah perusahaan atau penyedia jasa yang memasukkan penawaran sangat tidak sebanding dengan jumlah perusahaan yang mendaftar. Secara umum jumlah perusahaan yang memasukkan penawaran hanya 35% (tiga puluh lima persen) dari jumlah perusahaan yang mendaftar. Kenyataan itu menunjukkan adanya kendala yang menyebabkan banyaknya penyedia jasa yang mendaftar namun tidak memasukkan penawaran, sehingga perlu dilakukan tinjauan terhadap faktor-faktor penyebab atau kendala yang dihadapi dalam proses pelaksanaan e-procurement. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor kendala pelaksanaan e-procurement. Ruang lingkup tinjauan pada penelitian ini adalah pelaksanaan e-procurement di Lingkungan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh. Jenis Proyek yang ditinjau adalah pada Satuan Kerja Direktorat Jenderal Cipta Karya Tahun Anggaran 2011 dengan sistem pelelangan full e-procurement. Hasil penelitian ini diharapkan akan memberikan tambahan pengetahuan tentang pengadaan jasa secara e-procurement berdasarkan Perpres No. 54 Tahun 2010 guna mendapatkan penyedia jasa yang berkualitas dimana pada akhirnya akan mendapatkan kinerja proyek konstruksi

yang memuaskan. Pembahasan atas e-procurement tersebut diharapkan dapat memberikan deskripsi tentang kendala atau kelemahan dalam implementasi e-procurement sehingga kendala atau kelemahan tersebut dapat diantisipasi demi pelaksanaan pelelangan yang lebih baik.

2. STUDI LITERATUR 2.1 E-procurement


E-procurement adalah proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang pelaksanaannya dilakukan secara elektronik yang berbasis web/internet dengan memanfaatkan fasilitas teknologi komunikasi dan informasi yang meliputi pelelangan umum secara elektronik yang diselenggarakan oleh Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE). (Sumber : Bappenas, 2008). Mustafa (2011) menyebutkan e-procurement atau lelang secara elektronik adalah proses pengadaan barang/jasa dalam lingkup pemerintah yang menggunakan perangkat teknologi informasi dan komunikasi dalam setiap proses dan langkahnya. Efendi (2010) menyatakan tujuan penerapan e-procurement adalah untuk mendorong mewujudkan pasar yang terintegrasi secara nasional, untuk mencapai efisiensi, transparansi, dan akuntabilitas yang lebih tinggi. Selain itu, dengan penerapan e-procurement, diharapkan proses lelang bisa mengalami percepatan. Falih (2009) mengemukakan 3 (tiga) syarat utama dapat dilaksanakannya e-procurement, yaitu : 1. Aspek Hukum Dalam proses E-Elektronik ini legal aspek harus dinyatakan sebagai landasan yang mengikat untuk seluruh procurement yang dilaksanakan secara elektronik, tanpa melihat basarannya nilai proyek/kegiatan. Dalam upaya menegakkan aspek hukum ini diperlukan peraturan perundangan yang dapat dijadikan acuan dalam penyelenggaraan transaksi elektronik untuk menjamin keabsahan pelaksanaan transaksi, termasuk suratmenyurat melalui media elektronik seperti legal aspek tanda tangan elektronik, dan bea materai untuk berbagai dokumen. Disamping itu, perlu dibentuknya suatu badan yang berhak untuk melakukan pengesahan registrasi dari para penyedia jasa. Serta penetapan lokasi dan waktu pengiriman, serta penerimaan dokumen penawaran. Dalam hal ini diperlukan juga suatu jaminan atas keabsahan dalam mengaudit proses lelang/tender melalui media elektronik (e-procurement) 2. Aspek Manajemen Aspek manajemen dalam hal ini dimaksudkan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam penguasaan IT. Disamping itu juga perlu dipersiapkan Keppres yang mengatur pelaksanaan e-procurement, serta melakukan sosialisasi ke seluruh stakeholders dengan memberikan informasi/data pelelangan/tender kepada publik/masyarakat. 3. Aspek Teknis Keamanan proses tender yang mensyaratkan: zero tollerance insider information, atau kemampuan pelaksana dalam e-procurement, mensyaratkan beberapa aspek teknis yaitu penyelengaraan transaksi melalui media elektronik, pembangunan sistem e-Registrasi untuk penyedia jasa, kapasitas bandwitch yang cukup untuk kelancaran proses pengisian format-format pelelangan/tender, upload dan unggah dokumen, serta keamanan sistem aplikasi dan dokumen dari serangan virus atau hacker.

