Anda di halaman 1dari 14

Contoh Perjanjian Penggabungan Usaha / Merger Perusahaan

PERJANJIAN PENGGABUNGAN USAHA (MERGER)

Pada hari ini, Rabu, tanggal empat, bulan sembilan, tahun dua ribu sebelas (04-09-2011), bertempat di Surabaya, telah terjadi perjanjian oleh dan antara:

1. PT. Bank STORECOID, berkedudukan di Jl. Brigadir Birawa Satu Raya No. 15, Surabaya Barat (selanjutnya disebut PT. STORECOID) yang dalam hal ini diwakili oleh Direktur Utamanya, yaitu Kukuh Bima Perkasa, pengusaha, bertempat tinggal di Surabaya Barat, Jl. Brigadir Birawa Satu RT 09 RW 03 No. 10; dan 2. PT. Bank CARAPEDIA, berkedudukan di Jl. Singo Dimejo Raya No. 15, Surabaya Pusat (selanjutnya secara singkat disebut PT. CARAPEDIA) yang dalam hal ini diwakili oleh Direktur Utamanya, yaitu Kiki, pengusaha, bertempat tinggal di Surabaya Pusat, Jl. Singo Dimejo RT 03 RW 04 No. 08, telah dibuat Penggabungan Usaha (Merger) sebagai berikut:

Pasal 1 Merger ini dilakukan dengan didasarkan pada: - Keputusan Rapat Umum Luar Biasa para pemegang saham PT. STORECOID pada tanggal xxxx; dan - Keputusan Rapat Umum Luar Biasa para pemegang saham PT. CARAPEDIA pada tanggal xxxx. yang risalahnya telah dibuat oleh Fida, S.H., notaris di Surabaya berturut-turut No. xxx dan No. xxxx kedua Perseroan tersebut di atas telah bersepakat untuk mengadakan Penggabungan Usaha (Merger), yaitu dengan cara PT. CARAPEDIA menggabungkan diri ke dalam PT. STORECOID, satu dan lain menurut ketentuan dari yang berwajib.

Pasal 2 (1) Dengan Penggabungan Usaha ini PT. STORECOID akan tetap berdiri dan melanjutkan usahanya, sedangkan PT. CARAPEDIA akan menyerahkan semua aktiva serta passivanya kepada PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA akan menghentikan semua usaha perseroannya. (2) Modal dasar PT. STORECOID setelah terjadinya penggabungan usaha ini menjadi Rp 1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) yang terbagi dalam saham @ Rp 25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) dari saham-saham mana yang diambil bagian dan disetorkan sebanyak

10 saham atau seharga Rp 250.000.000,00 (dua ratus lima puluh miliar rupiah)

(3) Sebagai imbalan dari karena penyerahan seluruh aktiva dan passiva PT. CARAPEDIA, kepada PT. STORECOID itu, maka PT. STORECOID akan mengeluarkan saham-saham baru kepada PT. CARAPEDIA, dan atau para pemegang saham PT. CARAPEDIA dengan nilai nominal sebagaimana telah disetujui bersama oleh kedua perseroan tersebut, yaitu 5 saham sejumlah harga Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah)

Pasal 3 PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA telah bersepakat bahwa dengan tidak mengurangi ketentuan-ketentuan, peraturan- peraturan dan undang-undang yang berlaku pada dasarnya (prinsipnya) para karyawan PT. CARAPEDIA akan disalurkan ke dalam dan menjadi karyawan PT. STORECOID.

Pasal 4 PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA telah bersepakat pula, bahwa semua nasabah, baik debet maupun kredit dari PT Forum Kita akan menjadi nasabah PT Winwinbow.

Pasal 5 PT. CARAPEDIA menjamin PT. STORECOID dan Pihak Ketiga, bahwa sesuai dengan bunyi Risalah Rapat Umum Luar Biasa para pemegang sahamnya tertanggal xxxx No. xxx tersebut di atas, semua Pemegang saham PT. CARAPEDIA menyetujui Penggabungan Usaha (Merger) dengan PT. STORECOID tersebut.

Pasal 6 Disetujui pula oleh PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA bahwa cara penyelesaian kerugian dan kredit-kredit macet akan diserahkan kepada PT. STORECOID.

