Anda di halaman 1dari 12

Laporan Praktikum Biokimia Umum

Hari/tanggal : Selasa/10 November 2009 Waktu : 13.00 16.00 WIB PJP : Rhamdan Hidayat, M.Si Asisten : Skotia Fitriastri P Tyas Ayu Lestari Heryani Miranti Nurindah Sari

Lipid
Kelompok 7 : Dirga Shabri P Siti Saidah Devi Lia Wati Nurul Fitria G34080095 G34080056 G34080061 G34080066

DEPARTEMEN BIOKIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2009 1

PENDAHULUAN Lipid merupakan sekumpulan senyawa biomolekul yang dapat larut dalam pelarut-pelarut organik nonpolar seperti kloroform, eter, benzene, aseton, dan petroleum eter (Lehninger 1982). Lipid dapat digolongkan dalam beberapa kelompok berdasarkan komponen dasar pembentuk lipid, sumber penghasil lipid, kandungan asam lemak, dan sifat-sifat kimia dari lipid seperti sifat dapat tidaknya dilakukan penyabunan. Berdasarkan komponen dasarnya, lipid dikelompokkan menjadi lipid sederhana (simple lipid), lipid majemuk (compound lipid), dan lipid turunan (derived lipid). Lipid sederhana mengandung asam-asam lemak yang sama sebagai penyusunnya dan tidak dapat disabunkan, sedangkan lipid majemuk atau campuran mengandung dua atau tiga jenis asam lemak yang berbeda dan dapat disabunkan. Berdasarkan jumlah ikatan atom C, asam lemak dibedakan kedalam rantai asam lemak dengan ikatan atom C tunggal yang disebut asam lemak jenuh (saturated) dan rantai asam lemak dengan satu atau lebih ikatan rangkap yang disebut asam lemak tidak jenuh (unsaturated). Ikatan rangkap mempunyai sifat struktur yang tidak stabil dan kaku (rigit) sehingga di dalam larutan dapat membuat dua isomer, yaitu cis dan trans. Pada umumnya lipid yang mengandung asam lemak jenuh bersifat padat yang sering disebut lemak, sedangkan lipid yang mengandung asam lemak tidak jenuh bersifat cair pada suhu kamar dan disebut minyak. Lipid akan terhidrolisis jika dilarutkan dalam asam atau basa, air, dan enzim lipase. Hidrolisis lipid oleh asam akan menghasilkan gliserol dan asam-asam lemak penyusunnya. Hidrolisis lipid oleh basa kuat (KOH atau NaOH) akan menghasilkan campuran sabun K+ atau Na+ dan gliserol. Proses hidrolisis ini disebut penyabunan atau saponifikasi. Hidrolisis oleh air akan terjadi jika lemak/minyak dipanaskan dengan air pada suhu 180 C dan tekanan 10 atm, kemudian akan terhidrolisis menjadi gliserol dan asam-asam lemak. Gliserol larut dalam air, sedangkan asam lemak terapung di atas air (Lehninger 1982) Hidrogenasi pada lipid akan terjadi jika minyak yang mengandung asam-asam lemak tidak jenuh dengan katalis serbuk Ni dapat mengadisi hidrogen sehingga berubah menjadi lemak padat. Proses ini digunakan untuk membuat mentega tiruan 2

atau margarin. Lipid dengan bagian utama asam lemak tidak jenuh dapat diubah secara kimia menjadi lemak padat oleh proses hidrogenasi sebagian ikatan gandanya. Jika terkena udara bebas, lipid yang mengandung asam lemak tidak jenuh cenderung mengalami autooksidasi. Molekul oksigen dalam udara dapat bereaksi dengan asam lemak, sehingga memutuskan ikatan gandanya menjadi ikatan tunggal. Hal ini menyebabkan minyak mengalami ketengikan. Kelas lipid yang lain adalah steroid dan terpen. Steroid merupakan molekul kompleks yang larut di dalam lemak dengan empat cincin yang saling bergabung. Steroid yang paling banyak adalah sterol yang merupakan steroid alkohol. Kolesterol adalah sterol utama pada jaringan hewan. Kolesterol dan senyawa turunan esternya, dengan asam lemaknya yang berantai panjang adalah komponen penting dari plasma lipoprotein (Florkin 1962).