2.2 Kendala penerapan e-procurement


Jasin (2007) menyebutkan bahwa beberapa kendala atau kelemahan dan permasalahan teknis dalam penerapan eprocurement yang dihadapi diantaranya: 1. Penyedia barang/jasa (vendor) banyak yang belum memahami aplikasi e-procurement; 2. Panitia Pengadaan sebagian besar masih mengalami kesulitan untuk menggunakan dan memahami aplikasi eprocurement; 3. Tingkat kelalaian yang sangat tinggi dalam penggunaan password dan kunci kerahasiaan lainnya oleh user, baik Penyedia Barang/Jasa, Pejabat Pelaksanaan Kegiatan maupun Panitia Pengadaan; 4. Range jadwal state lelang masih belum sepenuhnya bisa diikuti oleh Panitia Pengadaan tepat sesuai yang telah ditetapkan; 5. Ketersediaan fasilitas koneksi internet dan fasilitas pendukung lainnya (seperti scanner, installer adobe, dll) masih sangat terbatas untuk Panitia Pengadaan di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya; 6. Terbatasnya bandwidth menyebabkan masih seringnya terjadi kegagalan proses pada aplikasi e-procurement. 7. Kekuatiran beberapa kalangan di internal Pemerintah Kota Surabaya bahwa penghasilan tambahan mereka saat menjalankan aktifitas pengelolaan pengadaan (mulai dari pengadaan, pelaksanaan dan pengawasan) akan terpotong habis.

