Anda di halaman 1dari 3

SOAL No.

1 - WANGSA DAN KASTA DI BALI PENDAHULUAN Masyarakat non-Hindu sering melihat fenomena Kasta sebagai sesuatu yang identik dengan ajaran Agama Hindu, sehingga sering disebut kasta adalah ajaran Agama Hindu. Bahkan khususnya terkait dengan etnis Bali, dimana mayoritasnya beragama Hindu, masyarakat juga melihat kasta sebagai bagian yang identik dengan kultur budaya masyarakat Bali. Istilah Kasta sebenarnya adalah tidak dikenal dalam ajaran Agama Hindu. Agama Hindu sebagaimana diuraikan dalam Veda hanya mengenal istilah Warna. Pemahaman kasta yang ada di masyarakat sering memojokkan posisi umat Hindu termasuk umat Hindu etnis Bali. Bagi kehidupan masyarakat di Bali sendiri, pada asalnya yang muncul adalah istilah Wangsa, bukan Warna atau Kasta. Sebagai umat Hindu, kita harus memiliki pemahaman yang mendalam terhadap permasalahan fenomena kasta , yaitu penjernihan istilah kasta, warna dan wangsa. Untuk membahas hal tersebut maka perlu dipahami arti sebenarnya kasta, warna dan wangsa, apa perbedaan antara sistem wangsa dan kasta, dan apakah sistem kasta di Bali dapat dihapuskan ? PERBEDAAN DAN PERSAMAAN WANGSA DAN KASTA Pengertian Warna Menurut Hindu Catur Warna merupakan konsepsi ajaran Hindu yang bersumber pada Veda. Catur Warna membagi masyarakat Hindu menjadi empat kelompok profesi secara paralel horizontal. Warna tidak ditentukan oleh keturunan namun ditentukan oleh guna, dan karma. Guna adalah sifat, bakat dan pembawaan seseorang. Sedangkan karma artinya perbuatan pekerjaan. Kasta Versi India Kasta bukan merupakan konsepsi dasar Agama Hindu. Kata kasta sendiri pun bukan berasal dari Bahasa Sansekerta. Kasta berasal dari bahasa Protugis dari kata Caste yan artinya tingkatan-tingkatan. Akar kata kasta juga bisa dilihat dalam bahasa Latin, yaitu terkait dengan kata castus yang bermakna sesuatu yang murni atau tidak tercemar. Di India, sebagai tempat kelahiran Agama Hindu, kasta adalah stratifikasi masyarakat India pada jaman lampau dan produk sosial historis masyarakat India. Kasta di India membedabedakan harkat dan martabat manusia berdasarkan keturunan. Kasta membagi masyarakat menjadi empat golongan secara vertikal berdasarkan kelahiran (genealogis), yaitu Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra. Bahkan di India dikenal adanya kasta Paria, yaitu orang cacat. Kelahiran sistem Kasta di India sulit dipastikan sejak kapan. Namun menurut pandangan E.A Gait (Ketut Wiana, 1993: 19) mengemukakan sistem kasta muncul sejak Bangsa Arya sebagai penakluk di India tidak suka timbulnya perkawinan antar suku, karena bangsa Arya menganggap dirinya lebih tinggi harkat dan martabatnya. Wangsa dan Kasta Versi Bali Sistem pelapisan sosial di Pulau Bali mengalami sejarah pertumbuhannya sendiri. Sistem pelapisan sosial masyarakat Bali yang beragama Hindu disebut Wamsa, yang oleh masyarakat luas disebut Wangsa. Wangsa sendiri juga seperti kasta, dimana sama-sama bukan ajaran Agama Hindu. Sistem wangsa di Bali sendiri timbul sejak pemerintahan Dalem di Bali pada abad ke XV. Masyarakat di Bali, menurut sistem Wangsa dibagi menjadi tiga golongan yaitu: (1) Brahmana Wangsa, yang secara tradisional berasal dari keturunan Dang Hyang Dwijendra dan Dang Hyang Astapaka, (2) Ksatria Wangsa, yaitu keturunan Ksatria yang berasal dari Majapahit dan Kediri dan (3) Jaba Wangsa, yaitu mereka yang tidak masuk ke dalam Brahmana dan Ksatria wangsa.