TUJUAN Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari beberapa reaksi uji terhadap beberapa golongan lipid. Golongan tersebuat ialah lemak, minyak, dan kolesterol.

ALAT dan BAHAN Alat yang dipakai yaitu tabung reaksi, pengaduk, bunsen, pipet tetes, pipet mohr,kertassaring, erlenmeyer dan sumbat karet. Tidak lupa penangas air juga diperlukan. Bahan yang dipakai pada percobaan yaitu akuades, eter, kloroform, alkohol, alkali, asam encer, minyak kelapa, lemak hewan, mentega, margarin, gliserol, asam palmitat, asam stearat, asam oleat, minyak kelapa tengik, kristal KHSO4, pereaksi iod Hubl, HCl pekat, serbuk CaCO3, kolesterol, kloroform anhidrat, asam sulfat pekat, asam asetat anhidrat dan floroglusinol.

PROSEDUR PERCOBAAN Percobaan uji kelarutan, sebanyak 2 ml pereaksi atau pelarut dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang bersih, kemudian dibubuhkan sedikit bahan percobaan lalu dikocok kuat-kuat dan diamati kelarutannya. Pelarut yang digunakan yaitu akuades, eter, kloroform, alkohol panas, alkohol dingin, alkali dan asam encer. Percobaan uji akrolein, kristal KHSO4 dimasukkan ke dalam tabung reaksi, kemudian ditambahkan 3-4 tetes bahan percobaan. Selanjutnya dipanaskan diatas api kecil lalu api diperbesar, diperhatikan bau akrolein yang terbentuk dibandingkan bau SO2 yang berasal dari karbohidrat. Uji ini dilakukan terhadap minyak kelapa, lemak hewan, gliserol, asam palmitat dan asam stearat. Percobaan uji ketidakjenuhan, sebanyak 1 ml bahan percobaan dimasukkan dalam tabung bersih, lalu ditambahkan kloroform sama banyak, dikocok sampai semua bahan larut. Kemudian ditambahkan beberapa tetes pereaksi iod Hubl sambil dikocok dan diamati perubahan yang terjadi. Lakukan uji ini terhadap minyak kelapa tengik, minyak kelapa, lemak hewan, mentega, margarin, asam palmitat, asam oleat. Percobaan uji ketengikan, erlenmeyer 100 ml diisi dengan 5 ml bahan percobaan, ditambahkan 5 ml HCl pekat, dan dicampurkan hati-hati. Selanjutnya dimasukkan serbuk CaCO3 dan segera ditutup dengan sumbat karet yang dijepitkan kertas floroglusinol sehingga kertasnya tergantung dan dibiarkan selama 10-20 menit. Kemudian warna yang timbul diamati pada kertas tersebut dan bila kertas berwarna merah muda berarti bahan tersebut tengik. Uji ini dilakukan terhadap minyak kelapa tengik, minyak kelapa, lemak hewan dan mentega. Percobaan uji Salkowski untuk kolesterol, beberapa miligram kolesterol dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang sudah berisi 3 ml kloroform anhidrat. Kemudian ditambahkan asam sulfat pekat dengan volume yang sama, tabung dikocok perlahan-lahan dan dibiarkan lapisan cairan terpisah, diamati warna pada lapisan tersebut. Percobaan uji Lieberman Buchard, larutan kolesterol dan kloroform dari percobaan Salkowski ditambahkan 10 tetes asam asetat anhidrat dan 2 tetes asam sulfat pekat, kemudian dikocok perlahan-lahan dan dibiarkan beberapa menit. 4

