Anda di halaman 1dari 16

PEMBAHASAN

1.1 Sejarah Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK) pada awalnya merupakan sebuah kawasan konservasi bernama Betuang Karimun dengan status cagar alam seluas 600.000 hektar yang ditetapkan melalui Surat Keputusan Menteri Pertanian pada 12 Oktober 1982. Cagar alam ini dimaksudkan sebagai upaya perlindungan terhadap keunikan ekosistem, kekayaan hayati dan fungsi tata air kawasan. Pada awalnya Taman Nasional Betung Kerihun berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 118/KPTS-II/1992 tanggal 11 Februari 1992 adalah Kawasan Cagar Alam Bentuang Karimun. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 476/KPTSII/1995 tanggal 5 September 1995 tentang perubahan fungsi dan penunjukan Cagar Alam Bentuang Karimun seluas 800.000 ha ditetapkan menjadi Taman Nasional Bentuang Karimun. Kemudian pada tahun 1999 melalui Surat Keputusan Menteri Kehutanan Dan Perkebunan No. 510/KPTS-II/1999 tanggal 30 Juni 1999 nama Taman Nasional Bentuang Karimun menjadi Taman Nasional Betung Kerihun. Sesuai dengan Peraturan Menteri Kehutanan No. 03/MENHUT-II/2007 tanggal 1 Februari 2007 Balai Besar Taman Nasional Betung Kerihun setingkat eselon II-B. Perubahan status kawasaan dari cagar alam menjadi taman nasional ini tidak lepas dari proses kerjasama antara Indonesia dan Malaysia dalam membentuk sebuah kawasan konservasi lintas batas, diantaranya: 1. Pada tahun 1992 di pertemuan ke-5 The Cooperation Committee On Forestry di Kuala Lumpur pada 1-4 Desember 1992 pemerintah Indonesia dan Malaysia menyetujui dibentuknya suatu transfrontier reserve. 2. Pada tahun 1993 di pertemuan ke-6 Joint Committee On Forestry Between Indonesia And Malaysia di Surabaya pada tanggal 8-13 Desember 1993, delegasi kedua negara setuju adanya Joint Cooperation On Developing Transfrontier Reserve yaitu Cagar Alam Betuang Karimun di Kalimantan Barat dengan Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary (LEWS) di Serawak.

3.

Pada tanggal 22 Agustus 1994 ditandatanganinya persetujuan antara pemerintah Indonesia dan ITTO tentang proyek Betuang Karimun dengan nomor 26/93 rev. 1 (f) development of betuang karimun nature reserve as a national park phase I. Lalu pada tanggal 7 Oktober 1994 diselenggarakan Launching Ceremony Of Lanjak Entimau-Bentuang Karimun Biodiversity Conservation Area di Kuching.

4. Pada tahun 1995 persetujuan kerjasama antara Bentuang Karimun dan Lanjak Entimau ini mempercepat proses keluarnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan no. 467/KPTS-II/1995 mengenai perubahan status cagar alam menjadi taman nasional tepatnya pada tanggal 5 September 1995.
1.2 Lokasi Dan Luas

Taman Nasional Betung Kerihun adalah kawasan konservasi terbesar di provinsi Kalimantan Barat, terletak pada 11215-11410 BT dan 040-135 LU. Secara administratif, kawasan TNBK berada dalam 4 (empat ) wilayah kecamatan yaitu Kecamatan Embaloh Hulu, Kecamatan Embaloh Hilir, Kecamatan Putussibau Utara dan Kecamatan Putussibau Selatan yang merupakan wilayah administratif Kabupaten Kapuas Hulu dengan total area 800,000 hektar atau sekitar 5,5 % dari luas total daratan provinsi Kalimantan Barat.

