Anda di halaman 1dari 27

Referat

PATOMEKANISME DAN MANIFESTASI KLINIS HIPERPIGMENTASI

Disusun oleh: ATI RACHMAWATI 110.2006.050

PEMBIMBING DR YANTO WIDIANTORO,SP.KK

DISERAHKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KULIT DAN KELAMIN RSU dr SLAMET GARUT PERIODE 24 OKTOBER 2011- 26 NOVEMBER 2011
1

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Puji serta syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya, tidak lupa shalawat serta salam penulis haturkan pula kepada nabi besar Muhammad SAW, sehingga penulisan referat ini dengan judul manifestasi klinis hiperpigmentasi dapat terselesaikan dengan baik. Referat ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan kepaniteraan bagian ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin di RSU. dr. Slamet Garut. Besar harapan penulis agar referat ini dapat memberikan manfaat baik kepada penulis maupun kepada rekan-rekan yang lain. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada : 1. dr. H. Yanto Widiantoro, Sp.KK, selaku kepala SMF Kulit Dan Kelamin RSU dr. Slamet Garut yang telah banyak membimbing dan memberikan ilmu kepada penulis. 2. Dosen- dosen Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin FK Universitas YARSI yang telah memberi bimbingan serta pengajaran kepada penulis selama ini. 3. Perawat Poli Kulit Dan Kelamin, yang telah banyak membantu dan berbagi ilmu dengan kami. 4. Rekan-rekan kepaniteraan SMF Kulit Dan Kelamin, atas bantuan, dukungan, dan kerjasamanya. Penulis menyadari bahwa dalam penulisan referat ini masih jauh dari sempurna, untuk itu sangat diharapkan saran dan kritik guna perbaikan yang lebih baik pada referat ini. Akhir kata, dengan segenap kerendahan hati dan penuh harap atas ridho-Nya, semoga referat ini bermanfaat bagi kita semua.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Garut, November 2011

Penyusun 2

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR. DAFTAR ISI.... DAFTAR GAMBAR ..................................... BAB I PENDAHULUAN..

i ii iii 1

BAB II ANATOMI,FUNGSI KULIT DAN MELANOGENESIS............ 2 BAB III PATOMEKANISME DAN MANIFESTASI HIPERPIGMENTASI III. 1 MELASMA................................................................................................ III.2 HIPERPIGMENTASI POST INFLAMASI............................................... 11 III.3 NEVUS OTA DAN ITO............................................................................. III.4FRENKLE................................................................................................... III.5 CAFE AU LIET.......................................................................................... III.6LENTIGO.................................................................................................... 13 16 17 19 9

BAB III KESIMPULAN...

21

DAFTAR PUSTAKA....

22

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1............ Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5

9 11 13 16 17 19

Gambar 6................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN Kulit merupakan salah satu organ tubuh yang sangat mudah memperlihatkan manifestasi klinis apabila terdapat gangguan pada tubuh. Banyak sekali kelainan kulit yang dapat kita temui di dunia salah satunya yang sering kita temukan ada bercak hitam (makula hiperpigmentasi). Hiperpigmentasi adalah perubahan warna pada kulit menjadi lebih gelap disebabkan oleh sel melanosit bertambah maupun hanya karena pigmen melanin saja yang bertambah Penumpukan pigmen-pigmen pada kulit disebabkan karena pembentukan melanosit menjadi melanin yang terlalu cepat, melanin dibentuk melalui beberapa tahap transformasi dari melanosit. Melanosit diakumulasikan dalam vesikel yang dibentuk oleh kompleks golgi. Ada empat tahapan yang dapat dibedakan pad pembentukan granul melanin. Jenis melanin yang paling umum adalah eumelanin dan pheomelanin. Bentuk umum sebagian besar melanin adalah eumelanin. Eumelanin berwarna cokelat-hitam yang merupakan. Bentuk lain melanin adalah pheomelanin berwarna merah-coklat dan merupakan polimer dari benzothiazine. Melanin ini bertanggung jawab untuk memberikan warna rambut merah dan bintik-bintik. Hiperpigmentasi juga dibagi dalam 2 golongan besar ,yaitu Melanosis adalah hiperpigmentasi yang tidak didahului reaksi peradangan kulit. Dan melanoderma : adalah hiperpigmentasi yang terjadi sesudah peradangan kulit. Hiperpigmentasi juga dapat dibedakan menjadi :hipermelanosis coklat atau melanoderma : hal ini terjadi akibat deposit melanin pada epidermis yang disebut juga Hipermelanosis Epidermal, Hipermelanosis kebiruan atau seruloderma : hal ini terjadi akibat deposit melanin pada dermis. Kelainan bercak berupa hiperpigmentasi kulit dapat ditemukan sebagai berbagai manifestasi penyakit kulit, diantaranya Melasma,hiperpigmentasi post inflamasi,freckles, nevus ota,cafe au lait dan lentigo. Hiperpigmentasi yang terjadi akibat adanya peningkatan pembentukan melanin hingga faktor genetik Manifestasi klinis yang saling menyerupai diantara penyakit tersebut diatas,menjadi catatan bagi para klinisi untuk mengetahui patomekanisme serta ciri khas lesi hiperpigmentasi. Hal-hal tersebut sangat dibutuhkan dalam pemilihan pemeriksaan penunjang dan pengobatan selanjutnya.

