Anda di halaman 1dari 28

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Biologi laut, yakni ilmu pengetahuan tentang kehidupan biota laut. Biota Laut menghuni hampir semua bagian laut mulai dari pantai,permukaan laut sampai dasar laut yang terjeluk sekalipun. Salah satu contoh dari biota laut adalah tumbuh-tumbuhan yang merupakan produsen yang sesungguhnya,artinya biota ini mampu membuat zat-zat organik yang majemuk dari senyawa-senyawa anorganik yang sederhana yang terlarut dalam air. Di laut,tumbuh-tumbuhan pemegang peranan utama penghasil makanan primer adalah mereka yang mengapung, khususnya fitoplankton,sedangkan di darat sebaliknya,tumbuh-tumbuhan melekat atau tumbuh-tumbuhan berakar yang memegang peranan penting.Sebagian besar tumbuhan yang hidup di dasar laut adalah tumbuhan tingkat rendah.Tumbuhan tingkat tinggi yang mampu hidup dan beradaptasi dengan lingkungan tersebut hanya beberapa soecies. Tumbuhan itu lebih sering disebut dengan lamun (sea grass),sedangkan tumbuhan tingkat rendah yaitu alga (seaweed) serta tumbuhan yang tumbuh di daerah pantai berlumpur adalah mangrove. (Romimohtarto,2001) Menurut Romimohtarto (2001) Seagrass;atau lamun adalah tumbuhan laut yang termasuk tumbuhan tingkat tinggi karena memiliki akar,batang, dan daun. Tumbuhan ini hidup pada substrat yang berpasir dan berbatu. Di laut seagrass berfungsi sebagai produsen yang mampu memproduksi O2 melalui proses fotosintesis. Seaweed yang orang orang sering menyebutnya rumput laut,sebenarnya penggunaan istilah ini kurang tepat karena seaweed adalah makro algae bentik yang termasuk tumbuhan tingkat rendah. Tumbuhan ini tidak termasuk tumbuhan tingkat rendah karena tidak dapat dibedakan antara akar,batang,dan daun sejati. Seaweed hanya memiliki thalus dan holdfast. Dalam perairan laut tumbuhan ini juga berfungsi sebagai produser. Sedangkan dari segi ekonomi telah banyak dimanfaatkan sebagai pangan dan industri.

Untuk tumbuhan pantai seperti bakau (mangrove) salah satu cara untuk beradaptasi terhadap substrat yang kandungan garamnya tinggi dan sedikit mengandung oksigen adalah pada bentuk perakarannya yang khas. Bakau mempunyai sejumlah bentuk khusus yang memungkinkan mereka untuk hidup di perairan lautan dangkal yaitu berakar pendek,menyebar luas dengan akar penyangga atau tudung akarnya yang khas tumbuh dari batang dan atau dahan. (Nybakken,1992) 1.2 Tujuan Praktikum biologi laut ini bertujuan untuk : 1. Mampu mengidentifikasi jenis-jenis mangrove. 2. Mampu mengidentifikasi jenis-jenis seaweed (rumput laut). 3. Mampu mengidentifikasi jenis-jenis seagrass (lamun).

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1 KARANG Ekosistem terumbu karang merupakan bangunan ribuan karang yang menjadi tempat hidup, berkembang biak, pertumbuhan, berlindung dari serangan predator, dan cari makan berbagai ikan dan hewan laut lainya. Ekosotem terumbu karang merupakan ekosistem yang khas di daerah tropis, yang memiliki produktifitas tinggi dan kaya akan keragaman spesies biota laut. Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, terdiri dari 17.508 pulau dengan panjang garis pantai 81.791 km, memiliki keanekaragaman hayti yang cukup tinggi. Luas terumbu karang di Indonesia saat ini :42000 km atau 16.5% dari luasan terumbu karang dunia (255.300 km) dan memiliki 590 spesies, oleh karena itu Indonesia memduduki peringkat terluas ke-2 setelah Australia. selama 1 tahun rata-rata pertumbuhan karang hanya mencapai sekitar 1 cm, jadi di butuh kan waktu 500 tahun untuk mencapai ketinggian 500cm. Karang merupakan suatu ekosistem tertua di bumi ini. berdasararkan kalsifikasi ekosistem, terumbu karang merupakan hewan yang tidak memiiliki tulang belakang (invertebrata) yang termasuk filum coleonterata. Terumbu karang merupakan hewan yang hidupnya bersimbiosis dengan zoocantela yang menempel pada bagian permukaan karang, atau biasa disebut polip, namun ada ciri-ciri khusus terumbu karang yang bersimbiosis dengan zoocantela, diantarnya: 1) Karang Hermatifik, merupakan kelompok karang penghasil terumbu, berkoloni, dan bersimbiosis denagan zoocantela, dan yang mengekresikan CaCO3. contoh, Acropora sp. 2) Karang Ahermatifik, merupakan kelompok karang yang bukan penghasil terumbu, soliter, dan tidak bersombiosis dengan zoocantela, dan memiliki tekstur tubuh yang lunak. contoh, Millipora sp. Faktor-faktor penentu pertumbuahan karang biasanya didominasi oleh karang-karang kecil yang umumya berbentuk masif dan sub-masif. Gelombang berpengaruh terhadap perubahan bentuk koloni