Gambar 1.1 Peta Lokasi Taman Nasional Betung Kerihun

Total garis perbatasan TNBK sepanjang 812 km yang terbagi menjadi sepanjang 398 km berbatasan dengan Malaysia, 146 km dengan batas provinsi Kalimantan Timur, dan sepanjang 268 km dengan batas di dalam propinsi Kalimantan Barat. Di sebelah utara, kawasan TNBK berbatasan dengan negara bagian Serawak, Malaysia. Untuk sebelah timur berbatasan dengan provinsi Kalimantan Timur dan di sebelah selatan berbatasan dengan Banua Martinus dan Putussibau, serta berbatasan dengan Wilayah Lanjak atau Nanga Badau di sebelah barat.

1.3 Kondisi Fisik Kawasan

gambar 1.2 Bentang Alam Taman Nasional Betung Kerihun

a. Topografi Sebagian besar kawasan TNBK memiliki topografi berbukit dan bergunung serta sedikit dataran dengan ketinggian tempat berkisar antara 150 m sampai dengan sekitar 2.000 m dpl. Berdasarkan kelompok ketinggiannya, TNBK terbagi dalam : > 1.500 mdpl : 0,92%

200 500 mdpl 500 700 mdpl 700 1.000 mdpl 1.000 1.500 mdpl < 200 mdpl

: 38,51 % : 28,14 % : 15,90 % : 11,19 % : 5,34 %

Sebanyak 61,15 % dari luas kawasan TNBK mempunyai kelerengan yang terjal di atas 45 % dan yang berlereng diantara 25 45% sebanyak 33,08 %, serta hanya sebanyak 5,77% yang berlereng di bawah 25%. Kawasan bukit dan gunung TNBK terdiri dari rangkaian Pegunungan Kapuas Hulu di bagian utara yang berbatasan dengan Serawak dan di bagian timur adalah Pegunungan Muller yang berbatasan dengan provinsi Kalimantan Timur. TNBK hampir tidak mempunyai daerah landai kecuali pada lembahlembah sungai yang relatif sempit. Kawasan TNBK paling tidak mempunyai 179 puncak yang tersebar sebanyak 65 titik puncak di DAS Embaloh, 36 di bagian DAS Sibau, 26 di DAS Mendalam, dan 52 di wilayah DAS Kapuas. Penamaan Betung Kerihun diambil dari 2 gunung, yakni Gunung Betung (1.150 m) di sebelah barat dan Gunung Kerihun (1.790 m) di sebelah timur yang merupakan puncak tertinggi dari kawasan TNBK. b. Keadaan geologi Keadaan geologi kawasan TNBK tersebut berhubungan dengan sejarah pulau borneo yang memang unik. Borneo yang merupakan pulau terbesar ketiga di dunia (451.865 km2) terletak di ujung timur dari dataran sunda yang merupakan bagian dari dunia tropic lama (old world tropics) dipisahkan oleh lautan yang dangkal (sekitar 200m) dari Semanjung Malaysia dan Sumatera. Pulau borneo ini terbentuk pada masa cretaceous dengan umur lebih dari 60 juta tahun. Pegunungannya yang meliputi Kapuas Hulu, Iran, Apo Duat dan lainnya berawal dari pusat kawah atau bagian kerak yang keras. Satuan geologi di kawasan TNBK terdiri atas Kelompok Embaloh, Kompleks Kapuas, Batuan Terobosan Sintang, serta Kelompok Selangkai dan Vulkanik Lapung. Satuan geologi yang mendominasi TNBK adalah Kelompok Embaloh

(85%). Bagian yang sangat menarik secara geologi adalah bagian timur DAS Kapuas yang mempunyai spesifikasi sejarah geologi yang lebih kompleks yaitu perpaduan antara batuan Gunung Api Nyaan (ten), Kompleks Kapuas (jklk), Batuan Gunung Api Lapung (tml), dan Batuan Terobosan Sintang (toms). Sedangkan litologinya berupa batu asbak, batu pasir malih, batu lanau malih, filit, serpih, argilit, dan turbidit. c. Tanah Secara umum, jenis tanah di kawasan TNBK adalah seragam dan termasuk ke dalam kelompok dystropepts dengan tingkat pelapukan ringan. Tanah ini beriklim panas dengan kelembapan rendah wakau ditutupi kanopi hutan yang kondisinya masih baik. Jenis tanah yang terdapat di kawasan TNBK secara garis besar tergolong dalam 3 jenis, yaitu:
a. Tanah Organosol

