Anda di halaman 1dari 34

MAKALAH ANATOMI FISIOLOGI MANUSIA

SISTEM INTEGUMENTUM

Disusun oleh: Fransiskus Asisi Dian Kristianto (108114067) Robert Dwijantara Putra Agnes Astri Sukmaratri Skolastika Ruth Maharani (108114069) (108114072) (108114073)

FAKULTAS FARMASI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2011

SISTEM INTEGUMENTUM

A. Definisi Sistem integumentari tubuh terdiri dari kulit dan derivatnya, seperti rambut, kuku, kelenjar, dan beberapa reseptor khusus. Kulit merupakan bagian terluar tubuh dan organ tubuh yang terbesar. Pada orang dewasa, rata-rata kulit menempati daerah permukaan kira-kira 19.355 cm2 dengan berat 4,5 kg. Kulit juga merupakam struktur yang benar-benar kompleks dan menampilkan beberapa fungsi yang berguna untuk kelangsungan hidup (Basoeki, 1988). Kulit melapisi jaringan tubuh di bawahnya dan melindunginya dari kerusakan mekanis, kemis, panas, dan invasi bakteri. Lapisan teratas dari kulit merupakan lapisan ber-zat tanduk yang berfungsi melindungi permukaan kulit dari kehilangan air. Kulit juga mengandung jaringan pembuluh darah di bawah pengaruh system saraf, sehingga juga memiliki peranan penting dalam mengatur (meregulasi) suhu tubuh (Soewolo, Basoeki, Yudani., 2005).

B. Fungsi Kulit Pengelompokan fungsi kulit secara umum adalah sebagai berikut: 1. Fungsi proteksi Kulit menjaga bagian tubuh terhadap gangguan fisis atau mekanis, misalnya terhadap gesekan, gangguan kimiawi yang dapat menimbulkan iritasi (asam kuat). Gangguan panas seperti radiasi, sinar ultraviolet, gangguan infeksi dari luar misalnya bakteri dan jamur. Adanya bantalan lemak, tebalnya lapisan kulit dan serabut-serabut jaringan penunjang berperan sebagai pelindung terhadap gangguan-gangguan fisis. Kulit juga memiliki melanosit yang berperan dalam melindungi kulit terhadap paparan sinar matahari(Syaifuddin, 2006). 2. Proteksi ransangan kimia Proteksi ini dapat terjadi karena sifat stratum korneum yang impermeable terhadap berbagai zat kimia dan air. Disamping itu, terdapat lapisan keasaman

kulit yang melindungi kontak kulit dengan zat kimia. Lapisan keasaman kulit terbentuk dari hasil ekskresi keringat dan sebum yang menyebabkan pH nya 5-6,5 (Syaifuddin, 2006). 3. Fungsi absorbsi Kulit sehat tidak mudah menyerap air, larutan dan benda padat. Tetapi cairan yang mudah diserap adalah cairan yang mudah menguap atau larut dalam lemak. Permeabilitas kulit dapat mengambil bagian fungsi respirasi dalam penyerapan O2, CO2, dan uap air. Kemampuan absorbsi kulit dipengaruhi tebal tipisnya, hidrasi, kelembaban dan metabolisme. Penyerapan terjadi dicelah antara sel, menembus sel-sel epidermis atau melalui saluran kelenjardan yang lebih banyak melalui sel-sel epidermis (Syaifuddin, 2006). 4. Fungsi kulit sebagai pengatur suhu tubuh

Body Temperature Regulation ( Anonim, 2010 ) Suhu tubuh manusia adalah tetap, meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal itu dipertahankan karena penyesuaian antara panas yang hilang dan panas yang dihasilkan, yang diatur oleh pusat pengatur panas. Pusat ini segera menyadari bila ada perubahan pada panas tubuh, karena suhu darah yang mengalir melalui medulla oblongata. Suhu normal (sebelah dalam) tubuh, yaitu suhu visera dan otak adalah 360-37,5oC. Suhu kulit sedikit lebih panas dan

kelebihan panas cepat terpancar dan hilang karena kelenjar keringat bertambah aktif dan arena itu terjadi penguapan cairan dari permukaan tubuh. Pada vasokontraksi pembuluh darah dalam kulit mengerut, kulit menjadi pucat dan dingin, keringat hampir dihentikan, dan hilangnya panas dibatasi.Dengan pengendalian ini pelepasan panas ditambah atau dikurangi sesuai dengan kebutuhan tubuh. Panas dilepas oleh kulit dengan berbagai cara: Dengan penguapan, jumlah keringat yang dibuat tergantung dari banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh dalam kulit. Dengan pemancaran, panas yang dilepas di udara sekitarnya. Dengan konduksi, panas dialihkan ke benda yang disentuh, seperti pakaian. Dengan konveksi (pengaliran), karena mengalirnya udara yang telah panas, maka udara yang menyentuh permukaan tubuh diganti dengan udara yang lebih dingin.

Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu tubuh inti telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37C. apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan terangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap (Anonim, 2010).

5. Fungsi ekskresi Kelenjar-kelenjar yang terdapat pada kulit mengeluarkan zat yang tidak berguna lagi atau sisa metabolisme dalam tubuh berupa NaCl, urea, asam urat, dan ammonia. Sebum yang diproduksi oleh kulit berguna untuk melindungi kulit karena lapisan sebum (bahan berminyak yang melindungi kulit) ini

menahan air yang berlebihan sihingga kulit tidak menjadi kering(Syaifuddin, 2006). 6. Fungsi persepsi Kulit mengandung ujung-ujung saraf sensorik di dermis dan subkutis. Respon terhadap ransangan panas diperankan oleh dermis dan subkutis, terhadap dingin diperankan oleh dermis, perabaan diperankan oleh papilla dermis dan marker renvier, sedangkan tekanan diperankan oleh epidermis(Syaifuddin, 2006).

7. Fungsi pembentukan pigmen Sel pembentuk pigmen (melanosit) terletak pada lapisan basal dan sel ini berasal dari rigi saraf. Enzim melanosum dibentuk oleh golgi dengan bantuan terosinase, ion Cu, dan O2 terhadap sinar matahari mempengaruhi melanosum. Pigmen disebar ke epidermis melalui tangan-tangan dendrit sedangkan lapisan dibawahnya dibawa oleh menaloafag.Warna kulit tidak selamanya dipengaruhi oleh pigmen tetapi juga tebal-tipis reduksi Hb dan karoten(Syaifuddin, 2006). 8. Fungsi keratinisasi Keratinosit dimulai dari sel basal yang membelah, sel basal yang lain berpindah dan berubah bentuk menjadi bentuk spinosum. Makin keatas sel ini makin gepeng, bergranula menjadi sel granulosum. Semakin lama intinya menghilang dan keratinosit menjadi sel tanduk yang amorf. Proses ini terjadi seumur hidup. Keratinosit melalui proses sintasis dan degenerasi menjadi sel tanduk memerlukan 14 sampai 21 hari. Hal ini juga memberikan perlindungan terhadap infeksi mekanis-fisiologik(Syaifuddin, 2006). 9. Fungsi pembentukan vitamin D Dilakukan dengan mengubah dehidroksi kolesterol dengan pertolongan sinar matahari(Syaifuddin, 2006).

