Anda di halaman 1dari 8

A.

Pengertian Kantor Pajak Kantor Pajak adalah unit kerja dari Direktorat Jenderal Pajak yang melaksanakan pelayanan kepada masyarakat baik yang telah terdaftar sebagai Wajib Pajak maupun tidak. Penetapan dan ketetapan Pada ajaran formal, utang pajak baru muncul setelah ada tagihan dari kantor pajak. Tindakan penagihan dilakukan dengan mengeluarkan Surat Ketetapan Pajak. Surat Pemberitahuan diserahkan oleh wajib pajak hanya berfungsi sebagai pemberitahuan tentang penghasilan-penghasilan yang diperoleh serta pajak yang telah dihitung. Pada hakikatnya jumlah pajak diberitahukan tersebut belum merupakan penetapan pajak yang terutang. Surat Pemberitahuan sebagai media pertanggungjawaban dari wajib pajak kepada kantor pajak. Menurut Prof Dr Rahmat Soemitro Surat ketetapan pajak sebagai suatu ketetapan tertulis yang dikeluarkan oleh pejabat yang berwenang (pejabat pajak) yang menimbulkan hak dan kewajiban yang memuat besarnya utang pajak jenis tertentu dari tahun ke tahun yang terutang oleh wajib pajak yang namanya dan alamatnya tercantum dalam Surat Ketetapan Pajak itu. Fungsi dari Surat Ketetapan Pajak ialah untuk mengoreksi perhitungan pajak yang telah dilakukan oleh wajib pajak dan untuk mengenakan sanksi administrasi atas penyimpangan yang dilakukan. a. Penetapan Pajak Menurut pasal 12 ayat 1 UU KUP setuiap wajib pajak wajib membayar pajak yang terutang berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan, dengan tidak menggantungkan pada adanya Surat Ketetapan Pajak. Penjelasan dari pasal tersebut memberikan pedoman bahwa pada prinsipnya pajak terutang saat timbulnya objek pajak yang dikenakan pajak. Saat terutangnya pajak dapat diklasifikasikan sebagai berikut: 1. Pada suatu saat, untuk pajak penghasilan yang dipotong oleh pihak ketiga (orang yang mempunyai badan usaha) 2. Pada akhir masa, untuk pajak penghasilan karyawan, yang di potong oleh pemberi kerja, atau oleh pihak lain atas kegiatan usaha atau oleh pengusaha atas pemungutan pajak pertambahan nilai dan pajak penjualan atas barang mewah. 3. Pada akhir tahun pajak untuk pajak penghasilan. Dengan penjelasan tersebut diatas, wajib pajak telah mengetahui kapan suatu utang pajak timbul, sehingga kapan dan bagaimana kewajiban perpajakan harus dipenuhi dapat ditentukan sendiri oleh wajib pajak. Dalam sistem perpajakan yang baru, Direktorat Jendral Pajak tidak lagi menerbitkan Surat Ketetepan Pajak (SKP) untuk seluruh surat pemberitahuan wajib pajak.Direktorat jendral pajak memberikan kewenangan kepada wajib pajak untuk menghitung sendiri berapa pajak yang harus dibayarkan.

B.

WAKIL DAN KUASA WAJIB PAJAK Dasar Hukum :

- Pasal 32 Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2000 - KMK Nomor 576/KMK.04/2000 - KEP - 188/PJ./2001 - SE - 03/PJ/2003 (a) Yang dapat mewakili Wajib Pajak dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan : Badan oleh pengurus; Termasuk dalam pengertian pengurus, yaitu orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang dalam menentukan kebijakan dan/atau mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan. Orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang dalam menentukan kebijakan dan/atau mengambil keputusan dalam rangka menjalankan kegiatan perusahaan, misalnya berwenang menandatangani kontrak dengan pihak ketiga, menandatangani cheque, dan sebagainya, walaupun orang tersebut tidak tercantum namanya dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte pendirian maupun akte perubahan. Badan dalam pembubaran / pailit oleh orang atau badan yang dibebani dengan pemberesan; Warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli warisnya, pelaksana wasiatnya atau yang mengurus harta peninggalannya; Anak yang belum dewasa atau orang yang berada dalam pengampunan oleh Wali atau pengampunya.