Tanah organosol dan giel humus yang terdapat pada daerah-daerah yang drainasenya kurang baik yaitu pada rawa- rawa dan daerah daerah yang terpengaruh oleh pasang surutnya air sungai. Tanah jenis ini berwarna kelabu sampai hitam dan tersebar di Kecamatan Embaloh Hulu.
b. Tanah Alluvial

Tanah alluvial terdapat di kiri kanan sungai sebagai hasil pengendapan material sungai, tanahnya lebih subur dibandingkan dengan jenis tanah lannya. Kelompok tanah ini tersebar di sepanjang sungai besar termasuk wilayah dataran Sungai Mendalam, Sungai Sibau, dan Sungai Embaloh.
c. Tanah Podsolik Merah Kuning

Tanah podsolik merah kuning dan tanah kompleks podsolik merah kuning serta latosol yang mendominansi kawasan TNBK. Jenis tanah ini terdapat pada daerah yang berbukit-bukit dan bergelombang sampai pegunungan dan tersebar di wilayah Kecamatan Putussibau Utara, Putussibau Selatan Dan Embaloh Hulu.

d. Hidrologi Sistem hidrologi kawasan TNBK merupakan sistem besar daerah aliran sungai (DAS) Kapuas. DAS Kapuas sendiri meliputi area seluas 9.874.910 hektar atau sekitar 67% dari provinsi Kalimantan Barat yang seluas 14. 680.700 hektar. Secara keseluruhan TNBK mempunyai lima bagian sub DAS yaitu sub DAS Embaloh di barat, Sub DAS Sibau, Sub DAS Apalin dan Sub DAS Mendalam di bagian tengah, serta Sub DAS Hulu Kapuas atau Koheng dan Sub DAS Bungan di bagian timur. Sungai-sungai di TNBK memiliki kenampakan yang dramatis dengan jurang yang terjal dan licin serta berlantai dasar batuan induk hitam akibat aktivitas vulkanik pada post-eocene. Salah satu diantaranya adalah Sungai Embaloh yang batuan dasar sungainya berumur sangat tua dan tertanam dalam pada bagian lipatan yang curam dari batuan basalt dan andesit. Panjang sungai besar di TNBK antara lain:

Gambar 1.3 Kondisi Sungai Di Kawasan TNBK

Sungai Embaloh, dari mata air di puncak Gunung Tunggal (1.120 m) sampai di perbatasan kawasan TNBK di Sungai Paloh sepanjang 95 km

Sungai Sibau, mengalir sepanjang 25 km dari mata air di Gunung Aseh (850 m) ke perbatasan TNBK bagian selatan. Sungai Menyakan yang

merupakan cabang Sungai Sibau dengan mata air di Gunung Lawit (1.770 m) memiliki panjang sungai 65 km.
-

Sungai Mendalam bermata air di Gunung Batu (1.410 m) sepanjang sekitar 30 km.

Sungai Hulu Kapuas/ Koheng bermata air di Gunung Cemaru (1.1810 m) sepanjang sekitar 100 km. Sungai Bungan yang bermuara di Kapuas Koheng cabang terpanjangnya adalah 50 km dan bermata air di Gunung Liang Cahung di perbatasan dengan Kalimantan Timur.

e. Tipe Ekosistem

Keanekaragaman ekosistem di kawasan TNBK sangat tinggi dan keadaan vegetasi hutannya masih baik dan relatif utuh, terdiri dari delapan tipe ekosistem, yaitu Hutan Dipterocarpaceae Dataran Rendah (low land dipterocarp forest), Hutan Aluvial (alluvial forest), Hutan Rawa (swamp forest), Hutan Sekunder Tua (old secondary forest), Hutan Dipterocarpaceace Bukit (hill dipterocarp forest), Hutan Berkapur (limestone forest), Hutan Sub-Gunung (sub-montane forest), dan Hutan Gunung (montane forest).

