Anda di halaman 1dari 8

MAKALAH TOKSIKOLOGI

DI SUSUN OLEH : 1. Tretya Ardyani 2. Nanang Rudianto Ariefta 3. Susanti 4. Rimma Hilda K. 5. Deeska Noto Nagoro 6. Lamia Eva Rini 7. Husniya Primastuti 8. Siti Unamah NIM.08307141002 NIM.08307141003 NIM.08307141004 NIM.08307141007 NIM.08307141009 NIM.08307141010 NIM.08307141039 NIM.07307141001

PROGRAM STUDI KIMIA JURUSAN PENDIDIKAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2011/2012

TOKSISITAS KARBON MONOKSIDA (CO) PENDAHULUAN Pencemaran udara adalah suatu kondisi di mana kualitas udara menjadi rusak dan terkontaminasi oleh zat-zat, baik yang tidak berbahaya maupun yang membahayakan kesehatan tubuh manusia. Pencemaran udara biasanya terjadi di kota-kota besar dan juga daerah padat industri yang menghasilkan gas-gas yang mengandung zat di atas batas kewajaran, gas-gas yang berbahaya tersebut diantaranya CO, CO2, NO, NO2, SO, SO2. Gas CO merupakan penyebab utama pencemaran udara dikarenakan semakin sempitnya lahan hijau atau pepohonan di suatu daerah dan semakin meningkatnya volume kendaraan yang tidak diimbangi dengan penghijauan sehingga banyak gas CO yang tidak terserap oleh pepohonan dan akibatnya dapat memperburuk kualitas udara di tempat tersebut. Karbon monoksida atau CO adalah gas yang tak berwarna, tak berbau, tak berasa dan dapat berbentuk cairan pada suhu dibawah -129OC, mempunyai berat jenis sedikit lebih ringan dari udara (menguap secara perlahan ke udara). Karbon monoksida tersusun dari satu atom karbon yang secara kovalen berikatan dengan satu atom oksigen, dalam ikatan ini, terdapat dua ikatan kovalen dan satu ikatan kovalen koordinasi antara atom karbon dan oksigen. Karbon monoksida dihasilkan dari pembakaran tak sempurna dari senyawa karbon, sering terjadi pada mesin pembakaran. Karbon monoksida terbentuk apabila terdapat kekurangan oksigen dalam proses pembakaran. Gas CO atau karbon monoksida adalah gas yang bersifat membunuh makhluk hidup termasuk manusia. Gas CO ini akan mengganggu pengikatan oksigen pada darah karena CO lebih mudah terikat oleh darah dibandingkan dengan oksigen dan gas-gas lainnya. Pada kasus darah yang tercemar karbon monoksida dalam kadar 70% hingga 80% dapat menyebabkan kematian pada orang.

A. Ruang Lingkup Toksikologi Ruang lingkup Toksikologi terbagi menjadi tiga macam, yakni : 1. Toksikologi Lingkungan 2. Toksikologi Ekonomi 3. Toksikologi Kehakiman