HASIL PENGAMATAN Tabel 1 Hasil Pengamatan Uji kelarutan No. pelarut minyak mentega asam stearat lemak 1. air 2. eter ++ ++ ++ 3. kloroform ++ ++ ++ ++ 4. alkali ++ ++ 5. alkohol + Dingin 6. Alkohol Panas 7. asam encer Keterangan : + : mengandung residu ++ : mengandung banyak residu : tidak mengandung residu

margarine ++ ++ -

gliserol ++ ++ ++ ++

Gambar 1. Air

Gambar 2. Eter

Gambar 3. Kloroform

Gambar 4. Air

Gambar 5. Alkohol dingin

Gambar 6. Alkohol panas

Gambar 7. Asam encer

Gambar 8 dan 9. Alkohol Panas dan dingin

Gambar 10. kloroform (margarine, lemak hewan dan gliserol)

Gambar 11. alkali minyak kelapa, mentega, dan asam stearat) Tabel 2 Hasil Pengamatan Uji akrolein No. sampel keterangan asap 1. Minyak kelapa + ada 2. Lemak hewan + ada 3. Gliserol + ada 4. Pati tidak ada Keterangan : + : membentuk aldehid akrilat : tidak membentuk aldehid akrilat

bau sangit sangit sangit

Gambar 12. uji akrolein

Tabel 3 Hasil Pengamatan Uji ketidak jenuhan No. sampel keterangan Jenuh 1. Minyak kelapa + 2 . Minyak kelapa tengik ya 3. mentega + 4. blue band + 5. asam oleat 6. lemak hewan ya Keterangan : + : tidak jenuh : jenuh

asam lemak tidak jenuh ya ya ya

Gambar 13. Minyak kelapa dan mentega

Gambar 14. Blue Band

Gambar 15. Minyak kelapa

Gambar 16. asam oleat Tabel 4 Hasil Pengamatan Uji ketengikan No. sampel hasil 1 .Minyak kelapa tengik ++ 2. mentega 3. minyak kelapa + 4. lemak hewan + Keterangan : + : tengik : tidak tengik

Gambar 17. lemak hewan

warna kertas fluglusinol ungu tidak terjadi kuning orange kuning kemerahan

Gambar 18. minyak kelapa

Gambar 19. minyak kelapa tengik

Tabel 5 Hasil Pengamatan Uji salkowski dan uji lieberman No. sampel uji salkowski uji Lieberman 1 . kolesterol merah kecoklatan +asam sulfat 2. kolesterol hijau +asam asetat+asam sulfat

keterangan berbentuk cincin

Gambar 20. uji salkowski PEMBAHASAN Berdasarkan uji kelarutan dapat diketahui bahwa minyak kelapa, lemak hewan, margarin, dan asam stearat hanya larut dalam pelarut eter dan kloroform. Sementara itu, mentega dapat larut dalam pelarut eter, kloroform, alkohol panas, dan asam encer, sedangkan gliserol dapat larut dalam pelarut alkohol panas, alkohol dingin, alkali, dan asam encer. Hal ini menunjukkan bahwa hampir semua lemak yang diujikan, kecuali gliserol, dapat larut dalam eter dan kloroform. Adanya ekor hidrokarbon panjang yang bersifat nonpolar menyebabkan lemak bersifat nonpolar. Oleh karena itu, lemak dapat larut dalam pelarut nonpolar seperti eter dan kloroform.

