Anda di halaman 1dari 8

PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Perkembangan adalah perubahan kearah kemajuan menuju terwujudnya hakekat manusia yang bermartabat atau berkualitas. Perkembangan memiliki sifat holistik (menyeluruh/kompleks) yaitu : terdiri dari berbagai aspek baik fisik ataupun psikis, terjadi dalam beberapa tahap (saling berkesinambungan), ada variasi individu dan memiliki prinsip keserasian dan keseimbangan. Perkembangan Individu memiliki beberapa prinsip-prinsip yaitu: Never ending process (perkembangan tidak akan pernah berhenti), Semua aspek perkembangan saling mempengaruhi (aspek emosional, aspek disiplin, aspek agama dan aspek sosial),Perkembnagan mengikuti pola/arah tertentu (karena perkembangan individu dapat terjadi perubahan perilaku yang dapat dipertahankan atau bahkan ditinggalkan) Perkembangan merupakan proses yang tidak akan berhenti dan setiap perkembangan memiliki tahapan tahapan yaitu : tahap dikenangkan, tahap kandungan, tahap anak, tahap remaja, tahap dewasa, dan tahap lansia, ada juga yang menggunakan patokan umur yang dapat pula digolongkan dalam masa intraterin, masa bayi, masa anak sekolah, masa remaja dan masa adonelen yang lebih lanjut akan disebut dengan periodesasi perkembangan. Perkembangan yang terjadi pada anak meliputi segala aspek kehidupan yang mereka jalani baik bersifat fisik maupun non fisik. Perkembanmgan berarti serangkaian perubahan progresif yang terjadi sebagai akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Kesepakatan para ahli menyatakan bahwa yang dimaksud dengan perkembangan itu adalah suatu proses perubahan pada seseorang kearah yang lebih maju dan lebih dewasa, namun mereka berbeda-beda pendapat tentang bagaimana proses perubahan itu terjadi dalam bentuknya yang hakiki. (Ani Cahyadi, Mubin, 2006 : 21-22). Beberapa teori perkembangan manusia telah mengungkapkan bahwa manusia telah tumbuh dan berkembang dari masa bayi kemasa dewasa melalui beberapa langkah jenjang. Tugas paling sulit yang sering dihadapi oleh orang tua dalam membesarkan anak adalah pada saat anak berangkat dewasa ( usia remaja / belasan tahun ). Di satu sisi anak masih berada dalam dunia kanak-kanaknya tetapi di sisi lainnya ia mulai masuk ke alam kedewasaan. Suasana peralihan seperti ini sering membingungkan para orang tua karena berubahnya sikap anak. Ia

bukan anak kecil yang dapat dikendalikan oleh orang tuanya malah kadang cenderung untuk melawan setiap pendapat orang tuanya. Pada proses integrasi dan interaksi ini faktor intelektual dan emosional mengambil peranan penting. Proses tersebut merupakan proses sosialisasi yang mendudukkan anak-anak sebagai insan yang secara akif melakukan proses sosialisasi. B. Tujuan Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui makna perkembangan sosial remaja(puber); mengetahui bentuk-bentuk perkembangan sosialnya dan faktor-faktor yang mempengaruh perkembangan sosial remaja serta pengaruh perkembangan sosial remaja terhadap tingkah lakunya.Selain itu juga makalah ini kami harap bisa untuk memenuhi tugas matakuliah psikologi kami.

BAB II PEMBAHASAN

Puberitas berasal dari kata latin yang berarti usia kedewasaan pubertas adalah suatu tahap dalam perkembangan , keika alat-alat seksual mengalami kematangan dan tercapainya kemampuan reproduksi. Perubahan yang terjadi pada kematangan fisik, seperti perubahan tubuh dan hormonal, yang terutama terjadi pada masa remaja awal. Masa perkembangan remaja dimulai dengan masa puber, yaitu umur kurang lebih antara 12-14 tahun. Masa puber atau masa permulaan remaja adalah suatu masa saat perkembangan fisik dan intelektual berkembang sangat cepat. Pertengahan masa remaja adalah masa yang lebih stabil untuk menyesuaikan diri dan berinteraksi dengan perubahan permulaan remaja, kira-kira umur 14-16 tahun. Remaja akhir yang kira kira berumur 18-20 tahun ditandai dengan transisi untuk mulai bertanggung jawab, membuat pilihan dan berkesempatan untuk mulai menjadi dewasa. Menurut PIAGET perkembangan Kognitif Anak dikelompokkan dalam 4 tahap: A]. Sensori Motor (Usia 0-2 tahun) Pada tahap ini yang sangat berpengaruh adalah perkembangan panca indra,hal ini dapat kita lihat pada masa ini keinginan seorang anak untuk memegang sesuatu lebih besar, karena didorong oleh keinginan untuk mengetahui reaksi dari perbuatannya.dalam usia ini mereka belum mengerti akan motivasi dan lebih sering menangis. B]. Pra-Operasional (Usia 2-7 tahun) Pada usia ini anak menjadi egosentris, sehingga berkesan pelit, karena ia tidak bisa melihat sudut pandang orang lain.dan dia cendrung untuk meniru orang lain disekelilingnya. Meskipun pada usia 6-7 tahun mereka mulai mengerti motivasi, namun mereka tidak mengerti cara berpikir yang sistematisdan rumit dalam menyampaikan sesuatu. C] Operasional Kongkrit(7-11 tahun) Pada saai ini anak sudah mulai meninggalkan egosentrisnyadan sudah bisa bermain

dalam kelompok dengan aturan kelompok(bekerja sama).dan sudah bisa dimotivasi dan mengerti dengan hal-hal yang sistematis 4] Operasional Formal Pada saat ini ereka sudah mulai mengerti tentang konsep dan dapat berpikir,baik secara konkrit maupun abstrak

