Anda di halaman 1dari 17

BAB I PENDAHULUAN

Setiap manusia pada dasarnya adalah pemimpin, memimpin dirinya sendiri dan orang lain di sekitarnya untuk mencapai tujuan bersama. Kepemimpinan dalam suatu komunitas akan menentukan bagaimana struktur, sistem dan budaya dipelihara dan diperkembangkan sehingga terjadi gerak bersama untuk mencapai misi komunitas tersebut. Para pemimpin yang buruk membuat pelanggan dan pekerja merasa tidak betah dan meninggalkan organisasi. Mereka menimbulkan kerugian bagi organisasi. Pada setiap dimensi kinerja organisasi yang dapat diukur, para pemimpin yang baik mengungguli yang buruk. Sebagai Kabupaten bagian dari yaitu tatanan perda pemerintah No.147.A daerah Kabupaten tentang Kepahiang, RSUD melaksanakan kegiatan berdasarkan peraturan daerah Kepahiang tahun 2005 Kelembagaan RSUD Kepahiang serta Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 240/MENKES/SK/IV/2006 tentang RSUD Kepahiang milik Pemerintah Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu yang menjelaskan mengenai tipe dari RSUD Kepahiang saat ini, yaitu Tipe D. Pada tahun 2007 RSUD Kepahiang mendapatkan penghargaan Citra Pelayanan Prima dari di bidang Pelayanan dan Kesehatan Masyarakat dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan mendapatkan pengakuan Akreditasi pada bulan Nopember tahun 2011 untuk 5 pelayanan, dilain pihak dari indikator penilaian RS di tahun 2011 BOR di RSUD Kepahiang adalah 32 % dimana hal ini masih jauh dari ideal yaitu diatas 65%. Dengan keadaan di atas penulis mencoba memahami organisasi RSUD Kepahiang dalam konsep kepemimpinan strategis di rumah sakit ini, khususnya mengenai visi bersama di RSUD Kepahiang.

BAB II KONSEP KEPEMIMPINAN STRATEGIS DAN VISI BERSAMA

Organisasi pembelajaran adalah tempat dimana anggotanya belajar menggali dan memahami nilai, praktek, dan menciptakan visi bersama secara terus menerus sebagai bagian sistem. Organisasi pembelajaran adalah organisasi yang memiliki komitmen untuk menciptakan suasana yang saling menghargai, saling menghormati dan saling menerima satu sama lain. Dengan suasana kondusif seperti itu, semua anggota kelompok dan organisasi secara keseluruhan berada dalam gerak dan dinamika tumbuh kembang bersama. (Maturana, 1998) Menurut Horstz, Kepemimpinan adalah menciptakan sebuah lingkungan sehingga orang ingin menjadi bagian dari organisasi dan bukan sekadar bekerja untuk organisasi. Kepemimpinan menciptakan lingkungan yang membuat orang ingin melakukan sesuatu, dan bukan dilarang melakukan sesuatu. Dalam Organisasi Pembelajaran pemimpin dapat dibagi tiga, yaitu : dari tim pembelajaran suatu

1) Pemimpin

sebagai

Perancang

(Designer),

dalam

menggagas

bagaimana organisasi dapat menyesuaikan diri dengan perubahan bahkan mendahului perubahan itu sendiri. 2) Pemimpin pemimpin sebagi harus Guru dapat (Teacher), berperan mengandung sebagai arti bahwa contoh, pendidik,

tauladan, dan motivator bagi seluruh anggota organisasi agar dapat bertindak kreatif untuk membangun organisasinya.

3) Pemimpin sebagai Pelayan (Stewards), mengandung arti sebagai


orang yang senantiasa memberikan bantuan, bimbingan, arahan, termasuk dalam arti teknis/operasional melayani pelanggan untuk terwujudnya kepuasan pelanggan (customer satisfaction).

