Anda di halaman 1dari 7

bahaya Obesitas saat Kehamilan

Kegemukan ternyata juga menjadi ancaman yang cukup serius bagi ibu hamil. Tidak hanya pada masa kehamilan, ibu yang memiliki kelebihan berat badan, kemungkinan akan mengalami masalah ketika persalinan dan pasca persalinan. Kebanyakan ibu hamil mengalami obesitas karena kelebihan makan. Mitos yang mengatakan bahwa ibu hamil makan untuk dua orang menjadikan para ibu hamil makan dengan porsi berlebih. Akhirnya, terjadilah penumpukan kalori dan sisa asupan energi yang berujung pada diabetes. Mitos tersebut keliru, sebenarnya kebutuhan makan ibu hamil hanya naik rata-rata 10-15 persen. Saat ini, kasus diabetes pada masa kehamilan (gestational diabetic) semakin meningkat. Penyebab utamanya adalah obesitas. Akibat peningkatan risiko tersebut, setiap ibu hamil diwajibkan melakukan screening kadar gula darah terutama saat usia kehamilan menginjak minggu ke 24-28. Ibu hamil disarankan untuk mengatur berat badan agar tetap berada pada kondisi ideal. Peningkatan berat badan di trimester pertama memang relatif sedikit, tidak naik atau bahkan berkurang karena muntah-muntah. Peningkatan berat badan yang cukup pesat terjadi di trimester 2 dan 3, pada periode inilah perlu dilakukan pemantaun ekstra terhadap berat badan. Seusai persalinan, ragam komplikasi masih menunggu. Infeksi seusai bersalin akibat banyaknya pembuluh darah si ibu hamil yang tersumbat sering terjadi. Selain itu, lemak yang berlipat-lipat pada lapisan kulit merupakan media yang kondusif untuk tumbuhnya kuman sehingga infeksi pun sangat mungkin terjadi. Risiko lainnya, plasenta yang berfungsi menyuplai oksigen menyempit karena lemak. Padahal, terhambatnya suplai oksigen dapat merusak sel-sel otak janin. Sehingga kecerdasan si kecil pun bisa jadi berkurang. Kemungkinan buruk lain, janin bisa mengalami gangguan paru-paru maupun terlahir obesitas.

Pencegahan dan Pencegahan Obesitas saat Kehamilan


Hal pertama yang dilakukan dokter adalah melakukan serangkaian tes di trimester awal. Perlu dilakukan pemeriksaan gula darah, tekanan darah, dan pengukuran berat badan. Pemeriksaan ini diulang lagi di akhir trimester 3 untuk mengetahui apakah sang ibu berisiko terkena diabetes dan hipertensi. Selanjutnya, dilakukan pemantauan terhadap perkembangan janin dari bulan ke bulan. Pencegahan lainnya adalah dengan cara membatasi kalori. Cara ini memang sering jadi kontraversi karena, di sisi lain, janin membutuhkan nutrisi lebih. Pengurangan kalori ditakutkan akan mengganggu perkembangan janin.

Yang terpenting, komposisi makanan harus seimbang. Selain mengatur pola makan, dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik. Jalan pagi sangat baik untuk menjaga konsisi ibu tetap sehat. Bila asupan nutrisi dari makanan yang dikonsumsi tidak mencukupi, sebaiknya mengonsumsi food suplement. HD Clover Honey, sebagai madu terbaik yang tidak melalui proses pemanasan ataupun penyaringan sehingga kandungan enzim dan nutrisinya tetap utuh. Dilengkapi dengan konsumsi HD Polenergy 520 yang mengandung lebih dari 200 jenis nutrisi diantaranya: karbohidrat, protein/asam amino; vitamin dan mineral; serta enzim yang diperlukan untuk memaksimalkan proses penyerapan nutrisi oleh tubuh maka asupan nutrisi ibu saat hamil dapat terpenuhi. Bila saat kehamilan mengalami obesitas, perlu dilakukan penanganan khusus. Sang ibu pun harus bersikap tenang karena sikap tenang sangat bermanfaat bagi perkembangan janin. Pilihlah klinik atau rumah sakit dengan fasilitas lengkap. Ini sebagai antisipasi jika ibu membutuhkan tindakan medis yang lebih kompleks.

Obesitas pada ibu hamil dapat menyebabkan keguguran

Berat badan yang terus meningkat secara berlebihan hingga menyebabkan obesitas pada ibu yang sedang hamil dapat membahayakan janin yang sedang dikandungnya. Obesitas dapat meningkatkan terjadinya risiko keguguran atau komplikasi lain yang mengancam kehidupan janin. Dengan banyaknya kejadian obesitas, sudah seharusnya bagian obstetri dan ginekologi memberikan petunjuk tentang berbagai hal yang dilarang sebelum pasiennya hamil. Dan memberikan petunjuk khusus ketika seorang ibu sudah memasuki berat badan yang berlebihan (Overweight). Beberapa langkah yang dapat digunakan: penyuluhan nutrisi sehingga mereka tidak terlalu gemuk selama hamil; melakukan tes gestational diabetes lebih dini; konsultasi dengan ahli anestesia tentang obat

