P. 1
makalah pajak

makalah pajak

|Views: 214|Likes:
Dipublikasikan oleh dennys_de_goat

More info:

Published by: dennys_de_goat on Dec 19, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/02/2012

pdf

text

original

1

LVALUASI KINLRJA SIS1LM PLRPAJAKAN INDONLSIA
Oleh: Gunawan Setiyaji dan lidayat Amir
1



.b.tra/

Pa;a/ verv¡a/av .vvber ¡everivaav vegara ,avg vtava. ´eva/iv bari ¡eravav ¡everivaav ¡a;a/
bagi ¡evbia,aav ¡evgetvarav vvvv,vegara .eva/iv be.ar. ´aat ivi ¡everivtab .eaavg
vev¡er.ia¡/av avavaevev || Per¡a;a/av 1abvv 200: ,avg vevavaai aita/.ava/avv,a
reforva.i ¡er¡a;a/av /eev¡at. Pertav,aav ,avg vvvcvt aaatab a¡a/ab ¡evca¡aiav aari reforva.i
¡er¡a;a/av va.iovat ,avg tetab aita/v/av aav ¡erva.atabav a¡a .a;a ,avg va.ib barv. aibevabi
aevgav reforva.i tav;vtav ,avg a/av aitvvcvr/av. 1vti.av ivi berva/.va vvtv/ verefte/.i/av
berbagai bat ,avg tetab aica¡ai oteb reforva.i ¡er¡a;a/av, efe/tirita.v,a, aav /eta,a/avv,a
ai¡avaavg aari bebera¡a /riteria .i.tev ¡er¡a;a/av ,avg iaeat. 1vti.av aibvat aatav bevtv/
ae./ri¡tif e/.¡torator, ,avg veva¡ar/av,vevgavbar/av .vatv to¡i/ aav vevcoba vevgvrai
berbagai va.atab ,avg vvvcvt. Dari ¡evbaba.av ivi aa¡at ai.iv¡vt/av babra reforva.i ¡er¡a;a/av
.etava ivi tetab vevca¡ai ba.it ,avg bai/, vavvv va.ib bav,a/ /e/vravgav ,avg barv. .egera
ai¡erbai/i. Pevca¡aiav v/vrav /eberba.itav ¡evvvgvtav ¡a;a/ va.ib retatif tebib revaab
aibavaivg/av aevgav vegara·vegara tetavgga. Kov.e/vev.iv,a reforva.i ¡er¡a;a/av barv. terv.
aitav;vt/av, bai/ aari .i.i ¡evivg/atav /e.aaarav va.,ara/at vvtv/ vevba,ar ¡a;a/ ;ta·
cov¡tiavce), /e¡a.tiav bv/vv bagi ¡evba,ar aav a¡arat ¡a;a/ aav ¡evivg/atav /vatita. ¡eta,avav
aav aavivi.tra.i ¡er¡a;a/av. .tav aevgav /ata taiv, reforva.i ¡er¡a;a/av eai.i /eev¡at barv.
vev,evtvb a.¡e/ ´DM, tavaa.av bv/vv ,avg /ov.i.tev aav orgavi.a.i ,avg voaerv ,avg vev;aviv
efi.iev.i aav efe/tifita. .i.tev ¡er¡a;a/av ,avg iaeat.

Kata kunci: perpajakan, deskriptií eksploratory, reíormasi perpajakan.


J. PLNDAHULUAN
J.J. Latar Belakang
Pemerintah saat ini tengah menunggu pengesahan atas tiga RUU yang mengubah
tiga UU Perpajakan yang saat ini berlaku. Ketiga UU yang hendak diamandemen tersebut
adalah UU tentang Ketentuan Umum dan 1ata Cara Perpajakan ,KUP,, UU tentang Pajak
Penghasilan ,UU PPh, dan UU tentang Pajak Pertambahan Nilai,Pajak Penjualan atas
Barang Mewah ,PPN,PPnBM,. Ketiga UU tersebut diamandemen karena di samping
merupakan ketentuan perundang-undangan yang paling krusial dalam praktik penerapan
hukum perpajakan, juga merupakan pranata hukum yang akan menjadi senjata utama dalam
meningkatkan penerimaan pajak.
Amandemen UU Perpajakan tahun 2005 ini menandai dilaksanakannya reíormasi
perpajakan keempat, sejak beralihnya sistem perpajakan nasional. Sebelumnya, pemerintah
telah melaksanakan reíormasi perpajakan pada tahun 1984, tahun 1994 dan 2000. Reíormasi
perpajakan kali ini menjadi cukup spesial karena memiliki arti khusus, yaitu memperkuat
upaya penerimaan pajak yang semakin menjadi tulang punggung dalam pembiayaan keuangan
negara.
Pertanyaan yang segera muncul adalah apakah pencapaian dari reíormasi perpajakan
nasional yang telah dilakukan dan permasalahan apa saja yang masih harus dibenahi dengan
reíormasi lanjutan yang akan diluncurkan.

J.2. 1ujuan Penulisan
1ulisan ini hendak mereíleksikan berbagai hal yang telah dicapai oleh reíormasi
perpajakan, eíekti·itasnya, dan kelayakannya dipandang dari beberapa kriteria sistem
perpajakan yang ideal.


1
Gunawan Setiyaji ialah Peneliti Departemen Keuangan RI ,email: gsetiyaji¸gmail.com,, lidayat Amir ialah
ícovovi.t 1be ívaove.ia ícovovic ívtettigevce dan Peneliti Depkeu RI ,e-mail: hidayatamir¸iei.or.id,. 1ulisan ini
telah diterbitkan di Jurnal Lkonomi, Uni·ersitas Indonusa Lsa Unggul - Jakarta, Ldisi No·ember 2005.
2

J.3. Metode Penulisan dan Sumber Data
Untuk memenuhi tujuan tersebut di atas digunakan metode penulisan deskriptií
eksploratory. Metode ini hanya membahas suatu topik dengan memberikan penggambaran
atas topik tersebut, implikasi permaslahan yang timbul atas topik itu dan tidak ditujukan
untuk mencari atau menguji solusi terbaik atas permasalahan yang ada. Analisis yang ada
biasanya hanya bersiíat kualitatií yang ditujukan untuk mengeksplorasi konsekuensi
permaslahan yang muncul atas kondisi yang diterangkan dalam topik.
Pembahasan menggunakan studi literatur dan pengumpulan data-data sekunder yang
berasal dari berbagai sumber, antara lain: Direktorat Jenderal Pajak dan Badan Pengkajian
Lkonomi, Keuangan dan Kerjasama Internasional Departemen Keuangan.

2. LANDASAN 1LORI
2.J. Pengertian Pajak
Menurut Adam Smith ,1898:302,, pajak adalah a covtribvtiov frov tbe citi¸ev to .v¡¡ort
of tbe .tate. Sedangkan Sommeríeld ,1983:1, mendeíinisikan pajak sebagai av, vov¡evat ,et
cov¡vt.or, trav.fer of re.ovrce. frov tbe ¡rirate to ¡vbtic .ector, teriea ov tbe ba.i. of ¡reaetervivea criteria
ava ritbovt recei¡t of .¡ecific bevefit of eqvat ratve, iv oraer to accov¡ti.b .ove of a vatiov`. ecovovic ava
.ociat ob;ectire.. Dan Bastable ,1993:263, menyatakan bahwa pajak adalah a cov¡vt.or,
covtribvtiov of tbe reattb of a ¡er.ov or boa, of ¡er.ov. for .errice of tbe ¡vbtic ¡orer..
Dari kalangan dalam negeri, Rochmat Soemitro ,1994:23, menyatakan bahwa pajak
adalah ivrav ra/,at /e¡aaa /a. vegara ;¡eratibav /e/a,aav aari .e/tor ¡arti/vtir /e .e/tor ¡everivtab)
beraa.ar/av vvaavg·vvaavg ;,avg aa¡at ai¡a/.a/av) aevgav tiaaa vevaa¡at ;a.a tivbat ;tegev ¡re.ta.i)
,avg tavg.vvg aa¡at aitvv;v//av aav aigvva/av vvtv/ vevbia,ai ¡evgetvarav vvvv. Sementara
menurut Djajaningrat, pajak adalah/era;ibav vvtv/ vev,erab/av .ebagiav aari /e/a,aav /e¡aaa
vegara ai.ebab/av oteb .vatv /eaaaav, /e;aaiav aav ¡erbvatav ,avg vevberi/av /eavav/av tertevtv,
teta¡i bv/av .ebagai bv/vvav, vevvrvt ¡eratvrav·¡eratvrav ,avg aiteta¡/av ¡everivtab .erta aa¡at
ai¡a/.a/av, teta¡i tiaa/ aaa ;a.a bati/ aari vegara .ecara tavg.vvg, vvtv/ vevetibara /e.e;abteraav
vvvv.
2

Dari berbagai deíinisi tentang pajak di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa
pajak memiliki beberapa aspek dasar:
1. Pembayaran pajak harus berdasarkan undang-undang,
2. Siíatnya dapat dipaksakan
3. 1idak ada kontraprestasi yang langsung dapat dirasakan oleh pembayar pajak,
4. Pemungutan pajak dilakukan oleh negara baik pemerintah pusat maupun daerah, dan
5. Pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah ,rutin dan
pembangunan, bagi kepentingan masyarakat umum.
3

Dari berbagai deíinisi mengenai pajak, terdapat beberapa tanggapan dari para pakar
dan praktisi perpajakan. Rochmat Sumitro
4
menyatakan bahwa pajak sebenarnya utang, yaitu
utang anggota masyarakat kepada masyarakat. Utang ini menurut hukum adalah perikatan
,rerbivtevi.,. Meskipun pajak itu letaknya di bidang hukum publik, tetapi erat sekali
hubungannya dengan hukum perdata dan hukum adat. Di sisi lain, pemenuhan kewajiban
pajak akan berdampak pada aspek ekonomi, dari mikroekonomi hingga makroekonomi.
Sehingga apabila anggota masyarakat memenuhi kewajiban pajaknya dengan baik, mekanisme
ekonomi dalam masyarakat akan berjalan dengan baik.
Sementara itu, Abdul Asri larahap ,2004: 1¯4, mengkritik pemahaman dasar
tentang pajak dengan mengungkap bahwa deíinisi pajak dan implementasinya perlu dibenahi
dengan upaya agar kesadaran moral dan aspek ketuhanan dalam membayar pajak disuntikkan

