ANALISA MENGENAI WARIS ISLAM TERHADAP PUTUSAN PENETAPAN AHLI WARIS PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN NOMOR 049

/Pd t . P / 2 0 10 /PA. JS MAKALAH Ditujukan Untuk Memenuhi Salah Satu Kriteria Penilaian Dalam Mata Kuliah Hukum Kewarisan Islam

OLEH : Nama NIM Jurusan : : : Sandy Muslim 0910611047 S1 Ilmu Hukum

FAKULTAS HUKUM UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAKARTA 2011/2012

KATA PENGANTAR Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan karunia-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat terselesaikan. Adapun judul dari makalah ini adalah ”Analisa Mengenai Waris Islam Terhadap Putusan Penetapan Ahli Waris Pengadilan Agama Jakarta Selatan Nomor 049/Pd T . P / 2 0 10 /Pa. Js”. Penulisan makalah ini ditujukan untuk memenuhi salah satu kriteria penilaian dalam mata kuliah Hukum Kewarisan Islam semester ganjil di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jakarta. Makalah ini tidak mungkin dapat terselesaikan dengan baik tanpa adanya dukungan moril dan materiil dari berbagai pihak. Karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada: 1. Kedua orang tua, yang telah memberi dukungan dan membantu dalam pembuatan makalah ini. 2. Drs. Djamhari Hamza, S.H. M.H. M.M., selaku dosen Hukum Kewarisan Islam. 3. Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penulisan makalah ini, yang namanya tidak bisa penulis sebutkan satupersatu. Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi para pembaca. Namun, makalah ini mungkin memiliki kekurangan. Karena itu, sangat diperlukannya kritik dan saran yang dapat membangun makalah ini sehingga menjadi lebih baik lagi. Akhir kata, penulis mengucapkan maaf yang sebesar-besarnya atas segala kesalahan yang mungkin ada didalam makalah ini. Jakarta,Desember 2011 Penulis

Prinsip-prinsip Hukum Kewarisan Islam ...............4................................ Tujuan Penulisan ...................................................... DAFTAR ISI ....................................................................... 1.2........................1.............................................................. 2.....................1............................... 2.......................................................................................................................................................... Penggolongan Ahli Waris ...... 17 Daftar Pustaka ......................... 4 6 7 BAB III Penetapan Pengadilan Agama Jakarta Selatan 3...................................DAFTAR ISI KATA PENGANTAR ......................1...1.................. Rumusan Masalah.................................................. 1........................................................................1................................ Hukum Kewarisan Islam 2............................................ Metode dan Teknik Penulisan ............................................................. 18 Lampiran .................................................................... Kasus Posisi ..................2...............2...................................1 Hukum Waris Dalam Al Quran ............................................................................3..................... BAB I PENDAHULUAN 1.......................... 10 BAB IV Analisa Dan Pembagian Waris ................................. Latar Belakang . 1. 19 .............................................. 13 BAB V Penutup ... 1 2 3 3 i ii BAB II PEMBAHASAN 2..................................

BAB I PENDAHULUAN 1. Dilihat dari definisi mengenai hukum kewarisan islam diatas. Kita dapat melihatnya dengan munculnya lembaga peradilan agama yang menjadi salah satu lembaga peradilan di bawah Mahkamah Agung yang memeriksa serta mengadili perkara-perkara perdata bagi masyarakat Indonesia yang beragama islam atau yang menundukkan diri kepada hukum islam. Buku III tentang Perwakafan. Latar Belakang Indonesia yang sebagian besar warga negaranya beragama islam. Hukum kewarisan merupakan hukum yang mengatur tentang pemindahan hak kepemilikan harta peninggalan atau tirkah pewaris. menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing. maka dapat disimpulkan bahwa yang ditekankan adalah pembagian warisan . diantaranya adalah hukum kewarisan islam. Menurut ilmu fiqh hukum kewarisan islam adalah berpautan dengan pembagian harta pusaka. Semakin memperkuat posisi hukum islam dalam struktur hukum di Indonesia. Buku II tentang Kewarisan. Pemberlakuan Kompilasi Hukum Islam sebagai hukum positif yang terdiri dari tiga buku dengan sistematika sebagai berikut : Buku I tentang Perkawinan. pengetahuan tentang cara perhitungan yang dapat menyampaikan kepada pembagian harta pusaka dan pengetahuan mengenai bagian-bagian wajib dari harta peninggalan untuk setiap pemilik hak pusaka”. cara penghitungan dan ahli .1. menjadikan hukum islam sebagai bagian norma hukum yang hidup di dalam masyarakat itu sendiri.

