Anda di halaman 1dari 15

Asal Desa Uwevolo, Kec. Siniu, Kab.

Parigi Moutong, SULTENG

OLEH: Nama Stambuk Kelompok Asisten : HASNIAR : G 701 09 041 : III A : Syariful Anam, S.Si., M.Si, Apt

PROGRAM STUDI ILMU FARMASI FAKULTAS MATERMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS TADULAKO PALU 2011

BAB I PENDAHULUAN I.1 LATAR BELAKANG Di dunia terdapat senyawa organik bahan alam yang merupakan senyawa yang dikenal sebagai metabolit sekunder. Senyawa metabolit sekunder adalah senyawa hasil metabolisme sekunder, yang tidak terdapat secara merata dalam makhluk hidup dan ditemukan dalam jumlah yang sedikit. Umumnya terdapat pada semua organ tumbuhan (terutama tumbuhan tinggi) pada akar, kulit, batang, daun, bunga buah dan biji dan sedikit pada hewan. Berbagai jenis tumbuhan mengandung senywa meabolik sekunder, seperti alkaloid, flavanoid, streoid, terpenoid, saponin, dan lain-lain. Senyawa metabolit sekunder yang terdapat dalam tumbuhan merupakan zat bioaktif yang berkaitan dengan kandungan kimia dalam tumbuhan, sehingga sebagian tumbuhan dapat digunakan sebagai bahan obat. Sekitar 1000 jenis dari 30.000 jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan sebagai bahan obat-obatan (Anonim, 2011). Obat tradisional adalah obat-obat yang diolah secara tradisional, turun temurun, berdasarkan resep nenek moyang, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan setempat, baik bersifat magis maupun pengetahuan tradisional. Menurut penelitian masa kini, obat-obat tradisional memang bermanfaat bagi kesehatan dan kini digencarkan penggunaannya karena lebih mudah dijangkau masyarakat baik harga maupun ketersediaannya. Obat tradisional pada saat ini banyak digunakan karena menurut beberapa penelitian tidak terlalu

menyebabkan efek samping karena masih bisa dicerna oleh tubuh. Bagian dari obat tradisional yang bisa dimanfaatkan adalah akar, rimpang, batang, buah, daun dan bunga (Wikipedia Indonesia). Secara umum, kegunaan tumbuhan obat sebenarnya disebabkan oleh kandungan kimia yang dimiliki. Namun, tidak seluruh kandungan kimia diketahuibsecara lengkap karena pemeriksaan bahan kimia dari satu tanaman memerlukan biaya yang mahal (Hariana, 2009).

Penggunaan bahan alam, utamanya yang berasal dari tumbuh-tumbuhan sebagai obat tradisional Indonesia perlu diadakan penelitian agar dapat diketahui masalah yang berhubungan dengan bahan alam tersebut misalnya:

khasiat,kandungan kimia serta kemungkinan pengembangan untuk digunakan dalam pengobatan modern (Raflizar,2006). Penelitian dan pengembangan merupakan salah satu tahap dalam kegiatan perkembangan ilmu yang dilaksanakan untuk mencapai kemajuan khususnya obat tradisional yang umumnya terdiri dari tanaman obat, ada sebagian yang sudah dimanfaatkan dan ada pula yang belum dimanfaatkan, karena belum diketahui khasiatnya. Salah satu bahan alam adalah Daun Balaroa ( Kleinhovia hospita Linn ) biasa digunakan sebagai obat tradisional untuk pengobatan penyakit hati, kuning dan hepatitis. Penggunaan Daun Balaroa sebagai obat hanya berdasarkan pada pengetahuan empiris masyarakat yang sekitar halaman rumahnya terdapat tanaman Paliasa (balaroa) juga sering memanfaatkan rebusan daun Balaroa sebagai obat antinyeri pada saat menstruasi. Namun belum ada penelitian secara khusus bahkan secara farmakologi mengenai khasiat yang satu ini. Penelitian yang telah dilakukan terhadap daun Balaroa antara lain mengenai dekok Daun Balaroa yang digunakan untuk radang hati akut oleh DepKes RI tahun 2006 dan beberapa penelitian mengenai kadar toksisitas dari ekstrak etanol Daun Balaroa. Berdasarkan manfaat dari daun balaroa, maka inilah yang melatar belakangi dilakukan Moutong . Ekstraksi Dan Identifikasi Komponen Kimia Daun