Remaja adalah mereka yang berusia antara 12-21 tahun, yang akan mengalami periode perkembangan fisik dan fsikis antara lain: Masa pra-pubertas (12-13 tahun), Masa pubertas(1416 tahun),masa akhir pubertas(17-18 tahun), dan periode remaja adolesen (19-21 tahun). I.Masa pra pubertas (12-13 tahun) Masa ini disebut juga masa pueral, yaitu masa peralihan dari kanak-kanak keremaja. Pada anak perempuan , masa ini lebih singkat dibandingkan dengan anak laki-laki. Pada masa ini, terjasi perubahan yang besar pada remaja, yaitu meningkatnya ormon seksualitas dan mulai berkembangnya organ-organ seksual serta organ-organ reproduksi remaja. Pada fase remaja, terjadi perkembangan intelektual yang sangat pesat, sehingga seringkali remaja- remaja ini bersikap mengkritik ( karena merasa tahu segalanya), yang sering diwujudkannya dalam bentuk pembangkangan atau pembantahan terhadap orang tua, mereka mulai menyukai orang dewasa yang dianggapnya baik, serta menjadikannya sebagai hero atau pujaannya. Perilaku ini kan diikuti dengan meniru segala yang dilakukan oleh pujaannya, seperti model rambut, gaya bicara, sampai dengan kebiasaan hidup pujaannya tersebut. Ekspresi ini menunjukkan pula terjadinya proses erosi percaya diri, namun bisa pula terjadi perkembangan positif seperti meningkantnya rasa percaya diri. Selain itu, pada masa ini remaja juga cendrung lebih berani mengutarakan keinginan hatinya, lebih berani mengemukakan pendapatnya, bahkan akan mempertahankan pendapatnya sekuat mungkin. Hal ini yang sering ditanggapi oleh orang tua sebagai pembangkangan . Remaja tidak ingin diperlakukan sebagai anak kecil lagi. Mereka lebih senang bergaul dalam kelompok yang diaggapnya sesuai dengan kesenangannya. Mereka juga semakin berani menentang tradisi orang ua yang dianggapnya kuno dan tidak kurang berguna, maupun peraturan-peraturan yang menurut mereka tidak beralasan, seperti tidak boleh mampir

ketempat lain pulang sekolah, dan sebagainya. Mereka akan semakin kehilangan minat untuk bergabung dalam kelompok sosial yang formal, dan cendrung bergabung dengan teman-teman pilihannya . Misalnya, Mereka akan memilih main ke tempat temannya dari pada berkunjung bersama keluarga kerumah saudara. Tapi, pada saat yang sama, mereka juga butuh pertolongan dan bantuan yang selalu siap sedia dari orang tuanya , jika mereka tidak mampu menjelmakan keinginannya, pada saat ini adalah saat yang kritis. Jika orang tua tidak mampu memenuhi kebutuhan psikinya untuk mengatasi konflik yang terjasi saat itu,remaja akan mencari nya dari orang lain. Orang tua harus ingat , bahwa masalah yang dihadapi remaja, meskipun bagi orang tua itu merupakan hal yang sepele, tepai bagi remaja itu itu sendiri adalah masalah yang sangat sangat berat. II.Masa pubertas (14-16 tahun) Masa ini disebut juga masa remaja awal, dimana perkembangan fisik mereka begitu menonjol.Remaja sangat cemas akan perkembangan fisiknya, sekaligus bangga bahwa hal itu menunjukkan bahwa ia memang bukan anak-anak lagi. Pada masa ini, emosi remaja menjadi sangat labil akibat dari perkembangan hormon-hormon seksualnya yang begitu pesat. Keinginan seksual juga sudah mulai kuat. Pada remaja wanita ditandai dengan datangnya menstruasi yang pertama. Sementara pada remaja pria ditandai dengan datangnya mimpi basah yang pertama. Remaja akan merasa bingung dan malu akan hal ini, sehingga orang tua harus mendampinginya serta memberikan pengertian yang baik dan benar tentang seksualitas. Jika hal ini gagal ditangani dengan baik, perkembangan psikis mereka khususnya dalam hal pengenalan diri/ gender dan seksualitasnya akan terganggu. Kasus-kasus gay atau lesbi banyak diawali dengan gagalnya erkembangan remaja pada tahap ini Disamping itu ,remaja sukar diselami perasaannya. Kadang mereka bersikap kasar,kadang lembut, kadag suka melamun, dilain waktu dia begitu ceria. Perasaan sosial remaja saat ini semakin kuat, dan merek bergabung dengan kelompok yang disukainya da membuat peraturan-peraturan dengan pikirannya sendiri.