Menurut Sulaiman dan Chen (2006) pelaksanaan e-procurement di Indonesia masih ada beberapa kendala: 1. Dalam bidang Hukum Cyberlaw hingga saat ini masih belum diresmikan. Cyberlaw merupakan payung hukum untuk melindungi keabsahan setiap transaksi elektronik. Sejak akhir masa pemerintahan Megawati, RUU ini masih berada di DPR untuk dibahas. Keppres No. 80/2003 dan Keppres No. 61/2004 masih banyak mendapatkan tantangan dari berbagai pihak. Sangat diperlukan adanya produk hukum yang setara dengan UU untuk memberikan jaminan kepastian hukum. Penegakan hukum dalam pemberantasan kartel dalam tender di dalam proses pengadaan barang dan jasa pemerintah dengan meningkatkan peran KPPU (Komite Pengawas Persaingan Usaha). 2. Dalam bidang Infrastruktur Kondisi Infrastruktur baik dari sisi instansi pemerintah maupun pihak swasta sebagai peserta tender masih sangat jauh dari ideal. Dari sisi pemerintah: Untuk membangun sebuah sistem E-procurement yang ideal, diperlukan dana yang cukup besar. Sistem yang dimaksud tentu bukan berupa portal e-Auction sederhana, akan tetapi harus mencakup peningkatan infrastruktur seperti server dan broadband, integrasi dengan unit keuangan, manajemen dokumen, project monitoring, data center, security, hingga capacity building dari SDM pemerintah yang akan menjadi pelaksana pengadaan barang dan jasa tersebut. Dari sisi pengguna (pihak swasta): Dalam Keppres No. 80/2003 dinyatakan bahwa salah satu prinsip dasar pengadaan barang dan jasa pemerintah adalah harus adil/tidak diskriminatif serta harus meningkatkan peran usaha kecil. Artinya dengan kata lain, semua UKM yang di Indonesia mencapai lebih dari 40 juta pengusaha, harus mendapatkan kesempatan yang sama untuk dapat ikut berpartisipasi dalam sistem E-procurement mendatang. Untuk ini, pemerintah mesti mengembangkan Telecenter (CAP , sudah menjadi salah satu program Depkominfo) dan Warnet secara lebih serius. Selain itu pemerintah juga harus memiliki konsep dan solusi pengembangan broadband dan pengentasan digital divide yang jelas. 3. Standarisasi prosedur pengadaan barang dan jasa untuk semua instansi pemerintah, BUMN dan instansi publik lainnya. Pengalaman diberbagai negara menunjukkan bahwa sebuah portal E-procurement nasional dapat digunakan bukan hanya oleh instansi pemerintah saja, akan tetapi juga BUMN, instansi publik, universitas, bahkan hingga swasta dapat ikut berpartisipasi didalamnya. Disamping itu, instansi-instansi yang bersangkutan juga perlu mempublikasikan program pengadaan barang dan jasanya 1 tahun kedepan, sehingga dunia usaha bisa lebih terfokus dalam merencanakan aktivitas bisnis mereka. 4. Sangat diperlukan adanya sebuah badan khusus yang mengatur mengenai pengadaan barang dan jasa pemerintah. Badan ini bertanggung jawab dalam mempromosikan implementasi E-procurement secara nasional, memperbaiki serta memperlengkapi produk-produk hukum yang belum tersedia (termasuk menyediakan fasilitas bagi penyelesaian perselisihan) dan lain sebagainya. Sebuah kutipan lain dari Eadie et al (2007) dan (2010), Hawking et al (2004) juga menyusun faktor penghambat atau faktor kendala dalam pelaksanaan e-procurement di Irlandia Utara, Inggris dan Australia sebagai berikut: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. Keamanan transaksi Tidak ada keyakinan atas kelegalan hukum pada e-procurement Kurangnya hubungan bisnis dengan pemasok yang menyediakan e-procurement Infrastruktur teknis yang tidak memadai dan Berkurangnya integrasi dengan rekanan Kurangnya pengetahuan e-procurement / personil trampil Keprihatinan interoperabilitas Kurangnya keahlian teknis Tidak ada manfaat bisnis secara nyata Budaya perusahaan Dukungan manajemen Sistem IT yang terlalu mahal Tidak memiliki infrastruktur IT

Dari hasil kajian oleh Gokmoulil (2008) terhadap berbagai literatur merangkum hasilnya sebagai berikut: Penelitian di Eropa yang dilakukan Barcelo (1999) menyimpulkan bahwa berbagai kesulitan hukum merupakan salah satu hambatan dalam realisasi full e-procurement. Berbagai hambatan disoroti oleh Barcelo antara lain kekurangan regulasi hukum spesifik, perbedaan pendekatan nasional, enforcebility atau permasalahan evdentiary. Hambatan yang lain disebutkan oleh Carayannis et al (2005), juga menyebutkan hambatan lain penerapan e-procurement antara lain : prosedur e-procurement sulit, intervensi negara