Balaroa (Kleinhovia hospita Linn) Dari Desa Uwevolo Kec. Siniu Kab. Parigi

I.2 RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana cara mengekstraksi daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). 2. Apa saja kandungan kimia yang terdapat pada daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). 3. Bagaimana cara mengidentifikasi ekstrak daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). I.3 MAKSUD PERCOBAAN Mengetahui serta memahami cara mengekstraksi dan identifikasi komponen kimia yang terdapat dalam bagian tumbuhan Daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). I.4 TUJUAN PERCOBAAN 1. Dapat mengekstraksi daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). 2. Dapat mengidentifikasi senyawa kimia yang terdapat pada daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). 3. Dapat mengetahui manfaat dan khasiat daun Balaroa (Mengetahui dan memahami cara mengekstraksi komponen kimia yang terdapat dalam bagian tumbuhan Daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). I.5 PRINSIP PERCOBAAN 1.5.1 Maserasi Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya, cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. 1.5.2 Penguapan Dengan Rotavapor Proses pemisahan ekstrak dari cairan penyarinya dengan pemanasan yang dipercepat oleh putaran dari labu alas bulat, cairan penyari dapat

menguap 5-100C dibawah titik didih pelarutnya disebabkan oleh adanya penurunan tekanan. Dengan bantuan pompa vakum, uap larutan penyari akan menguap naik ke kondensor dan mengalami kondensasi menjadi molekulmolekul cairan pelarut murni yang ditampung dalam labu alas bulat penampung. 1.5.3 Identifikasi Ekstrak Pemisahan komponen kimia berdasarkan prinsip adsorbsi dan partisi yang ditentukan oleh fase diam (adsorben) dan fase gerak (eluen), komponen kimia bergerak mengikuti fase gerak karena daya serap adsorben terhadap komponen kimia dapat bergerak dengan kecepatan yang berbeda berdasarkan tingkat kepolarannya.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA II.1 URAIAN BAHAN ALAM II.1.1 Tumbuhan II.1.1.1 Klasifikasi Kingdom Divisi Subdivisi Kelas Ordo Famili Genus Spesies II.1.1.2 Morfologi Kleinhovia hospita L memiliki daun tunggal, berseling, membulat telur dan berakar tunjang. Batangnya berkayu, dan bagian luar keabu-abuan sedangkan bagian dalam berwarna kekuning-kuningan. Bunga Kleinhovia hospita L berwarna merah muda dengan lebar sekitar 5 mm, mahkota bunga berwarna kuning. Buah berbentuk kapsul berselaput yang membulat, merekah pada rongganya, masing-masing rongganya berbiji 1-2. II.1.1.3 Nama Daerah Bugis : Paliasa Kaili : Balaroa II.1.1.4 Kandungan Kimia Kandungan kimia ekstrak daun Balaroa (Kleinhovia hospita L) adalah saponin, tanin, cardenolin, Bufadienol serta Antrakinon (DepKes RI, 2006). : Plantae : Spermatophyta : Angiospermae : Dicotyledone : Marvales : Marvaceae : Kleinhovia : Kleinhovia hospita L

II.2 METODE EKSTRAKSI BAHAN ALAM II.2.1 Tujuan Ekstraksi Untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk kedalam pelarut. II.2.2 Jenis-jenis Ekstraksi II.2.2.1 Ekstraksi Secara Dingin Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan secara dingin meliputi maserasi, perkolasi dan soxhletasi. a. Maserasi Maserasi marupakan cara penyarian sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama 3 hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. b. Perkolasi Perkolasi merupakan cara penyarian dengan cara mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi. c. Soxhletasi Soxhletasi merupakan cara penyarian dengan cara cairan penyari naik ke kondensor kemudian terjadi kondensasi dan turun menyari simplisia. Metode ekstraksi secara dingin digunakan untuk sampel yang lunak, tidak tahan panas, tidan mudah mengembang dalam cairan penyari. II.2.2.2 Ekstraksi Secara Panas Jenis ekstraksi bahan alam yang sering dilakukan secara dingin meliputi refluks dan destilasi uap.