Secara umum, lipid tidak dapat larut dalam air yang bersifat polar, melainkan dapat terdispersi membentuk misel. Selain itu, gliserol juga dapat larut dalam alkali dan asam encer. Hal ini disebabkan adanya proses penyabunan. Alkali dan asam encer dapat mengubah asam lemak menjadi sabun yang berupa garam asam lemak. Selain bergantung pada kepolaran pelarut, kelarutan lipid juga bergantung pada panjang rantai hidrokarbon yang dikandungnya. Semakin panjang rantai, kelarutannya akan semakin berkurang (Lehninger 1982). Pada hasil uji akrolein, gliserol dalam bentuk bebas atau yang terdapat dalam lemak/minyak akan mengalami dehidrasi membentuk aldehid akrilat atau akrolein. Senyawa pendehidrasi dalam uji ini adalah KHSO4 yang menarik molekul air dari gliserol. Hasil uji akrolein menunjukkan bahwa semua bahan yang diuji kecuali pati memberikan bau yang tajam yang diidentifikasi oleh praktikan sebagai bau akrolein. Hal ini ditandai dengan adanya asap putih ketika lipid dipanaskan diatas pembakar gas. Saat pembakaran, timbul bau agak apek. Bila mengalami dehidrasi, gliserol bebas atau gliserol yang terdapat dalam lipid dapat membentuk aldehid akrilat atau akrolein yang menimbulkan bau ketika dipanaskan (Girindra 1988). Oleh karena itu, dapat diketahui bahwa terdapat gliserol di dalam lipid yang diuji. Trigliserida yang mengandung asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap dapat diadisi oleh golongan halogen. Pada uji ketidakjenuhan, pereaksi iod huble akan mengoksidasi asam lemak yang mempunyai ikatan rangkap pada molekulnya menjadi berikatan tunggal. Warna merah muda yang hilang selama reaksi menunjukkan bahwa asam lemak tak jenuh telah mereduksi pereaksi iod huble. Berdasarkan hasil dalam tabel 3 diketahui minyak kelapa, mentega, dan margarin menghasilkan hasil positif ketika diuji dengan uji ketidakjenuhan. Sementara itu, minyak kelapa tengik, dan lemak hewan menghasilkan hasil negatif. Berdasarkan data dapat diketahui bahwa minyak kelapa, mentega, dan margarin mengandung lemak tak jenuh, sedangkan minyak kelapa tengik, dan lemak hewan mengandung lemak jenuh. Pada dasarnya minyak kelapa merupakan lemak tak jenuh. Ketengikan disebabkan oleh adanya reaksi antara molekul oksigen dengan asam lemak berikatan

ganda. Oleh karena itu, minyak kelapa tengik menghasilkan hasil negatif ketika diuji dengan uji ketengikan. Ketengikan pada kebanyakan lemak atau minyak menunjukkan bahwa kebanyakan golongan trigliserida tersebut telah teroksidasi oleh oksigen dalam udara bebas. Pada uji ketengikan, warna merah muda menunjukkan bahwa bahan tersebut tengik. Warna merah muda dihasilkan dari reaksi antara floroglusinol dengan molekul oksigen yang mengoksidasi lemak/minyak tersebut. Berdasarkan tabel dapat diketahui minyak kelapa tengik, minyak kelapa dan lemak hewan menghasilkan hasil yang positif ketika diuji dengan uji ketengikan. Hal ini dibuktikan dengan adanya perubahan warna kertas saring menjad ungu, kuning oranye dan kemerahan. Sementara itu mentega menghasilkan hasil negatif yang ditunjukkan dengan tidak adanya perubahan warna kertas saring. Perubahan warna dapat terjadi akibat penambahan floroglusinol. Senyawa ini dapat menentukan jumlah karbonil. Karbonil dapat bereaksi dengan floroglusinol dan menyebabkan kertas berwarna merah muda (Winarno 1973). Ketengikan dapat terjadi bila triasilgliserol yang mengandung asam lemak tak jenuh mengalami proses oksidasi. Bila terkena udara, asam lemak tak jenuh cenderung mengalami autooksidasi. Molekul oksigen dapat bereaksi dengan asam lemak berikatan ganda dan menghasilkan produk kompleks yang menyebabkan timbulnya rasa dan bau meyimpang pada lemak (Lehninger 1982). Hal-hal yang mempengaruhi ketengikan ini adalah proses penyimpanan bahan uji yang cukup lama dan kurang tertutup, sehingga berinteraksi dengan udara bebas yang menyebabkannya menjadi tengik. Berdasarkan uji kolesterol dengan uji Salkowski dan uji Lieberman-Buchard, diketahui menghasilkan hasil yang positif. Hal ini dibuktikan dengan berubahnya warna lapisan atas menjadi merah dan lapisan bawah menjadi kehijauan pada uji Salkowski. Sementara itu dengan uji Lieberman-Buchard menghasilkan perubahan warna lapisan atas menjadi hijau dan lapisan bawah menjadi merah. Uji LiebermanBuchard seringkali digunakan bersamaan dengan uji Salkowski untuk uji kuantitatif kadar kolesterol. Penambahan asam asetat anhidrat pada uji Lieberman-Buchard dimaksudkan untuk mencairkan asam sulfat (Cook 1958). Penggunaan asetat anhidrat