berlebihan, disfungsional birokrasi dan resistensi terhadap perubahan sistem pengadaan. Resistensi terhadap perubahan sistem pengadaan masuk dalam salah satu kategori hambatan pada sosialisasi dan publikasi e-procurement kepada penyedia jasa karena diperlukan waktu yang cukup panjang untuk dapat merubah sistem pengadaan barang/jasa secara konvensional menuju sistem pengadaan barang jasa secara elektronik. I su budaya, merupakan fokus penelitian hambatan e-procurement yang dilakukan oleh Davila et al (2003) di Amerika. Bila hambatan mengenai isu budaya tidak segera diselesaikan maka memungkinkan terjadi kegagalan penerapan e-procurement. Oleh sebab itu, sangat dibutuhkan dukungan secara penuh dari manajemen penyedia jasa dalam penerapan e- procurement secara utuh. Bagaimanapun, tekanan terhadap perusahaan, inisiatif untuk bersaing juga merupakan prioritas yang harus dimiliki perusahaan penyedia jasa dalam mengikuti proses pengadaan barang/jasa. Hambatan lain yang berpengaruh pada e-procurement antara lain : tidak tersedia infrastruktur teknologi informasi (IT), sistem IT memerlukan biaya besat dan kurangnya keahlian teknis. Hambatan tersebut merupakan hambatan sumberdaya dari penyedia jasa tentang kesiapan perusahaan mengikuti proses pengadaan barang/jasa secara online. Wong and Sloan (2004), memperkuat hambatan tersebut dengan menuliskan hambatan penyedia jasa adalah kesulitan mengikuti e-procurement karena kekurangan sumberdaya baik infrastruktur maupun sumberdaya manusia seperti kurangnya pengetahuan dan kemampuan teknologi informasi dari personil penyedia jasa

3.

METODELOGI PENELITIAN

Penelitian ini dimulai dari studi literatur dan bahan-bahan referensi yang berkenaan dengan kendala penerapan eprocurement. Data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui survey terhadap beberapa penyedia jasa dan pengguna jasa serta panitia pelelangan dengan memberikan sejumlah pertanyaan berupa kuisioner, sedangkan data sekunder berupa data nama paket pekerjaan dan daftar penyedia jasa yang mengikuti e-procurement serta data pengguna jasa dan panitia pengadaan barang/ jasa pada Satuan Kerja Direktorat Jenderal Cipta Karya di Lingkungan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari responden yang memiliki hubungan dengan kegiatan objek penelitian yang berada di wilayah Kota Banda Aceh melalui penyebaran kuisioner. Penyusunan kuesioner dilakukan berdasarkan hasil kajian literatur yang menghasilkan 6 variabel kendala penerapan e-procurement. Variabel kendala dalam pelaksanaan e-procurement yang ditinjau pada penelitian ini meliputi : A. Peraturan dan ketentuan hukum dalam memenuhi kebutuhan pelaksanaan e-procurement B. Kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung e-procurement C. Kemampuan teknologi Pengguna dan penyedia jasa D. Tingkat kemampuan sumber daya manusia E. Sosialisasi kepada pihak yang terlibat F. Unsur-unsur lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses e-procurement Kuisioner yang dibagikan bersifat tertutup dengan skala yang digunakan adalah skala Likert. Jawaban responden diukur dengan menggunakan skala 1 (satu) sampai 5 (lima) dengan rincian pilihan jawaban kuesioner adalah sangat rendah, rendah, cukup, tinggi dan sangat tingi. Setelah semua data terkumpul dilakukan perhitungan data dengan cara statistik dan analisa yang dilakukan terdiri dari analisa reabilitas dan analisis deskriptif. Analisis deskriptif dilakukan dengan memberikan interpretasi terhadap skor jawaban responden sesuai dengan pedoman pada Tabel 1. Tabel 1. Pedoman untuk memberikan interpretasi mean skor Interval mean skor Interpretasi 1,00 2,33 Rendah 2,34 3,67 Sedang 3,67 5,00 Tinggi

4.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada penelitian ini, responden berasal dari praktisi dunia usaha bidang kontraktor/jasa konstruksi yang mengikuti pelelangan umum pada Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh tahun 2011 dan berjumlah 35 responden serta dari Pengguna Jasa berjumlah 35 responden. Responden terdiri dari kontraktor kualifikasi kecil dan non kecil serta dari Pengguna Jasa yang mengikuti lelang pada proyek APBN dan APBA.

