Anda di halaman 1dari 11

I. PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Annelida (dalam bahasa latin, annelus = cincin) atau cacing gelang adalah kelompok cacing dengan tubuh bersegmen. Berbeda dengan Platyhelminthes dan Nemathelminthes, Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata), namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Filum Annelida merupakan cacing selomata berbentuk gelang yang memiliki tubuh memanjang, simetri bilateral, bersegmen, dan permukaannya dilapisi kutikula, dinding tubuh dilengkapi otot, memiliki prostomium dan sistem sirkulasi, saluran pencernaan lengkap, sistem ekskresi sepasang nefridia di setiap segmen, sistem syaraf tangga tali, sistern respirasi terdapat puda epidermis, reproduksi monoesis atau diesis dan larvanya trokofor atau veliger. Kebanyakan cacing Annelida hidup akuatik di laut dan terestrial di air tawar atau darat. Cacing-cacing anggota filum ini tubuhnya beruas-ruas, beberapa organ (misalnya pencernaan) membentang sepanjang tubuh, organ yang lain seperti saluran pembuangan, ada di setiap ruas. Annelida mempunyai rongga tubuh atau coelem, rongga ini tidak saja berisi organ-organ yang terbentuk dari mesoderm tetapi juga dilapisi oleh lapisan mesoderm. Annelida merupakan hewan simetris bilateral, mempunyai sistem peredaran darah yang tertutup dan sistem syaraf yang tersusun seperti tangga tali. Pembuluh darah yang utama membujur sepanjang bagian dorsal sedangkan sistem syaraf terdapat pada bagian ventral. Filum Annelida dibagi menjadi kelas Polychaeta, Oligochaeta, Archiannelida, dan Hirudinea. pembagian ke dalam kelas terutama didasarkan pada segmentasi tubuh. seta, parapodium, sistem sirkulasi, ada tidaknya batil isap, dan sistem reproduksi. Telah diketemukan 12.000 spesies yang hidup di air tawar, laut dan tanah. Contoh spesies annelida yang terkenal adalah cacing tanah (Lumbricus sp.) cacing ini hidup di tanah, makanannya berupa sisa tumbuhan dan hewan. Charles Darwin ahli biologi yang termahsur adalah orang yang pertama kali menyatakan bahwa cacing tanah mempunyai peranan yang penting dalam menggemburkan tanah. Karena hidup di dalam tanah, cacing ini membuat liang-liang sehingga tanah menjadi berpori dan mudah diolah.
1

Cacing tanah juga mencampur dedaunan dengan tanah, jadi menaikan kandungan humus tanah. Sebagian besar anelida hidup dilaut, yaitu diliang-liang atau dibawah karang yang dekat dengan pantai, misalnya neries. Golongan lain dari annelida yang banyak dikenal adalah lintah pengisap darah. Lintah mempunyai balik penghisap dikedua ujung badanya. Batil penghisap posterior dipergunakan untuk melekatkan diri pada inang, sedangkan batil penghisap anterior dipergunakan untuk menghisap darah. 1.2 Perumusan Masalah Ditinjau dari latar belakang yang telah dijelaskan diatas maka kami dapat membuat rumusan masalah sebagai berikut: A. Apa yang dimaksud dengan Annelida? B. Bagaimana struktur bentuk tubuh Annelida? C. Apa saja yang termasuk ke dalam klasifikasi Filum Annelida? D. Apa saja makanan Annelida? E. Bagaimana daur hidup Annelida? F. Apa saja keterkaitan annelida dengan eksosistem air? II. PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Hewan filum Annelida berasal dari kata latin annul/annelus yang berarti cincin, gelang dalam bahasa Yunani eidos = bentuk yang dikenal sebagai cacing gelang. Tubuh anggota filum ini bersegmen tertutup kutikula yang merupakan hasil sekresi dari epidermis, sudah ada rongga tubuh (coelom), dengan metamerisme sebagai ciri utamanya: pembagian rongga tubuh, sistem saraf, peredaran darah, dan sistem ekskresinya metamerik. Saluran pencernaan lengkap (mulut-usus-anus), berbentuk tubular, memanjang seluruh tubuh. Respirasi dengan epidermis ataupun insang (pada cacing tabung). Organ reproduksi hermafrodit (kelas olygochaeta dan hirudinea), dengan hewan langsung berbentuk hewan dewasa, atau beruas dua (kelas archiannelida dan polychaeta), dengan melalui fase larva trokofor. Hidup di dalam
2

tanah yang lembab, dan dalam air. Umumnya annelida hidup bebas, ada yang hidup dalam lubang, beberapa bersifat komensal pada hewan akuatis, dan ada juga yang bersifat parasit pada vertebrata.

