Anda di halaman 1dari 33

BAB I PENDAHULUAN

A. Pengertian muamalah Dr. Kaelany HD., MA mengatakan dalam bukunya, Islam Agama Universal, bahwa ajaran Islam sangatlah luas. Ulama dengan berlandaskan hadist membagi ajaran Islam tersebut dalam tiga pokok bahasan, yaitu Aqidah, Syariah (ibadah dan muamalah), dan Akhlak. Syariah adalah sebutan terhadap pokok ajaran Allah dan Rasulnya yang merupakan jalan atau pedoman hidup manusia dalam melakukan hubungan vertical kepada Pencipta, Allah SWT, dan juga kepada sesama manusia. Ada dua pendekatan dalam mendefinisikan Syariah, yaitu antara lain: 1. Dari segi tujuan, Syariah memiliki pengertian ajaran yang menjaga kehormatan manusia sebagai makhluk termulia dengan memelihara atau menjamin lima hal penting, yaitu: a) Menjamin kebebasan beragama (Berketuhanan Yang Maha Esa) b) Menjamin kehiupan yang layak (memelihara jiwa) c) Menjamin kelangsungan hidup keluarga (menjaga keturunan) d) Menjamin kebebasan berpikir (memelihara akal) e) Menjamin kehidupan dengan tersedianya lapangan kerja yang pantas (memelihara harta) Lima hal pemeliharaan itu akan menjadi ukuran dari lima hukum Islam, seperti wajib, sunnat, haram, makruh, dan mubah. 2. Ditinjau dari segi klasifikasi.

Terdiri dari ibadah dan muamalah. 1) Pengertian muamalah menurut bahasa Etiomologi: Muamalah dari kata ( )yang merupakan istilah yang digunakan untuk mengungkapkan semua perbuatan yang dikehendaki mukallaf. muamalah mengikuti pola ( )yang bermakna bergaul () Terminologi: Muamalah adalah istilah yang digunakan untuk permasalahan selain ibadah.

2)

Pengertian muamalah menurut istilah 1

a) Arti luas Menurut Ad-Dimyathi : Suatu aktivitas keduniaan untuk mewujudkan keberhasilan akhirat Menurut Yusuf Musa : Peraturan-peraturan Allah yang harus diikuti dan ditaati dalam hidup bermasyarakat untuk menjaga kepentingan manusia Segala peraturan yang diciptakan Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam kehidupannya Menurut Dr.Abdul Sattar Fathullah Said : Fiqh muamalat ialah hukum syariah yang berkaitan dengan transaksi manusia mengenai jual beli, gadai, perdagangan, pertanian, sewamenyewa, perkongsian, perkawinan, penyusuan thalak, iddah, hibah & hadiah, washiat, warisan, perang dan damai. Jadi, muamalah dalam arti luas adalah Aturan-aturan Allah untuk mengatur manusia dalam kaitannya dengan urusan duniawi dalam pergaulan sosial. Dalam konteks muamalah dalam makna luas, Ibnu Abidin membagi muamalah kepada 5 bidang 1) Muawadhah Maliyah (hukum kebendaan) 2) Munakahat (Hukum perkawinan) 3) Muhasanat (Hukum Acara) 4) Amanat dan Ariyah (Pinjaman) 5) Tirkah (harta warisan) b) Arti sempit Menurut Khudhari Byk : Semua akad yang membolehkan manusia saling menukar manfaatnya Menurut Rasyid Ridha : Tukar menukar barang atau sesuatu yang bermanfaat dengan cara yang ditentukan Menurut Dr.Mustafa Ahmad Zarqa, Hukum-hukum tentang perbuatan manusia yang berkaitan dengan hubungan sesama manusia mengenai harta kekayaan, hak-hak dan penyelesaian sengketa. Jadi muamalah dalam arti sempit adalah Aturan-aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan manusia dalam memperoleh dan mengembangkan harta benda atau aturan tentang kegiatan ekonomi manusia Ibadah wajib berpedoman pada sumber ajaran Al-Quran dan Al-Sunnah, yaitu harus ada contoh (tatacara dan praktek) dari Nabi Muhammad SAW. Konsep ibadah ini berdasarkan kepada mamnu (dilarang atau haram). Ibadah ini antara lain meliputi shalat, zakat, puasa, dan haji. Sedangkan masalah muamalah

(hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan), masalah-masalah dunia, seperti makan dan minum, pendidikan, organisasi, dan ilmu pengetahuan dan teknologi, berlandaskan pada prinsip boleh (jaiz) selama tidak ada larangan yang tegas dari Allah dan Rasul-Nya. Berkaitan dengan hal di atas (muamalah), Nabi Muhammad SAW mengatakan: Bila dalam urusan agama (aqidah dan ibadah) Anda contohlah saya. Tapi, dalam urusan dunia Anda, (teknis muamalah), Anda lebih tahu tentang dunia Anda. Dalam ibadah, sangat penting untuk diketahui apakah ada suruhan atau contoh tata cara, atau aturan yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Apabila hal itu tidak ada, maka tindakan yang kita lakukan dalam ibadah itu akan jatuh kepada bidah, dan setiap perbuatan bidah adalah dhalalah (sesat). Sebaliknya dalam muamalah yang harus dan penting untuk diketahui adalah apakah ada larangan tegas dari Allah dan Rasul-Nya, karena apabila tidak ada, hal tersebut boleh saja dilakukan. Dalam hal ini, Dr. Kaelany juga menjelaskan adanya dua prinsip yang perlu kita perhatikan, yaitu: 1. Manusia dilarang menciptakan agama, termasuk sistem ibadah dan tata caranya, karena masalah agama dan ibadah adalah hak mutlak Allah dan para Rasul-Nya yang ditugasi menyampaikan agama itu kepada masyarakat. Maka menciptakan agama dan ibadah adalah bidah. Sedangkan setiap bidah adalah sesat. 2. Adanya kebebasan dasar dalam menempuh hidup ini, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan masalah muamalah, seperti pergaulan hidup dan kehidupan dalam masyarakat dan lingkungan, yang dikaruniakan Allah kepada umat manusia (Bani Adam) dengan batasan atau larangan tertentu yang harus dijaga. Sebaliknya melarang sesuatu yang tidak dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya adalah bidah. Dalam menjalankan keseharian, penting bagi kita untuk mengingat dua prinsip di atas. Ibadah tidak dapat dilakukan dengan sekehendak hati kita karena semua ketentuan dan aturan telah ditetapkan dalam Al-Quran dan Sunnah, serta contoh dan tata caranya telah diajarkan oleh Rasulullah SAW semasa hidupnya. Melakukan sesuatu dalam ibadah, yang tidak ada disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah berarti melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan oleh Allah SWT, dan ini sungguh merupakan perbuatan yang sesat. Namun dalam beberapa hal, tentu ada hal yang harus diperhatikan sesuai dengan perkembangan zaman. Di sini lah implikasi dari muamalah itu sendiri. Selama tidak ada larangan secara tegas di dalam Al-Quran dan Sunnah, hal yang dipertimbangkan itu boleh dilakukan. Hal ini telah diterangkan oleh Rasul dalam sabdanya yang sudah ditulis di atas. Sebagai contoh adalah dalam kehidupan sehari-hari, pada zaman hidupnya Rasulullah, masyarakat yang

mengadakan perjalanan dari satu tempat ke tempat lain menggunakan binatang Unta sebagai kendaraan. Akan tetapi hal itu tidak mungkin sama dalam kehidupan zaman modern ini. Dan karenanya, menggunakan kendaraan bermotor diperbolehkan karena tidak ada larangan dari Allah dan Rasul-Nya (tidak tertera larangan yang tegas dalam Al-Quran dan Sunnah).

BAB II
4

PEMBAHASAN
A. Implementasi Muamalah Dalam Sejarah Modern Jika berbicara mengenai peradaban, maka Islam sebagai sebuah agama tidak dapat dipisahkan dari munculnya peradaban modern dunia. Jika kita sederhanakan,p eradaban modern adalah peradaban yang sudah lebih maju sesuai dengan tuntutan zaman dan memberikan kontribusi positif bagi kehidupan manusia. Sejarah tel ah mencatat Islam sebagai sebuah agama telah membuktikan mampu menandingi peradaban dunia. Pada abad ke-8 hingga abad ke-12, wilayah yang peradabann ya dianggap paling maju adalah wilayah Timur Tengah, dengan Baghdad sebagai ibu kotanya. Baghdad yang saat itu dikuasai oleh kekhalifahan Abbasiyah adalah model era keemasan peradaban. Kemajuan peradaban muncul seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan implementasi nilai moral dalam kehidupan. Sehingga barometer suatu peradab an dapat terukur dari sejauh mana kemajuan ilmu pengetahuan dan moral di suatu wilayah. Sebagai contoh, kita melihat di daerah Makkah pada masa pra kenabian Muhammad Saw., saat itu terkenal dengan masa jahiliyah (bodoh). Keterbelakangan penduduknya dalam ilmu pengetahuan membawa pada peradaban yang terpur uk. Bukan hanya karena kebodohan para penduduknya saja, tetapi nilai moral, akhlak dan sikap terpuji juga telah memudar bahkan hilang dalam diri mereka. Sehingga tidak muncul adanya interaksi sosial yang sehat dan saling sinergi. Begitu pula di daratan Eropa pada abad ke-16, otoritas gereja begitu membelenggu para ilmuwan dalam berpendapat dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Terjadi pengekangan terhadap pengembangan ilmu pengetahuan dengan dogma dan doktrin yang dilakukan oleh gereja. Hal tersebut memicu munculnya the dark age di wilayah Eropa yang membawa kepada keterpurukan peradaban. Tetapi di masa kekhalifahan Abbasiyah membuktikan bahwa Islam mampu membangun peradaban maju di dunia. Pada sebuah kerajaan yang menjadikan Islam sebagai dasar pemerintahannya. Islam merupakan agama yang universal dan menyeluruh. Agama yang berisikan ajaran mengenai pola kehidupan manusia baik dalam tataran fungsi ukhrawi maupun duniawi. Agama yang bukan hanya mengatur pola hubungan manusia dengan Tuhannya tetapi mengatur pula hubungan antar sesama manusia dan seluruh alam semesta. Islam merupakan agama yang selalu mengajak umatnya agar selalu proaktif terhadap fenomena kehidupan yang terjadi. Menganjurkan kepada pemeluknya agar selalu menginisiatif dan memberikan kemaslahatan bersama. Sehingga, tak salah jika Islam merupakan agama

peradaban. Islam memberikan keleluasaan kepada para ilmuwan dan ulama untuk mempelajari seluruh fenomena kehidupan. Bukan hanya itu, Islam memberikan keutamaan kepada siapa pun yang senantiasa mempelajari ilmu. Ditambah lagi semangat mengamalkan hadits Rasul Saw. yang menyebutkan bahwa seorang terbaik adalah yang palin g banyak memberikan manfaat bagi bersama. Sabda Rasulullah Saw: Yang artinya Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling banyak memberikan manfaat kepada orang lain. (HR. Ath-Thabrani) Sehingga para ilmuwan dan ulama pun berlomba-lomba menghadirkan manfaat dan kemaslahatan bagi bersama. Mereka mengkaji dan menulis berbagai bidang ilmu yang didasari dari pemahaman mereka terhadap ajaran Islam. Diantara bidang ilmu dalam Islam, fiqih muamalah yang lebih banyak membahas tentang kehidupan dan interaksi antar sesama. Sehingga wajar jika fiqih muamalah juga memberikan kontribusi dalam membangun peradaban Islam. Lalu bagaimana fiqih muamalah mampu memberikan andil terhadap pemahaman yang utuh dalam menjadikan peradaban yang modern dan maju. Sejarah sudah membuktikannya betapa Islam mampu menjadikan peradaban maju. Tetapi rea lita Islam saat ini yang sudah sangat jauh dari kondisi pada abad ke-12 silam. Kondisi ini pula memperlemah keyakinan umat Islam sendiri terhadap ajarannya.