2
Munawir, Perpajakan, Liberty, \ogyakarta, 1992, hal 3.
3
Richard Burton dan \irawan B. Ilyas, lukum Pajak, Penerbit Salemba Lmpat, 2004
4
Rochmat Sumitro, Asas dan Dasar Perpajakan, Bandung : Lresco, 1990, hal. 2
3
pada kesadaran .e/vter perpajakan yang lebih mengedepankan hubungan kontraktual antara
pemerintah dengan rakyat.
5


2.2. Iungsi Pajak
Saíri Nurmantu ,2003: 30, menyatakan bahwa pajak memiliki dua íungsi, yaitu
íungsi budgeter dan íungsi regulerend. Pajak beríungsi budgeter, yaitu untuk mengumpulkan
uang pajak sebanyak-banyaknya
sesuai dengan undang-undang
yang berlaku yang pada waktunya
akan digunakan untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara,
yaitu pengeluaran rutin dan
pengeluaran pembangunan, dan
bila ada sisa ,surplus, akan
digunakan sebagai tabungan
pemerintah. Sedangkan íungsi
regulerend adalah suatu íungsi
bahwa pajak-pajak tersebut
digunakan sebagai suatu alat
untuk mencapai tujuan-tujuan
tertentu.
Meski demikian, dalam
pandangan Richard Burton dan
\irawan B. Ilyas
6
terdapat pula
íungsi lain dari pajak yang saat ini
mengemuka, yaitu íungsi demokrasi dan íungsi redistribusi. lungsi demokrasi menyatakan
bahwa pajak merupakan salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong-royong, termasuk
kegiatan pemerintahan dan pembangunan demi kemaslahatan manusia. Sebagai
implementasinya, pajak memiliki konsekuensi untuk memberikan hak-hak timbal-balik yang
meskipun tidak diterima langsung, tetapi diberikan kepada warga negara pembayar pajak.
Demikian selanjutnya, hingga pajak akan beríungsi redistribusi, yaitu mengimplementasikan
unsur pemerataan dan keadilan dalam masyarakat. Bila pajak diterapkan dengan baik maka
dapat dipastikan terjadi beberapa dampak pajak terhadap perekonomian dan berbagai
aspeknya.
Secara umum, struktur perekonomian ,tanpa pajak, terdiri dari Pendapatan
Nasional, Konsumsi dan 1abungan. Bila seluruh tabungan digunakan untuk in·estasi, maka
tidak akan pernah terjadi inílasi maupun deílasi. 1etapi, mungkin terjadi tidak semua
tabungan digunakan untuk in·estasi sehingga berakibat pada kelesuan ekonomi, deílasi dan
pengangguran. Atau sebaliknya, jumlah tabungan lebih rendah dari jumlah in·estasi, yang
berakibat pada kegairahan ekonomi dan inílasi.
Gambar di samping menunjukkan hubungan antara tingkat Pendapatan Nasional
,\, dengan tingkat konsumsi ,C, dan tingkat In·estasi ,I,. Pada tingkat pendapatan nasional
sebesar 0\ ,S~I,, perekonomian dalam keadaan seimbang, tidak ada inílasi maupun deílasi.
Pada tingkat pendapatan 0\1 ,S·I, terdapat inílationary gap. larga cenderung naik sampai
tidak ada perbedaan antara 1abungan dengan In·estasi. Instrumen pajak dapat digunakan
untuk menurunkan tingkat inílasi, yaitu dengan menerapkan pajak atas konsumsi, menggeser
kur·a C - I ke bawah. Demikian pula sebaliknya saat harga-harga cenderung turun dimana
tingkat pendapatan 0\2 ,S·I,, instrumen pajak digunakan untuk mengurangi pengaruh
deílasi dengan menerapkan pajak atas tabungan.



5
Abdul Asri larahap, Paradigma Baru Perpajakan Indonesia : Perspektií Lkonomi Politik, Integrita Dinamika
Press, 2004
6
Richard Burton dan \irawan B. Ilyas, hal 9.

0

Y1

Y*

Y2

Y

C, I

Y=C+S

C+I

C

Deflationary
gap

Inflationary
gap

4
2.3. Reformasi Pajak
Reíormasi Pajak menjadi tema menarik pada saat ini, dengan makna yang luas dan
terus berkembang. \illiamson dalam Mas`oed ,1994: 60, menyatakan bahwa reíormasi
perpajakan meliputi perluasan basis perpajakan, perbaikan administrasi perpajakan,
mengurangi terjadinya penghindaran dan manipulasi pajak, serta mengatur pengenaan pada
asset yang berada di luar negeri. Anggito Abimanyu ,2003: 15, menyebutkan bahwa reíormasi
perpajakan adalah perubahan mendasar di segala aspek perpajakan yang memiliki 3 ,tiga,
tujuan utama, yaitu tingkat kepatuhan sukarela yang tinggi, kepercayaan terhadap administrasi
perpajakan yang tinggi, dan produkti·itas aparat perpajakan yang tinggi.
A·iliani ,2003: 2¯, berpendapat bahwa tujuan utama reíormasi perpajakan adalah
untuk menegakkan kemandirian ekonomi dalam membiayai pembangunan nasional dengan
jalan lebih mengerahkan kemampuan sendiri. Secara bertahap, pajak diharapkan bisa
mengurangi ketergantungan utang luar negeri. Dalam hal ini, reíormasi perpajakan akan
menjadikan sistem yang berlaku menjadi lebih sederhana, yang mencakup penyederhanaan
jenis pajak, tarií pajak dan pembayaran pajak. Meliputi pula pembenahan aparatur perpajakan
yang menyangkut prosedur, tata kerja, disiplin dan mental. Dengan reíormasi perpajakan
secara menyeluruh, diharapkan jumlah wajib pajak akan semakin luas serta beban pajak akan
makin adil dan wajar, sehingga mendorong \ajib Pajak untuk membayar kewajibannya dan
menghindarkan diri dari aparat pajak yang mengambil keuntungan untuk kepentingan
pribadi.
Secara lebih lengkap, Jit B.S. Gill menyatakan, suatu sistem penerimaan negara yang
mengurusi masalah pajak perlu direíormasi dengan sedikitnya 4 ,empat, alasan utama.
¯

Pertama, ketika hukum dan kebijakan pajak menciptakan potensi peningkatan penerimaan
pajak, jumlah aktual pajak yang mengalir ke kas negara tergantung pada eíisiensi dan
eíekti·itas administrasi penerimaan negara. Kedua, kualitas dari administrasi penerimaan
pajak mempengaruhi iklim in·estasi dan pengembangan sektor swasta. Ketiga, administrasi
perpajakan secara rutin kerap muncul dalam daítar teratas organisasi dengan kasus korupsi
tertinggi. Keempat, reíormasi perpajakan diperlukan untuk memungkinkan sistem perpajakan
mengikuti perkembangan terbaru dalam akti·itas bisnis dan pola penghindaran pajak yang
semakin canggih.
lal ini telah diungkap secara sangat transparan oleh Direktur Jenderal Pajak, bahwa
pemerintah memiliki rincian langkah jangka menengah untuk membangun sistem perpajakan
yang lebih baik. Dalam berbagai kesempatan Dirjen Pajak telah mengemukakan bahwa
sistem perpajakan membutuhkan penyempurnaan khususnya reíormasi administrasi
perpajakan. Secara garis besar, reíormasi administrasi perpajakan ini diharapkan dapat
memenuhi tiga tujuan utama:
1. 1ercapainya tingkat kepatuhan sukarela yang tinggi,
2. 1ercapainya tingkat kepercayaan terhadap administrasi perpajakan yang tinggi,
3. 1ercapainya produkti·itas aparat perpajakan yang tinggi.
8

Untuk keberhasilan pencapaian tujuan di atas, DJP telah menyusun sejumlah
strategi, antara lain:
1. Meningkatkan kepatuhan,
2. Menangkal ketidakpatuhan,
3. Meningkatkan citra,
4. Mengembangkan administrasi modern,
5. Meningkatkan produkti·itas aparat.
9

Upaya integral Direktorat Jenderal Pajak - yang oleh Menteri Keuangan disebut
sebagai ujung tombak reíormasi di jajaran Departemen Keuangan ini - dengan berbagai
strateginya diharapkan dapat menghantarkan implementasi misi Direktorat Jenderal Pajak,

¯
Jit B.S. Gill, 1he Nuts and Bolts oí Re·enue Administration Reíorm`, January 2003
8
ladi Poernomo ,2004,, Reíormasi Administrasi Perpajakan` dalam Kebijakan liskal: Pemikiran, Konsep dan
Implementasi, Kompas, lebruari 2004.
9
I Made Gde Lrata ,2004,, Modernisasi Perpajakan` Seminar Sehari Perubahan UU KUP, PPh dan PPN,
Multi Utama De·elopment Center, Juli 2004
5
yaitu menghimpun penerimaan dalam negeri dari sektor pajak yang mampu menunjang
kemandirian pembiayaan pemerintah berdasarkan undang-undang perpajakan dengan tingkat
eíekti·itas dan eíisiensi yang tinggi.