2.2 Ciri Umum Ciri umum filum Annelida adalah tubuh terbagi menjadi ruas-ruas yang sama panjang sumbu anterior posterior. Istilah lain untuk ruas tubuh yang sama ialah metamere, somite dan segmen. Bagian tubuh paling anterior disebut prostomium bukanlah suatu ruas, demikian pula bagian di ujung posterior yang disebut pigidium, dimana terdapat anus. Segmentasi pada annelida tidak hanya membagi otot dinding tubuh saja melainkan juga menyekat rongga tubuh atau coelom dengan sekatan yang disebut septum (septa : jamak). Tiap septum terdiri atas dua lapos peritonem, masing-masing berasal dari ruas di muka dan dibelakangnya. Habitatnya terdapat di laut, air payau, air tawar dan beberapa di darat. 2.3 Bentuk Tubuh Annelida merupakan hewan tripoblastik yang sudah memiliki rongga tubuh sejati (hewan selomata). Namun Annelida merupakan hewan yang struktur tubuhnya paling sederhana. Annelida juga memiliki segmen di bagian luar dan dalam tubuhnya. Antara satu segmen dengan segmen lainya terdapat sekat yang disebut septa. Pembuluh darah, sistem ekskresi, dan sistem saraf di antara satu segmen dengan segmen lainnya saling berhubungan menembus septa. Ruas tubuhnya (segmen) disebut Metameri terdiri dari alat ekskresi (nefridium), lubang reproduksi, otot dan pembuluh darah. Annelida memiliki panjang tubuh sekitar 1 mm hingga 3 m. Contoh annelida yang panjangnya 3 m adalah cacing tanah Australia. Tubuh terbagi menjadi ruas-ruas (segmen) yang sama, baik di bagian dalam dan di bagian luar tubuh, kecuali saluran pencernaan dan sepanjang sumbu anterior-posterior, keadaan demikian disebut metarisma dan masing-masing ruas disebut metamere.

2.4 Makanan Makanan annelida bermacam-macam tergantung habitatnya. Untuk kelas polychaeta ada yang karnivor atau raptorial feeder, mangsa terdiri atas avertebrata kecil misalnya saja protozoa (Buchsbam,1962). Tidak hanya itu ada juga yang pemakan endapan, secara langsung maupun tidak langsung contohnya Notomastus dan jenis Terrebellidae (Michael dalam Barnes,1974). Makanan pada cacing oligochaeta yaitu ganggang hijau, filamen, diatom, dan detritus. Genus Chaetogaster merupakan satu-satunya oligochaeta yang karnivor, dan memakan crustacea kecil, rotifera serta avertebrata kecil lain. Pada hirudinea sekitar 75% dari jumlah spesies lintah yang telah dikenal adalah ektoparasit penghisap darah. Jenis lainnya banyak yang predator, dan memangsa cacing, siput dan larva serangga misalnya saja Glossiphonia dan Helobdella. 2.5 Alat Gerak Annelida bergerak dengan kontraksi otot tubuhnya. Rongga tubuh Annelida berisi cairan yang berperan dalam pergerakkan annelida dan sekaligus melibatkan kontraksi otot. Ototnya terdiri dari otot melingkar (sirkuler) dan otot memanjang (longitudinal). Annelida juga memiliki seta yang keras seperti kitin. Seta merupakan bulu kasar/rambut pada invertebrata. Seta terdiri dari notopodium, neuropodium, acicula dan otot yang bekerja untuk berjalan, merangkak, bersembunyi dan berenang. Pada polychaeta memiliki seta yang banyak, sedangkan pada olygochaeta memiliki seta yang sedikit. Seta ini terdapat pada
4