BAB II ANATOMI,FUNGSI KULIT DAN MELANOGENESIS. 2. 1 Fungsi Kulit Melindungi tubuh dari trauma Benteng pertahanan terhadap infeksi bakteri, virus dan jamur Pengatur suhu dengan vasodilatasi pembuluh darah dan sekresi kelenjar keringat Fungsi sosial Alat kosmetik tubuh Tempat sensasi raba, tekan, nyeri dan nikmat.

2. 2 Struktur Kulit Tiga lapisan secara mikroskopis : 1. Epidermis o Startum Korneum (lapisan tanduk) o Stratum Malfigi Dibagi menjadi : 1. Stratum Granulosum 2. Lapisan sel basal ( stratum germinativum) Terdiri dari sel-sel epidermis yang belum berdiferensiasi, terus mengalami mitosis, memperbaharuio epidermis. Sel-sel tersebut akan bermigrasi ke atas menuju stratum spinosum. Terdapat sel-sel melanosit, sel basal : melanosit = 10:1 . Melanositgranul2 pigmen (melanosom)mengandung biokroma coklat (melanin) melanin akan masuk ke keratinosit menentukan warna kulit Fungsi melanin melindungi kulit dari pengaruh2 matahari Pembentukan melanosom dan melanin membutuhkan sinar matahari 3. Stratum Spinosum 4. Sel langerhans Proses migrasi sel epidermis yang telah terprogram ini memakan waktu sekitar 28 hari. 2. Dermis 3. Lemak Subkutan
6

Kelenjar keringat (ekrine) Kelenjar Sebasea Kelenjar Apokrin Rambut Kuku

Melanin merupakan suatu metabolit sekunder. Metabolit sekunder merupakan senyawa metabolit yang tidak esensial bagi pertumbuhan organisme dan ditemukan dalam bentuk yang unik atau berbeda-beda antara spesies yang satu dan lainnya. Setiap organisme biasanya menghasilkan senyawa metabolit sekunder yang berbeda-beda, bahkan mungkin satu jenis senyawa metabolit sekunder hanya ditemukan pada satu spesies dalam suatu kingdom. Senyawa ini juga tidak selalu dihasilkan, tetapi hanya pada saat dibutuhkan saja atau pada fase-fase tertentu. Fungsi metabolit sekunder adalah untuk mempertahankan diri dari kondisi lingkungan yang kurang menguntungkan, misalnya untuk mengatasi hama dan penyakit, menarik polinator, dan sebagai molekul sinyal. Singkatnya, metabolit sekunder digunakan organisme untuk berinteraksi dengan lingkungannya. Adanya melanin tersebut menyebabkan terjadinya keragaman warna kulit pada makhluk hidup, misalnya pada manusia. Manusia memiliki warna kulit yang bermacam-macam, kisarannya yaitu dari hampir hitam sampai putih. Manusia dengan kulit gelap memiliki jumlah melanin yang lebih tinggi, dan sebaliknya manusia yang memiliki melanin lebih sedikit akan memiliki kulit yang lebih putih. Pada dasarnya jumlah melanosit pada manusia yang memiliki kulit hitam maupun kulit putih adalah sama, yang membedakan adalah ukuran dari sel melanosit dan penyebarannya. Pada manusia yang memiliki kulit hitam, melanositnya lebih besar dan penyebarannya lebih merata, sedangkan pada manusia yang memiliki kulit lebih putih melanositnya lebih kecil dan kurang menyebar. Pada manusia yang memiliki kulit putih, aktivitas melanosit untuk menghasilkan melanin lebih rendah dibandingkan pada manusia yang kulit hitam. Melanin akan sangat berguna bagi makhluk hidup jika kandungannya dalam tubuh tepat. Artinya kandungan melanin dalam tubuh tidak kurang dan tidak berlebihan. Efek yang ditimbulkan jika makhluk hidup tersebut mengalami kekurangan melanin adalah penyakit yang biasa disebut albino. Albino bisa menyerang manusia, tanaman maupun hewan. Jenis melanin yang paling umum adalah eumelanin dan pheomelanin. Bentuk umum sebagian besar melanin adalah eumelanin. Eumelanin berwarna cokelat-hitam yang merupakan polimer dari dihidroksi indol asam karboksilat. Bentuk lain melanin adalah pheomelanin berwarna merah-coklat dan merupakan polimer dari benzothiazine. Melanin ini bertanggung jawab untuk memberikan warna rambut merah dan bintik-bintik. Pheomelanin dan eumelanin ditemukan di kulit manusia dan rambut , tetapi eumelanin adalah melanin melimpah paling pada manusia, serta bentuk paling mungkin kekurangan albinisme .

