P. 1
ARTIKEL LISTRIK

ARTIKEL LISTRIK

|Views: 81|Likes:
Dipublikasikan oleh Widiyoko Sttad

More info:

Published by: Widiyoko Sttad on Dec 20, 2011
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/20/2011

pdf

text

original

1 ALAT PENCEGAH SENGATAN JALA-JALA LISTRIK DI RUMAH 1. Umum.

Pada saat kita akan meninggalkan rumah, dimana anak kita yang masih kecil sendiri di rumah selalu diingatkan untuk tidak bermain dengan peralatan yang terhubung dengan listrik. Tujuannya adalah agar anak tersebut tidak tersengat oleh listrik karena apabila hal tersebut terjadi sedangkan orang tua tidak berada di rumah tentu akibatnya menjadi sangat berbahaya. Sementara pengamanan yang ada merupakan standart yang diberikan pemerintah dalam hal ini PLN adalah : a. Pembatas Beban, MCB (Mini Contact Breacker) adalah suatu alat yang digunakan untuk membatasi beban sesuai dengan beban yang telah disepakati antara pelanggan atau pengguna listrik dengan PLN. Sistem kerjanya akan memutus secara otomatis jalajala listrik jika beban yang digunakan melebihi pagu yang sudah ditentukan. b. Sikring atau Fuse, dipasang secara serial dengan MCB, sedangkan cara kerjanya secara konsep sama dengan MCB sebagai pembatas arus yang akan melindungi peralatan atau beban jika terjadi arus berlebih. Kedua Instalasi pengaman diatas bekerja berdasarkan pembatasan arus yang ada pada jala-jala listrik, tetapi tidak jarang karena tidak tahunya pelanggan akan kedua fungsi pengaman tersebut apabila instalasi tersebut sudah tidak standart lagi akibat kerusakan dan kemudian dipaksakan dipakai dengan cara dihubung singkatkan dengan menggunakan Link (kabel) maka akan mempunyai fungsi yang sama (pelanggan dapat menggunakan listrik) tetapi tujuan pengamanan arus jadi tidak berfungsi. Baik MCB maupun Fuse tidak akan dapat melindungi jika terjadi sengatan listrik terhadap anggota keluarga di rumah, hal ini disebabkan arus pada jala-jala listrik sudah mengakibatkan dampak yang cukup fatal jika langsung terhubung dengan korban. Karena kondisi tersebut dimana sistem pengamanan listrik masih berorientasi terhadap pembatasan arus maka kami memberikan inovasi sistem pengamanan terhadap sengatan listrik dengan harapan jika terjadi kecelakan atau ketidak sengajaan personil TNI AD maupun keluarganya yang berada di rumah tersengat listrik sistem jala-jala listrik akan terputus secara otomatis, Inovasi tersebut kami beri judul ALAT PENCEGAH SENGATAN JALA-JALA LISTRIK DI RUMAH. 2. Jaringan sistem tenaga listrik. Seperti kita ketahui Perusahaan Listrik Negara (PT PLN), di Indonesia membagi tegangan listrik dalam 4 kategori, yaitu : a. Saluran Tegangan Esktra Tinggi (SUTET) dengan kapasitas 500 kV b. Saluran Tegangan Tinggi (SUTT) dengan kapasitas 150 kV c. Saluran Tegangan Menengah (SUTM) dengan kapasitas 20 kV (fase-fase) d. Saluran Tegangan Rendah (SUTR) dengan kapasitas 380/220 V Jala-jala listrik yang dikonsumsi oleh kita dalam range tegangan yang sudah standart 220 V AC dengan frekuensi ± 50 Hz, sedangkan pada saat ditransmisikan dari sumber pembangkit dalam tegangan tinggi untuk efisiensi dengan meminimalisasi arus sehingga kabel transmisi menjadi berdimensi kecil. Pada jala-jala listrik yang terpasang di perumahan biasanya didistribusikan dari