Pasal 7 PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA telah mencapai kata sepakat, bahwa waktu realisasi Penggabungan Usaha (Merger) ini menurut perkiraan pada tanggal xxxx.

Pasal 8 PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA dengan ini menentukan, bahwa calon anggota Direksi dan Dewan Komisaris PT. STORECOID setelah terjadinya Penggabungan Usaha ini sebagai berikut: Direksi : - Direksi Utama - Direktur I - Direktur II Dewan Komisaris : Komisaris Utama Komisaris I Komisaris II

Pasal 9 Tentang perjanjian ini PT. STORECOID dan PT. CARAPEDIA memilih domisili tetap dan umum di Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Surabaya Barat.

Pasal 10 Demikianlah perjanjian ini dibuat dalam rangkap 2 (dua) dan dibubuhi dengan materai cukup. Perjanjian ini ditandatangani oleh kedua belah pihak dalam keadaan sehat jasmani dan rohani serta tanpa adanya paksaan dari pihak manapun.
http://carapedia.com/Perjanjian-Merger-Perusahaan_info822.html lcpro.files.wordpress.com/2010/05/tugas_kakm_masodah.pdf

Pengertian Merger dan Akuisisi Beserta Contoh Perusahaannya


June 4, 2010 - Posted by ste_fredy

Merger adalah penggabungan dua perusahaan menjadi satu, dimana perusahaan yang memerger mengambil/membeli semua assets dan liabilities perusahaan yang di-merger dengan begitu perusahaan yang me-merger memiliki paling tidak 50% saham dan perusahaan yang di-merger berhenti beroperasi dan pemegang sahamnya menerima sejumlah uang tunai atau saham di perusahaan yang baru (Brealey, Myers, & Marcus, 1999, p.598). Definisi merger yang lain yaitu sebagai penyerapan dari suatu perusahaan oleh perusahaan yang lain. Dalam hal ini perusahaan yang membeli akan melanjutkan nama dan identitasnya. Perusahaan pembeli juga akan mengambil baik aset maupun kewajiban perusahaan yang dibeli. Setelah merger, perusahaan yang dibeli akan kehilangan/berhenti beroperasi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.640). Akuisisi adalah pengambil-alihan (takeover) sebuah perusahaan dengan membeli saham atau aset perusahaan tersebut, perusahaan yang dibeli tetap ada. (Brealey, Myers, & Marcus, 1999,p.598). Akuisis bisa juga pembelian suatu perusahaan oleh perusahaan lain atau oleh kelompok investor. Akuisisi sering digunakan untuk menjaga ketersediaan pasokan bahan baku atau jaminan produk akan diserap oleh pasar. Contoh : Aqua diakuisisi oleh Danone, Pizza Hut oleh Coca-Cola, dan lain-lain. Akuisisi berasal dari sebuah kata dalam bahasa Inggris acquisition yang berarti pengambilalihan. Kata akuisisi aslinya berasal dari bhs. Latin, acquisitio, dari kata kerja acquirere.

Jenis-jenis Merger dan Akusisi Menurut Damodaran 2001, suatu perusahaan dapat diakuisisi perusahaan lain dengan beberapa cara, yaitu : a. Merger Pada merger, para direktur kedua pihak setuju untuk bergabung dengan persetujuan para pemegang saham. Pada umumnya, penggabungan ini disetujui oleh paling sedikit 50% shareholder dari target firm dan bidding firm. Pada akhirnya target firm akan menghilang (dengan atau tanpa proses likuidasi) dan menjadi bagian dari bidding firm. b. Konsolidasi Setelah proses merger selesai, sebuah perusahaan baru tercipta dan pemegang saham kedua belah pihak menerima saham baru di perusahaan ini. c. Tender offer Terjadi ketika sebuah perusahaan membeli saham yang beredar perusahaan lain tanpa persetujuan manajemen target firm, dan disebut tender offer karena merupakan hostile takeover. Target firm akan tetap bertahan selama tetap ada penolakan terhadap penawaran. Banyak tender offer yang kemudian berubah menjadi merger karena bidding firm berhasil mengambil alih kontrol target firm.