Toksikologi lingkungan (Environmental Toxicology)- berhubungan dengan dampak zat kimia yang berpotensi merugikan, yang muncul sebagai polutan lingkungan bagi organisme hidup. Istilah lingkungan mencakup udara, tanah, dan air. Polutan adalah suatu zat yang didapatkan dalam lingkungan, yang mempunyai efek merugikan bagi kehidupan organism, khususnya manusia; yang sebagian merupakan perbuatan manusia. Keracunan CO merupakan salah satu contoh dari toksikologi lingkungan. Karbon monoksida merupakan polutan primer. Polutan primer adalah polutan yag dikeluarkan langsung dari sumber tertentu. CO dihasilkan dari berbagai asap kendaraan maupun dari industri. Keracunan CO dapat dikatakan toksikologi lingkungan hal ini dikarenakan karbon monoksida muncul sebagai pencemar lingkungan khususnya udara. B. Kondisi efek efek toksik Yang dimaksud dengan kondisi efek toksik adalah berbagai keadaan atau faktor yang dapat mempengaruhi keefektifan absorpsi, distribusi, dan eliminasi zat beracun di dalam tubuh, sehingga akan menentukan keberadaan zat kimia utuh atau metabolitnya di dalam sel sasaran serta toksisitasnya. Yang termasuk ke dalam kondisi efek toksik adalah kondisi pemejanan yang meliputi jenis pemejanan (akut, sub akut atau kronis), jalur pemejanan (intravaskuler atau ekstravaskuler), lama pemejanan dan kekerapan pemejanan, saat pemejanan dan takaran atau dosis pemejanan. Selain itu termasuk pula dalam kondisi efek toksik ialah kondisi subyek atau makhluk hidup, meliputi keadaan fisiologi (misalnya : berat badan, umur, suhu tubuh, kecepatan pengosongan lambung, kecepatan aliran darah, status gizi, kehamilan, genetika, jenis kelamin, ritme sirkadian, ritme diurnal, dan keadaan patologi misalnya : penyakit saluran cerna, kardiovaskular, hati dan ginjal) berbagai macam kondisi itu, akan mempengaruhi ketersediaan zat beracun atau metabolitnya di dalam sel sasaran atau keefektifan antaraksinya, dengan sel sasaran. Dengan cara demikian akan menentukan ketoksikan sesuatu zat beracun. Jadi jelaslah bahwa ketoksikan zat beracun, salah satunya ditentukan oleh kondisi efek toksiknya. Gas karbonmonoksida merupakan salah satu gas beracun yang dapat memberikan kondisi efek toksik dalam keadaan patologi yakni efek racun pada tubuh melalui efek lokal pada saluran pernafasan dan paru-paru. hidung, tenggorokan Beberapa gas dapat menyebabkan iritasi pada

dan saluran pernafasan bagian atas dan dapat menyebabkan batuk dan susah bernafas juga dapat dapat merusak paru-paru dengan mekanisme tertentu sehingga menyebabkan paru-paru terisi air. Hal ini dapat terjadi segera setelah seseorang menghirup gas tersebut atau dapat juga terjadi hingga 48 jam kemudian. Orang dengan paru-paru terisi air tidak dapat bernafas dengan baik. Karbon monoksida adalah suatu gas yang tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa yang merupakan hasil pembakaran yang tidak sempurna dari material karbon. Karbon monoksida yang berasal dari kendaraan bermotor dapat menyebabkan kematian tidak hanya pada ruangan tertutup tetapi juga pada ruangan semi tertutup. Dalam ruangan atau garasi tertutup, konsentrasi letal karboksihemoglobin dapat dicapai dalam waktu sepuluh menit. Keracunan gas karbon monoksida dapat ditandai dari keadaan ringan, berupa pusing, rasa tidak enak pada mata, sakit kepala, dan mual. Keadaan yang lebih berat dapat berupa detak jantung meningkat, rasa tertekan di dada, kesukaran bernafas, kelemahan otot-otot, gangguan pada sisten kardiovaskuler, serangan jantung sampai pada kematian. Efek toksik sebagai akibat dari terhirup dan terserapnya gas karbon monoksida terjadi karena karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dan menggantikan oksigen dalam darah. C. Wujud Efek Toksik CO selalu dihubungkan dengan sifat utamanya yang menghambat pengikatan oksigen, dengan mengeluarkan oksigen dari susunan kompleks yang reversibel antara CO dan molekul hemoglobin (Hb); kompleks ini dikenal sebagai karboksihemoglobin (COHb). COHb tidak dapat mentransport cukup oksigen seperti pada Hb normal; karena afinitas Hb terhadap CO 200 kali lebih besar dibandingkan dengan oksigen, konsentrasi yang kecil dari CO pada udara dapat dengan mudah menggantikan oksigen pada sirkulasi Hb. D. Mekanisme Toksiksitas Karbon Monoksida Efek toksik sebagai akibat dari terhirup dan terserapnya gas karbon monoksida terjadi karena karbon monoksida berikatan dengan hemoglobin dan menggantikan oksigen dalam darah. Mekanisme yang tepat tentang efek dari gas CO pada sistem tubuh sangat kompleks dan belum sepenuhnya dipahami. Diketahui bahwa hal ini melibatkan gas CO yang terikat pada hemoglobin, myoglobin, dan mitochondrial cytochrome oxidase, dan peroksidasi pada

