Anda di halaman 1dari 8

Refleksi Ibadah Qurban

REFLEKSI IBADAH QURBAN


OLEH : H. MASOED ABIDIN

. . .
IBADAH KURBAN, mengikut millah Nabi Ibrahim AS secara lengkap disebutkan dalam QS.Shaffat (37) ayat 100-113, Ibadah ini adalah suatu simbol taqarrub (mendekatkan), tafakkur (memikirkan) serta tadzakkur (mengingat) terhadap nikmat Allah, yang telah di tetapkan sebagai manasik (ketetapan syariat) kepada setiap umat dari Allah SWT. Dalam sebuah hadist disebutkan, tatkala para shahabat bertanya Maa haa dzihi al-adhaa-hiy? (apa artinya udh-hiyah (memotong hewan kurban) itu?). Ketika itu Rasulullah SAW menjawab Sunnatu abii-

H.Masoed Abidin

kum Ibrahim, Sunnah atau ketentuan dari Bapakmu Ibrahim AS. (HR.Ahmad dan Ibnu Majah). Di dalam Al Quran Surat Hajj (22) ayat 34, disebutkan terang;
dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah di rezekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu adalah Tuhan Yang Satu (Allah SWT), karena itu berserah dirilah kepada Nya. Dan beri kabar gembiralah kepada orang-orang yang tunduk dan patuh (kepada Allah).

Puncak Mahabbatullah dengan sikap Ikhlas dan Redha

Maka ibadah kurban, sebenarnya merupakan suatu persembahan kepada Allah Yang maha Kuasa sebagai perwujudan ketaatan abid (abdi, hamba) dengan kemampuan menunaikan ajaran agamanya, dan kesiapan menterjemahkan secara hakiki istilah kurban itu. Karena itu, ada beberapa ahli fiqh Islam meletakkan ibadah kurban ini tidak hanya sebatas sunnat muakkad, tetapi ada yang meletakkan pada taraf wajib bagi yang mampu 2. Refleksi dari ibadah ini adalah lahirnya sikap pengorbanan yang tulus, penuh kerelaan dengan kesadaran yang tinggi sebagai pembuktian tanggung jawab makhluk terhadap khaliknya. MAKNA IBADAH adalah lahirnya watak positif sebagai hasil jalinan hubungan komunikatif dengan mabud (hablum minallah), membentuk sisi kejiwaan (psychological side-effect) yang terlihat jelas pada sikap ikhlas (bersih), redha (siap sedia), shabar (tahan uji), istiqamah (disiplin), qanaah (hemat), jihad (rajin dan berani), taat (setia), syukur nikmat
2

H. Masoed Abidin

Refleksi Ibadah Qurban (pandai berterima kasih), yang merupakan dasardasar akhlaq mulia dan menjadi tugas pokok risalah keutusan Muhammad SAW 3. IBADAH mengokohkan hubungan muamalah, atau hubungan sosial kemasyarakatan (social effect), yang terlihat nyata pada jalinan tugas-tugas kebersamaan (hablum minan-naas), kesediaan meringankan beban orang lain, peduli dengan kaum fuqarak wal masakin, sedia memikul beban secara bersama, dan hidup dengan prinsip taawunitas (saling menolong, bekerja sama dan sama-sama bekerja). Untuk itu, Allah menyediakan balasan (pahala) ibadah kurban ini berupa hasanah pada setiap helai bulu ternak yang di korbankan , dan merupakan amalan yang paling di senangi Allah di yaumun-nahar (hari raya kurban), inilah puncak kegembiraan muttaqin (orang yang mawas diri) 4 .
5 Disimpulkan, HIKMAH ibadah adalah pembuktian yang nyata dari tauhidiyah (shalat, nusuk, hidup-mati), ditujukan kepada Allah, dengan sikap prilaku hubbullah, menghidupkan sunnah al muwahhidin, dan membudayakan mawaddah wa rahmah (hubungan kasih sayang sesama manusia) 6, serta syukur atas nikmat Allah, berarti tunduk, cinta, pengakuan, memuji, dan mempergunakan di jalan yang di redhai Allah 7, dan bukti dari taqwa (mawas diri) kepada Allah dengan tafakkur (berfikir) dan tadzakkur (berzikir) atas hidayah-Nya, dan ihsan 8 , peduli sesama. Masaalah berat dalam

kehidupan masyarakat modern kini adalah menurunnya kualitas manusia secara ijtimaiy

H.Masoed Abidin

(kemasyarakatan).

Puncak Mahabbatullah dengan sikap Ikhlas dan Redha

Kebodohan serta segala keterbelakangan yang mendera umat Islam di berbagai belahan dunia saat ini sangat wajar dipulangkan kepada umat Islam, dan menekankan supaya benar-benar menjadikan ajaran Allah sebagai sumber keberkatan kehidupannya. Pernyataan Rasulullah SAW menyebutkan bahwa keberhasilan manusia hanya dengan ilmu, "Siapa
yang inginkan dunia dia harus peroleh dengan ilmu, siapa yang inginkan akhirat juga harus direbut dengan ilmu, dan siapa yang inginkan keberhasilan kedua-duanya (dunia dan akhirat) maka keduanya harus direbut dengan ilmu" (Al Hadist).