III.Masa akhir pubertas(17-18 tahun)

Remaja pada masa masa ini sudah mampu melewati masa yang sebelumnya dengan baik, akan dapat menerima kodratnya, baik sebagai laki-laki maupun perempuan. Mereka juga bangga karena tubuh mereka dianggap menentukan harga diri mereka . Masa ini berlangsung sangat singkat . Pada remaja putri, masa ini berlangsung lebih singkat dari pada remaja pria, sehingga proses kedewasaan putri remaja lebih cepat dicapai dibandingkan remaja pria. Namun kematangan psikologis belum tercapai sepenuhnya. IV.Periode remaja adolesen (19-21 tahun) Pada periode ini umumnya remaja sudah mencapai kematangan yang sempurna, segi fisik, emosi, maupun fisikisnya. Mereka akan mempelajari beragai macam hal yang abstrak dan mulai memperjuangkan satu idealisme yang didapat dari pikiran mereka. Mereka mulai menyadari bahwa mengkritik itu lebih mudah dari pada menjalaninya. Sikap terhadap kehidupan sudah mulai terlihat jelas, sepert cita-citanya, minatnya, bakatnya, dan sebagainya. Arah kehidupan serta sifat-sifat yang menonjol akan terlihat jelas pada fase ini.

Dalam hal seksualitas, para remaja sering menerima pesan-pesan yang beragam. Dari orang tuanya atau Agamawan ia menerima satu pesan, tetapi di lain pihak ia menerima pesan dari berbagai media seperti tv, film, teman sekelompoknya dll. Untuk itu resep jitu bagi orang tua adalah mau terbuka terhadap anak remajanya agar ia dapat menyerap pesan yang baik dan jika ia bingung ia hanya berpaling kepada orang tuanya. Bagi kita orang Indonesia, pesanpesan relijius dan moral dapat mencegah anak menyalah artikan pesan-pesan yang berhubungan dengan masalah seksualitas tersebut. Misalnya berbagai film di tv, terutama filmfilm seri remaja dari luar, disitu digambarkan bahwa berhubungan intim sebelum menikah adalah sah-sah saja. Disinilah tugas orang tua untuk menyiapkan dan melatih daya serap anaknya sedini mungkin. Jika sejak awal anak diberi pengertian yang memadai baik dari aspek rohani maupun kesehatan mungkin ia akan terhindari dari pengaruh negatif. Walaupun bukan tak mungkin lingkungan di luar rumah juga dapat mempengaruhinya. Meskipun begitu bukan berarti acara-acara televisi seperti itu tidak boleh ditonton sama sekali. Ambil segi positifnya

seperti pesan tentang kesetiakawanan, gotong royong, kasih sayang dll. Meskipun dikatakan bahwa masa remaja adalah masa-masa penuh chaos tetapi umunya para remaja dapat melewati fase ini dengan selamat. Meskipun begitu ada beberapa perilaku yang membutuhkan perhatian orang tua seperti : nilai pelajaran yang menurun, menarik diri dari pergaulan, gangguan pola makan dan yang berbahaya adalah penyalah gunaan obat-obatan dan alkohol. Untuk kedua hal ini orang tua harus menerapkan zero tolerancy policy ( tiada toleransi ). Konsep egaliterisme memang menempatkan manusia sederajat tetapi bukan berarti orang tua dan anaknya selalu sederajat. Mereka sederajat dalam pengertian sebagai umat manusia tetapi dalam bidang otoritas orang tua tentu tidak sama dengan anaknya. Ini yang harus disadari oleh orang tua walaupun bukan berarti orang tua harus menjadi otoriter. Orang tua mempunyai aturan-aturan, keputusan-keputusan dimana sang anak harus menghormatinya. Jika anak remaja dan anda terlibat konflik sehubungan dengan keputusan dan aturan yang anda buat yakinkan bahwa anda tidak setuju tanpa harus menjadi tidak dihormati oleh anak anda. Jika anak remaja anda makin kurang ajar, akhiri diskusi dengan mengatakan, Bapak / Ibu tidak menganggap kamu secara tidak hormat tetapi bapak / ibu tidak mau kamu tidak menghormati kami. Diskusi ini selesai sampai kamu dapat menghormati kami dan berpikir secara jernih! Sikap tegas dari orang tua dapat mengajarkan anak remaja anda untuk lebih menghormati orang tuanya selain menerapkan aturan dan keputusan orang tuanya tersebut. Karena itu sikap tegas orang tua memang diperlukan untuk menjadikan pribadi anak remaja mereka lebih dewasa dan tidak salah melangkah di alam kedewasaan.

Sumber: Menghadapi Anak yang Memasuki Masa Puber | Pilihan http://keluargacemara.com/featured/menghadapi-anak-yang-memasuki-masapuber.html#ixzz1514FUHj0 Under Creative Commons License: Attribution Non-Commercial