Cakupan dan Ruang Lingkup Muamalah di Zaman Modern


Sebagaimana telah dibahas, pengertian fiqih muamalah adalah ilmu ya ng bersumber dari Al-Quran dan AlSunnah yang mengatur hubungan interaksi antar sesama manusia demi terciptanya kemaslahatan bersama. Jika melihat hal tersebut, kajian dalam interaksi sosial tentu memiliki cakupan yang luas. Sehingga wajar jika fiqih muamalah memiliki andil besar dalam membangun peradaban Islam. Adapun cakupan dari fiqih muamalah terdiri dari hukum keluarga (al-ahwal al -syakhsiyah), hukum privat/perdata/sipil (al-qanun al-madani), hukum pidana (al-qanunal-jaza`i), hukum politik (siyasah syariyyah) dan hukum internasional (al-qanun al-dauli). (Ensiklopedi Hukum Islam, 1997: 357) 1. Al-Ahwal al-Syakhsiyah Dalam al-ahwal al-syakhsiyah dibahas mengenai tuntunan membina keluarga. Tuntunan tentang bagaimana meminang (khitbah), menikah, bercerai (thalaq) dan hubungan diantara suami dengan istri dan keluarganya. Saat ini hukum tentang keluarga ini dibahas dalam fiqih munakahat. Termasuk al-ahwal alsyakhsiyah meliputi masalah waris dan wasiat. 2. Al-Qanun al-Madani Al-qanun al-madani yaitu hukum yang menyangkut kebendaan, seperti jual beli,sewa menyewa, pinjam meminjam, syarikat (kongsi perusahaan). Termasuk didalamnya dibahas tentang hak d

an syarat pelakunya. Masalah inilah yang lebih banyak dibahas dalam fiqih muamalah. 3. Al-qanun al-jaza`i Al-qanun al-jaza`i yaitu hukum pidana yang mengatur cara melindungi dan menjaga keselamatan hak dan kepentingan masyarakat terhadap yang lainnya dari perbuatan yang tidak dibenarkan hukum. Para ulama membahas masalah ini lebih dalam pada fiqih jinayah atau hudud,seperti aturan tentang qishas, zina, pencurian dan membuat kekacauan. 4. Siyasah syariyyah Siyasah syariyyah membahas masalah politik atau mengatur hubungan antara negara dan pemerintahan dengan warganya yang meliputi pemimpin negar a,menegakkan pemerintahan dan syarat dan kewajiban dalam negara dan pemerintahan. 5. Al-qanun al-dauli Al-qanun al-dauli ini meliputi pengaturan masalah hukum privat dan hukum public internasional. Di dalamnya juga dibahas masalah penggolongan non-muslim kepada al-harb (musuh yang boleh diperangi), zimmi (non muslim yang boleh tinggal di negara Islam) dan musta`min (non muslim yang berada di negara Islam karena ada kepentingan). Termasuk di sini pula dibahas hubungan dan suasana perang (jihad). Demikanlah cakupan secara umum dari fiqih muamalah. Sangat lengkap dan begitu terperinci pembahasannya. Sehingga sangat wajar jika dengan syariah mampu membangun peradaban. Hanya kembali lagi kepada umat Islam itu sendiri sebagai pelaku. B. Tantangan, Ancaman, dan Solusi Implementasi Muamalah 1. Tantangan dan ancaman Jika melihat kelengkapan fiqih muamalah Islam, kita meyakini bahwa solusi dari semua permasalahan adalah Islam. Mengapa tidak, Islam yang memiliki tuntunan yang begitu luas dan menyeluruh pasti akan sangat tepat jika kita aplikasikan dan implementasikan. Kita yakin Islam adalah agama rahmatan lil alamin, sehingga kita yakin jika Islam akan menyelamatkan umat dalam menjalani hidup dan kehidupan. Dengan ber-Islam kita akan terjaga dan terpelihara dari segala yang dapat merugikan diri. Islamlah ajaran yang terbaik dan termulia jika dibandingkan dengan segala ajaran yang ada di dunia ini. Sabda Rasulullah Saw.: Yang Islam itu tinggi/mulia tidak ada yang menandingi ketinggiannya. (HR. Al-Daruquthni)

artinya

Tetapi sayang umat Islam sendiri belum secara maksimal berupaya implementasi dari ketinggian dan kemulian Islam ini. Mayoritas umat Islam belum menemu kan hakikat dan makna di balik kalimat indah rahmatan lil alamin dan yalu wa la yula. Sehingga dalam kenyataan kedudukan Islam tidak lebih baik, tidak lebih tinggi bahkan tidak lebih mulia dari ajaran atau tuntunan yang lainnya. Bahkan jika kita melihat keberadaan umat Islam dan negara Islam terbalik pencitraannya sebagai agama yang agung dan mulia. Sinyalemen ini pernah disampaikan oleh Syekh Muhammad Abduh, ia berkata Islam itu terhalang oleh (perilaku) kaum muslimin itu sendiri. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan H. Rahardjo Tjakraningra t (2005), bahwa dari segi tampilan umat Islam amat terbalik dari pencitraan ajarannya yang indah dan mulia. Ini sebagai akibat kelemahan dan kesalahan umat Islam dala m menerapkan ajaran-ajaran Allah Azza wa Jalla di muka bumi.Selain itu, salah satu ciri majunya peradaban Islam adalah perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan. Ada garis lurus antara peradaban dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Sementara saat ini umat Islam sedang mengalami kemunduran prestasi dalam bidang ilmu pengetahuan. Umat Islam kehilangan semangat mencari il mu pengetahuan. Terlebih dengan adanya dikhotomi ilmu pengetahuan, umat Isla m semakin terpecah dan tidak merasa jika itu adalah bagian dari ibadah. Umat Islam kini lebih banyak menguasai ilmu pengetahuan yang dihasilkan dari kebudayaan dan cara pandang Barat yang sekuler. Tantangan lain peran fiqih muamalah dalam membangun peradaban Islam adalah melemahnya loyalitas dan kebanggaan umat Islam terhadap ajaran Islam itu sendiri. Adanya ghazwul fikri (perang pemikiran) yang berhasil merasuki cara berpikir umat Islam sehingga merasa bahwa pandangan hidup Barat lebih baik. Penyesatan opini oleh kaum orientalis dan modernis secara gencar dilakukan sehingga umat Islam merasa ajaran Islam sudah kuno dan tidak tepat lagi dengan perkembangan zaman sementara pandangan hidup yang berdasarkan sekulerisme, matrealisme, liberalisme dan faham lainnya dianggap lebih kekinian dengan tuntutan zaman. Bahkan lebih keras, Abul Hasan Ali Nadwi (1985) menegaskan bahwa masalah sebenarnya di hadapan Islam sekarang bukan hanya masalah kemerosotan mor al, kekendoran ibadah, ketaatan yang berlebihan, diabaikannya praktekpraktek keagamaan dan peniruan kebudayaan orang asing. Memang semua itu adalah hal penting, tetapi masalah sebenarnya adalah kepercayaan dan ketidakpercayaan. Yakni, apakah Islam akan terus hidup atau dicampakkan. Peperangan yang terjadi di dunia muslim sekarang adalah perang antara matrealisme Barat dan Islam sebagai wahyu terakhir dari Tuhan. 2. Solusi

Berpegang pada ungkapan think globally and act locally, apa yang nampak di hadapan umat Islam kita memulai langkah konkrit dengan mengimplementasikan Islam di ranah yang lebih kecil di lingkungan kita. Kita sebagai pendidik memilki andil yang besar dalam membangun peradaban Islam. Terlebih salah satu tantangan utam a dewasa ini adalah ilmu pengetahuan. Langkah awal dimulai dengan membentuk sistem yang mendukung kepada internalisasi muamalah Islam di kalangan pelajar. Mulai dari kurikulum yang mendukung, kebijakan termasuk stake holder yang memiliki visi implementasi Islam dalam kehidupan sehari-hari. Upaya dalam pendidikan harus menjadi sebuah pembelajaran yang memberikan makna bagi anak didik kita. Dimulai dengan memberikan pengetahuan (to know), kemudian memberikan pemahaman yang utuh (to understanding), mengupaya kan pelaksanaan secara praktek (to do) dan menerapkan nilai hingga menjadi sebuah keyakinan diri (to be). Begitu pula dengan memberikan keteladanan sehingga seimbang antara teori dan praktek. Dengan kata lain kita membutuhkan pendidikan karakter yang berlandaskan Islam untuk membangun peradaban. Memulai dengan menjadikan fiqih muamalah isu penting di kalangan pelajar. Memberikan pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang fiqih muamalah, sehingga diharapkan tidak lagi tabu bahkan lebih familiar lagi dengan fiqih muamalah. Mengenalkan pelajar dengan kondisi saat ini lalu menghubungkan dengan solusi yang selalu tersedia dalam Islam. Sehingga anak akan lebih mudah memahami fiqih muamalah. Mengajarkan anak untuk selalu berpikir ilmiah. Menerapkan bahwa segala sesuatu pasti ada landasannya. Dan Islam adalah ajaran yang mempelopori untuk berpi kir ilmiah. Tidak ada dalam fiqih muamalah yang didasari keisengan semuanya di dasari keilmiahan. Dengan ini diharapkan anak tidak asal meniru budaya lain tanpa meneliti terlebih dahulu, apa lagi bagi anak memiliki kecenderungan meniru sangat tinggi. Menanamkan kebanggaan terhadap Islam dan fiqih muamalah. Memba ngun loyalitas anak terhadap Islam dengan memberikan pengetahuan tentang keutamaan dan keunggulan ajaran Islam. Hal ini pula bisa terbangun dengan tidak memisahkan antara ilmu agama dan ilmu umum. Buatlah pengertian bahwa Islam adalah kesempurnaan dan menyeluruh semua aspek kehidupan. Diantara pendekatan pembelajaran yang efektif dalam mensosialisasikan fiqih muamalah di kalangan peserta didik adalah dengan menerapkan pendekatan kontekstual.