jaringan lemak di otak. Melalui absorbsi, CO terikat pada hemoglobin, yang pada dasarnya pembawa oksigen pada darah; sehingga terbentuk senyawa yang dikenal sebagai carboxyhemoglobin. Secara sederhana, dipercaya bahwa toksisitas dari CO meningkat akibat pembentukkan carboxyhemoglobin, yang juga menurunkan kapasitas pengangkutan oksigen dalam darah, dan menghambat transport, pengantaran, dan penggunaan oksigen dalam tubuh.

Karbon monoksida juga menimbulkan efek toksik langsung pada tingkat seluler dengan menghambat respirasi mitokondrial akibat terikatnya karbon monoksida dengan sitokrom oksidase. Akibatnya selain produksi energi terhambat, juga terjadi pembentukan radikal bebas yang semakin memperberat kerusakan jaringan berbeda dengan hemoglobin, afinitas sitokrom oksidase terhadap oksigen lebih besar dibandingkan terhadap karbon monoksida . Namun, adanya keadaan anoksia sel akan memudahkan interaksi antara sitokrom oksidase dan karbon monoksida. Meskipun hanya dengan konsentrasi rendah di udara dapat menghasilkan saturasi darah yang sangat tinggi dengan gas ini. Dengan konsentrasi 0,5 sampai 1% (5000 10000 bagian per juta) di udara dapat menghasilkan tingkat saturasi karboksihemoglobin sebesar 75% dalam 2 sampai 15 menit. Kelembaban, suhu lingkungan

yang tinggi, pada daerah ketinggian dan aktifitas fisik akan meningkatkan kecepatan respirasi, dan juga absorpsi karbon monoksida. Mekanisme lain yang dianggap berpengaruh secara signifikan terhadap munculnya efek lanjut meliputi pelepasan mediator-mediator kimia yang menyebabkan peroksidasi lipid otak. Karbon monoksida menyebabkan sel endotel dan platelet melepaskan nitrit oksida dan pembentukan radikal bebas oksigen termasuk peroksinitrit. Pada otak, hal ini menyebabkan disfungsi lebih lanjut dari mitokondria, kebocoran kapiler, sekuestrasi leukosit dan apoptosis. Hasil akhirnya berupa peroksidasi lipid ( degradasi asam lemak tak jenuh ) yang menyebabkan demielinisasi reversibel dari substansia alba sistem saraf pusat, dan dapat menyebabkan edema dan nekrosis fokal dalam otak. CO tidak dapat dikeluarkan dari dalam tubuh kecuali jika ada pernafasan aktif. Waktu rata-rata yang diperlukan oleh seorang yang beristirahat untuk mengeluarkan CO sampai kadarnya menjadi konsentrasi semula (waktu paruh) adalah 250 menit. Jika sebagai ganti udara dipakai oksigen maka keseimbangan : HbO2 + CO COHb + O2 (akan bergeser ke kiri) Kesetimbangn ini bergeser sehingga waktu yang diperlukan untuk membuat kadar COHb menjadi berkurang dari semula hanya berlangsung 40 menit. Jika pada O2 ini ditambah CO2 5%, waktu yang dibutuhkan akan berkurang lagi menjadi 13,7 menit. Pemberian CO2 5% ini akan menyebabkan terjadinya hiperventilasi serta penutunan Ph darah yang akan mempercepat pembuangan CO ini. Pemberian O2 dengan tekanan 2 atmosfir akan lebih mempercepat lagi eliminasi COHb menjadi hanya 7,6 menit.. E. Sifat Efek Toksik Efek toksik dari bahan-bahan kimia sangat bervariasi dalam sifat, organ sasaran, maupun mekanisme kerjanya. Beberapa bahan kimia dapat menyebabkan cedera pada tempat yang terkena bahan tersebut (efek lokal), bisa juga efek sistemik setelah bahan kimia diserap dan tersebar ke bagian organ lainnya. Efek toksik ini dapat bersifat terbalikkan, artinya dapat hilang dengan sendirinya atau tidak terbalikkan, yaitu akan menetap atau bertambah parah setelah pajanan toksikan dihentikan.