1. Rumusan Masalah Semakin tingginya tingkat kesadaran hukum ummat islam di Indonesia khususnya dalam ranah hukum kewarisan islam ditunjukkan dengan semakin banyaknya masyarakat yang memohonkan penetapan mengenai ahli waris maupun penyelesaian sengketa waris kepada pengadilan agama sehingga lebih memberikan kepastian hukum kepada para pihak yang berkepentingan di dalamnya maupun kepada pihak ketiga yang akan melakukan perbuatan hukum dengan para pihak. cukup sulit untuk memahami bagaimana pembagian waris pada saat seseorang meninggal dunia. Posisi hukum kewarisan dalam hukum Islam termasuk dalam lingkupan bidang hukum kekeluargaan. maupun hasil dari ijtihad para ulama yang menjadi sumber dalam hukum kewarisan islam. Karena adanya ahli waris dzul faraid.waris. sehingga penghitungan bagian masing-masing ahli waris dalam hukum kewarisan islam mempunyai tingkat kerumitan sendiri. maupun ijtihad dari para ulama dalam memecahkan permasalahan yang belum diatur dalam Al Qur’an dan Assunah. serta bagaimana hukum islam menegakkan keadilan bagi ummatnya sehingga setiap orang memperoleh bagian sesuai dengan porsinya masing-masing yang telah digariskan dalam Al Qur’an sebagai sumber hukum yang diturunkan langsung oleh Allah SWT kepada nabi Muhammad SAW. penulis dapat mengemukakan Beberapa permasalahan sebagai berikut: . Namun bagi masyarakat awam yang belum mengetahui mengenai hukum kewarisan dalam islam. Hadist Rasulullah SAW. serta assunah yang merupakan penjabaran nabi Muhammad SAW terhadap hukumhukum yang tidak dijelaskan secara terperinci dalam Al Qur’an. Dari uraian di atas. Perihal mengenai hukum kekeluargaan yang di dalamnya terdapat ketentuan mengenai kewarisan tersebut diatur dalam Al-Qur’an.2.

Bagaimanakah hukum kewarisan dalam Islam ? 2. Tujuan Penulisan Tujuan penulisan makalah ini adalah sebagai berikut: 1. 1. Untuk memberikan pemahaman lebih mengenai hukum kewarisan islam. Untuk mengetahui bagian masing-masing pihak dalam praktek penetapan ahli waris dalam peradilan agama. Sumber-sumber yang dijadikan sebagai rujukan untuk studi pustaka diperoleh dari berbagai sumber bacaan.1. Baik itu buku maupun situs -situs yang ada di internet. Untuk mengetahui penerapan hukum kewarisan islam dalam praktek peradilan agama. Berapakah bagian masing-masing pihak dalam putusan penetapan ahli waris dalam hukum islam? 1. Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan data dan informasi yang bersifat teoritis yang kemudian data tersebut akan dijadikan dasar atau pedoman untuk menyelesaikan permasalahan yang dibahas dalam karya tulis ini. Bagaimana penerapan hukum kewarisan islam dalam praktek peradilan agama berkaitan dengan putusan penetapan ahli waris ? 3.4.3. Metode dan Teknik Penulisan Metode dan teknik penulisan yang digunakan dalam penulisan karya tulis ini adalah metode studi pustaka. 3. . 2.