(b) Wakil Wajib Pajak tersebut bertanggungjawab secara pribadi dan atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang, kecuali apabila dapat membuktikan dan meyakinkan Direktur Jenderal Pajak, bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang tersebut (c) Orang pribadi atau badan dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban menurut ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan dan kuasa tersebut harus memenuhi persyaratan sbb: 1) Menyerahkan surat kuasa khusus yang asli dan bermeterai dari wajib pajak pemberi kuasa, yang memuat nama, alamat, NPWP pemberi dan penerima kuasa dan bidang/cakupan hak/kewajiban perpajakan tertentu yang dikuasakan wajib pajak kepada pemberi kuasa kepada penerima kuasa yang bersangkutan. 2) Menguasai ketentuan-ketentuan di bidang perpajakan yang dibuktikan dengan memiliki brevet yang diterbitkan DJP atau ijazah formal pendidikan di bidang perpajakan yang diterbitkan oleh lembaga pendidikan negeri atau swasta dengan status disamakan dengan negeri sekurang-kurangnya tingkat diploma III.

3) Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana dibidang perpajakan atau tindak pidana di bidang keuangan negara. (d) Dalam menjalankan hak dan kewajiban perpajakan, seorang kuasa tidak dapat melimpahkan kuasa yang diterima dari wajib pajak kepada orang lain atau pegawainya, melainkan hanya dapat menyuruh orang lain untuk : 1) 2) 3) 4) 5) Menyampaikan permohonan pendaftaran wajib pajak dan/atau pelaporan usaha untuk dikukuhkan sebagai Pengusaha Kena Pajak. Menyampaikan Surat Pemberitahuan beserta kelengkapannya ke KPP atau Kantor Pos. Menyerahkan atau menerima kembali buku dan atau bukti-bukti pembukuan. Menyampaikan Surat Keberatan beserta kelengkapannya. Mengajukan permntaan formulir-formulir perpajakan.

(e) Satu surat kuasa khusus hanya berisi pemberian kuasa untuk suatu urusan tertentu dalam menjalankan hak dan kewajiban perpajakan sesuai dengan tingkat brevet atau ijazah yang dimiliki penerima kuasa. (f) Kuasa yang tidak memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud dalam poin c tidak dapat diterima sebagai kuasa Wajib Pajak dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan Wajib Pajak. (g) Seorang kuasa dilarang melimpahkan kuasa yang diterima dari Wajib Pajak kepada orang lain. (h) Fiskus harus melarang/menolak segala kegiatan pemenuhan hak dan kewajiban Wajib Pajak yang dilakukan oleh seorang kuasa yang tidak memenuhi persyaratan di atas. (i) Fiskus yang tidak menolak seorang kuasa yang tidak memenuhi persyaratan di atas akan dikenakan sanksi berdasarkan Pasal 4 dan Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980.

http://inwdahsyat.wordpress.com/2007/07/21/wakil-atau-kuasa-wajib-pajak/

Wakil atau Kuasa Wajib Pajak


Dalam menjalankan hak dan kewajiban perpajakan dikenal ada tiga istilah, yaitu:diri sendiri, wakil, dan kuasa. Diri sendiri. Hanya Orang Pribadi yang bisa secara langsung menjalankan hak dan kewajibannya. Wakil. Untuk WP Badan, tidak mungkin perusahaan jalan sendiri ke kantor pajak untuk mlaksanakan keajiban perpajakannya, sehingga dia butuh adanya wakil. Dalam melaksanakan hak dan kewajiban perpajakannya, Wajib Pajak diwakili, dalam hal: a. Badan oleh pengurus b. Badan dalam likuidasi oleh likuidator, sedang badan yang pailit oleh kurator c. Warisan yang belum terbagi oleh salah seorang ahli waris, pelaksana wasiat, atau yang mengurus harta peninggalannya d. Anak yang belum dewasa /berada dalam pengampuan oleh wali/pengampunya. Termasuk pengertian PENGURUS adalah orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan kebijakan dan/atau mengambil keputusan dalam bisnis. Hal ini berarti tidak hanya direktur dan komisaris sebagaimana tercantum dalam akte notaris, tetapi juga bisa stingkat General Manager. Wakil WP bertanggung jawab secara pribadi dan/atau secara renteng atas pembayaran pajak yang terutang, kecuali secara meyakinkan dapat dibuktikan bahwa mereka dalam kedudukannya benar-benar tidak mungkin untuk dibebani tanggung jawab atas pajak yang terutang tersebut. Kuasa. WP dapat menunjuk seorang kuasa yang bukan pegawainya dengan suatu Surat Kuasa Khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakannya, dengan syarat: a. menyerahkan Surat Kuasa Khusus asli, satu Surat Kuasa untuk satu jenis pajak dan satu masa/tahun pajak b. memiliki ijin praktek sebaghai Konsultan Pajak c. Tidak pernah dihukum karena melakukan tindak pidana di bidang perpajakan atau keuangan negara lainnya.