karang yang hidup di daerah terlindung dari gelombang, namun secara umum ada 4 faktor yang dominan yang sangat mempengaruhi bentuk pertumbuhan karang, yaitu cahaya, salinitas, suhu, dan tekanan dinamika laut.ditinjau dari aspek fungsi ekologis karang, terumbu karang berfungsi sebagai pelindung pantai dari hempasan ombak, badai, dan arus dari air laut, namun hal ini kurang begitu di perhatikan oleh masyarakat pesisir, terutama Indonesia, oleh karena itu sebagian terumbu karang di wilaya Indonesia mengalami kerusakan, hapir 70% dari seluruh total terumbu karang yang ada di Indonesia Klasifikasi Terumbu Karang Berdasarkan bentuk dan hubungan perbatasan tumbuhnya terumbu karang dengan daratan (land masses) terdapat empat klasifikasi terumbu karang atau yang sampai sekarang masih secara luas dipergunakan.Terumbu atau Reef Endapan masif batu kapur (limestone), terutama kalsium karbonat (CaCO3), yang utamanya dihasilkan oleh hewan karang dan biota-biota lain yang mensekresi kapur, seperti alga berkapur dan Mollusca. Konstruksi batu kapur biogenis yang menjadi struktur dasar suatu ekosistem pesisir.[8] Dalam dunia navigasi laut, terumbu adalah punggungan laut yang terbentuk oleh batuan kapur (termasuk karang yang masuh hidup)di laut dangkal. Karang atau Coral Disebut juga karang batu (stony coral), yaitu hewan dari Ordo Scleractinia, yang mampu mensekresi CaCO3. Karang adalah hewan klonal yang tersusun atas puluhan atau jutaan individu yang disebut polip.Contoh makhluk klonal adalah tebu atau bambu yang terdiri atas banyak ruas. Karang terdiri atas banyak polip seperti bambu terdiri atas banyak ruas tersebut Karang terumbu Pembangun utama struktur terumbu, biasanya disebut juga sebagai karang hermatipik (hermatypic coral) atau karang yang menghasilkan kapur. Karang terumbu berbeda dari karang lunak yang tidak menghasilkan kapur, berbeda dengan batu karang (rock) yang merupakan batu cadas atau batuan vulkanik.Terumbu karang Ekosistem di dasar laut tropis yang dibangun terutama oleh biota laut penghasil kapur (CaCO3) khususnya jenis-jenis karang batu dan alga berkapur, bersama-sama dengan biota yang hidup di dasar lainnya seperti jenis-jenis moluska, Krustasea, Echinodermata, Polikhaeta, Porifera, dan Tunikata serta biota-biota lain yang hidup bebas di perairan sekitarnya, termasuk jenis-jenis

Plankton

dan

jenis-jenis

nekton

Jenis-jenis

terumbu

karang

Adapun jenis-jenis dari terumbu karang, antara lain: Terumbu karang tepi (fringing reefs) Terumbu karang tepi atau karang penerus adalah jenis terumbu karang paling sederhana dan paling banyak ditemui di pinggir pantai yang terletak di daerah tropis. Terumbu karang tepi berkembang di mayoritas pesisir pantai dari pulau-pulau besar. Perkembangannya bisa mencapai kedalaman 40 meter dengan pertumbuhan ke atas dan ke arah luar menuju laut lepas. Dalam proses perkembangannya, terumbu ini berbentuk melingkar yang ditandai dengan adanya bentukan ban atau bagian endapan karang mati yang mengelilingi pulau. Pada pantai yang curam, pertumbuhan terumbu jelas mengarah secara vertikal. Contoh: Bunaken (Sulawesi), Pulau Panaitan (Banten), Nusa Dua (Bali). Terumbu karang penghalang (barrier reefs) Secara umum, terumbu karang penghalang menyerupai terumbu karang tepi, hanya saja jenis ini hidup lebih jauh dari pinggir pantai. Terumbu karang ini terletak sekitar 0.52 km ke arah laut lepas dengan dibatasi oleh perairan berkedalaman hingga 75 meter. Terkadang membentuk lagoon (kolom air) atau celah perairan yang lebarnya mencapai puluhan kilometer. Umumnya karang penghalang tumbuh di sekitar pulau sangat besar atau benua dan membentuk gugusan pulau karang yang terputusputus.Contoh: Batuan Tengah (Bintan, Kepulauan Riau), Spermonde (Sulawesi Selatan), Kepulauan Banggai (Sulawesi Tengah). Terumbu karang cincin (atolls) Terumbu karang cincin merupakan terumbu karang yang berbentuk cincin dan berukuran sangat besar menyerupai pulau. Atol banyak ditemukan pada daerah tropis di Samudra Atlantik. Terumbu karang yang berbentuk cincin yang mengelilingi batas dari pulau-pulau vulkanik yang tenggelam sehingga tidak terdapat perbatasan dengan daratan. Terumbu karang datar/Gosong terumbu (patch reefs) Gosong terumbu (patch reefs), terkadang disebut juga sebagai pulau datar (flat island). Terumbu ini tumbuh dari bawah ke atas sampai ke

permukaan dan, dalam kurun waktu geologis, membantu pembentukan pulau datar. Umumnya pulau ini akan berkembang secara horizontal atau vertikal dengan kedalaman relatif dangkal.

