Anda di halaman 1dari 25

Kriteria Kebisingan Sifat-sifat dari suara bising yang dianalisis: Derajat kebisingan suara secara menyeluruh (overall noise

level). Berapa desibel-kah intensitas kebisingan itu? disebabkan oleh bemacam-macam nada secara serempak. Komposisi dari suara bising. Diteliti nada apa saja yang ikut membentuk bising tadi. Cara suara bising itu mengganggu. Yang dimaksud ialah frekwensi, lamanya dan kontinuitas suara bising itu. Berapa jamkah setiap hari suara bising itu mengganggu? Apakah bising itu berlangsung terus-menerus ataukah terputus-putus? Berapa jamkah seluruhnya dialami gangguan kebisingan selama bekerja ? Baku Tingkat Kebisingan Dalam upaya pencegahan dan perlindungan masyarakat terhadap gangguan kebisingan ditetapkan baku tingkat kebisingan yaitu Keputusan MenLH No. 48/MenLH/11/1997 yang mana baku tersebut didasarkan pada nilai tingkat kebisingan siang dan malam. Nilai ini diperoleh dari hasil perata-rataan hasil pengukuran Leq selama 24 jam. Untuk Leq siang hari (Ls) pengukuran dilakukan dari jam 06.00 22.00, sedangkan pengukuran Leq malam hari (Lm) dilakukan dari jam 22.00 06.00 pagi ( hasilnya ditambah faktor pembobotan 5 dB(A). Berikut ini adalah Kawasan peruntukan dan baku tingkat kebisingan yang diijinkan.

Peraturan Menteri Kesehatan No. 718 tahun 1987 tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan menyatakan pembagian wilayah dalam empat zona. Zona A adalah zona untuk tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan atau sosial. Tingkat kebisingannya berkisar 35 45 dB. Zona B untuk perumahan, tempat pendidikan, dan rekreasi. Angka kebisingan 45 55 dB. Zona C, antara lain perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dengan kebisingan sekitar 50

60 dB. Zona D bagi lingkungan industri, pabrik, stasiun kereta api, dan terminal bus. Tingkat kebisingan 60 70 dB. Seharusnya zona-zona ini diterapkan dalam penentuan kembali Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK). Kota yang memiliki RDTRK perlu melakukan pengawasan secara berkala agar tingkat kebisingan di zona-zona itu tak melebihi nilai ambang batas. Berikut Edaran Menteri Tenaga Kerja No.SE.01/MEN/1978 ( aturan jadul )

Menurut Indonesia (Tabel diatas), Tingkat intensitas maksimal untuk Noise exposure time atau waktu paparan kebisingan selama 8 jam, 40 jam per minggu adalah 85 desibel Jika kebisingan lebih dari 85 dBA, waktu kerjanya harus diperpendek. Jika lamanya shift lebih dari 8 jam, maka tingkat kebisingan yang ada harus diturunkan. Menurut Amerika Serikat dalam Occupational Safety and Health Act , seorang yang bekerja dalam tempat dengan kebisingan suara 100 dB hanya dibenarkan bekerja paling lama dua jam sehari di tempat itu. Kalau dia bekerja lebih lama, maka akan terjadi ketulian. Menurut Australia , dalam The Australian Oto-Laryngological Society, lingkungan dengan kebisingan 100 dB seseorang masih dapat bekerja dengan aman selama 195 menit setiap hari (3 jam 15 menit), asal setiap selesai bekerja selama 15 menit dia diberi istirahat 20 menit. Kalau ia harus bekerja terus-menerus, maka dia hanya boleh diberi tugas 25 menit per hari. Menurut Amerika orang itu boleh dipekerjakan dua jam secara terus menerus.

Piranti Pemantau Kebisingan

Jenis Piranti Pengukur Kebisingan a.l.: Analog Sound Level Meter Digital Sound Level Meter Sound Level Monitor + Alarm Noise Dosimeter Integrating Sound Level Meter Contoh piranti Analog: Sound Level Meter 407703 Extech Instrument 407703 Extech termasuk sebagai instrument pembacaan langsung. Spesifikasi Range Skala 40 s/d 120 dB, terbagi dalam optional range skala Low dan High Low : 40 s/d 80 dB dan High: 80 s/d 120 dB. Portable, simple function Power battery 9V DC Calibration standard 70dB Prosedur Pengukuran -Posisikan sound level meter pada kedudukan yang merepresentasikan tingkat intensitas bising di tempat itu. -Aktifkan pengukuran dengan mengatur saklar geser pada kedudukan Lo atau Hi. Lo atau Low Intensity berada pada skala 40 s/d 80 dB, sedangkan Hi atau High Intensity berada pada skala 80 s/d 120 dB. -Pencatatan pada satu kedudukan akan terkait dengan pembacaan skala minimum dan skala maksimum. -Ambil jumlah titik kedudukan sebanyak yang diperlukan. Metode Pengukuran & Perhitungan Pengukuran, mengacu pada KepMenLH N0.49/MenLH/11/1996, 3 diantaranya adalah sebagai berikut:

- Waktu pengukuran adalah 10 menit tiap jam ( dalam 1 hari ada 24 data) - Pencuplikan data adalah tiap 5 detik ( 10 menit ada 120 data) -Ketinggian microphone adalah 1,2 m dari permukaan tanah Analisis Pemantauan Berikut contoh representasi kebisingan di tiga titik pengambilan data

atau pola tingkat kebisingan di beberapa kawasan

Pada umumnya keseluruhan pemantauan tersebut diatas, sumber bising utamanya adalah aktivitas dari kendaraan yang ada di jalan raya, kelemahannya adalah metode pengukurannya secara general tanpa memperhatikan tipe atau jenis bising utamanya, sehingga kelemahannya adalah tidak dihitungnya jumlah, jenis maupun kecepatan kendaraannya.

Cara Pengukuran Tingkat Kebisingan


Suara atau bunyi memiliki intensitas yang berbeda, contohnya jika kita berteriak suara kita lebih kuat daripada berbisik, sehingga teriakan itu memiliki energi lebih besar untuk mencapai jarak yang lebih jauh. Unit untuk mengukur intensitas bunyi adalah desibel (dB). Skala desibel merupakan skala yang bersifat logaritmik. Penambahan tingkat desibel berarti kenaikan tingkat kebisingan yang cukup besar. Contoh, jika bunyi bertambah 3 dB, volume suara sebenarnya meningkat 2 kali lipat. Kebisingan bisa menggangu karena frekuensi dan volumenya. Sebagai contoh, suara berfrekuensi tinggi lebih menggangu dari suara berfrekuensi rendah. Untuk menentukan tingkat bahaya dari kebisingan, maka perlu dilakukan monitoring dengan bantuan alat:

Noise Level Meter dan Noise Analyzer (untuk mengidentifikasi paparan) Peralatan audiometric, untuk mengetes secara periodik selama paparan dan untuk menganalisis dampak paparan pada pekerja.