3. RLIORMASI PAJAK DI INDONLSIA DAN HASIL-HASILNYA
3.J. Sejarah Reformasi Perpajakan Indonesia
Reíormasi perpajakan di Indonesia pertama kali diluncurkan pada tahun 1983,
dengan perombakan sistem perpajakan paling mendasar, yaitu digantikannya sistem officiat
a..e..vevt menjadi .etf a..e..vevt. Dalam sistem baru ini, wajib pajak diberikan kepercayaan
untuk melaksanakan sendiri kewajiban pajaknya, mulai dari menghitung sendiri
penghasilannya, menghitung sendiri pajak yang terutang, membayar sendiri pajak yang
terutang, dan melaporkan sendiri pemenuhan kewajiban pajaknya. Abdul Asri larahap
,2004: 33, mengungkapkan bahwa embrio sistem ini sebenarnya sudah mulai diterapkan
tahun 196¯ melalui Undang-undang No. 8 1ahun 196¯ jo. PP No. 11 1ahun 196¯ tentang
1ata Cara Pemungutan Pajak atas Pajak Pendapatan, Pajak Perseroan dan Pajak Kekayaan,
yang lebih dikenal dengan sistem Menghitung Pajak Sendiri,Menghitung Pajak Orang
,MPS,MPO,. Akan tetapi pada saat itu, sistem ini gagal karena tidak didukung oleh kesiapan
aparat perpajakan maupun masyarakat wajib pajak.
Melalui Reíormasi Perpajakan 1983, diluncurkanlah Undang-undang No. 6,1983
tentang Ketentuan Umum dan 1ata Cara Perpajakan ,KUP,, UU No. ¯,1983 tentang Pajak
Penghasilan ,PPh,, UU No. 8,1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan
atas Barang Mewah ,PPN dan PPnBM,. Pada tahun 1985, diluncurkan pula UU No.
12,1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan ,PBB, dan UU No. 13,1985 tentang Bea
Meterai.
Pada tahun 1994, Pemerintah merilis Reíormasi Perpajakan kedua untuk merespon
berkembangnya perekonomian nasional dan pengaruh globalisasi dunia yang semakin kuat.
Saat itu, Pemerintah dengan persetujuan DPR mengundangkan 4 ,empat, UU, yaitu UU No.
9,1994 tentang Perubahan atas UU No. 6 1ahun 1983 tentang Ketentuan Umum dan 1ata
Cara Perpajakan ,KUP,, UU No. 10,1994 tentang Perubahan atas UU No. ¯,1983 tentang
Pajak Penghasilan ,PPh,, UU No. 11,1994 tentang Perubahan atas UU No. 8,1983 tentang
Pajak Pertambahan Nilai dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah ,PPN dan PPnBM,, UU
No. 12,1994 tentang Perubahan atas UU No. 12,1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan
,PBB,.
Reíormasi Perpajakan tahun 1994 banyak mengadopsi perkembangan baru di bidang
perpajakan, khususnya secara teknis perpajakan yang makin mengurangi kesenjangannya
dengan praktik akuntansi. Namun, kritik banyak dikemukakan oleh para pakar, khususnya
diberikannya banyak íasilitas perpajakan yang sebelumnya melalui Reíormasi Perpajakan
1983 telah dihapuskan. luad Bawazir ,2004: 192, menyatakan bahwa tujuan dan maksud
diberikannya íasilitas perpajakan tersebut pada hakekatnya adalah untuk menunjang
keberhasilan sektor-sektor kegiatan ekonomi yang memiliki prioritas tinggi dalam skala
nasional, khususnya untuk menggalakkan ekspor.
Reíormasi Perpajakan tahun 1994 diikuti pula dengan pengundangan 4 ,empat, UU
baru di bidang perpajakan, yaitu UU No. 1¯,199¯ tentang Badan Penyelesaian Sengketa
Pajak ,BPSP,, UU No. 18,199¯ tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah ,PDRD,, UU
No. 19,199¯ tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ,PPSP,, dan UU No. 21,199¯
tentang Bea Perolehan lak atas 1anah dan atau Bangunan ,BPl1B,. Dari sini bisa dilihat
bahwa regulasi di bidang perpajakan makin meluas dan membutuhkan instrumen hukum
yang lebih baik.
Pada tahun 2000, kembali Pemerintah menyusun Reíormasi Perpajakan, ditandai
oleh 5 ,lima, undang-undang baru, yaitu UU No. 16,2000 tentang Perubahan Kedua atas
UU No. 6,1983 tentang Ketentuan Umum dan 1ata Cara Perpajakan ,KUP,, UU No.
1¯,2000 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. ¯,1983 tentang Pajak Penghasilan, UU No.
18,2000 tentang Perubahan Kedua atas UU No. 8,1983 tentang Pajak Pertambahan Nilai
dan Pajak Penjualan atas Barang Mewah, UU No. 19,2000 tentang Perubahan atas UU No.
19,199¯ tentang Penagihan Pajak dengan Surat Paksa ,PPSP,, dan UU No. 20,2000 tentang
6
Perubahan atas UU No. 21,199¯ tentang Bea Perolehan lak atas 1anah dan atau Bangunan
,BPl1B,.
Mengiringi Reíormasi Perpajakan tahun 2000, pada tahun 2002 Pemerintah juga
meluncurkan UU No. 14,2002 tentang Pengadilan Pajak ,PP, untuk menggantikan UU No.
1¯,199¯ tentang Badan Penyelesaian Sengketa Pajak ,BPSP,. Perubahan ini cukup kruisial
karena merombak struktur badan peradilan pajak yang sebelumnya dikendalikan penuh oleh
Direktorat Jenderal Pajak menjadi suatu badan peradilan independen yang tunduk pada
struktur peradilan di bawah Mahkamah Agung.

3.2. Hasil Reformasi Perpajakan
Reíormasi Perpajakan di Indonesia sejak diluncurkan tahun 1983 dan diberlakukan
pada tahun 1984 telah memberikan pengaruh positií bagi perekonomian nasional Indonesia.
Kinerja penerimaan pajak terus bertambah dan meningkat dari tahun ke-tahun.
Gambar 1. Perkembangan Penerimaan Pajak dan Tax Ratio
Periode 1969/1970 s.d. 2004
0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
120.000
140.000
1
9
6
9
/
1
9
7
0
1
9
7
0
/
1
9
7
1
1
9
7
1
/
1
9
7
2
1
9
7
2
/
1
9
7
3
1
9
7
3
/
1
9
7
4
1
9
7
4
/
1
9
7
5
1
9
7
5
/
1
9
7
6
1
9
7
6
/
1
9
7
7
1
9
7
7
/
1
9
7
8
1
9
7
8
/
1
9
7
9
1
9
7
9
/
1
9
8
0
1
9
8
0
/
1
9
8
1
1
9
8
1
/
1
9
8
2
1
9
8
2
/
1
9
8
3
1
9
8
3
/
1
9
8
4
1
9
8
4
/
1
9
8
5
1
9
8
5
/
1
9
8
6
1
9
8
6
/
1
9
8
7
1
9
8
7
/
1
9
8
8
1
9
8
8
/
1
9
8
9
1
9
8
9
/
1
9
9
0
1
9
9
0
/
1
9
9
1
1
9
9
1
/
1
9
9
2
1
9
9
2
/
1
9
9
3
1
9
9
3
/
1
9
9
4
1
9
9
4
/
1
9
9
5
1
9
9
5
/
1
9
9
6
1
9
9
6
/
1
9
9
7
1
9
9
7
/
1
9
9
8
1
9
9
8
/
1
9
9
9
1
9
9
9
/
2
0
0
0
2
0
0
0
2
0
0
1
2
0
0
2
2
0
0
3
2
0
0
4
0
2
4
6
8
10
12
14
16
Pajak Langsung Pajak Tak Langsung Tax Ratio
Rp milyar persen
Sumber: Badan Analisa liskal, Departemen Keuangan, 2004
Keterangan: 1ahun 2000 hanya 9 bulan ,April - Desember, akibat perubahan periode íiskal April - Maret ke
Januari - Desember.