Proses Sintesis dari Organisme Asal Pembentukan Pigmen Melanin Melanin dibentuk oleh melanosit dengan enzim tirosinase memainkan peranan penting dalam proses pembentukannya. Sebagai akibat dari kerja enzim tironase, tiroksin diubah menjadi 3,4 dihidroksiferil alanin (DOPA) dan kemudian menjadi dopaquinone, yang kemudian dikonversi, setelah melalui beberapa tahap transformasi menjadi melanin. Enzim tirosinase dibentuk dalam ribosom, ditransfer dalam lumer retikulum endoplasma kasar, melanosit diakumulasi dalam vesikel yang dibentuk oleh kompleks golgi. 4 tahapan yang dapat dibedakan pada pembentukan granul melanin yang matang. Tahap 1 : Sebuah vesikel dikelilingi oleh membran dan menunjukkan awal proses dari aktivitas enzim tirosinase dan pembentukan substansi granul halus; pada bagian perifernya. Untaian-untaian padat elektron memiliki suatu susunan molekul tirosinase yang rapi pada sebuah matrik protein.

Tahap 2 : Vesikel (melanosom) berbentuk oval dan memperlihatkan pada bagian dalam filamen-filamen dengan jarak sekitar 10 nm atau garis lintang dengan jarak sama. Melanin disimpan dalam matriks protein.

Gambar 1. Diagram Melanosit, ilustrasi gambaran utama melanogenesis. Tirosinase di sintesis dalam retikulum endoplasma yang kasar dan diakumulasikan dalam vesikel kompleks Golgi. Vesikel yang bebas sekarang dinamakan melanosom. Sintesis melanin dimulai pada melanosom tahap II, di mana melanin diakumulasikan dan membentuk melanosom tahap III. Terakhir struktur ini hilang dengan aktivitas tirosinase dan membentuk granul melanin. Granul melanin bermigrasi ke arah juluran melanosit dan masuk ke dalam keratinosit.

Tahap 3 : Peningkatan pembentukan melanin membuat struktur halus agak sulit terlihat. Tahap 4 : Granul melanin matang dapat terlihat dengan mikroskop cahaya dan melanin secara sempurna mengisi vesikel. Utrastruktur tidak ada yang terlihat. Granul yang matang berbentuk elips, dengan panjang 1 m dan diameter 0,4 m. Ketika dibentuk granul melanin migrasi di dalam perluasan sitoplasma melanosit dan ditransfer ke sel-sel dalam stratum germinativum dan spinosum dari epidermis. Proses transfer ini telah diobservasi secara langsung pada kultur jaringan kulit. Granul melanin pada dasarnya diinjeksikan ke dalam keratinosit. Ketika di dalam keratinosit, granul melanin berakumulasi di dalam sitoplasma di daerah atas inti (supranuklear), jadi melindungi nukleus dari efek merusak radiasi matahari.

Meskipun melanosit yang membentuk melanin, namun sel-sel epitel/keratinositlah yang menjadi gudang dan berisi lebih banyak melanin, dibandingkan melanosit sendiri. Di dalam keratinosit, granul melanin bergabung dengan lisosom alasan mengapa melanin menghilang pada sel epitel bagian atas. Faktor-faktor penting dalam interaksi antara keratinosit dan melanosit yang menyebabkan pigmentasi pada kulit: 1. Kecepatan pembentukan granul melanin dalam melanosit. 2. Perpindahan granul ke dalam keratinosit, dan 3. Penempatan terakhirnya dalam keratinosit Mekanisme umpan balik bisa bertahan selama dalam keratinosit Melanosit dapat dengan mudah dilihat dengan fragmen inkubasi epidermis pada dengan dopa. Komposisi ini dikonversikan menjadi deposit coklat gelap melanin pada melanosit, reaksinya dikatalisasi oleh enzim tirosinase. Metode ini memungkinkan untuk menghitung jumlah melanosit per unit area epidermis. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa melanosit tidak didistribusikan secara random di antara keratinosit, agak tampak ada pola pada distribusinya, yang disebut dengan epidermal-melanin unit.

Proses sintesis melanin dari asam amino tirosin

10

Gambar 2.sintesis melanin

Pada manusia, ratio dopa-positif melanosit terhadap keratinosit pada statum basah adalah konstan di dalam setiap area tubuh, tetapi bervariasi dari satu regio ke regio yang lain. Sebagai contoh, ada sekitar 1000 melanosit/mm2 di kulit daerah paha dan 2000/mm2 di kulit skrotum. Jenis kelamin dan ras tidak mempengaruhi jumlah melanosit/unit area. Perbedaan pada warna kulit terutama karena perbedaan jumlah granul melanin pada keratinosit.