2.2 . 33). Ayatayat tersebut secara langsung menegaskan perihal pembagian harta warisan di dalam Al-Qur’an. surat Al. satu satunya sumber tertinggi dalam kaitan ini adalah Al-Qur’an dan sebagai pelengkap yang menjabarkannya adalah Sunnah Rasul beserta hasil-hasil ijtihad atau upaya para ahli hukum Islam terkemuka. masing-masing tercantum dalam surat An Nissa (Q.jika anak kamu hanya perempuan saja dan jumlahnya ada dua orang atau lebih mereka bersama-sama mendapat 2/3 bagian harta peninggalan. Ayat-ayat kewarisan dan hal-hal yang diatur di dalamnya : 1.H.Baqarah (Q.1. IV : 11 G.S.S.1.S.S.adalah allah menentukan mengenai pembagian harta warisan untuk anak-anak mu ialah untuk seorang anak laki-laki sebanyak bagian dua anak perempuan. dan terdapat pula pada dalam surat Al-Ahzab (Q. IV : 7 – mengatur penegasan bahwa laki-laki dan perempuan dapat mewaris dan ditegaskan dengan sebutan yang sama berupa bagi laki-laki ada bagian warisan dari apa yang ditinggalkan ibu bapaknya dan aqrabun.1 . di bawah ini akan diuraikan beberapa ayat suci AlQur’an yang merupakan sendi utama pengaturan warisan dalam Islam.BAB II PEMBAHASAN 2. Berkaitan dengan hal tersebut. G. Q.H. .S. 4). Hukum Kewarisan Islam 2. Hukum Waris Dalam Al Quran Dalam menguraikan prinsip-prinsip hukum waris berdasarkan hukum Islam. 2). dan bagi wanita ada bagian warisan dari apa yang ditinggalkan ibu bapaknya dan aqrabun. Q.1.

H. G.suami atau duda karena kematian isteri mendapatkan ¼ dari harta peninggalan isterinya jika si siteri meninggalkan anak.suami atau duda karena kematian isteri mendapat bagian ½ dari harta peninggalan isterinya kalau si isteri tidak meninggalkan anak.6 . G.jika si pewaris tidak meninggalkan anak dan dia mempunyai saudara maka ibu bapaknya mendapat bagian 1/6.2 .5 .H. G.7 .H.jika seorang laki-laki atau seorang perempuan mewaris secara kalalah sedangkan baginya ada saudara laki-laki atau saudara perempuan maka setiap mereka memperoleh 1/6.jika seorang laki-laki atau seorang perempuan mewaris secara kalalah sedangkan baginya ada saudara yang jumlahnya dua orang atau lebih mereka bersama-sama memperoleh bagian 1/3. G. G. G.bagi dua orang ibu bapak masing-masing mendapat 1/6 dari harta peninggalan si pewaris kalau si pewaris meninggalkan anak.4 .jika si pewaris tidak meninggalkan anak maka bagi ibunya 1/3 jika tidak ada saudara dari si pewaris.3 . G.jika anak perempuan itu seorang saja maka bagiannya adalah ½ dari harta peninggalan.S.H.H.H. 4.pelaksanaan pembagian harta warisan dilaksanakan sesudah dibayarkan wasiat atau hutang si pewaris.6 .H. G.H. Q.S. Mengenai mawali seseorang yang mendapat harta peninggalan dari aqrabunnya.7.5 .pelaksanaan pembagian harta warisan tersebut sesudah dibayarkan wasiat dan / atau hutang si pewaris.H. mengenai mawali seseorang yang .1 .H. Q. 3.H.H.3 . G.isteri atau janda karena kematian suaminya mendapat 1/8 dari harta peninggalan suaminya kalau si suami meninggalkan anak.IV : 12 G.4 .isteri atau janda karena kematian suaminya mendapat ¼ dari harta peninggalan suaminya kalau si suami tidak meninggalkan anak. G.IV : 33 – mengatur mengenai mawali sesorang yang mendapat harta peninggalan dari ibu bapaknya.G.