2.2 Lamun Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga (angiospermae) yang berbiji satu (monokotil) dan mempunyai akar rimpang, daun, bunga dan buah. Jadi sangat berbeda dengan rumput laut (algae) (Wood et al. 1969; Thomlinson 1974; Askab 1999). Lamun hidup terendam di perairan laut. Bagian-bagiannya adalah: rhizome, daun (thalus) dan akar. Lamun hidup di lautan yang dangkal seperti pada daerah laguna, estuarine, daerah berlumpur dan biasanya menempel pada substrat yang berlumpur, dan thalusnya tegak berdiri dengan panjang bisa mencapai satu meter (Romimohtarto,2001). Lamun dapat ditemukan di seluruh dunia kecuali di daerah kutub. Lebih dari 52 jenis lamun yang telah ditemukan. Di Indonesia hanya terdapat 7 genus dan sekitar 15 jenis yang termasuk ke dalam 2 famili yaitu : 1. Hydrocharitacea ( 9 marga, 35 jenis ) dan 2. Potamogetonaceae (3 marga, 15 jenis). Jenis yang membentuk komunitas padang lamun tunggal, antara lain : 1. Thalassia hemprichii 2. Enhalus acoroides 3. Halophila ovalis 3. Cymodoceae serulata 4. Thallasiadendron ciliatum (Den Hartog, 1970; Askab, 1999; Bengen 2001). Lamun umumnya membentuk padang yang luas di dasar laut yang masih dapat di jangkau oleh cahaya matahari yang memadai bagi pertumbuhannya. Hampir semua tipe substrat dapat ditumbuhi lamun, mulai substrat yang berlumpur sampai berbatu. Namun padang lamun yang khas lebih sering ditemukan di substrat lumpur berpasir yang tebal antara hutan rawa mangrove dan

terumbu karang. Padang lamun merupakan ekosistem yang tinggi produktifitas organiknya, dengan keanekaragaman biota yang cukup tinggi. Pada ekosistem, ini hidup beraneka ragam biota laut seperti ikan, krustasea, moluska ( Pinna sp, Lambis sp, Strombus sp), Ekinodermata ( Holothuria sp, Synapta sp, Diadema sp, Arcbaster sp, Linckia sp) dan cacing ( Polichaeta) . (Bengen, 2001). Lamun (seagrass) atau disebut juga ilalang laut adalah tumbuhan berbunga yang hidup di lingkungan laut dan terbenam di dalam air laut. Beberapa sifat khusus dari tumbuhan ini antara lain ia mampu hidup di media air asin, mampu berfungsi normal dalam keadaan terbenam, mempunyai system perakaran yang berkembang baik, dan mampu melaksanakan daur generatif dalam keadaan terbanam. Tumbuhan ini hidup di perairan yang dangkal. Perbedaan dengan tumbuhan laut yang lain adalah lamun tidak mempunyai stomata, tetapi mempunyai lapisan kutikula tipis yang berfungsi untuk menyerap nutrient dari perairan.(Romimohtarto,2001). Lamun merupakan tumbuhan berakar yang menyerap nutrient dari sedimen atau substrat. Jadi mereka mampu mendaur ulang nutrient kembali ke dalam ekosistem agar tidak terperangkap di dasar laut. Tumbuhan ini terdiri dari rhizome, daun dan akar. Rhizome merupakan batang yang terbenam dan merayap di dalam secara mendatar, serta berbuku-buku. Pada buku-buku tersebut tumbuh batang pendek yang tegak ke atas, berdaun dan berbunga. Pada buku tumbuh pula akar. Dengan akar dan rhizomnya ini lamun dapat tumbuh dengan kokoh dan menancapkan diri di dasar laut sehingga dapat bertahan dari hempasan gelombang dan arus. (Romimohtarto,2001). Sebagian besar lamun berumah dua (dioceous), artinya dalam satu tumbuhan hanya ada bunga jantan saja atau bunga betina saja. Sistem pembiakannya khas karena tumbuhan ini mampu melakukan pembiakan di dalam air (hydrophilous pollination). Selain bunganya, buahnya juga terendam di dalam air. Karena lamun hidup di dalam air, maka bunganya dipolinasi di dalam air melalui bantuan arus. Serbuk sarinya berbentuk seperti benang terdapat padat di dekat air, sehingga mudah terangkut oleh air. Pertumbuhannya schizogenous lacunar dan terdapat sekat pada sistem lacunar. (Romimohtarto,2001).