2 saluran tegangan rendah melalui trafo distribusi menjadi saluran tegangan rendah 3 fase R, S, T dimana R - S = S - T = T - R = 380 Volt. Pada setiap fase tegangan katakan R – N = 330 Volt / Akar 3 = ± 220 Volt, yaitu nilai tegangan yang keluar dari setiap stop kontak yang tersedia pada perumahan tersebut, tergantung dari kombinasi dari fase yang tersedia. Berikut pada gambar 1 diperlihatkan Jaringan sistem tenaga listrik mulai dari pembangkitan tenaga listrik, kemudian pendistribusian melalui jaringan tegangan tinggi, sampai tegangan rendah, dan pendistribusian ke rumah tangga atau tingkat konsumen yang memanfaatkan jalajala listrik dengan tegangan standart 220 V ±50 Hz Gambar 2, merupakan simulasi rangkaian dari contoh jaringan listrik di rumah dengan beban antaranya Lemari Es, Lampu TL, TV, dan Lampu pijar. Sistem koneksi paralel memungkinkan penambahan beban dengan tegangan sumber tetap dan jika beban terputus tidak mempengaruhi jaringan karena beban masih menyerap arus sumber (terhubung).

Gambar 2, Koneksi Paralel antara Sumber tegangan 220 V dan Beban

Gambar 1. Jaringan sistem tenaga listrik

Dari rangkaian pada gambar 2 dapat dimonitor semakin banyak beban terpasang maka akan mempercepat putaran meteran dengan meningkatnya konsumsi arus, sehingga akan meningkatkan jumlah dari catatan KWh meter penggunaan listrik di Rumah. Kalau diamati maka jaringan listrik yang terdapat di rumah terdiri dari dua kabel yaitu kabel aktif dan ground, apabila arus yang mengalir pada beban seperti di atas secara otomatis akan sama dengan yang mengalir pada sisi sumber dan sisi ground, sehingga pada kedua sisi sumber akan dialiri arus yang sama. Tetapi hal tersebut akan berbeda pada saat jaringan listrik yang terdapat dirumah kemudian mendapatkan hubung singkat karena ada personel yang tersengat listrik maka akan terjadi perbedaan arus pada kedua kabel yang terdapat dalam jaringan listrik tersebut hal ini dapat dilihat

3.

Sistem jaringan listrik di rumah, Jaringan listrik di rumah terhubung secara paralel antara sumber dengan beban sehingga semua beban akan mendapat tegangan yang sama, tetapi arus yang diserap akan berbeda tergantung dari hambatan yang dimiliki oleh beban, karena sumber tegangannya AC maka beban pun akan memberi perlawanan terhadap sumber sesuai sifat Reaktansinya biasanya bersifat Induktif, maka reaktansinya disebut reaktansi induktif (XL) hal ini karena hampir semua beban mengandung unsur komponen Induktif.

3 dalam uji simulasi dengan menggunakan software Multisim seperti Gambar 3, Pada multimeter 1, akan mengukur arus yang terjadi pada sumber jala-jala listrik, yang merupakan arus jala-jala atau arus yang dikonsumsi di rumah, sedang multimeter 2, akan mengukur arus yang mengalir ke ground yang ada pada jala-jala. gambarkan resistansi sebesar 2Ω setara dengan resistensi lampu pijar, walaupun dalam hitungan detik selain dampaknya yang sangat fatal bagi personil/anggota fenomena tersebut dapat terdeteksi secara elektrik.

4. Cara Kerja Alat. Gambar 4. Menunjukan diagram blok dari sistem, dimana pada saat terjadi perbedaan arus pada kedua kabel antara kabel aktif dan kabel ground maka akan terdeteksi oleh alat/sensor yang dipasang pada jaringan hal tersebut menunjukan adanya personil yang tersengat listrik maka dengan segera informasi tersebut akan digunakan untuk memutuskan jaringan llstrik dapat dilaksanakan dengan melalui MCB atau menambah kontaktor baru berupa Relay. Sedangkan personil yang tersengat akan dilewati oleh arus yang akan menuju ke Ground Bumi.

Gambar 4. Diagram Blok Sistem.

Gambar 3 Rangkaian simulasi pada saat personel tersengat listrik.

Kedua unit alat ukur untuk mengukur arus pada kedua kabel sumber jaringan listrik di rumah, yaitu kabel aktif dan kabel ground, maka pada saat terjadi sengatan listrik pada seseorang dalam simulasi di

Yang perlu diperhatikan adalah pemasangan alat konektor Relay tersebut harus benar pada kabel yang aktif,karena jika salah dipasang pada kabel ground maka pemutusan secara mekanik melalui Relay tidak akan berfungsi karena listrik masih tetap mengalir, jika terhubung dengan Ground melalui beban.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->