C. Anatomi Kulit D. C.1. Lapisan Kulit

Gambar 1. Gambar Struktur Kulit Manusia(Syaifuddin,2006)

C.1.1. Epidermis Epidermis adalah bagian terluar kulit dan tesusun dari 4 sampai 5 lapisan epitelia.Tebalnya kira-kira 0,1 mm yang bervariasi dari 0,07 mm pada kulit tipis sampai 1,4 mm pada kulit yang tebal di telapak tangan dan kaki. Epidermis tidak berisi pembuluh darah tetapi menerima difusi zat-zat dari dermis untuk mengadakan pertukaran sisa-sisa metabolisme dbagi nutrisi di dalam darah (Basoeki,1988). Lapisan-lapisan epidermis: a. Stratum basale atau Stratum germinativum
Strarum Basale

adalah lapisan tunggal sel yang melekat pada jaringan ikat

dari lapisan kulit di bawahnya dermis. Disebut stratum basal karena sel-selnya terletak dibagian basal. Lapisan tunggal yang sel-selnya mampu membelah diri. Lapisan ini terikat pada membran dasar yang memisahkan epidermis dengan jaringan konektif dari epidermis yang berdekatan. Bentuknya silindris (tabung) dengan inti yang lonjong. Di dalamnya terdapat butir-butir yang halus disebut butir melanin warna.Sel tersebut disusun seperti pagar (palisade) di bagian bawah

sel tersebut terdapat suatu membran yang disebut membran basalis. Sel-sel basalis dengan membran basalis merupakan batas terbawah dari epidermis dengan dermis (Basoeki,1988). Permukaan kulit yang tidak terdapat rambut mengandung sel epitel khusus yang dikenal sebagai sel Merkel. Sel ini ditemukan di antara sel-sel yang paling dalam yang terdapat pada stratum germinativum. Sel-sel ini sensitif terhadap rangsangan kimia, sel Merkel menerima rangsangan kimia yang menstimulasi saraf sensorik (Basoeki,1988). b. Stratum spinosum / Stratum akantosum Stratum spinosum adalah lapisan sel spina atau tanduk karena sel tersebut disatukan oleh tonjolan yang menyerupai spina (penghubung intraseluler). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yang paling tebal dan dapat mencapai 0,2 mm dan terdiri dari 8 sampai 10 sel yang tidak beraturan bentuknya. Selselnya disebut spinosum karena jika kita lihat dibawah mikroskop sel-selnya terdiri dari sel-sel yang bentuknya poligonal (banyak sudut) dan mempunyai tanduk (spina). Disebut akantosum karena sel-selnya berdiri. Dibentuk dari selsel yang sangat erat dihubungkan oleh desmosoma. Kecil fibril-fibrilnya menghubungkan sel yang satu dengan yang lainya yang disebut intercelular bridges atau jembatan interselular (Basoeki,1988). c. Stratum granulosum Stratum granulosum adalah lapisan epidermis ketiga yang terdiri dari 3 sampai 5 baris sel-sel pipih yang berisi granul berwarna gelap yang disebut keratohialin yang merupakan precursor pembentukan keratin. Keratin adalah suatu protein kedap air yang didapati pada lapisan epidermis. Inti sel-sel pada stratum granulosum ada dalam berbagai tahap degenenerasi. Karena inti ini pecah, sel-sel ini tiadak mampu lagi melaksanakan metabolisme dan kemudian mati (Basoeki,1988). d. Stratum lucidium Stratum lusidum adalah lapisan jernih seperti suatu pita yang bening yang batas-batas sel nya sudah tidak terlihat lagi dan tembus cahaya. Selnya pipih, bedanya dengan stratum granulosum adalah sel-sel sudah banyak yang kehilangan

inti dan butir-butir sel telah menjadi jernih sekali dan tembus sinar. Lapisan ini hanya terdapat pada telapak tangan dan telapak kaki(Syaifuddin,2006). e. Stratum corneum Stratum corneum adalah lapisan epidermis teratas yang dapat ditemukan pada permukaan kulit yang tebal maupun yang tipis. Stratum corneum terdiri dari 25 35 lapisan datar yang multiple dan sel yang interlocking. Epithelium mengandung sejumlah besar keratin yang disebut keratinized atau cornified. Normalnya, stratum corneum ini merupakan lapisan yang relative kering, yang membuat permukaan tidak sesuai untuk pertumbuhan mikroorganisme. Proses cornification mencul di mana saja khuusnya pada permukaan kulit kecuali

permukaan anterior seperti pada mata(Basoeki,1988). Meskipun stratum corneum resisten terhadap air, stratum corneum tidak tahan air dan air dari cairan interstitial mempenetrasi permukaan, diuapkan melalui sekeliling udara. Proses ini disebut juga insensible perspiration (Basoeki,1988).

C.1.2.Dermis Lapisan dermis atau korium merupakan lapisan kedua kulit. Lapisan ini terdiri daripada tisu penghubung yang berkembang daripada mesoderma yaitu bahagian tengah daripada 3 lapisan primer embrio. Dermis bertindak untuk menyokong lapisan epidermis dan mengikatnya pada lapisan dalam, yaitu lapisan hipodermis. Dermis mempunyai ketebalan kira-kira 0.25 ke 2.55 mm dan lapisan yang paling tebal terletak di bahagian tapak tangan dan tapak kaki. Lapisan dermis yang paling tipis pula terletak di bahagian kelopak mata, penis dan skrotum. Bagian utama kedua dari kulit adalah dermis, yang tersusun dari jaringan ikat yang berisi serabut kolagen dan elastik. Dermis sangat tebal di telapak tangan dan telapak kaki, sangat tipis dikelopak mata, penis, dan skrotum (Basoeki, 1988). Dermis terdiri dari dua lapisan : bagian atas, pars papilaris (stratum papilar) dan bagian bawah, retikularis (stratum retikularis). Baik pars papilaris maupun pars retikularis terdiri dari jaringan ikat longgar yang tersusun dari serabut-serabut : serabut kolagen, serabut elastis, dan serabut retikulus (Syaifuddin, 2006). Serabut ini saling beranyaman dan masing-masing mempunyai tugas yang berbeda. Serabut kolagen, untuk memberikan kekuatan pada kulit, serabut elastis, memberikan kelenturan pada kulit, dan retikulus, terdapat terutama di sekitar kelenjar dan folikel rambut dan memberikan kekuatan pada alat tersebut ( Syaifuddin, 2006).

a. Lapisan Papilar Merupakan lapisan dermal paling atas, sangat tidak rata, bagian bawah papilla nampak bergelombang. Lapisan ini mempunyai sel tisu penghubung seperti fibroblast, sel mast dan mikrofag. Jaringan kapiler yang banyak pada lapisan papilar menyediakan nutrient untuk lapisan epidermal dan

memungkinkan panas merambat ke permukaan kulit. Reseptor sentuhan juga terdapat dalam lapisan papilar (Soewolo, dkk., 2005). b. Lapisan reticular Merupakan lapisan kulit paling dalam, mengandung banyak arteri, vena, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus, serta reseptor tekanan. Baik lapisan papilar maupun lapisan reticular mengandung banyak serabut kolagen dan serabur elastic. Adanya serabut elastic tersebut memberikan kekuatan, keutuhan, kebolehan untuk merenggangkan, memberikan kekenyalan pada kulit dan menyebabkan kulit orang muda lebih elastis, sedangkan kulit orang tua menjadi keriput karena serabut elastis dan lapisan lemak subkutan menjadi sangat berkurang (Soewolo, 2005). Dermis memiliki juga banyak

pembuluh darah, yang berperan untuk

melakukan regulasi suhu tubuh.Bila suhu tubuh meningkat, dilatasi, dan arteriol kapiler-

kapiler dermis menjadi terisi dengan darah yang panas.Dengan demikian, memungkinkan dipancarkan permukaan kulit panas dari ke

udara. Bila suhu lingkungan dingin, maka panas tubuh harus disimpan, untuk itu arteriol dermal berkonstriksi sehingga darah tidak banyak menuju permukaan kulit, panas tubuh yang dipancarkan juga lebih sedikit (Soewolo, 2005).