Lamun tumbuh bertahun-tahun, rimpangnya tumbuh memanjang dan membentuk pasangan-pasangan daun dan akar baru. Kadang-kadang ia membentuk komunitas yang lebat sehingga merupakan padang lamun (sea grass bed) yang cukup luas. Padang lamun mempunyai produktifitas organik yang sangat tinggi. Di situ terdapat macam-macam biota laut seperti Crustacea, Molusca, cacing dan juga ikan. (Romimohtarto,2001). Di samping sebagai tempat mencari makan dan memijah, padang lamun juga dapat memperlambat gerakan air yang disebabkan oleh arus dan gelombang (sebagai peredam gelombang) sehingga perairan di sekitarnya tenang. Hal ini menyebabkan substrat di bawah padang lamun menjadi lebih stabil. Oleh karena itu, padang lamun disukai oleh organisme-organisme yang lain karena digunakan sebagai tempat berlindung bagi larva-larva yang baru menetas dari arus maupun berlindung dari sinar matahari. (Romimohtarto,2001). Ada 58 jenis lamun di dunia dan 12 jenis diantaranya telah ditemukan di Indonesia, yaitu Sryngodium isoetifolium, Halophila ovalis, Halophila spinulosa, Halophila minor, Halophila decipiens, Halodule pinifolia, Halodule uninervis, Thalasodendron ciliatum, Cymodocea serrulata, Cymodocea rotundata, Thalassia hemprichii dan Enhalus acoroides. Ada tiga marga yang paling banyak dijumpai di perairan pantai, yaitu Halophila ovalis, yang terdapat di pantai pasir, di paparan terumbu, dan di dasar perairan lumpuran dari paras pasut rata-rata pada pasut purnama, memberikan lingkungan yang cocok bagi pelekatan alga. Di perairan laut mereka membentuk tajuk (canopy). Sedangkan bunganya berkelamin tunggal dan soliter. (Romimohtarto,2001). Marga yang kedua adalah Enhalus accoroides, yaitu perdu di bawah air yang mempunyai perakaran kuat dan diselimuti oleh serabut-serabut hitam yang kaku dan memanjang. Daun-daunnya berupa pasangan dengan jumlah dua atau tiga dalam pelepah bonggol (basal sheath). Tumbuh-tumbuhan ini terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasut purnama pada dasar pasir lumpuran. Mereka tumbuh subur di tempat yang terlindung di pinggir bawah dari mintakat pasut dan

di batas atas mintakat bawah litoral. Bunga betina soliter dan lebih besar, sedangkan bunga jantannya berwarna putih dan lebih kecil. (Romimohtarto,2001) 2.3 Mangrove Kata "mangrove" berarti tumbuhan tropis beserta komunitasnya yang tumbuh di zona intertidal. Zona intertidal adalah kawasan dibawah pengaruh pasang surut sepanjang garis pantai, seperti pantai, estuari, lagun dan tepi sungai. Secara umum mangrove adalah pohon dan semak-semak yang tumbuh dibawah level air tertinggi pada pasang di musim semi (FAO, 1952). Mangrove meliputi bermacam-macam jenis dari tumbuhan yang beradaptasi dengan lingkungannya. Tomlinson (1986) mengklasifikasi spesies mangrove menjadi 3 kelompok : komponen mayor; komponen minor dan kumpulan mangrove. a. Komponen Mayor Tumbuhan yang berkembang secara morfologi seperti sistem akar aerial dan mekanisme fisiologi pengeluaran garam untuk beradaptasi dengan lingkungan mangrove, secara taksonomi terisolasi dari terestrial, hanya dapat ditemukan di hutan mangrove dan tegak. b. Komponen Minor (Tumbuhan pantai) Tumbuhan ini tidak menarik perhatian, mengelilingi habitatnya dan jarang yang berbentuk tegak. c. Kumpulan Mangrove Tumbuhan ini tidak pernah tumbuh di komunitas mangrove sejati dan terdapat di tumbuhan terestrial. Habitat Hutan mangrove berkembang di zona intertidal sepanjang garis pantai tropis seperti estuari, lagun, delta, delta estuari dan lagun estuari. Hutan mangrove besar ditemukan sepanjang garis pantai yang berlumpur, terlindung, terbebas dari angin dan arus yang kuat. Hutan mangrove tumbuh subur jika banyak mendapat pesediaan sedimen dan air tawar. Air payau tidak penting namun baik untuk

pertumbuhan mangrove. Hutan mangrove juga dapat tumbuh di pantai berpasir dan berbatu, terumbu karang dan pulau.(Kitamura,1997) Distribusi Ada kira-kira 70 species mangrove sejati (komponen mayor dan minor). Empat puluh spesies dapat ditemukan di Asia Tenggara (15 spesies terdapat di Africa dan 10 spesies terdapat di America). Menurut Soemodihardjo (1993), ada 15 famili, 18 genus dan 41 spesies dari true mangrove dan 116 rekanan mangrove di Indonesia. Jumlah mangrove di Indonesia menurun sangat cepat karena dipengaruhi oleh pengunaan lahan dan sumberdaya yang berlebihan yang diakibatkan oleh peningkatan populasi di kawasan pantai.