d. Acquisistion of assets Sebuah perusahaan membeli aset perusahaan lain melalui persetujuan pemegang saham target firm. (p.835). Pembagian akuisisi tersebut berbeda menurut Ross, Westerfield, dan Jaffe 2002. Menurut mereka hanya ada tiga cara untuk melakukan akuisisi, yaitu : a. Merger atau konsolidasi Merger adalah bergabungnya perusahaan dengan perusahaan lain. Bidding firm tetap berdiri dengan identitas dan namanya, dan memperoleh semua aset dan kewajiban milik target firm. Setelah merger target firm berhenti untuk menjadi bagian dari bidding firm. Konsolidasi sama dengan merger kecuali terbentuknya perusahaan baru. Kedua perusahaan sama-sama menghilangkan keberadaan perusahaan secara hukum dan menjadi bagian dari perusahaan baru itu, dan antara perusahaan yang di-merger atau yang me-merger tidak dibedakan. b. Acquisition of stock Akuisisi dapat juga dilakukan dengan cara membeli voting stock perusahaan, dapat dengan cara membeli sacara tunai, saham, atau surat berharga lain. Acquisition of stock dapat dilakukan dengan mengajukan penawaran dari suatu perusahaan terhadap perusahaan lain, dan pada beberapa kasus, penawaran diberikan langsung kepada pemilik perusahaan yang menjual. Hal ini dapat disesuaikan dengan melakukan tender offer. Tender offer adalah penawaran kepada publik untuk membeli saham target firm, diajukan dari sebuah perusahaan langsung kepada pemilik perusahaan lain. c. Acquisition of assets Perusahaan dapat mengakuisisi perusahaan lain dengan membeli semua asetnya. Pada jenis ini, dibutuhkan suara pemegang saham target firm sehingga tidak terdapat halangan dari pemegang saham minoritas, seperti yang terdapat pada acquisition of stock (p.817-818). Sedangkan berdasarkan jenis perusahaan yang bergabung, merger atau akuisisi dapat dibedakan : a. Horizontal merger terjadi ketika dua atau lebih perusahaan yang bergerak di bidang industri yang sama bergabung. b. Vertical merger terjadi ketika suatu perusahaan mengakuisisi perusahaan supplier atau customernya. c. Congeneric merger terjadi ketika perusahaan dalam industri yang sama tetapi tidak dalam garis bisnis yang sama dengan supplier atau customernya. Keuntungannya adalah perusahaan dapat menggunakan penjualan dan distribusi yang sama. d. Conglomerate merger terjadi ketika perusahaan yang tidak berhubungan bisnis melakukan merger. Keuntungannya adalah dapat mengurangi resiko. (Gitman, 2003, p.717).

Alasan-alasan Melakukan Merger dan Akuisisi Ada beberapa alasan perusahaan melakukan penggabungan baik melalui merger maupun akuisisi, yaitu : a. Pertumbuhan atau diversifikasi