f. Curah Hujan

Berdasarkan data selama 40 tahun (1902 - 1941) pengukuran Berlage Jr. (1949), curah hujan rata-rata pertahun adalah 4.341 mm dengan jumlah hari hujan 182,2 per tahun. Berdasarkan data tahun 1947 1996 dari Bandara Pangsuma (Putussibau) curah hujan rata-rata adalah 4.201 mm dengan jumlah hari hujan 177,8 per tahun. Hal ini menggambarkan bahwa iklim TNBK dan sekitarnya tidak banyak berubah selama kurun waktu hamper 100 tahun. TNBK memiliki iklim selalu basah Tipe A dengan nilai 0 2,6 %.

g. Sosial Ekonomi Masyarakat

Selain keanekaragaman hayati yang tinggi, kawasan TNBK juga memiliki kekayaan budaya yang beragam, setidaknya kawasan TNBK dikelilingi oleh 7 (tujuh) etnis dayak. Penduduk asli di kawasan sekitar TNBK adalah tergolong kelompok etnik dayak yang meliputi Dayak Iban, Tamambaloh, Taman Sibau, Kantu, Kayan Mendalam, Bukat Mendalam, Bukat Metelunai, Dan Punan Hovongan. Hanya kelompok Punan Hovongan yang bermukim di dalam kawasan TNBK dan mereka salah satu kelompok dayak yang mewakili empat tipologi berbagai kelompok dayak di seluruh Kalimantan atau Borneo.

h. Zonasi Taman Nasional Betung Kehirun

Pada bulan Juli 2009 melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor: SK. 120/IV-KK/2009 Tanggal 15 Juli 2009, zonasi Taman Nasional Betung Kerihun telah ditetapkan. Berdasarkan surat keputusan tersebut, kawasan TNBK terbagi dalam 6 (enam) zona yaitu : Zona Inti, Zona Rimba, Zona Pemanfaatan, Zona Tradisional, Zona Religi, Budaya dan Sejarah, Serta Zona Pemukiman. a. Zona Inti Seluas 385.368 ha (48,17 %)

Dengan rincian DAS Embaloh 120.343 ha, DAS Sibau 61,291 ha, DAS Mendalam 32.120 ha dan DAS Kapuas 171.615 ha. Zona Inti TNBK merupakan kawasan dengan lima tipe ekosistem yang memiliki tingkat kerentanan tinggi kaerna merupakan daerah tengkapan air utama. Zona ini merupakan habitat dari spesies kunci kawasan TNBK yait Orang utan (Pongo pygmaeus pygmaeus), burung-burung dari kerabat Bucerotidae dan habitat dari ikan semah (Tor spp.)
b.

Zona Rimba Seluas 232.529 ha (28,94 %)

Zona Rimba di DAS Embaloh seluas 59.806 ha, DAS Sibau 52.227 ha, DAS Mendalam 43.845 ha, dan DAS Kapuas 76,012 ha. Zona Rimba di TNBK merupakan lokasi-lokasi berpotensi menjadi areal wisata terbatas dan minat khusus. selain itu zonai merupakan daerah jelajah dari berbagai satwa liar di kawasan TNBK serta merupakan persinggahan dari burung-burung migran. c. Zona Pemanfaatan Seluas 24.859 ha (3,11 %)

Zona pemanfaatan juga tersebar di seluruh DAS TNBK. di DAS Embaloh seluas 7.170 ha, DAS Sibau 7.425 ha, DAS Mendalam 2.160 ha dan DAS Kapuas seluas 8.104 ha. Zona ini Menyimpan potensi berupa lokasi-lokasi pengembangan wisata alam, berupa gua, air terjun, pegunungan karst, sungai dengan riam-riam serta (trail). d. Zona Tradisional seluas 143.894 ha (17,99 %)

Untuk DAS Embaloh, terdapat zona tradisional seluas 28.259 ha, DAS Sibau 6.369 ha, DAS Mendalam 16.398 ha dan 92.876 di DAS Kapuas. Zona ini dinemtuk sebagai zona pemenuhan kebutuhan protein (ikan,babi) dan hasil non kayu (rotan, getah, jelutung, sarang walet) bagi masyarakat di sekitarnya.
e.