4.1 Pengujian instrumen


Data yang diuji adalah hasil jawaban responden terhadap variabel penelitian yaitu faktor kendala yang terbagi menjadi enam variabel. Suatu kuisioner dikatakan reliable atau handal jika jawaban seseorang terhadap pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Untuk mengukur reliabilitas menggunakan uji Cronbach Alpha (), dimana suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai cronbach alpha sebesar 0.60 atau lebih. Hasil perhitungan uji reliabilitas ini diperlihatkan pada Tabel 2. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada faktor kendala baik pada Penyedia Jasa maupun Pengguna Jasa semua item pertanyaan dalam angket penelitian memenuhi uji reliabilitas karena nilai hitung > 0,6. Tabel 2. Uji Reliabilitas Variabel A B C E F G Peraturan Hukum di Indonesia dalam memenuhi Kebutuhan Pelaksanaan E-procurement Kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung e-procurement Kemampuan teknologi Pengguna dan Penyedia Jasa Tingkat Kemampuan Sumber Daya Manusia Sosialisasi kepada pihak yang terlibat Unsur-unsur lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses e-procurement Cronbach Alpha () Penyedia Jasa Pengguna Jasa 0.634 0.811 0.655 0.780 0.772 0.706 0.700 0.701 0.680 0.795 0.765 0.722 Reliabilitas Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel

4.2 Faktor-faktor kendala penerapan e-procurement Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor kendala apa saja yang memiliki pengaruh dalam pengadaan jasa konstuksi secara elektronik ( e-procurement ). Analisis deskriptif memberikan gambaran nilai mean skor dan peringkat masing-masing variabel kendala tersebut. Tabel 3 memperlihatkan nilai mean skor penyedia jasa, pengguna jasa dan skor rata-rata untuk variabel Peraturan
Hukum di Indonesia dalam Memenuhi Kebutuhan Pelaksanaan E-procurement. Variabel tersebut terdiri dari 5 indikator. Berdasarkan pedoman interpretasi skor Tabel 1 menunjukkan bahwa indikator A.3 berpengaruh rendah; indikator A.1, A.2 dan A.4 berpengaruh sedang; serta indikator A.5 berpengaruh tinggi. Tabel 3. Peraturan Hukum di Indonesia dalam memenuhi Kebutuhan Pelaksanaan E-procurement Mean Skor Indikator Penyedia Jasa Pengguna Jasa Rata-rata Undang-undang yang menjadi acuan pelaksanaan 2,37 2,43 2,40 e-procurement Peraturan atau ketentuan hukum lainnya yang 2,43 2,51 2,47 mengatur pelaksanaan e-procurement Petunjuk pelaksanaan pelelangan secara e-procurement 2,08 2,05 2,03 Hukum dan peraturan transaksi elektronik 2,40 2,41 2,43 Legal aspek tanda tangan elektronik 4,20 4,23 4,26 Tabel 4. Kondisi Infrastruktur dan Pengaturan Sistem Pendukung E-procurement Mean Skor Indikator Penyedia Jasa Pengguna Jasa Ketersediaan infrastruktur dan pengelolaan infrastruktur 3,17 3,26 Ketersediaan informasi di Website Pengguna Jasa 1,91 2,37 Perlindungan terhadap gangguan keamanan sistem 2,40 2,88 aplikasi (virus dan hacker). Kapasitas Bandwith untuk kelancaran proses pengisian 3,83 4,06 data berupa upload dan download dokumen Perlindungan dokumen yang tidak boleh dibuka atau 2,11 2,26 dibaca sebelum waktunya Perlindungan sistem yang memungkinkan terjadinya 2,11 2,60 integritas dan keaslian data waktunya Penyediaan perangkat pada sistem aplikasi internet yang 4,49 4,20 memungkinkan tanda tangan digital

