Anda di halaman 1dari 8

Pembatasan topik

kesehatan

Kualitas pelayanan kesehatan

kebijakan

Sistem kesehatan

Masalah kesehatan

Pelayanan kesehatan

Kesehatan lingkungan

Gizi masyarakat

Penanganan penyakit

Gizi kurang

Gizi lebih

Kekurangan energi protein

Kekurangan vitamin A

Anemia gizi besi

Gangguan akibat kekurangan Yodium

kwashiorkor

marasmus

Jejaring Ide

Pencegahan marasmus

kesimpulan

defenisi

Penangana n marasmus

marasmu s

Ciri-ciri dan gejala marasmus

Factor risiko Penyebab marasmus

Penyebab marasmus

Karangan utuh Marasmus

Istilah Marasmus berasal dari bahasa Yunani yang berarti kurus-kering. Pada penderita marasmus asupan kalori yang dikonsumsi sangat kurang dan juga terjadi defisiensi protein. Marasmus disebabkan karena kurang kalori yang berlebihan sehingga membuat cadangan makanan dan protein (protein juga merupakan sumber energi) yang tersimpan dalam tubuh terpaksa dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan yang sangat diperlukan untuk kelangsungan hidup. Senada dengan hal tersebut Almatsier (2009:103) dalam bukunya mengungkapkan bahwa Marasmus adalah penyakit kelaparan dan terdapat banyak di antara kelompok sosial ekonomi rendah di sebagian besar negara berkembang dan lebih banyak daripada kwashiorkor. Marasmus merupakan salah satu dari empat masalah pokok gizi di Indonesia. Pada marasmus penderita sangat kurus, sesuai dengan sebutan tinggal tulang dan kulit. Sediaoetama (2008:85) dalam bukunya mengungkapkan mengenai Ciri utama penderita marasmus adalah sebagai berikut :

Anak tampak sangat kurus dan kemunduran pertumbuhan otot tampak sangat jelas sekali apabila anak dipegang pada ketiaknya dan diangkat. Berat badan anak kurang dari 60% dari berat badan seharusnya menurut umur.

Di bawah kulit tidak terasa adanya lapisan lemak. Wajah anak tampak seperti muka orang tua. Jadi berlawanan dengan tanda yang tampak pada kwashiorkor. Pada penderita marasmus, muka anak tampak keriput dan cekung sebagaimana layaknya wajah seorang yang telah berusia lanjut. Oleh karena tubuh anak sangat

kurus, maka kepala anak seolah-olah terlalu besar jika dibandingkan dengan badannya.

Pada penderita marasmus biasanya ditemukan juga tanda-tanda defisiensi gizi yang lain seperti kekurangan vitamin C, vitamin A, dan zat besi serta sering juga anak menderita diare. Gejala marasmus adalah seperti gejala kurang gizi pada umumnya (seperti pertumbuhan terhambat, lemak dibawah kulit berkurang serta otototot berkurang, lemah lesu, apatis, cengeng, dan lain-lain), tetapi karena semua zat gizi dalam keadaan kekurangan, maka anak tersebut menjadi kurus-kering. Penyebab marasmus kedokteran 2002:10). Secara garis besar sebab-sebab marasmus ialah sebagai berikut: 1) Masukan makanan yang kurang Marasmus terjadi akibat masukan kalori yang sedikit, pemberian makanan yang tidak sesuai dengan yang dianjurkan akibat dari ketidaktahuan orang tua si anak; misalnya pemakaian secara luas susu kaleng yang terlalu encer. 2) Infeksi (Infeksi yang berat dan lama menyebabkan marasmus, terutama infeksi enteral misalnya infantil gastroenteritis, bronkhopneumonia, pielonephritis dan sifilis kongenital. 3) Kelainan struktur bawaan, Misalnya: penyakit jantung bawaan, penyakit Hirschprung, deformitas palatum, palatoschizis, micrognathia, stenosis pilorus, hiatus hernia, hidrosefalus, cystic fibrosis pancreas. 4) Prematuritas dan penyakit pada masa neonatus Pada keadaan-keadaan tersebut pemberian ASI kurang 10 akibat reflek mengisap yang kurang kuat. 5) Pemberian ASI Pemberian ASI yang terlalu lama tanpa pemberian makan-an tambahan yang cukup. 6) Gangguan metabolik, Misalnya: renal asidosis, idiopathic hypercalcemia, galac-tosemia, lactose intolerance. 7) Tumor hypothalamus, Jarang dijumpai dan baru ditegakkan bila penyebab maras-mus yang lain telah disingkirkan. adalah multifaktorial, seperti yang diungkapkan Lubis dan marsida ( dikutip dari cermin dunia