Tugas kepemimpinan: Blanchard dan Hersey meneliti bahwa tindakan kepemimpinan mencakup dua urusan, yaitu proses mengarahkan orang yang dipimpin kepada tujuan bersama serta proses memelihara hubungan dengan mereka yang dipimpin. Dalam membangun kompetensi pemimpin haruslah :

terampil

dalam

merumuskan

dan

mengimplementasikan

manajemen stratejik terampil dalam merumuskan dan mengimplementasikan kebijakan publik dan mampu menyelesaikan masalah dengan berfikir sistem Secara filosofis ada suatu pendapat dari James McGreror Burns yang membedakan kepemimpinan transaksionil dan transformasionil. Kepemimpinan kepemimpinan terpuaskan. transaksionil sedemikian kata merupakan rupa lain usaha menjalankan besar merupakan proses pihak proses sehingga sebagian

Dengan

kepemimpinan

bertransaksi sehingga semua merasa untung dan bahagia karena apa yang dikehendaki didapatkan. Dengan cara seperti ini kepemimpinan yang ada dipertahankan karena kehadirannya menjaminkan adanya transaksi yang paling menguntungkan. Kepemimpinan yang bercorak transformasionil adalah kepemimpinan yang menekankan gerak maju atau perubahan dari setiap pihak dan dari organisasinya. Di dalam menjaminkan tranformasi atau perubahan berkualitas ini, bila perlu diambil resiko-resiko seperti konflik atau pertentangan terbuka. Bila perlu, corak transaksi memang dapat dipergunakan, namun bukan semata-mata demi didapatkan rasa senang dan rasa beruntung pada semua pihak, namun demi tercapainya perubahan dan perkembangan.

Tahapan-tahapan dalam pembelajaran adalah : 1. Analisis 2. Disain strategi 3. Pembangunan strategi 4. Implementasi strategi 5. evaluasi

A
Lima keterampilan Organisasi Pembelajaran (LO): a) Personal Mastery b) Mental Models c) Team Learning d) Systems Thinking e) Shared Vision Personal Mastery Pembelajaran untuk meningkatkan kapasitas pribadi untuk menciptakan hasil yang paling diinginkan, dan menciptakan suatu lingkungan

organisasional

yang

mendorong

semua

anggotanya

untuk

mengembangkan diri mereka sendiri ke arah yang mereka pilih. Mental Models Melakukan suatu perenungan secara terus-menerus kemudian

mengklarifikasikan, dan memperbaiki gambaran-gambaran internal diri tentang dunia, dan melihat bagaimana hal itu membentuk tindakan dan keputusan kita. Team Learning Mengubah keahlian percakapan dan keahlian berpikir kolektif, sehingga kelompok-kelompok manusia dapat diandalkan untuk mengembangkan kecerdasan dan kemampuan yang lebih besar daripada jumlah bakat para anggotanya secara individual. System Thinking sebuah revolusi perubahan pola pikir manajemen organisasi moderen, yaitu perubahan dari berpikir linear, menjadi berpikir secara sistemik dan holistik Shared Vision Membangun suatu rasa sehingga mempunyai komitmen dalam suatu kelompok, dengan membuat gambaran-gambaran bersama tentang masa depan, dan prinsip-prinsip serta praktik-praktik penuntun yang diharapkan bisa mencapai masa depan.

VISI Visi berarti dengan mata batin melihat kemungkinan yang terdapat di dalam diri orang, dalam proyek, dalam hal-hal yang pantas diperjuangkan, dan dalam usaha kita. Visi dihasilkan ketika pikiran kita menghubungkan kebutuhan dengan kemungkinan. Visi adalah imajinasi terapan. Semua hal diciptakan dua kali: pertama, merupakan ciptaan pikiran; kedua, ciptaan fisik, dalam wujud bendanya. Ciptaan pertama, yaitu visi,adalah awal dari proses penemuan diri, atau proses penemuan diri organisasi. Visi mewakili keinginan, impian, harapan, tujuan, dan rencana. Tetapi impian atau visi itu bukan hanya sekadar fantasi. Visi adalah realitas yang belum benar-benar terwujud secara fisik. Disiplin adalah membayar harga yang harus dibayar untuk mewujudkan visi tersebut. Disiplin inilah yang menangani fakta keras dan pragmatis dari realitas kehidupan kita, dan melakukan apa saja yang diperlukan agar sesuatu bisa terwujud. Disiplin akan muncul bila visi bertemu dengan komitmen. Kebalikan dari disiplin dan komitmen yang membuat kita rela untuk berkorban adalah sikap mendahulukan keinginan sesaat (indulgence), yaitu mengorbankan hal-hal yang amat penting dalam kehidupan kita, hanya demi kenikmatan atau kesenangan sesaat. Mitos, realitas, dan alternatif-alternatif dalam melakukan perintisan visi, misi bersama : Alternatif pertama terhadap peran merintis dalam kepemimpinan adalah begitu saja mengumumkan visi, nilai-nilai, dan strategi kepada tim atau organisasi tanpa keterlibatan nyata dari anggota. Alternatif kedua adalah meminta keterlibatan yang berlebihan, sampai-sampai organisasi justru tertatih-tatih dan hampir lumpuh akibat terlalu banyak analisis dan pembuatan komite-komite; terlalu banyak