Karakteristik Morfologi dan Fisiologi Tumbuhan Mangrove


Sistem Akar Tanah habitat mangrove menjadi anaerobik (tanpa udara) ketika terendam air. Beberapa spesies mangrove mengembangkan karakteristik sistem akar, disebut akar aerial, cocok untuk kondisi tanah yang anaerobik. Akar aerial adalah akar yang mengarah ke udara sedikitnya selama setengah hari, terkadang sehari penuh (Gill dan Tomlinson, 1975). Akar aerial berfungsi sebagai pertukaran gas dan penyimpanan udara untuk pernafasan selama terendam air. Buah-buahan Semua spesies mangrove menghasilkan buah yang biasanya tersebar di air. Spesies mangrove membentuk buah-buahannya seperti silindris, bola, kacang, dsb. Rhizophoraceae (Rhizophora, Bruguiera, Ceripos, and Kandelia) membentuk buah silindris (tongkat). Avicennia (buahnya berbentuk kacang), Aegiceras (buahnya berbentuk silindris) dan Nypa Sonneratia and Xylocarpus, buahnya berbentuk bola

10

Untuk kebanyakan spesies mangrove lainnya mempunyai buah berbentuk kapsul. Kelenjar Garam Beberapa spesies mangrove mengembangkan sistem yang cocok untuk kondisi salinitas yang tinggi, seperti organ sekresi tertentu yang disebut kelenjar garam. Avicennia, Aegiceras, Acanthus dan Aegialitis mengontrol keseimbangan garam dengan mengeluarkan garam dari kelenjar garam tersebut (Tomlinson, 1986). Kelenjar garam sangat berlimpah di permukaan daun. Biasanya terlihat garam kristal di permukaan daunnya. Spesies lainnya, Rhizopora, Bruguiera, Ceriops, Sonneratia dan Lumnitzera mengontrol keseimbangan garam dengan jalan sebaliknya, yaitu dengan merontokkan daunnya yang tua berisi akumulasi garam, atau dengan menggunakan tekanan osmotik pada akar. Namun secara mendetail hal ini belum dapat dijelaskan.(Kitamura,1997) Beberapa variasi morfologi akar yang ada pada mangrove dapat digolongkan menjadi 4 kelompok utama, yaitu : 1. Akar tunjang (Still roots) Akar tujang yang merupakan karakteristik dari Rhizopora adalah mungkin merupakan hal yang paling mencolok dan paling familiar dari seluruh akar mangrove. Akar ini tumbuh dari batang utama dan cabang terendah dari Rhizopora dan tumbuh ke bawah menuju substrat. Bagian akar yang berada di atas permukaan tanah ini berfungsi dalam pertukaran gas, sedangkan yang berada di bawah permukaan tanah berfungsi dalam transport air dan sebagai penyokong. (Tomascik.1997) 2. Pneumatophor Pneumatophor adalah akar tegak yang menonjol secara vertikal dari batang akar subterranean dan subaerial yang terlihat. Peranan utama dari pneumatophor adalah untuk pertukaran gas. (Tomascik,1997). 3. Akar lutut (Knee roots).

11

Akar lutut adalah bagian yang termodifikasi dari batang akar yang berada di bawah permukaan dan merupakan karakteristik yang terdapat pada sejumlah spesies dari Brugueira dan Ceriops. (Tomascik,1997) 4. Akar papan (Buttress roots) Akar papan adalah akar berkelok-kelok yang tumbuh secara radial dari batang utama, dan meluas secara vertikal dengan aktifitas kambium yang eksentrik pada keseluruhan panjangnya sampai merata, berbentuk lembaran seperti strukturnya. (Tomascik,1997).

12

BAB III METODOLOGI


3.1. Waktu dan Tempat Praktikum biologi laut (botani) dilaksanakan pada : 1) Minggu, 20 November 2011 di Ujung Piring 3.2. Metode 3.2.1 Terumbu Karang

Mengamati terumbu karang dengan metode LIT(line intersect transect). Mendata terbagi dalam 4 segmen 0-25m,25-50m,50-75m,75-100m. Pengambilan data sampai tingkat genus karang Menganbil sampel bebas secara langsung dari laut. Sampel digambar seutuhnya dan juga bagian-bagiannya. Diamati bagiannya yang ada seperti bentuk daunnya, ujung daunnya, tulang daun, buah dan buangannya. Dari hasil pengamatan lalu disusun taksonominya. Mengambil sampel bebas secara langsung dari laut. Sampel digambar seutuhnya. Diamati bagiannya seperti, bentuk daun,panjang dan lebar daun, bentuk tulang daun, permukaan daun,batang dan akarnya. Dari hasil pengamatan lalu disusun taksonominya.

3.2.2 Mangrove

3.3.3 Lamun

13

BAB IV HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan 4.1.1 Terumbu Karang 4.1.2 Mangrove a. Rhizophora apiculata Ciri-ciri : Ujung daun lancip. Buah bulat pendek. Bakal daun warna merah. Daun tegak ke atas. Warna daun hijau muda. Panjang daun 11,5 cm dan lebar daun 5 cm. b. Sonnetaria alba Ciri-ciri : Warna kelopak bunga ungu. Warna putik kuning. Ujung daun membulat. Jumlah kelopak 6 buah. Warna daun hijau. Panjang daun 8 cm dan lebar daun 6 cm. c. Ceriops tagal Ciri-ciri : Bentuk daun membulat. Batang bersegmen-segmen. Tulang daun sejajar. Propagul panjang pada ujungnya.