Gambar 4 sintesin melanin

11

Gambar 4. Section of the stratum spinosum showing the localized deposits of melanin covering the cell nuclei. Melanin protects the DNA from the UV radiation of the sun. This explains why people with light skin have a higher incidence of skin cancer than do people with dark skin. The highest concentration of melanin occurs in the cells that are more deeply localized; these cells divide more actively. (The DNA of cell populations that multiply more actively is particularly sensitive to harmful agents.) Makin gelapnya kulit (tanning) setelah terpapar radiasi matahari ( panjang gel: 290320mm) adalah akibat proses tahap 2. Pertama, reaksi fisis dan kimiawi menggelapkan warna melanin yang belum muncul ke luar melanosit, dan merangsangnya secara cepat untuk masuk ke keratinosit. Kedua, kecepatan sintesis melanin dalam melanosit mengalami akselerasi, sehingga semakin meningkatkan jumlah pigmen melanin.

Fungsi Melanin bagi Organisme Asalnya Melanin yang sering disebut dengan pigmen terdapat dalam semua makhluk hidup. Fungsi melanin atau pigmen tersebut tergantung pada makhluk hidup yang memproduksinya. Misalnya pada manusia melanin berfungsi sebagai pembari warna pada kulit, rambut dan mata, melanin juga berfungsi melindungi kulit dari paparan sinar ultra violet. Semakin sering kulit tubuh terkena paparan sinar ultra violet maka produksi melanin dalam tubuh bertambah banyak sehingga kulit akan terlihat lebih gelap. Untuk hewan melanin berfungsi sebagai pemberi warna untuk kulit, mata dan bulu. Tetapi pada beberapa serangga pigmennya berubah menjadi senyawa beracun dan digunakan sebagi signal apabila ada bahaya disekitarnya. Jadi pada serangga tersebut pigmen barfungsi ganda. Pada tanaman pigmen berfungsi sebagai pemberi warna pada daun dan bunga bagi tanaman yang memiliki bunga. Warna daun dan bunga setiap tanaman

12

berbeda-beda, hal tersebut dikarenakan molekul pigmen yang ada pada tanaman tersebut berbeda.

BAB III PATOMEKANISME DAN MANIFESTASI HIPERPIGMENTASI 3.1 MELASMA Melasma merupakan salah satu jenis hipermelanosis didapat pada kulit wajah dan kadang-kadang pada leher 1. ETIOPATOGENESIS

13

Belum ada teori yang dapat menjelaskan secara pasti bagaimana patogenesis dari penyakit melasma8,9 . Beberapa hal yang sering dikaitkan dengan penyakit melasma antara lain adalah pengaruh sinar matahari, kehamilan, penggunaan hormon kontrasepsi dan kosmetik10. Peningkatan produksi melanosom karena hormon maupun karena sinar ultra violet. Kenaikan melanosom ini juga dapat disebabkan karena bahan farmakologik seperti perak dan psoralen. Penghambatan dalam Malphigian cell turnover, keadaan ini dapat terjadi karena obat sitostatik.2 Radiasi sinar ultraviolet memberikan stimulus terhadap peningkatan aktifitas melanosit. Hal ini juga menjelaskan bahwa para pasien melasma adalah orang-orang yang tinggal di daerah dengan paparan sinar matahari cukup tinggi atau saat musim panas9,11. Jika dikaitkan dengan aktifitas maka hal ini menjadi penting. Umumnya penderita melasma hipersensitivitas terhadap radiasi sinar ultraviolet sehingga paparan yang singkat terhadap matahari dapat menyebabkan hiperpigmentasi11. Estrogen diduga dapat menyebakan melasma hal ini terlihat timbulnya melasma pada saat kehamilan, penggunaan kontrasepsi oral, dan hormone replacement theraphy (HRT) pada wanita post menopause. 12 a. GAMBARAN KLINIS Gambaran klinis kasus melasma pada dasarnya cukup mudah dikenali. Di antaranya lesi kulit berupa makula hiperpigmentasi berwarna cokelat terkadang dapat sampai berwarna hitam dengan batas jelas, irregular dan biasanya simetris Bagian wajah yang terkena biasanya daerrah pipi, hidung, dan mulut bagian bawah9.