No A.1 A.2 A.3 A.4 A.5

No B.1 B.2 1 B.3 B.4 B.5 B.6 B.7

Rata-rata 3,22 2,14 2,64 3,95 2,19 2,36 4,35

Analisis indikator faktor kendala pada kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung e-procurement diperlihatkan pada Tabel 4. Dari hasil interpretasi diperoleh indikator B.2 dan B.5 berpengaruh rendah; indikator B.1, B.3, B.6 berpengaruh sedang; serta indikator B.4 dan B.7 berpengaruh tinggi. Faktor kendala pada kondisi kemampuan teknologi untuk mengetahui apakah penyedia jasa dan pengguna jasa memiliki teknologi dan ketersediaan infrastruktur dalam pelaksanaan e-procurement. Dari hasil penyebaran kuisioner didapat hasil seperti yang diperlihatkan pada Tabel 5. Hasilnya memperlihatkan bahwa indikator C.3 paling rendah pengaruhnya, namun terdapat perbedaan antara Pengguna Jasa dan Penyedia Jasa dimana Penyedia Jasa menganggap indikator tersebut rendah sedangkan Penggunan Jasa menyatakan sedang pengaruhnya. Tabel 5. Kemampuan teknologi Pengguna dan Penyedia Jasa Mean Skor Indikator Penyedia Jasa Pengguna Jasa Perangkat komputer yang digunakan dalam proses 2,57 2,71 e-procurement Jaringan internet dalam kaitan pelaksanaan 2,74 3,17 e- procurement Ketersediaan program atau software yang digunakan 2,03 2,46 dalam pelaksanaan e-procurement Teknologi menghadapi virus dan hacker 2,60 2,95 Teknologi dalam menghadapi gangguan cuaca (hujan 4,11 3,97 dan petir) terhadap peralatan elektronik

No C.1 C.2 C.3 C.4 C.5

Rata-rata 2,64 2,96 2,25 2,78 4,04

Tabel 6 memperlihatkan faktor kendala pada kondisi tingkat kemampuan sumber daya. Berdasarkan pedoman interpretasi skor menunjukkan bahwa semua indikator mempunyai pengaruh sedang. Tabel 6. Kemampuan Sumber Daya Manusia No D.1 D.2 D.3 D.4 Indikator Tingkat pemahaman Pengguna Jasa/Panitia Lelang terhadap Perpres No. 54/2010 Tingkat pemahaman Penyedia Jasa terhadap Perpres No. 54/2010 Tingkat kemampuan personil dalam menjalankan tahapan-tahapan e-procurement Tingkat kemampuan personil dalam penguasaan IT Penyedia Jasa 2,46 3,23 3,00 2,71 Mean Skor Pengguna Jasa 2,43 3,66 2,83 2,86 Rata-rata 2,45 3,45 2,92 2,79

Faktor kendala pada sosialisasi kepada pihak yang terlibat untuk mengetahui pengaruhnya bagi penyedia jasa dan pengguna yang pernah mendapat sosialisasi sebelum melakasanakan e-procurement. Dari Tabel 7 memperlihatkan hasil analisis bahwa indikator E.1, E.2, E.3, E5, E.6 berpengaruh sedang sedangkan indikator E.4 dan E.7 berpengaruh tinggi. Tabel 7. Sosialisasi Kepada Pihak yang Terlibat No E.1 E.2 E.3 E.4 E.5 E.6 E.7 Indikator Sosialisasi Perpres No. 54/2010 terhadap pegawai pemerintah Sosialisasi Perpres No. 54/2010 terhadap Perusahaan Penyedia Jasa. Sosialisasi sistem e-procurement kepada pegawai pemerintah Sosialisasi sistem e-procurement kepada Perusahaan Penyedia Jasa Ketersediaan petunjuk/pedoman pelaksanaan e-procurement Pelatihan pelaksanaan e-procurement bagi Pengguna Jasa dan Panitia Pengadaan Pelatihan pelaksanaan e-procurement bagi Perusahaan Penyedia Jasa Penyedia Jasa 2,37 3,29 2,86 3,80 2,91 2,86 4,34 Mean Skor Pengguna Jasa 2,71 3,74 3,37 3,71 2,63 3,00 4,23 Rata-rata 2,54 3,52 3,12 3,76 2,77 2,93 4,29