Adapun strategi yang dapat digunakan ketika menerapkan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran adalah sebagai berikut: (Johnson, 2008:21) 1. Pembelajaran berbasis masalah, diharapkan peserta didik mampu mengobservasi dan menganalisa permasalahan kemudian memberikan solu si sesuai dengan semangat fiqih muamalah Islam. 2. Menggunakan konteks yang beragam, untuk memberikan pemahaman yan g utuh dan wawasan yang luas. 3. Mempertimbangkan kebhinekaan siswa. 4. Memberdayakan siswa untuk belajar mandiri, untuk menguatkan pemaha man anak dalam menemukan solusi dari permasalahan. 5. Belajar melalui kolaborasi. 6. Menggunakan penilaian autentik. Sedangkan untuk langkah-langkah penerapan pendekatan kontekstual di dalam kelas menurut Sagala (2005:92) adalah sebagai berikut: 1. Kembangkan pemikiran bahwa siswa akan belajar lebih bermakna dengan cara bekerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkonstruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan barunya. 2. Laksanakan sejauh mungkin kegiatan inquiry (menemukan sendiri) untuk semua pokok bahasan. 3. Mengembangkan sikap ingin tahu siswa dengan bertanya. 4. Menciptakan masyarakat belajar. 5. Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran. 6. Melakukan refleksi di akhir pertemuan. 7. Melakukan penilaian yang sebenarnya dengan berbagai cara Dari sini kemampuan kita sebagai pendidik dituntut. Wawasan dan pengetahuan menjadi modal utama dalam menginternalisasi muamalah Islam di kalangan pelajar. Dan yang paling utama menjadikan diri kita teladan dalam mengamalkan Islam sebagai jati diri kita. C. Muamalah sebagai Sistem Terbaik Muamalah dalam bahasa arab diambil dari kata amala yang artinya berbuat atau bertindak. Sedangkan pengertian muamalah secara ringkas disebutkan dalam Ensiklopedia Hukum Islam, yaitu hubungan kepentingan antar sesama manusia yang di dalam Al-Quran disebut dengan hablun minan naas (Ensiklopedia HukumIslam, 1997: 356). Dengan kata lain fiqih muamalah adalah konsep atau ilmu yang bersumber dari Al-Quran dan AlSunnah yang mengatur hubungan interaksi antar sesama manusia. Konsep yang berisikan hukum-hukum syari mengenai pola hubungan interaksi antar sesama manusia dengan tujuan meraih manfaat dan kemaslahatan bersama. Ulama berbeda pendapat tentang pembagian fiqih hukum Islam, ulama Mazha b Hanafi membagi kepada tiga, yaitu fiqih ibadah, fiqih muamalah dan fiqih jinayah. Sedangkan ulama Mazhab Syafii membaginya kepada empat, yaitu fiqih ibadah, fiqih muamalah, fiqih munakahah dan fiqih uqubah.

10

Walaupun demikian para ulama sepakat jika secara pokok fiqih hukum Islam terbagi menjadi wilayah ibadah d an wilayah muamalah. Wilayah ibadah lebih kepada aturan tentang kehidupan se cara individu dengan Tuhannya, sedangkan wilayah muamalah mengatur hubungan interaksi antar sesama manusia. Adanya pembagian hukum Islam secara pokok kepada wilayah ibadah dan wilayah muamalah menunjukan kesempurnaan Islam. Kesempurnaan sebuah agama ya ng mengatur hidup dan kehidupan seluruh makhluk Allah Swt. Aturan Islam akan memberikan rahmat bagi seluruh alam semesta, rahmatan lil alamin. Firman Allah SWT : Yang artinya Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (Al-Anbiya [21]: 107). Kehadiran Rasulullah SAW sebagai pembawa risalah Allah SWT yang menjadi rahmat bagi seluruh alam semesta. Beliau menyampaikan ajaran yang telah terangkum dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Dengan ajaran ini Rasulullah Saw. mampu mengubah negara Arab yang jahiliyah menjadi sebuah peradaban yang disegani dunia. Dimulai dari pembentukan aqidah dan keyakinan kemudian membentuk masyarakat sosioreligi. Pembentukan masyarakat sosial religi dengan dasar Islam membawa kepada persoalan baru. Persoalanpersoalan ini kemudian membawa adanya tuntunan-tuntunan yang terangkum dalam kajian fiqih muamalah. Berbeda dengan fiqih ibadah yang lebih kepada doktrin, sehingga dalam tata caranya tidak boleh ada kreasi baru (bidah). Sementara dalam fiqih muamalah, para pemikir (fuqaha) dibolehkan memberikan solusi baru yang tidak bertentangan dengan dasar dalam Al-Quran dan Al-Sunnah. Seperti ketika ada seorang sahabat yang menanyakan tentang masalah penanaman benih kurma, Rasulullah SAW menjawab: Yang artinya Kalian lebih mengetahui tentang urusan dunia kalian. Sedangkan apa yang terkait dengan urusan agama kalian, maka itu kepadaku. (HR. Muslim). Sepeninggal Rasulullah SAW seiring perkembangan zaman munculah Fuqaha dan para ilmuwan yang lebih banyak mengembangkan solusisolusi dari permasalahan yang lebih rumit. Para Fuqaha membuat interpretasi terhadap ayat-ayat Al-Quran untuk memberikan jawaban terhadap masalah yang ada. Di bidang fiqih muamalahlah permasalahan ini dibahas yang kemudian menjadi kajian interpretasi terhadap sumber Al-Quran dan Al-Sunnah. Konsep utama dalam fiqih muamalah adalah kemaslahatan bersama. Islam sangat memperhatikan kemaslahatan bersama, tidak melihat strata sosial, gender, tingkat pendidikan bahkan terhadap makhluk selain manusia pun sangat diperhatikan oleh Islam. Dengan keharusan mengacu kepada kemaslahatan bersama, kemudian muncul adanya maqashid syarI (tujuan hukum islam) yang menjadi acuan para fuqaha dalam

11

mengambil ijtihad (pendapat). Inilah keunggulan fiqih muamalah, bahwa tidak ada agama lain yang memiliki tuntunan dalam seluruh aspek kehidupan seperti Islam. Dari semenjak bangun tidur, ke kamar mandi, seluruh aktifitas hingga hendak tidur kembali Islam memiliki tuntunannya. Bahkan Islam memiliki tuntunan tentang pemerintahan, politik, ekonomi, sosial dan budaya. Sekali lagi tuntunan tersebut ada bertujuan untuk kemaslahatan bersama, karena Islam adalah rahmatan lil alamin. Imam Asy-Syathibi dalam Al-Muwafaqat fi Ushuli al-Syariah menyebutkan bahwa kemaslahatan bagi manusia adalah tujuan dari syariah yang disebut maqashidsyariah. Maqashid syariah tidak keluar dari tiga pokok perkara, yaitu dharuriyat (sangat penting/primer), hajiyat (kebutuhan/skunder) dan tahsinat (hiasan/tersier). (Asy-Syathibi: 202) 1. Dharuriyat adalah sesuatu yang mesti ada demi kemaslahatan dunia dan agama. Apabila perkara dharuri ini tidak ada, maka tidak ada keberlangsungan kemaslahatan dunia dan agama, bahkan mengarah kepada kematian. Ada 5 (lima) hal yang termasuk perkara dharuriyat ini, yaitu memelihara keberagamaan, jiwa, keturunan, harta dan akal. 2. Hajiyat adalah sesuatu yang dibutuhkan demi kemaslahatan manusi a. Apabila perkara hajiyat ini tidak terpenuhi, maka akan terjadi kesusahan dan kepayahan saja tetapi tidak sampai kehilangan nyawa. Diantara perkara hajiyat ini adalah adanya tuntunan rukhshah (keringanan) dalam menjalankan ibadah, seperti boleh berbukashaum bagi yang sakit. Dalam muamalah seperti adanya tuntunan pinjam meminjam (qiradh) dan lain sebagainya. 3. Tahsinat adalah sesuatu yang menjadikan lebih layak dan lebih bagus dan menghindarkan sesuatu yang membuat jelek dan kotor. Termasuk perkara tahsinat ini adalah budi pekerti dan akhlak terpuji, seperti sopan santun, adab-adab, tidak boleh membunuh perempuan dan anak kecil ketika berperang dan lain sebagainya. Inilah keunggulan Islam, terkhusus dalam fiqih muamalah. Islam mem berikan kesempatan yang luas kepada fuqaha dan para ilmuwan untuk mengembangkan ilmu yang berkaitan dengan interaksi sosial, tetapi yang perlu mendasarinya adalah Al-Quran dan Al-Sunnah. Kesimpulan dari dasar itu adalah kemaslahatan bersama, bukan individualis seperti faham yang ada di barat diwakili dengan hedonisme, liberalisme dan matrealisme. Dalam sejarah tercatat bahwa permulaan peradaban Islam dibangun ketika hijarahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah. Berbeda dengan ketika periode Makkah yang menekankan masalah aqidah dan penanaman keyakinan. Periode Madina h disebut juga periode syariah karena di Madinah banyak turun ayat dan

12

aturan tentang syariah termasuk syariah muamalah. Disinilah kita bisa melihat bagaimana syariah muamalah yang kemudian dikaji lebih mendalam melalui fiqih muamalah menjadi salah satu pilar utama dalam membangun peradaban Islam. Dan yang luar biasa, bahwa dasar fiqih muamalah itu adalah kemaslahatan bersama. Membangun peradaban maju dan modern tentu didasari adanya sinergi yang positif di dalam umat dan hal tersebut terbangun ketika ada tuntunan yang mengarah kepada kemaslahatan bagi umat itu sendiri. D. Gagasan Menegakkan Syariat Islam Kita telah mengetahui bahwa Islam merupakan agama rahmatan lil alamin. Semakna dengan ini, bahwa tuntunan dalam Islam sangat up to date dengan perkembangan zaman. Meski diturunkan 14 abad silam, Islam senantiasa menj adi solusi terhadap problematika kehidupan saat ini. Allah SWT sudah menegaskan hal ini dalam Al-Quran. Firman Allah Swt.: Yang artinya Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (alQur'an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(An-Nahl [16]: 89) Melihat demikian ada rasa optimis akan munculnya peradaban yang m aju dan modern dengan dasar dan landasan agama Islam. Maryam Jamilah seorang pemikir yang lahir dan berkembang di Barat pernah menulis mengenai prospek kebangkitan Islam menjadi peradaban didasarkan beberapa alasan, sebagai berikut: (Jamilah, 1985:83) 1. Sumber dasar Islam, al-Quran dan al-Sunnah adalah bahan yang tidak terkotori dan utuh. Tak ada satu agama pun yang dapat menyanggah kelebihan ini. 2. Ajaran Islam itu bersifat menyeluruh dan lengkap, mencakup segalanya da n sama sekali mandiri. Maka Islam tidak mentoleransi keterbukaan (eclecticism) dan kompromi dengan budaya mana pun yang bertentangan dengan prinsip-prinsipnya. Islam sendiri memberikan tuntunan yang cukup untuk kehidupan sebagai suatu keseluruhan. Islam tak hanya menerangkan kepada kita apa yang seharusnya dilakukan, tetapi juga secara khusus menerangkan bagaimana cara melakukannya. Ajaranajaran sebenarnya pada agama lain bersifat terbatas, kaku dan terpecahpecah. 3. Ketetapan hati untuk memelihara dan menyebarluaskan Islam dalam kemurnian aslinya praktis telah dilaksanakan secara berkesinambungan pada setiap sejarah periode Islam, di setiap negara muslim, oleh serangkaian mujaddid (pembaharu). Meski usaha para modernis dibantu oleh ilmuwan dan politisi Barat untuk memaksakan pemahaman mereka yang menyimpang tentang Islam. Alhamdulillah, selalu menjumpai rintangan kuat pada setiap sisi dari orang-orang yang tak tertipu oleh kemunafikan ini serta yang berkeyakinan hati memelihara keutuhan Islam yang tak ternoda.