Perusahaan yang menginginkan pertumbuhan yang cepat, baik ukuran, pasar saham, maupun diversifikasi usaha dapat melakukan merger maupun akuisisi. Perusahaan tidak memiliki resiko adanya produk baru. Selain itu, jika melakukan ekspansi dengan merger dan akuisisi, maka perusahaan dapat mengurangi perusahaan pesaing atau mengurangi persaingan. b. Sinergi Sinergi dapat tercapai ketika merger menghasilkan tingkat skala ekonomi (economies of scale). Tingkat skala ekonomi terjadi karena perpaduan biaya overhead meningkatkan pendapatan yang lebih besar daripada jumlah pendapatan perusahaan ketika tidak merger. Sinergi tampak jelas ketika perusahaan yang melakukan merger berada dalam bisnis yang sama karena fungsi dan tenaga kerja yang berlebihan dapat dihilangkan. c. Meningkatkan dana Banyak perusahaan tidak dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi internal, tetapi dapat memperoleh dana untuk melakukan ekspansi eksternal. Perusahaan tersebut menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki likuiditas tinggi sehingga menyebabkan peningkatan daya pinjam perusahaan dan penurunan kewajiban keuangan. Hal ini memungkinkan meningkatnya dana dengan biaya rendah. d. Menambah ketrampilan manajemen atau teknologi Beberapa perusahaan tidak dapat berkembang dengan baik karena tidak adanya efisiensi pada manajemennya atau kurangnya teknologi. Perusahaan yang tidak dapat mengefisiensikan manajemennya dan tidak dapat membayar untuk mengembangkan teknologinya, dapat menggabungkan diri dengan perusahaan yang memiliki manajemen atau teknologi yang ahli. e. Pertimbangan pajak Perusahaan dapat membawa kerugian pajak sampai lebih 20 tahun ke depan atau sampai kerugian pajak dapat tertutupi. Perusahaan yang memiliki kerugian pajak dapat melakukan akuisisi dengan perusahaan yang menghasilkan laba untuk memanfaatkan kerugian pajak. Pada kasus ini perusahaan yang mengakuisisi akan menaikkan kombinasi pendapatan setelah pajak dengan mengurangkan pendapatan sebelum pajak dari perusahaan yang diakuisisi. Bagaimanapun merger tidak hanya dikarenakan keuntungan dari pajak, tetapi berdasarkan dari tujuan memaksimisasi kesejahteraan pemilik. f. Meningkatkan likuiditas pemilik Merger antar perusahaan memungkinkan perusahaan memiliki likuiditas yang lebih besar. Jika perusahaan lebih besar, maka pasar saham akan lebih luas dan saham lebih mudah diperoleh sehingga lebih likuid dibandingkan dengan perusahaan yang lebih kecil. g. Melindungi diri dari pengambilalihan Hal ini terjadi ketika sebuah perusahaan menjadi incaran pengambilalihan yang tidak bersahabat. Target firm mengakuisisi perusahaan lain, dan membiayai pengambilalihannya dengan hutang, karena beban hutang ini, kewajiban perusahaan menjadi terlalu tinggi untuk ditanggung oleh bidding firm yang berminat (Gitman, 2003, p.714-716).

Kelebihan dan Kekurangan Merger dan Akuisisi Kelebihan Merger Pengambilalihan melalui merger lebih sederhana dan lebih murah dibanding pengambilalihan yang lain (Harianto dan Sudomo, 2001, p.641) Kekurangan Merger Dibandingkan akuisisi merger memiliki beberapa kekurangan, yaitu harus ada persetujuan dari para pemegang saham masing-masing perusahaan,sedangkan untuk mendapatkan persetujuan tersebut diperlukan waktu yang lama. (Harianto dan Sudomo, 2001, p.642) Kelebihan dan Kekurangan Akuisisi Kelebihan Akuisisi Keuntungan-keuntungan akuisisi saham dan akuisisi aset adalah sebagai berikut: a. Akuisisi Saham tidak memerlukan rapat pemegang saham dan suara pemegang saham sehingga jika pemegang saham tidak menyukai tawaran Bidding firm, mereka dapat menahan sahamnya dan tidak menjual kepada pihak Bidding firm. b. Dalam Akusisi Saham, perusahaan yang membeli dapat berurusan langsung dengan pemegang saham perusahaan yang dibeli dengan melakukan tender offer sehingga tidak diperlukan persetujuan manajemen perusahaan. c. Karena tidak memerlukan persetujuan manajemen dan komisaris perusahaan, akuisisi saham dapat digunakan untuk pengambilalihan perusahaan yang tidak bersahabat (hostile takeover). d. Akuisisi Aset memerlukan suara pemegang saham tetapi tidak memerlukan mayoritas suara pemegang saham seperti pada akuisisi saham sehingga tidak ada halangan bagi pemegang saham minoritas jika mereka tidak menyetujui akuisisi (Harianto dan Sudomo, 2001, p.643-644). Kekurangan Akuisisi Kerugian-kerugian akuisisi saham dan akuisisi aset sebagai berikut : a. Jika cukup banyak pemegang saham minoritas yang tidak menyetujui pengambilalihan tersebut, maka akuisisi akan batal. Pada umumnya anggaran dasar perusahaan menentukan paling sedikit dua per tiga (sekitar 67%) suara setuju pada akuisisi agar akuisisi terjadi. b. Apabila perusahaan mengambil alih seluruh saham yang dibeli maka terjadi merger. c. Pada dasarnya pembelian setiap aset dalam akuisisi aset harus secara hukum dibalik nama sehingga menimbulkan biaya legal yang tinggi. (Harianto dan Sudomo, 2001, p.643) Contoh Merger dan Akuisisi: Sukses merger dari bank papan atas seperti Bank Mandiri, Bank Danamon dan Bank Permata telah merangsang bank-bank pada papan menengah seperti Bank Haga dan Bank Hagakita untuk bergabung dengan pihak bank asing Rabobank. Dan terakhir ini kita melihat adanya minat dari bank-bank kecil menengah (Bank Harta, Bank Mitraniaga, Bank Harmoni) untuk melakukan strategi serupa. Daftar Akuisisi dan Merger Bank di Indonesia antara lain: Nama Bank Akuisisi Saham % 01. Konsorsium Wishart Bank Anglomas Intl 90