diskusi tanpa akhir, seakan-akan semuanya akan jalan sendiri tanpa tindakan nyata untuk melaksanakan strategi atau pemberdayaan. Alternatif ketiga adalah tidak saja melibatkan pihak lain secara wajar dalam proses mengembangkan visi, misi, dan strategi, tetapi juga menyadari bahwa jika membangun sebuah budaya yang memungkinkan tumbuhnya kepercayaan yang cukup kuat, dan secara pribadi pemimpin juga layak dipercaya, kekuatan dari proses identifikasinya akan sama dengan kekuatan dari keterlibatan. Visi Bersama Visi adalah vital dalam organisasi pembelajar sebab hal ini menyediakan fokus dan energi untuk pembelajaran. Proses belajar individu tidak akan menjamin terjadinya organisasi pembelajar, jika tidak ada komitmen bersama tentang masa depan yang ingin dicapai bersama. Mereka harus sadar bahwa tanpa ada organisasi (tindakan kolektif bersinergi), pencapaian visi atau perjuangan pribadi akan sulit untuk dicapai. Melalui tindakan kolektif visi pribadi tersebut lebih realistis untuk dicapai. Terdapat dua perspektif yang berbeda pada visi bersama. Yang pertama adalah eksplisit konsep berbagi visi yang berfokus pada penangkapan, berkomunikasi, dan rekonsiliasi tujuan kami dan kami cara untuk mencapai tujuan tersebut. Perspektif kedua adalah bahwa semua organisasi yang telah ditentukan visi bersama, akan bermanifes sendiri sebagai apa yang disebut budaya perusahaan. Diawali dengan konsep visi bersama secara eksplisit, untuk membuat efektif dan manfaat dari visi bersama, strategi yang diperlukan:

Kemampuan untuk membuat atau mendapatkan awal visi Kemampuan untuk menterjemahkan visi yang menjadi kegiatan fisik yang diperlukan untuk mencapai visi tersebut (dengan menggunakan sistem berpikir)

Kemampuan untuk demonstrasi dan menjual visi ini kepada orang lain sebagai salah satu kanan atau cara terbaik untuk mencapai tujuan Kemampuan untuk ditunda benar untuk inti dari visi ketika kenyataan perubahan rencana Visi bersama dari organisasi harus dibangun oleh oleh visi individu

dari para anggota. Apa yang dimaksud oleh pemimpin dalam organisasi pembelajar adalah bahwa visi organisasi tidak diciptakan oleh pemimpin, melainkan, visi harus diciptakan melalui interaksi dengan individu dalam organisasi. Hanya melalui kompromi antara visi individu dan mengembangkan visi-visi tersebut maka visi bersama dapat diciptakan. Peran pemimpin dalam mengkreasikan visi bersama adalah membagi visi masing-masing dengan karyawan. Ini tidak harus dilakukan dengan menekankan bahwa visi atas orang lain tetapi mendorong yang lain berbagi visi mereka . Berdasarkan visi tersebut visi organisasi dapat meningkat.