Kalau seluruh earisan sudah dibayarkan hutang. berlaku dengan sendirinya sesuai dengan kehendak Allah. Ditegaskan bahwa prinsip ijbari dalam hukum kewarisan islam tidak dalam arti yang memberatkan ahli waris. hutang itu hanya akan dibayar sebesar warisan yang ditinggalkan oleh pewaris tersebut. . maka ahli waris tak diwajibkan membayar sisa hutang tersebut. b. melainkan karena akhlak islam ahli waris yang baik. dan mengatur mengenai perolehan saudara-saudara dalam hal kalalah. Dalam hukum kewarisan islam. 2. Prinsip Bilateral yang dimaksud dengan prinsip bilateral ialah bahwa baik laki-laki maupun perempuan dapat mewaris dari kedua belah pihak garis kekerabatan. Q. 5.1. kemudian masih ada sisa hutang. maka pembayaran itu bukan merupakan suatu kewajiban yang diletakkan hukum. kalaupun ahli waris hendak membayar sisa hutang itu.S. Prinsip Ijbari yang dimaksud dengan prinsip ijbari adalah bahwa peralihan harta seseorang yang telah meninggal dunia kepada yang masih hidup berlaku dengan sendirinya.2. Berapapun besarnya hutang pewaris.IV : 176 – menerangkan mengenai kalalah. dijalankannya prinsip ijbari ini berarti bahwa peralihan harta dari seseorang yang telah meninggal dunia kepada ahli warisnya. Prinsip-prinsip Hukum Kewarisan Islam Beberapa prinsip dalam hukum kewarisan islam adalah sebagai berikut : a. Tegasnya jenis kelamin bukan merupakan penghalang untuk mewaris atau diwarisi. yakni pihak kerabat laki-laki dan pihak kerabat perempuan. Andaikata pewaris mempunyai hutang yang lebih besar dari warisan yang ditinggalkannya. ahli waris tidak dibebani membayar semua hutang pewaris itu. Dan perintah agar pembagian bagian tersebut dilaksanakan.mendapat harta peninggalan dari tolan seperjanjiannya.

Prinsip Individual Prinsip individual dalam hukum kewarisan islam berarti harta warisan dapat dibagi-bagi kepada ahli waris untuk dimiliki secara perorangan. dalam pelaksanaannya. Mereka adalah 1. Dengan demikian. proses. Dalam system ajaran agama islam. Dzul Qarabat (bilateral) / Ashabah (Patrilineal) 3. termasuk hukum kewarisan. Akibat Kematian Hukum kewarisan islam menetapkan bahwa peralihan harta seseorang kepada orang lain dengan sebutan kewarisan. Ada tiga golongan ahli waris menurut ajaran kewarisan bilateral dan patrilineal. Keadilan Berimbang Prinsip keadilan berimbang dalam hukum kewarisan islam berarti keseimbangan antara hak yang diperoleh dengan keperluan dan kegunaan dalam melaksanakan kewajiban. berlaku setelah yang mempunyai harta tersebut meninggal dunia. Perkataan aidil banyak disebut dalam Alquran yang kedudukannya sangat penting dalam system hukum islam. keadilan itu adalah titik tolak. dan tujuan segala tindakan manusia.2. Untuk itu. tidak ada pembagian warisan sepanjang pewaris masih hidup. d. seluruh harta warisan dinyatakan dalam nilai tertentu yang kemudian dibagikan kepada setiap ahli waris yang berhak menerimanya menurut kadar masing-masing. Dzul Faraidh (bilateral) / Dzawil Furud (patrilineal) 2. Mawali Ashabah binafsihi Ashabah Bighoiri Ashabah Ma’a Ghoirihi . Penggolongan Ahli Waris Ahli waris ialah orang yang berhak mendapat bagian dari harta peninggalan. 2. e.c.