a. Refluks Refluks merupakan cara penyarian simplisia yang dilakukan dengan cara pemanasan cairan penyari bersamasama dengan simplisia, sehingga uap-uap penyari

terkondensasi dan turun kembali menuju sampel hingga terjadi sirkulasi berkesinambungan. b. Destilasi uap Penyarian minyak menguap dengan cara simplisia dan air ditempatkan dalam labu berbeda. Air dipanaskan dan akan menguap, uap air akan masuk ke dalam labu sampel sambil mengekstraksi minyak menguap yang terdapat dalam simplisia, uap air dan minyak menguap yang telah terekstraksi menuju kondensor dan akan terkondensasi, lalu akan melewati pipa alonga, campuran air dan minyak menguap akan masuk ke dalam corong pisah, dan akan memisah antara air dan minyak atsiri. II.2.3 Cara-Cara Ekstraksi II.2.3.1 Maserasi Metode maserasi merupakan cara penyarian yang sederhana yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari selama beberapa hari pada temperatur kamar dan terlindung dari cahaya. Metode ini dilakukan untuk menyari simplisa yang mengandung komponen kimia yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, tiraks dan lilin. Penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan penyari yang sesuai selama tiga hari pada temperatur kamar terlindung dari cahaya,

cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Selama proses maserasi dilakukan pengadukan setiap hari. Endapan yang diperoleh dipisahkan dan filtratnya dipekatkan. II.3 IDENTIFIKASI EKSTRAK Pada percobaan ini akan dilakukan identifikasi ekstrak daun Balaroa (Kleinhovia hospita L) dengan menggunakan metode kromatografi lapis tipis (KLT). Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan bentuk kromatografi planar, dimana fase diamnya barupa pelat aluminium (silica gel) sedangkan fase geraknya berupa eluen. Sistem deteksi yang digunakan dalam KLT ditentukan oleh sifat senyawa dalam campuran. Meskipun beberapa komponen dalam suatu ekstrak berwarna sehingga mudah divisualisasikan jika fase diamnya putih. Namun sebagian besar seyawa memiliki warna yang lemah atau bahkan tidak berwarna dan dibutuhkan metode lain untuk membuatnya tampak. Metode yang sering digunakan untuk membuat warna tampak yaitu dengan menggunakan pemeriksaan dibawah lampu UV atau menggunakan semprot pereaksi.

BAB III METODE PRAKTIKUM III.1 ALAT DAN BAHAN III.1.1 Alat yang dipakai 1. Gelas piala 2. Neraca ohaus 3. Neraca analitik 4. Toples 5. Batang pengaduk 6. Slotip/isolasi 7. Kertas saring 8. Mangkok kaca 9. Plat KLT 10. Plat KK 11. Gelas ukur 12. Corong 13. Spektrofotometer UV 14. Cawan petri 15. Erlenmeyer 16. Tabung reaksi 17. Rak tabung 18. Hot plate dan pengaduk magnet III.1.2 Bahan-bahan yang digunakan 1. Sampel daun Balaroa (Kleinhovia hospita L). 2. Metanol 3. Eter 4. N- butanol 5. HCL 6. NH4OH

7. Pereaksi wagner dan dragedroff 8. N-heksan 9. Serbuk Mg 10. H2SO4 11. NaCl 12. FeCl3 13. Aluminium foil III.2 PENGERJAAN SAMPEL III.2.1 Pengambilan Sampel Pengambilan sampel tanaman dilakukan pada tanggal 22 Oktober 2011 di Desa Uwevolo Kec. Siniu, Kab. Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Dilakukan dengan cara dipotong pada bagian batangnya. III.2.2 Pengolahan sampel 1. Penyiapan alat dan bahan 2. Pencucian Sampel tanaman yang telah diambil kemudian dicuci dengan air mengalir yang dimasudkan untuk membersihkan bagian-bagian tumbuhan dari benda-benda asing seperti tanah, batu dsb. 3. Sortasi basah Dilakukan sortasi basah untuk memisahkan bagian-bagian tumbuhan yang tidak diinginkan. 4. Pengeringan Pengeringan dilakukan dengan cara diangin-anginkan pada tempat yang tidak kena sinar matahari langsung. Pengeringan ini dilakukan untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme pada sampel sehingga didapat hasil pemisahan yang sempurna pada proses ekstraksi. Selain itu, untuk mengurangi kadar air dari tanaman