tonjolan di samping. Tiap segmen terdapat parapodia untuk lokomosi. Parapodia ini terdiri dari sejumlah seta. 2.6 Klasifikasi Filum Annelida Annelida dibagi menjadi tiga kelas, yaitu Kelas Chaetopoda, Kelas Archiannelida dan Kelas Hirudinea. A. Kelas Chaetopoda (cacing berambut banyak) Kelas Chaetopoda, merupakan cacing annelid yang hidup dilaut, air tawar dan di darat, dengan ruas-ruas tubuh yang kelihatan nyata, mempunyai skat-sekta antara, bulu kaku dan sebuah rongga tubuh. a. Ordo Polycheta Polychaeta (dalam bahasa yunani, poly = banyak, chaetae = rambut kaku) merupakan annelida berambut banyak.Tubuh Polychaeta dibedakan menjadi daerah kepala (prostomium) dengan mata, antena, dan sensor palpus. Polychaeta memiliki sepasang struktur seperti dayung yang disebut parapodia (tunggal = parapodium) pada setiap segmen tubuhnya.Fungsi parapodia adalah sebagai alat gerak dan mengandung pembuluh darah halus sehingga dapat berfungsi juga seperti insang untuk bernapas. Setiap parapodium memiliki rambut kaku yang disebut seta yang tersusun dari kitin. Contoh spesies Polychaeta yang sesil adalah cacing kipas (Sabellastarte indica) yang berwarna cerah. Kebanyakan Polychaeta hidup di laut serta memiliki parapodia dan setae. Sedangkan yang bergerak bebas contoh spesiesnya adalah Nereis virens (cacing pasir), Marphysa sanguinea, Eunice viridis (cacing palolo), dan Lysidice oele (cacing wawo).

Klasifikasi Kigdom Filum Ordo Familia Genus Spesies : Animalia : Chaetopoda : Polycheta : Nereidae : Nereis : Nereis vireis (Romimohtarto, 2007:163)

Cacing ini terkenal sebagai cacing pendiam. Sistem digesti dimulai dari faring ke esophagus, dan terus ke usus (ventrikulo-intestinum). Ke dalam esophagus itu bermuara dua kantong kelenjar usus berkonstriksi secara teratur. Sistem respirasi dan sirkulasi berlangsung melalui kulit, terutama di parapodia. Darahnya mengandung pigmen merah (hemoglobin), mengalir dalam pembuluh-pembuluh kontraktil yang disebut pembuluh-pembuluh longitudinal dorsal. Darah dalam pembuluhpembuluh ini mengalir ke anterior, sedangkan darah dalam pembuluh-pembuluh longitudinal ventral mengalir ke posterior. Sistem ekskresi dalam tiap segmen, kecuali yang terakhir dan yang pertama, terdapat sepasang nefridium untuk membersihkan segmen disebelah anterior dari segmen tempat nefridium terdapat. Sistem saraf terdapat ganglion serebral atau ganglion suprasofageas, dapat juga disebut otak yang terletak di sebelah dorsal kepala. Ganglion suprasofegeal itu dihubugnkan dengan ganglion subesofageal oleh 2 buah saraf sirkumesofageal. Dari ganglion subesofageal itu mengalir ke belakang saraf ventral. Dalam tiap metamer (segmen), batang saraf ventral itu membuat tonjolan sebagai segmen ganglion. Batang saraf ventral bercabang-cabang lateral. Sistem reproduksi, dimana Nereis ini bersifat diesius. Testis atau ovarium terbentuk pada dinding selom, dan tersusun segmental (beberapa atau banyak segmen). Gamet tua keluar dengan paksa melalui dinding tubuh. Luka pada dinding akibat keluarnya gamet itu segera tertutup kembali. Fertilisasi terjadi di dalam air dan zigot tumbuh menjadi trokofor. b. Ordo Oligochaeta Oligochaeta (dalam bahasa yunani, oligo = sedikit, chaetae = rambut kaku) yang merupakan annelida berambut sedikit. Oligochaeta tidak memiliki parapodia, namun memiliki seta pada tubuhnya yang bersegmen. Contoh spesies dair Oligochaeta yang paling terkenal adalah cacing tanah.Jenis cacing tanah antara lain adalah cacing tanah Amerika (Lumbricus terrestris), cacing tanah Asia (Pheretima), cacing merah (Tubifex), dan cacing tanah raksasa Australia (Digaster longmani). Cacing tanah, yang cenderung memiliki sedikit setae yang bergerombol secara langsung dari tubuhnya. Cacing tanah memiliki kepala atau parapodia yang kurang berkembang. Pergerakannya dengan gerak terkoordinasi dari otot-otot tubuh dibantu dengan setae. Cacing tanah tinggal dalam tanah lembab, karena badan yang lemnan digunakan untuk pertukaran udara. Cacing tanah mempunyai bentuk tubuh memanjang, gilig, dengan