13

4. Di seluruh dunia Islam sebagian besar penduduk menghendaki Islam dan sekali saja suatu kepemimpinan yang membangkitkan semangat muncul, mereka akan siap untuk mengikutinya dengan penuh semangat. Dengan demikian Islam sudah sangat jauh mempersiapkan sebuah pera daban modern dan maju. Ini harus menjadi keyakinan kita, bahwa Islam lah yang terbaik. Optimisme ini sudah sangat beralasan untuk bisa meyakinkan bahwa Islam ak an mampu membangun peradaban yang maju dan modern. Diantara sebagian kecil solusi Islam, misalnya tentang aturan jilbab dan menutup aurat yang tidak ada dalam agama lain aturan sedetail dalam Islam. Di sejumlah negara sekuler menjadikan stigma buruk terhadap tuntunan ini dengan menyebutkan bahwa Islam mengekang kebebasan perempuan dengan pakaian jilbab. Dalam Islam masalah menutp aurat ini sudah termasuk dalam kategori dharuriyat (penting / primer), yaitu memelihara keturunan. Karena di mulai dari pakaian yang seronoklah berakibat adanya kebebasan yang kebablasan. Hj. Irene Handono (2004) menjawab isu tentang jilbab bagi perempuan ini dengan menyebutkan bahwa di dunia Islam, seksualitas dan percintaan tidak dipamerkan di jalan-jalan. Pornografi tidak bisa diterima. Gadis-gadis muslimah yang menikah tidak mau melakukan hubungan seks sebelum menikah. Kebanyakan mempelai wanita yang menikah masih perawan saat menikah. Hj. Irene Handono menegaskan alasan nya, menutup aurat dari sudut pandang Islam, logis saja bahwa kita tidak berusaha memancing sesuatu hal yang tidak kita inginkan terjadi. Bukti lain tentang keutamaan muamalah Islam. Masa keemasan Islam pada abad ke8 dimulai ketika khalifah sebagai pemegang pemerintahan memberikan kesempatan luas para ulama yang giat mempelajari berbagai bidang ilmu pengetahuan. Sehingga ada sinergis dan simbiosis kuat antara pemerintah dan penduduknya. Berbeda dengan pemerintahan gereja di wilayah Eropa pada abad ke-16. Munculnya renaisans (pencerahan) karena adanya benturan dengan pihak gereja sebagai pemegang politik pemerintahan. Dari sini munculah sekulerisme. Jika kita meyakini faham lain selain Islam lebih baik, tentu tidak muncul dari kekecewa an terhadap lingkungan saat itu. Terbukti sekulerisme, matrealisme, komunisme d an lainnya muncul karena kekecewaan terhadap gereja. Berbeda dengan Islam yang justru memunculkan keyakinan bahwa Islam memang yang terbaik. Sebagaimana telah disebutkan bahwa fiqih muamalah berlandaskan kemaslahatan bersama. Oleh karena itu, Islam sangat melarang riba karena sangat merugikan disalah satu pihaknya. Berbeda dengan komunisme, kapitalisme dan

14

matrealisme yang merupakan bentuk kekecewaan masyarakat terhadap agama Kristen yang diwakili oleh gereja saat itu. Faham kapitalisme menghalalkan segala cara agar berhasil mer aih keuntungan besar tanpa memperhatikan yang lain, terutama masyarakat ekono mi kecil. M. Fazlurrahman Anshari menjelaskan bahwa analisa terhadap falsafah peradaban Barat akan menyingkap landasan peradaban mereka. (Anshari, 1985: 129). Landasan peradaban Barat sungguh bertentangan dengan perdaban Islam, sebagai berikut: 1. Sudut pandang metafisis, pada matrealisme. Sementara dalam Islam meyakini bahwa ada yang menguasai dan mengatur seluruh alam semesta ini, yaitu Allah. Dan Dia-lah yang memberikan rezeki dengan sangat adil. Rezeki tidaklah bisa diukur dengan materi. Konsep syukur yang dimiliki Islam mengajarkan makna yang lebih dalam dari sekedar materi. 2. Sudut pandang psikologis, pada sensasionisme (faham serba inderawi). Seni dan modenya membuktikan fakta ini dengan jelas. Tidak memerlukan keramahan, sopan santun dan adab-adab yang membawa kepada semangat kinerja seperti dalam Islam. 3. Sudut pandang etika, pada kemanfaatan dan syahwat. Hanya mengejarkep uasan diri dan melupakan kemaslahatan bersama. Sementara Islammening gikan nilai dan akhlak terpuji. 4. Sudut pandang ekonomi, pada eksploitasi masyarakat manusia yang belum berkembang, kapitalisme dan komunisme. Sementara Islam menjunjung tinggi moral dan kemaslahatan bersama, saling menghargai dan menolong serta berbasiskan usaha dan ikhtiar. 5. Sudut pandang politik, pada pertentangan ras dan pemisahan berdasarkan warna kulit. Sementara Islam memandang sama setiap orang dan tidak membeda-bedakan secara ras atau fisik. Kita sebagai umat Islam hanya perlu mengkaji Islam terus menerus. Karena dengan mengkaji Islam kita akan mendapatkan kebaikan. Jangan sampai kita melemah kan Islam yang begitu mulia karena kita merasa Islam sudah tidak layak lagi. Sudah sangat jelas Islamlah yang terbaik dan menjadi solusi bagi semua problem kehidupan. Sementara Barat sendiri adalah peradaban yang tumbuh dan berkembang dari kombinasi beberapa unsur yaitu filsafat dan nilai-nilai kuno Yunani dan Romawi, serta agama Yahudi dan Kristen yang dimodifikasi oleh bangsa Eropa. Sedangkan I slam adalah peradaban yang lahir dan tumbuh berdasarkan pada wahyu yang memproyeksikan sebuah pandangan hidup yang sempurna, yang dipahami, ditafsiri, dijelaskan dan dipraktekkan sehingga membentuk tradisi intelektual dimana il mu pengetahuan religius dan rasional diintegrasikan dalam bangunan ilmu yang mengandung nilai-nilai dan konsep-konsep yang berguna bagi pembentukan kehidupan yang aman, tenteram dan damai. (Zarkasyi, 2007)

15

E. Implementasi Muamalah Dalam Sistem Hukum Islam Manusia dijadikan Allah SWT sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan antara satu dengan yang lain. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, manusia harus berusaha mencari karunia Allah yang ada dimuka bumi ini sebagai sumber ekonomi. Allah SWT berfirman Artinya : Dan Carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu(kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuatbaiklah (kepada orang lain) sebagai mana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS Az Zumar : 39) 1. Jual-beli Jual beli dalam bahasa Arab terdiri dari dua kata yang mengandung makna berlawanan yaitu Al Bai yang artinya jual dan Asy Syiraa yang artinya Beli. Menurut istilah hukum Syara, jual beli adalah penukaran harta (dalam pengertian luas) atas dasar saling rela atau tukar menukar suatu benda (barang) yang dilakukan antara dua pihak dengan kesepakatan (akad) tertentu atas dasar suka sama suka (lihat QS Az Zumar : 39, At Taubah : 103, hud : 93) a) Hukum Jual Beli Orang yang terjun dalam bidang usaha jual beli harus mengetahui hukum jual beli agar dalam jual beli tersebut tidak ada yang dirugikan, baik dari pihak penjual maupun pihak pembeli. Jual beli hukumnya mubah. Artinya, hal tersebut diperbolehkan sepanjang suka sama suka. Allah berfirman. Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu.(QS An Nisa : 29 Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut. ) ) Artinya : Sesungguhnya jual beli itu hanya sah jika suka suka sama suka. (HR Bukhari) ) ) Artinya : Dua orang jual beli boleh memilih akan meneruskan jual beli mereka atau tidak, selama keduanya belum berpisah dari tempat akad. (HR Bukhari dan Muslim) Dari hadis tersebut dapat disimpulkan bahwa apabila seseorang melakukan jual beli dan tawar menawar dan tidak ada kesesuaian harga antara penjual dan pembeli, si pembeli boleh memilih akan meneruskan jual beli tersebut atau tidak. Apabila akad (kesepakatan) jual beli telah dilaksanakan dan terjadi pembayaran, kemudian salah satu dari mereka atau keduanya telah meninggalkan tempat akad, keduanya tidak boleh membatalkan jual beli yang telah disepakatinya.