BAB III URGENSI ORGANISASI PEMBELAJARAN UNTUK MENCAPAI VISI BERSAMA DI RSUD KEPAHIANG

RSUD Kabupaten

melaksanakan Kepahiang yaitu

kegiatan perda

berdasarkan No.147.A

peraturan 2005

daerah tentang

tahun

Kelembagaan RSUD Kepahiang serta Keputusan Menteri Kesehatan RI No. 240/MENKES/SK/IV/2006 tentang RSUD Kepahiang milik Pemerintah Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu yang menjelaskan mengenai tipe dari RSUD Kepahiang saat ini, yaitu Tipe D. Tugas Pokok dan Fungsi RSUD Kepahiang Tugas Pokok Sebagai bagian dari tatanan pemerintah daerah Kabupaten Kepahiang, RSUD memiliki tugas pokok dan fungsi yang telah diatur dalam peraturan daerah Kabupaten Kepahiang yaitu perda No.22 tahun 2005 tentang Kelembagaan RSUD Kepahiang. Kepahiang kesehatan adalah secara melaksanakan berdaya upaya guna dengan Tugas pokok dari RSUD umum dibidang upaya mengutamakan kesehatan

penyembuhan, pemulihan yang dilaksanakan secara serasi dan terpadu dengan upaya peningkatan dan pencegahan. Fungsi RSUD Kepahiang adalah : 1) 2) 3) medis; 4) 5) 6) Menyelenggarakan pelayanan rujukan; Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan; Menyelenggarakan penelitian dan pengembangan; Menyelenggarakan pelayanan medis; Menyelenggarakan pelayanan keperawatan; Menyelenggarakan pelayanan penunjang medis dan non

7)

Menyelenggarakan administrasi umum dan keuangan.

VISI DAN MISI Pernyataan Visi Menjadikan RSUD Kepahiang sebagai pusat rujukan utama dengan pelayanan prima. Penjelasan Visi : RSUD Kepahiang pada masa yang akan datang diharapkan mampu memberikan layanan-layanan spesialistik yang menjadi unggulan dalam pelayanan pada rumah sakit. Pelayanan (kuratif) tidak hanya memfokuskan penyembuhan tetapi diharapkan

masyarakat yang sehat pun mau dan mampu menjadi customer RSUD Kepahiang (rujukan utama). Layanan prima adalah sebagai jaminan kualitas pelayanan yang terbaik, tepat, cepat, ramah dan menjangkau semua lapisan masyarakat dengan hati ikhlas dan penuh rasa tanggung jawab. Pernyataan Misi a) Menata dan mempersiapkan sarana dan prasarana penunjang medik yang memadai. b) Meningkatkan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia c) Memberikan layanan terbaik, tepat, cepat dan ramah serta menjangkau semua laposan masyarakat dengan hati ikhlas dan rasa penuh tanggung jawab. d) Memberdayakan dan meningkatkan kesejahteraan karyawan. e) Meningkatkan pengawasan agar tercipta rasa tanggung jawab dan disiplin kerja yang tinggi. f) Membina kemitraan serta membangun kepercayaan masyarakat terhadap eksistensi RSUD Kepahiang.

Penjelasan Masing-masing Misi :

a) Sebagai rumah sakit yang baru perlu adanya standarisasi


peralatan kedokteran, sumber daya manusia, fasilitas penunjang memadai terus-menerus diperjuangkan agar RSUD Kepahiang sesuai standar sebagai rumah sakit tipe C.

b) Meningkatkan kualitas dan kuantitas tenaga-tenaga strategis


yang profesional dibidangnya mutlak dilakukan melalui peningkatan kemampuan yang senantiasa akan diupayakan dengan pembelajaran, pelatihan, short course, studi banding, dan sebagainya. c) Rumah sakit sebagai institusi pelayanan bagi masyarakat akan terus meningkatkan layanan terbaik dengan pemanfaatan sarana dan prasarana semaksimal mungkin. d) Dalam upaya peningkatan mutu layanan bagi masyarakat, kesejahtearaan karyawan rumah sakit tetap harus diperhatikan. Kesejahteraan karyawan yang optimal akan meningkatkan motivasi kerja secara maksimal dan memiliki kecintaan terhadap profesi yang dijalani.

e) Dalam upaya menjamin mutu layanan RSUD Kepahiang, maka


upaya-upaya pemantauan dan pengawasan terhadap kinerja karyawan karyawan. f) Upaya pengembangan cakupan pelayanan rumah sakit terhadap pelanggannya, diantaranya dilakukan dengan meningkatkan kemitraan antara rumah sakit dengan pihak ketiga sebagai pengguna jasa dan membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan RSUD Kepahiang. sangat dibutuhkan. Hal ini diharapkan akan mempertinggi rasa tanggung jawab dan disiplin kerja semua