C.1.3. Subkutis atau Hipodermis Subkutis terdiri dari kumpulan-kumpulan sel-sel lemak dan di antara gerombolan ini berjalan serabut-serabut jaringan ikat dermis. Sel-sel lemak ini bentuknya bulat dengan intinya terdesak ke pinggir, sehingga membentuk seperti cincin. Lapisan lemak ini disebut penikulus adiposus yang tebalnya tidak sama pada tiap-tiap tempat dan juga pembagian antara laki-laki dan perempuan tidak sama (berlainan). Guna penikulus adiposus adalah sebagai shock breaker atau pegas bila tubuh mengalami benturan, isolator panas atau untuk mempertahankan suhu dan penimbunan kalori. Di bawah subkutis terdapat selaput otot kemudian baru terdapat otot (Syaifuddin, 2006).

(http://fisiologikedokteran.files.wordpress.com/2009/12/skin_anathomy_and_physiolo gy1.gif)

C.2. Kelenjar Kulit Ada tiga macam kelenjar yang berhubungan dengan kulit, yaitu kelenjar sebasea, kelenjar sudorifera, dan kelenjar seruminosa :

Kelenjar sebasea atau kelenjar minyak Kelenjar sebasea merupakan kelenjar yang melekat pada folikel rambut dan melepaskan lipid yang dikenal sebagai sebum. Sebum merupakan suatu campuran lemak, kolesterol, protein, dan garam-garam anorganik. Sebum menjaga rambut dari kekeringan dan kerapuhan, membentuk lapisan pelindung. Kelenjar sebasea banyak terdapat di kulit kepala, wajah, dada depan dan belakang dan mereka tidak hadir pada telapak tangan dan telapak kaki (Nangsari,1998).

Kelenjar seruminosa Kelenjar seruminosa adalah kelenjar yang berbentuk pipa dan mensekret minyak lilin disebut seruminus yang dibawa oleh minyak ke dalam saluran, bersama-sama dengan kelenjar sebaseus. Di dalam telinga bagian luar lilin dapat menjadi keras dan menyebabkan tekanan mendesak membran timpani yang memisahkan bagian luar dan telinga bagian dalam. Kelenjar seruminosa ini ditemukan juga di bagian periferi kelopak mata dimana sekresinya meminyaki konjungvita dan kornea mata (Nangsari,1998). Kelenjar keringat Kelenjar keringat adalah sekresi aktif dari kelenjar keringat di bawah pengendalian syaraf simpatis. Kelenjar kulit mempunyai lobulus yang bergulunggulung dengan saluran keluar lurus merupakan jalan untuk mengeluarkan berbagai zat dari badan (kelenjar keringat). Keringat terutama berisi larutan garam dengan konsentrasi kira-kira 1/3 dari yang ada dalam plasma. Keringat dibentuk oleh 2-5 juta kelenjar keringat yang berupa saluran melingkar pada pori-pori permukaan kulit (Nangsari,1998). Kelenjar keringat disusun oleh sel epitelium yang sangat aktif menghasilkan keringat. Di antaranya adalah kelenjar ekrin yang disyarafi oleh syaraf simpatis, melepaskan keringat sebagai reaksi peningkatan suhu lingkungan dan suhu tubuh.

Pengeluaran keringat pada tangan, kaki, dahi, sebagai reaksi tubuh terhadap stressdannyeri. Selain itu juga terdapat kelenjar keringat apokrin disyarafi oleh syaraf-syaraf adrenergik yang terdapat di ketiak, vulva, puting susu dan anus (Nangsari, 1988).

(http://dokterrosfanty.blogspot.com/2009/08/anatomi-dan-fisiologi-kulit.html)

C.3. Keratinisasi kulit

Proses keratinisasi (Mason, 2000).

Keratinisasi merupakan suatu proses pembentukan lapisan keratin dari sel-sel yang membelah. Keratinosit dimulai dari sel basal mengadakan pembelahan, lalu sel basal akan berpindah ke atas dan berubah bentuknya menjadi sel spinosum, makin ke atas sel menjadi makin gepeng dan bergranula menjadi sel granulosum. Makin lama inti menghilang, mengalami apoptosis dan menjadi sel tanduk yang amorf. Sel-sel yang sudah mengalami keratinisasi akan meluruh dan digantikan dengan sel di bawahnya yang baru saja mengalami keratinisasi untuk kemudian meluruh kembali, begitu seterusnya. Proses ini memakan waktu sekitar empat minggu untuk epidermis dengan ketebalan 0.1 mm. Apabila kulit di lapisan terluar tergerus, seperti pada abrasi atau terbakar, maka selsel basal akan membelah lebih cepat. Mekanisme pertumbuhan ini terutama dipengaruhi oleh hormone epidermal growth factor (EPF). (http://fisiologikedokteran.wordpress.com/2009/12/23/fisiologi-kulit/)

C.4. Kuku Kuku adalah sel-sel epidermis yang terkeratin dan keras. Sel-sel ini membentuk bungkusan padat, jernih, membentuk permukaan dorsal bagian ujung tangan dan kaki. Setiap kuku terdiri dari sebuah badan kuku, tepi bebas, dan akar kuku. Badan kuku adalah bagian kuku yang padat dilihat, tepi bebas kuku adalah bagian yang menjorok menjauhi jari, dan akar kuku adalah bagian yang tersembunyi di dalam celah proximal kuku(Soewolo,2005). Kuku tertanam di dalam palung kuku. Dermisnya memuat garis-garis lekukan dan bukan papil-papil seperti pada kulit. Pada palung kuku terdapat banyak saraf dan mengandung banyak pembuluh darah. Bagian proksimal kuku terletak di dalam lipatan kulit yang merupakan bagian paling tipis. Bagian putih yang disebut lunula karena bentuknya seperti setengah bulan merupakan awal kuku tumbuh maju (Pearce,2009).

Anatomi Kuku (Anonim,2010).

Bagian-bagian kuku: 1. Matriks kuku: merupakan pembentuk jaringan kuku yang baru 2. Dinding kuku (nail wail): merupakan lipatan-lipatan kulit yang menutupi bagian pinggir dan atas 3. Dasar kuku (nail bed): merupakan bagian kulit yang ditutupi kuku 4. Alur kuku (nail groove): merupakan celah antara dinding dan dasar kuku 5. Akar kuku (nail root): merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingi dinding kuku 6. Lempeng kuku (nail plate): merupakan bagian tengah kuku yang dikelilingi dinding kuku 7. Lunula: merupakan bagian lempeng kuku berwarna putih dekat akar kuku berbentuk bulan sabit, sering tertutup oleh kulit 8. Eponikium: merupakan dinding kuku bagian proksimal, kulit arinya menutupi bagian permukaan lempeng kuku 9. Hiponikium: merupakan dasar kuku, kulit ari di bawah kuku yang bebas (free adge) menebal 10. Kutikula ialah stratum korneum yang terbentuk dari lipatan kuku proksimal, yang lengket dengan lempeng kuku (nail plate) (Raflizar, 2001). Daerah pertumbuhan kuku terletak pada akar kuku, tersusun dari sel germinal yang selalu membelah untuk menghasilkan kuku. Kuku juga tersusun dari sel-sel mati, yaitu lapisan kompak dari epitel yang mengalami pertandukan. Kuku tumbuh ke arah

distal, meluncur ke atas kulit dasar kuku yang disebut hiponisisum, melanjutkan diri ke epidermis yang meliputi permukaan ventral jari-jari. Perluasan epidermis berzat tanduk pada ujung lipatan proksimal kuku adalah eponisium atau kutikula. Kuku hamper tidak berwarna tetapi nampak kemerahan karena warna darah yang berada di dalam kapiler di bawah kuku(Soewolo,2005). C.5. Rambut