16

b) Rukun dan syarat Jual Beli Dalam pelaksanaan jual beli, minimal ada tiga rukun yang perlu dipenuhi. 1) Penjual atau pembeli harus dalam keadaan sehat akalnya Orang gila tidak sah jual belinya. Penjual atau pembeli melakukan jual beli dengan kehendak sendiri, tidak ada paksaan kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya. Apabila ada paksaan, jual beli tersebut tidak sah. 2) Syarat Ijab dan Kabul Ijab adalah perkataan untuk menjual atau transaksi menyerahkan, misalnya saya menjualmobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Kabul adalah ucapan si pembeli sebagai jawaban dari perkataan si penjual, misalnya saya membeli mobil ini dengan harga 25 juta rupiah. Sebelum akad terjadi, biasanya telah terjadi proses tawar menawar terlebih dulu. Pernyataan ijab kabul tidak harus menggunakan kata-kata khusus. Yang diperlukan ijab kabul adalah saling rela (ridha) yang direalisasikan dalam bentuk kata-kata. Contohnya, aku jual, aku berikan, aku beli, aku ambil, dan aku terima. Ijab kabul jual beli juga sah dilakukan dalam bentuk tulisan dengan sarat bahwa kedua belah pihak berjauhan tempat, atau orang yang melakukan transaksi itu diwakilkan. Di zaman modern saat ini, jual beli dilakukan dengan cara memesan lewat telepon. Jula beli seperti itu sah saja, apabila si pemesan sudah tahu pasti kualitas barang pesanannya dan mempunyai keyakinan tidak ada unsur penipuan. 3) Benda yang diperjualbelikan Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi sarat sebagai berikut : Suci atau bersih dan halal barangnya Barang yang diperjualbelikan harus diteliti lebih dulu Barang yang diperjualbelikan tidak berada dalam proses penawaran dengan orang lain Barang yang diperjualbelikan bukan hasil monopoli yang merugikan Barang yang diperjualbelikan tidak boleh ditaksir (spekulasi) Barang yang dijual adalah milik sendiri atau yang diberi kuasa Barang itu dapat diserahterimakan c) Perilaku atau sikap yang harus dimiliki oleh penjual 1) Berlaku Benar (Lurus) Berperilaku benar merupakan ruh keimanan dan ciri utama orang yang beriman. Sebaliknya, dusta merupakan perilaku orang munafik. Seorang muslim dituntut untuk berlaku benar, seperti dalam jual beli, baik dari segi promosi barang atau penetapan harganya. Oleh karena itu, salah satu karakter pedagang yang terpenting dan diridhai Allah adalah berlaku benar. Dusta dalam berdagang sangat dicela terlebih jika diiringi sumpah atas nama Allah.Empat macam manusia yang dimurkai Allah, yaitu penjual yang suka bersumpah, orang miskin yang congkak, orang tua

17

renta yang berzina, dan pemimpin yang zalim.(HR Nasai dan Ibnu Hibban) 2) Menepati Amanat Menepati amanat merupakan sifat yang sangat terpuji. Yang dimaksud amanat adalah mengembalikan hak apa saja kepada pemiliknya. Orang yang tidak melaksanakan amanat dalam islam sangat dicela. Hal-hal yang harus disampaikan ketika berdagang adalah penjual atau pedagang menjelaskan ciri-ciri, kualitas, dan harga barang dagangannya kepada pembeli tanpa melebih-lebihkannya. Hal itu dimaksudkan agar pembeli tidak merasa tertipu dan dirugikan. 3) Jujur Selain benar dan memegang amanat, seorang pedagang harus berlaku jujur. Kejujuran merupakan salah satu modal yang sangat penting dalam jual beli karena kejujuran akan menghindarkan diri dari hal-hal yang dapat merugikan salah satu pihak. Sikap jujur dalam hal timbangan, ukuran kualitas, dan kuantitas barang yang diperjual belikan adalah perintah Allah SWT. Firman Allah. Artinya : Dan (Kami telah mengutus) kepada penduduk Mad-yan saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman. (QS Al Araf : 85) Sikap jujur pedagang dapat dicontohkan seperti dengan menjelaskan cacat barang dagangan, baik yang diketahui maupun yang tidak diketahui. Sabda Nabi Muhammad SAW yang artinya Muslim itu adalah saudara muslim, tidak boleh seorang muslim apabila ia berdagang dengan saudaranya dan menemukan cacat, kecuali diterangkannya. Lawan sifat jujur adalah menipu atau curang, seperti mengurangi takaran, timbangan, kualitas, kuantitas, atau menonjolkan keunggulan barang tetapi menyembunyikan cacatnya. Hadis lain meriwayatkan dari umar bin khattab r.a berkata seorang lelaki mengadu kepada rasulullah SAW sebagai berikut katakanlah kepada si penjual, jangan menipu! Maka sejak itu apabila dia melakukan jual beli, selalu diingatkannya jangan menipu.(HR Muslim) 4) Khiar Khiar artinya boleh memilih satu diantara dua yaitu meneruskan kesepakatan (akad) jual beli atau mengurungkannya (menarik kembali atau tidak jadi melakukan transaksi jual beli). Ada tiga macam khiar yaitu sebagai berikut.

18

a) Khiar Majelis Khiar majelis adalah si pembeli an penjual boleh memilih antara meneruskan akad jual beli atau mengurungkannya selama keduanya masih tetap ditempat jual beli. Khiar majelis ini berlaku pada semua macam jual beli. b) Khiar Syarat Khiar syarat adalah suatu pilihan antara meneruskan atau mengurungkan jual beli setelah mempertimbangkan satu atau dua hari. Setelah hari yang ditentukan tiba, maka jual beli harus ditegaskan untuk dilanjutkan atau diurungkan. Masa khiar syarat selambat-lambatnya tiga hari c) Khiar Aib (cacat) Khiar aib (cacat) adalah si pembeli boleh mengembalikan barang yang dibelinya, apabila barang tersebut diketahui ada cacatnya. Kecacatan itu sudah ada sebelumnya, namun tidak diketahui oleh si penjual maupun si pembeli. Hadis nabi Muhammad SAW. Yang artinya : Jika dua orang laki-laki mengadakan jual beli, maka masing-masing boleh melakukan khiar selama mereka belum berpisah dan mereka masih berkumpul, atau salah satu melakukan khiar, kemudian mereka sepakat dengan khiar tersebut, maka jual beli yang demikian itu sah. (HR Mutafaqun alaih) 2. Riba Bagi manusia yang tidak memiliki iman, segala sesuatunya selalu dinilai dengan harta (materialisme). Manusia berlomba-lomba untuk memperoleh harta kekayaan sebanyak mungkin. Mereka tidak memperdulikan dari mana datangnya harta yang didapat, apakah dari sumber yang halal atau haram. Salah satu contoh perolehan harta yang haram adalah sesuatu yang berasal dari pekerjaan memungut riba. Hadis nabi Muhammad SAW menyatakan sebagai berikut. Yang artinya : Dari Abu Hurairah r.a ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Akan tiba suatu zaman, tidak ada seorang pun, kecuali ia memakan harta riba. Kalau ia memakannya secara langsung ia akan terkena debunya. (HR Ibnu Majah) Kata riba (ar riba) menurut bahasa yaitu tambahan (az ziyadah) atau kelebihan. Riba menurut istilah syarak ialah suatu akad perjanjian yang terjadi dalam tukar menukar suatu barang yang tidak diketahui syaraknya. Atau dalam tukar menukar itu disyaratkan menerima salah satu dari dua barang apabila terlambat. Riba dapat terjadi pada hutang piutang, pinjaman, gadai, atau sewa menyewa. Contohnya, Fauzi meminjam uang sebesar Rp 10.000 pada hari senin. Disepakati dalam setiap satu hari keterlambatan, Fauzi harus mengembalikan uang tersebut dengan tambahan 2 %. Jadi hari berikutnya Fauzi harus mengembalikan hutangnya menjadi Rp 10.200. Kelebihan atau tambahan ini disebut dengan riba. Allah SWT berfirman. Artinya : Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama

19

dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang kembali (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah : 275) Allah telah melarang hamba-Nya untuk memakan riba, Allah juga menjanjikan untuk melipatgandakan pahala bagi orang yang ikhlas mengeluarkan zakat, infak dan sedekah. Allah SWT berfirman. Artinya : Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS Al Baqarah : 276) Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah Supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS Ali Imran : 130) Hadis nabi Muhammad SAW yang artinya : Dari Jabir r.a ia berkata : Rasulullah SAW telah melaknati orang-orang yang memakan riba, orang yang menjadi wakilnya (orang yang memberi makan hasil riba), orang yang menuliskan, orang yang menyaksikannya, dan (selanjutnya) nabi bersabda, mereka itu semua sama saja. (HR Muslim) Beberapa ayat dan hadis yang telah disebutkan menunjukan bahwa Islam sangat membenci perbuatan riba dan menganjurkan kepada umatnya agar didalam mencari rezeki hendaknya menempuh cara yang halal. Ulama fikih membagi riba menjadi empat bagian, yaitu sebagai berikut. 1. Riba fadal Riba fadal yaitu tukar menukar dua buah barang yang sama jenisnya, namun tidak sama ukurannya yang disyaratkan oleh orang yang menukarnya. Contohnya tukar menukar emas dengan emas atau beras dengan beras, dan ada kelebihan yang disyaratkan oleh yang menukarkan. Supaya tukar menukar seperti ini tidak termasuk riba harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut. Barang yang ditukarkan harus sama Timbangan atau takarannya harus sama Serah terima harus pada saat itu juga. 2. Riba nasiah Riba nasiah yaitu tukar menukar barang yang sejenis maupun yang tidak sejenis atau jual beli yang pembayarannya disyaratkan lebih oleh penjual dengan waktu yang dilambatkan. Contohnya, salim membeli arloji seharga Rp 500.000. Oleh penjualnya disyaratkan membayarnya tahun depan dengan harga Rp 525.000 3. Riba yad Riba yad yaitu berpisah dari tempat akad jual beli sebelum serah terima. Misalnya, orang yang membeli suatu barang sebelum ia menerima barang tersebut dari penjual, penjual dan pembeli tersebut telah berpisah sebelum serah terima barang itu. Jual beli ini dinamakan riba yad

20

Berikut syarat-syarat jual beli agar tidak menjadi riba. a) Menjual sesuatu yang sejenis ada tiga syarat, yaitu: serupa timbangan dan banyaknya tunai, dan timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad. b) Menjual sesuatu yang berlainan jenis ada dua syarat, yaitu: tunai dan timbang terima dalam akad (ijab kabul) sebelum meninggalkan majelis akad. Riba diharamkan oleh semua agama samawi. Adapun sebab diharamkannya karena memiliki bahaya yang sangat besar antara lain sebagai berikut. Riba dapat menimbulkan permusuhan antar pribadi dan mengikis habis semangat kerja sama atau saling menolong sesama manusia. Padahal, semua agama, terutama Islam menyeru kepada manusia untuk saling tolong menolong, membenci orang yang mengutamakan kepentingan diri sendiri atau egois, serta orang yang mengeksploitasi orang lain. Riba dapat menimbulkan tumbuh suburnya mental pemboros yang tidak mau bekerja keras dan penimbun harta di tangan satu pihak. Islam menghargai kerja keras dan menghormati orang yang suka bekerja keras sebagai saran pencarian nafkah. Riba merupakan salah satu bentuk penjajahan atau perbudakan dimana satu pihak mengeksploitasi pihak yang lain. Sifat riba sangat buruk sehingga Islam menyerukan agar manusia suka mendermakan harta kepada saudaranya dengan baik jika saudaranya membutuhkan harta. 3. Hukum Islam tentang Kerja sama Ekonomi (Syirkah) Saat ini umat Islam Indonesia, demikian juga belahan dunia Islam (muslim world) lainnya telah menerapkan sistem perekonomian yang berbasis nilai-nilai dan prinsip syariah (Islamic economic system) untuk dapat diterapkan dalam segenap aspek kehidupan bisnis dan transaksi ekonomi umat. Keinginan ini didasari oleh kesadaran untuk menerapkan Islam secara utuh dan total. a. Pengertian Musyarakah Musyarakah adalah akad kerjasama antara dua pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana atau amal (expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan resiko akan ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan. i. Dasar Hukum Landasan hukum dari musyarakah ini antara lain : Artinya : maka mereka berserikat pada sepertiga (QS An Nisa : 12)