Gambar 2. Melasma4

Berdasarkan gambaran klinisnya, melasma dapat diklasifikasikan menjadi2: 1. Bentuk sentro-fasial meliputi daerah dahi, hidung, pipi bagian medial, bawah hidung, serta dagu (63%) 2. Bentuk malar meliputi hidung dan pipi bagian lateral (21%) 3. Bentuk mandibular meliputi daerah mandibula (16%) DIAGNOSIS

14

Diagnosis melasma didasarkan atas anamnesis yang cermat dan pengamatan gambaran klinis yang akurat. 9 A. Anamnesis Dari anamnesis yang cermat dapat membantu menegakkan diagnosis secara tepat terutama untuk menggali segala hal terkait dengan pasien. Anamnesis yang dapat mendukung penegakan diagnosis melasma9,11,13 : a. Pasien wanita dengan kisaran umur 30-40 tahun b. Pasien dengan riwayat kehamilan berulang c. Pasien dengan penggunaan oral kontrasepsi d. Pasien yang memiliki aktifitas yang sering berpaparan dengan sinar matahari secara langsung e. Lesi timbul setelah berminggu-minggu dan semakin terlihat saat kontak dengan sinar matahari f. Pasien dengan riwayat penggunaan kosmetik g. Pasien wanita menopause yang sedang menjalani terapi hormon Pemeriksaan Fisis Lesi yang khas dari melasma ialah makula hiperpigmentasi pada wajah. Terkait luas, warna dan intensitas bergantung pada fototipe kulit mana yang terkena. Biasanya simetris. Daerah yang paling sering terkena seperti pipi, hidung, dan bibir bagian bawah dan dagu. Namun ada juga ditemukan dalam presentase lebih kecil di daerah malar dan mandibular9. Pemeriksaan penunjang Dalam pemeriksaan histopatologik terdapat 2 tipe hipermelanosis2 : a. Tipe epidermal : melanin terutama terdapat di lapisan basal dan suprabasal, kadangkadang di seluruh stratum spinosum sampai stratum korneum; sel-sel yang padat mengandung melanin adalah melanosit, sel-sel lapisan basal, dan suprabasal, juga terdapat pada keratinosit dan sel-sel stratum korneum. b. Tipe dermal : terdapat makrofag bermelanin di sekitar pembuluh darah dalam dermis bagian atas dan bawah; pada dermis bagian atas terdapat fokus-fokus infiltrat. Pemeriksaan penunjang yang biasa dilakukan ialah pemeriksaan lampu wood. Pemeriksaan ini bertujuan menspesifikkan suatu keadaan melasma yang akan menentukan seperti apa bentuk penanganannya.13 Adapun bentuk pengklasifikasian setelah pemeriksaan lampu wood adalah sebagai berikut9,13 :

B.

C.

Tabel 1. Klasifikasi melasma13 Tipe Melasma Epidermal

Gambaran klinis - Berbatas jelas - Berwarna cokelat tua - Terlihat lebih jelas dibawah sinar
15

Dermal -

Mixed

Memberikan respon yang baik terhadap pengobatan Batas tidak jelas Berwarna cokelat terang Tidak berubah di bawah sinar Memberikan respon yang buruk terhadap pengobatan Kombinasi antara warna cokelat tua dan cokelat muda Pengobatan hanya berdampak pada sebagian saja

3.2 POSTINFLAMATORY HIPERPIGMENTASI 1. Definisi Postinflammatory hiperpigmentasi (PIH) adalah masalah yang sering dihadapi dan merupakan gejala sisa dari gangguan kulit serta berbagai intervensi terapeutik .Ini kelebihan yang diperoleh dari pigmen dapat dikaitkan dengan berbagai proses penyakit sebelumnya yang mempengaruhi kulit seperti infeksi, reaksi alergi, cedera mekanik, reaksi terhadap obat, fototoksik, trauma (misalnya, luka bakar), dan penyakit inflamasi (misalnya, lichen planus , lupus eritematosus , dermatitis atopik ).
16

PIH juga dapat dilihat setelah pengobatan dengan sejumlah perangkat elektromagnetik seperti USG, frekuensi radio, laser, cahaya-emitting dioda, dan cahaya tampak, serta sekunder untuk microdermabrasion . Biasanya, hiperpigmentasi postinflammatory paling parah pada pasien dengan dermatosis lichenoid di mana lapisan sel basal dari epidermis terganggu. 2. Patofisiologi Hiperpigmentasi postinflammatory disebabkan oleh 1 dari 2 mekanisme yang menghasilkan baik melanosis epidermis atau dermis melanosis. . Respon inflamasi epidermis (yaitu, dermatitis) hasil dalam rilis berikutnya dan oksidasi asam arakidonat untuk prostaglandin, leukotrien, dan produk lainnya. Produk-produk peradangan mengubah aktivitas dari kedua sel kekebalan tubuh dan melanosit. . Secara khusus, produk ini merangsang melanosit epidermis inflamasi, menyebabkan mereka untuk meningkatkan sintesis melanin dan kemudian untuk meningkatkan transfer pigmen untuk keratinosit sekitarnya, Seperti peningkatan stimulasi dan transfer hasil butiran melanin di epidermis hypermelanosis, Sebaliknya, melanosis dermal terjadi ketika peradangan mengganggu lapisan sel basal, menyebabkan pigmen melanin akan dirilis dan kemudian terperangkap oleh makrofag dalam dermis papiler, juga dikenal sebagai inkontinensia pigmen. 3. Penyebaran Internasional Internasional, hiperpigmentasi postinflammatory merupakan respon inflamasi yang umum kulit, mengembangkan lebih sering pada kulit yang lebih gelap. Meskipun warna kulit lebih terang mereka, orang Asia tertentu (dari negara-negara Pasifik RIM seperti Jepang, Taiwan, Cina) lebih rentan terhadap PIH berkembang mengikuti salah satu faktor menghasut tercantum di atas.