02. Hana Bank + IFC Bank Bintang Manunggal 61 03. Triputra Persada R Bank Purba Danarta 81,49 04. Kharisma Putra K Bank Ina Perdana 55 05. Dian Intan Pertiwi Bank Finconesia 51 06. Bank Victoria Bank Swaguna 99,79 07. Rabobank Bank Haga & Hagakita 08. BoTM-UFJ+Acom Bank Nusantara P 75,41 09. Bank Commonwealth Bank Arta Niaga K 80 10. BRI Bank Jasa Arta 100 11. Bank of India Bank Swadesi 90 12. ICBC Bank Halim 90 13. Bank Index Selindo Bank Harmoni 14. Bank Multicor Bank Windu Kentjana 15. Bank Panin Bank Harfa 100 16. Bank Mandiri Bank Sinar H (Bali) 80

Bank Mandiri
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Artikel ini membahas tentang Bank Mandiri setelah 2 Oktober 1998. Untuk sejarah keempat bank sebelum penggabungan, lihat Bank Bumi Daya, Bank Dagang Negara, Bank Ekspor Impor Indonesia, dan Bank Pembangunan Indonesia.

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk.

Jenis Industri

Badan Usaha Milik Negara publik Jasa keuangan Bank Bumi Daya Bank Dagang Negara Bank Ekspor Impor Indonesia Bank Pembangunan Indonesia Masih beroperasi 2 Oktober 1998 Pemerintah Indonesia Jakarta, Indonesia 1.296 kantor cabang[1] Indonesia Kepulauan Cayman[2] Cina[2]

Pendahulu

Penerus Didirikan Pendiri Kantor pusat Jumlah lokasi

Daerah layanan

Hong Kong[2] Singapura[2] Timor Leste[2] Britania Raya[2]

Tokoh penting

Edwin Gerungan (Presiden Komisaris) Zulkifli Zaini (Presiden Direktur) Mandiri Tabungan Mandiri Deposito e-Toll Card dll Tabungan Giro Deposito Pinjaman Investasi dll Rp 32,598 Triliun (FY 2010)[3] Rp 10,824,074.00 Triliun (FY 2010)[4] Rp 7,155 Triliun (FY 2010)[3] Rp 5,700 Triliun (FY 2010)[5] Rp 394,616 Triliun (FY 2010)[5] Rp 35,108 Triliun (FY 2010)[5] Pemerintah Indonesia 24 ribu orang[1] Kementerian BUMN

Produk

Jasa

Pendapatan Laba usaha Laba bersih AUM Jumlah aset Jumlah ekuitas Pemilik Karyawan Induk

Bank Syariah Mandiri[1] Mandiri Sekuritas[1] Anak perusahaan AXA-Mandiri Financial Services[1] Bank Sinar Harapan Bali[1] Mandiri Tunas Finance[1] Situs web www.bankmandiri.co.id

PT Bank Mandiri (PERSERO) Tbk. (IDX: BMRI) adalah bank yang berkantor pusat di Jakarta,[6] dan merupakan bank terbesar di Indonesia dalam hal aset, pinjaman, dan deposit. Bank ini berdiri pada tanggal 2 Oktober 1998 sebagai bagian dari program restrukturisasi perbankan yang dilaksanakan oleh Pemerintah Indonesia. Pada bulan Juli 1999, empat bank milik Pemerintah yaitu, Bank Bumi Daya (BBD), Bank Dagang Negara (BDN), Bank Ekspor

Impor Indonesia (Bank Exim), dan Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo), digabungkan[7] ke dalam Bank Mandiri.