8) Penyapihan, Penyapihan yang terlalu dini disertai dengan pemberian makanan yang kurang akan menimbulkan marasmus. 9) Urbanisasi, Urbanisasi mempengaruhi dan merupakan predisposisi untuk timbulnya marasmus; meningkatnya arus urbanisasi diikuti pula perubahan kebiasaan penyapihan dini dan kemudian diikuti dengan pemberian susu manis dan susu yang terlalu encer akibat dari tidak mampu membeli susu; dan bila disertai dengan infeksi berulang, terutama gastro enteritis akan menyebabkan anak jatuh dalam marasmus. Faktor risiko terjadinya marasmus bisa terjadi di usia Balita (Bawah Lima Tahun). Ada beberapa faktor yang menjadi faktor risiko penyebab marasmus. Pertama, jarak antara usia kakak dan adik yang terlalu dekat ikut mempengaruhi. Dengan demikian, perhatian si ibu untuk si kakak sudah tersita dengan keberadaan adiknya, sehingga kakak cenderung tidak terurus dan tidak diperhatikan makanannya. Oleh karena itu akhirnya si kakak menjadi kurang gizi. Kedua, anak yang mulai bisa berjalan mudah terkena infeksi atau juga tertular oleh penyakit-penyakit lain. Selain itu, yang ketiga adalah karena lingkungan yang kurang bersih, sehingga anak mudah sakit-sakitan. Karena sakitsakitan tersebut, anak menjadi kurang gizi. Keempat, kondisi sosial ekonomi keluarga yang sulit. Faktor ini cukup banyak mempengaruhi, karena jika anak sudah jarang makan, maka otomatis mereka akan kekurangan gizi. Selain itu seorang anak bisa terkena gizi buruk( marasmus) kemungkinan kurangnya zat gizi yang diterima dari ibu yang mengandungnya. Jika zat gizi yang diterima dari ibunya tidak mencukupi maka janin tersebut akan mengalami kurang gizi dan lahir dengan berat badan rendah yang mempunyai konsekuensi penyebab gizi buruk( marasmus dan kwashiorkor). Penanganan masalah marasmus, anak yang mengalami marasmus akan mudah sekali terkena berbagai macam penyakit, anak yang marasmus tersebut, akan sembuh dalam waktu yang lama. Dengan demikian kondisi ini juga akan mempengaruhi perkembangan

intelegensi anak. Untuk itu, bagi anak yang mengalami marasmus, harus dilakukan upaya untuk memperbaiki gizinya. Upaya-upaya yang dilakukan tersebut antara lain adalah meningkatkan pengetahuan orang tua mengenai gizi, melakukan pengobatan kepada si anak dengan memberikan makanan yang dapat menjadikan status gizi si anak menjadi lebih baik. Dengan demikian, harus dilakukan pemilihan makanan yang baik untuk si anak. Makanan yang baik adalah makanan yang kuantitas dan kualitasnya baik. Makanan dengan kuantitas yang baik adalah makanan yang diberikan sesuai dengan kebutuhan si anak. Misalnya, memberi makanan si anak berapa piring sehari adalah sesuai kebutuhannya. Dan akan lebih baik jika memberikan vitamin dan protein melalui susu. Bagi keluarga yang tidak mampu, bisa menyiasatinya, misalnya mengganti susu dengan telur. Kemudian, makanan yang kualitasnya baik adalah makanan yang mengandung semua zat gizi, antara lain protein, karbohidrat, zat besi, dan mineral. Upaya yang terakhir adalah dengan mengobati penyakit-penyakit penyerta. Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan agar seorang anak tidak terkena penyakit marasmus adalah seperti yang diungkapkan Lubis dan Marsida (yang dikutip dari ermin dunia kedokteran 2002:10 ). Tindakan pencegahan terhadap marasmus dapat dilaksanakan dengan baik bila penyebab diketahui. Usaha-usaha tersebut memerlukan sarana dan prasarana kesehatan yang baik untuk pelayanan kesehatan dan penyuluhan gizi. 1. Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan sumber energi yang paling baik untuk bayi. 2. Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi pada umur 6 tahun ke atas. 3. Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan lingkungan dan kebersihan perorangan. 4. Pemberian imunisasi. 5. Mengikuti program keluarga berencana untuk mencegah kehamilan terlalu kerap.

6. Penyuluhan/pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang. 7. Pemantauan (surveillance) yang teratur pada anak balita di daerah yang endemis kurang gizi, dengan cara penimbangan . Maka dari beberapa penjelasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa marasmus adalah penyakit kekurangan asupan kalori yang berlebihan disertai dengan defisiensi protein sehingga membuat tubuh penderitanya sangat kurus. Ciri-ciri dan gejala marasmus hampir sama dengan ciri penyakit gizi buruk pada umumnya , pertumbuhan terhambat, otot di bawah kulit berkurang, lemah, lesu, apatis dan cengeng. Penyebabnya merupakan multifaktorial antara lain masukan makanan yang kurang, faktor penyakit dan faktor lingkungan. Faktor risiko terjadinya marasmus ada beberapa antara lain, jarak anak pertama dengan yang kedua terlalu dekat, lingkungan yang kurang bersih, faktor ekonomi keluarga. Penganan marasmus dengan pengobatan anak sampai status gizinya lebih baik. Pencegahan marasmus ditujukan pada penyebab dan memerlukan pelayanan kesehatan dan penyuluhan yang baik.

Daftar Pustaka Almatsier,Sunita. 2009. Prinsip Ilmu Gizi Dasar. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama. Sediaoetama,Achmad Djaeni. 2008. Ilmu Gizi. Jakarta : PT Dian Rakyat. Lubis,Nuchsan Umar dan Marsida, Arlina Yunita. 2002. Penata Laksanaan Busung Lapar pada Balita, (online), (http://cermin dunia kedokteran.mht, diakses pada 12 November 2010).