http://donnydanardono.multiply.com/journal/item/17
Membaca Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22/PMK.03/2008 tanggal 6 Februari 2008 dan Pasal 32 UU Nomor 28 tahun 2007, dapat disimpulkan sebagai berikut: Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22/PMK.03/2008 tanggal 6 Februari 2008 KUASA adalah: seseorang yang memenuhi persyaratan tertentu untuk melaksanakan hak dan/atau kewajiban perpajakan tertentu dari Wajib Pajak yang memberikan kuasa. Pasal 2 ayat (2): Persyaratan seorang kuasa adalah: a. memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak; b. telah menyampaikan Surat Pemberitahuan Tahunan Pajak Penghasilan Tahun Pajak terakhir; c. menguasai ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan; dan d. memiliki Surat Kuasa Khusus dari Wajib Pajak yang memberi kuasa dengan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran I Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 3: Ayat (1) :Dalam hal KUASA BUKAN KONSULTAN PAJAK, persyaratan menguasai ketentuan peraturan perundang-undangan dibuktikan dengan: kepemilikan sertifikat brevet; atau ijazah pendidikan formal di BIDANG PERPAJAKAN yang diterbitkan oleh Perguruan Tinggi Negeri atau Swasta dengan status terakreditasi A, sekurang-kurangnya tingkat Diploma III. Ayat (2) :Dalam hal KUASA ADALAH KONSULTAN PAJAK, persyaratan menguasai ketentuan peraturan perundang-undangan dibuktikan dengan: kepemilikan Surat Izin Praktek Konsultan Pajak yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan; dan menyerahkan fotokopi Surat Izin Praktek Konsultan Pajak yang dilengkapi dengan Surat Pernyataan Sebagai Konsultan Pajak dengan format sebagaimana ditetapkan dalam Lampiran II Peraturan Menteri Keuangan ini. Pasal 4 : Seseorang yang BUKAN KONSULTAN PAJAK termasuk KARYAWAN WAJIB PAJAK, hanya DAPAT MENERIMA KUASA dari: a. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas; b. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan peredaran bruto TIDAK LEBIH dari Rp.1,8 milyar dalam 1 tahun; ATAU c. Wajib Pajak BADAN dengan peredaran bruto TIDAK LEBIH dari Rp.2,4 milyar dalam 1 tahun. KARYAWAN adalah Karyawan TETAP yang telah menerima penghasilan dari Pemberi Kuasa yang dibuktikan dengan Surat Pernyataan Bermaterai dari Wajib Pajak dengan format sebagaiman ditetapkan dalam Lampiran III Permenkeu ini. Pasal 5: Surat Kuasa Khusus, paling sedikit memuat: a. Nama, alamat, dan tandatangan di atas materai, serta NPWP dari Wajib Pajak Pemberi Kuasa; b. Nama, alamat, dan tandatangan, serta NPWP Penerima Kuasa; DAN c. Hak dan/atau kewajiban perpajakan tertentu yang dikuasakan. Satu surat Kuasa khusus hanya untuk 1 (satu) pelaksanaan hak dan/atau kewajiban perpajakan tertentu. Pasal 7 : Seorang KUASA tidak dapat melimpahkan kuasa yang diterima dari Wajib Pajak kepada orang lain. Seorang KUASA dapat MENUNJUK dengan SURAT PENUNJUKAN - orang lain atau karyawannya terbatas untuk menyampaikan DOKUMEN dan/atau menerima DOKUMEN, selain penyerahan dokumen yang dapat disampaikan melalui Tempat Pelayanan Terpadu. Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007

Pasal 32 Ayat (1): Dalam menjalankan hak dan memenuhi kewajiban peraturan perundang-undangan perpajakan, Wajib Pajak diwakili dalam hal: a. badan oleh PENGURUS; b. ..........................dst Ayat (4): Termasuk dalam pengertian PENGURUS adalah orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dan /atau mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan. Penjelasan: PENGURUS: orang yang nyata-nyata mempunyai wewenang ikut menentukan kebijaksanaan dan /atau mengambil keputusan dalam menjalankan perusahaan, MISALNYA: berwenang menandatangani kontrak dengan pihak ketiga, menandatangani cek, dan sebagainya, WALAUPUN orang tersebut TIDAK TERCANTUM namanya dalam susunan pengurus yang tertera dalam akte pendirian maupun akte perubahan.