Pernyataan visi dan misi serta penjelasan dari visi dan misi tersebut terdapat di rencana strategis lima tahunan RSUD kepahiang tahun 20112015, berdasar observasi kepemimpinan yang dilakukan di RSUD Kepahiang dalam menyelenggarakan manajemen kepemerintahan, selain harus mampu berperan sebagai manager juga lebih penting mampu berperan (values) sebagai dalam leader serta dapat peran mengaktualisasikan kepemimpinannya nilai-nilai sebagai menjalankan

kepemimpinan aparatur :

Kepimpinan yang ditemukan pada RSUD Kepahiang belum mengacu pada visi, misi dan renstra RSUD Kepahiang yang penyusunannya tidak melibatkan berbagai pihak, hal ini diketahui dari hanya unit perencanaan yang mengetahui adanya renstra RS, sedangkan unit lain tidak. Pengambilan keputusan serta perencanaan RS tidak berdasar pada renstra yang ada, sehingga renstra hanya dianggap sebagai formalitas belaka.

Dari dimensi manajemen belum dilakukan Planning, Organizing, Actuating dan Controling sesuai dengan Tupoksi masing-masing unit, planning 5 tahunan yang berwujud renstra tidak diimplementasikan POA dari masing-masing unit, dan pemimpin belum mampu melakukan controling di beberapa unit, dikarenakan dalam setahun sudah terjadi 2 kali pergantian kepemimpinan sehingga orang-orang dalam institusi bingung dengan gaya kepemimpinan yang ada.

Aktualisasi

dimensi

kepemimpinan

sebagai

teacher,

designer,

steward dan visioner dengan mengutamakan nilai-nilai kejujuran, empaty dan keteladanan dilakukan tetapi belum sepenuhnya bisa dilakukan, hal ini terjadi karena pergantian kepemimpinan yang terus-menerus membuat pemimpin yang baru juga belum mampu menyesuaikan dengan sistem yang ada, sehingga pemimpin tidak menjadi visioner tetapi hanya menjalankan kewajiban dari birokrasi di atasnya dan meneruskan kegiatan pemimpin sebelumnya yang

juga belum dilakukan evaluasi apakah sesuai dengan visi awal atau tidak.

Visi pemimpin belum semua dikomunikasikan, hal ini dikarenakan banyak pihak di rs belum menerima dengan kepemimpinan yang baru dan cenderung menolak dengan kebijakan-kebijakan baru.

Membahas program pencapaian visi tidak melibatkan peran stake holders, masyarakat dan perguruan tinggi untuk pencapaiannya. Pemimpin tidak memberikan kejelasan pada setiap pelaksanaan tugas yang tertuang dalam secara terinci. job diskription dan rencana kerja

Pemimpin memotivasi staf agar tugas terlaksana sesuai rencana, mendorong untuk berprestasi, hal ini ditunjukkan dengan adanya penghargaan Citra Pelayanan Prima dari di bidang Pelayanan dan Kesehatan Masyarakat dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan mendapatkan akreditasi untuk 5 pelayanan.

Pemantauan dan pengendalian program melalui laporan rutin belum sepenuhnya unit melakukan, karena yang memberikan laporan rutin baru bagian keuangan karena bagian ini berkaitan dengan pencairan dana untuk rs sehingga membutuhkan tanda tanga pemimpin rs, sedangkan bagian rekam medik tidak melakukan pelaporan kecuali di akhir tahun sehingga jumlah kunjungan ataupun penurunan kunjungan tidak dapat dipantau oleh pemimpin rs.

Bertolak dari konsep dan pengertian kepemimpinan serta perbedaannya dengan manajemen yang diperoleh dari observasi kepemimpinan di RSUD Kepahiang, maka khususnya kepemimpinan aparatur sebaiknya sebagai berikut :

Seorang

pemimpin

harus

selalu

mencari

dan

memanfaatkan

peluang dan mencoba serta berani mengambil resiko, peran ini sebagai Challenge the process

Pemimpin harus menginspirasi visi bersama untuk kemajuan masa depan, dan memastikan semua bawahan mengetahui, mengikuti dan menyelaraskan visi dimaksud. (Inspiring a shared Vision).