Anatomi Rambut (Anonim, 2010). Pertumbuhan epidermis yang didistribusi secara bervariasi di seluruh tubuh adalah rambut (pili). Fungsi utama rambut adalah sebagai perlindungan. Walaupun perlindungan ini terbatas, rambut melindungi kulit kepala dari luka dan cahaya matahari. Alis dan bulu mata melindungi mata dari benda asing. Rambut hidung dan pada canalis auditorius internal melindungi telinga dari serangga dan debu (Basoeki, 1988). Folikel rambut merupakan lekukan jeluk di dalam epidermis. Folikel rambut dibatasi sel epidermis dan di atas dasarnya terdapat papil tempat awal rambut tumbuh. Dalam keadaan sehat, bila sehelai rambut rontok maka akan diganti sehelai lain yang tumbuh dari papil yang sama (Pearce,2009). Setiap rambut terdiri dari sebuah batang dan sebuah akar. Batang rambut adalah bagian permukaan, sebagian besar menjorok di atas permukaan kulit. Batang rambut kasar terdiri dari tiga bagian utam, yaitu medula disusun oleh barisan sel-sel polihedral yang berisi granula eleidin dan rongga udara. Bagian kortex membentuk bagian terbesar batang dan terdiri dari sel-sel elongata yang berisi granula pigmen pada rambut hitam, tetapi pada rambut putih sebagian besar berisi udara. Kutikula adalah lapisan terluar, terdiri dari sebuah lapisan sel tunggal tipis, pipih, seperti sisik yang

merupakan bagian terbesar yang terkerantinkan. Tersusun seperti atap sirap di sisi sebuah rumah daerah Kalimantan, tetapi tepinya lebih mengarah ke atas daripada ke bawah (Basoeki, 1988). Akar rambut adalah bagian yang terletak di bawah permukaan yang menembus dermis, juga lapisan subcutaneous, seperti bagian batang rambut ia juga berisi medula, kortex, dan kutikula (Basoeki, 1988). Akar rambut dibungkus oleh folikuli rambut, yang dibuat dari selubung akar external dan selubung akar internal. Selubung akar external melanjut arah ke bawah lapisan basale dan spionosum epidermis. Dekat permukaan ia mengisi semua lapisan epidermal. Pada pangkal folikuli rambut, selubung akar external hanya mengisi stratum basale. Selubung akar internal dibentuk oleh proliferasi sel-sel matrix dan mengambil bentuk selubung tubular dalam menuju ke selubung akar external (Basoeki, 1988). Dasar setiap folikuli membesar menjadi suatu struktur yang berbentuk seperti bawang, disebut bulbus. Struktur ini mengisi suatu lekukan yang dianamakan papila rambut, terisi oleh jaringan ikat longgar. Papila rambut berisi beberapa pembuluh darah dan memebrikan makanan untuk pertumbuhan rambut. Bulbus rambut juga mengisi suatu daerah sel-sel yang disebut matrix, suatu lapisan germinal. Sel-sel matrix menghasilkan rambut-rambut baru, karena sel membelah ketika rambut tua luruh. Penggantian ini terjadi dalam folikel yang sama (Basoeki, 1988). Warna rambut disebabkan jumlah pigmen di dalam epidermis. Berhubungan dengan folikel rambut terdapat otot polos kecil, yaitu erektor pilorum atau penegak rambut, terdapat juga kelenjar sebaseus yang mengeluarkan sekret yang disebut sebum. Sebum ini memelihara kulit supaya empuk dan halus, dan rambut mengilat (Pearce,2009). Pada orang-orang dewasa berusia lanjut, 70-100 helai rambut yang luruh setiap harinya masih tergolong normal. Kecepatan tumbuh maupun siklus pergantian dipengaruhi oleh keadaan sakit, makanan, dan faktor-faktor lain. Misalnya, demam yang parah atau sakit lain yang parah, pembedahan besar, kehilangan darah yang cukup banyak banyak, ataupun stress kejiwaan dapat meningkatkan kecepatan rotoknya rambut.

Kecepatan kehilangan berat badan termasuk pembatasan pengambilan makanan berkalori atau protein yang sangat besar juga dapat meningkatkan rontoknya rambut. Peningkatan rontoknya rambut dapat juga terjadi selama 3-4 bulan setelah melahirkan bayi. Obat-obat tertentu dan pengobatan memakai radiasi juga merupakan faktor yang menambah kerontokan rambut. Substansi yang melepaskan rambut berlebihan disebut suatu depilatory. Substansi tersebut melarutkan protein dalam batang rambut, mengubahnya menjadi suatu massa gelatin yang dapat disapu lepas. Karena akar rambut tidak dipengaruhi, pertumbuhan kembali rambut dapat terjadi. Dalam elektrolisis, bulbus rambut dirusak oleh arus listrik sehingga rambut tidak dapat tumbuh kembali (Basoeki,1988). Kelenjar sebasea dan satu berkas otot polos juga berhubungan dengan rambut. Otot ini disebut otot arrector pili, otot ini memanjang dari dermis kulit menuju folikuli rambut. Pada posisi normalnya, rambut membentuk sudut terhadap permukaan kulit. Otot arrector pili berkontraksi di bawah kondisi ketakutan dan dingin, rambut ditarik sehingga posisinya berubah dari sudut di bawah 900 menjadi 900 (Basoeki,1988). Disekitar setiap folikuli rambut terdapat ujung syaraf, disebut plexus akar rambut, syaraf ini sangat peka terhadap rangsangan berupa sentuhan (Basoeki,1988). C.6. Saraf pada Kulit Pada kulit terdapat beberapa reseptor yang dapat kita lihat pada gambar di bawah:

Gbr. Penampang kulit manusia beserta reseptor-reseptornya Penampang saraf, kulit (Anonim, 2010)

(http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi/Image/2-10c.jpg)

Dapat kita lihat reseptor kulit ada 7 yaitu: Saraf meisner o Peka terhadap rangsangan sentuhan atau reseptor sentuhan. o Saraf ini terletak dekat dengan permukaan kulit, sehingga jika kita menyentuh sesuatu akan terasa. o Paling banyak terdapat pada ujung jari, kepala bagian muka, dan ujung lidah. Saraf pacini o Peka terhadap rangsangan tekanan atau reseptor tekanan. o Saraf ini terletak pada lapisan kulit yang lebih dalam. Saraf rufini atau golgi mazzoni o Peka terhadap rangsangan panas atau reseptor panas. Saraf Krause o Peka terhadap rangsangan dingin atau reseptor dingin. Diskus merkel o Sama seperti saraf meisner, peka terhadap rangsang sentuhan. Ujung saraf bebas o Peka terhadap rangsangan sakit atau reseptor sakit. o Rangsangan sakit cukup kuat mengenai kulit menyebabakan penerima rangsang sakit yang ada di dalam kulit bereaksi terhadap rangsang mekanik, suhu, listirk, atau kimia. o Sensasi rasa sakit merupakan sinyal adanya luka pada tubuh, sehingga merupakan alat pelindung (Anonim, 2010).