h. Anak laki-laki. d. Saudara perempuan yang didampingi saudara laki-laki dalam hal kalalah. . Dzul Faraidh / Dzawil Furud Dzul faraidh ialah ahli waris yang mendapat bagian warisan tertentu dalam keadaan tertentu. b.Dzul Qarabat (Bilateral) Dzul qarabat ialah ahli waris yang mendapat bagian warisan yang tidak tertentu jumlahnya atau disebut juga memperoleh bagian terbuka atau disebut juga memperoleh bagian sisa setelah diambil oleh golongan Dzul Faraidh. Saudara laki-laki dan saudara perempuan bergabung bersyirkah dalam hal kalalah. Saudara perempuan dalam hal kalalah. Saudara laki-laki dalam hal kalalah. Saudara laki-laki dalam hal kalalah.1. b. c. e. mereka adalah : anak laki-laki. Ashabah binafsihi : adalah orang yang menjadi ashabah karena kedudukan dirinya sendiri. Anak perempuan yang tidak didampingi oleh anak laki-laki. Mereka adalah : a. g. e. bapak. . Ibu.Ashabah (Patrilineal) Ashabah adalah ahli waris yang mendapat bagian terbuka atau bagian sisa setelah diambil oleh golongan dzawil furud a. Bapak dalam hal ada anak. saudara laki-laki. Janda. Mereka ialah : a. . c. f. Anak perempuan yang didampingi anak laki-laki. 2. d. Duda. Bapak.

. Sebabnya adalah karena orang yang digantikan itu adalah orang yang seharusnya menerima warisan kalau dia masih hidup.b. mereka adalah : anak perempuan yang didampingi oleh anak laki-laki. Yaitu ahli waris yang menggantikan seseorang untuk memperoleh bagian warisan yang tadinya akan diperoleh orang yang digantikan itu. yaitu cucu dari pewaris melalui garis anak perempuan dari pewaris yang bagiannya ditentukan oleh ada atau tidaknya saudara laki-laki dari ibunya yang meninggal dunia. 3. golongan ke-3 dari ahli waris adalah dzul arham. saudara perempuan yang didampingi oleh saudara lakilaki. tetapi dalam kasus bersangkutan dia telah meninggal lebih dahulu dari si pewaris. . Maka hak untuk menerima warisan digantikan oleh anaknya.Dzul Arham (Patrilineal) Dalam kewarisan patrilineal. . Laki-laki yang menarinya menjadi ashabah itu ialah saudara dari perempuan tersebut se usbah dan sederajat. pada dasarnya wanita itu adalah dzawil furud. Ashabah bighoiri : adalah seorang wanita yang menjadi ashabah karena ditarik oleh seorang laki-laki yang turut menjadi ahli waris.Mawali (Bilateral) Mawali ialah ahli waris pengganti.

umur 27 tahun. Pekerjaan Swasta.007. agama lslam. Jakarta Selatan. Jakarta Selatan. Kelurahan Tanjung Barat. pekerjaan Swasta. Irwan Egon bin Egon.  D. pekerjaan karyawati.  E. Jakarta Selatan. agama islam. Kelurahan Pasar Minggu. umur 60 tahun. umur 35 tahun. pekerjaan karyawati.004 RW.007. tempat tinggal Komplek Batan Blok H-2 RT. Kecamatan Pasar Minggu. Kelurahan Pasar Minggu. P / 2 0 10 /PA. agama islam.1.1 RT. Selanjutnya disebut Pemohon III. Kasus Posisi Sumber : PENETAPAN PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN NOMOR REGISTER : 049/Pd t . tempat tinggal Komplek Batan Blok H-2 RT. Jakarta Selatan.BAB III PENETAPAN PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN 3. John Hanif Egon bin Egon. Pekerjaan Arsitek.004 RW. tempat tinggal Komplek Batan Blok H-2 RT. Selanjutnya disebut Pemohon IV. agama islam. Kecamatan Jagakarsa.007. Ir. Upik Miliani binti Abdulgani Bustami. Kecamatan Pasar Minggu.  C. Nadya binti Abdulgani Bustami. tempat tinggal Komplek Batan Jalan Deposito No. umur 37 tahun. Kecamatan Pasar Minggu.  B.004 RW. agama islam. Marina binti Abdulgani Bustami. umur 66 tahun. Kelurahan Pasar Minggu. JS TANGGAL PENETAPAN : 26 April 2010/11 Jumadil Awwal 1431 H Para Pemohon  A. tempat tinggal Tanjung Barat RT. Selanjutnya disebut Pemohon I .001 RW. Selanjutnya disebut Pemohon II.004.011 .