14

Daun berwarna hijau. Bunga berwarna putih. Buah berwarna coklat. Panjang daun 6,3 cm dan lebar daun 2,5 cm.

d. Aegiceras corniculatum Ciri-ciri : Ujung daun membulat agak oval. Tulang daun menyirip. Bunga banyak terdapat pada salah satu tangkai dan berwarna putih. Permukaan daun terdapat kristal-kristal garam. Ruas garis dan jari-jari daun terlihat jelas. Daun agak tebal dan kaku. Panjang daun 4 cm dan lebar daun 2,5 cm. e. Thespesia populnea Ciri-ciri : Tulang daun menjari. Ujung daun meruncing. Bagian bawah daun berhubungan dengan tangkai. Daun berbentuk hati. Daun berwarna hijau. Tangkai daun berwarna hijau. Panjang daun 16 cm dan lebar daun 10 cm. Panjang tangkai 9 cm. f. Pemphis acidula Ciri-ciri :

15

Daun kecil dan lancip. Bunga kecil berwarna putih. Buah pada bagian ujung berwarna coklat. Percabangan sejajar dicotomus. Batang berwarna kemerah-merahan. Panjang daun 1,8 cm dan lebar daun 0,9 cm.

g. Clerodendrum inerme Ciri-ciri : Daun menjorok ke atas. Mempunyai tali atau benang berwarna ungu. Buah berwarna hijau dan bentuknya bulat. Batang berwarna coklat muda. Bunga berwarna putih. Panjang daun 3 cm dan lebar daun 1,2 cm. h. Lumnitzera racemora Ciri-ciri : Daun tebal, agak lonjong atau oval memanjang dan agak besar. Garis tengah daun terlihat jelas. Tulang daun sejajar. Warna batang coklat kemerahan. Panjang daun 6,5 cm dan lebar daun 2,5 cm. 4.1.3 Lamun a. Cymodocea rotundata Cir-ciri :

16

Batang beruas-ruas. Ujung daun berbentuk dua bukit. Panjang daun 16 cm. Serat daun 9 buah. Untuk makanan penyu. b. Thalassia hemprichii Ciri-ciri : Batang berbuku-buku. Panjang daun 8,5 cm. Ujung daun membukit dan kasar. c. Enhalus acoroides Ciri-ciri : Daun berwarna hijau dengan serat-serat daun. Lebar daun 1,6-2 cm dan panjang daun 6,5 cm. Akar berwarna putih. Mempunyai serabut-serabut hitam pada rhizoma. Bentuk daun memanjang seperti pita atau sabuk. d. Syringodium isoetifolium Ciri-ciri : Bentuk daun silindris seperti pipa. Ujung daun meruncing. Memiliki Rhizoma. Pada daunnya jika dipotong akan tampak berlubang. Panjang daun 20 cm dan lebar daun 1 mm. e. Halodule uninervis Ciri-ciri : Panjang daun 7-11 cm dan lebar daun 5 mm. Warna dari rhizoma coklat. Pada ujung daunnya berbentuk trisula.

17

Punya sentral tulang daun ditengah. f. Cymodocea serulata Ciri-ciri ; Daunnya tipis. Ujung daun membulat dan bergerigi. Memiliki akar. Panjang daun 10-17 cm dan lebar daun 1 cm. Daun lebih panjang dari Cymodocea rotundata. Digunakan untuk makanan penyu.

4.2 Pembahasan. 4.2.1 Terumbu Karang

4.2.2 Mangrove a. Rhizopora apiculata Zona Rhizopora adalah di belakang pinggiran Avicennia. Pohon-pohon ini adalah komunitas mangal yang paling khas karena mempunyai akar tunggang yang melengkung yang mengakibatkan daerah ini sukar ditembus oleh manusia. Species Rhizopora sering kali tinggi dan berkembang pada daerah intertidal, dimana daerah ini hanya tergenang pada saat pasang naik purnama tertinggi. Tipe perakarannya adalah tunjang/egrang, dimana akar mulai tumbuh dan berpangkal pada bagian batang yang masih berada diatas permukaan air. Dari pokok batang yang masih berada diatas ini akan keluar akar-akar yang tumbuh ke arah bawah. Akar ini dilengkapi dengan lentisel yang bertugas untuk bernafas. Klasifikasi dari Rhizopora apiculata adalah: Kingdom : Plantae

18

Divisio Class Ordo Family Genus Species b. Ceriops tagal

: : : : : :

Magnoliophyta Magnoliopsida Rhizoporales Rhizoporaceae Rhizopora Rhizopora apiculata