Zona Religi, Budaya dan Sejarah seluas 10.196 ha (1,27 %)

Zona ini hanya terdapat di DAS Embaloh dan DAS Kapuas. di DAS Embaloh terdapat 4.182 ha dan 6.014 ha di DAS Kapuas. Di zona ini terdapat berbagai potensi peninggalan sejarah dan situs budaya dalam bentuk makam leluhur masyarakat Dayak yang dinamakan tembawang. f. Zona Khusus (Pemukiman) seluas 4.154 ha (0,52 %)

Zona khusus (pemukimam) ini terdiri dari kawasan pemukimam penduduk (Desa Tanjung Lokang di DAS Kapuas) beserta ladang di sekitar sungai. adanya kelompok masyarakat Punan Hovongan di Desa Tanjung Lokang yang telah menempati wilayah ini jauh sebelum penunjukan kawasan TNBK menjadikan zona ini perlu dibentuk. Zona

khusus ini terdapat di DAS Kapuas dengan luas 3.905 ha dan 249 ha di DAS Mendalam yang merupakan ladang masyarakat Dayak Bukat di tepi Sungai Mendalam.

1.4 Potensi Kawasan

a. Flora Setidaknya terdapat 695 jenis pohon yang tergolong dalam 15 marga, dan 63 suku. 50 jenis diantaranya merupakan jenis endemik borneo. Sebagai contoh Amyxa pluricormis yang merupakan kerabat kayu gaharu (Aquilaria spp.) Tidak hanya endemik borneo, namun juga merupakan marga yang tunggal. Selain itu, ditemukan pisang jenis baru Musa lawitiensis yang hanya dapat dilihat di Gunung Lawit (DAS Sibau). Beberapa jenis flora temuan baru seperti Neo uvaria, Acuminatissima, Castanopsis inermis, Lithocarpus phillipinensis, Chisocheton caulifloris, Eugenia spicata, dan Shorea peltata juga terdapat di TNBK. Keanekaragaman nabati yang tinggi ini terlihat juga dengan jenis di setiap famili tumbuhan. Suku Dipterocarpaceae mempunyai jumlah jenis terbesar, yaitu 121 dari total 267 jenis yang tumbuh di Borneo. Sedangkan untuk marga Shoreo mempunyai jumlah jenis tidak kurang dari 30 jenis. Untuk suku tumbuhan lain tidak kurang dari 30 jenis. Suku tumbuhan lain yang mempunyai jumlah jenis banyak adalah Euphorbiaceae (73), Clusiaceae (33), Burseraceae (30), Mrytaceae (28). Berdasarkan studi etnobotani yang dilakukan di kawasan TNBK, diperoleh 90 jenis tumbuhan obat tradisional dari dusun Tanjung Lokang, kemudian diseleksi dan contoh bagian daun, ranting, kulit batang, akar, bunga, buah, atau seluruh bagian tumbuhannya dianalisis untuk mengetahui potensi senyawa bioaktif yang terkandung di dalamnya. Analisis menunjukkan bahwa tumbuhan obat tradisional ini berpotensi sebagai bahan berbagai obat baru. b. Fauna TNBK merupakan surga bagi beranekaragam fauna. Berbagai kelompok burung teridentifikasi sebanyak 301 jenis yang tergolong dalam 151 marga dan 36 suku. Diantaranya terdapat 15 jenis merupakan pendatang