Dari gambar 1 terdapat suatu kesimpulan menarik, yaitu sejak 1996,199¯, dominasi
penerimaan pajak dari jenis pajak tidak langsung kini telah diambil-alih oleh jenis pajak
langsung. lal ini menunjukkan suatu sisi positií dari reíormasi sistem perpajakan nasional,
karena pajak langsung yang dikenakan atas wajib pajak yang jelas akan lebih mencerminkan
rasa keadilan.
Diluar ukuran kinerja perpajakan di atas, pemerintah tampaknya perlu merespon
pertanyaan mengenai pemaníaatan dana yang diperoleh dari pajak. 1ernyata, pajak yang
tinggi dari rakyat itu tidak dikembalikan ke rakyat dalam bentuk in·estasi melalui anggaran
pembangunan. Kenyataannya, anggaran pembangunan terus menurun dari le·el 8 persen dari
APBN pada 1993 menjadi hanya 3 persen pada 2003. \ang ada malah konsumsi pemerintah
yang terus membesar. Pada 1999, konsumsi pemerintah mencapai ¯1,1 persen dari PDB dan
terus meningkat sampai ke le·el 8¯ persen pada 2003. Artinya pajak yang besar yang ditarik
dari masyarakat itu tidak dikembalikan lagi ke rakyat lewat anggaran pembangunan tetapi
justru untuk belanja pemerintah.
Di sisi lain, meskipun terdapat peningkatan yang signiíikan secara nominal
penerimaan pajak, namun pengukuran dalam angka nominal tidak selalu menjadi indikasi
bahwa kinerja penerimaan pajak Indonesia telah optimal. Sunarsip dalam artikelnya Mega
ía/ta atav Mega ítv.i di larian Republika 8 September 2004 menyatakan bahwa pengukuran
berdasarkan angka nominal cenderung bias karena tidak mempertimbangkan aspek inílasi
serta pajak nominal yang sesungguhnya dibantu oleh besarnya PDB nominal sebagai sesuatu
7
yang girev, yang setiap tahunnya memang mengalami peningkatan. Demikian pula Iman
Sugema ,ßi.vi. ívaove.ia, 2² .gv.tv. 2001, mempertanyakan ukuran keberhasilan penerimaan
pajak bila hanya berdasarkan angka penerimaan pajak. Pasalnya, menurut dia, hal itu tak
diimbangi pertumbuhan ta· ratio yang relatií konstan pada kisaran 13° dari PDB.
Oleh karena itu, terdapat berbagai pandangan dari para pengamat ekonomi tentang
penilaian terhadap kinerja penerimaan pajak. 1a· Ratio sering dijadikan sebagai salah satu
ukuran mengenai kinerja penerimaan pajak di banyak negara.
Dari gambar 1 tampak bahwa secara bertahap terjadi peningkatan rasio pajak
terhadap PDB. Namun perkembangannya kini menjadi relatií stagnan. Di sisi lain, bila
dibandingkan dengan negara tetangga di ASLAN, ta· ratio Indonesia hanya lebih baik
dibandingkan dengan Kamboja dan Philipina.
10
Menurut data dari ADB, ta· ratio Indonesia
pada tahun 2002 sebesar 13,1°, sementara Malaysia, 1hailand dan Vietnam
11
memiliki ta·
ratio sebesar masing-masing 18,5°, 14,5° dan 15,3°.
Sementara itu, muncul kritik terhadap pemakaian tax ratio sebagai ukuran kinerja
perpajakan. Iman Sugema ,ßi.vi. ívaove.ia, 2² .gv.tv. 2001,, misalnya, telah mempertanyakan
ukuran keberhasilan ini bila hanya berdasarkan angka penerimaan pajak. Pasalnya, menurut
dia, hal itu tak diimbangi pertumbuhan ta· ratio yang relatií konstan pada kisaran 13° dari
PDB. Iman Sugema ,1ev¡o, ¨ ´e¡tevber 2001, juga mempertanyakan penerimaan pajak yang
tinggi tetapi berasosiasi terhadap pertumbuhan ekonomi yang rendah. Ini ditunjukkan oleh
íakta bahwa selama masa Orde Baru, tax ratio sebesar ¯,4 persen namun pertumbuhan
ekonomi mencapai 6,1 persen. Saat pemerintahan Abdurrahman \ahid rasio pajak mencapai
10,¯ persen dari PDB dan pertumbuhan ekonomi menurun menjadi menjadi 4,8 persen.
Pada saat pemerintahan Megawati, ketika rasio pajak mencapai 13,5 persen, pertumbuhan
ekonomi justru terus turun mencapai 4,2 persen.
1idak ·alidnya ta· ratio sebagai ukuran kinerja penerimaan pajak kemudian
memunculkan usulan untuk melihat kinerja penerimaan pajak melalui beberapa indikator lain,
antara lain ta· corerage ratio dan ta· bvo,avc, ratio. Dari sudut pandang ta· corerage ratio, kinerja
penerimaan pajak Indonesia juga tidak terlalu bagus walaupun ada prestasi peningkatan yang
baik. lal ini bisa terlihat dari 1abel 1.
1abel 1. Perkembangan 1ax Co·erage Ratio
1ahun Penerimaan Potensi Coverage Ratio
1993 , 1994 30.4¯0,30 58.426,40 52,2
1994 , 1995 3¯.258,10 69.2¯2,¯0 53,8
1995 , 1996 41.8¯8,10 83.35¯,50 50,2
1996 , 199¯ 49.826,10 98.¯5¯,50 50,5
199¯ , 1998 62.¯05,80 11¯.684,20 53,3
1998 , 1999 8¯.¯12,30 1¯3.595,20 50,5
1999 , 2000 9¯.408,80 234.155,80 41,6
2000 9¯.484,80 145.935,30 66,8
2001 15¯.195,90 206.564,90 ¯6,1
2002 180.099,00 235.¯31,90 ¯6,4
Sumber : Ditjen Pajak, 2003

1a· corerage ratio yang belum optimal ini menimbulkan banyak taísiran. Sebagian
besar pengamat mengindikasikan bahwa sistem perpajakan kita belum mampu meng-corer
objek pajak dan subyek pajak secara optimal, dan di sisi lain kinerja aparat perpajakan yang
juga belum optimal. Praktik-praktik penyimpangan wewenang pihak íiskus juga ditunjuk
sebagai penyebab utama, sehingga secara ekstrem muncul pandangan bahwa seharusnya
penerimaan pajak kita tidak hanya sebesar yang telah dilaporkan, melainkan sekian kali dari
yang dilaporkan oleh Pemerintah. Proí. J.S. Uppal ,2003: 53, menyatakan
12
: ít i. e.tivatea tbat

10
Asian De·elopment Bank ,ADB,, Key Indicators oí De·eloping Asian and Paciíic Countries.
11
Data tahun 1999
12
J.S. Uppal, 1ax Reíorm in Indonesia, Gajah Mada Uni·ersity Press, 2003
8
tbe aove.tic ta· rerevve to CDP ratio iv ívaove.ia rovta be vore tbav tri¡te if att ta·e. rere fvtt, cottectea
accoraivg to tegat ¡rori.iov..
Ukuran lain yang juga dijadikan indikator penilaian kinerja penerimaan pajak kita
adalah ta· bvo,avc,, yang merupakan perbandingan persentase perubahan penerimaan pajak
terhadap persentase perubahan pendapatan nasional. Dengan kata lain, bvo,avc, adalah
elastisitas penerimaan perpajakan terhadap PDB yang menunjukkan berapa persen
perubahan penerimaan pajak apabila PDB berubah 1 persen. Perbandingan antar negara
menunjukkan bahwa struktur pajak Indonesia memiliki elastisitas penerimaan pajak ,atau ta·
bvo,avc, yang lebih rendah, dibandingkan beberapa negara lainnya.

1abel 2. 1ax Buoyancy pada Beberapa Negara, 19¯6 - 1999
Negara 1ax Buoyancy
India 2,4
Korea 2,2
Maroko 2,2
londuras 2,2
Pakistan 2,1
Malaysia 1,9
Indonesia
Semua Jenis Pajak J,8
Pajak Non-Migas J,0
Sumber: !orta ßav/: ívaove.ia Poticie., Po.¡ect. for ícovovic Crortb, 1··1 bat. óó dan Ra;a Cbetitab 1reva. iv
1a·atiov iv Dereto¡ivg Covvtrie. dalam Ricbara M. ßira, Reaaivg. ov 1a·atiov iv Dereto¡ivg Covvtrie., ]obv
ío¡/iv. |virer.it, Pre.., 1·¨:, perhitungan dari Indikator Lkonomi, berbagai sumber.

Dalam banyak hal, kinerja penerimaan pajak Indonesia memang masih belum
memadai. Juga apabila ukuran kinerja operasional yang menjadi rujukannya. Direktur
Jenderal Pajak menyatakan bahwa pertambahan jumlah wajib pajak dalam periode 2001 -
2003 841.5¯3 merupakan jumlah yang lebih banyak daripada pertambahan jumlah wajib pajak
dalam periode 19¯0 - 2000 yang hanya tercatat bertambah sebanyak ¯¯5.1¯0. Jumlah ini
masih sangat jauh dari jumlah potensi yang ada. Sesungguhnya angka pertambahan jumlah
\ajib Pajak masih kurang memadai dibandingkan potensi yang tersedia. Bila jumlah
karyawan baik swasta maupun pegawai negeri di seluruh Indonesia ,Sakernas BPS 2003,
sebanyak 23,829 Juta maka jumlah \ajib Pajak ,berdasarkan data Ditjen Pajak, sebanyak 2,3
juta adalah sangat tidak memadai. Belum lagi potensi jumlah \ajib Pajak orang pribadi dari
kelompok pengusaha,wiraswastawan. Ini secara jelas menunjukkan kegagalan Ditjen Pajak
dalam meningkatkan jumlah \ajib Pajak orang pribadi.

1abel 3. Perkembangan Jumlah \ajib Pajak
1ahun Bendaharawan Badan OP PPh 2J PPN Jumlah
1995 84.113 458.¯32 1.086.488 5¯1.0¯1 325.354 2.525.¯58
1996 91.4¯5 499.361 1.163.9¯4 622.409 351.801 2.¯29.020
199¯ 9¯.939 543.433 1.232.45¯ 6¯5.622 3¯4.¯93 2.924.244
1998 105.689 582.018 1.2¯4.¯19 ¯24.184 391.963 3.0¯8.5¯3
1999 11¯.194 650.691 1.316.259 806.480 416.86¯ 3.30¯.491
2000 129.¯56 ¯26.655 1.381.194 899.299 451.¯9¯ 3.588.¯01
2001 14¯.131 804.959 1.69¯.180 1.001.298 489.232 4.139.800
2002 1¯0.519 888.949 2.028.026 1.114.46¯ 526.854 4.¯28.815
2003 195.556 9¯4.004 2.330.802 1.232.626 559.24¯ 5.292.235
2004 198.430 991.641 2.380.¯¯1 1.251.0¯9 563.5¯0 5.385.491
Sumber : Direktorat Iníormasi Perpajakan Ditjen Pajak

9

Angka pertambahan yang dilaporkan Dirjen Pajak pada tahun 2001 - 2004 juga
perlu dikritisi karena lebih banyak bertambah melalui peraturan keharusan memiliki NP\P
bagi karyawan dengan penghasilan di atas P1KP walau hanya bekerja pada satu pemberi
kerja, juga keharusan ber-NP\P bagi pemilik modal,pemegang saham, direksi, komisaris
dan pengurus badan usaha tanpa kecuali.
Pertambahan jumlah wajib pajak adalah salah satu agenda utama peningkatan kinerja
penerimaan pajak. Salah satu program Direktorat Jenderal Pajak dalam rangka meningkatkan
jumlah \ajib Pajak adalah dengan menjalankan langkah-langkah ekstensiíikasi. Langkah ini
akan secara signiíikan meningkatkan angka penerimaan pajak.
Kinerja operasional lainnya yang masih sangat jauh dari ideal adalah kegagalan Ditjen
Pajak dalam mengimplementasikan ketentuan hukum secara baik ,tar evforcevevt,. Pemerintah
lebih banyak bersikap pasií dalam menghadapi rendahnya kepatuhan pajak, sembari berharap
masyarakat memberikan kepatuhan sukarela ,rotvvtar, cov¡tiavce,.