anestesia yang tepat, untuk menjaga bila dibutuhkan tindakan sectio caesarea emergency. Seorang wanita harus selalu meningkatkan kebiasaan makan yang sehat, begitu juga selama hamil, dikatakan Laura Riley dari Massachusett General Hospital, seorang peneliti yang mempublikasikan berita ini pada bulan September 2005. Seorang ibu sudah semestinya menjaga tubuhnya sehingga perkembangan janin dalam kandungannya terjaga baik. "Sekali dalam hidup saya, saya berusaha makan makanan sehat yaitu saat saya hamil, ternyata tidak sulit untuk hidup sehat," kata Kristin Noon-Batmaca dari Amesbury Massachusett, tentang kehamilan anak laki-lakinya yang baru lahir dua minggu yang lalu. Selama 4 tahun ia mengalami terapi kesuburan dan gagal. Kemudian Noon Batmaca kehilangan 80 pound dan secara tidak sengaja ia hamil. Di bawah pengawasan Riley, ia kembali dapat mempertahankan kehamilannya dan selanjutnya dianjurkan untuk banyak makan buah dan sayuran. Belum diketahui apa yang menyebabkan obesitas pada kehamilan dapat menimbulkan komplikasi. Pemerintah Amerika menyebutkan sepertiga dari wanita dewasa di US adalah obese. Lebih dari 110.000 orang setiap tahun melakukan 'gastric bypass' suatu tindakan operasi untuk menguruskan badan. Dengan tindakan ini seorang wanita harus menunda kehamilan sampai 18 bulan setelah tindakan operasi. Obesitas dapat meningkatkan risiko keguguran, selain itu juga dapat menyebabkan gestational diabetes dan pre-eklampsia, yang dapat mengancam keselamatan hidup ibu dan bayinya. Efek terhadap bayi dapat menyebabkan spina bifida. Wanita gemuk tampaknya akan mengalami kehilangan darah yang lebih banyak dan mudah terinfeksi Kelebihan berat badan akan menyulitkan dalam menentukan berat badan janin, detak jantung, dan pelaksanaan anestesi epidural saat melahirkan. Laura Ne ergaard melaporkan

Obesitas atau kegemukan diteliti memiliki dampak atau risiko terhadap kehamilan. Tidak hanya terhadap kehamilan, tapi juga pada usaha untuk hamil (trying to conceive). Nah, berikut akan dijabarkan apa-apa yang sekiranya perlu diketahui dan diantisipasi sehubungan dengan kegemukan dan kehamilan. Sebelum berdiskusi lebih lanjut, ada perlunya kita mengetahui definisi atau batasan kapan seseorang dikategorikan gemuk (mengalami obesitas). Kriteria yang umum digunakan adalah Body Mass Index (Indeks Massa Tubuh) lebih dari 30 kg/m2. Cara menghitung Indeks Massa Tubuh adalah berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan kuadrat (dalam meter). Contoh seorang ibu dengan berat badan 70 kg dan tinggi badan 150 cm, maka Indeks Massa Tubuh nya adalah: 70kg/(1,5mx1,5m) = 31,1 kg/m2, dan ini termasuk kategori obesitas. Wanita yang mengalami obesitas sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter sebelum perencanaan kehamilan, termasuk memprogramkan pengaturan berat badan dan kenaikannya selama kehamilan. Hal ini disebabkan karena ada beberapa risiko kehamilan yang bisa terjadi jika si ibu hamil terlalu gemuk. Beberapa risiko yang bisa terjadi adalah: Diabetes saat kehamilan, kelainan (cacat) bawaan bagi janin (seperti spina bifida, dan lainnya), kemungkinan keguguran dan kelahiran prematur, belum lagi risiko tekanan darah tinggi saat kehamilan yang sarat komplikasi. Menurut survey, sekitar hampir 10% wanita yang mengalami kesulitan hamil disebabkan oleh kasus PCOS (Polycystic Ovarian Syndrome). Pada kasus PCOS tersebut, selain gejala ketidakteraturan siklus haid, biasanya wanita penderita juga mengalami gejala obesitas. Menurunkan berat badan dalam range Indeks Massa Tubuh akan meningkatkan profil kesehatan reproduksi seorang wanita, termasuk meningkatkan kemungkinan untuk hamil tanpa intervensi (beberapa kasus PCOS harus berakhir pada metode bantuan untuk hamil seperti inseminasi dan bayi tabung).

Jadi, wanita yang mengalami obesitas sangat disarankan untuk mengubah gaya hidup dan pola dietnya, dengan tujuan mencapai batas berat badan yang lebih ideal. Memperbanyak konsumsi buah dan sayuran juga dipercaya akan membantu. Jika sulit untuk mencapai target, ada baiknya berkonsultasi pada dokter dan ahli nutrisi untuk mengatur pola penurunan berat badan yang tepat dan sehat.

Obesitas selalu berdampak buruk pada setiap orang yang

mengalaminya. Begitu pun pada ibu hamil yang mengalami obesitas baik sebelum, maupun saat kehamilan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan American College of Obstetrics and Gynecology, obesitas selama kehamilan dapat membahayakan untuk sang ibu dan bayi. Ibu hamil yang obesitas akan mudah terkena komplikasi, termasuk diabetes selama kehamilan, dan pre eclampsia atau toxemia (gangguan yang muncul saat kehamilan, dan biasanya saat usia kehamilan mencapai 20 minggu). Kelebihan berat badan pada ibu hamil akan mengakibatkan bayi lahir prematur, sulitnya proses melahirkan karena pertumbuhan atau berat badan bayi lebih besar daripada seharusnya, kesulitan bernapas, dan kerusakan pada otak. Para ahli menyebutkan, obesitas selama kehamilan juga dapat menyebabkan efek negatif pada sang bayi saat ia dewasa nanti. Banyak dari anak-anak ini nantinya akan mengalami obesitas, baik selama masa kecilnya ataupun saat ia dewasa. Oleh karena itu disarankan para ibu hamil untuk menjaga berat badan mereka selama kehami

IN