Zona Ceriops merupakan zona mangal terakhir, merupakan asosiasi dari semak yang kecil-kecil, yang sering kali tidak hadir dalam sebuah hutan mangrove. Bila memang hadir, maka ini adalah zona variabel dan kenyataannya dapat bergabung dengan pohon-pohon dari zona Bruguiera. Ceriops merupakan penyerap dan pengeluar garam, yakni mereka menyerap garam melalui akarnya dan mengeluarkannya melalui kelenjar yang terdapat pada daun sehingga membentuk kerak kristal pada permukaan daun. Tumbuhan bakau ini merupakan bakau jenis pohon. Zonasinya di daerah yang masih terpengaruh pasang surut. Dengan substrat berpasir dan berlumpur. Memiliki pneumatopora sebagai alat bantu pernafasan dari adaptasi substrat yang miskin oksigen. Tipe perakarannya yang khas sebagai adaptasi dari substratnya yang masih terpengaruh pasang surut dan agar tetap kokoh berdiri dan tidak terbawa arus. Klasifikasi dari Ceriops tagal adalah: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Rhizoporales Rhizoporaceae Ceriops Ceriops tagal

c. Aegiceras corniculatum Mangrove jenis ini memiliki daun agak bulat memanjang, berbentuk seperti telur, berhubungan dengan tangkai pada ujung yang sempit, mempunyai

19

ujung daun agak melengkung ke belakang/pangkal, tulang daun menyirip serta beruas-ruas dan pada tumbuhn ini tulang daunnya terlihat jelas. Bentuk bunga seperti kerucut dengan ujung yang runcing, panjang tangkai 0,7 cm dan panjang buah 1,7 cm. Permukaan daun agak kasar dengan warna hijau tua dan terdapat kristal-kristal garam. Ukuran daunnya relatif kecil yaitu panjang 4 cm dan lebar 2,5 cm. Tipe perbungaan merupakan racerna (tipe perbungaan dengan bunga tumbuh sepanjang perpanjangan poros yang lebih panjang atau lebih pendek, dengan bunga yang lebih muda dekat dengan pangkal daun), dan terminal (pada ujung batang/ujung dahan). Tipe perakaranya adalah tipe III yaitu akar lutut, dimana akar ini tumbuh kesamping tidak lurus melainkan meliuk-liuk sehingga membentuk lengkungan-lengkungan yang akan menonjol diatas permukaan substrat. Puncak dari akar ini akan mengarah kebawah dimana pada bagian bawahnya tumbuh cabang-cabang akar yang kecil untuk mencari makan. Tumbuhan ini mempunyai perbijian cryptovivipar, serta mempunyai daun yang dilengkapi kelenjar garam.

Klasifikasi dari Aegiceras corniculatum adalah: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Myrsinales Myrsinaceae Aegiceras Aegiceras corniculatum

d. Lumnitzera racemosa Daun mangrove ini tebal, agak lonjong/oval memanjang dan agak besar. Tulang daun sejajar dan garis tengah daun terlihat sangat jelas. Warna batang coklat kemerahan. Panjang daun 6,5 cm dan lebar 2,5 cm.

20

Klasifikasi dari Lumnitzera racemosa adalah: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : Plantae

e. Clerodendrum inerme Daun menjorok keatas, memiliki tali atau benang berwarna ungu. Buah dari mangrove ini berwarna hijau dan bentuknya bulat. Batang berwarna coklat muda dan bunga berwarna putih. Panjang daun 3 cm dan lebar 1,2 cm. Klasifikasi dari Clerodendrum inerme adalah: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies f. Pemphis acidula Daun kecil dan lancip, bunga kecil berwarna putih. Mempunyai buah pada bagian ujung yang berwarna coklat. Percabangan dari mangrove ini bersifat sejajar dicotomus. Batangnya berwarna kemerah-merahan. Panjang daun 1,8 cm dan lebar daun 0,9 cm. Klasifikasi dari Pemphis acidula yaitu: Kingdom Divisio Class Ordo Family : : : : : Plantae : : : : : : : Plantae

21

Genus Spesies g. Sonneratia alba

: :

Mangrove ini memiliki ujung daun membulat berwarna hijau, dan warna kelopak bunga adalah ungu, sedangkan putik berwarna kuning. Kelopak bunga berjumlah enam buah. Panjang daun 8 cm dan lebar daun 6 cm. Klasifikasi dari Sonneratia alba adalah: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies h. Thespesia populnea Golongan mangrove ini memiliki daun berbentuk hati, dan berwarna hijau. Ujung daunnya meruncing serta bagian bawahnya berhubungan dengan tangkai. Tulang daun dari Thespesia populnea bersifat menjari. Panjang daun 16 cm dan lebar daun 10 cm. Klasifikasi dari Thespesia populnea yaitu: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies 4.2.3 Lamun a. Enhallus acoroides Jenis lamun ini disebut juga dengan lamun tropika. Jenis lamun ini memiliki akar yang kuat dan diselimuti oleh benang-benang hitam yang kaku. : : : : : : : Plantae : : : : : : : Plantae