Faktor kendala pada unsur-unsur lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses e-procurement untuk mengetahui apakah penyedia jasa mendapat pelayanan yang memadai dalam melaksanakan e-procurement. Dari Tabel 8 menunjukkan indikator F.7 berpengaruh rendah; indikator F.1, F.2, F.3, F.4 dan F.6 berpengaruh sedang; serta indikator F.5 berpengaruh tinggi. Tabel 8. Unsur-Unsur Lain yang Berpengaruh Terhadap Keberhasilan Proses E-procurement Mean Skor Indikator Penyedia Jasa Pengguna Jasa Rata-rata Apresiasi terhadap perkembangan IT pada Instansi 2,77 3,11 2,94 Pemerintah Apresiasi terhadap perkembangan IT pada Perusahaan 2,91 3,49 3,20 Penyedia Jasa Tindakan yang dilakukan instansi terkait berkenaan . 3,06 3,00 3,03 dengan penguatan jaringan internet di Kota Banda Aceh Biaya yang tersedia untuk pembangunan sistem 3,26 3,66 3,46 e-procurement yang ideal Pembentukan suatu lembaga khusus yang menangani 4,11 3,89 4,00 sistem e-procurement Tingkat perubahan yang dilakukan oleh perusahaan 3,03 3,37 3,20 penyedia guna menyikapi pelaksanaan e-procurement dari Akses terhadap internet di seluruh wilayah 2,20 2,40 2,30 segi administrasi dan struktur organisasi kota

No F.1 F.2 F.3 F.4 F.5 F.6 F.7

Hasil rekapitulasi nilai mean skor untuk ke-6 variabel kendala dapat dilihat pada Gambar 1. Gambar tersebut memperlihatkan perbandingan rangking mean skor oleh pengguna jasa dan penyedia jasa. Nilai mean skor tertinggi menurut Penyedia Jasa adalah variabel E (Sosialisasi Kepada Pihak yang Terlibat), demikian juga menurut penilaian Pengguna Jasa. Nilai mean skor kedua kelompok responden umumnya tidak berbeda jauh yang artinya keduanya memberikan penilaian yang relatif sama untuk semua variabel kendala masuk dalam kategori berpengaruh sedang.
4,00 Rangking Skor 3,00 2,00 1,00 0,00 A B C D E F 2,73 2,86 2,70 3,09

3,20 3,34 3,05 3,27 3,05 2,85 2,95 2,81 Penyedia Jasa Pengguna Jasa

Gambar 1. Perbandingan ranking kendala e-procurement Gambar 2 memperlihatkan ranking mean skor rata-rata variabel kendala e-procurement dari semua kelompok responden. Variabel E (Sosialisasi Kepada Pihak yang Terlibat) mempunyai nilai pengaruh tertinggi sedangkan variabel A (Peraturan dan ketentuan hukum dalam memenuhi kebutuhan pelaksanaan e-procurement ) mempunyai pengaruh terendah.
3,27 2,93 2,90 3,16

3,50 3,00 2,50 2,00 1,50 1,00 0,50 0,00

2,71

2,98

Rangking skor

Gambar 2. Rangking kendala e-procurement

Rangking kedua adalah variabel F (unsur-unsur lain) dan ketiga adalah variabel B (Kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung e-procurement). Variabel E sebagai faktor tertinggi menunjukkan bahwa faktor sosialisasi memberikan pengaruh yang besar terhadap keberhasilan pelaksanaan e-procurement. Bila dilihat dari indikator variabel tersebut maka aspek pelatihan pelaksanaan e-procurement bagi perusahaan Penyedia Jasa merupakan indikator yang tinggi pengaruhnya dan kedua kelompok responden sepakat dengan hal tersebut. Secara keseluruhan nilai mean skor semua variabel pada Gambar 2 berkisar antara 2,71 s/d 3,27. Berdasarkan pedoman interpretasi skor nilai tersebut berada pada range 2,34 3,67 yang artinya semua variabel mempunyai pengaruh sedang sebagai faktor kendala penerapan e-procurement di Lingkungan Dinas Bina Marga dan Cipta Karya Aceh.

5. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, penelitian ini menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut : 1. Berdasarkan tinjauan terhadap faktor kendala penerapan e-procurement menurut penyedia jasa dan pengguna jasa, faktor sosialisasi kepada ihak yang terlibat merupakan faktor kendala yang paling berpengaruh. Indikator pelatihan pelaksanaan e-procurement bagi perusahaan penyedia jasa menjadi indikator utama kendala tersebut. 2. Keenam faktor yaitu peraturan dan ketentuan hukum dalam memenuhi kebutuhan pelaksanaan eprocurement, kondisi infrastruktur dan pengaturan sistem pendukung e-procurement, kemampuan teknologi pengguna dan penyedia jasa, tingkat kemampuan sumber daya manusia, sosialisasi kepada pihak yang terlibat, dan unsur-unsur lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan proses e-procurement mempunyai tingkat pengaruh sedang sebagai kendala dalam penerapan e-procurement.

DAFTAR PUSTAKA
Eadie, R, Perera, S Heaney, G & Carlisle, J. (2007). Drivers And Barriers To Public Sector E-procurement Within Northern Irelands Construction Industry. Journal of Information Technology in Construction , Vol. 12, 103107. Eadie,R., Perera,S. dan Heaney,G. (2010). Identification of E-Procurement Drivers and Barriers for UK Construction Organizations and Rangking of These from The Prespective od Quantity Surveyor. Journal of Information Technology in Construction, Vol. 15, 23-43. Efendi, J. (2010). Akselerasi Penerapan E-procurement Akan Dimulai Tahun 2011, Tesis. http://www.jauharefendi.web.id/tag/tesis-pengadaan-barang-dan-jasa-oleh-pemerintah Effendi, B. (2006). E-procurement : Cara Jitu Memerangi Korupsi, http://www.egovindonesia.com/index2,php?. Falih (2009). Penerapan E-procurement untuk Percepatan Penyerapan Anggaran. http://sukasayurasem.wordpress.com /2009/03/31/penerapan-e-procurement-untuk-percepatan-penyerapananggaran/ Gokmoulil, F.L. (2008). Kajian Kelayakan Pelaksanaan Sistem Lelang Electronic (E-Procurement) pada Instansi Pemerintah Ditinjau dari Prasyarat Pelaksanaan. Skripsi, UI, Jakarta. Hawking, P., Stein A., Wyld D. and Forster S. (2004). E-procurement: is the ugly duckling actually a swan down under?. Asia Pacific Journal of Marketing and Logistics , Vol. 16 No. 1, 1-26. Jasin, M. (2007). Mencegah Korupsi Melalui E-procurement. Komisi Pemberantasan Korupsi, Jakarta. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (2009). http://www.lkpp.go.id/v2/contentlistdetail.php?mid=0021751827&id=0432073129 Lubis, M. (2006). Pengembangan Prototipe Sistem Pengadaan Barang/ Jasa Secara Elektronik(E-procurement) untuk Proyek Konstruksi. Yogyakarta, Indonesia Mustafa, K. ( 2011). Pengadaan Barang dan Jasa di Pemerintahan. http://khalidmustafa.info/?p=827 Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 54 Tahun 2010, Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah, Bogor, Jawa Barat. Sulaiman, I. & Chen T. (2006). Catatan Khusus Bagi Implementasi Eprocurement di Indonesia. http://www.clgi.or.id/publikasi/index.php?act=ndetail =article&p_id=35, http://www.neppri.com. Wong C. and Sloan B. (2004). Use of ICT for e-procurement in the UK construction industry: a survey of SMES readiness. ARCOM Proceedings Twentieth Annual Conference, September 1-3 Vol. 1, 620 628.