1abel 4. 1ingkat Kepatuhan Penyampaian SP1 1ahunan
SP1 Dikirim SP1 Masuk 1ahun
Pajak
Badan OP Jumlah Badan OP Jumlah
° SP1
Masuk
1996 492.442 1.158.280 1.650.¯22 215.014 522.883 ¯3¯.89¯ 44,¯0
199¯ 536.013 1.226.509 1.¯62.522 221.528 510.322 ¯31.850 41,52
1998 5¯3.456 1.26¯.841 1.841.29¯ 219.543 4¯5.4¯3 695.016 3¯,¯5
1999 640.910 1.308.412 1.949.322 235.¯52 454.260 690.012 35,40
2000 665.304 1.332.365 1.99¯.669 263.508 43¯.888 ¯01.396 35,11
2001 ¯31.113 1.539.¯5¯ 2.2¯0.8¯0 2¯¯.053 538.932 815.985 35,93
2002
,
¯96.099 1.¯8¯.861 2.583.960 329.186 ¯39.280 1.068.466 41,35
Sumber : Direktorat Jenderal Pajak, Keterangan: , prediksi

1abel 4. menunjukkan bahwa kinerja operasional Ditjen Pajak dalam mendorong
kepatuhan wajib pajak masih sangat rendah, kemungkinan adalah pengabaian terhadap
konsekuensi sistem .etf·a..e..vevt yang harus dibarengi oleh íungsi edukatií penyuluhan dari
pihak íiskus. Perlu kita simak dari Loekman Soetrisno berikut: ...ra/,at a/av vevba,ar ¡a;a/
/atav vvtv aav ¡eta,avav ¡everivtab itv bai/. Katav tiaa/, vere/a a/av vevota/ vevba,ar ¡a;a/.
Peta,avav ai .ivi /avi arti/av .ebagai ¡eta,avav aari ¡everivtab ¡aaa vvvvv,a.
13
Atau juga
perkataan Jamalunddin Ancok: .../e¡atvbav va.,ara/at vvtv/ vevba,ar ¡a;a/ aa¡at aitivg/at/av
a¡abita .etvrvb a¡arat ¡everivtab vevivg/at/av aav vev¡erbai/i vvtv ¡eta,avav...¡evtivg ¡vta
ai/etabvi /eivgivav ¡ara ra;ib ¡a;a/ vevgevai ¡evggvvaav vavg ¡a;a/ ,avg vere/a ba,ar/av. ´ecara
teoriti. .eva/iv .e.vai avtara /eivgivav ¡evba,ar ¡a;a/ aevgav ¡evavfaatav vavg ¡a;a/, va/a a/av
.eva/iv .evavg ra/,at vevba,ar ¡a;a/.
14

Dari sudut pandang penegakan hukum, masih banyak para pelanggar hukum di
bidang perpajakan yang tidak mendapatkan sanksi yang memadai sesuai dengan ketentuan
perpajakan yang berlaku. Kondisi ini mendorong meluasnya kolusi di bidang perpajakan,
yang di satu sisi mengurangi penerimaan pajak, dan di sisi lain menciptakan kondisi bahwa
wajib pajak memiliki posisi tawar-menawar yang lebih tinggi daripada aparat perpajakan.
1abel 5. menunjukkan masih banyaknya tunggakan pajak yang belum dilunasi oleh
para wajib pajak. Sementara tindakan hukum yang dilaksanakan masih sangat kurang.





13
Loekman Soetrisno, Dari Mau Membayar Pajak ke Benar-Benar Membayar Pajak.` Makalah pembahasan
dalam Seminar Perpajakan di Jakarta, 9 Oktober 198¯.
14
Jamaluddin Ancok, Mengapa Orang Kurang Antusias Membayar Pajak`, makalah dalam Seminar Perpajakan
di Padang, 8 lebruari 1988
10

1abel 5. Data 1unggakan Pajak
1unggakan Akhir 1ahun (Dalam Ribuan Rp.)
No

Kanwil
2002 2003
1 Kanwil I 539.249.354 60¯.314.448
2 Kanwil II 253.433.500 4¯0.104.154
3 Kanwil III 253.¯43.350 525.843.900
4 Kanwil IV 2.03¯.¯88.¯49 2.163.509.201
5 Kanwil V 1.462.949.1¯1 2.251.303.190
6 Kanwil VI 1.136.3¯0.1¯0 1.34¯.9¯0.965
¯ Kanwil VII 6.283.068.918 11.603.592.124
8 Kanwil VIII 533.¯0¯.489 682.194.9¯5
9 Kanwil IX 198.406.865 450.898.522
10 Kanwil X 434.922.299 460.928.046
11 Kanwil XI 539.¯¯2.8¯0 61¯.459.¯16
12 Kanwil XII 228.901.824 290.934.688
13 Kanwil XIII 131.685.96¯ 138.141.522
14 Kanwil XIV 224.901.824 338.511.¯33
15 Kanwil XV 156.495.883 238.¯60.086
16 Kanwil XVI 109.361.611 155.¯91.62¯
1¯ Kanwil XVII 152.559.966 1¯2.632.¯50
18 Kanwil XVIII 68.421.2¯3 ¯3.¯09.456
19 Kanwil XIX 3.836.6¯2.606 4.000.205.128
JUMLAH J8.S82.4J3.689 26.S89.806.23J
Sumber: Direktorat Pemeriksaan, Penyidikan dan Penagihan Pajak Ditjen Pajak

3.3. Masalah Pengampunan Pajak
Salah satu hal yang mengemuka dalam masalah perpajakan kita saat ini adalah
tentang rencana Pemerintah memberlakukan Undang-Undang tentang Pengampunan Pajak.
lal ini tercermin dari berbagai pernyataan Pemerintah melalui para pejabatnya, baik di
tingkat menteri hingga eselon I Departemen. Pemerintah bahkan telah mengirimkan sebuah
tim beranggotakan tujuh ahli untuk mempelajari masalah pengampunan pajak di Aírika
Selatan.
15
Sayangnya, pada saat ini gaung tentang masalah pengampunan pajak ini tidak lagi
keras terdengar.
Jika mau belajar dari Aírika Selatan, sesungguhnya terdapat pelajaran penting yang
juga layak untuk diketengahkan. Aírika Selatan tidak hanya sukses dalam melaksanakan
pengampunan pajak, tetapi juga piawai dalam mendorong sistem perpajakan yang lebih baik
dengan penciptaan kondisi perpajakan yang ideal. Pemerintah Aírika Selatan menggunakan
strategi yang cukup cerdas dalam menyukseskan program ta· avve.t,, yaitu strategi "Pvtt ava
Pv.b". Pvtt, dengan menarik atau memberikan insentií agar wajib pajak tertarik ikut serta
dalam program ini. Misalnya dengan cara penghapusan denda dan bunga pajak terutang atau
pembayaran tebusan dengan tarií yang rendah. Pv.b, dengan memberikan tekanan atau rasa
tidak nyaman seandainya wajib pajak tidak mau berpartisipasi. Misalnya dengan
meningkatkan kuantitas dan kualitas pemeriksaan pajak, strategi pemilihan target penyidikan
yang tepat dan transparansi hasil penyidikan serta sanksi pidana pajak sementara sebelum
program amnesti diumumkan.
Direktorat Jenderal Pajak nampaknya ingin meniru strategi otoritas perpajakan
Aírika Selatan ini, dengan meluncurkan program SIN ,´ivgte íaevtificatiov ^vvber,. DJP
berpandangan bahwa Program Nomor Identitas 1unggal ini dapat menjadi solusi utama

15
In·estor Daily Indonesia, 2¯ December 2004
11
untuk menjaring potensi penerimaan pajak yang lebih baik. SIN adalah salah satu aspek
krusial dalam pengembangan teknologi iníormasi di bidang perpajakan. Ketiadaan SIN yang
diperparah oleh aturan diskriminatií dalam berbagai aturan berupa tidak adanya akses pajak
ke data deposito, akses ke data lalu lintas de·isa, akses ke data kredit macet dan akses ke data
kartu kredit, disebut oleh Dirjen Pajak menyebabkan kerugian kehilangan pajak mencapai Rp
6¯6,5 triliun.
Banyak negara telah memetik maníaat besar dengan pemberlakuan SIN. Rusia yang
telah membagikan Nomor Identitas Pembayar Pajak bagi 93 juta \ajib Pajak indi·idual dan
badan, kini memperoleh kontrol besar terhadap pemantauan kewajiban pajak sehubungan
dengan berbagai transaksi keuangan dengan pihak ketiga yang dapat dikenai pajak. Meskipun
tarií pajak diturunkan secara signiíikan kurang dari sepertiga dari tarií pajak lama, penerimaan
pajak Rusia justru meningkat ¯9,¯°. APBN Rusia semakin sehat.
Dalam praktiknya, tidak mudah bagi Direktorat Jenderal Pajak untuk mengupayakan
direalisasikannya SIN. Namun demikian, diharapkan Direktorat Jenderal Pajak dapat íokus
dengan upaya ini. lal ini perlu ditegaskan karena saat ini Direktorat Jenderal Pajak telah
mulai berbelok arah dengan membuat kemungkinan melakukan .bortcvt yang justru bisa
membuat iklim perpajakan kita mengalami gejolak. Dirjen Pajak berulangkali
mengetengahkan keinginan untuk melakukan pemajakan atas lalulintas de·isa dan transaksi
·aluta asing ;1ev¡o, 2º ]vvi 200:) dengan menyebutkan potensi pajak yang luar biasa dengan
menerapkan tarií pajak berlaku. lal ini merupakan langkah mundur yang berbahaya karena
substansi pemajakan beralih dari penghasilan menjadi transaksi secara keseluruhan.