E. Fisiologi D.1. Pigmentasi Lebih kurang 10-25 % sel-sel di dalam stratum germinativum adalah melanosit yang berasal dari sel-sel neuro ektodermal dan mempunyai perpanjangan sitoplasma yang mirip dengan dendrit pada neuron. Melanosit sebagai sel uniseluler, mensintesis pigmen hitam ,pigmen coklat, melanin, di dalam granula sitoplasma, melanosoma. Pigmen dibentuk terutama di bawah

pengaruh melanosit, Stimulating Hormon (MSH) dan hormon Adreno Kortiko Tropik (ACTH) dari kelenjar hipofisa. Melanosoma bergerak di dalam lapisan khoroid di antara retina dan sklera mata dan di dalam otak. Melanosit tersebar dan menyerap cahaya untuk melindungi lapisan-lapisan di bawah kulit dari kelompok muatan kimia bebas yang dibentuk oleh interaksi cahaya matahari dengan substansi cairan di dalam tubuh (Nangsari,1988). Melanin sama dengan warna merah coklat dan pimen kuning dan lainlain. Sifat-sifat kulit manusia dan warna kulit disintesis dari tiroksin dengan berbagai reaksi: (tironisasi) Tiroksin------------------- L. Dopa----------intermediate---------melanin (oksidasi) (L. 3,4-dihidroksi fenialanin) Aktifitas tiroksin terhambat menyebabkan perbedaan-perbedaan warna kulit orang putih. Berjemur di sinar matahari berarti kulit kena radiasi ultra violet untuk menghitamkan melanin. Dalam beberapa hari, aktifitas tironisasi meningkat, produksi melanin lebih besar dan dilepaskan ke dalam sel-sel epidemal (Nangsari,1988). Berbagai variasi genetik menunjukkan umumnya orang kulit putih tingkatan melaninnya lebih rendah daripada orang hitam, melanosit kurang berkembang, lebih kecil dan berlainan sedikit dengan melanosoma dan aktifitas tironisasi rendah (Nangsari,1988). Albino, adalah suatu keadaan yang didapat dari keturunan di mana produksi melanosoma, tironisasi dan melanin sangat kurang. Warna pada albino adalah merah muda di dalam pembuluh darah kapiler kulit (Nangsari,1988). Warna kulit manusia ditentukan oleh berbagai faktor, yang terpenting adalah jumlah pigmen melanin kulit, peredaran darah, tebal tipisnya lapisan tanduk dan adanya zat-zat warna lain yang bukan melanin yaitu darah dan kolagen. Dalam keadaan normal, melanin dihasilkan secara teratur oleh sel melanosit. Melanin, selain memberi warna pada kulit, juga berfungsi

melindungi kulit dari terpaan sinar matahari yang dapat merusak struktur kulit, dan kulit menjadi gelap. Melanin sangat berguna melindungi kulit terhadap penyinaran sinar ultra violet. Pembentukan pigmen melanin dirangsang oleh sinar ultra violet. Kelainan pada proses pembentukan pigmen melanin kulit, yaitu : a. Melanosis Salah satu penyakit melanosis adalah melasma (chloasma), yaitu adanya bercak-bercak berwarna coklat kehitaman (hiperpigmentasi) di kulit muka yang sangat khas seperti di daerah pipi, dahi dan bibir atas. Melasma sering timbul karena kehamilan, pil kontrasepsi, pemakaian kosmetik dan sinar matahari. Melasmakarena kehamilan, dapat menghilang setelah melahirkan. Melasma karena kosmetika terjadi karena fotosensitisasi oleh zat tertentu seperti zat pemutih. Zat ini menyebabkan kulit lebih rentan terhadap sinar ultra violet sehingga lebih mudah dan cepatmembentuk melanin. b. Gangguan pigmentasi dapat berupa : gangguan fungsi kelenjarminyak yakni pengeluaran minyak yang berlebihan dan bila terjadipenyumbatan saluran kelenjar palit dapat terjadi millium yang dapat meradang, gangguan pertandukan kulit yakni padabagian muka terdapat berbagai macam keratinosis kulit seperti hiperkeratinisasi atau kekolotan dan pada bagian badan, tangan dan kaki terjadi penyisikan kulit seperti sisik ikan, kulit merah dan bersisik, kapalan serta katimumul atau mata ikan, juga gangguan peredaran darah berupa pelebaran pembuluh darah rambut. c. Lentigo Lentigo yaitu sejenis naevuspigmentosus yang terlihat menyerupai ephilides, licin berwarna coklat tua. Lentigo tidak akan memudar walaupundalam musim dingin,serta dapat pula terjadi dibagian tubuh yang tertutup pakaian.

d. Vitiligo Vitiligo adalah gangguan pigmentasi pada kulit yang ditandai dengan terjadinya bercak-bercak putih karena kehilangan melanin. Kelainan ini terjadi secara turun temurun. Bercak ini dapat berukuran besar atau kecil, berbentuk bulat atau tidak menentu tetapi bila bersatu bisa menjadi lebih besar. Bercak-bercak ini lebih sensitif terhadap sinar matahari. Vitiligolebih banyak terjadi didaerah tropik, terutama pada orang-orang berkulit gelap.

D.2. Tipe Stimulus Rasa sentuhan disebabkan rangsangan pada ujung saraf pada kulit yang berbeda-beda menurut ujung saraf yang dirangsang (panas, dingin, dan sakit yang ditimbulkan). Indra rasa, raba terdapat pada kulit. Di samping itu juga sebagai pelepas panas yang ada dalam tubuh. Kulit banyak mempunyai ujung-ujung saraf raba yang menerima rangsangan dari luar, diteruskan ke pusat saraf di otak. Reseptor-reseptor tersebar luas pada lapisan epitel dan jaringan ikat tubuh manusia. Di dalam kulit terdapat tempat-tempat tertentu yang sensitif terhadap panas dan sakit (Syaifuddin, 2006). Serat rasa sakit terangsang seluruhnya bila ada stres mekanik atau kerusakan jaringan akibat hal yang sama disebut sebagai reseptor rasa sakit mekanosensitif, sedangkan untuk reseptor yang dirangsang akibat suhu panas atau dingin disebut reseptor rasa sakit termosensitif. Reseptor lain yang sensitif terhadap bahan kimia sehingga disebut reseptor rasa sakit kemosensitif. Beberapa bahan kimia yang dapat merangsang reseptor kemosesitif meliputi brandikinin, serotonin, histamin, ion kalium, asam, prostataglandin, asetilkonin, dan enzim proteolitik (Guyton, 1994). Walaupun beberapa reseptor rasa sakit terutama hanya sensitif terhadap salah satu macam stimulus di atas, namun kebanyakan reseptor sakit itu sensitif terhadap lebih dari satu tipe stimulus (Guyton, 1994). Sifat non adaptasi dari reseptor rasa sakit. Berbeda dengan kebanyakan reseptor sensorik tubuh yang lainnya, reseptor rasa sakit dapat beradaptasi secara keseluruhan atau tidak beradaptasi sama sekali. Ternyata, pada beberapa kondisi

sewaktu stimulus rasa sakit berjalan terus-menerus, nilai ambang eksitasi serat rasa sakit akan semakin berkurang secara progresif menjadi lebih aktif. Keadaan ini akan meningkatkan sensitivitas reseptor rasa sakit dan disebut sebagai keadaan hiperalgesia (Guyton, 1994). Kita dapat mengerti arti dari hilangnya kemampuan adaptasi dari reseptor rasa sakit, karena ini memungkinkan reseptor untuk tetap memberitahukan seseorang tentang adanya stimulus yang merusak yang menimbulkan rasa sakit selama reseptor itu ada (Guyton, 1994).