21

Bersabda Rasulullah yang artinya : Dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda : sesungguhnya Allah azza wajalla berfirman : Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat selama salah satunya tidak menghianati lainnya. (HR Abu Daud) Hadis tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hambahambanya yang melakukan perkongsian atau kerja sama selama pihak-pihak yang bekerja sama tersebut saling menjunjung tinggi amanat kebersamaan dan menjauhi pengkhianatan. Berdasarkan dalil-dalil diatas, musyarakah (syirkah) dapat diartikan dua orang atau lebih yang bersekutu (berserikat) dimana uang yang mereka dapatkan dari harta warisan, atau mereka kumpulkan diantara mereka, kemudian diinvestasikan dalam perdagangan, industri, atau pertanian dan lain-lain sepanjang sesuai dengan kesepakatan bersama dan hal tersebut hukumnya boleh. ii. Syarat-syarat musyarakah Dalam bersyarikah ada 5 syarat ayng harus dipenuhi yaitu sebagai berikut: 1. Benda (harta dinilai dengan uang) 2. Harta-harta itu sesuai dalam jenis dan macamnya 3. Harta-harta dicampur 4. Satu sama lain membolehkan untuk membelanjakan harta itu 5. Untung rugi diterima dengan ukuran harta masingmasing. iii. Jenis-jenis musyarakah Ada dua jenis musyarakah yakni musyarakah pemilikan dan musyarakah akad (kontrak) 1. Musyarakah pemilikan tercipta karena warisan, wasiat, atau kondisi lainnya yang mengakibatkan pemilikan satu aset oleh dua orang atau lebih. Dalam musyarakah ini, kepemilikan dua orang atau lebih, berbagi dalam sebuah aset nyata dan berbagi pula keuntungan yang dihasilkan oleh aset tersebut. 2. Musyarakah akad tercipta dengan cara kesepakatan dimana dua orang atau lebih setuju bahwa tiap orang dari mereka memberikan modal musyarakah. Mereka pun sepakat berbagi keuntungan dan kerugian. Musyarakah akad terbagi menjadi inan, mufawadah, amal, wujuh, dan mudarabah. Syirkah inan adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan dan kerugian yang dibagi sesuai dengan kesepakatan diantara mereka Syirkah mufawadah adalah kontrak kerja sama antara dua orang atau lebih. Setiap pihak memberikan dana yang jumlahnya sama dan berpartisipasi dalam kerja, keuntungan dan kerugian dibagi secara sama besar Syirkah amal adalah kontrak kerjasama dua orang seprofesi untuk menerima pekerjaan secara bersama dan

22

berbagi keuntungan dari pekerjaan itu. Misal dua orang arsitek menggarap sebuah proyek Syirkah wujuh adalah kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi dan prestise baik dalam bisnis. Mereka membeli barang secara kredit dari suatu perusahaan dan menjual barang tersebut secara tunai. Keuntungan dan kerugian dibagi berdasarkan jaminan yang disediakan masing-masing. Pada bidang perbankan misalnya, penerapan musyarakah dapat berwujud hal-hal berikut ini. 1. Pembiayaan proyek. Musyarakah biasanya diaplikasikan untuk pembiayaan dimana nasabah dan bank sama-sama menyediakan dana untuk membiayai proyek tersebut. Setelah proyek itu selesai, nasabah mengembalikan dana tersebut bersama bagi hasil yang telah disepakati 2. Modal ventura. Pada lembaga keuangan khusus yang dibolehkan melakukan investasi dalam kepemilikan perusahaan, musyarakah diterapkan dalam skema modal ventura. Penanaman modal dilakukan untuk jangka waktu tertentu dan setelah itu bank melakukan divestasi atau menjual bagian sahamnya, baik secara singkat maupun bertahap. 4. Mudarabah (bagi hasil) Mudarabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak pertama (sahibul mal) menyediakan seluruh (100 %) modal, sedangkan pihak lainnya menjadi pengelola. Keuntungan usaha secara mudarabah dibagi menurut kesepakatan yang dituangkan dalam kontrak, sedangkan apabila rugi ditanggung oleh pemilik modal selama kerugian itu bukan akibat kelalaian si pengelola. Seandainya kerugian itu diakibatkan karena kecurangan atau kelalaian si pengelola, si pengelola harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. a) Dasar Hukum Secara umum landasan dasar syariah mudarabah lebih mencerminkan anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat dan hadis berikut ini. Allah berfirman dalam surat al-Muzammil yang artinya : dan dari orang-orang yang berjalan dimuka bumi mencari sebagian karunia Allah SWT (Al Muzammil : 20) Adanya kata yadribun pada ayat diatas dianggap sama dengan akar kata mudarabah yang berarti melakukan suatu perjalanan usaha. Surah tersebut mendorong kaum muslim untuk melakukan upaya atau usaha yang telah diperintahkan Allah SWT. Hadis nabi Muhammad yang artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Abbas bin Abdul Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudarabah mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan tersebut, maka yang bersangkutan bertanggung jawab atas dana tersebut. Disampaikan syarat syarat

23

tersebut kepada rasulullah SAW. Dan rasulullah pun membolehkannya.(HR Tabrani). b) Jenis-jenis mudarabah Secara umum, mudarabah terbagi menjadi dua jenis yakni mudarabah mutlaqah dan mudarabah muqayyadah. a) Mudarabah mutlaqah Mudarabah mutlaqah adalah bentuk kerjasama antara pemilik modal (sahibul mal) dan pengelola (mudarib) yang cakupannya sangat luas dan tidak dibatasi oleh spesifikasi jenis usaha, waktu, dan daerah bisnis. Dalam pembahasan fikih ulama salafus saleh seringkali dicontohkan dengan ungkapan ifal ma syita (lakukan sesukamu) dari sahibul mal ke mudarib yang memberi kekuasaan sangat besar. b) Mudarabah Muqayyadah Mudarabah muqayyadah adalah kebalikan dari mudarabah mutlaqah. Si Mudarib dibatasi dengan batasan jenis usaha, waktu, atau tempat usaha. Adanya pembatasan ini seringkali mencerminkan kecenderungan umum si Sahibul Mal dalam memasuki jenis dunia usaha. Adapun dari sisi pembiayaan, mudarabah biasanya diterapkan untuk bidangbidang berikut. a) Pembiayaan modal kerja, seperti modal kerja perdagangan dan jasa b) Investasi khusus disebut juga mudarabah muqayyadah, yaitu sumbe investasi yang khusus dengan penyaluran yang khusus pula dengan syaratsyarat yang telah ditetapkan oleh sahibul mal. Mudarabah dan kaitannya dengan dunia perbankan biasanya diterapkan pada produk-produk pembiayaan dan pendanaan. Sisa penghimpunan dana mudarabah biasanya diterapkan pada bidang-bidang berikut ini. Tabungan berjangka, yaitu dengan tabungan yang dimaksudkan untuk tujuan khusus, seperti tabungan haji, tabungan kurban, dan deposito berjangka. Deposito spesial (special investment), yaitu dana dititipkan kepada nasabah untuk bisnis tertentu, misalnya murabahah atau ijarah saja. Mudaroban yang berkaitan dengan dunia Pertanian ialah : 1. Musaqah (paroan kebun) Yang dimaksud musaqah adalah bentuk kerja sama dimana orang yang mempunyai kebun memberikan kebunnya kepada orang lain (petani) agar dipelihara dan penghasilan yang didapat dari kebun itu dibagi berdua menurut perjanjian sewaktu akad Musaqah dibolehkan oleh agama karena banyak orang yang membutuhkannya. Ada orang yang mempunyai kebun, tapi dia tidak dapat memeliharanya. Sebaliknya, ada orang yang tidak mempunyai kebun, tapi terampil bekerja. Musaqah memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak yakni pemilik kebun dan pengelola sehingga samasama memperoleh hasil dari kerja sama tersebut. Hadis menjelaskan sebagai berikut yang artinya : Dari Ibnu Umar: Sesungguhnya nabi Muhammad SAW telah memberikan kebun beliau kepada penduduk khaibar agar dipelihara oleh mereka dengan perjanjian, mereka akan

24

diberi sebagian dari penghasilannya, baik dari buah-buahan atau hasil petani (palawija). (HR Muslim) 2. Muzaraah Muzaraah adalah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkan benih(bibit tanaman)nya dari pekerja (petani). Zakat hasil paroan ini diwajibkan atas orang yang punya benih. Oleh karena itu, pada muzaraah zakat wajib atas petani yang bekerja karena pada hakekatnya dialah (si petani) yang bertanam, yang mempunyai tanah seolah-olah mengambil sewa tanahnya, sedangkan pengantar dari sewaan tidak wajib mengeluarkan zakatnya. 3. Mukhabarah Mukhabarah kerjasama dalam pertanian berupa paroan sawah atau ladang seperdua atau sepertiga atau lebih atau kurang, sedangkan benihnya dari pemilik sawah/ladang. Adapun pada mukhabarah, zakat diwajibkan atas yang punya tanah karena pada hakekatnya dialah yang bertanam, sedangkan petani hanya mengambil upah bekerja. Penghasilan yang didapat dari upah tidak wajib dibayar zakatnya. Kalau benih dari keduanya, zakat wajib atas keduanya yang diambil dari jumlah pendapatan sebelum dibagi. Hukum kerja sama tersebut diatas diperbolehkan sebagian besar para sahabat, tabiin dan para imam . 5. Perbankan yang Sesuai dengan Prinsip Hukum Islam Lahirnya ekonomi Islam di zaman modern ini cukup unik dalam sejarah perkembangan ekonomi. Ekonomi Islam berbeda dengan ekonomiekonomi yang lain karena lahir atau berasal dari ajaran Islam yang mengharamkan riba dan menganjurkan sedekah. Kesadaran tentang larangan riba telah menimbulkan gagasan pembentukan suatu bank Islam pada dasawarsa kedua abad ke-20 diantaranya melalui pendirian institusi sebagai berikut. 1. Bank Pedesaan (Rural Bank) dan Bank Mir-Ghammar di Mesir tahun 1963 atas prakarsa seorang cendikiawan Mesir DR. Ahmad An Najjar 2. Dubai Islamic Bank (1973) di kawasan negara-negara Emirat Arab 3. Islamic Development Bank (1975) di Saudi Arabia 4. Faisal Islamic Bank (1977) di Mesir 5. Kuwait House of Finance di Kuwait (1977) 6. Jordan Islamic Bank di Yordania (1978) Bank non Islam yang disebut juga bank konvensional adalah sebuah lembaga keuangan yang fungsi utamanya menghimpun dana untuk disalurkan kepada yang memerlukan dana, baik perorangan atau badan usaha guna investasi dalam usaha-usaha yang produktif dan lain-lain dengan sistem bunga. Sedangkan Bank Islam yang dikenal dengan Bank Syariah adalah sebuah lembaga keuangan yang menjalankan operasinya menurut hukum (syariat) Islam dan tidak memakai sistem bunga karena bunga dianggap riba yang diharamkan oleh Islam. (QS Al Baqarah : 275-279)