Sifat efek toksik dari karbon monoksida (CO) adalah dapat terbalikkan dan dapat tak terbalikkan. Dapat terbalikkan apabila konsentrasi karbon monoksida yang masuk ke tubuh dalam jumlah yang relatif sedikit, waktu pemejanan yang singkat, kondisi subjek sehat dan umur produktif. Dapat juga memberikan efek yang tak terbalikkan jika konsentrasi karbon monoksida yang diserap tubuh dalam jumlah yang besar, waktu pemejanan yang lama, kondisi subjek yang sedang sakit dan pada usia anak-anak serta lansia. F. Cara Menanggulangi Gas CO Untuk dapat menanggulangi terjadinya pencemaran karbon monoksida (CO) dapat dilakukan beberapa usaha antara lain: 1. mengganti bahan bakar kendaraan bermotor dengan bahan bakar yang tidak menghasilkan gas karbon monoksida dan diusahakan pula agar pembakaran yang terjadi berlangsung secara sempurna. 2. 3. pengolahan/daur ulang atau penyaringan limbah asap industri. penghijauan untuk melangsungkan proses fotosintesis (taman bertindak sebagai paru-paru kota). 4. 5. tidak melakukan pembakaran hutan secara sembarangan. melakukan reboisasi/penanaman kembali pohon-pohon pengganti yang penting adalah untuk membuka lahan tidak dilakukan pembakaran hutan, melainkan dengan cara mekanik. 6. manusia juga tetap harus memperhatikan dan mengatur sistem ventilasi dalam ruangan dengan baik, sehingga terhindar dari gangguan gas CO.

Pemerintah telah menetapkan batas emisi yang dapat diterima bagi setiap kendaraan. Oleh karenanya para pemilik kendaraan harus merawat kendaraan secara berkala agar kadar gas buang kendaraan memenuhi batas yang diijinkan pemerintah. Atau menambah alat catalytic converter pada sistem pembakaran kendaraan sehingga akan menurunkan kadar CO dari gas buang sampai 90 % . Percampuran yang baik antara udara dan bahan bakar terutama yang terjadi pada mesin-mesin yang menggunakan Turbocharge merupakan salah satu strategi untuk meminimalkan emisi CO. Strategi penurunan kadar karbon monoksida akan tergantung pada pengendalian emisi seperti pengggunaan bahan katalis yang mengubah bahan karbon monoksida menjadi karbon dioksida dan penggunaan bahan bakar terbarukan yang rendah polusi bagi kendaraan bermotor.

Daftar Pustaka

Fardiaz, Srikandi. 1992. Polusi Udara dan Air. Yogyakarta : Kanisius Hodgson, Ernest. 2004. A Text Book of Modern Toxycology 3rd edition. New York : John Willey and Son, inc Schmitz ,Gery & Hans Lepper Michael Heidrich. 2001. FARMAKOLOGI dan TOKSIKOLOGI edisi 3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC Sumardjo, Darmin. 2009. Pengantar Kimia Buku Panduan kuliah Mahasiswa Kedokteran dan Program Strata 1 Fakultas Bioeksakta. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC Timbrell, John. 2000. Principlesn of Biochemical Toxicology. London: Taylor & Francais Williams, Phillip L., Robert J. James, Stephen M. Robert. 2000. Principles of Toxycology: environmental and industrial application. New York: John Willey and Son, inc