Ada beberapa macam peralatan pengukuran kebisingan, antara lain sound survey meter, sound level meter, octave band analyzer, narrow band analyzer, dan lain-lain. Untuk permasalahan bising kebanyakan sound level meter dan octave band analyzer sudah cukup banyak memberikan informasi. Sound Level Meter (SLM) Adalah instrumen dasar yang digunakan dalam pengukuran kebisingan. SLM terdiri atas mikropon dan sebuah sirkuit elektronik termasuk attenuator, 3 jaringan perespon frekuensi, skala indikator dan amplifier. Tiga jaringan tersebut distandarisasi sesuai standar SLM. Tujuannya adalah untuk memberikan pendekatan yang terbaik dalam pengukuran tingkat kebisingan total. Respon manusia terhadap suara bermacam-macam sesuai dengan frekuensi dan intensitasnya. Telinga kurang sensitif terhadap frekuensi lemah maupun tinggi pada intensitas yang rendah. Pada tingkat kebisingan yang tinggi, ada perbedaan respon manusia terhadap berbagai frekuensi. Tiga pembobotan tersebut berfungsi untuk mengkompensasi perbedaan respon manusia. Octave Band Analyzer (OBA) Saat bunyi yang diukur bersifat komplek, terdiri atas tone yang berbeda-beda, oktaf yang berbeda-beda, maka nilai yang dihasilkan di SLM tetap berupa nilai tunggal. Hal ini tentu saja tidak representatif. Untuk kondisi pengukuran yang rumit berdasarkan frekuensi, maka alat yang digunakan adalah OBA. Pengukuran dapat dilakukan dalam satu oktaf dengan satu OBA. Untuk pengukuran lebih dari satu oktaf, dapat digunakan OBA dengan tipe lain. Oktaf standar yang ada adalah 37,5 75, 75-150, 300-600,600-1200, 1200-2400, 2400-4800, dan 4800-9600 Hz. Standar Kebisingan

Setelah pengukuran kebisingan dilakukan, maka perlu dianalisis apakah kebisingan tersebut dapat diterima oleh telinga. Berikut ini standar atau kriteria kebisingan yang ditetapkan oleh berbagai pihak. 1. Keputusan Menteri Negara Tenaga Kerja No.KEP-51/MEN/1999 tentang nilai ambang batas kebisingan. lihat Tabel 2.3 untuk lebih jelas. 2. Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi, dan Koperasi No.SE 01/MEN/1978 Nilai Ambang Batas yang disingkat NAB untuk kebisingan di tempat kerja adalah intensitas tertinggi dan merupakan nilai rata-rata yang masih dapat diterima tenaga kerja tanpa mengakibatkan hilangnya daya dengar yang tetap untuk waktu kerja yang terus menerus tidak lebih dari 8 jam sehari dan 40 jam seminggu NAB untuk kebisingan di tempat kerja ditetapkan 85 dB (A) Nilai Ambang Kebisingan Menurut Kep Menaker No. KEP-51/MEN/1999 Waktu Pemaparan 8 Jam 4 2 1 30 15 7,5 3,75 1,88 0,94 28,12 14,06 7,03 3,52 1,75 Detik Manit Intensitas (dB A) 85 88 91 94 97 100 103 106 109 112 115 118 121 124 127

0,88 0,44 0,22 0,11

13 133 136 139

3. Kriteria Kebisingan Menurut Department of Labor OSHA Waktu (jam/hari) 8 6 4 3 2 1,5 1 0,5 <0,25 Tingkat Kebisingan (dB A) 90 92 95 97 100 102 105 110 115

4. Standard Kebisingan Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.718/Men/Kes/Per/XI/1987, tentang kebisingan yang berhubungan dengan kesehatan Pembagian Zona Bising Oleh Menteri Kesehatan No 1 2 3 A B C Zona 35 45 50 Maksimum dianjurkan (dBA) Maksimum diperbolehkan (dBA) 45 55 60

60

70

Keterangan: Zona A = tempat penelitian, rumah sakit, tempat perawatan kesehatan dsb; Zona B = perumahan, tempat pendidikan, rekreasi, dan sejenisnya; Zona C = perkantoran, pertokoan, perdagangan, pasar, dan sejenisnya; Zona D = industri, pabrik, stasiun kereta api, terminal bis, dan sejenisnya. 5. Kriteria Kebisingan menurut Formula ACGIH dan NIOSH. Formula ini, dengan menggunakan rumus tertentu, dipakai untuk menghitung waktu maksimum yang diperkenankan bagi seorang pekerja untuk berada dalam tempat kerja dengan tingkat kebisingan tidak aman. Kriteria Kebisingan Menurut ACGIH dan NIOSH DB 80 81 82 83 84 85 86 87 88 89 90 91 Waktu Paparan yang diperbolehkan (jam) 25,4 20,16 16 12,7 10,08 8 6,35 5,04 4 3,17 2,52 2 DB 106 107 108 109 110 111 112 113 114 115 116 117 Waktu Paparan yang diperbolehkan(jam) 37,5 2,98 2,36 1,88 1,49 1,18 0,94 0,74 0,59 0,47 0,37 0,3

92 93 94 95 96 97 98 99 100 101 102 103 104 105

1,59 1,26 1 0,79 0,63 0,5 0,4 0,31 0,25 0,2 0,16 0,13 0,1 0,08

118 119 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130

0,23 0,19 0,15 0,12 0,09 0,07 0,06 0,05 0,04 0,03 0,02 0,02 0,01

Apa sih Sound level meter itu?


Sebelumnya saya pernah menjelaskan tentang sound level meter pada produk kategori beberapa waktu yang lalu, bila rekan-rekan belum pernah melihatnya saya sarankan untuk membacanya terlebih dahulu! Kalo bingung dimana klik saja di [SOUND LEVEL METER],sudah di baca? Ok kita lanjutkan Sound Level Meter adalah mediator perangkat untuk mengukur kebisingan, Kebisingan sendiri didefinisikan sebagai "suara yang tak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dsb, atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup. (JIS Z 8106 [IEC60050-801] kosa kata elektro-teknik Internasional Bab 801: Akustikal dan elektroakustik)". Jadi dapat disimpulkan bahwa kebisingan adalah bunyi atau suara yang tidak dikehendaki dan dapat mengganggu kesehatan, kenyamanan serta dapat menimbulkan ketulian, nah untuk mengetahui intensitas bising di lingkungan kerja, digunakanlah Sound Level meter dengan mekanisme kerjanya apabila ada benda bergetar, maka akan menyebabkan terjadinya perubahan tekanan udara yang dapat ditangkap oleh alat ini, selanjutnya akan menggerakan meter penunjuk.

Kenapa Sound Level Meter di perlukan untuk mengukur kebisingan suara pada industri?
Karena kita tahu bahwa kebisingan akan mempengaruhi kinerja dari tenaga kerja pada industri tersebut, karena kebisingan menyebabkan berbagai gangguan terhadap tenaga kerja, seperti gangguan fisiologis, gangguan psikologis,gangguan komunikasi dan ketulian,atau ada yang menggolongkan gangguannya berupa gangguan auditory, misalnya gangguan terhadap pendengaran dan gangguan non auditory seperti komunikasi terganggu, ancaman bahaya keselamatan, menurunnya performance kerja, kelelahan dan stress.

Diharapkan dengan menggunakan Sound level meter akan memberikan solusi bagi keselamatan tenaga kerja industri karena dengan mengetahui tingkat ukur seberapa besar intensitas suara yang didapat maka akan mendapatkan system proteksi ke tenaga kerja yang baik dan benar. Berikut merupakan alat pelindung pendengaran atas gangguan kebisingan, Alat pelindung diri yang dipakai harus mampu mengurangi kebisingan hingga mencapai level TWA atau kurang dari itu, yaitu 85 dB.

Ada 3 jenis alat pelindung pendengaran yaitu : 1. sumbat telinga (earplug), dapat mengurangi kebisingan 8-30 dB. Biasanya digunakan untuk proteksi sampai dengan 100 dB. Beberapa tipe dari sumbat telinga antara lain : Formable type, Costum-molded type, Premolded type. 2. Tutup telinga (earmuff), dapat menurunkan kebisingan 25-40 dB. Digunakan untuk proteksi sampai dengan 110 dB. 3. Helm (helmet), mengurangi kebisingan 40-50 dB

Ayo Gunakan Sound Level Meter untuk antisipasi keselamatan kerja dalam hal kbisingan di lingkungan industri!. Semoga Bermanfaat (red:alatuji.com)

Sumber diambil dari berbagai informasi di internet.

1. LATAR BELAKANG MASALAH a. Secara Umum Kuliah Magang Mahasiswa ini merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa jurusan Fisika FMIPA UNS yang memiliki bobot sks 2. Kuliah Magang ini merupakan sarana untuk pembelajaran bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang sudah didapat pada bangku kuliah di dunia kerja khususnya Ilmu Fisika. b. Secara khusus Pesatnya perkembangan teknologi menjadikan listrik merupakan kebutuhan pokok manusia. Besarnya kebutuhan ini mendorong untuk membangkitkan berbagi jenis pembangkit misalnya PLTA,PLTG,PLTGU,PLTU dan PLTN. Diantara jenis pembangkit tersebut PLTA merupakan jenis pembangkit yang relative lebih ramah lingkungan. Sumber energy air dapat digolongkan sebagai bagian dari sumber energy matahari karena keberadaanya berasal dari proses penguapan air laut melalui radiasi sinar matahari yang kemudian berakumulasi menjadi awan yang mengandung uap air untuk berubah menjadi hujan yang nantinya ditampung pada bendungan sebagai sumber air yang berpotensial tinggi ( Astu Pudjanarsa dan Djati N ,2006). Meskipun relative memiliki keramahan lingkungan yang lebih baik PLTA masih memiliki beberapa kekurangan yaitu menimbulkan kebisingan bagi lingkungan yang berasal dari generator utama yang digerakan oleh turbin. Dari hal tersebut penulis tertarik untuk mempelajari kebisingan tersebut. 2. RUMUSAN MASALAH Permasalahan yang ingin penulis amati dan pelajari adalah Pengukuran kebisingan ruang sekitar generator setelah dan sebelum dilakukan Annual Infektion(AI) . 3. TUJUAN 1. Pembelajaran terhadap penerapan ilmu Fisika yang diperoleh dari perkuliahan dalam aplikasinya di dunia industry 2. Membandingkan tingkat kebisingan sekitar ruang generator sebelum dan sesudah dilakukan Annual Infektion. 3. Menambah wawasan tentang pembangkitan PLTA. 4. MANFAAT a. Bagi Mahasiswa 1. Sebagai sarana untuk menerapakan ilmu yang didapat dalam bangku kuliah pada dunia nyata. 2. Sebagai Pengalaman awal dan melatih keterampilan untuk beradapatasi pada dunia industry. b. Bagi Perguruan tinggi 1. Sebagai sarana memperkenalkan Perguruan Tinggi kepada instansi atau perusahaan 2. Sebagai sarana menjalin kerjasama sebagai mitra kerja. 3. Sebagai sarana untuk menghasilkan mahasiswa yang berkualitas dan siap bersaing dalam dunia kerja. c. Bagi Instansi atau Perusahaan 1. Sebagai sarana untuk memperkenalkan Instansi atau perusahaan kepada khalayak umum

terutama kalangan akademis 2. Mengetahui Profil dan Arahan Profesi Jurusan fisika FMIPA UNS. 3. Sebagai sarana untuk menjalin kerjasama sebagai mitra kerja/penelitian. BAB II PROFIL PERUSAHAAN 1. Sejarah Singkat PT. Indonesia Power Pada awal tahun 1990-an, untuk mempermudah sector kelistrikan Indonesia dikeluarkannya Keputusan Presiden No. 37 tahun 1992 yang mengatur tentang pemanfaatn sumber daya swasta melalui pembangkit-pembangkit swasta yang diawali berdirinya Paiton Sawata I. Kemudian pada akhir tahun 1993, menteri pembangunan dan energi (MPE) menerbitkan kerangka dasar kebijakan yang merupakan pedoman jangka panjang restrukturisasi sector ketenagalistrikan. Pada awal tahun 1994, PLN sebagai BUMN berubah status dari perum menjadi Persero. Kemudian tanggal 3 Oktober 1995, PT. PLN (Persero) membentuk dua anak perusahaan. Yujuannya adalah untuk memisahkan misi social dan misi komersil. Misi social adalah dengan memberikan pelayanan kepada masyarakat akan kebutuhan listrik. Sedangkan untuk misi komersil, PLN membentuk anak perusahaan untuk melaksanakan fungsi pembangkitan atau penyaluran secara swasta. Salah satu anak perusahaan itu adalah PT Pembangkitan Tenaga Listrik Jawa Bali I, atau PLN PJB I. Pada tanggal 3 Oktober 2000, bertepatan dengan ulang tahun kelima, PLN PJB I berubah nama menjadi PT Indonesia Power. Perubahan itu dimaksudkan untuk menyikapi persaingan yang semakin ketat dalam bisnis ketenagalistrikan dan upaya untuk privatisasi perusahaan. PT. Indonesia Power mewarisi berbagai asset berupa pembangkit dan fasilitas-fasilitas pendukungnya. Pembangkit-pembangkit tersebut sudah memanfaatkan teknologi modern berbasis computer dengan menggunakan berbagai macam energi primer seperti air, batu bara, panas bumi dan sebagainya. PT Indonesia Power merupakan perusahaan pembangkitan tenaga listrik terbesar yang mempunyai 8 unit Bisnis pembangkitan Utama di beberapa lokasi strtegis di Jawa dan Bali. Serta juga mempunyai Unit bisnis yang bergerak di bidang jasa pemeliharaan yang disebut dengan Unit Bisnis Jasa Pemeliharaan (UBJP). Kedelapan Unit Bisnis Pembangkitan tersebut adalah: 1. Unit Bisnis Pembangkitan Suralaya 2. Unit Bisnis Pembangkitan Priok 3. Unit Bisnis Pembangkitan Saguling 4. Unit Bisnis Pembangkitan Kamojang 5. Unit Bisnis Pembangkitan Mrica 6. Unit Bisnis Pembangkitan Semarang 7. Unit Bisnis Pembangkitan Perak dan Grati 8. Unit Bisnis Pembangkitan Bali Secara keseluruhan, PT. Indonesia Power mempunyai kapasitas sebesar 9.095 MW. Ini merupakan kapasitas terpasang tersbesar yang dimiliki oleh perusahaan pembangkitan di Indonesia. 2. Profil PT. Indonesia Power PT. Indonesia Power sebagai sebuah perusahaan mempunyai paradigma, Visi, Misi, Motto, Tujuan dan Budaya perusahaan yang khas. Yaitu: a.Paradigma Perusahaan:

Hari ini lebih baik dari hari kemarin, hari esok lebih baik dari hari ini b.Visi Perusahaan: Menjadi perusahaan public dengan kinerja kelas dunia dan bersahabat dengan lingkungan Penjabaran visi: a. Maju, perusahaan bertumbuh dan berkembang sehingga menjadi perusahaan yang memiliki kinerja setara dengan perusahaan kelas dunia b. Tangguh, berarti memiliki sumber daya yang mampu beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan sulit disaingi. Sumber daya PT. Indonesia Power berupa manusia, mesin, keuangan maupun system kerja berada dalam kondisi prima dan antisipatif terhadap segala perubahan c. Andal, berarti sebagai perusahaan memiliki kinerja memuaskan stakeholder d. Bersahabat dengan lingkungan, berarti memiliki tanggung jawab sosial dan keberadaannya bermanfaat bagi lingkungan sekitar. c. Misi Perusahaan: Melakukan usaha dibidang ketenagalistrikan dan mengembangkan usaha-usaha lainnya yang berkaitan, berdasarkan kaidah-kaidah industri dan niaga yang sehat, guna menjamin keberadaan dan pengembangan perusahaan dalam jangka panjang. d. Motto Perusahaan: Bersama Kita Maju (Together for a better tomorrow) e. Tujuan: 1. Menciptakan mekanisme peningkatan efisiensi yang terus-menerus dalam penggunaan sumber daya perusahaan. 2. Meningkatkan pertumbuhan perusahaan secara berkesinambungan dengan bertumpu pada usaha penyediaan tenaga listrik dan sarana penunjang yang berorientasi pada permintaan pasar. 3. Menciptakan kemampuan dan peluang untuk memperoleh pendanaan dari berbagai sumber yang saling menguntungkan 4. Mengoperasikan pembangkit tenaga listrik secara kompetitif serta mencapai standar kelas dunia dalam hal keamanan, keandalan, efisiensi maupun kelestarian lingkungan. 5. Mengembangkan budaya perusahaan yang sehat diatas saling menghargai antar karyawan dan mitra kerja. Serta mendorong terus kekokohan integritas pribadi dan profesionalisme. f. Budaya Perusahaan: Salah satu aspek dari pengembangan sumber daya manusia perusahaan ialah pembentukan budaya perusahaan. Di PT Indonesia Power, budaya perusahaan diarahkan untuk membentuk sikap dan perilaku yang didasarkan pada 5 filosofi dasar yang diwujudkan dalam 7 nilai perusahaan. Lima filosofi dasar perusahaan, yaitu: 1. Mengutamakan pelanggan, karyawan dan pemegang saham 2. Menciptakan keunggulan untuk menjadi pelopor di bidang pembangkitan tenaga listrik. 3. menciptakan organisasi pembelajaran 4. Menjunjung tinggi etika profesi dan etika bisnis 5. Memberikan penghargaan atas prestasi Tujuh Nilai Perusahaan IP-HaPPPI yaitu: 1. Integritas, Sikap Moral yang mewujudkan tekad untuk memberikan yang terbaik kepada

perusahaan 2. Profesional, menguasai pengetahuan, ketrampilan, dank ode etik yang sesuai dengan pekerjaannya 3. Harmoni, serasi, selaras dan seimbang dalam: a. Pengembangan kualitas pribadi b. Hubungan dengan Stakeholder (pihak terkait) c. Hubungan dengan lingkungan hidup 4. Pelayanan Prima, memberi pelayanan yang memenuhi kepuasan melebihi harapan stakeholder 5. Peduli, peka, tanggap dan bertindak untuk melayani stakeholder serta memelihara lingkungan sekitar 6. Pembelajaran, terus menerus meningkatkan pengetahuan dan keterampilan serta kualitas diri yang mencakup fisik, mental, social, agama, dan kemudian berbagi dengan orang lain. 7. Innovatif, terus menerus dan berkesinambungan menghasilkan gagasan baru dalam usaha melakukan pembaharuan untuk penyempurnaan baik proses maupun produk dengan tujuan peningkatan kinerja. 3. Sejarah PLTA Wonogiri Secara administratif sungai Bengawan Solo terletak berada di dua provinsi, yaitu provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sungai Bengawan Solo ini merupakan sungai terpanjang di Pulau Jawa, sepanjang lebih kurang 1600 Km. Masalah yang menonjol pada sungai ini adalah sering terjadi banjir atau meluapnya air sungai saat musim penghujan dan mengalami kekeringan yang serius pada saat musim kemarau. Untuk mengatasi masalah tersebut maka pada tahun 1979 pemerintah membangun waduk bendungan, yang kini dikenal dengan nama BENDUNGAN SERBA GUNA GAJAH MUNGKUR WONOGIRI. Dengan dibangunnya waduk ini banyak manfaatnya, diantaranya: a. Sebagai pengendali banjir. b. Untuk irigasi Pertanian. c. Sebagai pembangkit listrik (PLTA WONOGIRI) d. Untuk pengembangan Pariwisata e. Untuk pertanian perikanan Dari data yang terlampir diatas dapat disimpulkan bahwa PLTA Wonogiri dibangun pada tahun 1979 sehubungan telah dibangunnya Waduk Gajah Mungkur. BAB III LANDASAN TEORI 1. Bagian Bagian PLTA Wonogiri a. Struktur Urutan Kerja PLTA Gambar 1. Urutan kerja PLTA Keterangan : 1) Air Waduk 2) Saringan power intake 3) Bangunan bendungan 4) Pipa pesat (Penstock)

5) Katup utama (Main Inlet Valve) 6) Kincir turbine 7) Generator 8) Tail Race (Pintu pembuangan) 9) Out put Sungai 10) Trafo Utama 11) Gardu Induk 12) Interkoneksi tenaga listrik Jawa-Bali 13) Pintu pelimpas otomatis (Spillway) b. Bendungan Utama (Main Dam) Bendungan PLTA Wonogiri mempunyai type urugan batu dan di dalam tubuh bendungan tersebut terdapat dinding kedap air yaitu urugan tanah yang dipadatkan sebagai inti (core). Data bendungan PLTA Wonogiri adalah sebagai berikut : 1. Elevasi puncak : 142 m 2. Panjang bendungan : 1440 m 3. Volume timbunan : 19.960.000 m 4. Luas daerah yang dibebaskan : 9.496.775 Ha (Terdiri dari 51 desa) 5. Penduduk yang dipindahkan : 12.500 KK (Terdiri dari 68.750 jiwa) 6. Tempat tujuan transmigrasi Th. 1980/ 1981 yaitu, Sitiung, Jambi, Bengkulu, SumSel. 7. Kecamatan yang dibebaskan : Kec. Wuryantoro, Kec. Eromoko, Kec. Pracimantoro dan Kec. Baturetno. Bendungan tersebut dilengkapi dengan pintu pelepas air sebanyak 4 buah. Jika air melebihi batas maximal yang ditentukan maka air dibuang melalui pintu pelepas ini. Pintu pelepas air ini mampu melepas air total 1360 m/s. Waduk Gajah Mungkur sebagai penampung air dari beberapa anak sungai, yaitu : s.Keduang, s.Tirtomoyo, s.Manti, s.Kladean, dsb. Mempunyai spesivikasi sebagai berikut : 1. Tinggi air maximum : EL. 137 m 2. Tinggi air minimum : EL. 127 m 3. Luas daerah aliran : 1.350 Km 4. Volume air maximum : 638.756.000 m 5. Volume air minimum : 120.000.000 m 6. Luas genangan maximum : 79,23 Km 7. Luas genangan minimum : 26,40 Km c. Pipa Pesat (Penstock) Pipa pesat (Penstock) atau terowongan pengambil air untuk PLTA memiliki spesivikasi data sebagai berikut : 1. Luas intake pintu masuk : 30 m 2. Panjang trowongan (Tanel) : 264,62 m 3. Panjang pipa pesat (Penstok) : 109 m 4. Diameter terowongan : 5,5 m 5. Diameter pipa pesat : 5,2 m (dicabang menjadi dua dengan diameter 3,6 m) 6. Berikut adalah ilustrasi skema kerja PLTA : Air yang tertampung pada waduk akan mengalir melewati pipa yang alirannya menuju ke turbine generator, dengan adanya beda potensial ketinggian antara letak air di waduk dengan letak

turbine generator maka dari air timbul energi kinetik (Kecepatan), saat itulah dengan kecepatan dan tenaga yang dimiliki oleh air, tumbukan terjadi antara tekanan air dengan kincir turbine yang menyebabkan rotor pada generator berputar dan secara otomatis terjadi pemotongan garis-garis medan magnet yang menimbulkan GGL (Gaya Gerak Listrik), dapat disimpulkan saat itu telah terjadi perubahan energi mekanik menjadi energi listrik. d. Turbine Type : Vertical Shaft Kaplan (Poros Tegak) Daya yang dibangkitkan : 26,2 MW = 12,4 MW (12.000.000 Watt) Head (Tinggi Jatuh) : Minimum : 15,1 m Normal : 20,4 m Maximum : 25 m Putaran : 273 RPM Turbine PLTA Wonogiri mempunyai ukuran kontruksi cukup berat jika dibandingan dengan kapasitasnya yang relatif kecil panjang porosnya lebih kurang 8m dalam keadaan vertical yang tertumpu dalam bantalan tekan (Trust Biering) yang berada di bawah generator yang berfungsi sebagai dudukan poros. Diatas generator bantalan pemegang poros (Guide Biering) yang berfungsi menahan berat poros bagian atas generator dan menjamin kelurusan generator. Dibawah trust biering terdapat kapling yang berfungsi sebagai penyambungan poros turbin dengan poros generator. Bantalan yang paling bawah tersebut disebut TURBINE GUIDE BIERING yang terdapat didekat runer (Baling-baling turbine) yang berfungsi menjamin kelurusan poros. Bgian tirbine yang paling bawah tersebut runer blade yang menerima tumbukan air secara langsung. Poros turbine yang berputar mempunyai masa lebih kurang 50 ton termasuk poros-poros generator dan seluruh beban poros yang berputar ditupang oleh bantalan terus yaitu bantalan yang bekerja menahan berat poros keseluruhan. Turbine PLTA Wonogiri menggunakan air untuk operasi beban penuh sebesar 30 m3/s setiap turbine pada elevasi normal. e. Generator Generator PLTA Wonogiri merupakan jenis generator sinkron tertutup dalam. Sinkron artinya dapat bekerja paralel dengan generator lainya apabila memenuhi syarat. Berkutub dalam berarti generator yang mempunyai kutub di porosnya dan kutub tersebut berputar sebagai rotor, sedangkan kumparanya berada diluar sebagai stator, jumlah kutubnya 22 buah atau 11 pasang kutub sehingga memenuhi syarat untuk persamaan frequency. Data teknik generator sebagai berikut : -. Permanen Magnet Generator Model : F5ZQ2-C-680 Daya : 7.750 KVA Tegangan : 6,6 KV Frequency : 50 Hz Faktor daya : 0,8 Lagging Phasa : 3 Phase Arus : 678 Ampere Pole (Kutub) : 22 Buah (11 Pasang) Power Faktor : 0,4 Rated Out Put : 110 V Rated Voltage : 110 V Jenis Generator Syncron berkutub dalam

Hasil Kwh/th : 35 s/d 50 Juta Kwh Machine number : A092360202 Date of manufacture : Februari 1982 -.Perubahan Energi: Turbine generator PLTA Wonogiri berfungsi untuk merubah energi kinetik menjadi energi mekanik yang kemudian diubah lagi menjadi enrgi lstrik oleh mesin generator, dengan urutan yaitu, air di bendungan mempunyai beda ketinggian dibandingkan dengan pembuangan air ke sungai, setelah melewati turbine generator. Beda ketinggian dengan keluaranya tersebut dikatakan bahwa air mempunyai beda potensial. Jika terowongan saluran air terbuka maka air akan mengalir secara grafitasi dari bendungan menuju tail race. Pada saat itulah karena adanya beda potensial maka terbentuklah energi kinetik (kecepatan). Air yang mempunyai kecepatan tersebut kemudian didalam turbine akan membentur atau menabrak sudut-sudut kincir turbine (Runer) sehingga kincir turbine dapat bergerak, pada saat itulah energi kinetik berubah menjadi energi mekanik. Sehubungan dengan berputarnya kincir pada turbine maka secara otomatis rotor pada generator ikut berputar, saat berputarnya rotor maka terjadilah pemotongan garis-garis medan magnet yang menimbulkan GGL (Gaya Gerak Listrik), dapat disimpulkan saat itu telah terjadi perubahan energi mekanik menjadi energi listrik. f. Transformator Berikut merupakan spesivikasi data Transformator yang berada di PLTA Wonogiri : SERIAL NO 820448 Cooling : ONAN Frequency : 50 Hz Phase : 3 Phase KVA : 250 % Impedence : 532 V Simbol : Yd 5 Oil : 600 Temp rise WDS : 50C Temp OIL : 50C Transformator adalah alat yang digunakan untuk merubah tegangan listrik arus bolak-balik (AC) dari tegangan rendah ke tegangan tinggi atau sebaliknya dalam keadaan yang tetap. Transformator terdiri dari dua jenis yaitu : a. Trafo tenaga yaitu trafo yang digunakan untuk merubah tegangan dengan daya yang besar atau beban pemakaian lebih besar. b. Trafo penggunaan yaitu trafo yang khusus digunakan atau dibebani oleh alat ukur listik berjenis meter-meteran. Trafo penggunaan terbagi menjadi dua jenis yaitu : 1. Trafo arus digunakan hanya khusus untuk beban ampere 2. Trafo tegangan digunakan hanya untuk beban Volt meter Data trafo utama PLTA Wonogiri : Jenis : Pasangan luar, sistem pendingin ONAN Kapasitas : 15,5 MVA. 3 Phase Tegangan primer : 6,6 Kv dihubung Delta (Segitiga) Tegangan Sekunder : 22 Kv dihubung Star (Bintang) Diagram Vektor : Yd. 5

2. Kebisingan a. Definisi Bising Kebisingan diartikan sebagai suara yang tidak dikehendaki, misalnya yang merintangi terdengarnya suara-suara, musik dan sebagainya atau yang menyebabkan rasa sakit atau yang menghalangi gaya hidup. (JIS Z 8106,IEC60050-801 kosakata elektro-teknik Internasional Bab 801:Akustikal dan elektroakustikal). Kebisingan yaitu bunyi yang tidak diinginkan dari usaha atau kegiatan dalam tingkat dan waktu tertentu yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996) atau semua suara yang tidak dikehendaki yang bersumber dari alat-alat proses produksi dan atau alat-alat kerja pada tingkat tertentu dapat menimbulkan gangguan pendengaran (KepMenNaker No.51 Tahun 1999). b. Tipe-tipe Kebisingan Kebisingan memiliki berbagai tipe diantaranya : Kebisingan spesifik Kebisingan di antara jumlah kebisingan yang dapat dengan jelas dibedakan untuk alasan-alasan akustik. Seringkali sumber kebisingan dapat diidentifikasikan Kebisingan residual Kebisingan yang tertinggal sesudah penghapusan seluruh kebisingan spesifik dari jumlah kebisingan di suatu tempat tertentu dan suatu waktu tertentu Kebisingan latar belakang Semua kebisingan lainnya ketika memusatkan perhatian pada suatu kebisingan tertentu. Penting untuk membedakan antara kebisingan residual dengan kebisingan latar belakang c. Baku Tingkat Kebisingan Baku tingkat kebisingan adalah batas maksimal tingkat kebisingan yang diperbolehkan dibuang ke lingkungan dari usaha atau kegiatan sehingga tidak menimbulkan gangguan kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan (KepMenLH No.48 Tahun 1996). Baku tingkat kebisingan (Nilai Ambang Batas,NAB) peruntukan kawasan/lingkungan dapat dilihat pada tabel dibawah ini (KepMenLH No.48 Tahun 1996) : Peruntukan kawasan / lingkungan kegiatan Tingkat kebisingan (A) a. Peruntukan Kawasan 1. Perumahan dan pemukiman 2. Perdagangan dan jasa 3. Perkantoran dan perdagangan 4. Ruang terbuka hijau 5. Industri 6. Pemerintahan dan fasilitas umum 7. Rekreasi 8. Khusus :- Bandar udara- Stasiun Kereta Api - Pelabuhan Laut- Cagar Budaya b. Lingkungan Kegiatan 1. Rumah Sakit atau sejenisnya 2. Sekolah dan sejenisnya 3. Tempat ibadah dan sejenisnya 55 70 65 50

70 60 60 70 55 55 55 Dan kebisingan yang dapat diterima oleh tanaga kerja tanpa mengakibatkan penyakit atau gangguan kesehatan dalam pekerjaan sehari-hari untuk waktu tidak melebihi 8 jamsehari atau 40 jam seminggu yaitu 85 dB(A) (KepMenNaker No.51 Tahun 1999, KepMenKes No.1405 Tahun 2002). Pada lampiran 2 KepMenNaker No.51 Tahun 1999, NAB dapat dilihat pada tabel dibawah ini : Waktu pemajanan per hari Intensitas kebisingan dB(A) 8 Jam 85 4 88 2 91 1 94 30 Menit 97 15 100 7.5 103 3.75 106 1.88 109 0.94 112 28.12 Detik 115 14.06 118 7.03 121 3.52 124 1.76 127 0.88 130 0.44 133 0.22 136 0.11 139 Tidak boleh terpajan lebih dari 140 dB(A) walaupun sesaat d. Frekuensi dan Panjang Gelombang Suatu gelombang suara memancar dengan kecepatan suara dengan gerakan seperti gelombang. Jarak antara dua titik geografis (yaitu dua titik di antara mana tekanan suara maksimum dari suatu suara murni dihasilkan) yang dipisahkan hanya oleh satu periode dan yang menunjukkan tekanan suara yang sama dinamakan gelombang suara, yang dinyatakan sebagai l(m). Apabila tekanan suara pada titik sembarangan berubah secara periodik, jumlah berapa kali di mana naikturunnya periodik ini berulang dalam satu detik dinamakan frekuensi, yang dinyatakan sebagai f(Hertz/Hz, lihat gambar gelombang sinusoidal). Suara-suara ber-frekuensi tinggi adalah suara

tinggi, dan yang ber-frekuensi rendah adalah suara rendah. Hubungan antara kecepatan suara c (m/s), gelombang l dan frekuensi f dinyatakan sebagai berikut : C = f x l . Panjang gelombang dari suara yang dapat didengar adalah beberapa sentimeter dan sekitar 20m. Kebanyakan dari objek di lingkungan kita ada dalam lingkup ini. Mutu suara dipengaruhi oleh kasarnya permukaan-permukaan yang memantulkan suara, tingginya pagar-pagar dan faktorfaktor lainnya, akan berbeda sebagai perbandingan dari panjang gelombang terhadap dimensi objek. e. Decibel DECIBELSDecibel (dB) adalah ukuran energi bunyi atau kuantitas yang dipergunakan sebagai unit-unit tingkat tekanan suara berbobot A. Yang dilakukan untuk mensederhanakan plot-plot multipel seperti pada gambar dan untuk secara kira-kira menyebandingkan kuantitas logaritmik dari stimulus untuk stimulus akustik yang diterima telinga manusia dari luar. Untuk menilai kebisingan diperlukan untuk menghitung tambahnya atau kurangnya tingkat tekanan suara berbobot A rata-ratanya dan sebagainya. BAB IV METODOLOGI 1. Tempat dan Waktu Magang Magang dilakukan di PT. Indonesia Power , Sub unit PLTA Wonogiri Jl. Bendungan Serbaguna Wonogiri pada tanggal 1-31 juli 2009. 2. Metode Penelitian Pada kegiatan magang ini dilakukan suatu kegiatan kerja lapangan meliputi kegiatan perawatan harian alat-alat pendukung pembangkitan PLTA meliputi Bateray, Grease Pump, Booster Pump,dan Oil Press Pump selain itu juga perawatan Tahunan Generator Utama. Dalam perawatan tahunan Generator Utama ini dilakukan perbandingan kebisingan dari generator sebelum dan sesudah diadakan Annual Infektion (AI). Langkah kerja dalam membandingkan kebisingan dari generator adalah sebagai berikut : Pengenalan Alat Pengukuran sebelum dilakukan Annual Infektion pada Generator utama Pengukuran setelah dilakukan Annual Infektion pada Generator utama Analisa data yang diperoleh dan membandingkan kedua data Kesimpulan 3. Alat Yang Digunakan Dalam pengukuran kebisingan dari Generator utama ini alat yang digunakan adalah Sound Level Meter. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Sajian Data Berikut ini adalah hasil pengukuran kebisingan ruang disekitar generator Sebelum dan sesudah dilakukan Annual Infektion ( AI ). Tempat Sebelum AI Sesudah AI Beban ( MW ) Beban ( MW ) 6,2 4 6,2 4 Noise ( db ) Noise ( db ) Ruang Turbin A 84 85,8 81,5 82,5 B 89,5 92 87 91,5 C 85 85 83 85 D 89 89 88,5 88,5 Ruang sekitar Turbin disimbulkan dengan huruf ABC dan D seperti keterangan berikut : A : Ruang sebelah Barat Generator B : Ruang sebelah Utara Generator C : Ruang sebelah Timur Generator D : Ruang sebelah Selatan Generator Foto : Ruang sebelah Barat Foto : Ruang Sebelah Utara Generator Generator Foto : Ruangan Sebelah Timur Foto : Sebelah Selatan Generator Generator 2. Pembahasan Annual Infektion adalah suatu kegiatan perawatan instrument PLTA meliputi turbin dan generator. Annual Infektion diadakan setiap tahun sekali yaitu pada bulan juli di PLTA Wonogiri. Dalam kegiatan ini dibagi menjadi tiga pokok pekerjaan yang dilakukan yaitu Perawatan Generator, Perawatan Turbin Bearing dan Perawatan Baling Baling Turbin. a. Perawatan Generator Dalam perawatan Generator ini kegiatan yang dilakukan meliputi pengecekan komponen generator meliputi pembersihan bagian rotor dan stator dari debu ataupun kotoran yang menempel pada bagian tersebut serta pengukuran tegangan isolasi antara rotor dan stator. b. Perawatan Turbin Bearing Perawatan Turbin Bearing dilakukan bertujuan untuk menjaga kondisi As dalam keadaan handal dan mencegah agar air tidak merambat naik yang dapat merusak kondisi As itu sendiri karena As disini memiliki perana sangat penting karena merupakan penopang utama pergerakan Turbin dan Generator. Perawatannya antara lain: - Mengukur nilai clearance As, yaitu jarak antara turbin bearing dengan As - Melepas retainer dan mengecek kondisi Carbon Ring dalam atas, dalam bawah, luar atas dan luar bawah. - Mengukur diameter Turbin Bearing - Memberikan Grease.

Jika dari pengukuran tersebut karbon Ring sudah melewat Batas Normal maka dilakukan penggantian total Carbon Ring c. Perawatan Baling-Baling Turbin Dalam perawatan Baling-Baling Turbin ini yang dilakukan diantaranya meliputi pembersihan Baling-Baling Turbin dari korosi yang menempel selama 1 tahun dan juga melakukan pengecatan Baling-Baling serta melakukan Pengecekan terhadap kondisi Baling-Baling apakah masih layak atau perlu Perawatan lebih lanjut. Sebelum dilakukan kegiatan Annual Infektion (AI) seperti uraian diatas biasanya dilakukan suatu pengukuran untuk membandingkan kondisi ketika sudah dilakukan AI dan sebelumnya. Pengukuran tersebut meliputi pengukuran tahanan isolasi antara rotor dan stator, antara rotor dan grounding, stator dan grounding serta pengukuran kebisingan ruang sekitar generator. Dalam pengukuran kebisingan ini dilakukan dengan menggunakan empat titik yaitu diberi simbul A B C dan D dimana A adalah titik sebelah barat Generator, B adalah titik sebelah Utara Generator, C adalah titik sebelah Timur Generator sedangkan D adalah titik sebelah Selatan Generator. Jarak antara titik pengambilan data dengan Generator sejauh 2 meter. Pengukuran kebisingan ini menggunakan Alat Sound-Level Meter. Sound Level Meter merupakan suatu alat yang disusun untuk mendeteksi dan memberikan data kebisingan. Bagian dasar pengukur aras kebisingan adalah tranduser ( Mikrofon dan penguat Mikrofon). Mikrofon ini berfungsi untuk mengubah data analog tekanan bunyi menjadi sinyal listrik. Mikrofon yang digunakan dalam sound Level Meter ini berjenis mikrofon kondensor karena memiliki ketelitian dan kestabilan yang tinggi serta reabilitas yang baik. Sinyal digital yang diperoleh dari mikrofon berisi tekanan bunyi. Sehingga dari sinyal ini nantinya akan diolah oleh ADC ( Analog Digital Converter ) yang ada dalam Sound Level Meter sehingga akan ditampilkan dalam bentuk digital yang tervisualisasi pada layar LCD berbentuk angka yang menunjukan seberapa besar tinggkat kebisingan bunyi yang diukur. Pengukuran kebisingan ini dilakukan dengan dua variasi beban Generator yaitu pada 6,2 MW dan 4 MW artinya pada saat diukur yang pertama kali yaitu ketika beban berada pada operasi 6,2 MW maksudnya daya keluaran dari Generator sebesar 6,2 MW atau pada saat beban maksimal yaitu dengan cara mengatur debit air yang menggerakan Generator. Kemudian mengukur kebisingan dengan menurunkan daya dari generator menjadi 4 MW. Pengukuran tersebut dilakukan dua kali yaitu sebelum dilakukan Annual Infektion (AI) dan setelah Annual Infektion (AI). Dari hasil perbandingan pengukuran yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pada saat setelah dilakukan Annual Infektion (AI) terjadi penurunan kebisingan yaitu pada Ruang A dari 84 db menjadi 81,5 db,Ruang B dari 89,5 db menjadi 87 db,Ruang C dari 85 db menjadi 83 db dan Ruang D dari 89 db menjadi 88,5 db pada saat generator beroperasi pada beban 6,2 MW dan terjadi penurunan pada Ruang A dari 85,8 db menjadi 82,5 db, Ruang B dari 92 db menjadi 91,5 db, Ruang C tetap pada 85 db dan ruang D dari 89 db menjadi 88,5 db pada saat generator beroperasi pada beban 4 MW. Dari hasil pengukuran dan data yang didapat dapat diketahui bahwa antara kebisingan sebelum dan sesudah dilakukan Annual Infektion terjadi perbedaan. Perubahan kebisingan terjadi yang terbesar ketika beban berada 6,5 MW perubahanya anatara kisaran 0,5-2,5 db tiap ruangan sedangkan untuk beban pada saat 4 MW hanya pada kisaran 0,5-1 db tiap ruangan. Hal ini terjadi karena disebabkan pergerakan generator dan turbin pada saat beban 4 MW tidak maksimal karena ada pengaturan debit air yang dikeluarkan sehingga mesin bekerja justru lebih terbebani sehingga menyebabkan kerja dari mesin lebih berat dan menimbulkan efek salah satunya suara

atau bunyi yang menyebabkan bertambahnya kebisingan. Pada saat pegukuran pada beban 6,2 MW setiap ruangan memiliki perubahan sebelum dan sesudah Annual infection yang hampir sama yaitu 2,5 db kecuali pada ruang D yang hanya memiliki perubahan 0,5 db. Sedangkan pada saat beban 4 MW perubahan terbesar yang terjadi pada ruang A yaitu sebesar 3,3 db sedangkan pada ruang C tidak terjadi perubahan sama sekali yaitu tetap pada 85 db. Dari data yang didapat tersebut dapat diketahui bahwa sebelum dan sesudah dilakukan Annual Infektion kebisingan mengalami penurunan sehingga dapat dikatakan bahwa pada Annual Infektion tahun ini mesin dapat dikatakan dalam kondisi yang baik karena menurut prosedur standar operasi dari pabrikan bahwa kebisingan mesin masih dikatakan normal jika berada pada kisaran antara 80-90 db. BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 1. Kesimpulan Setelah melakukan kegiatan kerja praktek di PT. INDONESIA POWER Sub-Unit Bisnis Pembangkitan Mrica Unit PLTA Wonogiri, dapat disimpulkan: a. Kegiatan Kerja Praktek bermanfaat untuk mengetahui aplikasi ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, dalam hal ini adalah pengukuran. Yaitu dengan melakukan pengukuran kebisingan Generator serta membandingkan hasil pengukuran tersebut sebelum dan sesudah dilakukan Annual Infektion (AI). b. Teknik pengukuran dilakukan sesuai dengan petunjuk perawatan dari pusat. Jadi untuk prosedur, cara, dan waktunya sudah ditentukan dalam buku petunjuk perawatan. Dari pihak tinggal meneruskan/ melaksanakan sesuai dengan petunjuknya. c. Dari hasil perbandingan pengukuran yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa pada saat setelah dilakukan Annual Infektion (AI) terjadi penurunan kebisingan yaitu pada Ruang A dari 84 db menjadi 81,5 db,Ruang B dari 89,5 db menjadi 87 db,Ruang C dari 85 db menjadi 83 db dan Ruang D dari 89 db menjadi 88,5 db pada saat generator beroperasi pada beban 6,2 MW dan terjadi penurunan pada Ruang A dari 85,8 db menjadi 82,5 db, Ruang B dari 92 db menjadi 91,5 db, Ruang C tetap pada 85 db dan ruang D dari 89 db menjadi 88,5 db pada saat generator beroperasi pada beban 4 MW. d. Dari hasil pengukuran tersebut dapat diketahui bahwa kondisi generator maupun turbin masih dalam kondisi baik karena menurut petunjuk prosedur perawatan mesin dianggap pada batasan normal ketika berada pada kisaran bising 80-90 db. 2. Saran Setelah melakukan kegiatan Kerja Praktek di PT. INDONESIA POWER Sub-Unit Bisnis Pembangkitan Mrica Unit PLTA Wonogiri, penulis memberikan saran sebagai berikut: 1. Dalam melakukan pengukuran untuk membandingkan tingkat kebisingan sebaiknya menggunakan titik yang lebih banyak dan melakukan pengukuran lebih dari 3 kali untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. 2. Untuk pengukuran hendaknya paham dalam prosedur pengambilan data (akuisisi) maupun pembacaan skalanya. Agar kevalidan data dapat terjaga guna menjaga alat tetap dalam keadaan handal.

3. Dalam melakukan pengukuran sebaiknya tidak ada gangguan lain/noise selain dari mesin itu sendiri agar ahasil lebih valid. 4. Karena berada pada lingkungan Industri/Kerja sebaiknya selalu memperhatikan Prosedur operasi dan juga standar keselamatan kerja untuk menghindari resiko dan kecelakaan kerja. 5. Pada Saat melakukan Magang sebaiknya dilakukan dengan disiplin kerja serta tanggung jawab yang tinggi karena menyangkut nama baik Institusi. DAFTAR PUSTAKA Kebisingan industry http://chandra.bliblog.com/industrial-noise/ Pramono, Tejo. 2000. Sistem Operasi dan Pemeliharaan Generator. Semarang: Universitas Semarang. Profil Indonesia Power. 2009. http://www.indonesiapower.co.id/index.php. Pusat Listrik Tenaga Air. 2009. Sistem Pembangkitan Listrik. Wonogiri: PLTA Wonogiri. Sears, Francis Weston. 1985. Fisika Untuk Universitas Bab Pengukuran dan Alat Ukur. Jakarta: Bina Cipta. Tim Inovasi Unit PLTA Batutegi. 2009. Automatic Control. PT. PLN (Persero) Pembangkitan Sumbagsel Sektor Pembangkitan Bandar Lampung Unit PLTA Batutegi. Lampiran Gambar Gambar Sound Level Meter Poses Perawatan Rotor dan Stator Gambar Karbon Ring Design Generator Dan Turbin PLTA