segementasi Nampak jelas dari luar sebagai lipatan-lipatan kutikula. Cacing ini memakan oarganisme hidup yang ada di dalam tanah dengan cara menggali tanah.Kemampuannya yang
6

dapat menggali bermanfaat dalam menggemburkan tanah.Manfaat lain dari cacing ini adalah digunakan untuk bahan kosmetik, obat, dan campuran makan berprotein tinggi bagi hewan ternak.

Klasifikasi Kingdom Filum Classis Ordo Familia Genus Spesies : Animalia : Annelida : Chaetopoda : Oligochaeta : Lumbricidae : Lumbricus : Lumbricus terrestris (Jasin, 1984: 123)

Sistem pencernaan berupa sebuah tabung lurus mulai dari mulut lalu faring yang kuat dan membengkak (segmen 2-6), esophagus (segemen 6-14), ingluvies (tembolok) yang berdinding tipis (segmen 14-17), lambung tebal (segmen 17-18), kemudian usus halus (segmen 19 sampai segemen terakhir) dan anus. Sistem respirasi dan sirkulasi, dimana cacing tanah bernapas malalui kutikula yang menutupi seluruh tubuhnya. Pernapasan berlangsung hanya jika kutikula itu basah. Pembuluh-pembuluh kapiler dalam tubuh mengambil oksigen dan melepaskan CO2 . Sistem pembuluh darah terdiri dari 2 pembuluh longitudinal utama dan 3 pembuluh longitudinal lainnya yang lebih kecil. Darah mengalir ke depan dalam pembuluh darah dorsal melalui sepasang jantung yang berotot, masing-masing dalam segmen ke7-11, terus ke pembuluh darah ventral setelah itu darah mengalir ke dinding tubuh, lalu kembali lagi ke pembuluh dorsal melalui 3 pembuluh longotidinal yang kecil-kecil itu. Darah cacing tanah berwarna merah. Darah terdiri dari cairan plasma yang mengandung amoebosit, yaitu butiran-butiran yang tidak berwarna. Sistem pembuangan (ekskresi) berupa tabung nephridia bergelung di setiap segmen dengan dua lubang yaitu satu corong bersilia yang mengumpulkan cairan coelom, dan satu lainnya adalah lubang keluar tubuh. Antar dua lubang itu, tabung nephridia membuang zat sampah dari saluran peredaran darah. Sistem saraf berupa sebuah rantai ganglion ventral, tipa segmen dengan rantai, mulai dari segmen ke-4. Di samping itu ada ganglion suprafangeal anterior yang juga disebut otak