D.3. Modalitas rasa sakit Rasa mekanik, rasa suhu, dan rasa nyeri berbeda dengan alat indra yang lain. Reseptornya tergabung dalam satu atau dua organ tertentu. Masing-masing reseptor modalitas rasa ini berdiri sendiri secara terpisah dan tersebar hampir di seluruh bagian tubuh. Serat aferennya tidak membentuk berkas saraf khusus tetapi tersebar pada banyak saraf perifer dan jaringan saraf di pusat. Dengan demikian modalitas rasa ini tidak membentuk alat indra tertentu yang khas (Syaifuddin, 2006).

Rasa mekanik Rasa mekanik mempunyai beberapa modalitas (kualitas) yaitu rasa tekan, rasa raba, rasa getar, dan rasa geli yang berbeda di setiap bagian tubuh tertentu. Dengan menggunakan aestesiometer dapat diketahui bagian kulit yang paling peka terhadap rangsang. Pada permukaan kulit yang peka, titik tekan lebih padat dibandingkan dengan kulit lain. Titik rasa tekan tersebut merupakan manifestasi adanya reseptor tekan pada bagian kulit di bawahnya (Syaifuddin, 2006). a. Ambang diskriminasi spasial (ADS) merupakan kemampuan seseorang

membedakan dua titik yang berdekatan sebagai dua titik yang terpisah yaitu ambang diskriminasi spasial suksesif dan ambang diskriminasi spasial simultan. ADS suksesif lebih kecil dibandingkan dengan ADS simultan. Hal ini disebabkan ADS suksesif yang dihantarkan oleh saraf yang sama sedangkan ADS simultan dihantarkan oleh dua saraf yang hubungannya dengan korteks sensoris melalui serat yang berbeda (Syaifuddin, 2006).

b. Reseptor rasa tekan merupakan reseptor yang beradaptasi lambat/tidak beradaptasi sama sekali dan frekuensi impulnya berbanding langsung dengan kuat rangsang. Fungsi reseptor ini dapat dikaitkan dengan pengindraan kuat rangsang atau pengindraan bagian kulit yang dipindahkan. Reseptor ini juga mengindra lama perangsangan karena sifatnya tidak beradaptasi (Syaifuddin, 2006). c. Reseptor raba merupakan pengindra kecepatan atau merupakan reseptor akar rambut. Bila rambut pada punggung tangan diraba akan timbul rasa raba hanya kalau rambut itu bergerak. Intensitas rasa yang timbul oleh gerakan rambut tadi berbanding langsung dengan kecepatan gerak rambut (Syaifuddin, 2006). d. Reseptor getar merupakan pengindraan kecepatan. Rangsangan berbentuk gelombang siku yang kuatnya sama dan beberapa kali lebih kuat dari rangsang ambang. Sama-sama menghasilkan satu impuls saja dan reseptor ini sangat cepat beradaptasi. Reseptot getar ini merupakan reseptor percepatan struktur, reseptor yang mempunyai sifat-sifat sifat-sifat yang sesuai dengan badan pacini (Syaifuddin, 2006). e. Reseptor geli. di indra melalui ujung saraf bebas merupakan ujung saraf pengindra. Ambang rangsang hanya dapat mengetahui ada rangsang untuk reseptor. Rangsangan mekanik ringan yang bergerak seperti gerakan serangga kecil di kulit. Gatal ditimbulkan oleh rangsangan frekuensi rendah yang berulang pada serabut-serabut saraf kulit dengan rangsangan yang lemah yang dihasilkan oleh suatu gerak pada kulit. Distribusi rasa gatal terjadi pada kulit, mata, membran mukosa tertentu yang pada kulit intensitas gatalnya bisa menimbulkan rasa nyeri dan rasa ini bisa terjadi secara berulang-ulang (Syaifuddin, 2006).

Rasa Suhu Rasa suhu mempunyai dua submodalitas yaitu rasa dingin dan rasa panas. Reseptor dingin/panas berfungsi mengindrai rasa dingin/rasa panas dan refleks pengatur suhu tubuh. Reseptor ini dibantu oleh reseptor yang terdapat di dalam sistem saraf pusat. Dengan pengukuran waktu reaksi, dapat dinyatakan bahwa kecepatan hantar untuk rasa dingin lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan hantar untuk rasa panas. Dengan anestesi blok rasa dingin/panas dapat di blok

sehingga objektif maupun subjektif rasa dingin dan panas dapat dipisah (Syaifuddin, 2006).

a. Rasa suhu kulit yang tetap (rasa suhu statik). Bila seorang berendam pada air hangat maka mula-mula rasa hangat akan dialami oleh orang tersebut. Lamakelamaan rasa hangat tidak lagi dirasakan dan kalau ia keluar dari air dan masuk kembali maka ia akan merasakan hangat kembali. Hal ini terjadi karena suhu tubuh beradaptasi secara penuh terhadap suhu kulit yang baru. Adaptasi penuh ini hanya terjadi pada suhu netral (suhu nyaman). Rasa hangat yang mantap akan dirasakan bila suhu berada di atas 36 o C dan rasa dingin dirasakan pada suhu 17o C (Syaifuddin, 2006). b. Rasa suhu kulit yang berubah (rasa suhu dinamik). Pada pengindraan suhu kulit yang berubah terdapat tiga parameter tertentu. Suhu awal kulit, kecepatan perubahan suhu, dan luas kulit yang terpapar terhadap rangsangan suhu. Pada suhu kulit yang rendah, ambang rasa hangat tinggi sedangkan untuk rasa dingin rendah. Bila suhu meningkat ambang rasa hangat menurun dan ambang rasa dingin meningkat. Kecepatan perubahan suhu berpengaruh terhadap timbulnya rasa panas/dingin. Luasnya daerah kulit yang terpapar juga berpengaruh pada rasa timbulnya panas/dingin (Syaifuddin, 2006). c. Titik rasa dingin dan panas. Pada permukaan kulit bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan dingin dan panas terlokasi terhadap titik-titik tertentu. Kepadatan titik-titik rasa suhu lebih rendah dibandingkan dengan titik rasa raba/ tekan. Titik rasa dingin lebih banyak dibandingkan rasa panas. Kulit wajah daerah yang paling peka terhadap rasa suhu. Kepadatan titik-titik rasa dingin paling tinggi. Sifat reseptor suhu : Selalu mengeluarkan impuls pada suhu kulit yang konstan frekuensinya bergantung pada suhu kulit itu sendiri. Pada penurunan/peningkatan suhu akan terjadi perubahan frekuensi impuls. Tidak peka terhadap rangsangan lain. Ambang rangsang sesuai dengan kepekaan rasa suhu manusia terhadap rangsangan suhu di kulit.

Mempunyai daerah reseptif yang sempit, setiap serat eferen hanya mensarafi satu atau beberapa titik rasa suhu saja (Syaifuddin, 2006).