3.4. Masa Depan Reformasi Perpajakan Indonesia
Pada dasarnya, Reíormasi Perpajakan Indonesia memiliki nilai istimewa
dibandingkan negara lain. Sebelum memuji .. atreaa, vevtiovea, ívaove.iav e·¡erievce .bor. tbat
a cov¡rebev.ire reforv cav ivaeea be iv¡tevevtea qvic/t, ava qvite .vcce..fvtt, iv a aereto¡ivg covvtr,.
Richard M. Bird
16
menyatakan reíormasi perpajakan Indonesia sebagai langkah sistematis
yang disusun melalui perencanaan yang baik.
Meski demikian, dari berbagai e·aluasi terhadap kinerja pajak, baik secara nominal
penerimaan, perbandingannya terhadap PDB, dan juga aspek operasionalnya, ternyata masih
banyak indikasi yang menyatakan bahwa reíormasi perpajakan Indonesia masih harus
dilanjutkan melalui pendekatan mondial. Jit B.S. Gill

menyebutkan beberapa indikator
bahwa suatu sistem penerimaan pajak harus direíormasi. L·aluasi yang dibahas dalam bagian
terdahulu menjadi beberapa poin yang juga menunjukkan bahwa sistem perpajakan nasional
kita harus direíormasi terus-menerus.
Beberapa kecenderungan yang berkembang saat ini dari Direktorat Jenderal Pajak
adalah penerapan sistem modern, peningkatan peranan sistem iníormasi, dan pembenahan
sumber daya manusia. Meski demikian, salah satu aspek mendasar yang perlu untuk
diperhatikan adalah perlunya langkah-langkah strategis dan taktis untuk mendorong
kepatuhan wajib pajak secara sistemik, yaitu menciptakan kondisi yang baik agar wajib pajak
mematuhi ketentuan perpajakan, perluasan íungsi edukasi kepada masyarakat, dan keseriusan
pemerintah dalam mengurangi ongkos kepatuhan ,cov¡tiavce co.t., dari para wajib pajak.
Secara umum, kepatuhan wajib pajak memang akan makin meningkat apabila ketentuan
perpajakan lebih transparan, memberikan kepastian hukum, dan adanya prosedur perpajakan
yang kian sederhana dan dipermudah.
18
Implementasi dari kriteria-kriteria ini akan sangat
tergantung pada kemauan baik ,¡otiticat ritt, dari para pengambil keputusan di bidang
perpajakan dan ekonomi di negeri ini.
Keberadaan Direktorat Jenderal Pajak sebagai suatu otoritas perpajakan juga tidak
perlu diperdebatkan aspek kelembagaannya. Pernah muncul rumor tentang proposal agar

16
Richard M. Bird, Managing the Reíorm Process`, Draít paper íor \orld Bank course on Practical Issues oí
1ax Policy in De·eloping Countries, April 28-May 1, 2003

Jit B. S. Gill, 1he Nuts and Bolts oí Re·enue Administration Reíorm`, January 2003
18
Arindam Das-Gupta, \hat Do \e Know About the Compliance Costs oí 1he 1ax System` Draít paper íor
\orld Bank course on Practical Issues oí 1ax Policy in De·eloping Countries, April 28-May 1, 2003

12
lembaga pajak menjadi satu kementerian,badan langsung di bawah Presiden. Pemerintah
tentu perlu bijak menyikapi hal ini. Penempatan lembaga pajak jelas memiliki implikasi
penting bagi kemampuannya mengerahkan dukungan politis untuk mendorong perubahan
legislatií yang dibutuhkan, mengamankan reíormasi perpajakan dan mengambil tindakan
penegakan hukum yang diperlukan dalam menghadapi sejumlah kendala kepentingan
tertentu. Jit B.S. Gill menyatakan juga bahwa hal ini juga akan mempengaruhi otonomi
penggunaan sumberdaya keuangan, sumberdaya manusia dan manajemen operasional
lembaga tersebut.
1entang ketepatan lembaga pajak, apakah di bawah Departemen Keuangan atau
mandiri sebagai badan,departemen terpisah yang langsung di bawah Presiden, sesungguhnya
tidak ada reíerensi yang baku. Berbagai negara juga memiliki pengalaman berbeda. Rusia,
Armenia dan Kazakhstan memiliki suatu kementerian yang bertanggung jawab dalam
administrasi perpajakan, memiliki status sebagai anggota kabinet dan otonomi sebagaimana
layaknya kementerian lainnya. lungaria, Bulgaria, Jamaika dan Lat·ia masih menempatkan
lembaga pajak di bawah Menteri Keuangan. Sedangkan Peru, Guatemala dan Guyana
menciptakan suatu badan perpajakan independen, dengan status lebih rendah dari
kementerian suatu kabinet.
Badan perpajakan independen atau kementerian pajak memang sangat ideal karena
memiliki kemandirian dalam bidang keuangan, sumberdaya manusia, manajemen operasi dan
akuntabilitasnya dapat dipertanggungjawabkan secara jelas. Persoalan utamanya sebenarnya
bukanlah dimana letak lembaga pajak tersebut, namun seberapa jauh dan baiknya kinerja
lembaga pajak tersebut. Data ta· ratio GlS ,1991 - 199¯, dari IMl menunjukkan Rusia yang
memiliki kementerian perpajakan hanya ada di peringkat 39 dengan ta· ratio sebesar 10,1°,
tidak lebih baik daripada Indonesia yang berada di peringkat 24 dengan ta· ratio sebesar
15,5°. Sedangkan Guatemala yang memiliki badan perpajakan independen justru terpuruk di
peringkat 45 dengan ta· ratio sebesar ¯,8°.
Dengan demikian, pemerintah perlu mengkaji secara mendalam bila berkeinginan
membentuk kementerian perpajakan atau badan perpajakan independen yang langsung
bertanggungjawab kepada Presiden. Sebenarnya, hal terpenting bagi pemerintah adalah
meneruskan dan menyempurnakan reíormasi perpajakan, memperbaiki sistem dan prosedur
kerja, dan mengurangi secara progresií bocornya penerimaan pajak dari sektor perpajakan.

4. KLSIMPULAN DAN SARAN
Sebagaimana layaknya negara berkembang, nampaknya problematika pembiayaan
negara dan pembangunan di Indonesia juga senantiasa dihadapkan pada keterbatasan sumber
dana yang ada. Indonesia yang disebut sebagai salah satu negara yang sukses melakukan
reíormasi perpajakan, juga dihadapkan pada persoalan pengembangan potensi perpajakan
yang menunjukkan menurunnya tingkat pertumbuhan penerimaan pajak.
Untuk itu, terdapat kebutuhan besar bagi Indonesia untuk melakukan reíormasi
pajak lanjutan. Kinerja penerimaan pajak Indonesia yang dari ukuran angka cukup
memuaskan, ternyata tidak didukung oleh pembangunan sistem mondial yang kuat. Oleh
karena itu, reíormasi perpajakan selanjutnya diharapkan dapat dilengkapi dengan
perombakan sistem yang memiliki pijakan hukum yang lebih konsisten. Pembenahan aspek
sumber daya manusia harus menempati urutan teratas dalam pembenahan internal Direktorat
Jenderal Pajak, terutama dalam masalah kualitas dan moralitas.
Persoalan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme ,KKN, juga harus diperhatikan dalam
pembenahan Direktorat Jenderal Pajak. Sudah menjadi rahasia umum bahwa DJP adalah unit
organisasi yang berada dalam rangking atas unit organisasi pemerintahan yang rentan akan
korupsi. Mengutip indikasi yang disampaikan oleh Jit B.S. Gill, sebenarnya kondisi ini juga
terjadi di berbagai negara. Meski demikian, tetap saja íakta tersebut tidak boleh menjadi
pembenaran, mengingat rangking Indonesia di bidang korupsi sangat memprihatinkan.
Untuk menjalankan agenda pemberantasan KKN di Direktorat Jenderal Pajak,
pemerintah harus bekerja ekstra keras dan tidak hanya berlindung pada angka penegakan
disiplin yang mungkin menyesatkan. Angka penegakan disiplin yang ditunjukkan Direktorat
Jenderal Pajak belum cukup memadai dibandingkan keluhan masyarakat yang terus mengalir
13
mengenai pelayanan kurang memuaskan dan biaya klaim hak pajak masyarakat \ajib Pajak
yang masih tinggi. Juga mengenai indikasi korupsi yang dilakukan oknum Direktorat Jenderal
Pajak sehingga kewajiban pajak oknum wajib pajak dapat direkayasa dengan jalan tertentu.
Untuk itu, dibutuhkan suatu upaya luar biasa. Namun kunci dari seluruh persoalan
ini adalah pembenahan aspek sumber daya manusia secara integral, dimulai dari penciptaan
aparat dan lembaga pajak yang bersih dan berwibawa dan didukung oleh kesadaran
masyarakat wajib pajak yang semakin baik. Berkembangnya kesadaran membayar pajak dan
pengelolaan penerimaan pajak pada sektor yang mendukung pembangunan akan dapat
meningkatkan kepercayaan masyarakat yang pada akhirnya dapat mendorong iklim in·estasi
yang lebih baik. Dengan demikian, pada akhirnya sistem perpajakan dapat memiliki daya
dorong bagi pembangunan.


DAI1AR PUS1AKA

________, BPS, berbagai terbitan
________, larian Bisnis Indonesia, 23 Agustus 2004.
________, larian 1empo, ¯ September 2004.
Ancok, Jamaluddin., Mengapa Orang Kurang Antusias Membayar Pajak`, Makalah Seminar
Perpajakan di Padang, 8 lebruari 1988.
Bird, Richard M., Managing the Reíorm Process`, Draít paper íor \orld Bank course on
Practical Issues oí 1ax Policy in De·eloping Countries, April 28-May 1, 2003.
Burton, Richard., \irawan B. Ilyas, `lukum Pajak`, Penerbit Salemba Lmpat, 2004.
Das-Gupta, Arindam., \hat Do \e Know About the Compliance Costs oí 1he 1ax
System` Draít paper íor \orld Bank course on Practical Issues oí 1ax Policy in
De·eloping Countries, April 28-May 1, 2003.
Lrata, I Made Gde., Modernisasi Perpajakan` Makalah Seminar Sehari Perubahan UU
KUP, PPh dan PPN, Multi Utama De·elopment Center, Juli 2004.
Gill, Jit B.S., 1he Nuts and Bolts oí Re·enue Administration Reíorm`, January 2003.
larahap, Abdul Asri., Paradigma Baru Perpajakan Indonesia: Perspektií Lkonomi Politik`,
Integrita Dinamika Press, 2004.
Munawir, `Perpajakan`, Penerbit Liberty, \ogyakarta, 1992.
Poernomo, ladi., Reíormasi Administrasi Perpajakan` dalam Kebijakan liskal: Pemikiran,
Konsep dan Implementasi, Penerbit Kompas, lebruari 2004.
Soetrisno, Loekman., Dari Mau Membayar Pajak ke Benar-Benar Membayar Pajak.`
Makalah Seminar Perpajakan di Jakarta, 9 Oktober 198¯.
Sumitro, Rochmat., Asas dan Dasar Perpajakan`, Bandung: Lresco, 1990.
Sunarsip, Mega lakta atau Mega Ilusi`, larian Republika, 8 September 2004.
Uppal, J.S., 1ax Reíorm in Indonesia`, Gajah Mada Uni·ersity Press, 2003.