Firman Allah menegaskan,


"Allah menganugerahkan al hikmah (ilmu, kefahaman mendalam tentang Alqur'an dan As Sunnah) kepada siapa yang IA kehendaki. Dan barangsiapa yang dianugerahi Al Hikmah (ilmu) itu, maka ia benar-benar telah di anugerahi karunia (nikmat) yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakal-lah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman-firman Allah)" (Al Baqarah, QS. 2 ayat 269).

Kalaulah umat Islam masih saja "mendua" menjadikan Alqur'an sebagai pedoman hidup, maka selama itu pulalah umat Islam akan ditimpa berbagai macam kegelisahan dengan berbagai bentuk penderitaan. Penderitaan umat tidak dapat dilepaskan dari keingkarannya pada kebenaran ayat-ayat Alqur'an.
Memisahkan nilai-normatif dalam aktifitas hidup manusia, dan mengabaikan dominasi moral agama, pasti akan mengundang bencana berupa krisis citra kemanusiaan. Karena, hajat hidup tidak semata pemenuhan kebutuhan materiil, malah lebih oleh kepuasan 4

H. Masoed Abidin

Refleksi Ibadah Qurban


spiritual yang melahirkan rasa aman, rasa bahagia dan hidup yang tenteram. Merebut materi semata dengan menghalalkan serba cara, dapat menghapuskan kecintaan terhadap sesama manusia dengan hilangnya kerukunan dan kesantunan. Akibatnya, nilai-nilai halus kemanusiaan akan terabaikan. Kehidupan tidak semata bersandar kepada penataan individualistik dan materi. Apabila itu terjadi, manusia leluasa merampas hak orang lain, dan lahirlah kehidupan hedonistik, berkembangnya kriminalitas, sadisma, pergaulan tak bermoral (a-moral), akhirnya mengundang hilangnya kepercayaan di tengah pergaulan hidup, kemudian menjelma menjadi krisis (dharra) yang sulit di atasi.

TANTANGAN HIDUP dan situasi krisis tersebut hanya mungkin diatasi dengan adanya kepedulian sesama dalam wawasan tauhid, tawadhu (pengabdian luhur), taqarrub (rela berkurban), amanah (jujur beramal), tazkiyatun-nafsi (bersih bertindak), ta-allaful qulub (bersatu hati), tawakkal (berserah diri dengan usaha), sebagai akhlaq ibadah kepada Allah, yang merupakan refleksi dari ibadah kurban. Pengembangan Pola Qurani yang berisi tauhidiyah, ukhuwwah, keakhiratan, jihadun fii sabilillah, cinta ilmu pengetahuan untuk mendukung amaliyah duniawi, adalah salah satu alternatif paling tepat karena bermuatan hidayah dan telah menjadi anutan terbesar dari generasi bangsa ini.

.
H.Masoed Abidin
5

Puncak Mahabbatullah dengan sikap Ikhlas dan Redha

. . . .