4. Fisik Distribusi dari lesi hypermelanotic tergantung pada lokasi inflamasi dermatosis asli. Warna lesi berkisar dari cahaya coklat sampai hitam, dengan penampilan cokelat lebih ringan jika pigmen berada dalam epidermis (yaitu, epidermis melanosis) dan penampilan yang lebih gelap abu-abu jika lesi mengandung melanin kulit (yaitu, melanosis dermal).

17

Foto seorang wanita 42 tahun Amerika keturunan Afrika dengan makula hiperpigmentasi postinflammatory di sisi kiri wajahnya sebagai akibat dari excorie jerawat.

5. Penyebab Postinflammatory hiperpigmentasi dapat terjadi dengan proses berbagai penyakit yang mempengaruhi kulit. Proses ini meliputi reaksi alergi, infeksi, trauma, dan letusan fototoksik Photothermolysis laser fraksional sesekali menginduksi hiperpigmentasi postinflammatory. [1, 2] Penyakit inflamasi yang umum yang menyebabkan hiperpigmentasi postinflammatory termasuk jerawat excorie, lichen planus, lupus eritematosus sistemik, dermatitis kronis, dan kulit T-sel limfoma, terutama varian eritrodermik. Selain itu, lesi hiperpigmentasi postinflammatory bisa menggelapkan dengan paparan sinar UV dan berbagai bahan kimia dan obat-obatan, seperti tetrasiklin, bleomycin, doxorubicin, 5fluorouracil, busulfan, arsenicals, perak, emas, obat antimalaria, hormon, dan clofazimine

3.3 Nevus dari Ota dan Ito 1 Definisi Nevi dari Ota dan Ito adalah tanda-tanda kulit berwarna abu-coklat mewarnai atau biru /

18

abu-abu. Mereka tanda lahir yang tidak biasa dimana melanosit (sel pigmen) ditemukan lebih dari normal (dalam dermis bukan epidermis). Perbedaan antara naevus dari Ota dan naevus dari Ito adalah lokasi. Nevus dari Ota adalah di dahi dan wajah di sekitar mata; Nevus dari Ito adalah pada daerah bahu dan lengan atas. Naevus Hori memiliki penampilan mirip dengan Nevus dari Ota. Namun, tidak hadir pada saat lahir, dan sering mempengaruhi kedua sisi wajah.

Gambar 3.Naevus of Ota

2. Patofisiologi Tidak diketahui mengapa nevi terjadi. Nevus dari Ota jauh lebih umum daripada nevi dari Ito dan hadir pada saat lahir pada 50% kasus. Nevus dari Ota juga dapat tiba-tiba muncul selama masa remaja. Dengan demikian peneliti menyarankan hormon berperan dalam perkembangan mereka. Nevus dari Ota dan Ito yang paling sering ditemukan pada populasi Asia; 0,2-0,6% dari orang Jepang telah Nevi dari Ota. Mereka muncul lebih sering pada wanita. Kedua bentuk nevi sangat jarang terjadi di Kaukasia.

3. Tanda dan gejala Nevus dari Ota Hiperpigmentasi biasanya terletak di salah satu sisi wajah (unilateral) tetapi dapat di kedua sisi (bilateral) Bisa melibatkan hiperpigmentasi bagian dari mata: sklera, kornea, iris, retina Bisa melibatkan hiperpigmentasi bagian dalam mulut nevi perlahan-lahan tumbuh dan gelap sampai dewasa tercapai
19

Warna atau warna dianggap nevi dapat berubah sesuai dengan kondisi pribadi dan lingkungan, misalnya kelelahan, menstruasi cuaca, panas Dapat menyebabkan glaukoma jarang Melanoma maligna sangat jarang berkembang, khususnya dalam kasus Kaukasia Nevus dari Ito Hiperpigmentasi terletak di atas daerah bahu korset, biasanya pada satu sisi saja Kemungkinan perubahan sensoris pada kulit yang terlibat

4. Freckle 1 Definisi

20

Adalah Sebuah titik datar melingkar pada kulit seukuran kepala kuku yang berkembang setelah paparan berulang sinar matahari, terutama dalam seseorang dari kulit. Mungkin bintikbintik merah, kuning, cokelat, coklat muda, coklat, atau hitam. Mereka selalu lebih gelap dari kulit di sekitar mereka karena mereka adalah karena deposit melanin gelap, pigmen gelap.