. 2 . / $ " /5 $ 5 % 5 ! / 5 . $ ! % " &' $ $ ! $ ! ! ! ! 5 6 5 9 ! + ! ! ! ! ! $ ! $ ! ! $ $ : $ ! $ $ $! ! ! . 3 ./ . " " + >$ @ ? ! +6 5 11.$ ! % $! !" $ $ / ' 113 . $ ! : $ : 11/ .( ' 12. ./ 3 / .( . 3 0 $ $! $$ $ ! ! ' ! + ! ! ! $ $ ! ! ' 212 .# $ % # .<. ( " 0 " ! $ ' 11./ 3 / =3( ! ! $ ! ! ! $ $ $ $ . . % 8 8 ' ! ! $ ! ( ! $ 5 $ $! " ! ! ! '" ( .( " ! " ' ) . 1 $ ' / ) ) ! ! ! $ ! $ ! ! 3 $ ! ! ! ! $ ! ! 8 $ . $ ! ! $ ! ! $ ! ! $ ! ! ! ! $ ! ! ! ! ! $ $ 5 $$ $ # ! $ ! $ ! $ '. + ..

/ 3 / + @ ! + 1 6 : 6 ! 5 +6 3 .! ( " ! / 0 ! $ ! $ ! ) '.! ! ! ! $ ! $ ' ( ! $! $ ! ! ! ! ! $ $ ! $! ./ / ( ! $ ! ! ! ! $ -$ ! ! ! !$ ! C. ( ! $ ! 0 < $ " ./ . . ! " + 6 ! ! $ ! 5 ! ! ! $$ ) $ ! ! ! ! ! $ $ ! $ '?( ! ! $ / ' B6 ? ( ! $ 4 &D6 ! ! $ $ ! '&( %$ ! 4 + ! $ $ ! + < $ $ ! $ ! ! ! Y=C+S Deflationary gap C+I C Inflationary gap @ Y ! ! 0 Y1 Y* Y2 ! $ $ A ! ! ! ! ! - ! $ -$ $ $! ! $ ! + ' $ ! % $ $ $ ! ! $ $ $! ( ! ! 4 ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ! ) ! 4 ! $ ! $ ! ! $ ! 64 '6 ( $ ! / ' C6 ? ( ! %$ ! ! 64 6 ! ! 5 $ !/ ' E6 ?. I ! $ ! .

/ 3( G / . $ !@ $ ! ! $ ! $ ! ! ! ! $ ! ! ! ! ! 5 ! 5 9 $ ! ! 4 ! ! $ ! ! ! $ 5 ! $$ $ ! 3 ' ! ! ! ( $ ! ' 113 </ ( $ '. / A $ ## 9 ! $ ! $ $! = 2 1 " H H H9 $ # ) 4 .=($ / ! $ ! ! ! ! ! ! ! ! !$ $ ! ! ! 4 ! ./ . ' !( 4 ! $ ! ! $ $ ! ! ! = $ ! 4 ! ! ! ! ! ! $ ! ! 9 + 4 $ ! ! $ $! $ $ ! $ $ ! $ $ ! 5 ! . . ! 5 . # G % ) + "4 '. . ! 4 # ! 5 9 $! ! $ ! ! 9+ 6 6. % % % ! ! 4 ! !8 ! ! !8 ! ! ! 2 ! 59 . ./ 3 / : '. 5 4 & 9 . ! $ ! . ! 8 ./ 3 / 8 1 5 ! ./ . ! 8 . 3 0 # $ ! . ! 8 . ./ 3( G / " A$ . F $ ! ! ! ! ! ! ! $ $ $ ! 5 $ .# )& " $ ! " $ $ ! @ $ ! ! !$ ! ! $ ! ! ! ! '. 0( / ! $ ! $ ! $ ! ./ .

! ! ' ( ## ) 2* 12.( ## ) . A + I '. * 11= !+ % + ! '+ %+( 5 $ $ ! $ ! $ ! $ $ . " ! ) & " $ ! 6 ! ! ! $ ! ! * %$ " ! ! $ ! $ $ 2% ! !! $ 12. # % & ' # ( ## ) =* 12. ! $ ) + !./ / * / ! 5 . $ ! $ % ! ! 1<= ! ! ! ! ./ .( / $ $ $ ! $ ! ! ! ! ! ! " 113 ! ! ! 3' (## $ $ ! ## ) =* 11= !+ ! '+ ( ## ) 2* 11= ! 5 " $ 5 ' 5"5( ## ) 1* 11= ! ! ! ' ( ## ) ./ / ! $ ! ## ) =* 12.( 120 ## ) . ' ) +. " $ 5 $ ! ! $ !) ! '..* 120 ! + + ! ' ++( " 113 $ ! $ ! $ $ ! ! ! ! ! ! ) $ $ $ ! $ " 12./ / ! $ ## ) 2* 12. ! # ! ! ) <* 12.( / ! ! $ 1<= # ! % & ! ! $ ! '.* 120 ! + + ! ' ++( ## ) . ! $ ) + !. ! ! ## ) 2* / . * . ' ) +./ / / $ " 0' ( ! !$ ## ) <* / .* 120 !+ ./ 3 . 113 " $ $ ! ! ! $ ! ! 5 " ! ! 3' (## ## ) 1* 113 ! $ ## ) < % 12. ! # % & ' # ( ## ) / 113 * ! $ ## ) =* 12./ 3 1. ! $ ) + !./ / ! $ ## ) <* 12. ! ! ' ( ## ) * 113 ! $ ## ) 2* 12.! $ 4 # # ! ! ( . ! * . ## ) 1* / . ! # % & ' # ( ## ) =* / . 1<= ) ! $ $ ! ! ! ! + ! ! 12./ / ! $ ## ) 1* 11= ! ! ! ' ( ## ) . ( .* 113 ! $ ## ) .

/ 3 / $ 5+ ! $ $ ! . 2004 6 . ! !" ## ) 3* / . 111 4 2= $ ! ! ! ! 6 * .$ ## ) . / ! ! ! 4 ! ! $- 11<* 11= $ % ! ! 4 2 5+ !$ ! $ ! ! 5 ! ! ! $ ! +) ! ! $ 5 $ 2 $ -* $ $ ! $! ! 11./ / / 1$ J5 $ ' ! ./ / / ! ! ! $ ! ! ' '+ ! $ ( ( % ./ 3 / J5 $ ( $ $ 2000 2001 2002 5 ! ! ! $ ! ! ! ! $ ! $ ! ! ./ .000 60. '+ # " ! " ) & " $ ! 123 6 $ $ !+ .000 20. * 11= %+( . ? ! / = . $ 2003 J.000 120. / ! ! $ ! + ! ! ## ) 12./ ./ . =* 11= !+ $ $ 5 9 $ ./ .d.000 0 1969/1970 1970/1971 1971/1972 1972/1973 Gambar 1. Perkembangan Penerimaan Pajak dan Tax Ratio Periode 1969/1970 s. / ! ! " ! ! $ 2 !$ $ $ .000 80. 2004 persen 16 14 12 10 8 6 4 2 0 1973/1974 1974/1975 1975/1976 1976/1977 1977/1978 1978/1979 1979/1980 1980/1981 1981/1982 1982/1983 1983/1984 1984/1985 1985/1986 1986/1987 1987/1988 1988/1989 1989/1990 1990/1991 1991/1992 1992/1993 1993/1994 1994/1995 1995/1996 1996/1997 1997/1998 1998/1999 1999/2000 Pajak Langsung Pajak Tak Langsung Tax Ratio $ + ! % 9 A 5 .000 100. ! $ $! ! - $ 6 Rp milyar 140.000 40.

./ / / . / $ 5 .< / <. .3 00 2/ 30 1. =/ 2/ 0 2= = .0 ./ . / & . K ! 2 0K 3 0K '3 ./ . ! 4 ( " 6 ( ( ! %$ %$ $ 3.0 $ !4 ( $ M 5+ 6 ! ! $ /= % $ $ $ ! $ ! ' ! 7 $ + < 5+ ./ 0<3 1/ < .0 =./ . $! 5 $! $ ! % M& 4 ! " ! & .! " ! '3 $ $ ! ! $ $ ! .K M 5 ( ! ! 5 ! ( $ $ ! =3 6 5+ L $ $ ( $! . % 0 . 0./ / / ../ .. . $$ ! ( " ! ! $ $ ./ . 1/ $ $ ! ! ! $ ! 9 # '. * 113 113 * 110 110 * 11< 11< * 11= 11= * 112 112 * 111 111 *.< 3/ <1 .$ / 0. 0/0 3 < << 2 =< =< 3 $ $ ! $ $ $ ! $ $! ! / ( " ! $ $$ !$ ! - $! ! " ! ! ! $ -. 2 0/./ 1= 3/ 2/ 2 1= 323 2/ 0= 10 1/ 2// / 11 / $ " ! 02 3./ / . ! 5 4 111 % M" + ' 5+( 6 6 .02 / 3 2=2 / 31 2. : ) ( /.=. $ / $ ! 6 $ ! 5 5 ( $ 6 ! $ . 0/0 0. 010 . $ $ !4 ! ( ! 5 ( ! $ $! $ $ $ ! ! ! ! ! 5 $ . =/ 2./ =. 11. 0.K ! 5+ 6 ! (6 ! $ ! $! ! ! ! ! $ 5+ ) ! ! ! ! .0= 0/ 12 =0= 0/ = <23 . .( / ! ./ .K ! 6 $ @ 32 ./3=/./ . ./ . / . 5 4 # 4 5 .= .9 # 7 .