sehingga pada saat ekstraksi, dapat menarik komponen kimia tumbuhan dengan mudah. 5. Pemotongan Sampel yang telah dikerinhgkan kemudian dipotong kecil-kecil dengan ukuran tertentu. Hal ini bertujuan untuk memperbesar luas permukaan sehingga ekstraksi dapat lebih efektif. 6. Sortasi kering Sampel yang telah dipotong kecil-kecil kemudian dipisahkan dari kotoran-kotoran yang tidak diinginkan. III.2.3 Ekstraksi sampel III.2.3.1 Ekstraksi Maserasi a. Ditimbang simplisia daun balaroa sebanyak 35 gram. b. Dimasukkan simplisia daun Balaroa ke dalam bejana maserasi/toples. c. Ditambahkan metanol sebanyak 1900 ml, lalu ditutup. d. Didiamkan selama 3 hari, 8 jam pertama diaduk. e. Disaring menggunakan kertas saring f. Filtratnya diuapkan pada mangkuk kaca hingga diperoleh ekstrak kental III.2.3.2 Ekstraksi Cair-Padat a. Ditimbang ekstrak kental yang diperoleh dari ekstraksi maserasi sebanyak 1 gram dalam gelas piala. b. Ditambahkan eter 20 ml,dijalankan di stirrer selama 10 menit,diambil supernatannya. c. Endapannya ditambahkan 15 ml eter,dijalankan di stirer selama 10 menit,diambil supernatannya. d. Sisa endapan ditambahkan 15 ml eter,dijalankan di stirrer selama 10 menit,diambil supernatannya.

e. Supernatan dimasukkan dalam tabung sentrifuse,lalu disentrifuse. f. Diambil filtratnya dan diuapkan pada cawan porselen,hingga diperoleh ekstrak kental. g. Diulangi perlakuan menggunakan n-butanol. III.2.4 IDENTIFIKASI EKSTRAK III.2.4.1 Identifikasi ekstrak dengan pereaksi kimia a. Ditimbang sampel metanol sebanyak 4 g b. Dilarutkan dalam mangkuk menggunakan 25 ml metanol (dibuat larutan stok). c. Dilakukan uji alkaloid, uji saponin, uji flavanoid, uji steroid, dan uji tanin. III.2.4.2 Uji Alkaloid a. Dipipet larutan stok sebanyak 1 ml ke dalam tabung reaksi b. Ditambahkan 1 ml HCL 2 N dan 1 ml NH4OH c. Ditambahkan 10 ml aquadest d. Ditambahkan pereaksi wagner dan dragendroff e. Dikocok dan diamati perubahan warna f. Warna yang terbentuk hijau untuk kedua pereaksi III.2.4.3 Uji Saponin a. Diambil ekstrak metanol kering kemudian dimasukka dalam tabung reaksi b. Ditambahkan air panas lalu dikocok kuat-kuat selama 1 menit dengan kekuatan konstan c. Didiamkan hingga terbentuk busa, kemudian ditambahkan HCL melalui dinding tabung III.2.4.4 Uji Flavanoid a. Diambil ekstrak metanol kering lalu ditambahkan air (pelarut polar) dan ditambahkan heksan (pelarut nonpolar)

b. Dikocok, hingga terpisah dua lapisan dimana ekstrak methanol dalam air berada dibawah dan lapisan heksan berada diatas c. Lapisan heksan dipisahkan dan lapisan air ditambahkan metanol lalu ditambahkan HCL dan serbuk Mg III.2.4.5 Uji Steroid a. Diambil ekstrak metanol kering lalu ditambahkan air (pelarut polar) dan eter (pelarut nonpolar) b. Terbentuk dua lapisan dimana lapisan air berada di bawah dan lapisan eter berada diatas c. Lapisan air dikocok selama 1 menit hingga terbentuk busa kemudian ditambahkan HCL 2 N III.2.4.5 Uji Tanin a. Diambil ekstrak metanol kering b. Ditambahkan air sebanyak 10 ml lalu dikocok c. Ditambahkan garam dapur (NaCl) untuk mengendapkan proteinnya d. Ditambahkan FeCl3 4 tetes e. Terbentuk warna biru hitam

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN IV.1 HASIL PRAKTIKUM IV.1.1 Hasil Ekstraksi IV.1.2 Hasil Identifikasi IV.2 PEMBAHASAN IV.2.1 Tanaman