UTS Sosiologi Agama

I Gde Wiyadnya

Ketika penjajah Belanda menaklukan Bali, Belanda memanfaatkan sistem kasta khas Bali dengan mengadopsi sistem wangsa yang telah ada. Bahkan sistem kasta yang diadopsi ini, raja tidak bisa memberikan / menghapuskan gelar, dan Belanda membentuk tatanan kasta yang seragam bagi seluruh Bali. Perbedaan dan Persamaan Wangsa dan Kasta Sistem wangsa dan kasta adalah sama-sama bukan ajaran Agama Hindu, namun di Bali wangsa adalah tidak setajam kasta di India. Persamaaan Wangsa dan Kasta adalah sama-sama membeda-bedakan masyarakat berdasarkan keturunannya. Namun antara keduanya terdapat perbedaan, yaitu sebagai berikut : a) Penggolongan kasta terdiri dari empat golongan (Brahmana, Ksatria, Waisya dan Sudra) sedangkan penggolongan wangsa terdiri dari tiga golongan (Brahmana, Ksatria dan Jaba). b) Penentuan golongan berdasarkan keturunan menurut Wangsa adalah mengacu kepada sejarah asal masyarakat Bali, yaitu berdasarkan asal garis leluhurnya. Sedangkan kasta di India mengacu kepada sejarah penaklukan Bangsa Arya di India. c) Dalam hal keagamaan, di dalam sistem wangsa, semua golongan dimungkinkan untuk belajar kerohanian dan menjadi pendeta. Dimana hal ini tidak dimungkinkan di sistem kasta India. PEMURNIAN AJARAN WARNA DAN PENGHAPUSAN KASTA Sistem Kasta dalam arti tingkatan sosial berdasarkan keturunan adalah membatasi kemampuan dan pengembangan yang ada pada diri setiap orang untuk mencapai tujuannya. Sedangkan Sistem Warna dalam Veda memberikan setiap orang mengembangkan hakekat dirinya mencapai puncak kesempurnaan yan berlandaskan moral. Manusia akan mendapatkan kebagaiaan yang sebenarnya apabila mampu tumbuh dan berkembang sesuai dengan jati dirinya yang dibawa lahir. Orang akan bahagia apabila dapat bekerja sesuai dengan sifat dan bakatnya yang dibawa sejak lahir. Sistem kasta yang ada di Bali dengan menekankan segala macam gelar tidak perlu dihapuskan dalam pengertian sebagai garis keturunan, namun perlu dihapuskan dalam arti sistem pembagian kelas yang membeda-bedakan derajat berdasarkan keturunan dan membatasi manusia dalam berkembang sesuai fungsinya, misalnya menempati suatu posisi atau pekerjaan. Penghapusan sistem kasta dalam arti tingkatan sosial bukanlah hanya untuk kesetaraan namun lebih ke arah pemurnian ajaran warna yang bertujuan untuk lebih membuat orang dapat mencapai kebahagaiaan dengan mengembangkan hakekat dirinya berdasarkan guna dan karma tanpa dibatasi garis keturunan. Sistem kasta di Bali yang mengarah ke tingkatan sosial dapat dihapuskan, hal tersebut dapat terjadi dengan didukung oleh faktor-faktor sebagai berikut : a) Kesadaran beragama yang semakin tinggi, akan menyebabkan masyarakat mengetahui hakekat ajaran Warna di dalam Ajaran Agama Hindu, yang berdasarkan guna dan karma. b) Perubahan sosial masyarakat, seperti akses pendidikan dan pekerjaan. Akses pendidikan dan pekerjaan yang merata ke semua pihak, membuat semua orang dari segala golongan dapat meningkatkan kualitas hidupnya, dan bisa mengubah hidupnya. c) Dukungan Pemuka Agama dan Lembaga Agama. Sebagai contoh Bhisama Parisadha pada tahun 2002 mengenai penerapan ajaran Catur Warna bukan Kasta. Penghapusan sistem kasta di Bali dalam arti pembagian kelas berdasarkan keturunan dapat dilakukan di Bali dan di Indonesia. Penghapusan kasta tersebut akan memberikan kesetaraan kepada semua orang untuk dapat mengembangkan profesionalisme dalam rangka mendapatkan peranan dan fungsi dalam pembangunan manusia dan masyarakat tanpa melihat garis keturunan, namun melihat kepada prestasi atau hasil yang dapat dicapai. Pengelompokkan masyarakat berdasarkan Varna bukan kasta, akan menumbuhkan hubungan sosial yang saling membutuhkan, dimana setiap warna dapat saling mengisi antara satu warna dengan warna lainnya.