yang terletak dalam segmen ke-3. Korda saraf disekitar faring menghubungkan otak dengan ganglion venreal pertama. Sistem reproduksi cacing tanah bersifat hermaprodit, tetapi tidak terjadi fertilisasi oleh dirinya sendiri (self-fertilizing). Di sini ada 2 pasang testis, masing-masing terletak dalam segemn yang dibungkus oleh vesikula seminalis yang berjumlah 3 pasang. Kopulasi berlangsung di malam hari. Selama kopulasi reseptakulum (kira-kira 3 jam), spermatozoa dari ekor cacing dipindahkan ke dalam reseptakulum seminalis cacing lain. Biasanya terjadi fertilisasi silang. Setelah kopulasi, dua ekor cacing berpisah. Kokom kemudian terbentuk pada masing-masing cacing kira-kira pada klitelium. Setelh kokon menerima telur dari spermatozoa, kemudian cacing menarik kembali kokon belakang dan lubang kokon tertutup. Kokon itu kemudian membungkus zigot-zigot yang terbentuk, dan masing-masing zigot tumbuh menjadi cacing kecil dalam kokon. Kokon yang berisi cacing-cacing kecil itu diletakkan dakan tanah yang lembab. B. Kelas Archiannelida Kelas Archiannelida merupakan Annelida laut yang kecil tidak mempunyai setae, tidak mempunyai parapoda. Ruas-ruas tubuhnya tak dapat dibedakan dari luar. Prostomiumnya mempunyai sepasang tentakel. Lubang mulutnya terletak dibagian bawah dari ruas pertama dan lubang anusnya di ruas terakhir. Sepasang celah berbulu getar masing-masing di sisi prostomium. Rongga tubuh terbagi-bagi menjadi ruang-ruang oleh sekat-sekat. Alat-alat dalam diulang-ulang keberadaannya sehingga hamper setiap tuas memiliki rongga tubuh, otot longitudinal, sepasang nefridia, sepasang gonad, satu bagian dari saluran pencernaan dan bagian dari benang saraf ventral. Anggota-anggota kelas ini hidup di laut, struktur tubuh masih sederhana. Bersifat diesius atau hermafrodit. Contoh spesiesnya adalah Polygordius sp. Dimana hewan ini hidup disepanjang pantai, bentuknya menyerupai larva poliketa yang primitive atau sebagai poliketa yang telah mengalami degenerasi. Bentuknya seperti benang dngan panajng 100 mm, dan penampang dengan radius kira-kira 1 mm, dari luar somit (segmen) tidak nampak jelas. Prostomium dengan 2 buah tentakel perasa. Alat-alat tubuh dalam seperti pada polikata umumnya, tetapi lebih sederhana. Selom dibagi ke dalam kompartemen-kompartemen, tiap kompartemen dilengkapi dengan sepansang nefridia. Sistem saraf terletak dalam epidermis. Perkembangan-biakan Polygordius mencakup Larva berbentuk trokofor, somit-somit terbentuk di bagian posterior selama proses metemorfosis. Dewasanya tubuh melalui perpanjangan ujung anus. Perpanjangn menjadi beruas-ruas dan dengan pertumbuhan yang berkelanjutan akhirnya menjadi hewan dewasa.
8

C. Kelas Hirudinea Hirudinea merupakan kelas annelida yang jenisnya sedikit. Hewan ini tidak memiliki arapodium maupun seta pada segmen tubuhnya. Panjang Hirudinea bervariasi dari 1 30 cm.Tubuhnya pipih dengan ujung anterior dan posterior yang meruncing. Pada anterior dan posterior terdapat alat pengisap yang digunakan untuk menempel dan bergerak. Sebagian besar Hirudinea adalah hewan ektoparasit pada permukaan tubuh inangnya.Inangnya adalah vertebrata dan termasuk manusia.Hirudinea parasit hidup denga mengisap darah inangnya, sedangkan Hirudinea bebas hidup dengan memangsa invertebrata kecil seperti siput. Contoh spesies Hirudinea parasit adalah Hirudo medicinalis (lintah). Linta mencapai panjang 5-8 cm, pipih dorsoventral, dengan 26 metamer, tetpai dari luar nampak tiap metamer itu mempunyai 2-5 anulasi (cincin yang melingkari tubuh). Pada linta tidak ada setae dan parapodia. Pada sebelah anterior terdapat sebuah penghisap oral, dan pada sebelah posterior ada lagi sebuah kedua penghisap itu untuk menempel pada inang waktu mneghisap darah. Mulut mempunyai 3 buah ranah dari kitin yang tersusun dalam segitiga. Tiap rahang tertutup dengan sersi (gigi-gigi kecil seperti pada gergaji). Segemen 9-11 berfungsi sebagai klitelium. Pada Saat merobek atau membuat lubang, lintah mengeluarkan zat anestetik (penghilang sakit), sehingga korbannya tidak akan menyadari adanya gigitan. Setelah ada lubang, lintah akan mengeluarkan zat anti pembekuan darah yaitu hirudin. Dengan zat tersebut lintah dapat mengisap darah sebanyak mungkin.