Kelurahan Pejaten Barat. Selanjutnya disebut Pemohon V. Kecamatan Pasar Minggu. John Hanif Egon bin Egon Irwan Egon bin Egon .003. Ketika almarhumah wafat ayahnya yang bernama Egon telah meninggal dunia terlebih dahulu dari almarhumah yaitu pada tanggal 13 November 1950 dan ibunya bernama Hasnah Zein juga telah meninggal dunia lebih dahulu dari almarhumah yaitu pada tanggal 12 Agustus 2002. Dan dari pernikahan tersebut telah lahir 3 (tiga) orang anak perempuan yang bernama : Upik Miliani binti Abdulgani Bustami Marina binti Abdulgani Bustami Nadya binti Abdulgani Bustami dan pada saat meninggalnya almarhumah juga meninggalkan 2 saudara kandung laki-laki yang bernama : Ir. DUDUK PERKARA Pada tanggal 18 desember 2009 telah meninggal dunia pewaris yang merupakan ibu kandung pemohon I. yang telah meninggal lebih dahulu yaitu tanggal 21 Juli 2002.RW. II. yang bernama Enilda binti Egon selanjutnya disebut “almarhumah”. Jakarta Selatan. III serta saudari kandung pemohon IV. Bahwa semasa hidupnya almarhumah telah menikah satu kali yaitu dengan Abdulgani Bustami bin Bustami Abdulgani pada tanggal 24 September 1971. V.

Menetapkan biaya perkara sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku MENETAPKAN Mengabulkan permohonan para pemohon. John Hanif Egon bin Egon (saudara laki-laki kandung) Irwan Egon bin Egon (saudara laki-laki kandung) 3.PETITUM 1.(seratus limapuluh satu ribu rupiah) . Menetapkan bahwa ahli waris yang berhak menerima harta peninggalan Almarhumah Enilda binti Egon adalah : Upik Miliani binti Abdulgani Bustami (anak perempuan kandung) Marina binti Abdulgani Bustami (anak perempuan kandung) Nadya binti Abdulgani Bustami (anak perempuan kandung) Ir. Membebankan kepada para pemohon untuk membayar biaya perkara sebesar Rp. John Hanif Egon bin Egon (saudara laki-laki kandung) Irwan Egon bin Egon (saudara laki-laki kandung) 3. 1.000.. Menetapkan bahwa ahli waris yang berhak menerima harta peninggalan Almarhumah Enilda binti Egon adalah : Upik Miliani binti Abdulgani Bustami (anak perempuan kandung) Marina binti Abdulgani Bustami (anak perempuan kandung) Nadya binti Abdulgani Bustami (anak perempuan kandung) Ir. Menyatakan Almarhumah Enilda binti Egon telah meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 2009. 2. 151. Menetapkan bahwa Almarhumah Enilda binti Egon telah meninggal dunia pada tanggal 18 Desember 2009 2.

John Hanif Egon bin Egon E. JS D E P A B C Keterangan : A. P / 2 0 10 /PA. Bagian masing-masing dari ahli waris dapat di ilustrasikan sebagai berikut BAGAN ILUSTRASI PENETAPAN PENGADILAN AGAMA JAKARTA SELATAN NOMOR 049/Pd t .BAB IV ANALISA DAN PEMBAGIAN WARIS Ketetapan pengadilan agama Jakarta Selatan yang menetapkan 3 (tiga) anak perempuan kandung pewaris serta 2 (dua) orang saudara kandung laki-laki dari pewaris sebagai ahli waris yang sah dari pewaris adalah benar. Ir. Irwan Egon bin Egon . Marina binti Abdulgani Bustami C. Upik Miliani binti Abdulgani Bustami B. Nadya binti Abdulgani Bustami D.