http://dudiwahyudi.com/pajak/ketentuan-umum-dan-tatacara-perpajakan/kuasa-wajib-pajak.html
Pasal 32 Ayat (3) memberikan landasan hukum tentang kuasa di mana orang pribadi atau badan sebagai Wajib Pajak dapat menunjuk seorang kuasa dengan surat kuasa khusus untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban. Ketentuan ini memberikan kelonggaran dan kesempatan bagi Wajib Pajak untuk meminta bantuan pihak lain yang memahami masalah perpajakan sebagai kuasanya, untuk dan atas namanya, membantu melaksanakan hak dan kewajiban perpajakan Wajib Pajak. Bantuan tersebut meliputi pelaksanaan kewajiban formal dan material serta pemenuhan hak Wajib Pajak yang ditentukan dalam peraturan perundang-undangan perpajakan. Yang dimaksud dengan kuasa adalah orang yang menerima kuasa khusus dari Wajib Pajak untuk menjalankan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan tertentu dari Wajib Pajak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan. Dasar hukum lainnya adalah Pasal 28 sampai dengan Pasal 31 Peraturan Pemerintah Nomor 80 Tahun 2007. Sementara itu, Pasal 32 Ayat (3a) menyatakan bahwa persyaratan serta pelaksanaan hak dan kewajiban kuasa diatur dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan. Untuk mengatur ini Menteri Keuangan sudah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22/PMK.03/2008 tanggal 6 Pebruari 2008. Siapa Yang Bisa Menjadi Kuasa? Seorang kuasa bisa berupa konsultan pajak maupun bukan konsultan pajak. Syarat yang harus dipenuhi oleh seorang konsultan pajak adalah : 1. Menguasai ketentuan perpajakan 2. Memiliki surat kuasa khusus dari Pemberi kuasa 3. Memiliki NPWP 4. Telah menyampaikan SPT Tahunan PPh tahun pajak terakhir 5. Tidak pernah dipidana dalam bidang perpajakan Surat kuasa khusus paling tidak harus memuat hal-hal sebagai berikut : 1. nama, alamat dan tandatangan di atas materei serta NPWP pemberi kuasa 2. nama, alamat dan tandatangan serta NPWP penerima kuasa 3. hak dan kewajiban pajak tertentu yang dikuasakan Kuasa yang diterima tidak dapat dilimpahkan lagi kepada orang lain. Dalam melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban perpajakan, seorang kuasa dapat menunjuk orang lain atau pegawainya untuk menyampaikan atau menerima dokumen perpajakan tertentu kepada dan/atau dari pegawai Direktorat Jenderal Pajak selain penyerahan dokumen yang dapat disampaikan melalui Tempat Pelayanan Terpadu

(TPT). Orang lain atau pegawai yang ditunjuk harus menunjukkan surat penunjukkan kepada pegawai Direktorat Jenderal Pajak dalam melaksanakan tugasnya.

Hak dan/atau Kewajiban Pajak Tertentu Seperti diuraikan di atas, suatu surat kuasa khusus harus menyebutkan hak dan/atau kewajiban tertentu. Dengan demikian, satu surat kuasa harus spesifik menyebutkan suatu urusan perpajakan dan surat kuasa tidak bisa bersifat umum. Dengan kata lain, satu surat kuasa untuk satu urusan perpajakan tertentu. Misal surat kuasa khusus penandatanganan SPT Tahunan PPh Badan, surat kuasa khusus pengajuan keberatan dan lain-lain. Syarat Kompetensi Salah satu syarat untuk menjadi kuasa adalah menguasai ketentuan perpajakan. Untuk membuktikan kompetensinya seorang kuasa harus munjukkan dokumen dokumen sebagai berikut. Dalam hal seorang kuasa tersebut bukan konsultan pajak, syarat kompetensi berupa fotocopy sertifikat brevet atau ijazah pendidikan formal di bidang perpajakan dari PTN atau PTS yang terakreditasi A dengan jenjang pendidikan minimal adalah Diploma III. Dalam hal seorang kuasa adalah konsultan pajak, syarat kompetensi adalah berupa kepemilikan surat ijin praktek konsultan pajak yang diterbitkan oleh Direktur Jenderal Pajak atas nama Menteri Keuangan. Fotocopy surat ijin praktek ini harus diserahkan dilengkapi dengan surat pernyataan sebagai konsultan pajak. Pembatasan Bagi Kuasa Yang Bukan Konsultan Pajak Seorang yang bukan konsultan pajak, termasuk karyawan, hanya dapat menerima kuasa dari :
1. Wajib Pajak Orang Pribadi yang tidak menjalankan usaha atau pekerjaan bebas 2. Wajib Pajak Orang Pribadi yang menjalankan usaha atau pekerjaan bebas dengan omzet setahun tidak lebih dari Rp1,8 Milyar 3. Wajib Pajak Badan dengan peredaran bruto tidak lebih dari Rp2,4 Milyar setahun

Seorang kuasa yang berstatus sebagai karyawan atau pegawai tetap harus dibuktikan dengan surat pernyataan bermaterei dari Wajib Pajak. Saat Mulai Berlaku Saat mulai berlakunya ketentuan-ketentuan di atas adalah tanggal ditetapkanya Peraturan Menteri Keuangan Nomor 22/PMK.03/2008 yaitu tanggal 6 Pebruari 2008.