Daftar isi
[sembunyikan]

1 Sejarah o 1.1 Pra-penggabungan 1.1.1 Bank Dagang Negara 1.1.2 Bank Bumi Daya 1.1.3 Bank Ekspor Impor Indonesia 1.1.4 Bank Pembangunan Indonesia o 1.2 Pasca-penggabungan o 1.3 Slogan 2 Produk 3 Referensi 4 Pranala luar

[sunting] Sejarah
[sunting] Pra-penggabungan

Sejarah keempat Bank (BBD, BDN, Bank Exim, dan Bapindo) tersebut sebelum bergabung menjadi Bank Mandiri, dapat ditelusuri lebih dari 140 tahun yang lalu. Keempat bank nasional tersebut telah turut membentuk riwayat perkembangan dunia perbankan Indonesia, dan masing-masing telah memainkan peranan yang penting dalam pembangunan ekonomi di Indonesia.
[sunting] Bank Dagang Negara Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Dagang Negara

Bank Dagang Negara merupakan salah satu bank tertua di Indonesia. Sebelumnya Bank Dagang Negara dikenal sebagai Nederlandsch Indische Escompto Maatschappij yang didirikan di Batavia (Jakarta) pada tahun 1857. Pada tahun 1949 namanya berubah menjadi Escomptobank NV. Selanjutnya, pada tahun 1960 Escomptobank dinasionalisasi dan berubah nama menjadi Bank Dagang Negara, sebuah Bank pemerintah yang membiayai sektor industri dan pertambangan.
[sunting] Bank Bumi Daya Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Bumi Daya

Bank Bumi Daya didirikan melalui suatu proses panjang yang bermula dari nasionalisasi sebuah perusahaan Belanda De Nationale Handelsbank NV, menjadi Bank Umum Negara pada tahun 1959. Pada tahun 1964, Chartered Bank (sebelumnya adalah Bank milik Inggris) juga dinasionalisasi, dan Bank Umum Negara diberi hak untuk melanjutkan operasi Bank tersebut. Pada tahun 1965, bank umum negara digabungkan ke dalam Bank Negara Indonesia

dan berganti nama menjadi Bank Negara Indonesia Unit IV beralih menjadi Bank Bumi Daya.
[sunting] Bank Ekspor Impor Indonesia Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Ekspor Impor Indonesia

Bank Ekspor Impor Indonesia (Bank Exim) berawal dari perusahaan dagang Belanda N.V. Nederlansche Handels Maatschappij yang didirikan pada tahun 1842 dan mengembangkan kegiatannya di sektor perbankan pada tahun 1870. Pemerintah Indonesia menasionalisasi perusahaan ini pada tahun 1960, dan selanjutnya pada tahun 1965 perusahan ini digabung dengan Bank Negara Indonesia menjadi Bank Negara Indonesia Unit II. Pada tahun 1968 Bank Negara Indonesia Unit II dipecah menjadi dua unit, salah satunya adalah Bank Negara Indonesia Unit II Divisi Expor Impor, yang akhirnya menjadi BankExim, bank Pemerintah yang membiayai kegiatan ekspor dan impor.
[sunting] Bank Pembangunan Indonesia Artikel utama untuk bagian ini adalah: Bank Pembangunan Indonesia

Bank Pembangunan Indonesia (Bapindo) berawal dari Bank Industri Negara (BIN), sebuah Bank Industri yang didirikan pada tahun1951. Misi Bank Industri Negara adalah mendukung pengembangan sektor sektor ekonomi tertentu, khususnya perkebunan, industri, dan pertambangan. Bapindo dibentuk sebagai bank milik negara pada tahun 1960 dan BIN kemudian digabung dengan Bank Bapindo. Pada tahun 1970, Bapindo ditugaskan untuk membantu pembangunan nasional melalui pembiayaan jangka menengah dan jangka panjang pada sektor manufaktur, transportasi dan pariwisata.
[sunting] Pasca-penggabungan

Logo lama Bank Mandiri (Oktober 1998 - Desember 2007)

Bank Mandiri dibentuk pada 2 Oktober 1998, dan empat bank asalnya efektif mulai beroperasi sebagai bank gabungan pada pertengahan tahun 1999. Setelah selesainya proses merger, Bank Mandiri kemudian memulai proses konsolidasi, termasuk pengurangan cabang dan pegawai. Selanjutnya diikuti dengan peluncuran single brand di seluruh jaringan melalui iklan dan promosi. Salah satu pencapaian penting adalah penggantian secara menyeluruh platform teknologi. Bank Mandiri mewarisi sembilan sistem perbankan dari keempat legacy banks. Setelah investasi awal untuk konsolidasi sistem yang berbeda tersebut, Bank Mandiri mulai melaksanakan program penggantian platform yang berlangsung selama tiga tahun, dimana program pengganti tersebut difokuskan untuk meningkatkan kemampuan penetrasi di segmen retail banking.