Rasa Propriosepsi Berasal dari dalam tubuh sendiri atau disebut juga rasa dalam.Reseptor tidak terdapat pada kulit tetapi di bagian yang lebih dalam yaitu di dalam otot, tendo, dan sendi.Informasi propriosepsi dihantarkan ke medula spinalis melalui kolom dorsal masuk ke serebelum.Sebagian berjalan ke leminikus medial dan talamus ke korteks.Impuls berasal dari komparan otot, organ sensorik di dalam, dan sekitar sendi.Neuron dalam korteks sensoris berespons terhadap gerakan-gerakan tertentu (Syaifuddin, 2006). Terdapat tiga submodalitas: a. Rasa gatal mengindrai posisi bagian-bagian tubuh di dalam ruangan atau posisi ruas sendi tubuh yang satu dengan ruas sendi yang berdekatan. Rasa ini sedikit sekali bahkan mungkin tidak beradaptasi. b. Rasa gerak mengindrai gerak pada setiap sendi. Berapa besar perubahan sudut dan kecepatan gerak pada sendi yang bergerak. c. Rasa kekuatan. Berapa besar kekuatan/tahanan yang dikerahkan dialami oleh gerak otot itu (Syaifuddin, 2006). Reseptor untuk rasa propriosepsi ini adalah kumparan otot dan alat tendo golgi yang terdapat dalam kapsul sendi (Syaifuddin, 2006). Dalam kehidupan sehari-hari alat indra ini tidak bekerja sendiri-sendiri, indra ini bekerja secara terpadu dalam mengindari suatu benda. Rasa raba, rasa suhu, dan rasa propriosepsi, semuanya berperan untuk berfungsinya alat-alat indra ini dengan baik dan diperlukan fungsi sistem saraf pusat (Syaifuddin, 2006).

Rasa Nyeri Rasa nyeri timbul oleh rangsangan yang merusak.Rasa nyeri ini terutama berfungsi untuk perlindungan, mencegah kerusakan lebih lanjut dari jaringan yang terkena.Modalitas rasa nyeri dibagi atas submodalitas nyeri somatik dan nyeri visera.Nyeri somatik dibagi menjadi submodalitas nyeri permukaan dan nyeri dalam.

Zat limia pada kadar tertentu dapat menimbulkan nyeri (mis. Asetilkolin, serotonin, histamin yang juga menimbulkan rasa gatal) (Syaifuddin, 2006). Pada otot jantung yang mengalami iskemia, nosisaptor akan terangsang menimbulkan rasa nyeri yang disebut angina pektoris. Alaat dalam yang mengandung reseptor nyeri (mis. Usus, ureter dan empedu).Reseptor nyeri peka terhadap rangsangan yang kuat sehingga terjadi nyeri visera yang disebut kolik (Syaifuddin, 2006).

Nyeri proyeksi Nyeri timbul bila rangsangan bukan pada reseptornya tetapi langsung pada serat saraf di salah satu tempat dalam perjalanan sarafnya.Nyerinya bukan pada tempat rangsangan tetapi pada proyeksi perifer (ujung) serat saraf yang bersangkutan (Syaifuddin, 2006).

Nyeri alih Nyeri alih terjadi bila rangsang rasa nyeri berasal dari alat dalam. Serat saraf yang terangsang di alat dalam dan serat saraf dari kulit satu segmen dengan alat dalam sama-sama bersinaps pada satu neuron yang sama menimbulkan eksitasi (rangsangan) sehingga impuls diteruskan ke susunan saraf pusat (SSP). Oleh SSP rasa nyeri yang timbul diinterpretasikan datang dari kulit (Syaifuddin, 2006).

Hiperalgesia Salah satu bentuk nyeri khusus yang dialami oleh penderita yang kulitnya terkena rangsang noniseptif.Misalnya, terik matahari dan luka bakar.Bagian yang luka mengalami vasodilatasi dan rasa nyeri. Lama-kelamaan bagian yang nyeri akan menjadi lebih peka terhadap rangsangan mekanik. Kemungkinan rasa nyeri ditimbulkan oleh zat kimia yang dilepas oleh jaringan yang rusak, vasodilatasi dapat berlangsung sampai beberapa hari (Syaifuddin, 2006).

Hipalgesia Hipalgesia adalah menurunnya rasa nyeri atau analgesia karena kerusakan saraf atau tindakan analgesia dengan obat atau tusuk jarum.Hal ini biasanya disertai dengan hilangnya modalitas rasa (anestesia) (Syaifuddin, 2006).

Nyeri kronis Suatu perubahan pada sistem saraf pusat dalam pengolahan rasa nyeri yang belum diketahui sebabnya.Salah satu organ tubuh yang diamputasi dapat mengalami rasa nyeri yang dirasakan seperti berasal dari bagian tubuh yang telah dibuang.Rasa nyeri ini sukar diobati dan timbul karena gangguan sentral yang prosesnya belum dapat diterangkan (Syaifuddin, 2006).

Rasa gatal Rasa gatal merupakan bentuk khusus rasa nyeri yang timbul pada kondisi perangsangan tertentu.Perangsangan yang berurutan dengan rangsangan makin kuat.Suatu saat rasa gatal yang timbul diganti dengan rasa nyeri.Bila rangsangnya mencapai intensitas yang tinggi, rasa gatal yang dialami dapat hilang.Bila pada jaras spinotalamik yang sedang dialami rasa gatal. Rasa nyeri dengan cara tertentu jika titik gatal sama dengan titik nyeri. Reseptor gatal terletak pada bagian kulit permukaan, sedangkan reseptor nyeri terdapat lebih dalam dari kulit (Syaifuddin, 2006).

Sirkulasi kulit Jumlah panas yang hilang dari tubuh dalam batas-batas yang luas diatur oleh perubahan jumlah darah yang mengalir melalui kulit.Aliran darah akibat perangsangan persarafan anastomosa yang berhubungan antara arteri dan venolus.Aliran darah akibat respon perangsangan dapat bervariasi sebab darah dapat dilansir melalui anastomosa.Kapiler subdermal dan pleksus vena dari reserfoar darah yang terpenting pada kulit tempat reaksi pembuluh darah (Syaifuddin, 2006).

Reaksi putih

Bila ujung suatu objek ditekan perlahan-lahan pada kulit, garis tekanan menjadi pucat (reaksi putih).Rangsangan mekanik menimbulkan konstriksi sfingter kapiler dan darah mengalir keluar dari kapiler, respon ini tampak kira-kira 15 detik (Syaifuddin, 2006).

Tripel respon Bila kulit ditekan lebih keras lagi dengan alat yang runcing, sebagian reaksi putih terdapat kemerahan.Pada tempat tersebut diikuti pembengkakan, bintik kemerahan sekitar luka yang disebabkan dilatasi kapiler merupakan suatu respon langsung dari kapiler terhadap tekanan.Pembengkakan lokal disebabkan peningkatan permeabilitas kapiler dan venolus.Kemerahan karena dilatasi arteriola dan denervasi karena hambatan saraf menimbulkan rasa nyeri (Syaifuddin, 2006).

Hiperemia aktif Hiperemia aktif yaitu kelainan jumlah darah dalam suatu daerah yang dihidupkan kembali setelah periode penyumbatab atau tekanan. Respons pembuluh darah yang terjadi pada organ dalam kulit darah mengalir dalam pembuluh darah, yang melebar membuat kulit menjadi sangat merah karena efek lokal hipoksia dan dipengaruhi oleh zat kimia (Syaifuddin, 2006)