H. Masoed Abidin

2 a. Sabda Rasulullah SAW; man wajada saata li-an yudhah-hiya falam yudha-hiy fala yaqrubanna mushalla-na (HR.Ahmad dan Ibnu Majah), artinya siapa yang telah memiliki kesanggupan untuk berkurban dan tidak mau melaksanakan kurban, maka janganlah di hampiri tempat shalat kami, untuk bahan penilitian lihat juga Nailul Authar V; 197-200, dan Al Majmu syarah Al Muhadzdzab VII; 382-386, dan Al Fath-hul Rabbani XIII; 57-60, dan Takmilul Fathhul Qadir IX; 504-509, atau Subulus Salam 89-91. Kurban, bermakna persembahan kepada Allah Yang maha Kuasa (KUBI,1996 hal 744), berkurban artinya mempersembahkan kurban kepada Yang maha Kuasa, sebagai suatu tuntutan ajaran agama terhadap seseorang yang mampu (lihat KBIK,1995, hal 802). Korban adalah kata kurban yang telah berobah makna, maka berkorban berarti menantang derita bahkan kematian untuk sesuatu tujuan yang sangat mulia atau ditujukan kepada sesuatu yang sangat di cintai, dan pengorbanan adalah hal, cara, hasil dari pekerjaan mengorbankan sesuatu itu (KUBI,hal: 718). Lihat Cyril Glasse,Ensiklopedia Islam, Ed.Indonesia, Jakarta 1996, hal 331-332 3 Sabda Rasulullah SAW Innama buits-tu li utammi makarimul akhlaq artinya aku di utus untuk membentuk akhlaq mulia (bagi setiap manusia) (Al Hadist). 4 * Firman Allah menyatakan; wal-budna jaalnahaa lakum min syaaaril^lahi lakum fiiha khairun, fa^dzkurus-mallahi alaiha shawaaffa. Fa idza wajabat junuubuha fakuluu minha wa athimul^qaania wal mutarra. Kadzalika sakh-kharnaha lakum, laallakum tasykuruna, artinya, Dan Kami telah jadikan untuk kamu untaunta (hewan ternak) itu sebahagian dari syiar Allah, kamu memperoleh kabikan yang banyak padanya, maka sebutlah olehmu nama Allah ketika kamu menyembelihnya dalam keadaan berdiri (dan telah terikat). Dan kemudian apabila telah roboh (mati), maka makanlah sebahagiannya dan beri makanlah orang yang rela dengan apa yang ada padanya (yang tidak meminta-minta) dan orang yang meminta (fakir miskin). Demikianlah Kami telah menundukkan unta-unta itu kepadamu, mudah-mudahan kamu bersyukur( QS.22:36). Sabda Rasul; maa lanaa minha?, tanya sahabat, Rasulullah menjawab :bi kulli syaratin hasanatun, artinya pada setiap helai bulu ternak yang di kurbankan itu, untukmu ada kebaikan (HR.Ahmad dan Ibnu Majah). Sabda Rasul; maa amal ibnu Adama yauman-nahri amalan ahabba ila^llahi min hiraaqati damin, wa innahu latatii yaumal qiyamati bi qurunihaa wa adzlaafihaa wa asyarihaa; wa inna^ddama layaqau minal^lahi bi makaanin qabla an yaqaa alaal-ardhi, fa thibuu bihi nafsan, artinya tidak ada satu amalan anak cucu Adam yang paling disenangi Allah di hari nahar (hari raya kurban) adalah menumpahkan darah menyembelih hewan kurban. Kurban itu akan mendatanginya di hari kiamat lengkap dengan tanduk, kuku dan kulit (bulunya). Darah dari hewan yang di kurbankan itu telah diletakkan Allah pada satu tempat (terpilih) sebelum tertumpah ke bumi, maka bahagiakanlah diri-diri (orang yang berkurban) itu (HR.At Turmudzi dan Ibnu Majah). 5 Hikmah, adalah kemampuan mengetahui rahasia syariat (hukum agama) dan

mengenal faedah dari pengamalan perintah-perintah agama sebagai makhluk yang telah dijadikan oleh Khalik; Firman Allah; Ya Ayyuha^lazdiina amanuu quu anfusakum wa ahlikum naaran, wa quduhan^nasu wal hijarah, alaihaa malaaikatun ghiladzun syadidun laa yashuna^llaha maa amarahum, wa yafaluuna maa yukmaruuna, artinya Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS,66, At- Tahrim,ayat 6). 6 QS.Al Anam, ayat 162. Lihat, QS.(3) Ali Imran ayat 14 tentang hubbusy-syahawat, QS(9), At-Taubah, 24, tentang orang fasik (sangat mencintai dunia) yang tidak akan mendapatkan pertolongan Allah dan akhirnya menuju kehancuran. Hadist Rasul laa yuminu aahadukum hatta yakuuna^llahu wa rasuluhu ahabba ilaihi mimma siwaa humaa, artinya belum beriman seseorang diantara kamu hingga Allah dan Rasul lebih dia cintai dari apapun selain keduanya (HR.Bukhari Muslim). Sunnah al Muwahhidin, adalah contoh keikhlasan para pendahulu, lihat juga kisah Ibrahim QS.(37) Ash-Shaffat 100-111. 7 Al Ghazali, dalam Ihya VI:79, menyebutkan syukur itu memiliki tiga rukun, 1) ilmu (tauhidullah), 2) sikap jiwa (hal gembira menerima pemberian Allah, tanpa mengomel), 3) amal (kemampuan meningkatkan nikmat kearah yang lebih positif) 8 Ihsan, merasa di awasi oleh Allah, setiap gerak menjadi sangat terkendali, al ihsaan an tabuda Allaha ka annaka tarahu, fa in lam takun tarahu fainnahu yaraaka, (HR.Bukhari,Muslim). Ihsan (perbuatan baik), untuk semua makhluk, disebutkan dalam sabda Rasul Allah SAW Inna^llaha katabal-ihsan alaa kulli syay-in, fa in qataltum fa ahsinul-qithlata, wa idza dzabahtum fa ahsinu^dzabha, wal-yuhidda ahadukum bisyafratuhu wal-yurih dzabihatahu (HR.Muslim), yakni ada kewajiban jika membunuh secara ihsan (baik), menyembelih dengan baik (ihsan), dan tajamkan pisau, sempurnakan sembelihan. Lihat juga QS.Qashash ayat 77, kewajiban ihsan di seluruh segi kehidupan duniawi; QS.(3) Ali Imran 134-135, tentang ciri-ciri muhsinin; QS.Al Baqarah (2) ayat 195, pada dasarnya menyuruh berinfaq dijalan Allah, peduli terhadap dhuafak (orang lemah).