10

dapat diganti dengan asam asetat, etil asetat, atau butanol. Dalam uji Salkowaki dan Lieberman-Buchard, steroid diubah menjadi hidrokarbon polimer tak jenuh. Perlakuan kolesterol dalam kloroform dengan penambahan asam sulfat dapat menambahkan substansi air membentuk bikolestadienil. Senyawa ini dapat merupakan campuran dari 3,3-biskolesta-3,5-dienil dan 3,3-biskolesta-2,4-dienil (Cook 1958). Sejak lama orang telah mengetahui bahwa batu empedu terdiri sebagian besar alkohol yang berwujud kristal putih yang disebut kolesterol, berasal dari bahasa Yunani Chole "empedu" dan stereos "padat. Penyelidikan-penyelidikan menunjukkan bahwa kolesterol mempunyai rumus molekul C27H46O dan mengandung sebuah ikatan rangkap. Struktur kolesterol sesungguhnya ditentukan berdasarkan reaksi dehidrogenasi oleh selenium yang menghasilkan hidrokarbon Diels dan berdasarkan hasil analisis sinar X selanjutnya kolesterol telah disintesis pada tahun 1952 sebagai hasil karya Woodward dari Amerika Serikat dan pada tahun 1953 oleh Robinson dad Inggeris. Molekul kosleterol terdiri atas tiga lingkar enam tersusun seperti dalarn fenantren dan terlebur dalam suatu lingkar lima, Hidrokarbon tetrasiklik jenuh, yang mempunyai sistem lingkar lima, hidrokarbon tetrasiklik jenuh, yang mempunyai sistem lingkar demikian dan terdiri atas 17 atom karbon, disebut 1,2

siklopentenoperhidrofenantren, kerangka ini sekalius merupakan ciri khusus yang membedakan steroid dengan senyawa organik bahan alam lainnya.

Kolesterol merupakan steroida penting, bukan saja karena merupakan komponen membran tetapi juga karena merupakan pelopor biosintetik umum untuk steroid lain termasuk hormon steroida dan garam empedu. Kolesterol berlimpah dalam otak dan jaringan saraf lainnya, dengan mencerminkan pentingnya fungsi membran di dalam janingan-jaringan ini. Sebagai lipida membran kolesterol terdapat di dalam membran sel organisme tingkat tinggi, tetapi tidak terdapat di dalam membrane - membran bakteri dan mitokondria.

11

SIMPULAN Dari hasil pengamatan yang diperoleh, lipid larut dalam pelarut organik seperti kloroform, atau eter tetapi tidak larut dalam air. Pada uji akrololein semua bahan mengandung gliserol yang membedakannya hanya intensitas bau yang ditimbulkan. Pada uji ketidakjenuhan bahan yang jenuh memberikan perubahan warna menjadi merah muda sedangkan yang tidak jenuh tetap pada warna asalnya. Minyak atau lemak yang tengik dapat dideteksi denga perubahan warna kertas menjadi merah muda. Kolesterol diuji secara kualitatif dengan uji Salkowski dan Lieberman Buchard.

DAFTAR PUSTAKA Cook RP. 1958. Cholesterol Chemistry: Biochemistry and Pathology. New York: Academic Press Inc. Florkin M dan Stotz EH. 1963. Comprehensive Biochemistry Volume 6: Lipids and Proteins. Elsevier publishing company: New York. Girindra A, dkk. 1988. Penuntun Praktikum Biokimia. IPB Press: Bogor. Jain JL, Jain S, dan Jain N. 2005. Fundamentals of Biochemistry. S. Chand & Co: New Delhi Lehninger. 1982. Dasar-dasar Biokimia. Edisi ke-1. Thenawidjaya M, penerjemah; Jakarta: Erlangga. Terjemahan dari: Principles of Biochemistry. Winarno F. 1973. Teknologi Pangan. Bogor: IPB Press.

12