D.4. Pengaturan Keringat Neuronneuron di dalam pusat pengaturan temperatur dalam hipotalamus mengimbangi kehilangan panas dan produksi panas, serta mengatur pembentukan keringat untuk menjaga kestabilan temperatur tubuh. Bila temperatur lingkungan lebih tinggi dari temperatur tubuh, akan dirasakan lebih nyaman pada udara lingkungan yang kering dibanding yang lembab. Karena kelembaban dapat menyebabkan rasa tidak enak karena menghalangi hilangnya temperatur tubuh melalui penguapan.Setiap kenaikan temperatur tubuh sebanyak satu derajat pembentukan keringat kira-kira meningkat 100 150 ml/hari.Jumlah kelenjar keringat aktif meningkat karena tubuh memproduksi panas dan temperatur tubuh akhirnya meningkat.Orang yang tinggal didaerah tropik umumnya

memiliki kelenjar keringat lebih aktif daripada yang tinggal didaerah beriklim dingin (Nangsari, 1988). Bila meningkatnya keringat terjadi dalam waktu yang lama,garam-garam dan air, ketidakseimbangan elektrolit dapat terjadi di antara cairan ekstraselular dan cairan intraselular sehingga otot menjadi kejang. Mekanisme hilangnya panas dapat gagal bekerja sama dengan cepatnya produksi panas. Pemulihan terhadap keadaan ini termasuk cairan dan penempatan kembali elektrolit dan pendinginan tubuh.Panas yang terusmenerus dapat mengakibatkan kehilangan air da garam-garam menyebabkan kehabisan panas, yang ditandai dengan lemah, lesu, maas, muak, pusing, menurunya tekanan darah, hingga pingsan (Nangsari, 1988). E.Gejala dan Jenis Gangguan Kulit Gangguan pada kulit sering terjadi karena berbagai faktor penyebab, antara lain yaitu iklim, lingkungan tempat tinggal, kebiasaan hidup yang kurang sehat, alergi, dan lainlain. Adapun gejala gangguan kulit antara lain : 1. Gatal-gatal (saat pagi, siang, malam, ataupun sepanjang hari) 2. Muncul bintik-bintik merah (kemerahan), kehitaman, bercak keputihan, bentol-bentol, berair dan bengkak. 3. Timbul ruam-ruam, bersisik. 4. Kadang disertai demam.

Beberapa jenis gangguan kulit antara lain yaitu : 1. Gatal Gatal adalah sejenis sensasi, yang sebenarnya merupakan sejenis rasa nyeri yang sangat ringan.Gatal dapat ditimbulkan oleh macammacam sebab dan tidak selalu menunjukkan kelainan kulit.

2. Eksim

Merupakan penyakit kulit yang ditandai dengan kulit kemerah-merahan, bersisik, pecah-pecah, terasa gatal terutama pada malam hari (eksim kering), timbul gelembung-gelembung kecil yang mengandung air atau nanah, bengkak, melepuh, tampak merah, sangat gatal dan terasa panas dan dingin yang berlebihan pada kulit (eksim basah). Bagian tubuh yang sering diserang eksim yaitu tangan, kaki, lipatan paha, dan telinga. Eksim disebabkan karena alergi terhadap rangsangan zat kimia tertentu seperti yang terdapat dalam detergen, sabun, obat-obatan dan kosmetik, kepekaan terhadap jenis makanan tertentu seperti udang, ikan laut, telur, daging ayam, alkohol, vetsin (MSG), dan lain-lain. Eksim juga dapat disebabkan karena alergi serbuk sari tanaman, debu, rangangan iklim, bahkan gangguan emosi.Eksim lebih sering menyerang pada orang-orang yang berbakat alergi.Penyakit ini sering terjadi berulang-ulang atau kambuh. Oleh karena itu harus diperhatikan untuk menghindari hal-hal atau bahan-bahan yang dapat menimbulkan alergi (alergen).

3. Kudis Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh parasit/tungau yang gatal yaitu Sarcoptes scabiei var hominis.Kudis lebih sering terjadi di daerah yang higienisnya buruk dan menyerang orang yang kurang menjaga kebersihan tubuhnya. Gejala yang timbul antara lain : timbul gatal yang hebat pada malam hari, gatal yang terjadi terutama di bagian sela-sela jari tangan, di bawah ketiak, pinggang, alat kelamin, sekeliling siku, aerola (area sekeliling puting susu), dan permukaan depan pergelangan. Penyakit ini mudah sekali menular ke orang lain secara langsung misalnya bersentuhan dengan penderita, atau tidak langsung misalnya melalui handuk atau pakaian. 4. Kurap Merupakan penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur. Gejalanya antara lain yaitu : kulit menjadi tebal dan timbul lingkaran-lingkaran, bersisik, lembab, berair, dan terasa gatal, kemudian timbul bercak keputih-putihan. Kurap biasanya timbul karena kurang menjaga kebersihan kulit. Bagian tubuh yang biasanya terserang kurap yaitu tengkuk, leher, dan kulit kepala

5. Bisul Bisul merupakan infeksi kulit berupa benjolan, tampak memerah, yang akan membesar, berisi nanah dan terasa panas, dapat tumbuh di semua bagian tubuh, namun biasanya tumbuh pada bagian tubuh yang lembab, seperti : leher, lipatan lengan, atau lipatan paha, kulit kepala. Bisul disebabkan karena adanya infeksi bakteri Stafilokokus aureus pada kulit melalui folikel rambut, kelenjar minyak, kelenjar keringat yang kemudian menimbulkan infeksi lokal. Faktor yang meningkatkan risiko terkena bisul antara lain kebersihan yang buruk, luka yang terinfeksi, pelemahan diabetes, kosmetika yang menyumbat pori, dan pemakaian bahan kimia.

6. Dundruff (ketombe) Yaitu sejenis eksim (Seborrheic Dermatitis) yang mengenai kulit kepala dan ditandai dengan terbentuknya sisik halus yang mudah lepas dari kulit.

7. Urtica atau Kaligata Yaitu sejenis kelainan pada kulit yang ditandai rasa gatal hampir diseluruh tubuh yang disertai munculnya penonjolan pada kulit tubuh, sebagai akibat sifat alergi terhadap sesuatu yang dimakan, atau mengenai tubuh orang yang bersangkutan. Kadangkadang gejala ini muncul juga karena tekanan psikis.

8. Panu (Pytiriasis versicolor) Penyakit kulit akibat infeksi jamur.Infeksi jamur dapat bermacammacam, pengobatannya biasanya membutuhkan waktu lama, paling sedikit 30 hari dengan obat khusus jamur.Obat eksim biasa, bila diberikan pada penderita infeksi jamur, dapat memperhebat infeksi itu.

9. Jerawat (Acne vulgaris) Penyakit yang terjadi akibat terganggunya aliran sebum oleh benda asing sehingga terbentuk pimple yang di ikuti infeksi ringan.Benda asing itu juga dinamakan komedo.Dengan demikian, pangkal penyakit ini adalah adanya sebum yang banyak diproduksi.

10. Vitiligo Kelainan pada kulit yang ditandai dengan hilangnya pigmen melanin sehingga bagian kulit itu menjadi putih.Kelainan ini yang bersifat bawaan dan sebagai akibat penyakit auto-imunne, tetapi pada sebagian besar penderita penyebabnya tidak jelas.Vitiligo ini harus dibedakan dengan perubhan kulit yang menjadi lebih putih sebagai akibat infeksi jamur.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010, System Integumentary, http://nursingbegin.com/regulasi-suhu-tubuh/, diakses tanggal 23 November 2010 Anonim, 2010,Sistem (http://kambing.ui.ac.id/bebas/v12/sponsor/SponsorPendamping/Praweda/Biologi.com) , diakses tanggal 23 November 2010 Integumentari,

Basoeki, S., 1988, Anatomi dan Fisiologi Manusia, 13-21, Departeman Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Guyton, 1994, Medical Physiology, 98-102, Nangsari,S., 1988, Pengantar Fisiologi Manusia ,Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta Soewolo, Basoeki, S, Yudani, T., 2005, Fisiologi Manusia, 281-286, UM Press, Malang Syaifuddin, H., 2006, Anatomi Fisiologi Untuk Mahasiswa Keperawatan, Edisi 3, 311319, EGC, Jakarta