Ada dua tipe dasar bintik-bintik - ephelides dan lentigines. Ephelides (tunggal: ephelis) adalah bintik-bintik merah atau coklat muda datar yang biasanya muncul selama bulan-bulan cerah dan memudar di musim dingin. Lentigines (tunggal: lentigo) adalah cokelat kecil, coklat, atau bintikbintik hitam yang cenderung lebih gelap daripada bintik ephelis-jenis dan yang tidak memudar di musim dingin. Matahari bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan bintik-bintik. Keturunan juga mempengaruhi freckling, seperti yang disaksikan oleh kesamaan yang mencolok dalam jumlah bintik-bintik di kembar identik. Kesamaan tersebut jauh lebih ditandai dengan kembar fraternal. Sebuah gen untuk bintik-bintik telah dipetakan pada kromosom 4q32-q34. Bintik-bintik tidak berbahaya. Mereka kadang-kadang mungkin bingung dengan lebih masalah kulit serius. Sebaliknya, masalah yang lebih serius seperti kanker kulit mungkin pada waktu akan melewati sebagai bintik belaka. Siapapun yang memiliki satu atau lebih tempat berpigmen yang mereka tidak yakin harus dilihat oleh dokter (atau dokter kulit). Pengobatan yang efektif yang tersedia untuk meringankan atau menghilangkan bintik-bintik yang mengganggu penampilan pemiliknya.

Gambar 5.frenkle

5. Cafe au lait

21

adalah penampakan kurang lebih sebesar uang logam. Diameternya bisa sampai 5 centimeter yang di dalamnya berisi bintik-bintik hitam. Cafe au lait itu bisa berbentuk seperti oval dan didalamnya berwarna coklat. Ada juga berbentuk daun dan warna coklatnya lebih coklat dari skin, di dalamnya juga terbentuk bintik-bintik dan warnanya jauh lebih coklat lagi. Tanda ini biasanya ditemukan di badan, pantat, dan kaki.

Spot Cafe au lait , biasa pada orang yang mempunyai kulit gelap dan biasanya pada 10% - 20% kanak-kanak. Tanda ini bisa membesar dan warnanya bertambah gelap seiring usia, tetapi tidak dipertimbangkan menjadi masalah kesehatan. Akan tetapi, mempunyai beberapa tanda yang cenderung besar dihubungkan dengan neurofibromatosis dan sindrom McCune-Albright. Spot Cafe au lait disebabkan oleh kandungan melanin yang tinggi di dalam kulit.

Gambar 6. Cafe au liet

6. Lentiginosis/lentigo

22

1. definisi Lentigo adalah makula coklat atau coklat kehitaman berbentuk bulat atau polikistik. Lentiginosis adalah keadaan tibulnya lentigo dalam jumlah banyak dengan distribusi tertentu. 2. Etiologi Disebabkan karena bertambahnya jumlah melanosit pada taut dermoepidermal tanpa adanya proliferasi fokal. 3. Klasifikasi 1. lentigo generalisata 2. Lentigo sentrofasial 3. Lentigo peutz-jegher 1. Lentigo generalisata Lesi lentigo umumnya multiple, timbul satu demi satu atau dalam kelompok kecil sejak masa anak-anak. Patogenesisnya tidak diketahui dan tidak dibuktikan adanya faktor genetik. Dibagi menjadi dua: a. Lentiginosis supuratif Lentigo timbul sangat banyak dan dalam waktu singkat. Lesi mula berupa teleangiktasis yang dengan cepat mengalami pigmentasi dan lambat laun berunah menjadi melanostik selular. b. Sindrom lentiginosis multiple Merupakan sindrom lentiginosa yang dihubungkan dengan berbagai kelainan perkembangan. Diturunkan secara autosomal dominan. Lentigo timbul pada waktu lahir dan bertambah sampai pada masa pubertas. Ditemukan pada daerah leher dan badan bagian atas, tetapi dapat ditemukan juga diseluruh tubuh. Sering disertai kelainan jantung, stenosis penbuluh nadi paru atau subaorta. Pertumbuhan badan akan terhambat. Adanya kelainan mata berupa hipertelorisme okular dan kelainan tulang prognatisma mandibular. Kelainan yang menetap adalah tuli dan kelainan genital yakni hipospadia gonad dan hipospadia. Sindrom tersebut dikenal sebagai sindrom leopard yaitu
23

L entigenes E CG abnormalities O cular hypertelorism P ulmonary stenosis A bnormality of the genitalia R etardation of growth D eafness 2. Lentigosentrofasial Diturunkan secara dominan autosomal. Lesi berupa makula kecil berwarna coklat atau hitam, timbul pada waktu tahun pertama kehidupan dan bertambah jumlahnya pada umur 8-10 tahun Distribusi tebatas pada garis horisontal melalui sentral muka tanpa mengenai membran mukosa. Tanda-tanda defek lain adalah retardasi mental dan epilepsi. Sindrom ini juga ditandai oleh arcus palatum yang tinggi, bersatunya alis, gigi seri atas tidak ada, hipertrikosis sakral, spina bifidan dan skoliosis. 3.sindrom peutz jeghers lebih banyak pada laki-laki, diturunkan scara autosomal dominan. Gejala klinik Gejala berupa makula hiperpigmentasiyang timbul sejak lahir dan berkembang pada masa kanak-kanak. Makula tersebut selalu mengenai selaput lendir mulut berbentuk bulat, oval,atau tidak teratur; berwarna coklat kehitaman berukuran 1-5 mm. Letaknya pada mukosa bucal, gus, palatum durum, dan bibir. Bercak dimuka tampak lebih kecil dan lebih gelat terutama disekitar hidung dan mulut, pada tangan dan kaki bercak tampak lebih besar. Gejala lain adalah adanya polip di usus, penderita biasanya mengalami melena. Polip dapat menjadi ganas dan kematian dsebabkan karena adanya metastasis karsinoma tersebut.

Lentigo senilis
24

Lentigo senilis adalah makula hiperpigmentasi pada kulit daerah yang terbuka, biasanya pada orang tua. Sering bersama makula depigmentasi, ekimosis senilis, dan degenerasi aktinik yang kronik. Acapkali terlihat pada punggunga tangan. Pemeriksaan histopatologik menunjukan terpisahnya geligi epidermal dan lapisan basal berbentuk seperti pemukul baseball dan hiperpigmentasi adanya peningkatan melanosit.

BAB IV
25

KESIMPULAN Hiperpigmentasi adalah perubahan warna pada kulit menjadi lebih gelap disebabkan oleh sel melanosit bertambah maupun hanya karena pigmen melanin saja yang bertambah. Kelainan hiperpigmentasi detemukan sebagai manifestasi penyakit kulit diantaranya melasma, nevus ota, frenkle,lentigo,hiperpigmentasi post inflamasi,dan cafe au liet, yanga berdasarkan Etiloginya Hiperpigmentasi terjadi akibat : Kelainan Genetis ,Gangguan Metabolik ,Gangguan Nutrisi ,Gangguan Endokrin ,Gangguan Infeksi ,Gangguan Neoplastik, Pengaruh Bahan Tertentu (Obat, Bahan Kimia) .

DAFTAR PUSTAKA
26

1. Grawkrodjer DJ. Pigmentation. In: Dermatology an Illustrated Colour Text. 3rd ed. British: Crurchill Livingstone; 2002: p.70-1 2. Soepardiman L. Kelainan Pigmen. In: Djuanda A, Hamzah M, Aisah S, editors. Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin. Edisi Kelima. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 2007. p.289-95 3. Damoa AS, Lambert WC, Schwartz RA. Melasma: Insight into a distressing dyschromia. Aesthetic Dermatology. 2006; 8(1): p.1-6 4. Roberts WE. Melasma. In: Kelly AP, Taylor SC, editors. Dermatology for Skin of Colour. New York: McGraw-Hill; 2009. p.332-6 5. Salim A, Rengifo-Pardo M, Vincent S, Cuervo-Amore LG. Melasma. In: Williams H, Bigby M, Diepgen T et al, editors. Evidence-based Dermatology. London: BMJ Books. 2003. p. 552-67 6. Bleehen SS, Anstey AV. Disorders of Skin Colour. In: Burns T, Breathnach S, Cox N, Griffiths C, editors. Rooks Textbook of Dermatology. 7th ed. Massachusetts : Blackwell. 2004. p. 39.40 7. Kim EH, Kim YC, Lee ES, Kang HY. The Vascular Characteristics of Melasma. Journal of Dermatological Science. 2007; 46: p.111-6 8. Stery W, Paus R, Burgdorf W. Brown Hyperpigmentation. In: Thieme Clinical Companions Dermatology. 5th ed. New York: Georg Thieme Verlag; 2006. p.379-80

9. Lynde CB, Kraft JN, Lynde CW. Topical Treatments for Melasma and Postinflammatory Hyperpigmentation. In: Maddin S, editor. Skin Therapy Letter. 2006.11(9). P.1-4 10. Schwartz RA, Kihiczak NI. Postinflammatory Hyperpigmentation.[online]. 2010 June 25.

[cited 2011 Jan 22]. Available from: http://emedicine.medscape.com/article/1069191-overview 11.


Anonym. Minocycline Pigmentation Photo. [online]. 2011. [cited 2011 Jan 22]. Available from:

http://www.dermnet.com/Minocycline-Pigmentation/picture/4431

12.

Anonym.

Riehl

Melanosis.

[online].

2010.

[cited

2011

Jan

22].

Available

from:

http://dermaamin.com/site/atlas-of-dermatology/17-r/1078-riehls-melanosis-.html

27