(migran), sebanyak 6 jenis merupakan temuan baru untuk Indonesia, yaitu Acciper nisus, Dendricitta cinerascens, Ficedula parva, Luscinia calliope, Pycononotus flasvescent, dan Rhinomyas brunneata. Sebanyak 63 jenis merupakan jenis burung yang dilindungi oleh undang-undang, termasuk di dalamnya adalah maskot fauna provinsi Kalimantan Barat yaitu Enggang Gading (Buceros vigil) dan 24 jenis merupakan jenis endemik Borneo. Dari kelompok mamalia terinventarisir sebanak 48 jenis mamalia, diantaranya adalah Harimau Dahan (Neofolis nebulosa), Kucing Hutan (Felis bengalensis), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kijang (Muntiacus muntjak), Kijang Emas (Muntiacus atherodes), Rusa Sambar (Cervus sp.) dan Kancil (Tragulus napu) dan satu jenis berang-berang (Lutra sumatrana) yang dinyatakan langka oleh IUCN ternyata masih bisa ditemui di DAS Mendalam. Dari kelompok primata ditemukan sebanyak 8 jenis, yaitu : Orang Utan (Pongo pygmaeus pygmaeus), Kelampiau (Hylobates muelleri), Hout (Presbytis frontata), Kelasi (Presbytis rubicunda), Beruk (Macaca nemestrina), Kera (Macaca fascicularis), Kukang (Nycticebus coucang) dan Tarsius (Tarsius bancanus). Secara keseluruhan untuk kelompok ikan yang berhasil diidentifikasi sebanyak 112 jenis ikan yang tergolong dalam 41 marga dan 12 suku, dan 14 jenis diantaranya merupakan jenis endemik Borneo. Ditemukan tiga jenis ikan spesies baru yang salah satunya ikan pelekat yang diberi nama Gastromyzon embalohemsis IR Spec. Sedangkan dua jenis lainnya masih dalam pengkajian ilmiah untuk penamannya. Salah satu jenis ikan komsumsi dengan nilai cukup mahal adalah ikan semat (Tor tombroides). Dari kelompok serangga di Taman Nasional Betung Kerihun tercatat tidak kurang dari 170 jenis yang teridentifikasi. Keanekaragaman jenis herpetofauna (amphibian dan reptilia) di Taman Nasional Betung Kerihun juga cukup tinggi. Terdapat 103 jenis yang telah dapat diidentifikasi yang terdiri yang terdiri dari 51 jenis amphibi, 26 jenis kadal, 2 jenis buaya, 3 jenis kura-kura dan 21 jenis ular. Hal yang menarik adalah ditemukannya salah satu jenis tergolong katak terkecil di dunia yaitu Leptobrachella myorbergi yang ukuran dewasanya kurang dari 1 (satu) cm.

Gambar 1.4 Jenis-Jenis Fauna Yang Ada di TNBK

c. Wisata Alam

Keindahan bentang alam TNBK yang unik dan bervariasi, dimulai dari keberagaman ekosistem, keanekaragaman hayati, hingga tipe geologi kawasan TNBK menyimpan keindahan yang layak untuk dinikmati. Setiap sungai yang melintasi kawasan TNBK menyimpan pemanangan dan fenomena alam yang unik, wilayah barat TNBK (DAS Embaloh) dan das sibau merupakan habitat dari spesies kunci kawasan TNBK. Berbagai jenis flora dan fauna endemik dapat dilihat di kawasan ini. Satu hal yang khas adalah keberadaan sepan di kawasan TNBK. Sepan adalah tempat yang paling cocok untuk dilakukan pengamatan mamalia besar, dimana mamalia besar sering menuju sepan pada pagi sore hari untuk minum. Sepan terdapat hampir di seluruh Sub DAS TNBK. Masing-masing terdapat satu sepan di Sub DAS Bungan yaitu di dekat muara Sungai Pono, di Sub DAS Kapuas Koheng terdapat di Sungai Tahum, di Sub DAS Sibau terdapat di Sungai Payo, dan di Sub DAS Embaloh di Sungai Gamalung. Sedangkan di Sub DAS Mendalam setidaknya terdapat dua belas sepan. TNBK juga memberikan sisi petualangan bagi para adventurer. Dari 179 puncak yang dimiliki kawasan TNBK, setidaknya ada 4 (empat) puncak gunung yang layak untuk didaki. Selain pendakian, keempat das di

wilayah TNBK juga memberikan tantangan khusus bagi petualang air. Arung jeram dengan rute sedang hingga berat tersedia di TNBK. Di samping itu, juga bisa dilakukan variasi petualangan air lainnya, seperti canoeing, body rafting, ataupun board rafting. Puncak petualang ekstrim yang dapat dilakukan di kawasan TNBK adalah extreme jungle trekking, cross borneo west to east, melintasi DAS Kapuas-Pegunungan Muller-Sungai Mahakam.