UTS Sosiologi Agama

I Gde Wiyadnya

DAFTAR PUSTAKA

Arwati, Ni Made Sri. 1992. Materi Pokok Sejarah Agama Hindu, 1-6, PAHD 2331 / 2 SKS. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu dan Budha, Universitas Terbuka. Cahya. 2010. Kasta Dulu dan Kini di Bali (Online). (http://catatan.legawa.com/2010/09/kastadulu-dan-kini-di-bali/, diakses 7 Desember 2011). Danandjaja, James, Prof, Dr, MA. 2003. Diskriminasi Terhadap Minoritas Masih Merupakan Masalah Aktual di Indonesia Sehingga Perlu Ditanggulangi Segera (Online) (http://www.lfip.org/english/pdf/bali-seminar/Diskriminasi%20terhadap%20minoritas%20%20james%20danandjaja.pdf, diakses 6 Desember 2011). Dwija, Bhagawan. 2009. Hindu Dalam Wacana Bali Centris (Online). http://balebanjar.com/site/index.php?option=com_content&view=article&id=83:hindudalam-wacana-bali-centris&catid=46:opini&Itemid=61, diakses 7 Desember 2011) Kementerian Agama RI. Data Penduduk Menurut Agama Tahun 2009 (Online). (http://www.kemenag.go.id/file/dokumen/PeddkAgama09h1.pdf, diakses 6 Desember 2011). Manuaba, Ida Bagus Made Oka Yusa, SH. (Online). (http://www.denpasarkota.go.id/instansi/?cid==EDN&s=kritik&xid=1285, diakses 7 Desember 2011). Kerepun, Made Kembar. 2004. Benang Kusut Nama Gelar di Bali. Denpasar: CV Bali Media Adhikarsa Mustika, Made. 2002. Fatwa Mengikis Kasta (Online). (http://majalah.tempointeraktif.com/id/arsip/2002/11/11/AG/mbm.20021111.AG82353.id.ht ml, diakses 7 Desember 2011). Noor, Irfan, M. Hum. Identitas Etnik dan Multikulturalisme (Online). (http://ppsantasari.ac.id/artikel_detail.cfm?judul=161, diakses 8 Desember 2011) Praprtini, Dra, M.Pd, Utama, I Wayan Budi, Drs, M.Si, Kumara, I Made Jaya, Drs, M.Hum, dkk. 2009. Materi Pokok Sosiologi Hindu, 1-6, PAH / 2 SKS. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarat Hindu Departemen Agama RI. Susila, I Nyoman, S.Ag, M.Si, Wandri, Ni Wayan, Dra, M.Si, Sukrawati, Ni Made, Dra, M.Si, dkk. 2009. Materi Pokok Acara Agama Hindu, 1-9, PAH / 3 SKS. Jakarta: Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarat Hindu Departemen Agama RI. Wiana, Ketut. 1993. Kasta dalam Hindu: kesalahpahaman berabad-abad. Denpasar: Yayasan Dharma Naradha. Wikipedia. Budaya (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, diakses 8 Desember 2011) -------------. Diskriminasi (Online). (http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya, diakses 8 Desember 2011)

UTS Sosiologi Agama

I Gde Wiyadnya