Klasifiksi: Kingdom Filum Classis Ordo Familia Genus Spesies : Animalia : Annelida : Hirudinea : Holoturoidea : Hirudoaceae : Hirudo : Hirudo medicinalis (Jasin, 1984: 131)

Sistem pencernaan linta dimulai dari mulut terus ke faring yang berotot (segmen 4-8) dan dikelilingi dengan kelenjar ludah. Kelenjar ini menghasilkan secret yang mengandung bahan anti-koagulasi (mencegah mengentalnya darah). Dari faring terus ke tembolok yang dilengkapi dengan 11 pasang kantung lateral memanjang sampai segmen ke-18. Kantungkantung yang memanjang itu kemudian bersatu lagi menjadi lambung yang di sebelah
9

dalamnya terdapat lipatan-lipatan spiral internal yang berguna untuk mencerna darah yang mengalir dari tembolok secara berangsur-angsur. Dari lambung saluran digesti melanjut ke usus, rectum, dan berakhir sebagai anus disebelah posterior. Sistem respirasi dan sirkulasi berlangsung melalui permukaan kulit. Darah yang mengandung hemoglobin mengalir dalam pembuluh-pembuluh longitudinal yang berotot di sebelah lateral tubuh. Di sebelah dorsal dari ventral tuubh juga ada sinus-sinus berdinding tipis yang secara tidak langsung menghubungkan pembuluh-pembuluh longitudinal berotot itu dengan ronga-rongga dalam selom. Sistem ekskresi dimana setiap segmen dari segemen ke 7-23 berisi nefridia yang berpasangan. Masing-masing nefridia mempunyai ekspnasi berupa vesikula yang berbentuk gelembung dan merupakan muara saluran ekskresi. Sistem saraf pada lintah sama seperti pada cacing tanah, tetapi pada linta ganglionganglion ventralnya lebih jelas, sedangkan ganglion serebral lebih kecil. Linta bermata 10 buah (5 pasang) dan terdapat pada 5 segmen pertama. Pada segmen-segmen selanjutnya terdapat organ-organ sensoris. Sistem reproduksi dan perkembangbiakan lintah itu hermaprodit dengan beberapa pasang tetstis dan satu pasang ovarium. Untuk reproduksi diperlukan fertilisasi silang. Massa sel sperma (spermatofor) yang telah mengental (aglutinasi) dimasukan ke dalam vagina lintah partenernya melalui penis. Fertilisasi berlangsung secara internal dan pekembangan tejraid dalam kokon serti cacing tanah. Tiap telur yang dibuahi menjadi zigot dan tumbuh menjadi linta-linta kecil dalam kokon.

2.7 Siklus Hidup

10

III. KETERKAITAN ANNELIDA DENGAN EKOSISTEM AIR Cacing polychaeta merupakan makanan alami bagi udang windu, Penaeus monodon di tambak, menjadikan warna udang lebih cemerlang. Jenis Sabellidae dan Serpulidae seperti Sabella pavonina dan Spirografis spalanzanit terkenal keindahannya berbentuk seperti bunga gerbra dengan warna seperti bulu merak, diperdagangkan untuk akuarium laut. Sedangkan ada beberapa polychaeta yang merugikan, yaitu Polydora dari famili Spionidae biasa membuat liang pada cangkang tiram yang membentuk huruf u, dan mengakibatkan turunnya harga tiram dipasaran. (Barnes 1974) Cacing tubificid di sungai tercemar dan saluran pembuangan dari pemukiman adakalanya sangat banyak, sehingga bisa menjadi mata pencahariaan para pengumpul cacing biasanya cacing sutera. Cacing akuatik acapkali merupakan inang perantara beberapa parasit ikan, misalnya Auloforus furcatus dan Dero limosa, keduanya famili Naidiae, merupakan inang perantara bagi cacing pita, Lyctocestus parvulus, merupakan parasit anak ikan lele dumbo. Cacing Hirudo medicinalis digunakan sebagai pengobatan tradisional untuk

menyembuhkan bengkak, memar, dan bengkak pada sakit gigi. Ada juga berupa parasit yaitu infeksi Piscicolidae di kolam ikan adakalanya menimbulkan mortalitas yang tinggi terhadap anak ikan. IV. DAFTAR PUSTAKA Suwignyo, Sugiarti.dkk.1998.Avertebrata Air untuk Mahasiswa Perikanan. Institut Pertanian Bogor:Bogor. Kastawi, Yusuf.dkk. 2003. Zoologi Avertebrata. Jica: Malang. Tim Ganesha Operation. 2004. Instan Biologi SMA.Erlangga: Jakarta. Oemarjati, Boen S dan Wisnu Wardhana. 1990. Taksonomi Avertebrata Pengantar Praktikum Laboratorium. UI Press: Jakarta. Akhyar,M. Salman. 2004. BIOLOGI untuk SMA Kelas 1(KelasX) Semester2. Bandung : Grafindo Media Pratama.

11