1.5 Nilai Penting Kawasan

Taman Nasional Betung Kerihun merupakan kawasan yang memegang fungsi vital bagi kehidupan manusia baik di tingkat lokal, regional, nasional maupun internasional. Berikut merupakan beberapa nilai penting yang dimiliki oleh kawasan Taman Nasional Betung Kehirun, antara lain:
1. Kawasan TNBK dengan luas 800.000 hektar dengan ragam tipe ekosistemnya

yang terbentang pada ketinggian di atas 150 2.000 m dpl merupakan salah satu benteng biodiversitas di Indonesia, bahkan di dunia.
2. Secara keseluruhan TNBK menyumbang sebanyak 8,1 % dari seluruh DAS

utama Kapuas di Kalimantan Barat yang mempunyai catchment area seluas 9.874.910 hektar. Tidak kurang dari 60 % tangkapan air di dalam kawasan merupakan sumber air bagi danau dan sungai-sungai yang mengalir di bawahnya.
3. Di tingkar nasional, TNBK berdampingan dengan 19 taman nasional lain di

Indonesia menjadi sebuah taman nasional model


4. TNBK merupakan Kawasan Konservasi Lintas Batas (Transfrontier Reserve)

pertama di Asia, dimana TNBK berbatasan langsung dengan Lanjak Entimau Wildlife Sanctuary (LEWS) di Serawak, Malaysia. Kawasan TNBK juga mrupakan salah satu focus penting dalam aktivitas program Heart of Borneo (HoB) yang melibatkan tiga negara, yaitu Indonesia, Malaysia dan Brunei Darussalam.

1.6 Pengelolaan Kawasan

Berbagai upaya pengelolaan telah dilakukan dalam konteks konservasi, yakni perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan. Keutuhan kawasan menjadi kunci utama keberhasilan pengelolaan, berbagai upaya perlindungan dan pengamanan baik bersifat preventif dan preemtif telah dilakukan melalui patroli rutin, operasi gabungan, sosialisasi, dan pengamanan hutan swakarsa. Dalam rangka pelestarian biodiversitas, berbagai upaya yang telah dilakukan antara lain: Identifikasi dan inventarisasi jenis Dipterocarpaceae, tanaman obat, tanaman hias, orang utan dan flora fauna unggulan kawasan TNBK lainnya. konservasi eksitu yang saat ini tengah dikembangkan adalah untuk jenis tanaman hias khususnya anggrek. Adapun upaya pemberdayaan pada masyarakat di sekitar TNBK diantaranya pengembangan budidaya karet, pengembangan agroforestry, pengembangan kerajinan dan berbagai pelatihan untuk masyarakat. Hal ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan masyarakat desa sekitar kawasan terhadap hasil hutan di kawasan TNBK. 1.7 Waktu Berkunjung Terbaik Masing- masing atraksi memiliki waktu kunjung terbaik yang berbeda, yaitu: Bulan Juni Agustus, merupakan waktu terbaik untuk menikmati atraksi alam, karena tidak sering terjadi hujan. Bulan Januari Maret, merupakan waktu yang tepat untuk atraksi petualangan khususnya arung jeram. Bulan April Mei merupakan waktu kunjung terbaik untuk fenomena budaya di DAS Embaloh untuk menyaksikan perayaan perayaan adat. Bulan November Januari merupakan waktu kunjung terbaik untuk pengamatan flora dan fauna, karna merupakan waktu dimana tanaman berbuah dan beberapa spesies primata dan ikan berada dalam masa reproduksi.

Sumber : Anonim.2009. Buku Informasi Taman Nasional Betung Kehirun. Balai Besar Taman Nasiosal Betung Kerihun. Kalimantan Barat.

TUGAS INDIVIDU MAKALAH BIOLOGI KONSERVASI Taman Nasional Betung Kehirun

Disusun Oleh: Siti Nur Ekawati 080145 VI B

Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam Fakultas Keguruan Dan Ilmu Kependidikan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2011