..0 .../ / . < . ./ ./ . ./ % 302 =.33 .1 / <21 0 = 13 .=3 =1./2/ .0 / =1 & .20 31 . 311 .1 =0< 3= . $ $ ! 5 ! ! $ $ ( $ ( $ 5+ $ 5+ $ $ 6 ! $$ ! +$ $ ! ' ! ( % $ . . =./ / . 022 =/ 3 ./ 31 = . 0./ / / ! ! ! $ ! $ ! $ $ $ 6 ! $ $ $ ! ! 6 5 @ $ $ ! ! ! $ 5 ...( / ( $ . ! ! @ $ '$ + ! 6 $ ! $ $ ! 9 ==0 =/ 9 $ + ' + .1.1 9 ! ! * ! @ %$ .3= 0<. / 2 <0/<1 =./ / / ./ .0 2/ . 1 3 4 3 5 .1 1<. 0=/ 6 8 . =/0 1 10 00< 12 3.. / 0=. 0= / = <.01 .1 2/ / 3 =. 1=3 . =2 .1 / .< 203 001 . 0. 3/ 1 <=0 <..( " " # ( $ $ ! $ 8# / ! ! ! $ ..2 . ! $ !! 5 @ $ .< ./ . 6 23 .=3 = 1 . .< .03 .. .2/== . / ..3 23 2/ 32/ < 211 . =.. / . ) ! 0 1=< J 111 $ 2 1 1 .2 13 <1= 2/ . 2.2 2 0 0 . 6 & $ 9 ( @ 3 :. .< 03.0 =02 ./ J / $ $ .7 + 6 ! 8 $ !. 23 0=.3 . #" " ! " $* ! " ! > / !< ! .. 110 11< 11= 112 111 ... . 30= . 3 < 2<= 30 =1= 321 .3 . .0 0 .12 / 3 3<= . / ! @ $ $ $ $ $ 1=/ J ./ .. <... 02. 1. % M+ 6 .11 / . 3. 1 3=0 1= 1. < <5 = = * 3 !6 ( 6 : $ $! 6 > #" $ > !? 5 9! 9 .< <00 2/ 101 3 222 131 1=3 / 3 / 11 <3 5 / 322 2< <.. ./ 3 / $ 5 %.

0. -+ $ . ./ / / .1 2< 0..</ 3.. =/ . 3 .= 222 0... . $ H H. . <0/=. 23 . 11< 11= 112 111 ..= =0 .0 3/ . 22./ 3 .= 21= =. =1< / 11 9 7 & ..2 1. 9 . 30< <3/1 / <<0 .1 . . =.. =.<= 23 . 11= <<1 . 1</ ! N ( % .<0 0. 02.2/ 5 %$ 3 $ % $ ! ! > & ! $ ! $ ! ! /. 0/3 .< 0/ 1 . . 33./ 3 ! / / ) @ $ ! ! ! > ! !! 5 ( $ $ %$ 3 % ! .1 =0= =2= 2< 8 & . 303 .. 0 /..2 . 0=.. 2 ..0 1.1= 131 .2/ . 122 . 3 > 9 !2 A$ G 5 G ! ..1< 2 0 120 / 3<< <2 " 33 =/ 3 0./ / . 1 ! $ $ ! 12= + . 1 03. 0.=/2=/ .0 =0. 0/ 2 ./ J .== / 0. ! 9 $ A ! 5 $ ! !$ ! $ %$ 0 $ ! ! $ ! ! $ ! ! ! ! !$ ! ! ! ! ! /3 ! ! $ ! ! ! $ ! $ . .<. =<../ .N / ( $ 5 ! !! & % 31./ 3 =. 0.! $! ! ! @ $ $ $ ! ! $ $ $ $ $ ! $ $ $ ! ! $ -) @ $ ! $ ! ! ! 5 ! ! ! 5 $ % * 9 ! ! $ '" ( %% " ' $ ! $ ! ! ! . 20/ <10 / < <1// .< / . .0 ..0 ! !$ 02 . 3=0 3=. $ 9 .

.1/1.. <2.0. / ..31 .= 5 ) $ .3 . 3 0 < = 2 1 $ 5 % ! ! .2 / 0 <: 45 # 4= < ## " .03 . . 13 1=0 30/212 0.=/ =/ < . .2 =<// 2< 00 =1 <.11 0.< . <.3 .3= 1=/1<0 </ 01. ! &! ! $ # ! -# $ ! ! ! $ ! ! ! ! ! ! $ ../ 1/ . 3 0 < = 2 1 / . .< <=.1 . ! $ ! ..2 0 =.%$ 0 5 $ . .3 1/ 2. 3.3 <22 .2 1/ 2. <20 1<= . 3</1. .0 23. / 1 2 <2 0./ 1 .. #< 4 4= ! 5 6! 6 6 6 66 6 6 L L L6 L6 6 L66 6 6 O O O6 O6 6 O66 6 O6 L OL OL6 OL6 6 OL66 6 O6 O ! ' -9 5# 5 </ .1 ==.. =0/ =. 0/ / .0./ . .=. / =22 =31 .3 1. 001 1<< <2 3.2 / 3< < = 301 = < . $ ! $ ! ! ! ! $ ! ! ( $ $ ! $ . =/ 321 = 12 3/ 2<0 < 3. . =/ 30< 1 3 / /. 2. 8 & 5 5 0. 2=/ .0 .2 3 0. . 131 = .= 3<.< < 1 0. </ < 4 : .2. 1/ / .. <.3 0< 310 22.. 0/ .. .. 3 332 = 3=/ / 03 3 0.0/ . =3. B ( 59 ! ! ! ! ! ! ! $ $ ! ! !P ! ! ! ! ! ! $ $! ! ! 65 ! $ ! $ $ ! $ 0 ! ! ! 9 ! ! ! ! P $ ! ! ! 5 $ 0 ! ! 9 ! ! $ 6 ! ! ! . .! ./ 3 / 6 6 ' ) % ! ! 64 5 10 ..= =.

! ! 9 5 5 ! ! ! $ ! 5 9 9 ! $ 4 ! $ !$ $ ! ! $ @ $ $ 6 " ) 4 6 ) ! " ! $ ! . + ! ! !$ $ $! 4 5+ $ 9 + ! ! ! !$ ! ! ! ! ! $ $ 2 $ :4 $ $ ! ! 5 $$ ! $ 9 $ ! $! ! !$ ! $ $ ! ! 6 H5 . 11 . $ $ $ $$ +$ $ $ . $ " ! . 0 0 6 ! 6 = ( $! $ " ! $ / " ./ . + G .! ! $ ! $ <=< 0 + $! $ ! $ $! " 5 6 ) ) ! $ $ $ ! ! !' 4 $ #. / G ) % + "4 " H9 .2-. . ! ! " H5 @ + 5 4 !& ./ . ! +) " $!5 ! ! ! C? $ $ ) & " $ ! " $ ) $ ! ! ! ! " ! ! < - %$ " ! 6 ! . / $ $ ! ! ! ' ! 6 $ ( $! ( ! ! $ 5 $ ' ! 9 $! @ . / 5 G @ 5 @ $ & & % %M + 6 %M 5 4 !& .2-./ . ! ! $ ! ! ! $ $ " %M =9 + < 2 ! 5 ! ) 6 $ ! ! ! =1 =K ! $ ! $ ! $ $ 6 ) $ ! $ $! $ 4 $$ ! ! $ ! $ ! 1.

$! $ !$ ! ! ! 9 + ! ! $! % $ $ ! $! $ I ! $! + $ $ $ $ .1 ! ( $ $ $ 6 !$ ! .3 ! ( 0 0K ! ! $ ! 30 ! ( $ = 2K 5 ! ! $ $ $ $ ! $ ! ! $ ! $ ! $! $ ! ! ! $ . $ $ ! ! ! !6 $ ! ! # ! $ ) 5 $ $ ! ! ! ! ! ! $ $ ! 9 $ 59 ! ! $ ! 6 ! ! $ $ $! 6 6 $ ! ! $ $ 6 ! $ ! $ ! $ ! $! $ $ ! ! ! $ ! ! ! ! ! $ 5 ! / K $ ! ! ! $ $ ! ! $ 9 ! 5 ! ! ! 12 . ! ! 9 + $ $ $! ! . $! * !$ ! ! $ ! ! ! * $ ! ! ! $ $ ! + $! ! $! + ! ! ! ! $! $ ! ! $ $ ! ! $ 5 ! $ ! ! ! ! ! 9 ! ! ! ! $ $ " !$ ! ! ! $ $ $! > 4 ! $ ! ! ! ! ! $ $ ! ! $ ! $ $! $ $ $ $ $! $ 5 ( A ' 11 J 11=( 6 . $! ! ! ! # $ ! $ $ 9 ) ' )( ! 5 9 $ ! !$ ! ! ! .A " ! .

# 5 4 & 9 ./ 3 / 9+ G ) % + "4 " H9 . ! ! . . G .2-. ! ! " H5 @ + 6 %M 5 4 !& ./ ./ 3 / 9 G M" % 6 H . H. !2 A $ 122 " . G . ! . # 4 . / " @ +6 H H $ $: ./ 3 / > G 5 . $ # ) . 9 1 $ 12= " G 5 H+ !: 11/ G !A .2-. / %M ## H H 13 . / 6./ . $ + -+ ./ 3 / G @ 5 @ $ & & % H5 @ + 6 %M 5 4 !& ./ 3 / H H $ >$ ? ! 11./ . . . / $ G ! + 6 : 6 ! 5 ./ . $ . !6 H " $ 2 $ .! ! ! 9! ! ! ! $ # $ $ $! $ 5 ! $ ! ! ! $ $ !$ ! $ $ ! ! $ $ + ! ! ) ! $ $ ! ! ! $ $ ! ! 5 @ $ 9 ! ! ! $ $ !$ ! ( QQQQ QQQQ + QQQQ QQQQ QQQQ QQQQ 9 + + 5 4 : ./ 3 / % = $ .. # $ $! $ + 6 . $ H./ 3 / G ! . . G " H $ A 6 $ A$ .

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->