25

Sebagai pengganti sistem bunga, Bank Islam menggunakan berbagai cara yang bersih dari unsur riba, antara lain sebagai berikut. 1. Wadiah atau titipan uang, barang, dan surat berharga atau deposito. Wadiah ini bisa diterapkan oleh Bank Islam dalam operasinya untuk menghimpun dana dari masyarakat, dengan cara menerima deposito berupa uang, barang, dan surat-surat berharga sebagai amanat yang wajib dijaga keselamatannya oleh Bank Islam. Bank berhak menggunakan dana yang didepositokan itu tanpa harus membayar imbalannya, tetapi Bank harus menjamin dapat mengembalikan dana itupada waktu pemiliknya (depositor) memerlukannya. 2. Mudarabah adalah kerjasama antara pemilik modal dengan pelaksana atas dasar perjanjianprofit and loss sharing. Dengan mudarabah ini, Bank Islam dapat memberikan tambahan modal kepada pengusaha untuk perusahaannya dengan perjanjian bagi hasil dan rugi yang perbandingannya sesuai dengan perjanjian misalnya, fifty-fifty. Dalam mudarabah ini, Bank tidak mencampuri manajemen perusahaan. 3. Syirkah (perseroan). Dibawah kerjasama syirkah ini, pihak Bank dan pihak pengusaha sama-sama mempunyai andil (saham) pada usaha patungan (joint ventura). Oleh karena itu, kedua belah pihak berpartisipasi mengelola usaha patungan ini dengan menanggung untung rugi bersama atas dasar perjanjian profit and loss sharing (PLS Agreement). 4. Murabahah adalah jual beli barang dengan tambahan harga atau cost plus atas dasar harga pembelian yang pertama secara jujur. Dengan murabahah ini, pada hakikatnya suatu pihak ingin mengubah bentuk bisnisnya dari kegiatan pinjam meminjam menjadi transaksi jual beli. Dengan sistem murabahah ini, Bank bisa membelikan atau menyediakan barang barang yang diperlukan oleh pengusaha untuk dijual lagi, dan Bank minta tambahan harga atas harga pembeliannya. Syarat bisnis dengan murabahah ini, ialah si pemilik barang (dalam hal ini Bank) harus memberi informasi yang sebenarnya kepada pembeli tentang harga pembeliannya dan keuntungan bersih (profit margin) dari pada cost plus nya itu. 5. Qard hasan (pinjaman yang baik atau benevolent loan). Bank Islam dapat memberikan pinjaman tanpa bunga (benevolent loan) kepada para nasabah yang baik, terutama nasabah yang mempunyai deposito di Bank Islam itu sebagai slah satu pelayanan dan penghargaan Bank kepada para deposan karena mereka tidak menerima bunga atas depositonya dari Bank Islam. Perkembangan pesat Bank-Bank Islam yang lazim disebut Bank syariah terjadi pada dasawarsa 70-an setelah terjadinya krisis minyak yang menimbulkan oil boom pada tahun 1971. perkembangan pesat Bank syariah tersebut membuktikan bahwa: 1. ajaran Islam menggerakkan ide sosial ekonomi. Ide spirit yang bersumber pada ajaran Islam disebut juga modal masyarakat (Social Capital). 2. Peranan cendikiawan yang memiliki suatu konsep yang mengoperasionalkan ajaran agama yaitu zakat, infak, sedekah (ZIS), dan larangan riba. ZIS dapat dijadikan modal Bank, hal ini juga pernah dipelopori oleh pemikiran dari KH. Ahmad Dahlan. Beliau memiliki gagasan membentuk lembaga amil (penghimpun dan pengelola zakat).

26

Bank syariah pertama yang beroperasi di Indonesia adalah PT. Bank Muamalat Indonesia (BMI) berdiri pada tanggal 1 mei 1992. Perkembangan perbankan syariah pada awalnya berjalan lebih lambat dibanding dengan Bank konvensional. Sampai dengan tahun 1998 hanya terdapat 1 Bank Umum Syariah dan 78 BPRS (Bank Perkreditan Rakyat Syariah). Berdasarkan statistik perbankan syariah mei 2003 dari Bank Indonesia tercatat, Bank Umum Syariah 2 yaitu BMI dan Bank Syariah Mandiri, 8 Bank umum yang membuka unit atau kantor cabang syariah yaitu Danamon Syariah, Jabar Syariah, Bukopin Syariah, BII Syariah dll, serta 89 Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS). Beberapa bank konvensional dalam negeri, maupun asing yang beroperasi di Indonesia juga telah mengajukan izin dan menyiapkan diri untuk segera beroperasi menjadi Bank Syariah. Kehadiran Bank Syariah memiliki hikmah yang cukup besar, diantaranya sebagai berikut. 1. Umat Islam yang berpendirian bahwa bunga Bank konvensional adalah riba, maka Bank Syariah menjadi alternatif untuk menyimpan uangnya, baik dengan cara deposito, bagi hasil maupun yang lainnya 2. Untuk menyelamatkan umat Islam dari praktik bunga yang mengandung unsur pemerasan (eksploitasi) dari si kaya terhadap si miskin atau orang yang kuat ekonominya terhadap yang lemah ekonominya. 3. Untuk menyelamatkan ketergantungan umat Islam terhadap Bank non Islam yang menyebabkan umat Islam berada dibawah kekuasaan Bank sehingga umat Islam belum bisa menerapkan ajaran agamanya dalam kehidupan pribadi dan masyarakat, terutama dalam kegiatan bsinis dan perekonomiannya 4. Bank Islam dapat mengelola zakat di negara yang pemerintahannya belum mengelola zakat secara langsung. Bank juga dapat menggunakan sebagian zakat yang terkumpul untuk proyek-proyek yang produktif dan hasilnya untuk kepentingan agama dan umum. 5. Bank Islam juga boleh memungut dan menerima pembayaran untuk halhal berikut. a) Mengganti biaya-biaya yang langsung dikeluarkan oleh Bank dalam melaksanakan pekerjaan untuk kepentingan nasabah, misalnya biaya telegram, telepon, atau telex dalam memindahkan atau memberitahukan rekening nasabah, dan sebagainya b) Membayar gaji para karyawan Bank yang melakukan pekerjaan untuk kepentingan nasabah dan sebagai sarana dan prasarana yang disediakan oleh Bank dan biaya administrasi pada umumnya. 6. Sistem Asuransi yang Sesuai dengan Prinsip Hukum Islam Mengikuti sukses perbankan Syariah, asuransi Syariah juga mengalami pertumbuhan yang cukup pesat. Sampai dengan tahun 2002, tercatat sejumlah asransi konvensional yang membuka divisi Syariah yang terbukti mampu bersaing dengan asuransi lainnya. Asuransi pada umumnya, termasuk asuransi jiwa, menurut pandangan Islam adalah termasuk masalah ijtihadiyah. Artinya, masalah tersebut perlu dikaji hukumnya karena tidak ada penjelasan yang mendalam didalam Al

27

Quran atau hadis secara tersurat. Para imam mazhab seperti Imam Hanafi, Imam Malik, Imam Syafii, Imam Ahmad dan ulama mujtahidin lainnya yang semasa dengan mereka (abad II dan III H atau VIII dan IX M) tidak memberi fatwa hukum terhadap masalah asuransi karena hal tersebut belum dikenal pada waktu itu. Sistem asuransi di dunia Islam baru dikenal pada abad XIX M, sedangkan di dunia barat sudah dikenal sejak sekitar abad XIV M,. Kini umat Islam di Indonesia dihadapkan kepada masalah asuransi dalam berbagai bentuknya (asuransi jiwa, asuransi kecelakaan, dan asuransi kesehatan) dan dalam berbagai aspek kehidupannya, baik dalam kehidupan bisnis maupun kehidupan keagamaannya. Dikalangan ulama dan cendikiawan muslim ada empat pendapat tentang hukum asuransi, yakni sebagai berikut. 1. Mengharamkan asuransi dalam segala macam dan bentuknya sekarang ini, termasuk asuransi jiwa 2. membolehkan semua asuransi dalam praktiknya sekarang ini. 3. Membolehkan aasuransi yang bersifat sosial dan mengharamkan asuransi yang semata-mata bersifat komersial 4. menganggap syubhat Ketika mengkaji hukum Islam tentang asuransi, sudah tentu harus dilakukan dengan menggunakan metode ijtihad yang lazim digunakan oleh mejtahidin dahulu. Diantara metode ijtihad yang mempunyai banyak peranan di dalam mengistinbatkan (mencari dan menetapkan hukum) terhadap masalah-masalah baru yang tidak ada nasnya dalam Al Quran dan hadis adalah maslahah mursalah atau istislah (public good) dan qyas (analogical reasoning). Dalam buku Hukum Asuransi di Indonesia ditulis oleh Vide Wirjono Prodjodikoro, menjelaskan, menurut pasal 246 Wet Boek Van Koophandel (Kitab Undang-undang perniagaan), bahwa asuransi pada umunya adalah suatu bentuk persetujuan dimana pihak yang menjamin berjanji kepada pihak yang dijamin untuk menerima sejumlah uang premi sebagai pengganti kerugian yang mungkin akan diderita oleh yang dijamin karena akibat dari suatu peristiwa yang belum jelas akan terjadi. Adapun asuransi Syariah adalah usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melaui investasi dalam bentuk aset atau tabarru yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi resiko tertentu melalu akad (perikatan) yang sesuai Syariah Ada beberapa sumber yang dijadikan rujukan bagi berlangsungnya sistem asuransi tersebut, diantaranya adalah hadis Nabi Muhammad SAW Seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam suatu masyarakat ibarat satu bangunan, dimana tiap bangunan saling mengokohkan satu sama lain. (HR Bukhari danMmuslim) Secara operasional, asuransi yang sesuai dengan Syariah memiliki sistem yang mengandung hal-hal sebagai berikut. 1. Mempunyai akad takafuli (tolong menolong) untuk memberikan santunan atau perlindungan atas musibah yang akan datang 2. Dana yang terkumpul menjadi amanah pengelola dana. Dana tersebut diinvestasikan sesuai dengan instrumen Syariah seperti mudarabah, wakalah, wadiah dan murabahah. 3. Premi memiliki unsur tabaru atau mortalita (harapan hidup)