22

Daunnya berbentuk pita yang panjang dapat lebih dari 70 cm dan lebar 10 cm. Daun mempunyai tulang daun, dan terdapat dalam pasangan pelepah bonggol. Pada bagian rhizoma terdapat semacam rambut yang merupakan akar dan akar lainnya yang menjulur ke bawah berwarna putih dan kaku. Tumbuhan ini terdapat di bawah air surut rata-rata pada pasang surut purnama pada dasar pasir lumpuran. Klasifikasi dari Enhallus acoroides adalah: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : Plantae Anthophyta Angiospermae Helobiae Hydrocharitaceae Enhallus Enhallus acoroides

b. Cymodoceae rotundata Cymodoceae rotundata merupakan jenis lamun dengan bentuk daun seperti pita tipis yang panjang. Akar tumbuh pada bagian rhizoma yang menjalar mendatar dan memanjang, batang berwarna coklat. Tmbuh-tumbuhan ini terdapat tepat di bawah air surut rata-rata pada pasang surut purnama pada pantai pasir dan pantai lumpuran. Klasifikasi dari Cymodoceae rotundaata yaitu: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : Cymodoceae Cymodoceae rotundata Plantae Anthophyta Angiospermae Helobiae

c. Syringodium isoetifolium

23

Merupakan jenis lamun yang memiliki bentuk daun silindris seperti pita, jika dipotong tengahnya maka akan tampak berlubang. Ujung daunnya meruncing dengan panjang daun 20 cm dan lebar 1 mm. Klasifikasi dari Syringodium isoetifolium adalah: Divisi Kelas Famili Sub famili Genus Spesies d. Halodule uninervis Lamun ini mempunyai sentral tulang daun di tengah dan ujung daunnya membentuk trisula. Rhizomanya berwarna coklat. Panjang daun 7-11 cm dan lebar 5 mm. Klasifikasi dari Halodule uninervis yaitu: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : Plantae : : : : : : Anthophyta Angiospermae Posidiniaceae Posidonioidea Sryngodium Sryngodium isoetifolium

e. Cymodocea serrulata Ciri morfologisnya hampir sama dengan Cymodocea rotundata, hanya perbedaannya terdapat pada tepi daunnya. Pada C. rotundata , tepi daunnya halus (licin), sedangkan pada C. serrulata tepi daunnya kasar (bergerigi). Kasifikasi Divisi : Anthophyta

24

Kelas Famili Sub famili Genus Spesies f. Thalasia hempricii

: : : : :

Angiospermae Posidonioidea Cymodoceoideae Cymodocea Cymodocea serrulata

Lamun jenis ini memiliki ciri-ciri batang dan daunnya terlihat jelas, pada akarnya terdapat ruas-ruas dan tiap beberapa ruas terdapat akar yang serabut. Pada daun terdapat leaf sheat yang tidak bertandan-tandan. Pada tiap tegakan terdapat 5-6 helai daun yang berwarna hijau dan panjangnya kurang lebih 6-7 cm. Daunnya seperti pita tetapi tidak lebar. Ujung daunnya rata dan tepi daunnya halus. Lamun ini tumbuh di substrat pasir yang lunak. Klasifikasi Divisi Kelas Famili Sub famili Genus Spesies : : : : : : Anthophyta Angiospermae Hydrocharitaceae Thalassiodeae Thalassia Thalassia hemprichii

25

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN


5.1 Kesimpulan 5.1.Terumbu Karanng 5.1.2 Mangrove Ideentifikasi mangrove dilihat dari bentuk daun, akar, batang, bunga dan buah dengan hasil klasifikasi sebagai berikut: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Species Kingdom Divisio Class Ordo Family : : : : : : : : : : : : Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Rhizoporales Rhizoporaceae Rhizopora Rhizopora apiculata Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Rhizoporales Rhizoporaceae

26

Genus Spesies Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies 5.1.3 Lamun

: : : : : : : : :

Ceriops Ceriops tagal Plantae Magnoliophyta Magnoliopsida Myrsinales Myrsinaceae Aegiceras Aegiceras corniculatum

Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan maka diperoleh klasifikasi lamun sebagai berikut: Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies Kingdom Divisio Class Ordo Family Genus Spesies : : : : : : : : : : : : : : Cymodoceae Cymodoceae rotundata Plantae Anthophyta Angiospermae Helobiae Hydrocharitaceae Enhallus Enhallus acoroides Plantae Anthophyta Angiospermae Helobiae

27

5.2 Saran Praktikum Botani ini dilakukan dengan cara sampling bebas sehingga mahasiswa dapat mengetahui secara langsung habitat biota laut terutama tumbuhan laut.

DAFTAR PUSTAKA
Aslan.L.M.1991. Budidaya Rumput Laut. Penerbit Kanisius : Yogyakarta Bold.C.Harold and Wynne J.Michael.1985. Introduction to the Algae. Second edition. Prentice Hall, Inc : New Jersey Kitamura.S,et.al.1997. Handbook of Mangroves In Indonesia. JICA : Jepang Nontji,A.1993. Laut Nusantara. Djambatan : Jakarta Nybakken,J.W.1992.Biologi Laut : Suatu Pendekatan Ekologis.Gramedia : Jakarta Romimohtarto,K dan Juwana,Sri.2001. Biologi Laut : Ilmu Pengetahuan tentang Biota Laut. Djambatan : Jakarta Tomascik,et.al.1997. The Ecology of the Indonesian Sea part 2. Peripilus Edition : Singapura Tomlinson,P.B.1986. The Botany of Mangrove. Cambridge University Press

28