Pada saat ini, infrastruktur teknologi informasi Bank Mandiri sudah mampu melakukan pengembangan e-channel & produk retail dengan Time to Market yang lebih baik. Dalam proses penggabungan dan pengorganisasian ulang tersebut, jumlah cabang Bank Mandiri dikurangi sebanyak 194 buah dan karyawannya berkurang dari 26.600 menjadi 17.620. Direktur Utamanya yang pertama adalah Robby Djohan. Kemudian pada Mei 2000, posisi Djohan digantikan ECW Neloe. Neloe menjabat selama lima tahun, sebelum digantikan Agus Martowardojo sebagai Direktur Utama sejak Mei 2005. Neloe menghadapi dugaan keterlibatan pada kasus korupsi di bank tersebut. Pada Maret 2005, Bank Mandiri mempunyai 829 cabang yang tersebar di sepanjang Indonesia dan enam cabang di luar negeri. Selain itu, Bank Mandiri mempunyai sekitar 2.500 ATM dan tiga anak perusahaan utama yaitu Bank Syariah Mandiri, Mandiri Sekuritas, dan AXA Mandiri. Nasabah Bank Mandiri yang terdiri dari berbagai segmen merupakan penggerak utama perekonomian Indonesia. Berdasarkan sektor usaha, nasabah Bank Mandiri bergerak dibidang usaha yang sangat beragam. Sebagai bagian dari upaya penerapan prudential banking & best-practices risk management, Bank Mandiri telah melakukan berbagai perubahan. Salah satunya, persetujuan kredit dan pengawasan dilaksanakan dengan foureye principle, dimana persetujuan kredit dipisahkan dari kegiatan pemasaran dan business unit. Sebagai bagian diversifikasi risiko dan pendapatan, Bank Mandiri juga berhasil mencetak kemajuan yang signifikan dalam melayani Usaha Kecil dan Menengah (UKM) dan nasabah ritel. Pada akhir 1999, porsi kredit kepada nasabah corporate masih sebesar 87% dari total kredit, sementara pada 31 Desember 2009, porsi kredit kepada nasabah UKM dan mikro telah mencapai 42,22% dan porsi kredit kepada nasabah consumer sebesar 13,92%, sedangkan porsi kredit kepada nasabah corporate mencakup 43,86% dari total kredit. Sesudah menyelesaikan program transformasi semenjak 2005 sampai dengan tahun 2009, Bank Mandiri sedang bersiap melaksanakan transformasi tahap berikutnya dengan merevitalisasi visi dan misi untuk menjadi Lembaga Keuangan Indonesia yang paling dikagumi dan selalu progresif.
[sunting] Slogan

1998-2002 : o Bank Terpercaya Pilihan Anda 2003-2004 : o Satu Hati, Satu Negeri, Satu Bank 2005-2007 : o Melayani Dengan Hati, Menuju Yang Terbaik 2008-sekarang : o Terdepan, Terpercaya, Tumbuh Bersama Anda

[sunting] Produk
Lihat pula: Daftar Produk Bank Mandiri

[sunting] Referensi
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. ^ a b c d e f g News Release Mandiri, data diakses 06 Januari 2011. ^ a b c d e f Overseas Networks, data diakses 06 Januari 2011. ^ a b Fundamental Keuangan, data diakses 06 Januari 2011. ^ Pendapatan operasional, data diakses 06 Januari 2011. ^ a b c Annual Balance Sheet, data diakses 06 Januari 2011. ^ "Bank Mandiri Head Office Address." Bank Mandiri. Diakses pada 16 September 2010. ^ Laporan Tahunan Mandiri 2009, data diakses 6 Januari 2011.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bank_Mandiri