28

4. Pembebanan biaya operasional ditanggung pemegang polis, terbatas pada kisaran 30 % dari premi sehingga pembentukan pada nilai tunai cepat terbentuk pada tahun pertama yang memiliki nilai 70 % dari premi. 5. dari rekening tabaru (dana kebajikan seluruh peserta) sejak awal sudah dikhlaskan oleh peserta untuk keperluan tolong menolong bila terjadi musibah. 6. Mekanisme pertanggungan pada asuransi Syariah adalah sharing of risk. Apabila terjadi musibah semua peserta ikut (saling) menanggung dan membantu 7. Keuntungan (profit) dibagi antara perusahaan dengan peserta sesuai prinsip bagi hasil (mudarabah),atau dalam akad tabarru dapat berbentuk hadiah kepada peserta dan ujrah (fee) kepada pengelola. 8. Mempunyai misi akidah, sosial serta mengangkat perekonomian umat Islam atau misi iqtisadi 7. Sistem Lembaga Keuangan non Bank yang sesuai dengan Prinsip Hukum Islam Sistem lembaga keuangan non Bank yang sesuai dengan prinsipprinsip hukum Islam antara lain adalah sebagai berikut : 1. Koperasi Pengertian koperasi dari segi etimologi berasal dari bahasa inggris coorporation, yang artinya bekerja sama. Pengertian koperasi dari segi etimologi ialah suatu perkumpulan atau organisasi yang beranggotakn orang-orang atau badan hukum yang bekerja sama denagn penuh kesadaran untuk meningkatkan kesejahteraan anggota atas dasar suka rela secara kekeluargaan. Koperasi mempunyai dua fungsi, yakni : a) fungsi ekonomi dalam bentuk kegiatan-kegiatan usaha ekonomi yang dilakukan koperasi untuk meringankan beban hidup sehari-hari para anggotanya dan b) fungsi soisal dalam bentuk kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukan secara gotong royong atau dalam bentuk sumbangan berupa uang yang berasal dari bagian laba koperasi disishkan untuk tujuan-tujuan sosial, misalnya untuk mendirikan sekolah atau tempat ibadah Koperasi dari segi bidang usahanya ada yang hanya menjalankan satu bidang usaha saja, misalnya bidang konsumsi, bidang kredit atau bidang produksi. Ini disebut koperasi berusaha tunggal (single purpose). Dan ada pula koperasi yang meluaskan usahanya dalam berbagai bidang yang disebut koperasi serba usaha (multi purpose) seperti bidang pembelian dan penjualan Modal usaha koperasi diperoleh dari uang simpanan pokok, uang simpanan wajid, uang simpanan sukarela yang merupakan deposito, uang pinjaman, penyisihan-penyisihan hasil usaha termasuk cadangan dan sumber lain yang sah. Menurut mahmud syaltut, koperasi sebagaimana diuarikan diatas adalah bentuk syirkah baru yang diciptakan oleh para ahli ekonomi dan banyak sekali memilki manfaat, anatara lain memberi keuntungan kepada para anggota pemilik saham, memberi lapangan kerja kepada para karyawannya, memberi bantuan keuangan dari sebagian hasil usaha

29

koperasi untuk mendirikan tempat ibadah, sekolah dan sebagainya. Koperasi tidak mempunyai unsur kezaliman dan pemerasan oleh manusia yang kuat atau kaya atas manusia yang lemah atau miskin, pengelolaannya demokratis dan terbuka (open management) serta membagi keuntungan dan kerugian kepada para anggota menurut ketentuan yang berlaku yang telah diketahui oleh seluruh anggota pemegang saham. Oleh karena itu, koperasi dapat diterima oleh kalangan Islam. 2. BMT (Baitul Mal wat Tamwil) Merupakan lembaga keuangan mikro yang sangat sukses. BMT di Indonesia tumbuh dari bawah (masyarakat berekonomi lemah) yang didukung oleh deposan-deposan kecil. BMT telah menjalankan fungsinya sebagai lembaga intermediasi yang mengelola dana dari, untuk dan oleh masyarakat yang merupakan perwujudan demokrasi ekonomi. BMT-BMT sebagian besar berbadan hukum koperasi yang merupakan badan usaha berdasarkan azas kekeluargaan yang sesuai dengan Islam. Sampai tahun 2003, jumlah BMT sudah mendekati angka 4000 unit dimana proses operasionalnya tidak jauh beda dengan operasional BPRS atau Bank Syariah 8. Perilaku yang Mencerminkan Kepatuhan Terhadap Hukum Islam tetang Kerjasama Ekonomi Ekonomi Islam di Indonesia hingga saat ini mengalami perkembangan yang signifikan. Hal ini ditandai dengan maraknya kajian-kajian ekonomi Syariah, banyaknya lembaga keuangan yang berorientasi Syariah serta semakin tingginya kesadaran masyarakat Indonesia dalam menerapkan kerjasama ekonomi berdasarkan Syariah. Ada beberapa aspek perilaku yang harus mencerminkan kepatuhan terhadap hukum Islam di segala aspek kehidupan, khusunya tentang kerja sama ekonomi Islam yaitu sebagai berikut. 1. Tanggung Jawab Dalam melaksanakan akad tanggung jawab yang berkaitan dengan kepercayaan yang diberikan kepada pihak yang dianggap memenuhi syarat untung memegang kepercayaan secara penuh dengan pihak yang masih perlu memenuhi kewajiban sebagai penjamin (damin) harus dipertimbangkan 2. Tolong Menolong Saling menolong sesama peserta (nasabah) dengan hanya berhadapan keridaan Allah. Dan tolong menolong untuk memberikan santunan perlindungan atas musibah yang akan datang 3. Saling melindungi Perekonomian Islam yang berdasarkan Syariah merupakan usaha saling melindungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang atau pihak melalui investasi. 4. Adil Dalam melakukan transaksi/ perniagaan, Islam mengharuskan untuk berbuat adil tanpa memandang bulu, termasuk kepada pihak yang tidak disukai. 5. Amanah/jujur

30

Dalam menjalankan kerja sama ekonomi Syariah mengharuskan dipenuhinya semua ikatan yang telah disepakati. Perubahan ikatan akibat perubahan kondisi harus dilaksanakan secara rida sama rida dan disepakati oleh semua pihak yang terkait Perilaku lain adalah mempunyai manajemen islami, menghormati hak azazi manusia, menjaga lingkungan hidup, melaksanakan good corporate governance, tidak spekulatif dan memegang teguh prinsip kehati-hatian.

BAB III PENUTUP


Betapa pentingnya ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban. Fi qih Muamalah sebagai sebuah ilmu mewadahi pengkajian Islam yang menyangkut interaksi sosial. Fiqih muamalah adalah upaya implementasi syariah Islam dalam membangun peradaban. Karena harapan kita semua memiliki peradaban yang sesuai dengan tuntunan Ilahi. Kita meyakini bahwa Islam bisa menjadi solusi bagi pembangunan peradaban yang maju dan modern. Tetapi itu semua kembali lagi kepada kita sebagai bagian dari umat Islam. Ketinggian Islam hanya akan menjadi kisah dongeng saja jika kita tidak pernah berupaya implentasikan. Pada saat yang sama kita perlu memahami Islam terutama fiqih muamalah dengan menggali konsep baru dalam berbagai bidang sehingga dapat membentuk bangunan baru peradaban Islam yang mampu menghadapi tantang an zaman (modern). Artinya dengan konsepkonsep dalam fiqih muamalah Islam kita dapat bersikap kritis ataupun apresiatif terhadap konsep-konsep yang datang dari luar Islam. Bukan hanya asal meniru dan menjiplak.Wallahu aalam. Allah SWT telah menetapkan dan mengatur hubungan baik sesama manusia dan secara kodrati, manusia memang memiliki hasrat dan keinginan untuk berbuat baik di antara mereka dan bersama-sama menuju suatu tujuan bersama. Hal inilah yang kemudian mendasari terbentuknya masyarakat. Secara sosial, manusia-manusia sebagai anggota masyarakat akan memiliki peranan, tugas, dan kewajibannya masing-masing bergantung kepada kapasitas anggota masyarakat tersebut. Peranan perseorangan dalam mewujudkan kewajibannya di dalam masyarakat merupakan cerminan amal ibadah seseorang terhadap masyarakat atau manusia lainnya. Dengan kata lain, dengan menunaikan kewajibannya di masyarakat, seseorang telah beribadah muamalah. Teladan yang sempurna dalam mengamalkan nilai-nilai muamalah dalam ajaran Islam dalam kehidupan sosial adalah Rasulullah Muhammad SAW, yang memang beliau diutus oleh Allah ke muka Bumi sebagai uswatun hasanah, teladan yang baik. Beliau memiliki kecerdasan emosi dan sosial yang tinggi dan sudah sepatutnya menjadi contoh bagi umat Muslim untuk

31

berkehidupan di masyarakat. Sikap jujur, tawaddu, ramah, pemaaf, dan pemikirannya yang rasional sudah sepatutnya menjadi tolak ukur kita dalam mengamalkan nilai-nilai muamalah ke dalam kehidupan sosial kita sehari-hari. Sebagai seorang Muslim sudah sewajibnya kita dapat mengimplementasikan nilai-nilai ibadah muamalah karena hal tersebut merupakan manifestasi langsung dari ruang lingkup ajaran Islam yaitu aqidah, syariah, dan akhlak. Dengan mengimplementasikan nilai-nilai ajaran ibadah muamalah maka kita telah mengamalkan ajaran aqidah mengenai keyakinan kita akan kekuasaan dan keesaan Allah SWT, mengamalkan nilai-nilai hukum Islam yang terdapat dalam syariat, serta mengajarkan kita untuk senantiasa berperilaku dan berakhlak mulia (akhlaqul karimah).

32

DAFTAR PUSTAKA
1. http://www.scribd.com/doc/50449934/Implementasi-Muamalah-dalamkehidupan 2. http://www.authorstream.com/Presentation/almaidaharianja-1106046-agama/ 3. http://www.scribd.com/doc/22443047/Makalah-Fikih-Muamalah 4. http://manshurzikri.wordpress.com/2010/03/22/aqidah-ibadah-dan-muamalahserta-implikasinya-dalam-kehidupan/ 5. http://agama.kompasiana.com/2010/08/13/muamalah/ 6. http://esharianomics.com/esharianomics/fikih-hukum/fikihmuamalah/muamalah/ 7. http://www.scribd.com/doc/54294177/Membangun-Peradaban-ModernMelalui-Fiqih-Muamalah

33