Pemimpin harus dapat membina kolaborasi, dan memperkuat bawahan (enabling other to act). Selalu harus dapat merancang hal untuk modal perubahan organisasi atau, anggota/individu. (model he ways) Berperan sebagai pedorong dalam memotivasi (encouraging the heart). Sebagai seorang pemimpin bukan hanya sekedar menyusun visi dapat mengkomunikasikannya, membawa organisasi

pribadi,

tetapi

selanjutnya

harus

sehingga akan mejadi visi bersama (shared Visions), dan harus dapat memberdayakan (empowering). Selanjutnya menuju kondisi organisasi di masa depan yang diyakini. Dalam pergeseran paradigma, utamanya dalam konteks learning organization atau orgnisasi pembelajaran, pemimpin bukan sebagai the boss calling the shots, Tetapi mereka mempunyai peran baru sebagai designer, sebagai Teacher, sebagai steward. Sebagai seorang pemimpin dituntut untuk mampu dan paiawai mererapkan beberapa konsep model dan falsafah kepemimpinan di atas, sesusai dengan kemampuan kita masing-masing. Semakin banyak kita belajar dan belajar, maka makin banyak pengalaman yang akan kita dapat, dengan demikian marilah kita beharap mudahan kita menjadi semakin arif dalam menerapkan nilai-nilai dan peran-peran kita dalam kepemimpinan, sehingga akan lebih efektif dan efesien dengan menantang masa depan yang visioner.

Transformational terbelenggu dalam

Leadership system

yang

paling

mungkin

dapat

diaplikasikan dalam organisasi publik (pemerintah) yang saat ini, yang permanent. Dimana karateristik kepemimpinan ini. adalah sebagai berikut: Menjadikan jati diri mereka sendiri sebagai agen perubahan, bersemangat tinggi, percaya kepada orang, terikat nilai-nilai, belajar sepanjang hidup, mempunyai kemampuan menangani persoalan yang komplek, tidak menentu dan dan membingungkan serta, visioner. Asumsi pilihan ini karena tidak ada satupun gaya atau karakteritik kepemimpinan yang dapat efektif untuk setiap situasi, sehingga setiap situasi cenderung menuntut sejumlah komposisi dari berbagai gaya dan karakteristik yang secara sistemik memenuhi tuntutan dinamika kompleksitas situasi actual lingkungannya.

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN

Aktualisasi kepemimpinan bersifat situasional dan kondisional lebih tepat diterapkan dewasa ini, dikarenakan bahwa model kepemimpinan ditentukan penerapannya oleh sifat staf/bawahan/kelompok masyarakat yang dihadapi oleh pemimpin. Adakalanya pemimpin harus bersikap direktif/instruktif; di kala yang lain bersikap sebagai teachers, steward, supportif, partisipatif, demokratis, otoriter dan sebagainya. Ketika menghadapi bawahan/masyarakat yang kurang memiliki inisiatif atau dalam situasi kritis, misalnya, sangat tidak tepat jika digunakan pola kepemimpinan yang terlampau demokratis tetapi harus direktif dan instruktif meskipun jangan sampai bersifat repressif. Dalam lingkup birokrasi yang kadang-kadang membutuhkan mobilisasi maka penggunaan model-model campuran sangat dianjurkan dengan melihat situasi dan kondisi yang sedang dihadapi. Tidak ada model kepemimpinan yang dapat diterapkan begitu saja dalam suatu kelompok bawahan/masyarakat, dan dalam semua situasi. Ternyata model kepemimpinan ditentukan penerapannya oleh sifat dan karakter bawahan/kelompok/masyarakat yang dihadapi oleh pimpinan. Kadang sesorang pemimpin harus bersikap directive, instructive, tetapi kadang juga harus bersikap teacher, steward, supportif, participative, demokratis dan sebagainya. Dalam organisasi publik, isu strategis tentang kepemimpinan aparatur dapat dikaji melalui berfikir sistem. Dengan berfikir sistem kompetensi memunculkan dan menantang model-model mental dapat

ditingkatkan, persoalan yang kompleks dapat diidentifikasi, sehingga dapat dicarikan pengungkitnya secara tepat.

URGENSI ORGANISASI PEMBELAJARAN UNTUK MENCAPAI VISI BERSAMA DI RSUD KEPAHIANG