E = D. C = A= B= C= = : Bagian sisa untuk D & E : D. Dzul Faraid A.H. B.2) : Bagian Masing-Masing Ahli Waris 1. Dzul Qarabat D Mendapat bagian sisa setelah diambil oleh golongan Dzul Faraid E : Bersama-sama dalam 2/3 (Dasar Hukum Q. IV: 11 G.S. E = ( ) ( ) . Dzul Faraid A B C 2.AHLI WARIS 1.

S. Annisa ayat 11 garis hukum ke dua yang menyatakan bahwa “jika anak kamu hanya anak perempuan saja dan jumlahnya ada dua orang atau lebih mereka mendapat 2/3 (dua pertiga) bagian harta peninggalan. Hal ini didasarkan kepada penetapan Rasulullah SAW dalam menetapkan waris pada kasus Sa’ad Ibnu Rabi’ yang menyatakan bahwa saudara -saudara masih muncul sebagai mewaris.2. 2004). dimana tiga anak perempuan dari ahli waris diletakkan sebagai golongan Dzul Faraidh yang mendapat bagian 2/3 dari harta warisan yang didasarkan kepada Q. cet. Hukum Kewarisan Islam Indonesia.8 (Jakarta: Sinar Grafika.1 1 Sajuti Thalib. hal. Sedangkan bagian dua saudara kandung laki-laki dari pewaris yang diletakkan sebagai Dzul Qarabat. 122. . Dzul Qarabat = : = KOREKSI Penetapan bagian-bagian ahli waris sebagaimana tertera pada ilustrasi di atas didasarkan kepada dasar hukum sebagai berikut. sehingga mendapatkan bagian sisa dari harta warisan setelah dikurangi bagian golongan Dzul Faraidh. kalau dia berhimpun hanya dengan anak perempuan pewaris dan tidak ada anak laki-laki.

D C P A B Keterangan : P = Sa’ad bin Rabi’ C = Isteri Sa’ad A dan B = dua anak perempuan Sa’ad D = Saudara kandung Sa’ad PENETAPAN RASULULLAH i.S. dua anak perempuan mendapat 2/3 harta peninggalan (Q.S. Isteri mendapat 1/8 harta peninggalan (Q.S.Ilustrasi kasus Sa’ad bin Rabi’ Terjadi pada awal tahun ke 4 Hijriah waktu Q.IV :11) iii. seorang saudara laki-laki kandung mendapat sisa . IV : 11 turun.IV : 12) ii.

Penetapan sebagaimana tersebut di atas telah didasarkan kepada garis hukum yang telah di tetapkan baik itu di dalam Al Qur’an.BAB V PENUTUP Ketetapan pengadilan agama Jakarta Selatan yang menetapkan 3 (tiga) anak perempuan kandung pewaris serta 2 (dua) orang saudara kandung laki-laki dari pewaris sebagai ahli waris yang sah dari pewaris adalah benar. Assunah maupun ijtihad yang telah penulis kemukakan pada BAB sebelumnya. kalau dia berhimpun hanya dengan anak perempuan pewaris dan tidak ada anak laki-laki. . Sehingga telah jelas posisi saudara laki-laki dari pewaris. bahwa mereka berhak juga mewaris dan digolongkan sebagai ahli waris Dzul Qarabat yang didasarkan kepada penetapan Nabi Muhammad SAW dalam kasus Sa’ad Ibnu Rabi’ yang menyatakan bahwa saudara -saudara masih muncul sebagai mewaris.

Suparman. Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam. H. (Jakarta: Sinar Grafika. (Jakarta: Sinar Grafika.Daftar Pustaka Ali. Zainuddin. (Bandung: Citra Aditya Bakti. Adat. Budiono. Thalib. A.4. 2010). Pelaksanaan Hukum Waris Di Indonesia. Sajuti. 2005). cet. 2004). (Bandung: Refika Aditama. cet. Eman. Pembaruan Hukum Kewarisan Islam Di Indonesia.2. Rachmad. dan Bw. . Hukum Kewarisan Islam Indonesia. 1999).1. cet.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful