EKOSISTEM RAWA GAMBUT KERUMUTAN: EKOSISTEM UNIK – MEMILIKI PERANAN SANGAT PENTING, NAMUN GENTING KRITIS

Disarikan oleh: Yayasan Alam Sumatera (Mangara Silalahi) Kontribusi dari pihak: Jikalahari, WWF Riau, KKI-WARSI, WALHI Riau, Kisho Khumar Jeyaraz, Jonotoro dan Zulfira Warta.

1.

Batasan dan Defenisi Ekosistem Hutan Rawa Gambut Kerumutan atau di sebut Kerumutan Lanscape Kerumutan Lanscape adalah hamparan kawasan yang terdiri dari kawasan inti

(Suaka Margasatwa Kerumutan seluas 93.223 ha, Kawasan lindung gambut (areal perluasan potensial) seluas 52.213 ha, dan kawasan bukan inti atau intervensi (yang mempunyai pengaruh dan dampak terhadap penyelamatan ekosistem hutan Rawa Gambut Kerumutan) seluas 1,176,734 ha. Total luas Kerumutan Landscape adalah 1.322.169 ha (berdasarkan perhitungan dan analisis citra landsat). Kerumutan Lanscape berada di Pulau Sumatera Bagian Tengah, lihat pada gambar 1 no.9. Ekosistem hutan rawa gambut Kerumutan memiliki fungsi konservatori air, gudang karbon, habitat bagi satwa penting secara regionally khususnya harimau sumatera (Sanderson, et. Al, 2006), dilindungi dan endemic, maka keberadaan Kerumutan Lanscape penting untuk dipertahankan.

Gambar 1. Lokasi dan Blok hutan di Kerumutan Lanscape

Di Riau hutan Rawa Gambut Kerumutan relative lebih aman dan terluas (lihat gambar 4). Hutan pada landscape tersebut sangat penting dipertahankan selain sebagai penyeimbang ekologi dan diyakini dapat berfungsi sebagai koridor bagi satwa tertentu agar viable. Kondisi tutupan hutan di Riau dan Lanscape Tesonilo-Bukit Tigapuluh .Kerumutan landscape merupakan bagian dari landscape Tesonilo – Bukit Tigapuluh yang diinisiasi oleh LSM di Riau dan Jambi sejak tahun 2002. Gambar 2. Riau memiliki kawasan gambut terluas atau hampir 2/3nya. saat ini sebagian besar hutan rawa gambut tersebut dalam proses degradasi dan fragmentasi oleh group perusahaan rakasasa Pulp and paper APP/APRIL dan perkebunan kelapa sawit. Sedangkan di Kampar Peninsula. Gambar Lanscape Tesonilo-Bukti Tigapuluh dan tutupan hutan tersisa dapat dilihat pada gambar 2. Kalau dilihat dari sebaran gambut yang ada di Sumatera.

Pantai Timur Pulau Sumatera dan Jalan Lintas Timur Pulau Sumatera. hijau dan kuning). Inhu dan Inhil. dan survey lapangan 2005). Kerumutan Lanscape berada pada 3 kabupaten yaitu Kabupaten Pelalawan. Perkebunan Kelapa Sawit. Disamping itu.Batas Kerumutan Lanscape adalah Sungai Indragiri. Sungai Kampar. pengambilan kayu mangrove dan berbagai aktivitas pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah. Kerumutan Lanscape 1. terdapat masyarakat Melayu Pesisir dan migran. setelah ditata batas menjadi 92. Masih perlu pendataan dan udate lebih lanjut untuk kependudukan di wilayah ini.025 jiwa (Kecamatan Kerumutan dan Kecamatan Teluk Meranti 2005. Jumlah penduduk yang bergantung pada Kerumutan Lanscape yang terdata minimal 5. Kecamatan Simpang Gaung 2000. HTI.405 Keluarga atau 27. perladangan masyarakat. Di kawasan intervensi terdapat pemanfaatan kawasan hutan dan lahan oleh berbagai pihak seperti HPH.000 ha dengan tambahan lahan pengganti sehingga menjadi . Pada Kerumutan Lanscape terdapat dua masyarakat asli minoritas (indigenouse people) yaitu : suku Duanu dan Petalangan. Kawasan Inti (SM. Kerumutan) ditetapkan sebagai kawasan lindung berdasarkan SK Menteri Pertanian No.000 ha. nelayan. Kerumutan) dan Kawasan Lindung Gambut Kawasan inti (SM. Gambar 3. provinsi Riau (lihat pada gambar 3 yang berwarna pink. 1. Saat ditunjuk luasnya sekitar 120. 350/Kpts/II/6/1979.

Kerumutan merupakan hutan hujan dataran rendah dan hutan rawa dengan topografi datar. Oleh karena itu. Ekosistem SM. dan Indragiri Hilir.5 jam dari Rengat melalui air/ sungai. Kerumutan. Saat ini kawasan tersebut tidak ada pemegang konsesi. Indragiri Hulu. Pengelolaan wilayah kerja seksi konservasi wilayah I BKSDA Riau. gambaran dibawah ini secara umum menggambarkan kawasan inti dan kawasan perluasan. Oleh karena itu. Di sebelah Selatan dan Barat terdapat kawasan rawa gambut berstatus sebagai kawasan lindung gambut. potensi flora fauna serta kondisi sosial budaya pada kawasan lindung gambut tersebut tidak berbeda secara signifikan dengan kawasan SM Kerumutan (gambar 4. Merbau Pelalawan Lestari untuk HTI. Kawasan SM Kerumutan terletak di antara 102° 24′ – 102° 38′ BT dan 0° 11′ LU – 0° 19′ LS. Berdasarkan analisis awal. 2006 .213 ha berpotensi untuk diperluas. 2005 dan Aug 3. kondisi kedalaman gambut. namun melihat gambaran di atas dan kebijakan pemerintah yang cenderung eksploitatif. Gambar 4 Citra Landsat kerumutan Lanscape TM Image Nov 11.93. besar kemungkinan akan mengalami nasib yang sama dengan kawasan lindung gambut di sebelah Barat. Jarak tempuh ke wilayah ini dari Pekanbaru 4 jam baik melalui darat dan atau air. hidrologi.222 ha. Saat ini WWF sedang mendorong perusahaan tersebut untuk menyisakan kawasan hutan yang bernilai konservasi tinggi (HCVF). Kawasan lindung gambut yang ada disebelah Selatan dengan total luasan 52. citra landsat Kerumutan Lanscape TM Image 2005-2006). Kawasan SM Kerumutan secara administrasi berada di Kabupaten Pelalawan. dan 1. dalam waktu dekat kawasan ini harus diadvokasikan dan didorong menjadi kawasan perluasan SM. Namun di sebelah Barat kawasan tersebut telah dimiliki oleh PT Mitra Kembang Selaras.

Birdlife International mencatat ada beberapa . Beberapa pengetahuan tentang satwa di daerah ini sangat terbatas sekali. dua tim dari WWF Indonesia ini telah mendapatkan bukti adanya harimau melalui foto. Dengan mengacu pada tiger conservation lanscape (Sanderson. Program konservasi harimau Sumatera WWF-Indonesia.1. Kerumutan landscape jauh lebih penting dari Bukit Tigapuluh karena luasan hutan masih memadai dan menyambung dengan lanscape di sekitarnya dengan total lebih dari 100.000 ha. ekosistem hutan rawa gambut Kerumutan memiliki potensi penting di antaranya sebagai habitat harimau Sumatera. saat ini masih melakukan survei di daerah Kerumutan dengan menempatkan 20 pasang kamera pengintai otomatis (camera trap) pada 20 lokasi. Menurut Sunarto. meskipun informasi tentang ini belum banyak terungkap (percakapan pribadi. 2006).al. Dalam dua bulan terakhir. 2006). Flora Fauna Di Kerumutan Landscape ditemukan keberadaan harimau Sumatera sebagai bagian kecil dari penyebaran dan habitat harimau Sumatera (lihat Gambar 1. Namun masih terlalu dini untuk menyimpulkan. Kawasan dan hutan ini kalau dilihat masih menyatu dengan kawasan hutan di Kampar Peninsula. untuk satwa harimau Sumatera. sepantasnya perlu dilakukan inventarisasi lebih detail.1. sungai Kampar tidak menjadi pembatas karena harimau bisa berenang. nomor 9). et.1.

Perupuk (Solenuspermun javanicus). Dampaknya di antaranya sifat gambut cepat mengeluarkan air secara horizontal (kering). Aspek ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa kawasan ini masih relatif baik (Percakapan pribadi Jonotoro. Selain itu. Ketebalan gambut di Kerumutan Lanscape . Mengacu peta Wetland International. Pandan (Pandanus sp) dll. Fungsi kawasan gambut tidak tergantikan fungsinya oleh HTI. Informasi dari beberapa sumber menyatakan bahwa di kawasan lansekap ini pernah ditemukan satwa besar gajah sumatera. Punak (Tetrameristaglabra miq). pohon mudah roboh jika angin kuat. ditemukan tumbuhan dominan di kawasan ini seperti : Meranti (Shorea sp). Kawasan SM Kerumutan dan Kawasan lindung gambut ini merupakan bagian dari Ecoregion 85 (Sumatran Peatswamp Forest). Ada perbedaan kedalaman gambut dipeta dengan kondisi lapangan dan untuk membuktikannya harus ada survey. bisa juga dilihat dari kondisi di peta citra landsat di atas dan adanya temuan dari kantung semar (Nephentes Spp). ikan arowana (Schleropages formosus). 2006) Tingkat biodiversiti di Kawasan ini masih tinggi artinya kondisi kawasan masih bagus. dengan kedalaman yang berbeda-beda namun 95 % lebih dari 4 meter (lihat gambar 5). terjadi kebakaran. itik liar (Cairina scutulata) dan buaya sinyulong. sebagaimana tercantum dalam beberapa literatur seperti National Conservation Plan. burung enggang (Buceros rhinoceros). 2006) Gambar 5. ketebalan gambutnya besar sekali. Hasil Review of rapid internal HCV assessment oleh WWF Indonesia tehadap FMU joint operation PT RAPP (2005) mengungkapkan. Kerumutan juga merupakan wilayah singgah burung migran dan merupakan kawasan Importan Bird Area (IBA) dan Endangered Bird Area (EBA). kuntul putih (Egretta intermedia). dan jenis diptereocarpaceae. Nipah (Nypa fruction).spesies burung yang terancam punah. beberapa satwa penting dalam kawasan selain harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis) adalah harimau dahan (Neofelis nebulosa). Rengas (Gluta rengas). SM. beruang madu (Helarctos malayanus malayanus). perusahaan akan mengalami kegagalan dalam pengelolaan HTI (akasia) pada tahap daur ulang ketiga dan seterusnya (Percakapan pribadi Jonotoro. Menurut IUCN ada beberapa jenis spesies tumbuhan yang statusnya endemik di antaranya ramin. monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Batang Rengat.000 tahun.000 tahun usianya. mungkin yang ada hanya tikus dan kodok. Berbicara tentang gambut. Merbau. hutan rawa gambut harus dipertahankan . Formasi hutan rawa gambut terjadi dalam kurun waktu 10. maka permukaan akan naik. S. s. kondisi udara juga tidak ada. Oleh karena itu. maka air dan nutriennya akan keluar. fungsi gambut tidak berfungsi sebagai reservoar air lagi dan akan terjadi intusi air laut. Lama-kelamaan 5000 hingga 6000 tahun hutan rawa gambut secara bertahap akan tumbuh. Perlu di jelaskan juga bagaimana proses terjadinya rawa gambut? Kawasan merah pada gambar 4 merupakan hutan rawa gambut dengan ketebalan 4 meter. Kawasan ini adalah cekungan dan air tidak bisa keluar dari bawah tanah. dan yang akan terjadi adalah kawasan rawa gambut akan dangkal dan unsur hara sangat sedikit. tidak lepas dari hidrologi.000 – 40. jika hal tersebut terjadi. Lama-kelamaan akan terjadi penurunan tanah. Di samping itu. Karena air tidak keluar dan terjadi pembusukan kayu. gersang dan tidak akan ada hewan yang bisa hidup. s. Lebih jauh.1. Kalau kawasan rawa gambut dibuka. dan s. maka dari sinilah sumber nutrien.1. Beberapa SUBDAS yaitu s. jika air masuk maka tidak bisa keluar.2 Hidroologi Kerumutan lanscape berada diantara DAS Indragiri dan DAS Kampar. pelepasan karbon akan tinggi dan lapisan ozon akan menipis serta mempengaruhi pemanasan global. sekitar 5. Mengkuang. Gaung. Kerumutan. unsur harapun sangat miskin dan tumbuhan yang hidup sangat sedikit.

menghindari kebakaran dengan buffer yang kita buat (percakapan pribadi Kisho Khumar Jerayaz. Itulah konsep paling penting dalam konservasi rawa yaitu strategi untuk mengurangkan air. di mana suku Melayu yang umumnya berpangkat Tengku memiliki stratifikasi sosial yang lebih tinggi dari Petalangan. Batin Muncak Rantau 7. Ada 29 pebatinan dan kepenghuluan yang dikenal pada jaman kerajaan Pelalawan. yaitu : 1. Di kawasan SM Kerumutan terdapat suku asli minoritas (berdasarkan defenisi pertemuan Suku Asli Minoritas Indonesia di Jambi. ada beberapa hasil penelitian dan laporan yang dikompilasi yang dapat memberikan gambaran awal. Penghulu Besar langgam 22. Penghulu Biduanda 21. 1. Yoserizal (1999) batin dan penghulu yang berkuasa semasa Kerajaan Pelalawan berjumlah 29 orang yang masing-masing memiliki tanah wilayat. 2006).3 Kondisi Sosial Ekonomi dan Budaya Data dan informasi detail serta terkini memang sangat minim.karena sebagai gudang karbon. mereka lebih cenderung mengaku sebagai suku Melayu perbatinan. Batin Bunut 2. Sedangkan suku Duanu seperti yang di sebut di atas tinggal dan menetap di bibir pantai Timur Sumatera (di kawasan intervensi). Batin Baru 17. Contohnya untuk membangun perkebunan seharusnya kita merendahkan air dari permukaan tanah sekurangkurangnya 100cm dan dapat mengatur air. Batin Merbau 8. Hal ini terkait dengan sejarah dan kekuasaan politik pada jaman Kerajaan Pelalawan. 2005) yaitu Suku Petalangan. Batin Tua Napuh 4. Batin Geringging 20. Berdasarkan Tennas Effendi (1995). Penghulu Sungai Buluh 23. Batin Lalang 6. Batin Pematan 16. Kalaupun dieksploitasi. Petalangan memiliki makna lebih rendah dibandingkan Melayu. bagaimana memanagement kawasan rawa gambut untuk bisa mempertahankan water table. Batin Panduk 5. Batin Pelabi 19. Penghulu serapung . Saat ini identitas Petalangan mulai kabur dan kurang populer.1. Suku Petalangan adalah suku perbatinan yang tersebar hingga ke wilayah Sorek dan Tesonilo. Batin Telayap 3. Batin Delik 18.

Penghulu Bandar Tolam 25. PT Soegih Lestari. Arara Abadi. Penghulu Lubuk Keranji 27. Penggunaan hutan dan lahan di kawasan intervensi sebagai berikut: 1. PT. selebihnya mereka membuat kebun di luar SM Kerumutan.Merbau Pelalawan lestari. Sarana Abadi Utama. Setia Diraja Suku Petalangan yang berada di dalam SM Kerumutan membuat bagan-bagan sebagai tempat menginap ketika mencari ikan. Bukit Raya Pelalawan.9. Batin Kerinci 13. Batin Tanah Air (sulu di Laut) 11. 1. . Mitra Tani Nusa Sejati. PT. Suku Petalangan yang pergi ke SM Kerumutan sekitar 100 KK. Batin Payung 12. PT RAPP. HPH yaitu : PT. Bara Induk. areal berwarna kuning merupakan pemanfaatan untuk perkebunan. Batin Muda 15. Pola pemanfaatan hutan dan lahan dapat dilihat pada gambar 6. areal berwarna merah merupakan pemanfaatan untuk HPH dan yang berwana putih umumnya merupakan areal penggunaan lain. perkebunan. PT. dimana areal berwarna biru merupakan pemanfaatan untuk HTI. dan PT Panca Sarana Selaras. Batin Pendaguh 24. HTI. Ada beberapa perusahaan yang sedang dalam proses mendapatkan ijin defenitif yaitu: PT. PT. PT. Dexter Kencana Timber. Mutiara Sabuk Katulistiwa.2. perusahaan HTI seperti: Mitra Kembang Selaras. Umumnya 2/3 waktunya akan dihabiskan di bagan-bagan dan hanya 1/3 dari waktu mereka menetap di desa. PT. Rimba Mutiara Permai. Ada dua desa yang termasuk dalam SM Kerumutan yaitu Desa Kerumutan dan desa Teluk Meranti. Batin Putih 14. Kondisi Kawasan Intervensi Di kawasan intervensi terdapat penggunaan hutan dan lahan untuk HPH. PT. Batin Senggerih (Pengaturan) 10. Untuk desa Kerumutan dan Teluk Meranti termasuk dalam kepenghuluan Setia Diraja yang saat ini termasuk dalam kecamatan Teluk Meranti pecahan dari Kuala Kampar yang ibukota kecamatannya Penyalai. Penghulu Seta Diraja 26. dan areal penggunaan lain oleh masyarakat. Patih Jambuono 29. 2. Raja Bilang Bungsu 28.

Pola pemanfaatan ruang di kawasan intervensi . Hutan merupakan sumber pangan.). Pola pemanfaatan ruang di kawasan intervensi sangat tidak sinnkron dalam 4. sumber obat-obatatan. KUD Tesso Sepakat. Petodaan. Melayu dan migran. Ada beberapa desa interaksi utama yang dihuni oleh masyarakat Petalangan yaitu desa Kerumutan. Sari Lembah Subur. Kerumutan) bergantung pada hutan. Menurut Kuniyasu (2002). bahwa 60 % penduduk di hutan rawa gambut (termasuk SM. Pulau Muda dan desa-desa di sekitar perkebunan kelapa sawit PT. Gandaerah Hendana. dan Koperasi Sawit Redang Seko. Di sekitar SM Kerumutan dan kawasan lindung gambut terdapat masyarakat Petalangan. Gambar 6. Duet Rija. Perusahaan kelapa sawit : PT. 7 Desa di Kecamatan Rengat dan Rengat Barat Kabupaten Indragiri Hulu. sumber protein.3. Pemanfaatan mangrove dan pantai untuk mencari kerang-kerangan dan ikan oleh suku Duano di pantai Timur Pulau Sumatera. Di desa yang berdekatan dengan SM. 2 Desa di Kecamatan Simpang Gaung Kabupaten Indragiri Hilir. Mekar Sari Alam Lestari. Teluk Binjai. PT. Kerumutan seperti Desa Kerumutan. Penggunaan lain oleh masyarakat berupa lahan untuk pertanian dan perkebunan. mempertahankan SM. PT Surya Buana Bersama. PT. Sedikitnya ada sekitar 24 desa yang berdekatan atau disebut desa penyangga. Bunut. Kerumutan dan dikhawatirkan akan berdampak besar pada kerusakan ekosistem hutan rawa gambut Kerumutan (lihat peta di gambar 6. Petodaan dan Kuala Panduk sekitar 60% mereka ikut bekerja pada sektor Nelayan. Sorek hingga wilayah Taman Nasional Tesonilo. PT Saduekcitra. 5. sumber perumahan dan membuat sampan serta sumber pendapatan uang kas. PT. 2 Desa di Kecamatan Lirik. Teluk Binjai. Kuala Panduk. Teluk Meranti. Multi Gambut Industri. Sari lembah Subur. Teluk Meranti. Pada hal bebeapa kawasan yang telah dimiliki perusaaan HPH/HTI di atas memiliki potensi dan kekayaan yang tidak berbeda secara signifkan. 4 desa masuk Kecamatan Kerumutan dan 9 desa di Kecamatan Teluk Meranti Kabupaten Pelalawan. Suku Petalangan ini juga menyebut dirinya Melayu Perbatinan yang tersebar dari Kuala Kampar.

sebagian kecil sebagai nelayan. bahkan ada beberapa kanal dan jalan yang berdekatan dengan kawasan SM. Pemerintah saat ini telah membangun jalan dari Sorek-Teluk Meranti dan Guntung. Mereka terspesialisasikan dalam pemanfaatan sumberdaya ikan dan kerang-kerangan di Pantai Timur Pulau Sumatera dan erat kaitannya dengan keberadaan mangrove sebagai tempat berkembang biaknya biota pantai. Wilayah mereka terutama di Kecamatan Mandah dan berbaur dengan suku Melayu. Dapat dipastikan bahwa pembangunan jalan ini akan memberikan tekanan terhadap ekosistem hutan rawa gambut Kerumutan. sebagian besar bertani. . sebelum ada razia illegal logging hampir 80 % bekerja. tripang dan ikan sebagai sumber hidup. Selain itu beberapa keluarga dari mereka memanfaatkan kayu mangrove da menjualnya ke dapur arang. Khusus suku Duano atau Orang Laut secara spesialisasi memanfaatkan pantai yang panjang untuk mendpatkan biota pantai seperti kerang-kerangan.Masyarakat yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu. Selain itu terdapat juga kanal-kanal dan jalan yang dibangun perusahaan. Akses-akses ini diyakini akan memberi pengaruh dan tekanan besar terhdap kawasan inti. Kerumutan. Sedangkan masyarakat yang ada di kabupaten INHIl tepatnya disepanjang sungai Gaung sebagain besar mereka petani.

Ancaman Terhadap Ekosistem Hutan Rawa Gambut Kerumutan 1. Teridentifikasi . Ancaman illegal logging yang cukup tinggi hingga ke SM Kerumutan berasal masyarakat dengan menggunakan Sungai Kerumutan dan sungai Kampar di Pelalawan. 3 . Illegal logging: sumber ancaman berupa:  Lemahnya penegakan hukum akibat dari korupsi. Sungai Batang Rengat dan Mengkuang di Inhu. buaya. akses dan tempat penjualan yang dekat seperti ke Malaysia dan Singapura. perangkap perundangan yang kurang lengkap dan kurangnya sumberdaya (personil dan dana). beruang.3. 2.1. ikan arwana dan bagian tubuhnya sangat tinggi. Dari sungai ini dengan naik pompong hanya satu malam sudah sampai ke Singapura dan Malaysia. ada beberapa kegiatan yang mengancam keberadaan Ekosistem Hutan Rawa Gambut Kerumutan yaitu: 1. Ancaman illegal logging ini juga terjadi di kawasan perluasan dan kawasan intervensi. Di dalam kawasan SM.1. jalan HTI dan rel HPH Ketimpangan supplay dan demand Kemiskinan masyarakat Selain itu. Perburuan Satwa liar: sumber ancaman akibat dari :   Kurangnya pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang perlindungan satwa liar permintaan pasar gelap terhadap harimau sumatera. perburuan satwa liar khususnya harimau sumatera cukup tinggi terutama di sepanjang sungai Gaung dan sungai Kampar karena terkait dengan adanya pembeli.   Lemahnya penegakan hukum Tingginya konflik satwa dan manusia Selain itu. kanal.    Adanya akses seperti sungai. Gaung Anak Serka dan sungai Terusan Siam di Inhil. Kerumutan Berdasarkan intensitas dan tingkat keterancamannya. di kawasan intervensi kegiatan illegal logging juga diidentifikasi akibat tidak konsistennya kebijakan dengan status kawasan yang ada. serta Sungai Gaung.

namun faktor ini sangat kecil. Selain kelima ancaman di atas juga terdapat ancaman lainnya yaitu: 1.2.900 tergantung jenisnya (Traffic SEA.80. Maraknya pemburuan harimau ini disebabkan oleh harganya yang tinggi.ada 12 orang pemburu dan penadah harimau sumatera.25 juta rupiah. tengkorak hingga kulitnya) dari harga rata-rata 115. Inkonsistensi kebijakan: sumber ancaman akibat dari:   Pemberian ijin yang tidak sesuai dengan peruntukan dan kelayakan (KLG) pemberian ijin Bupati untuk HTI yang saat ini dalam proses verifikasi . dagingnya rata-rata Rp. Rencana Pembangunan jalan Sorek – Teluk meranti-Guntung yang memotong beberapa kawasan hutan di pinggiran SM Kerumutan. 5. Kebakaran hutan dan lahan: rawannya terjadi kebakaran hutan di wilayah ini karena kawasannya gambut. dan permbah kawasan. Di dalam kawasan Perluasan dan Kawasan Intervensi Kelima ancaman di atas juga merupakan ancaman bagi kawasan perluasan dan intervensi. Dsamping itu. Seperti juga terjadi ditempat lainnya seperti di Kawasan Tessonilo dan di Koridor Barat TNBT. jika terbakar sulit dipadamkan karena hingga ke bawah. pemburu satwa liar. 2004) 3. penis. 4. berbatasan dengan kawasan SM terdapat areal konsesi yang diperuntukkan untuk HTI. Pembukaan kanal yang dilakukan oleh perusahaan HTI akan mempercepat proses keluarnya karbon.342. 2005). 15 orang pemburu rusa dan babi (mangsa harimau). Pembangunan kanal dan jalan oleh perusahaan HTI: akses ini akan dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengeksploitasi hasil hutan kayu/non kayu dari SM Kerumutan. Fakta membuktikan bahwa pembukaan jalan akan mempercepat rusak dan hilangnya hutan karena menjadi aksses bagi illegal logging. Kenyataan yang terjadai perushaaan tidak akan mampu untuk mengamankan jalan dan kanalnya dari pemakaian masyarakat untuk memanfaatkan hasil hutan. keringnya lahan dan menurunnya water tabel. Pada musim kemarau areal ini akan mudah terbakar. 1.700 hingga rata-rata Rp18.100. Pemburu mangsa harimau ini terkadang juga akan menangkap harimau jika kena jerat (YASA. Disamping itu kebarakan juga terjadi akibat aktivitas illegal logging dan nelayan. opsetan harimau rata-rata Rp. dan bagian tubuhnya (mulai dari kumis.3. kuku.

Tdk taatnya perusahaan terhadap aturan kawasan yang seharusnya dilindungi contoh sempadan sungai. herbisida) Pembangunan perkebunan yang tdk peduli dengan kawasan HCVF. belum dadanya komitmen bagi NGO dan semua stakeholder dalam penyelamatan Kerumutan Landscape. tidak adanya pendanaan dan keberlanjutan pengelolaan. kedalaman gambut 4 meter. Sumberdaya/ Resources : rendahnya kapasitas: baik itu pengelola maupun NGO yang bermain di kawasan ini. budaya dan biologi terhdapa Kerumutan Landscape 2. kebijakan Dephut untuk mempercepat pembangunan HTI Kecenderungan pemerintah provinsi dan kabupaten dalam mengembangkan perkebunan (2 juta ha)    peruntukan pengembangan sawit rakyat yang tidak tepat.  Perusahaan tidak taat pada sop penangan konflik masyarakat tidak memiliki penangan kebakaran hutan/konflik satwa dll 2.   Kurangnya komitmen Dephut dalam menjalankan verifikasi ijin HTI semi illegal. Networking: kurangnya kerjasama dalam mengadvokasikan Kerumutan landscape dan stakeholder yang mendorong proses-proses. ekonomi. Sistem kanal yang tidak memperhatikan aspek konservasi tanah dan air. . Analisis GAP Untuk Penyelamatan Kerumutan Lanscape yang menjadi GAP adalah sebagai berikut: 1. Praktek Perkebunan kelapa sawit swasta/smallholder yang tidak berkelanjutan. Networking ditambah dengan stakeholder enggagement 3. tidak sinkronnya penataan ruang provinsi dan kabupaten lemahnya perangkat perundangan dalam mengatur perkebunansmall holder 2.    Praktek budidaya yang tidak ramah lingkungan (pestisida. Informasi/Information : minimya informasi tentang social.

kebakaran hutan dan lahan serta pembangunan jalan 2. Mengembangkan kapasitas dan jaringan kerja dalam mendorong penyelamatan SM Kerumutan 4. Adapun strategi yang dilakukan untuk mencapai objektive 1 (Penyelamatan dan Perluasan Kawasan SM Kerumutan) yaitu: 1.4. perburuan satwa liar. Meningkatkan pengetahuan dalam mengembangkan informasi untuk menngkatkan kepedulian dari berbagai phak dalam penyelamatan SM Kerumutan 3. Telah ada tor dan mekanisme yang dikembangkan. prkatek-praktek pengelolaan kawasan intervensi sesuai untuk mendukung penyelamatan SM Kerumutan yang telah diperluas. Legal and Institusional: sebelumnya belum ada suatu mekanisme kerja advokasi dan pengelolaan penyelamatan Kerumutan landscape. Penguatan informasi dan kajian akademik perluasan SMKerumutan. tetapi belum berjalan seperti yang diinginkan karen terkendala pendanaan. Rencana Tindak Lanjut Penyelematan Kerumutan Landscape Yang menjadi Goal dari kegiatan ini adalah : “Penyelamatan Ekosistem Hutan Rawa Gambut Kerumutan melalui Pembangunan Berkelanjutan” Objective-nya adalah: Penyelamatan kawasan (biodiversity) dan Perluasan SM Kerumutan Pengelolaan berkelanjutan di kawasan intervensi Untuk mencapai goal dan objective tersebut dilakukan beberapa strategi yaitu: 1. Mendorong stakeholders untuk menghentikan kegiatan illegal logging. 3. sebagai alat lobby dan advokasi . Mendorong berbagai stakeholder untuk menerapkan pola-pola pengembangan dan pembangunan.

carbon storage dan unique ecosystem Strategi yang dilakukan untuk mencapai objective 2 ( Pengelolaan berkelanjutan di kawasan intervensi) adalah: 1. 6. 5. Melakukan pengembangan kapasitas ke semua stakeholder dalam upaya penyelamatan Kerumutan Lanscape 2. Membangun kampanye dan advokasi bersama dalam upaya penyelamatan Kerumutan Lanscape . sosial ekonomi (lihat information gap) Menyiapkan memo teknis dan draft perluasan SM Kerumutan Penggalangan dana Strategi yang dilakukan untuk mencapi objektif 3 adalah: 1. 2. 4. Peningkatan kapasitas stakeholders dalam mendorong pengelolaan di kawasan intervensi Kegiatan yang dilakukan dalam waktu dekat /Short term activities untuk mencapai objective 1 adalah: 1. serta penggagalan pembangunan jalan 3. Penguatan data dan informasi (lihat information gap) Lobby dan advokasi illegal logging. Capacity building for stakeholders Riset Biofisik. kebakaran hutan dan lahan.2. 2. Advokasi dan lobby ke stakeholders untuk mendorong dan mendapatkan dukungan formal perluasan SM Kerumutan dari pihak berwenang 3. 4. Memperluas dukungan kelompok pendukung perluasan kawasan SM Kerumutan Meningkatkan status SM Kerumutan menjadi kawasan biodiversity. perburuan satwa liar. Melindungi kawasan hutan bernilai konservasi tinggi dalam kawasan budidaya Mendorong penerapan praktek-praktek berkelanjutan dalam pemanfaatan kawasan hutan produksi dan kawasan budidaya 3.

Daniel. Membangun jaringan kerja dan mekonisme ke berbagai pihak dalam upaya penyelamatan Kerumutan landscape Strategi yang dilakukan untuk mencapai objektif 4 adalah: 1. Kokok Yulianto. Laporan Suku Terasing di Provinsi Riau. 4. October 2005. Mitra Taninusa Sejati. 2. Review of APRIL’s Rapid Internal HCVF Assessment of Mitra Kembang Selaris. pendidikan dll) yang dapat mendukung upaya konservasi. 1994.Jakarta.. misalnya HCVF dan monitoringya. lingkungan. Tijut Sugandawaty.rdb.3. Heegaard. misalnya : RTRWP/RTRWK. Setiabudi. Indonesia. and M. Mangara Silalahi. Canada. Kerumutan yang diperluas. Danielsen F. Jakarta Djohan. Daftar Pustaka Birdlife International Red Asia. untuk pemerintah pusat agar memberikan dukungan dan penerapan pembangunan yang tidak bertentangan dengan upaya konservasi SM. Proceedings of NORINDRA Seminar – Jakarta. Mendorong perusahaan untuk melaksanakan praktek-praktek berkelanjutan dan prinsipprinsip lestari. et. sertifikasi dll Meningkatkan kesadaran masyarakat dalam praktek-praktek pembangunan pertanian yang lebih arif dan bijaksana Mendorong pemerintah untuk membuat kebijakan yang dapat mendukung upaya penyelamatan SM. 3. Rain Forest and Resource Management. Dani Rahadian and Agus Juli Purwanto. 1995. 1993. and Rimba Mutiara Permai Forest . 1996. The impact of logging and forest conversion on lowland forest birds and other wildlife in Seberida.http://www.id/index. Zulfira Warta. Jonotoro.al. Departemen Kehutanan.html Data Book: Threatened Birds of North- Charman. Carbon Dynamics in a Forested Peatland in Eastern Ontario Canada. 25-26 May 1993. Riau Province.J. Merbau Pelalawan Lestari. Sumatra. Petunjuk Pelaksanaan Tebang Pilih Tanam Depsos RI.or. Journal of Ecology. Kerumutan Memfasilitasi berbagai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat (ekonomi.

Vol. Momose. FRIM. Jonotoro. Februari 2005. Part 3: Appendices. 42pp. Kepong. 2005. AREAS Riau Programme: Jakarta) as cited in ProForest. M. Keseimbangan Hara dan Karbon Dalam Pemanfaatan Lahan Gambut Berkelanjutan.40. ProForest and WWF International.cites. and J. Malaysia. http://www. . and Zulfahmi (2003). Pertanian Lahan Gambut. 2005. ProForest. Aspek Biofisik Hutan rawa Gambut Semenanjung Kampar. 2005. Version 1.iucnredlist. ProForest 2005. N0 1 June 2002 Pages 87-108.CITES Species database. 156pp. 2006. S dan Maharmansyar. Study Sosial Ekonomi dan Budaya Masyarakat di Semenanjung Kampar Kabupaten Siak. 2000. 2006.org/index. IPB. 78pp. Data-data Penduduk di Kecamatan Teluk Meranti. Potensi dan Kendala.. S. HCVF Assessment of Two Concessions in Teso Nilo: Findings and Management Recommendations. Teluk Meranti.. August 2006. Kuniyasu. and Shimamura T. Jikalahari. Ng Tian Peng & Ibrahim.org/.html Jennings. Mohammad Noor. December 2005. August 2006. May 2003. 2004. Kanisius. 156pp. High Conservation Value Forest (HCVF) Assessment Report Asia Pulp & Paper/Sinar Mas Group (Pulau Muda District). Yokyakarta. Bogor IUCN Red List. Part 3: Appendices. Jarvie (with input from Nigel Dudley and Ketut Deddy). (2002). Kurniawan. October 2004. Kuala Lumpur. Case study – preliminary spatial analysis of biological HCVFs in Riau in A Sourcebook for Landscape Analysis of High Conservation Value Forests. 2001. Pekanbaru-Riau Hardiono. Istomo. Rainforest Alliance SmartWood Program. Pekanbaru Kecamatan Teluk Meranti. Jikalahari. Environments and People of Sumatran Peat Swamp forest II: Distribution of Villagers and Interaction Between People and Forests. Common Trees in Peat Swamp Forests of Peninsular Malaysia. http://www. HCVF Assessment of Two Concessions in Teso Nilo: Findings and Management Recommendations. (WWF – Indonesia. Identification of “Wasteland” in Riau. 2003. Jonotoro. Pelalawan Riau. Landscape-Level assessment of hydrological & ecological values in the Kampar Peninsular ProForest. South East Asian Studies.

7/Oktober 1999 Sudarmadji. and ProForest. 2003. 1999. Kecamatan Penyengat. 2pp. 2002. . Identifying. Fact Sheet: Tiger Conservation Landscape Report: Indonesia. Managing. Goklan. and Monitoring High Conservation Value Forests in Indonesia: A Toolkit for Forest Managers and other Stakeholders. Alam Sumatera dan Pembangunan vol. 88pp. WWF TNBT Project ID 117. Mangara dan Goklan Sitorus (1999).Rainforest Alliance SmartWood Program. Eight Forest Blocks In Riau Province. Belum dipublikasikan. World Wildlife Fund Indonesia (WWF). 2005. Suku Petalangan. 2000. Keberadaan dan Ancaman Suaka Marga Satwa Kerumutan. Riau Sitorus. Bali. High Conservation Value Forest(HCVF) Assessment Report for Serapung Unit. World Wildlife Fund (WWF) Indonesia and Wildlife Conservation Society (WCS) Indonesia. Laporan Studi Persiapan Pemberdayaan Pendidikan suku Hutan di desa Selat Akar dan Desa Penyengat. Silalahi. Mangara. page 4 Silalahi.II No. Rainforest Alliance. Siak. Rehabilitasi Hutan Mangrove. Denpasar. Survey Potensi. February 2005. Pusat Informasi Mangrove.